Tuesday, August 10, 2010

World Cup 2010 Semifinal Germany vs Spain

World Cup 2010 (33) Semifinal
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Germany vs Spain
Loew Mengenal Lawan Lebih Baik
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 7 Juli 2010

Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, satu detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 Fernando Torres untuk timnasnya yang nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim Espana sejak tahun 1964 lampau. Itu adegan penting bagi sepakbola Spanyol, di final Euro 2008 tepatnya di kota Wina Austria 29 Juni pada menit 33.
Malam nanti 7 Juli semifinal Piala Dunia 2010 di Durban mempertemukan kembali dua tim itu, Spanyol juara Eropa yang berambisi meraih gelar dunia menghadapi Jerman juara dunia tiga kali, 1954, 1974 dan 1990 yang juga berambisi merebut gelar keempatnya. Dibanding final Euro 2008 skuad Jerman mengalami banyak perubahan pemain, tetapi pelatihnya tetap Joachim Loew. Sementara pemain Spanyol masih banyak yang eks 2008 tetapi tidak lagi didampingi sang pelatih Luis Aragones yang telah undur diri setelah meraih sukses besar itu.
Boleh ganti pelatih, Luis Aragones diganti Vicente Del Bosque, susunan pemain juga tidak mengalami perubahan maka gaya main pun tidak berubah. Masih sama identik, one-touch-football dengan short-passing yang jika diterapkan secara sempurna artinya minim error bisa membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin yang kental merupakan jawaban jitu mengimbangi permainan ofensif Jerman.
Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Sebagian besar materi pemain masih dari skuad 2008 seperti Iker Casilas, Carlos Marchena, Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Xabi Alonso, Fernando Torres, Joan Capdevila, Sergio Ramos, David Silva. Skuad lama yang tak lagi jadi pilihan Del Bosque antara lain, Fernando Navarro, Santiago Cazorla, Sergio Garcia, Daniel Guiza, Marcos Senna, Juanito Gutierrez, Ruben De La Red.
Tampaknya Spanyol akan tampil menyerang. Karena hanya dengan menyerang maka Spanyol bisa menahan laju Jerman. Tim ofensif dengan kemampuan menyerang dan mencetak gol yang tinggi seperti Jerman tidak bisa dihadapi dengan gaya bertahan. Apalagi selama ini Spanyol tak pernah main bertahan, hingga mustahil bisa mengubah gaya main dari “attacking” ke “defensive” hanya dalam satu minggu. So jelaslah Spanyol akan main attacking seperti biasanya. “Kami akan main menyerang seperti biasanya.” Tegas Del Bosque.
Satu hal yang menguntungkan Jerman dan tidak begitu nyaman bagi Spanyol, adalah Joachim Loew tahu persis kuat lemahnya Spanyol, karena nyaris tidak ada perubahan dengan tim yang dihadapi Jerman di final Euro 2008. Materi pemain dan gaya main yang sama.
Sebaliknya kekuatan “die mannschaft” yang sekarang sungguh beda. Setelah menggilas Inggeris 4-1 dan Argentina 4-0 tampak sekali taring “die mannschaft” begitu menakutkan dan yang saya kira bisa menghancurkan tim manapun juga.
Del Bosque bisa saja mempelajari Jerman dari rekaman lima pertandingannya di 2010 tapi itu hanya teori diatas kertas. Del Bosque dan skuadnya belum mencicipi laga sebenarnya di lapangan dengan Jerman yang sekarang ini. Materi pemain Jerman dan pola main berubah.
Sebagian besar skuad Euro2008 tidak lagi memperkuat Jerman 2010, ada yang cidera sebagian lain memang tidak dipanggil, seperti tiga kiper lawas Jens Lehmann, Robert Anke, Rene Adler, bek Clemens Fritz, Heiko Westermann, Christoph Metzelder, gelandang Simon Rolfes, Torsten Frings, Michael Ballack, Thomas Hitzlsperger, Tim Borowski, David Odonkor, penyerang Kevin Kuranyi dan Oliver Neuville.
Sebagai gantinya masuk para pemain muda yang rata-rata berusia 20-22 tahun dan yang sebagian diantaranya dari skuad U-21 yang juara Eropa 2009 kemarin. Jerome Boateng, Marko Marin, Toni Kroos, Holger Badstuber, Thomas Mueller, Mesut Oziel, Sami Khedira, Serdar Tasci, Dennis Aogo, dan kiper Manuel Neuer yang berusia 24 tahun. Materi berubah. Pola main lebih ofensif, karena materi “young guns” yang masuk starter XI memiliki ambisi, spirit, skill dan tenaga muda yang mampu bermain dalam tempo tinggi selama 90 sampai 120 menit.
Sudah pasti pertandingan akan menarik, dan pasti tidak kalah kualitas dan tidak kalah menarik dibanding partai Brazil versus Belanda atau Inggeris kontra Jerman. Kedua tim akan saling menyerang dan bertahan sama baiknya.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final nanti malam. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, seperti juga Iniesta Cs tahu tangguhnya midfield Jerman. Sektir midfield inilah yang akan menjadi kunci kemenangan, tim mana yang lebih menguasai sektor tengah ini dialah yang lebih berpeluang menang. Dua tim akan sama melakukan “pressure” terhadap pemain lawan yang menguasai bola.
Shcweinsteiger, Khedira, Oziel, Podolski dan pengganti Mueller yang mungkin saja Toni Kroos, akan bertarung ketat dan adu kejelian dengan Iniesta, Alonso, Xavi, Ramos, Fabregas atau Silva. Striker Miroslav Klose akan bersaing dengan David Villa, keduanya sama-sama produktif selama di Afrika Selatan. Tidak boleh ada error sekecil apapun, satu kesalahan akan segera dimanfaatkan lawan menjadi gol.
Kelebihan Joachim Loew sebagai pelatih yang jeli dalam merancang strategi dan membaca permainan lawan akan menjadi kunci kemenangan Jerman, dibanding Vicente Del Bosque. Kans menang ada di kubu Jerman, namun sepakbola mengandung misteri seperti misalnya faktor keberuntungan, faktor kesalahan wasit, faktor emosional. Misteri inilah yang membuat sepakbola sulit ditebak. Kita lihat saja, tim mana yang lebih beruntung. ***

No comments: