Thursday, June 26, 2008

Piala Eropa 2008 Semifinal Russia vs Spanyol

Piala Eropa 2008 / 26 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Awas, Ini Russia Baru

Oleh : John Halmahera

Pasukan beruang merah Russia tampil di semifinal tanpa diperkuat dua pilarnya, defender Denis Kolodin dan gelandang serang Dmitri Torbinski. Keduanya kena kartu kuning kedua dalam laga lawan Belanda. Sementara di kubu Spanyol, tiga pemainnya yang sebelumnya sudah kena kartu kuning lolos dari “booking” saat laga lawan Italia di perempat final. Ketiganya Alvaro Arbeloa, Daniel Guiza dan Carlos Marchena. Hal ini melegakan bagi Luis Aragones yang punya pilihan 23 pemain untuk dimainkan dalam semifinal lawan Russia dini hari nanti.
Kehilangan dua pemain itu bagi pelatih Russia, Guus Hiddink, satu pukulan. Denis Kolodin adalah salah satu pilar bek-tengah bersama Sergei Ignashevich. Absennya Kolodin, mungkin pilihan Hiddink akan jatuh pada Roman Shirokov, centreback klub Zenit yang bisa main di berbagai posisi.
Sejak ditangani Guus Hiddink, pola main tiga bek yang bertahan lama di tim Russia beralih menjadi empat bek. Belakangan Hiddink lebih menyukai pola 4-2-3-1. Dalam semifinal lawan Spanyol di Wina mungkin dia memainkan Ignashevic berdua Shirokov. Di depannya ada dua gelandang bertahan Sergei Semak dan Igor Semshov sebagai “dirty work” yang tugasnya membendung serangan lawan.
Kreatifitas membantu serangan bertumpu pada tiga attacking midfield yang juga tangguh dalam bertahan, Konstantin Zyryanov, Diniyar Bilyaletdinov atau Ivan Saenko serta Andrei Arshavin yang sering beralihfungsi menjadi striker memanfaatkan lubang pertahanan lawan yang dibuka oleh striker tunggal, Roman Pavlyuchenko. Dua fullback Aleksandr Anyukov (26 th) dan Yuri Zhirkov (25 th) masih tangguh naik menyerang dan turun bertahan sepanjang permainan.
Kedua tim pernah tanding sebelumnya. Russia kalah telak 1-4. Kala itu banyak kesalahan elementer yang dilakukan pemain secara individu maupun dalam menjalankan taktik strategi. Memberi ruang bebas pada pemain sekelas Fernando Torres dan David Villa, itu sama artinya menciptakan kesulitan dan masalah dalam pertahanan. Itulah yang terjadi di episode satu itu. Torres dan Villa mengobrak-abrik dan mengacak pertahanan Russia, David Villa bahkan mencetak hattrick.
Dalam pertandingan berikutnya, Russia bangkit dari “kematian”, menutup semua lubang kelemahan dan meniadakan kesalahan individu maupun taktik. Berturutan pasukan Hiddink ini menggasak Yunani 1-0 dan Swedia 2-0. Langkah berlanjut, mereka membuat kejutan besar di perempatfinal. Kala semua orang meramalkan Belanda sebagai superior, Russia tampil elegan dengan kemenangan fantastis 3-1 dalam extra time.
Lompatan besar ini, bukan hanya suatu kebangkitan dari kematian, lebih dari itu telah menanamkan rasa percaya diri pada pemain secara individu maupun team-work. Russia yang sekarang ada di semifinal ini, adalah Russia yang baru. Secara tehnik, tim ini tidak kalah kelas dari tim elit Eropa lain. Ini juga cerminan dari sukses klub Zenit St Petersburg memenangkan gelar UEFA Cup.
Episode dua Spanyol vs Russia ini akan berbeda dengan episode satu. Tahu persis bahwa lawannya sudah memperbaiki kesalahan dan bahkan sudah mencatat kemenangan dalam 3 pertandingan terakhirnya, Luis Aragones akan memainkan strategi berbeda. Kalau di penyisihan grup masih memungkinkan memperoleh “second wind”, di babak knock-out ini, error sekecil apapun sama artinya dengan menggali kubur kematian.
Tampaknya Russia akan main normal. Mereka tak akan memainkan defensive football, karena lebih menyukai pola serang. Spanyol juga menganut pola menyerang dengan dukungan materi mumpuni yang memiliki kecepatan fantastis dan sangat ampuh dalam serangan balik. Kekuatan Spanyol terletak pada materi lini tengahnya. Salah seorang penentu permainan adalah gelandang Barcelona, Xavi Hernandez. Gelandang usia 28 tahun dengan 61 caps dan 7 gol ini merupakan bagian penting dari skuad matador yang memenangkan Piala Dunia U-20 tahun 1999.
Dalam formasi 4-1-3-2 Aragones akan menempatkan Marcos Senna sebagai defensive midfield di depan dua centreback Carles Puyol dan Carlos Marchena. Dua gelandang yang mendampingi Xavi Hernandez adalah Andres Iniesta dan David Silva, sementara di depan dipasang dua tombak lincah Torres dan Villa. Inilah susunan inti tim matador dengan kiper piawai Iker Casillas dibawah mistar. Dua wingback Joan Capdevila di kiri dan Sergio Ramos di kanan sangat mobil dan pengalaman. Partai semifinal ini akan berlangsung ketat tidak kalah menarik dari Jerman versus Turki dini hari tadi. Tak ada lagi kejutan, Turki gagal menyamakan skor dan harus puas dengan kekalahan 2-3 dari favorit juara itu. Aragones juga mengharap tak ada kejutan dari Rusia lagi.
Semifinal di Wina akan sulit bagi dua pihak. Russia, setelah memijak semifinal punya ambisi besar menembus final. Kini tidak lagi ada istilah “nothing to loose” yang membuat Russia tampil tanpa beban dan sanggup bermain lepas, seperti laga sebelumnya. Kini impian menjadi juara Euro akan menjadi beban bagi tim asuhan Hiddink ini yang minim pengalaman internasional.
Di kubu Spanyol pun sami mawon, hanya bedanya skuad matador pengalaman di banyak pentas turnamen internasional. Ambisi menembus final juga akan menjadi beban tersendiri. Sudah lama negeri matador itu mengidamkan piala Eropa sejak menjadi juara di Euro 1964 dan finalis 1984, Spanyol tak pernah melangkah sampai grandfinal. Inilah kesempatan itu, sekarang atau tidak sama sekali. Di atas kertas Spanyol akan menang meskipun kekuatan sebenarnya sangat imbang. Peluang draw cukup besar. Dan jika terjadi adu pinalti, Russia harus was-was sebab sepanjang turnamen piala Eropa, Russia ataupun Uni Soviet belum sekalipun terlibat adu pinalti. Di lain pihak Spanyol baru saja menyingkirkan Italia lewat adu pinalti di babak perempatfinal.***

Piala Eropa 2008 Semifinal Jerman vs Turki

Piala Eropa 2008 / 25 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Jerman Dan Turki Beda Tipis

Oleh : John Halmahera

Kabar terakhir dari kubu Turki, kapten pengganti Nihat Kahveci sudah angkat koper pulang ke Spanyol. Cidera paha di menit terakhir partai perempat final lawan Kroasia itu ternyata cukup serius dan memastikan pemain klub Villarreal itu tidak mungkin bisa melanjutkan kiprahnya di Euro 2008. Kahveci yang mencetak dua gol ke gawang Ceko merupakan pemain Turki ke-lima yang pasti absen di semifinal lawan Jerman, Rabu malam (Kamis dini hari) nanti.
Sebelumnya, kiper utama Volka Demirel gagal memperoleh pengampunan UEFA atas skorsing dua pertandingan akibat kartu merah yang diterimanya dalam laga lawan Ceko. Demirel harus absen ketika skuadnya berlaga lawan Kroasia dan berlanjut hari ini lawan Jerman. Tiga lainnya, absen karena akumulasi kartu kuning yakni Emre Asik, Tuncay Sanli dan Arda Turan.
Turki tanpa lima pemain inti. Sisa 18 pemain, itupun tidak semuanya fit. Sebagian masih dibalut cidera termasuk Emre Belozoglu dan memerlukan perawatan intensif agar bisa tampil lawan Jerman. Hal ini meninggalkan tandatanya strategi dan line up Turki. Fatih Terim dalam konperensi pers melontarkan nada optimis Turki bisa melaju ke final.
Optimisme Terim dan skuadnya kali ini bukan hanya sesumbar kosong, tetapi bagi Jerman, sesuatu yang perlu diwaspadai. Dari posisi underdog yang tidak dihitung orang, Turki bisa melangkah sampai ke semifinal. Suatu pencapaian luar biasa, bahwa tim ini sanggup mengalahkan tuan rumah Swiss 2-1, Ceko 3-2 dan melangkahi Kroasia dalam adu pinalti di babak perempatfinal. Reputasi semifinalis dan peringkat tiga yang ditorehnya di Piala Dunia 2002 ternyata bukan sekadar kebetulan tetapi benar-benar suatu lompatan prestasi dan kualitas yang menjajarkan Turki ke papan atas Eropa.
Ketika Kroasia mencetak gol, Fatih Terim berteriak dari pinggir lapangan, memerintah Arda Turan agar cepat mengambil bola dari dalam gawang Rustu Recber. “Masih ada yang bisa kalian kerjakan, bangkit dan bekerjalah,” teriaknya. Dia tak mau menyerah sebelum pluit panjang wasit, itu filosofinya yang ditanamkan pada skuadnya. Dalam konperensi pers, dia mengatakan timnya telah bekerja keras selama dua tahun karenanya layak ke semifinal bahkan juga memenangkan turnamen. “Seandainya Kroasia yang menang, mereka juga layak, karena mereka juga tim yang baik. Tetapi saya senang kami yang jadi pemenang.” Kepada para pemainnya, dia mengingatkan kembali bahwa tidak ada batas untuk menggapai sukses. “Kita layak menjadi juara.”
Laga Jerman versus Turki berlangsung di Basel. Di kota Basel inilah Jerman menumbangkan Portugal di perempatfinal (19/6) dan di stadion Jakob Park ini juga Turki menyingkirkan tuan rumah Swiss di penyisihan grup (11/6). Semifinal ini juga kejutan Euro 2008 karena kedua tim adalah runnerup grup masing-masing. Laga ini juga reuni bagi para pemain Bayern Munchen, Hamit Altintop kelahiran Gelsenkirchen main untuk negerinya, Turki bertemu rekan seklubnya yang membela Jerman, Marcel Jansen, Bastian Schweinsteiger, Miroslav Klose, Philip Lahm dan Lukas Podolski. Semuanya menjadi inti kekuatan timnya. Altintop akan menjadi kunci skuadnya. Dalam laga versus Kroasia, dia tampil luar biasa, menjelajah lapangan dan berlari 14,2 km sepanjang permainan. Di kubu Jerman, lima pemain Bayern Munchen itu jadi pilar tim.
Bagi Joachim Low dan skuad pansernya, Turki adalah ancaman meskipun 5 pemain intinya absen, Turki punya pemain berkualitas seperti Rustu Recber, Hakan Balta, Gokhan Zan, Mehmet Topal, Semih Senturk, Kazim Kazim Sabri Sarioglu, Hamit Altintop. Selain itu masih ada pemain yang tak kalah kualitasnya, Ugur Boral, Gokdeniz Karadeniz dan Mevlut Erdinc yang bisa menggantikan Kahveci dan Servet Cetin jika yang terakhir ini belum pulih dari cidera. Adanya pemain berkualitas dan dipimpin pelatih sekelas Fatih Terim maka Turki punya kelas untuk bersaing di Eropa.
Kabar terakhir yang dirilis kubu Jerman adalah siapnya gelandang elegan dan pekerja keras dari klub Werder Bremen, Torsten Frings di laga semifinal. Frings absen dalam laga versus Portugal karena cidera tulang rusuk dalam tanding dengan Austria. Meskipun demikian masih tandatanya apakah Frings benar-benar sudah pulih seratus persen dan akan dimainkan Joachim Low. Karena tanpa Frings, Jerman nyatanya mampu melumpuhkan Portugal. Di perempat final itu, Jerman memperlihatkan kualitas panser yang sebenarnya. Struktur dan bangunan tim sangat kokoh dan teratur, semua pemain memaksimalkan kekuatan fisiknya dalam permainan.
Ketika mengalahkan Portugal, Low yang dihukum tidak boleh mendampingi timnya, memainkan line-up baru serta formasi berbeda. Dia mengganti dua pemain yang cidera Torsten Frings dan Clement Fritz serta striker yang main dibawah form, Mario Gomez dengan trio baru Bastian Schweinsteiger, Thomas Hitzlsperger dan Simon Rolfes.
Jerman mengubah formasi 4-4-2 yang kaku ke 4-2-3-1 yang ternyata berjalan lancar. Mungkin saja Jerman akan tampil dalam formasi berbeda namun pemain tidak berbeda jauh. Di bawah mistar Jens Lehmann. Di lini belakang Arne Friedrich, Per Mertesacker, Christoph Metzelder dan Philipp Lahm. Lini tengah Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Michael Ballack serta satu posisi antara Torsten Frings kalau sudah pulih atau Simon Rolfes. Di depan striker utama Miroslav Klose dan salah seorang penyerang antara Tim Borowski atau Oliver Neuville.
Dalam dua pertandingan terakhir ini Jerman memperlihatkan peningkatan dan jatidiri sebenarnya, bisa main dengan segenap potensi yang ada tidak tergantung siapa lawan yang dihadapinya. Jerman tim yang pantang menyerah, seperti juga Turki. Spirit dan kemauan kedua tim sama kuatnya. Maka laga semifinal ini akan sangat ketat, kedua tim punya peluang menang yang hampir sama, meskipun demikian di atas kertas Jerman lebih diunggulkan dan Turki ditempatkan sebagai underdog. ***