Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 41
Before :
Pertarungan masih menyisakan dua partai. Wisang Geni menghadapi Ganggati dan Prastawana melawan Kangsa. Para murid dua perguruan menyaksikan dari pinggiran. Tarung memasuki tahapan kritis.
Dilatar belakang tampak kapal besar yang hanya tinggal kerangka hitam hangus masih mengebulkan asap hitam. Kapal markas Brantas itu sudah menjadi puing-puing tidak berharga, sedikit demi sedikit mulai karam.
Amarah Ganggati dan Kangsa tak lagi bisa dibendung, kalap. Kematian Roro Gandis tidak hanya mendatangkan duka tetapi lebih dari itu telah menyulut dendam dan sakit hati yang menggunung. Keduanya benar-benar kalap.
Wisang Geni tertawa keras, tawa kera yang berisi tenaga-dalam wiwaha, suaranya bergelombang. Mendengung kedalam telinga orang yang mendengar. Jantung orang yang mendengar berpacu kencang terutama yang tenaga-dalamnya masih belum mumpuni.
Tidak lama. Tawanya berhenti. “Pras, selesaikan pekerjaanmu, aku sudah bosan main-main dengan kekasihku ini.”
“Penjahat cabul, aku bukan kekasihmu, kubunuh kamu!” Teriak Ganggati kalap.
“Ayolah Ganggati, tidak perlu malu, kebetulan aku belum punya kekasih yang setua kamu,” Wisang Geni mengolok-olok sambil tertawa.
Pada saat itu Kangsa dalam keadaan kalap berteriak. “Kubunuh kamu, rasakan jurus tapak racun panas.” Dia menyerang dengan jurus mematikan. Prastawana melayaninya dengan jurus penakluk raja yang paling mumpuni. Pertarungan makin menegangkan, kedua pendekar menggelar jurus-jurus mematikan. Tak ada jalan mundur, maju terus, mati atau hidup, membunuh atau dibunuh.
Wisang Geni melirik Prastawana, memperhatikan jurus-jurusnya. Dia melihat jurus penakluk raja sudah sempurna dimainkan muridnya itu. “Sepuluh jurus lagi Kangsa akan tewas!” Bisiknya dalam hati. Lalu dia berkata kepada Ganggati. “Kalau mau hidup, pergilah sebelum aku membunuhmu.”
Ganggati berteriak kalap. “Kamu atau aku! Satu harus mati!” Dia menyarung kerisnya, mengerahkan tenaga-dalamnya ke seluruh tubuh. Dia mengubah jurusnya.
Sambil menyerang gencar dia berkata. “Kamu sungguh memandang enteng aku. Rasakan gabungan lenyamlenyom dan pangkelang pangkelung serta tapak racun panas. Kalau kamu bertemu Suryajagad di kuburan, katakan aku Ganggati yang membunuhmu!”
Jurus Ganggati sangat aneh. Pukulannya membawa serta angin panas dan bebauan aneh. Cara memukulnya juga aneh, seperti lidah biawak bolak-balik, masuk-keluar mulutnya, Telengas, cepat dan tak kenal ampun. Terkadang lemas, berliuk-liuk pada saat lain lurus dan keras. Sepasang kaki nenek tua itu tak menginjak tanah, seperti melayang-layang.
Wisang Geni tidak ayal lagi menggelar jurus lalawa mengepak sayap menembus awan dua tangannya mengembang, kakinya menendang tanah, dia melayang, menerjang Ganggati.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Kaki dua pendekar itu tidak memijak bumi, melayang diudara. Pukulan Ganggati bagai air bah melanda, keras dan berhawa panas. Wisang Geni menarik dua tangannya dan mendorong kedepan. Terjadi benturan tenaga di udara. Bunyi ledakan.
“Daaasssss !”
Ganggati kalah tenaga, kakinya turun memijak bumi. Dia menarik nafas dan mengerahkan segenap tenaga, memukul dengan tenaga dua kali lipat. Ini jurus pamungkas, hidup atau mati! Benturan tenaga yang pertama, Wisang Geni tetap diudara, tangannya mengepak lagi dan memukul keras, kali ini dengan tenaga dingin. Terjadi benturan tenaga lagi.
“Daaaassss …. Daassss…. Daaaassss…. Daaassss…. !”
Beberapa kali benturan tenaga, Ganggati merasa darahnya bergolak. Dia tahu tak mungkin sanggup adu tenaga lagi.
Gebrakan berikut dia menghindar. Dia memusatkan dua kaki tertanam di bumi, inilah kuda-kuda paling ampuh. Dia kini menanti serangan Wisang Geni, dia berhasil membalas setiap serangan dengan jurusnya yang aneh.
Pada saat yang sama Prastawana sengaja mengadu pukulan maut Kangsa dengan tenaga-dalam garudamukha dan jurus penakluk raja dengan sikap syura (berani) dan prabhawa (kekuasaan). Dua pukulan beruntun dia mainkan akwamatyana (biarlah aku yang akan membunuh) dan kacakrawartyan (penguasaan dunia).
Terdengar letupan keras ketika dua tangan bertemu, asap mengepul dari benturan dua tangan. Itulah tapak racun panas pukulan Kangsa. Tampak siapa yang lebih mumpuni tenaga-dalamnya. Bentrokan itu membuat tenaga-dalam Kangsa buyar untuk satu dua detik.
Belum sempat dia memulihkan tenaga ketika pukulan susulan Prastawana menerobos masuk. Dalam bentrokan tadi, tenaga-dalam Prastawana tidak mengalami gangguan, bisa mengalir mulus menerobos dan menghantam dada musuhnya.
“Buuukkkk,” Kangsa tak sempat mengeluh atau berteriak. Dia tewas seketika. Dadanya remuk, dia memuntah darah segar.
Melihat murid yang sudah seperti kekasihnya, mati, amarah Ganggati meluap. Hampir dia menangis histeris saking hatinya sakit. Tetapi dia tahu tak boleh merusak konsentrasi diri menghadapi jurus-jurus Wisang Geni yang makin lama makin berbobot maut.
Beberapa jurus berikutnya Ganggati tahu dia akan kalah, lagipula dua murid tersayangnya sudah mati, tak ada lagi keinginannya untuk hidup. “Lebih baik mati daripada menyaksikan kekalahanku apalagi kalau sampai aku luka parah dan lumpuh, itulah aib yang memalukan.”
Ketika serangan Wisang Geni datang beruntun dengan tenaga-dalam panas berganti dingin, Ganggati menyiapkan tenaga benturan.
Merasa tenaga-dalamnya sudah pulih kembali setelah istirahat dengan kuda-kuda diam tadi, Ganggati bertekad mengeluarkan segenap kekuatan, seratus persen tenaga-dalamnya.
“Dasssss …. Dassss…. !”
Dua kali benturan tenaga.
Wisang Geni melangkah surut dua langkah untuk melepas tekanan tenaga besar lawan. Dia hendak maju tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Ganggati tidak bergerak dan hanya tersenyum tawar.
“Aku belum kalah, Wisang Geni, aku akan kembali lagi dua puluh hari setelah hari ini, kita bertemu di desa Trawas. Aku hendak membawa dua muridku, aku tak mau jasad mereka dimakan binatang atau menjadi busuk disini.”
“Silahkan pergi, Ganggati. Aku pasti akan menunggumu disini. Seandainya kamu tidak datang dan membatalkan tarung, aku pun tidak kecewa. Aku ikuti apa maumu, sesungguhnya kamu salah satu pendekar paling tangguh yang pernah kuhadapi dalam tarung. Aku menghormati kependekaranmu.” Kata Wisang Geni datar,
Ganggati kemudian mencari-cari kuda tunggangan, menemukan tiga ekor. Satu kuda untuk dua mayat muridnya. Satu lagi untuk dia tunggangi, satu lagi sebagai cadangan. “Aku akan kebumikan dua muridku kemudian mencari kangmas Purwo untuk pertarungan mati hidup dengan Wisang Geni.” Bisiknya dalam hati.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Ganggati melecut kudanya dengan menarik dua ekor dibelakangnya. “Wisang Geni, tunggulah aku pasti datang. Hutang dua nyawa muridku harus kamu bayar dengan nyawamu.” Teriaknya.
Pertarungan selesai. Tak seorang pun murid dua perguruan yang tewas. Tetapi yang terluka cukup banyak. Rombongan berjalan ke Selatan memasuki hutan, menjauhi tempat kejadian yang dipenuhi mayat-mayat orang Brantas.
Tiba di persimpangan mereka istirahat cukup lama. Menjelang sore Narapati dan para murid Mahameru pamitan. Murid dua perguruan saling peluk mengucap kata-kata perpisahan.
Ketika murid Mahameru sudah hilang dari pandangan, Dipta, Prastawana dan semua murid saling pandang memberi isyarat.
“Terimakasih guru.” Serentak Dipta, Prastawana dan semua murid utama Lemah Tulis memberi hormat pada Wisang Geni dengan berlutut.
Wisang Geni terkesiap. “Mau apa kalian?”
“Kami ingin menyempurnakan jurus penakluk raja.” Gajah Lengar berkata lirih.
“Pasti akan kuajarkan. Tetapi tidak perlu ikatan guru dan murid.”
“Harus ada ikatan guru dan murid. Harus.” Seru Dyah Mekar bersemangat.
Dipta berkata tegas, bersemangat. “Guru, kami akan tetap berlutut, dan hanya berdiri jika kamu mengakui kami sebagai murid.”
Semua murid meniru ucapan Dipta, suara mereka macam dengung lebah.
“Baiklah aku terima kalian sebagai muridku!” Wisang Geni berkata dengan senyum.
Satu persatu murid maju dan mencium lutut sang guru yang berdiri diam.
Setelah upacara sederhana itu selesai. Wisang Geni berkata kepada semua muridnya. “Mulai sekarang ada peraturan baru, semua murid Lemah Tulis belum boleh bepergian keluar perguruan jika belum menguasai jurus penakluk raja.”
Para murid saling pandang dan tersenyum. Mengerti, peraturan akan melecut semangat cepat menguasai jurus penakluk raja yang merupakan puncak dan gabungan semua jurus-jurus perguruan Lemah Tulis sejak puluhan tahun lalu.
“Brantas sudah kalah, kemana kita sekarang, pulang ke Lemah Tulis?” Tanya Sawitri.
Wisang Geni berdiam sejenak.
“Sebenarnya yang paling bertanggungjawab atas pembantaian di Kandangan adalah pasukan rodra, pasukan panah didikan Kediri dimasa raja Tohjaya.”
Terdengar bisik-bisik bagai dengung lebah, para murid saling memandang temannya. “Aku akan mengajak kalian untuk membalas dendam. Ini pertarungan paling berbahaya, tidak semudah menghancurkan Brantas. Belum tentu kita bisa pulang dengan selamat. Siapa dari kalian yang mau ikut bersamaku?” Kata Wisang Geni.
Seketika para murid berteriak. “Aku! Aku! Aku ikut!”
Wisang Geni gembira melihat semangat para muridnya. “Tidak semuanya, aku hanya memilih beberapa orang. Isteriku Atis pulang ke Lemah Tulis bersama kalian yang tidak kupilih. Ini perintahku, tidak boleh ada pembangkangan!”
Wisang Geni menyebut nama-nama yang mengikutinya. Prastawana, Dipta, Gajah Lengar, Gajah Nila, Daraka, Sampurno, Margana, Jayasatru, Sekar dan Gayatri. Rombongan termasuk Wisang Geni berjumlah sebelas orang. Tak ada yang protes.
Para murid saling peluk dan mengucap nasihat agar hati-hati. Para isteri menangis harus berpisah dengan suaminya apalagi tahu misi membalas dendam pada pasukan Rodra adalah misi perang yang sangat berbahaya.
Atis memeluk Wisang Geni seakan tak mau melepas suaminya pergi. Dia menangis membasahi dada Wisang Geni dengan airmatanya yang hangat. Dan Wisang Geni begitu terharunya mengelus-elus kepala isteri mudanya.
Tidak jauh dari situ Sekar memandang dengan seribu-satu macam perasaan yang berkecamuk hebat. Saat itu pun Gayatri sadar bahwa Atis telah menjadi isteri kesayangan suaminya. Dia hanya bisa menghela nafas sambil melirik Sekar.
Tiga murid yang berdiri agak jauh saling berbisik.
Sawitri yang berdiri berdampingan dengan Dyah Mekar dan Laras menyaksikan pemandangan romantis itu. “Huhhh air mata buaya, dia itu pantasnya jadi sinden, dan ketua kita makin mabuk kepayang sehingga melupakan Sekar isteri yang begitu setia mendampinginya selama bertahun-tahun.” Bisik Sawitri.
Dyah Mekar diam. Laras ikut berkomentar. “Kasihan Sekar.”
“Apa yang akan kulakukan untuk membantu Sekar?” Sawitri berbisik seakan kepada diri sendiri namun didengar dua temannya.
“Tak ada yang bisa kita lakukan. Apakah berani kita membangkang ketua?” Laras berbisik dengan kesal.
“Itu urusan pribadi Ketua, tak boleh kita campuri. Lagipula laki-laki yang sedang kasmaran begitu mana bisa menerima pendapat orang lain.” Kata Dyah Mekar.
“Witri, kamu jangan masuk wilayah terlarang itu. Jangan-jangan kamu disamber ketua jadi isterinya, hi… hi… hi…” Laras menggoda.
“Aku emoh, mosok mau bercinta mesti antri atau tunggu giliran, aku bisa gila, wong hampir tiap malam birahiku kumat jika berada dekat suamiku. Pasti aku ndak sabar antri atau nunggu giliran.” Sawitri tertawa.
Para murid Lemah Tulis berpisah. Rombongan besar pulang ke Lemah Tulis dan rombongan kecil bersama Wisang Geni menuju medan tarung yang lebih besar.
Continue published 42 / August 7th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.