Monday, June 20, 2011

Wisang Geni Part Two (5)

Wisang Geni Part Two (5)

Kutukan Keris Berdarah

(published 21 June 2011)

Dia melayang pergi. “Kangsa ikut aku. Biar Roro selesaikan urusannya sendiri.”

Kangsa ikut melayang pergi.

Manyar Edan menggumam yang didengar anak-buahnya. “Gila, dari mana muncul pendekar kosen macam Ganggati. Dia dari Gunung Limas, tetapi aku belum pernah dengar namanya?” Menutup rasa malunya dia berkelebat pergi.

Roro Gandis berdiri sendirian di depan warung.

Dia masuk warung. Tak ada rasa takut di wajahnya yang cantik berada ditengah-tengah puluhan orang Brantas yang angker. Kini anak buah Brantas hanya duduk manis di kursi memandang lenggok pantat Roro yang cantik gemulai.

Seorang laki-laki muda, tampan, berusia sekitar tiga puluhan, menyapa ramah. “Silahkan duduk di mejaku, aku ingin kenalan, namaku Prabowo.”

Sebelum Roro menyahut, terdengar suara dari pojokan. “Prabowo, bawa tamu kita duduk di sini.” Itu perintah Warok dan Prabowo tak berani membantahnya.

“Silahkan mbakyu duduk di meja ketua Brantas.” Prabowo mengantar Roro.

Beberapa murid hampir saling tabrak membawa kursi, meletakkan disisi sang ketua. Wanita itu tersenyum, mengucap terimakasih. Tampak sederet gigi putih dan bibir yang merah ranum, parasnya makin bersinar.

“Kamu tentunya ketua Brantas.” Katanya sambil duduk di kursi bersisian dengan ketua Brantas itu. Tanpa sengaja pahanya menyenggol paha si lelaki.

Jantung lelaki itu terguncang. “Namaku Warok ketua Brantas, mereka ini selirku. Dan kamu wongayu, namamu Roro, hendak bepergian kemana?”

Tanpa ragu Roro melonjorkan tangannya yang kuning sawo hendak meraih paha ayam yang berada di ujung meja. Terpisah beberapa jengkal dari tempat duduknya.

Warok memberi isyarat kepada selirnya untuk menyodorkan pinggan kayu yang berisi beberapa potong paha ayam. Mendadak satu paha ayam itu, melompat dan melesat bagai kilat ke tangan si wanita.

Itu gerakan pendekar kelas utama. Roro tertawa. “Aku tidak pamer ilmu-silat. Tadi anak buahmu mau memegang tubuhku, masih untung hanya kutempeleng.”

Laki-laki kekar, berewokan dan tampak bengis itu tertawa keras. “Pantas. Pantas. Kepandaianmu tinggi. Gurumu juga memiliki ilmu-silat yang sangat tinggi. Kamu sebenarnya mau kemana?”

“Namaku, Roro Gandis, sedang menuju pelabuhan Jedung, rencanaku pesiar ingin melihat-lihat keramaian.”

“Oh kebetulan kita juga sedang menuju Jedung, perahuku besar, banyak kamar, aku akan memberimu satu kamar.”

Roro Gandis, menyenggol paha Warok dengan pahanya. Dan dia sengaja tidak menariknya, paha tetap menempel paha. Meskipun terhalang pakaian, namun gesekan itu membuat birahi Warok bertualang di benaknya.

“Aku harus bayar berapa?” Tanya Roro

“Huah, mengapa harus bayar, tidak perlu bayar, semua makanan dan minuman cuma-cuma untukmu. Aku pemilik perahu dan masih banyak lagi perahu milikku.”

Roro tersenyum. “Terimakasih ketua, kamu baik hati. Kudaku lebih baik kujual, tak mungkin aku membawanya naik perahu.”

“Oh kudamu ikut naik, perahuku besar, hampir sama besar dengan milik keraton Tumapel, bisa menampung seratus orang lebih.” Kata Warok bangga. “Biar anak buahku yang mengurus kudamu.”

Selama dua hari Roro Gandis yang menempati kamar sendiri, dilayani bagaikan permaisuri keraton. Selir-selir Warok yang tadinya menempati posisi penting kini seakan dilupakan, segenap perhatian Warok terpusat pada Roro yang cantik.

Hari ketiga, matahari sembunyi dibalik mendung tebal, Warok mengajak Roro ke anjungan perahu, menikmati pemandangan. Ketua Brantas penasaran belum bisa memeluk tubuh molek itu. Biasanya wanita akan cepat menerima uluran tangannya dan dia tak perlu harus menunggu sampai dua atau tiga hari.

Namun mengetahui Roro berkepandaian tinggi, Warok tak berani gegabah. “Aku harus pakai strategi halus untuk mendapatkan wanita ini. Akan kujadikan isteri. Punya isteri dengan kepandaian tinggi ditambah lagi gurunya yang pendekar kelas utama, pasti menambah kekuatanku sekaligus memperkuat perguruan.”

“Kangsa itu kakak seperguruanmu, dia pasti berkepandaian tinggi.” Kata Warok.

“Ilmu-silatnya lebih mumpuni dari aku, dia murid utama guru.”

“Gurumu punya banyak murid?”

“Hanya dua, Kangsa dan aku.” Kata Roro Gandis.

“Biasanya dua murid berlainan jenis akan terlibat cinta dan menjadi suami isteri, bagaimana kamu dengan Kangsa?”

Roro memandang dengan senyum genit. “Iiih Mas Warok ingin tahu banyak tentang aku, maunya apa?”

Warok makin tenggelam dalam fantasi melihat senyum menggoda itu. “Setahuku wanita cantik berkepandaian tinggi macam kamu, pasti banyak lelaki melamarmu. Kangsa adalah lelaki paling dekat denganmu, kalian suami isteri?”

“Dia kakak perguruanku, sudah seperti saudara kandung, sudah seperti ayahku karena beda usia belasan tahun. Dia sangat memanjakan aku.” Tutur Roro genit.

“Jadi kamu belum punya suami, belum punya kekasih, masih sendirian.”

“Usiaku dua puluh lima, aku ini janda, kawin tiga bulan terus cerai.”

“Kenapa cerai?” Desak Warok.

“Dia selingkuh, jadi kubunuh dia.” Suaranya datar. Roro tertawa dalam hati, semua cerita itu bualan belaka. Kangsa memang kakak perguruan, tetapi juga kekasih dan sering bercinta dengannya. Dan dia belum pernah punya suami.

Warok merinding. “Kamu bunuh dia?”

“Iya. Kubunuh dia. Aku tidak suka laki-laki pembohong.” Tutur Roro.

Warok memberanikan diri, dia sudah terlanjur kasmaran. “Kalau misalnya kamu ketemu laki-laki kaya yang punya banyak selir, lalu kamu dilamar jadi isterinya, apa pendapatmu?”

Tiba-tiba Roro meremas paha Warok. “Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang pakai misal-misalan, kalau jadi laki-laki harus blak-blakan dan terang-terangan.”

“Dia memancing supaya aku melamarnya.” Warok menelan ludah. “Roro ini cantik dan seksi, mendapatkan dia sebagai isteri ibarat memperoleh bulan dimalam hari. Aku harus berani tegas seperti katanya.”

“Jeng Roro Gandis, aku kasmaran padamu, ingin menjadikan kamu isteriku, apa pendapatmu?” Suaranya bergetar, ada rasa takut dan segan.

Roro Gandis tertawa. “Peletku sudah bekerja. Dia sudah masuk perangkap, satu langkah lagi dia jadi budakku.” Dia mengelus tangan kasar ketua Brantas. “Mas, aku punya adat aneh. Kadang-kadang ingin sendiri. Kalau kita jadi suami isteri, terkadang aku ingin sendirian dua hari misalnya, kamu harus bisa nerimo ini. Pada waktu itu kalau kamu sedang birahi kamu boleh sanggama sama selirmu. Jadi selirmu itu boleh kamu pelihara, tapi cukup dua orang dan mereka harus jadi pelayanku. Kamu mau?”

Tanpa pikir panjang lagi, Warok mengaku setuju. Dia hendak memeluk tetapi Roro menolak halus.

“Ada lagi Mas. Aku akan setia padamu. Kamu harus setia padaku dan perlihatkan cintamu padaku. Umumkan pada anakbuahmu, jangan ada yang kurangajar melotot mengagumi bokong dan dadaku, mereka harus patuh padaku seperti mereka patuh padamu sebab aku isteri ketua Brantas. Mau kamu?”

“Siap Jeng Roro.”

“Aku mau kamu kumpulkan semua anak buahmu dan umumkan aku jadi isterimu dan wakil ketua Brantas.” Melihat Warok agak ragu, dia melanjutkan, “umumkan sekarang supaya nanti malam kamu bisa memeluk aku.”

Mendengar itu, membayangkan malam nanti dia bisa memeluk tubuh Roro Gandis semalaman sampai pagi, seketika akal sehat Warok terbang. “Baik. Sekarang kita umumkan, ini peristiwa besar yang membahagiakan ketua Brantas.”

Malam harinya Warok mengumpulkan anak buah, memberitahu Roro Gandis telah resmi menjadi isterinya dan wakil ketua Brantas.

Usai pengumuman semua anak buah berpesta, makanan dan minuman tuak tak habis-habisnya. Pesta di geladak itu bertambah riuh karena para sinden yang diundang naik kapal ikut berpesta.

Warok menggandeng lengan isterinya, melangkah menuju kamar pribadinya yang sudah disulap jadi kamar pengantin. Dua selirnya jongkok didekat pembaringan. Selir lain sudah diserahterimakan kepada anak buahnya.

Kedua pelayan mendadani Roro di ruangan yang hanya dibatasi kerai bambu, melulur tubuh molek Roro dengan air bunga yang wangi semarak. Setelah selesai, mereka keluar kamar. Tak lama kemudian masuk lagi membawa beberapa tabung tuak yang baunya keras-keras harum.

Dua pelayan itu keluar sambil menutup pintu. Di luar kamar dua penjaga dengan senjata terhunus menjaga. Di pembaringan Warok menanti dengan gelisah.

Selama tiga hari itu Roro Gandis telah membuat Warok mabuk kepayang. Jinak bagai burung merpati, tetapi tidak terjamah. Dan Warok yang terbiasa mendapatkan perempuan yang dia maui semakin tenggelam dalam fantasi memabukkan.

Beberapa saat kemudian Roro melangkah keluar dari balik tirai.

Roro mengenakan busana longgar, sewek yang dilingkar di tubuhnya dan diikat sebatas dada. Selendang merahnya melintang di pundak menutupi tonjolan salah satu bukit kembar didadanya. Satu lainnya menonjol dibalik sewek. Dia tersenyum, “mau apa kangmas Warok, aku mau tidur, capek.”

“Aduh Roro jangan tidur dulu, kamu tahu aku sudah kasmaran padamu tiga hari, hampir mati aku mikirin kamu.

“Jangan mati dulu Mas, kan kita baru jadi suami isteri? Aku juga tidak tidur, cuma mau tiduran.” Sambil dia melangkah lenggak-lenggok.

Warok menelan ludah membayang tubuh dibalik sewek itu. “Ini banyak tuak, aku sudah minum satu tabung, ayo kita minum. Kamu suka minum?”

“Suka. Tetapi aku tidak tahan kalau minum banyak.” Dia menarik Warok ke kursi dekat jendela yang terbuka, memandang lepas ke sungai Brantas.

Warok minum.

Roro ikut minum.

Warok tidak keluar lagi dari kamar. Sampai matahari terbit, keduanya masih pulas berpelukan.

continue no 6 (will be publish 22 June 2011)

Wisang Geni part TWO (4)

Wisang Geni Part Two (4)

Kutukan Keris Berdarah

(published No 4/dated 20 June 2011)

Bab Dua

Penguasa Brantas

Warung makan di desa Gondang dekat kali Brantas siang itu banyak pengunjung. Hampir semuanya murid kelompok Brantas. Pemilik dan dua pelayan warung sibuk meladeni pesanan sekitar duapuluhan orang, melayani dengan senang, karena tahu, jualannya laris.

Di pojok bagian dalam dekat jendela, Warok sang ketua Brantas, duduk dilayani lima selirnya. Dia tak pernah mau punya isteri dan anak. Usianya empat puluhan, tubuh tidak tinggi tapi kekar berotot. Kumis dan janggut lebat.

Pakaiannya serba hitam, celana sebatas lutut dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka memperlihatkan dada bidang yang berbulu kasar. Warok hidup layaknya seorang raja. Dengan anak murid yang mencapai ratusan orang, tidak heran jika perguruan ini menguasai perairan kali Brantas sampai kali Porong.

Brantas memperoleh hak monopoli transportasi sungai, dari pelabuhan Jedung ke tempat-tempat tertentu. Semua angkutan air, perahu kecil sampai perahu layar besar, milik Warok. Brantas juga memperoleh uang jasa tugasnya sebagai pelindung dan pengatur keamanan pelabuhan Jedung.

Sesungguhnya penguasa tunggal perguruan adalah Manyar Edan, ayah Warok, pendekar liar dan aneh usia enampuluhan. Dia sudah lama menghilang dari rimba persilatan, tetapi sekali-sekali berkunjung ke perguruan, datang secara dadakan.

Dan setiap datang dia memperoleh layanan wanita cantik, bahkan terkadang selir Warok pun diminta melayaninya. Sewaktu mendirikan Brantas dia mengawini banyak selir, yang melahirkan sebelas anak, semuanya menguasai ilmu-silat kelas satu.

Beberapa tahun lalu dia menunjuk Warok sebagai pemimpin dengan aturan keras. Tak boleh ada sengketa sesama saudara, melainkan harus saling membantu. Tak ada ampun bagi pengkhianat. Putra Manyar yang tertua, Sampurna dihukum mati, dengan tangan Manyar sendiri, lantaran memberontak hendak merampas kursi ketua.

Suasana di warung ramai. Namun mendadak sunyi ketika seorang wanita cantik muncul. Wanita muda itu berbaju hitam melangkah masuk warung. Dia mengenakan selendang merah yang diselempang di bahunya. Parasnya cantik dengan potongan tubuh molek. Gagang keris nyembul dari balik punggungnya.

Semua mata lelaki terpesona akan kecantikan si pendekar.

Belut Ireng salah seorang hulubalang Brantas menyapa si wanita yang celingukan mencari tempat kosong. Dia lelaki kekar berusia tigapuluhan terkenal mata keranjang. “Wong ayu, semua tempat terisi, silahkan duduk di tempatku.” Dia mempersilahkan si wanita sambil tangannya menjulur hendak memegang lengannya.

Si wanita menangkis.

Dua tangan bentrok. “Desss…”

Belut Ireng berseru, “wooh galak, cantik dan galak.”

Terdengar tawa orang-orang Brantas. Suasana jadi hiruk pikuk.

Tersinggung dan malu ajakannya ditolak, Belut Ireng mulai memaksa. Dia menyerang dengan jurus berantai, niatannya tetap hendak melumpuhkan si wanita, memeluk dan membawanya ke tempat duduknya.

Ternyata wanita itu bukan lawan ringan. Dia tak hanya mengelak dan menangkis juga menyerang balik. Seketika terjadi tarung tukar pukulan disela-sela meja dan kursi yang tentu saja ruang geraknya sempit.

Enam jurus berlalu. Wanita cantik menggerutu. “Modal ilmu silat sejengkal mau mempermalukan aku, mana bisa.” Dia menyerang lebih gencar.

Belut Ireng kewalahan. “Duukkk, Tassss.” Pukulan si wanita mengena pundak dan pipi Belut Ireng. Awalnya menggoda, kini Belut Ireng marah, mencabut keris.

Merasa terancam ditengah-tengah banyak orang Brantas, wanita itu menjejak kaki melompat mundur keluar warung. Gerakannya ringan, petanda ringan tubuhnya mumpuni.

Saat bersamaan seorang wanita tua berjubah hijau dengan laki-laki bertubuh kekar menghampiri warung. Keduanya berdiri di pinggiran pekarangan.

“Ohhh ada keramaian, seorang wanita dikeroyok banyak orang.” Seru si wanita tua. Suaranya tidak keras tapi terdengar jelas.

Kala itu wanita baju hitam bertolakpinggang ditengah kepungan orang-orang Brantas. “Kalian mau ngeroyok?” Seru si wanita cantik mengejek.

Orang-orang Brantas yang mengepung dengan senjata terhunus, seketika diam.

Belut Ireng maju, “siapa bilang main keroyok, sebenarnya aku lebih suka memeluk kamu katimbang memukul dan melukai kulitmu yang mulus.”

“Kamu tidak punya modal ilmu-silat untuk melukai aku, laki-laki bodoh tak tahu diri.” Berkata demikian wanita itu bergerak pesat, jejak langkahnya aneh. Perlu waktu satu detik tangannya sudah menyerang Belut Ireng. Tampaknya dia tidak main-main, jurusnya aneh. Selendangnya menampar bagai pecut, tangannya mencengkeram dan menebas, menampar dan memukul.

Belut Ireng berusaha keras mengelak. Tapi kalah cepat. Dua kali pundaknya kena gelontor. Dia terpental. Belasan kawannya meluruk membantu temannya.

Saat bersamaan bayangan seseorang bergerak pesat, sedemikian pesatnya sehingga tidak tampak siapa orangnya. Tiga belas pengepung jatuh terjengkang ke sana kemari, senjata ditangan mereka mental ke udara.

Bayangan itu berhenti bergerak. Ternyata si nenek tua. Orang-orang Brantas seketika mundur, tahu nenek itu seorang pendekar berilmu tinggi.

Selendang Merah menoleh pada si nenek. “Guru, kamu tidak perlu mengotori tangan, aku bisa hadapi mereka.”

Si nenek tertawa senang. “Aku tahu Roro. Tapi aku perlu juga main-main melemaskan otot.”

Terdengar suara serak parau. “Nenek tua kalau mau main-main jangan memukul anak buahku, hadapi aku Manyar Edan.”

Belum selesai ucapannya, bayangan Manyar Edan berkelebat, berhenti sepuluh meter didepan nenek tua itu. Dia mengibas dua tangan pada anak buahnya. “Kalian jangan ikut campur, minggir semua.”

Orang-orang Brantas mundur dan berdiri di depan warung.

Nenek berkata kepada muridnya. “Roro, kamu minggir, gabung dengan Kangsa. Gurumu ingin tahu sampai dimana hebatnya Manyar Edan dedengkotnya Brantas.”

Roro bergeser mendekati kakak perguruannya.

“Kamu sudah tahu namaku Manyar Edan, nah sebut namamu, siapa kamu?” Desak Manyar Edan dengan pongahnya.

“Aku Ganggati, dari Gunung Limas.”

“Heran ilmu silatmu tinggi tapi aku tidak pernah dengar namamu.”

Ganggati tertawa. “Jangan banyak omong, kakek tua bangkotan kayak tengkorak, gelar jurus-jurusmu!”

Manyar Edan paling marah jika disebut kakek tua, apalagi pakai embel-embel bangkotan kayak tengkorak. Dia menggeram. Saking marahnya Manyar Edan langsung menggelar pukulan yang paling diandalkan watanti mangungsir biyada (burung sakti memburu gadis) yang bercabang puluhan jurus pukulan aneh dan telengas. “Kubikin kamu merangkak ditanah minta ampun, dasar nenek genit.”

Ganggati tidak manda diserang. Melihat musuhnya menyerang dengan jurus telengas, Ganggati tadinya hanya mau main-main memuncak amarahnya. Dia tak ragu lagi menggelar jurusnya yang aneh.

Dalam sekejap terjadi tarung tukar pukulan. Dua orangtua itu bergerak pesat, debu mengepul dari pijakan dan geseran kaki, tanda mereka menggelar tenaga-dalam yang tinggi.

Tertawa keras, Ganggati mengubah jurusnya. Sambil menyerang gencar mulutnya berceloteh. “Lihat Roro dan Kangsa, aku mainkan dua pukulan lenyamlenyom dan pangkelangpangkelung secara bergantian, kalian harus bisa bedakan. Tidak lama lagi si kakek Manyar goblok ini akan terkencing-kencing di celana. Jangan pandang enteng, setiap pukulan mengandung seratus lebih jurus tergantung situasi keadaan dan pemikiran kita. Semakin cerdas seseorang makin banyak jurus yang bisa dia mainkan. Lihat dan amati baik-baik!”

Manyar Edan marah merasa dirinya dijadikan kelinci percobaan latihan guru dan murid. Tetapi dia tak berdaya, lantaran sibuk mengelak, menghindar atau menangkis. Tak punya kesempatan menyerang, dia dalam desakan gencar.

Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya. “Gila, tak kusangka nenek ini memiliki kepandaian tinggi. Celaka, habis sudah nama besarku.” Manyar Edan memikir cara menyelamatkan diri.

Jurus Ganggati sangat aneh, selain berhawa panas yang tajam. Pukulan itu seperti lidah biawak yang bercabang bolak-balik, masuk-keluar, gerakannya telengas cepat dan tak kenal ampun. Jurusnya bisa lemas, berliuk-liuk atau lurus keras. Sepasang kaki nenek tua itu tak menginjak tanah, seperti melayang-layang.

Dua puluh jurus berlalu dan Manyar Edan sudah terdesak hebat. Beruntung dia, karena Ganggati tak punya niatan mencelakakan atau membuatnya malu besar.

Tiba-tiba saja Ganggati berhenti, melayang pergi dan berdiri disamping dua muridnya. “Ah Manyar Edan, aku bosan main-main. Sebenarnya aku tidak berniat tarung, cuma mau melemaskan otot. Selamat tinggal, aku pergi.”

Dia melayang pergi. “Kangsa ikut aku. Biar Roro selesaikan urusannya sendiri.”

Kangsa ikut melayang pergi.

Manyar Edan menggumam yang didengar anak-buahnya. “Gila, dari mana muncul pendekar kosen macam Ganggati. Dia dari Gunung Limas, tetapi aku belum pernah dengar namanya?” Menutup rasa malunya dia berkelebat pergi.

continue no 5 (will be publish 21 June 2011)