Thursday, July 28, 2011

Wisang Geni part Two (35)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 35

Before : …….. Hari itu ketika di Jedung, aku bisa melihat semua kesalahanku, aku sadar dan berjanji akan memperbaiki diri menjadi isterimu yang manut. Tetapi ketika itulah nasib buruk datang padaku. Aku tidak membela diri, kesalahanku sangat besar, bunuh aku Mas, aku rela mati.”

Gayatri tetap mencium kaki suaminya. Menangis dan berkata-kata diatas punggung kaki Wisang Geni.

Dia gemetar ketika tangan suaminya menariknya berdiri. “Mas bunuh aku.” Katanya.

“Tidak.” Sahut Wisang Geni.

“Kamu membenciku.”

“Tidak.”

“Kamu tidak pantas mengampuni aku. Ijinkan aku bunuh diri.”

“Tidak.”

“Bunuh aku supaya aku terlepas dari mimpi buruk setiap malam, mimpi akan dosaku padamu.” Gayatri menangis, tetap merunduk tidak berani memandang wajah suaminya.

“Kamu harus hidup. Angga perlu kamu. Aku juga butuh kamu.”

“Mas kamu layak membenciku.”

“Tidak. Aku tidak membencimu.” Tangan Wisang Geni memegang lengan isterinya, memandang wajah Gayatri yang belepotan air mata. “Kamu kurus, Gayatri.” Bisiknya.

Tidak tahu apa yang ada didalam benak suaminya, Gayatri hanya mengangguk. Terbata-bata dia berkata lirih. “Bunuh aku Mas, cepat lakukan, mumpung Angga tidak melihat.”

“Mengapa harus membunuhmu?”

Gayatri memandang suaminya, tetapi hanya sedetik, dia merunduk memandang dada suaminya. Matanya menatap gambar kelelawar di dada bidang itu. Tanpa sadar dia bertanya, “ada gambar kelelawar didadamu.”

Saat berikut dia terdiam sadar akan situasi. Dia terkejut ketika suaminya menjawab. “Iya gambar kelelawar. Guruku kan bergelar lalawa.”

“Siapa yang gambar?”

“Atis.”

“Seorang gadis, isteri baru?”

“Iya isteri baru.”

“Kamu sudah dapat ganti, bunuh aku atau ijinkan aku bunuh diri.” Ada nada cemburu. Gayatri sendiri merasa heran mengapa tiba-tiba muncul rasa cemburunya.

“Mengapa harus membunuh kamu?”

“Aku tidak pantas diampuni, dosaku kelewat besar. Tubuhku kotor.”

“Kamu memukul aku karena pengaruh sihir penjahat itu. Aku tidak akan membunuhmu, aku tidak akan menyakiti isteriku yang sudah begini menderita.” Lalu tangan Wisang Geni menarik Gayatri kedalam pelukannya. “Kata gurumu, tubuhmu sudah bersih. Tak ada lagi kotoran bekas penjahat itu.”

Tubuh Gayatri bergetar. Menggigil diharubiru emosinya.

Wisang Geni memeluk erat isterinya, mengelus ubun-ubun kepalanya. Lalu memegang dua pipinya dan menengadahkan wajahnya, menatap sepasang mata indah itu yang masih saja berbinar menyirat cinta dan birahinya. Mata yang basah.

Tetapi mata wanita itu berkedip-kedip tidak keruan.

“Tatap aku Gayatri!”

Mata itu berusaha menetap pada mata suaminya. Tetapi tidak bisa lama, dia memejam mata, namun dia sempat menemukan sinar birahi dalam mata lelaki itu. Cinta dan birahi itu masih ada. Seketika tubuhnya gemetar.

Lalu laki-laki yang sebenarnya dia cintai dengan sepenuh hati itu, mengecup mulutnya. Gayatri terkejut, dia gemetaran. Ingin membalas ciuman melepas rindu dan kasmarannya tetapi tak ada keberanian. Dia takut itu hanya mimpi.

Sesaat kemudian dia merasa bukan ilusi, membuat hatinya berbunga-bunga, dan birahi serta kegembiraannya menyeruak tanpa batas. Dia tak sanggup menahan diri. Saat itu juga dia lunglai. Pingsan.

Wisang Geni meletakkan isterinya di lantai kayu gubuk mungil itu. Dia mengamati tubuh isterinya. Kurus langsing dan seksi. Parasnya cantik rupawan. Dia berjongkok, merunduk dan mencium mulut seksi itu.

“Bangun Gayatri. Jangan pura-pura pingsan.” Bisiknya mesra.

Bibir itu bergerak. “Aku takut, aku tak mau bangun dari mimpi indah ini.”

“Ini bukan mimpi. Coba katakan apakah ini mimpi?” Sambil dia mencium lagi mulut isterinya.

Mereka ciuman. Tangan Gayatri melingkar di leher suaminya.

“Kamu masih bernafsu, Mas.” Suara Gayatri bergetar.

Wisang Geni. “Kamu benar. Aku rindu.”

“Terlebih-lebih aku. Satu bulan tinggal disini, setiap detik aku merindu kamu.”

“Kalau begitu kamu ikut aku kembali ke rumah.”

“Aku tidak membantah, sejak saat ini aku tidak akan berani membantahmu. Tetapi aku malu bertemu Sekar dan murid-murid Lemah Tulis lainnya. Aku belum sanggup bertemu mereka. Aku malu akan kesalahanku dulu. Aku butuh waktu.”

“Dirumah itu ada Sekar dan Atis.” Kata Wisang Geni yang duduk dilantai, kepala isterinya berada di pangkuannya.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Mas, aku tidak membunuh Mano dan Westi, penjahat itu yang membunuh.”

“Aku sudah tahu.”

Gayatri mengalih pembicaraan. “Kamu memang harus punya banyak isteri. Sekarang isterimu dua, Sekar dan Atis.”

“Tiga. Kamu masih yang nomor dua, setelah Sekar.”

“Aku tidak masuk hitungan.” Mata itu menatap tajam dengan kerlingan yang menggoda.

“Kamu masih isteriku.” Dia mengelus paras cantik itu, menyentuh hidung, bibir, leher dan rambutnya.

Gayatri larut dalam belaian suaminya. Dia menuntun tangan suaminya ke payudara. “Kamu masih menerima aku sebagai isterimu?”

“Aku tidak pernah mengusir kamu dari hatiku.”

“Aku tahu. Hanya aku saja yang bodoh, keras kepala dan suka curiga.”

“Sekarang?” Wisang Geni ingin tahu.

“Kini tidak lagi Mas. Kamu majikanku, aku manut padamu, tak akan pernah membantah, aku akan selalu mendahulukan kamu dari kepentinganku.”

“Benarkah?”

Gayatri menyentuh wajah suaminya. “Dahimu mulai berkerut, kamu banyak berpikir, banyak masalah yang kamu hadapi.”

“Aku sudah tua.”

“Tidak. Usiamu belum empatpuluh. Belum tua. Kamu masih muda, tenaga wiwaha akan membuatmu awet muda.” Dia mengelus mulut suaminya, memainkan bibirnya yang tebal. “Sekarang tubuhku kurus. Kamu suka tubuhku sekarang ini atau perlu gemuk lagi?”

“Jangan, begini sudah bagus, seksi.”

Gayatri menciumi tangan suaminya. “Kamu telah mengampuni aku. Aku bahagia.”

Dua insan itu larut dalam cinta dan birahi.

Sore hari Nenek Jubah Kuning dan Anggreni kembali ke gubuk. Mereka makan bersama. Wisang Geni mengajak isteri dan putrinya, kembali ke rumah besar. Wisang Geni mengajak Nenek Jubah Kuning ikut, tetapi si nenek menolak.

“Aku akan menetap disini, setiap hari berlatih dan main-main dengan Angga.” Kata nenek itu. “Gayatri juga masih perlu mematangkan ilmu-silatnya.”

“Mas, aku belum siap bertemu orang-orang.” Ujar Gayatri.

“Pada saatnya nanti mereka harus menerima kamu. Tidak boleh ada pandangan menghina pada isteriku. Mereka harus tunduk padaku. Semua tak ada kecuali.” Suara lelaki itu terdengar tegas.

“Mereka akan menganggapmu lemah, tidak punya pendirian. Menganggap aku wanita iblis yang memengaruhi kamu.” Kata Gayatri.

“Aku ingin tahu siapa orangnya yang berani berkata seperti itu.” Wisang Geni agak kesal karena tahu pikiran seperti itu pasti akan ada bahkan juga di lingkungan murid Lemah Tulis. Tetapi dia tak perduli.

“Aku malu akan perbuatanku yang lalu dan malu bertemu Sekar.” Kata Gayatri.

“Aku mau menyelesaikan masalah ini secepatnya, mengakurkan kalian isteriku.” Wisang Geni memegang tangan Gayatri, isyarat bagi isterinya untuk melangkah.

Gayatri memberanikan diri melangkah.

“Besok kita semua pergi ke Lemah Tulis, aku mau bertemu semua murid dan juga guru Padeksa.” Wisang Geni berkata datar.

“Aku dan Angga akan menantimu disini.” Ujar Gayatri lirih.

“Tidak. Kamu ikut ke Lemah Tulis.”

“Aduh Mas, mati aku. Mereka, murid-muridmu akan memandang hina padaku. Aku tidak sanggup menghadapi situasi seberat itu. Tolong Mas, aku tetap disini saja.”

“Bukan kamu yang memukul aku. Arjapura yang memukul dan melukai aku.” Suara Wisang Geni terdengar datar tanpa emosi.

Gayatri terkejut. “Bukan begitu kejadiannya. Aku telah melukai kamu, membuat tenaga wiwaha tercerai berai, kamu ingat, kamu berkata padaku, mengapa kamu memukul aku? Kamu ingat kan suamiku?”

“Memang aku berkata demikian. Tetapi sesungguhnya pukulanmu itu tidak melukai aku dan tenaga wiwaha tidak bercerai-berai. Pukulan Arjapura yang melukai aku! Seandainya pukulanmu telah mencerai-beraikan tenaga wiwaha, bisakah aku bertahan dari pukulan telak Arjapura yang mengandung bisa kalajengking biru?”

“Tapi, tapi…” Gayatri berhenti melangkah, dan memandang wajah suaminya, mencari menemukan antara kebenaran atau kebohongan di wajah itu.

“Mana bisa tenaga pukulanmu melukai aku, isteriku?” Wisang Geni melotot memandang isterinya yang langsung merunduk.

“Iya, aku tahu, ilmu-silatmu jauh unggul diatas aku.” Gayatri berbisik.

Wisang Geni tertawa, senang bahwa kebohongannya untuk meringankan pikiran bersalah isterinya berjalan lancar.

“Penjahat itu bisa melukai aku karena perhatianku tersedot kecantikan parasmu, aku lengah. Tidak sempat mengelak, aku hanya kerahkan tenaga wiwaha dan memutar tubuhku memberikan lenganku sebagai sasaran. Sayang hanya sebagian wiwaha yang melapis tubuhku. Tetapi itu sudah cukup untuk menyelamatkan aku.” Kata Wisang Geni.

Tiba-tiba Gayatri menjatuhkan diri, memeluk kaki suaminya. Dia menangis.

Terisak-isak Gayatri berkata. “Aku tidak bodoh kangmasku, aku tahu kamu menghiburku. Terimakasih suami sesembahanku. Kamu makin menarik aku kedalam jurang cinta yang dalam, dimana setiap saat dan setiap tarikan nafasku aku mencintaimu, manut padamu dan mementingkan dirimu. Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu.”

Kejadian itu terjadi di pekarangan rumah.

Sekar dan hampir semua murid Lemah Tulis menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Seorang suami berdiri tegar dengan menggendong putrinya, sementara isterinya bersimpuh memeluk kaki suaminya sambil menengadah mengucap serangkai kata yang tidak terdengar oleh mereka.

Sekar menarik nafas panjang, terharu melihat luluhnya kesombongan Gayatri sampai pun mau berlutut memeluk kaki Wisang Geni didepan banyak orang. Dia masuk kedalam rumah diikuti Atis.

Wisang Geni menarik tangan isterinya. “Sudahlah, orang-orang melihat.”

“Biarkan mereka melihat betapa aku menyembah padamu, aku tidak malu, bahkan bangga bisa mencium kaki suami, seorang suami yang begini sempurna.” Gayatri berdiri.

Wisang Geni menuntun tangan isterinya, satu tangan lainnya menggendong Anggreni.

Dia tersenyum membalas tegur sapa para murid.

Didalam kamar, Sekar duduk bersama Atis menunggu kedatangan Wisang Geni bertiga Gayatri dan Angga.

Wisang Geni menyapa. “Sekar aku bawa sahabatmu.”

Sekar memandang Gayatri kemudian berseru. “Gayatri!”

Pada saat yang sama Gayatri lari menghampiri dan menjatuhkan diri. Posisinya jongkok sambil dua tangannya meraih kaki Sekar. Dia merunduk hendak mencium kaki Sekar yang saking terkejutnya melompat mundur.

“Mbakyu Sekar, ampuni kesalahanku.” Dia beringsut maju.

Sekar berkata. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku mau mencium kakimu, mohon ampunanmu, kesalahanku banyak.”

“Jangan pakai cara ini, aku maafkan kamu, tapi kamu tak perlu merendah seperti itu. Kita bersahabat, dulu dan juga sekarang.” Sekar memegang pundak Gayatri, menariknya berdiri. Keduanya berpelukan. Tapi perasaan berbeda mereka berbeda. Gayatri senang bisa kembali ke rumahnya. Sekar kecewa.

Airmata membasahi pipi, Gayatri berkata tersendat-sendat. “Keluargaku sudah pergi, aku tak punya siapa-siapa lagi. Terimalah aku dalam keluarga mas Geni.”

“Kamu sahabatku, kamu bagian dari keluarga ini.” Kata Sekar.

“Aku akan manut padamu Mbakyu. Aku sudah berubah.” Gayatri berkata lirih.

Sekar mengelus kepala sahabatnya.”Kita tetap bersahabat, adik.”

Wisang Geni tersenyum melihat adegan bersahabat itu berkata kepada putrinya. “Angga mau tidur dengan siapa, dengan eyang guru atau ibu?”

“Aku tidur sama ibu. Tapi nanti eyang guru mau jemput aku.”

Sekar mendorong halus Gayatri, lalu menyambar Anggreni. Dia menciumi dengan rasa gemas. “Bibi Sekar kangen sama kamu. Kamu mau main apa sama eyang guru?”

“Pergi ke hutan, eyang guru tangkap rusa, aku naik dipunggung rusa.”

Atis berkenalan dan berpelukan dengan Gayatri.

“Kamu tidak jatuh?” Atis bertanya kepada Anggreni.

Anggreni memandang heran, dia baru pertama melihat Atis. “Namamu siapa?”

“Namaku Atis, kamu panggil aku bibi Atis.” Jawab Atis.

“Rusanya mana, Angga?” Sekar bertanya.

“Aku menunggang rusa, aku pegang tanduknya. Setelah main-main dengan aku, eyang guru menyuruh rusa pergi kembali ke hutan.”

Sebelum keluar kamar Wisang Geni berkata. “Besok kita semua ke Lemah Tulis.”

Sepeninggal Wisang Geni, tiga wanita itu berbincang-bincang. Mereka tahu sebagai isteri Wisang Geni, harus bersatu-padu. Namun masing-masing tahu bahwa sebenarnya persaingan merebut cinta Wisang Geni merupakan halangan untuk bisa bersatu-padu.

Sekar bahkan semakin kesal dengan situasi dan kondisi sekelilingnya. Kedatangan Gayatri kembali dalam rumahtangga suaminya, Sekar merasa bakal makin tersingkir. Melihat paras Gayatri yang ceria berseri-seri dan sikap Wisang Geni yang bersemangat, Sekar memastikan keduanya telah bercinta. Dia makin kesal.

“Huhh! Dalam perjalanan menuju lembah kera dia mengatakan sakit hati akibat perbuatan Gayatri dan tak akan mengampuni orang yang telah mengkhianatinya. Kini melihat tubuh Gayatri yang kembali seksi seperti dulu, pasti dia bernafsu dan mengajak bercinta. Dasar lelaki tak punya pendirian.” Sekar memaki suaminya dalam hati. Dia semakin kecewa terhadap Wisang Geni yang telah melupakannya. “Aku isteri pertama dan utama setelah meninggalnya Walang Wulan. Semua isterinya yang lain datang setelah aku. Mengapa kini aku dibuang begitu saja? Apakah tak ada lagi ingatannya akan jasa-jasaku dan cintaku yang tulus kepadanya?”

Continue published 36 / July 30th