World Cup 2010 Serial (26)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spain vs Portugal
Satu Menang Satu Pulang
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 29 Juni 2010
Jerman sudah ketemu Inggeris, laga dua juara dunia yang dimenangkan Jerman dengan telak 4-1. Diwarnai tangis dan penyesalan tim “three lions” pulang kampung. Sedangkan tim panser Jerman masih melanjut kiprahnya di pentas 2010, mengincar gelar juara yang ke-empat. Selasa besok, Spanyol dan Portugal, dua tim elit Eropa akan saling “bunuh”, hanya satu yang akan keluar sebagai pemenang. Spanyol, juara Eropa 2008 yang belum pernah juara dunia atau Portugal yang bertahun-tahun belum juga mencicipi nikmatnya juara dunia atau juara Eropa.
Satu menang, satu pulang. Seperti itulah babak knock-out. Jika draw, berlanjut ke extra-time, masih juga draw, adu pinalti! Pokoknya satu harus menang. Tidak ada tawar menawar. Babak 16 Besar ini mempertemukan 16 tim yang lolos dari persaingan 32 tim di babak penyisihan. Jika lolos maka memasuki babak perdelapan final, tensi makin tinggi, kualitas tim makin bersaing. Makin lama makin mengerucut dan sampai ke grand-final, puncak dari seluruh 64 pertandingan yang melelahkan bukan hanya pemain, wasit, panitia bahkan pers pun harus punya stamina.
Pertemuan Spanyol kontra Portugal tidak kalah dari partai Jerman vs Inggeris. Bahkan dari sisi sepakbola indah, saya kira partai Spanyol dan Portugal akan lebih enak ditonton. Peragaan skill individu Xavi, Iniesta, Xabi Alonso, David Villa, Sergio Ramos dikubu Espana La Roja dan Cristiano Ronaldo, Pepe, Simao, Deco di kubu Portugal yang sama-sama memainkan gaya euro-latin yang cantik sekaligus mematikan pasti akan memukau penonton.
Begitu undian menempatkan Brazil dan Portugal di grup G dan Spanyol di grup H maka sudah dipastikan akan adanya pertemuan Brazil vs Spanyol atau Portugal vs Spanyol di babak 16 Besar kecuali salah satu atau dua dari tiga tim papan atas dunia itu tersingkir di penyisihan. Tapi mana mungkin mereka tersisih. Jadi bagaimana pun ketiganya sudah siap. Keberhasilan “seleccao” Brazil menjuarai grup G dan Spanyol memuncaki grup H maka keduanya terhindar dari partai “big-match” antara unggulan satu (Spanyol) dan unggulan dua (Brazil).
“Kami (Portugal) tidak takut Spanyol!” Teriak Simao, pemain sayap Portugal dari klub Athletico Madrid. Apa benar tidak takut? Mengapa berkomentar jika Anda tidak takut? Bisa dimaklumi jika skuad asuhan Carlos Queiroz khawatir, mengingat Spanyol disebut-sebut sebagai tim terbaik dunia saat ini. Dan pasar tarohan pun mengunggulkan Spanyol.
Simao dan rekan seklubnya Tiago, Deco yang sudah fit dari cideranya, diperkuat dua pemain Real Madrid Pepe dan “superstar” Cristiano Ronaldo harus bekerja keras membalik ramalan orang. Harus tampil menyerang setajam ketika membantai Korea Utara 7-0 dan pertahanan rapat dan terorganisir rapi seperti ketika menahan Brazil tanpa gol di pertandingan akhir grup G.
Harus rajin dan terkonsentrasi dalam melakukan “pressure” terhadap lini tengah Espana yang dimotori dua bintang Barcelona, Andres Iniesta dan Xavi Hernandes, serta dua pilar Real Madrid Xabi Alonso dan Sergio Ramos. Juga mengawal ketat striker Valencia David Villa yang tampaknya makin “lapar gol” dan Fernando Torres bintang Liverpool yang mencetak gol tunggal ke gawang Jerman yang memenangkan gelar Euro 2008. Mungkin Vicente Del Bosque menurunkan Villa sendirian, bisa juga duet bersama Torres.
Portugal harus memanfaatkan kecepatan serangan balik pada detik menguasai bola, serangan cepat lewat sayap akan menyulitkan pertahanan Spanyol yang dikawal dua defender Barcelona Carles Puyol dan Gerard Pique serta kiper Real Madrid Iker Casillas. Kecepatan Ronaldo, Simao dan Pepe bisa mempersulit Puyol Cs. Pertandingan antara dua tim sesama saudara Iberia ini akan menjadi kenangan Piala Dunia 2010, selama pertemuan kedua tim, Spanyol mencatat 15 menang, 5 kalah dan 12 draw, selisih gol 71-37.
Setelah merebut gelar Euro 2008 lewat permainan yang mengesankan seperti juga sepakbola indah yang ditampilkan Barcelona, maka Spanyol pun disebut-sebut sebagai kandidat paling serius menjuarai 2010. Kekalahan 0-1 dari Swiss telah membuka mata Portugal bahwa Spanyol bisa saja dikalahkan. Permainan pantang menyerah, bertahan rapat dan serangan balik yang cepat adalah kunci Swiss mengalahkan Spanyol.
Pastilah Carlos Queiroz mempelajari taktik ini. Bisa juga dia meniru taktik Jose Mourinho, rekan pelatih senegaranya, yang mendalangi kemenangan Inter Milan atas Barcelona, di leg kedua semifinal piala Champions kemarin, dimana Inter bertahan diseputar kotak pinalti dengan serangan balik yang cepat meski hanya dengan dua penyerang.
Namun Spanyol pun mengetahui “jiwa” permainan Portugal adalah baik buruknya penampilan “superstar” Ronaldo. Kawal ketat Ronaldo sama dengan menahan laju Portugal, meskipun itu suatu pekerjaan sulit mengingat striker Real Madrid ini sangat cepat dan licin. Maka kembali pada strategi pelatih dan implementasi skuadnya di lapangan permainan.
Peluang kedua tim fifty-fifty dengan Spanyol lebih punya kans menang. Tidak boleh dilupakan bahwa “keberuntungan” sangat dibutuhkan. Termasuk “beruntung” karena keputusan wasit yang merugikan tim lawan, seperti kejadian gol Frank Lampard yang jelas-jelas bola sudah melewati garis gawang tetapi wasit tidak menyatakan gol. Atau gol pertama Argentina ke gawang Mexico di menit 26, Carlos Tevez jelas-jelas berada di posisi offside ketika mencetak gol, asisten wasit dan wasit Roberto Rosetti menegaskan gol itu sah. Kita tunggu saja. ***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment