Piala Eropa 2008 / 29 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN
Spanyol Pantas Juara
Oleh : John Halmahera
Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, sepersekian detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 striker berusia 24 tahun untuk timnasnya dan nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim matador sejak tahun 1964 lampau.
Hampir sama penampilannya seperti di semifinal ketika menjinakkan beruang merah Russia, one-touch-football dengan short-passing yang nyaris sempurna skuad Luis Aragones membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin asli, merupakan jawaban jitu untuk mengatasi Jerman. Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Dan Jerman sering tidak berkembang menghadapi gaya main ini. Ingat saja, di final Piala Dunia 2002, Jerman tak mampu mengatasi samba Brasil dan harus kalah 0-2.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final tadi. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, makanya memainkan format andalan 4-1-4-1. Michael Ballack, Torsten Frings, Schweinsteiger dan Podolski bersaing ketat dengan kwartet Spanyol, Andres Iniesta, Xavi Hernandes, David Silva dan Cecs Fabregas. Peran gelandang bertahan Marcos Senna yang sering keluar dari posisi bertahan, membantu empat rekannya, ikut menghidupkan permainan matador.
Dua tim memang tampil bagus. Gol Torres menit 33 itu menjadi pemicu memuncaknya kualitas permainan, Jerman memburu gol balasan, mendesak dengan determinasi tinggi, Spanyol tetap sabar, menahan diri tetapi juga memburu gol kedua. Jika Jerman berhasil menyamakan skor, Spanyol bisa runyam. Sebaliknya jika Spanyol bisa menecetak gol kedua (2-0) maka Jerman sudah diambang keruntuhan.
Tradisi Jerman dengan sederet gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa disebut sebagai bayangan kebesaran yang pasti akan memblok mental tanding tim matador. Namun hari itu, Iker Casillas Cs menepis anggapan skeptis itu, ternyata anak-anak Spanyol punya mental juara. Mereka bermain sabar, stabil dan konstan mempertahankan gaya short-passing dengan serangan terukur. Mereka memperlihatkan kelasnya sebagai tim yang pantas juara.
Jerman pernah kalah dari Kroasia di babak penyisihan. Tetapi Spanyol tak pernah kalah. Menang dalam tiga partai penyisihan grup. Draw dengan juara dunia Italia yang dikalahkannya lewat adu pinalti. Menggusur Russia di semifinal. Di final mengalahkan Jerman 1-0. Mereka mencetak 12 gol, kemasukan 3 gol dari 5 pertandingan, bukti sebagai tim paling produktif.
Euro 2008 meninggalkan banyak kenangan bagi para pesertanya. Turki pulang dengan kemenangan, meski di semifinal kalah 2-3 dari Jerman. Penampilan heroik dan pantang menyerah skuad Fatih Terim ini menjadi pembelajaran-ulang bahwa menang kalah hanya ditentukan setelah pluit panjang ditiup wasit. Swiss, Ceko dan Kroasia belajar dari gol kemenangan yang dicetak Turki di penghujung waktu.
Slaven Bilic, pelatih Kroasia akan mengenang gol Turki sekian detik menjelang usai sebagai kenangan pahit selama hidupnya. Tetapi dia belajar dari pengalaman itu, dia berjanji akan membawa Kroasia lebih berkualitas di Piala Dunia 2010 nanti. Italia, sang juara dunia langsung memecat Roberto Donadoni. Penggantinya Marcello Lippi, entrador yang membawa azzurri juara dunia 2006. Meski tersingkir oleh Spanyol lewat adu pinalti, tetapi Donadoni tetap diputuskan gagal. Dalam sepakbola kelas dunia, hanya satu target, juara. Tak boleh ada persepsi selain menang dan juara.
Marco van Basten dan skuad Oranye juga belajar bahwa menghajar Italia 3-0, Prancis 4-1 dan Rumania 2-0 belum menjadikan mereka juara. Kesombongan dan takut kalah, membuat mereka tak berdaya oleh Russia yang diawal penampilan digulung Spanyol 1-4. Belanda disingkirkan Russia yang ditukangi orang Belanda Guus Hiddink.
Russia kalah 0-3 di semifinal oleh Spanyol, kekalahan kedua. Tetapi mereka pulang ke negerinya disambut selayaknya tim juara. Nama Arshavin, gelandang serang klub Zenit menjadi idola baru di Moskva dan sekitarnya. Kebalikan dari Rusia, tim ayam jantan Prancis babak belur, ditahan Rumania 0-0, digasak Spanyol 1-4 dan keok di kaki Italia 0-2. Les Blues pulang ditengah kecaman pers dan fansnya. Biang keladinya, sudah tentu sang pelatih, Raymond Domenech. Segera ganti Domenech, teriak pers Prancis.
Banyak suka duka mewarnai Euro 2008 sejak kick-off 7 Juni lalu, semua tim datang dengan optimistis, sebagian pulang dengan kecewa dan kenangan pahit, sebagian pulang membawa kekalahan tetapi dengan kepala tegak, hanya satu yang pulang dengan gelar juara. Tropi yang diusung anak-anak tim matador itu menjadikan pemandangan pahit dan kecewa Joachim Low. Ketika nonton gaya one-touch-fooball Spanyol di semifinal, pelatih Jerman ini yakin resep strateginya akan memenangkan partai final. Nyatanya, Joachim Low gagal mematikan kreatifitas anak-anak Spanyol.
Lepas dari menang kalah, partai final itu sangat layak disebut the best match of the tournamen, betul-betul partai kelas dunia. Siapapun pemenangnya, saya kira pantas saja. Tetapi Spanyol tampak lebih berkualitas. Generasi Iniesta, Xavi, Fabregas, Villa, Silva dll akan jadi pilar kuat tim matador di Piala Dunia 2010 nanti. Hanya masih dalam tandatanya, apakah mundurnya Luis Aragones membawa pengaruh negative, dan apakah pelatih penggantinya sanggup membawa Spanyol sehebat pengaruh Aragones? Sejarah yang menentukan. ***
Pro : SINAR HARAPAN
Spanyol Pantas Juara
Oleh : John Halmahera
Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, sepersekian detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 striker berusia 24 tahun untuk timnasnya dan nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim matador sejak tahun 1964 lampau.
Hampir sama penampilannya seperti di semifinal ketika menjinakkan beruang merah Russia, one-touch-football dengan short-passing yang nyaris sempurna skuad Luis Aragones membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin asli, merupakan jawaban jitu untuk mengatasi Jerman. Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Dan Jerman sering tidak berkembang menghadapi gaya main ini. Ingat saja, di final Piala Dunia 2002, Jerman tak mampu mengatasi samba Brasil dan harus kalah 0-2.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final tadi. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, makanya memainkan format andalan 4-1-4-1. Michael Ballack, Torsten Frings, Schweinsteiger dan Podolski bersaing ketat dengan kwartet Spanyol, Andres Iniesta, Xavi Hernandes, David Silva dan Cecs Fabregas. Peran gelandang bertahan Marcos Senna yang sering keluar dari posisi bertahan, membantu empat rekannya, ikut menghidupkan permainan matador.
Dua tim memang tampil bagus. Gol Torres menit 33 itu menjadi pemicu memuncaknya kualitas permainan, Jerman memburu gol balasan, mendesak dengan determinasi tinggi, Spanyol tetap sabar, menahan diri tetapi juga memburu gol kedua. Jika Jerman berhasil menyamakan skor, Spanyol bisa runyam. Sebaliknya jika Spanyol bisa menecetak gol kedua (2-0) maka Jerman sudah diambang keruntuhan.
Tradisi Jerman dengan sederet gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa disebut sebagai bayangan kebesaran yang pasti akan memblok mental tanding tim matador. Namun hari itu, Iker Casillas Cs menepis anggapan skeptis itu, ternyata anak-anak Spanyol punya mental juara. Mereka bermain sabar, stabil dan konstan mempertahankan gaya short-passing dengan serangan terukur. Mereka memperlihatkan kelasnya sebagai tim yang pantas juara.
Jerman pernah kalah dari Kroasia di babak penyisihan. Tetapi Spanyol tak pernah kalah. Menang dalam tiga partai penyisihan grup. Draw dengan juara dunia Italia yang dikalahkannya lewat adu pinalti. Menggusur Russia di semifinal. Di final mengalahkan Jerman 1-0. Mereka mencetak 12 gol, kemasukan 3 gol dari 5 pertandingan, bukti sebagai tim paling produktif.
Euro 2008 meninggalkan banyak kenangan bagi para pesertanya. Turki pulang dengan kemenangan, meski di semifinal kalah 2-3 dari Jerman. Penampilan heroik dan pantang menyerah skuad Fatih Terim ini menjadi pembelajaran-ulang bahwa menang kalah hanya ditentukan setelah pluit panjang ditiup wasit. Swiss, Ceko dan Kroasia belajar dari gol kemenangan yang dicetak Turki di penghujung waktu.
Slaven Bilic, pelatih Kroasia akan mengenang gol Turki sekian detik menjelang usai sebagai kenangan pahit selama hidupnya. Tetapi dia belajar dari pengalaman itu, dia berjanji akan membawa Kroasia lebih berkualitas di Piala Dunia 2010 nanti. Italia, sang juara dunia langsung memecat Roberto Donadoni. Penggantinya Marcello Lippi, entrador yang membawa azzurri juara dunia 2006. Meski tersingkir oleh Spanyol lewat adu pinalti, tetapi Donadoni tetap diputuskan gagal. Dalam sepakbola kelas dunia, hanya satu target, juara. Tak boleh ada persepsi selain menang dan juara.
Marco van Basten dan skuad Oranye juga belajar bahwa menghajar Italia 3-0, Prancis 4-1 dan Rumania 2-0 belum menjadikan mereka juara. Kesombongan dan takut kalah, membuat mereka tak berdaya oleh Russia yang diawal penampilan digulung Spanyol 1-4. Belanda disingkirkan Russia yang ditukangi orang Belanda Guus Hiddink.
Russia kalah 0-3 di semifinal oleh Spanyol, kekalahan kedua. Tetapi mereka pulang ke negerinya disambut selayaknya tim juara. Nama Arshavin, gelandang serang klub Zenit menjadi idola baru di Moskva dan sekitarnya. Kebalikan dari Rusia, tim ayam jantan Prancis babak belur, ditahan Rumania 0-0, digasak Spanyol 1-4 dan keok di kaki Italia 0-2. Les Blues pulang ditengah kecaman pers dan fansnya. Biang keladinya, sudah tentu sang pelatih, Raymond Domenech. Segera ganti Domenech, teriak pers Prancis.
Banyak suka duka mewarnai Euro 2008 sejak kick-off 7 Juni lalu, semua tim datang dengan optimistis, sebagian pulang dengan kecewa dan kenangan pahit, sebagian pulang membawa kekalahan tetapi dengan kepala tegak, hanya satu yang pulang dengan gelar juara. Tropi yang diusung anak-anak tim matador itu menjadikan pemandangan pahit dan kecewa Joachim Low. Ketika nonton gaya one-touch-fooball Spanyol di semifinal, pelatih Jerman ini yakin resep strateginya akan memenangkan partai final. Nyatanya, Joachim Low gagal mematikan kreatifitas anak-anak Spanyol.
Lepas dari menang kalah, partai final itu sangat layak disebut the best match of the tournamen, betul-betul partai kelas dunia. Siapapun pemenangnya, saya kira pantas saja. Tetapi Spanyol tampak lebih berkualitas. Generasi Iniesta, Xavi, Fabregas, Villa, Silva dll akan jadi pilar kuat tim matador di Piala Dunia 2010 nanti. Hanya masih dalam tandatanya, apakah mundurnya Luis Aragones membawa pengaruh negative, dan apakah pelatih penggantinya sanggup membawa Spanyol sehebat pengaruh Aragones? Sejarah yang menentukan. ***