Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 23
Rawaja tertawa keras, menoleh pada Gajah Watu. “Kangmas, ayo gabung dengan kami, kita bersenang-senang bersama menikmati tarian maut para penjahat ini. Aku telah kirim beberapa penjahat ini ke neraka.”
Mendengar ajakan yang disertai tawa keras, Gajah Watu bangkit semangat tarungnya. “Baik. Tiga pendekar tua bersatu menghajar cecunguk busuk.” Seru Gajah Watu. “Kita jadikan peristiwa ini catatan sejarah buat dua perguruan kita Mahameru dan Lemah Tulis.”
Dalam posisi terdesak Gajah Watu menyerang Ganggati dengan jurus penakluk raja yang paling kejam yakni kapejah (kematian) berlebur dengan hayu (keselamatan). Angin keras menghantam Ganggati yang menahannya dengan pukulan tapak racun panas, terjadi benturan keras.
“Desss, desss, desss…”
Gajah Watu lincah mengunakan ringan-tubuh meminjam tenaga lawan melesat masuk arena tarung dua tetua Mahameru. Sambil masuk Gajah Watu menyerang Purocana yang kena gaplok kepalanya. Kontan Purocana mati ditempat dengan kepala pecah.
Gajah Watu tertawa keras. “Ini dia, persahabatan tulen kita bertiga, jalinan Lemah Tulis dengan Mahameru, bukan hanya perkawinan antara para murid kita, tetapi juga saat menyabung nyawa tiga tetua perguruan akan mati bersama.”
Bragalba tertawa sambil berseru. “Kita akan mati, tetapi kita akan mengajak banyak jiwa ikut jalan-jalan menembus lintas langit yang gelap misterius.”
Rawaja tak mau kalah menyahut. “Kita jalan menuju swargaloka, tapi mereka penjahat busuk ini kita kirim ke neraka tempat dedemit busuk berpesta pora dengan api.”
Tidak hanya berkoar, ketiga tetua ini menyebar maut lewat serangan yang kejam dan telengas. Tak ada ampun, siapa kena pasti mati atau minimal luka parah atau cacat. Berurutan Hanggada kena tampar pundaknya oleh Gajah Watu, masih untung Ganggati mengganggu sehingga senopati ini hanya luka ringan namun yang membuat dia harus keluar gelanggang.
Hadirnya Gajah Watu dalam barisan segitiga, meskipun tidak menyatu dalam ilmu dan jurus namun keberadaannya meningkatkan daya serang dua tetua Mahameru.
Hampir seratus jurus berlalu, beberapa pukulan dan torehan keris mulai menggoyah perlawanan ketiga tetua ini. Pada jurus sembilanpuluh Gajah Watu yang letih dan tubuhnya berdarah-darah dilukai senjata para pengeroyok, menggerung keras. Itulah jurus paling mendasar dari garudamukha tetapi yang paling telengas karena bertujuan membunuh atau dibunuh, jurus gongkrodha (besar amarah) dilebur dengan shuhdrawa (hancur luluh).
Ganggati menghindar sambil mendorong pundak muridnya Roro Gandis menjauh dari sasaran Gajah Watu, namun Kangsa yang berdiri dibelakangnya tidak sempat menghindar. Terpaksa Kangsa memukul dengan mengerahkan segenap tenaganya.
“Dess…. desss… desss…”
Tiga letupan tenaga terdengar keras. Kangsa berteriak keras, tubuhnya terhuyung ke belakang, muntah darah. Luka-dalam. Dia selamat karena tertolong gurunya, Ganggati, yang kaget dan lantas menyerang Gajah Watu dengan keris ampuhnya. Serangannya telengas karena ingin menolong murid kesayangannya.
Tenaga-dalam yang sudah berkurang, banyaknya luka ditubuhnya, membuat Gajah Watu tak bisa mengelak tebasan keris maut Ganggati. Keris itu mengiris melintang perut pendekar tua Lemah Tulis itu.
Perut Gajah Watu robek besar, sambil memegang perut menahan ususnya, dia melesat kedepan dengan tangan lain menghantam salah seorang murid Dewi Kajoran. Pendekar wanita itu terkejut berusaha mengelak namun sia-sia, kepalanya kena tampar, dia mati sebelum tubuhnya membentur bumi.
Berbarengan rubuhnya musuh, Gajah Watu ikut rubuh, tewas setelah mencabut beberapa nyawa pendekar pemberontak.
Bragalba dan Rawaja juga tidak luput dari kematian, Tubuhnya belepotan darah. Penuh luka tikaman senjata. Saat bersamaan tewasnya Gajah Watu, dua tetua Mahameru itu menggerung hebat. Mereka menggentak tasbihnya, seketika butiran tasbih terlepas dari ikatan. Sambil melontar butiran tasbih ke segenap arah, mereka menyerang dengan jurus maut, membunuh atau mati. Bragalba menyerang Samba dan si Cebol. Rawaja mengincar dua pendekar wanita adik perguruan dewi Kajoran.
Terdengar teriak sekarat butiran tasbih merenggut belasan nyawa murid Brantas. Dua adik perguruan dewi Kajoran mati dengan dada remuk dihantam Rawaja. Serangan Bragalba mengena, si Cebol kena gelontor kepalanya, mati ditempat. Samba sempat membungkus diri dengan jurus andalannya wrahaspati naracabala handagangi (mentari melepas seribu panah maut) membuatnya terhindar dari kematian.
Samba tak hanya menahan gempuran tetapi menyerang balik. Punggung Bragalba kena gempur, pada saat mana tikaman salah seorang murid dewi Kajoran menembus dadanya. Bragalba mati dengan senyum. Rawaja juga mati kena tusukan keris Ganggati yang kalap lantaran murid utamanya Kangsa, terluka.
Pertarungan berdarah itu selesai. Tiga pendekar tua itu tewas secara ksatria tetapi setelah memorak-poranda kelompok Brantas.
Puluhan murid Brantas mati. Kangsa murid Ganggati, terluka. Purocana dan si Cebol mati. Tiga anggota grasak petung mati, dua lainnya luka parah. Sangkala pembantu setia Samba, mati. Belum terhitung pendekar yang luka parah.
Dewi Kajoran datang terlambat. Air matanya menetes melihat tiga muridnya mati. Dua lainnya luka parah. Dia berteriak keras, macam kesetanan. Api dendamnya pada Lemah Tulis dan Mahameru berkobar bagaikan panasnya api lahar gunung berapi.
Matahari belum menjulang dititik puncak tetapi pertarungan sudah selesai. Mayat-mayat bergelimpangan. Enampuluh murid dua perguruan besar itu tewas bersama tiga tetuanya. Di pihak Brantas, sekitar lima puluhan yang mati terbunuh.
Teriak kemenangan para murid Brantas menggema dikawasan itu.
Dari jauh, adipati Linggapati bersama Dedes Ayu mengamati dengan rasa puas. “Hebat, hujan panah rodra sangat mematikan. Aku puas. Pasukan rodra telah menjadi pasukan pembunuh yang paling mematikan.” Puji Linggapati kepada Pulosari.
“Tetapi sayang Wisang Geni tidak ada disini,” tukas Pulosari.
“Wisang Geni sudah mati, kalaupun dia hadir hari ini, nasibnya juga sama, mati!” Kata Linggapati dengan dingin.
Pada saat tiga tetua tarung mati hidup, Narapati dan teman-temannya berkuda menjauh dari pertarungan. Belum jauh berkuda, masih di hutan Kandangan, Narapati, berseru kepada Prastawana. “Pras, aku yakin musuh akan mengejar kita, sebaiknya kita cegat disini, ganti kita yang menyerang dadakan dan memberi kesempatan teman-teman lain lolos ke Lemah Tulis. Bagaimana pendapatmu?”
Prastawana tidak menyahut dengan kata-kata tetapi langsung bertindak. “Kita cegat disini, rimbunan pohon cocok buat bersembunyi. Ayo Pati.” Dia langsung melompat dari kuda. Semua murid ikut berhenti dan siap-siap hendak melompat turun dari kuda.
“Tidak semuanya. Kita hanya beberapa orang saja, yang lain tetap jalan terus ke Lemah Tulis, lebih cepat lebih baik. Setelah memberi kejutan dan merampas beberapa nyawa kita akan menyusul kalian!” Seru Narapati. Dia menyebut beberapa nama.
Kebo Lanang, Gajah Lengar, Daraka, Jokonang melompat turun. Murid perempuan ikut melompat Sawitri, Laras, Dyah Mekar dan Kirana.
“Aku ikut!” Teriak Dyah Mekar.
“Tidak boleh! Kamu harus pergi!” Seru Prastawana kepada isterinya Dyah Mekar. “Jangan membantah!” Tegasnya.
“Kamu juga harus pergi!” Narapati memerintah isterinya Kirana yang murid Kebo Jawa.
Prastawana berseru. “Kalian cepat pergi, waktu mendesak!”
Rombongan itu melecut kuda masing-masing mengarah Utara menuju Lemah Tulis. Narapati, Prastawana dan empat temannya memisah diri dibalik pepohonan, sebelumnya mereka mengikat kudanya ditempat yang terlindung.
“Aku tidak melihat guru kita.” Seru Jokonang.
“Sudah jelas ketika guru memerintah kita lari meninggalkan tarung, bahwa guru akan menjadi tumbal.” Seru Prastawana dengan suara haru.
“Firasatku juga sama, guru berkorban untuk menyelamatkan kita.” Tegas Narapati yang murid utama Ki Macukunda, ketua lama Mahameru.
Tak lama kemudian tampak segerombolan pengendara kuda mendatangi. “Mereka para pemanah itu.” Seru Kebo Lanang.
“Kita rebut busur dan panahnya,” seru Jokonang.
Belasan ponggawa musuh itu tidak menyangka serangan dadakan dari para pendekar itu. Dari balik pepohonan enam pendekar itu bagaikan terbang melayang ke arah musuh. Masih diudara mereka melontar dengan senjata, batu, pisau, paku.
Seketika musuh panik. Beberapa jatuh dari kuda.
Enam pendekar melanjut serangannya dengan telengas dan kejam. Teringat kematian teman-temannya yang diserang hujan panah secara licik membangkitkan amarah Prastawana dan kawan-kawannya.
Pertarungan singkat terjadi, para pemanah bukan pendekar dengan ilmu-silat mumpuni. Mereka hanya ahli dalam soal memanah, karenanya tak mampu menahan serangan kejam enam murid perguruan itu.
Enambelas pemanah itu tewas. Enam murid perguruan merampas busur dan anak panah, melempar mayat-mayat musuh ke balik pohon, dan gesit kembali bersembunyi dibalik pohon. Saat itu beberapa pendekar bayaran mendatangi dengan berlarian.
Sekali lagi secara dadakan Prastawana dan lima kawannya menyerang. Mereka melepas anak panah. Tenaga dalam yang rata-rata mumpuni menjadikan anak panah melayang pesat dengan kecepatan tinggi.
Para pendekar bayaran tidak menduga mendapat serangan anak panah yang beterbangan dari tempat tersembunyi. Beberapa orang terluka bahkan ada yang mati. Mereka panik dan kalut, bercerai berai bersembunyi dibalik pohon.
Para pengejar itu tidak tahu berapa banyak jumlah murid perguruan yang menghadang dengan panah. Melihat banyaknya panah yang menghujani mereka dan beberapa teman yang mati dan terluka, mereka menduga jumlah murid dua perguruan cukup banyak.
Tidak berlama-lama, Narapati yang mengetahui anak panah sudah menipis, berbisik pelan. “Kita lari! Sekarang!”
Enam murid perguruan itu melompat ke punggung kuda masing-masing dan melecut ke Utara. Sementara para pengejar ragu-ragu untuk mengejar, khawatir adanya jebakan. Mereka diam dalam persembunyian.
Air muka Linggapati tampak muram. Di balairung itu dia mengumpat habis kesalahan yang dilakukan pasukan pemanah. “Siapa yang memerintah mereka mengejar musuh yang lari?” Suaranya agak melengking kepada para penasehatnya.
“Hamba yang bersalah,” seru Pulosari merendah. “Tidak ada perintah. Hamba menduga mereka terlalu bersemangat ingin menghabisi musuh sampai tuntas.”
“Kejadiannya sangat mendadak, hamba tidak sempat mencegah.” Kata Samba.
“Berapa yang mati?” Tanya Linggapati.
“Enam belas orang yang semuanya mengejar musuh, mati terbunuh. Menurut keterangan Korowelang musuh menyergap dari balik pepohonan. Mereka membunuh enambelas pemanah, merampas busur dan panah, menggunakannya untuk menyerang para pengejar. Beberapa pendekar mati, lainnya luka-luka.” Tegas Pulosari.
“Selain enambelas anggota Rodra, ada orang kita yang mati?” Desak Linggapati.
Wajah Pulosari merah padam, malu. Begitu juga Samba dan penasehat lain. “Pendekar Cebol, Purocana, Sangkala, dan tiga pendekar wanita murid Kangmbok Dewi, semua mati. Tetapi pihak musuh lebih banyak yang mati!” Sahut Pulosari.
Tampak Linggapati tidak puas. Dia menggenggam tangannya sendiri. “Berapa banyak kerusakan musuh?” Tanya Linggapati, wajahnya masih tampak kesal.
“Tiga sesepuh mereka, Gajah Watu, Bragalba dan Rawaja tewas. Sekitar enam puluh musuh tewas, dipihak kita hanya enam belas pemanah. Korban lainnya, murid Brantas dan beberapa pendekar bayarannya.” Kata Pulosari.
“Sebenarnya hasilnya bagus, kalau saja enambelas pemanah itu disiplin dan tidak mengejar musuh tanpa perintah dari atasan.” Tegas Linggapati. Dia memegang tangan isterinya, lalu berkata kepada Pulosari. “Kakangmas, adakan rapat dengan semua jajaran, perbaiki kekurangan yang ada. Aku mau istirahat.”
Linggapati bersama Dedes Ayu meninggalkan ruangan menuju kamarnya. Diambang pintu dia berhenti, berbalik badan. “Kangmas Pulosari kamu memimpin teman-teman, kamu juga bertanggungjawab tidak boleh ada orang memasuki kamar pribadiku. Aku tak mau aura kamarku dikotori. Percayalah, aku pasti tahu jika ada yang masuk kamarku.”
“Baik. Aku terima tugas. Paduka hendak bepergian?” Tanya Pulosari.
“Aku bersama Dedes akan bepergian, mungkin separuh purnama atau satu purnama. Besok aku berangkat. Aku harap tuan penasehat berempat tidak menyia-siakan kepercayaan yang kuberikan.” Suara Linggapati tajam dan dingin, mengandung ancaman.
Pulosari berunding dengan Sangkapura, Dewi Kajoran, dan Samba.
“Aku akan menegur keras pasukan Rodra, kesalahan seperti itu tak boleh terjadi lagi.” Kata Samba dengan nada kesal.
Tetapi Samba tak pernah menduga adanya tiga pemanah dari enambelas yang mengejar musuh adalah mata-mata keraton. Mereka mata-mata keraton yang berhasil menyusup kedalam pasukan rodra pada saat Samba merekrut tenaga pemanah tambahan.
Seorang dari mata-mata itu tewas. Dua lainnya, Bangkira dan Sanggura pura-pura tewas terkena panah. Malam itu juga, ketika keadaan di hutan sudah sepi, dua mata-mata itu mengindap-indap, mencari kuda. Keduanya melecut kudanya menuju Selatan, tujuannya keraton Tumapel.
Malam itu Lemah Tulis dirundung duka. Semua murid berkumpul di balairung yang luas. Sebagian lain tetap berjaga-jaga ditempatnya. Sementara murid Mahameru istirahat di aula tamu. Mereka tidak ikut pertemuan yang khusus untuk murid Lemah Tulis.
Padeksa duduk sila dihadapan para murid. Air mukanya tampak kusam.
“Hidup tidak selalu diwarnai kebahagiaan dan kesenangan. Terkadang duka dan nestapa mengisinya. Sekali lagi perguruan kita dilanda duka besar. Dari empatpuluh murid, hanya sembilan yang pulang selamat. Itupun dengan luka-luka. Tetapi dengan perawatan yang telaten, akan cepat sembuh. Tigapuluh satu murid termasuk adik Gajah Watu, tewas. Tidak adanya dimas Gajah Watu, maka Lemah Tulis hanya menyisakan aku, Padeksa sebagai satu-satunya tetua angkatan. Ini menyedihkan.”
“Peristiwa tigapuluh tahun lalu jauh lebih parah dibanding sekarang ini. Namun dengan perjuangan keras kita bisa kembali mekar dan berkembang. Jasa Wisang Geni sangat besar telah mengembalikan persatuan dan kejayaan Lemah Tulis. Maka patut jika beberapa murid turun gunung mencari tahu keberadaannya. Bagaimana pun juga aku tidak percaya dia mati. Selama tidak ada yang menemukan jasadnya, selama tidak ada berita dari Sekar isterinya, selama itu juga Wisang Geni masih hidup. Aku yakin Geni masih hidup!”
“Jadi ada dua hal penting akan kita kerjakan. Mencari tahu keberadaan Wisang Geni dan membalas kekalahan di Kandangan. Tadi aku berembuk dengan Prastawana, menentukan para murid mencari Wisang Geni. Perihal balas dendam kepada Brantas belum saatnya sekarang, waktunya akan ditentukan kemudian. Balas dendam harus matang dan sekali pukul, Brantas tumpas!”
Terdengar sorak teriak para murid menyambut semangat menumpas Brantas.
Padeksa mengumumkan, tiga pasang suami isteri Prastawana dan istrinya Dyah Mekar, Gajah Lengar dan Laras, Daraka dan Sawitri bertugas mencari berita tentang Wisang Geni dengan batas waktu tigapuluh hari. “Sebelum tiga puluh hari kalian harus pulang, mendapat berita atau tidak, nanti akan kita putuskan disini apa langkah lanjutnya.” Tegas Padeksa.
Pertemuan belum bubar. Prastawana dipanggil Padeksa maju kedepan untuk bicara.
“Aku hanya melaksanakan tugas untuk kebaikan Lemah Tulis. Itu pesan ketua Wisang Geni. Aku percaya dia masih hidup!”
“Aku tahu ilmu-silatnya tidak terbatas, aku yang menerima pelajaran darinya tak pernah bisa mengukur sampai dimana ujung ilmunya, tampaknya tak ada ujungnya, dia pengganti Eyang Sepuh Suryajagad, malang melintang tidak tertandingi. Jika tidak dicurangi, ketua Geni tak akan terluka.”
Murid-murid Lemah Tulis memandang Prastawana dengan kagum. Orang itu hatinya bersih dan bening, tak ada keculasan dan noda dalam hatinya, tidak ada keinginannya untuk menjadi ketua Lemah Tulis menggantikan Wisang Geni meskipun dia sudah resmi ditunjuk semua murid sebagai ketua. Itu sebab dia cepat melesat ilmunya menjadi lebih digjaya dari Padeksa maupun Gajah Watu. Kini dialah orang paling digjaya di Lemah Tulis, orang kedua setelah Wisang Geni.
Sejak ditunjuk sebagai ketua, dia banyak melakukan perubahan. Peraturan disiplin kian ketat. Dia sendiri yang mengawal peraturan, hampir setiap saat dia berada diantara para murid, bicara dan mencari tahu kekurangan dan kelebihan dirinya sebagai pemimpin.
“Aku ditunjuk paman Padeksa mencari ketua. Aku bangga mendapat tugas ini. Tetapi agak risau meninggalkan perguruan walaupun hanya tigapuluh hari. Aku sudah berunding dengan paman guru Padeksa, selama aku diluaran, paman guru menjadi penentu keputusan. Semua murid harus tunduk pada paman guru. Firasatku mengatakan diluaran ada kelompok yang ingin menghancurkan Lemah Tulis. Kekalahan kita di Kandangan jadi peringatan bagi kita. Kejadian tigapuluh tahun silam, tidak boleh terulang!”
Ketika pertemuan bubar. Semua murid kembali sibuk, Prastawana bertanya pada isterinya. “Bagaimana keadaan Jokonang? Mengapa kamu tinggalkan dia seharusnya kamu yang merawat karena kamu tahu cara mengatasi racun.”
“Kemuning kutinggalkan merawat Jokonang. Dia tahu banyak tentang racun,” sahut Dyah Mekar. Dalam hati dia berharap Kemuning, adik kandungnya berjodoh dengan pendekar Mahameru itu. Usia Jokonang empatpuluhan namun belum beristeri.
Prastawana menemui sahabatnya, Narapati dan isterinya Kirana.
“Apa rencanamu, Pati?” Tanya Prastawana.
“Besok aku dan teman-teman pulang ke Mahameru, melapor pada guru Antasena. Tetapi Jokonang belum bisa pergi, aku titip dia disini.” Kata Narapati.
“Kami tiga pasang suami isteri, aku, Daraka dan Gajah Lengar besok juga menuju Welirang, kita bisa sama-sama. Di Welirang kami singgah, kalian bisa terus pulang.”
“Begitu juga bagus. Aku masih mau banyak berbincang denganmu.”
“Tentang Jokonang, kamu tak perlu khawatir. Dia dirawat gadis cantik dan yang mengerti urusan racun.” Tukas Prastawana sambil senyum penuh arti.
Narapati tertawa. “Itu bagus, Pras. Semoga keduanya berjodoh, siapa si gadis?”
“Kemuning, dia murid ketua Geni, juga adikku, usianya dua puluh enam. Cantik dan berbudi, setia dan penurut.” Potong Dyah Mekar tersenyum bangga.
Kirana, murid Lemah Tulis yang sudah tiga tahun jadi isteri Narapati menyahut cepat. “Kangmas Jokonang sudah lama membujang, sudah waktunya beristeri, nanti biar kangmas Narapati yang memaksa dia menikah. Kemuning itu gadis yang baik, aku mengenalnya.”
Narapati memandang sahabatnya dengan mimik serius. “Pras, kematian tigapuluh sembilan murid Mahameru akan kami balas. Kami akan menyerang Brantas.”
“Tadi guru Padeksa sudah umumkan kami akan balas dendam. Tapi waktunya belum kita tetapkan. Mungkin sebaiknya kita gabung.” Kata Prastawana.
Beberapa hari setelah pertarungan Kandangan, dua mata-mata keraton, Bangkira dan Sanggura menemui Mahisa Cempaka, pangeran yang saudara permaisuri dan pimpinan kelompok mata-mata keraton. Keduanya melapor apa yang diketahuinya dari kelompok Linggapati. Markas dan jumlah anggotanya. Tetapi yang paling disoroti adalah pasukan pemanah rodra.
“Keberadaan pasukan rodra, suatu ancaman bagi keraton.” Tukas Mahisa Cempaka. “Jadi kalian tidak tahu kapan waktunya pemberontak itu beraksi?”
“Mohon ampun beribu ampun, paduka pangeran. Waktu tepatnya, tak seorang pun yang tahu, tetapi perkiraan hamba, begitu persiapan pasukan rodra sudah sesuai yang diinginkan maka itulah waktunya mereka menyerang.” Kata Bangkira.
“Apa yang kalian tahu mengenai persiapan pasukan rodra?”
“Persiapan mereka dari hari ke hari makin terlatih. Tetapi sampai saat ini, mereka belum bisa menyamai kemampuan pasukan pemanah alap-alap keraton.” Jawab Bangkira.
“Kualitasnya bagaimana?” Desak saudara permaisuri Tumapel.
“Mohon ampun paduka pangeran. Untuk menyamai kualitas pasukan alap-alap, mereka butuh enam bulan latihan. Apalagi hanya segelintir dari mereka yang berpengalaman dalam pertempuran. Kemarin mereka memperlihatkan hasil latihan dengan membunuh banyak murid Mahameru dan Lemah Tulis, tetapi kualitasnya belum sepadan dengan pasukan alap-alap kita.” Tutur Bangkira.
Mahisa Cempaka bergegas masuk istana menemui Raja.
“Laporan dua mata-mata tadi memperkuat dua laporan lain tentang kekuatan Linggapati. Mereka benar-benar sedang mempersiapkan pasukan. Tampaknya keraton harus beraksi segera membasmi kelompok pemberontak itu, sebelum pasukan mereka makin kuat,” kata Mahisa Cempaka ketika menemui Raja dan permaisuri di kamar istirahat penguasa Tumapel itu. Hanya Mahisa Cempaka yang memperoleh kebebasan masuk ruangan pribadi, itupun setelah melewati ijin Ranggawuni.
Raja Ranggawuni menoleh pada isterinya, permaisuri Waning Hyun. “Hyun, mimpimu benar-benar kejadian, kelompok makar itu bagai ular raksasa yang mengincar kepalaku. Ular raksasa itu adalah Linggapati, dan dia semakin besar dari satu hari ke hari esoknya.”
“Apa rencanamu kangmas Baginda?” Tanya permaisuri cantik itu.
Raja tidak menjawab langsung, tetapi berkata kepada Mahisa Cempaka. “Dimas, utus orang memanggil pulang Pamegat secepatnya. Adakan pertemuan kita berempat.”
Mahisa Cempaka tertawa. “Aku laksanakan!”
Hubungan Ranggawuni dengan dua bersaudara Mahisa Cempaka dan Waning Hyun sudah terjalin akrab jauh hari sebelum Ranggawuni menjadi raja Tumapel. Karenanya jika hanya bertiga, pembicaraan tak lagi menggunakan basa-basi dan tatakrama keraton.
(To be Continued 16 July/Published No 24 )