Tuesday, July 19, 2011

Wisang Geni part Two (27)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 27

Setiati dan penduduk desa menyambut kedatangan pasukan Tumapel. Pujian dan ucapan terimakasih mengalir dari para penduduk desa. Gajah Pringgon masuk ke ruang kerja Setiati, menulis laporan diatas kulit tipis. Dia kemudian bersiul memanggil elangnya yang khusus komunikasi dengan Sang Pamegat. Mengirim elang ke pimpinannya, Sang Pamegat.

Siang itu awan mendung menghalangi sinar matahari, menyebabkan hutan Karangan yang rimbun dan padat pepohonan tampak agak gelap. Meskipun demikian tak menghalangi pandangan serombongan orang yang melintas.

Tampak lima kereta yang masing-masing ditarik dua ekor kuda melaju pelan diiringi puluhan pengawal berkuda. Mereka semuanya bersenjata. Duapuluh murid Brantas dan tigapuluh prajurit Tumapel mengawal kereta yang bermuatan beras dan keping emas dari pelabuhan Jedung menuju keraton.

Rombongan sudah tiga hari perjalanan ketika tiba di hutan Karangan. “Dua hari lagi kita masuk kawasan Karangplosos, sebaiknya berhati-hati,”kata Cakar Macan, salah seorang ponggawa Tumapel yang dipercaya sebagai penunjuk jalan. Dia memiliki ilmu-silat tinggi dan pengalaman luas, sudah berkali-kali menjadi pemandu jalan bagi rombongan kerajaan, menguasai seluk beluk hutan-hutan dibelahan timur tanah Jawa.

Tiga purnama lalu rombongan keraton dirampok ditengah hutan, hal ini memancing istana Tumapel mengutus empat dari delapan belas pendekar Tumapel untuk ikut mengawal. Mereka adalah Walu sebagai pemimpin didampingi Molas sebagai wakilnya. Dua lainnya pendekar wanita, Ekadasa dan Trayodasa. Untuk tidak mencurigakan, hanya Walu dan Molas yang berpakaian seragam keraton seperti para prajurit. Sedangkan dua pendekar wanita berpakaian rakyat jelata bercampur dengan anggota Brantas.

Memasuki tengah hutan, Walu mengangkat tangan, petanda rombongan berhenti sejenak. Dia menoleh dan berseru. “Waspada dan berpencar, tetap berada disekitar kereta.”

Rombongan memecah diri, berpencar tetapi tidak jauh dari kereta kuda.

Pada saat itu ditengah hutan, agak jauh sekitar satu kilo dari rombongan Tumapel, empatpuluh pemanah dari pasukan Rodra dipimpin Samba bersiap dengan panah. Mereka menyebar dibalik rerumpun semak dan pohon-pohon, sebagian besar sembunyi diatas pohon. Dua pemimpinnya, Korowelang dan Hanggada mengintai dari atas pohon. Jika Hanggada melambaikan tangan, artinya semua pemanah siap menyerang.

Tanda akan diteruskan secara estafet sehingga menyebar. Berikutnya Hanggada akan memberi tanda dengan siulan yang mirip kicau burung. Begitu mendengar siulan semua pemanah melepas anak panah, masing-masing dengan sasaran terdekat.

Ketika jarak semakin dekat, sekitar limaratusan meter, Walu memandang keliling. Nalurinya bekerja. Dia merasa seakan diintai dan diancam bahaya, tetapi melihat Cakar Macan dan empat prajurit tidak memperlihatkan tanda curiga dan terus melangkah maju, kecurigaan Walu pun lenyap. Cakar Macan dan empat prajurit memang berada diposisi paling depan, terpisah dua puluhan meter sebagai pemandu rombongan.

“Ah aku hanya kelewat khawatir.” Bisik Walu.

“Tak ada apa-apa. Suasana biasa-biasa saja, di hutan memang sepi.” Molas menyahut.

“Dua adik kita dimana posisinya?” Walu bertanya.

“Keduanya dibelakang kereta yang terakhir.”

“Bagus begitu.” Kata Walu.

Rombongan tiba ditengah hutan, ketika terdengar siulan yang mirip kicau burung. Detik itu juga indera Walu menangkap suara berdesis, macam bunyi lebah. Dia berseru, “Awas!” Sambil dia melompat dari punggung kuda, mencabut keris dan menggerakkan mengitari tubuhnya. Molas juga bergerak sama pesat, melompat dari punggung kuda.

Tetapi peringatannya terlambat, desis macam bunyi lebah timbul dari ratusan anak panah yang melayang deras ke arah rombongan Tumapel. Seketika itu terdengar keributan, ringkik kuda dan teriak kesakitan manusia yang kena panah. Tidak hanya manusia tetapi kuda juga tidak luput dari terjangan anak panah yang melayang bagaikan hujan. Kuda penarik kereta mati tersungkur. Saisnya mati dengan beberapa anak panah menembus dada dan lehernya.

Hanya dalam beberapa detik saja hampir seluruh pengawal kereta berguguran baik pengawal dari Tumapel maupun yang dari Brantas.

Molas dan Walu sempat menangkis terjangan anak panah, namun beberapa diantaranya lolos dan nancap ditubuhnya. Dua anak panah mengena dada dan pundak Walu. Satu lainnya mengena pundak Molas. Tetapi keduanya sempat berlindung dibalik kereta yang paling belakang bergabung dengan Ekadasa dan Trayodasa.

“Kita kalah jumlah, semua pengawal mati, hanya kita yang selamat.” Kata Walu. “Kalian bertiga mundur dan sembunyi. Kalian harus selamat dan sampaikan kabar ini ke istana. Cepat laksanakan!”

Molas menoleh kepada dua rekan wanitanya. “Kalian berdua pergi. Aku temani kangmas Walu. Cepat pergi!”

Sebelum Ekadasa membantah, Molas berseru. “Cepat pergi, jangan terlambat. Cepat!”

Hujan panah masih berseliweran disekitar kereta, namun tidak menjangkau kereta yang paling belakang.

Walu berseru. “Cepat pergi, Eka dan Trayo! Ini perintah, melanggar perintah artinya membangkang perintah Raja.”

“Trayo, kita merayap cepat ke arah sungai!” Ekadasa menarik tangan temannya.

Dua pendekar wanita itu merayap bagaikan ular. Selain karena pakaiannya hitam-hitam mereka tertolong gelapnya hutan. Dalam sekejap mereka tiba ditepian kali Welang. “Kita menyeberang dan sembunyi ditepian sana!” Bisik Ekadasa yang lebih senior dari temannya.

“Mbak kamu bantu aku.” Trayodasa berbisik sambil menggenggam tangan Ekadasa.

Ekadasa senyum. “Baik. Ayo jalan!”

Mereka berdua berlari diatas permukaan air menyeberang sungai. Ekadasa menggenggam tangan temannya yang kurang mahir ringan-tubuhnya. Namun dia tak perlu menggendong, hanya menuntun dan menarik. Begitu menginjak kaki di seberang sungai, keduanya mencari pohon rindang yang terdekat dengan tepian sungai.

Dari atas pohon keduanya mengintip. Suasana yang agak gelap di hutan menghalangi pemandangan. Mata mereka tak bisa menemukan dua temannya, Molas dan Walu begitu juga para pengawal Tumapel dan Brantas.

“Kita tunggu sampai menjelang malam, mungkin para perampok sudah melarikan barang bawaan kita.” Bisik Ekadasa.

“Sssssttt lihat Mbak.” Bisik Trayodasa.

Tampak beberapa orang menyeret mayat-mayat dan melempar ke sungai. Buaya-buaya yang kelaparan menerkam mayat-mayat, menimbulkan kecipak air dan buih yang meriah.

“Kamu hitung mayat yang dibuang?” Ekadasa bertanya.

“Tidak Mbak, aku tidak menghitung, lupa.” Kata Trayodasa.

“Aku juga.”

Mereka menunggu agak lama setelah mayat terakhir dilempar ke sungai.

Ekadasa memegang tangan temannya. “Kita harus membuntuti para perampok, dari jauh. Kita harus tahu siapa mereka dan dibawa kemana barang rampasan itu.”

Suara Trayodasa terdengar bergetar. Dia agak takut. “Sekarang mbak? Apakah disana sudah aman? Tidak ada lagi musuh?”

“Mengapa nyalimu jadi ciut?”

“Musuh tidak tampak lebih sulit dihadapi ketimbang yang kelihatan. Tapi aku tidak takut asalkan bersama-sama kamu.” Trayodasa berbisik.

Dua pendekar Tumapel menyeberang sungai dengan mudah. Buaya-buaya sudah berada didasar sungai menyeret mayat-mayat, sebagian yang tidak kebagian masih berenang di permukaan mencari-cari mangsa. Mereka inilah jadi batu loncatan dua pendekar wanita menyeberang sungai.

Mendung sudah bergerak menjauh, matahari belum tenggelam. Sinar matahari senja masih menerangi hutan yang tadinya gelap. Ekadasa dan Trayodasa mengindap-indap, meneliti satu per satu mayat yang bergelimpangan ditanah rerumputan yang masih merah bekas darah.

Suasana hening, sepi. Tak ada orang.

“Ini kangmas Molas,” bisik Trayodasa.

“Ini mas Walu,” bisik Ekadasa.

“Apakah kita kubur sekarang?” Tanya Trayodasa yang menahan tangis.

“Kita ketinggalan jejak perampok, mana yang lebih penting?” Suara Ekadasa agak serak menahan kesedihan.

“Kita masih bisa memeriksa jejak kereta.”

“Bagaimana kalau mereka menghapus jejak kereta?” Ekadasa bertanya.

“Kita kerja cepat saja, mbakyu. Gali satu lubang. Aku tidak tega kalau mayat kangmas berdua ini dimakan binatang.”

“Kejadian ini aneh,” kata Ekadasa. “Perampok itu tidak membuang mayat-mayat prajurit Tumapel ke sungai, mengapa?”

“Benar Mbakyu. Aku hitung, jumlahnya lengkap. Ini aneh mbak.”

“Jadi yang dibuang hanya mayat-mayat orang Brantas.”

“Tepatnya yang jadi santapan buaya adalah mayat yang tidak berseragam.” Tiba-tiba sepasang mata Trayodasa mendelik. “Kalau kita mati, juga dibuang ke kali dan jadi santapan buaya. Beruntung kita masih hidup Mbakyu.”

Keduanya bekerja cepat, mengubur mayat temannya dibawah pohon besar. Mereka memberi tanda silang di pohon.

“Ayo berangkat sekarang.” Kata Trayodasa. “Kita cari kuda dulu, pasti masih ada yang tersesat disini.”

Cepat sekali mereka menemukan jejak para perampok yang ternyata tidak menghapus bekas roda kereta. Ketika malam tiba, para perampok tidak berhenti untuk beristirahat. Mereka maju terus. Ekadasa dan temannya tetap membuntuti dari jauh.

Satu hari lamanya mereka membuntuti. Dari hutan Karangan rombongan menuju Barat kemudian Utara.

Siang hari keesokan harinya mereka melihat rombongan mendaki lereng bukit Gunduk. Dari jauh tampak sebuah desa yang dikelilingi rimbunan pohon-pohon jati. Ekadasa memperkirakan ada seratusan rumah. Itulah desa Bangu.

“Cukup sampai disini. Sekarang kita pulang, melapor semua kejadian.” Ujar Ekadasa.

Mereka berkuda, melakukan perjalanan cepat.

Ditengah jalan di tepian kali Bango mereka melihat rombongan orang berkuda. Ekadasa dan temannya menjalankan kudanya agak menepi, tidak mau berpapasan dengan rombongan. Ekadasa dan Trayodasa berteriak girang ketika mengenal rombongan. Itulah kumpulan para pendekar Tumapel, dipimpinan langsung Sang Pamegat.

Pertemuan yang tidak disangka-sangka.

Dua hari lalu ketika Sang Pamegat sedang berada diserambi rumah duduk berdampingan isterinya yang dari Kuangchou, Kim Mei, seekor elang melayang diatap rumah. Pamegat bersiul. Saat berikut elang hinggap ditangan majikannya. Kim Mei mengambil beberapa daging dari nampan, memberikannya kepada si elang. Suaminya melepas ikatan surat di kaki elang dan membacanya.

“Karambang dirampok, beras dan keping emas. Tetapi telah kuatasi, semua perampok mati terbunuh, sayang tidak ada seorangpun yang selamat sehingga kita tidak memperoleh keterangan. Tampaknya ada kelompok pemberontak mengganggu keamanan Tumapel.”

Sang Pamegat berpikir sejenak. Kemudian menulis surat balasan. Singkat. “Aku dan pasukan akan ke Jedung, segera.”

Dia menoleh ke isterinya. “Mau ikut?”

Kim Mei tersenyum. “Ikut. Aku kan pengawal khusus.”

Malam itu juga mereka bersiap.

Setelah melapor ke Mahisa Cempaka, maka Sang Pamegat bersama sepuluh pendekar Tumapel yang dipimpin Siki serta duapuluh pemanah jitu berangkat menuju Jedung.

Bertemu Sang Pamegat menguntungkan Ekadasa dan Trayodasa. Keduanya tak perlu pulang melapor ke istana. Mereka menutur peristiwa perampokan itu.

“Ini pemberontakan terhadap kerajaan.” Tukas Sang Pamegat dengan wajah serius.

Mereka menuju pelabuhan Jedung namun berhenti di tempat kejadian di hutan Karangan. Mereka menyelidiki dan mengamati setiap jengkal tanah. Mayat-mayat prajurit Tumapel berserak, sebagian sudah dimakan binatang. Kejadian aneh yang dilihat Ekadasa, mayat-mayat orang Brantas dibuang ke kali, akhirnya terpecahkan.

Mereka menemukan luka-luka bekas anak panah. “Panah dicabut dari tubuh mayat, rupanya ingin menyembunyikan identitasnya.”

Kim Mei tersenyum dan berbisik kepada suaminya. “Kangmas, jelas ini perbuatan orang ketiga, mereka bukan orang Brantas, bukan orang kerajaan. Mereka kelompok lain, semuanya ahli panah. Lihat ini.” Dia mengajak suaminya dan beberapa pendekar ke semak belukar. Dia menarik keluar dua batang anak panah. “Mungkin kita bisa temukan anak panah lain yang nyasar di tempat yang tertutup seperti semak belukar atau akar pohon.”

Orang-orang kemudian menyebar. Benar apa yang dikatakan Kim Mei, beberapa anak panah ditemukan.

Kim Mei melanjutkan pemikirannya. “Mereka punya rencana cermat, sembunyi tangan, coba periksa teliti pasti semua korban mati dipanah. Bekas anak panah yang dicabut dari tubuh tidak bisa disembunyikan.”

“Kereta barang kerajaan ini dikawal prajurit Tumapel dan murid-murid Brantas, tetapi disini hanya ada mayat-mayat prajurit.” Kata Siki.

“Seperti yang dilaporkan Ekadasa, mayat-mayat yang dibuang ke kali, adalah mayat orang Brantas, mereka mau kita berpikiran Brantas yang merampok.” Kata Pamegat.

“Supaya kita menghukum Brantas?” Tanya salah seorang pendekar Tumapel, Patwelas.

“Mungkin saja. Tetapi aku justru berpikir, mereka menyembunyikan diri, tidak mau kita tahu siapa mereka.” Tegas Kim Mei. “Mereka bukan perampok biasa, ada rencana menyusun kekuatan, merampok puluhan kuintal beras. Pasti untuk makan orang banyak, nah apalagi jika bukan satu pasukan besar.”

Sang Pamegat menatap tajam isterinya. “Kamu yakin Mei?”

Wanita Kaungchou yang kecantikannya masih bersinar mengangguk. “Aku pasti Kangmas.”

Tiba-tiba kepala pasukan panah menyela pembicaraan. “Paduka, mohon ijin bicara. Hamba dan beberapa teman mengamati beberapa anak panah, ternyata itu panah pasukan rodra yang dulu menjadi tulangpunggung kekuatan Kediri.”

“Kamu yakin?” Tegas Sang Pamegat.

“Hamba yakin Paduka.”

“Pasukan rodra muncul kembali dan menjadi perampok, apa maunya?” Siki bertanya.

Semua orang saling pandang. Ada rasa kekhawatiran dari paras masing-masing. Apalagi ketika Sang Pamegat berbisik. “Rencana pemberontakan!”

Siki menambahkan. “Hamba setuju pendapat Paduka, pasti perbuatan makar!”

“Yang penting, aku sudah tahu dimana markas mereka, desa baru di kaki bukit Gunduk.” Kata Ekadasa. “Apakah kita kembali ke istana?” Dia bertanya pada Sang Pamegat.

Pamegat menggeleng. “Kita terus ke Jedung. Pelabuhan harus kita amankan. Aku akan menulis surat untuk istana agar siap-siap mulai sekarang.” Dia lalu bersiul memanggil elangnya. Memberinya sekerat daging. Menulis surat, mengikatnya dikaki si elang.

Elang itu melayang jauh ke angkasa biru, menuju keraton.

Rombongan Sang Pamegat melanjut perjalanan ke Jedung dan Karambang.

Esok harinya mereka tiba di pelabuhan. Dua pendekar diutus masing-masing menemui Gajah Pringgon dan Setiati. “Katakan pertemuan di rumah kepala desa, sekarang juga. Aku akan segera ke rumah kepala desa begitu selesai memeriksa keamanan pelabuhan.”

Linggapati dan Dedes Ayu mendengar laporan. Misi merampok rombongan Tumapel dihutan Karangan, Samba dan pasukannya membawa pulang beras dan keping emas yang dimuat dalam lima kereta kuda. Hebatnya lagi, tak ada korban di pihak pasukan Samba.

Misi ke Jedung dan Karambang gagal malah tiga penasehat Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran terluka kena panah. Beras dan keping emas yang telah diangkut dengan kereta kuda, ditengah jalan disergap pasukan panah keraton Tumapel. Semua mati kecuali ketiga penasehat. Mereka pulang dengan tangan hampa. Beras dan keping emas direbut balik oleh pasukan Tumapel.

Pulosari menutur dengan merunduk kepala, malu akan kegagalannya.

Mendengar laporan dari Pulosari, seketika wajah Linggapati merah padam. Amarahnya membakar dada. Tetapi dia masih ingat, Pulosari adalah kakak perguruannya yang telah banyak berjasa memelihara dan mendidiknya. Sudah bagaikan ayah kandung. Pulosari juga satu-satunya orang yang paling dia percaya, melebihi kepercayaan pada Sangkapura.

Tanpa berkata-kata dia masuk ke bilik pribadinya.

Dedes Ayu mengikutinya.

Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran dan Samba tetap menunggu.

Linggapati berkata, suaranya gemetar. “Jangan bicara, Dedes. Aku sedang marah.” Lagak bicara dan gerak tubuhnya membuat wanita cantik itu ketakutan.

Linggapati melepas bajunya, tinggal hanya celana panjang sebatas lutut warna kuning, dia lalu masuk ke goa latihannya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara ribut, macam letusan mercon diselingi teriakan yang gegap gempita. Dedes Ayu tahu suaminya sedang menyalurkan amarah dalam latihan, pelampiasan marah yang sulit dia bendung.

Dia ingat, laki-laki itu pernah mengatakan sejak menguasai keris prabakara pada saat-saat tertentu acapkali dia harus berkutat mengendalikan hawa panas tenaga-dalamnya. “Panas itu menjadi pemicu amarahku, yang terkadang sulit kuatasi. Pada saat-saat seperti itu aku harus berlatih atau tarung.”

Sudah beberapa kali kejadian, ketika dikuasai amarah, Linggapati bisa berubah menjadi mahluk yang mengerikan. Mula-mula Dedes tidak berdaya dan tenggelam dalam ketakutan yang amat sangat. Namun lambat-laun dia mulai menemukan cara menurunkan tensi amarah suaminya. Pertama-tama membiarkan suaminya melampias amarah, setelah itu membujuknya dengan rayuan seks. Ternyata cara itu menjadi penawar yang jitu.

Sementara suaminya sibuk berkutat dengan jurus-jurus maut keris prabakara, Dedes Ayu mendandani diri sebaik-baiknya. Beberapa saat berlalu Dedes Ayu berubah menjadi sosok yang cantik, montok dan luwes. Pakaiannya yang seronok memperjelas kemolekan tubuhnya bertaut dengan paras cantik yang berseri-seri.

Linggapati selesai berlatih, keluar dari ruang pribadinya dengan sekujur tubuh mandi keringat. Wajahnya masih merah padam. Dedes menghadapinya dengan tenang dan kemayu. Sambil menyeka keringat suaminya dengan air kendi yang sejuk, Dedes Ayu menggunakan semua pesona dirinya untuk menenangkan kemarahan Linggapati.

“Sebenarnya aku yang bersalah! Petunjuk yang kuberikan tidak lengkap. Karena memang aku tidak tahu bahwa di Jedung ada pasukan Tumapel yang sembunyi yang sewaktu-waktu bisa datang membantu desa Karambang. Itu salahku kangmas.”

Dedes pintar, dia tahu suaminya menyalahkan diri sendiri. Linggapati tidak tahu tentang pasukan Tumapel sembunyi di pelabuhan. Ketika itu Dedes mempertanyakan kemungkinan ponggawa kerajaan bersembunyi dalam samaran, Linggapati membantahnya.

Dedes Ayu tidak mengungkit kesalahan itu sebagai kesalahan Linggapati, melainkan dia mengaku sebagai kesalahannya. “Tetapi Mas, jangan beritahu mereka bahwa aku salah dalam memberi petunjuk. Sebagai pemimpin, kamu adalah orang yang tak boleh dipersalahkan, dan aku sebagai sisianmu juga tak boleh disalahkan.”

“Apakah kesalahan harus dibiarkan? Itu kesalahan kangmas Pulosari dan peraturan kita setiap kesalahan harus dihukum. Tetapi bagaimana mungkin aku menghukum kangmasku?”

Melihat suaminya yang tampak sangat berduka. Dedes memeluk, mengelus dan mencium dadanya. “Jangan pikirkan itu, pikirkan aku, mas. lihat kecantikanku.”

Linggapati pun luruh dalam pelukan isterinya yang cantik. Apa yang diberikan Dedes Ayu bagaikan bius-candu yang tak mungkin bisa ditolak.

Masih diatas pembaringan Dedes memeluk suaminya dan berbisik lirih. “Kangmas jika kamu mengampuni mereka, tiga tetua itu akan mati-matian membelamu karena terimakasih, dan itulah yang penting. Kita akan menyerang dalam waktu dekat, daripada kehilangan tiga tetua itu, lebih baik jika mendapatkan jiwa raga mereka. Aku minta pengampunanmu bukan sebab Kajoran itu ibuku, tidak ada cintaku pada ibuku jika dihadapkan pada kepentinganmu. Kalau harus membunuh ibuku juga akan kulakukan jika kamu perintah.”

“Pijit aku dengan jari tanganmu yang lembut dan wangi.”

Dedes tersenyum, jari jemarinya mulai menari dikepala dan leher suaminya. “Ayo Mas, kamu ampuni mereka?”

“Tapi aku sudah membuat aturan, yang gagal akan aku hukum!”

“Kamu raja, kamu buat aturan, kamu bisa mengubah dan melanggar, kamu penguasa atas semua anak buahmu.” Bisik Dedes Ayu.

Linggapati berterimakasih atas anjuran dan pandangan isterinya. “Kamu benar, isteriku. Ayo kita keluar bertemu mereka.”

Setelah Dedes Ayu mengenakan busana, keduanya keluar menemui empat penasehat. Empat pendekar tahu bahwa Linggapati akan memutuskan sesuatu atas anjuran dan pandangan wanita cantik yang menjadi isterinya.

“Ada menang ada kalah, ada malam ada siang. Kalian telah menyelesaikan misi. Aku tak mau ada kegagalan lagi. Mulai saat ini, dewan penasehat kuhapus. Kalian masih boleh tinggal di tempatmu sekarang ini, tetapi pangkat kalian sama dengan pendekar gugus dua. Mengapa aku memutuskan kebijakan ini? Karena kita akan segera menyerang istana dalam waktu dekat dan aku mau kalian mengawasi dengan ketat semua pendekar dan pasukan yang di gugus dua maupun gugus tiga. Kalian akan menerima perintah dari aku dan juga isteriku.”

Tidak menyangka akan mendapat keringanan, Pulosari bertiga Sangkapura dan Dewi Kajoran berulang kali mengucap terimakasih.

Dedes Ayu tersenyum kepada tiga penasehat.

Seketika itu ketiga pendekar tahu keputusan Linggapati karena mengikuti bujukan wanita itu. Sinar mata Pulosari mengucap terimakasih pada Dedes Ayu.

Linggapati menarik tangan isterinya dan melangkah kedalam kamar. Ditengah jalan, Dedes Ayu berbisik. “Sekarang kamu telah mendapatkan seluruh jiwa raga tiga pendekar itu, dan mereka akan sedia mati membelamu, kangmas.”

Mendadak Linggapati berbalik. “Kalian boleh meninggalkan ruangan. Tetapi kangmas Pulosari harap tinggal.”

Semua melangkah pergi. Pulosari menanti dengan hati berdebar-debar.

“Kangmas, waspada dan pasang mata dan telinga. Sering-sering melapor padaku. Kuperkirakan dalam waktu duapuluh hari kita akan menyerang istana. Kamu tangan kananku, Kangmas. Aku sangat mengandalkanmu.” Dia berbalik menggandeng isterinya. Dia sempat mendengar suara Pulosari.

“Terimakasih Dimas.”

(To be Continued 20 July/Published No 28)