Serial World Cup 2010 (15)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina vs Korea Selatan
Pertaruhan Huh Jung-moo dan Maradona
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 17 Juni 2010
Laga Korea Selatan versus Argentina di stadion Soccer City Johannesburg 17 Juni malam nanti mengingatkan saya akan persaingan dua nama Huh Jung-Moo dan Diego Maradona, sebagai pelatih kedua tim. Dulu, 24 tahun lalu, tepatnya tanggal 2 Juni 1986 di Piala Dunia Mexico’86 dua nama ini sudah saling berhadapan sebagai pemain yang membela negara masing-masing. Kala itu Korea Selatan kalah 1-3 dari Argentina dalam pertandingan perdananya.
Pertandingan kedua Korea Selatan meningkat dan menahan imbang Bulgaria 1-1. Sayang di pertandingan ketiga yang menentukan lolos tidaknya ke babak 16 Besar, Korea Selatan waktu itu ditukangi Kim Jung Nam kalah 2-3 dari Italia. Salah satu gol ke gawang Italia dicetak Huh Jung Moo, tim Korea Selatan angkat koper alias tersingkir.
Laga malam nanti sangat serius bagi kedua pelatih. Suatu tantangan untuk membuktikan diri sebagai pelatih yang sukses ditengah kritik pers setempat. Huh Jung Moo bekas pemain 1986, pernah pelatih fisik tim 1990, asisten pelatih di tim 1994, diragukan kemampuannya setelah diangkat sebagai pelatih tim ginseng pada Desember 2007. Pers membandingkan Jung Moo dengan pelatih Belanda Guus Hiddink yang membawa Korea Selatan semifinalis kala menjadi tuan rumah bersama Jepang di 2002. Maradona tidak punya pengalaman pelatih dan hanya berbekal nama besar sebagai superstar era 1980-an, sering jadi bulan-bulanan pers karena memanggil 100 pemain lebih untuk menyusun timnya.
Kemenangan para pertandingan awal menempatkan kedua tim pada posisi krusial. Argentina sukses menaklukkan Nigeria 1-0 lewat sundulan bek Gabriel Heinze. Korea Selatan mencatat nilai 3 lewat kemenangan 2-0 atas Yunani, lewat gol Lee Jung Soo dan Park Ji Sung. Pada posisi ini satu kemenangan lagi akan meloloskan ke putaran 16 Besar, mendorong kedua tim untuk ngotot memenangkan pertandingan.
Di atas kertas Argentina dengan tradisi, sejarah dan materi pemain diunggulkan untuk keluar sebagai pemenang. Lionel Messi yang sempat diragukan tampil bagus jika membela Albiceleste julukan tim Argentina, sudah tampil sebagaimana formnya ketika membela klubnya Barcelona. Berkali-kali dia melakukan penetrasi, dribling, umpan dan shot ke gawang. Jika bukan Vincent Enyeama yang dijuluki “the cat” (si kucing) yang mengawal gawang Nigeria, pasti Messi sudah menjaringkan gol. Bagaimana pun juga menang 1-0 sudah sangat memuaskan skuad asuhan Maradona. Hanya perlu satu kemenangan lagi untuk memastikan lolos ke babak knock-out.
Argentina tidak hanya punya Lionel Messi masih ada beberapa nama yang tidak kalah penting. Maradona telah mencoba beberapa pola main, bersama Messi maupun tanpa Messi. Artinya dia sudah siap jika Messi tidak juga kunjung main pada formnya, maka alternatif tanpa Messi akan dia jalankan. Tapi setelah penampilan pertama yang begitu mengesankan, Maradona memeluk keras Messi seusai pertandingan saking gembiranya melihat penampilan Messi, maka alternatif pola tiga penyerang tetap akan dia mainkan. Messi sebagai link-man antara Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain. Peranan Messi berada di belakang dua rekan seniornya.
Sesungguhnya Maradona yang paling berjasa. Dia menanyakan pada Messi, posisi mana yang disukai anak muda itu untuk bisa bermain maksimal. Dan Maradona menerapkan pola main sesuai maunya Messi. Hal ini mengingatkan dia ketika menjadi sentra team atau pemain nucleus team Argentina di Piala Dunia 1986 yang sukses merebut gelar juara itu. Waktu membangun timnya pelatih Carlos Bilardo sempat tukar pikiran dengan pelatih Cesar Menotti yang sukses merebut gelar 1978. Kata Menotti kepada Billardo, kamu dekati Maradona, beri dia kekuasaan dan kebebasan maka semua pemain akan patuh padanya. Hal itu juga yang Menotti lakukan pada teamnya, memberi kapten Daniel Passarella kekuasaan penuh di lapangan bahkan sampai pada batasan minta pergantian pemain.
Tetapi Messi lain, Maradona dan Passarella lain. Messi hanya diberi pilihan memilih posisi yang paling enak. Dia tak punya kekuasaan. Tapi dia punya kebebasan untuk inisiatif pergerakan di lapangan. Javier Mascherano yang dipercaya kapten dan penguasa. Juan Veron sebagai pengatur tim. Jika Veron yang sudah veteran letih atau cidera, salah satu dari dua penggantinya akan masuk, Maxi Rodriguez atau Mario Bolatti. Kemarin ketika lawan Nigeria, Maxi masuk menggantikan Veron pada menit 74.
Di atas kertas Argentina diunggulkan menang. Tapi dalam sepakbola sering terjadi tim underdog bisa mengalahkan tim yang mungkin satu kelas diatasnya. Contoh yang paling segar adalah sukses Swiss menaklukkan juara Euro 2008 Spanyol di kota Durban Rabu kemarin. Pasar tarohan, pers bahkan semua pengamat bola menjagokan Spanyol. Tetapi fighting spirit yang tak kenal lelah, tak kenal takut, tim Swiss telah membalik semua ramalan.
Korea Selatan juga membalik ramalan ketika mengalahkan Yunani telak 2-0 di laga perdana, kejutan meskipun tidak sebesar kejutan Swiss kalahkan Spanyol. Tetapi permainan kolektif, semangat tanding yang pantang menyerah dan strategi memanfaatkan kecepatan telah membuat Yunani kedodoran.
Pasukan Huh Jung Moo sudah siap-siap untuk membuat kejutan lagi. Di kandang sendiri 2002 mereka telah mengalahkan tim unggulan Polandia, Portugal dan Italia. Namun kemenangan itu dicurigai adanya bantuan tangan wasit. Tetapi satu hal yang tak bisa dipungkiri bahwa gaya speed and power Korea Selatan yang didukung stamina dan fisik prima, telah membawa tim negeri ginseng itu ke jajaran elit.
Permainan agresif, menyerang dan bertahan tanpa kenal lelah digerakkan oleh kapten Park Ji-Sung yang sering jadi starting lineup klub Manchester United. Selain pekerja keras, Ji Sung juga disegani karena dalam karirnya dia yang paling sukses dibanding pemain lain. Ji Sung didukung pilar lain Lee Jung-Soo (Kashima) si pencetak gol pertama ke gawang Nigeria, Cha Du-Ri (Freiburg), Kim Sung-Yueng (Celtic), Lee Chung Yong (Bolton), Park Chu Young (Monaco). Mereka inilah yang jadi penggerak Korea Selatan mendorong semua pemain bekerja keras.
Huh Jung Moo telah memberi peringatan kepada semua tim, bahwa skuadnya bisa bermain di top level dan bisa mengimbangi tim mana pun juga. Jelas mereka akan menyerang, targetnya mengalahkan Argentina dan secepatnya memosisikan diri di putaran 16 Besar. Argentina menyerang, Korea Selatan juga menyerang, tentunya pertandingan ini akan menarik ditonton. Bagaimanapun juga pasar tarohan tetap mengunggulkan Argentina. Kita lihat saja nanti. ***
Saturday, July 31, 2010
World Cup 2010 Serial 14 Spanyol vs Swiss
World Cup 2010 (Serial 14)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spanyol vs Swiss
Apa Yang Kurang Dari La Roja?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 16 Juni 2010
Sejak tahun 1930 Piala Dunia dipentaskan, belum sekalipun gelar juara mampir di negeri Spanyol. Sudah 80 tahun menanti, mungkin tahun inilah saatnya. Tim yang dijuluki La Roja dengan permainan euro-latin yang kental, sangat berambisi menjadi negeri kedelapan yang menjuarai pentas akbar itu. Apa yang kurang dari Spanyol?
Semua sudah dimiliki. Kompetisi La Liga penuh pesona dengan iming-iming jumlah euro yang menggiurkan yang ditawarkan dua klub raksasa Real Madrid dan Barcelona. Hampir semua pemain termahal dunia pernah merumput di negeri matador. Banyak pemain berbakat dan talenta besar. Hanya satu yang belum dimiliki. Keberuntungan. Dewi Fortuna yang cantik belum juga mau membantu La Roja.
Datang ke Afrika Selatan 2010 pelatih Vicente Del Bosque membawa semua pemain terbaiknya yang diharapkan bermain indah sekaligus menangkan gelar juara. Dari skuad Jerman 2006 yang masih direkrut Del Bosque, kiper Iker Casillas dan Pepe Reina, Carlos Marchena, Carles Puyol, Sergio Ramos, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, David Villa, Fernando Torres. Semuanya pilar tim La Roja dulu (2006) maupun sekarang (2010).
Adalah pendekar tua Luis Aragones yang menyusun skuad 2006 dan yang dia sempurnakan dua tahun kemudian ketika merebut gelar Euro 2008. Tidak hanya materi pemain tetapi pola main satu sentuhan “touch pass and move” dengan prinsip bergerak cepat. Vicente Del Bosque sang pengganti hanya perlu meneruskan karya besar Aragones. Tetapi sayang di Confederations Cup 2009 skuad Del Bosque dijegal USA di semifinal dan hanya berakhir di peringkat ketiga. Del Bosque belum beruntung.
Lain halnya dengan kisah Luis Aragones “sang pendekar tua” dua tahun lalu di Euro 2008, mengemban misi merebut gelar Eropa yang sudah diidamkan selama 44 tahun sejak merebut gelar tahun 1964. Nyaris tersingkir di perempat final oleh Italia, beruntung hasilnya draw tanpa gol dan Spanyol melaju ke semifinal lewat adu pinalti. Di semifinal skuad Aragones melibas Russia 3-0 dan di final mengalahkan raksasa Eropa Jerman lewat gol tunggal Fernando Torres.
Sebelum menginjak kaki di benua Afrika, Del Bosque dibikin pusing dengan masalah cidera. Tapi sekarang dia boleh berlega hati, semua pemain intinya fit dan siap turun laga lawan Swiss, lawan pertama grup H di stadion Moses Mabhiha kota Durban. Kecuali Iniesta, yang masih harus menunggu lampu hijau dari dokter. Tapi penggantinya pasti tidak kalah kelas. Misinya jelas, harus menyerang dan menang! Statistik pertemuan Spanyol 15 kali menang tanpa kalah dan hanya draw 3 kali, gol juga selisih jauh 45 minus 15.
Pertandingan akan menarik. Kekuatan menyerang Spanyol dengan motor pemain lapangan tengah kelas dunia, Xabi Alonso (Real Madrid), Xavi Hernandez (Barcelona), Andres Iniesta (Barcelona), David Silva (Valencia) dengan bintang Arsenal Cesc Fabregas siap sebagai pengganti akan memudahkan dua striker haus gol Fernando Torres (Liverpool) dan mesin gol Valencia David Villa yang mencetak 7 gol di kualifikasi zone Eropa lalu. Jika format 4-5-1 yang digunakan mungkin striker tunggal akan diisi David Villa.
Swiss akan mengimbanginya dengan permainan kolektif, organisasi disiplin ala Jerman versi pelatih Jerman Ottmar Hitzfeld. Swiss akan menumpuk pemain dengan karakter bertahan di lapangan tengah, dari formasi 4-5-1. Pertarungan lapangan tengah akan ketat, pemain Swiss yang biasa merumput di bundesliga dan klub-klub Eropa akan memberikan perlawanan, main keras dan bertenaga dengan disiplin tinggi.
Hitzfeld akan mempercayakan lini pertahanan pada Stephane Grichting yang 8 musim main di klub Auxerre, bek kiri pengalaman berusia 31 tahun. Pilihan lain yang akan membentengi kiper Diego Benaglio (Wolfsburg) adalah Stephan Lichtsteiner (Lazio), Philippe Senderos (Arsenal), Steve Von Bergen (Hertha Berlin), Albert Bunjaku (Nuremberg), Mario Eggimann (Hanover), dan centre-back FC Zurich yang tinggi 183, Ludovic Magnin 31 th dengan 62 caps.
Pemain gelandang diharapkan bekerja keras menjadi lapis pertama pertahanan serta batu loncatan serangan balik adalah Tranquillo Barnetta (Bayer Leverkusen), Pirmin Schwegler (Eintracht Frankfurt) dan Hakan Yakin (Lucerne). Mungkin Swiss hanya akan menempatkan seorang striker dalam starternya bisa Eren Derdiyok (Bayer Leverkusen) atau Blaise Nkufo (Twente). Mau tidak mau Swiss akan main defensif, sebab jika main terbuka sama artinya “bunuh diri” membuka pertahanan yang akan dimanfaatkan David Villa Cs menjaringkan bola.
Jika Swiss menargetkan draw, maka Spanyol hanya mau menyerang untuk menang. Tekad La Roja adalah memuncaki grup sehingga di babak knock-down akan menghadapi runnerup grup G yang kemungkinan Portugal atau Pantai Gading jika Brazil berhasil duduk di puncak grupnya.
Persoalan yang dihadapi Del Bosque dan pasukannya, adalah espektasi publik dan pers Spanyol yang begitu tinggi bahkan sudah menggambarkan seakan-akan La Roja akan melaju sampai final dan merebut gelar dunia. Sekarang ini Del Bosque sibuk mengawasi pemain asuhannya untuk tetap memijak bumi, jangan melayang diawan karena pujian beracun serta yang paling utama tidak boleh memandang enteng Swiss atau siapa pun lawan.
Tekad dan misi menjadi juara sekaligus memperlihatkan diri sebagai yang terbaik di dunia saat ini tetapi kaki tetap harus memijak bumi. Empat tahun lalu di Jerman 2006, La Roja kala itu ditukangi Luis Aragones berada dalam puncak formans. Semuanya berjalan dengan baik, di grup H menang atas Ukraina 4-0, Tunisia 3-1 dan Arab Saudi 1-0. Mereka masuk babak knock-down 16 Besar dan tanggal 27 Juni hari naas itu pun tiba, tampil buruk mereka digusur Perancis 1-3.
Mereka juga mengingat pengalaman buruk di Confederations Cup tahun lalu di bumi Afrika ketika di semifinal di luar dugaan disingkirkan USA 0-2. Kekalahan dari USA pada tanggal 24 Juni 2009 di stadion Mangaung kota Bloemfontein sama buruknya dengan kekalahan dari Perancis tahun 2006.
Belajar dari sukses Euro 2008 serta dua kegagalan di Jerman 2006 dan Confederations Cup 2009
semoga telah mematangkan skuad La Roja untuk menggolkan misi juara dunia 2010. Dan langkah pertama adalah menang atas Swiss. Di atas kertas Spanyol akan menang tetapi semua bisa terjadi seperti Inggeris ditahan USA, Kamerun kalah dari Jepang, kalau tidak waspada bukan tidak mungkin Swiss bisa memenuhi targetnya menggapai hasil draw. So wait and see.
***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spanyol vs Swiss
Apa Yang Kurang Dari La Roja?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 16 Juni 2010
Sejak tahun 1930 Piala Dunia dipentaskan, belum sekalipun gelar juara mampir di negeri Spanyol. Sudah 80 tahun menanti, mungkin tahun inilah saatnya. Tim yang dijuluki La Roja dengan permainan euro-latin yang kental, sangat berambisi menjadi negeri kedelapan yang menjuarai pentas akbar itu. Apa yang kurang dari Spanyol?
Semua sudah dimiliki. Kompetisi La Liga penuh pesona dengan iming-iming jumlah euro yang menggiurkan yang ditawarkan dua klub raksasa Real Madrid dan Barcelona. Hampir semua pemain termahal dunia pernah merumput di negeri matador. Banyak pemain berbakat dan talenta besar. Hanya satu yang belum dimiliki. Keberuntungan. Dewi Fortuna yang cantik belum juga mau membantu La Roja.
Datang ke Afrika Selatan 2010 pelatih Vicente Del Bosque membawa semua pemain terbaiknya yang diharapkan bermain indah sekaligus menangkan gelar juara. Dari skuad Jerman 2006 yang masih direkrut Del Bosque, kiper Iker Casillas dan Pepe Reina, Carlos Marchena, Carles Puyol, Sergio Ramos, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, David Villa, Fernando Torres. Semuanya pilar tim La Roja dulu (2006) maupun sekarang (2010).
Adalah pendekar tua Luis Aragones yang menyusun skuad 2006 dan yang dia sempurnakan dua tahun kemudian ketika merebut gelar Euro 2008. Tidak hanya materi pemain tetapi pola main satu sentuhan “touch pass and move” dengan prinsip bergerak cepat. Vicente Del Bosque sang pengganti hanya perlu meneruskan karya besar Aragones. Tetapi sayang di Confederations Cup 2009 skuad Del Bosque dijegal USA di semifinal dan hanya berakhir di peringkat ketiga. Del Bosque belum beruntung.
Lain halnya dengan kisah Luis Aragones “sang pendekar tua” dua tahun lalu di Euro 2008, mengemban misi merebut gelar Eropa yang sudah diidamkan selama 44 tahun sejak merebut gelar tahun 1964. Nyaris tersingkir di perempat final oleh Italia, beruntung hasilnya draw tanpa gol dan Spanyol melaju ke semifinal lewat adu pinalti. Di semifinal skuad Aragones melibas Russia 3-0 dan di final mengalahkan raksasa Eropa Jerman lewat gol tunggal Fernando Torres.
Sebelum menginjak kaki di benua Afrika, Del Bosque dibikin pusing dengan masalah cidera. Tapi sekarang dia boleh berlega hati, semua pemain intinya fit dan siap turun laga lawan Swiss, lawan pertama grup H di stadion Moses Mabhiha kota Durban. Kecuali Iniesta, yang masih harus menunggu lampu hijau dari dokter. Tapi penggantinya pasti tidak kalah kelas. Misinya jelas, harus menyerang dan menang! Statistik pertemuan Spanyol 15 kali menang tanpa kalah dan hanya draw 3 kali, gol juga selisih jauh 45 minus 15.
Pertandingan akan menarik. Kekuatan menyerang Spanyol dengan motor pemain lapangan tengah kelas dunia, Xabi Alonso (Real Madrid), Xavi Hernandez (Barcelona), Andres Iniesta (Barcelona), David Silva (Valencia) dengan bintang Arsenal Cesc Fabregas siap sebagai pengganti akan memudahkan dua striker haus gol Fernando Torres (Liverpool) dan mesin gol Valencia David Villa yang mencetak 7 gol di kualifikasi zone Eropa lalu. Jika format 4-5-1 yang digunakan mungkin striker tunggal akan diisi David Villa.
Swiss akan mengimbanginya dengan permainan kolektif, organisasi disiplin ala Jerman versi pelatih Jerman Ottmar Hitzfeld. Swiss akan menumpuk pemain dengan karakter bertahan di lapangan tengah, dari formasi 4-5-1. Pertarungan lapangan tengah akan ketat, pemain Swiss yang biasa merumput di bundesliga dan klub-klub Eropa akan memberikan perlawanan, main keras dan bertenaga dengan disiplin tinggi.
Hitzfeld akan mempercayakan lini pertahanan pada Stephane Grichting yang 8 musim main di klub Auxerre, bek kiri pengalaman berusia 31 tahun. Pilihan lain yang akan membentengi kiper Diego Benaglio (Wolfsburg) adalah Stephan Lichtsteiner (Lazio), Philippe Senderos (Arsenal), Steve Von Bergen (Hertha Berlin), Albert Bunjaku (Nuremberg), Mario Eggimann (Hanover), dan centre-back FC Zurich yang tinggi 183, Ludovic Magnin 31 th dengan 62 caps.
Pemain gelandang diharapkan bekerja keras menjadi lapis pertama pertahanan serta batu loncatan serangan balik adalah Tranquillo Barnetta (Bayer Leverkusen), Pirmin Schwegler (Eintracht Frankfurt) dan Hakan Yakin (Lucerne). Mungkin Swiss hanya akan menempatkan seorang striker dalam starternya bisa Eren Derdiyok (Bayer Leverkusen) atau Blaise Nkufo (Twente). Mau tidak mau Swiss akan main defensif, sebab jika main terbuka sama artinya “bunuh diri” membuka pertahanan yang akan dimanfaatkan David Villa Cs menjaringkan bola.
Jika Swiss menargetkan draw, maka Spanyol hanya mau menyerang untuk menang. Tekad La Roja adalah memuncaki grup sehingga di babak knock-down akan menghadapi runnerup grup G yang kemungkinan Portugal atau Pantai Gading jika Brazil berhasil duduk di puncak grupnya.
Persoalan yang dihadapi Del Bosque dan pasukannya, adalah espektasi publik dan pers Spanyol yang begitu tinggi bahkan sudah menggambarkan seakan-akan La Roja akan melaju sampai final dan merebut gelar dunia. Sekarang ini Del Bosque sibuk mengawasi pemain asuhannya untuk tetap memijak bumi, jangan melayang diawan karena pujian beracun serta yang paling utama tidak boleh memandang enteng Swiss atau siapa pun lawan.
Tekad dan misi menjadi juara sekaligus memperlihatkan diri sebagai yang terbaik di dunia saat ini tetapi kaki tetap harus memijak bumi. Empat tahun lalu di Jerman 2006, La Roja kala itu ditukangi Luis Aragones berada dalam puncak formans. Semuanya berjalan dengan baik, di grup H menang atas Ukraina 4-0, Tunisia 3-1 dan Arab Saudi 1-0. Mereka masuk babak knock-down 16 Besar dan tanggal 27 Juni hari naas itu pun tiba, tampil buruk mereka digusur Perancis 1-3.
Mereka juga mengingat pengalaman buruk di Confederations Cup tahun lalu di bumi Afrika ketika di semifinal di luar dugaan disingkirkan USA 0-2. Kekalahan dari USA pada tanggal 24 Juni 2009 di stadion Mangaung kota Bloemfontein sama buruknya dengan kekalahan dari Perancis tahun 2006.
Belajar dari sukses Euro 2008 serta dua kegagalan di Jerman 2006 dan Confederations Cup 2009
semoga telah mematangkan skuad La Roja untuk menggolkan misi juara dunia 2010. Dan langkah pertama adalah menang atas Swiss. Di atas kertas Spanyol akan menang tetapi semua bisa terjadi seperti Inggeris ditahan USA, Kamerun kalah dari Jepang, kalau tidak waspada bukan tidak mungkin Swiss bisa memenuhi targetnya menggapai hasil draw. So wait and see.
***
Brazil dan Jogo Bonito World Cup 2010
Serial World Cup 2010 (13)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Benarkah Brazil Meninggalkan Jogo Bonito?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 15, 16, 17 Juni 2010
Pengantar :
Tidak dapat dipungkiri bahwa Brazil merupakan kiblat sepakbola dunia. Salah satu ciri khas yang membuat Brazil dijadikan kiblat sepakbola adalah prestasinya yang luar biasa, regenerasi pemainnya yang tak pernah putus, serta kreatifitas pelatih dan pemain untuk mengalahkan lawan. Semua itu dilakukan tim Brazil lewat permainan “jogo bonito” alias sepakbola cantik, yang tidak hanya untuk memenangi pertandingasn tetapi juga bagaimana caranya menang dengan indah. Belakangan tren sepakbola dunia cenderung defensif dan tidak enak ditonton. Mampukah Brazil menjagokan “jogo bonito” di tengah tren sepakbola bertahan yang makin mendunia? Ikutilah tiga tulisan berikut.
Di kualifikasi Piala Dunia 2002, Brazil nyaris gagal lolos. Pecinta sepakbola bahkan juga FIFA sempat jantungan ketika tim Samba itu terseok-seok dalam perburuan tiket ke PD 2002. Tetapi “thanks God” akhirnya Brazil lolos ke Piala Dunia. Tiket itu direbut Brazil pada pertandingan terakhir saat menjamu Venezuela di kandangnya sendiri Sao Luis, lewat dua gol striker Corinthians, Luizao dan satu dari bintang Barcelona, Rivaldo.
Lolosnya Brazil ini melegakan jutaan penggemar tim samba setelah sempat dibuat “jantungan” di dua pekan sebelumnya. Beberapa jam sebelumnya, tim panser Jerman juga lolos ke Piala Dunia setelah menang telak 4-1 dalam “play-off” lawan Ukraina di Dortmund. Bisa dibayangkan berapa banyak “lost money” (kerugian uang) yang dialami panitiya PD di Korea dan Jepang jika saja dua tim juara dunia ini –Brazil dan Jerman- gagal lolos.
Bicara kerugian penyelenggaraan Piala Dunia, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Yang bisa terjadi hanyalah keuntungan yang berkurang. Kejadian play-off Perancis vs Irlabdia, berembus rumor FIFA “memprotek” Perancis dan menolak tanding ulang meski jelas-jelas bahwa gol penentuan kemenangan William Gallas diawali “double handsball” Thierry Henry yang lalu mengumpan ke mulut gawang. Ketika pemain Irlandia sibuk mengangkat tangan isyarat terjadinya hansdsball saat itu William Gallas dengan mudahnya – tanpa terjaga dan tanpa reaksi lawan- menceploskan bola ke gawang Irlandia. Tamatlah Irlandia. Dalam lobi dan pertemuan FIFA diputuskan tak ada pertandingan ulang, artinya Perancis yang ke 2010. Bayangkan jika terjadi sebaliknya? Jika Perancis yang dirugikan, mungkin saja akan ada tanding ulang. Ujung rumor itu jika Perancis yang lolos ke 2010 lengkaplah 7 juara dunia, dan bukankah penonton fans Les Blues lebih banyak yang akan datang ke 2010 dibanding misalnya Irlandia yang lolos.
Akan halnya Brazil tampaknya beberapa kali mendapat kendala besar di babak kualifikasi Piala Dunia, hambatan klasik yakni sulitnya mendatangkan para bintangnya yang main di klub-klub Eropa. Kalaupun mereka mendapat ijin dari klubnya itupun hanya 4 hari sebelum pertandingan.
Ketika harus menang atas Bolivia, sepekan sebelum partai lawan Venezuela, kendala ini muncul. Rivaldo, Cafu, Roberto Carlos dll bergabung 4 hari sebelum hari pertandingan. Waktu yang sempit untuk berlatih, mungkin ini sebab kekalahan Brazil 1-3 dari Bolivia selain faktor tipisnya oksigen di ketinggian 3700 meter di kota La Paz. Namun betapapun juga akhirnya Brazil sang juara dunia 4 kali – tetra campeo- sudah sampai di PD 2002, seperti komentar sang pelatih Luis Felipe Scolari, “memang tidak mulus dan tampak berat, tetapi akhirnya kami sampai juga di tujuan.”
Kejadian nyaris gagal lolos, pernah dialami Brazil beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya. Kendalanya pun juga sama, sempitnya waktu berkumpul dari para pemain bintangnya terutama para legiun Eropa, menyebabkan kurang mampunya pelatih mengoptimalkan materi “legiun Eropa” yang letih akibat ketatnya kompetisi di Eropa.
Tahun 1978 Brazil nyaris gagal. Pada pertandingan awal PPD hasil draw 0-0 lawan Kolombia membuat berang semua orang Brazil terhadap timnya. Si Pelatih Oswaldo Brandao dikecam, dicaci dan dihujat yang buntutnya dilengserkan dari jabatannya. Padahal masih ada 3 pertandingan lain, dua partai lawan Paraguay dan satu lainnya lawan Kolombia. Pokoknya Brandao lengser dan digantikan Claudio Cautinho yang sukses membantai Kolombia 6-0 dan mengatasi Paraguay sehingga lolos ke Piala Dunia Argentina’78.
Tahun 1994 pun Brazil dibawah pelatih Carlos Alberto Pareira bersama penasehat tehnis merangkap asistennya Mario Zagalo sempat dilanda krisis. Bergabung bersama Bolivia, Ekuador, Uruguay dan Venezuela di grup B dengan catatan hanya dua tim yang lolos langsung, posisi Brazil di ujung tanduk. Kalah 0-2 dari Bolivia di La Paz membuat Parreira dikecam habis dan CBF didesak untuk memecatnya. Nama Tele Santana, pelatih yang kondang meramu tim samba di PD 1982 dan 1986 diangkat pers dan publik disebut paling cocok menggantikan Parreira. Tetapi kali ini CBF diketuai Ricardo Texeira ngotot mempertahankan Parreira, tentu saja dengan jaminan mempertaruhkan jabatan kursi CBF jika tim samba sampai gagal.
Carlos Alberto Parreira jalan terus. Menggasak Ekuador 2-0, Bolivia 6-0, Venezuela 4-0. Sampai pada penghujung jalan yakni partai ke-8 menghadapi Uruguay, posisi tiga tim Brazil, Uruguay dan Bolivia sama-sama nilai 10. Jika Brazil sampai kalah dari Uruguay, maka habis sudah sejarah kebesaran Brazil. Pada saat kritis, penasehat tehnis Mario Zagalo mengusulkan merekrut mesin gol Romario Faria.
CBF dan Parreira menolak. Zagalo ngotot bahwa cuma itu jalan keluar, harus ada mesin gol apalagi saat itu striker Bebeto tidak fit dan sayap kiri Branco belum pulih. Tawaran Zagalo diterima, dengan taruhan Zagalo yang bertangungjawab atas “anak nakal” Romario itu.
Tulisan (2) Published 16 Juni
Di PSV Eindhoven, Romario tampil sebagai top-scorer Liga Belanda dan di klub barunya Barcelona, Romario jadi andalan pelatih Johan Cruyff. Namun “ulah” kenakalannya yang membuat CBF dan Parreira merasa tak mampu mengatasinya.
Di kandang sendiri di stadion Maracana Rio de Janeiro disaksikan 110.000 pecintanya, tim samba yang hanya perlu hasil draw nyatanya tampil agresip dan mengepung pertahanan Uruguay dengan serangan bergelombang. Kapten Dunga, Rai, Zinho, Bebeto, dan Romario didukung Branco dan Jorginho dari dua sayap, mendominasi Uruguay yang diperkuat Daniel Fonseca, Ruben Sosa, maestro Enzo Francescoli.
Ternyata Romario yang berjaya, dua golnya memenangkan Brazil 2-0. Gol pertama Romario masih belum meyakinkan publik Maracana karena trauma sejarah grand-final Piala Dunia ’50 ketika Brazil meski mencetak gol lebih dahulu akhirnya kalah dari Uruguay. Baru setelah Romario mencetak gol kedua, trauma sejarah itu pun lenyap dan akhirnya Brazil lolos, maka Parreira pun dipuji-sanjung begitu juga Romario.
Sepakbola Brazil tak pernah sepi dari berita di koran. Timnas Brazil “seleccao” selalu menjadi sorotan utama. Itu sebab pelatih seleccao ibarat duduk di atas “bara api” yang sewaktu-waktu bisa membakar dirinya. Dalam satu sisi, tak dipungkiri bahwa pelatih seleccao bahkan lebih populer dari Presiden Brazil. Di warung-warung kopi semua orang bicara bola, tua muda, lelaki perempuan, tak ubahnya dengan para komentator di layar kaca, radio dan juga di koran-koran.
Tahun 1986 Tim Selecao juga dilanda krisis, nyaris gagal ke Piala Dunia. Sang pelatih, Evaristo de Macedo hampir tak punya harapan lagi untuk meloloskan Brazil ke Mexico’86. Bukan itu saja, gaya main tim selecao ramuan Macedo dinilai tidak indah dan kontra produktif. Jogo Bonito, sepakbola indah yang dimainkan penuh improvisasi tapi punya ketajaman yang selalu membuahkan gol. Macedo gagal memperlihatkannya.
Dari warung-warung kopi itulah, penonton yang setia mengeluarkan duit untuk mengawal tim samba bahkan sampai ke Eropa pun. Mereka inilah yang bersuara keras, mengecam Macedo, menghujat dengan lantang dan keras, Macedo harus dipecat. Harus dan harus ! Satu nama lain, Tele Santana diusung untuk menjadi pengganti.
Kenapa Santana ? Bukankah Santana sudah gagal di PD Spanyol’82. Tapi mereka punya alasan kuat. Santana hebat memainkan jogo bonito. Di Espana’82 sepakbola menyerang ala samba dalam kemasan pola 4-4-2 diakui sebagai jogo-bonito yang sama dahsyatnya, sama produktifnya dengan selecao 1970 ketika pelatih Mario Zagalo memenangkan PD di Mexico’70. Kegagalan seleccao merebut gelar juara PD’82 tidak membuat tim ramuan Santana ini dilupakan orang. Santana juga tidak pernah dicaci-maki publik bahkan semua orang Brazil larut berduka dengan kekagalan seleccao di Spanyol. Inilah bukti bahwa jogo-bonito ramuan Santana diterima masyarakat secara meluas.
Kehebatan suara publik pernah mewarnai nasib Mario Zagalo di tahun 1974. Zagalo membawa selecao berlaga di PD’74 di Munich, Jerman. Tidak cuma kalah dan gagal, tetapi tim itu bermain buruk dan sama sekali lupa akan jogo-bonito. Mau tahu apa perbuatan orang-orang dari warung-kopi itu ? Mereka mengancam akan menggantung Zagalo di alun-alun, tiada maaf bagi Zagalo.Mereka membakar patung kertas Zagalo padahal mereka juga tahu, bahwa Zagalo adalah pahlawan tim samba ketika sebagai penyerang sayap merebut PD 1958 dan 1962 dan sebagai pelatih memenangkan PD Mexico’70 dengan sepakbola menyerang yang sangat ampuh. Ancaman itu membuat Zagalo tidak berani pulang dan langsung hijrah melatih klub di Saudi Arabia.
Jika orang-orang di warung kopi itu bisa menerima kegagalan Tele Santana, suatu bukti bahwa tim seleccao di PD’82 memang hebat dan ampuh, hanya sayang tidak beruntung. Karenanya mereka ingin memberi kesempatan lagi kepada Santana untuk memperlihatkan jogo-bonito di Mexico’86.
Tuntutan orang-orang dari warung-kopi itu mengguncang kantor CBF yang akhirnya setuju, dan Macedo lengser digantikan Tele Santana. Kembali Santana meramu pola favoritnya 4-4-2 memperlihatkan jogo-bonito yang ampuh dengan beberapa bintang eks selecao’82 Zico,Socrates, Falcao, Cerezo, Eder yang kemudian sukses meloloskan selecao ke Mexico’86. Sayangnya di PD’86 kembali keberuntungan menjauh dari Santana, selecao gagal juara lantaran kalah adu pinalti dari Prancis di perempatfinal.
Orang-orang di café itu memang punya suara lantang namun cenderung obyektif dan seringkali menolong seleccao keluar dari kesulitan. Ketika CBF memilih Sebastiano Lazaroni untuk menangani selecao ke PD’90, publik protes. Alasannya, konsep Lazaroni, bahwa jogo-bonito harus dilupakan. Jogo-bonito tak bisa bersaing menghadapi gaya keras dan disiplin “speed and power”. Tidak cuma itu, Lazaroni bahkan memainkan pola 3-5-2, mengubah tradisi seleccao 4-4-2 yang dikemas Santana.
Konsep Lazaroni ini masuk akal, secara teori seratus persen benar. Jika hendak merebut gelar PD maka Brazil harus siapkan pola main yang mampu mengimbangi tipe Eropa, dan itu hanya bisa dengan pola 3-5-2. Apalagi Lazaroni membuktikannya di lapangan, merebut Copa America 1989, gelar dan sukses yang pertama bagi Tim Brazil sejak 40 tahun silam.
Tulisan (3) published 17 Juni
Sukses Lazaroni ini ibarat membungkam mulut dan komentar miring dari publik yang terkenal gila bola itu. Namun itu baru di Copa America, ukuran sukses yang sesungguhnya ada di PD Italia’90.
Kenyataannya di Italia’90 selecao gagal, di perdelapanfinal kalah dari Argentina lewat gol tunggal Cannigia membuat Lazaroni mundur. Lazaroni lengser, lenyap juga konsep “kontra jogo bonito”. Roberto Falcao, bintang seleccao’82 dan ’86 naik panggung dan mengembalikan ‘jogo bonito’. Tetapi Falcao tak mampu mengatasi ulah legiun Eropa yang sering terlambat berkumpul di TC seleccao. Hal ini memaksa Falcao memutuskan melupakan legiun Eropa dan hanya menggunakan pemain lokal. Ternyata inilah awal dari kegagalannya menukangi seleccao.
Sepakbola di Brazil sangat popular dan dimainkan dimana-mana. Setiap lelaki agaknya harus bisa main bola, atau jika dia cacat maka dia akan mahir main bola dengan lisan atau tulisannya. Setiap perempuan harus menyukai bola jika tidak ingin dikucilkan oleh kaum lelaki. Maka tidak heran, sepakbola menjadi urusan besar dan melebihi apa pun di Brazil, apalagi jika sudah menyangkut Timnas Selecao.
Frans Beckenbauer “sang kaizer’ Jerman, dalam satu kesempatan memuji Brazil sebagai “lumbung subur” yang selalu menghasilkan pemain dengan skill tinggi. “Melihat ini seharusnya Brazil tak perlu mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia, dia langsung saja lolos ke putaran final.” Katanya.
Dari zaman ke zaman, Brazil tak pernah kehabisan pemain hebat. Begitu juga jika menilai permainan tim, maka seleccao jika sudah memainkan “jogo bonito’ maka orang pun pasti memuji-muji.
Sepakbola seharusnya tidak cuma memikirkan menang atau kalah. Sepakbola harus bisa memperlihatkan jati diri sebagai olahraga terpopuler di muka bumi. Puncak semua pertandingan sepakbola ada di Piala Dunia, itu sebabnya dijuluki ‘the greatest show on earth’. Tidak heran jika semua tim, semua pelatih dan pemain, sangat ambisi untuk tampil di PD. Dan selama ini Brazil yang satu-satunya yang tak pernah absen, kehadirannya selalu mengundang penonton.
Fondasi sepakbola Brazil adalah kegilaan pemain terhadap bola. Lebih luas lagi, kegilaan seluruh isi negeri itu akan bola. Sejak usia dini, anak lelaki sudah tergila-gila pada si kulit bundar. Mereka meningkatkan skill individunya hanya agar bisa menguasai kulit bundar. Ada hubungan erat antara pemain dengan bola, hubungan yang tak mungkin bisa putus. Bola seakan sudah menyatu dengan roh mereka.
Carlos Alberto Parreira, pelatih yang mengantar selecao juara di USA’94 dalam FIFA Magazine edisi Agustus 1997 mengatakan bahwa gaya “jogo bonito” adalah “possession games”. Gaya ini asli Brazil karena memang karakteristik orang Brazil, dan gaya ini tak bisa ditemukan di negeri mana pun juga. Tidak juga di negeri Latin lainnya.
Tidak jelas entah kapan ‘jogo bonito’ mulai muncul, tetapi gaya ini berkembang terus dan dikembangkan. Dasar utamanya adalah skill pemain harus tinggi, dia harus mampu menjinakkan bola dalam situasi sesulit apa pun. Dan seperti kata Beckenbauer, Brazil setiap saat melahirkan banyak pemain dengan skill tinggi.
Sepakbola dari tahun ke tahun semakin ketat, keras dan terkadang tidak terhindarkan benturan keras yang mengakibatkan fisik cidera. Hampir tidak ada ruang bagi seorang pemain untuk memperlihatkan skill didalam permainan melainkan sudah ditackle atau dipress lawan.
Situasi ini bukannya mematikan permainan individu, bahkan pada banyak pemain justru menjadi motivasi meningkatkan skillnya untuk memanfaatkan ruang dengan imajinasi dan kreasinya. Pemain seperti ini punya kemampuan tinggi untuk mengubah permainan. Maka tidak heran, melihat skill pemain Brazil maka jogo bonito bisa dimainkan dengan penuh variasi.
Tidak ada suatu tim pun yang mampu mempertahankan tempo tinggi sepanjang 45 menit kali dua, begitu juga sebaliknya tak akan mampu bermain tempo lamban sepanjang dua babak. Bagi Brazil jogo bonito adalah jawaban yang tepat, sebab dengan banyak pemain berskill tinggi maka perubahan tempo bisa diatur sesuai kehendak, situasi dan lawan yang dihadapi.
Itu sebab seperti di PD 1982, 1986, 1994 dan 1998 dimana Brazil memainkan jogo bonito terlihat bagaimana peragaan individual pemain terpadu dalam kombinasi kerjasama yang memukau. Tempo pun bisa lamban, sangat lamban, lalu mendadak berubah cepat dan tinggi dimana semua pemain bergerak tanpa bola. Di luar lapangan pun fans Brazil ikut partisipasi dengan memukul gendang dalam irama samba mengikuti tempo main yang dikembangkan seleccao di lapangan. Pemandangan makin semarak dengan kehadiran gadis-gadis Brazil berpakaian minim berlenggok menari mengikuti irama gendang samba. Benar memang, bahwa jogo bonito cuma bisa dimainkan oleh Brazil.
Hanya sayang, keindahan jogo bonito terkadang membuat pemain lupa bahwa sepakbola butuh kemenangan, dan untuk menang harus mencetak gol. Padahal prinsip ini sudah ditanamkan Tim Brazil’70 dengan falsafahnya yang terkenal “mencetak gol lebih banyak dari lawan.” Di PD Mexico’70 itu selecao memainkan “attacking football” yang fantastis, menghantam semua lawan dan puncaknya melumat “cattenaccio Italia” 4-1 di grand-final yang menoreh sejarah emas Brazil.
Tahun 2002 di Korea/Jepang, Brazil dibawah pimpinan Scolari tak cuma sukses memenangkan gela dunia kelima kalinya sehingga dijuluki penta campeo, juga permainan jogo-bonito yang begitu gemulai tetapi mematikan diperlihatkan Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu Cs. Seluruh pecinta bola ikut menyaksikan peragaan jogo-bonito sepakbola indah ala Brazil sekali lagi. Tetapi kali ini, tuntutan publik Brazil lebih realistis. Mainkan sepakbola indah ala ‘jogo bonito’ tetapi sekaligus rebut gelar juara dunia itu. Dan pelatih Felipe Scolari jauh-jauh hari sudah menjanjikan gelar bagi Brazil, gelar ke-lima setelah 1958, 1962, 1970 dan 1994. Dan Scolari membuktikan ucapannya, Brazil juara di PialaDunia 2002. Sekarang ini di Afrika Selatan, Dunga menjanjikan kemenangan alias gelar juara ke-enam tanpa terikat oleh keharusan mainkan jogo bonito. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Benarkah Brazil Meninggalkan Jogo Bonito?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 15, 16, 17 Juni 2010
Pengantar :
Tidak dapat dipungkiri bahwa Brazil merupakan kiblat sepakbola dunia. Salah satu ciri khas yang membuat Brazil dijadikan kiblat sepakbola adalah prestasinya yang luar biasa, regenerasi pemainnya yang tak pernah putus, serta kreatifitas pelatih dan pemain untuk mengalahkan lawan. Semua itu dilakukan tim Brazil lewat permainan “jogo bonito” alias sepakbola cantik, yang tidak hanya untuk memenangi pertandingasn tetapi juga bagaimana caranya menang dengan indah. Belakangan tren sepakbola dunia cenderung defensif dan tidak enak ditonton. Mampukah Brazil menjagokan “jogo bonito” di tengah tren sepakbola bertahan yang makin mendunia? Ikutilah tiga tulisan berikut.
Di kualifikasi Piala Dunia 2002, Brazil nyaris gagal lolos. Pecinta sepakbola bahkan juga FIFA sempat jantungan ketika tim Samba itu terseok-seok dalam perburuan tiket ke PD 2002. Tetapi “thanks God” akhirnya Brazil lolos ke Piala Dunia. Tiket itu direbut Brazil pada pertandingan terakhir saat menjamu Venezuela di kandangnya sendiri Sao Luis, lewat dua gol striker Corinthians, Luizao dan satu dari bintang Barcelona, Rivaldo.
Lolosnya Brazil ini melegakan jutaan penggemar tim samba setelah sempat dibuat “jantungan” di dua pekan sebelumnya. Beberapa jam sebelumnya, tim panser Jerman juga lolos ke Piala Dunia setelah menang telak 4-1 dalam “play-off” lawan Ukraina di Dortmund. Bisa dibayangkan berapa banyak “lost money” (kerugian uang) yang dialami panitiya PD di Korea dan Jepang jika saja dua tim juara dunia ini –Brazil dan Jerman- gagal lolos.
Bicara kerugian penyelenggaraan Piala Dunia, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Yang bisa terjadi hanyalah keuntungan yang berkurang. Kejadian play-off Perancis vs Irlabdia, berembus rumor FIFA “memprotek” Perancis dan menolak tanding ulang meski jelas-jelas bahwa gol penentuan kemenangan William Gallas diawali “double handsball” Thierry Henry yang lalu mengumpan ke mulut gawang. Ketika pemain Irlandia sibuk mengangkat tangan isyarat terjadinya hansdsball saat itu William Gallas dengan mudahnya – tanpa terjaga dan tanpa reaksi lawan- menceploskan bola ke gawang Irlandia. Tamatlah Irlandia. Dalam lobi dan pertemuan FIFA diputuskan tak ada pertandingan ulang, artinya Perancis yang ke 2010. Bayangkan jika terjadi sebaliknya? Jika Perancis yang dirugikan, mungkin saja akan ada tanding ulang. Ujung rumor itu jika Perancis yang lolos ke 2010 lengkaplah 7 juara dunia, dan bukankah penonton fans Les Blues lebih banyak yang akan datang ke 2010 dibanding misalnya Irlandia yang lolos.
Akan halnya Brazil tampaknya beberapa kali mendapat kendala besar di babak kualifikasi Piala Dunia, hambatan klasik yakni sulitnya mendatangkan para bintangnya yang main di klub-klub Eropa. Kalaupun mereka mendapat ijin dari klubnya itupun hanya 4 hari sebelum pertandingan.
Ketika harus menang atas Bolivia, sepekan sebelum partai lawan Venezuela, kendala ini muncul. Rivaldo, Cafu, Roberto Carlos dll bergabung 4 hari sebelum hari pertandingan. Waktu yang sempit untuk berlatih, mungkin ini sebab kekalahan Brazil 1-3 dari Bolivia selain faktor tipisnya oksigen di ketinggian 3700 meter di kota La Paz. Namun betapapun juga akhirnya Brazil sang juara dunia 4 kali – tetra campeo- sudah sampai di PD 2002, seperti komentar sang pelatih Luis Felipe Scolari, “memang tidak mulus dan tampak berat, tetapi akhirnya kami sampai juga di tujuan.”
Kejadian nyaris gagal lolos, pernah dialami Brazil beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya. Kendalanya pun juga sama, sempitnya waktu berkumpul dari para pemain bintangnya terutama para legiun Eropa, menyebabkan kurang mampunya pelatih mengoptimalkan materi “legiun Eropa” yang letih akibat ketatnya kompetisi di Eropa.
Tahun 1978 Brazil nyaris gagal. Pada pertandingan awal PPD hasil draw 0-0 lawan Kolombia membuat berang semua orang Brazil terhadap timnya. Si Pelatih Oswaldo Brandao dikecam, dicaci dan dihujat yang buntutnya dilengserkan dari jabatannya. Padahal masih ada 3 pertandingan lain, dua partai lawan Paraguay dan satu lainnya lawan Kolombia. Pokoknya Brandao lengser dan digantikan Claudio Cautinho yang sukses membantai Kolombia 6-0 dan mengatasi Paraguay sehingga lolos ke Piala Dunia Argentina’78.
Tahun 1994 pun Brazil dibawah pelatih Carlos Alberto Pareira bersama penasehat tehnis merangkap asistennya Mario Zagalo sempat dilanda krisis. Bergabung bersama Bolivia, Ekuador, Uruguay dan Venezuela di grup B dengan catatan hanya dua tim yang lolos langsung, posisi Brazil di ujung tanduk. Kalah 0-2 dari Bolivia di La Paz membuat Parreira dikecam habis dan CBF didesak untuk memecatnya. Nama Tele Santana, pelatih yang kondang meramu tim samba di PD 1982 dan 1986 diangkat pers dan publik disebut paling cocok menggantikan Parreira. Tetapi kali ini CBF diketuai Ricardo Texeira ngotot mempertahankan Parreira, tentu saja dengan jaminan mempertaruhkan jabatan kursi CBF jika tim samba sampai gagal.
Carlos Alberto Parreira jalan terus. Menggasak Ekuador 2-0, Bolivia 6-0, Venezuela 4-0. Sampai pada penghujung jalan yakni partai ke-8 menghadapi Uruguay, posisi tiga tim Brazil, Uruguay dan Bolivia sama-sama nilai 10. Jika Brazil sampai kalah dari Uruguay, maka habis sudah sejarah kebesaran Brazil. Pada saat kritis, penasehat tehnis Mario Zagalo mengusulkan merekrut mesin gol Romario Faria.
CBF dan Parreira menolak. Zagalo ngotot bahwa cuma itu jalan keluar, harus ada mesin gol apalagi saat itu striker Bebeto tidak fit dan sayap kiri Branco belum pulih. Tawaran Zagalo diterima, dengan taruhan Zagalo yang bertangungjawab atas “anak nakal” Romario itu.
Tulisan (2) Published 16 Juni
Di PSV Eindhoven, Romario tampil sebagai top-scorer Liga Belanda dan di klub barunya Barcelona, Romario jadi andalan pelatih Johan Cruyff. Namun “ulah” kenakalannya yang membuat CBF dan Parreira merasa tak mampu mengatasinya.
Di kandang sendiri di stadion Maracana Rio de Janeiro disaksikan 110.000 pecintanya, tim samba yang hanya perlu hasil draw nyatanya tampil agresip dan mengepung pertahanan Uruguay dengan serangan bergelombang. Kapten Dunga, Rai, Zinho, Bebeto, dan Romario didukung Branco dan Jorginho dari dua sayap, mendominasi Uruguay yang diperkuat Daniel Fonseca, Ruben Sosa, maestro Enzo Francescoli.
Ternyata Romario yang berjaya, dua golnya memenangkan Brazil 2-0. Gol pertama Romario masih belum meyakinkan publik Maracana karena trauma sejarah grand-final Piala Dunia ’50 ketika Brazil meski mencetak gol lebih dahulu akhirnya kalah dari Uruguay. Baru setelah Romario mencetak gol kedua, trauma sejarah itu pun lenyap dan akhirnya Brazil lolos, maka Parreira pun dipuji-sanjung begitu juga Romario.
Sepakbola Brazil tak pernah sepi dari berita di koran. Timnas Brazil “seleccao” selalu menjadi sorotan utama. Itu sebab pelatih seleccao ibarat duduk di atas “bara api” yang sewaktu-waktu bisa membakar dirinya. Dalam satu sisi, tak dipungkiri bahwa pelatih seleccao bahkan lebih populer dari Presiden Brazil. Di warung-warung kopi semua orang bicara bola, tua muda, lelaki perempuan, tak ubahnya dengan para komentator di layar kaca, radio dan juga di koran-koran.
Tahun 1986 Tim Selecao juga dilanda krisis, nyaris gagal ke Piala Dunia. Sang pelatih, Evaristo de Macedo hampir tak punya harapan lagi untuk meloloskan Brazil ke Mexico’86. Bukan itu saja, gaya main tim selecao ramuan Macedo dinilai tidak indah dan kontra produktif. Jogo Bonito, sepakbola indah yang dimainkan penuh improvisasi tapi punya ketajaman yang selalu membuahkan gol. Macedo gagal memperlihatkannya.
Dari warung-warung kopi itulah, penonton yang setia mengeluarkan duit untuk mengawal tim samba bahkan sampai ke Eropa pun. Mereka inilah yang bersuara keras, mengecam Macedo, menghujat dengan lantang dan keras, Macedo harus dipecat. Harus dan harus ! Satu nama lain, Tele Santana diusung untuk menjadi pengganti.
Kenapa Santana ? Bukankah Santana sudah gagal di PD Spanyol’82. Tapi mereka punya alasan kuat. Santana hebat memainkan jogo bonito. Di Espana’82 sepakbola menyerang ala samba dalam kemasan pola 4-4-2 diakui sebagai jogo-bonito yang sama dahsyatnya, sama produktifnya dengan selecao 1970 ketika pelatih Mario Zagalo memenangkan PD di Mexico’70. Kegagalan seleccao merebut gelar juara PD’82 tidak membuat tim ramuan Santana ini dilupakan orang. Santana juga tidak pernah dicaci-maki publik bahkan semua orang Brazil larut berduka dengan kekagalan seleccao di Spanyol. Inilah bukti bahwa jogo-bonito ramuan Santana diterima masyarakat secara meluas.
Kehebatan suara publik pernah mewarnai nasib Mario Zagalo di tahun 1974. Zagalo membawa selecao berlaga di PD’74 di Munich, Jerman. Tidak cuma kalah dan gagal, tetapi tim itu bermain buruk dan sama sekali lupa akan jogo-bonito. Mau tahu apa perbuatan orang-orang dari warung-kopi itu ? Mereka mengancam akan menggantung Zagalo di alun-alun, tiada maaf bagi Zagalo.Mereka membakar patung kertas Zagalo padahal mereka juga tahu, bahwa Zagalo adalah pahlawan tim samba ketika sebagai penyerang sayap merebut PD 1958 dan 1962 dan sebagai pelatih memenangkan PD Mexico’70 dengan sepakbola menyerang yang sangat ampuh. Ancaman itu membuat Zagalo tidak berani pulang dan langsung hijrah melatih klub di Saudi Arabia.
Jika orang-orang di warung kopi itu bisa menerima kegagalan Tele Santana, suatu bukti bahwa tim seleccao di PD’82 memang hebat dan ampuh, hanya sayang tidak beruntung. Karenanya mereka ingin memberi kesempatan lagi kepada Santana untuk memperlihatkan jogo-bonito di Mexico’86.
Tuntutan orang-orang dari warung-kopi itu mengguncang kantor CBF yang akhirnya setuju, dan Macedo lengser digantikan Tele Santana. Kembali Santana meramu pola favoritnya 4-4-2 memperlihatkan jogo-bonito yang ampuh dengan beberapa bintang eks selecao’82 Zico,Socrates, Falcao, Cerezo, Eder yang kemudian sukses meloloskan selecao ke Mexico’86. Sayangnya di PD’86 kembali keberuntungan menjauh dari Santana, selecao gagal juara lantaran kalah adu pinalti dari Prancis di perempatfinal.
Orang-orang di café itu memang punya suara lantang namun cenderung obyektif dan seringkali menolong seleccao keluar dari kesulitan. Ketika CBF memilih Sebastiano Lazaroni untuk menangani selecao ke PD’90, publik protes. Alasannya, konsep Lazaroni, bahwa jogo-bonito harus dilupakan. Jogo-bonito tak bisa bersaing menghadapi gaya keras dan disiplin “speed and power”. Tidak cuma itu, Lazaroni bahkan memainkan pola 3-5-2, mengubah tradisi seleccao 4-4-2 yang dikemas Santana.
Konsep Lazaroni ini masuk akal, secara teori seratus persen benar. Jika hendak merebut gelar PD maka Brazil harus siapkan pola main yang mampu mengimbangi tipe Eropa, dan itu hanya bisa dengan pola 3-5-2. Apalagi Lazaroni membuktikannya di lapangan, merebut Copa America 1989, gelar dan sukses yang pertama bagi Tim Brazil sejak 40 tahun silam.
Tulisan (3) published 17 Juni
Sukses Lazaroni ini ibarat membungkam mulut dan komentar miring dari publik yang terkenal gila bola itu. Namun itu baru di Copa America, ukuran sukses yang sesungguhnya ada di PD Italia’90.
Kenyataannya di Italia’90 selecao gagal, di perdelapanfinal kalah dari Argentina lewat gol tunggal Cannigia membuat Lazaroni mundur. Lazaroni lengser, lenyap juga konsep “kontra jogo bonito”. Roberto Falcao, bintang seleccao’82 dan ’86 naik panggung dan mengembalikan ‘jogo bonito’. Tetapi Falcao tak mampu mengatasi ulah legiun Eropa yang sering terlambat berkumpul di TC seleccao. Hal ini memaksa Falcao memutuskan melupakan legiun Eropa dan hanya menggunakan pemain lokal. Ternyata inilah awal dari kegagalannya menukangi seleccao.
Sepakbola di Brazil sangat popular dan dimainkan dimana-mana. Setiap lelaki agaknya harus bisa main bola, atau jika dia cacat maka dia akan mahir main bola dengan lisan atau tulisannya. Setiap perempuan harus menyukai bola jika tidak ingin dikucilkan oleh kaum lelaki. Maka tidak heran, sepakbola menjadi urusan besar dan melebihi apa pun di Brazil, apalagi jika sudah menyangkut Timnas Selecao.
Frans Beckenbauer “sang kaizer’ Jerman, dalam satu kesempatan memuji Brazil sebagai “lumbung subur” yang selalu menghasilkan pemain dengan skill tinggi. “Melihat ini seharusnya Brazil tak perlu mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia, dia langsung saja lolos ke putaran final.” Katanya.
Dari zaman ke zaman, Brazil tak pernah kehabisan pemain hebat. Begitu juga jika menilai permainan tim, maka seleccao jika sudah memainkan “jogo bonito’ maka orang pun pasti memuji-muji.
Sepakbola seharusnya tidak cuma memikirkan menang atau kalah. Sepakbola harus bisa memperlihatkan jati diri sebagai olahraga terpopuler di muka bumi. Puncak semua pertandingan sepakbola ada di Piala Dunia, itu sebabnya dijuluki ‘the greatest show on earth’. Tidak heran jika semua tim, semua pelatih dan pemain, sangat ambisi untuk tampil di PD. Dan selama ini Brazil yang satu-satunya yang tak pernah absen, kehadirannya selalu mengundang penonton.
Fondasi sepakbola Brazil adalah kegilaan pemain terhadap bola. Lebih luas lagi, kegilaan seluruh isi negeri itu akan bola. Sejak usia dini, anak lelaki sudah tergila-gila pada si kulit bundar. Mereka meningkatkan skill individunya hanya agar bisa menguasai kulit bundar. Ada hubungan erat antara pemain dengan bola, hubungan yang tak mungkin bisa putus. Bola seakan sudah menyatu dengan roh mereka.
Carlos Alberto Parreira, pelatih yang mengantar selecao juara di USA’94 dalam FIFA Magazine edisi Agustus 1997 mengatakan bahwa gaya “jogo bonito” adalah “possession games”. Gaya ini asli Brazil karena memang karakteristik orang Brazil, dan gaya ini tak bisa ditemukan di negeri mana pun juga. Tidak juga di negeri Latin lainnya.
Tidak jelas entah kapan ‘jogo bonito’ mulai muncul, tetapi gaya ini berkembang terus dan dikembangkan. Dasar utamanya adalah skill pemain harus tinggi, dia harus mampu menjinakkan bola dalam situasi sesulit apa pun. Dan seperti kata Beckenbauer, Brazil setiap saat melahirkan banyak pemain dengan skill tinggi.
Sepakbola dari tahun ke tahun semakin ketat, keras dan terkadang tidak terhindarkan benturan keras yang mengakibatkan fisik cidera. Hampir tidak ada ruang bagi seorang pemain untuk memperlihatkan skill didalam permainan melainkan sudah ditackle atau dipress lawan.
Situasi ini bukannya mematikan permainan individu, bahkan pada banyak pemain justru menjadi motivasi meningkatkan skillnya untuk memanfaatkan ruang dengan imajinasi dan kreasinya. Pemain seperti ini punya kemampuan tinggi untuk mengubah permainan. Maka tidak heran, melihat skill pemain Brazil maka jogo bonito bisa dimainkan dengan penuh variasi.
Tidak ada suatu tim pun yang mampu mempertahankan tempo tinggi sepanjang 45 menit kali dua, begitu juga sebaliknya tak akan mampu bermain tempo lamban sepanjang dua babak. Bagi Brazil jogo bonito adalah jawaban yang tepat, sebab dengan banyak pemain berskill tinggi maka perubahan tempo bisa diatur sesuai kehendak, situasi dan lawan yang dihadapi.
Itu sebab seperti di PD 1982, 1986, 1994 dan 1998 dimana Brazil memainkan jogo bonito terlihat bagaimana peragaan individual pemain terpadu dalam kombinasi kerjasama yang memukau. Tempo pun bisa lamban, sangat lamban, lalu mendadak berubah cepat dan tinggi dimana semua pemain bergerak tanpa bola. Di luar lapangan pun fans Brazil ikut partisipasi dengan memukul gendang dalam irama samba mengikuti tempo main yang dikembangkan seleccao di lapangan. Pemandangan makin semarak dengan kehadiran gadis-gadis Brazil berpakaian minim berlenggok menari mengikuti irama gendang samba. Benar memang, bahwa jogo bonito cuma bisa dimainkan oleh Brazil.
Hanya sayang, keindahan jogo bonito terkadang membuat pemain lupa bahwa sepakbola butuh kemenangan, dan untuk menang harus mencetak gol. Padahal prinsip ini sudah ditanamkan Tim Brazil’70 dengan falsafahnya yang terkenal “mencetak gol lebih banyak dari lawan.” Di PD Mexico’70 itu selecao memainkan “attacking football” yang fantastis, menghantam semua lawan dan puncaknya melumat “cattenaccio Italia” 4-1 di grand-final yang menoreh sejarah emas Brazil.
Tahun 2002 di Korea/Jepang, Brazil dibawah pimpinan Scolari tak cuma sukses memenangkan gela dunia kelima kalinya sehingga dijuluki penta campeo, juga permainan jogo-bonito yang begitu gemulai tetapi mematikan diperlihatkan Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu Cs. Seluruh pecinta bola ikut menyaksikan peragaan jogo-bonito sepakbola indah ala Brazil sekali lagi. Tetapi kali ini, tuntutan publik Brazil lebih realistis. Mainkan sepakbola indah ala ‘jogo bonito’ tetapi sekaligus rebut gelar juara dunia itu. Dan pelatih Felipe Scolari jauh-jauh hari sudah menjanjikan gelar bagi Brazil, gelar ke-lima setelah 1958, 1962, 1970 dan 1994. Dan Scolari membuktikan ucapannya, Brazil juara di PialaDunia 2002. Sekarang ini di Afrika Selatan, Dunga menjanjikan kemenangan alias gelar juara ke-enam tanpa terikat oleh keharusan mainkan jogo bonito. ***
World Cup 2010 Serial (12)
Serial World Cup 2010 (12)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Brazil vs Korea Utara
Ujian Bagi Pragmatisme Dunga
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 15 Juni 2010
Sebenarnya Brazil bukanlah tim yang paling hebat di planet bumi saat ini. Juga di masa lalu ketika anak-anak samba itu merangsek memenangkan banyak pertandingan. Kaka, Luis Fabiano dan Robinho tidak lebih hebat dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wesley Snijder, Xavi, Fernando Torres atau Wayne Rooney. Secara permainan Brazil pun tidak lebih hebat dari Italia, Spanyol, Jerman, Inggeris atau Belanda. Artinya Brazil bukanlah tim superior, samba masih bisa dikalahkan. Diego Maradona, musuh “lawas” Brazil menaruh respek pada Brazil tetapi ngidam pertemuan dengan Brazil di 2010, revanche kekalahan Argentina di zone Conmebol, dan mengalahkannya. “Sangat indah dan nikmat jika tim Anda bisa menang atas Brazil.” Katanya.
Ketika tahun 1994 Carlos Alberto Parreira yang didampingi “sang guru” Mario Zagallo sebagai asistennya, mulai melupakan jogo bonito, orang Brazil marah. Seperti juga pengalaman 4 tahun sebelumnya ketika samba ditukangi Sebastiao Lazaroni. Di stadion Delle Alpi, stadion kebanggaan Juventus, Brazil yang menguasai permainan akhirnya tumbang oleh Argentina yang menerapkan taktik defensif. Diego Maradona mencak-mencak saking senangnya, sementara Dunga tertunduk lesu. Rakyat Brazil mencaci Lazaroni dan pemain pilar Dunga. “Itu akibatnya kalau tidak main jogo bonito!” Teriak pers waktu itu (1990).
Tetapi Parreira dan Zagallo menjawab ketus dengan gelar juara 1994, setelah Brazil melalui hampir seperempat abad tanpa gelar dunia, terakhir di Mexico’70. Publik yang mengecamnya, ganti memuji selangit. Siapa pemain pilarnya, kaptennya? Dunga, kaptennya. Dunga “biang kerok” yang melupakan jogo bonito. Tahun 1990 dia gagal. Tahun 1994 dia menang, keduanya tanpa jogo bonito!
Permainan Brazil selalu dikaitkan dengan jogo bonito, sepakbola indah. Inspirasi Brazil dengan pantainya yang indah, wanita sexy berbikini mondar mandir di pantai, ratusan gadis cantik di festival Rio yang memesona, iklim tropisnya yang memancing turis berjemur matahari, semua itu manisfestasi keindahan. Main sepakbola juga harus seindah itu, jogo bonito.Cantik dan indah bagaikan “canarinhos” (si kecil burung kenari) yang cantik dan indah, julukan bagi tim samba selain “a seleccao” (the selection) dan “verde amarela” kostum yellow and green yang ngepas (agak ketat) di badan dan tampak sexy.
Tahun 2002 Luis Felippe Scolari melontarkan komentar yang memancing reaksi marah publik. “Lupakan jogo bonito, main untuk menang, itu lebih penting, kalau perlu main keras dan dapat kartu kuning tetapi memenangkan pertandingan.”
Rakyat Brazil marah. Luis Scolari bergeming. Jalan terus! Hasilnya apa? Gelar juara ke-lima, penta campeon! Ketika CBF (Federasi Brazil) di bulan Agustus 2006 menunjuk Carlos Caetano Bledom Verri alias Dunga sebagai pelatih “seleccao” kritik pun menimpa dirinya. Jogo bonito kembali dipersoalkan. Dunga memberi hasil, Copa America 2007 dan Condeferations Cup 2009, memuncaki kualifikasi zone Conmebol, keadaan pun berubah. Apalagi setelah para pemain mendukung penuh Dunga.
Brazil kini lebih pragmatis. Datang ke 2010 dengan kekuatan penuh pilihan Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil. Kemarin dia memastikan kiper utama Julio Cesar sudah recovery dan fit untuk main di laga perdana lawan Korea Utara.
Skema main 4-2-3-1 dengan Lluis Fabiano di depan sendirian, di belakangnya trio Robinho, Kaka dan Ramires. Gelandang bertahan mungkin Gilberto Silva veteran 2002 dan Elano, serta empat belakang Maicon, Lucio, Juan dan Alves. Pola ini memungkinkan trio Kaka, Robinho dan Ramires bergerak bebas. Adanya dua defensive midfield tampaknya untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua wing-back saat naik menyerang. Pemain pilar yang sudah pasti masuk line up starter, Cesar, Maicon, Lucio, Kaka, Robinho dan Luis Fabiano. Nama lain masih bisa berubah tergantung strategi Dunga.
Penampilan skuad Dunga akan dilihat malam nanti menghadapi Korea Utara. Kekuatan Asia Timur ini cukup misterius. Sebaiknya Brazil wspada dan tidak meremehkan. Tim asuhan Kim Jong-Hun, menekankan pada kerja kolektif, kesatuan yang kuat di lapangan tengah, perjuangan keras merebut bola dan menahan laju lawan, serangan balik yang didukung pemain sayap yang cepat, mental tanding yang tangguh, determinasi dan tekad besar untuk menang, bertarung dalam satu kesatuan, pertahanan yang ultra defensif apalagi jika berhasil mencuri gol lebih awal.
Korea Utara yang dijukuki pasukan “chollima” pernah membuat sensasi besar di Piala Dunia 1966. Mereka kalah 0-3 dari Russia lalu menahan Cili 1-1 dan menekuk Italia 1-0 untuk melaju ke perempat final dimana mereka unggul 3-0 atas Portugal tetapi bintang kelahiran Mozambik, Eusebio, mencetak empat gol dan membalik skor menjadi 3-5 sekaligus mengirim pulang pasukan “chollima” itu.
Menghadapi 2010 Korea Utara berlatih Oktober lalu di Nantes Perancis dimana main draw 0-0 dengan Congo, mereka juga main di Amerika Selatan, Tengah, Afrika dan Eropa. Mereka datang mengusung spirit tahun 1966 tapi dikemas dalam skema main yang defensif dan mengandalkan serangan balik yang cepat.
Kekalahan sensasional Italia 44 tahun lalu itu suatu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Setelah prestasi gemilang itu Korea Utara absen dan baru muncul lagi di pentas dunia tahun 2010 ini. Kini pasukan “chollima” itu datang lagi dengan misi negara, mengulang sejarah 1966 bahkan harus leih hebat lagi. Kalahkan Brazil!
Pertandingan ini menarik. Karena pers dan dunia ingin tahu, sehebat apakah Brazil bisa mengatasi perjuangan anak-anak negeri komunis yang main tanpa beban. Di atas kertas Korea Utara chollima akan kalah, jadi tak ada salahnya main “lepas tanpa beban”, siapa tahu bisa menang. Kemenangan atas Brazil, si lima kali juara dunia akan menjadi catatan sejarah emas dan abadi bagi pasukan “chollima” asuhan Kim Jong-Hun. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Brazil vs Korea Utara
Ujian Bagi Pragmatisme Dunga
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 15 Juni 2010
Sebenarnya Brazil bukanlah tim yang paling hebat di planet bumi saat ini. Juga di masa lalu ketika anak-anak samba itu merangsek memenangkan banyak pertandingan. Kaka, Luis Fabiano dan Robinho tidak lebih hebat dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wesley Snijder, Xavi, Fernando Torres atau Wayne Rooney. Secara permainan Brazil pun tidak lebih hebat dari Italia, Spanyol, Jerman, Inggeris atau Belanda. Artinya Brazil bukanlah tim superior, samba masih bisa dikalahkan. Diego Maradona, musuh “lawas” Brazil menaruh respek pada Brazil tetapi ngidam pertemuan dengan Brazil di 2010, revanche kekalahan Argentina di zone Conmebol, dan mengalahkannya. “Sangat indah dan nikmat jika tim Anda bisa menang atas Brazil.” Katanya.
Ketika tahun 1994 Carlos Alberto Parreira yang didampingi “sang guru” Mario Zagallo sebagai asistennya, mulai melupakan jogo bonito, orang Brazil marah. Seperti juga pengalaman 4 tahun sebelumnya ketika samba ditukangi Sebastiao Lazaroni. Di stadion Delle Alpi, stadion kebanggaan Juventus, Brazil yang menguasai permainan akhirnya tumbang oleh Argentina yang menerapkan taktik defensif. Diego Maradona mencak-mencak saking senangnya, sementara Dunga tertunduk lesu. Rakyat Brazil mencaci Lazaroni dan pemain pilar Dunga. “Itu akibatnya kalau tidak main jogo bonito!” Teriak pers waktu itu (1990).
Tetapi Parreira dan Zagallo menjawab ketus dengan gelar juara 1994, setelah Brazil melalui hampir seperempat abad tanpa gelar dunia, terakhir di Mexico’70. Publik yang mengecamnya, ganti memuji selangit. Siapa pemain pilarnya, kaptennya? Dunga, kaptennya. Dunga “biang kerok” yang melupakan jogo bonito. Tahun 1990 dia gagal. Tahun 1994 dia menang, keduanya tanpa jogo bonito!
Permainan Brazil selalu dikaitkan dengan jogo bonito, sepakbola indah. Inspirasi Brazil dengan pantainya yang indah, wanita sexy berbikini mondar mandir di pantai, ratusan gadis cantik di festival Rio yang memesona, iklim tropisnya yang memancing turis berjemur matahari, semua itu manisfestasi keindahan. Main sepakbola juga harus seindah itu, jogo bonito.Cantik dan indah bagaikan “canarinhos” (si kecil burung kenari) yang cantik dan indah, julukan bagi tim samba selain “a seleccao” (the selection) dan “verde amarela” kostum yellow and green yang ngepas (agak ketat) di badan dan tampak sexy.
Tahun 2002 Luis Felippe Scolari melontarkan komentar yang memancing reaksi marah publik. “Lupakan jogo bonito, main untuk menang, itu lebih penting, kalau perlu main keras dan dapat kartu kuning tetapi memenangkan pertandingan.”
Rakyat Brazil marah. Luis Scolari bergeming. Jalan terus! Hasilnya apa? Gelar juara ke-lima, penta campeon! Ketika CBF (Federasi Brazil) di bulan Agustus 2006 menunjuk Carlos Caetano Bledom Verri alias Dunga sebagai pelatih “seleccao” kritik pun menimpa dirinya. Jogo bonito kembali dipersoalkan. Dunga memberi hasil, Copa America 2007 dan Condeferations Cup 2009, memuncaki kualifikasi zone Conmebol, keadaan pun berubah. Apalagi setelah para pemain mendukung penuh Dunga.
Brazil kini lebih pragmatis. Datang ke 2010 dengan kekuatan penuh pilihan Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil. Kemarin dia memastikan kiper utama Julio Cesar sudah recovery dan fit untuk main di laga perdana lawan Korea Utara.
Skema main 4-2-3-1 dengan Lluis Fabiano di depan sendirian, di belakangnya trio Robinho, Kaka dan Ramires. Gelandang bertahan mungkin Gilberto Silva veteran 2002 dan Elano, serta empat belakang Maicon, Lucio, Juan dan Alves. Pola ini memungkinkan trio Kaka, Robinho dan Ramires bergerak bebas. Adanya dua defensive midfield tampaknya untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua wing-back saat naik menyerang. Pemain pilar yang sudah pasti masuk line up starter, Cesar, Maicon, Lucio, Kaka, Robinho dan Luis Fabiano. Nama lain masih bisa berubah tergantung strategi Dunga.
Penampilan skuad Dunga akan dilihat malam nanti menghadapi Korea Utara. Kekuatan Asia Timur ini cukup misterius. Sebaiknya Brazil wspada dan tidak meremehkan. Tim asuhan Kim Jong-Hun, menekankan pada kerja kolektif, kesatuan yang kuat di lapangan tengah, perjuangan keras merebut bola dan menahan laju lawan, serangan balik yang didukung pemain sayap yang cepat, mental tanding yang tangguh, determinasi dan tekad besar untuk menang, bertarung dalam satu kesatuan, pertahanan yang ultra defensif apalagi jika berhasil mencuri gol lebih awal.
Korea Utara yang dijukuki pasukan “chollima” pernah membuat sensasi besar di Piala Dunia 1966. Mereka kalah 0-3 dari Russia lalu menahan Cili 1-1 dan menekuk Italia 1-0 untuk melaju ke perempat final dimana mereka unggul 3-0 atas Portugal tetapi bintang kelahiran Mozambik, Eusebio, mencetak empat gol dan membalik skor menjadi 3-5 sekaligus mengirim pulang pasukan “chollima” itu.
Menghadapi 2010 Korea Utara berlatih Oktober lalu di Nantes Perancis dimana main draw 0-0 dengan Congo, mereka juga main di Amerika Selatan, Tengah, Afrika dan Eropa. Mereka datang mengusung spirit tahun 1966 tapi dikemas dalam skema main yang defensif dan mengandalkan serangan balik yang cepat.
Kekalahan sensasional Italia 44 tahun lalu itu suatu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Setelah prestasi gemilang itu Korea Utara absen dan baru muncul lagi di pentas dunia tahun 2010 ini. Kini pasukan “chollima” itu datang lagi dengan misi negara, mengulang sejarah 1966 bahkan harus leih hebat lagi. Kalahkan Brazil!
Pertandingan ini menarik. Karena pers dan dunia ingin tahu, sehebat apakah Brazil bisa mengatasi perjuangan anak-anak negeri komunis yang main tanpa beban. Di atas kertas Korea Utara chollima akan kalah, jadi tak ada salahnya main “lepas tanpa beban”, siapa tahu bisa menang. Kemenangan atas Brazil, si lima kali juara dunia akan menjadi catatan sejarah emas dan abadi bagi pasukan “chollima” asuhan Kim Jong-Hun. ***
Friday, July 30, 2010
Serial World Cup 2010 (11)
Serial World Cup 2010 (11)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Belanda vs Denmark
Menghapus Noda Sejarah
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 14 Juni 2010
Belanda mengawali gebrakan di SA 2010 menantang Denmark di stadion terbesar, Soccer City yang berkapasitas 94.700 di kota Johannesburg Senin malam nanti. Optimisme dan keyakinan besar berkembang dalam diri playmaker Wesley Sneijder yang ikut membawa skuad Jose Mourinho merebut treble trophy termasuk Piala Champions Eropa, bintang andalan klub Arsenal Robin van Persie, dan midfield andalan Real Madrid, Rafael van der Vaart. Optimis bisa lolos ke putaran 16 besar bahkan juga merebut gelar juara. Skuad besutan Bert van Marwijk ingin menoreh sejarah Belanda yang selama ini hanya dua kali runner-up 1974 dan 1978 dan belum sekalipun juara dunia.
Empat tahun lalu Belanda mengincar gelar Euro 2008 melengkapi kejayaan Van Basten, Gullit, Rijkaard tahun 1988. Di penyisihan grup C di stadion de Suisse kota Berne 19 Juni 2008 Belanda melibas juara dunia 2006 Italia 3-0, kemudian menghancurkan juara dunia 1998 Perancis 4-1 kemudian Rumania 2-0. Pada babak knock-down perempat final secara mengejutkan mereka kalah 1-3 (perpanjangan waktu) dari Russia yang dilatih orang Belanda bernama Guus Hiddink.
Belanda kalah karena memandang enteng Russia, tak pernah memikirkan kemungkinan akan kalah dari Russia. Padahal dalam sepakbola semua bisa terjadi, pengalaman 1974 dan 1978 sudah memberi pelajaran kepada sejarah sepakbola Belanda. Dalam sepakbola tamparan besar juga dialami Jerman ketika di final Euro 2008 kalah dari Spanyol, atau di Piala Dunia 2006 di depan publik sendiri mereka kandas di semifinal oleh Italia 0-2 dalam perpanjangan waktu.
Lawan pertama di grup E tidak boleh dipandang sebelah mata. Denmark “dinamit” julukan tim polesan Morten Olsen ini bisa menghancurkan optimisme Belanda. Morten Olsen sebagai libero adalah pilar skuad asuhan Sepp Piontek yang mencatat gebrakan hebat Denmark dalam debutnya di Piala Dunia Mexico’86, menaklukkan Skotlandia 1-0, Uruguay 6-1 dan Jerman Barat (kini Jerman) 2-0, tapi sayang ketika euphoria dan optimisme tinggi di putaran dua, mereka tersingkir oleh Spanyol dengan skor besar 1-6.
Kali ini Morten Olsen memimpin Denmark bukan sebagai pemain yang menjadi pilar pertahanan atau libero melainkan sebagai pelatih. Semasa pemain Morten Olsen, yang menjadi pemain kepercayaan pelatih Sepp Piontek tahun 1982 tidak asing lagi dengan gaya main Belanda yang sangat ofensif. Sebagai pelatih dia punya strategi menjinakkan Belanda dan mencuri gol untuk keluar sebagai pemenang. Dia mengandalkan materi pemainnya yang pengalaman di klub-klub besar, Christian Eriksen dan Denni Rommedahl keduanya dari klub Ajax, Jon Dahl Tomasson (Feyenoord), Nicklas Bendtner (Arsenal), Soren Larsen (Duisburg).
Ancaman Denmark bukan main-main, kedua tim tak pernah bertemu di Piala Dunia. Tetapi tahun 1992 di Piala Eropa, ketika Belanda berambisi mempertahankan gelarnya (1988) justru diganjal Denmark dalam adu pinalti di semifinal setelah draw 2-2. Berkat kehebatan kiper Denmark yang melegenda Peter Schmeichel, Denmark akhirnya menjadi juara Eropa 1992, gelar besar satu-satunya yang pernah diraih tim yang bahkan belum masuk papan atas Eropa itu.
Diganjal Denmark tahun 1992 masih menjadi noda sejarah sepakbola negeri bunga tulip itu, malam nanti skuad yang dikapteni Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord), sudah harus waspada terhadap ancaman Denmark. Kehebatan yang diperlihatkan Wesley Snijder Cs ketika melibas Ghana 4-1 dalam ujicoba kemarin belum menjadi jaminan. Itu hanya ujicoba bukan kompetisi di pesta akbar yang pasti akan menegangkan.
Belanda pasti tidak mau seperti Inggeris yang tidak dalam form terbaik ditahan USA 1-1. Meski gol balasan USA diperoleh karena “blunder besar” kiper West Ham Robert Green, tapi nyatanya Inggeris tak mampu menembus pertahanan rapat skuad USA. Jangan lupa, bahwa Denmark pun akan memainkan skenario pertahanan rapat dan serangan balik, hanya itu skema main yang paling cocok dan sering dianut tim underdog jika berbenturan dengani tim yang penuh bintang bernilai milyaran euro.
Serangan balik yang cepat Denmark ala “dinamit” yang meledak-ledak harus bisa diantisipasi Belanda jika tidak mau dipermalukan. Dalam beberapa ujicoba tampaknya daya serang Belanda yang dimotori Snijder, van der Vaart, Persie –maaf, mungkin Arjen Robben tak bisa main karena belum pulih- dengan sayap cepat Demmy de Zeeuw atau Ibrahim Afellay atau Eljero Elia atau Dirk Kuyt cukup mematikan. Namun gelombang serangan gencar tersebut meninggalkan lubang di lini belakang yang jika tidak diwaspadai akan dimanfaatkan skuad Morten Olsen.
Pertandingan akan menarik dan seru, tidak bisa diprediksi pemenangnya. Diatas kertas Belanda akan menang, namun jika terjadi error kiper Green seperti nasib Inggeris Sabtu malam, maka hasil draw atau kalah bisa terjadi. Fans Belanda yang akan membanjiri stadion terbesar Soccer City sangat berharap tim kesayangannya tidak membuat error dan mencatat kemenangan penting. Karena lawan berikut di grup E pun tak ringan, Kamerun, tim Afrika paling ditakuti sepanjang penampilannya di pentas dunia. Sementara Jepang bisa saja menjadi kekuatan misterius.
Seperti Belanda dan juga Denmark yang mengincar kemenangan, demikian pula Jepang dan Kamerun yang akan berlaga di stadion Free State kota Bloemfontein tiga jam kemudian. Semua tim tahu persis kemenangan di partai perdana sangat berarti dan modal besar untuk lolos ke putaran dua. Argentina sudah menang atas Nigeria, Korea Selatan juga secara mengejutkan menekuk Yunani 2-0. Partai Kamerun versus Jepang, di atas kertas akan dimenangkan Kamerun, sementara Jepang mengharap kejutan bisa meraih satu poin dari hasil draw. Kita lihat saja. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Belanda vs Denmark
Menghapus Noda Sejarah
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 14 Juni 2010
Belanda mengawali gebrakan di SA 2010 menantang Denmark di stadion terbesar, Soccer City yang berkapasitas 94.700 di kota Johannesburg Senin malam nanti. Optimisme dan keyakinan besar berkembang dalam diri playmaker Wesley Sneijder yang ikut membawa skuad Jose Mourinho merebut treble trophy termasuk Piala Champions Eropa, bintang andalan klub Arsenal Robin van Persie, dan midfield andalan Real Madrid, Rafael van der Vaart. Optimis bisa lolos ke putaran 16 besar bahkan juga merebut gelar juara. Skuad besutan Bert van Marwijk ingin menoreh sejarah Belanda yang selama ini hanya dua kali runner-up 1974 dan 1978 dan belum sekalipun juara dunia.
Empat tahun lalu Belanda mengincar gelar Euro 2008 melengkapi kejayaan Van Basten, Gullit, Rijkaard tahun 1988. Di penyisihan grup C di stadion de Suisse kota Berne 19 Juni 2008 Belanda melibas juara dunia 2006 Italia 3-0, kemudian menghancurkan juara dunia 1998 Perancis 4-1 kemudian Rumania 2-0. Pada babak knock-down perempat final secara mengejutkan mereka kalah 1-3 (perpanjangan waktu) dari Russia yang dilatih orang Belanda bernama Guus Hiddink.
Belanda kalah karena memandang enteng Russia, tak pernah memikirkan kemungkinan akan kalah dari Russia. Padahal dalam sepakbola semua bisa terjadi, pengalaman 1974 dan 1978 sudah memberi pelajaran kepada sejarah sepakbola Belanda. Dalam sepakbola tamparan besar juga dialami Jerman ketika di final Euro 2008 kalah dari Spanyol, atau di Piala Dunia 2006 di depan publik sendiri mereka kandas di semifinal oleh Italia 0-2 dalam perpanjangan waktu.
Lawan pertama di grup E tidak boleh dipandang sebelah mata. Denmark “dinamit” julukan tim polesan Morten Olsen ini bisa menghancurkan optimisme Belanda. Morten Olsen sebagai libero adalah pilar skuad asuhan Sepp Piontek yang mencatat gebrakan hebat Denmark dalam debutnya di Piala Dunia Mexico’86, menaklukkan Skotlandia 1-0, Uruguay 6-1 dan Jerman Barat (kini Jerman) 2-0, tapi sayang ketika euphoria dan optimisme tinggi di putaran dua, mereka tersingkir oleh Spanyol dengan skor besar 1-6.
Kali ini Morten Olsen memimpin Denmark bukan sebagai pemain yang menjadi pilar pertahanan atau libero melainkan sebagai pelatih. Semasa pemain Morten Olsen, yang menjadi pemain kepercayaan pelatih Sepp Piontek tahun 1982 tidak asing lagi dengan gaya main Belanda yang sangat ofensif. Sebagai pelatih dia punya strategi menjinakkan Belanda dan mencuri gol untuk keluar sebagai pemenang. Dia mengandalkan materi pemainnya yang pengalaman di klub-klub besar, Christian Eriksen dan Denni Rommedahl keduanya dari klub Ajax, Jon Dahl Tomasson (Feyenoord), Nicklas Bendtner (Arsenal), Soren Larsen (Duisburg).
Ancaman Denmark bukan main-main, kedua tim tak pernah bertemu di Piala Dunia. Tetapi tahun 1992 di Piala Eropa, ketika Belanda berambisi mempertahankan gelarnya (1988) justru diganjal Denmark dalam adu pinalti di semifinal setelah draw 2-2. Berkat kehebatan kiper Denmark yang melegenda Peter Schmeichel, Denmark akhirnya menjadi juara Eropa 1992, gelar besar satu-satunya yang pernah diraih tim yang bahkan belum masuk papan atas Eropa itu.
Diganjal Denmark tahun 1992 masih menjadi noda sejarah sepakbola negeri bunga tulip itu, malam nanti skuad yang dikapteni Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord), sudah harus waspada terhadap ancaman Denmark. Kehebatan yang diperlihatkan Wesley Snijder Cs ketika melibas Ghana 4-1 dalam ujicoba kemarin belum menjadi jaminan. Itu hanya ujicoba bukan kompetisi di pesta akbar yang pasti akan menegangkan.
Belanda pasti tidak mau seperti Inggeris yang tidak dalam form terbaik ditahan USA 1-1. Meski gol balasan USA diperoleh karena “blunder besar” kiper West Ham Robert Green, tapi nyatanya Inggeris tak mampu menembus pertahanan rapat skuad USA. Jangan lupa, bahwa Denmark pun akan memainkan skenario pertahanan rapat dan serangan balik, hanya itu skema main yang paling cocok dan sering dianut tim underdog jika berbenturan dengani tim yang penuh bintang bernilai milyaran euro.
Serangan balik yang cepat Denmark ala “dinamit” yang meledak-ledak harus bisa diantisipasi Belanda jika tidak mau dipermalukan. Dalam beberapa ujicoba tampaknya daya serang Belanda yang dimotori Snijder, van der Vaart, Persie –maaf, mungkin Arjen Robben tak bisa main karena belum pulih- dengan sayap cepat Demmy de Zeeuw atau Ibrahim Afellay atau Eljero Elia atau Dirk Kuyt cukup mematikan. Namun gelombang serangan gencar tersebut meninggalkan lubang di lini belakang yang jika tidak diwaspadai akan dimanfaatkan skuad Morten Olsen.
Pertandingan akan menarik dan seru, tidak bisa diprediksi pemenangnya. Diatas kertas Belanda akan menang, namun jika terjadi error kiper Green seperti nasib Inggeris Sabtu malam, maka hasil draw atau kalah bisa terjadi. Fans Belanda yang akan membanjiri stadion terbesar Soccer City sangat berharap tim kesayangannya tidak membuat error dan mencatat kemenangan penting. Karena lawan berikut di grup E pun tak ringan, Kamerun, tim Afrika paling ditakuti sepanjang penampilannya di pentas dunia. Sementara Jepang bisa saja menjadi kekuatan misterius.
Seperti Belanda dan juga Denmark yang mengincar kemenangan, demikian pula Jepang dan Kamerun yang akan berlaga di stadion Free State kota Bloemfontein tiga jam kemudian. Semua tim tahu persis kemenangan di partai perdana sangat berarti dan modal besar untuk lolos ke putaran dua. Argentina sudah menang atas Nigeria, Korea Selatan juga secara mengejutkan menekuk Yunani 2-0. Partai Kamerun versus Jepang, di atas kertas akan dimenangkan Kamerun, sementara Jepang mengharap kejutan bisa meraih satu poin dari hasil draw. Kita lihat saja. ***
Serial World Cup 2010 (10)
Serial World Cup 2010 (10)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina vs Nigeria
Ujian Pertama Maradona
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 9 Juni 2010
Argentina dibawah pelatih Diego Maradona sempat membuat jantung seluruh rakyat pecinta tim berjuluk “La Albiceleste” berdebar-debar kencang, Nyaris gagal ke South Africa (SA) 2010, akhirnya tim tango lolos setelah kemenangan 1-0 di kandang Uruguay dalam partai terakhirnya. Tetapi Argentina tetaplah Argentina, sang juara dunia 1978 dan 1986, yang kali ini pun masuk empat besar favorit bersama Spanyol, Brazil dan Inggeris.
Skuad Maradona ini akan turun pertama kali Sabtu 12 Juni di stadion Ellis Park Johannesburg menghadapi Nigeria, salah satu wakil Afrika yang terbilang kuat. Di atas kertas, Argentina akan menang sebagaimana sejarah dua pertemuan sebelumnya. Di Piala Dunia USA 1994 Argentina yang waktu itu diperkuat Maradona sebagai pemain menang 2-1 dan 1-0 di Korea/Japan 2002. Dari record Piala Dunia Argentina sudah 14 kali tampil di pentas, Nigeria baru 3 kali.
Tahun 1994 menyimpan kenangan buruk bagi Maradona sebagai pemain. Dia terbukti positif dalam test doping resmi yang dilakukan FIFA. Dia kemudian diusir dari Piala Dunia. Itu kali terakhir Maradona main di Piala Dunia. Kali ini sebagai pelatih, pengalaman pertamanya, dia akan diuji Nigeria dalam “clash” berbobot, apakah dia sebagai pelatih bisa sehebat Maradona sebagai pemain, inilah yang akan dia buktikan.
Ketika menang 5-0 atas Kanada dalam ujicobanya di Buenos Aires 21 Mei lalu Maradona menyatakan optimisme akan skuadnya. “Kami telah memperlihatkan bahwa kami bisa main dengan pola tiga penyerang, dan hasilnya sangat memuaskan.” Komentarnya.
Menghadapi Nigeria, skuad Albiceleste akan tampil menyerang. Maradona adalah penganut pola menyerang baik dikala sebagai pemain maupun sebagai pelatih sekarang ini. Jika benar dia memainkan pola 4-3-3 dengan 3 striker terbaiknya, Lionel Messi, Carlos Tevez dan bomber Inter Milan Diego Milito, maka permainan menyerang Argentina akan memaksa pertahanan Nigeria bekerja ekstra keras. Joseph Yobo (Everton), Taye Taiwo (Marseille), Rabiu Afolabi (Salzburg), Danny Shittu (Bolton) yang pengalaman akan dipaksa mengawasi gerakan tiga bomber Albiceleste yang berbahaya. Sedikit lengah, akibatnya bisa fatal.
Nigeria hampir pasti tidak akan bertahan. Skuad the super eagle bertekad membuat lompatan besar mumpung main di benua Afrika. Ada beberapa pemain andalan yang bisa mengangkat performa skuad, mereka yang main di klub-klub Eropa. Nwanko Kanu terakhir main di Portsmouth, Yakubu Aiyegbeni (Everton), dan Obafemi Martins (Wolfsburg) menjadi pilihan utama pelatih Lars Lagerback.
Di kubu Argentina, banyak stock pemain yang bisa menjadi pilihan Maradona sesuai strategi dan pola yang diinginkan. Pemain terbaik dan bintang Barcelona bertubuh mungil Lionel Messi yang gesit, Carlos Tevez pekerja keras yang tak pernah lelah mengganggu pertahanan lawan, Diego Milito bomber yang sering mencetak gol penentu kemenangan bagi klubnya Inter Milan, Javier Mascherano dan Juan Veron, yang mengatur lapangan tengah, Angel Di Maria gelandang Benfica yang belakangan ini mendapat kepercayaan penuh Maradona.
Dengan sederet pemain bertalenta ini Maradona yakin skuadnya tidak hanya bisa menang atas Nigeria dan lolos ke putaran 16 Besar tapi juga melangkah ke partai puncak dan meraih gelar juara. Selama ini Maradona sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, memberi bekal pada anak buahnya pola main yang variatif.
Jika hubungan Maradona dengan pemainnya sudah memasuki masa harmonis ibarat pasangan pengantin yang menikmati bulan madu, maka hubungan pelatih Lars Lagerback dengan pasukan “super eagle”nya masih tanda tanya. Apakah mungkin dalam waktu singkat satu-dua minggu sudah bisa terjalin hubungan saling mengerti dan respek. Sebagaimana diketahui Lagerback baru dua pekan lalu direkrut Nigeria sebagai pelatih.
Pertanyaan ini menjadi petanda kelemahan tim super eagle. Namun bagaimanapun juga Nigeria tetaplah kekuatan Afrika yang masih diunggulkan lolos ke putaran 16 bersama Argentina. Di bursa tarohan Nigeria diramal bisa mengatasi dua pesaing lain di grup, Korea Selatan dan Yunani. Partai Argentina versus Nigeria bakal seru, jika kedua tim bermain menyerang secara terbuka maka penonton akan disajikan pertandingan kelas dunia yang pasti akan lebih menarik katimbang Uruguay kontra Perancis yang berakhir 0-0 dan membosankan itu. Argentina jika main dalam form terbaiknya akan memenangkan partai ini.
Pertandingan lain di grup B ini Korea Selatan semifinalis 2002 kontra Yunani juara Eropa 2004 berlangsung tiga jam lebih awal di stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth.
Korea Selatan yang membuat lompatan besar kala menjadi tuan rumah dan menerobos sampai semifinal 2002 menyimpan misi dan ambisi besar untuk mengulang sukses 2002. Tim “merah-merah” yang kini dilatih pelatih lokal Huh Jung-Moo akan diperkuat bintang sayap Manchester United, Park Ji Sung, dan legiun asing lainnya, Park Chu-Young (Monaco), Cho Won-Hee (Wigan), Cha Du-Ri (SC Freiburg), dan Lee Chung-Yong (Bolton). Dalam uji-coba “away” mereka sukses mengalahkan Jepang 2-0 dalam pertandingan adu gengsi sesama Asia Timur.
Bagaimana dengan Yunani? Kita masih ingat ketika Yunani diremehkan di Euro 2004 tapi nyatanya sanggup melambung tinggi merebut gelar juara. Kali ini persiapan serius dilakukan Otto Rehhagel, pelatih asal Jerman itu. Dia bertumpu pada 10 pemain klub Panathinaikos yang double winner di liga domestik antaranya Giorgios Seitaridis yang baru pulih dari cidera, dan beberapa legiun asing yang main di klu-klub Eropa antaranya Sotirios Kyrgiakos (Liverpool), Georgios Samaras (Celtic), Vangelis Moras (Bologna), Socrates Papastathopoulos (Genoa).
Partai Korea Selatan versus Yunani ini merupakan pertarungan dua tim yang mengandalkan kebugaran fisik dan semangat tanding ala “speed and power”. Sulit untuk mengira-ngira siapa pemenangnya, tapi yang jelas skuad yang pemainnya lebih siap fisik dan mental akan keluar sebagai pemenang. Meskipun peluang draw lebih besar, tetapi Yunani lebih punya peluang menang katimbang wakil Asia itu. So wait and see. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina vs Nigeria
Ujian Pertama Maradona
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 9 Juni 2010
Argentina dibawah pelatih Diego Maradona sempat membuat jantung seluruh rakyat pecinta tim berjuluk “La Albiceleste” berdebar-debar kencang, Nyaris gagal ke South Africa (SA) 2010, akhirnya tim tango lolos setelah kemenangan 1-0 di kandang Uruguay dalam partai terakhirnya. Tetapi Argentina tetaplah Argentina, sang juara dunia 1978 dan 1986, yang kali ini pun masuk empat besar favorit bersama Spanyol, Brazil dan Inggeris.
Skuad Maradona ini akan turun pertama kali Sabtu 12 Juni di stadion Ellis Park Johannesburg menghadapi Nigeria, salah satu wakil Afrika yang terbilang kuat. Di atas kertas, Argentina akan menang sebagaimana sejarah dua pertemuan sebelumnya. Di Piala Dunia USA 1994 Argentina yang waktu itu diperkuat Maradona sebagai pemain menang 2-1 dan 1-0 di Korea/Japan 2002. Dari record Piala Dunia Argentina sudah 14 kali tampil di pentas, Nigeria baru 3 kali.
Tahun 1994 menyimpan kenangan buruk bagi Maradona sebagai pemain. Dia terbukti positif dalam test doping resmi yang dilakukan FIFA. Dia kemudian diusir dari Piala Dunia. Itu kali terakhir Maradona main di Piala Dunia. Kali ini sebagai pelatih, pengalaman pertamanya, dia akan diuji Nigeria dalam “clash” berbobot, apakah dia sebagai pelatih bisa sehebat Maradona sebagai pemain, inilah yang akan dia buktikan.
Ketika menang 5-0 atas Kanada dalam ujicobanya di Buenos Aires 21 Mei lalu Maradona menyatakan optimisme akan skuadnya. “Kami telah memperlihatkan bahwa kami bisa main dengan pola tiga penyerang, dan hasilnya sangat memuaskan.” Komentarnya.
Menghadapi Nigeria, skuad Albiceleste akan tampil menyerang. Maradona adalah penganut pola menyerang baik dikala sebagai pemain maupun sebagai pelatih sekarang ini. Jika benar dia memainkan pola 4-3-3 dengan 3 striker terbaiknya, Lionel Messi, Carlos Tevez dan bomber Inter Milan Diego Milito, maka permainan menyerang Argentina akan memaksa pertahanan Nigeria bekerja ekstra keras. Joseph Yobo (Everton), Taye Taiwo (Marseille), Rabiu Afolabi (Salzburg), Danny Shittu (Bolton) yang pengalaman akan dipaksa mengawasi gerakan tiga bomber Albiceleste yang berbahaya. Sedikit lengah, akibatnya bisa fatal.
Nigeria hampir pasti tidak akan bertahan. Skuad the super eagle bertekad membuat lompatan besar mumpung main di benua Afrika. Ada beberapa pemain andalan yang bisa mengangkat performa skuad, mereka yang main di klub-klub Eropa. Nwanko Kanu terakhir main di Portsmouth, Yakubu Aiyegbeni (Everton), dan Obafemi Martins (Wolfsburg) menjadi pilihan utama pelatih Lars Lagerback.
Di kubu Argentina, banyak stock pemain yang bisa menjadi pilihan Maradona sesuai strategi dan pola yang diinginkan. Pemain terbaik dan bintang Barcelona bertubuh mungil Lionel Messi yang gesit, Carlos Tevez pekerja keras yang tak pernah lelah mengganggu pertahanan lawan, Diego Milito bomber yang sering mencetak gol penentu kemenangan bagi klubnya Inter Milan, Javier Mascherano dan Juan Veron, yang mengatur lapangan tengah, Angel Di Maria gelandang Benfica yang belakangan ini mendapat kepercayaan penuh Maradona.
Dengan sederet pemain bertalenta ini Maradona yakin skuadnya tidak hanya bisa menang atas Nigeria dan lolos ke putaran 16 Besar tapi juga melangkah ke partai puncak dan meraih gelar juara. Selama ini Maradona sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, memberi bekal pada anak buahnya pola main yang variatif.
Jika hubungan Maradona dengan pemainnya sudah memasuki masa harmonis ibarat pasangan pengantin yang menikmati bulan madu, maka hubungan pelatih Lars Lagerback dengan pasukan “super eagle”nya masih tanda tanya. Apakah mungkin dalam waktu singkat satu-dua minggu sudah bisa terjalin hubungan saling mengerti dan respek. Sebagaimana diketahui Lagerback baru dua pekan lalu direkrut Nigeria sebagai pelatih.
Pertanyaan ini menjadi petanda kelemahan tim super eagle. Namun bagaimanapun juga Nigeria tetaplah kekuatan Afrika yang masih diunggulkan lolos ke putaran 16 bersama Argentina. Di bursa tarohan Nigeria diramal bisa mengatasi dua pesaing lain di grup, Korea Selatan dan Yunani. Partai Argentina versus Nigeria bakal seru, jika kedua tim bermain menyerang secara terbuka maka penonton akan disajikan pertandingan kelas dunia yang pasti akan lebih menarik katimbang Uruguay kontra Perancis yang berakhir 0-0 dan membosankan itu. Argentina jika main dalam form terbaiknya akan memenangkan partai ini.
Pertandingan lain di grup B ini Korea Selatan semifinalis 2002 kontra Yunani juara Eropa 2004 berlangsung tiga jam lebih awal di stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth.
Korea Selatan yang membuat lompatan besar kala menjadi tuan rumah dan menerobos sampai semifinal 2002 menyimpan misi dan ambisi besar untuk mengulang sukses 2002. Tim “merah-merah” yang kini dilatih pelatih lokal Huh Jung-Moo akan diperkuat bintang sayap Manchester United, Park Ji Sung, dan legiun asing lainnya, Park Chu-Young (Monaco), Cho Won-Hee (Wigan), Cha Du-Ri (SC Freiburg), dan Lee Chung-Yong (Bolton). Dalam uji-coba “away” mereka sukses mengalahkan Jepang 2-0 dalam pertandingan adu gengsi sesama Asia Timur.
Bagaimana dengan Yunani? Kita masih ingat ketika Yunani diremehkan di Euro 2004 tapi nyatanya sanggup melambung tinggi merebut gelar juara. Kali ini persiapan serius dilakukan Otto Rehhagel, pelatih asal Jerman itu. Dia bertumpu pada 10 pemain klub Panathinaikos yang double winner di liga domestik antaranya Giorgios Seitaridis yang baru pulih dari cidera, dan beberapa legiun asing yang main di klu-klub Eropa antaranya Sotirios Kyrgiakos (Liverpool), Georgios Samaras (Celtic), Vangelis Moras (Bologna), Socrates Papastathopoulos (Genoa).
Partai Korea Selatan versus Yunani ini merupakan pertarungan dua tim yang mengandalkan kebugaran fisik dan semangat tanding ala “speed and power”. Sulit untuk mengira-ngira siapa pemenangnya, tapi yang jelas skuad yang pemainnya lebih siap fisik dan mental akan keluar sebagai pemenang. Meskipun peluang draw lebih besar, tetapi Yunani lebih punya peluang menang katimbang wakil Asia itu. So wait and see. ***
Serial World Cup 2010 (09)
Serial World Cup 2010 (09)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Inggeris dan AS Difavoritkan Di Grup C
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 11 Juni 2010
Manager legendaris Alf Ramsey yang menangani Inggeris 1966 dikenal disiplin dan teguh dalam pendirian. Ketika FA (Federasi Inggeris) dan pers mengeritik Nobby Stiles yang terkenal kasar dan brutal dengan tackling-tacklingnya, mereka memaksa Ramsey mencoret gelandang bertahan itu. Ramsey menantang balik FA, “Nobby keluar, saya keluar!” FA kalah gertak.
Terbukti Ramsey benar, di Piala Dunia 1966 Nobby Stiles menjadi pilar tim sebagai defensive-midfielder. Fabio Capello hampir sama. Diawal langkahnya sebagai manager Inggeris, orang Italia itu dikeritik pers, isunya sama, kontroversi pemanggilan pemain. Tapi Capello bergeming. “Saya tidak melihat nama besar pemain, saya hanya memanggil pemain yang punya skill dengan kondisi prima, dan sesuai keinginan saya.”
Ditangani Capello, tim Inggeris salin rupa. Main dengan percaya diri, disiplin dan setiap pemain fight untuk tim. Kebersamaan ini begitu tingginya sehingga pers pun mengakui eksisnya Inggeris sebagai tim elit yang punya harapan besar meraih gelar dunia 2010. Pasar tarohan dunia menaroh Inggeris dibawah Spanyol dan Brazil sebagai tiga besar yang paling berpeluang juara 2010.
Semua pemain patuh pada Capello sebagaimana kisah dulu kepatuhan Gordon Banks, Charlton brothers Bobby dan Jackie serta Bobby Moore kepada Alf Ramsey ketika Inggeris merebut juara dunia 1966. Tidak ada complain pemain terhadap Capello yang ditangkap publik. Mereka respek kepada Dob Capello. Diskusi, complain dan usulan hanya dalam internal-meeting, tidak untuk konsumsi orang luar. Pemain tahu persis, siapapun yang tidak disiplin dan mengganggu stabilitas tim akan ditendang keluar. Itulah style Capello. Dengan style Capello inilah Inggeris menjuarai grupnya di kualifikasi zone Eropa.
Seperti halnya tim lain, persoalan cideranya pemain inti sangat mengganggu pikiran sang Pelatih. Saat ini Capello sedang menyusun rencana alternatif jika Gareth Barry tidak bisa fit pada waktunya. Posisi penyeimbang tim, yang berada diantara bek empat dan lini tengah, sangat krusial dalam sepakbola modern. Bagi Capello posisi itu hanya bisa ditempati dengan layak dan penuh style oleh Owen Hargreaves dan Gareth Barry. Owen sudah jelas harus absen, sejak 19 bulan lalu menjalani terapi cideranya. Dan Gareth masih dalam tandatanya, dia tetap menjalani terapi atas cidera ankle di klubnya Manchester City dan tidak ikut dalam kamp latihan. Capello tidak membatasi waktu pemulihan bagi gelandang City itu mengingat pentingnya dia bagi tim.
Dia bahkan membujuk Paul Scholes untuk mempertimbangkan kembali retirementnya, dan kembali memperkuat tim. Belum ada jawaban dan kepastian. Begitu juga pengumuman FA tentang cideranya Gareth Barry. Penampilan tim ketika menekuk Mexico 3-1 dan Jepang 2-1 belum memuaskan Capello. Dia melakukan beberapa percobaan khususnya untuk melihat kualitas pemain pada posisi yang dia inginkan. Tidak puas, namun dia semakin punya gambaran pemain inti dan penggantinya dalam skuad 23 yang akan didaftar ke FIFA awal Juni.
Capello tetap dengan pola bakunya 4-4-2 dengan beberapa variasi yang disesuaikan lawan. Sampai hari terakhir pendaftaran 23 nama sudah dalam kantongnya namun belum diumumkan. Para pemain yang sudah hampir pasti masuk skuad juga menunggu dengan tegang seperti John Terry, Frank Lampard, Steven Gerrard, Wayne Rooney, Ashley Cole serta tiga kiper Joe Hart, David James, Robert Green dan kapten Rio Ferdinand. Termasuk tiga pemain yang mencetak gol ke gawang Mexico, Ledley King, Peter Crouch dan Glen Johnson.
Publik pun menunggu dengan was-was. Ditambah lagi dengan analisa dan ramalan para komentator dan pers Inggeris yang terkenal tajam dan pedas, semakin membuat skuad Inggeris tegang menunggu pengumuman Capello.
Inggeris bergabung di grup yang tidak terlalu sulit bersama USA, Aljazair dan Slovenia. Dari tiga rival ini yang paling harus diwaspadai adalah USA. Tim polesan pelatih Bob Bradley ini nyaris mengejutkan dunia ketika unggul 2-0 atas Brazil di final Piala Konfederasi 2009 sebelum Brazil merebut gelar itu dengan tiga gol balasan. Penampilan hebat USA itu menjadi peringatan bagi Inggris. Jika ramalan tepat dan dua tim ini yang lolos maka siapa juara grup sangatlah penting, karena tim runnerup akan ketemu juara grup D yang kemungkinan besar adalah Jerman di babak knockout 16 besar.
Pelatih Bob Bradley membawa kiper dari premier league dengan Tim Howard (Everton) sebagai andalan, bintang lainnya Oguchi Onyewu (AC Milan), Michael Bradley (Borussia Monchengladbach), Clint Dempsey (Fulham), Landon Donovan (Los Angeles Galaxy) dan Jozy Altidore (Villarreal). Tim ini telah berkembang maju dibanding tahun 2009. Jadi hati-hatilah menghadapi tim yang semangat dan kekompakan menjadi basis permainan.
Aljazair suatu tim kejutan. Tampil sebagai semifinalis Piala Afrika 2010, skuad asuhan Rabah Saadane ini lolos ke 2010 dengan menyisihkan favorit kuat juara Afrika Mesir dalam laga yang diwarnai kerusuhan antar supproter yyang nyaris merenggangkan hubungan kedua negara. Dalam usia 64 tahun, Saadane membawa skuad “Les Fennecs – the desert foxes atau serigala gurun- menjadi kekuatan yang penuh teka teki. Bisa main macam serigala lapar, tapi bisa juga macam anak serigala yang kehilangan induk. Sehebat apa pun Aljazair, orang tetap saja menyayangkan bukan Mesir yang tampil di 2010 melihat penampilan Mesir begitu menawan di Piala Confederasi 2009 kemarin.
Bek tengah Glasgow Rangers Madjid Boughera percaya timnya akan lolos ke babak knock-out 16 besar meskipun pasar tarohan dan penggila bola menempatkan Les Fennecs di urutan buncit untuk lolos. Bahkan disebut-sebut Aljazair yang paling lemah di grup ini, orang hampir yakin Inggeris dan USA yang akan lolos.
“Semua tim punya peluang lolos, termasuk tim underdog kami,” komentar Saadane sang pelatih yang mendapat pujian tinggi telah membawa negaranya kembali ke panggung dunia setelah 24 tahun lalu. Salah seorang “serigala gurun” yang diandalkan Saadane adalah Amri Chadli yang baru saja teken kontrak dengan klub bundesliga, Kaiserslautern untuk musim ini.
Slovenia kedua kalinya maju ke Piala Dunia, setelah membuat debut di 2002. Tim ini mulai berkembang pesat di tangan pelatih Matjaz Kek yang menggantikan Srecko Katanec tiga tahun lalu. Pemain yang paling diandalkan Zlatko Zahovic. Tim dari negara berpenduduk dua juta jiwa ini lolos ke 2010 dengan mengatasi persaingan Russia, tim besar dengan pelatih besar Guus Hiddink serta Republik Ceko.
Tim ini sangat kompak dan bermain dalam team-work yang padu dan seimbang antara bertahan dan menyerang dipimpin kapten gelandang Robert Koren. Adalah kejutan besar ketika Matjaz Kek yang datang dari klub lokal Maribor dan tak dikenal di pentas internasional sukses meramu tim ini menjadi kekuatan yang bisa mengejutkan. Dia membawa generasi baru dalam timnya dengan beberapa pilar andalan, kiper Samir Handanovic dan striker klub Cologne, Milivoje Novakovic. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Inggeris dan AS Difavoritkan Di Grup C
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 11 Juni 2010
Manager legendaris Alf Ramsey yang menangani Inggeris 1966 dikenal disiplin dan teguh dalam pendirian. Ketika FA (Federasi Inggeris) dan pers mengeritik Nobby Stiles yang terkenal kasar dan brutal dengan tackling-tacklingnya, mereka memaksa Ramsey mencoret gelandang bertahan itu. Ramsey menantang balik FA, “Nobby keluar, saya keluar!” FA kalah gertak.
Terbukti Ramsey benar, di Piala Dunia 1966 Nobby Stiles menjadi pilar tim sebagai defensive-midfielder. Fabio Capello hampir sama. Diawal langkahnya sebagai manager Inggeris, orang Italia itu dikeritik pers, isunya sama, kontroversi pemanggilan pemain. Tapi Capello bergeming. “Saya tidak melihat nama besar pemain, saya hanya memanggil pemain yang punya skill dengan kondisi prima, dan sesuai keinginan saya.”
Ditangani Capello, tim Inggeris salin rupa. Main dengan percaya diri, disiplin dan setiap pemain fight untuk tim. Kebersamaan ini begitu tingginya sehingga pers pun mengakui eksisnya Inggeris sebagai tim elit yang punya harapan besar meraih gelar dunia 2010. Pasar tarohan dunia menaroh Inggeris dibawah Spanyol dan Brazil sebagai tiga besar yang paling berpeluang juara 2010.
Semua pemain patuh pada Capello sebagaimana kisah dulu kepatuhan Gordon Banks, Charlton brothers Bobby dan Jackie serta Bobby Moore kepada Alf Ramsey ketika Inggeris merebut juara dunia 1966. Tidak ada complain pemain terhadap Capello yang ditangkap publik. Mereka respek kepada Dob Capello. Diskusi, complain dan usulan hanya dalam internal-meeting, tidak untuk konsumsi orang luar. Pemain tahu persis, siapapun yang tidak disiplin dan mengganggu stabilitas tim akan ditendang keluar. Itulah style Capello. Dengan style Capello inilah Inggeris menjuarai grupnya di kualifikasi zone Eropa.
Seperti halnya tim lain, persoalan cideranya pemain inti sangat mengganggu pikiran sang Pelatih. Saat ini Capello sedang menyusun rencana alternatif jika Gareth Barry tidak bisa fit pada waktunya. Posisi penyeimbang tim, yang berada diantara bek empat dan lini tengah, sangat krusial dalam sepakbola modern. Bagi Capello posisi itu hanya bisa ditempati dengan layak dan penuh style oleh Owen Hargreaves dan Gareth Barry. Owen sudah jelas harus absen, sejak 19 bulan lalu menjalani terapi cideranya. Dan Gareth masih dalam tandatanya, dia tetap menjalani terapi atas cidera ankle di klubnya Manchester City dan tidak ikut dalam kamp latihan. Capello tidak membatasi waktu pemulihan bagi gelandang City itu mengingat pentingnya dia bagi tim.
Dia bahkan membujuk Paul Scholes untuk mempertimbangkan kembali retirementnya, dan kembali memperkuat tim. Belum ada jawaban dan kepastian. Begitu juga pengumuman FA tentang cideranya Gareth Barry. Penampilan tim ketika menekuk Mexico 3-1 dan Jepang 2-1 belum memuaskan Capello. Dia melakukan beberapa percobaan khususnya untuk melihat kualitas pemain pada posisi yang dia inginkan. Tidak puas, namun dia semakin punya gambaran pemain inti dan penggantinya dalam skuad 23 yang akan didaftar ke FIFA awal Juni.
Capello tetap dengan pola bakunya 4-4-2 dengan beberapa variasi yang disesuaikan lawan. Sampai hari terakhir pendaftaran 23 nama sudah dalam kantongnya namun belum diumumkan. Para pemain yang sudah hampir pasti masuk skuad juga menunggu dengan tegang seperti John Terry, Frank Lampard, Steven Gerrard, Wayne Rooney, Ashley Cole serta tiga kiper Joe Hart, David James, Robert Green dan kapten Rio Ferdinand. Termasuk tiga pemain yang mencetak gol ke gawang Mexico, Ledley King, Peter Crouch dan Glen Johnson.
Publik pun menunggu dengan was-was. Ditambah lagi dengan analisa dan ramalan para komentator dan pers Inggeris yang terkenal tajam dan pedas, semakin membuat skuad Inggeris tegang menunggu pengumuman Capello.
Inggeris bergabung di grup yang tidak terlalu sulit bersama USA, Aljazair dan Slovenia. Dari tiga rival ini yang paling harus diwaspadai adalah USA. Tim polesan pelatih Bob Bradley ini nyaris mengejutkan dunia ketika unggul 2-0 atas Brazil di final Piala Konfederasi 2009 sebelum Brazil merebut gelar itu dengan tiga gol balasan. Penampilan hebat USA itu menjadi peringatan bagi Inggris. Jika ramalan tepat dan dua tim ini yang lolos maka siapa juara grup sangatlah penting, karena tim runnerup akan ketemu juara grup D yang kemungkinan besar adalah Jerman di babak knockout 16 besar.
Pelatih Bob Bradley membawa kiper dari premier league dengan Tim Howard (Everton) sebagai andalan, bintang lainnya Oguchi Onyewu (AC Milan), Michael Bradley (Borussia Monchengladbach), Clint Dempsey (Fulham), Landon Donovan (Los Angeles Galaxy) dan Jozy Altidore (Villarreal). Tim ini telah berkembang maju dibanding tahun 2009. Jadi hati-hatilah menghadapi tim yang semangat dan kekompakan menjadi basis permainan.
Aljazair suatu tim kejutan. Tampil sebagai semifinalis Piala Afrika 2010, skuad asuhan Rabah Saadane ini lolos ke 2010 dengan menyisihkan favorit kuat juara Afrika Mesir dalam laga yang diwarnai kerusuhan antar supproter yyang nyaris merenggangkan hubungan kedua negara. Dalam usia 64 tahun, Saadane membawa skuad “Les Fennecs – the desert foxes atau serigala gurun- menjadi kekuatan yang penuh teka teki. Bisa main macam serigala lapar, tapi bisa juga macam anak serigala yang kehilangan induk. Sehebat apa pun Aljazair, orang tetap saja menyayangkan bukan Mesir yang tampil di 2010 melihat penampilan Mesir begitu menawan di Piala Confederasi 2009 kemarin.
Bek tengah Glasgow Rangers Madjid Boughera percaya timnya akan lolos ke babak knock-out 16 besar meskipun pasar tarohan dan penggila bola menempatkan Les Fennecs di urutan buncit untuk lolos. Bahkan disebut-sebut Aljazair yang paling lemah di grup ini, orang hampir yakin Inggeris dan USA yang akan lolos.
“Semua tim punya peluang lolos, termasuk tim underdog kami,” komentar Saadane sang pelatih yang mendapat pujian tinggi telah membawa negaranya kembali ke panggung dunia setelah 24 tahun lalu. Salah seorang “serigala gurun” yang diandalkan Saadane adalah Amri Chadli yang baru saja teken kontrak dengan klub bundesliga, Kaiserslautern untuk musim ini.
Slovenia kedua kalinya maju ke Piala Dunia, setelah membuat debut di 2002. Tim ini mulai berkembang pesat di tangan pelatih Matjaz Kek yang menggantikan Srecko Katanec tiga tahun lalu. Pemain yang paling diandalkan Zlatko Zahovic. Tim dari negara berpenduduk dua juta jiwa ini lolos ke 2010 dengan mengatasi persaingan Russia, tim besar dengan pelatih besar Guus Hiddink serta Republik Ceko.
Tim ini sangat kompak dan bermain dalam team-work yang padu dan seimbang antara bertahan dan menyerang dipimpin kapten gelandang Robert Koren. Adalah kejutan besar ketika Matjaz Kek yang datang dari klub lokal Maribor dan tak dikenal di pentas internasional sukses meramu tim ini menjadi kekuatan yang bisa mengejutkan. Dia membawa generasi baru dalam timnya dengan beberapa pilar andalan, kiper Samir Handanovic dan striker klub Cologne, Milivoje Novakovic. ***
Serial World Cup 2010/Piala Dunia 2010
Serial World Cup 2010 (08)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Partai Pembukaan Yang Keras
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 11 Juni 2010
Dua pagelaran Piala Dunia yang terakhir 2002 dan 2006 tim tuan rumah gagal menjadi juara. Mungkin bisa dimengerti jika Korea dan Jepang gagal juara, tetapi Jerman di kandang sendiri tahun 2006 harus menggigit jari, itulah suatu bukti tidak semua tuan rumah bisa sukses juara. Atmosfir home-tournament ini berbeda dengan kompetisi home and away, meskipun sama-sama main di depan publik pendukungnya.
Sepanjang 18 kali penyelenggaraan hanya 6 negara yang sukses juara, Uruguay 1930, Italia 1934, Inggeris 1966, Jerman Barat (sekarang Jerman) 1974, Argentina 1978 dan Perancis 1998. Maka tidak perlu heran jika bursa tarohan mengunggulkan Spanyol Brazil Inggeris Argentina jauh diatas tuan rumah Afrika Selatan.
Tandatanya dan keinginantahu publik terhadap sepakterjang tim Bafana Afsel yang ditukangi pelatih kondang Brazil Carlos Alberto Parreira, akan terjawab pada partai pembukaan 2010 di Soccer City, Johannesburg 11 Juni jam 21.00 malam ini. Fans pecinta bafana-bafana akan memadati stadion mendukung timnya menghadapi Mexico.
Head to head dalam 3 pertemuan selama ini Mexico menang 2 kali dan kalah 1 kali dengan Mexico mencetak 9 gol kebobolan 4. Statistik ini tidak bicara banyak di lapangan, skuad Parreira sudah siap tanding, tanggal 31 Mei kemarin menang 5-0 atas tetangga Mexico, Guatemala. Hasil ini membuat Parreira makin yakin akan kekuatan skuadnya.
Tetapi Mexico juga tidak kalah garang. Mereka juga sudah siap tanding, dalam ujicoba jajal karakter Afrika, mereka menang dengan skor sama 1-0 atas Angola dan Senegal. Pelatih Mexico Javier Aguirre sudah siapkan permainan pressure dan serangan cepat yang khas Mexico.
Tim Afrika Selatan tidak punya tradisi kuat, pengalaman dua kali hadir di Piala Dunia 1998 dan 2002, hasilnya pun buruk tersisih di putaran pertama. Main 6 kali, menang sekali, 3 draw dan 2 kalah, mencetak 8 gol, kebobolan 11.
Mexico sudah naik pentas 13 kali, sejak 1994 tak pernah absen, memainkan 41 pertandingan, dengan 10 menang, 11 draw dan 20 kalah, memasukkan 43 gol kebobolan 79. Sebagian pemain masih belum melupakan atmosfir persaingan di Jerman 2006, bergabung di grup D bersama Iran, Angola dan Portugal. Lolos ke 16 Besar, kalah 1-2 dalam perpanjangan waktu dari Argentina.
Sudah jelas dalam tradisi dan pengalaman Piala Dunia, Mexico masih lebih beruntung. Tetapi dukungan fans tuan rumah akan menjadi keuntungan tersendiri bagi bafana-bafana yang sering kali menjadi kartu as kemenangan suatu tim.
Selain itu ada semangat dalam skuad Parreira ini. Tahun 1996 ketika menjadi tuan rumah Piala Afrika, mereka juara, itu satu-satunya gelar internasionalnya. Tetapi itu prestasi 14 tahun silam. Dan semua lawannya adalah sesama tim benua Afrika. Jadi tak bisa jadi ukuran.
Yang bisa jadi ukuran, yakni prestasi terakhir di Piala Confederasi 2009 sebagai tuan rumah mereka tampil memukau, melaju sampai semifinal dan kalah 0-1 dari Brazil. Dalam perebutan peringkat tiga juga dikalahkan Spanyol 2-3. Hanya kalah tipis dari Spanyol juara Eropa 2008 dan Brazil juara dunia lima kali, tidak memalukan. Fans bafana-bafana tidak kecewa.
Pertandingan pembukaan ini sangat krusial bagi kedua tim. Hasil draw akan mempersulit peluang mengingat dua rival Perancis dan Uruguay, siap mengancam. Suatu kemenangan bagi Mexico atau pun Afsel sama artinya dengan lima puluh persen peluang lolos. Diperkirakan kedua tim akan ngotot untuk menang, maka partai ini akan berlangsung keras.
Carlos Parreira yang membawa Brazil juara di USA 1994 penganut sepakbola menyerang. Tampaknya skuad Afsel pun bergaya menyerang dengan bola-bola bawah. Itulah kekuatan Bafana. Dukungan penonton yang mungkin full-house akan melecut semangat dan spirit Bafana untuk bermain cepat dan menyerang. Pemain yang jadi andalan Aaron Mokoena (Portsmouth), Kagisho Dikgacoi (Fulham), Steven Pienaar (Everton), Bernard Parker (FC Twente Belanda) dan MacBeth Sibaya (Rubin Kazan). Sayang pilar utama Benny McCarthy (West Ham) tidak masuk team lantaran masih cidera.
Mexico akan mewaspadai tekanan dan teror penonton yang pasti memengaruhi keberpihakan wasit pada tuan rumah. Jika pelatih Javier Aguirre yang selama ini berhasil merebut respek pemainnya, bisa menerapkan strategi jitu, bukan tidak mungkin Mexico mempersulit Afsel.
Sekarang ini Mexico makin percaya diri ketika bisa menumbangkan Italia 2-1 di ujicoba Brussels pekan silam. Memiliki lini belakang dengan komandan Rafael Marquez pemain yang sarat pengalaman di liga Eropa melalui klub Barcelona. Duo PSV Eindhoven Carlos Salcido dan Francisco Rodriquez serta Hector Moreno dari AZ Alkmaar. Ciri main pressure kepada lawan untuk menutup pertahanan dan serangan balik cepat akan dipraktekkan Marquez Cs.
Keuntungan Bafana yang main di Johannesburg ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut tidak banyak pengaruh pada Mexico yang juga terbiasa main di dataran yang oksigennya tipis. Peluang Bafana menang sangat tipis, presentase hasil draw lebih besar.
Partai kedua cenderung lebih menarik dibanding partai pembukaan, laga antara dua tim juara, Uruguay juara masa lalu kontra Perancis juara dunia 1998 di Cape Town. Uniknya dua tim sama terseok-seok untuk lolos kualifikasi ke 2010. Uruguay harus menjalani play-off lawan Kosta Rika, sementara Perancis juga menang play-off namun lewat gol kontroversial William Gallas dari umpan “double handball”nya Thierry Henry. Tapi bagaimanapun juga kedua sudah masuk di 2010 dan bisa menjadi ancaman bagi tim mana pun.
Pelatih Perancis Raymond Domenech sudah terbiasa jadi bulan-bulan kritik tapi tetap bekerja keras yang justru mendapat dukungan pemain. Tidak kurang dari Patrick Viera yang tidak dipanggil Domenech tapi justru mendukung sang pelatih dan percaya akan membawa Perancis ke final. Les Blues memiliki banyak pemain besar dengan kualitas tinggi serta kemampuan mengubah permainan. Franck Ribery adalah pemain kunci, sedang Thierry Henry satu-satunya yang masih tersisa dari skuad juara dunia 1998 lalu masih akan berperan besar. Dua pemain ini menjadi inspirasi bagi timnya sebagaimana Zinedine Zidane bagi Les Blues.
Les Blues yang menyerang akan berhadapan dengan tim yang sangat kuat dalam pertahanan, Uruguay yang dijuluki La Celeste akan dimotori Diego Forlan, penyerang yang sanggup bekerja keras dari bawah dan menggerakan timnya. Forlan adalah bagian dari semangat tanding pantang menyerah Garra Charrua khas Uruguay. Terkadang semangat Garra Charrua diterjemahkan menjadi permainan keras yang merangsang wasit mengeluarkan kartu kuning.
Permainan menyerang Perancis, cepat dan haus gol akan berhadapan dengan Garra Charrua yang fanatik dalam bertahan. Domenech mengincar kemenangan, Oscar Tabarez mengincar hasil draw. Tapi Perancis lebih berpeluang menang katimbang draw.
***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Partai Pembukaan Yang Keras
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 11 Juni 2010
Dua pagelaran Piala Dunia yang terakhir 2002 dan 2006 tim tuan rumah gagal menjadi juara. Mungkin bisa dimengerti jika Korea dan Jepang gagal juara, tetapi Jerman di kandang sendiri tahun 2006 harus menggigit jari, itulah suatu bukti tidak semua tuan rumah bisa sukses juara. Atmosfir home-tournament ini berbeda dengan kompetisi home and away, meskipun sama-sama main di depan publik pendukungnya.
Sepanjang 18 kali penyelenggaraan hanya 6 negara yang sukses juara, Uruguay 1930, Italia 1934, Inggeris 1966, Jerman Barat (sekarang Jerman) 1974, Argentina 1978 dan Perancis 1998. Maka tidak perlu heran jika bursa tarohan mengunggulkan Spanyol Brazil Inggeris Argentina jauh diatas tuan rumah Afrika Selatan.
Tandatanya dan keinginantahu publik terhadap sepakterjang tim Bafana Afsel yang ditukangi pelatih kondang Brazil Carlos Alberto Parreira, akan terjawab pada partai pembukaan 2010 di Soccer City, Johannesburg 11 Juni jam 21.00 malam ini. Fans pecinta bafana-bafana akan memadati stadion mendukung timnya menghadapi Mexico.
Head to head dalam 3 pertemuan selama ini Mexico menang 2 kali dan kalah 1 kali dengan Mexico mencetak 9 gol kebobolan 4. Statistik ini tidak bicara banyak di lapangan, skuad Parreira sudah siap tanding, tanggal 31 Mei kemarin menang 5-0 atas tetangga Mexico, Guatemala. Hasil ini membuat Parreira makin yakin akan kekuatan skuadnya.
Tetapi Mexico juga tidak kalah garang. Mereka juga sudah siap tanding, dalam ujicoba jajal karakter Afrika, mereka menang dengan skor sama 1-0 atas Angola dan Senegal. Pelatih Mexico Javier Aguirre sudah siapkan permainan pressure dan serangan cepat yang khas Mexico.
Tim Afrika Selatan tidak punya tradisi kuat, pengalaman dua kali hadir di Piala Dunia 1998 dan 2002, hasilnya pun buruk tersisih di putaran pertama. Main 6 kali, menang sekali, 3 draw dan 2 kalah, mencetak 8 gol, kebobolan 11.
Mexico sudah naik pentas 13 kali, sejak 1994 tak pernah absen, memainkan 41 pertandingan, dengan 10 menang, 11 draw dan 20 kalah, memasukkan 43 gol kebobolan 79. Sebagian pemain masih belum melupakan atmosfir persaingan di Jerman 2006, bergabung di grup D bersama Iran, Angola dan Portugal. Lolos ke 16 Besar, kalah 1-2 dalam perpanjangan waktu dari Argentina.
Sudah jelas dalam tradisi dan pengalaman Piala Dunia, Mexico masih lebih beruntung. Tetapi dukungan fans tuan rumah akan menjadi keuntungan tersendiri bagi bafana-bafana yang sering kali menjadi kartu as kemenangan suatu tim.
Selain itu ada semangat dalam skuad Parreira ini. Tahun 1996 ketika menjadi tuan rumah Piala Afrika, mereka juara, itu satu-satunya gelar internasionalnya. Tetapi itu prestasi 14 tahun silam. Dan semua lawannya adalah sesama tim benua Afrika. Jadi tak bisa jadi ukuran.
Yang bisa jadi ukuran, yakni prestasi terakhir di Piala Confederasi 2009 sebagai tuan rumah mereka tampil memukau, melaju sampai semifinal dan kalah 0-1 dari Brazil. Dalam perebutan peringkat tiga juga dikalahkan Spanyol 2-3. Hanya kalah tipis dari Spanyol juara Eropa 2008 dan Brazil juara dunia lima kali, tidak memalukan. Fans bafana-bafana tidak kecewa.
Pertandingan pembukaan ini sangat krusial bagi kedua tim. Hasil draw akan mempersulit peluang mengingat dua rival Perancis dan Uruguay, siap mengancam. Suatu kemenangan bagi Mexico atau pun Afsel sama artinya dengan lima puluh persen peluang lolos. Diperkirakan kedua tim akan ngotot untuk menang, maka partai ini akan berlangsung keras.
Carlos Parreira yang membawa Brazil juara di USA 1994 penganut sepakbola menyerang. Tampaknya skuad Afsel pun bergaya menyerang dengan bola-bola bawah. Itulah kekuatan Bafana. Dukungan penonton yang mungkin full-house akan melecut semangat dan spirit Bafana untuk bermain cepat dan menyerang. Pemain yang jadi andalan Aaron Mokoena (Portsmouth), Kagisho Dikgacoi (Fulham), Steven Pienaar (Everton), Bernard Parker (FC Twente Belanda) dan MacBeth Sibaya (Rubin Kazan). Sayang pilar utama Benny McCarthy (West Ham) tidak masuk team lantaran masih cidera.
Mexico akan mewaspadai tekanan dan teror penonton yang pasti memengaruhi keberpihakan wasit pada tuan rumah. Jika pelatih Javier Aguirre yang selama ini berhasil merebut respek pemainnya, bisa menerapkan strategi jitu, bukan tidak mungkin Mexico mempersulit Afsel.
Sekarang ini Mexico makin percaya diri ketika bisa menumbangkan Italia 2-1 di ujicoba Brussels pekan silam. Memiliki lini belakang dengan komandan Rafael Marquez pemain yang sarat pengalaman di liga Eropa melalui klub Barcelona. Duo PSV Eindhoven Carlos Salcido dan Francisco Rodriquez serta Hector Moreno dari AZ Alkmaar. Ciri main pressure kepada lawan untuk menutup pertahanan dan serangan balik cepat akan dipraktekkan Marquez Cs.
Keuntungan Bafana yang main di Johannesburg ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut tidak banyak pengaruh pada Mexico yang juga terbiasa main di dataran yang oksigennya tipis. Peluang Bafana menang sangat tipis, presentase hasil draw lebih besar.
Partai kedua cenderung lebih menarik dibanding partai pembukaan, laga antara dua tim juara, Uruguay juara masa lalu kontra Perancis juara dunia 1998 di Cape Town. Uniknya dua tim sama terseok-seok untuk lolos kualifikasi ke 2010. Uruguay harus menjalani play-off lawan Kosta Rika, sementara Perancis juga menang play-off namun lewat gol kontroversial William Gallas dari umpan “double handball”nya Thierry Henry. Tapi bagaimanapun juga kedua sudah masuk di 2010 dan bisa menjadi ancaman bagi tim mana pun.
Pelatih Perancis Raymond Domenech sudah terbiasa jadi bulan-bulan kritik tapi tetap bekerja keras yang justru mendapat dukungan pemain. Tidak kurang dari Patrick Viera yang tidak dipanggil Domenech tapi justru mendukung sang pelatih dan percaya akan membawa Perancis ke final. Les Blues memiliki banyak pemain besar dengan kualitas tinggi serta kemampuan mengubah permainan. Franck Ribery adalah pemain kunci, sedang Thierry Henry satu-satunya yang masih tersisa dari skuad juara dunia 1998 lalu masih akan berperan besar. Dua pemain ini menjadi inspirasi bagi timnya sebagaimana Zinedine Zidane bagi Les Blues.
Les Blues yang menyerang akan berhadapan dengan tim yang sangat kuat dalam pertahanan, Uruguay yang dijuluki La Celeste akan dimotori Diego Forlan, penyerang yang sanggup bekerja keras dari bawah dan menggerakan timnya. Forlan adalah bagian dari semangat tanding pantang menyerah Garra Charrua khas Uruguay. Terkadang semangat Garra Charrua diterjemahkan menjadi permainan keras yang merangsang wasit mengeluarkan kartu kuning.
Permainan menyerang Perancis, cepat dan haus gol akan berhadapan dengan Garra Charrua yang fanatik dalam bertahan. Domenech mengincar kemenangan, Oscar Tabarez mengincar hasil draw. Tapi Perancis lebih berpeluang menang katimbang draw.
***
Serial Piala Dunia 2010 (07)
Serial World Cup 2010 (07)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Belanda Hanya Perlu Keberuntungan
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 9 Juni 2010
Pesta bola 2010 kali ini lengkap dihadiri 7 juara dunia. Perancis dan Uruguay bergabung dengan favorit tuan rumah Afrika Selatan. Lima lainnya, Argentina, Inggeris, Jerman, Italia dan Brazil, disebar di 5 grup. Masih sisa dua unggulan di dua grup, posisi ini diberikan kepada Belanda dan Spanyol. Keputusan FIFA terbukti tepat. Beberapa waktu kemudian pasar tarohan menempatkan urutan Spanyol diatas Brazil, Inggeris dan Argentina. Posisi Belanda (5) ditempatkan diatas Italia (6), Jerman (7) dan Perancis (8).
Prestasi paling membanggakan Belanda adalah runner-up 1974 dan 1978 ketika skuad Oranye memperkenalkan pola attacking-football yang kemudian menyebar ke pelosok dunia. Mereka tidak beruntung karena kalah dari tim tuan rumah (Argentina dan Jerman Barat) dalam suasana dibawah tekanan dan teror penonton fanatik tuan rumah. Setelah itu Belanda harus absen 3 kali (1982, 1986 dan 2002) dengan prestasi tertinggi adalah semifinalis tahun 1998. Kini mereka datang dengan ambisi merebut gelar dunia.
Dalam uji-coba kemarin, pola menyerang Belanda menaklukkan Mexico 2-1, menghancurkan Ghana 4-1 dan Hongaria 6-1 suatu peringatan pada semua rivalnya bahwa attacking football Belanda datang lagi. Pelatih Bert van Marwijk tadinya diragukan publik, telah memperlihatkan hasil, 18 match tanpa kalah baik di kualifikasi maupun friendly-match. Delapan antaranya kemenangan “full-house” di grup 9 dimana Norwegia dan Skotlandia tak berdaya membendung. Mencetak 17 gol dan hanya kebobolan dua gol oleh Eslandia dan Macedonia.
Marwijk mulai menangani timnya setelah penampilan buruk Oranye di Euro 2008, mengambil alih dari Marco van Basten. Selama ini sejarah tradisi Belanda hanya meraih satu gelar besar juara Euro 1988. Pers Belanda maupun KNVB punya obsesi perubahan tim Belanda dari imej miring. Bahwa Oranye selalu tampak hebat dan dahsyat tapi sebenarnya mental tim sangat meragukan kalau tidak bisa dikatakan agak rapuh. Dalam diri Marwijk orang-orang Belanda berharap skuadnya bisa menghapus jejak langkah yang sering tidak beruntung, gagal karena mental yang rapuh.
Marwijk membawa klub Feyenoord juara UEFA Cup 2002, melatih Borussia Dortmund dan kembali ke Feyenoord mengantarnya ke juara liga Belanda. Dia ramah, kalem dan akrab dengan pemainnya. Dia berlatih bersama pemain, bergaul campur dengan senda gurau untuk mengenal pemainnya lebih dekat. Pendekatannya berbeda dengan pendahulunya Marco van Basten tetapi gaya dan pola mainnya hampir sama. Para pemain sudah terbiasa dengan pola Basten 4-2-3-1 jadi Marwijk tetap memainkan pola itu. Dibantu dua asisten Phillip Cocu dan Frank de Boer, dua mantan bintang Oranye yang punya nama besar dan wibawa di kalangan pemain. Di lapangan dia menaruh kepercayaan besar pada menantunya Mark van Bommel (Bayern Munich) yang main di midfield dengan kapten Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord).
Oranye tidak diperkuat dua sperstar yang sudah veteran Edwin van der Saar dan Ruud van Nistelrooy, dan Marwijk berharap pada generasi baru, Arjen Robben, Joris Mathijsen, Andre Ooijer, Dirk Kuyt, Mark van Bommel, Klaas-Jan Huntelaar dan Giovanni van Bronckhorst, yang pernah dalam tim van Basten, begitu juga Rafael van der Vaart, Robin van Persie, Nigel De Jong dan Wesley Sneijder.
Adalah eks bintang Oranye Wim Kieft, pemain seangkatan van Basten, Rijkaard, Gullit yang tidak bersinar di skuad Oranye karena kalah bersaing. Komentarnya cukup menarik.
“Kita belum pernah juara, satu kali pun. Mengapa harus sekarang? Cruyff, Neeskens, Van Hanegem tak bisa juara. Tidak juga Van Basten, Gullit, Rijkaard. Begitupun Seedorf, De Boer, Cocu, Davids, Kluivert. Apakah kita berpikir memiliki pemain terbaik dunia sekarang? Ayolah realistis, masih ada tim lain dengan pemain terbaik Torres, Xavi, Iniesta, Villa? Pernah dengar namanya? Atau Messi dan Tevez? Rooney, Gerrard, Lampard?”
Dia menutup komentarnya dengan harapan besar. “Kalau mereka (skuad Oranye) bisa kerjasama dan membuang ego masing-masing, maka mereka punya peluang! Jikalau tidak, kita akan melihat keretakan internal, saling menyalahkan. Saya senang mendengar para pemain punya tekad besar untuk bekerjasama, membuat saya tidak sabar menanti aksi mereka, Rafael, Wesley, Robin (van Persie) dan Arjen akan tarung merebut bola dari kaki lawan.”
Belanda harus mewaspadai Denmark pada laga perdana 14 Juni di Soccer City, Johannesburg yang di kualifikasi bisa mengatasi Portugal, Swedia dan Hongaria. Dalam head to head Belanda masih unggul, namun apa pun bisa dilakukan Denmark yang dijuluki “dinamit”.
Pemain muda Arsenal Nicklas Bendtner, Jon Dahl Tomasson, Dennis Rommedahl adalah pilar Denmark. Mereka ingin membuat kejutan sebagaimana kejadian masa lalu di Piala Dunia 1986, 1998, 2002 atau ketika mereka tidak diunggulkan namun menjuarai Piala Eropa 1992 di Swedia.
Dalam salah satu uji-coba Christian Poulsen dan Tomas Enevoldsen mencetak gol kemenangan 2-0 atas tim Afrika Senegal di Aalborg Kamis pekan lalu. Inilah bagian dari skema strategi menghadapi Kamerun di partai kedua 20 Juni mendatang.
Jepang dibawah pelatih Takeshi Okada punya target yang mungkin saja terlalu muluk. Selama partisipasi di Piala Dunia Jepang memainkan 10 pertandingan dengan dua menang, dua draw dan 6 kalah, dengan gol 8 minus 14. Prestasi paling besar dicapainya di tahun 2002 ketika menjadi tuan rumah, lolos ke 16 Besar. Kali ini Okada membidik semifinal! Terlalu muluk? Gebrakan pertama akan diuji Kamerun 14 Juni di stadion Free State Bloemfontein.
Raksasa Afrika Kamerun mengejar ketinggalan dan menyamakan 1-1 skor lawan Slovakia dalam friendly di Austria. Itulah gol Enoh Eyong gelandang Ajax menyelamatkan “indomitable lions”dari kekalahan. Partai itu tidak diikuti Samuel Eto’o superstar Inter Milan yang diharapkan pelatih Paul Le Guen menjadi inspirasi tim bersama Benoit Assou-Ekotto (Tottenham Hotspur), Nicolas Nkoulou (Monaco), Alexandre Song (Arsenal) dan Enoh Eyong (Ajax). Kali ini Kamerun ingin memanfaatkan dukungan fans Afrika di bumi Afrika untuk menggapai impian juara. Pasar tarohan menempatkan Belanda sebagai pemuncak grup diikuti Kamerun sebagai dua tim yang lolos. So wait and see.
***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Belanda Hanya Perlu Keberuntungan
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 9 Juni 2010
Pesta bola 2010 kali ini lengkap dihadiri 7 juara dunia. Perancis dan Uruguay bergabung dengan favorit tuan rumah Afrika Selatan. Lima lainnya, Argentina, Inggeris, Jerman, Italia dan Brazil, disebar di 5 grup. Masih sisa dua unggulan di dua grup, posisi ini diberikan kepada Belanda dan Spanyol. Keputusan FIFA terbukti tepat. Beberapa waktu kemudian pasar tarohan menempatkan urutan Spanyol diatas Brazil, Inggeris dan Argentina. Posisi Belanda (5) ditempatkan diatas Italia (6), Jerman (7) dan Perancis (8).
Prestasi paling membanggakan Belanda adalah runner-up 1974 dan 1978 ketika skuad Oranye memperkenalkan pola attacking-football yang kemudian menyebar ke pelosok dunia. Mereka tidak beruntung karena kalah dari tim tuan rumah (Argentina dan Jerman Barat) dalam suasana dibawah tekanan dan teror penonton fanatik tuan rumah. Setelah itu Belanda harus absen 3 kali (1982, 1986 dan 2002) dengan prestasi tertinggi adalah semifinalis tahun 1998. Kini mereka datang dengan ambisi merebut gelar dunia.
Dalam uji-coba kemarin, pola menyerang Belanda menaklukkan Mexico 2-1, menghancurkan Ghana 4-1 dan Hongaria 6-1 suatu peringatan pada semua rivalnya bahwa attacking football Belanda datang lagi. Pelatih Bert van Marwijk tadinya diragukan publik, telah memperlihatkan hasil, 18 match tanpa kalah baik di kualifikasi maupun friendly-match. Delapan antaranya kemenangan “full-house” di grup 9 dimana Norwegia dan Skotlandia tak berdaya membendung. Mencetak 17 gol dan hanya kebobolan dua gol oleh Eslandia dan Macedonia.
Marwijk mulai menangani timnya setelah penampilan buruk Oranye di Euro 2008, mengambil alih dari Marco van Basten. Selama ini sejarah tradisi Belanda hanya meraih satu gelar besar juara Euro 1988. Pers Belanda maupun KNVB punya obsesi perubahan tim Belanda dari imej miring. Bahwa Oranye selalu tampak hebat dan dahsyat tapi sebenarnya mental tim sangat meragukan kalau tidak bisa dikatakan agak rapuh. Dalam diri Marwijk orang-orang Belanda berharap skuadnya bisa menghapus jejak langkah yang sering tidak beruntung, gagal karena mental yang rapuh.
Marwijk membawa klub Feyenoord juara UEFA Cup 2002, melatih Borussia Dortmund dan kembali ke Feyenoord mengantarnya ke juara liga Belanda. Dia ramah, kalem dan akrab dengan pemainnya. Dia berlatih bersama pemain, bergaul campur dengan senda gurau untuk mengenal pemainnya lebih dekat. Pendekatannya berbeda dengan pendahulunya Marco van Basten tetapi gaya dan pola mainnya hampir sama. Para pemain sudah terbiasa dengan pola Basten 4-2-3-1 jadi Marwijk tetap memainkan pola itu. Dibantu dua asisten Phillip Cocu dan Frank de Boer, dua mantan bintang Oranye yang punya nama besar dan wibawa di kalangan pemain. Di lapangan dia menaruh kepercayaan besar pada menantunya Mark van Bommel (Bayern Munich) yang main di midfield dengan kapten Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord).
Oranye tidak diperkuat dua sperstar yang sudah veteran Edwin van der Saar dan Ruud van Nistelrooy, dan Marwijk berharap pada generasi baru, Arjen Robben, Joris Mathijsen, Andre Ooijer, Dirk Kuyt, Mark van Bommel, Klaas-Jan Huntelaar dan Giovanni van Bronckhorst, yang pernah dalam tim van Basten, begitu juga Rafael van der Vaart, Robin van Persie, Nigel De Jong dan Wesley Sneijder.
Adalah eks bintang Oranye Wim Kieft, pemain seangkatan van Basten, Rijkaard, Gullit yang tidak bersinar di skuad Oranye karena kalah bersaing. Komentarnya cukup menarik.
“Kita belum pernah juara, satu kali pun. Mengapa harus sekarang? Cruyff, Neeskens, Van Hanegem tak bisa juara. Tidak juga Van Basten, Gullit, Rijkaard. Begitupun Seedorf, De Boer, Cocu, Davids, Kluivert. Apakah kita berpikir memiliki pemain terbaik dunia sekarang? Ayolah realistis, masih ada tim lain dengan pemain terbaik Torres, Xavi, Iniesta, Villa? Pernah dengar namanya? Atau Messi dan Tevez? Rooney, Gerrard, Lampard?”
Dia menutup komentarnya dengan harapan besar. “Kalau mereka (skuad Oranye) bisa kerjasama dan membuang ego masing-masing, maka mereka punya peluang! Jikalau tidak, kita akan melihat keretakan internal, saling menyalahkan. Saya senang mendengar para pemain punya tekad besar untuk bekerjasama, membuat saya tidak sabar menanti aksi mereka, Rafael, Wesley, Robin (van Persie) dan Arjen akan tarung merebut bola dari kaki lawan.”
Belanda harus mewaspadai Denmark pada laga perdana 14 Juni di Soccer City, Johannesburg yang di kualifikasi bisa mengatasi Portugal, Swedia dan Hongaria. Dalam head to head Belanda masih unggul, namun apa pun bisa dilakukan Denmark yang dijuluki “dinamit”.
Pemain muda Arsenal Nicklas Bendtner, Jon Dahl Tomasson, Dennis Rommedahl adalah pilar Denmark. Mereka ingin membuat kejutan sebagaimana kejadian masa lalu di Piala Dunia 1986, 1998, 2002 atau ketika mereka tidak diunggulkan namun menjuarai Piala Eropa 1992 di Swedia.
Dalam salah satu uji-coba Christian Poulsen dan Tomas Enevoldsen mencetak gol kemenangan 2-0 atas tim Afrika Senegal di Aalborg Kamis pekan lalu. Inilah bagian dari skema strategi menghadapi Kamerun di partai kedua 20 Juni mendatang.
Jepang dibawah pelatih Takeshi Okada punya target yang mungkin saja terlalu muluk. Selama partisipasi di Piala Dunia Jepang memainkan 10 pertandingan dengan dua menang, dua draw dan 6 kalah, dengan gol 8 minus 14. Prestasi paling besar dicapainya di tahun 2002 ketika menjadi tuan rumah, lolos ke 16 Besar. Kali ini Okada membidik semifinal! Terlalu muluk? Gebrakan pertama akan diuji Kamerun 14 Juni di stadion Free State Bloemfontein.
Raksasa Afrika Kamerun mengejar ketinggalan dan menyamakan 1-1 skor lawan Slovakia dalam friendly di Austria. Itulah gol Enoh Eyong gelandang Ajax menyelamatkan “indomitable lions”dari kekalahan. Partai itu tidak diikuti Samuel Eto’o superstar Inter Milan yang diharapkan pelatih Paul Le Guen menjadi inspirasi tim bersama Benoit Assou-Ekotto (Tottenham Hotspur), Nicolas Nkoulou (Monaco), Alexandre Song (Arsenal) dan Enoh Eyong (Ajax). Kali ini Kamerun ingin memanfaatkan dukungan fans Afrika di bumi Afrika untuk menggapai impian juara. Pasar tarohan menempatkan Belanda sebagai pemuncak grup diikuti Kamerun sebagai dua tim yang lolos. So wait and see.
***
Serial World Cup 2010 Piala Dunia 2010 (06)
Serial World Cup 2010 (06)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Lippi Mahir dalam Mendekati Pemain
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 7 & 8 Juni 2010
Sejak Piala Dunia digelar tahun 1930 baru dua negara yang mampu juara dan mempertahankan gelarnya empat tahun kemudian. Italia tahun 1934 dan 1938. Brazil tahun 1958, 1962. Pelatih Italia Vittorio Pozzo tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang mampu mempertahankan gelar atau merebut dua gelar dunia berturutan. Brazil dalam dua Piala Dunia itu ditukangi dua pelatih berbeda, Vicente Feola tahun 1958 dan Aymore Moreira tahun 1962.
Sekarang ini skuad azzurri ditukangi Marcello Lippi yang punya pengalaman segudang di klub-klub besar Italia, Atalanta, Napoli, Juventus, Inter Milan dan Juventus. Highlights karirnya saat mengantar azzurri memenangkan gelar dunia 2006 di Jerman. Di level klub dia menukangi klub Juventus 1994-1999 memenangkan 3 gelar liga dan maju ke final Champion Eropa 3 kali, satu antaranya menyabet gelar juara.
Setelah masa buruk melatih Inter Milan dia kembali ke Juventus dan meraih 2 gelar liga serta finalis Champions 2003. Setelah sukses memenangkan Piala Dunia 2006 dia mundur digantikan Roberto Donadoni. Pelatih muda ini gagal total dan membawa Italia terpuruk di Euro 2008. Lippi dipanggil kembali untuk menyelamatkan pamor azzurri dan membawanya lolos kualifkasi ke Piala Dunia 2010.
Lippi dikenal mahir dalam pendekatan pemain, menanam mental juara dan motivasi tim untuk “fight at all cost”. Dia cerdas dan sangat mahir dalam strategi menyikapi taktik team lawan. Tetapi dia pun tak luput dari kecaman, dibawah asuhannya tim Italia lebih sering bermain dalam tempo lamban dan bertumpu pada pertahanan solid. Dia mengutamakan sistem permainan dan mempekerjakan pemainnya dalam sistem tersebut. Pers Italia dan publik mengeritik pola 4-3-3 mengingat sektor midfieldnya kurang meyakinkan dan kurang bertenaga.
Tetapi Lippi bergeming dan tetap berpegang pada filosofinya, bahwa dalam persaingan sepakbola masa kini, suatu tim bisa menang jika mampu bermain dalam satu tim yang kompak dan terorganisir. Jadi bukan berarti harus merekrut pemain terbaik di negeri, karena bisa terjadi kemungkinan merekrut semua pemain terbaik tetapi tidak menjadikan suatu tim yang terbaik. Seperti mosaik, pelatih harus mengoleksi semua potongan kecil menjadi satu karya yang utuh.
Lippi memuji sukses Inter Milan merebut piala Champions dengan strategi jenius Jose Mourinho yang menaklukkan Bayern Munich 2-0 di final. Inter memperlihatkan kekuatan, kesatuan dan determinasi, sesuatu yang sedang ditanamkan Lippi pada timnya. Dia mengharap kemenangan Inter itu menjadi motivasi dan mendorong tim azzurri di 2010. Sayangnya Lippi tidak merekrut seorangpun dari skuad Mourinho yang memenangkan treble, gelar Copa, Seri A, dan Champions Eropa. Ironis memang.
Ketika Lippi menerima tantangan mengambil alih kursi pelatih dari Donadoni. Misinya jelas, juara dunia lagi. Dia ingin mengubah sejarah bahwa sejak Brazil mempertahankan gelarnya di tahun 1962 tidak ada lagi tim yang mampu meraih gelar beruntun. Untuk mendukung ambisinya pelatih kelahiran Viareggio Italia itu merekrut pemain pilar yang membantunya memenangkan gelar 2006. Sembilan pemain eks skuad 2006 tetap jadi pilihan utama Lippi di 2010. Kiper Gianluigi Buffon, kapten Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Mauro Camoranesi, Daniele De Rossi, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Alberto Gilardino dan Vincenzo Iaquinta.
Lippi melupakan Fabio Grosso, bek kiri yang menghasilkan pinalti penentuan lawan Perancis di final 4 tahun lalu. Dia juga tidak mempertimbangkan Antonio Cassano, bintang Sampdoria bertalenta yang terkenal temperamen, masuk skuadnya. Striker Marco Borriello yang sudah mencetak 14 gol musim ini untuk AC Milan juga dia lupakan. Pada posisi penyerang Lippi memilih Alberto Gilardino, Vincenzo Iaquinta and Giampaolo Pazzini.
Dia juga tidak melirik beberapa bintang yang masih bersinar di kompetisi Seri A antara lain Francesco Totti yang membawa AS Roma sebagai pesaing utama Inter sampai di penghujung musim. Juga terlupa, strike Roma Luca Toni dan bintang tua Juventus Alessandro Del Piero. Pada sisi lain Lippi mempertahankan Mario Camoranesi yang masih bergelut dengan cidera lutut. Dia yakin pada staff Penanggungjawab Fisik Teamnya, Enrico Castellaci yang menyatakan Camoranesi akan pulih dalam pekan ini dan siap untuk laga perdana lawan Paraguay 14 Juni.
Diatas kertas Italia akan lolos dari grup dan bisa mengatasi perlawanan Paraguay, Selandia Baru dan debutan Slovakia. Dalam ujicoba awal Juni kemarin skuad Lippi ditekuk Mexico 1-2 dan hanya draw 1-1 dengan Swiss. Pers Italia mengeritik keras, sementara Lippi dan skuadnya hanya senyum masam beralasan, “kan hanya ujicoba, Piala Dunia belum dimulai sekarang!”
Paraguay adalah lawan keras yang akan dihadapi azzurri di partai perdana grup F di Capetown 15 Juni. Tradisi Italia di Piala Dunia jauh lebih harum dibanding Paraguay yang baru 8 kali partisipasi. Empat kali beruntun Paraguay lolos ke pentas dunia yang paling akbar ini. Malah di kualifikasi Conmebol kemarin tim polesan pelatih Gerardo Martino memimpin grup sejak awal, barulah di saat terakhir Brazil menyodok menjuarai grup disusul Chili.
Dalam ujicoba kemarin skuad Martino main imbang 2-2 dengan Pantai Gading dan mengalahkan Yunani 2-0. Paraguay menyayangkan kehilangan strikernya yang paling subur Salvador Cabanas yang top scorer timnya di kualifikasi dengan 8 gol. Cabanas ditembak di kepalanya di bar Mexico City Januari lalu. Meski cepat recovery namun sayang belum bisa hadir 2010.
Di Afrika Selatan, Martino yang dijuluki Tata, akan bertumpu pada penyerang Manchester City Roque Santa Cruz, dua penyerang Borussia Dortmund Nelson Haeda Valdez dan Lucas Barrios. Pelatih Martino memiliki andil besar dalam perkembangan timnya. Awalnya cenderung bertahan dan bertumpu pada serangan balik. Namun ketika pertahanan sudah berkembang solid selama tahun terakhir, dia mulai mengembangkan gaya ofensif. Sebagian besar skuadnya eks tim Copa America 2007, nukleus tim ini terjaga di kualifikasi zone Conmebol sampai ke 2010 sekarang. Partai perdana lawan Italia akan sangat keras dan menentukan nasib mereka. Ambisi Martino dan skuadnya adalah menembus sampai 8 Besar. Selama ini Paraguay hanya sampai 16 Besar.
Pasar tarohan menempatkan Italia dan Paraguay lolos dari grup. Namun Selandia Baru asuhan pelatih Ricky Herbert yang pernah tampil di Piala Dunia 1982 sebagai pemain, serta rival Eropa Timur Slovakia bisa saja membuat kejutan. Terutama Slovakia yang dalam kualifikasi berhasil menyisihkan dua tim Eropa Timur yang tangguh, Polandia dan Republik Ceko. Bahkan pelatih Slovakia Vladimir Weiss berani sesumbar timnya siap mengimbangi Italia dan Paraguay. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Lippi Mahir dalam Mendekati Pemain
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 7 & 8 Juni 2010
Sejak Piala Dunia digelar tahun 1930 baru dua negara yang mampu juara dan mempertahankan gelarnya empat tahun kemudian. Italia tahun 1934 dan 1938. Brazil tahun 1958, 1962. Pelatih Italia Vittorio Pozzo tercatat sebagai satu-satunya pelatih yang mampu mempertahankan gelar atau merebut dua gelar dunia berturutan. Brazil dalam dua Piala Dunia itu ditukangi dua pelatih berbeda, Vicente Feola tahun 1958 dan Aymore Moreira tahun 1962.
Sekarang ini skuad azzurri ditukangi Marcello Lippi yang punya pengalaman segudang di klub-klub besar Italia, Atalanta, Napoli, Juventus, Inter Milan dan Juventus. Highlights karirnya saat mengantar azzurri memenangkan gelar dunia 2006 di Jerman. Di level klub dia menukangi klub Juventus 1994-1999 memenangkan 3 gelar liga dan maju ke final Champion Eropa 3 kali, satu antaranya menyabet gelar juara.
Setelah masa buruk melatih Inter Milan dia kembali ke Juventus dan meraih 2 gelar liga serta finalis Champions 2003. Setelah sukses memenangkan Piala Dunia 2006 dia mundur digantikan Roberto Donadoni. Pelatih muda ini gagal total dan membawa Italia terpuruk di Euro 2008. Lippi dipanggil kembali untuk menyelamatkan pamor azzurri dan membawanya lolos kualifkasi ke Piala Dunia 2010.
Lippi dikenal mahir dalam pendekatan pemain, menanam mental juara dan motivasi tim untuk “fight at all cost”. Dia cerdas dan sangat mahir dalam strategi menyikapi taktik team lawan. Tetapi dia pun tak luput dari kecaman, dibawah asuhannya tim Italia lebih sering bermain dalam tempo lamban dan bertumpu pada pertahanan solid. Dia mengutamakan sistem permainan dan mempekerjakan pemainnya dalam sistem tersebut. Pers Italia dan publik mengeritik pola 4-3-3 mengingat sektor midfieldnya kurang meyakinkan dan kurang bertenaga.
Tetapi Lippi bergeming dan tetap berpegang pada filosofinya, bahwa dalam persaingan sepakbola masa kini, suatu tim bisa menang jika mampu bermain dalam satu tim yang kompak dan terorganisir. Jadi bukan berarti harus merekrut pemain terbaik di negeri, karena bisa terjadi kemungkinan merekrut semua pemain terbaik tetapi tidak menjadikan suatu tim yang terbaik. Seperti mosaik, pelatih harus mengoleksi semua potongan kecil menjadi satu karya yang utuh.
Lippi memuji sukses Inter Milan merebut piala Champions dengan strategi jenius Jose Mourinho yang menaklukkan Bayern Munich 2-0 di final. Inter memperlihatkan kekuatan, kesatuan dan determinasi, sesuatu yang sedang ditanamkan Lippi pada timnya. Dia mengharap kemenangan Inter itu menjadi motivasi dan mendorong tim azzurri di 2010. Sayangnya Lippi tidak merekrut seorangpun dari skuad Mourinho yang memenangkan treble, gelar Copa, Seri A, dan Champions Eropa. Ironis memang.
Ketika Lippi menerima tantangan mengambil alih kursi pelatih dari Donadoni. Misinya jelas, juara dunia lagi. Dia ingin mengubah sejarah bahwa sejak Brazil mempertahankan gelarnya di tahun 1962 tidak ada lagi tim yang mampu meraih gelar beruntun. Untuk mendukung ambisinya pelatih kelahiran Viareggio Italia itu merekrut pemain pilar yang membantunya memenangkan gelar 2006. Sembilan pemain eks skuad 2006 tetap jadi pilihan utama Lippi di 2010. Kiper Gianluigi Buffon, kapten Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Mauro Camoranesi, Daniele De Rossi, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, Alberto Gilardino dan Vincenzo Iaquinta.
Lippi melupakan Fabio Grosso, bek kiri yang menghasilkan pinalti penentuan lawan Perancis di final 4 tahun lalu. Dia juga tidak mempertimbangkan Antonio Cassano, bintang Sampdoria bertalenta yang terkenal temperamen, masuk skuadnya. Striker Marco Borriello yang sudah mencetak 14 gol musim ini untuk AC Milan juga dia lupakan. Pada posisi penyerang Lippi memilih Alberto Gilardino, Vincenzo Iaquinta and Giampaolo Pazzini.
Dia juga tidak melirik beberapa bintang yang masih bersinar di kompetisi Seri A antara lain Francesco Totti yang membawa AS Roma sebagai pesaing utama Inter sampai di penghujung musim. Juga terlupa, strike Roma Luca Toni dan bintang tua Juventus Alessandro Del Piero. Pada sisi lain Lippi mempertahankan Mario Camoranesi yang masih bergelut dengan cidera lutut. Dia yakin pada staff Penanggungjawab Fisik Teamnya, Enrico Castellaci yang menyatakan Camoranesi akan pulih dalam pekan ini dan siap untuk laga perdana lawan Paraguay 14 Juni.
Diatas kertas Italia akan lolos dari grup dan bisa mengatasi perlawanan Paraguay, Selandia Baru dan debutan Slovakia. Dalam ujicoba awal Juni kemarin skuad Lippi ditekuk Mexico 1-2 dan hanya draw 1-1 dengan Swiss. Pers Italia mengeritik keras, sementara Lippi dan skuadnya hanya senyum masam beralasan, “kan hanya ujicoba, Piala Dunia belum dimulai sekarang!”
Paraguay adalah lawan keras yang akan dihadapi azzurri di partai perdana grup F di Capetown 15 Juni. Tradisi Italia di Piala Dunia jauh lebih harum dibanding Paraguay yang baru 8 kali partisipasi. Empat kali beruntun Paraguay lolos ke pentas dunia yang paling akbar ini. Malah di kualifikasi Conmebol kemarin tim polesan pelatih Gerardo Martino memimpin grup sejak awal, barulah di saat terakhir Brazil menyodok menjuarai grup disusul Chili.
Dalam ujicoba kemarin skuad Martino main imbang 2-2 dengan Pantai Gading dan mengalahkan Yunani 2-0. Paraguay menyayangkan kehilangan strikernya yang paling subur Salvador Cabanas yang top scorer timnya di kualifikasi dengan 8 gol. Cabanas ditembak di kepalanya di bar Mexico City Januari lalu. Meski cepat recovery namun sayang belum bisa hadir 2010.
Di Afrika Selatan, Martino yang dijuluki Tata, akan bertumpu pada penyerang Manchester City Roque Santa Cruz, dua penyerang Borussia Dortmund Nelson Haeda Valdez dan Lucas Barrios. Pelatih Martino memiliki andil besar dalam perkembangan timnya. Awalnya cenderung bertahan dan bertumpu pada serangan balik. Namun ketika pertahanan sudah berkembang solid selama tahun terakhir, dia mulai mengembangkan gaya ofensif. Sebagian besar skuadnya eks tim Copa America 2007, nukleus tim ini terjaga di kualifikasi zone Conmebol sampai ke 2010 sekarang. Partai perdana lawan Italia akan sangat keras dan menentukan nasib mereka. Ambisi Martino dan skuadnya adalah menembus sampai 8 Besar. Selama ini Paraguay hanya sampai 16 Besar.
Pasar tarohan menempatkan Italia dan Paraguay lolos dari grup. Namun Selandia Baru asuhan pelatih Ricky Herbert yang pernah tampil di Piala Dunia 1982 sebagai pemain, serta rival Eropa Timur Slovakia bisa saja membuat kejutan. Terutama Slovakia yang dalam kualifikasi berhasil menyisihkan dua tim Eropa Timur yang tangguh, Polandia dan Republik Ceko. Bahkan pelatih Slovakia Vladimir Weiss berani sesumbar timnya siap mengimbangi Italia dan Paraguay. ***
Serial World Cup 2010 Piala Dunia 2010 (05)
Serial World Cup 2010 (05)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Jerman Tetap Optimistis Tanpa Ballack
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 5 Juni 2010
Nama Kevin-Prince Boateng tidaklah terkenal. Saya dan kebanyakan penggila bola hampir tak pernah tahu namanya. Ketika namanya muncul dalam line-up Portsmouth di partai final FA Cup lawan Chelsea, orang masih memandang sebelah mata. Tetapi ketika dia melakukan tackling keras yang masuk katagori brutal ke kaki Michael Ballack, kontan puluhan ribu pasang mata memerhatikannya. Wasit Chris Foy memberinya kartu kuning. Banyak orang menganggap seharusnya kartu merah.
Kejadian menit 35 itu memaksa Michael Ballack harus keluar lapangan, angkel kakinya bengkak parah. Tidak ada yang patah. “Itu tackling yang buruk, dia tidak pantas untuk menjadi teman.”
Komentar Ballack. Ternyata gelandang berusia 33 tahun harus istirahat lama dan melupakan Piala Dunia 2010. Maka Jerman pun kehilangan kapten dan playmaker sekaligus motivator permainan. Dokter tim Jerman Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt memastikan gelandang Jerman dengan 98 caps yang main di dua Piala Dunia 2002 dan 2006 itu harus istirahat 8 pekan.
Kabar itu mengguncang tim Jerman. Pelatih Joachim Low cepat mengumpulkan semua anggota tim dan berpesan semua personal skuad harus bekerja ekstra keras di 2010. Pers dan supporter Jerman menuduh perbuatan Boateng itu konspirasi Ghana untuk melemahkan tim Jerman. Itu jelas tackling buruk yang disengaja menciderai. Boateng meminta maaf pada Ballack yang tidak diladeni oleh gelandang elegan itu.
Kevin-Prince Boateng, 23 tahun, kelahiran Jerman dari bapak asli Ghana dan ibu Jerman, bermain di klub Hertha Berlin kemudian menjadi skuad Jerman U-21. Memasuki usia senior dia memilih Ghana sebagai warga negara. Ironisnya, Ghana akan menjadi lawan Jerman di penyisihan grup bersama Australia dan Serbia. Tak heran Boateng menjadi musuh publik di Jerman. Kebencian inipun menjalar ke nama Boateng lainnya, Jerome Boateng yang merupakan saudara Kevin Prince, dan justru menjadi anggota skuad Jerman.
Kevin menyatakan menyesal, “tak ada maksud saya menciderai Ballack. Saya melakukan tackling dengan sepnuh tenaga, tapi tackling itu terlambat dan tampak bodoh (looks very stupid).” Dia menyesali dirinya yang kini digelari “bad boys”. Memang namanya kini menjadi terkenal karena insiden buruk itu.
Kehilangan Michael Ballack, bagi Jerman sangat terasa. Meskipun pelatih Joachim Low menegaskan bahwa kekuatan Jerman tidaklah berkurang. Persoalan cepat diatasi Low, dia menunjuk deputi Ballack, Phillip Lahm menyandang ban kapten. Semua mendukung keputusan penting ini termasuk mantan kapten 90-an Lothar Matthaeus, Ballack dan juga pers. Selama ini Lahm sudah sering menggantikan jabatan Ballack sewaktu Ballack cidera.
Apapun persoalannya Jerman tetaplah Jerman dengan tradisi dan reputasi harum di Piala dunia, melakukan 92 pertandingan diantaranya menang 55 dan mencetak gol 190. Tiga kali juara dunia, 1954, 1974, 1990. Sebagai tuan rumah 2006 Jerman gagal juara, hanya peringkat 3 dengan 7 kali main, menang 5 draw 1 dan kalah 1, mencetak gol 14, paling produktif di 2006.
Kali ini skuad asuhan Low berambisi menyabet gelar dunia. Jerman akan tanding perdana lawan Australia 13 Juni, kemudian Serbia 18 Juni dan terakhir Ghana 23 Juni. Tampaknya bagi Jerman tidak terlalu sulit lolos dari grup D. Jerman tampak tangguh ketika friendly-match menang 3-0 atas Malta di Aachen dan 3-0 atas Hungaria di Budapest 13 dan 29 Mei silam.
Untuk skuadnya Low masih berkeras tidak memanggil striker Schalke, Kevin Kuranyi yang mencetak 18 gol di bundesliga musim, jauh lebih produktif dibanding Klose dan Podolski yang masing-masing mencetak 2 gol sepanjang musim. Striker Munich yang dipanggil Miroslav Klose belum fit, pencetak 48 gol dari 95 caps itu diharapkan fit pada waktunya. Tampaknya Klose harus kerja keras kalau tidak mau tempatnya diserobot penyerang lain, Cacau (Stuttgart), Mario Gomez (Bayern Munich), Stefan Kiessling (Bayer Leverkusen), Thomas Muller (Bayern Munich), Lukas Podolski (Cologne). Striker kelahiran Brazil, Cacau bersama Podolski dan Gomez mencetak gol kemenangan 3-0 atas Hongaria dalam friendly-match pekan lalu.
Low dikeritik atas putusannya mengabaikan Kuranyi. Persoalan Kuranyi lari dari stadion Westfalen dalam kualifikasi versus Rusia Oktober 2008 masih membekas pada Low. Tak hanya kehilangan Ballack dan Kuranyi, Jerman juga terpaksa meninggalkan pemain Stuttgart Christian Trasch yang cidera dalam warm-up 24 Mei kemarin, sebelum itu pemain Bayer Leverkusen, Simon Rolfes. Bagaimanapun juga Low sudah persiapkan skuadnya untuk laga perdana 13 Juni menghadapi lawan keras Australia.
Australia diperkirakan akan mendampingi Jerman lolos ke putaran 16 besar. Tim ini juga kehilangan pilar pertahanan usia 21 tahun klub Middlesbrough Rhys Williams yang bergelut dengan cidera. Tapi pelatih Pim Verbeek gembira kepastian Harry Kewell striker Galatasaray Turki akan segera pulih dan siap di laga perdana. Dia juga bertumpu pada pemain Everton, Tim Cahill, duo Blackburn Rovers Brett Emerton dan Vince Grella.
Masalah cidera juga menimpa pelatih Ghana asal Serbia Milovan Rajevic yang harus kehilangan pilar tim midfielder Chelsea Michael Essien yang belum pulih dari cidera. Selain “bad boys” Kevin-Price Boateng, Ghana diperkuat sebagian besar legiun asingnya, antaranya dua pilar pengalaman Sulley Muntari (Inter Milan) dan Stephen Appiah (Bologna) serta striker Matthew Amoah (NAC Breda) dan Asamoah Gyan (Rennes).
Dalam ujicoba pekan lalu Ghana dipukul telak Belanda 1-4. Meskipun demikian debutan 2006 yang tersingkir di putaran 16 besar kini berambisi melaju lebih tinggi, paling tidak mereka membidik semifinal. “Jika masuk semifinal maka semua bisa terjadi dan bukan mustahil bisa juara,” komentar sang pelatih, Rajevic.
Pesaing lain di grup ini, Serbia yang tampil di 2006 dengan nama Serbia Montonegro. Pekan lalu skuad asuhan Radomir Antic ini mengecewakan supporternya dengan draw tanpa gol lawan Polandia setelah pekan sebelumnya dikalahkan gol tunggal Selandia Baru. Supporter tampaknya berharap banyak pada skuad yang diperkuat defender Manchester United Nemanja Vidic dan Branislav Ivanovic dari Chelsea di lini belakang, sayap CSKA Moscow Milos Krasic dan striker andalan Nikola Zigic yang main di Birmingham. Tidak lupa adalah midfielder Inter Milan, Dejan Stankovic yang tetap diandalkan sebagai pilar dan keseimbangan tim.
***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Jerman Tetap Optimistis Tanpa Ballack
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 5 Juni 2010
Nama Kevin-Prince Boateng tidaklah terkenal. Saya dan kebanyakan penggila bola hampir tak pernah tahu namanya. Ketika namanya muncul dalam line-up Portsmouth di partai final FA Cup lawan Chelsea, orang masih memandang sebelah mata. Tetapi ketika dia melakukan tackling keras yang masuk katagori brutal ke kaki Michael Ballack, kontan puluhan ribu pasang mata memerhatikannya. Wasit Chris Foy memberinya kartu kuning. Banyak orang menganggap seharusnya kartu merah.
Kejadian menit 35 itu memaksa Michael Ballack harus keluar lapangan, angkel kakinya bengkak parah. Tidak ada yang patah. “Itu tackling yang buruk, dia tidak pantas untuk menjadi teman.”
Komentar Ballack. Ternyata gelandang berusia 33 tahun harus istirahat lama dan melupakan Piala Dunia 2010. Maka Jerman pun kehilangan kapten dan playmaker sekaligus motivator permainan. Dokter tim Jerman Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt memastikan gelandang Jerman dengan 98 caps yang main di dua Piala Dunia 2002 dan 2006 itu harus istirahat 8 pekan.
Kabar itu mengguncang tim Jerman. Pelatih Joachim Low cepat mengumpulkan semua anggota tim dan berpesan semua personal skuad harus bekerja ekstra keras di 2010. Pers dan supporter Jerman menuduh perbuatan Boateng itu konspirasi Ghana untuk melemahkan tim Jerman. Itu jelas tackling buruk yang disengaja menciderai. Boateng meminta maaf pada Ballack yang tidak diladeni oleh gelandang elegan itu.
Kevin-Prince Boateng, 23 tahun, kelahiran Jerman dari bapak asli Ghana dan ibu Jerman, bermain di klub Hertha Berlin kemudian menjadi skuad Jerman U-21. Memasuki usia senior dia memilih Ghana sebagai warga negara. Ironisnya, Ghana akan menjadi lawan Jerman di penyisihan grup bersama Australia dan Serbia. Tak heran Boateng menjadi musuh publik di Jerman. Kebencian inipun menjalar ke nama Boateng lainnya, Jerome Boateng yang merupakan saudara Kevin Prince, dan justru menjadi anggota skuad Jerman.
Kevin menyatakan menyesal, “tak ada maksud saya menciderai Ballack. Saya melakukan tackling dengan sepnuh tenaga, tapi tackling itu terlambat dan tampak bodoh (looks very stupid).” Dia menyesali dirinya yang kini digelari “bad boys”. Memang namanya kini menjadi terkenal karena insiden buruk itu.
Kehilangan Michael Ballack, bagi Jerman sangat terasa. Meskipun pelatih Joachim Low menegaskan bahwa kekuatan Jerman tidaklah berkurang. Persoalan cepat diatasi Low, dia menunjuk deputi Ballack, Phillip Lahm menyandang ban kapten. Semua mendukung keputusan penting ini termasuk mantan kapten 90-an Lothar Matthaeus, Ballack dan juga pers. Selama ini Lahm sudah sering menggantikan jabatan Ballack sewaktu Ballack cidera.
Apapun persoalannya Jerman tetaplah Jerman dengan tradisi dan reputasi harum di Piala dunia, melakukan 92 pertandingan diantaranya menang 55 dan mencetak gol 190. Tiga kali juara dunia, 1954, 1974, 1990. Sebagai tuan rumah 2006 Jerman gagal juara, hanya peringkat 3 dengan 7 kali main, menang 5 draw 1 dan kalah 1, mencetak gol 14, paling produktif di 2006.
Kali ini skuad asuhan Low berambisi menyabet gelar dunia. Jerman akan tanding perdana lawan Australia 13 Juni, kemudian Serbia 18 Juni dan terakhir Ghana 23 Juni. Tampaknya bagi Jerman tidak terlalu sulit lolos dari grup D. Jerman tampak tangguh ketika friendly-match menang 3-0 atas Malta di Aachen dan 3-0 atas Hungaria di Budapest 13 dan 29 Mei silam.
Untuk skuadnya Low masih berkeras tidak memanggil striker Schalke, Kevin Kuranyi yang mencetak 18 gol di bundesliga musim, jauh lebih produktif dibanding Klose dan Podolski yang masing-masing mencetak 2 gol sepanjang musim. Striker Munich yang dipanggil Miroslav Klose belum fit, pencetak 48 gol dari 95 caps itu diharapkan fit pada waktunya. Tampaknya Klose harus kerja keras kalau tidak mau tempatnya diserobot penyerang lain, Cacau (Stuttgart), Mario Gomez (Bayern Munich), Stefan Kiessling (Bayer Leverkusen), Thomas Muller (Bayern Munich), Lukas Podolski (Cologne). Striker kelahiran Brazil, Cacau bersama Podolski dan Gomez mencetak gol kemenangan 3-0 atas Hongaria dalam friendly-match pekan lalu.
Low dikeritik atas putusannya mengabaikan Kuranyi. Persoalan Kuranyi lari dari stadion Westfalen dalam kualifikasi versus Rusia Oktober 2008 masih membekas pada Low. Tak hanya kehilangan Ballack dan Kuranyi, Jerman juga terpaksa meninggalkan pemain Stuttgart Christian Trasch yang cidera dalam warm-up 24 Mei kemarin, sebelum itu pemain Bayer Leverkusen, Simon Rolfes. Bagaimanapun juga Low sudah persiapkan skuadnya untuk laga perdana 13 Juni menghadapi lawan keras Australia.
Australia diperkirakan akan mendampingi Jerman lolos ke putaran 16 besar. Tim ini juga kehilangan pilar pertahanan usia 21 tahun klub Middlesbrough Rhys Williams yang bergelut dengan cidera. Tapi pelatih Pim Verbeek gembira kepastian Harry Kewell striker Galatasaray Turki akan segera pulih dan siap di laga perdana. Dia juga bertumpu pada pemain Everton, Tim Cahill, duo Blackburn Rovers Brett Emerton dan Vince Grella.
Masalah cidera juga menimpa pelatih Ghana asal Serbia Milovan Rajevic yang harus kehilangan pilar tim midfielder Chelsea Michael Essien yang belum pulih dari cidera. Selain “bad boys” Kevin-Price Boateng, Ghana diperkuat sebagian besar legiun asingnya, antaranya dua pilar pengalaman Sulley Muntari (Inter Milan) dan Stephen Appiah (Bologna) serta striker Matthew Amoah (NAC Breda) dan Asamoah Gyan (Rennes).
Dalam ujicoba pekan lalu Ghana dipukul telak Belanda 1-4. Meskipun demikian debutan 2006 yang tersingkir di putaran 16 besar kini berambisi melaju lebih tinggi, paling tidak mereka membidik semifinal. “Jika masuk semifinal maka semua bisa terjadi dan bukan mustahil bisa juara,” komentar sang pelatih, Rajevic.
Pesaing lain di grup ini, Serbia yang tampil di 2006 dengan nama Serbia Montonegro. Pekan lalu skuad asuhan Radomir Antic ini mengecewakan supporternya dengan draw tanpa gol lawan Polandia setelah pekan sebelumnya dikalahkan gol tunggal Selandia Baru. Supporter tampaknya berharap banyak pada skuad yang diperkuat defender Manchester United Nemanja Vidic dan Branislav Ivanovic dari Chelsea di lini belakang, sayap CSKA Moscow Milos Krasic dan striker andalan Nikola Zigic yang main di Birmingham. Tidak lupa adalah midfielder Inter Milan, Dejan Stankovic yang tetap diandalkan sebagai pilar dan keseimbangan tim.
***
Serial World Cup 2010/Piala Dunia 2010 (04)
Serial World Cup 2010 (04)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina Dikepung Lawan Berat
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 3 & 4 Juni 2010
Tradisi dan track-record di Piala Dunia mau atau tidak mau sering menanamkan konfidensi dalam permainan. Tetapi tidak semuanya bisa menjadi jaminan. Pasar tarohan pun tak bisa menjadi jaminan menang tidaknya suatu tim. Argentina meskipun berada dibawah bayang-bayang Brazil, Jerman dan Italia tetap saja menjadi salah satu unggulan.
Sejak gagal di kualifikasi ke Mexico 1970 Argentina selalu hadir di pesta akbar sepakbola sejagad itu. Meskipun tertatih-tatih dan nyaris gagal, Argentina dibawah komando pelatih arogan dan classy Diego Maradona tetap melangkah ke 2010.
Sampai berakhirnya 2006 Argentina telah memainkan 65 pertandingan dengan rincian menang 33, kalah 19, draw 13 dengan gol 113 minus 74. Nilai yang dikumpulkan 88, bandingkan Brazil 162, Jerman 129, Italia 120, Inggeris 74, Perancis 70, dengan catatan sejak 1994 terjadi perubahan perhitungan nilai dari dua menjadi tiga untuk suatu kemenangan.
Argentina di era 1978 nama kapten Daniel Passarella dan striker Mario Kempes serta pengatur midfield Ardilles jauh lebih tenar dari sang komandan Cesar Luis Menotti. Begitu juga tahun 1986 nama Diego Maradona dan Jorge Burruchaga sebagai pemain lebih tenar dari sang pelatih Carlos Salvador Bilardo. Tetapi era 2009-2010 nama Maradona sebagai manager menyita head-line kisah tim tango, nama-nama pemain seperti Carlos Tevez, Diego Milito bahkan pemain terbaik Lionel Messi tertutup oleh “cuap-cuap”nya Maradona.
Sebagai pemain Maradona sangat terkenal karena skillnya, sehingga tingkahlaku kontroversial dan curang yang dia lakukan tidak melunturkan kehebatannya. Di Mexico 1986 dia mencetak gol lewat “handsball”nya yang dia sebut sebagai “hands of God” mengecoh wasit Tunisia Ali Bennaceur dan menembus gawang kiper Peter Shilton sekaligus menyingkirkan Inggeris. Di USA 1994 dia diusir dari Piala Dunia karena positip doping.
Diego Maradona ditunjuk manager November 2008 setelah “albiceleste” terseok dibawah manager Alfio Basile. Dia menggantikan Basile. Ambisinya jelas, merebut gelar ketiga untuk Argentina dan memenangkannya dengan style.
Sebagian orang Argentina mencibir, Maradona terlalu arogan, otoriter pada saat dimana dia belum mencetak prestasi dalam kepelatihan. Dia bahkan memanggil lebih dari 100 pemain untuk main di timnya selama era kekuasaannya. Menjelang kick-off partai terakhir penentuan timnya dalam kualifikasi zone Conmebol, dia berkata “Tuhan akan berada di lapangan ini dan berpihak kepada kami.” Dan ketika menang dengan “lucky goal” 1-0 atas Uruguay komentarnya, “Tuhan mengabulkan permintaanku, kami menang dan lolos ke Afrika Selatan.”
Pers mengeritiknya ketika dia umumkan skuad bayangan, tanpa melirik duo Inter yang membawa klub asuhan Jose Mourinho merebut treble Piala Italia, Seri A dan Champions Eropa, yakni Javier Zanetti dan Esteban Cambiasso. Dalam skuadnya Inter diwakili striker Gabriel Milito, Walter Samuel, Bayern Muenchen diwakili Martin Demichels. Empat dari liga Inggris terpilih, Gutierrez (Newcastle), duo Liverpool Mascherano dan Maxi Rodriguez serta bomber Manchester City Carlos Tevez. Kiper dipercayakan pada Sergio Romero (AZ Alkmaar).
Kemenangan lima gol tanpa balas atas Kanada di Buenos Aires Jumat 21 Mei kemarin telah membakar motivasi dan semangat skuad Argentina untuk merebut gelar ketiganya di Piala Dunia. Friendly match ini sangat penting artinya bagi pelatih Diego Maradona. Selain menanam percaya diri pada skuadnya bahwa mereka bisa memainkan pola tiga penyerang sama baiknya dengan twinspearhed, juga menggembirakan fans pecinta tim tango.
Tanpa penyerang dan bintang Barcelona bernama besar, Lionel Messi, dia memasang Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain, serta Carlos Pastore pada posisi Lionel Messi yang saat itu duduk di tribun. Sayap Liverpool Maxi Rodriquez mencetak dua gol, gelandang Benfica Angel Di Maria, Tevez serta menantu Maradona, Sergio Aguero masing-masing satu gol.
Argentina berada dalam grup yang tidak ringan, Nigeria raksasa Afrika yang ibarat burung elang punya ambisi besar terbang ke pucuk dunia, Yunani yang ingin mengulang kisah emasnya merebut gelar Euro 2004 serta semifinalis Piala Dunia 2002 Korea Selatan. Tiga tim ini menaruh hormat pada Argentina tetapi tak mengurangi sedikit pun tekad ambisi mereka menaklukkan dua kali juara dunia itu.
Nigeria “super eagle” medio Mei kemarin merekrut Lars Lagerback sebagai pelatih. Orang Swedia usia 61 tahun yang pernah berdua Tommy Soderberg melatih Swedia di Euro 2000 telah mengalahkan kandidat lain, Sven-Goran Eriksson, Glenn Hodle dan Bruno Metsu. Dalam skuadnya dia menyertakan veteran 33 tahun Nwankwo Kanu (Portsmouth), Obafemi Martins (Wolfsburg), John Obi Mikel (Chelsea). Begitu juga John Utaka (Portsmouth) yang tidak dipanggil pelatih terdahulu Amodu Shaibu di Piala Afrika kemarin, dia juga merekrut pemain Everton, Victor Anichebe yang baru pulih dari cidera. Mereka diharapkan jadi pilar tim.
Yunani juara Euro 2004 yang kini dilatih Otto Rehhagel tak boleh dipandang sebelah mata. Kita masih ingat ketika Yunani diremehkan di Euro 2004 tapi nyatanya sanggup melambung tinggi merebut gelar juara. Kali ini persiapan serius dilakukan Rehhagel, pelatih asal Jerman itu. Sepuluh pemain klub Panathinaikos yang double winner di liga domestik antaranya Giorgios Seitaridis yang baru pulih dari cidera, serta beberapa legiun asing yang main di klu-klub Eropa antaranya Sotirios Kyrgiakos (Liverpool), Georgios Samaras (Celtic), Vangelis Moras (Bologna), Socrates Papastathopoulos (Genoa).
Satu lawan lagi yang bisa jadi kuda hitam, semifinalis Piala Dunia 2002, Korea Selatan. Tim “merah-merah” ini yang ditangani pelatih lokal Huh Jung-Moo akan diperkuat bintang sayap Manchester United, Park Ji Sung, dan legiun asing lainnya, Park Chu-Young (Monaco), Cho Won-Hee (Wigan), Cha Du-Ri (SC Freiburg), dan Lee Chung-Yong (Bolton).
Dalam uji-coba “away” mereka sukses mengalahkan Jepang 2-0 dalam pertandingan adu gengsi sesama Asia Timur. Dari grup ini diperkirakan Argentina dan Nigeria akan lolos, meskipun rasanya kekuatan empat tim ini tidak terlalu beda jauh. So wait and see.
***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina Dikepung Lawan Berat
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 3 & 4 Juni 2010
Tradisi dan track-record di Piala Dunia mau atau tidak mau sering menanamkan konfidensi dalam permainan. Tetapi tidak semuanya bisa menjadi jaminan. Pasar tarohan pun tak bisa menjadi jaminan menang tidaknya suatu tim. Argentina meskipun berada dibawah bayang-bayang Brazil, Jerman dan Italia tetap saja menjadi salah satu unggulan.
Sejak gagal di kualifikasi ke Mexico 1970 Argentina selalu hadir di pesta akbar sepakbola sejagad itu. Meskipun tertatih-tatih dan nyaris gagal, Argentina dibawah komando pelatih arogan dan classy Diego Maradona tetap melangkah ke 2010.
Sampai berakhirnya 2006 Argentina telah memainkan 65 pertandingan dengan rincian menang 33, kalah 19, draw 13 dengan gol 113 minus 74. Nilai yang dikumpulkan 88, bandingkan Brazil 162, Jerman 129, Italia 120, Inggeris 74, Perancis 70, dengan catatan sejak 1994 terjadi perubahan perhitungan nilai dari dua menjadi tiga untuk suatu kemenangan.
Argentina di era 1978 nama kapten Daniel Passarella dan striker Mario Kempes serta pengatur midfield Ardilles jauh lebih tenar dari sang komandan Cesar Luis Menotti. Begitu juga tahun 1986 nama Diego Maradona dan Jorge Burruchaga sebagai pemain lebih tenar dari sang pelatih Carlos Salvador Bilardo. Tetapi era 2009-2010 nama Maradona sebagai manager menyita head-line kisah tim tango, nama-nama pemain seperti Carlos Tevez, Diego Milito bahkan pemain terbaik Lionel Messi tertutup oleh “cuap-cuap”nya Maradona.
Sebagai pemain Maradona sangat terkenal karena skillnya, sehingga tingkahlaku kontroversial dan curang yang dia lakukan tidak melunturkan kehebatannya. Di Mexico 1986 dia mencetak gol lewat “handsball”nya yang dia sebut sebagai “hands of God” mengecoh wasit Tunisia Ali Bennaceur dan menembus gawang kiper Peter Shilton sekaligus menyingkirkan Inggeris. Di USA 1994 dia diusir dari Piala Dunia karena positip doping.
Diego Maradona ditunjuk manager November 2008 setelah “albiceleste” terseok dibawah manager Alfio Basile. Dia menggantikan Basile. Ambisinya jelas, merebut gelar ketiga untuk Argentina dan memenangkannya dengan style.
Sebagian orang Argentina mencibir, Maradona terlalu arogan, otoriter pada saat dimana dia belum mencetak prestasi dalam kepelatihan. Dia bahkan memanggil lebih dari 100 pemain untuk main di timnya selama era kekuasaannya. Menjelang kick-off partai terakhir penentuan timnya dalam kualifikasi zone Conmebol, dia berkata “Tuhan akan berada di lapangan ini dan berpihak kepada kami.” Dan ketika menang dengan “lucky goal” 1-0 atas Uruguay komentarnya, “Tuhan mengabulkan permintaanku, kami menang dan lolos ke Afrika Selatan.”
Pers mengeritiknya ketika dia umumkan skuad bayangan, tanpa melirik duo Inter yang membawa klub asuhan Jose Mourinho merebut treble Piala Italia, Seri A dan Champions Eropa, yakni Javier Zanetti dan Esteban Cambiasso. Dalam skuadnya Inter diwakili striker Gabriel Milito, Walter Samuel, Bayern Muenchen diwakili Martin Demichels. Empat dari liga Inggris terpilih, Gutierrez (Newcastle), duo Liverpool Mascherano dan Maxi Rodriguez serta bomber Manchester City Carlos Tevez. Kiper dipercayakan pada Sergio Romero (AZ Alkmaar).
Kemenangan lima gol tanpa balas atas Kanada di Buenos Aires Jumat 21 Mei kemarin telah membakar motivasi dan semangat skuad Argentina untuk merebut gelar ketiganya di Piala Dunia. Friendly match ini sangat penting artinya bagi pelatih Diego Maradona. Selain menanam percaya diri pada skuadnya bahwa mereka bisa memainkan pola tiga penyerang sama baiknya dengan twinspearhed, juga menggembirakan fans pecinta tim tango.
Tanpa penyerang dan bintang Barcelona bernama besar, Lionel Messi, dia memasang Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain, serta Carlos Pastore pada posisi Lionel Messi yang saat itu duduk di tribun. Sayap Liverpool Maxi Rodriquez mencetak dua gol, gelandang Benfica Angel Di Maria, Tevez serta menantu Maradona, Sergio Aguero masing-masing satu gol.
Argentina berada dalam grup yang tidak ringan, Nigeria raksasa Afrika yang ibarat burung elang punya ambisi besar terbang ke pucuk dunia, Yunani yang ingin mengulang kisah emasnya merebut gelar Euro 2004 serta semifinalis Piala Dunia 2002 Korea Selatan. Tiga tim ini menaruh hormat pada Argentina tetapi tak mengurangi sedikit pun tekad ambisi mereka menaklukkan dua kali juara dunia itu.
Nigeria “super eagle” medio Mei kemarin merekrut Lars Lagerback sebagai pelatih. Orang Swedia usia 61 tahun yang pernah berdua Tommy Soderberg melatih Swedia di Euro 2000 telah mengalahkan kandidat lain, Sven-Goran Eriksson, Glenn Hodle dan Bruno Metsu. Dalam skuadnya dia menyertakan veteran 33 tahun Nwankwo Kanu (Portsmouth), Obafemi Martins (Wolfsburg), John Obi Mikel (Chelsea). Begitu juga John Utaka (Portsmouth) yang tidak dipanggil pelatih terdahulu Amodu Shaibu di Piala Afrika kemarin, dia juga merekrut pemain Everton, Victor Anichebe yang baru pulih dari cidera. Mereka diharapkan jadi pilar tim.
Yunani juara Euro 2004 yang kini dilatih Otto Rehhagel tak boleh dipandang sebelah mata. Kita masih ingat ketika Yunani diremehkan di Euro 2004 tapi nyatanya sanggup melambung tinggi merebut gelar juara. Kali ini persiapan serius dilakukan Rehhagel, pelatih asal Jerman itu. Sepuluh pemain klub Panathinaikos yang double winner di liga domestik antaranya Giorgios Seitaridis yang baru pulih dari cidera, serta beberapa legiun asing yang main di klu-klub Eropa antaranya Sotirios Kyrgiakos (Liverpool), Georgios Samaras (Celtic), Vangelis Moras (Bologna), Socrates Papastathopoulos (Genoa).
Satu lawan lagi yang bisa jadi kuda hitam, semifinalis Piala Dunia 2002, Korea Selatan. Tim “merah-merah” ini yang ditangani pelatih lokal Huh Jung-Moo akan diperkuat bintang sayap Manchester United, Park Ji Sung, dan legiun asing lainnya, Park Chu-Young (Monaco), Cho Won-Hee (Wigan), Cha Du-Ri (SC Freiburg), dan Lee Chung-Yong (Bolton).
Dalam uji-coba “away” mereka sukses mengalahkan Jepang 2-0 dalam pertandingan adu gengsi sesama Asia Timur. Dari grup ini diperkirakan Argentina dan Nigeria akan lolos, meskipun rasanya kekuatan empat tim ini tidak terlalu beda jauh. So wait and see.
***
Serial World Cup 2010 (03)
Serial World Cup 2010 (03)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spanyol Tak Ingin Ulangi Kesalahan
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 27 Mei 2010
Spanyol datang ke Afrika Selatan 2010 dibawah spotlight dunia. Tim Espana itu juara Euro 2008 dengan materi pemain dari dua klub kelas dunia, Barcelona dan Real Madrid. Kegagalan mereka di pentas Confederation Cup 2009 tidaklah mengurangi nama besar yang disandangnya. Mereka kalah 0-2 di semifinal dari USA tetapi memenangkan peringkat tiga atas tuan rumah Afrika Selatan melalui perpanjangan waktu.
Gelar Euro 2008 sangat besar artinya bagi Spanyol, gelar yang diincar setelah penantian selama 44 tahun sejak merebutnya tahun 1964. Orang yang paling berjasa adalah “pak tua” Luis Aragones yang 28 Juli tahun itu (2008) akan berusia 70 tahun. Dia meramu timnya dengan pilar andalan, pasangan Barcelona Andres Iniesta dan Xavi Hernandez, Marcos Senna dari Villarreal dan David Silva dari Valencia. Secara tehnik mereka mampu mempertahankan dan memainkan bola dalam tempo tinggi. Begitupun pilihannya akan penyerang andalan, Fernando Torres, yang mencetak gol satu-satunya ke gawang Jerman di final yang membuahkan gelar juara.
Setelah sukses itu Aragones mundur, digantikan Vicente Del Bosque yang membawa tim yang dijuluki La Roja ke Piala Confederation 2009 di Afrika Selatan. Masih dengan materi sama dan pola main yang tidak berubah, kontan La Roja diramal ketemu Brazil di partai puncak.
Tapi apa mau dikata. Di gebrakan awal menggunduli Selandia Baru 5-0 lalu menang 1-0 atas Irak dan 2-0 atas Afrika Selatan, secara mengejutkan Spanyol ditekuk USA 0-2 di semifinal. Gagal sudah final ideal Brazil-Spanyol. Pada perebutan peringkat tiga Spanyol menang 3-2 atas Afrika Selatan yang disemifinal dikalahkan Brazil.
Belajar dari sukses 2008 dan kekalahan dari USA di Confederation Cup, skuad Del Bosque datang ke Afrika Selatan mengusung ambisi merebut gelar dunia yang belum pernah dicicipinya. Kali ini tim matador jauh lebih siap. Gebrakan perdana, lawan Swiss di stadion Moses Mabhiba kota Durban 16 Juni, tidak ada pilihan lain kecuali menang. Del Bosque mempertahankan kerangka inti pilihan Aragones, seperti Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Xavi Hernández, Fernando Torres, Cesc Fábregas, Xabi Alonso dan David Silva. Hanya Marcos Senna yang hilang dari daftar.
Salah satu saingan berat Spanyol di grup datang dari Cili. Pelatih asal Argentina, Marcelo Bielsa dikenal sebagai El Loco alias The Madman karena dedikasinya yang unik akan sepakbola, pekerja keras dan sangat disiplin serta komit akan prinsipnya. Karakternya yang unik dan cerdas dalam strategi mendatangkan respek dan pujian dari pemain dan fans. Dia membawa Cili sukses runner-up, hanya selisih satu nilai dari pimpinan grup Brazil dalam kualifikasi zone Conmebol. Gaya menyerang yang dikemas Bielsa membuahkan 32 gol dari 18 pertandingan, lebih rendah satu gol dibanding Brazil. Gaya main ini sangat dipuja para pecinta tim Cili.
Bielsa hadir pada saat yang tepat, ketika sepakbola Cili dilanda mendung duka menyusul penampilan buruk dalam kualifikasi zone Conmebol yang menyebabkan mereka gagal maju ke Piala Dunia 2002 dan 2006. Penampilan apik dicapai skuad Marcelo Bielsa lolos ke 2010 dengan satu pertandingan tersisa, ketika mengalahkan tuan rumah Kolombia 4-2. Itu kemenangan fantastis, karena mereka menyerang di kandang lawan.
Terakhir tampil di Piala Dunia, Cili berantakan di France 1998 meskipun diperkuat dua bomber handal Marcelo Salas dan Ivan Zamorano. Setelah itu Cili absen, dan baru hadir kembali di 2010 yang disebut-sebut sebagai kelahiran kembali tim berkostum merah itu. Sekarang ini ambisi mereka adalah prestasi semifinal sebagaimana yang dicapainya - peringkat tiga - di tahun 1962 ketika menjadi tuan rumah.
Kekuatan Cili tampak pada disiplin, semangat dan kepercayaan diri. Pemain andalan yang diharapkan Bielsa menjadi pilar tim antaranya penyerang Real Zaragoza Spanyol Humberto Suazo yang mencetak 10 dari 32 gol Cili. Juga Jorge Valdivia, mantan klub Colo Colo yang telah memenangkan gelar domestik 2006, lalu hijrah ke Sao Paulo Brazil dan Palmeiras. Kini dia main untuk klub Uni Emirat Arab, Al Ain dengan kontrak menggiurkan. Bersama Suazo dia berperan penting meloloskan Cili ke 2010.
Pada gebrakan awal Cili akan bertarung keras dan menyerang untuk meraih tiga angka dari Honduras. Jika sukses, di atas kertas kemungkinan sukses, maka Cili akan memperlihatkan taringnya menghadapi rival utama Swiss. Partai ini sangat menentukan nasib kedua tim karena diperkirakan Spanyol akan lolos sementara tiket kedua grup akan ditentukan Cili atau Swiss.
Swiss, sama seperti Cili juga mengusung ambisi lolos. Rencananya menahan Spanyol di partai perdana kemudian “all-out” lawan Cili di partai kedua. Pelatih Swiss, Ottmar Hitzfeld mempercayakan lini pertahanan pada Stephane Grichting yang 8 musim main di klub Auxerre, sebagai bek kiri pengalaman usia 31 tahun. Mulanya ketika duduk di bangku cadangan di Euro 2008 Grichting berpikir gantung sepatu. Namun Ottmar berhasil membujuknya untuk tetap siap ke Afrika Selatan.
Ottmar memang dikenal sebagai pelatih yang bisa memotivasi pemainnya untuk tampil optimal. Permainan kolektif, disiplin dan bertenaga tim Swiss ini bisa jadi batu sandungan bagi Spanyol ataupun Cili.
Sepakbola tudak mengenal matematik, Honduras yang diramal jadi bulan-bulanan tidak akan menerima nasib begitu saja. Pelatih Honduras Reinaldo Rueda telah mempersiapkan timnya dengan optimal meskipun disanasini masih terbelit persoalan dana. Para pemain liga premier Inggeris, Wilson Palacios (Tottenham Hotspurs), Hendry Thomas dan Maynoe Figuerora (Wigan) bersama senior David Suazo (Genoa) dan Carlos Pavon (Real Espana) diharapkan jadi pilar kekuatan bersaing dengan tim-tim high level di grupnya.
Inilah penampilan kedua bagi Honduras di Piala Dunia setelah debutnya di tahun 1982. Sadar akan peta kekuatan di grup H maka tidaklah heran jika pasar tarohan menempatkan posisi Honduras di urutan buncit. Nyaris tak ada peluang untuk lolos. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spanyol Tak Ingin Ulangi Kesalahan
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 27 Mei 2010
Spanyol datang ke Afrika Selatan 2010 dibawah spotlight dunia. Tim Espana itu juara Euro 2008 dengan materi pemain dari dua klub kelas dunia, Barcelona dan Real Madrid. Kegagalan mereka di pentas Confederation Cup 2009 tidaklah mengurangi nama besar yang disandangnya. Mereka kalah 0-2 di semifinal dari USA tetapi memenangkan peringkat tiga atas tuan rumah Afrika Selatan melalui perpanjangan waktu.
Gelar Euro 2008 sangat besar artinya bagi Spanyol, gelar yang diincar setelah penantian selama 44 tahun sejak merebutnya tahun 1964. Orang yang paling berjasa adalah “pak tua” Luis Aragones yang 28 Juli tahun itu (2008) akan berusia 70 tahun. Dia meramu timnya dengan pilar andalan, pasangan Barcelona Andres Iniesta dan Xavi Hernandez, Marcos Senna dari Villarreal dan David Silva dari Valencia. Secara tehnik mereka mampu mempertahankan dan memainkan bola dalam tempo tinggi. Begitupun pilihannya akan penyerang andalan, Fernando Torres, yang mencetak gol satu-satunya ke gawang Jerman di final yang membuahkan gelar juara.
Setelah sukses itu Aragones mundur, digantikan Vicente Del Bosque yang membawa tim yang dijuluki La Roja ke Piala Confederation 2009 di Afrika Selatan. Masih dengan materi sama dan pola main yang tidak berubah, kontan La Roja diramal ketemu Brazil di partai puncak.
Tapi apa mau dikata. Di gebrakan awal menggunduli Selandia Baru 5-0 lalu menang 1-0 atas Irak dan 2-0 atas Afrika Selatan, secara mengejutkan Spanyol ditekuk USA 0-2 di semifinal. Gagal sudah final ideal Brazil-Spanyol. Pada perebutan peringkat tiga Spanyol menang 3-2 atas Afrika Selatan yang disemifinal dikalahkan Brazil.
Belajar dari sukses 2008 dan kekalahan dari USA di Confederation Cup, skuad Del Bosque datang ke Afrika Selatan mengusung ambisi merebut gelar dunia yang belum pernah dicicipinya. Kali ini tim matador jauh lebih siap. Gebrakan perdana, lawan Swiss di stadion Moses Mabhiba kota Durban 16 Juni, tidak ada pilihan lain kecuali menang. Del Bosque mempertahankan kerangka inti pilihan Aragones, seperti Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Xavi Hernández, Fernando Torres, Cesc Fábregas, Xabi Alonso dan David Silva. Hanya Marcos Senna yang hilang dari daftar.
Salah satu saingan berat Spanyol di grup datang dari Cili. Pelatih asal Argentina, Marcelo Bielsa dikenal sebagai El Loco alias The Madman karena dedikasinya yang unik akan sepakbola, pekerja keras dan sangat disiplin serta komit akan prinsipnya. Karakternya yang unik dan cerdas dalam strategi mendatangkan respek dan pujian dari pemain dan fans. Dia membawa Cili sukses runner-up, hanya selisih satu nilai dari pimpinan grup Brazil dalam kualifikasi zone Conmebol. Gaya menyerang yang dikemas Bielsa membuahkan 32 gol dari 18 pertandingan, lebih rendah satu gol dibanding Brazil. Gaya main ini sangat dipuja para pecinta tim Cili.
Bielsa hadir pada saat yang tepat, ketika sepakbola Cili dilanda mendung duka menyusul penampilan buruk dalam kualifikasi zone Conmebol yang menyebabkan mereka gagal maju ke Piala Dunia 2002 dan 2006. Penampilan apik dicapai skuad Marcelo Bielsa lolos ke 2010 dengan satu pertandingan tersisa, ketika mengalahkan tuan rumah Kolombia 4-2. Itu kemenangan fantastis, karena mereka menyerang di kandang lawan.
Terakhir tampil di Piala Dunia, Cili berantakan di France 1998 meskipun diperkuat dua bomber handal Marcelo Salas dan Ivan Zamorano. Setelah itu Cili absen, dan baru hadir kembali di 2010 yang disebut-sebut sebagai kelahiran kembali tim berkostum merah itu. Sekarang ini ambisi mereka adalah prestasi semifinal sebagaimana yang dicapainya - peringkat tiga - di tahun 1962 ketika menjadi tuan rumah.
Kekuatan Cili tampak pada disiplin, semangat dan kepercayaan diri. Pemain andalan yang diharapkan Bielsa menjadi pilar tim antaranya penyerang Real Zaragoza Spanyol Humberto Suazo yang mencetak 10 dari 32 gol Cili. Juga Jorge Valdivia, mantan klub Colo Colo yang telah memenangkan gelar domestik 2006, lalu hijrah ke Sao Paulo Brazil dan Palmeiras. Kini dia main untuk klub Uni Emirat Arab, Al Ain dengan kontrak menggiurkan. Bersama Suazo dia berperan penting meloloskan Cili ke 2010.
Pada gebrakan awal Cili akan bertarung keras dan menyerang untuk meraih tiga angka dari Honduras. Jika sukses, di atas kertas kemungkinan sukses, maka Cili akan memperlihatkan taringnya menghadapi rival utama Swiss. Partai ini sangat menentukan nasib kedua tim karena diperkirakan Spanyol akan lolos sementara tiket kedua grup akan ditentukan Cili atau Swiss.
Swiss, sama seperti Cili juga mengusung ambisi lolos. Rencananya menahan Spanyol di partai perdana kemudian “all-out” lawan Cili di partai kedua. Pelatih Swiss, Ottmar Hitzfeld mempercayakan lini pertahanan pada Stephane Grichting yang 8 musim main di klub Auxerre, sebagai bek kiri pengalaman usia 31 tahun. Mulanya ketika duduk di bangku cadangan di Euro 2008 Grichting berpikir gantung sepatu. Namun Ottmar berhasil membujuknya untuk tetap siap ke Afrika Selatan.
Ottmar memang dikenal sebagai pelatih yang bisa memotivasi pemainnya untuk tampil optimal. Permainan kolektif, disiplin dan bertenaga tim Swiss ini bisa jadi batu sandungan bagi Spanyol ataupun Cili.
Sepakbola tudak mengenal matematik, Honduras yang diramal jadi bulan-bulanan tidak akan menerima nasib begitu saja. Pelatih Honduras Reinaldo Rueda telah mempersiapkan timnya dengan optimal meskipun disanasini masih terbelit persoalan dana. Para pemain liga premier Inggeris, Wilson Palacios (Tottenham Hotspurs), Hendry Thomas dan Maynoe Figuerora (Wigan) bersama senior David Suazo (Genoa) dan Carlos Pavon (Real Espana) diharapkan jadi pilar kekuatan bersaing dengan tim-tim high level di grupnya.
Inilah penampilan kedua bagi Honduras di Piala Dunia setelah debutnya di tahun 1982. Sadar akan peta kekuatan di grup H maka tidaklah heran jika pasar tarohan menempatkan posisi Honduras di urutan buncit. Nyaris tak ada peluang untuk lolos. ***
Serial World Cup 2010 (02)
Serial World Cup 2010 (02)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Perancis Unggulan Grup A
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 24 Mei 2010
Dua juara dunia berkumpul di grup A, Uruguay dan Perancis. Boleh saja Uruguay mencatat dua kali juara, tahun 1930 dan 1950, tetapi itu masa lalu. Belakangan Uruguay tak lagi bisa mencatat prestasi besar di tingkat dunia, kecuali di Piala Amerika Selatan. Sementara Perancis meski baru satu kali juara namun belakangan sudah masuk jajaran kelas dunia. Inilah yang membangun tradisi Les Blues dan menjadikan salah satu tim favorit di Piala Dunia 2010.
Jejak langkah Les Blues ke pentas di dunia dimulai tahun 1982, ditangani Michel Hidalgo dan dimotori kapten dan playmaker Michel Platini menembus semifinal Piala Dunia Espana’82 menempati peringkat empat. Dua tahun berikut sebagai tuan rumah tim ini sukses merebut gelar Piala Eropa. Dua tahun berikut skuad ini menggebrak Mexico’86, sayang hanya berakhir di peringkat tiga.
Terlambat mematangkan pemain muda, generasi dibawah Platini, penyebab Perancis dua kali tidak lolos kualifikasi dan absen di Piala Dunia 1990 dan 1994. Kebangkitan besar Les Blues dimulai lagi ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998. Skuad asuhan Aime Jacquet yang dimotori bintang berdarah Aljazair Zinedine Zidane sukses juara. Jacquet mundur, digantikan Roger Lemerre yang melanjutkan kiprah skuad Les Blues merebut gelar Euro 2000.
Meskipun berbekal gelar akbar, Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 Les Blues berantakan di Piala Dunia 2002, tersingkir di penyisihan grup. Di partai pembukaan 31 Mei di Seoul kalah 0-1 dari Senegal, draw 0-0 lawan Uruguay dan ditekuk Denmark 0-2 dalam partai penentuan. Les Blues angkat koper dan Roger Lemerre dipecat.
Pelatih berikutnya, Raymond Domenech mempersiapkan tim ke Piala Dunia 2006. Les Blues dimotori Zinedine Zidane sukses menembus partai puncak, sayang kalah adu pinalti dari Italia. Les Blues main 7 kali menang 4 draw 3 dan tidak pernah kalah, mencetak gol 9-3.
Dua tahun kemudian Les Blues gagal di Piala Eropa 2008. Di Zurich 9 Juni ditahan Rumania 0-0, empat hari kemudian di Wankdorf dipermalukan Belanda 1-4 dan akhirnya angkat koper setelah dilibas Italia 0-2 lewat gol Andrea Pirlo dan Danielle De Rossi. Publik dan pers menuntut pemecatan Raymond Domenech, tapi Federasi FFF bergeming. Domenech tetap dipercaya membawa timnya ke Afrika Selatan.
Perancis nyaris gagal ke 2010, hanya lolos setelah playoff mengalahkan Irlandia lewat gol kontroversial William Gallas yang diawali “double handsball” Thierry Henry, gol yang mencoreng muka Perancis dan FIFA, membangkitkan amarah kekecewaan rakyat Irlandia.
Kelemahan tim ada di “kepala” Domenech demikian komentar pecinta Les Blues. Kontra produktif dan “kepala batu”. Dalam menentukan pemain ke 2010, dia kembali menuai pro kontra. Pers mengeritiknya. Namun dia punya alasan yang dari kacamatanya sangat obyektif dan semata-semata disesuaikan kepentingan tim.
William Gallas merupakan satu dari empat pemain klub Arsenal yang dipanggil, tiga lainnya Bacary Sagna, Gael Clichy dan Abou Diaby. Sementara rekan seklub Samir Nasri dan mantan bintang “Gunners” Patrick Vieira bahkan tidak dilirik sama sekali sejak pengumuman 27 pemain awal. Juga striker Marseille Hatem Ben Arfa dan striker Real Madrid Karim Benzema.
Tanggal 27 Mei Les Blues akan masuk kamp latihan di Tunisia membawa 23 pemain intinya yang akan masuk daftar resmi FIFA. Di atas kertas Perancis akan lolos dari grup A didukung data “all time World Cup” dimana ranking Perancis berada di posisi 6 lebih unggul atas Uruguay (12) dan Mexico (13) serta Afrika Selatan (46).
Data dan tradisi tidak akan memenangkan suatu tim tanpa penampilan yang berkualitas di lapangan. Perancis akan bertemu Uruguay dalam laga perdananya di stadion Cape Town 12 Juni. Bagi kedua tim juara tersebut, laga perdana itu sangat menentukan. Dalam 4 pertemuan sebelumnya di Piala Dunia, keduanya sama-sama menang sekali dan draw dua kali. Perancis unggul gol 3-2.
Kekuatan Uruguay sulit diduga. Kehadiran pelatih Oscar Washington Tabarez yang dijuluki para pemain “El Maestro” telah menyuntik semangat dan motivasi. Tim ini bertekad lolos dari grup. Permainan kolektif, keras dan efisien, itulah ciri yang dibawa Uruguay. Pasti sangat menarik melihat bagaimana sepakbola menyerang Les Blues menghadapi pertahanan tim keras dari Amerika Latin ini.
El Maestro mengandalkan beberapa pemain yang diharapkan menjadi pilar tim, striker Diego Forlan yang main di klub Spanyol Athletico Madrid, dua bintang Ajax Amsterdam Luis Suarez dan Nicolas Lodeiro serta gelandang bertahan klub Napoli Spanyol Walter Gargano. Uruguay memang tidak gemerlap selama ini namun tetap saja bisa jadi batu sandungan bagi Les Blues. Beberapa hari lalu, Uruguay menang 2-1 dalam ujicoba atas Libia di Tunisia.
Jika keadaan berjalan mulus, artinya Les Blues bisa tampil sebagaimana form terbaiknya maka juara grup tidak jauh dalam genggaman. Satu tiket lagi akan ditentukan Mexico atau Uruguay. Tiket inipun tergantung pada partai pembukaan 2010 yakni tuan rumah versus Mexico di stadion Soccer City Johannesburg 11 Juni yang pasti akan sangat menegangkan.
Mexico dalam beberapa ujicoba memperlihatkan perkembangan positif berkat pelatih tangan dingin Javier Aguirre, menang 1-0 atas Angola di Houston, 1-0 atas Senegal di Chicago, kalahkan Chili di Mexico City dan 0-0 lawan Ekuador. Menghadapi dua tim Afrika menandai kesiapan Mexico menantang tuan rumah.
Javier Aguirre membawa lebih banyak pemain bertahan dibanding midfield, Rafael Marquez (Barcelona), Juan Carlos Valenzuela (klub America) dan Adrian Aldrete Morelia, Alberto Medina (Guadalajara) dan penyerang senior Cuauhtemoc Blanco (Veracruz), tandanya Mexico akan menggalang pertahanan ketat dengan serangan balik yang mematikan. Marquez akan memimpin pertahanan sedang Blanco jadi andalan mencetak gol.
Tim mana yang lolos dari grup A ini sangat ditentukan dua pertandingan awal. Mereka, keempat tim, sama-sama memburu kemenangan. Karena biasanya tim yang menang di partai perdana, memiliki peluang besar untuk lolos. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Perancis Unggulan Grup A
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 24 Mei 2010
Dua juara dunia berkumpul di grup A, Uruguay dan Perancis. Boleh saja Uruguay mencatat dua kali juara, tahun 1930 dan 1950, tetapi itu masa lalu. Belakangan Uruguay tak lagi bisa mencatat prestasi besar di tingkat dunia, kecuali di Piala Amerika Selatan. Sementara Perancis meski baru satu kali juara namun belakangan sudah masuk jajaran kelas dunia. Inilah yang membangun tradisi Les Blues dan menjadikan salah satu tim favorit di Piala Dunia 2010.
Jejak langkah Les Blues ke pentas di dunia dimulai tahun 1982, ditangani Michel Hidalgo dan dimotori kapten dan playmaker Michel Platini menembus semifinal Piala Dunia Espana’82 menempati peringkat empat. Dua tahun berikut sebagai tuan rumah tim ini sukses merebut gelar Piala Eropa. Dua tahun berikut skuad ini menggebrak Mexico’86, sayang hanya berakhir di peringkat tiga.
Terlambat mematangkan pemain muda, generasi dibawah Platini, penyebab Perancis dua kali tidak lolos kualifikasi dan absen di Piala Dunia 1990 dan 1994. Kebangkitan besar Les Blues dimulai lagi ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998. Skuad asuhan Aime Jacquet yang dimotori bintang berdarah Aljazair Zinedine Zidane sukses juara. Jacquet mundur, digantikan Roger Lemerre yang melanjutkan kiprah skuad Les Blues merebut gelar Euro 2000.
Meskipun berbekal gelar akbar, Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 Les Blues berantakan di Piala Dunia 2002, tersingkir di penyisihan grup. Di partai pembukaan 31 Mei di Seoul kalah 0-1 dari Senegal, draw 0-0 lawan Uruguay dan ditekuk Denmark 0-2 dalam partai penentuan. Les Blues angkat koper dan Roger Lemerre dipecat.
Pelatih berikutnya, Raymond Domenech mempersiapkan tim ke Piala Dunia 2006. Les Blues dimotori Zinedine Zidane sukses menembus partai puncak, sayang kalah adu pinalti dari Italia. Les Blues main 7 kali menang 4 draw 3 dan tidak pernah kalah, mencetak gol 9-3.
Dua tahun kemudian Les Blues gagal di Piala Eropa 2008. Di Zurich 9 Juni ditahan Rumania 0-0, empat hari kemudian di Wankdorf dipermalukan Belanda 1-4 dan akhirnya angkat koper setelah dilibas Italia 0-2 lewat gol Andrea Pirlo dan Danielle De Rossi. Publik dan pers menuntut pemecatan Raymond Domenech, tapi Federasi FFF bergeming. Domenech tetap dipercaya membawa timnya ke Afrika Selatan.
Perancis nyaris gagal ke 2010, hanya lolos setelah playoff mengalahkan Irlandia lewat gol kontroversial William Gallas yang diawali “double handsball” Thierry Henry, gol yang mencoreng muka Perancis dan FIFA, membangkitkan amarah kekecewaan rakyat Irlandia.
Kelemahan tim ada di “kepala” Domenech demikian komentar pecinta Les Blues. Kontra produktif dan “kepala batu”. Dalam menentukan pemain ke 2010, dia kembali menuai pro kontra. Pers mengeritiknya. Namun dia punya alasan yang dari kacamatanya sangat obyektif dan semata-semata disesuaikan kepentingan tim.
William Gallas merupakan satu dari empat pemain klub Arsenal yang dipanggil, tiga lainnya Bacary Sagna, Gael Clichy dan Abou Diaby. Sementara rekan seklub Samir Nasri dan mantan bintang “Gunners” Patrick Vieira bahkan tidak dilirik sama sekali sejak pengumuman 27 pemain awal. Juga striker Marseille Hatem Ben Arfa dan striker Real Madrid Karim Benzema.
Tanggal 27 Mei Les Blues akan masuk kamp latihan di Tunisia membawa 23 pemain intinya yang akan masuk daftar resmi FIFA. Di atas kertas Perancis akan lolos dari grup A didukung data “all time World Cup” dimana ranking Perancis berada di posisi 6 lebih unggul atas Uruguay (12) dan Mexico (13) serta Afrika Selatan (46).
Data dan tradisi tidak akan memenangkan suatu tim tanpa penampilan yang berkualitas di lapangan. Perancis akan bertemu Uruguay dalam laga perdananya di stadion Cape Town 12 Juni. Bagi kedua tim juara tersebut, laga perdana itu sangat menentukan. Dalam 4 pertemuan sebelumnya di Piala Dunia, keduanya sama-sama menang sekali dan draw dua kali. Perancis unggul gol 3-2.
Kekuatan Uruguay sulit diduga. Kehadiran pelatih Oscar Washington Tabarez yang dijuluki para pemain “El Maestro” telah menyuntik semangat dan motivasi. Tim ini bertekad lolos dari grup. Permainan kolektif, keras dan efisien, itulah ciri yang dibawa Uruguay. Pasti sangat menarik melihat bagaimana sepakbola menyerang Les Blues menghadapi pertahanan tim keras dari Amerika Latin ini.
El Maestro mengandalkan beberapa pemain yang diharapkan menjadi pilar tim, striker Diego Forlan yang main di klub Spanyol Athletico Madrid, dua bintang Ajax Amsterdam Luis Suarez dan Nicolas Lodeiro serta gelandang bertahan klub Napoli Spanyol Walter Gargano. Uruguay memang tidak gemerlap selama ini namun tetap saja bisa jadi batu sandungan bagi Les Blues. Beberapa hari lalu, Uruguay menang 2-1 dalam ujicoba atas Libia di Tunisia.
Jika keadaan berjalan mulus, artinya Les Blues bisa tampil sebagaimana form terbaiknya maka juara grup tidak jauh dalam genggaman. Satu tiket lagi akan ditentukan Mexico atau Uruguay. Tiket inipun tergantung pada partai pembukaan 2010 yakni tuan rumah versus Mexico di stadion Soccer City Johannesburg 11 Juni yang pasti akan sangat menegangkan.
Mexico dalam beberapa ujicoba memperlihatkan perkembangan positif berkat pelatih tangan dingin Javier Aguirre, menang 1-0 atas Angola di Houston, 1-0 atas Senegal di Chicago, kalahkan Chili di Mexico City dan 0-0 lawan Ekuador. Menghadapi dua tim Afrika menandai kesiapan Mexico menantang tuan rumah.
Javier Aguirre membawa lebih banyak pemain bertahan dibanding midfield, Rafael Marquez (Barcelona), Juan Carlos Valenzuela (klub America) dan Adrian Aldrete Morelia, Alberto Medina (Guadalajara) dan penyerang senior Cuauhtemoc Blanco (Veracruz), tandanya Mexico akan menggalang pertahanan ketat dengan serangan balik yang mematikan. Marquez akan memimpin pertahanan sedang Blanco jadi andalan mencetak gol.
Tim mana yang lolos dari grup A ini sangat ditentukan dua pertandingan awal. Mereka, keempat tim, sama-sama memburu kemenangan. Karena biasanya tim yang menang di partai perdana, memiliki peluang besar untuk lolos. ***
Subscribe to:
Posts (Atom)