Tuesday, August 10, 2010

World Cup 2010 (31) Semi Final

World Cup 2010 (31)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Juara Dunia Baru, Mungkinkah?
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 5 Juli 2010

Sejak dipentaskan tahun 1930 sampai kejadian di Afrika Selatan 2010, Piala Dunia hanya mengenal 7 negara yang pernah menjadi juara. Empat tahun lalu, Portugal satu-satunya non-juara yang lolos ke semifinal, tiga lainnya, tim juara, Jerman, Italia dan Perancis. Pada akhirnya yang sukses lolos ke final, dua mantan juara, Italia dan Perancis.
Tahun 2010 dari empat semi-finalis, dua antaranya non-juara, Belanda dan Spanyol. Dua lainnya eks juara dunia, Jerman dan Uruguay. Jadwal Belanda versus Uruguay dan Jerman versus Spanyol, memungkinkan terjadinya final antara dua non-juara Belanda versus Spanyol. Bisa juga antara dua tim juara dunia, Jerman kontra Uruguay. Atau Belanda versus Jerman atau Uruguay lawan Spanyol. Masih ada kemungkinan, bahkan cukup besar persentasenya, Afrika Selatan 2010 melahirkan juara baru, Belanda atau Spanyol.
Coba lihat data sejarah tentang kisah 7 juara merebut gelarnya yang pertama. Uruguay merebut gelar pertamanya di kandang sendiri 1930. Italia merebut gelar pertamanya ketika Piala Dunia diselenggarakan di Perancis 1938. Jerman merebut gelar pertamanya di Swiss 1954. Brazil menjadi negara ke-empat yang merebut gelar di Swedia 1958. Inggeris merebut gelar sebagai negara ke-lima di kandang sendiri 1966. Berikutnya Argentina di kandang sendiri 1978. Terakhir Perancis sebagai negara ke-tujuh di negerinya sendiri 1998.
Sudah 52 tahun berlalu, lebih separuh abad, sejak Brazil merebut gelar di Swedia 1958 sebagai juara dunia baru, belum ada negara yang merebut gelar sebagai juara baru ketika penyelenggaraan di negeri orang. Mungkinkah Belanda atau Spanyol? Lihat sejarah, Inggris juara baru di kandang sendiri, Argentina juara baru di depan publiknya di Buenos Aires, Perancis mampu menjadi juara baru di negeri sendiri. Kini 2010, mampukah Spanyol atau Belanda menjadi juara dunia di negeri orang?
Uruguay yang dijuluki “la celeste” dipimpin Oscar Washington Tabarez makin percaya diri dan termotivasi mengejar impian 60 tahun menjadi juara dunia. Dua kali juara dunia ini terakhir mencicipi gelarnya di Brazil tahun 1950. Setelah sukses itu Uruguay tenggelam dibawah dua negara latin yang jadi rival beratnya, Brazil dan Argentina. Uruguay terpuruk di level internasional, baru tahun 2010 ini bisa eksis lagi sebagai tim dunia.
Oscar Tabarez yang dijuluki “maestro” di negerinya pernah mengendalikan tim “la Caleste” dua tahun 1988 sampai 1990, setelah memegang kendali klub Deportivo Cali Kolombia. Sang maestro membawa Uruguay ke final Copa America 1989 yang berakhir runner-up dibawah Brazil, lalu meloloskan “la Caleste” ke Piala Dunia 1990.
Skuad Uruguay tumbang di putaran 16 Besar, kalah 0-2 dari tuan rumah Italia. Sang Maestro menyeberang sungai River Plate dikontrak Boca Juniors, membawa sukses klub besar Argentina juara liga yang pertama sejak 11 tahun. Sukses itu jadi batu loncatan pengembaraannya di Eropa, di liga seri A Italia Cagliari dan AC Milan serta klub La Liga Spanyol, Oviedo.
Pengalamannya yang fantastik bulan Maret 2006 dia ditarik pulang melatih tim “la celeste”, dia membawanya menempati peringkat empat Copa Amerika 2007 dan meloloskan timnya ke Afrika Selatan. Dia membawa Uruguay lolos ke FIFA U-17 dan Piala Dunia U-20. Tim Uruguay inilah yang akan menjadi ganjelan ambisi Belanda menjadi finalis ketiga kalinya. Uruguay dijuluki “Los Charruas” ibarat petarung sejati dengan semangat tinggi dan pantang menyerah. Konon, kalau ada anak manusia yang menjadi batu sandungan Belanda di semifinal nanti, dialah sang maestro OscarTabarez. Bukan bintang Diego Forlan atau Sebastian Abreu mesin gol pengganti Luis Suarez yang harus absen.
Kehadiran skuad Tabarez di semifinal, telah membalik semua ramalan dan memorakporanda pasar tarohan. Orang banyak meramal tim ini akan “keok” sebelum lolos ke semifinal. Brazil dan Argentina lebih dijagokan. Inilah kejutan sepakbola, dua raksasa Latin Brazil dan Argentina sudah ditendang pulang oleh Belanda dan Jerman. Kini satu-satunya harapan zone Conmebol bertumpu pada strategi sang Maestro berusia 63 tahun itu. Uruguay kini fokus pada ambisi merebut gelar juara. Uruguay inilah yang harus dilangkahi Belanda untuk menjadikan finalis ke-tiga negeri bunga tulip itu.
Semifinalis lain yang non juara yang sudah 80 tahun lebih “ngidam” gelar Piala Dunia, Spanyol harus melangkahi Jerman. Inilah batu sandungan yang ibarat “raksasa” menghadang jalan skuad Espana La Roja La Seleccion asuhan Vicente Del Bosque “old soldiers’ berusia 60 tahun. Jelas tidak mudah bagi La Roja, meskipun di final Euro 2008 mereka menang tipis 1-0 atas tim yang diujuluki “die mannschaft” itu.
Keadaan sudah lain. Jerman yang akan dihadapi adalah “the young guns” yang sudah menggilas dua juara dunia lainnya, Inggeris 4-1, dan Argentina 4-0. Kemenangan yang membuat percaya diri membumbung tinggi di skuad asuhan Joachim Low. Tapi kali ini percaya diri yang tidak menjadikan mereka “lupa memijak bumi” seperti ketika menggilas Australia 4-0 yang kemudian akhirnya mereka tumbang oleh Serbia 0-1.
Memijak kaki di semifinal, “die mannschaft” telah mencetak 13 gol dan hanya kebobolan 2 gol dalam 5 pertandingan. Suatu tanda, tim racikan Joachim Low ini sangat ofensif dan produktif serta memiliki pertahanan paling solid dan rapat. Ambisi Jerman juga sangat besar, ingin menambah koleksi gelar ke-4 menyamai Italia dan mendekatkan pada juara lima kali Brazil. Sudah 20 tahun tanpa gelar dunia, sejak tahun 1990 di Italia ketika “die mannschaft” asuhan Franz Beckenbauer menjadi juara dengan memukul Argentina 1-0 di final.
Ambisi “the young guns” menebus “kegagalan” di kandang sendiri tahun 2006 yang hanya berakhir di urutan empat, membiarkan gelar dunia itu direnggut Italia. Semangat, kesatuan, ambisi, keharmonisan tim, dan organisasi permainan yang didalangi Joachim Low, akan menjadi kerikil tajam bagi Spanyol untuk melangkah ke final.
Melihat dua tim penghadang yang begitu kokoh, maka kita pun bertanya-tanya mampukah Belanda dan Spanyol melangkah ke final menjadikan final sesama tim non juara yang akan menjadi negeri ke-8 pemegang supremasi sepakbola sejagad. Atau paling tidak salah satu diantara Belanda atau Spanyol menembus final dan memenangkan partai pemuncak di Johannesburg tanggal 11 Juli itu. Siapa tahu? ***

No comments: