Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Bab Tigabelas
Pertemuan
“Kita kehilangan dua hari di Welirang, sekarang harus jalan cepat, lebih cepat tiba di gunung Lejar, lebih baik.” Tukas Prastawana kepada lima kawannya.
“Ini jelas-jelas tugas sulit, karena kita berenam belum pernah menginjak kaki di gunung Lejar dan tidak tahu dimana lembah kera berada. Jadinya kita perlu waktu lebih banyak untuk mencari. Aku setuju kita jalan cepat.” Kata Daraka.
Mereka melakukan perjalanan cepat dari Welirang. Memacu kuda masing-masing, hanya diselingi istirahat makan dan minum. Sore hari ketiga mereka tiba di kaki gunung Lejar.
Prastawana melompat turun dari punggung kudanya.
Daraka berkata. “Istirahat dulu Mas Pras. Biarkan kuda-kuda makan dan minum sambil istirahat, kita juga perlu isitirahat, meluruskan tubuh, melemaskan otot-otot.”
Mereka duduk-duduk di rerumputan. Hari masih siang dan udara sejuk.
“Mencari ketua di gunung yang begini luas, jelas tugas yang agak mustahil. Tetapi kita tak boleh putus asa, meski kita juga siap untuk gagal,” Kata Laras, isteri Gajah Lengar.
Mereka mendirikan gubuk di tempat yang dianggap strategis yang akan dilalui siapapun yang turun dari gunung. Gubuk dipisah dengan sekat menjadi tiga ruang tidur dan satu ruang depan yang digunakan bersama. Prastawana dan Dyah Mekar menempati ruang tengah, dua lainnya ditempati Daraka dan Sawitri serta Gajah Lengar dan Laras.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Malam itu mereka berkumpul di ruang depan menikmati santapan malam yang dimasak tiga wanita berame-rame. Semua barang bawaan diturunkan. Beberapa tabung tuak digantung didinding masing-masing kamar.
“Besok kita mulai mencari, apa rencanamu,” kata Gajah Lengar kepada Prastawana.
“Kita berpencar menjadi tiga kelompok. Satu tetap tinggal disini, mengawasi jalan turun ini. Dua pasang lainnya menyisir keatas gunung. Siang hari kita bertemu disini, makan dan berembuk. Ada yang kalian perlu tambahkan, silahkan.” Kata Prastawana.
Laras berkata. ”Sebaiknya kita jalan kaki, supaya lebih gesit. Satu hal lagi, menurut keterangan Gayatri, Sekar membawa tiga ekor kuda Wulung, Batari dan Dawuk. Jika kita bisa temukan kuda-kuda itu maka sudah pasti ketua berada disekitar sini.”
“Bagus, menemukan kuda-kuda itu lebih mudah. Mereka pasti berkeliaran mencari rerumputan yang subur.” Tukas Daraka.
“Awasi tebing-tebing, jurang-jurang, goa-goa dan juga jejak kaki atau jejak kuda ditanah. Itu petunjuk yang berguna,” Prastawana menambahkan. “Menurut ketua Geni, tempat yang dia namai lembah kera itu dihuni ratusan kera. Inipun bisa jadi petunjuk kita.”
“Di gunung biasanya terdapat kera dimana-mana.” Potong Daraka.
“Kita cari tempat yang dihuni banyak kera.” Sambut Dyah Mekar.
Malam itu mereka beristirahat.
Esok paginya, pencarian dimulai.
Malam hari ketiga, langit dihiasi rembulan dan puluhan bintang gemintang yang menyinari lereng gunung. Enam pendekar duduk diberanda gubuk. Ada makanan singkong rebus, ayam bakar dan tuak.
“Kita minum tuak sekadar saja, sisakan lima atau enam tabung untuk ketua Geni.” Dyah Mekar berkata sambil melahap paha ayam.
“Berapa lama kira-kira kita bertahan disini?” Tanya Sawitri.
“Tak ada kepastian tapi aku akan bertahan sampai kapanpun.” Tukas Prastawana.
“Bagaimana dengan tugas-tugasmu di Lemah Tulis?” Daraka bertanya, ingin tahu.
“Sementara waktu paman Padeksa mengambil alih sampai aku kembali. Tetapi aku akan kembali bersama ketua Geni, kupaksa dia menjadi ketua lagi.” Tegas Prastawana berapi-api.
“Hmmmm bisakah kamu memaksa Wisang Geni?” Gajah Lengar bertanya kemudian menjawabnya sendiri. “Tak seorang pun bisa memaksanya, tidak juga kakek Padeksa.”
“Isterinya?” Tanya Laras.
“Hmmm lihat saja, Sekar, Manohara, Prawesti dan juga Gayatri tidak berani menentang suaminya,” Potong Daraka. “Aku teringat Westi dan Manohara.”
“Kecuali melalui bujuk-rayu dan sanggama.” Laras tertawa geli.
“Itupun tidak mempan, dia akan pindah ke isteri yang lain.” Tukas Prastawana.
“Kalau semua isterinya membujuk paksa dia?” Desak Laras. “Pasti dia luruh juga.”
Prastawana tertawa. “Dia akan mencari isteri baru.”
“Ketua kita itu memiliki kelemahan mudah terpikat paras ayu.” Kata Sawitri.
“Pandanganmu terbalik, justru wanita-wanita itu yang kasmaran.” Tukas Prastawana.
“Mas Pras selalu membela ketuanya. Dia pengikut yang setia.” Kata Daraka.
“Kita semua pengikutnya yang setia,” Tukas Gajah Lengar.
Seperti ada yang memberi isyarat, detik itu juga suasana hening. Hanya terdengar suara kodok bersahut-sahutan.
“Aku menduga-duga apa tindakan ketua Geni terhadap Gayatri?” Dyah Mekar bertanya sambil menghela nafas. “Kasihan Gayatri, karmanya buruk, dia menjadi korban kejahatan Arjapura, kupikir-pikir aku akan membelanya.”
“Dia sahabatmu. Aku pun akan membelanya.” Tukas Laras.
“Maksudmu membela itu apa? Melawan dan menentang ketua Geni?” Sawitri bertanya.
“Tidak perlu menentangnya, kita hanya perlu mengulang cerita dan pengakuan Arjapura bagaimana dia menipu, menawan dan membuat Gayatri ketagihan racun bius sehingga tak mampu berpikir waras. Jika tidak ditolong Nenek Jubah Kuning itu, mungkin Gayatri hanya tinggal tulang saja. Ketua menghargai kebenaran. Kita ceritakan kebenarannya, seterusnya ketua akan berpikir sendiri.” Tutur Dyah Mekar berapi-api.
“Kamu saja yang bertutur mewakili kita semua.” Kata Laras kepada Dyah Mekar.
“Aku akan membuka percakapan, selanjutnya kita semua saling melengkapi, karena kita semua mendengar sendiri langsung dari mulut Arjapura.” Kata Dyah Mekar.
Hari keempat Gajah Lengar dan Laras membawa kabar gembira. Keduanya menemukan tiga ekor kuda. Namun tak ada tanda-tanda Wisang Geni berada disekitarnya.
“Memang benar Wulung, ketika aku memanggil namanya, dia hanya meringkik kemudian kabur mendaki lereng diikuti dua temannya. Tetapi yang penting aku sudah melihatnya, berarti ketua Geni benar-benar ada di gunung ini.” Kata Gajah Lengar.
Prastawana menyahut lantang. “Artinya ketua masih hidup. Kita akan temukan dia.”
“Atau ketua yang menemukan kita,” cetus Gajah Lengar.
Hari ketujuh. Cahaya matahari pagi yang kuning mulai menembus kabut. Tiga pasang suami isteri masih berpelukan. Tiba-tiba mereka terjaga mendengar gema tertawa yang membahana. Gema dipantulkan tebing seakan sahut menyahut menambah keangkeran tawa.
Enam pendekar Lemah Tulis berlarian keluar gubuk memandang keliling. Gema suara tawa makin lama makin melemah, sampai akhirnya hilang ditelan kebisuan pagi. Saat berikut terdengar kidung dinyanyikan.
Kidung itu menggema meskipun tidak segempita tawa tadi namun tetap memperlihatkan laki-laki yang berkidung itu memiliki tenaga-dalam sangat tinggi.
Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di tanah Jawa ini
Dari gunung Lejar,
Jurus penakluk raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Dari lembah kera,
Jurus Lalawa mengepak sayap
Menembus awan
Melenggang ke barat,
Meluruk ke timur,
Merangsak ke utara,
Merantau ke selatan
Tak ada lawan,
Tak ada Tandingan,
Ilmu dari segala ilmu
Enam pendekar itu terpaku di tempat berdiri. Terpukau pertunjukan tenaga dalam melalui tertawa yang memekak telinga dan kidung yang tajam mengiris.
“Itu ketua!” Seru mereka hampir bersamaan. Suara yang penuh kegembiraan namun ada rasa haru dan kerinduan didalamnya.
Selang beberapa detik setelah gema kidung jurus penakluk raja hilang ditelan kesunyian gunung Lejar, tiga penunggang muncul dari kejauhan.
“Itu ketua!” Teriak Gajah Lengar.
Tanpa ragu lagi Prastawana berseru lantang dengan tenaga-dalam. “Ketua Lemah Tulis Wisang Geni, kami murid Lemah Tulis memberi hormat.”
Belum lenyap suara Prastawana yang juga gemanya dipantul tebing-tebing ketika tiga ekor kuda muncul mendekat.
Tampak Wisang Geni bertelanjang dada dengan rambutnya yang putih keperakan diatas punggung kuda Wulung. Dua wanita yang cantik jelita mengikutinya dari belakang, masing-masing diatas punggung kuda putih dan coklat, Batari dan Dawuk. Keduanya Sekar dan Atis. Enam orang itu mengenal Sekar tetapi tidak mengenal perempuan muda yang lebih jelita dari Sekar. Wanita muda itu menunggang kuda coklat Dawuk.
Prastawana dan kawan-kawannya menjatuhkan diri, berlutut memberi hormat. “Kami memberi hormat kepada ketua Lemah Tulis.”
Wisang Geni melompat turun dari punggung Wulung diikuti Sekar dan Atis.
“Cukup. Cukup. Kalian berdiri.” Kata-kata Wisang Geni masih berwibawa. “Prastawana, kamu ketua Lemah Tulis mengapa memberi hormat kepada Wisang Geni, bukankah aku sudah mengundurkan diri dari jabatan ketua?”
Prastawana berdiri tegap memandang ketuanya yang begitu dia rindukan. Ada rasa haru dan bangga dalam suaranya ketika dia berkata. “Kamu tetap ketua Lemah Tulis, aku tidak berani lancang menyebut diri sebagai ketua. Aku tak pernah merasa diri sebagai ketua.”
Tampak mata tiga pasang suami isteri berkaca-kaca menahan haru.
Wisang Geni yang dikabarkan mati terbunuh, kini berdiri didepan mereka dengan sehat bugar. Malah tampak lebih segar. Dan lewat tertawa dan kidungan tadi dia telah memperlihatkan tenaga-dalamnya yang begitu tinggi.
Wisang Geni menghampiri Prastawana, memeluknya dengan erat. Dua laki-laki bertubuh kekar dan berotot hampir menyatu dalam pelukan persaudaraan yang begitu akrab. Dia menggapai dua laki-laki lainnya, merangkul Gajah Lengar dan Daraka. Mereka melangkah menuju pekarangan gubuk, duduk diatas pokok kayu yang basah oleh embun.
Sementara itu Sekar berpelukan dengan Dyah Mekar, Laras dan Sawitri. Tidak larut dalam suasana haru, Sekar menarik tangan Atis, “Dia isteri kangmas Geni. Namanya Atis.” Suara Sekar datar dan tawar.
Sembilan pendekar itu duduk bersama.
“Perguruan memerintah kami mencarimu. Dari Lemah Tulis kami singgah di Welirang kemudian langsung menuju Lejar. Ini hari ketujuh kami disini, senang bisa menemukan ketua.” Tutur Prastawana.
Wisang Geni tertawa, lalu bersikap serius. “Nyawaku ditolong Sekar.” Dia menunjuk Atis yang duduk dekat Sekar. “Dia Atis, cucu Ki Sagotra pendekar Merapi. Aku mengawininya satu bulan sebelum kejadian Kandangan. Aku dan Sekar bertemu dengannya ditengah jalan, lalu bersama-sama ke lembah kera. Mereka berdua merawat dan menyembuhkan aku.”
Enam pendekar yakin kisah singkat itu sesungguhnya panjang dan padat ketegangan. Tidak luput dari pengamatan mereka, gambar tato kelelawar warna hitam kental didada sang ketua dan wajah keras dengan rambut putih keperakan yang panjang riap-riapan.
“Ini lukisan kelelawar, guruku bergelar lalawa. Kemarin Atis yang melukis.” Kata Wisang Geni menjelaskan kepada anak buahnya.
Dyah Mekar berbisik di telinga Sekar. “Kalau ketua perlu baju, mas Pras membawa baju lebih. Ukuran tubuh hampir sama, meskipun ketua lebih bidang.”
Sekar tertawa lirih. “Dia maunya telanjang dada, ingin semua orang melihat gambar kelelawar itu.” Suara Sekar bisa didengar semua orang.
“Oh pasti ada hubungannya dengan lirik dalam kidung tadi dari lembah kera, Lalawa mengepak sayap menembus awan, benarkah perkiraanku Ketua?” Gajah Lengar tersenyum.
Wisang Geni tidak menjawab. Dia menatap enam orang itu bergantian, tatapan yang tajam dan misterius. “Ceritakan semua, tak ada yang ditutupi, mulai dengan anak-anakku lalu isteriku, lalu Lemah Tulis.” Suaranya datar, dingin dan tidak bersahabat.
Suasana hening. Tak ada suara.
Dyah Mekar memecah kesunyian. “Kami sepakat aku yang bertutur, jika ada bagian yang kulupa maka teman lain akan membantuku. Mulai dari putra-putri ketua. Seno tidak terdengar kabar beritanya……”
Cerita Dyah Mekar dipotong Sekar. “Seno aman bersama dua nenekku.”
“Bagus kalau Seno aman. Angga sekarang ini bersama ibunya Gayatri, menetap di gubuk dekat danau di Welirang.” Sedetik itu Dyah Mekar menangkap sinar tajam mengilat dimata ketuanya ketika nama Gayatri disebut.
Dyah Mekar menutur semua yang terjadi di Welirang. Tak ada yang disembunyikan. “Aku tidak mengurangi dan menambah, semua yang kuceritakan persis kejadiannya.”
Wisang Geni memandang jauh kedepan. Dia bisa merasakan derita Gayatri. Diperkosa dan ditiduri penjahat itu. “Apakah ada racun sejahat itu?”
“Kalau mendengar ucapan Nenek Jubah Kuning, dipastikan sekarang ini Gayatri sudah sembuh total. Sekarang dia sibuk berlatih dan bermain dengan Angga.” Tutur Dyah Mekar.
“Siapa Nenek Jubah Kuning itu?” Sekar ingin tahu.
“Aku tidak tahu. Gayatri sendiri tak pernah tahu nama gurunya. Dia menyebut dirinya Nenek Jubah Kuning.” Tukas Dyah Mekar.
Wajah Wisang Geni tampak keras, dahinya berkerut. “Aku sudah mendengar tentang putriku Angga dan isteriku Gayatri. Katakan, tentang Manohara, Prawesti?”
Dyah Mekar menoleh memandang Gajah Lengar.
“Hari itu kami memburu ke tempat kejadian, mendengar cerita bahwa ketua terbunuh oleh penjahat jubah hitam. Aku, Prastawana dan paman Gajah Watu tiba ditempat. Prawesti sudah mati. Manohara masih bernafas, kami coba membantu, Prastawana dan paman Gajah Watu dibantu guru dan saudara perguruan Manohara, membantu dengan tenaga-dalam. Tapi Manohara mati. Mayatnya dibawa gurunya dikubur di rumah perguruannya.” Tutur Gajah Lengar.
Wisang Geni diam mematung. Sudah diduganya dua isterinya itu mati. Kini mendengar langsung dari mulut Gajah Lengar, tentu saja berbeda. Terbayang tubuh dan paras dua isterinya yang cantik dan setia. “Kasihan, mereka mati karena membela aku.” Bisiknya lirih.
Dia memegang kepalanya, menjambak rambut dan menggeram. Suaranya terdengar menyeramkan. “Arjapura murid iblis gunung putih dia telah membuat banyak kerusakan pada keluargaku. Apa hebatnya ilmu sihir dan racun kalajengking biru, lihat siapa lebih kejam, lalawa gunung Lejar atau iblis gunung putih. Akan kuhancurkan kepalanya seperti ini.”
Dia mengulur dua tangannya dan satu batang kayu sebesar pelukan manusia melayang ke arahnya. Dua tangannya memutar-putar lalu dua tangannya mengembang ke samping, saat berikut menutup menghantam batang kayu tak berdosa itu.
“Dasssss..” letupan keras memekak telinga. Kayu itu hancur jadi bubuk halus.
Jangankan Prastawana dan lima temannya, Sekar dan Atis yang selama di lembah mengikuti perkembangan kanuragan suaminya dalam latihan, terpesona dan takjub. Suasana hening.
Lalu Wisang Geni memecah keheningan. “Ceritakan tentang perguruan kita dalam pertarungan di Kandangan itu.”
“Pertarungan di Kandangan itu jebakan. Ketika fajar mulai menyingsing saat kita siap berunding damai atau tarung, mendadak ratusan anak panah melayang ke arah kami. Banyak murid tak sempat menghindar. Empatpuluh murid Mahameru dan tigapuluhsatu pihak kami, tewas terpanah. Kami kalah total, hancur. Yang selamat hanya sebelas murid Mahameru dan sembilan murid Lemah Tulis,” Tutur Prastawana dengan suara duka. “Paman guru Gajah Watu tewas begitu juga dua sepuh Mahameru Bragalba dan Rawaja.” Lanjutnya.
“Bagaimana kalian bisa lolos?” Wisang Geni bertanya.
“Menjelang tarung, paman Gajah Watu memerintah kami untuk meloloskan diri apabila keadaan terdesak. Itu perintah, tak boleh ada yang membangkang. Begitu juga dari sesepuh Mahameru, Bragalba memerintah hal yang sama. Tampaknya mereka punya firasat akan mengalami kekalahan.” Tutur Gajah Lengar. “Dan rupanya diam-diam mereka bertiga sepakat menjadi tumbal untuk menyelamatkan kami beberapa orang murid dari Lemah Tulis dan juga Mahameru.”
“Malah pada kesempatan itu paman Gajah Watu seakan mengerti ajalnya sudah dekat, menceritakan aibnya, memaksa memerawani murid-ponakannya Walang Wulan, dia merasa bersalah pada bibi Wulan dan ketua Geni. Dia minta maaf.” Tutur Dyah Mekar.
Tiba-tiba saja Wisang Geni berdiri sambil berseru keras. “Minta maaf? Kakek bodoh itu minta maaf? Isteriku Wulan sudah dikubur, tetapi dia masih tega menceritakan aib isteriku kepada semua murid.”
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Wisang Geni sangat marah. “Seringkali Wulan menangis teringat pemerkosaan itu. Guru bejat itu memerkosanya berulang kali selama tiga bulan. Kami berdua menderita tapi kami maafkan. Semula hanya kita bertiga yang tahu rahasia ini, tetapi sekarang mulut Guru bejat yang kotor telah menyebar aib itu kesemua orang. Gajah Watu, kamu binatang melata, kamu tidak lebih baik moralmu dibanding penjahat yang memerkosa anaknya sendiri.”
“Tidak sepantasnya paman Gajah Watu membeber rahasia itu, kasihan ketua yang harus menanggung aib itu.” Dyah Mekar berkata lirih tetapi yang didengar semua temannya. “Meskipun itu pengakuan dan penyesalannya.”
Matahari sudah agak tinggi.Mereka duduk menikmati daging rusa panggang ditemani tuak yang masih tersisa.
Prastawana memberanikan diri memandang Wisang Geni. “Ketua, engkau guru dan ketua bagi kami semua. Aku menghormatimu, tetapi aku harus bicara meskipun kamu akan marah.”
Wisang Geni menatap tajam. “Kalau tahu aku akan marah, sebaiknya tak usah bicara. Kamu tahu kemarahanku sekarang ini sedang memuncak.”
“Sudah lama kupendam ini, aku harus bicara, ketua.” Prastawana juga menatap mata ketuanya. Dua mata laki-laki itu saling tatap.
“Bicaralah, aku mendengarkan.” Kata Wisang Geni.
Semua yang mendengar, berdebar jantung saking tegangnya. “Apa yang mau dikatakan, buat apa dia bicara kalau tahu ketua akan marah.” Daraka bergumam dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku bicara blak-blakan, tak ada yang kusembunyikan. Aku dan semua murid tahu persis ilmu-silatmu sangat tinggi, sekarang ini di tanah Jawa sulit mencari pendekar yang bisa menandingimu. Lemah Tulis hancur tak ada lagi di peta dunia kependekaran, tetapi dengan melewati banyak pertarungan hebat kamu telah mengibar panji-panji kejayaan perguruan. Sekarang ini Lemah Tulis disegani semua pendekar. Kamu hebat, itu sebab terpilih sebagai ketua. Kami bangga dipimpin ketua sehebat kamu. Meski kamu tak mau diakui sebagai guru, tetapi sesungguhnya kamu adalah ketua dan guru kami.” Tutur Prastawana.
Dyah Mekar yang tadinya tegang, khawatir suaminya mengucap kata-kata kasar yang membuat sang ketua marah, kini merasa tenteram. Begitu juga yang lain.
Prastawana tertawa lirih, suaranya agak sinis. “Tetapi kamu meninggalkan kami pada saat kebanggaan dan kecintaan kepadamu begitu tinggi, kamu lepas jabatan ketua. Lalu aku yang bodoh ini harus menerima hinaan, terpilih menjadi ketua. Kamu pikir murid-murid mengakui aku sebagai ketua? Jangankan mereka, aku sendiri tak pernah merasa sebagai ketua. Kamu memberiku benda panas, sementara kamu bebas melenggang, kamu tidak bertanggungjawab, kamu pengecut!”
Semua yang mendengar terkejut. Prastawana beraninya memaki sang ketua dengan ungkapan tajam “pengecut”. Mereka memandang paras Wisang Geni, khawatir amarah sang ketua.
Prastawana berhenti sesaat lalu dengan air mukanya yang merah padam, berkata. “Aku akan minggat ke tempat sunyi, tinggalkan isteri dan anak-anakku juga perguruan. Pikirmu hanya kamu yang bisa bawa maumu? Aku juga bisa bertindak semauku, aku tidak takut marahmu, jangan coba menggertak aku. Karena aku sudah bosan menjadi ketua yang bodoh, sekarang katakan, kamu mau jadi ketua lagi atau tetap jadi pengecut?”
Dia berhenti sedetik lalu berseru dengan nada tinggi. “Jawab aku, Wisang Geni!”
Semua terdiam. Was-was, khawatir reaksi marah sang ketua.
Wisang Geni diam. Kata-kata kasar Prastawana menusuk nuraninya. Selama ini belum ada murid Lemah Tulis, bahkan juga Padeksa, berani mengucap kata-kata kasar padanya. Dia memandang semua yang ada disitu.
“Baik. Aku ambil alih jabatan ketua! Sekarang juga kita berangkat ke Lemah Tulis. Akan kuselesaikan apa-apa yang sudah kumulai dahulu.” Sikap dan ucapan Wisang Geni diluar dugaan para murid. Tadinya khawatir sang ketua marah kini malah kagum bahwa Wisang Geni bisa menerima baik teguran Prastawana. Tak ada yang menduga sang ketua akan menyahut dengan ringan tanpa amarah. Seketika mereka berlutut memberi hormat. “Ketua, kami patuh dan setia padamu.”
Mereka memilih jalan melalui kawasan Timur menyusur pinggiran daerah kekuasaan kerajaan Tumapel. Perjalanan akan jauh lebih singkat dibanding jika melalui kuil Ngancar yang di kawasan Barat. Diperkirakan dalam waktu tiga hari akan tiba di Welirang.
Malam harinya mereka istirahat dan nginap di hutan. Esok paginya mereka singgah di desa Karangplosos yang merupakan pusat keramaian dan perdagangan kerajaan Tumapel.
“Siapa yang punya keping emas?” Wisang Geni bertanya. “Kita mampir di warung makan. Aku mau makan dan minum tuak.”
“Aku punya!” Seru Sawitri.
Mereka masuk desa.
Prastawana berkata lirih. “Ada orang yang mengikuti kita, ketua.”
“Mereka selalu curiga pada orang asing.” Sahut Sekar lalu menoleh ke suaminya. “Mas, sebaiknya kamu pakai baju, dada telanjangmu itu menarik perhatian orang.”
“Aku memang menantang orang, mau pamer lalawa mengepak sayap menembus awan.” Wisang Geni tertawa sombong. “Aku ingin menjajalnya dalam tarung.”
Sekar saling pandang dengan Atis. Enam murid merasa geli dalam hati akan tingkah laku ketuanya yang terkadang aneh dan sulit ditebak. Mereka tidak menaruh perhatian kata-kata dan tidak tahu apa itu lalawa mengepak sayap menembus awan.
Warung makan itu besar dan luas, paling banyak pengunjung. Tetapi hari masih pagi, warung baru dibuka. Karenanya belum ada tamu. Mereka duduk di meja besar. Begitu duduk, Wisang Geni berseru kepada pelayan. “Bawakan aku tuak.”
Sawitri menghampiri pemiliknya, sepasang suami isteri yang sibuk memerintah para pelayan.
Sawitri melempar senyum ramah. “Ibu, sediakan makanan dan tuak buat kami, dan nasi bungkus untuk bekal di jalan. Ini keping emas.” Dia menyodor satu keping emas ke tangan wanita tua itu.
“Aduh wongayu, satu keping emas terlalu banyak. Ibu tidak punya keping perak untuk kembalian,” dia tampak bingung sambil menimang-timang keping emas ditangannya.
“Ambil semuanya. Jangan lupa nasi bungkus untuk bekal kami.” Kata Sawitri.
Tidak berapa lama, warung mulai sibuk, Beberapa tamu masuk dan duduk.
Rombongan Wisang Geni menikmati santapan yang memang lezat.
Mereka selesai makan dan sedang menikmati tuak. Dua ponggawa menghampiri. Salah seorang berkata dengan angkuh. ”Kalian pendatang asing, dari mana dan mau kemana?”
Gajah Lengar menyahut datar. “Dari Selatan, mau ke Utara.”
Ponggawa tidak puas. “Jawab yang benar, mau kemana?” Suaranya keras membentak.
Tidak ingin suasana menjadi panas, Laras mendahului suaminya. “Ke Lemah Tulis.”
Ponggawa itu tertawa. “Rupanya wongayu ini lebih tahu tatakrama.”
“Mungkin tertarik parasmu yang ganteng, dimas.” Potong ponggawa temannya.
Paras Laras merah padam. Tersinggung dan marah akan komentar tidak sopan itu.
Ketika itu lima ponggawa lain masuk warung.
Saat bersamaan wanita tua pemilik warung datang membawa kantong besar berisi nasi bungkus. Dia serahkan kepada Sawitri. Dia berkata agak keras mungkin sengaja. “Nona ini nasi bungkusnya.” Lalu dia berbisik lirih. “Cepat pergi, ponggawa ini galak dan suka cari keributan, lebih baik kalian pergi.”
Sawitri berdiri sambil mengucap, “terimakasih”.
Prastawana mengajak semua temannya pergi. “Ayo kita pergi.”
Seorang ponggawa menghalangi, enam temannya berdiri disampingnya. “Kalian pasti mata-mata, katakan apa maksud mampir di karangplosos?”
Tujuh ponggawa menatap lima wanita itu. Matanya memancar sinar birahi. “Dua wanita disamping laki-laki rambut putih itu, cantik dan montok. Aku gemas melihatnya. Satu malam dengannya mau kubayar satu bulan gajiku.” Kata ponggawa yang tubuhnya gempal.
“Semuanya cantik dan montok, aku mau yang mana saja.” Ujar temannya.
Sekar kesal, tangannya meraih beberapa butir kacang dimeja. Dia berbisik, “kurangajar.” Sambil jari-jarinya menyentil.
Butiran kacang saling susul menghantam mulut si ponggawa. Dia berteriak kesakitan. “Akhhh..” Bibirnya pecah-pecah, sederet gigi depannya rontok. Mulutnya berdarah-darah.
“Mulutmu bau busuk, beraninya kamu mengganggu aku,” seru Sekar.
“Kepung. Mereka pemberontak, mau makar pada kerajaan.” Teriak ponggawa temannya.
Tamu-tamu serempak lari keluar warung. Pada saat yang sama tujuh ponggawa membawa busur dan panah masuk warung, berjajar menghadang di pintu keluar.
“Bunuh semua. Yang wanita biarkan hidup, mereka akan kita adili.” Teriak ponggawa yang mulutnya berdarah-darah.
Wisang Geni maju menghalangi, dia melihat tujuh pemanah jitu sudah siap dengan busur dan panah. “Hati-hati tujuh pemanah itu dari pasukan panah keraton,” bisiknya lirih tetapi bisa didengar Prastawana dan yang lain.
Daraka berkata lantang. “Kami dari Lemah Tulis, dalam perjalanan pulang ke perguruan, kami tidak mencari keributan, tolong beri kami jalan.”
“Tidak bisa begitu mudah. Pelacur itu sudah melukai temanku.” Seru ponggawa lainnya. Pada saat itu tujuh ponggawa lain masuk warung. Jumlah seluruhnya empatbelas ponggawa berseragam dan tujuh pemanah jitu.
Wisang Geni menyahut datar, suaranya dingin. “Dia isteriku, bukan pelacur.”
“Kataku dia pelacur, aku bayar berapa saja untuk satu malam.” Kata ponggawa itu.
Wisang Geni menyahut. “Dia isteriku, isteri Wisang Geni ketua Lemah Tulis. Mereka lainnya murid-murid Lemah Tulis, mereka bukan seperti yang kamu bayangkan.”
“Kamu tahu apa yang kubayangkan, meniduri mereka semalaman.” Kata ponggawa itu. Dia dan teman-temannya tertawa. Mereka senang bisa menggoda wanita cantik apalagi seksi seperti rombongan Wisang Geni.
“Kamu kurang ajar, lancang, mulutmu busuk.” Seru Sawitri.
Wisang Geni menengahi. “Sudahlah lupakan semua omongan ini, kami mau pergi.”
“Kamu mengaku Wisang Geni. Apa hebatnya penjahat cabul itu? Kerjanya memerkosa gadis. Dia menguasai ilmu sesat. Dia mati dibunuh gundiknya. Itu akibat nafsu bejatnya.”
Wisang Geni benar-benar marah, meraih kacang dimeja dan menyentil. Ponggawa coba mengelak, menutup wajahnya dengan tangan. Tetapi kacang melesat dan memburu mulut si ponggawa. Kontan bibir, pipi dan beberapa giginya rontok. Dahi dan pipinya berlumur darah.
Satu ponggawa bergerak menyerang.
Wisang Geni melonjor tangan kedepan. Angin pukulan dingin menerjang. Ponggawa itu terpental, jatuh terduduk dilantai, saat berikut menggigil kedinginan. Tubuhnya gemetaran. Giginya saling beradu. “Dingin… dingin…”
Melihat peragaan ilmu-silat yang begitu tinggi seharusnya para ponggawa mundur teratur. Tetapi mereka tidak tahu diri, bukannya mundur, malah maju sambil mencabut senjata. “Serang!” Teriak ponggawa Tumapel.
Para murid bangkit amarahnya, bergerak serentak. Terjadi pertarungan tidak beraturan. Prastawana dan tujuh temannya mengamuk, sedangkan Wisang Geni duduk diam seakan tidak melihat yang terjadi disekitarnya.
Tarung berlangsung singkat, hanya beberapa jurus bentrok, empatbelas ponggawa menggeletak di tanah, mengerang dan mengaduh kesakitan. Ada yang tangannya patah, kaki patah, gigi rontok. Tapi tak seorang pun yang mati. Tampaknya para murid Lemah Tulis tidak ingin membunuh.
Saat itu Wisang Geni melihat tujuh pemanah menarik busur. Dia berseru. “Awas panah!” Sambil dia membalik meja, kakinya mendorong meja menghadap sergapan anak panah.
Apa yang dipikirkan Wisang Geni juga dilakukan Prastawana, dua meja jadi tameng.
Wisang Geni melompat dari balik meja. Dua tangannya mengembang ke kiri kanan, lalu digerakkan kedepan mengarah tujuh pemanah. Salah satu gerakan “lalawa mengepak sayap menembus awan”. Tubuh para ponggawa yang menggeletak ditanah terangkat memapak terjangan anak panah gelombang kedua yang dilepas tujuh pemanah itu.
Wisang Geni melayang terus. Menggebrak dengan sebat, melancarkan pukulan dingin. Tujuh pemanah roboh di tanah. “Kamu membunuh temanmu dengan panah sendiri, betapa bodohnya! Kalian bertujuh bertanggungjawab dan siap diadili majikanmu Sang Pamegat.” Dia menyeret tujuh pemanah yang menggigil kedinginan, melempar mereka bertumpuk dengan empatbelas ponggawa temannya yang menggeletak ditanah mengerang kesakitan.
Para penonton diluar warung bertepuk tangan, mengagumi sepak terjang Wisang Geni.
Saat itu dua bayangan putih bergerak pesat, tiba-tiba saja muncul didalam warung. Sebat dan ringan petanda ilmu ringan-tubuhnya mumpuni.
Seketika Wisang Geni tahu dua kakek itu dari kalangan kelas utama. Pikirannya teringat kabar adanya sembilan kakek jubah putih yang menjadi pengawal utama istana dan keraton yang konon ilmu-silatnya sangat tinggi. “Apakah keduanya dari sembilan sesepuh itu?”
“Siapa kalian berani temberang di lingkungan kerajaan, kalian cari mampus?” Matanya tajam meneliti tubuh yang bergelimpang didekat Wisang Geni. “Kalian telah membunuh ponggawa kerajaan.” Serunya berang.
“Keliru. Mereka dibunuh, dipanah oleh tujuh pemanah ini.”
Dua kakek jubah putih terdiam.
“Mereka berdua anggota dari sembilan sepuh jubah putih pengawal istana dan keraton, ilmu-silatnya tinggi, tanganku gatal ingin tarung.” Bisik Wisang Geni kepada pengikutnya, bisikan lirih namun bisa didengar Prastawana dan kawan-kawannya.
Semua terkejut mendengar niat sang ketua.
Sekar berkata. “Para ponggawa ini keterlaluan, menyebut aku pelacur, ponggawa keraton ternyata ulah kelakuannya tidak bermoral.”
“Apakah memang kamu pelacur?” Tanya kakek yang berjenggot.
Sekar terdiam. “Kakek ini kurangajar.” Gumamnya dalam hati.
Tetapi Atis dengan tangkas menyahut. “Kakek rupanya suka melacur, tapi sayang kami ini wanita terhormat, silahkan cari pelacur ditempat lain.” Lalu Atis tertawa geli melihat perubahan paras si kakek. “Dasar kakek pelacur!” Atis melanjutkan.
Wajah si kakek yang agak hitam semakin gelap saking marahnya.
Prastawana yang ingin menghindar dari pertikaian, mengingat tarung dikawasan kerajaan sangat membahayakan keselamatan mereka. Dia memberi hormat. “Kami dari perguruan Lemah Tulis, ini ketua kami Wisang Geni, dan ini isterinya.” Dia menunjuk Wisang Geni, Sekar dan Atis. “Kami dalam perjalanan pulang ke Lemah Tulis, mampir makan di warung ini, tak ada maksud mencari ribut atau berbuat onar.”
“Wisang Geni sudah mati. Bagaimana dia muncul disini, cara murahan semacam ini pikirmu bisa menipu kami?” Kata kakek muka hitam.
Prastawana terdiam.
Wisang Geni makin kesal. Muncul adatnya yang aneh dan sifat temberangnya. “Memang benar aku sudah mati. Tapi satu laksa kelelawar menggali kuburku, melatih jurus lalawa. Ketika sadar tahu-tahu ada gambar lalawa didada, lihat ini.” Dia menepuk dadanya, keras.
“Kurangajar beraninya mempermainkan kami.” Kata kakek kepala gundul.
“Mana berani aku kurangajar padamu. Kamu pasti dari sembilan sepuh pengawal istana yang namanya mengguncang langit dan tersohor diseantero tanah Jawa.”
“Temanku ini, Wadung. Aku sendiri Wulung.” Kata sikakek paras hitam. Dia senang mendengar pujian Wisang Geni.
“Aneh. Namamu mirip nama kudaku.” Wisang Geni berseru nyaring. “Wulung!”
Belum lenyap gema suaranya, terdengar ringkik panjang kuda hitam itu.
Wisang Geni tertawa. “Itu dia, selalu menyahut jika kupanggil. Coba sekali lagi.” Dia berseru lagi. “Wulung!”
Sekali lagi Wulung meringkik.
“Kamu kelewat menghina!” Tubuh kakek Wulung gemetar menahan amarah.
Wisang Geni berkata dengan nada menyesal. “Kakek, kudaku menyukai namanya itu, nama pemberian permaisuri yang mulia Waning Hyun.”
“Bangsat rendah penjahat cabul macam kamu berani menyebut nama baginda permaisuri. Kucabut nyawa kotormu!” Kakek bernama Wulung melayang dengan dua tangan menjulur mencengkeram dengan jurusnya yang mirip-mirip cakar macan.
Wisang Geni tertawa keras. “Mengapa menyebut aku penjahat cabul. Apakah kamu dendam sebab ibumu pernah kuperkosa? Atau cucumu kuperkosa, siapa nama cucumu?”
Tidak hanya berkata, Wisang Geni juga beraksi, gerak jurus menunggang angin digelar, seketika tubuhnya berputar bagai gasing, yang menerbangkan meja kursi ke arah dua kakek. Seketika meja kursi rusak berantakan dihantam pukulan dua kakek.
Wisang Geni menggebrak. Kakek Wulung melayaninya.
Terjadi benturan tenaga diudara, dua tubuh itu melayang terus sambil tukar pukulan. Cakar macan sang sepuh tidak ungkulan lawan tenaga wiwaha yang menggunakan jurus keras “gongkrodha dari garudamukha.”
Tampak si kakek terdesak.
Prastawana dan murid lainnya terpukau melihat gebrakan sang ketua. “Gila. Tak kusangka gongkrodha bisa sehebat itu.” Tukas Daraka.
“Tenaga-dalam ketua semakin tinggi, dia bisa memainkan jurus apa saja dengan sama dahsyat, mungkin sudah sampai ditingkat eyang sepuh Suryajagad.” Prastawana berkata.
Duapuluh jurus berlalu, kakek Wulung dalam keadaan terdesak.
“Bagaimana rasanya terdesak oleh cucumu yang kau sebut penjahat cabul. Kalau aku penjahat cabul, maka kamu kakek cabul si tukang perkosa. Kamu suka gadis perawan, janda atau nenek-nenek tua.” Wisang Geni tertawa geli melihat musuhnya tak mampu bicara. “Hei mengapa kamu jadi bisu? Masih untung cucumu ini berbaik hati tidak melukai kamu.”
Amarah kakek Wulung mencapai puncaknya, selama ini belum pernah ada yang berani mengolok-olok dirinya. Dia menggerung mengerahkan segenap tenaga-dalam. Wisang Geni melayani adu pukulan, terjadi benturan keras.
Kakek itu mundur tiga langkah. Luka-dalam namun tidak begitu parah. Tetapi belum mau menyerah kalah, sigap dia mencabut keris luk sembilan yang mengilap ditimpa matahari pagi.
“Kubunuh kamu!” Teriaknya marah. Dia menyerang dengan jurus mautnya. Kerisnya berkelebat macam petir, mengeluarkan suara desis yang mengiris pendengaran penonton.
Melihat keampuhan keris dan amarah si kakek, Sekar yang merasa khawatir, berseru. “Mas, pake senjataku ini!” Dia mengeluarkan senjata tongkat pendeknya.
Tetapi Wisang Geni tertawa. “Aku tak pernah gunakan senjata, apalagi melawan kakek yang sudah tua ini. Aku tak mau melukainya. Kamu mau lihat kubikin dia kencing di celananya.”
Sepuluh jurus berlalu dan suatu sabetan keris berhasil melukai tangan Wisang Geni yang berteriak kesakitan.
Kakek Wulung berseru. “Mampus kamu penjahat cabul!”
Wisang Geni tertawa keras. “Kerismu beracun. Ternyata kakek cabul ini pengecut curang. Tapi racunmu mana bisa membunuh aku!” Dia mencakar tangannya, lalu mengisap lukanya sambil tetap tarung. “Racunmu manis, lumayan penawar hausku.”
Tiba-tiba Wisang Geni menyerang, tubuhnya melayang bagai terbang dan mengapung. Dua tangannya mengembang dan mengepak-kepak bagai sayap kelelawar. Terdengar suara mencicit dari kepak tangannya. “Cccccsssss…. Cccsss..”
Keris ditangan kakek Wulung bergetar. Tubuhnya merasa ditekan tenaga-dalam dahsyat yang sangat dingin dan tidak terlihat. Memang tenaga mengepak sayap itu dimainkan Wisang Geni dengan sumber hawa dingin wiwaha yang paling dingin.
Saat berikut dua tangan bersatu, terdengar suara “ledakan” dan tangan terus meluncur meninju serta mencakar. Sambil dia menyembur darah yang disimpan dimulutnya, darah beracun yang diisap dari luka ditangannya.
Kakek bernama Wadung berseru, “celaka!” Sambil dia melayang menolong si kakek Wulung yang terancam bahaya. Dia menyerang dengan jurus maut mencegah pukulan Wisang Geni yang bisa melukai temannya.
Pada saat kritis, pukulan Wisang Geni berubah, satu tangannya mengepak kearah pukulan kakek Wadung, tangan lainnya meneruskan serangan. Tangan yang mengepak kearah kakek Wadung, balik lagi menyerang kakek Wulung. Semua dilakukan dalam keadaan melayang.
Dua kakek itu berseru kaget.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Kakek Wadung terpukul mundur tiga langkah, nafasnya sesak. Dia menggoyang kepalanya melenyapkan rasa pusing.
Kakek Wulung mundur dengan wajah pucat pasi, jubahnya robek dibeberapa tempat. Dadanya luka, ada bekas cakar, lima lajur yang menganga memperlihatkan darah merahnya. Wajahnya terasa panas kena semburan darah. Bulu romanya merinding, dia tahu dia lolos dari maut karena Wisang Geni tidak ingin membunuhnya. Tetapi dia ketakutan tahu darah beracun melekat di wajahnya. Dia merogoh saku jubahnya, tapi jubah sudah compang-camping dicakar Wisang Geni.
Saat itu Wisang Geni sudah menerjang kakek Wadung, dua tangan mengepak diiringi suara mencicit macam kelelawar. Dia tertawa sambil mengacung tabung bambu ditangannya, ”kakek cabul, kamu mencari tabung pemunah racun ini, terimalah.”
Wisang Geni melempar ke arah si kakek, namun ditengah jalan tabung itu pecah dan bubuk pemunah racun bertaburan diudara.
Kakek Wulung berteriak. “Jangan!” Dia melesat dan meraup sekenanya lalu menyapu bubuk ke wajahnya.
Selama benturan tenaga dan tarung belasan jurus itu kaki Wisang Geni tidak memijak bumi. Mata Prastawana jeli melihat kepakan dua tangan, gerak menendang dua kakinya itulah yang membuat tubuh sang ketua melayang-layang diudara.
Prastawana merinding takut menyaksikan ilmu-silat Wisang Geni yang tak pernah terbayang olehnya. “Jurus apa lagi yang dikuasai ketua?”
Atis mendengar gumaman Prastawana. “Itulah yang dia nyanyikan dalam kidungnya, dari lembah kera, lalawa mengepak sayap menembus awan, tak ada lawan, tak ada tandingan, ilmu dari segala ilmu.” Katanya bangga.
Gajah Lengar, Daraka dan tiga murid perempuan ikut terpesona. “Tak pernah menyangka ilmu-silat ketua sehebat ini, mungkin sudah sejajar dengan eyang sepuh Surayajagad.” Kata Daraka dengan suara parau saking tegangnya mengikuti jalannya tarung.
Di gelanggang tarung, kini dua kakek mengeroyok Wisang Geni.
Bukannya terdesak, malah Wisang Geni semakin gembira, dia tertawa keras, sambil meladeni dua lawannya. Gerakannya semakin trengginas. Melayang, jumpalitan, melompat, menerkam, tangan mengepak, kaki menendang, tenaga-dalam dingin dan panas bergantian membuat dua kakek itu pontang-panting dalam kesibukan menghindar dan menangkis.
Kedua kakek bahkan tak mampu menyerang saking sibuk melayani serangan. Tidak pernah mereka menyangka bahwa suatu hari keduanya akan dipermalukan seorang pendekar muda, bahkan mereka berdua mengeroyokpun tetap saja terdesak.
Baju dan celana mereka robek disana-sini kena cakaran Wisang Geni. Tampak jelas bahwa ketua Lemah Tulis itu tidak berniat membunuh, tetapi hanya mempermainkan dua kakek itu. Tapi bagi seorang pendekar dipermalukan jauh lebih malu dibanding misalnya mati dalam tarung.
Karenanya dua kakek itu sungguh nelangsa, serba-salah, mau mundur malu, maju terus lebih malu lagi. Karena jelas-jelas Wisang Geni sangat unggul, mereka juga sadar ketua Lemah Tulis itu tidak berniat melukai mereka.
Tiba-tiba terdengar suara wibawa. “Dimas Geni, cukuplah main-main, aku sudah lama mencarimu, tidak disangka-sangka bertemu disini.”
Wisang Geni tak mau melukai atau mempermalukan lebih jauh kedua kakek itu, hanya memang dia terangsang ingin mencoba jurus lalawa yang baru. Sejak tadi ingin menyudahi tarung, namun tak ada kesempatan karena dua kakek yang kalap itu tak mau mundur.
Kali ini dia punya alasan menghentikan tarung. Dia juga mengenal suara itu.
Ditengah udara Wisang Geni melontar tubuhnya ke belakang, melayang ringan dan bergantungan dengan kaki diatas mengait palang rumah. Persis kelelawar yang bergantungan diatas dinding goa.
Sebenarnya ini bukan sikap istirahat, melainkan salah satu jurus dahsyat manarang manambayang majatha (menggantung ditempat tinggi siap untuk melayang dan menggigit). Tandanya dia siap melanjutkan tarung dan membela diri.
“Oh kiranya kangmas Pamegat. Kamu terlambat datang. Seharusnya kamu melihat lebih awal betapa orang-orangmu begitu kurangajar dan tak tahu diri.” Suara Wisang Geni datar dingin dan tajam. Tak ada getar ketakutan didalamnya.
“Aku baru saja tiba, tapi aku sudah menyaksikan peragaan ilmu-silatmu yang dahsyat.” Kata Pamegat yang datang bersama beberapa pendekar Tumapel yang dipimpin Siki.
“Sekarang apa yang kamu bawa untukku, tuduhan makar?” Tanya Wisang Geni. “Aku tidak mencari urusan, tetapi ponggawamu yang mencari urusan, beraninya memaki isteri dan murid perempuanku sebagai pelacur. Aku masih bersikap ramah dan tidak membunuh. Lantas dua kakek gila ini datang memaki isteriku pelacur, duapuluh jurus lagi kubikin mereka kencing dicelana.”
Paras Sang Pamegat merah padam.
“Jadi apa maumu sahabatku Pamegat, menuduh aku makar dan mengerahkan segenap pasukan Tumapel?”
“Tidak ada makar. Tetapi aku membawa pesan baginda raja dan permaisuri untukmu.” Pamegat tahu Wisang Geni memiliki watak aneh, hanya tak pernah menyangka bisa membuat keributan sebesar itu.
Meskipun demikian dia tak bisa menyembunyikan rasa kagum melihat ilmu-silat ketua Lemah Tulis itu yang sanggup mengalahkan dua sesepuh pengawal istana. Dia memandang dua kakek itu, yang jubahnya robek, dadanya berbekas tanda cakar yang masih berdarah.
“Silahkan sesepuh kembali ke istana, ini hanya salah faham.” Katanya ramah namun tetap saja tidak menyembunyikan wibawa memerintah.
Wisang Geni tertawa, sambil melompat turun, dia mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. “Sahabat Pamegat, tidak seorangpun dari kami yang membunuh ponggawamu. Padahal mereka seharusnya mati karena telah berlaku biadab, mengatai isteriku pelacur. Aku masih bisa sabar, tetapi ketika pasukan panah menyerang, kami terpaksa gunakan tubuh ponggawa sebagai tameng. Mereka memanah teman sendiri. Lalu dua kakek mengatai aku penjahat cabul, tukang perkosa. Selayaknya kamu adili ponggawamu, hukum mereka supaya tidak berbuat yang tidak senonoh kepada tamu-tamu asing.”
Sang Pamegat bermerah-muka saking malu. Bagaimanapun juga dengan kedudukannya yang tinggi dikerajaan ditegur seperti itu oleh Wisang Geni membuatnya malu dan murka. Alih-alih membalas teguran Wisang Geni dengan kata-kata kasar, dia menggebrak tanah dengan kakinya sambil tangannya menuding para ponggawa dan pemanah. “Siki, kamu selidiki semua ponggawa ini, kumpulkan bukti dan hukum mereka. Mereka mempermalukan kerajaan. Segera lapor padaku.”
Perintah keras dan kasar itu membuat Siki dan semua pendekar Tumapel sigap beraksi, memerintah orang-orangnya membayar ganti rugi kerusakan warung, membersihkan warung, membawa pergi mayat-mayat.
“Kangmas Geni ilmusilatmu semakin melangit.” Kata Pamegat.
“Kau membuat aku malu, sejak dulu aku menghormatimu. Kamu tetap kangmasku. Aku bukan siapa-siapa dihadapanmu.”
Pamegat tertawa, dia suka sahabatnya tidak sombong, merendah dan menganggapnya sebagai kangmas. “Kita perlu bicara, dimas. Sebaiknya hanya kita berdua.”
Wisang Geni duduk bersama Pamegat di pojokan.
“Baginda Raja dan permaisuri titip pesan. Tenagamu diperlukan untuk menghadapi Linggapati dan pasukannya yang dalam waktu dekat akan memberontak.”
“Kangmas maaf, aku tak mau ikut campur!”
“Dimas, kamu tahu peristiwa pertarungan di Kandangan?”
“Aku mendengar cerita dari anak buahku, banyak murid Lemah Tulis mati, termasuk paman guru Gajah Watu. Juga puluhan murid Mahameru. Mereka tewas terbunuh anak panah orang-orang Brantas tanpa sempat membela diri, jebakan licik dan curang.”
“Para pemanah jitu bukan orang-orang Brantas!” Pamegat menatap tajam mata Wisang Geni yang berapi-api. “Perbuatan pasukan rodra pimpinan senopati Samba dan Hanggada. Mereka yang membunuh murid-muridmu, bukan Brantas.”
Wisang Geni bertanya. “Benarkah?”
“Nah, kamu berniat membalas dendam?” desak Pamegat.
“Murid-muridku berniat balas dendam, dimana pasukan rodra bersembunyi, di Brantas?”
“Mereka bagian dari pemberontak yang kusebut tadi. Kalau mau balas dendam, kamu ikut kerajaan menyerang Linggapati. Kalau kamu tak mau bergabung, aku akan bunuh sebanyak mungkin orang rodra membalaskan sakit-hati Lemah Tulis.”
Wisang Gen tertawa keras. “Kangmasku, tetap saja kangmas yang mahir memanas-panasi hati adiknya, dari dulu kamu memang lebih pintar dari aku.”
“Ah dimas kamu jangan merendah, ilmu-silatmu itu mana bisa kutandingi, dua sesepuh istana saja bisa kamu acak-acak. Tetapi memang aku sengaja membakar dendammu, kamu harus ikut gabung denganku. Aku minta bantuanmu.”
Wisang Geni mengangguk. “Kapan waktunya?”
“Segera. Mungkin tujuh atau sepuluh hari kedepan.”
Pamegat memberitahu letak markas pasukan Linggapati. “Kita jumpa disana.”
Mereka berpisah. Rombongan Sang Pamegat menuju istana melapor. Rombongan Wisang Geni melanjut perjalanan menuju Welirang.
***