Tuesday, August 10, 2010

World Cup 2010 (28) Argentina and Maradona

World Cup 2010 (28)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Review Argentina danAmerika Latin
Maradona dan Maradona
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 2 Juli 2010

Belum pernah sebelumnya empat tim Amerika Latin menembus babak perempat final, tadinya di perdelapan final 5 tim Latin yang lolos. Sayangnya Chili harus ketemu Brazil yang berakhir kekalahan bagi Chili. Afrika Selatan 2010 tadinya diharapkan enam wakil benua Afrika bisa melaju ke babak knock-down, nyatanya 5 diantaranya rontok di grup, Afrika Selatan, Nigeria, Aljazair, Kamerun, Pantai Gading. Hanya Ghana yang melaju sampai babak perempat final.
Prediksi para pengamat, khususnya harapan pecinta sepakbola Afrika, keliru. Justru yang berkibar adalah sepakbola Amerika Latin, empat wakilnya punya peluang menembus semifinal jika mampu melewati hadangan lawan. Uruguay lawan Ghana. Argentina lawan Jerman. Brazil lawan Belanda dan Paraguay lawan Spanyol. Amerika Latin 4 wakil, Afrika satu dan Eropa tiga. Inilah prestasi terbaik dari konfederasi zone Conmebol sepanjang usianya yang 93 tahun. Inilah prestasi puncak Dr Nicolas Leoz Almiron yang asal Paraguay sebagai presidente de la Conmebol sejak dipilih Mei 1986 lalu.
Saya pastikan Nicolas Leoz bersukacita melihat kemenangan Paraguay dalam adu pinalti dengan Jepang. Bisa dibayangkan kecewanya Presidente de la Conmebol jika tim negeri sendiri tidak masuk perempat final sementara tiga wakil Conmebol lainnya telah lolos lebih awal. Ada yang berubah dari penampilan tim Latin termasuk Chili. Telah terjadi pergeseran filosofi yang mendasar dalam permainan, pola main keras menjurus kasar mulai ditinggalkan, beralih percaya diri sanggup memainkan bola dengan skill dan tehnik.
Brazil mengawali perubahan ini. Sejak peristiwa “battle of Berne” di Piala Dunia Swiss 1954 ketika di perempatfinal dua tim unggulan Hongaria dan Brazil berlaga. Pertandingan berlangsung keras dan kasar menjurus brutal diwarnai perkelahian di lapangan yang berlanjut di kamar ganti. Sejak peristiwa hitam yang menodai sejarah Piala Dunia, CBF Federasi Brazil menerapkan aturan keras untuk tim “seleccao”, filosofi bermain bertumpu pada skill dan tehnik. Empat tahun kemudian dimotori pemain muda Pele, Brazil juara di benua Eropa, Swedia 1958.
Ketika Brazil mulai memainkan sepakbola indah berbasis skill dan tehnik, Argentina masih terbelenggu pola main kasar yang memang “laku” jika main di Amerika Latin. Barulah ketika Cesar Luis Menotti dipercaya menangani “albiceleste” percaya diri mulai ditanamkan. “Hanya dengan skill dan tehnik mumpuni kamu bisa main di klub Eropa mengikuti jejak Mario Kempes yang main di Valencia.” Katanya berulang-ulang kepada pemainnya.
Tahun 1978 sepakbola Argentina memasuki era baru. Kata-kata Menotti benar tentang skill dan tehnik. Pasarella Cs sukses memenangkan gelar Piala Dunia pertamanya dengan permainan yang sudah mulai bergeser meninggalkan era kasar dan brutal. Sejak itu skuad albiceleste selalu muncul di pentas dunia dengan sepakbola indah. Memang ada bedanya gaya Brazil dengan Argentina, seperti juga beda dansa samba dengan tango.
Samba Brazil lebih banyak meliuk-liuk dalam irama yang menghipnotis mata orang. Pasangan pria dan wanita merapat sambil meliuk-liuk bisa memancing sensual penonton, persis “jogo bonito” yang dimainkan di lapangan. Tango lebih banyak kedutan seperti kaki menendang, gerak kaki melingkar dan tubuh wanita yang ditekuk, si pria sebagai komandan dan pasangan wanitanya jadi obyek keindahan. Itu sebab terkadang orang menilai gaya main “albiceleste” lebih praktis mencari gol sedang “jogo bonito Brazil” sering terlena oleh sambanya sendiri dan lupa mencetak gol.
Sebelum era Menotti, sepakbola Argentina ibarat membentur benteng. Tak mampu menembus persaingan level dunia dan selalu kalah, seperti juga perjuangan keras juara tinju kelas berat Argentina, Oscar Bonavena yang tak mampu menghadang jab-jab Muhammad Ali dan akhirnya “knock-down” dalam partai perebutan gelar juara dunia tinju kelas berat di tahun 1970.
Sukses Menotti ibarat fondasi yang dipasak-bumikan ke pembinaan sepakbola di pelosok tanah Argentina menyentuh Diego Maradona. Sinar gemilang Maradona tidak menarik minat Menotti untuk merekrutnya ke tim albiceleste. “Biar dia memperkuat tim yunior kita di Piala Dunia U-19 agar lebih matang,”kata Menotti. Jadi skuad 1978 tidak menyertakan Maradona
Tahun 1982 Maradona masuk skuad albiceleste ke Espana, kalah digusur Italia dan Maradona kena kartu merah. Menjelang Piala Dunia 1986 di Mexico Maradona sudah matang, usia 25 tahun dan main di klub Italia, Napoli. Pelatih Carlos Salvador Bilardo tak tahan akan sikap arogan si bintang Maradona yang sering aneh-aneh. Dia nelpon Menotti yang lebih mengenal Maradona sejak masih remaja. “Beri dia kaos nomor 10, beri dia kebebasan main, beri dia kekuasaan di lapangan, itu yang harus kamu lakukan,” kata Menotti si “chain-smoker”.
Ketika Bilardo melaksanakan nasihat Menotti seketika tim albicelesta bersinar. Maradona masih saja aneh, ketika “handsball”nya menembus gawang Peter Shilton sekaligus menyingkirkan Inggeris dari pentas Mexico’86 dan dia menyebutnya sebagai “tangan Tuhan”. Argentina juara untuk kedua kalinya, kredit terbesar ada dalam diri Maradona si superstar.
Ketika dipercaya menangani albiceleste ke 2010, langkah awal yang diterapkan Maradona adalah “I am the boss”. Pemain playmaker yang hebat Juan Roman Riquelme ragu dan tidak percaya cara Maradona menangani team. Riquelme dilupakan. Maradona memanggil para senior untuk menjadi panutan pemain muda. Walter Samuel usia 32 tahun yang main di Inter Milan, Gabriel Heinze (Marseille 32 th), Martin Palermo (Boca Juniors 37 th), Juan Sebastian Veron (35 th, Estudiantes). Palermo dan Veron memang dari klub lokal namun sudah kenyang melanglang di klub-klub Eropa.
Ketika Maradona dibikin pusing ulah Lionel Messi yang tak kunjung bersinar, tidak tampil seperti penampilannya di Barcelona, Maradona teringat perlakuan Bilardo padanya. Dia lalu memberi kebebasan pada Messi untuk berkreasi dalam ruang yang luas. Para senior tunduk pada “sang boss” dan mengikuti permainan yang berpolarisasi pada Messi si bintang Barcelona itu.
Argentina sukses juara di Mexico’86 karena Maradona. Kini Argentina yang dicibir publiknya sendiri sudah menembus perempat final, juga karena Maradona. Dulu sebagai pemain, kini sebagai pelatih. Maradona tetaplah Maradona. Orang Argentina pun menanti apa yang bisa diciptakan Maradona di 2010 khususnya menghadapi hadangan Jerman yang tangguh. Dulu 1986 Maradona juara, mampukah kini 24 tahun kemudian sebagai pelatih dia juara, menyamai Franz Beckenbauer dan Mario Zagallo yang juara dunia sebagai pemain maupun pelatih? Kita tunggu.

***

No comments: