Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 26
Bab Sebelas
Perampokan
Sore hari menjelang malam dilereng bukit Gunduk dibagian paling tinggi dari perumahan desa Bangu, di aula yang cukup luas, empat pendekar utama duduk sila, menanti dengan wajah tegang. Tak lama kemudian Linggapati muncul dari bilik pribadi. Dia mengenakan pakaian pendekar, serba hitam, celana longgar sebatas betis dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka, tidak dikancing. Gagang keris mencuat dibalik pundak, ikat pinggang lebar menjepit pinggangnya yang ramping. Dia bertubuh sedang, ramping, agak jangkung. Parasnya tampak dingin dan bengis namun tidak mengurangi ketampanannya.
Dia melangkah sambil tangannya memegang tangan isterinya.
Saat itu Dedes Ayu tidak berhias sebagaimana biasanya, namun tetap saja parasnya yang cantik jelita membias bagai putri-putri keraton. Dia mengenakan busana pendekar, celana sebatas lutut warna hijau tua memperlihatkan betisnya yang kuning sawo memadi bunting.
Potongan tubuhnya yang ramping padat semakin menggoda dengan busana kebaya ketat yang pendek menggantung sebatas perutnya, memperlihatkan kulit perut dan pusar yang putih mengilat. Sepasang bukit kembarnya menonjol seakan ingin memberontak dari ketatnya kebaya warna hitam.
Tiga lelaki diruangan itu, Pulosari, Sangkapura dan Samba merunduk tidak berani menatap kecantikan wanita itu. Khawatir pandangan yang menyirat birahi akan tertangkap mata tajam Linggapati.
Seperti biasa Linggapati duduk di kursi besar, satu-satunya kursi diruangan itu. Empat penasehat duduk dilantai. Dedes Ayu, penasehat utama, duduk sila dilantai yang dialas bantal warna kuning emas disisi kursi suaminya, satu tangannya bertumpu diatas paha suaminya.
Suasana hening. Empat penasehat memandang sang pemimpin.
Air muka Linggapati tampak muram. Dia menoleh kepada isterinya, memberi tanda untuk memulai pertemuan.
Dedes Ayu mengawali pembicaraan langsung kepada materi inti.
“Ada masalah penting. Markas kita kekurangan pangan. Untuk mencukupi makan bagi semua anggota pasukan diperlukan keping emas sebagai alat beli. Kita kehabisan keping emas. Gudang beras pun sudah menipis persediaannya. Apa pendapat para penasehat?”
“Kita merampok lagi!” Kata Sangkapura tanpa basa basi. Pendekar dari Tanjung Anyar ini terkenal temperamen dan suka ceplas-ceplos tak punya tatakrama.
Dedes Ayu tersenyum. “Kangmas Sangkapura, itu namanya pinjaman paksa, bukan merampok karena kita bukan perampok.”
Sangkapura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Iya kita ambil paksa milik Tumapel, pajak bulanan dari pelabuhan Jedung ke keraton kita sergap ditengah jalan.”
Dedes Ayu menoleh kepada suaminya. Linggapati tersenyum. Dedes Ayu membalas senyum, lalu menoleh ke para penasehat. “Kita harus cerdik, tidak boleh memperlihatkan diri. Artinya, kita yang berbuat, tetapi direkayasa sedemikian rupa sehingga keraton memastikan sebagai perbuatan kelompok Brantas.” Suara merdunya terdengar bagai desis ular berbisa.
“Wongayu Permaisuri kamu lupa bahwa pajak keraton itu dikawal ponggawa dan prajurit Tumapel serta puluhan anakbuah Brantas. Kita bisa membunuh mereka semua dalam sekejap tetapi bagaimana merekayasa Brantas sebagai kambing hitam?” Ujar Sangkapura.
“Mudah, mayat orang Brantas kita buang ke kali biar hanyut atau dimakan buaya. Jadi ditempat kejadian hanya ada mayat orang keraton. Nah tentu saja Tumapel akan memastikan itulah perbuatan Brantas.” Tutur Dedes Ayu.
Semua merasa kagum akan siasat itu.
“Siasat permaisuri sangat terpuji. Memang pantas permaisuri mengepalai kami dan mendampingi paduka Linggapati.” Senopati Samba memuji dan menjilat.
Linggapati senang. Begitu juga Dedes Ayu senang akan pujian itu.
Tangan Linggapati mengelus kepala isterinya, suatu pujian dan bentuk kasih sayang yang diperlihatkan didepan umum. Keruan saja Dedes Ayu makin bersemangat.
“Kemarin dalam perjalanan merantau, kami mampir di pelabuhan Jedung. Aku tahu jalur perjalanan pengawal yang membawa keping emas ke Tumapel. Mereka ke Selatan lewat hutan Karangan, terus melalui kali Welang naik perahu menuju Singosari. Kita sergap mereka di hutan Karangan.” Tutur Dedes Ayu.
“Itu pemikiran cerdas, aku mendukung rencana itu.” Tukas Pulosari.
“Iyah, rencana yang cemerlang.” Tukas Linggapati.
Dedes Ayu mengerling dan tersenyum menggoda. Dia merasa semakin dekat dengan mimpinya, akan menjadi permaisuri dari Raja yang dipertuan ditanah Jawa. Selama ini dia telah memasang jerat-jerat cinta yang mulai membelenggu laki-laki itu dalam pelukannya, menanamkan ketergantungan Linggapati pada dirinya. Sehingga jika tiba saatnya maka kursi permaisuri hanya bisa diduduki olehnya, dan tidak ada wanita lain sebagai saingan.
Sambil tetap menoleh memandang suaminya dia menutur rencananya. Dari mulutnya yang indah memikat meluncur kata-kata yang fasih dan rendah hati namun didalamnya tersirat kepercayaan diri akan kemampuan dan kecerdasannya.
Dedes Ayu melanjutkan. “Menyergap rombongan pembawa harta benda keraton sangat penting. Hamba usul misi ini dipimpin Samba, Hanggada dan Korowelang dengan pasukan rodra yang inti. Ketiganya punya andil kesalahan dalam memimpin anak buahnya sehingga kejadian Kandangan merugikan kita. Saatnya nanti Paduka Baginda sendiri yang menitah dengan ancaman, tidak boleh gagal. Jika gagal, hukumannya terserah paduka Baginda.”
Mendengar ancaman hukuman empat penasehat terutama senopati Samba merinding bulu kuduknya, merasa ngeri.
Linggapati tampak tak berdaya menghadapi isterinya. Dia menyetujui apapun usulan yang keluar dari mulut yang dihiasi sepasang bibir tebal basah dan sederet gigi putih bersih. ”Apalagi yang ada dalam pemikiranmu?” Tanya Linggapati makin bersemangat. “
“Kepala desa Karambang juga penguasa Jedung, wanita bernama Setiati. Dia tidak punya kepandaian silat, disekelilingnya tak ada pendekar yang mumpuni. Jadi misi ini tidak sulit, pasti bisa mendapat beras dan keping emas.” Tutur Dedes Ayu. “Siapa yang memimpin misi ini Baginda lebih tahu.”
“Bagaimana pendapat para penasehat?” Linggapati menantang para penasehatnya.
Tetapi tak seorang pun berani mengajukan rencana. Bersaing dengan Dedes Ayu sama bahaya seperti menyodor kepala sendiri kedalam mulut buaya yang menganga. Hasilnya mati. Para penasehat itu lebih memilih diam.
Linggapati memandang tajam empat penasehatnya. “Misi penyergapan di hutan Karangan harus benar-benar diperkuat. Ini misi paling penting karena beras dan keping emas sudah jelas-jelas ada didepan mata.” Dia menoleh memandang Samba. “Dimas Samba yang memimpin misi ini. Aku ingin tahu jumlah orang dan kondisi mental pasukan rodra?”
Sangat berhati-hati Samba menjelaskan. “Untuk misi hutan Karangan, hamba usul duapuluhlima pemanah. Misi ke Karambang, limabelas orang. Selain itu beberapa pendekar dari gugus dua akan ikut serta.”
Linggapati merenung sesaat. “Aku putuskan kamu dan Hanggada membawa empatpuluh pemanah yang paling handal. Ini misi yang paling penting, pasukan kita harus kuat. Dan untuk misi ke Jedung akan dipimpin penasehat Pulosari dibantu Sangkapura dan Kajoran dengan membawa serta limabelas anggota rodra. Sisanya berjaga-jaga disini. Bagaimana pendapat kalian penasehat?”
“Keputusan paduka Baginda sangat bijaksana dan terang benderang kebenarannya.” Pulosari menyahut dengan suara rendah.
“Tidak boleh ada kesalahan. Kesalahan dihukum, keberhasilan akan memperoleh imbalan jasa. Semua misi itu harus berhasil. Camkan pesanku pada semua prajurit. Hari penyerbuan ke istana Tumapel semakin dekat, kita harus benar-benar siap sebagai pasukan yang sangat kuat.” Suara Linggapati lirih tapi kata-katanya jelas.
Pulosari bersama Sangkapura dan Dewi Kajoran duduk berhadapan dengan Setiati yang dikawani empat wakilnya. Mawar juru tulis desa serta tiga pengawal Melati, Seruni dan Jatisewu. Empat pendekar itu berdiri disamping kepala desa.
Setelah pembicaraan berputar-putar Pulosari lalu menyampaikan maksud sebenarnya, memaksa Setiati meminjamkan sepuluh kuintal beras dan lima ribu keping emas.
Setiati terkejut sesaat, sadar sedang berhadapan dengan gerombolan perampok. Samar-samar dia melihat bayangan orang di pekarangan. “Banyak orang. Mata dua orang ini tajam, parasnya bengis. Aku harus hati-hati.”
Berpikir demikian dia menyahut dengan suara yang dibuat-buat agar tidak tampak rasa takutnya. “Maaf beras dan keping emas itu milik keraton, sebagian lain milik penduduk Karambang. Selama ini tidak pernah dipinjamkan. Lagipula beras dan keping emas kami tidak sebanyak yang tuan perkirakan.”
Pulosari tersenyum sinis berkata dengan suara dingin. “Aku tidak mau membuang banyak waktu, kalau kamu tidak bersedia memberi dengan baik-baik, kami akan mengambil paksa, dan sayang sekali akan jatuh banyak korban jiwa.”
Sebelum Setiati menjawab, Jatisewu wakilnya memotong. “Siapa sebenarnya tuan, dari kelompok mana? Mengapa mau mengambil paksa barang milik penduduk desa kami?”
Pulosari mengancam. “Aku membawa pasukan. Akan banyak korban dipihakmu.” Dia menatap tajam Setiati. “Cepat katakan jawabmu!”
Setiati ragu-ragu.
Jatisewu menyahut. “Kurangajar berani berlaku sombong dirumah orang!”
Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran serentak bergerak, pesat.
Pulosari dan Sangkapura menyerang Jatisewu, jurusnya ganas dan mematikan. Rupanya dua penasehat ini tak mau kehilangan banyak waktu.
Serangan Dewi Kajoran mengarah Setiati. Tidak ganas karena tujuannya mencengkeram dan menawan si kepala desa.
Serentak terjadi tarung.
Jatisewu cepat menghunus pedang, memutar dan menghantam kepala Pulosari, sambil dia bergerak kesamping menolong Setiati.
Saat itu Dewi Kajoran sedang tarung dikeroyok tiga pendekar wanita wakil Setiati.
Setelah bertarung sepuluh jurus, Pulosari meninggalkan Jatisewu sambil mengajak Dewi Kajoran dan Sangkapura mundur. “Tarung diluar!” Teriaknya.
Melihat tiga orang itu melompat keluar ke pekarangan Jatisewu curiga. Tadinya dia sudah melihat belasan orang yang menggenggam busur dan panah. Mendadak terdengar kesiur angin bagai desis ular. Belasan panah menerobos masuk ruangan dengan kecepatan tinggi.
Jatisewu berseru. “Awas panah!” Sambil dia menendang meja besar yang terbalik dengan penampang menghadap arah luar. Setiati dan para wakilnya yang sempat berlindung dibalik meja, selamat. Panah-panah itu mendatangkan suara ribut ketika menerpa meja kayu jati yang tebal itu. Jatisewu yang tidak sempat berlindung, kalangkabut menangkis panah dengan pedangnya.
Tiga ponggawa yang berjaga-jaga di ruangan mati dihunjam panah. Mawar dan Melati sempat berlindung. Tetapi Seruni dan Jatisewu terlambat bergerak sebab serangan panah yang begitu mendadak. Keduanya terkena panah, luka tapi tidak parah.
Tidak berlama-lama Setiati berseru kepada Jatisewu. “Mas Jati kita menyerah saja, sebelum banyak korban jiwa.”
Jatisewu menoleh. “Mengapa menyerah?”
“Kita menyerah, lakukan Mas. Aku punya akal.” Setiati berseru.
Sadar majikannya pasti punya rencana yang cerdas, Jatisewu berseru lantang. “Hentikan panah. Kami menyerah, kalian boleh ambil beras dan keping emas digudang.”
“Bagus, kalian tahu gelagat. Ayo mana orangmu, buka pintu gudang!” Teriak Pulosari.
Ketika Mawar hendak berdiri, Setiati mencegah dengan menahan tangannya. “Kamu tetap disini, biar ponggawa lain yang membuka, kamu serahkan kuncinya.”
Mawar melempar kuncinya kepada seorang ponggawa yang lantas dengan ketakutan membawanya ke Pulosari.
Pada saat itu Setiati mengambil alat tulis, menulis diatas kulit tipis. “Kami dirampok, beras dan keping emas dikuras dari gudang desa Karambang, perampok sedang memuat beras dikereta kuda, cepat tolong kami.”
Pulosari dan beberapa anak buahnya mengawasi para pegawai desa mengangkut beras dan memuatnya ke kereta kuda, sebagian lain mengawasi pintu rumah kepala desa.
Setiati bersama Mawar berindap-indap keluar lewat pintu belakang. Setiati sambil bersiul lirih mengambil sangkar burung, mengeluarkan burung elang. Mawar menyodor sekerat daging ke paruh elang. Setiati mengikat bundel kecil kulit tipis itu dikaki elang dan melepas burung itu terbang ke angkasa.
Adipati Gajah Pringgon sedang melahap makan siangnya, didampingi tiga isterinya ketika seekor elang berputar-putar diatas wuwungan rumah. Suara elang itu dikenal Gajah Pringgon yang lantas bersiul. Saat berikut elang menerobos masuk rumah, dan hinggap di tangan majikannya.
Laki-laki itu membuka ikatan kulit tipis dikaki elang. Dia mengambil beberapa potong daging meletakkan dimeja dekat si elang yang lantas melahap. Dia mengelus kepala elang yang lantas terbang balik ke rumah Setiati.
“Ambil alat tulis.” Serunya.
Salah seorang isterinya, yang paling muda usia bergerak cepat mengambil selembar kulit tipis dan alat tulis. Gajah Pringgon menulis dengan wajah bengis.
“Cakil, bawa tigapuluh pemanah ke Karambang, bunuh orang-orang yang sekarang ini sedang merampok gudang beras desa.”
Belum selesai dia menulis, isteri utamanya membawa sangkar burung. Gajah Pringgon bersiul, mengeluarkan elang. Dia mengikat surat dikaki elang, memberinya sekerat daging besar. Elang menikmati daging mentah itu, saat berikut Gajah Pringgon menyuruhnya terbang. Elang itu melesat ke angkasa membawa kabar penting.
Selesai itu dia berseru memanggil pengawalnya. Lima ponggawa bertubuh besar berdiri dalam keadaan siaga. ”Kumpulkan tigapuluh pemanah, duapuluh petarung, kita berangkat sekarang juga.” Dia berdiri dari kursi, isterinya sudah mempersiapkan kerisnya. Isteri lainnya sibuk mengenakan busana kerajaan kepada sang suami.
Ketika Gajah Pringgon memijak kakinya di pekarangan, pasukannya sudah siap diatas kuda masing-masing. Laki-laki ini yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi melompat ke atas kudanya. “Gerombolan mana berani merampok milik Tumapel?” Suaranya terdengar dingin, wajahnya bengis. Kumisnya yang tebal seakan berdiri saking marahnya.
Dia berseru kepada pasukannya. “Berangkat, ke Karambang.”
Mereka memaksa kuda berlari cepat ke batas hutan yang terpisah sekitar lima kilo dari markasnya yang letaknya tidak jauh di Utara pelabuhan.
Keamanan pelabuhan Jedung mengalami perubahan besar setelah kejadian dua pemanah perguruan Brantas yang berupaya membunuh Setiati dalam pemilihan kepala desa. Hal ini membuat Gajah Pringgon marah. Dia memecat perguruan Brantas, mencabut haknya sebagai pengawal keamanan pelabuhan. Sebagai ganti, dia menugas limapuluh orang yang menyamar dibawah pimpinan Cakil dan wakilnya Sasro. Mereka pasukan khusus Tumapel, pemanah jitu dan petarung handal.
Begitu menerima perintah tertulis yang dibawa elang, Cakil dan Sasro segera mengumpul anggota pasukan. Hanya dalam sekejap tigapuluh orang siap diatas punggung kuda. Mereka memacu kuda menuju hutan diluar desa Karambang, enam kilo dari pelabuhan.
Cakil berkata kepada wakil dan pasukannya, “kita tunggu para perampok di batas hutan.”
Sepenanakan nasi berlalu mereka tiba di batas hutan yang rimbun dipadati pohon-pohon kayu yang sebesar pelukan manusia. Mereka memisah diri mencari tempat sembunyi yang strategis. Lima orang menyebar dan memanjat pohon, mengintai dari atas.
Selang beberapa saat pasukan Gajah Pringgon tiba dan segera bergabung. Adipati itu mengambil alih pimpinan, mengatur strategi dan persiapan. Semuanya dilakukan serba cepat, semua anggota pasukan berpengalaman tarung dan perang. Tak lama setelah persiapan rampung, pengintai diatas pohon memberi aba-aba musuh mendekat.
Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran, lima muridnya dan limabelas anggota rodra telah menyelesaikan misinya dengan hasil memuaskan. Mereka melecut kuda dengan perasaan gembira. “Tidak dinyana hanya dengan satu gebrakan mendapatkan hasil malah melebihi target.” Kata Sangkapura. “Beras sepuluh kuintal, keping emas dua peti, keping perak dua peti. Ini hasil besar.”
Tidak berapa lama meninggalkan desa Karambang mereka memasuki hutan. Pulosari mengangkat tangannya pertanda semua berhenti. Dia memerintah tiga murid Dewi Kajoran maju kedepan memeriksa. Tiga wanita ini berkuda jauh kedalam hutan sambil mengamati sekeliling. Tak lama kemudian mereka balik ke pasukan. “Tak ada yang mencurigakan. Hutan sepi.” Kata salah seorang diantaranya.
Pulosari memberi tanda. Rombongan masuk hutan. Hari masih siang meskipun matahari mulai menggeser ke Barat. Sinar matahari menerangi kerimbunan hutan. Makin masuk kedalam hutan, kecurigaan dan kewaspadaan makin berkurang.
Itu memang strategi Gajah Pringgon. “Membiarkan musuh merasa nyaman, saat itulah kita menyerang,” katanya kepada Cakil.
Dan saat yang dinantikan pasukan Tumapel akhirnya tiba. Gajah Pringgon memberi tanda kepada Cakil yang lantas menyuarakan siul seperti kicau burung. Saat berikut ratusan anak panah melayang bagaikan hujan mengarah rombongan Pulosari. Panah tak pernah berhenti. Seorang pemanah sanggup melepas dua atau tiga panah sekaligus, saat berikut menarik busur lagi dan melepas panah susulan.
Pulosari dan kawan-kawannya terkejut bukan alang kepalang. Tetapi semuanya terlambat.
Dia bersama Sangkapura, Dewi Kajoran sibuk menangkis dan menghindar. Lima murid Dewi Kajoran sibuk menangkis. Lima belas pemanah Rodra tersungkur, bahkan kuda-kuda kereta ikut roboh tertancap panah.
Serangan dadakan itu luar biasa mengerikan, saat dimana rombongan Pulosari merasa nyaman telah menyelesaikan misi dengan sukses. Mereka tidak menyangka akan diserang. Para pemanah khusus pasukan Tumapel sangat mumpuni, tenaga besar membuat anak panah melayang dengan kecepatan tinggi dan jitu, tidak heran rombongan Pulosari berantakan.
Semua anggota Rodra mati. Tiga adik perguruan Dewi Kajoran mati, dua lainnya luka. Dewi Kajoran dan Sangkapura terluka, panah tertancap dibahu. Hanya Pulosari seorang yang mampu menyelamatkan diri dengan memutar kerisnya menangkis panah..
Melihat kerusakan yang begitu hebat, terutama semua kuda penarik kereta mati, Pulosari tak punya pilihan selain lari. Satu detik lebih lama berada didaerah terbuka itu dimana musuh tidak terlihat akibatnya mati. Dia tidak tahu berapa banyak musuh, namun dari banyaknya anak panah yang menghujani rombongannya, dia perkirakan jumlahnya banyak. Maka dia pun berseru, “lari, lari…!!!”
Pasukan Tumapel tak mau melepas musuhnya begitu saja. Mereka menghujani panah. Dua adik Dewi Kajoran jatuh dari kuda, tewas. Pulosari dan dua temannya berhasil lolos tetapi dipunggung masing-masing tertancap panah.
Adipati Gajah Pringgon memimpin pasukannya kembali ke Karambang sambil membawa kereta berisikan beras dan kepingan emas.
Setiati dan penduduk desa menyambut kedatangan pasukan Tumapel. Pujian dan ucapan terimakasih mengalir dari para penduduk desa. Gajah Pringgon masuk ke ruang kerja Setiati, menulis laporan diatas kulit tipis. Dia kemudian bersiul memanggil elangnya yang khusus komunikasi dengan Sang Pamegat. Mengirim elang ke pimpinannya, Sang Pamegat.
(To be Continued 19 July/Published No 27)