Tuesday, July 28, 2009

Wisanggeni, John Halmahera, alternatif dan jawaban

Wisang Geni, John Halmahera, Alternatif Dan Jawaban

Keranjingan membaca buku-buku silat (cersil) melanda saya ketika berangkat remaja di kota Surabaya sekitar tahun 1965-an. Kho Ping Ho, Boe Beng Tjoe, Gan K L, Chin Yung, O K T dll sudah mengobok-obok pikiran saya. Ada obsesi, pemberontakan dalam diri. Obsesinya, ingin mengarang cersil, menerbitkan cersil dan dibaca orang banyak. Pemberontakan dalam diri terutama di benak menyangkut rasio dan jalan pikiran saya. Pikiran liar yang dengan susah payah harus saya formulasikan dalam kerangka dan bingkai yang rasional.
Obsesi saya sudah terpenuhi. “Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan”, tahun 2009 karangan saya sudah terbit, dalam hal ini tak lupa saya ucapkan terimakasih pada (Bung) Bing Cahyono dan (Bung) Sinyo Leando yang sudah memberi kesempatan menerbitkan karya saya tersebut (terimakasih Bung).
Mulanya atau asal muasal cersil tsb saya rilis bulan Mei tahun 1992 di koran Suara Pembaruan (dulunya Sinar Harapan yang dibredel menpen Harmoko tahun 1985). Perlu saya perkenalkan diri bahwa saya mantan wartawan (spesialis sepakbola) olahraga di koran (Sinar Harapan) kebanggaan saya tsb. Judul cersilku (cerbung) waktu itu adalah “Jurus Penakluk Raja” yang terbit setiap hari selama lebih dari 70 hari secara bersambung kecuali hari Minggu.
Jurus Penakluk Raja (JPR) telah saya selesaikan meskipun dengan sangat serius, fokus dan penuh pemikiran tetapi agak terburu-buru. Sehingga pada hari-hari berikutnya, saya merasa tidak puas, komentar saya pada diri sendiri ,”cersil itu belum selesai, masih bisa disambung”. Wisang Geni (WG) itu membuat saya kasmaran dan tergila-gila pada penulisan cersil. Maka mulailah pengembaraan di dunia kependekaran, pikiran saya mulai menyambung lanjutan petualangan Wisang Geni.
Disela-sela kesibukan sebagai tenaga professional di PSSI (persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), sering kali di malam hari atau dini hari saya menulis WG, menuntaskan obsesi dan pikiran saya yang liar. Hampir dua tahun proses penyempurnaan WG, tepatnya tahun 2007, WG selesai, tuntas. Sebagai perbandingan, isi (panjang cerita) Jurus Penakluk Raja (JPR) sekitar 40 persen dari isi Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan (WG). Tentu saja lahir beberapa tokoh baru, baik di kubu teman WG maupun di pihak lawan.
Obsesi dan pemberontakan dalam pikiran saya itulah yang melahirkan WG sebagaimana yang bisa anda baca sekarang ini.
Apa dan bagaimana pemberontakan pikiran saya?
Sebelum jauh melangkah dan meneliti tulisan ini, perlu disepakati terlebih dahulu, bahwa tulisan ini hanya menceritakan latar belakang dan alternatif pemikiran saya akan halnya cerita silat. Dan bukan suatu pembelaan diri terhadap kritik dan saran pembaca WG serta saya pun tidak mengundang polemik. Adapun kritik dan pendapat pembaca, sangat saya hormati dan hargai.
Menurut pikiran saya :
Dalam suatu tarung penuh dendam dan kemarahan antara dua (atau lebih) pendekar berilmu tinggi atau pendekar utama (papan atas) yang dibekali senjata maut (tangan kosong maupun senjata), sangat besar kemungkinan ada pihak yang mati atau luka parah (kemudian mati).
Saya tidak setuju penulisan cerita yang menunda-nunda kematian musuh jahat. Saya tidak suka memelihara tokoh jahat dan membiarkan dia lolos (secara tidak masuk akal) dari serangan maut tokoh (lakon) utama. Bagi saya, dalam tarung adu jiwa, seseorang harus telengas, kalau tidak membunuh musuh jahat maka kita yang dibunuh. So, pilihan saya : kill him!!!
Alternatif seseorang yang lolos dari kematian dalam suatu pertarungan yang ketat, biasanya disebabkan dua hal. Seorang pendekar yang kalah tapi tidak mati, diselamatkan oleh rasa kasihan si lawan. Kedua, dia tertolong oleh pendekar berilmu tinggi (kosen) yang tiba-tiba muncul begitu saja from nowhere….
Yang pertama, dia diiselamatkan rasa kasihan lawan, bisa saja terjadi, meskipun harus ada alasan. Jadi saya anggap tidak begitu perlu dibahas.
Yang kedua, tertolong oleh pendekar (penolong/inkong) yang tiba-tiba muncul adalah faktor kebetulan. Jika faktor kebetulan hanya sekali-dua masih bisa saya terima. Tetapi kalau dalam suatu cerita sering kali muncul faktor kebetulan, terus terang saya tidak setuju.
Alasannya, bagaimana mungkin dalam radius (setting WG adalah Jawa Timur) yang sangat luas areanya dengan penduduk yang jarang, faktor kebetulan mempertemukan penolong dengan orang yang ditolong di satu tempat, sungguh sangat sulit dipercaya. Pertemuan antara dua (atau lebih) tokoh di satu tempat, sangat sulit. Harus diatur, misalnya ada kepentingan bersama untuk menuju dan mendatangi suatu tempat tertentu, dan disitulah mereka bertemu dan bertarung.
Maka itu sebabnya saya selalu merancang pertemuan mereka dengan alasan yang jelas, misalnya perburuan widali sakti; pertarungan memilih lima pendekar utama tanah Jawa di Mahameru; pertarungan pendekar tanah Jawa versus Kuangchou; atau lewat tantangan dan janji tarung (WG vs pasangan Kumara-Malini) dll. Saya selalu usahakan adanya alasan mengapa orang-orang tersebut bisa bertemu dan berkumpul di satu tempat untuk bertarung.
Saya pun cenderung memilih pertarungan ketat yang dipenuhi kemarahan dan dendam, harus ada yang mati. Ketika WG dan Sekar bertemu dengan Kalayawana (1st clash), WG dan Sekar luka parah, nyaris mati. Tertolong oleh Kumara dan Malini. Alasannya jelas ada, Kumara dan Malini punya kepentingan mengorek rahasia dari WG tentang persembunyian Ki Suryajagad, mereka ingin balas dendam terhadap Suryajagad tapi tidak tahu mau cari kemana dan bahwa WG adalah murid Lemah Tulis yang pasti tahu dimana Suryajagad bersembunyi.
Ketika WG tarung lawan Kalayawana (2nd clash) maka tak ada yang bisa selamat lagi, salah satu harus mati! Tak ada lagi faktor kebetulan! Bahwa akhirnya Geni yang menang memang sudah ditakdirkan oleh si pengarang. Saya menganut pemikiran, pertarungan antara pendekar top-class harus ada yang mati. Itu resiko dan tujuan akhir pertarungan.
Pemberontakan pikiran saya lainnya adalah soal asmara dan seks. Latar belakang cerita WG di tahun 1222-1247, era perang Ganter, jaman Ken Arok dan putra-putranya, dengan setting lokasi di Jawa Timur yang masih sebagian besar (90 persen?) hutan rimba.
Dunia kependekaran adalah tempat bertemunya orang-orang kasar yang tidak (baca: kurang) punya tata-krama dan etika. Moral tidak perlu dijunjung malahan ditempatkan di nomor sekian. Yang di urutan atas (top priority) adalah hukum rimba, siapa kuat dia menang.
Pernikahan yang penuh tata-krama, adat istiadat dan terkadang diwarnai pernik glamor hanya ada di istana atau kepatihan oleh kalangan pejabat (pamong) pemegang kekuasaan. Di dunia kependekaran tak dikenal perkawinan seperti itu, yang umum adalah “ketemu kalau suka sama suka, yah pacaran dan kawin” atau “ketemu, ada satu pihak kasmaran dan pihak lain tidak cinta maka terjadi pemaksaan (baca: perkosaan), prinsipnya siapa kuat dia menang”.
Sejarah mencatat, ketika Tunggul Ametung melihat Ken Dedes yang jelita dan seksi, seketika dia kasmaran. Saat itu Ken Dedes sendirian di pertapaan milik ayahnya, dan ayahnya yang seorang pertapa sakti sedang bepergian. Ametung menculik Ken Dedes. Pertapa pulang melihat putrinya hilang, tak tahu kemana mencarinya.
Ken Dedes dibawa kabur ke istana. Bisa terjadi waktu pertama ketemu Ametung memerkosa, bisa juga bujuk rayu atau ancaman, bisa juga Ken Dedes jatuh cinta, banyak kemungkinan bisa terjadi tapi semua alasannya tidak terungkap sejarah.
Ametung punya isteri atau selir atau ampil, tidak jelas apakah Ken Dedes langsung jadi isteri nomor satu. Pikiran liar saya mengatakan Ametung punya banyak selir. Jaman sekarang ada istilah poligami, di jaman itu tak ada batasan, yang ada hanyalah “power” yakni kekuatan, kekayaan dan kekuasaan.
Ketika Ken Arok melihat Ken Dedes –sejarah menceritakan adegan Ken Dedes turun dari kereta dan sewek (kain) tersingkap, kelihatan paha bagian dalam (maaf; putih, mulus) yang memancar sinar kemilau- serta merta birahi Arok tergugah. Arok menceritakan pada gurunya, dan sang guru mengatakan wanita itu akan melahirkan raja-raja penguasa tanah Jawa. Arok lalu membunuh Ametung dan mengawini Ken Dedes.
Pikiran liar saya mengatakan, kalau di kalangan penguasa keraton saja bisa muncul hal-hal yang seperti itu, maka bisa dimengerti kalau di luar sana –di dunia kependekaran- persoalan asmara dan seks masih didominasi warna hukum rimba “siapa kuat dia menang”, kalau pasangan anak manusia itu mau sama mau maka perkawinan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Tidak perlu lagi ijin guru atau orangtua.
WG gila dalam bercinta, mudah jatuh cinta, punya nafsu besar. Dia bagaikan api (geni) yang membakar diri sendiri dan wanita yang mencintainya. WG seperti Wisanggeni putra Arjuna yang lahir dari rahim bidadari (dewi) Dresanala yang putri (anak) Dewa Brahma dengan isterinya Dewi Sarasyati. Dalam cerita wayang (versi Jawa, bukan versi Mahabharata) Wisanggeni anak Arjuna sakti mandraguna karena dibesarkan api di kawah Candradimuka di gunung Jamurdipa. Putra Arjuna yang konon sangat sakti itu telah membuktikan kehebatannya dengan mengalahkan (dalam tarung) semua dewa di kahyangan dan juga para Pandawa termasuk ayahnya (Arjuna).
Wisanggeni artinya racun api, karena lahir akibat kemarahan betara Brahma, sang dewa penguasa api dan dibesarkan oleh api kawah Candradimuka. Bayangkan “racun api” artinya bisanya api, atau inti dari panasnya api. Seperti apa itu? Mungkinkah sehebat panasnya neraka? Tetapi WG yang aku ceritakan adalah WG putra Gajah Kuning dari isterinya Sukesih, bukannya Wisanggeni putra Arjuna.
Pada mulanya saya ingin menambahkan kalimat “nama putraku, Wisanggeni, mengingatkan aku akan putra dari Arjuna, dan pemuda itu tak punya tandingan dalam kesaktian,” kata Gajah Kuning. Namun pada saat-saat akhir saya batalkan, khawatir cerita terlalu melebar dan njelimet.
Hanya bagaimana pun juga konsekwensi dari pilihan nama Wisang Geni itu maka semua yang berkaitan dengan Wisanggeni anak Arjuna, saya lebur sebagai karakter WG anak Gajah Kuning. Hakikatnya Wisanggeni berarti “racun api”. Dan itulah dasar karakter dan pola tingkah WG anak Gajah Kuning. Dia pemarah, sakti, nekad, cerdas, agak liar, heroik, loyal membela negeri (tanah Jawa), berani ambil resiko. Dia juga romantis, perayu ulung seperti Arjuna, suka wanita, mudah jatuh cinta, nafsu besar karena tenaga panas dalam tubuhnya.
Itulah WG yang tokoh utama dalam cersil saya. Penuh kontroversi memang, tapi saya suka tokoh itu, seperti juga saya menyukai Sekar, gadis jelita yang sangat setia dan menyintai WG. Kalau Ian Fleming seenak perutnya menciptakan James Bond yang unbeatable, maka saya juga tidak mau kalah menciptakan WG yang pasti lebih sakti dari James Bond, Rambo, Indiana Jones, bahkan tidak kalah dari Supermen. Kalau tarung versus Supermen, tokoh WG ciptaan saya itu kalah, maka saya akan meminjam Wisanggeni tulen putra Arjuna, nah siapa yang menang? Pasti Wisanggeni yang menang, sebab dia anak Indonesia. (*) 29th July 2009.



Thursday, April 16, 2009

Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan

Bab Tiga
Cinta Pertama

Catatan : Novel ini - Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan - sudah Terbit, bisa beli di semua tokotoko buku.

Padeksa menghela napas, ia gundah. Sampai hari ini, dua puluh lima tahun berlalu, ia belum bisa menyelesaikan tugas yang diembankan Bergawa padanya. Ia belum menemukan adik perguruan Gajah Watu dan juga keturunan Nyi Ageng Kili Suci. Ia belum tahu bagaimana caranya bisa mendapatkan jurus pusaka “garudamukha prasidha”. Ia juga belum menemukan murid pengkhianat yang menabur racun pelemas tulang. Ia belum membalas dendam meski setiap mengingat tragedi berdarah itu, amarahnya berkobar. Cuma satu hal yang membuatnya senang, Wisang Geni telah menguasai seluruh ilmu silat yang dia ajarkan, duabelas jurus “garudamukha” yang berintikan tenaga “garwa” (amarah) dan tujuh jurus “garudamukha prasidha”.

Hari itu setelah kejadian di reruntuhan rumah tua, Padeksa menyerahkan Wisang Geni kepada Manjangan Puguh untuk menyempurnakan ilmu andalan Merapi, pukulan “bang bang alum alum” dan ilmu ringan tubuh “waringin sungsang”.

“Geni, ada dua murid kakang Bergawa yang selamat, namun entah berada di mana sekarang. Lembu Agra, tak mungkin mencapai kesempurnaan ilmu silat lantaran cedera tenaga dalam. Walang Wulan, ia seorang wanita sehingga kemajuannya terbatas. Mereka adalah adik perguruan ayah ibumu. Dibanding keduanya, kamu calon paling kuat untuk menjadi ketua Lemah Tulis. Tapi kamu harus berlatih keras. Ingat kamu harus temukan rahasia “kinanti prasidha” yang berada di tangan keturunan Nyi Ageng Kili Suci, kamu gabung dengan tujuh jurus “garudamukha prasidha” yang kuajarkan, maka “garudamukha prasidha” akan sempurna dan menjadi jurus dahsyat, jurus yang menjadi pusaka perguruan kita. Kamu cari dan temukan pusaka itu !”

Padeksa sebenarnya adalah kakek guru bagi Wisang Geni namun belakangan justru menjadi guru. Orangtua Geni, Gajah Kuning dan Sukesih, murid Bergawa yakni kakak perguruan Padeksa. Dua puluh lima tahun lalu, setelah menyelamatkan Geni dari kepungan pasukan Tumapel, Puguh menyerahkan Geni untuk dididik Padeksa. Itu sebab Geni terbiasa memanggil Padeksa dengan kakek meski terkadang menyebutnya guru. Jika melihat hubungan lewat orangtuanya, Geni memang pantas memanggil kakek guru. Tapi jika melihat bahwa selama dua puluh lima tahun Padeksa mengajarinya ilmu silat, maka Geni boleh saja memanggil guru.

“Kakek, kau sudah seperti kakek sungguhan yang memelihara aku sejak kecil, kamu juga guruku, maka sudah kewajibanku melayani dan meladenimu. Setelah selesai berlatih dengan guru Puguh aku akan mencarimu. Tetapi guru, kamu kan masih ketua Lemah Tulis, kenapa harus mencari ketua lain.”

“Aku hanya ketua sementara, itu peraturan perguruan kita bahwa ketua hanya diturunkan dalam setiap generasi. Setelah Bergawa dan aku, maka generasi berikut adalah generasi kamu, Agra dan Wulan. Tapi sudah kukatakan tadi, kamu yang paling berbakat, cerdas dan memang sudah dipersiapkan sejak kecil oleh orangtua dan paman-pamanmu. Hanya kamu harus berjuang dan berlatih keras untuk jabatan terhormat itu.”

Wisang Geni merunduk. Malu-malu dia berkata lirih. “Aku belum tahu banyak asal usul perguruan kita juga perihal Eyang Sepuh Suryajagad dan Nyi Ageng Kili Suci, siapa mereka?” Dia melanjutkan. “Garudamukha prasidha” itu apakah sedemikian hebatnya sehingga menjadi ilmu pusaka perguruan kita. Kek, cerita guru Puguh tentang pertarungan Eyang Sepuh Suryajagad di Ganter itu, tentu beliau menggunakan jurus prasidha.”

“Benar. Itu sebab sangat penting untuk menemukan separuh prasidha itu, sebab tanpa jurus garudamukha prasidha yang utuh sempurna sulit bagi kamu menjadi pendekar utama dan mengangkat kembali nama dan citra Lemah Tulis. Pergilah Geni, jangan ragu, lelaki sejati hanya punya satu tujuan hidup. Pandanganmu harus ke depan, jangan melihat belakang, jangan melihat samping, tetapi pandang ke depan, di situ tujuanmu ke situ kamu pergi. Pergilah, gurumu Puguh sudah menantimu di luar. Ada satu yang penting, sekarang ini jangan mengaku murid Lemah Tulis, sebab banyak musuh, aku yakin suatu waktu nanti kita semua akan bangga sebagai murid Lemah Tulis saat dimana kita sudah memiliki seorang ketua yang ilmu silatnya disegani banyak orang. Sekarang pergilah.”


***

Daerah belahan Timur di kaki gunung Arjuno jarang dikunjungi orang. Hutannya rapat padat dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Pagi itu udara masih dingin. Kabut pun masih tebal. Suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara kicau burung dan gemuruh air terjun. Air terjun mencurah dari tempat yang cukup tinggi dan terjal. Curah air itu bagai tonggak langit, membentuk sungai yang airnya mengalir deras. Uap air menutupi pemandangan di sekitar air terjun, sehingga tidak terlihat adanya seorang lelaki sedang berlatih silat di pusaran air terjun. Dia Wisang Geni.

Geni bergerak lincah berloncatan di bebatuan. Sekali sekali ia menerjang curah air yang bagaikan tembok tebal. Menerobos tirai air yang deras, sepertinya ia tak mengalami kesulitan. Padahal air yang terjun dari tebing puluhan tombak tingginya tentu sangat dahsyat kekuatannya. Ia berlatih seharian. Ketika matahari sudah bergeser ke Barat, senja semakin mendekat, Geni melompat ke sebuah batu. Ia semedi di tengah uap air yang tebal, basah kuyup. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana sebatas lutut.

Setelah berpisah dari Padeksa, Manjangan Puguh membawa Geni berlatih di air terjun. Satu minggu ia mengajarkan ilmunya, Puguh kemudian meninggalkan Geni. “Kamu tinggal membiasakan jurus-jurus itu menyatu dengan gerakanmu. Paling tidak kamu harus berlatih satu bulan lagi di sini. Dan aku tidak bisa menemanimu terus, aku harus pergi mencari Eyang Sepuh Suryajagad dan keturunan Nyi Ageng Kili Suci, jika ketemu, aku akan membawa kamu ke sana. Sekarang kamu berlatih saja, setelah satu bulan berlatih, kamu boleh pergi mengembara ke mana kamu mau. Tetapi ingat pesan kakekmu Padeksa, jangan memperkenalkan dirimu sebagai murid Lemah Tulis.”

Batas waktu satu bulan yang diberikan Manjangan Puguh malah menantang Geni untuk menambah waktu latihannya. Dua bulan Geni berdiam di kaki gunung Arjuno. Meskipun tidak sehebat gurunya, tetapi Geni sudah menguasai ilmu ringan tubuh yang tidak ada duanya di kolong langit “waringin sungsang” dan jurus tangan kosong “bang bang alum alum”. Ilmu andalan Manjangan Puguh, yang diterimanya dari guru Sagotra, pendekar dari gunung Merapi. Setelah semedi, Geni bangkit lagi meneruskan latihannya. Ia tidak melihat kehadiran seorang gadis di tepi sungai.

Gadis itu melangkah santai di tepi sungai. Ia duduk di sebuah batu di pinggir sungai. Kakinya dijulurkan ke dalam air. Ia menjerit kecil, dinginnya air terasa nikmat. Ia berdiri sambil merentang tangan, menengadah memandang air terjun dan menikmati pemandangan indah di sekelilingnya. Ia tidak melihat Geni yang berada di dalam kumpulan uap air yang tebal.

Gadis itu masih berdiri di batu di tepi sungai merasakan sejuknya angin pegunungan. Wajahnya yang cantik basah dielus angin sepoi yang membawa serta uap air. Hidungnya yang bangir kembang kempis menghirup nafas panjang seakan hendak menelan semua udara basah itu ke dalam parunya. Udara itu dihembuskan dari mulutnya yang indah berbentuk gondewa. Lehernya yang jenjang tertutup rambut yang basah yang terjulai sampai di pundaknya. Ia seorang gadis muda usia sekitar duapuluh tahun, jangkung dengan kaki langsing dan agak panjang. Tubuhnya kuning sawo, tampak langsing, sintal dan berisi. Ia benar-benar cantik alamiah.

Tak ada suara lain kecuali gemuruh air terjun dan suara binatang dari hutan sekitar. Mendadak terdengar suara tertawa keras diikuti kesiuran angin. Sosok bayangan bergerak pesat. Bagai turun dari langit seorang lelaki sudah berdiri di depan si gadis. Ia kurus, kepalanya botak. Kumis dan cambangnya lebat. Sikapnya kurang ajar. Matanya jelalatan menelusuri sekujur tubuh si gadis.

“Wong ayu, wong ayu, sudah lama kubuntuti kamu. Nah sekarang hanya kita berdua di tempat sunyi dan sepi ini. Bagaimana dengan lamaranku tempo hari, kamu jangan malu-malu, apalagi di sini kan tak ada orang, kangmas ini sudah tak sanggup menahan rindu.”

Si gadis terkejut sesaat. Tetapi bagai tersentak ia lantas menyerang gencar. Dua jurus berturutan dilepasnya. “Bangsat keparat busuk, rupanya kamu belum mati waktu itu. Hari ini kubikin kamu menyesali hidupmu, matilah kamu bangsat !” Ia menyerang dengan serentetan pukulan dan tendangan yang mendatangkan angin keras petanda besarnya tenaga yang digunakan.

Lelaki brewok itu tertawa. “Ajal belum mau mencabut nyawaku, wong ayu. Dewa maut itu berkata, ia baru akan mencabut nyawaku setelah aku mengawini kamu yang cantik dan montok. Sekarang saatnya aku mengawini dan menikmati tubuhmu, wong ayu.”

Gadis itu tidak meladeni omongan lawan. Ia terus mencecer dengan serangan dahsyat. Tetapi lelaki brewok itu berkelit lincah meskipun batu besar tempat ia berpijak, licin dan berlumut. Lelaki itu juga tak bisa berbuat banyak. Tampak ilmu silat keduanya imbang. Si gadis lebih unggul dalam ringan tubuh, namun masih kalah dalam tenaga pukulan.

“Tak usah heran wong ayu, sekarang ilmu silat kangmasmu ini, Kalamasura, makin maju. Sengaja aku memperdalam ilmu dari Romo Guru, supaya sebagai suami aku bisa meladeni kemauanmu tiap malam, iya kan wong ayu.”

Tigapuluh jurus berlalu. Perkelahian berlanjut ke dekat air terjun, namun masih di tepi sungai. Keduanya basah kuyup, kecipratan uap air. Baju si gadis basah nempel ketat di tubuh memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Lelaki itu semakin terangsang. “Hai wong ayu, setahun kita berpisah, ternyata kamu semakin montok, setahun aku kasmaran memikirkan kamu, sekarang aku harus memiliki kamu. Harus ! Oh wong ayu, aku makin kasmaran.”

Dua kali tamparan menerpa bahu dan pundak Kalamasura membuatnya meringis kesakitan. Mendadak ia mengubah jurus silatnya, “Wong ayu, sudah cukup kita main-main.”

Berkata demikian ia menyambut pukulan si gadis dengan kepalan. Kalah tenaga dalam, si gadis tak mau adu pukulan. Ia mengubah jurus, kepalan berubah menjadi telapak tangan terbuka. Ia niat menampar pergelangan tangan lawan. Tiba-tiba si gadis melihat sinar gemerlap di tangan Kalamasura. Paku yang berkilat oleh matahari senja. Jarak sudah terlampau dekat, ia sulit menghindar.

Si gadis dengan cerdik dan sebat menggerakkan pergelangan tangan ke bawah lalu ke atas, niat menyampok tangan lawan. Kalamasura licik, ia sudah memikirkan perangkap ini. Ia membiarkan gerakan si gadis. Saat yang tepat ia menggentak telapak tangannya, dua paku melayang secepat kilat. Gadis itu tak pernah mengira lawan akan menyambit dengan paku. Ia mengelak, tetapi terlambat. Satu paku lolos, satu lainnya nancap di dada dekat pundak.

Kalamasura berteriak girang, ”kena kamu wong ayu, dan ini paku berikutnya supaya kamu tak bisa lari.” Tiga paku melayang ke arah kaki. Si gadis mengelak dengan gerak tubuh limbung. Dua lolos, satu lainnya nancap di paha.

“Tak usah takut wong ayu, itu memang paku racun laba-laba, tapi kangmas punya pemunahnya. Tanpa obat pemunah kamu akan mati dalam waktu satu hari. Sekarang, menyerah saja. Memang tidak enak mengawini orang pingsan, tetapi apa boleh buat dari pada membiarkan kamu lolos lagi.”

Gadis itu merasa gerak kakinya agak kaku, rupanya racun sudah mulai bekerja. Sungguh cepat sekali proses kerja racun itu. Gadis berpikir lebih baik mati daripada diperkosa. “Aku adu jiwa dengan mu, lebih baik aku mati, kamu bangsat biadab.” Sambil berkata ia melancarkan dua jurus menyerang tanpa memperdulikan pertahanan lagi. Tujuannya cuma satu, membunuh lelaki bernama Kalamasura itu. “Lebih baik mati dari pada ternoda,” gumamnya.

Meski ilmunya setingkat, mau tak mau Kalamasura terdesak hebat. Ia cuma bisa menangkis. Dua pukulan menghantam telak dadanya. Terasa gejolak darah, rasanya mual. Ia tahu ia terluka dalam. Sebenarnya tak semudah itu ia terluka. Keduanya imbang, si gadis sudah terluka kena paku beracun namun dengan serangan nekad justru kekuatannya berlipat. Di lain pihak Kalamasura tarung setengah hati, tak mau menurunkan tangan maut. Lelaki brewok ini terhuyung limbung. Dadanya sakit, nafas sesak. Tapi ia tersenyum, dilihatnya si gadis ikut terhuyung sempoyongan. Racun sudah bekerja. “Ia segera akan jatuh tak berdaya,” gumam Kalamasura dengan menahan sakit di dadanya.

Racun sudah bekerja. Gadis itu merasa pusing. Pandangannya berputar dan kabur. Ia menggigit bibirnya, “aku tak boleh pingsan, aku harus tetap sadar.”

Pada saat kritis bagi si gadis, mendadak sebuah bayangan masuk pertarungan. “Laki-laki pengecut. Tidak pantas bertarung dengan perempuan, menggunakan cara membokong.” Tanpa basa basi Wisang Geni melancarkan jurus “gora andaka” (banteng besar hamuk) dari “bang bang alum alum” yang sudah sempurna ia kuasai.

Hebat ! Kalamasarura yang sudah terluka, kaget setengah mati, dia berupaya menangkis serangan Geni. Tetapi sia-sia, pukulan Geni menerpa bahunya. Ia kaget. Belum sempat ia bebenah diri, jurus susulan Geni “nyakra manggilingan” (selalu berputar bagai kincir) telak menghajar perut dan lengannya.

Kalamasura muntah darah! Seketika nyalinya terbang. Gila ! Hanya dalam dua jurus ia dihajar tanpa sempat membela diri. Lawan ini bisa membunuhnya. Ia tak berpikir dua kali lagi, ia kabur secepatnya.

Ada alasan mengapa Geni begitu cepat memetik hasil, hanya dua jurus, Kalamasura langsung terluka dan kabur. Pertama, Kalamasura sudah terluka oleh pukulan si gadis. Kedua, Geni menyerang ganas tanpa memberi kesempatan. Ketiga, hebatnya jurus “bang bang alum alum” yang baru selesai ia kuasai.

Wisang Geni terpesona akan ilmunya tadi. Ia baru pertama kali menggunakan jurus ciptaan pendekar Merapi dan hasilnya sungguh luar biasa. Dari gerakannya bisa diukur bahwa lawannya tadi bukan sembarang orang namun toh bisa ia lukai dalam dua jurus. Saat itu Geni melihat si gadis sempoyongan. Sebelum terjungkal ke dalam sungai, Geni sigap menangkap lengannya.

Mendadak gadis itu menyerangnya dengan pukulan ganas, mengarah mata. Geni terkesiap, sama sekali tak menduga akan diserang. Untung saja keracunan membuat pukulan si gadis tak bertenaga. Geni menangkis dengan tenaga ringan, takut si gadis terluka.

Si gadis sempoyongan. Pingsan. Geni meraih pinggangnya, mendudukkannya di atas batu dengan hati-hati. Ia menotok beberapa titik jalan darah di punggung dan leher. Gadis itu sadar. Ia berontak. Geni berkata lirih. “Nona, kamu tenang, aku bukan musuhmu, musuhmu yang tadi sudah kuusir pergi.”

Gadis itu masih mengigau, “aku tak mau pingsan.” Geni menjawab sambil menyalurkan tenaga dalam ke punggungnya. “Iyah, kamu tak boleh pingsan, aku akan membantumu dengan tenaga dalam.”

Kesadaran si gadis mulai pulih. Ia mengerti bahwa orang yang berada di belakangnya sedang menolongnya. Kalamasura sudah pergi. Mendadak ia merasa perutnya mual, pusingnya makin memabukkan. Ia ingat terkena serangan paku Kalamasura. “Aku, aku kena senjata rahasia paku beracun, katanya racun laba-laba.”

Geni terkejut. Ia melompat ke depan si gadis. “Dimana ?” Gadis itu melihat samar-samar seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Ia menunjuk dada dan pahanya. Ia sudah setengah sadar. Bibirnya pucat agak membiru. Dibawah pelupuk matanya, agak gelap.

Memegang nadi dan memandang mata si gadis, sekejap saja, Geni mengenal racun yang menyerang si gadis adalah racun ganas. “Ulurkan dua tanganmu.” Katanya dalam nada memerintah. Gadis itu mengikuti perintahnya. Tanpa membuang waktu lagi Geni segera mengempos tenaga dalamnya. Tangannya bergetar penuh tenaga menempel tangan si gadis. Mereka duduk berhadapan di atas batu besar dekat air terjun. Keduanya saling menatap. Lalu Geni memejamkan mata.

Gadis itu merasa tenaga yang hangat menerobos tangannya. Tenaga itu berputar dan menyelusur seluruh tubuhnya. Tadi agak pusing kini ia merasa lebih baik. Tadi dia sangat berkeinginan untuk tidur, kini rasa kantuknya perlahan-lahan lenyap. Ia melihat darahnya yang warnanya hitam merembes keluar dari lukanya. Tidak lama kemudian senjata semacam paku meloncat keluar dari luka di dadanya. Agak lama kemudian satu paku lagi terlempar keluar dari luka di pahanya. Diam-diam dia memuji hebatnya tenaga dalam laki-laki penolong ini.

Gadis itu meneliti pemuda di hadapannya. Lelaki itu basah kuyup. Ia bertelanjang dada, tampak bulu dadanya yang lebat. Wajahnya penuh keringat bercampur air sungai. Hidung besar agak bangir. Mulutnya lebar, bibirnya tipis. Tanda ia punya semangat tinggi dan agak kejam. Rambut setengah keriting, gondrong sampai leher. Alisnya tebal. Secara keseluruhan ia tidak tergolong tampan, tetapi punya daya tarik. Dan dengan tubuhnya yang kekar atletis, justru lebih nampak jantan.

Geni membuka mata, si gadis menangkap seberkas sinar tajam. Ada kilatan yang membuat si gadis bergidik. “Orang ini kejam,” pikirnya. Sesaat kemudian sinar mata itu kembali ramah dan penuh kedamaian. Ia mengubah penilaian dalam hatinya tadi, “pemuda ini baik dan luhur budi”. Tanpa terasa gadis itu merasa suka, “terimakasih, pendekar, kamu telah menolong aku,” katanya.

“Tunggu dulu, nona, kau belum sembuh. Racun masih mengeram dalam tubuhmu, berbahaya. Racun segera mengganas lagi jika tidak cepat ditolong, tetapi ... bagaimana yah.”

“Kenapa ? Katakan saja, aku tidak takut mati, tadi memang aku takut, aku takut diperkosa lelaki bejat itu. Kalau mati, aku tidak takut mati.”

“Bukan mati, tetapi kamu bisa lumpuh. Racun itu ganas, harus dikeluarkan dari tubuhmu, setelah itu kamu minum obat untuk membersihkan darahmu.”

“Bagaimana mengobatinya, apakah kamu bisa? Apakah kamu punya obatnya?” Saat itu si gadis merasa perutnya mual, “aku mual, rasanya mau muntah.” Saat berikutnya ia muntah. Lendir mengandung sedikit darah.

Geni merasa serba salah. “Racun mulai mengganas. Aku bisa menolongmu, aku murid seorang ahli pengobatan, tetapi ... .”

Gadis itu semakin bingung. “Katakan, apakah ada syarat untuk pertolonganmu ? Katakan !”

Sunday, February 15, 2009

Wisang Geni, Pendekar Tanpa Tandingan

Ini lanjutan dari Bab Dua
Catatan : Novel Cersil ini sudah terbit dengan judul sama "Wisang Geni" karya asli John Halmahera dengan harga Rp 120.000 untuk dua jilid tebal 600-an halaman. Kalau mau discount, langsung ke penerbitnya.

*****

Suasana pagi di sekitar bangunan tua itu sepi dan lengang. Tak terdengar kicau burung. Seakan mahluk unggas itu ikut berdukacita. Seakan ikut sedih atas malapetaka yang ditabur Kidung Maut tadi malam.

Wisang Geni masih membayangkan Rorowangi yang cantik. Rorowangi yang menangisi kematian adiknya. Rorowangi yang memandangnya dengan penuh rasa terimakasih. Ia juga tak bisa melupakan pengalaman mengerikan itu. Selama ini ia telah melewati banyak pertarungan namun sepakterjang musuh seperti Kidung Maut tak akan pernah bisa ia lupakan. Telengas, keji dan sangat lihai.

Geni masih memandangi rombongan Pujawati, Rorowangi dan dua murid Mahameru yang menghilang di balik hutan. Geni merasa ada sesuatu dari dirinya yang terbawa Rorowangi. Ia kesengsem akan kecantikan gadis itu. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang montok. Geni punya perasaan kuat si gadis punya perhatian padanya. Ia sering memergoki Rorowangi sedang memandangnya. Dan saat mata mereka bentrok, gadis itu melempar senyum dengan mata yang berkedip-kedip. “Ia juga ada perhatian padaku, tetapi apakah ia sudah punya hubungan dengan Setawastra, murid Mahameru itu?” Gumamnya dalam hati.

Dalam keadaan termenung, Geni dikejutkan panggilan Padeksa. “Geni, tadi saat kau diserang, tiba tiba dia membatalkan serangannya padamu, apa yang terjadi ?”

Wisang Geni tak bisa menjawab. Ia sendiri tak mengerti mengapa Kidung Maut membatalkan serangannya. Kalau saja serangan itu dilanjutkan, ia tak yakin bisa menghindari maut. “Waktu itu aku siap dengan kuda-kuda mangapeksa (menanti) dan siap menyerang dengan jurus angluputana (yang akan membebaskan) dan sumpetutit (jungkir berputar-putar), tetapi aku tak mengerti mengapa ia batal menyerang, ia mengeluarkan suara iiihhh seperti orang terkejut. Aku tak tahu apa yang membuat ia terkejut.”

Manjangan Puguh memotong penuturan Geni. “Coba, nak, kamu ingat-ingat suara orang itu, suara lelaki atau perempuan ?”

“Orang itu memakai topeng, wajahnya tak terlihat, potongan tubuh pun tersembunyi dalam jubah panjangnya. Waktu ia menyanyikan kidung agak sulit membedakan suaranya, tetapi tadi malam aku yakin mendengar suara kaget, suaranya mirip suara perempuan. Dia pasti seorang perempuan, guru.”

Manjangan Puguh mengerutkan kening, tampak ia berpikir keras. “Waktu benturan tenaga jarak jauh aku mencium bebauan yang biasa dipakai kaum wanita, wewangian bunga, apakah kau juga mencium bebauan serupa, Ki ?”

Padeksa yang ditanya tertawa lirih. “Aku tak pernah tahu bagaimana bebauan perempuan, tetapi memang aku sempat mencium wangiwangian segar semacam bebauan bunga.”

“Tak salah lagi, ia pasti perempuan !” Teriak Manjangan Puguh.

“Benar guru, aku juga mencium wewangian itu. Tetapi apa bedanya perempuan atau lelaki, yang pasti ia seorang pembunuh keji yang berilmu tinggi.”

“Ada bedanya bagiku, Geni. Itu bukti bahwa Kidung Maut bukan seseorang yang kukenal dan yang sangat kuhormati !”

“Siapa yang kau maksud, Guru ?”

Manjangan Puguh memandang langit. Suaranya agak serak. “Kejadiannya dua puluh lima tahun silam di tengah perang Ganter. Berdua kakang Gubar Baleman, aku bertarung lawan jago kepercayaan Ken Arok, pendekar Himalaya, Lahagawe dari India.

“Hebat ilmu pendekar itu, kami berdua terdesak hebat. Nyawa kami sudah di ujung rambut. Mendadak datang pendekar penolong itu. Keduanya kemudian terlibat tarung, sungguh perkelahian pendekar kelas utama. Sebelum dan sesudahnya aku tak pernah melihat ada pertarungan tingkat tinggi seperti itu lagi. Tidak sampai lima puluh jurus penolong itu sudah menghajar pendekar Lahagawe muntah darah. Pendekar penolong kemudian seperti terbang melayang pergi membawa serta Baginda Raja lolos dari kepungan lawan. Dia berlalu sambil mendendangkan kidung jurus penakluk raja itu.”

“Syairnya sama, guru ?”

“Syairnya sama persis. Hanya ada satu bait awal yang dinyanyikan pendekar penolong tetapi yang tidak ditembangkan si Kidung Maut tadi malam. Kidung itu sangat terkenal pada masa itu tetapi belakangan, setelah dua puluh lima tahun berlalu, orang mulai lupa. Lengkapnya begini,

Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di Tanah Jawa ini,
Dari Gunung Lejar,
Jurus Penakluk Raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Melenggang ke Barat,
Meluruk ke Timur,
Merangsak ke Utara,
Merantau ke Selatan,
Tak ada lawan,
Tak ada tandingan,
Ilmu dari segala ilmu

“Tadi malam Kidung Maut tidak menembangkan bait awal Ilmu dari seberang, Tak boleh tepuk dada, Di Tanah Jawa ini, Selain itu pembunuh tadi seorang perempuan, berarti ia bukan pendekar penolongku. Nah pertanyaannya sekarang, kalau ia bukan penolongku itu, lantas siapa dia ? Mengapa ia selalu menembang kidung penakluk raja setiap melakukan pembunuhan keji ?”

Suasana lengang seketika, Padeksa kemudian angkat bicara. “Sebenarnya kidung penakluk raja itu konon gubahan kakek Sepuh Suryajagad, tokoh sepuh dan legenda hidup perguruan kami. Dan hanya sedikit orang saja terutama di kalangan murid utama saja yang mengerti dan hafal kidung penakluk raja.” Padeksa berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Ki Manjangan, penting sekali mengetahui pendekar penolong itu, kau satu-satunya saksi hidup yang pernah menyaksikan sepakterjangnya dalam perang Ganter, mungkin dari jurus ilmu silatnya bisa kita ketahui apakah dia Eyang Sepuh Suryajagad atau bukan, dan apa hubungannya dengan si pembunuh itu ?”

“Sudah dua puluh lima tahun berlalu, setiap kupikirkan tetap tak ada jawaban. Aku cuma merasa ilmu silat kakek penolong itu sangat tinggi dan sulit diukur. Terkadang aku merasa tak asing dengan gerak silatnya, tapi makin kupikir makin aku tak mengenalnya.”

Kening Padeksa berkerut, tanda ia berpikir keras. “Tampaknya ini rahasia besar yang menyangkut dunia kependekaran kita. Coba kaupusatkan pikiran dan mengingat kembali kejadian itu dan menceritakannya secara rinci. Mungkin bisa terpecahkan.”

Manjangan Puguh duduk bersila, dua tangannya sedekap dengan sepasang telunjuk menempel ujung hidungnya yang mancung. Ia memejamkan mata. Tidak mudah mengingat kejadian yang sudah dua puluh lima tahun berlalu. Kecuali jika kejadiannya memang sangat berkesan. Sebab jika kejadiannya sangat berkesan akan menempel ketat di alam bawah sadar. Untuk mengingatnya seseorang memerlukan konsentrasi penuh menggali ingatan atas kejadian itu. Kejadiannya memang sangat berkesan bagi Manjangan Puguh. Ada seorang wanita cantik terlibat di dalamnya, wanita yang sangat dicintainya, Sukesih. Wanita itu tewas bersama semua sahabat dan kenalan dekatnya, bahkan mereka yang sudah dianggap saudara.

Pendekar jangkung ini kemudian menceritakan apa yang dilihatnya. Pertarungan itu sangat dahsyat. Kedua pendekar itu memeragakan ilmu silat yang sulit dicari tandingannya. Pendekar penolong berjubah putih dengan anggun mengalahkan pendekar Lahagawe yang beringas dan penuh amarah. Pertarungan itu seperti terpampang kembali di depan matanya. Dia menceritakan dengan rinci setiap gerak yang dimainkan pendekar jubah putih itu.

Padeksa mendengar dengan serius, keningnya berkerut. Orangtua ini tampak berpikir keras. Tiba-tiba dia bangkit dari duduk dan melangkah, tangan dan kakinya memainkan jurus. “Gerak menepuk dua tangan lalu satu tangan mencengkeram ke depan itu pasti gerak awal jurus “sumujug tundaghata” (menukik dan menyerang mematuk). Tangan kiri menggaruk belakang kepala dan tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi itu jurus “parasada atishasha” (menara menjulang). Pinggang digoyang, tangan kiri mendorong pukulan lawan, tangan kanan menyusup ke depan mengelus dada lawan, itu gerakan akhir dari sumujug tundaghata. Itu peragaan jurus biasa ilmu garudamukha, tetapi karena digelar dengan tenaga dalam yang tinggi luar biasa, maka jurus menjadi sangat ampuh. Siapa lagi jikalau bukan Eyang Sepuh Suryajagad, satu-satunya orang yang bisa menggelar garudamukha sehebat itu.”

Wisang Geni tak bisa menyembunyikan keinginan tahunya. “Siapa beliau, siapa Eyang Sepuh Suryajagad ?”

Padeksa tak menjawab. Ia berdiri seperti patung, pandangan menerawang jauh. Manjangan Puguh menarik lengan muridnya. “Geni, biarkan dia sendirian, ia sedang memikirkan jurus tadi.”

Keduanya duduk. Geni menatap gurunya lekat-lekat. Manjangan Puguh menghela napas. “Geni, hidup memang banyak tantangan, apalagi hidup di dunia kependekaran yang serba keras dan kejam dimana hanya hukum rimba yang berlaku, siapa kuat dia jadi raja, siapa lemah dia jadi budak atau mati ditindas. Sering kita dilanda keresahan, bentrokan, marah, kecewa karena dua hal pokok.Tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Atau memperoleh sesuatu yang tidak kita inginkan.

“Geni, aku dan ayahmu, beserta kangmas Gubar Baleman dan kangmas Mahisa Walungan sudah angkat saudara. Kami bertiga menjadi inti pasukan elit keraton yang dipimpin kangmas Mahisa Walungan yang tidak lain adalah adik Baginda Raja Kertajaya. Kami punya rencana besar yakni mencetak seorang pendekar yang sangat hebat dan menjadi nomor satu di dunia kependekaran. Kami sepakat memilih kamu. Sejak bayi, tubuhmu dibentuk dengan memberimu bekal kekuatan, jamu unggul dari gurumu Waragang, jamu dan makanan khusus menjadi santapanmu sehari-hari, obat anti racun, dasar tenaga dalam, dasar ilmu ringan tubuh. Kamu dilatih khusus.”

“Aku masih ingat, guru, waktu kau melatih aku berlari dan gelantungan di atas pohon. Ayah mengajari aku latihan tenaga dalam. Paman Baleman melatih kuda-kuda. Aku ingat semuanya.”

Manjangan Puguh melanjutkan, “tetapi perang Ganter telah mengubah semuanya, jalan hidupmu, jalan hidupku, semua berubah, tidak seperti yang kita rencanakan. Ayahmu dan pamanmu Gubar Baleman, juga ibumu dan saudara lainnya, semua tewas di Ganter.”

Wajah Geni tampak keras, ia memandang tajam gurunya, “Guru, aku sudah tahu orangtuaku tewas di Ganter, tetapi siapa orang yang membunuh mereka ?”

Manjangan Puguh memandang Geni. Dalam mata muridnya ia melihat pancaran bara api. Percikan marah dan dendam kesumat yang tak terukur besarnya. Manjangan Puguh menghela napas gundah. “Sebelumnya tidak pernah terpikirkan bahwa kita akan kalah dalam perang. Sebelum menuju Ganter, kami mendengar berita Lemah Tulis dibumihanguskan pasukan musuh. Kamu tahu Geni, sebagian besar hulubalang keraton adalah murid Lemah Tulis, sehingga berita itu sangat memukul mental pasukan keraton. Dendam dan kekhawatiran berbaur dalam diri kami. Ternyata pasukan Arok sangat tangguh, banyak pendekar berilmu silat tinggi yang membelanya. Satu demi satu hulubalang Kediri mati. Tetapi kami pantang menyerah. Meskipun terdesak, kami merasa tenang sebab Baginda Raja sudah lolos ditolong Eyang Sepuh Suryajagad. Kami akan tarung sampai tetes darah terakhir.”

Kejadian itu berputar kembali di depan mata Manjangan Puguh. Ia melihat Sukesih, ibu Wisang Geni, bersama suaminya Gajah Kuning bertarung bahu membahu. Satu hal yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada Geni bahkan kepada siapapun, percintaannya dan perselingkuhannya dengan Sukesih. Ia mencintai wanita cantik itu saat masih gadis belia dan tak pernah luntur sampai ajal menjauhkan kekasihnya dari dekapannya.

Dia melihat panah nancap di pundak kekasihnya. Dia melihat tombak yang nancap di dada kekasihnya, dada yang sering dibelai dan dikecupnya. Dia mendengar kembali seruan kekasihnya. “Puguh pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu.” Kemudian seruan yang kedua, “Pergi Mas Puguh, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah.”

Ketika dia melesat pergi dia masih menoleh ke belakang. Dia melihat Kalayawana menghantam kepala Gajah Kuning. Sekali lagi dia menoleh dan melihat tinju Kalayawana menghantam dada Sukesih. Dia berlari sambil menangis. Dia menangis sepanjang tahun, dia sedih lantaran tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan perempuan yang dicintainya itu mati.

“Aku mencari-cari pembunuh ibumu itu. Tapi dia seperti hilang dari bumi. Semula dia berada di Tumapel, aku juga mencarinya di kuburan Gondomayu tetapi tak pernah bisa menemukannya.”

“Guru, kamu menyebut kuburan Gondomayu, apakah dia si penjahat kegelapan Gondomayu yang bernama Kalayawana?”

“Benar, Kalayawana!”

“Baik, aku akan mencari balas, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa.”

“Geni kamu tak boleh membalas dendam sekarang, itu sama dengan mengantar nyawamu, ilmu silatnya sangat tinggi. Itu sebabnya kakek gurumu Padeksa tidak memberitahumu tentang Kalayawana.”

Wisang Geni tertawa lirih. “Tetapi kamu telah memberitahu, terimakasih guru!”

“Geni, aku tadi kelepasan bicara. Sebenarnya belum saatnya kuberitahu. Kamu harus janji padaku, jangan balas dendam sebelum ilmu silatmu maju pesat. Berjanjilah!”

“Soal itu, aku tak bisa menjanjikan apa-apa, guru.” Wisang Geni melihat ada penyesalan di mata gurunya, dia bertanya lirih sambil memegang tangan gurunya. “Guru, kamu mencintai ibuku dan ibu mencintaimu, benarkah?”

Puguh terkejut. Bagaikan disambar petir. Dia gagap menjawab. ”Kamu tahu? Darimana kamu tahu?” Geni tersenyum, menjawab dengan senyum. “Aku pernah melihat kalian berdua memasuki gua itu.”

“Kamu membuntuti kami? Lalu kamu memberitahu ayahmu?” Melihat Geni menggeleng kepala, Puguh bertanya lagi, “mengapa tidak lapor pada ayahmu?”

Geni menggeleng sambil senyum menggoda. “Itu biasa. Ayah dan ibu saling menyintai, jika tidak mana mungkin aku lahir. Ibu dan guru saling mencintai, jika tidak mana mungkin mau berduaan dan bercinta di gua itu. Drupadi mencintai lima Pandawa sedangkan ibu mencintai dua pendekar, jadi kupikir itu hal yang biasa. Lagipula aku menyayangi ayah, ibu dan juga kamu guru.”

Manjangan Puguh memandang muridnya dengan kagum. Dia melihat seorang muda yang jujur, cerdas dan berpikir jernih. Dia mengalihkan pembicaraan. “Kamu ingat, selain Kalayawana, juga Tambapreto mengeroyok kangmas Gubar Baleman. Dua musuh lainnya Bango Samparan dan Sempani membunuh kangmas Mahisa Walungan dan Sepasang Iblis Sapikerep membunuh pamanmu Kebo Ijo.”
Sepasang mata Wisang Geni memancarkan sinar penuh dendam. Tangannya terkepal, menahan amarah. Dia meyakinkan dirinya, “aku harus rajin berlatih, karena banyak hutang nyawa yang harus kutagih. Aku akan mencari kalian, Kalayawana, Tambapreto, Sempani, Bango Samparan, Iblis Sapikerep. Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa!”



***

Monday, February 9, 2009

Wisang Geni karya John Halmahera

WISANG GENI
Pendekar Tanpa Tandingan
Bab Dua



Tahun 1247 suatu malam di tengah bulan Margasirsa. Dua puluh lima tahun kemudian setelah perang Ganter yang menelan banyak korban jiwa itu. Bulan purnama menerangi hutan di pinggir desa Mlarak. Tampak sebuah bangunan tua di antara pepohonan jati. Reruntuhan rumah tua itu hampir tidak beratap. Hanya satu sisi dinding yang terbuat dari batu hitam yang masih utuh. Dinding lainnya sudah tidak utuh. Daun pintu sudah tak ada, rusak dan lapuk termakan rayap.
Di ruangan dalam yang terbuka dan luas mirip bangsal beberapa orang sedang istirahat. Rumah tua itu sering dijadikan tempat menginap perantau yang kemalaman di jalan. Suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara jengkrik dan kodok sahut-sahutan. Gerimis membuat malam makin dingin.
Terdengar suara orang mendendangkan kidung. Suaranya sinis dan dingin. Suaranya tidak keras namun terdengar jelas oleh semua orang di rumah besar. Suara jengkrik dan kodok mendadak senyap ditelan suara yang membawa suasana magis.
Dari Gunung Lejar,
Jurus Penakluk Raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Melenggang ke Barat,
Meluruk ke Timur,
Merangsak ke Utara,
Merantau ke Selatan,
Tak ada lawan,
Tak ada tandingan,
Ilmu dari segala ilmu

Kidung itu seakan menyihir semua orang. Semua diam. Saling pandang. Sebagian wajahnya pucat. Sebagian lainnya waspada. Kidung dinyanyikan dengan tenaga dalam tinggi, membuat jantung orang berdegup kencang. Suara itu juga menebar pengaruh magis.
Pelan-pelan gema suara menghilang. Suara jengkrik dan kodok mulai lagi bersahutan. Gerimis masih menyiram bumi. Seorang lelaki paruh baya bersandar di dinding tertawa dingin, menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya gembul, kepala botak.
“Kidung hanya satu kali dinyanyikan, berarti ia akan membunuh satu orang di antara kita di ruangan ini, siapa? Aku pasti akan melawannya, aku akan adu jiwa dengannya, sudah lama aku mencarinya.” Kata si lelaki botak itu. Semua di ruangan saling pandang. Semuanya, sebelas orang, tujuh lelaki dan empat wanita.
Seorang anak muda berusia sekitar tiga puluhan sedang melahap nasi bungkus. Ia menunda makannya, memandang lelaki gembul botak itu dengan heran. Ia menoleh kepada kakek tua berusia enampuluhan yang duduk di sampingnya. “Guru, mengapa harus ada yang mati terbunuh? Apa anehnya kidung tadi.”
Sebelum kakek itu menjawab, lelaki botak mendahului dengan tertawa dingin. “Anak muda, itu tadi namanya tembang jurus penakluk raja tapi belakangan lebih dikenal orang dengan sebutan kidung maut. Dan si penyanyi adalah dedemit kejam yang doyan membunuh. Kalau kidung dinyanyikan satu kali, artinya ia akan mencabut nyawa satu orang sebelum fajar menyingsing. Kalau dua kali, yah artinya dua nyawa.”
“Siapa si pembunuh itu ?”
“Siapa? Selama ini tak seorang pun pernah melihat tampangnya. Orang rimba persilatan menjulukinya si kidung maut. Ia muncul tiba-tiba dan dengan ilmunya yang tinggi mudah baginya untuk membunuh siapa saja. Ia muncul tiba-tba dan menghilang tiba-tiba persis siluman. Agaknya benarlah syair kidungnya, tak ada lawan, tak ada tandingan.”
“Apakah tuan pernah memergoki kejadian seperti malam ini?” Pemuda itu masih penasaran.
“Ini yang pertama kali. Waktu isteriku jadi korban kekejamannya, aku tak ada di situ. Istriku memang mati dibunuh dedemit itu. Dan meskipun ilmu silatnya lebih tinggi, aku tetap akan adu jiwa, hutang nyawa isteriku harus kutagih.”
Seorang gadis muda cantik duduk berseberangan dengan lelaki botak, tak mampu menahan rasa ingin tahunya. “Pak pendekar, sudah berapa korban selama ini yang dibunuh si kidung maut ?”
“Tak terhitung lagi, mungkin sudah puluhan.” Ia membuka buntalan yang tergeletak di kakinya. Dikeluarkannya sepasang tangan berkuku panjang, warnanya hitam kemerahan. Semua mata memandang senjatanya. Ia tak perduli, malah memainkan senjata aneh itu yang terbuat dari logam keras.
Terdengar suara. “Oh, rupanya kamu yang djuluki Sepasang Tangan Besi dari Kidul yang kesohor itu.”
Semua orang menoleh ke celah besar di tembok yang sebenarnya merupakan pintu rumah. Seorang lelaki separuh baya berpakaian compang-camping bersandar malas di tembok. Kumis berewoknya hitam lebat. Matanya berkilat penuh sinar dendam. “Sudah lama aku mencari kalian untuk menagih hutang nyawa. Kalian telah membunuh tiga murid perguruan Ngantang. Isterimu sudah mati, tetapi kamu masih punya hutang darah padaku, sekarang saatnya kamu membayar hutang.”
Belum selesai ucapannya, lelaki pengemis itu bergerak. Bagai daun kering, ia melayang cepat ke lelaki botak. Kilatan pedang di tangannya berkelebat. Lelaki berjuluk Tangan Besi sigap mengelak dan menangkis serangan gencar lawan. “Trang...trang..”
“Tunggu dulu, tahan, aku tak ada urusan dengan perguruan Ngantang, kamu pasti salah alamat.”
“Supaya kamu mati meram, ketahuilah namaku Warsakumara, dan tiga orang yang kalian bunuh tahun lalu di lereng gunung Lejar tidak lain adalah muridku, sekarang kau harus mati !”
Mereka bicara tanpa menghentikan gerak tarung yang hebat. Tanpa terasa dua puluh jurus berlalu.
Mendadak dari pintu menerobos seseorang. Gerakannya gesit luar biasa. Tak terlihat orangnya, hanya kesiuran angin menyapu semua orang. Ia berdiri di tengah ruangan. Seorang lelaki berusia sekitar limapuluhan. Pandangannya menyapu semua yang hadir. Tampak airmukanya berubah, agaknya ia tak senang melihat dua pendekar yang bertarung, yang tidak menghiraukan kehadirannya. Ia bergerak sebat menerobos pertarungan. Hanya dengan menggerakkan dua tangan secara ayal, dua jago itu terpental surut ke belakang.
Dari caranya memisah saja sudah terlihat ilmu silatnya setingkat lebih tinggi dari dua pendekar yang bertarung. Semua orang mulai memperhatikannya. Ia tinggi kurus, rambut panjang berjurai sampai pundak. Tampan dengan sepasang mata berkilat pertanda tenaga dalam yang tinggi. Matanya tajam menyapu semua orang, pandangannya dingin.
Warsakumara yang dibakar dendam tampak sangat murka. “Siapa kamu berani campur tangan urusanku ?”
Lelaki itu menjawab dingin. “Kamu tak perlu tahu siapa aku. Kalian boleh lanjutkan pertarungan, nanti setelah urusan dengan Kidung Maut selesai ! Itu pun kalau kalian masih hidup !”
Tangan Besi tahu gelagat. Ia langsung balik ke tempatnya. Tidak demikian dengan Warsakumara yang makin mendongkol dipandang sebelah mata oleh si pendatang kurus. “Enak saja kamu berkoar, siapa kamu yang main perintah seenak perut ?” Berkata begitu ia menerjang dengan tusukan maut pedangnya. Tetapi tikamannya jatuh ke tempat kosong. Lelaki kurus itu seperti menghilang, ia pindah tempat, berdiri di belakang Warsakumara. Itulah ilmu ringan tubuh dari kalangan atas, yang sulit dicari tandingannya.
Terdengar suara perempuan. “Hai Warsakumara, kamu tak tahu diri, mana mungkin kamu bisa menyentuh baju Ki Manjangan Puguh yang kesohor. Lebih baik kembali ke tempatmu, biar kita semua mendengar apa yang dikatakan Ki Manjangan.” Orang yang berkata tidak lain, wanita separuh baya yang duduk bersanding dengan gadis cantik tadi.
Meskipun berusaha menyembunyikan apa yang dirasanya, tidak urung wajah Warsakumara pucat berganti merah. Ia terkejut, tak pernah menyangka lelaki kurus itu adalah Manjangan Puguh, pendekar kelas utama. Dia malu lantaran tidak tahu harus berbuat apa. Serba salah, menyerang terus tak mungkin bisa menandingi pendekar kesohor itu, mau balik ke tempat berdirinya, ia malu. Manjangan Puguh memang pendekar kesohor, namanya berkibar di rimba kependekaran.
Ilmu ringan tubuhnya “waringin sungsang” sulit dicari tandingannya. Bukan saja lantaran ilmu itu sangat langka, juga didukung bakat luar biasa serta bentuk tubuhnya yang kurus langsing dan berkaki panjang. Ia menoleh ke perempuan separuh baya itu,”Kiranya Nyi Pujawati dari Goranggareng, kau terlampau memuji, kau baik-baik saja Nyi ?”
Pada saat itu anak muda yang makan nasi bungkus dengan tiba-tiba bangkit dan melompat menjatuhkan diri di depan kaki Manjangan Puguh. “Guru, terimalah sungkemku.”
Sesaat Manjangan Puguh tertegun. Kemudian air mukanya berubah cerah, ia tertawa lepas. “Kamu pasti Wisang Geni, wah kamu sudah dewasa, aku pangling, kalau bertemu di jalan aku pasti tak bisa mengenalmu. Berdirilah dan kembali ke samping kakek gurumu, nanti kita ngobrol.” Ia memberi hormat dengan dua tangannya kepada orangtua yang disebutnya kakek itu. “Ki Padeksa, terimalah hormatku.”
Wisang Geni kembali ke tempat duduknya. Tetapi langkahnya terhenti karena pada saat bersamaan terdengar kembali kidung “jurus penakluk raja” ditembangkan. Suara penyanyinya sama, tetap jernih dan bening. Dari suaranya sulit diduga, dia itu perempuan atau lelaki.
Dari Gunung Lejar, Jurus Penakluk Raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Melenggang ke Barat, Meluruk ke Timur,
Merangsak ke Utara, Merantau ke Selatan,
Tak ada lawan, Tak ada tandingan,
Ilmu dari segala ilmu

Semua orang di ruangan saling pandang. Tidak ada suara lain kecuali kumandang kidung itu. Suaranya mendengung dan bergema di segala penjuru. Sesaat kemudian suara lenyap. Belum juga orang-orang itu hilang rasa tegangnya, kidung berkumandang lagi. Begitu seterusnya sampai empat kali beruntun. Semua orang tegang. Pendekar wanita separuh baya yang dikenal sebagai Nyi Pujawati bangkit. Ia tampak kesal. “Rupanya satu saja tak cukup bagi si Kidung Maut, malam ini ia menginginkan lima nyawa. Benar-benar kurangajar, apa dia pikir kita semua ini batang pisang yang manda digorok begitu saja. Di ruangan ini juga hadir dua tokoh kelas atas, Ki Manjangan Puguh dan Ki Padeksa. Aku ingin tahu apa yang mau dilakukan si pembunuh itu.”
Sambil berkata, Pujawati dengan geram menggerakkan tangannya. Sekejap saja sebilah pedang sudah dalam genggaman. Gerakannya sebat dan sulit diikuti pandangan mata orang biasa. Itu suatu bukti perguruan Goranggareng kesohor dengan ilmu pedangnya, bukan bualan semata.
Manjangan Puguh memandang semua orang di ruangan. “Kita tak punya waktu, setiap saat pembunuh itu bisa menyerbu. Kupikir sebaiknya kita semua berkumpul di tengah ruangan dalam bentuk lingkaran, setiap orang menghadap keluar lingkaran. Dengan demikian serangan dari arah mana saja bisa kita ketahui. Cepat !”
Tak perlu diulang, semua orang bergerak mengikuti saran Manjangan Puguh. Sepasang suami isteri yang usianya sudah tua, beringsut keluar menuju pintu. “Kami hanya dua orangtua pedagang kecil yang tak mengerti silat. Kami juga bukan dari dunia kependekaran. Pasti bukan kami yang dimaui penyanyi kidung itu. Kami mohon pamit, para pendekar.”
Tertatih-tatih dua orangtua itu melangkah keluar reruntuhan rumah tua dan menghilang di kegelapan malam. Semua pendekar memandang dengan mata mendelong tanpa bisa berbuat apa-apa. Wisang Geni tetap berdampingan dengan Padeksa. “Kakek, keadaan tampaknya gawat. Pembunuh misterius itu rupanya memiliki ilmu silat yang tinggi. Aku lihat guru Puguh dan juga kamu, tampak tegang.”
Padeksa diam saja. Mulutnya komat-kamit. Rupanya ia bicara kepada muridnya menggunakan ilmu memendam suara lewat tenaga perut. Hebat ! Orang lain tak mungkin bisa mendengar. Pertanda tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi. “Geni, tenaga dalam orang itu cukup aneh dan sulit diukur tinggi rendahnya. Pasti dia pendekar kelas atas. Kita harus hati-hati, kamu jangan sekali-sekali menjauh dari sisiku.”
“Geni, aku sudah tua, sudah lebih dari separuh abad. Aku hidup dalam penyesalan sejak Bergawa mati. Kalau saja dulu aku tak menuruti katahatiku, kalau saja dulu aku dan dimas Gajah Watu mau menetap bersama kakang Bergawa dan kakang Branjangan mungkin kita masih bisa bahu-membahu menyelamatkan Lemah Tulis, atau kalau pun harus mati, mati dalam tarung adalah pilihan paling mulia bagi pendekar.
“Tapi nasi sudah jadi bubur. Aku menyesal, merasa bersalah. Meski hatiku agak terhibur karena sempat menemui kakang Bergawa sebelum ajalnya. Ia mati meram karena aku berjanji akan melaksanakan tiga perintahnya. Jika aku mati malam ini, maka tiga tugas itu harus kamu laksanakan sebab itu perintah perguruan.”
Cerita Padeksa terhenti. Saat itu terdengar jeritan dua orang saling susul. Suaranya mendirikan bulu roma. Saat berikut, dua sosok bayangan menyerbu masuk, mendatangkan angin kencang. Manjangan Puguh dan Pujawati bergerak sebat, hampir berbarengan. “Kena kamu dedemit !” teriak Pujawati.
Makian itu disusul teriak girang Pujawati karena pedangnya mengena sasaran tubuh manusia. Pukulan melingkar Manjangan Puguh yang berisi tenaga dalam dahsyat mengena telak dada lawan yang lain. Darah muncrat kemana-mana. Dua musuh itu sudah dipecundangi, begitu mudahnya. Semua mata melotot memandang dua sosok mayat yang tergeletak di ruangan. Ternyata mereka dua orangtua pedagang kecil tadi. Luka menganga di dada tepat bagian jantung. Darah membasahi seluruh tubuhnya. Mereka dibunuh dengan keji kemudian mayatnya dilempar ke dalam, itu yang membuat Pujawati dan Manjangan Puguh kecele.
“Bangsat kejam !” Dua murid Pujawati membuang muka, tak tahan melihat mayat mengerikan itu. Apalagi dua orangtua itu bukan dari kalangan pendekar. Mereka orang awam yang tak bisa silat. Pujawati menggamit dua muridnya, Rorokunda dan Rorowangi. “Kalian jangan jauh-jauh dari gurumu.”
Padeksa dan Wisang Geni tak begitu perduli. Sekilas melihat dua mayat, Padeksa menggamit Wisang Geni. Namun sebelum ia buka mulut, terdengar suara Manjangan Puguh. “Ki Padeksa, Nyi Pujawati, coba perhatikan ini, senjata apa ini yang bisa membuat lubang di dada manusia, mungkin semacam bor.”
Dua pendekar itu mendekat dan memerhatikan mayat. Lukanya sama, tepat di bagian jantung. Tampak seperti senjata itu menembus dada, berputar dan melumat hancur tulang dan daging di seputar dada sebelah kiri. “Mungkin benar, senjatanya semacam bor namun jelas sekali dikendalikan dengan tenaga dalam yang besar,” tukas Padeksa.
“Setahuku, belum pernah ada pendekar di tanah Jawa yang menggunakan senjata aneh seperti ini,” tambah Pujawati.
Lelaki botak alias Si Tangan Besi menyela. “Menurut cerita orang, sepanjang beberapa bulan belakangan ini, si Kidung Maut selalu meninggalkan saksi hidup. Dan mereka yang ikut menyaksikan pembunuhan keji itu tak pernah menyebut adanya senjata, mereka mengatakan orang itu berkelebat macam siluman, geraknya sangat cepat dan ia selalu beraksi dengan tangan kosong. Mungkin saja, malam ini malam istimewa sehingga dia menggunakan senjata.”
Saat itu semua orang lengah. Mereka terpencar dan tidak berada lagi di dalam lingkaran. Tiba-tiba saja terdengar suara mencicit yang bising. Manjangan Puguh berteriak. “Kembali ke lingkaran semula !”
Terlambat !
Suara mencicit sudah memenuhi ruangan. Senjata itu hampir tak terlihat. Bor maut berbentuk kerucut yang ukurannya sebesar ibu jari, dikendalikan dengan tali yang saking tipisnya hampir tidak terlihat. Semuanya ada empat bor maut. Senjata itu berputar bagai gasing dan menyambar kesana kemari dengan kecepatan tinggi.
Semua orang panik. Sibuk berkelit dari serangan senjata maut itu. Caci maki dan sumpah serapah keluar dari mulut para pendekar. Tidak lama. Tidak sampai sepeminuman teh, terdengar jerit dan lengking kesakitan.
Saat berikutnya senjata itu menghilang. Datang secara mendadak, pergi pun sangat tiba-tiba. Suasana lengang. Kidung Maut tetap tak kelihatan batang hidungnya.
Dua mayat tergeletak di tanah. Darah segar masih mengucur dari lubang di dadanya. Warsakumara dan Tangan Besi ! Dua pendekar yang saling bermusuhan, kini mati bersamaan tanpa pernah mengenal wajah pembunuhnya. Semua saling pandang. Seperti tak pernah ada sesuatu yang terjadi karena berlangsung begitu cepat. Semua sependapat ilmu iblis itu teramat tinggi. Tanpa memperlihatkan diri ia sanggup mencabut nyawa dua pendekar di depan mata delapan pendekar lainnya.
Manjangan Puguh memandang Padeksa dan Pujawati. Teror bor maut itu masih terbayang. Suaranya seakan masih mencicit di telinga. Pujawati membanting kaki, saking kesal. “Gila, sungguh pembunuh licik dan keji.” Tak bisa kuasai dirinya lagi, pendekar pedang Goranggareng itu berteriak. ”Bangsat licik, keluar kau, hadapi aku.”
Suara Pujawati bagai guntur di tengah malam sunyi. Gema suara itu dipantulkan kesana kemari. Suatu pameran tenaga dalam dari seorang pendekar kelas satu. Suasana kembali sunyi.
Seorang lelaki muda tampan dan tampaknya serombongan dengan Pujawati, berkata sambil memberi hormat kepada para pendekar. “Sebaiknya kita jangan terpancing, serangan iblis itu akan datang lagi. Sudah empat nyawa melayang, masih ada satu lagi yang diincarnya sebelum fajar, salah satu diantara kita. Maka lebih baik kita siap-siap menghadapinya.”
“Benar apa yang dikatakan Setawastra, sebaiknya kita semua siap dalam kelompok.” Berkata demikian Pujawati menarik dua muridnya yang cantik, mendekat kepadanya.
Setawastra memegang lengan temannya. “Kangmas Matangga, kita harus bahu-membahu untuk selamat.” Lelaki bertubuh kekar itu manggut. Ia mencabut pedang dari balik punggung. “Sebaiknya kita tetap berdampingan, dimas. Apapun yang terjadi, jangan sampai kita terpisah.”
Manjangan Puguh bergabung dengan Padeksa dan Wisang Geni. Delapan pendekar itu terbagi dua kelompok tetapi tak berjauhan satu sama lain. Semua bersiap. Menanti !
Sepi dan lengang. Tak ada suara apapun kecuali suara kodok dan jengkerik. Saat demi saat berlalu. Fajar semakin dekat. Dari jauh terdengar suara kokok ayam. Belum ada tanda-tanda Kidung Maut akan menyerang. Tanpa terasa suasana ini mendebarkan semua orang. Mereka tetap siaga.
Mendadak terdengar suara gedubrakan. “Bruuaaakkk !” Tembok rumah tiba-tiba runtuh dijebol orang. Dihantam dengan pengerahan tenaga dalam sangat tinggi. Bunyi keras itu disusul bebatuan tembok yang beterbangan kesana kemari dengan kecepatan tinggi dan serabutan. Debu beterbangan memenuhi ruangan. Sinar rembulan purnama dan penerangan obor tak mampu menembus kumpulan debu. Obor pun mati. Orang sulit melihat datangnya bebatuan yang begitu banyak jumlahnya. Hanya menggunakan ketajaman pendengaran membuat para pendekar pontang-panting mengelak terjangan batu. Salah hitung, kepala bisa pecah.
“Bangsat pengecut, perlihatkan dirimu !” Teriak Pujawati marah. Matangga dengan suaranya yang keras kasar membentak. “Ayo hadapi aku secara jantan, jangan main sembunyi !”
Dari balik debu yang masih memenuhi ruangan, sosok bayangan berkelebat. Gerakannya gesit, bahkan teramat gesit. Seakan berlomba adu cepat dengan batu-batu yang beterbangan. Tangannya mengibas menyemburkan tenaga dalam dahsyat ke Manjangan Puguh dan Padeksa. Dua pendekar kawakan ini terkejut. Tenaga lawan sungguh besar. Tak ayal lagi keduanya membalas dengan seluruh kekuatan tenaga dalam. Tak terhindar adanya benturan tenaga. “Dukk !. Dessss !”
Padeksa terdorong surut satu langkah, Manjangan Puguh juga satu langkah mundur ke belakang. Bayangan lawan bagai tak mendapat rintangan, tetap menyerbu. Kini sasarannya Wisang Geni !
Wisang Geni sejak awal sudah siaga penuh. Ia merentang dua tangan dalam sikap “mangapeksa” (menanti) dari jurus andalan Lemah Tulis garudamukha. Ini sikap pasrah dan menanti yang menyimpan banyak perubahan tak terduga. Geni mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Ia tahu situasi kritis mengancam hidupnya.
Padeksa dan Manjangan Puguh terkesiap. Kalau mereka saja terdesak mundur oleh tenaga dalam lawan, bagaimana lagi nasib Wisang Geni. Tanpa pikir lagi keduanya menerjang lawan sambil mengirim pukulan jarak jauh.
Saat itu Kidung Maut sudah sampai di depan Geni. Ia mengibas dengan tangan kiri, tangan kanan mencengkeram batok kepala. Tenaga kibasan itu sangat besar membuat tubuh Geni serasa kaku. Saat berikutnya kepalanya terasa dingin. Geni tahu jiwanya berada di ujung tanduk, namun ia tidak gentar. Ia bergerak dengan dua jurus susulan “angluputana” (yang akan membebaskan) dan “sumpetutit” (jungkir dan berputar). Saat itu Geni berpikir sederhana, jika ia harus terluka atau bahkan binasa, maka lawannya pun harus mengalami kerugian besar. Pukulan dan tendangannya mengarah pelipis dan selangkangan lawan. Pada saat itu dua pukulan Padeksa dan Manjangan Puguh ikut mengancam punggung Kidung Maut.
Terdengar suara lawan “iiihhh !” Kidung Maut terkejut, diam-diam ia memuji gerakan Geni. Jika ia meneruskan serangan, Geni pasti mati, namun ia pun akan terluka parah. Begitu juga pukulan dua pendekar kawakan yang mengarah punggungnya.
Dia membatalkan serangan pada Geni, sambil merentangkan dua tangannya ia menerima pukulan Padeksa dan Manjangan Puguh. “Deeeesss !” Punggungnya kena telak. Pakaian di bagian punggungnya pecah dan robek. Namun Kidung Maut itu tampak tidak terluka. Saat pukulannya mengena telak punggung lawan, Padeksa dan Manjangan Puguh merasa tenaganya amblas di ruang kosong. Memang terasa adanya benturan, namun tidak ada daya tolak dari punggung lawan sebagaimana mestinya.
Ternyata sebenarnya Kidung Maut meminjam tenaga lawan, pukulan itu tidak melukainya bahkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi melayang ke arah Pujawati.
Ketua Goranggareng ini menyambut dengan kibasan pedang “kembangtelon” (bunga tiga warna) satu jurus mematikan dari ilmu andalannya “kemayangan” (bahagia dan beruntung). Berbarengan dengan itu Matangga dan Setawastra bersama-sama mengirim pukulan gabungan “amijilakna” (menghasilkan) salah satu jurus tangan kosong handal dari perguruan Mahameru. Sergapan tiga pendekar ini sepertinya menebar hawa kematian. Kidung Maut tak punya peluang untuk lolos.
Kenyataan tidak demikian. Kidung Maut membuat gerakan putar, tubuhnya melintir dan meliuk ke samping, menghindari pedang Pujawati. Ternyata geraknya bukan hanya menghindar. Tetapi sekaligus menyedot dan menarik tubuh Pujawati sampai terhuyung ke depan. Dua tanggannya kemudian membentur pukulan dua murid Mahameru. “Duuukkk.. dukkk !”
Matangga dan Setawastra terhuyung empat langkah ke belakang. Pujawati hilang keseimbangan dan tersuruk dua langkah ke depan.
Kidung Maut benar-benar pamer kepandaiannya. Meminjam tenaga lawan, ia melejit dan melenting ke atas melewati tiga lawannya. Kini dua gadis Goranggareng yang terancam !
Pujawati yang terpisah agak jauh dan dalam keadaan limbung tak bisa berbuat apa-apa. Begitu juga dua murid Mahameru.
Tidak demikian Wisang Geni yang cerdik. Ia bisa membaca jalan pikiran Kidung Maut. Saat Kidung Maut menempur Pujawati, saat itu juga Geni menerjang ke arah Rorowangi dan Rorokunda. Sehingga waktu dua gadis cantik itu diserang, Geni ikut membantu dengan jurus “sumpetutit” (jungkir berputar-putar).
Dua gadis cantik ini juga bukan orang lemah, dua kilatan pedang berkelebat mengibas udara.
Terdengar suara menggumam dari balik topeng Kidung Maut, suara yang tidak jelas. “hmmmmm.” Ia memainkan ilmu pinjam tenaga, menangkis pukulan Geni, ia melenting dan melesat meloloskan diri dari kibasan pedang dua gadis itu. Gerakan menangkis itu dilakukan sambil ia melayang pergi ke luar ruangan menghilang di kegelapan malam. Sepertinya ia lari karena gagal.
Mendadak terdengar suara mencicit saling susul. Dua bor menyerbu masuk. Semua terkejut. Geni sehabis bentrok tenaga dan surut empat langkah dengan dada sesak sempat melihat bor itu mengancam Rorowangi. Tanpa sadar Geni melesat ke arah gadis itu memotong jalan bor maut. Padeksa dan Manjangan Puguh ikut meluruk ke arah sama, begitu juga Pujawati. Tiga pendekar kawakan ini bergerak pesat menolong Rorowangi. Tetapi Kidung Maut lebih cepat lagi. Saat itu juga terdengar suara mencicit lainnya, dua bor lain menyerang pesat.
Terdengar jeritan maut. Rorokunda yang sendirian dan tidak dilindungi menjadi korban. Dadanya bersimbah darah. Tewas mengerikan. Saat itu juga suasana sepi dan legang. Fajar mulai menyingsing.
Semua terpahna. Pertarungan berlangsung singkat. Serba cepat dan telah menebar detik-detik kematian yang mengancam semua pendekar. Hanya nasib baik saja yang meloloskan mereka dari kematian. Rupanya sambil melayang pergi, menuju kegelapan malam, Kidung Maut menyerang dengan senjata bor mautnya. Tak seorang pun menyangka keadaan seperti itu.
Lawan juga berlaku licik, menyerang Rorowangi namun yang diincarnya adalah Rorokunda. Sehingga begitu semua perhatian dan pertolongan mengarah pada Rorowangi, saat itu juga ia menyerang Rorokunda. Lihai, sungguh lihai. Lihai dan licik !
Rorowangi memeluk mayat adiknya, menjerit dengan tangis memilu. “Adikku, kenapa kamu tinggalkan aku, maafkan mbakyu ini karena gagal melindungi adiknya.”
Pujawati merunduk, selama ini belum pernah ia dipecundangi orang setelak itu. Muridnya mati di depan hidungnya tanpa ia sanggup menolong. Lawannya pun hilang begitu saja.
Matangga, Setawastra dan Wisang Geni merasakan jantungnya berdegup kencang. Benturan tenaga dengan Kidung Maut membuat tenaga dalam mereka jadi nggak karuan. Mereka duduk semedi mengatur kembali tenaga intnya. Padeksa dan Manjangan Puguh masih bingung dan takjub. Mereka heran, sebab jelas-jelas Kidung Maut kena pukulan telak di punggungnya, pukulan yang sanggup menghancurkan gajah sekali pun ternyata tidak mempan terhadap tubuh lawan. Mereka takjub akan ilmu pinjam tenaga yang dimainkan Kidung Maut. Jelas, tenaga dalam dan ringan tubuh lawan sangat tinggi, ditambah lagi dengan jurus-jurus aneh, membuat orang bertopeng itu tampak sangat digjaya.

Drama berdarah itu selesai persis fajar menyingsing.
Seperti kebiasaan yang diceritakan dari mulut ke mulut, Kidung Maut menepati janjinya. Lima kali kidung dinyanyikan, lima nyawa melayang.
Hebatnya lagi, ia menyisakan saksi hidup agar dunia kependekaran mengetahui kehebatan Kidung Maut. “Tak ada lawan. Tak ada tandingan. Ilmu dari segala Ilmu.”