Sunday, July 17, 2011

Wisang Geni part Two (26)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 26

Bab Sebelas

Perampokan

Sore hari menjelang malam dilereng bukit Gunduk dibagian paling tinggi dari perumahan desa Bangu, di aula yang cukup luas, empat pendekar utama duduk sila, menanti dengan wajah tegang. Tak lama kemudian Linggapati muncul dari bilik pribadi. Dia mengenakan pakaian pendekar, serba hitam, celana longgar sebatas betis dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka, tidak dikancing. Gagang keris mencuat dibalik pundak, ikat pinggang lebar menjepit pinggangnya yang ramping. Dia bertubuh sedang, ramping, agak jangkung. Parasnya tampak dingin dan bengis namun tidak mengurangi ketampanannya.

Dia melangkah sambil tangannya memegang tangan isterinya.

Saat itu Dedes Ayu tidak berhias sebagaimana biasanya, namun tetap saja parasnya yang cantik jelita membias bagai putri-putri keraton. Dia mengenakan busana pendekar, celana sebatas lutut warna hijau tua memperlihatkan betisnya yang kuning sawo memadi bunting.

Potongan tubuhnya yang ramping padat semakin menggoda dengan busana kebaya ketat yang pendek menggantung sebatas perutnya, memperlihatkan kulit perut dan pusar yang putih mengilat. Sepasang bukit kembarnya menonjol seakan ingin memberontak dari ketatnya kebaya warna hitam.

Tiga lelaki diruangan itu, Pulosari, Sangkapura dan Samba merunduk tidak berani menatap kecantikan wanita itu. Khawatir pandangan yang menyirat birahi akan tertangkap mata tajam Linggapati.

Seperti biasa Linggapati duduk di kursi besar, satu-satunya kursi diruangan itu. Empat penasehat duduk dilantai. Dedes Ayu, penasehat utama, duduk sila dilantai yang dialas bantal warna kuning emas disisi kursi suaminya, satu tangannya bertumpu diatas paha suaminya.

Suasana hening. Empat penasehat memandang sang pemimpin.

Air muka Linggapati tampak muram. Dia menoleh kepada isterinya, memberi tanda untuk memulai pertemuan.

Dedes Ayu mengawali pembicaraan langsung kepada materi inti.

“Ada masalah penting. Markas kita kekurangan pangan. Untuk mencukupi makan bagi semua anggota pasukan diperlukan keping emas sebagai alat beli. Kita kehabisan keping emas. Gudang beras pun sudah menipis persediaannya. Apa pendapat para penasehat?”

“Kita merampok lagi!” Kata Sangkapura tanpa basa basi. Pendekar dari Tanjung Anyar ini terkenal temperamen dan suka ceplas-ceplos tak punya tatakrama.

Dedes Ayu tersenyum. “Kangmas Sangkapura, itu namanya pinjaman paksa, bukan merampok karena kita bukan perampok.”

Sangkapura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Iya kita ambil paksa milik Tumapel, pajak bulanan dari pelabuhan Jedung ke keraton kita sergap ditengah jalan.”

Dedes Ayu menoleh kepada suaminya. Linggapati tersenyum. Dedes Ayu membalas senyum, lalu menoleh ke para penasehat. “Kita harus cerdik, tidak boleh memperlihatkan diri. Artinya, kita yang berbuat, tetapi direkayasa sedemikian rupa sehingga keraton memastikan sebagai perbuatan kelompok Brantas.” Suara merdunya terdengar bagai desis ular berbisa.

Wongayu Permaisuri kamu lupa bahwa pajak keraton itu dikawal ponggawa dan prajurit Tumapel serta puluhan anakbuah Brantas. Kita bisa membunuh mereka semua dalam sekejap tetapi bagaimana merekayasa Brantas sebagai kambing hitam?” Ujar Sangkapura.

“Mudah, mayat orang Brantas kita buang ke kali biar hanyut atau dimakan buaya. Jadi ditempat kejadian hanya ada mayat orang keraton. Nah tentu saja Tumapel akan memastikan itulah perbuatan Brantas.” Tutur Dedes Ayu.

Semua merasa kagum akan siasat itu.

“Siasat permaisuri sangat terpuji. Memang pantas permaisuri mengepalai kami dan mendampingi paduka Linggapati.” Senopati Samba memuji dan menjilat.

Linggapati senang. Begitu juga Dedes Ayu senang akan pujian itu.

Tangan Linggapati mengelus kepala isterinya, suatu pujian dan bentuk kasih sayang yang diperlihatkan didepan umum. Keruan saja Dedes Ayu makin bersemangat.

“Kemarin dalam perjalanan merantau, kami mampir di pelabuhan Jedung. Aku tahu jalur perjalanan pengawal yang membawa keping emas ke Tumapel. Mereka ke Selatan lewat hutan Karangan, terus melalui kali Welang naik perahu menuju Singosari. Kita sergap mereka di hutan Karangan.” Tutur Dedes Ayu.

“Itu pemikiran cerdas, aku mendukung rencana itu.” Tukas Pulosari.

“Iyah, rencana yang cemerlang.” Tukas Linggapati.

Dedes Ayu mengerling dan tersenyum menggoda. Dia merasa semakin dekat dengan mimpinya, akan menjadi permaisuri dari Raja yang dipertuan ditanah Jawa. Selama ini dia telah memasang jerat-jerat cinta yang mulai membelenggu laki-laki itu dalam pelukannya, menanamkan ketergantungan Linggapati pada dirinya. Sehingga jika tiba saatnya maka kursi permaisuri hanya bisa diduduki olehnya, dan tidak ada wanita lain sebagai saingan.

Sambil tetap menoleh memandang suaminya dia menutur rencananya. Dari mulutnya yang indah memikat meluncur kata-kata yang fasih dan rendah hati namun didalamnya tersirat kepercayaan diri akan kemampuan dan kecerdasannya.

Dedes Ayu melanjutkan. “Menyergap rombongan pembawa harta benda keraton sangat penting. Hamba usul misi ini dipimpin Samba, Hanggada dan Korowelang dengan pasukan rodra yang inti. Ketiganya punya andil kesalahan dalam memimpin anak buahnya sehingga kejadian Kandangan merugikan kita. Saatnya nanti Paduka Baginda sendiri yang menitah dengan ancaman, tidak boleh gagal. Jika gagal, hukumannya terserah paduka Baginda.”

Mendengar ancaman hukuman empat penasehat terutama senopati Samba merinding bulu kuduknya, merasa ngeri.

Linggapati tampak tak berdaya menghadapi isterinya. Dia menyetujui apapun usulan yang keluar dari mulut yang dihiasi sepasang bibir tebal basah dan sederet gigi putih bersih. ”Apalagi yang ada dalam pemikiranmu?” Tanya Linggapati makin bersemangat.

“Kepala desa Karambang juga penguasa Jedung, wanita bernama Setiati. Dia tidak punya kepandaian silat, disekelilingnya tak ada pendekar yang mumpuni. Jadi misi ini tidak sulit, pasti bisa mendapat beras dan keping emas.” Tutur Dedes Ayu. “Siapa yang memimpin misi ini Baginda lebih tahu.”

“Bagaimana pendapat para penasehat?” Linggapati menantang para penasehatnya.

Tetapi tak seorang pun berani mengajukan rencana. Bersaing dengan Dedes Ayu sama bahaya seperti menyodor kepala sendiri kedalam mulut buaya yang menganga. Hasilnya mati. Para penasehat itu lebih memilih diam.

Linggapati memandang tajam empat penasehatnya. “Misi penyergapan di hutan Karangan harus benar-benar diperkuat. Ini misi paling penting karena beras dan keping emas sudah jelas-jelas ada didepan mata.” Dia menoleh memandang Samba. “Dimas Samba yang memimpin misi ini. Aku ingin tahu jumlah orang dan kondisi mental pasukan rodra?”

Sangat berhati-hati Samba menjelaskan. “Untuk misi hutan Karangan, hamba usul duapuluhlima pemanah. Misi ke Karambang, limabelas orang. Selain itu beberapa pendekar dari gugus dua akan ikut serta.”

Linggapati merenung sesaat. “Aku putuskan kamu dan Hanggada membawa empatpuluh pemanah yang paling handal. Ini misi yang paling penting, pasukan kita harus kuat. Dan untuk misi ke Jedung akan dipimpin penasehat Pulosari dibantu Sangkapura dan Kajoran dengan membawa serta limabelas anggota rodra. Sisanya berjaga-jaga disini. Bagaimana pendapat kalian penasehat?”

“Keputusan paduka Baginda sangat bijaksana dan terang benderang kebenarannya.” Pulosari menyahut dengan suara rendah.

“Tidak boleh ada kesalahan. Kesalahan dihukum, keberhasilan akan memperoleh imbalan jasa. Semua misi itu harus berhasil. Camkan pesanku pada semua prajurit. Hari penyerbuan ke istana Tumapel semakin dekat, kita harus benar-benar siap sebagai pasukan yang sangat kuat.” Suara Linggapati lirih tapi kata-katanya jelas.

Pulosari bersama Sangkapura dan Dewi Kajoran duduk berhadapan dengan Setiati yang dikawani empat wakilnya. Mawar juru tulis desa serta tiga pengawal Melati, Seruni dan Jatisewu. Empat pendekar itu berdiri disamping kepala desa.

Setelah pembicaraan berputar-putar Pulosari lalu menyampaikan maksud sebenarnya, memaksa Setiati meminjamkan sepuluh kuintal beras dan lima ribu keping emas.

Setiati terkejut sesaat, sadar sedang berhadapan dengan gerombolan perampok. Samar-samar dia melihat bayangan orang di pekarangan. “Banyak orang. Mata dua orang ini tajam, parasnya bengis. Aku harus hati-hati.”

Berpikir demikian dia menyahut dengan suara yang dibuat-buat agar tidak tampak rasa takutnya. “Maaf beras dan keping emas itu milik keraton, sebagian lain milik penduduk Karambang. Selama ini tidak pernah dipinjamkan. Lagipula beras dan keping emas kami tidak sebanyak yang tuan perkirakan.”

Pulosari tersenyum sinis berkata dengan suara dingin. “Aku tidak mau membuang banyak waktu, kalau kamu tidak bersedia memberi dengan baik-baik, kami akan mengambil paksa, dan sayang sekali akan jatuh banyak korban jiwa.”

Sebelum Setiati menjawab, Jatisewu wakilnya memotong. “Siapa sebenarnya tuan, dari kelompok mana? Mengapa mau mengambil paksa barang milik penduduk desa kami?”

Pulosari mengancam. “Aku membawa pasukan. Akan banyak korban dipihakmu.” Dia menatap tajam Setiati. “Cepat katakan jawabmu!”

Setiati ragu-ragu.

Jatisewu menyahut. “Kurangajar berani berlaku sombong dirumah orang!”

Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran serentak bergerak, pesat.

Pulosari dan Sangkapura menyerang Jatisewu, jurusnya ganas dan mematikan. Rupanya dua penasehat ini tak mau kehilangan banyak waktu.

Serangan Dewi Kajoran mengarah Setiati. Tidak ganas karena tujuannya mencengkeram dan menawan si kepala desa.

Serentak terjadi tarung.

Jatisewu cepat menghunus pedang, memutar dan menghantam kepala Pulosari, sambil dia bergerak kesamping menolong Setiati.

Saat itu Dewi Kajoran sedang tarung dikeroyok tiga pendekar wanita wakil Setiati.

Setelah bertarung sepuluh jurus, Pulosari meninggalkan Jatisewu sambil mengajak Dewi Kajoran dan Sangkapura mundur. “Tarung diluar!” Teriaknya.

Melihat tiga orang itu melompat keluar ke pekarangan Jatisewu curiga. Tadinya dia sudah melihat belasan orang yang menggenggam busur dan panah. Mendadak terdengar kesiur angin bagai desis ular. Belasan panah menerobos masuk ruangan dengan kecepatan tinggi.

Jatisewu berseru. “Awas panah!” Sambil dia menendang meja besar yang terbalik dengan penampang menghadap arah luar. Setiati dan para wakilnya yang sempat berlindung dibalik meja, selamat. Panah-panah itu mendatangkan suara ribut ketika menerpa meja kayu jati yang tebal itu. Jatisewu yang tidak sempat berlindung, kalangkabut menangkis panah dengan pedangnya.

Tiga ponggawa yang berjaga-jaga di ruangan mati dihunjam panah. Mawar dan Melati sempat berlindung. Tetapi Seruni dan Jatisewu terlambat bergerak sebab serangan panah yang begitu mendadak. Keduanya terkena panah, luka tapi tidak parah.

Tidak berlama-lama Setiati berseru kepada Jatisewu. “Mas Jati kita menyerah saja, sebelum banyak korban jiwa.”

Jatisewu menoleh. “Mengapa menyerah?”

“Kita menyerah, lakukan Mas. Aku punya akal.” Setiati berseru.

Sadar majikannya pasti punya rencana yang cerdas, Jatisewu berseru lantang. “Hentikan panah. Kami menyerah, kalian boleh ambil beras dan keping emas digudang.”

“Bagus, kalian tahu gelagat. Ayo mana orangmu, buka pintu gudang!” Teriak Pulosari.

Ketika Mawar hendak berdiri, Setiati mencegah dengan menahan tangannya. “Kamu tetap disini, biar ponggawa lain yang membuka, kamu serahkan kuncinya.”

Mawar melempar kuncinya kepada seorang ponggawa yang lantas dengan ketakutan membawanya ke Pulosari.

Pada saat itu Setiati mengambil alat tulis, menulis diatas kulit tipis. “Kami dirampok, beras dan keping emas dikuras dari gudang desa Karambang, perampok sedang memuat beras dikereta kuda, cepat tolong kami.”

Pulosari dan beberapa anak buahnya mengawasi para pegawai desa mengangkut beras dan memuatnya ke kereta kuda, sebagian lain mengawasi pintu rumah kepala desa.

Setiati bersama Mawar berindap-indap keluar lewat pintu belakang. Setiati sambil bersiul lirih mengambil sangkar burung, mengeluarkan burung elang. Mawar menyodor sekerat daging ke paruh elang. Setiati mengikat bundel kecil kulit tipis itu dikaki elang dan melepas burung itu terbang ke angkasa.

Adipati Gajah Pringgon sedang melahap makan siangnya, didampingi tiga isterinya ketika seekor elang berputar-putar diatas wuwungan rumah. Suara elang itu dikenal Gajah Pringgon yang lantas bersiul. Saat berikut elang menerobos masuk rumah, dan hinggap di tangan majikannya.

Laki-laki itu membuka ikatan kulit tipis dikaki elang. Dia mengambil beberapa potong daging meletakkan dimeja dekat si elang yang lantas melahap. Dia mengelus kepala elang yang lantas terbang balik ke rumah Setiati.

“Ambil alat tulis.” Serunya.

Salah seorang isterinya, yang paling muda usia bergerak cepat mengambil selembar kulit tipis dan alat tulis. Gajah Pringgon menulis dengan wajah bengis.

“Cakil, bawa tigapuluh pemanah ke Karambang, bunuh orang-orang yang sekarang ini sedang merampok gudang beras desa.”

Belum selesai dia menulis, isteri utamanya membawa sangkar burung. Gajah Pringgon bersiul, mengeluarkan elang. Dia mengikat surat dikaki elang, memberinya sekerat daging besar. Elang menikmati daging mentah itu, saat berikut Gajah Pringgon menyuruhnya terbang. Elang itu melesat ke angkasa membawa kabar penting.

Selesai itu dia berseru memanggil pengawalnya. Lima ponggawa bertubuh besar berdiri dalam keadaan siaga. ”Kumpulkan tigapuluh pemanah, duapuluh petarung, kita berangkat sekarang juga.” Dia berdiri dari kursi, isterinya sudah mempersiapkan kerisnya. Isteri lainnya sibuk mengenakan busana kerajaan kepada sang suami.

Ketika Gajah Pringgon memijak kakinya di pekarangan, pasukannya sudah siap diatas kuda masing-masing. Laki-laki ini yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi melompat ke atas kudanya. “Gerombolan mana berani merampok milik Tumapel?” Suaranya terdengar dingin, wajahnya bengis. Kumisnya yang tebal seakan berdiri saking marahnya.

Dia berseru kepada pasukannya. “Berangkat, ke Karambang.”

Mereka memaksa kuda berlari cepat ke batas hutan yang terpisah sekitar lima kilo dari markasnya yang letaknya tidak jauh di Utara pelabuhan.

Keamanan pelabuhan Jedung mengalami perubahan besar setelah kejadian dua pemanah perguruan Brantas yang berupaya membunuh Setiati dalam pemilihan kepala desa. Hal ini membuat Gajah Pringgon marah. Dia memecat perguruan Brantas, mencabut haknya sebagai pengawal keamanan pelabuhan. Sebagai ganti, dia menugas limapuluh orang yang menyamar dibawah pimpinan Cakil dan wakilnya Sasro. Mereka pasukan khusus Tumapel, pemanah jitu dan petarung handal.

Begitu menerima perintah tertulis yang dibawa elang, Cakil dan Sasro segera mengumpul anggota pasukan. Hanya dalam sekejap tigapuluh orang siap diatas punggung kuda. Mereka memacu kuda menuju hutan diluar desa Karambang, enam kilo dari pelabuhan.

Cakil berkata kepada wakil dan pasukannya, “kita tunggu para perampok di batas hutan.”

Sepenanakan nasi berlalu mereka tiba di batas hutan yang rimbun dipadati pohon-pohon kayu yang sebesar pelukan manusia. Mereka memisah diri mencari tempat sembunyi yang strategis. Lima orang menyebar dan memanjat pohon, mengintai dari atas.

Selang beberapa saat pasukan Gajah Pringgon tiba dan segera bergabung. Adipati itu mengambil alih pimpinan, mengatur strategi dan persiapan. Semuanya dilakukan serba cepat, semua anggota pasukan berpengalaman tarung dan perang. Tak lama setelah persiapan rampung, pengintai diatas pohon memberi aba-aba musuh mendekat.

Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran, lima muridnya dan limabelas anggota rodra telah menyelesaikan misinya dengan hasil memuaskan. Mereka melecut kuda dengan perasaan gembira. “Tidak dinyana hanya dengan satu gebrakan mendapatkan hasil malah melebihi target.” Kata Sangkapura. “Beras sepuluh kuintal, keping emas dua peti, keping perak dua peti. Ini hasil besar.”

Tidak berapa lama meninggalkan desa Karambang mereka memasuki hutan. Pulosari mengangkat tangannya pertanda semua berhenti. Dia memerintah tiga murid Dewi Kajoran maju kedepan memeriksa. Tiga wanita ini berkuda jauh kedalam hutan sambil mengamati sekeliling. Tak lama kemudian mereka balik ke pasukan. “Tak ada yang mencurigakan. Hutan sepi.” Kata salah seorang diantaranya.

Pulosari memberi tanda. Rombongan masuk hutan. Hari masih siang meskipun matahari mulai menggeser ke Barat. Sinar matahari menerangi kerimbunan hutan. Makin masuk kedalam hutan, kecurigaan dan kewaspadaan makin berkurang.

Itu memang strategi Gajah Pringgon. “Membiarkan musuh merasa nyaman, saat itulah kita menyerang,” katanya kepada Cakil.

Dan saat yang dinantikan pasukan Tumapel akhirnya tiba. Gajah Pringgon memberi tanda kepada Cakil yang lantas menyuarakan siul seperti kicau burung. Saat berikut ratusan anak panah melayang bagaikan hujan mengarah rombongan Pulosari. Panah tak pernah berhenti. Seorang pemanah sanggup melepas dua atau tiga panah sekaligus, saat berikut menarik busur lagi dan melepas panah susulan.

Pulosari dan kawan-kawannya terkejut bukan alang kepalang. Tetapi semuanya terlambat.

Dia bersama Sangkapura, Dewi Kajoran sibuk menangkis dan menghindar. Lima murid Dewi Kajoran sibuk menangkis. Lima belas pemanah Rodra tersungkur, bahkan kuda-kuda kereta ikut roboh tertancap panah.

Serangan dadakan itu luar biasa mengerikan, saat dimana rombongan Pulosari merasa nyaman telah menyelesaikan misi dengan sukses. Mereka tidak menyangka akan diserang. Para pemanah khusus pasukan Tumapel sangat mumpuni, tenaga besar membuat anak panah melayang dengan kecepatan tinggi dan jitu, tidak heran rombongan Pulosari berantakan.

Semua anggota Rodra mati. Tiga adik perguruan Dewi Kajoran mati, dua lainnya luka. Dewi Kajoran dan Sangkapura terluka, panah tertancap dibahu. Hanya Pulosari seorang yang mampu menyelamatkan diri dengan memutar kerisnya menangkis panah..

Melihat kerusakan yang begitu hebat, terutama semua kuda penarik kereta mati, Pulosari tak punya pilihan selain lari. Satu detik lebih lama berada didaerah terbuka itu dimana musuh tidak terlihat akibatnya mati. Dia tidak tahu berapa banyak musuh, namun dari banyaknya anak panah yang menghujani rombongannya, dia perkirakan jumlahnya banyak. Maka dia pun berseru, “lari, lari…!!!”

Pasukan Tumapel tak mau melepas musuhnya begitu saja. Mereka menghujani panah. Dua adik Dewi Kajoran jatuh dari kuda, tewas. Pulosari dan dua temannya berhasil lolos tetapi dipunggung masing-masing tertancap panah.

Adipati Gajah Pringgon memimpin pasukannya kembali ke Karambang sambil membawa kereta berisikan beras dan kepingan emas.

Setiati dan penduduk desa menyambut kedatangan pasukan Tumapel. Pujian dan ucapan terimakasih mengalir dari para penduduk desa. Gajah Pringgon masuk ke ruang kerja Setiati, menulis laporan diatas kulit tipis. Dia kemudian bersiul memanggil elangnya yang khusus komunikasi dengan Sang Pamegat. Mengirim elang ke pimpinannya, Sang Pamegat.

(To be Continued 19 July/Published No 27)

Wisang Geni part Two (25)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 25

“Tidak benar. Diatas langit masih ada langit yang lebih tinggi. Ilmu-silatku bukanlah yang paling tinggi. Masih banyak pendekar yang ilmu-silatnya lebih tinggi dibanding aku. Yang kumaksud tadi, kitab itu ada dikepalaku.” Sambil dia menunjuk dahinya.

Melihat Gayatri tidak mengerti. Nenek melanjutkan. “Sesungguhnya Lhakeswara tidak pernah ditulis dalam buku. Tidak ada kitab Lhakeswara. Aku menerima ajaran ini dari seorang pendekar empatpuluh tahun lalu. Aku sudah bersumpah tak akan menyebut namanya. Kitab berisi dua ajaran, falsafah hidup dan ilmu silat. Falsafah untuk memahami hidup dan menolong sesama manusia. Ilmu-silat untuk menjaga keseimbangan antara kejahatan dan kebaikan, memelihara dunia agar tidak dikuasai kejahatan.”

Gayatri memotong cepat. “Oh aku mengerti sekarang, itu sebab orang-orang menyebut kitab Lhakeswara terdiri dua jilid. Harus dipelajari dua-duanya sekaligus, tidak boleh belajar hanya dari satu jilid.”

Nenek mengangguk. “Sekarang, apakah kamu sudah siap?”

“Aku siap Guru.” Tegas Gayatri.

“Aku akan membacakan perlahan-lahan dan kamu menghafalnya. Kamu cerdas, tiga hari kamu sudah hafal. Setelah itu kujelaskan. Petunjuk silat, tidak mungkin bisa kamu pelajari sekarang, butuh waktu bertahun-tahun, makin lama makin sempurna.” Kata si Nenek.

Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Akan kuajari jurus pilih bumi melepas rembulan, kumpulan jurus-jurus ilmu silat yang kupelajari dan kudalami selama puluhan tahun. Kamu juga harus menghafalnya. Setelah hafal lalu aku akan melatihmu.”

Si Nenek kemudian menurunkan salah satu jurus dari kumpulan jurus hebat pilih bumi melepas rembulan.

“Satu jurus ini bisa kamu gunakan meskipun sekarang ini tenaga-dalam masih belum pulih seluruhnya. Jurus ini mengutamakan unsur tidak terduga, musuhmu akan kaget. Harus cepat dan tepat sasaran. Beberapa detik itu sudah cukup bagimu untuk mengalahkan musuhmu. Jangan ragu-ragu menggunakan jurus ini.” Si Nenek menyuruh Gayatri praktek.

Selama tiga hari, sambil membersihkan tubuh Gayatri dari racun bius, Nenek yang tak mau memperkenalkan diri mengajarkan Lhakeswara.

Hari keempat mereka tiba di lereng Welirang. “Aku belum mau bertemu orang-orang, aku malu Guru. Tetapi aku sangat rindu anakku si Anggreni.”

“Pada saatnya nanti kamu akan bertemu orang-orang itu, juga suamimu. Satu hal penting, kamu harus belajar menahan diri, jangan cepat terpengaruh perasaanmu. Itu kelemahanmu.”

“Aku sulit menahan diri, seringkali terpancing omongan orang.” Kata Gayatri.

“Mudah. Dalam pembicaraan dengan seseorang, kamu pusatkan pikiran pada pernafasan, tarik nafas, tahan nafas dan lepas nafas. Kerjakan secara diam-diam. Maka apapun omongan orang, perbuatan orang, tak akan bisa memancing emosimu.”

Mereka melakukan perjalanan ke Welirang sambil tetap berlatih ilmu silat. Nenek jubah kuning itu tetap melakukan penyembuhan. Setiap malam Gayatri telanjang bulat kemudian gurunya mengurut sekujur tubuhnya dengan pengerahan tenaga dalam.

Tiba di Welirang keduanya menetap di tempat terpencil. Nenek jubah kuning itu tidak memaksa muridnya untuk muncul dan bertemu orang-orang Welirang.

“Guru, aku betah tinggal bersamamu, banyak pelajaran yang kuperoleh. Kamu harus memberi aku kesempatan merawatmu. Ini pengalaman pertamaku sebagai murid, selama ini aku tak punya guru, yang mengajariku ilmu silat hanya kakek, ayah dan ibu.”

“Aku tetap bersamamu, kamu murid setia, banyak berbuat kebaikan kepadaku, memasak, memijit kakiku, ngobrol dan berbincang.” Kata si Nenek.

“Guru, kamu begitu yakin suamiku masih hidup?”

“Dia masih hidup. Ilmu-silatnya tinggi, tidak mudah dibunuh orang.”

Paras Gayatri berseri tapi saat berikut muram. “Apakah dia akan mengampuniku?”

Nenek mengangguk. “Dia akan mengampuni karena kamu ibunya Anggreni.”

“Maksud Guru?”

“Angga adalah perekat dia denganmu, dia tak akan mencelakakan ibu dari putrinya.” Nenek berdiam sejenak lalu bertanya. “Kamu mencintai suamimu itu?”

“Aku sangat mencintainya, sekarang ini hampir setiap malam aku membayang parasnya.”

“Sebaiknya kamu membenahi dirimu, rawat tubuhmu, kuras isi perutmu supaya bersih, agar kamu siap menerima tubuhnya kembali.”

Gayatri merunduk malu. “Guru, ajari aku.”

Melihat gurunya mengangguk, Gayatri lantas menjatuhkan diri, mencium kaki sang guru, “Terimakasih guru, kamu sungguh mulia.”

Tidak seperti janjinya Arjapura tiba di Welirang pada hari ketujuh sejak berpisah dengan Gayatri. Dia menyamar sebagai pengelana yang kelaparan. Jalan terseok-seok menuju rumah besar. Pikirannya tertuju pada seorang anak perempuan, cantik, kulit putih, usia sekitar tiga tahunan, namanya Anggreni.

Beberapa langkah dari rumah besar, seorang anak kecil berlarian sendirian. Dia berusaha menangkap kupu-kupu. Anak perempuan itu sesuai ciri yang diceritakan Gayatri.

Cepat dan gesit Arjapura menangkap Anggreni. Lalu tertawa keras, suaranya menggema ditebing-tebing. Anggreni dalam dekapannya, menangis ketakutan, menutup telinganya.

Semua orang berlarian keluar.

Prastawana dan semua murid Lemah Tulis terkesima, melihat laki-laki tinggi besar berewokan mendekap Anggreni.

Arjapura tertawa. “Aku yang membunuh Wisang Geni, hutang nyawa putraku. Sekarang anak Wisang Geni ini akan kubunuh didepan kalian. Jika Wisang Geni masih hidup, dia akan merasa betapa sakitnya kematian anak. Akan kubunuh juga semua anak dan isterinya.”

“Lepaskan anak itu, hadapi aku secara jantan!” Teriak Prastawana.

“Tidak mungkin. Akan kubunuh anak ini. Setelah itu baru kita tarung. Hari ini aku akan membunuh banyak orang.” Dia tertawa.

Sepanjang dialog tadi, Anggreni menangis.

Saat itu Gayatri dari tempat persembunyiannya tak lagi dapat menahan diri. Kini dia tahu tujuan Arjapura yang sebenarnya.

Dia tak perduli apa ang bakal terjadi, dalam pikirannya hanya bagaimana cara menolong putri semata wayangnya. Dia melangkah tertatih-tatih menghampiri Arjapura. Langkahnya yang bagaikan orang tak memiliki tenaga, bagian dari tipudayanya. Dia ingin Arjapura tahu bahwa dirinya masih lemah dan tak punya tenaga.

“Arja, jangan bunuh anakku. Kamu sudah berjanji.” Seru Gayatri.

Arjapura kaget. Semua yang ada disitu ikut kaget.

Anggreni menangis. “Ibu… ibu… aku takut, ibu … ibu…”

Gayatri kian mendekat. “Arja, bunuh aku saja sebagai ganti anakku.”

“Aku tidak perlu kamu lagi. Sudah puas aku memaksa kamu mengkhianati suamimu sendiri, kini siapa lagi orang yang percaya padamu.” Arjapura tertawa keras.

“Selama ini kamu menipu aku. Kamu memberi aku bubuk racun, apa nama racunnya?” Gayatri bertanya sambil beringsut, terseok-seok mendekati Arjapura.

Arjapura tertawa.

Anggreni menangis sambil menutup telinga.

Arjapura tertawa. “Itu racun bius, tenagamu lenyap tetapi nafsu birahimu melonjak-lonjak yang jika tidak bisa kausalurkan maka kamu jadi gila. Nah setelah itu kamu jadi milikku, jadi mainanku, kamu mengemis minta sanggama, setiap hari tiga kali kita sanggama, kamu jadi budakku bahkan kuperintah menipu Wisang Geni pun kamu bersedia.”

Gayatri menekan malu dan amarahnya, tekadnya hanya satu, menolong anaknya.

Dia ingat petuah gurunya, jangan ragu-ragu menggunakan jurus ini. Apakah sekarang waktunya, menolong Angga? Dia yakin akan jurus gurunya pilih bumi melepas rembulan.

Dia berpura-pura masih dalam keadaan ketagihan. Masih sebagai Gayatri yang lemah dan yang tak punya kepandaian karena tenaga-dalamnya sudah punah.

“Arjapura, mengapa kau hancurkan hidupku, aku tak pernah bermusuh denganmu, kamu sahabat ayahku. Mengapa kamu tega menghancurkan aku?” Gayatri mencari-cari kesempatan saat dimana Arjapura lengah. Dia ingat kata-kata Gurunya, “jurus ini harus mengandung kejutan, membuat musuh kaget.”

“Memang benar kamu bukan musuhku. Tapi dendamku pada Wisang Geni sedalam lautan, aku bertekad tidak hanya membunuhnya juga isteri dan anak-anaknya. Nasibmu buruk, begitu juga dua isteri Wisang Geni yang kubunuh di Kandangan. Sekarang Anggreni anaknya akan kubunuh didepan kalian.”

Gayatri memperpendek jarak, menjadi satu meter dari Arjapura, dia lalu memanfaatkan momen yang tepat. “Paman Arjapura, dia itu cucumu, putri tunggal Wasudeva!”

Arjapura kaget. Sesaat dia berpikir, “benarkah dia ini cucuku?”

Saat itulah, satu detik yang maha penting dalam hidupnya, membuat Gayatri bergerak cepat menggunakan salah satu jurus andalan dari kumpulan “pilih bumi lepas rembulan”. Jari tangan menusuk mata dan titik mati didada, kaki kanannya menendang selangkangan.

Semuanya titik kematian.

Arjapura tak menyangka Gayatri bisa menyerang. Pikirnya wanita itu masih lemah, masih ketagihan racun bius dan tak memiliki tenaga. Karenanya dia kaget.

Tetapi ilmu-silatnya tinggi, pengalaman tarungnya banyak, dia masih mampu menangkis tusukan jari dimata dan dada, satu kakinya diangkat menangkis tendangan Gayatri.

Namun dia kaget sebab saat yang sama dia mendengar desis angin tajam mengancam pelipis, pusar, dada, leher, hati, jantung dan selangkangan. Dia tak sempat menghitung dan tak bisa melihat siapa penyerangnya.

Seketika dia tahu, itulah serangan senjata rahasia dari seorang bertenaga-dalam tinggi. Tidak sempat berpikir, dia menggerakkan dua tangannya menangkis serangan Gayatri dan menyentil senjata rahasia yang mengarah pelipisnya, ternyata senjata rahasia itu hanyalah batu kerikil.

Kerikil yang mengarah jantung dan pusar tak bisa dihindari namun bisa dialihkan dengan putaran badan. Dua kerikil itu menerpa dada dan perut namun bukan di titik kematian. Kerikil yang mengarah selangkangan dia tangkis dengan pahanya.

Dia merasa akibatnya. Jari tangannya terluka, nyaris patah. Dada, perut, dan paha terluka, kerikil masuk satu senti kedalam tubuhnya, rasanya nyeri dan panas. “Bangsat, ilmu-silat orang itu dari tingkat tinggi.” Gumamnya dalam hati.

Pada saat Arjapura bergerak, menangkis dan menghindar serangan Gayatri dan sambitan kerikil orang tak dikenal, dekapannya pada Anggreni terlepas. Anak kecil itu jatuh.

Jurus pilih bumi lepas rembulan memiliki perubahan tak diduga.

Tendangan ke selangkangan berubah arah, Gayatri menarik kakinya, memutar arah kaki yang dengan lembut menyentuh tubuh Anggreni. Sekali kedut, tubuh Anggreni melayang menjauh dari arena tarung.

Perubahan itu membawa akibat. Tangkisan kaki Arjapura yang melindungi selangkangan ikut berubah, menghantam kaki Gayatri. Tepat di bagian betis.

“Akhhhh!!” Teriak Gayatri kesakitan.

Tulang betis itu tidak patah, karena seluruh tenaga Arjapura sibuk melayani senjata rahasia yang dilontar seseorang dengan tenaga-dalam tinggi. Tendangan yang mengena betis Gayatri, ibarat tendangan orang normal dengan kekuatan besar, tanpa disertai tenaga-dalam. Meskipun demikian, Gayatri merasa kakinya seakan copot. Dan maksudnya ingin menangkap tubuh putrinya, gagal.

Pada saat itu Prastawana melesat dengan jurus penakluk raja. Berbarengan Dyah Mekar dan Gajah Lengar melesat menggunakan jurus garudamukha prasidha. Seperti sudah diatur Laras melesat menangkap Anggreni, memeluk anak itu yang menangis keras, ketakutan.

Arjapura bukan pendekar biasa. Dia sudah malang melintang dalam pelbagai macam pertarungan. Dia bisa lolos dari serangan Gayatri dan senjata rahasia kerikil.

Tapi belum sempat menghirup nafas lega, dia harus meladeni gempuran Prastawana bertiga Gajah Lengar dan Dyah Mekar. Saat berikut Gajah Nila dan Sawitri ikut menyerang.

Menghadapi serangan dari para pendekar utama Lemah Tulis, hanya dalam dua jurus Arjapura pontang-panting. Dia tahu, bertahan lebih lama, bukan saja sulit meloloskan diri bahkan nyawa pun terancam. Apalagi masih ada seorang berilmu tinggi yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya dengan senjata rahasia yang mematikan.

Tidak bisa lain, Arjapura melesat kabur sambil mengeluarkan ancaman. “Urusanku disini belum selesai. Aku akan membunuh tiap murid Lemah Tulis yang kutemui!”

Gayatri berseru keras. “Laras, kembalikan anakku!”

“Maaf Gayatri, tetapi Anggreni anak ketua kami!” Laras berkata tegas.

“Dia anakku!” Suara Gayatri makin keras saking marahnya.

Anggreni menangis, berteriak. “Ibu, ibu.” Meronta ingin lari kepelukan sang ibu.

Laras menahan Anggreni dengan memeluk lebih erat.

Anggreni menangis lebih keras sambil berteriak memanggil ibunya.

Timbul amarah yang menerbitkan keberanian, seperti macan betina terluka yang melihat anaknya terancam maut.

Gayatri berteriak. “Prastawana, aku adu-nyawa melawan kalian. Kembalikan Anggreni! Ayo Prastawana, jangan pengecut, pilih tarung atau serahkan anakku.”

Prastawana menahan diri, berkata kepada Laras. “Kembalikan Angga kepada ibunya.”

Anggreni berlari menghambur kedalam pelukan ibunya. Gayatri memeluk, menciumi wajah putrinya sambil menangis. “Oh Angga, kamu selamat, kamu sehat. Ibu sangat rindu padamu, hari ini ibumu dipermalukan penjahat itu didepan banyak orang, rasanya ibumu mau mati. Tetapi yang mencegah ibu bunuh diri hanyalah rindu padamu.”

“Jangan mati ibu.” Anggreni memeluk ibunya.

“Tidak. Ibu tak mau mati, ibu mau pelukan sama Angga.”

Ketika Gayatri hendak melangkah pergi, Prastawana menegurnya. “Akan kamu bawa kemana Anggreni?”

Langkah Gayatri terhenti, membalik badan. “Anggreni lahir dari rahimku, aku tinggal dekat danau, menunggu suamiku.” Tertatih-tatih sambil membopong Angga dia melangkah.

Baru beberapa langkah dia berhenti, menoleh ke belakang.

Matanya melotot, memancar sinar hawa amarah. “Nasibku memang buruk, gara-gara Arjapura. Aku akan balas dendam. akan kubunuh penjahat itu!” Suaranya parau.

Semua orang yang hadir disitu dan yang menyaksikan sepakterjang Gayatri, terdiam. Rasanya mengerikan melihat dendam yang terpancar dari sepasang mata merah Gayatri.

“Kamu isteri ketua, kamu orang yang kuhormati, kami berenam sedang mencari ketua, dimana kira-kira aku bisa menemukan ketua?” Kata Prastawana dengan ramah.

Gayatri menatap tak percaya. “Benarkah kamu masih menganggap aku isteri ketuamu?”

“Aku sudah diangkat sebagai ketua Lemah Tulis tetapi bagiku Wisang Geni tetap ketuaku dan aku hanya mewakilinya. Kamu isteri ketua, dan tetap sebagai isteri ketua, sampai saatnya ketua berkata yang berbeda.” Kata Prastawana, ramah dan sopan.

“Prastawana, kamu pendekar sejati, tidak percuma suamiku mengagumimu menyebutmu yang paling layak menjadi ketua Lemah Tulis. Kata-katamu bagai emas yang bisa kupegang.” Tegas Gayatri datar.

“Isteri ketua, bisakah memberitahu, kira-kira kemana aku harus mencari ketua?”

Gayatri berkata. “Tunggu saja dilereng bukit Lejar. Pasti kamu akan bertemu ketuamu.”

Ketika itu sesosok bayangan berkelebat. Seakan turun dari langit, seorang nenek berjubah kuning berdiri didekat Gayatri. Tidak terlihat gerakannya, petanda ilmu-ringan tubuhnya sudah mencapai taraf kesempurnaan.

“Hai muridku, aku datang.” Kata si nenek.

“Guru!” Seru Gayatri. “Tadi aku gunakan jurus ajaranmu dan berhasil menyelamatkan Angga dari ancaman penjahat itu. Dia berniat membunuh anakku, sungguh jahat.” Saat berikut Gayatri tertawa. “Aku tahu diam-diam kamu menyambit penjahat itu dengan senjata rahasia membuat dia kalangkabut menari macam monyet.”

“Aku cuma perlu tujuh kerikil untuk mengusirnya.” Sahut nenek berjubah kuning.

Semua yang hadir disitu merasa heran, mendadak Gayatri memanggil nenek tua dengan sebutan guru. Saat itu terjawab sudah mengapa Arjapura lari terbirit-birit. Pasti nenek tua itu memiliki ilmu-silat sangat tinggi. Sejak kapan Gayatri berguru padanya?

Nenek itu meraih Anggreni, menimang-timang sambil tertawa gembira. “Anak ini cantik, namamu Anggreni?”

“Namaku Angga.” Sahut Anggreni.

Nenek itu tertawa mendengar jawaban dan mimik lucu Anggreni. “Anakmu ini cerdas dan punya tulang bagus untuk jadi pendekar.”

Dia menciumi paras Anggreni yang keringatan. “Muridku, aku masih harus mengusir sisa racun dalam tubuhmu, memulihkan tenaga-dalam dan menyempurnakan ilmu-silatmu.”

Gayatri tertawa senang. “Kita nginap di rumah dekat danau. Ayo Guru!”

Ketika itulah Dyah Mekar memanggil, “Gayatri, jangan pergi dulu.”

Gayatri mengenal suara itu. Suara Dyah Mekar.

Dia ingat masa sulitnya di perkampungan Lemah Tulis ketika banyak murid wanita tidak bersahabat dengannya, hanya Dyah Mekar yang memperlihatkan pertemanan murni. Malah isteri Prastawana itu tarung membelanya dengan mempertaruhkan nyawa menghadapi keroyokan para penjahat di bukit Kukun dekat Lemah Tulis.

Dia membalik badan, memandang Dyah Mekar yang melangkah perlahan mendekatinya.

“Mbakyu Dyah.” Gayatri tenggelam dalam pelukan Dyah Mekar.

“Adikku,” Tangan Dyah Mekar mengelus rambut sahabatnya.

Suara Gayatri bercampur isak tangis. “Nasibku buruk mbakyu. Aku menunggu hukuman suamiku, kalau aku mati tolong kamu melihat-lihat si Angga, dia belahan jiwaku.”

Tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya, Dyah Mekar ikut menangis. “Aku berjanji akan melindungi Angga.”

“Terimakasih mbakyu.” Kata Gayatri.

“Aku akan membelamu, akan kujelaskan bahwa karma yang kamu alami itu bukan kesalahanmu, itulah tipu daya penjahat Arjapura itu.” Bisik Dyah Mekar.

“Mbakyu, kamu pergilah mencari suamiku. Aku yakin dia masih hidup. Sampaikan sembahku padanya, katakan aku menunggu hukumannya, aku legowo.” Gayatri melepas pelukannya, menghapus air matanya.

Malam itu Prastawana berkumpul dengan para murid Lemah Tulis. “Besok kita berangkat. Siapkan bekal, beberapa tabung tuak, aku yakin ketua pasti rindu rasanya tuak.” Kata Prastawana, nada suaranya gembira.

“Pasti. Kita beli tuak di tengah perjalanan. Tapi mas Pras, kamu tampaknya yakin akan bertemu ketua.” Kata Laras sambil memandang teman lainnya.

“Kita pasti menemukan ketua.” Prastawana yakin.

Mereka yang lain saling pandang. Laras berkata kepada Prastawana. “Kangmas, aku tidak percaya Gayatri. Satu kali dia mengkhianati ketua, pasti usulnya ke bukit Lejar juga tipuan untuk menyesatkan kita.”

“Apa alasanmu?” Prastawana bertanya.

Laras diam, tampaknya dia ragu.

“Aku percaya pada Gayatri!” Tegas Dyah Mekar.

Kali ini Sawitri yang menyahut. “Kita mendengar semua yang dikatakan Gayatri bahwa dia menunggu hukuman dari ketua. Aku yakin Gayatri tidak mau kita temukan ketua.”

“Justru omongan Gayatri itu yang paling benar, bukit Lejar!” Prastawana berkata tegas.

“Kangmas, kamu percaya omongan Gayatri?” Gajah Lengar bertanya.

“Kamu sendiri, apakah kamu percaya?” Prastawana balik bertanya.

Gajah Lengar menyahut pasti. “Aku percaya. Aku cukup kenal pribadinya. Dia tidak akan berbohong atau menyesatkan kita.”

“Sejak awal firasatku kuat, ketua Geni akan memaksa Sekar membawanya ke lembah kera, jurang di kawasan gunung Lejar. Tempat itu sangat penting artinya bagi ketua, disitu dia mendapatkan tenaga wiwaha, disitu dia mendapatkan kembali hidupnya. Disitu titik awal perjalanan panjang ketua mengarungi lautan ilmu-silat.” Tutur Prastawana sambil memainkan jari-jari tangannya.

Dyah Mekar tahu tabiat suaminya, jika memainkan jari-jari tangan pertanda dia sedang menimbang keputusan yang paling penting.

“Tetapi kamu tidak pernah memberitahu kami,” Kata Daraka.

“Memang aku tak pernah memberitahu siapa pun, tidak juga pada isteriku.” Pandangan Prastawana agaknya hendak minta maaf atas sikap tertutupnya.

“Mengapa? Apakah sebab kamu tidak yakin?” Dyah Mekar bertanya ramah.

“Yakin. Aku yakin. Aku hanya perlu seorang lain yang mengatakan itu. Dan tadi aku mendengarnya dari Gayatri, aku melihat matanya, tatapan matanya. Tidak ada kebohongan disitu, bahkan aku melihat ketulusan. Ketika dia menyebut lereng bukit Lejar, seketika aku tahu benarnya firasatku.”

“Mas Pras, katakan apa firasatmu itu.” Gajah Lengar masih penasaran.

“Aku… , aku sudah lama menyelami alam pikiran ketua, berpikir seperti dia berpikir.” Penuturan Prastawana terhenti, suaranya parau. Matanya berkaca-kaca. Dia menahan tangis.

Mereka semua diam.

Prastawana melanjut penuturannya. “Ketua pasti berpikir, satu-satunya tempat untuk sembuh adalah di lembah kera. Jikalau tidak sembuh maka dia mau mati dan dikubur disisi kuburan guru Lalawa.” Mata Prastawana berkaca-kaca.

Dyah Mekar memegang tangan suaminya. Seakan ikut merasakan duka yang dialami suaminya jika benar Wisang Geni mati.

Gajah Lengar berseru, mengejutkan semua orang. “Kini aku mengerti.”

“Apa? Kamu mengejutkan orang!” Kata Daraka.

“Itu sebab kangmas Prastawana cepat menguasai ilmu-silat yang diajarkan ketua, dia lebih cepat menguasai dan lebih sempurna ilmu-silatnya dibanding kita semua, padahal ketua mengajar dan membimbing kita semua tanpa pilih kasih.” Tegas Gajah Lengar.

Semua ingin mendengar.

“Karena kangmas Prastawana telah menyelami cara berpikir ketua, dia tahu apa maunya ketua, dia mengerti sebab akibat yang dijelaskan ketua yang terkadang sangat berbelit-belit saking tinggi ilmu-silat yang akan dibentang. Kita semua sulit mengerti, tetapi dia dengan mudahnya mengerti dan menyerap ajaran ketua.” Gajah Lengar berkata dengan penuh kagum, mengagumi kecintaan Prastawana terhadap ketuanya.

Prastawana menghela nafas lega. “Sudah kuputuskan, besok pagi-pagi aku berangkat ke bukit Lejar. Dyah Mekar harus ikut aku! Teman yang lain boleh ikut boleh tidak, mungkin saja kalian mau mencari ketua ditempat lain.”

“Mengapa kamu tidak mewajibkan kita semua ke bukit Lejar?” Seru Laras.

Prastawana tertawa. “Sekarang kuwajibkan kalian ikut aku!”

“Jangan lupa membeli tuak, ketua pasti sudah rindu rasanya tuak!” Seru Daraka gembira seakan sudah pasti akan bertemu Wisang Geni di bukit Lejar.

(To be Continued 18 July/Published No 26)