Sunday, July 3, 2011

Wisang Geni Part Two (14)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

(published 4 July 2011)

Hari itu Wisang Geni melompat ke atas punggung Wulung. Airmata Atis membasahi pipi yang kemerahan. “Kangmasku, tiga puluh hari lagi kamu jemput aku. Jangan lupa Mas!” serunya dengan menahan isak tangis.

Wisang Geni mengarah ke desa Trawas, rencananya mampir sehari di Lemah Tulis, esoknya nginap di Trawas kemudian pulang ke Welirang. ***

Hari itu Sekar uring-uringan. Dia baru saja bertengkar hebat dengan Gayatri. Pasalnya Gayatri menjewer telinga Antaseno, putra Sekar. Melihat telinga putranya yang merah bengkak, meskipun Seno menyembunyikan siapa yang menjewer, tetapi Sekar tahu itulah perbuatan Gayatri.

Kontan amarahnya mencuat. Gayatri tak mau mengalah, terjadi adu mulut yang sengit. Untung saja Manohara dan Prawesti bisa melerai dua macan betina yang saking marahnya nyaris tarung. Perseteruan keduanya sudah sejak beberapa bulan belakangan, cukup lama dan tak ada yang mau mengalah.

Masalah lain yang membuat Sekar kesal, Wisang Geni yang sekali lagi ingkar janji. “Dia sudah janji akan bersama aku mengantar Seno ke guruku. Katanya dia pergi hanya lima belas hari. Sekarang sudah empatpuluh hari lebih dia belum pulang. Kemana saja dia pergi?” Sekar memandang dua temannya Prawesti dan Manohara.

“Ah mbakyu pura-pura tidak tahu tabiat Mas Geni. Pasti dia ketemu perempuan cantik, terlibat asmara, yah tentu saja dia lupa semuanya.” Kata Manohara dengan senyum licik.

“Kalau dia lupa sama aku dan Manohara, itu biasa. Tapi melupakan mbakyu Sekar yang cantik, semok, wuah itu kelewatan.” Prawesti menggoda.

“Dia pasti punya simpanan wanita lain diluaran yang tidak kita ketahui. Kelakuannya suka menghilang, membiarkan kita kesepian. Sekali-sekali kita perlu protes, tapi rame-rame.” Kata Manohara.

Sekar tertawa geli. “Kamu licik, suka memanasi hatiku. Tapi aku tidak terpancing. Biar saja dia ambil isteri lagi, jatahku tidak akan hilang, Jatah kalian yang berkurang.”

Tiga wanita ini saling menggoda. Tertawa cekikikan.

Tiba-tiba Gayatri menerobos masuk kamar. “Apa yang menjadi bahan tertawaan? Kalian menggunjing aku?” Matanya mendelik.

Sekar menatap tajam. “Dia cari gara-gara lagi, kali ini akan kuhajar benar-benar.” Bisiknya dalam hati. Dia hendak menyahut tetapi Manohara mendahului. “Kami bincang tentang mas Geni. Lama dia menghilang, pasti sudah ketemu gadis cantik.”

“Firasatku, dia ketemu gadis yang cantik langsing itu.” Tambah Prawesti.

“Perempuan yang mana?” Tanya Gayatri.

“Dua purnama lalu di desa Bangsal kita ketemu gadis itu yang dikawal beberapa pengawal. Kulihat mas Geni main mata dengannya.” Prawesti menoleh ke Manohara. “Coba tanya Manohara, dia juga menyaksikan adegan main mata itu, iya kan?”

Mengerti maksud Prawesti menggoda Gayatri, Manohara mendramatisir cerita bohong itu. “Benar. Si gadis tertawa sambil membalas kedipan mata lalu pura-pura kebelakang rumah, mas Geni mengikutinya. Pasti mereka mengatur janji bertemu.”

“Dasar mata keranjang,”tukas Gayatri. Nada suaranya sarat amarah. “Aku sudah tahu, memang dia suka cari perempuan diluaran, dia sudah bosan sama kita. Kelakuannya makin menjengkelkan, suami macam apa itu?” Gayatri benar-benar sengit.

Sekar diam, tampaknya tidak perduli keadaan sekitarnya. Dia memejam mata, tidur.

Gayatri memecah kesunyian. “Keluargaku sudah pasti pulang ke Himalaya duapuluh hari lagi, Geni sudah tahu jadwalnya, tapi mengapa belum pulang? Makin lama dia makin tidak bertanggungjawab.” Tampak jelas suara dan mimik Gayatri yang kesal dan kecewa. “Lalu sekarang ini perginya lama tak ada kabar berita, suami apa itu?”

“Kurasa tidak lama lagi mas Geni pulang, kamu tidak perlu khawatir.” Tukas Prawesti yang memperlihatkan rasa tidak senang mendengar suaminya dicela. Dia menganggap sebagai ketua Lemah Tulis, Wisang Geni tak boleh dikritik orang.

“Gadis itu memang cantik.” Manohara pura-pura jengkel.

“Biar saja dia menghilang bersama si gadis.” Ujar Sekar tanpa membuka matanya.

“Mengapa kalian tidak protes? Malah membiarkan dia leluasa menambah isteri?” Sambil berkata Gayatri melangkah keluar hendak kembali ke rumah orangtuanya. “Kalau dia sudah kembali, kalian beritahu aku!” Tambahnya.

Prawesti menyahut. “Akan kukabari kamu, Gayatri, mbakyuku yang manis.”

“Terimakasih Westi. Cuma kamu yang masih baik hati padaku.” Gayatri melesat pergi.

Sekar menyambar buntalan pakaiannya. “Aku mau pergi!”

Manohara dan Prawesti terkejut. “Pergi? Pergi kemana?”

“Lembah cemara, menemui nenek!”

“Mengapa mendadak mau pergi ke lembah cemara?” Tanya Prawesti.

“Mas Geni setuju Seno berguru pada nenekku. Karena dia belum juga datang, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau dia datang katakan aku pergi mengantar Seno ke lembah cemara.” Sekar memandang dua temannya. “Jangan khawatir, aku pulang sebelum keluarga Gayatri berangkat.”

“Aku ikut!” Seru Prawesti.

“Kita pergi bertiga! Diluaran banyak musuh. Kamu sendirian.” Tukas Manohara.

“Kalau begitu, Manohara pergi temui Gajah Nila, katakan kita mengantar Seno ke lembah cemara terus langsung ke Lemah Tulis.” Kata Sekar.

Manohara segera berlari menemui Gajah Nila.

Tiga tahun belakangan Nenek Sapu Lidi sudah menetap bersama adiknya, Dewi Obat di lembah cemara. Keduanya berterimakasih pada Sekar yang memaksa dua neneknya untuk hidup bersama. Hanya Sekar yang bisa mendesak Sapu Lidi untuk meninggalkan tempatnya yang terpencil di laut selatan, pindah ke lembah cemara.

Dua neneknya, terutama Dewi Obat, sibuk merawat Sekar ketika hamil besar sampai saat melahirkan Antaseno. Memberi ramuan baik untuk Sekar maupun bayinya. Mereka nginap di rumah kecil dekat danau. Bahkan ketika Antaseno mulai bisa berjalan, dua nenek itu sering mengunjungi Welirang menjenguk sang cicit.

“Geni banyak musuhnya. Mereka tak mampu membunuh suamimu, sasaran akan beralih ke Antaseno. Di lembah cemara, dia pasti aman. Nenek berdua akan melatih ilmu-silat dan sastra jawa, setelah dewasa, giliran Geni melatihnya.” Begitu usul Sapu Lidi waktu itu.

Ketika Sekar membicarakan dengan suaminya, Wisang Geni setuju. Waktu itu ditetapkan akan mengantar Seno jika sudah lepas menyusu. Satu tahun lalu Sekar sudah tidak menyusui Seno lagi, tetapi belum juga bisa mengantar putranya ke lembah cemara. Sekar tak mau lagi menunda-nunda, karena neneknya sudah lama menunggu kedatangan Seno cicitnya.

Selama perjalanan Sekar, Manohara, Prawesti dan Antaseno tidak menemui halangan.

Empat hari kemudian mereka tiba di Lembah Cemara. “Kamu tunggu disini. Aku dan Seno masuk, nenekku punya adat aneh, tidak suka bertemu orang. Aku akan mintakan ijin supaya kamu diperbolehkan nginap.”

Tak lama kemudian Sekar menemui dua temannya. “Ayo kedalam.” Sekar menuntun mereka berikut tiga kudanya. “Pepohonan cemara ini disusun dengan rahasia, orang tidak bisa masuk keluar jika tidak tahu rahasianya.” Kata Sekar.

Sekar mengajak dua temannya ke rumah kecil agak jauh dari rumah utama dekat empang dimana dua neneknya tidur. “Kita nginap disini. Kamu jangan tersinggung jika nenek tidak menyapa, adat mereka memang begitu. Kamu istirahat, nanti kubawakan makanan. Aku mau menemui nenek dulu.”

Dua neneknya sedang main-main dengan Antaseno. Tampak dua nenek itu begitu gembira. Mereka gantian menggumuli Seno yang meski baru usia tiga tahun namun memiliki tubuh sebesar anak berusia lima tahunan. Kulit tubuhnya kuning sawo, wajahnya ceria selalu tersenyum. Dalam sekejap Sapu Lidi dan Dewi Obat jatuh hati.

“Aduh Seno, kamu lucu dan gesit. Seharusnya satu tahun lalu kamu kesini sehingga dua nenekmu ini tidak kesepian.” Kata Dewi Obat yang nama aslinya Kunti, memeluk erat dan menciumi Antaseno yang tentu saja kegelian.

Sekar memeluk, menciumi wajah Sapu Lidi neneknya. “Nek, begini kamu lebih cantik, tidak perlu lagi menyamar jadi wanita tua bungkuk. Demi Seno, nanti dia takut, terus dia lebih sayang sama nenek Kunti, mau kamu?”

“Kamu memang pinter, suka membakar-bakar emosiku, tapi baiklah aku akan merawat paras dan tubuhku. Aku senang kalau Seno juga menyayangi Kunti, kasihan adikku itu.” Dia melesat mengejar adiknya. “Mana Seno, ganti aku yang gendong.”

“Seno tidak mau digendong, maunya lari, larinya kencang. Punya bakat untuk menerima wimanasara.” Seru Dewi Obat yang gembira bermain dengan Antaseno.

Sekar mengejar nenek Sapu Lidi yang mengejar Dewi Obat. Mereka bermain diantara rimbunnya pepohonan cemara dan kolam air yang luas.

Dua nenek itu bergantian menggendong dan menggeluti putra Sekar.

“Nek kamu sudah lupa sama aku?” Pura-pura kesal tapi dalam hati Sekar gembira melihat dua neneknya begitu gandrung sama Antaseno.

Sapu Lidi meneliti wajah dan sosok cucunya lalu tertawa. “Sudah lama tidak bertemu, ternyata kamu makin cantik segar dan seksi.”

Sambil menggendong Antaseno, Dewi Obat juga meneliti Sekar dan memuji kecantikan paras dan tubuhnya. “Benar, kamu makin bersinar, nduk.”

“Seno mahir berenang. Setiap hari aku gantian bapaknya ngajak dia berenang di danau dan air terjun. Disini dia pasti senang karena ada empang yang luas, airnya juga mengalir.” Sekar memandang Seno dengan mata berbinar-binar. “Nek, rawat dan didik Seno seperti kalian merawat aku, dia itu belahan jiwaku.”

Dewi Obat menyahut. “Empat tahun disini, kami memberinya ilmu sastra, pengobatan dan dasar ilmu silat. Enam tahun berikut di laut kidul, pematangan ilmu silat.”

“Nek, ceritakan pada Seno, pohon-pohon cemara itu jadi saksi cinta bapak dan ibunya. Disini penuh kenangan cinta, tumpahnya air mata bahagia dan tangis kesedihanku.”

“Geni itu romantis suka mencium ketiakmu, dia rakus mencium mulutmu, dia buas dan kasar, membuat kamu menjerit histeris.” Kata Dewi Obat dengan tersenyum nakal.

Sekar kaget, saat berikut dia menjerit, parasnya merah malu. “Kamu ngintip?”

Dewi Obat mengangguk sambil tersenyum menggoda. “Aku sering ngintip.”

“Oh kalian nenek-nenek genit, yang satu ngintipnya di lembah cemara, satunya lagi di lereng gunung. Awas kalian ngajarin Seno yang aneh-aneh.”

Sapu Lidi tertawa sambil menciumi Antaseno. “Kamu awasi suamimu, dia akan ngajarin Seno ilmu peletnya dan kamu akan kewalahan punya banyak menantu. Lihat saja parasnya yang tampan, lebih tampan dari suamimu, Seno bakal punya banyak isteri nantinya.”

Sekar menjerit. “Jangan. Jangan banyak isteri. Isteri satu saja, tetapi cari perempuan terbaik yang mencintainya tulus dan setia.”

“Tampaknya kamu tidak suka suamimu beristeri?” Tanya Sapu Lidi.

“Seringkali kesal nek, ketika aku lagi ingin bercinta, dia sibuk dengan isterinya yang lain, atau pergi berkelana, alasannya ke Lemah Tulis, tapi aku tahu dia pasti punya wanita simpanan diluaran.” Sekar tampak kesal, benar-benar cemberut.

“Sainganmu banyak, siapa yang paling dicintai Geni?” Tanya Dewi Obat.

Kali ini Sekar menyahut bangga. “Sudah tentu aku yang nomor satu. Tiap hari dia kasmaran sama aku, begitu aku mendekat, langsung berahinya kumat, terus ngajak bercinta. Tetapi belakangan sudah berkurang, mungkin dia mulai bosan.”

“Tak mungkin dia bosan, paras dan tubuhmu begitu cantik.” Kata Dewi Obat.

Malamnya Sekar menemui dua sahabatnya, ditangannya tiga bungkus nasi dan lauk pauknya. “Kita nginap tiga malam disini.”

Mereka makan minum sambil mencurahkan isi hati.

“Dia tidak mencintai kita, dia mencintai diri sendiri, selama ini kita berpura-pura bahagia. Ini perkawinan yang tidak normal.” Sekar memandang pepohonan cemara dan menghela nafas. “Untuk bercinta sering kita harus melupakan birahi karena bukan giliran kita. Sudah sepuluh hari birahiku memuncak, tapi mana dia, mana suamiku?”

“Lalu jalan keluarnya bagaimana?” Desak Prawesti.

“Yah mau apa lagi, sabar tunggu giliran,” lalu Sekar tertawa keras-keras macam histeris.

Manohara dan Prawesti ikut tertawa.

“Mungkin Gayatri juga mengalami hal yang sama, dan yang membuat perangainya berubah, mudah tersinggung dan cepat marah.” Kata Manohara.

Sekar tertawa. “Mungkin juga. Dulu aku dan dia bersahabat. Tapi sekarang hubunganku dengannya jadi buruk dan semakin buruk, dia keras aku juga keras.”

“Kasihan Gayatri.” Komentar Prawesti.

“Kita semua harus dikasihani.” Tegas Sekar.

Malam itu mereka tidur berdesakan, menghangatkan badan menghadapi udara dingin dan tiupan angin malam.

Sekar sulit memejam mata, pikirannya melayang memikirkan suaminya. Dulu di lembah cemara ini cintanya yang panas membara telah membuat Wisang Geni berjanji tak akan pernah bisa melupakannya. “Ternyata sekarang dia berubah, sibuk dengan isteri yang lain dan juga wanita-wanita diluaran. Dia ingkar janji, katanya akan menjadikan aku isteri satu-satunya dalam hidupnya, tapi kenyataannya lain, dia mengumpulkan banyak isteri, mungkin akan bertambah lagi.”

Hari itu ketika hendak berangkat Sekar berkata kepada dua temannya. “Kita ke Lemah Tulis mencari mas Geni tapi mampir di desa Trawas.”

Matahari berada di puncaknya, udara sangat panas meskipun sehari sebelumnya kawasan itu diguyur hujan lebat. Desa Trawas bukan desa besar. Hanya desa tempat singgah para pedagang dan pelancong.

Salah satu warung makan, yang terbesar dari empat yang ada didesa itu didatangi banyak orang. Hampir semuanya berpakaian pendekar dengan berbagai macam senjata. Sekitar tiga puluh orang adalah murid perguruan Brantas.

Disalah satu meja enam orang duduk menyantap makanan. Salah seorangnya, wanita cantik berselendang merah. Dia, Roro Gandis ketua Brantas. Didekatnya Manyar Edan, jago tua yang sangat disegani dikalangan Brantas bersama dua putranya Prabowo dan Santiyaki. Mereka berunding dengan dua pendekar, Siluman Goa Paliyan dan Janda Ngargoyoso.

Paliyan dan Ngargoyoso membawa usulan menentang keraton Tumapel. “Sekarang ini banyak pendekar dan prajurit bekas keraton Kediri pengikut Maharaja Tohjaya berkumpul bertujuan menjatuhkan keraton Ranggawuni. Hadiahnya sangat menarik. Harta, perhiasan emas permata, uang bahkan kedudukan dan jabatan.” Kata Ngargoyoso.

“Jika menang, wanita secantik ketua Roro bisa masuk istana, menjadi isteri menteri dan adipati, menikmati hidup di kalangan keraton.” Tambahnya dengan senyum licik.

Roro Gandis yang memang gila harta dan kekuasaan sangat tertarik. “Aku bisa kerahkan ratusan murid Brantas memperkuat kelompok, tetapi harus ada jaminan imbal jasa yang jelas, artinya aku harus ketemu dengan pemimpin kelompok, si pendekar digjaya, siapa dia?”

Siluman Goa Paliyan memandang Manyar Edan yang wajahnya tampak cemberut.

“Beberapa tahun lalu Brantas pernah membangkang perintah Tumapel tapi hancur diserang pasukan elit keraton. Kami menyerah, beruntung dapat pengampunan. Tak mungkin murid dan anak buah Brantas mau membentur keraton lagi.” Tutur Manyar Edan.

“Kita tidak perlu bergabung sekarang. Nanti saatnya ketika kelompok anti keraton sudah menampak diri dan jelas unggul kekuatannya, baru kita gabung.” Potong Roro Gandis sambil berbisik ditelinga Manyar Edan. “Jangan membantah aku di depan orang lain, kalau hatiku kesal pintu kamar aku tutup rapat.”

Manyar Edan merengut, tak berdaya.

Roro Gandis menatap tajam Ngargoyoso. “Katakan pada pemimpinmu, kami minta wilayah desa Karambang dan pelabuhan Jedung. Katakan dulu siapa pemimpinmu?”

“Adipati Linggapati.” Kata Siluman Goa Paliyan.

Empat orang Brantas itu saling pandang. “Nama itu tidak dikenal.” Kata Manyar Edan.

“Pernah dengar nama Sangkapura pendekar dari Tanjung Anyar yang terkenal di pesisir Utara, atau senopati Samba kepala pasukan khusus keraton Kediri yang jadi kepercayaan Raja Tohjaya, atau Pulosari pendekar utara gunung Slamet? Mereka sudah bergabung.” Kata Paliyan dengan temberang. “Kalau orang-orang ternama itu sudah mau bergabung dan patuh mengangkat Linggapati sebagai pemimpin, itu jaminan Linggapati punya ilmu-silat yang tidak terukur.” Tutur Siluman Goa Paliyan.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi cerita orang, keris prabakara berada ditangan Linggapati. Itu sebab dia mau berontak menantang Tumapel. Pendekar pemilik keris itu jika dia memiliki pasukan besar maka dia pasti akan jadi raja tanah Jawa.” Tambah Janda Ngargoyoso.

“Nama-nama yang kamu sebut tadi, semuanya pendekar kelas utama, yang ilmu-silatnya sulit dicari tandingannya.” Tukas Manyar Edan.

Jantung Roro Gandis berdebar kencang. “Akhirnya aku tahu dimana keris itu berada.” Bisiknya dalam hati. Saat berikut pikiran liar tercetus dibenaknya. “Jika aku bisa menjadi kekasih si Linggapati, bukan mustahil aku bisa masuk istana sebagai permaisuri.”

Roro Gandis memandang Manyar Edan, Prabowo dan Santiyaki. Lalu memandang tajam Janda Ngargoyoso. “Katakan pada Linggapati, aku mau bertemu. Mungkin aku didampingi guru dan kakak perguruanku. Pernah dengar nama guruku, Ganggati dari bukit Limas?” Rupanya Roro Gandis belum diberitahu gurunya perihal pertemuan sang guru dengan utusan adipati Linggapati.

“Oh tidak tahunya ketua Brantas murid dari pendekar kenamaan Ganggati, maaf aku tidak tahu sejak awal.” Kata Ngargoyoso pura-pura tidak tahu.

Pembicaraan terhenti ketika tiga penunggang kuda mendekati warung. Terdengar siul dan celoteh para murid Brantas yang mengagumi kecantikan tiga wanita itu.

“Yang baju hitam itu Sekar, isteri Wisang Geni,” kata Prabowo.

Melihat warung dipenuhi tamu, Sekar dan dua temannya batal berhenti, melanjut ke warung disebelah.

Manyar Edan berdiri. “Aku kenal dekat dengannya.” Dia melangkah ke warung sebelah. “Sudah lama aku kasmaran sama wanita cantik itu. Aku tidak takut Wisang Geni!”

Siluman Goa Paliyan dan janda Ngargoyoso kaget nama Sekar disebut. “Huh kesempatan balas dendam, jika aku memerkosa dan membunuh isterinya pasti membuat Wisang Geni sakit hati.” Pikir Paliyan. “Setelah itu baru aku tarung dan membunuh Wisang Geni.”

Manyar Edan masuk warung dimana Sekar, Prawesti dan Manohara duduk. “Aduh Sekar kamu makin segar dan ayu. Sudah lama kita tidak bertemu, aku kangen dan kasmaran.”

Sekar menyahut cepat. “Manyar Edan, mau apa kamu?”

“Mau kawin sama kamu, wongayu.” Manyar Edan menghampiri.

Sepasang mata Sekar menyipit, memandang tiga bayangan melayang datang dan berdiri disamping Manyar Edan. Tidak seorangpun yang dia kenal. Tetapi dari gerakan pesat bisa ditebak ringan tubuh mereka dari kalangan kelas utama.

Mencium gelagat buruk rasa lapar Sekar mendadak lenyap. Dua temannya juga mencium datangnya bahaya. Mereka siap siaga.

Sekar siapkan tenaga segoro membuat otot-otot tubuhnya mengejang. “Aku Sekar isteri Wisang Geni, siapa kiranya tuan bertiga yang bersama Manyar Edan ini.”

Siluman Goa Paliyan tertawa sinis. “Kamu isteri Wisang Geni, aku akan balas dendam adikku, Lembu Ampal. Karena kamu cantik, kujadikan isteriku.”

“Aku janda Ngargoyoso!”

“Aku ketua Brantas Roro Gandis akan membunuhmu membalas perbuatan ketua Lemah Tulis yang banyak membunuh orang Brantas.”

Manohara melihat keliling. “Kita sudah dikepung, mbakyu.” Bisiknya.

Sekar tahu saat kritis, sulit untuk lolos dari keroyokan empat orang ini. Apalagi saat itu dia melihat puluhan orang mengepung warung. Tapi dia tak memperlihatkan rasa takut.

“Kalian tidak tahu malu, mau main keroyok atau mau tarung satu satu?” Sekar melangkah keluar dari warung. Diikuti dua temannya.

“Sekar ikut aku, kamu aman bersamaku.” Kata Manyar Edan.

“Eh, urusanku lebih besar dari urusanmu, kamu harus mengalah, Manyar! Aku maju duluan!” Tukas Siluman Goa Paliyan dengan temberang.

“Aku duluan,” teriak Manyar Edan.

Sekar tertawa geli, sengaja menggoda, mengadu dua dedengkot tua itu. “Eh kalian kakek-kakek sebaiknya tarung dulu, siapa menang boleh bersamaku satu malam. Ayo kalian tarung dulu, yang menang akan kuberi hadiah.”

Siluman Goa Paliyan tidak terbakar pancingan Sekar, lain halnya Manyar Edan yang langsung menyerang Paliyan.

“Ayo tarung!” Tanpa tedeng aling-aling dia menyerang. Manyar Edan memang gila.

Serangan ini membuat Siluman Goa Paliyan terpancing, dia mengelak dan menyerang balik. Dalam sekejap terjadi tarung antara dua kakek.

Roro Gandis marah, memaki. “Manyar kamu goblok dan edan, bukannya menawan musuhku, malah kamu tarung dengan teman sendiri.”

Manyar Edan tidak perduli. Dia menyerang gencar. Paliyan sibuk melayaninya.

Roro Gandis bersama janda Ngargoyoso serentak menyerang. Beberapa murid Brantas ikut menyerang dan mengepung. Menghadapi keroyokan lawan yang begitu banyak, kontan Sekar dan dua temannya kewalahan. Dalam sepuluh jurus mereka jatuh dibawah angin.

Sekar melihat peluang lolos tampak tertutup rapat. Dia mengeluh dalam hati. “Geni dimana kamu? Aku menghadapi saat-saat kematian.”

Prawesti mengempos semangatnya. “Kalau musti mati, biar aku mati duluan, kalian cari jalan meloloskan diri.”
“Tidak bisa begitu. Kita sama-sama, hidup atau mati.” Seru Sekar dan Manohara.***

(To be Continued 5 July/Published No 15 )