Tuesday, July 1, 2008

Piala Eropa 2008 : Final Spanyol Pantas Juara !

Piala Eropa 2008 / 29 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Spanyol Pantas Juara

Oleh : John Halmahera

Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, sepersekian detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 striker berusia 24 tahun untuk timnasnya dan nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim matador sejak tahun 1964 lampau.
Hampir sama penampilannya seperti di semifinal ketika menjinakkan beruang merah Russia, one-touch-football dengan short-passing yang nyaris sempurna skuad Luis Aragones membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin asli, merupakan jawaban jitu untuk mengatasi Jerman. Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Dan Jerman sering tidak berkembang menghadapi gaya main ini. Ingat saja, di final Piala Dunia 2002, Jerman tak mampu mengatasi samba Brasil dan harus kalah 0-2.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final tadi. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, makanya memainkan format andalan 4-1-4-1. Michael Ballack, Torsten Frings, Schweinsteiger dan Podolski bersaing ketat dengan kwartet Spanyol, Andres Iniesta, Xavi Hernandes, David Silva dan Cecs Fabregas. Peran gelandang bertahan Marcos Senna yang sering keluar dari posisi bertahan, membantu empat rekannya, ikut menghidupkan permainan matador.
Dua tim memang tampil bagus. Gol Torres menit 33 itu menjadi pemicu memuncaknya kualitas permainan, Jerman memburu gol balasan, mendesak dengan determinasi tinggi, Spanyol tetap sabar, menahan diri tetapi juga memburu gol kedua. Jika Jerman berhasil menyamakan skor, Spanyol bisa runyam. Sebaliknya jika Spanyol bisa menecetak gol kedua (2-0) maka Jerman sudah diambang keruntuhan.
Tradisi Jerman dengan sederet gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa disebut sebagai bayangan kebesaran yang pasti akan memblok mental tanding tim matador. Namun hari itu, Iker Casillas Cs menepis anggapan skeptis itu, ternyata anak-anak Spanyol punya mental juara. Mereka bermain sabar, stabil dan konstan mempertahankan gaya short-passing dengan serangan terukur. Mereka memperlihatkan kelasnya sebagai tim yang pantas juara.
Jerman pernah kalah dari Kroasia di babak penyisihan. Tetapi Spanyol tak pernah kalah. Menang dalam tiga partai penyisihan grup. Draw dengan juara dunia Italia yang dikalahkannya lewat adu pinalti. Menggusur Russia di semifinal. Di final mengalahkan Jerman 1-0. Mereka mencetak 12 gol, kemasukan 3 gol dari 5 pertandingan, bukti sebagai tim paling produktif.
Euro 2008 meninggalkan banyak kenangan bagi para pesertanya. Turki pulang dengan kemenangan, meski di semifinal kalah 2-3 dari Jerman. Penampilan heroik dan pantang menyerah skuad Fatih Terim ini menjadi pembelajaran-ulang bahwa menang kalah hanya ditentukan setelah pluit panjang ditiup wasit. Swiss, Ceko dan Kroasia belajar dari gol kemenangan yang dicetak Turki di penghujung waktu.
Slaven Bilic, pelatih Kroasia akan mengenang gol Turki sekian detik menjelang usai sebagai kenangan pahit selama hidupnya. Tetapi dia belajar dari pengalaman itu, dia berjanji akan membawa Kroasia lebih berkualitas di Piala Dunia 2010 nanti. Italia, sang juara dunia langsung memecat Roberto Donadoni. Penggantinya Marcello Lippi, entrador yang membawa azzurri juara dunia 2006. Meski tersingkir oleh Spanyol lewat adu pinalti, tetapi Donadoni tetap diputuskan gagal. Dalam sepakbola kelas dunia, hanya satu target, juara. Tak boleh ada persepsi selain menang dan juara.
Marco van Basten dan skuad Oranye juga belajar bahwa menghajar Italia 3-0, Prancis 4-1 dan Rumania 2-0 belum menjadikan mereka juara. Kesombongan dan takut kalah, membuat mereka tak berdaya oleh Russia yang diawal penampilan digulung Spanyol 1-4. Belanda disingkirkan Russia yang ditukangi orang Belanda Guus Hiddink.
Russia kalah 0-3 di semifinal oleh Spanyol, kekalahan kedua. Tetapi mereka pulang ke negerinya disambut selayaknya tim juara. Nama Arshavin, gelandang serang klub Zenit menjadi idola baru di Moskva dan sekitarnya. Kebalikan dari Rusia, tim ayam jantan Prancis babak belur, ditahan Rumania 0-0, digasak Spanyol 1-4 dan keok di kaki Italia 0-2. Les Blues pulang ditengah kecaman pers dan fansnya. Biang keladinya, sudah tentu sang pelatih, Raymond Domenech. Segera ganti Domenech, teriak pers Prancis.
Banyak suka duka mewarnai Euro 2008 sejak kick-off 7 Juni lalu, semua tim datang dengan optimistis, sebagian pulang dengan kecewa dan kenangan pahit, sebagian pulang membawa kekalahan tetapi dengan kepala tegak, hanya satu yang pulang dengan gelar juara. Tropi yang diusung anak-anak tim matador itu menjadikan pemandangan pahit dan kecewa Joachim Low. Ketika nonton gaya one-touch-fooball Spanyol di semifinal, pelatih Jerman ini yakin resep strateginya akan memenangkan partai final. Nyatanya, Joachim Low gagal mematikan kreatifitas anak-anak Spanyol.
Lepas dari menang kalah, partai final itu sangat layak disebut the best match of the tournamen, betul-betul partai kelas dunia. Siapapun pemenangnya, saya kira pantas saja. Tetapi Spanyol tampak lebih berkualitas. Generasi Iniesta, Xavi, Fabregas, Villa, Silva dll akan jadi pilar kuat tim matador di Piala Dunia 2010 nanti. Hanya masih dalam tandatanya, apakah mundurnya Luis Aragones membawa pengaruh negative, dan apakah pelatih penggantinya sanggup membawa Spanyol sehebat pengaruh Aragones? Sejarah yang menentukan. ***

Piala Eropa 2008 : Final Jerman vs Spanyol 29 Juni 2008

Piala Eropa 2008 / 29 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Spanyol Tantang Tradisi Jerman

Oleh : John Halmahera

Russia yang tampil penuh pesona dan mematikan di tiga partai sebelumnya, termasuk menggasak Belanda 3-1 dalam extra-time, tak berkutik di semifinal. Spanyol mendikte permainan. Tak ada ruang sedikit pun buat Ashravin dan Pavlyuchenko. Keduanya tak mampu menembus gelandang bertahan kelahiran Brasil, Marcos Senna. Jika toh lolos dari Senna, mereka dihadang duet centre-back Marchena-Puyol. Di sektor kiri Sergio Ramos yang meskipun aktif naik menyerang selalu turun tepat waktu memblok terobosan lawan. Di kiri, Joan Capdevila pun gigih dan agresif.
Di lini tengah Andres Iniesta, Xavi Hernandes, David Villa dan David Silva menjadi sumber petaka bagi Russia. Dari situlah Spanyol memainkan “one-touch-football” mendikte dan menguasai permainan. Russia tak mampu mengembangkan permainan. Xavi dan Iniesta mengendalikan tempo. Pressure pemain Russia juga tidak jalan, sebab anak-anak Luis Aragones gesit membuka ruang dengan pergerakan tanpa bola, passing dan muncul pada posisi dan waktu yang tepat.
Menit 34 ketika David Villa cidera dan digantikan Cesc Fabregas lapangan tengah tetap dibawah kendali matador sampai lahirnya gol Xavi menit 54. Masuknya Xabi Alonso menggantikan Xavi menit 69, tempo main Spanyol tetap konstan. Gol kedua lahir lewat kreatifitas Iniesta dan Fabregas diselesaikan striker tunggal Daniel Guiza yang baru 4 menit masuk menggantikan Fernando Torres. One-touch football Spanyol membuat Russia morat-marit. Padahal Guus Hiddink dan skuadnya setelah kekalahan 1-4 datang di semifinal dengan mengusung dendam dan strategi “membunuh” banteng.
Kalau sebelumnya, saat kalah 1-4 itu, Russia ibarat kalah oleh diri sendiri, di semifinal, Sergei Semak Cs tidak lagi melakukan error individu atau error kolektif. Tapi Russia benar-benar dikalahkan Spanyol. Kalah dalam perebutan lapangan tengah, berarti kalah segala-galanya.
Dan peragaan one-touch football itulah yang kini jadi pemikiran Joachim Low di final bergengsi Senin dini hari WIB besok. Ini final ideal antara dua tim favorit. Tidak seperti Euro 2004 ketika tim kejutan Yunani muncul di final dengan negative-football dan mengalahkan favorit Portugal. Final 2008 ini menjanjikan daya tarik dan rangsangan menarik. Jerman dengan staying-power-team, long passing dan terobosan sayap akan adu kuat dengan one-touch-football Spanyol yang stylish but deadly.
Spanyol dengan formasi 4-1-4-1 menjajal pola 4-2-3-1 ala panser yang disemifnal terbukti ampuh mengalahkan tim penuh kejutan Turki yang pantang menyerah. Perebutan kekuasaan lapangan tengah sangat menentukan. Tidak hadirnya David Villa karena cideranya tak mungkin pulih dalam waktu dekat, tidak jadi persoalan. Cesc Fabregas akan masuk starter XI. Kwartet Fabregas-Xavi-Iniesta-Silva adu kuat-adu cerdik lawan Bastian Schweinsteiger-Torsten Frings-Michael Ballack-Lukas Podolski yang dibantu gelandang bertahan Thomas Hitzlperger. Lini belakang Jerman, Arne Friedrich-Christoph Metzelder-Per Mertesacker-Philipp Lahm harus lebih solid menghadapi kelincahan dan kecepatan Fernando Torres dan para gelandang serang matador.
Dari pengamatan, kekuatan lini tengah dua tim imbang. Tetapi kiper dan lini belakang Spanyol lebih solid dan taktis. Sementara Miroslav Klose masih lebih menggigit dibanding Torres. Dalam kerjasama-tim Spanyol lebih solid, sedikit buat error dan lebih kreatif memainkan one-touch-football yang mematikan itu.
Bola jalan lebih cepat dari gerak pemain lawan, itu kunci permainan Spanyol. Hal ini akan membuat lawan cepat letih fisik dan psikis. Guus Hiddink memuji one-touch-football yang dimainkan Spanyol. “Mereka tim bagus dan layak maju ke final. Tim saya kesulitan mengatasi one-touch-footballnya. Spanyol juga punya power untuk bergerak ofensif terus tanpa henti,” puji orang Belanda yang pelatih Russia itu.
Tetapi Jerman punya kelebihan yang biasanya sangat berpengaruh pada hasil menang dan kalah. Itulah tradisi sebagai tim besar. Jerman dijuluki spesialis turnamen karena selalu tampil luar biasa dalam turnamen.
Coba lihat, data Jerman di dua turnamen akbar Piala Dunia dan Euro. Jerman 7 kali finalis Piala Dunia, tahun 1954 menang dan tampil sebagai juara, 1966 kalah, 1974 menang, 1982 kalah, 1986 kalah, 1996 menang, 2002 kalah.
Di Euro data Jerman juga cukup menarik, 6 kali finalis. Tahun 1972 menang dan juara, 1976 kalah, 1980 menang, 1992 kalah, 1996 menang, 2008 kalah? Benarkah Jerman bakal kalah?
Spanyol tak pernah semifinalis Piala Dunia. Di Euro pun minim. Tiga kali finalis. Tahun 1964 menang dan juara, tahun 1984 kalah oleh tuan rumah Prancis, tahun 2008 menang? Menang, kalah, dan menang? Benarkah Spanyol bakal menang?
Jerman punya tradisi kuat di turnamen besar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, sesuatu yang tak dimiliki Spanyol. Tradisi dan kebesaran inilah yang ditantang skuad Luis Aragones. Sebenarnya di Euro 2008 Spanyol sudah memperlihatkan kesanggupan mengimbangi tim dengan tradisi kuat yakni Italia. Meski tidak menang dalam 120 menit tetapi mental matador telah memenangkan adu pinalti.
Saya pikir, Spanyol akan menang jika memainkan one-touch-football seprima mereka menggulung Russia 3-0 di semifinal. Tetapi jika mental skuad Aragones ini mentok oleh tradisi kuat Jerman maka meskipun ditonton Raja Spanyol Juan Carlos, pangeran Felipe dan isterinya Letizia serta presiden federasi sepakbola Spanyol Jorge Perez, maka yang berteriak gembira di royal box adalah kanselir Jerman Angela Merkel. Kita tunggu saja. ***