Monday, December 27, 2010

Final Piala AFF leg 2, Indonesia vs Malaysia

Go Garuda, Grab The Title !

Oleh : John Halmahera

Jakarta 28 Desember 2010

Boleh boleh saja melupakan kekalahan di Bukit Jalil, sekadar agar fresh dan fit di leg 2 nanti, tetapi jangan lupa beberapa hal penting. Jangan buat kesalahan atau error “buruk” seperti kemarin ketika digunduli Malaysia 0-3. Saya katakan terus terang, di Bukit Jalil kemarin Malaysia tidak akan bisa menang jika Timnas tidak bikin error.

Apalagi di Senayan Rabu malam nanti, timnas akan menang dan bisa mencetak beberapa gol. Tetapi jika satu saja error dilakukan dan Malaysia bisa mencetak gol balasan, maka peluang meraih gelar juara akan semakin tipis.

Pemain belakang harus berpikir sederhana selain memegang teguh prinsip bertahan. Jika Anda orang terakhir dibelakang, maka jangan main-main dengan bola, cepat sepak kedepan atau jika dibawah tekanan penyerang lawan lakukan “kick the ball out off play”. Itu prinsip, sebab begitu Anda berbuat error maka penyerang lawan merebut bola dan akan langsung berhadapan dengan kiper Anda.

Kemarin, gol pertama tidak akan terjadi, jika Maman Abdurachman menendang bola ke sisi lapangan menjadi “throw-in”. Maka dia enak, tak ada masalah, teman lain pun enak. Tetapi “stupid error” yang dibuatnya bisa juga terhindar kalau teman lainnya, terutama bek kiri Mhd Nasuha menerapkan prinsip melapis teman (defender) yang sedang berhadapan dengan musuh dan mendapat ancaman dari musuh. Prinsip harus dilapis.

Dan karena itu adalah wilayah Mhd Nasuha sebagai bek kiri maka dia yang harus melapis. Maman hanya mengisi sementara wilayah itu karena ditinggal Nasuha yang naik menyerang dan belum kembali, seharusnya Nasuha kembali turun dan langsung melapis Maman. Di level internasional pertahanan berlapis merupakan harga mutlak. Hampir tidak pernah kita melihat seorang defender tanpa dilapis berjuang sendirian menghadapi penyerang.

Jadi pelajaran kemarin adalah, jangan membuat “stupid error” dan dalam defence team-work harus saling melapis.

Pemain belakang atau gelandang atau siapa saja dalam Timnas, diharapkan jangan bikin pelanggaran bodoh di dekat kotak pinalti, di daerah 16 meter. Saya masih ngat skor 1-1 Timnas lawan Arab Saudi (Piala Asia 2007 di Senayan), memasuki injury-time. Lalu Ismet Sofyan bikin pelanggaran bodoh, menendang kaki lawan di pojok kiri atas kotak pinalti Timnas. Saat itu tanpa sadar saya berterak, “mati aku”.

Free-kick diambil gelandang Saudi, bola melengkung keras ke mulut gawang Timnas, di satu titik ketinggian jauh dari jangkauan kiper, dan tiga pemain Saudi melayang. Saya pastikan salah seorang diantaranya pasti bisa menyundul. Pemain Timnas selain kalah tinggi, juga tidak terlatih mengusir bola udara dengan baik. Maka sundulan itu dengan kerasnya menghunjam jaring dan Timnas kalah 1-2 di detik-detik terakhir. Pelanggaran bodoh! Stupid fault!

Banyak contoh, pelanggaran yang tidak perlu yang dilakukan pemain kita yang membuahkan kartu kuning atau bahkan merah. Kalau kita amati kompetisi ISL, wuahh banyak kali, pelanggaran bodoh yang tidak perlu. Lalu ketika wasit memberikan kartu kuning, pemain ybs berakting macam tidak bersalah. Ini juga salah satu tabiat buruk yang dibawa pemain kita dari kompetisi ISL ke level internasional.

Hindari bikin pelanggaran di daerah 16 meter, cukup melakukan pressure rapat atau membayang-bayangi pemain lawan tsb, tidak perlu melakukan tackling saat dia masih menguasai bola. Hindari juga terpancing provokasi pemain lawan, tetap main dingin dan menjalankan instruksi pelatih seratus persen.

Saya yakin jika pertahanan Timnas terkoordinir rapi, main efektif dan lugas maka sisanya hanya bagaimana Gonzales Cs mencetak gol kegawang Malaysia.

Saya yakin Rabu malam nanti Malaysia akan lebih bertahan, dengan menempatkan 8 atau 9 pemain di belakang, berjejer di depan kipernya. Mereka hanya akan menempatkan Mhd Safee sendirian di depan didukung 2 atau 3 gelandang yang posisinya bertahan tetapi siap “naik” melakukan “counter-attack” pada saat memenangkan bola.

Saya kira Riedle pasti tahu strategi bagaimana untuk mementahkan pola main defensif Malaysia seperti yang mereka lakukan ketika “away” lawan Vietnam. Taktik yang membuat Vietnam frustasi. Saya tidak khawatir, sebab daya-serang Timnas lebih tajam dan lebih produktif dibanding Vietnam, sehingga kita tidak akan mengalami hal frustasi seperti yang dialami pemain-pemain Vietnam.

Pemain kita jangan terburu-buru, main dengan elegan dingin tetapi manfaatkan kecepatan menyerang. Dan ketinggalan tiga gol harus disikapi dengan berani. Begitu punya kans lakukan shooting jarak jauh berbarengan penyerang lain naik mengantisipasi “rebound”.

Saya yakin Timnas bisa menang dengan selisih empat gol, apabila pertahanan Timnas seperti yang saya jelaskan dialinea sebelumnya. Jika Timnas bisa mencetak gol, satu gol (apalagi dua gol) sebelum babak pertama berakhir, maka Malaysia akan mengalami “under-pressure” yang akan membuat mereka cenderung berbuat error.

Semakin cepat Gonzales Cs mencetak gol pertama, semakin Malaysia mendapat tekanan mental yang berat. Go Garuda, grab the title! Ayo Garuda, rebut gelar itu! ***

Sunday, December 26, 2010

Piala AFF 2010 Timnas Indonesia Ditekuk Malaysia

Error Timnas Garuda Dimanfaatkan Malaysia
Oleh : John Halmahera
Jakarta 27 Desember 2010

Judul diatas itu, tidak bisa dipantau sebelum kejadian. Tetapi akan tampak jelas setelah kejadian. Ini juga dasar suatu analisa, selalu basisnya adalah “after the match”, lantas gunanya apa? Yah tentu saja berguna untuk langkah ke depan. Bukan untuk menghujat, karena tulisan ini tidak bertujuan menyalahkan siapa dan siapa. Sebaiknya tulisan ini dipikir sebagai bahan evaluasi atau pembanding untuk memutuskan langkah yang akan diambil.
Sebelum “match” di Bukit Jalil, penyerang Malaysia Mohd Safee mengatakan: “Indonesia tajam menyerang tetapi pertahanannya buruk, dan saya akan mencetak gol.”
Ternyata Safee benar, pertahanan Timnas memang buruk dan Safee berhasil cetak gol yang memenangkan Malaysia 3-0 atas Timnas Garuda. Di Senayan dalam tiga laga penyisihan grup, lemahnya koordinasi dan skill serta antisipasi lini belakang Timnas sudah terbaca. Lihat gol pertama Malaysia (1-5) disebabkan kontrol Hamka Hamzah yang buruk, error yang menjadi gol di gawang Markus.
Di bukit Jalil, Maman Abdurachman tidak membuang bola, tapi berusaha melindungi bola berharap bola keluar garis belakang. Tapi gigihnya Norshahrul Idlan berhasil mencuri bola, membawa masuk ke kotak pinalti. Ini error terburuk dari seorang defender. Fatalnya lagi, error Maman ini bersinambung menjadi error lini belakang.
Idlan membuat umpan tarik, sekitar belasan meter ke titik tengah kotak pinalti. Disitu berdiri Safee, bebas tak ada pengawalan. Dan Safee dengan waktu beberapa detik yang dimilikinya dan tanpa ada pressure dari Hamka Cs, menembak keras. Gol pertama menit 60 ini sangat menjatuhkan mental Timnas.
Ketika Idlan membuat umpan-tarik, pada saat bola berjalan sedang “on the way”, tiga pemain termasuk Hamka, diam mematung. Seharusnya begitu melihat bola jalan seketika itu juga mereka berlari mengikuti bola, gerakan eksplosif defender yang melihat ancaman bahaya. Sehingga pada saat bola tiba di kaki Safee sudah ada dua tiga pemain Merah Putih yang menghadang, memblok atau memotong jalan bola. Maka Safee pasti tak akan mudah melepas tembakan. Saat itu hanya ada satu pemain gelandang –bukan dari yang tiga tsb- yang coba “memblok” tetapi sayang dia terlambat
Inilah error akumulatif. Sayangnya lagi Markus Haris Maulana, kiper Timnas, tidak mampu membuat “safe”, maka lahirlah gol pertama yang meruntuhkan mental Firman Utina Cs. Banyak kejadian seperti ini, bahkan dilevel Piala Dunia pun. Inilah sepakbola, ada error pasti ada gol. Maka defender tak boleh melakukan error.
Terutama kiper. Seorang kiper harus perfect fisik dan mental. Kualitas kiper dinilai dari penyelamatan atau “safe” yang dia lakukan. Apa itu safe? Itulah, menghalau, menepis bola yang seratus persen akan masuk gawang, menjadi tidak masuk. Kalau menangkap bola dari shooting musuh yang tepat mengarah ke posisinya, itu kesalahan musuh bukannya safe. Soal skill dan fisik Markus nilainya positip. Tetapi mental pada saat itu nilainya negatif.
Sebelum kick-off, mental Markus stabil dan prima. Tetapi setelah skandal laser, sebelum terjadinya gol, Markus tampak sangat emosional dan tertekan. Bisa dilihat dalam rekaman, wajahnya yang tegang dan marah saat protes kepada wasit.
Dia juga melambai tangannya mengajak teman-temannya keluar lapangan. Apakah maunya “walk over”? Soal WO ini sepertinya kebiasaan dalam kompetisi sepakbola kita yang memprotes keras keputusan wasit dan terbawa sampai level internasional. Apakah Markus mengalami “over confidence” dan sedang melayang diawan, kalau benar demikian maka dia perlu diturunkan lagi ke bumi.
Saya heran bahwa Feri Rotinsulu tidak pernah mendapat kesempatan dimainkan. Track-record Feri sebagai punggawa inti yang mengantar Sriwijaya FC juara liga super dan juara copa Indonesia, tidak bisa dinafikan begitu saja. Itu prestasi besar, jangan disepelekan. Sama halnya jika menghargai Christian Gonzalez diatas penyerang lain, sebab nyatanya dia top-scorer liga super dan membawa klubnya juara liga super.
Maka saya akan membenarkan dan mengangkat jempol jika saat itu Alfred Riedl mengganti Markus dengan Feri Rotinsulu.
Pada saat seperti itu, melihat tekanan psychologi yang membebani Markus, sebaiknya pelatih berpikir untuk menggantinya.Saat itu diperlukan kiper yang dingin, yang bisa memerintah teman-temannya dan mengatur koordinasi defence yang konseptual.
Saya tidak tahu apa yang terjadi dilapangan. Apakah Markus berteriak menyuruh Maman membuang bola? Jika Maman membuang bola, tak akan terjadi error dan tak akan lahir gol pertama itu. Apakah Markus berteriak menyuruh Hamka Cs menjaga, mengawal atau memblock Safee? Apakah setelah terjadinya gol (0-1) ada usaha Markus, sebagai salah satu jenderal setelah kapten, mengatur emosi teman-teman defendernya? Bagaimana mungkin dia mengatur mental temannya sementara dia sendiri sedang alami tensi tinggi dan tekanan mental yang super berat.
Persoalan setelah 0-1 adalah soal “recovery mental” yang harus dilakukan kapten tim, Firman Utina, dan juga setiap pemain senior, untuk kembali ke “track” semula, kembali ke konsep awal dan main tenang. Tidak adanya pergantian pasca kebobolan 0-1 menyebabkan lahirnya gol kedua dan ketiga, dalam kurun waktu 60, 67 dan 72. Duabelas menit tiga gol. Ala maakkk, mengerikan.
Ada motto bagi pelatih, bahwa dia harus ada pada saat timnya mengalami kesulitan dalam permainan, artinya dari pinggir lapangan dia harus berbuat sesuatu. Apakah itu pergantian pemain, menasehati pemain, teriak memeringati pemain, dan lain lain.
Normalnya, begitu pertandingan dimulai lagi setelah skandal laser selesai dirembug, Markus harus diganti. Jika dilakukan mungkin saja Feri bisa menenangkan dan memimpin defendernya untuk main tenang tapi lugas. Itu yang pertama. Ternyata tidak dilakukan.
Yang kedua, setelah terjadi error buruk Maman, dan skor 0-1 secepat itu juga Maman harus diganti. Jika itu dilakukan Riedl maka mungkin tidak akan ada gol kedua dan ketiga. Bahkan mungkin saja jika Feri dibawah mistar pasca skandal laser, skor tetap 0-0. Tentu saja analisa ini tidak pas seratus persen, pertandingan tak bisa diulang untuk pembuktian kebenaran atau kesalahan analisa ini. Namun paling tidak bisa jadi bahan diskusi di Timnas.
Malaysia tidak terlalu hebat. Artinya Timnas seharusnya tidak kalah.
Disini yang ingin saya simpulkan adalah, kejelian dan keberanian pelatih melakukan pergantian ditengah permainan, menentukan menang kalah tim asuhannya.
Bahwa error bagi pemain bertahan membuahkan kebobolan, harga yang mahal. Error pemain yang tidak mencetak gol dari peluang yang ada, tidak sebesar error pemain bertahan. ***

Tuesday, August 10, 2010

World Cup 2010 Spain New Champion

World Cup 2010 (36) Spanyol Juara Baru
Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Dari Kesalahan Wasit Sampai Gurita
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 12 Juli 2010

Dimulai di Johannesburg 11 Juni berakhir di kota yang sama 11 Juli, Piala Dunia Afrika Selatan telah menjadi bagian sejarah, milik masa lalu. Menit 116 atau 26 menit perpanjangan waktu gol Andres Iniesta memenangkan Spanyol gelar 2010, gelar Piala Dunia yang belum pernah diraih skuad La Roja. Iniesta pemeran penting permainan Spanyol, juga aktor teatrikal yang sepanjang permainan melakukan intimidasi terhadap wasit Inggeris Howard Webb. Uniknya Webb juga tak memberi teguran kepada pemain Spanyol yang mendramatisir tackling lawan dan memancing Webb untuk mengeluarkan kartu untuk pemain Oranje.
Piala Dunia 2010 banyak diwarnai kontroversi wasit. Paling parah, adalah kesalahan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Pablo Fandino yang tidak mensahkan shooting Frank Lampard yang mengena mistar dan memantul ke bawah, sekitar satu meter di dalam garis gawang. Gol. Memang gol! Tayangan ulang memperlihatkan error besar keputusan wasit FIFA itu. Seandainya gol, maka skor 2-2 dan mungkin hasil pertandingan akan jadi lain.
Wasit Italia, Roberto Rosetti mundur dari perwasitan. Dia malu atas error keputusannya yang mensahkan gol sundulan Carlos Tevez ke gawang Mexico. Gol pertama Argentina menit 26 itu nyata-nyata Tevez dalam posisi off-side. Dia tak mau mendengarkan protes pemain Mexico. Kejadian di stadion Soccer City Johannesburg sungguh dramatis, Mexico kalah 1-3.
Dua keputusan kontroversial wasit di partai Inggris vs Jerman dan Argentina vs Mexico memancing protes dan kritik pers dan publik kepada FIFA. “Sebaiknya FIFA menggunakan tehnologi video untuk membantu memutuskan bola masuk gawang atau tidak. Usul ini sudah pernah diajukan tapi ditolak FIFA. Kini melalui presiden Blatter, FIFA akan membuka peluang masuknya teknologi video untuk didiskusikan.
Partai USA versus Slovenia melibatkan error wasit Mali, Koman Coulibaly yang dengan pongah menganulir gol Maurice Edu ke gawang Slovenia. Katanya Edu offside padahal jelas-jelas onside. Gol Luis Fabiano ke gawang Pantai Gading, error wasit Stephane Lannoy yang tidak melihat handsball penyerang Brazil itu. Wasit Lannoy ini juga memberi kartu kuning kepada Kaka –kartu yang kedua yang berarti kartu merah- atas pelanggaran (sandiwara) pemain Pantai Gading, Kadar Keita. Lalu wasit Spanyol, Alberto Undiano mengkartu-merah (kuning yang kedua) kepada Miroslav Klose, Jerman versus Serbia.
Sebelum 2010, Perancis mendapat keuntungan dari error besar wasit Swedia Martin Hansson yang tidak melihat –padahal berada dalam jarak dekat dengan kejadian- “double handsball” Thierry Henry yang memberi passing kepada Gallas mencetak gol penting yang mengantar Perancis ke Afrika Selatan 2010, Republik Irlandia protes tapi FIFA bergeming. Perancis maju ke 2010 dengan kutukan orang-orang Irlandia. Perancis ternyata bawa sial, tersingkir di grup dan menjadi juara dunia yang pertama yang pulang kampung.
Mundur kebelakang, Piala Dunia 2002, tuan rumah Korea Selatan maju ke semifinal dengan beberapa error keputusan wasit ketika mengalahkan Italia dan Portugal. Tetapi paling kontroversial adalah error wasit Mesir, Gamal Ghandour yang menganulir dua gol Spanyol ke gawang Korea Selatan. Yang pertama gol bunuh diri Kim Tae Young menurut Ghandour terjadi pelanggaran pemain Spanyol Ivan Helguera atas Kim. Rekaman tidak terlihat adanya pelanggaran. Gol kedua sundulan Fernando Morientes dari umpan Joaquin, dianulir. Asisten wasit angkat bendera, bola sudah keluar garis duluan. Ternyata tidak. Skor 120 menit 0-0 dan Spanyol kalah adu pinalti.
Kontroversial wasit Tunisia, Bennaceur, yang tidak melihat gol handsball Diego Maradona partai Argentina vs Inggeris di stadion Azteca 22 Juni 1986. Penonton 114.580 melihat jelas Maradona melompat “duel” dengan Peter Shilton, tangan Maradona menyodok bola yang masuk ke gawang Shilton. Pemain Inggeris terpahna, penonton pun protes atas kelicikan Maradona dan “tidak bagusnya mata” wasit. Empat menit kemudian, Maradona menggiring melewati enam pemain Inggeris berikut Shilton dua nol. Penonton lupa akan kesalahan “tangan Tuhan” tadi. Gol balasan Gary Lineker menit 80 tidak menolong Inggeris yang terpaksa pulang kampung.
Kalau handsball Maradona dan Thierry Henry melahirkan gol, lain lagi dengan handsball Luis Suarez yang menggagalkan gol Ghana ke gawang Uruguay. Wasit Olegario Benquerenca dari Portugal mengkartumerah Suarez dan hukuman pinalti untuk Ghana. Tapi pinalti menit akhir itu gagal dimanfaatkan Asamoah Gyan. Skor draw dan Ghana “black star” wakil terakhir Afrika kalah adu pinalti terpaksa angkat koper dengan iringan tangis seluruh rakyat Afrika.
Dalam konperensi pers, Oscar Tabarez, pelatih Uruguay membela Suarez. “Itulah intuisi pemain, dan Suarez sudah dihukum kartu merah, juga pinalti, tapi Gyan tidak mencetak gol, apakah Suarez harus dihukum lagi?” Alasan dan komentar brilian, kasus ditutup. Mau protes apalagi Ghana?
Piala Dunia kali ini, binatang ikut masuk pasar tarohan. Dunia sudah berubah memang. Paranormal beralih ke binatang. Gurita yang bernama Paul, the octopus, dari akuarium Oberhausen Jerman ikut meramal. Jerman kalah, Spanyol menang. Ternyata benar. Karuan saja fans Jerman ngamuk maunya si Paul itu digoreng dan dimakan. Kepercayaan pemain Jerman yang memaksa pelatih Joachim Loew mengenakan sweater birunya juga tak menolong kekalahan dari Spanyol di semifinal.
Spanyol La Roja melengkapi jejak prestasi fantastisnya, juara Euro 2008 berlanjut juara Piala Dunia 2010. Jadi kalau Paul si gurita meramal Spanyol mengalahkan Belanda dan keluar sebagai juara, itu masuk akal juga sebab jauh hari sebelum dimulainya Piala Dunia 2010 rumah judi William Hill di London sudah menjagoi Spanyol sebagai juara 2010. Jadi sebenarnya Paul si Gurita hanya menjiplak dari rumah judi William Hill. Ada lagi, di Singapura burung parkit bernama Mani di distrik little indian meramal Belanda menang di final, tapi toh kalah. Jadi bukan gurita Paul yang hebat ramalannya, rumah judi William Hill lebih hebat.
Belanda memang kalah, kapten Giovanni van Bronckhorst sangat bersedih seperti juga Wesley Sneijder dan Arjen Robben, dan tentu saja Bert Van Marwijk si pelatih Oranje. Tapi Gio Van Bronckhorst patut bangga, diujung karirnya sebagai pemain dan di turnamen Piala Dunia, shooting-range jarak jauh yang menggeledek di menit 18 yang membobol gawang Uruguay yang dikawal Fernando Muslera mungkin tergolong gol paling spektakuler. Sampai jumpa di Brazil 2014 demikian komentar FIFA. ***

World Cup 2010 Preview Final Netherland vs Spain

World Cup 2010 (35) Preview Final
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Kekuatan Belanda Pulih
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 9 Juli 2010

Dua juara dunia tersingkir di semifinal. Uruguay, juara dunia 1930 dan 1950 digusur Belanda, lalu Jerman juara 1954, 1974, 1990 ditekuk Spanyol. Jadilah dua tim yang tak pernah mencicipi gelar juara dunia itu saling berhadapan dalam kombat partai puncak perhelatan akbar sepakbola FIFA World Cup 2010. Pemenangnya akan menjadi juara dunia ke-delapan menyusul tujuh lainnya, Uruguay, Italia, Jerman, Brazil, Inggeris, Argentina dan Perancis.
Semifinal kemarin merupakan antiklimaks bagi “die mannschaft” Jerman asuhan Joachim Low, tidak terlihat keganasan sepakbola ofensif versi Jerman seperti penampilan saat menghantam Inggeris dan Argentina. Hampir sepanjang pertandingan, Jerman membiarkan “Espana La Roja” memainkan bola semaunya. Short passing one touch football dimainkan Iniesta, Xavi, Xabi, Ramos, dengan leluasa. Tak ada gangguan dan pressure dari Schweinsteiger Cs. Itulah kesalahan taktik strategi Jerman dan yang membuat pertandingan jadi berat sebelah, tidak enak ditonton, sepertinya Jerman sudah kalah sebelum gol sundulan Carles Puyol menembus gawang Neuer.
Taktik menjaga daerah yang diperagakan Jerman tidak ada salahnya, namun seharusnya dikemas dengan pressure pada setiap pemain La Roja yang memegang bola, bahkan seharusnya Inesta dan Xavi Hernandez diisolir artinya dijaga ketat. Sayang sekali Jerman tidak melakukan pressure sehingga Iniesta dan Xavi dengan bebas bisa berkreasi mengatur serangan. Tentu kita masih ingat bagaimana Swiss mematikan “one touch football” Iniesta Cs dengan berjaga di daerah sendiri sambil menerapkan pressure ketat. Sayangnya Jerman tidak meniru taktik Swiss itu.
Sebaliknya justru Spanyol yang menerapkan taktik pressure kepada setiap pemain Jerman khususnya mematikan ruang gerak Schweinsteiger dan Mesut Osiel. Selain itu, Carles Puyol mengatur lini belakangnya dengan rajin dan disiplin melapis sektor rusuk sehingga terobosan Jerman dari sayap berhasil diredam. Semuanya tergambar dalam partai semifinal kemarin dimana Spanyol berhasil memberangus kehebatan Jerman.
Kemarin itu tujuh pemain Barcelona menjadi starter skuad Del Bosque, kejadian yang pertama kali dalam sejarah semifinal Piala Dunia dimana 7 pemain dari satu klub menjadi starter suatu tim. Empat puluh tahun lalu Uruguay diwakili 7 pemain klub Nacional di Mexico 1970, sebelum itu di Piala Dunia 1934 Cekoslowakia diwakili 7 pemain Slavia Prague. Tujuh pemain Barca itu termasuk David Villa yang baru saja resmi pindah dari Valencia, enam lainnya Carles Puyol, Gerard Pique, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Andres Iniesta dan Pedro.
Kehadiran 7 pemain Barcelona, katakanlah enam karena David Villa baru saja pindah, memberi kontribusi besar dalam kekompakan permainan di lapangan. Bahkan untuk tim nasional skuad Del Bosque itu sudah main bersama selama empat tahun sejak pasca tahun 2006. Konon inilah generasi emas Spanyol, hampir semua pemain dibekali tehnik individu yang tinggi. Mereka menguasai lini tengah dengan penguasaan bola yang prima, short passing akurat disertai umpan terobosan yang seringkali menggoyahkan pertahanan lawan.
Benar yang dikatakan orang, sejarah dan track-record masa lalu tidak banyak berperan atas menang kalahnya suatu tim. Spanyol tidak terpengaruh dengan kemenangan 1-0 atas Jerman di final Euro 2008, mereka tidak meremehkan lawan, mereka menganggap Jerman sebagai lawan paling serius. Itu sebab mereka tampil begitu meyakinkan di lapangan. Yang kita tonton kemarin adalah Spanyol memainkan gaya permainan yang mereka sukai sebaliknya Jerman tak mampu memainkan gaya ofensif mereka. Tampaknya kekalahan Jerman di final Euro 2008 tergambar lagi kemarin.
Setelah kekalahan yangmengejutkan 0-1 dari Swiss, La Roja bangkit, bekerja keras memperbaiki penampilannya. Skuad Vicente Del Bosque berhasil kembali ke permainan aslinya. Skuad ini semakin solid dan matang dibanding ketika menjuarai Euro 2008. Mungkin pantas disebut sebagai tim paling terkemuka di dunia saat ini. Pantaslah jika skuad ini dijagokan oleh rumah judi William House sebagai favorit utama.
Dalam partai puncak Minggu malam di Johannesburg La Roja diunggulkan diatas Belanda. Pers memberi judul besar, mampukah Oranje menahan Spanyol? Mampukah Belanda merebut gelar dunia setelah menerobos final yang ketiga kalinya? Apakah Oranje akan kalah lagi di final seperti tahun 1974 dan 1978 silam?
Kedua tim, Belanda dan Spanyol, sangat ambisius merebut gelar. Sepakbola Belanda yang ofensif dan efisien sebagai ciri skuad Bert van Marwijk telah melaju ke finalnya yang ketiga di Piala Dunia. Skuad Oranje mencatat rekor 25 pertandingan tanpa pernah kalah. Di 2010 mencatat 6 kemenangan beruntun, suatu rekor sempurna, 3 kali menang di penyisihan grup berlanjut babak 16 Besar, perempat final dan semifinal. Rekor fantastis, enam kemenangan beruntun itu menyamai skuad Brazil ketika dengan “attacking football” merebut gelar dunia di Mexico 1970.
Di final nanti Oranje kembali diperkuat dua pemain intinya, wing-back klub Ajax, Gregory Van Der Wiel dan gelandang Manchester City Nigel De Jong yang harus absen di semifinal lantaran akumulasi kartu kuning. Kekuatan inti Belanda sudah pulih kembali. Maarten Stekelenburg, John Heitinga, Joris Mathijsen, Giovanni Van Bronckhorst, Mark Van Bommel, Dirk Kuyt, Robin Van Persie, Wesley Sneijder, Arjen Robben, Gregory van der Wiel dan Nigel de Jong.
Materi pemain yang lengkap hanya diperlukan taktik dan strategi yang jitu untuk menghadapi Spanyol yang di atas kertas lebih diunggulkan. Permainan ofensif dan efisien tetap jadi pilihan Bert Van Marwijk. Kubu La Roja pasti akan memainkan winning-teamnya yang bermaterikan 7 pilar Barcelona. Semua pemain intinya tidak berhalangan. Iker Casillas, Gerard Pique, Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Xavi Hernandez, Joan Capdevila, Xabi Alonso, Sergio Ramos, Sergio Busquets, dan Pedro. Penampilan Pedro yang gemilang di semifinal menjadikan dia pilihan pertama menggantikan Fernando Torres.
Setelah kekalahan di semifinal, pelatih Jerman Joachim Loew memuji lawannya. “Spanyol tim yang bagus. Mereka mendikte permainan. Anda bisa lihat itu dalam setiap passing yang mereka lakukan, mereka sulit dikalahkan. Mereka sangat kalem, dingin dan meyakinkan. Mereka lebih baik dari kami dan pantas menang.” Kata Loew.
Diatas kertas Spanyol akan menang, begitulah prediksi banyak orang. Bagi Belanda, pelajaran kekalahan Jerman dan kemenangan Swiss ketika tanding lawan Spanyol sebaiknya menjadi cermin taktik dan strategi menahan laju Spanyol. Mampukah Oranje membungkam Spanyol tergantung pada taktik Van Marwijk serta “fight”nya Van Bronchkorst Cs. Tetapi satu hal yang jelas, Piala Dunia 2010 akan menghasilkan juara dunia baru, juara dunia ke-delapan. ***

World Cup 2010 Preview Final

World Cup 2010 (34) Preview Final
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Belanda versi Bert van Marwijk
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 8 Juli 2010

Tidak gampang bagi suatu tim untuk mencapai grandfinal Piala Dunia, partai puncak dari pesta sepakbola paling akbar sejagad. Perjalanan berliku, penuh kerikil dan batu sandungan. Belanda sudah melaluinya dengan style dan kefasihan sepakbola menyerang. Semifinal lawan Uruguay kemarin adalah kerikil paling tajam dan berbahaya, jika tidak waspada sudah pasti skuad Bert Van Marwijk akan tumbang alias menyerahkan tiket final kepada Uruguay.
Pertandingan kemarin cukup menarik dan enak ditonton. Dua tim main menyerang. Tetapi karena kalah kualitas dan tehnik serta absennya kartu as Luis Suarez maka Uruguay berada dibawah tekanan Belanda. Setelah unggul 1-0 skuad Oranje sedikit mengendur, akibatnya kendali permainan beralih dikaki Diego Forlan Cs yang akhirnya berhasil menyamakan skor.
Di babak kedua Belanda kembali ke permainan aslinya, style dan fasih menyerang sehingga menciptakan gol 2-1. Belajar dari pengalaman babak pertama, Belanda tetapi main dalam tempo yang diinginkan. Skor 3-1 Belanda tetap bergairah. Uruguay dalam tekanan. Beberapa peluang disia-siakan Robben dan Van Persie. Sepuluh menit akhir, Belanda mengendur, saat itulah Uruguay kembali menguasai dan mengurung gawang Belanda yang menciptakan gol balasan.
Ada catatan penting bagi Belanda bahwa tempo permainan, kefasihan menyerang harus tetap terjaga meskipun sudah unggul. Ketika tempo mengendur maka lawan yang tadinya tertekan akan menggeliat bangkit dan menyerang balik. Seharusnya Belanda tetap menyerang “haus gol” meski sudah unggul satu atau dua gol. Mungkin Wesley Sneijder Cs perlu menoleh ke belakang mengingat total-football era 70-an yang dimainkan skuad Oranje versi Rinus Michels.
Sudah menjadi bagian sejarah, revolusi sepakbola Belanda dimulai di bulan Januari 1965, terjadi keputusan hebat dalam rapat manajemen Ajax. Pelatih Vic Buckingham dipecat dan digantikan Rinus Michels. Tidak ada yang hebat dari Rinus Michels ini, dia hanya seorang guru olahraga kelahiran tahun 1928, pernah 5 kali memperkuat tim nasional Belanda sebagai kiri dalam -dari system WM- di tahun 1950an. Dia bahkan tidak populer di mata pemain, lantaran disiplinnya yang kelewat keras.
Tetapi dia membawa suasana baru, konsep permainan menyerang yang di kemudian hari menjadi trade mark semua sekolah sepakbola Ajax sampai ke klub profesionalnya dan merambah ke pembinaan sepakbola Belanda termasuk tim Oranje sampai sekarang ini.
Konsep menyerang Michels ini membawa Ajax ke era emas, menyabet gelar juara Liga Belanda musim berikutnya 1966. Lalu juara ganda – juara Divisi Utama dan juara Piala Liga – tahun 1967. Berlanjut juara Divisi Utama tahun 1968 dan 1970. Semuanya dibawah pimpinan Rinus Michels. Dia membawa Ajax ke final Champions Cup Eropa tahun 1969 namun kalah dari AC Milan 1-4. Masa itu Ajax diperkuat superstar Johan Cruyff.
Dua tahun kemudian Ajax ke final Champions Cup 1971, ada pemain baru gelandang serang Johan Neeskens dan Arie Haan. Kali ini Ajax menjadi juara Eropa setelah menang atas Panathinaikos 2-0. Setelah sukses gemilang ini, Rinus Michels meninggalkan Ajax ke Barcelona dengan gaji melangit.
Pengganti Michels, adalah orang Rumania eks pelatih Steaua Bucharest, Stefan Kovacs yang hanya perlu melanjutkan apa yang sudah dirintis Rinus hampir 6 tahun lebih. Stefan Kovacs mempertahankan pemain inti seperti Barry Hulshoff centreback yang tangguh, Johan Cruyff superstar dan penyerang paling hebat, Johan Neeskens gelandang menyerang yang juga pekerja keras dan suntikan pemain baru gelandang bertahan Ruud Krol.
Ajax sukses mempertahankan gelar juara Champions Cup di tahun 1972 dengan kemenangan 2-0 atas Inter Milan. Tahun 1973 dengan menampilkan dua bintang baru Johnny Rep dan Arie Haan, Ajax melengkapi gelar “hattrick” Champions Cup dengan kemenangan 1-0 atas Juventus.
Begitu banyak pemain jebolan Ajax, membuat Belanda tidak punya kesulitan membentuk tim nasional yang tangguh dan yang sanggup bersaing di high-level football. Dominasi klub-klub Belanda di Eropa, diperlihatkan rival Ajax dari Rotterdam yakni Feyenoord yang mampu nyabet juara divisi utama Belanda di sela-sela kejayaan Ajax, tahun 1969, 1971 dan 1974.
Visi dan wawasan Michels jelas sekali, dia menanamkan pemainnya untuk bersikap lebih profesional dan ekstra disiplin. Dalam waktu tiga tahun dia mengubah pemain-pemain Ajax dari pola pikir sampai ke penampilan di lapangan, membentuk skuad yang kohesif dan harmonis dalam kemasan daya tahan kekuatan fisik. Dia tidak memilih 11 pemain terbaik, melainkan pemain yang mampu mengembangkan skill dengan efektif. Dia selalu memberi kesempatan kepada pemain baru untuk bermain bersama dan memetik pelajaran dari pemain senior.
Konsep Rinus Michels yang dikenal sebagai “total football” sempat menghiasi koran dan media. Bahkan di dua Piala Dunia 1974 dan 1978 mampu melaju sampai final. Oranje gagal jadi juara hanya sebab yang dihadapi di final adalah tim tuan rumah. Jerman Barat dan Argentina. Namun gaya style dan kefasihan sepakbola menyerang ala Belanda tetap eksis sampai sekarang.
Bert van Marwijk, personal yang menyenangkan, cerdas dan intelek, sikapnya kalem, akrab dan bersosialisasi dengan semua pemain dan ofisial, dia pemersatu dan perekat tim. Dia belajar dari kegagalan Oranje di masa lalu yang selalu retak di dalam, selalu muncul pernik-perseteruan-ego-salah menyalahkan, yang menjadi penyebab Oranje sekian tahun tidak bisa lagi menapak final Piala Dunia. Dalam sekian tahun hanya satu piala besar yang dibawa Belanda, gelar Eropa 1988 bersama pelatih Rinus Michels, kapten Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ronald Koeman.
Hari Minggu 11 Juli mendatang, gelar dunia ada di depan mata, tak ada lagi kesempatan sebagus sekarang. Bert van Marwijk harus usaha keras menangkan final. Sneijder dan Robben, duo midfield. Sneijder kuncinya, Robben pemain vital. Keduanya dinamik.
Robben kualitas sangat penting sebab dia memancing defender lawan mengikuti gerakannya, memaksa dua lawan menjaganya, sehingga rekan lain bisa memanfaatkan celah dan lubang. Dia cepat, gesit dan licin. Belanda bersyukur dia sudah fit. Peran Sneijder sangat penting, mencetak gol dan merancang gol temannya. Kualitasnya tidak diragukan. Kita lihat apakah Belanda bisa menembus hambatan yang selama ini mengganjel upayanya menjadi juara dunia atau hanya sampai di posisi runner-up seperti dua Piala Dunia terdahulu? ***

World Cup 2010 Semifinal Germany vs Spain

World Cup 2010 (33) Semifinal
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Germany vs Spain
Loew Mengenal Lawan Lebih Baik
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 7 Juli 2010

Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, satu detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 Fernando Torres untuk timnasnya yang nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim Espana sejak tahun 1964 lampau. Itu adegan penting bagi sepakbola Spanyol, di final Euro 2008 tepatnya di kota Wina Austria 29 Juni pada menit 33.
Malam nanti 7 Juli semifinal Piala Dunia 2010 di Durban mempertemukan kembali dua tim itu, Spanyol juara Eropa yang berambisi meraih gelar dunia menghadapi Jerman juara dunia tiga kali, 1954, 1974 dan 1990 yang juga berambisi merebut gelar keempatnya. Dibanding final Euro 2008 skuad Jerman mengalami banyak perubahan pemain, tetapi pelatihnya tetap Joachim Loew. Sementara pemain Spanyol masih banyak yang eks 2008 tetapi tidak lagi didampingi sang pelatih Luis Aragones yang telah undur diri setelah meraih sukses besar itu.
Boleh ganti pelatih, Luis Aragones diganti Vicente Del Bosque, susunan pemain juga tidak mengalami perubahan maka gaya main pun tidak berubah. Masih sama identik, one-touch-football dengan short-passing yang jika diterapkan secara sempurna artinya minim error bisa membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin yang kental merupakan jawaban jitu mengimbangi permainan ofensif Jerman.
Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Sebagian besar materi pemain masih dari skuad 2008 seperti Iker Casilas, Carlos Marchena, Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Xabi Alonso, Fernando Torres, Joan Capdevila, Sergio Ramos, David Silva. Skuad lama yang tak lagi jadi pilihan Del Bosque antara lain, Fernando Navarro, Santiago Cazorla, Sergio Garcia, Daniel Guiza, Marcos Senna, Juanito Gutierrez, Ruben De La Red.
Tampaknya Spanyol akan tampil menyerang. Karena hanya dengan menyerang maka Spanyol bisa menahan laju Jerman. Tim ofensif dengan kemampuan menyerang dan mencetak gol yang tinggi seperti Jerman tidak bisa dihadapi dengan gaya bertahan. Apalagi selama ini Spanyol tak pernah main bertahan, hingga mustahil bisa mengubah gaya main dari “attacking” ke “defensive” hanya dalam satu minggu. So jelaslah Spanyol akan main attacking seperti biasanya. “Kami akan main menyerang seperti biasanya.” Tegas Del Bosque.
Satu hal yang menguntungkan Jerman dan tidak begitu nyaman bagi Spanyol, adalah Joachim Loew tahu persis kuat lemahnya Spanyol, karena nyaris tidak ada perubahan dengan tim yang dihadapi Jerman di final Euro 2008. Materi pemain dan gaya main yang sama.
Sebaliknya kekuatan “die mannschaft” yang sekarang sungguh beda. Setelah menggilas Inggeris 4-1 dan Argentina 4-0 tampak sekali taring “die mannschaft” begitu menakutkan dan yang saya kira bisa menghancurkan tim manapun juga.
Del Bosque bisa saja mempelajari Jerman dari rekaman lima pertandingannya di 2010 tapi itu hanya teori diatas kertas. Del Bosque dan skuadnya belum mencicipi laga sebenarnya di lapangan dengan Jerman yang sekarang ini. Materi pemain Jerman dan pola main berubah.
Sebagian besar skuad Euro2008 tidak lagi memperkuat Jerman 2010, ada yang cidera sebagian lain memang tidak dipanggil, seperti tiga kiper lawas Jens Lehmann, Robert Anke, Rene Adler, bek Clemens Fritz, Heiko Westermann, Christoph Metzelder, gelandang Simon Rolfes, Torsten Frings, Michael Ballack, Thomas Hitzlsperger, Tim Borowski, David Odonkor, penyerang Kevin Kuranyi dan Oliver Neuville.
Sebagai gantinya masuk para pemain muda yang rata-rata berusia 20-22 tahun dan yang sebagian diantaranya dari skuad U-21 yang juara Eropa 2009 kemarin. Jerome Boateng, Marko Marin, Toni Kroos, Holger Badstuber, Thomas Mueller, Mesut Oziel, Sami Khedira, Serdar Tasci, Dennis Aogo, dan kiper Manuel Neuer yang berusia 24 tahun. Materi berubah. Pola main lebih ofensif, karena materi “young guns” yang masuk starter XI memiliki ambisi, spirit, skill dan tenaga muda yang mampu bermain dalam tempo tinggi selama 90 sampai 120 menit.
Sudah pasti pertandingan akan menarik, dan pasti tidak kalah kualitas dan tidak kalah menarik dibanding partai Brazil versus Belanda atau Inggeris kontra Jerman. Kedua tim akan saling menyerang dan bertahan sama baiknya.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final nanti malam. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, seperti juga Iniesta Cs tahu tangguhnya midfield Jerman. Sektir midfield inilah yang akan menjadi kunci kemenangan, tim mana yang lebih menguasai sektor tengah ini dialah yang lebih berpeluang menang. Dua tim akan sama melakukan “pressure” terhadap pemain lawan yang menguasai bola.
Shcweinsteiger, Khedira, Oziel, Podolski dan pengganti Mueller yang mungkin saja Toni Kroos, akan bertarung ketat dan adu kejelian dengan Iniesta, Alonso, Xavi, Ramos, Fabregas atau Silva. Striker Miroslav Klose akan bersaing dengan David Villa, keduanya sama-sama produktif selama di Afrika Selatan. Tidak boleh ada error sekecil apapun, satu kesalahan akan segera dimanfaatkan lawan menjadi gol.
Kelebihan Joachim Loew sebagai pelatih yang jeli dalam merancang strategi dan membaca permainan lawan akan menjadi kunci kemenangan Jerman, dibanding Vicente Del Bosque. Kans menang ada di kubu Jerman, namun sepakbola mengandung misteri seperti misalnya faktor keberuntungan, faktor kesalahan wasit, faktor emosional. Misteri inilah yang membuat sepakbola sulit ditebak. Kita lihat saja, tim mana yang lebih beruntung. ***

World Cup 2010 (32) Netherland vs Uruguay Semifinal

World Cup 2010 (32) Semifinal
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Netherland vs Uruguay
Belanda Lebih Berpeluang Ke Final
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 6 Juli 2010

Belanda dan Uruguay akhirnya sampai juga di semifinal, mimpi indah yang tadinya hanya bayang-bayang, kini jadi kenyataan. Namun tiket itu diraih melalui sensasi dan drama partai perempat final yang mencekam. Brazil dengan cepat unggul satu gol di menit 10, dan tampaknya akan keluar sebagai pemenang ketika Robinho mengecoh kiper Maarten Stekelenburg. Belanda shok dan tertekan, tapi beruntung bagi skuad Oranje bahwa Robinho, Kaka Cs gagal menambah gol. Konon lelucon sepakbola, bahwa dewi fortuna alias dewi keberuntungan “ngambek” telah memberi peluang kepada Brazil namun dibuang begitu saja, maka sang dewi pun pindah ke kubu Belanda. Itulah keruntungan bagi Belanda.
Dibabak kedua Belanda “fight back” mengejar ketinggalan. Bertarung gigih, keberuntungan pun datang. Menit 53 bola lambung Sneijder ke mulut gawang seharusnya bisa diusir kepalan tangan Julio Cesar namun kepala Felipe Melo lebih dahulu menyundul bola yang justru melenceng ke belakang dan menusuk gawang sendiri, bunuh diri. Satu satu. Ganti Brazil yang shok dan tertekan. Menit 68 lini belakang Brazil lengah, Sneijder bebas di mulut gawang tanpa terkawal, menyundul bola, Julio Cesar mati langkah. Dua satu Belanda ke semifinal.
Belanda memang beruntung memperoleh gol bunuh-diri Felipe Melo. Jika keberuntungan itu datang di stadion Monumental Buenos Aires 25 Juni 1978 di menit 90 partai final, maka hari itu Belanda yang jadi juara bukannya tuan rumah Argentina. Pada skor 1-1 tendangan keras Robbie Rensenbrink membentur tiang dan bola memantul kembali ke lapangan permainan, penonton 71.483 yang hampir seluruhnya orang Argentina nyaris saja larut dalam tangis berdarah. Dalam perpanjangan waktu Argentina menambah dua gol, jadilah skor 3-1 dan Belanda harus puas dengan posisi runner-up, predikat kedua setelah kalah di final 1974 dari Jerman Barat.
Keberuntungan adalah bagian dari sepakbola, bagian dari kemenangan bagi satu pihak dan “sial” bagi tim lawan. Uruguay juga beruntung lolos dari hadangan Ghana yang didukung seluruh rakyat Afrika. Luis Suarez menahan bola tendangan Dominic Adiyah, wasit memberinya kartu merah dan hukuman pinalti di menit akhir perpanjangan waktu.
Tapi pinalti Asamoah Gyan gagal. Skor tetap 1-1 maka kemenangan ditentukan lewat adu pinalti. Kiper Fernando Muslera memblok dua tendangan John Mensah dan Adiyah. Lalu striker Sebastian Abreu yang dijuluki “El Loco” menjaring bola membawa “La Celeste” ke semifinal. Itulah keberuntungan Uruguay.
Malam nanti kedua tim saling berebut tiket final. Inilah partai yang menentukan sampai dimana dan kepada tim mana keberuntungan itu memihak. Belanda akan tampil dengan skuad terbaik yang telah menyingkirkan Brazil. Bert van Marwijk punya masalah, bek Gregory van der Wiel dan gelandang Nigel de Jong harus absen kena akumulasi kartu kuning. Namun dengan materi yang hampir merata, Bert van Marwijk tidak terlalu pusing mencari gantinya.
Bagaimanapun juga tumpuan permainan Belanda ada di kaki Arjen Robben, Wesley Sneijder, Mark van Bommel, Dirk Kuyt dan pengganti De Jong yang kemungkinan adalah Demmy De Zeeuw menopang striker Robin van Persie. Mereka diharapkan memainkan sepakbola ofensif dengan serangan bergelombang apalagi sekali-sekali dibantu kapten dan bek kiri Giovanni van Bronckhorst. Selama 2010 Belanda memenangkan 5 pertandingannya dengan gol 9-3.
Absennya pemain pilar juga menimpa Uruguay, pelatih “Oscar Tabarez “sang maestro” cukup terpukul dengan asbennya Luis Suarez. Tapi dia memuji striker yang main di klub Ajax itu, apa yang dilakukan dengan “tangan Suarez” itu adalah instink normal dan sangat berperan lolosnya “la celeste” ke semifinal. Mungkin saja “sang maestro” akan menurunkan veteran “nyentrik” Sebastian Abreu “El Loco” sebagai starter menggantikan Suarez.
Bek handal Jorge Fucile juga mengikuti jejak Suarez, harus nonton dari tribun, karena akumulasi kartu kuning yang diterimanya dalam pertandingan lawan Mexico dan Ghana. Belum terhitung pemain yang cidera yang masih dalam perawatan, gelandang Nicolas Lodeiro dan kapten Diego Lugano. Ketika lawan Ghana kapten Lugano ditarik keluar karena cidera dan menyerahkan ban kapten kepada Diego Forlan, Andres Scotti masuk menggantikan Lugano.
Organisasi bertahan Uruguay cukup solid, hanya kebobolan dua gol dalam 5 pertandingan. Saat hilang bola, pemain gelandang dan juga striker langsung bertarung merebut bola kembali. Mereka kembali pada posisi semula di separuh lapangan sambil menghadang serangan balik lawan. Organisasi ini sangat padu dan seirama, sehingga bisa menahan serangan cepat Korea Selatan dan Ghana. Tapi bisa digarisbawahi pertahanan Uruguay belum ketemu tim dengan daya serang setajam dan seampuh Belanda.
Saat menguasai bola, serangan balik Uruguay bisa saja membahayakan lini belakang Belanda jika Mark van Bommel, Giovanni van Bronckhorst tidak cepat melapis dan membantu John Heitinga Cs dibelakang. Sebaliknya, begitu menguasai bola Belanda akan menyerang cepat melalui sayap eksklusif Arjen Robben dan Dirk Kuyt. Terobosan Wesley Sneijder dan Robin van Persie dari tengah juga akan membuat Uruguay harus rapat menutup pertahanannya.
Dari kualitas individu maupun kerjasama menyerang Belanda lebih unggul. Dalam bertahan dengan semangat pantang menyerah yang menjadi ciri khas skuad “los Charruas”, tim la Celeste akan menjadi tembok tebal bagi agresifitas Belanda. Tampaknya permainan akan imbang, tetapi saya melihat Belanda bisa keluar sebagai pemenang tanpa harus adu pinalti, mungkin 90 menit mungkin juga 120 menit. Kita lihat saja. ***

World Cup 2010 (31) Semi Final

World Cup 2010 (31)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Juara Dunia Baru, Mungkinkah?
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 5 Juli 2010

Sejak dipentaskan tahun 1930 sampai kejadian di Afrika Selatan 2010, Piala Dunia hanya mengenal 7 negara yang pernah menjadi juara. Empat tahun lalu, Portugal satu-satunya non-juara yang lolos ke semifinal, tiga lainnya, tim juara, Jerman, Italia dan Perancis. Pada akhirnya yang sukses lolos ke final, dua mantan juara, Italia dan Perancis.
Tahun 2010 dari empat semi-finalis, dua antaranya non-juara, Belanda dan Spanyol. Dua lainnya eks juara dunia, Jerman dan Uruguay. Jadwal Belanda versus Uruguay dan Jerman versus Spanyol, memungkinkan terjadinya final antara dua non-juara Belanda versus Spanyol. Bisa juga antara dua tim juara dunia, Jerman kontra Uruguay. Atau Belanda versus Jerman atau Uruguay lawan Spanyol. Masih ada kemungkinan, bahkan cukup besar persentasenya, Afrika Selatan 2010 melahirkan juara baru, Belanda atau Spanyol.
Coba lihat data sejarah tentang kisah 7 juara merebut gelarnya yang pertama. Uruguay merebut gelar pertamanya di kandang sendiri 1930. Italia merebut gelar pertamanya ketika Piala Dunia diselenggarakan di Perancis 1938. Jerman merebut gelar pertamanya di Swiss 1954. Brazil menjadi negara ke-empat yang merebut gelar di Swedia 1958. Inggeris merebut gelar sebagai negara ke-lima di kandang sendiri 1966. Berikutnya Argentina di kandang sendiri 1978. Terakhir Perancis sebagai negara ke-tujuh di negerinya sendiri 1998.
Sudah 52 tahun berlalu, lebih separuh abad, sejak Brazil merebut gelar di Swedia 1958 sebagai juara dunia baru, belum ada negara yang merebut gelar sebagai juara baru ketika penyelenggaraan di negeri orang. Mungkinkah Belanda atau Spanyol? Lihat sejarah, Inggris juara baru di kandang sendiri, Argentina juara baru di depan publiknya di Buenos Aires, Perancis mampu menjadi juara baru di negeri sendiri. Kini 2010, mampukah Spanyol atau Belanda menjadi juara dunia di negeri orang?
Uruguay yang dijuluki “la celeste” dipimpin Oscar Washington Tabarez makin percaya diri dan termotivasi mengejar impian 60 tahun menjadi juara dunia. Dua kali juara dunia ini terakhir mencicipi gelarnya di Brazil tahun 1950. Setelah sukses itu Uruguay tenggelam dibawah dua negara latin yang jadi rival beratnya, Brazil dan Argentina. Uruguay terpuruk di level internasional, baru tahun 2010 ini bisa eksis lagi sebagai tim dunia.
Oscar Tabarez yang dijuluki “maestro” di negerinya pernah mengendalikan tim “la Caleste” dua tahun 1988 sampai 1990, setelah memegang kendali klub Deportivo Cali Kolombia. Sang maestro membawa Uruguay ke final Copa America 1989 yang berakhir runner-up dibawah Brazil, lalu meloloskan “la Caleste” ke Piala Dunia 1990.
Skuad Uruguay tumbang di putaran 16 Besar, kalah 0-2 dari tuan rumah Italia. Sang Maestro menyeberang sungai River Plate dikontrak Boca Juniors, membawa sukses klub besar Argentina juara liga yang pertama sejak 11 tahun. Sukses itu jadi batu loncatan pengembaraannya di Eropa, di liga seri A Italia Cagliari dan AC Milan serta klub La Liga Spanyol, Oviedo.
Pengalamannya yang fantastik bulan Maret 2006 dia ditarik pulang melatih tim “la celeste”, dia membawanya menempati peringkat empat Copa Amerika 2007 dan meloloskan timnya ke Afrika Selatan. Dia membawa Uruguay lolos ke FIFA U-17 dan Piala Dunia U-20. Tim Uruguay inilah yang akan menjadi ganjelan ambisi Belanda menjadi finalis ketiga kalinya. Uruguay dijuluki “Los Charruas” ibarat petarung sejati dengan semangat tinggi dan pantang menyerah. Konon, kalau ada anak manusia yang menjadi batu sandungan Belanda di semifinal nanti, dialah sang maestro OscarTabarez. Bukan bintang Diego Forlan atau Sebastian Abreu mesin gol pengganti Luis Suarez yang harus absen.
Kehadiran skuad Tabarez di semifinal, telah membalik semua ramalan dan memorakporanda pasar tarohan. Orang banyak meramal tim ini akan “keok” sebelum lolos ke semifinal. Brazil dan Argentina lebih dijagokan. Inilah kejutan sepakbola, dua raksasa Latin Brazil dan Argentina sudah ditendang pulang oleh Belanda dan Jerman. Kini satu-satunya harapan zone Conmebol bertumpu pada strategi sang Maestro berusia 63 tahun itu. Uruguay kini fokus pada ambisi merebut gelar juara. Uruguay inilah yang harus dilangkahi Belanda untuk menjadikan finalis ke-tiga negeri bunga tulip itu.
Semifinalis lain yang non juara yang sudah 80 tahun lebih “ngidam” gelar Piala Dunia, Spanyol harus melangkahi Jerman. Inilah batu sandungan yang ibarat “raksasa” menghadang jalan skuad Espana La Roja La Seleccion asuhan Vicente Del Bosque “old soldiers’ berusia 60 tahun. Jelas tidak mudah bagi La Roja, meskipun di final Euro 2008 mereka menang tipis 1-0 atas tim yang diujuluki “die mannschaft” itu.
Keadaan sudah lain. Jerman yang akan dihadapi adalah “the young guns” yang sudah menggilas dua juara dunia lainnya, Inggeris 4-1, dan Argentina 4-0. Kemenangan yang membuat percaya diri membumbung tinggi di skuad asuhan Joachim Low. Tapi kali ini percaya diri yang tidak menjadikan mereka “lupa memijak bumi” seperti ketika menggilas Australia 4-0 yang kemudian akhirnya mereka tumbang oleh Serbia 0-1.
Memijak kaki di semifinal, “die mannschaft” telah mencetak 13 gol dan hanya kebobolan 2 gol dalam 5 pertandingan. Suatu tanda, tim racikan Joachim Low ini sangat ofensif dan produktif serta memiliki pertahanan paling solid dan rapat. Ambisi Jerman juga sangat besar, ingin menambah koleksi gelar ke-4 menyamai Italia dan mendekatkan pada juara lima kali Brazil. Sudah 20 tahun tanpa gelar dunia, sejak tahun 1990 di Italia ketika “die mannschaft” asuhan Franz Beckenbauer menjadi juara dengan memukul Argentina 1-0 di final.
Ambisi “the young guns” menebus “kegagalan” di kandang sendiri tahun 2006 yang hanya berakhir di urutan empat, membiarkan gelar dunia itu direnggut Italia. Semangat, kesatuan, ambisi, keharmonisan tim, dan organisasi permainan yang didalangi Joachim Low, akan menjadi kerikil tajam bagi Spanyol untuk melangkah ke final.
Melihat dua tim penghadang yang begitu kokoh, maka kita pun bertanya-tanya mampukah Belanda dan Spanyol melangkah ke final menjadikan final sesama tim non juara yang akan menjadi negeri ke-8 pemegang supremasi sepakbola sejagad. Atau paling tidak salah satu diantara Belanda atau Spanyol menembus final dan memenangkan partai pemuncak di Johannesburg tanggal 11 Juli itu. Siapa tahu? ***

World Cup 2010 Germany vs Argentina

World Cup 2010 (30)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Germany vs Argentina
Jerman Lebih Berpeluang Menang
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 3 Juli 2010

Dalam dua pertemuan terakhirnya di Piala Dunia, Jerman memenangkan keduanya. Di Italia 1990 “Die Mannschaft” yang dipimpin Franz Beckenbauer menang 1-0 dalam final yang tegang. Pertemuan terakhir di perempat final di stadion Olympiade Berlin 30 Juni 2006 disaksikan 72.000 penonton kedua tim draw 1-1 selama 120 menit yang akhirnya dimenangkan Jerman lewat adu pinalti. Partai ini diwarnai kericuhan, perkelahian antar pemain.
Pemain pengganti Argentina Leandro Cufre diusir wasit Slovakia Lubos Michel karena menendang Per Mertesacker, juga Maxi Rodriguez memukul Bastian Schweinsteiger. Setelah investigasi dan mempelajari rekaman video, FIFA menskors Cufre dan Rodriguez, empat dan dua pertandingan. Gelandang Jerman Torsten Frings diskors absen di semifinal karena memukul Julio Ricardo Cruz. Maka bisa dipastikan pertandingan malam nanti akan ketat dan panas.
Sebelum pertandingan Maradona sudah berkoar, akan mengalahkan Jerman. Skuad “albiceleste” akan main “all-out” menyerang dan merebut tiket semifinal. Itu janjinya. Motivasi dan percaya diri cukup tinggi setelah menang atas Nigeria 1-0, Korea Selatan 4-1, Yunani 2-0 dan 3-1 atas Mexico. Mencetak 10 gol dan kemasukan 2 gol, Argentina memperlihatkan tim yang balans, produktif dalam mencetak gol dan bertahan dengan sangat baik.
Jerman pun tim yang balans. Bahkan lini belakang, “Die Mannschaft” tergolong solid dan sulit ditembus. Dua gol yang membobol gawang kiper Manuel Neuer, satu oleh Serbia dan satu oleh Inggeris. Kwartet belakang, Lahm, Mertesacker, Friedrich dan Boateng menjadi tumpuan Low untuk menahan gempuran Argentina yang dimotori Lionel Messi, Tevez dan Higuain.
Kapten dan bek kanan Philipp Lahm pemain yang komplet, sangat jeli membaca permainan, punya kemampuan tinggi “covering” daerah yang luas seperti juga gerakannya naik mendukung serangan.
Di jantung pertahanan berdiri Per Mertesacker yang menjulang 195 cm, tangguh dalam duel udara, bertenaga, jarang membuat kesalahan dan pelanggaran. Bisakah dia menahan Lionel Messi yang tingginya hanya 168 cm, akan tampak unik jika keduanya berhadapan berebut bola. Veteran Arne Freidrich dan pemain muda Jerome Boateng keduanya memiliki tackling mematikan. Empat defender ini tampak sangat tangguh, pasti akan membuat trisula Argentina bekerja keras. Konon kata orang, dalam 4 pertandingan kemarin, Messi, Tevez, Higuain belum menemukan pertahanan setangguh Jerman
Pertahanan Argentina belum stabil, Maradona belum menemukan kwartet yang pas, tercatat hanya Martin Demichels yang tampil empat kali, itupun dia kewalahan menahan kecepatan penyerang Mexico. Pilar pertahanan “albiceleste” yang menonjol, Gabriel Heinze yang tangguh dalam bertahan dan sangat agresif membantu serangan. Dua defender pilihan lain, mungkin Nicolas Burdusso dan Nicolas Otamendi, keduanya main bagus lawan Mexico. Mereka inilah yang dibebani tugas menahan serangan Jerman.
Argentina tidak akan mudah menguasai lini tengah meskipun Messi sering beroperasi di sektor vital itu. Bastian Schweinsteiger menjelajah mengamankan lini tengah ketika lawan Inggeris. Dia jarang hilang bola, sangat kuat dalam bertahan dan jeli sebagai playmaker. Pemain muda Sami Khedira akan mendampinginya menguasai lini tengah. Mezut Oezil pemain muda yang disebut-sebut bakal jadi gelandang kelas dunia akan beroperasi dari sayap, begitu juga “young guns” rekannya, Thomas Mueller yang sudah mencetak 3 gol, bertenaga didukung skill mumpuni.
Argentina harus kerja keras mengimbangi kekuatan midfield Jerman. Midfield Argentina tampak tidak istimewa ketika lawan Mexico. Mereka kalah dalam penguasaan bola, termasuk Maxi Rodriguez yang tidak gemerlap seperti juga penampilannya di Liverpool musim ini. Kapten Javier Mascherano sangat tangguh tapi butuh bantuan rekannya untuk menahan ekspansi gelandang Jerman yang rakus akan gol. Angel Di Maria tampak berbahaya ketika lawan Mexico namun harus kerja keras mengimbangi Jerman. Sementara veteran Juan Sebastian Veron kendati masih brilian tetapi dia akan kedodoran menghadapi tempo tinggi yang dikembangkan Jerman.
Lionel Messi pemain terbaik planet bumi sekarang ini. Tak diragukan lagi. Dia mampu merobek pertahanan dan mengubah permainan hanya dengan satu dua gerakannya yang eksplosif. Dia sering melakukan itu kala memperkuat Barcelona. Dia merancang gol sehebat dia mencetak gol. Tapi tampak bebannya terlalu berat, tim dan fans serta Maradona sangat berharap padanya. Hal ini membuat dia sering memaksa diri. Ketika lawan Mexico, dia sering menerobos kerumunan lawan dan kehilangan bola. Mungkin saja dia akan berubah. Tapi satu hal yang jelas, Messi adalah satu satunya alasan Argentina bisa menang.
Lukas Podolski dan Miroslav Klose mungkin tidak sehebat Gonzalo Higuain dan Carlos Tevez ataupun Diego Milito, namun seperti penampilan keduanya dalam misi menaklukkan Inggeris, mereka sangat peka dan memaksimalkan peluang yang ada. Mereka veteran yang bertarung lebih baik di timnasnya katimbang di klubnya. Mereka hanya tahu satu tujuan, maju dan cetak gol. Dengan dukungan lini tengah terutama dari sayap, Oziel dan Mueller, maka Klose dan Podolski tak akan kekurangan peluang, dan jika peluang itu hadir di depan mata, biasanya menjadi gol.
Lini depan Argentina lebih tajam. Gonzalo Higuain menjadi berbahaya dengan adanya Tevez dan Messi yang rajin membuka pertahanan lawan. Dia menjadi pilihan utama di klubnya, Real Madrid juga di skuad Maradona. Higuain seorang pencetak gol, mesin gol. Carlos Tevez “workhorse” terkadang bisa mencetak gol penting seperti ketika lawan Mexico meski gol sundulannya dalam posisi off-side.
Pertahanan dan midfield Jerman lebih kuat. Lini depan Argentina lebih tajam. Strategi pelatih akan ikut menentukan. Joachim Low punya pengalaman lebih dibanding Maradona. Selain itu Low juga ahli strategi dan jeli membaca permainan. Cepat dalam memecahkan persoalan yang dihadapi timnya di lapangan. Plus minus semua ini, peluang Jerman menang lebih terbuka. ***

World Cup 2010 Brazil vs Netherlands

World Cup 2010 (29)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Brazil vs Belanda
Pertarungan Sarat Emosi
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 2 Juli 2010

Pertemuan “do or die” Brazil versus Belanda Jumat malam akan selalu menarik perhatian publik. Tidak hanya penonton langsung di stadion Nelson Mandela Port Elizabeth tapi juga fans kedua tim yang tersebar di penjuru dunia. Rekor pertemuan, Brazil menang 3 kali, kalah 2 kali dan draw 4 kali, mencetak 14 gol, kebobolan 13 gol. Data berbicara, bahwa kekuatan kedua tim berimbang. Namun lebih menarik lagi, kedua tim selalu tampil saling menyerang. Keduanya juga menguasai permainan sepakbola ofensif dan indah yang pasti akan menghibur penonton.
Enambelas tahun lalu Brazil meraih gelar juara ke-empat kalinya, sukses yang mengembalikan kejayaan dan supremasi sepakbola “seleccao”. Hampir seperempat abad berlalu Brazil tak pernah menjuarai Piala Dunia setelah juara di pentas Mexico’70. Tak heran sukses itu disambut meriah pecintanya. Tetapi perjuangan di USA’94 itu tidak mudah.
Di perempat final Brazil yang ditukangi Carlos Alberto Parreira dan asisten Mario Zagallo terlibat “clash” dengan Belanda. Dua tim dengan pola menyerang saling berhadapan, salah satu harus tersingkir dan pulang. Pertandingan sangat menarik, disebut-sebut sebagai “real final” dan yang terbaik selama USA’94.
Tanggal 9 Juli 1994 stadion Cotton Bowl Dallas dipadati 63.500 penonton, menyaksikan dua tim dengan tradisi dan “attitude” menyerang saling gempur. Romario, Bebeto diimbangi Marco van Basten, Denis Bergkamp. Persaingan menguasai lapangan tengah, Dunga, Rai, Mauro Silva sangat imbang lawan Frank Rijkaard, Jan Wouters, Wim Jonk. Pada akhirnya Brazil mencetak 3 gol lewat Romario, Bebeto, Branco. Belanda dua gol oleh Denis Bergkamp dan Aaron Winter. Kalah 2-3 Belanda yang ditukangi Dick Advocaat pulang kampung. Brazil melaju terus sampai di final dan merebut gelar juara.
Empat tahun kemudian dua “attacking team” ini bertemu lagi di France’98. Kali ni terjadi di semifinal 7 Juli 1998 di stade Velodrome, Marseille dibanjiri 54.000 penonton. Tensi lebih tinggi karena pemenangnya akan ke final. Belanda yang sudah dua kali runner-up 1974 dan 1978 mengincar finalnya yang ketiga. Ronaldo dan Pattrick Kluivert mencetak gol. Sampai dengan extra-time 2 kali 15 menit skor tetap 1-1. Adu pinalti.
Kiper Brazil Taffarel yang main di klub Atletico Mineiro dihitung-hitung kalah kelas dari Edwin van Der Sar yang mengawal gawang Oranje. Namun kenyataan di lapangan justru berpihak pada Taffarel. Dalam adu pinalti penjaga gawang Brazil ini menahan dua tembakan Philip Cocu dan Ronald de Boer. Sementara dari kubu Brazil, Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga dengan ketenangan syaraf baja sukses menjaringkan bola ke gawang Van der Sar. Jasa Taffarel senilai tiket final. Sungguh dramatik.
Pertemuan Jumat malam nanti tentunya akan sarat emosi “revanche” dari kubu Oranje. Ronald de Boer hadir di bench Belanda sebagai asisten Bert van Marwijk. Di kubu Brazil, mantan kapten Dunga sudah “naik tahta” jadi pelatih “seleccao”. Tapi keduanya pasti masih mengingat atmosfir pertandingan 1998 terutama saat adu pinalti. Kini mereka bisa merasakan kembali tensi dan ketegangan yang mewarnai atmosfir pertandingan.
Di 2010 kedua tim telah memperlihatkan prestasinya. Belanda menjuarai grup E dengan tiga kemenangan atas Denmark (2-0), Jepang (1-0), Kamerun (2-1) dan di babak 16 Besar melangkahi perlawanan keras Slovakia (2-1). Mencetak 7 gol dan kebobolan 2 dari 4 pertandingan. Brazil memuncaki grup G menang atas Korea Utara 2-1, Pantai Gading 3-1 dan draw dengan Portugal 0-0 lalu di putaran 16 Besar mengalahkan Chili 3-0. Menang 3 kali draw satu, mencetak 8 gol, kebobolan 2.
Kubu Belanda yang disuarakan sang kapten Giovanni van Bronchorst percaya timnya akan merebut gelar juara, apalagi dengan kembali hadirnya Arjen Robben ke dalam starting-line-up setelah pulih dari cidera harmstring. Juga Robin van Persie tadinya belum mampu main 90 menit kini sudah siap tampil 120 menit. Kelebihan Belanda adalah memainkan bola cepat dan mengontrol bola selama mungkin. Tetapi tentu saja tidak semudah itu jika menghadapi Brazil.
Banyak tim memainkan pertahanan berlapis jika hadapi Brazil. Sedikit yang berani main terbuka saling menyerang. Bahkan Portugal yang didukung superstar Cristiano Ronaldo memilih strategi bertahan rapat dan menyerang balik. Namun Belanda mungkin tidak akan mengubah gaya main yang sudah mentradisi pola menyerangnya.
Lagipula tidak mudah mengubah pola karakter menyerang menjadi bertahan dalam waktu hanya satu minggu. Selain itu alasan pelatih Bert van Marwijk, skuadnya yakin bisa membungkam Brazil. Kwartet penyerang Belanda dengan Wesley Sneijder menopang trisula di depannya, Arjen Robben, Robin van Persie dan Dirk Kuyt sudah menyatu dan padu dalam menyerang. “Kami tetap main menyerang seperti biasa, tidak ada perubahan,”kata Van Marwijk.
Selain optimisme, kedua kubu juga menyimpan kelemahan. Kabar terakhir, mungkin saja gosip Piala Dunia, menyatakan adanya keretakan dalam tubuh Oranje antara Van Persie dengan Sneijder namun konon sudah diatasi Van Marwijk. Kalaupun benar pernah ada percikan emosi antar pemain di kubu Belanda, maka Brazil bisa memetik keuntungan.
Brazil juga terguncang jika benar dua pemain intinya Elano dan Felipe Melo harus absen karena cideranya belum pulih. Elano, konon masih cidera akibat tackling brutal pemain Pantai Gading Ismael Tiote. Sejak Dunga pegang kekuasaan, Elano selalu jadi pilihan utama. Di 2010 dia telah mencetak dua gol, masing-masing satu ke Korea Utara dan Pantai Gading. Satu pemain inti lain yang mungkin akan absen karena cidera, Felipe Melo. Namun Dunga tak pernah khawatir, skuadnya punya banyak cadangan yang hampir sama kelas dengan pemain inti.
Peluang menang sama imbang bagi kedua tim, seperti juga dua pertemuan sebelumnya di 1994 dan 1998. Namun apapun yang terjadi di lapangan nanti, pertandingan akan menjadi tontonan menarik karena hadirnya banyak bintang kelas dunia, Robben, Robinho, Kaka, Sneijder, Fabiano, Robin van Persie. ***

World Cup 2010 (28) Argentina and Maradona

World Cup 2010 (28)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Review Argentina danAmerika Latin
Maradona dan Maradona
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 2 Juli 2010

Belum pernah sebelumnya empat tim Amerika Latin menembus babak perempat final, tadinya di perdelapan final 5 tim Latin yang lolos. Sayangnya Chili harus ketemu Brazil yang berakhir kekalahan bagi Chili. Afrika Selatan 2010 tadinya diharapkan enam wakil benua Afrika bisa melaju ke babak knock-down, nyatanya 5 diantaranya rontok di grup, Afrika Selatan, Nigeria, Aljazair, Kamerun, Pantai Gading. Hanya Ghana yang melaju sampai babak perempat final.
Prediksi para pengamat, khususnya harapan pecinta sepakbola Afrika, keliru. Justru yang berkibar adalah sepakbola Amerika Latin, empat wakilnya punya peluang menembus semifinal jika mampu melewati hadangan lawan. Uruguay lawan Ghana. Argentina lawan Jerman. Brazil lawan Belanda dan Paraguay lawan Spanyol. Amerika Latin 4 wakil, Afrika satu dan Eropa tiga. Inilah prestasi terbaik dari konfederasi zone Conmebol sepanjang usianya yang 93 tahun. Inilah prestasi puncak Dr Nicolas Leoz Almiron yang asal Paraguay sebagai presidente de la Conmebol sejak dipilih Mei 1986 lalu.
Saya pastikan Nicolas Leoz bersukacita melihat kemenangan Paraguay dalam adu pinalti dengan Jepang. Bisa dibayangkan kecewanya Presidente de la Conmebol jika tim negeri sendiri tidak masuk perempat final sementara tiga wakil Conmebol lainnya telah lolos lebih awal. Ada yang berubah dari penampilan tim Latin termasuk Chili. Telah terjadi pergeseran filosofi yang mendasar dalam permainan, pola main keras menjurus kasar mulai ditinggalkan, beralih percaya diri sanggup memainkan bola dengan skill dan tehnik.
Brazil mengawali perubahan ini. Sejak peristiwa “battle of Berne” di Piala Dunia Swiss 1954 ketika di perempatfinal dua tim unggulan Hongaria dan Brazil berlaga. Pertandingan berlangsung keras dan kasar menjurus brutal diwarnai perkelahian di lapangan yang berlanjut di kamar ganti. Sejak peristiwa hitam yang menodai sejarah Piala Dunia, CBF Federasi Brazil menerapkan aturan keras untuk tim “seleccao”, filosofi bermain bertumpu pada skill dan tehnik. Empat tahun kemudian dimotori pemain muda Pele, Brazil juara di benua Eropa, Swedia 1958.
Ketika Brazil mulai memainkan sepakbola indah berbasis skill dan tehnik, Argentina masih terbelenggu pola main kasar yang memang “laku” jika main di Amerika Latin. Barulah ketika Cesar Luis Menotti dipercaya menangani “albiceleste” percaya diri mulai ditanamkan. “Hanya dengan skill dan tehnik mumpuni kamu bisa main di klub Eropa mengikuti jejak Mario Kempes yang main di Valencia.” Katanya berulang-ulang kepada pemainnya.
Tahun 1978 sepakbola Argentina memasuki era baru. Kata-kata Menotti benar tentang skill dan tehnik. Pasarella Cs sukses memenangkan gelar Piala Dunia pertamanya dengan permainan yang sudah mulai bergeser meninggalkan era kasar dan brutal. Sejak itu skuad albiceleste selalu muncul di pentas dunia dengan sepakbola indah. Memang ada bedanya gaya Brazil dengan Argentina, seperti juga beda dansa samba dengan tango.
Samba Brazil lebih banyak meliuk-liuk dalam irama yang menghipnotis mata orang. Pasangan pria dan wanita merapat sambil meliuk-liuk bisa memancing sensual penonton, persis “jogo bonito” yang dimainkan di lapangan. Tango lebih banyak kedutan seperti kaki menendang, gerak kaki melingkar dan tubuh wanita yang ditekuk, si pria sebagai komandan dan pasangan wanitanya jadi obyek keindahan. Itu sebab terkadang orang menilai gaya main “albiceleste” lebih praktis mencari gol sedang “jogo bonito Brazil” sering terlena oleh sambanya sendiri dan lupa mencetak gol.
Sebelum era Menotti, sepakbola Argentina ibarat membentur benteng. Tak mampu menembus persaingan level dunia dan selalu kalah, seperti juga perjuangan keras juara tinju kelas berat Argentina, Oscar Bonavena yang tak mampu menghadang jab-jab Muhammad Ali dan akhirnya “knock-down” dalam partai perebutan gelar juara dunia tinju kelas berat di tahun 1970.
Sukses Menotti ibarat fondasi yang dipasak-bumikan ke pembinaan sepakbola di pelosok tanah Argentina menyentuh Diego Maradona. Sinar gemilang Maradona tidak menarik minat Menotti untuk merekrutnya ke tim albiceleste. “Biar dia memperkuat tim yunior kita di Piala Dunia U-19 agar lebih matang,”kata Menotti. Jadi skuad 1978 tidak menyertakan Maradona
Tahun 1982 Maradona masuk skuad albiceleste ke Espana, kalah digusur Italia dan Maradona kena kartu merah. Menjelang Piala Dunia 1986 di Mexico Maradona sudah matang, usia 25 tahun dan main di klub Italia, Napoli. Pelatih Carlos Salvador Bilardo tak tahan akan sikap arogan si bintang Maradona yang sering aneh-aneh. Dia nelpon Menotti yang lebih mengenal Maradona sejak masih remaja. “Beri dia kaos nomor 10, beri dia kebebasan main, beri dia kekuasaan di lapangan, itu yang harus kamu lakukan,” kata Menotti si “chain-smoker”.
Ketika Bilardo melaksanakan nasihat Menotti seketika tim albicelesta bersinar. Maradona masih saja aneh, ketika “handsball”nya menembus gawang Peter Shilton sekaligus menyingkirkan Inggeris dari pentas Mexico’86 dan dia menyebutnya sebagai “tangan Tuhan”. Argentina juara untuk kedua kalinya, kredit terbesar ada dalam diri Maradona si superstar.
Ketika dipercaya menangani albiceleste ke 2010, langkah awal yang diterapkan Maradona adalah “I am the boss”. Pemain playmaker yang hebat Juan Roman Riquelme ragu dan tidak percaya cara Maradona menangani team. Riquelme dilupakan. Maradona memanggil para senior untuk menjadi panutan pemain muda. Walter Samuel usia 32 tahun yang main di Inter Milan, Gabriel Heinze (Marseille 32 th), Martin Palermo (Boca Juniors 37 th), Juan Sebastian Veron (35 th, Estudiantes). Palermo dan Veron memang dari klub lokal namun sudah kenyang melanglang di klub-klub Eropa.
Ketika Maradona dibikin pusing ulah Lionel Messi yang tak kunjung bersinar, tidak tampil seperti penampilannya di Barcelona, Maradona teringat perlakuan Bilardo padanya. Dia lalu memberi kebebasan pada Messi untuk berkreasi dalam ruang yang luas. Para senior tunduk pada “sang boss” dan mengikuti permainan yang berpolarisasi pada Messi si bintang Barcelona itu.
Argentina sukses juara di Mexico’86 karena Maradona. Kini Argentina yang dicibir publiknya sendiri sudah menembus perempat final, juga karena Maradona. Dulu sebagai pemain, kini sebagai pelatih. Maradona tetaplah Maradona. Orang Argentina pun menanti apa yang bisa diciptakan Maradona di 2010 khususnya menghadapi hadangan Jerman yang tangguh. Dulu 1986 Maradona juara, mampukah kini 24 tahun kemudian sebagai pelatih dia juara, menyamai Franz Beckenbauer dan Mario Zagallo yang juara dunia sebagai pemain maupun pelatih? Kita tunggu.

***

World Cup 2010 (27) Germany Die Mannschaft

World Cup 2010 Serial (27)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Review Jerman
“Die Mannschaft” Jerman Yang Membalikkan Pasar Tarohan
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 1 Juli 2010

Jerman disegani di Eropa bahkan di dunia saat ini. Tim dengan prestasi juara dunia 3 kali (1954, 1974, 1990) tadinya tidak masuk empat besar unggulan pasar tarohan “Hill House”. Menjelang kick-off Afrika Selatan 2010 “Hill House” mengunggulkan Spanyol, diikuti Brazil, Inggeris dan Argentina. Di posisi 5 Belanda. Barulah Jerman dan Italia sama-sama di posisi 6.
Tetapi setelah menyelesaikan babak penyisihan dengan penampilan mengesankan, kini Jerman jadi kandidat kuat juara 2010. Jerman yang dijuluki “Die Mannschaft” (the team) mengawali partai perdananya dengan gemilang, menghancurkan Australia 4-0. Pada pertandingan kedua, pasukan Low ini kalah 0-1 dari Serbia. Sebuah kejutan tetapi pelajaran bagi pemain-pemain “die mannschaft” untuk tidak terpancing emosi dan harus bisa menekan temperamen.
Jerman bangkit kembali, mengalahkan Ghana 1-0 di partai menentukan. Di babak knock-down 16 Besar mereka semakin trengginas dan menghancurkan Inggeris 4-1, suatu kemenangan dengan skor besar yang di luar dugaan para pengamat. Namun dari penampilan lapangan, Jerman layak menang karena memiliki banyak kelebihan. Malam itu Jerman lebih kuat dari Inggeris.
Die Mannschaft main dalam kesatuan dan kebersamaan yang sangat padu. Di luar lapangan, hubungan juga harmonis dan akrab. Dalam hal ini Joachim Low sebagai coach sangat disiplin tapi juga akrab. Asisten coach Hans-Dieter Flick bersama pelatih kiper Andreas Kopke, athletic coach Shad Forsythe dan Oliver Bartlett, direktur tehnik Matthias Sammer dan team manager Oliver Bierhoff sama-sama bekerja keras dan memelihara keharmonisan didalam skuad. Kopke mantan kiper kondang, begitu juga Sammer yang handal sebagai defender timnas. Dan Bierhoff semasa pemain telah mencetak 37 gol dari 70 caps atau rata-rata 0.53 gol per pertandingan.
Kecuali penampilan lawan Serbia, tiga lainnya memperlihatkan kerjasama tim, kesatuan dan saling pengertian sesama pemain. Dari lini belakang dan kiper ke lini tengah dan lini depan, Bastian Schweinsteiger Cs bekerja keras saling bantu, memperlihatkan permainan yang mengalir sesuai tempo yang diinginkan. Stamina dan semangat pemain mengejar dan merebut bola lalu membangun serangan cepat seakan tercipta begitu saja.
Hebatnya lagi Jerman memiliki dua striker yang ibarat “monster” bagi pertahanan lawan, Lukas Podolski dan Miroslav Klose. Keduanya tampil buruk di bundesliga musim ini, mandul dalam urusan mencetak gol. Tetapi begitu tampil di timnas, keduanya menggila mengobrak-abrik pertahanan lawan. Klose sampai hari ini telah mencetak 50 gol dari 99 caps-nya, rata-rata 0.51 gol per pertandingan. Dia pencetak gol urutan kedua Jerman sepanjang masa, dibawah legenda Gerd Muller yang mencetak 68 gol dari 62 caps, rata-rata 1.09 gol per pertandingan.
Lukas Podolski usia 25 tahun, tujuh tahun lebih muda dari usia Klose, memiliki masa depan cerah, dari 77 caps Podolski yang berdarah Polandia telah mencetak 40 gol, artinya 0.52 gol per pertandingan. Permainan Jerman yang ofensif pragmatis menjanjikan produktifitas para pemainnya. Podolski sudah mencetak dua gol sama banyak dengan Klose, sayang pinalti Podolski ke gawang Serbia tidak membuahkan gol.
Pola dan gaya main “die mannschaft” yang ofensif pragmatis membuat hampir semua pemain sanggup menjadi pencetak gol. Di Afrika Selatan 2010 muncul pencetak gol baru di skuad Jerman dan telah mencetak satu gol lebih banyak dari Podolski dan Klose. Dialah gelandang serang Bayern Munich yang baru berusia 21 tahun, Thomas Mueller yang mencetak 1 gol ke gawang Australia dan 2 gol ke gawang Inggeris. Tak salah jika Low sejak awal memilihnya sebagai starter. Mueller patut berterimakasih pada Louis van Gaal, pelatih Bayern Munich, yang memercayai dia sebagai gelandang serang dari pola 4-5-1 yang dimainkan Munich. Itulah awal kiprahnya yang berlanjut ke debut di tim asuhan Low 3 Maret 2010 ujicoba lawan Argentina.
Keberanian Low dalam meramu pemain muda ke dalam skuad senior, meneruskan revolusi sepakbola Jerman yang dilakukan pendahulunya Juergen Klinsmann. Low menggantikan mantan kapten die mannschaft 1994-1998 itu ketika Klinsmann menolak melanjutkan melatih Jerman seusai Piala Dunia 2006.
Kecerdikan Joachim Low dalam urusan strategi membuat dia ditarik Klinsmann sebagai asisten yang berhasil membawa angin segar perubahan “die mannschaft” yang baru dan segar. Kala itu Juergen Klinsmann menjanjikan penampilan tim Jerman yang baru dan yang memikat penggila bola negerinya. Janji itu terpenuhi, meski hanya merebut peringkat tiga Piala Dunia 2006 yang berlangsung di negeri sendiri namun penampilan tim yang ofensif pragmatis itu mampu merebut simpati publik. Tak ada kritik, bahkan Klinsmann dielu-elukan melanjutkan kepemimpinannya.
Klinsmann menolak maka Joachim Low naik pentas. Dia melanjutkan kerja Klinsmann dan dengan inisiatif serta penemuannya sendiri, mengantar Jerman ke final Euro 2008 dan kalah tipis 0-1 dari Spanyol oleh gol tunggal Fernando Torres. Di babak kualifikasi 2010 skuad Low ini juga tampil impresif. Dalam partai penentuan 10 Oktober 2009 Jerman mengalahkan Russia 1-0 di Moscow dan merebut posisi puncak grup sekaligus lolos ke 2010. Sepuluh pertandingan tanpa kalah, menang 8 dan draw 2 dengan memasukkan 26 gol kemasukan 5, mengungguli Russia, Finlandia, Wales, Azerbaijan dan Liechtenstein.
Produktifitas selama babak kualifikasi menandakan Jerman era Klinsmann yang dilanjutkan Low telah mengubah gaya dan corak main dari cenderung bertahan ke pola ofensif dan pragmatis yang sekaligus mengembalikan Jerman ke masa jaya era Beckenbauer semasa pemain maupun pelatih. Kini di 2010 sepak-terjang menjuarai grup dan menyingkirkan Inggeris di babak knock-down 16 Besar dalam “big-match” yang menyedot perhatian dunia, “die mannschaft” sekali lagi memperlihatkan diri sebagai tim yang kandidat kuat merebut gelar 2010. ***

World Cup 2010 (seri 26) Spain vs Portugal

World Cup 2010 Serial (26)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Spain vs Portugal
Satu Menang Satu Pulang
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 29 Juni 2010

Jerman sudah ketemu Inggeris, laga dua juara dunia yang dimenangkan Jerman dengan telak 4-1. Diwarnai tangis dan penyesalan tim “three lions” pulang kampung. Sedangkan tim panser Jerman masih melanjut kiprahnya di pentas 2010, mengincar gelar juara yang ke-empat. Selasa besok, Spanyol dan Portugal, dua tim elit Eropa akan saling “bunuh”, hanya satu yang akan keluar sebagai pemenang. Spanyol, juara Eropa 2008 yang belum pernah juara dunia atau Portugal yang bertahun-tahun belum juga mencicipi nikmatnya juara dunia atau juara Eropa.
Satu menang, satu pulang. Seperti itulah babak knock-out. Jika draw, berlanjut ke extra-time, masih juga draw, adu pinalti! Pokoknya satu harus menang. Tidak ada tawar menawar. Babak 16 Besar ini mempertemukan 16 tim yang lolos dari persaingan 32 tim di babak penyisihan. Jika lolos maka memasuki babak perdelapan final, tensi makin tinggi, kualitas tim makin bersaing. Makin lama makin mengerucut dan sampai ke grand-final, puncak dari seluruh 64 pertandingan yang melelahkan bukan hanya pemain, wasit, panitia bahkan pers pun harus punya stamina.
Pertemuan Spanyol kontra Portugal tidak kalah dari partai Jerman vs Inggeris. Bahkan dari sisi sepakbola indah, saya kira partai Spanyol dan Portugal akan lebih enak ditonton. Peragaan skill individu Xavi, Iniesta, Xabi Alonso, David Villa, Sergio Ramos dikubu Espana La Roja dan Cristiano Ronaldo, Pepe, Simao, Deco di kubu Portugal yang sama-sama memainkan gaya euro-latin yang cantik sekaligus mematikan pasti akan memukau penonton.
Begitu undian menempatkan Brazil dan Portugal di grup G dan Spanyol di grup H maka sudah dipastikan akan adanya pertemuan Brazil vs Spanyol atau Portugal vs Spanyol di babak 16 Besar kecuali salah satu atau dua dari tiga tim papan atas dunia itu tersingkir di penyisihan. Tapi mana mungkin mereka tersisih. Jadi bagaimana pun ketiganya sudah siap. Keberhasilan “seleccao” Brazil menjuarai grup G dan Spanyol memuncaki grup H maka keduanya terhindar dari partai “big-match” antara unggulan satu (Spanyol) dan unggulan dua (Brazil).
“Kami (Portugal) tidak takut Spanyol!” Teriak Simao, pemain sayap Portugal dari klub Athletico Madrid. Apa benar tidak takut? Mengapa berkomentar jika Anda tidak takut? Bisa dimaklumi jika skuad asuhan Carlos Queiroz khawatir, mengingat Spanyol disebut-sebut sebagai tim terbaik dunia saat ini. Dan pasar tarohan pun mengunggulkan Spanyol.
Simao dan rekan seklubnya Tiago, Deco yang sudah fit dari cideranya, diperkuat dua pemain Real Madrid Pepe dan “superstar” Cristiano Ronaldo harus bekerja keras membalik ramalan orang. Harus tampil menyerang setajam ketika membantai Korea Utara 7-0 dan pertahanan rapat dan terorganisir rapi seperti ketika menahan Brazil tanpa gol di pertandingan akhir grup G.
Harus rajin dan terkonsentrasi dalam melakukan “pressure” terhadap lini tengah Espana yang dimotori dua bintang Barcelona, Andres Iniesta dan Xavi Hernandes, serta dua pilar Real Madrid Xabi Alonso dan Sergio Ramos. Juga mengawal ketat striker Valencia David Villa yang tampaknya makin “lapar gol” dan Fernando Torres bintang Liverpool yang mencetak gol tunggal ke gawang Jerman yang memenangkan gelar Euro 2008. Mungkin Vicente Del Bosque menurunkan Villa sendirian, bisa juga duet bersama Torres.
Portugal harus memanfaatkan kecepatan serangan balik pada detik menguasai bola, serangan cepat lewat sayap akan menyulitkan pertahanan Spanyol yang dikawal dua defender Barcelona Carles Puyol dan Gerard Pique serta kiper Real Madrid Iker Casillas. Kecepatan Ronaldo, Simao dan Pepe bisa mempersulit Puyol Cs. Pertandingan antara dua tim sesama saudara Iberia ini akan menjadi kenangan Piala Dunia 2010, selama pertemuan kedua tim, Spanyol mencatat 15 menang, 5 kalah dan 12 draw, selisih gol 71-37.
Setelah merebut gelar Euro 2008 lewat permainan yang mengesankan seperti juga sepakbola indah yang ditampilkan Barcelona, maka Spanyol pun disebut-sebut sebagai kandidat paling serius menjuarai 2010. Kekalahan 0-1 dari Swiss telah membuka mata Portugal bahwa Spanyol bisa saja dikalahkan. Permainan pantang menyerah, bertahan rapat dan serangan balik yang cepat adalah kunci Swiss mengalahkan Spanyol.
Pastilah Carlos Queiroz mempelajari taktik ini. Bisa juga dia meniru taktik Jose Mourinho, rekan pelatih senegaranya, yang mendalangi kemenangan Inter Milan atas Barcelona, di leg kedua semifinal piala Champions kemarin, dimana Inter bertahan diseputar kotak pinalti dengan serangan balik yang cepat meski hanya dengan dua penyerang.
Namun Spanyol pun mengetahui “jiwa” permainan Portugal adalah baik buruknya penampilan “superstar” Ronaldo. Kawal ketat Ronaldo sama dengan menahan laju Portugal, meskipun itu suatu pekerjaan sulit mengingat striker Real Madrid ini sangat cepat dan licin. Maka kembali pada strategi pelatih dan implementasi skuadnya di lapangan permainan.
Peluang kedua tim fifty-fifty dengan Spanyol lebih punya kans menang. Tidak boleh dilupakan bahwa “keberuntungan” sangat dibutuhkan. Termasuk “beruntung” karena keputusan wasit yang merugikan tim lawan, seperti kejadian gol Frank Lampard yang jelas-jelas bola sudah melewati garis gawang tetapi wasit tidak menyatakan gol. Atau gol pertama Argentina ke gawang Mexico di menit 26, Carlos Tevez jelas-jelas berada di posisi offside ketika mencetak gol, asisten wasit dan wasit Roberto Rosetti menegaskan gol itu sah. Kita tunggu saja. ***