Sunday, July 24, 2011

Wisang Geni part Two (32)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 32

“Pertarungan di Kandangan itu jebakan. Ketika fajar mulai menyingsing saat kita siap berunding damai atau tarung, mendadak ratusan anak panah melayang ke arah kami. Banyak murid tak sempat menghindar. Empatpuluh murid Mahameru dan tigapuluhsatu pihak kami, tewas terpanah. Kami kalah total, hancur. Yang selamat hanya sebelas murid Mahameru dan sembilan murid Lemah Tulis,” Tutur Prastawana dengan suara duka. “Paman guru Gajah Watu tewas begitu juga dua sepuh Mahameru Bragalba dan Rawaja.” Lanjutnya.

“Bagaimana kalian bisa lolos?” Wisang Geni bertanya.

“Menjelang tarung, paman Gajah Watu memerintah kami untuk meloloskan diri apabila keadaan terdesak. Itu perintah, tak boleh ada yang membangkang. Begitu juga dari sesepuh Mahameru, Bragalba memerintah hal yang sama. Tampaknya mereka punya firasat akan mengalami kekalahan.” Tutur Gajah Lengar. “Dan rupanya diam-diam mereka bertiga sepakat menjadi tumbal untuk menyelamatkan kami beberapa orang murid dari Lemah Tulis dan juga Mahameru.”

“Malah pada kesempatan itu paman Gajah Watu seakan mengerti ajalnya sudah dekat, menceritakan aibnya, memaksa memerawani murid-ponakannya Walang Wulan, dia merasa bersalah pada bibi Wulan dan ketua Geni. Dia minta maaf.” Tutur Dyah Mekar.

Tiba-tiba saja Wisang Geni berdiri sambil berseru keras. “Minta maaf? Kakek bodoh itu minta maaf? Isteriku Wulan sudah dikubur, tetapi dia masih tega menceritakan aib isteriku kepada semua murid.”

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Wisang Geni sangat marah. “Seringkali Wulan menangis teringat pemerkosaan itu. Guru bejat itu memerkosanya berulang kali selama tiga bulan. Kami berdua menderita tapi kami maafkan. Semula hanya kita bertiga yang tahu rahasia ini, tetapi sekarang mulut Guru bejat yang kotor telah menyebar aib itu kesemua orang. Gajah Watu, kamu binatang melata, kamu tidak lebih baik moralmu dibanding penjahat yang memerkosa anaknya sendiri.”

“Tidak sepantasnya paman Gajah Watu membeber rahasia itu, kasihan ketua yang harus menanggung aib itu.” Dyah Mekar berkata lirih tetapi yang didengar semua temannya. “Meskipun itu pengakuan dan penyesalannya.”

Matahari sudah agak tinggi.Mereka duduk menikmati daging rusa panggang ditemani tuak yang masih tersisa.

Prastawana memberanikan diri memandang Wisang Geni. “Ketua, engkau guru dan ketua bagi kami semua. Aku menghormatimu, tetapi aku harus bicara meskipun kamu akan marah.”

Wisang Geni menatap tajam. “Kalau tahu aku akan marah, sebaiknya tak usah bicara. Kamu tahu kemarahanku sekarang ini sedang memuncak.”

“Sudah lama kupendam ini, aku harus bicara, ketua.” Prastawana juga menatap mata ketuanya. Dua mata laki-laki itu saling tatap.

“Bicaralah, aku mendengarkan.” Kata Wisang Geni.

Semua yang mendengar, berdebar jantung saking tegangnya. “Apa yang mau dikatakan, buat apa dia bicara kalau tahu ketua akan marah.” Daraka bergumam dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Aku bicara blak-blakan, tak ada yang kusembunyikan. Aku dan semua murid tahu persis ilmu-silatmu sangat tinggi, sekarang ini di tanah Jawa sulit mencari pendekar yang bisa menandingimu. Lemah Tulis hancur tak ada lagi di peta dunia kependekaran, tetapi dengan melewati banyak pertarungan hebat kamu telah mengibar panji-panji kejayaan perguruan. Sekarang ini Lemah Tulis disegani semua pendekar. Kamu hebat, itu sebab terpilih sebagai ketua. Kami bangga dipimpin ketua sehebat kamu. Meski kamu tak mau diakui sebagai guru, tetapi sesungguhnya kamu adalah ketua dan guru kami.” Tutur Prastawana.

Dyah Mekar yang tadinya tegang, khawatir suaminya mengucap kata-kata kasar yang membuat sang ketua marah, kini merasa tenteram. Begitu juga yang lain.

Prastawana tertawa lirih, suaranya agak sinis. “Tetapi kamu meninggalkan kami pada saat kebanggaan dan kecintaan kepadamu begitu tinggi, kamu lepas jabatan ketua. Lalu aku yang bodoh ini harus menerima hinaan, terpilih menjadi ketua. Kamu pikir murid-murid mengakui aku sebagai ketua? Jangankan mereka, aku sendiri tak pernah merasa sebagai ketua. Kamu memberiku benda panas, sementara kamu bebas melenggang, kamu tidak bertanggungjawab, kamu pengecut!”

Semua yang mendengar terkejut. Prastawana beraninya memaki sang ketua dengan ungkapan tajam “pengecut”. Mereka memandang paras Wisang Geni, khawatir amarah sang ketua.

Prastawana berhenti sesaat lalu dengan air mukanya yang merah padam, berkata. “Aku akan minggat ke tempat sunyi, tinggalkan isteri dan anak-anakku juga perguruan. Pikirmu hanya kamu yang bisa bawa maumu? Aku juga bisa bertindak semauku, aku tidak takut marahmu, jangan coba menggertak aku. Karena aku sudah bosan menjadi ketua yang bodoh, sekarang katakan, kamu mau jadi ketua lagi atau tetap jadi pengecut?”

Dia berhenti sedetik lalu berseru dengan nada tinggi. “Jawab aku, Wisang Geni!”

Semua terdiam. Was-was, khawatir reaksi marah sang ketua.

Wisang Geni diam. Kata-kata kasar Prastawana menusuk nuraninya. Selama ini belum ada murid Lemah Tulis, bahkan juga Padeksa, berani mengucap kata-kata kasar padanya. Dia memandang semua yang ada disitu.

“Baik. Aku ambil alih jabatan ketua! Sekarang juga kita berangkat ke Lemah Tulis. Akan kuselesaikan apa-apa yang sudah kumulai dahulu.” Sikap dan ucapan Wisang Geni diluar dugaan para murid. Tadinya khawatir sang ketua marah kini malah kagum bahwa Wisang Geni bisa menerima baik teguran Prastawana. Tak ada yang menduga sang ketua akan menyahut dengan ringan tanpa amarah. Seketika mereka berlutut memberi hormat. “Ketua, kami patuh dan setia padamu.”

Mereka memilih jalan melalui kawasan Timur menyusur pinggiran daerah kekuasaan kerajaan Tumapel. Perjalanan akan jauh lebih singkat dibanding jika melalui kuil Ngancar yang di kawasan Barat. Diperkirakan dalam waktu tiga hari akan tiba di Welirang.

Malam harinya mereka istirahat dan nginap di hutan. Esok paginya mereka singgah di desa Karangplosos yang merupakan pusat keramaian dan perdagangan kerajaan Tumapel.

“Siapa yang punya keping emas?” Wisang Geni bertanya. “Kita mampir di warung makan. Aku mau makan dan minum tuak.”

“Aku punya!” Seru Sawitri.

Mereka masuk desa.

Prastawana berkata lirih. “Ada orang yang mengikuti kita, ketua.”

“Mereka selalu curiga pada orang asing.” Sahut Sekar lalu menoleh ke suaminya. “Mas, sebaiknya kamu pakai baju, dada telanjangmu itu menarik perhatian orang.”

“Aku memang menantang orang, mau pamer lalawa mengepak sayap menembus awan.” Wisang Geni tertawa sombong. “Aku ingin menjajalnya dalam tarung.”

Sekar saling pandang dengan Atis. Enam murid merasa geli dalam hati akan tingkah laku ketuanya yang terkadang aneh dan sulit ditebak. Mereka tidak menaruh perhatian kata-kata dan tidak tahu apa itu lalawa mengepak sayap menembus awan.

Warung makan itu besar dan luas, paling banyak pengunjung. Tetapi hari masih pagi, warung baru dibuka. Karenanya belum ada tamu. Mereka duduk di meja besar. Begitu duduk, Wisang Geni berseru kepada pelayan. “Bawakan aku tuak.”

Sawitri menghampiri pemiliknya, sepasang suami isteri yang sibuk memerintah para pelayan.

Sawitri melempar senyum ramah. “Ibu, sediakan makanan dan tuak buat kami, dan nasi bungkus untuk bekal di jalan. Ini keping emas.” Dia menyodor satu keping emas ke tangan wanita tua itu.

“Aduh wongayu, satu keping emas terlalu banyak. Ibu tidak punya keping perak untuk kembalian,” dia tampak bingung sambil menimang-timang keping emas ditangannya.

“Ambil semuanya. Jangan lupa nasi bungkus untuk bekal kami.” Kata Sawitri.

Tidak berapa lama, warung mulai sibuk, Beberapa tamu masuk dan duduk.

Rombongan Wisang Geni menikmati santapan yang memang lezat.

Mereka selesai makan dan sedang menikmati tuak. Dua ponggawa menghampiri. Salah seorang berkata dengan angkuh. ”Kalian pendatang asing, dari mana dan mau kemana?”

Gajah Lengar menyahut datar. “Dari Selatan, mau ke Utara.”

Ponggawa tidak puas. “Jawab yang benar, mau kemana?” Suaranya keras membentak.

Tidak ingin suasana menjadi panas, Laras mendahului suaminya. “Ke Lemah Tulis.”

Ponggawa itu tertawa. “Rupanya wongayu ini lebih tahu tatakrama.”

“Mungkin tertarik parasmu yang ganteng, dimas.” Potong ponggawa temannya.

Paras Laras merah padam. Tersinggung dan marah akan komentar tidak sopan itu.

Ketika itu lima ponggawa lain masuk warung.

Saat bersamaan wanita tua pemilik warung datang membawa kantong besar berisi nasi bungkus. Dia serahkan kepada Sawitri. Dia berkata agak keras mungkin sengaja. “Nona ini nasi bungkusnya.” Lalu dia berbisik lirih. “Cepat pergi, ponggawa ini galak dan suka cari keributan, lebih baik kalian pergi.”

Sawitri berdiri sambil mengucap, “terimakasih”.

Prastawana mengajak semua temannya pergi. “Ayo kita pergi.”

Seorang ponggawa menghalangi, enam temannya berdiri disampingnya. “Kalian pasti mata-mata, katakan apa maksud mampir di karangplosos?”

Tujuh ponggawa menatap lima wanita itu. Matanya memancar sinar birahi. “Dua wanita disamping laki-laki rambut putih itu, cantik dan montok. Aku gemas melihatnya. Satu malam dengannya mau kubayar satu bulan gajiku.” Kata ponggawa yang tubuhnya gempal.

“Semuanya cantik dan montok, aku mau yang mana saja.” Ujar temannya.

Sekar kesal, tangannya meraih beberapa butir kacang dimeja. Dia berbisik, “kurangajar.” Sambil jari-jarinya menyentil.

Butiran kacang saling susul menghantam mulut si ponggawa. Dia berteriak kesakitan. “Akhhh..” Bibirnya pecah-pecah, sederet gigi depannya rontok. Mulutnya berdarah-darah.

“Mulutmu bau busuk, beraninya kamu mengganggu aku,” seru Sekar.

“Kepung. Mereka pemberontak, mau makar pada kerajaan.” Teriak ponggawa temannya.

Tamu-tamu serempak lari keluar warung. Pada saat yang sama tujuh ponggawa membawa busur dan panah masuk warung, berjajar menghadang di pintu keluar.

“Bunuh semua. Yang wanita biarkan hidup, mereka akan kita adili.” Teriak ponggawa yang mulutnya berdarah-darah.

Wisang Geni maju menghalangi, dia melihat tujuh pemanah jitu sudah siap dengan busur dan panah. “Hati-hati tujuh pemanah itu dari pasukan panah keraton,” bisiknya lirih tetapi bisa didengar Prastawana dan yang lain.

Daraka berkata lantang. “Kami dari Lemah Tulis, dalam perjalanan pulang ke perguruan, kami tidak mencari keributan, tolong beri kami jalan.”

“Tidak bisa begitu mudah. Pelacur itu sudah melukai temanku.” Seru ponggawa lainnya. Pada saat itu tujuh ponggawa lain masuk warung. Jumlah seluruhnya empatbelas ponggawa berseragam dan tujuh pemanah jitu.

Wisang Geni menyahut datar, suaranya dingin. “Dia isteriku, bukan pelacur.”

“Kataku dia pelacur, aku bayar berapa saja untuk satu malam.” Kata ponggawa itu.

Wisang Geni menyahut. “Dia isteriku, isteri Wisang Geni ketua Lemah Tulis. Mereka lainnya murid-murid Lemah Tulis, mereka bukan seperti yang kamu bayangkan.”

“Kamu tahu apa yang kubayangkan, meniduri mereka semalaman.” Kata ponggawa itu. Dia dan teman-temannya tertawa. Mereka senang bisa menggoda wanita cantik apalagi seksi seperti rombongan Wisang Geni.

“Kamu kurang ajar, lancang, mulutmu busuk.” Seru Sawitri.

Wisang Geni menengahi. “Sudahlah lupakan semua omongan ini, kami mau pergi.”

“Kamu mengaku Wisang Geni. Apa hebatnya penjahat cabul itu? Kerjanya memerkosa gadis. Dia menguasai ilmu sesat. Dia mati dibunuh gundiknya. Itu akibat nafsu bejatnya.”

Wisang Geni benar-benar marah, meraih kacang dimeja dan menyentil. Ponggawa coba mengelak, menutup wajahnya dengan tangan. Tetapi kacang melesat dan memburu mulut si ponggawa. Kontan bibir, pipi dan beberapa giginya rontok. Dahi dan pipinya berlumur darah.

Satu ponggawa bergerak menyerang.

Wisang Geni melonjor tangan kedepan. Angin pukulan dingin menerjang. Ponggawa itu terpental, jatuh terduduk dilantai, saat berikut menggigil kedinginan. Tubuhnya gemetaran. Giginya saling beradu. “Dingin… dingin…”

Melihat peragaan ilmu-silat yang begitu tinggi seharusnya para ponggawa mundur teratur. Tetapi mereka tidak tahu diri, bukannya mundur, malah maju sambil mencabut senjata. “Serang!” Teriak ponggawa Tumapel.

Para murid bangkit amarahnya, bergerak serentak. Terjadi pertarungan tidak beraturan. Prastawana dan tujuh temannya mengamuk, sedangkan Wisang Geni duduk diam seakan tidak melihat yang terjadi disekitarnya.

Tarung berlangsung singkat, hanya beberapa jurus bentrok, empatbelas ponggawa menggeletak di tanah, mengerang dan mengaduh kesakitan. Ada yang tangannya patah, kaki patah, gigi rontok. Tapi tak seorang pun yang mati. Tampaknya para murid Lemah Tulis tidak ingin membunuh.

Saat itu Wisang Geni melihat tujuh pemanah menarik busur. Dia berseru. “Awas panah!” Sambil dia membalik meja, kakinya mendorong meja menghadap sergapan anak panah.

Apa yang dipikirkan Wisang Geni juga dilakukan Prastawana, dua meja jadi tameng.

Wisang Geni melompat dari balik meja. Dua tangannya mengembang ke kiri kanan, lalu digerakkan kedepan mengarah tujuh pemanah. Salah satu gerakan “lalawa mengepak sayap menembus awan”. Tubuh para ponggawa yang menggeletak ditanah terangkat memapak terjangan anak panah gelombang kedua yang dilepas tujuh pemanah itu.

Wisang Geni melayang terus. Menggebrak dengan sebat, melancarkan pukulan dingin. Tujuh pemanah roboh di tanah. “Kamu membunuh temanmu dengan panah sendiri, betapa bodohnya! Kalian bertujuh bertanggungjawab dan siap diadili majikanmu Sang Pamegat.” Dia menyeret tujuh pemanah yang menggigil kedinginan, melempar mereka bertumpuk dengan empatbelas ponggawa temannya yang menggeletak ditanah mengerang kesakitan.

Para penonton diluar warung bertepuk tangan, mengagumi sepak terjang Wisang Geni.

Saat itu dua bayangan putih bergerak pesat, tiba-tiba saja muncul didalam warung. Sebat dan ringan petanda ilmu ringan-tubuhnya mumpuni.

Seketika Wisang Geni tahu dua kakek itu dari kalangan kelas utama. Pikirannya teringat kabar adanya sembilan kakek jubah putih yang menjadi pengawal utama istana dan keraton yang konon ilmu-silatnya sangat tinggi. “Apakah keduanya dari sembilan sesepuh itu?”

“Siapa kalian berani temberang di lingkungan kerajaan, kalian cari mampus?” Matanya tajam meneliti tubuh yang bergelimpang didekat Wisang Geni. “Kalian telah membunuh ponggawa kerajaan.” Serunya berang.

“Keliru. Mereka dibunuh, dipanah oleh tujuh pemanah ini.”

Dua kakek jubah putih terdiam.

“Mereka berdua anggota dari sembilan sepuh jubah putih pengawal istana dan keraton, ilmu-silatnya tinggi, tanganku gatal ingin tarung.” Bisik Wisang Geni kepada pengikutnya, bisikan lirih namun bisa didengar Prastawana dan kawan-kawannya.

Semua terkejut mendengar niat sang ketua.

Sekar berkata. “Para ponggawa ini keterlaluan, menyebut aku pelacur, ponggawa keraton ternyata ulah kelakuannya tidak bermoral.”

“Apakah memang kamu pelacur?” Tanya kakek yang berjenggot.

Sekar terdiam. “Kakek ini kurangajar.” Gumamnya dalam hati.

Tetapi Atis dengan tangkas menyahut. “Kakek rupanya suka melacur, tapi sayang kami ini wanita terhormat, silahkan cari pelacur ditempat lain.” Lalu Atis tertawa geli melihat perubahan paras si kakek. “Dasar kakek pelacur!” Atis melanjutkan.

Wajah si kakek yang agak hitam semakin gelap saking marahnya.

Prastawana yang ingin menghindar dari pertikaian, mengingat tarung dikawasan kerajaan sangat membahayakan keselamatan mereka. Dia memberi hormat. “Kami dari perguruan Lemah Tulis, ini ketua kami Wisang Geni, dan ini isterinya.” Dia menunjuk Wisang Geni, Sekar dan Atis. “Kami dalam perjalanan pulang ke Lemah Tulis, mampir makan di warung ini, tak ada maksud mencari ribut atau berbuat onar.”

To be Continued 26 July/Published No 33

Wisang Geni part Two Bab 11

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Sebelas

Perampokan

Sore hari menjelang malam dilereng bukit Gunduk dibagian paling tinggi dari perumahan desa Bangu, di aula yang cukup luas, empat pendekar utama duduk sila, menanti dengan wajah tegang. Tak lama kemudian Linggapati muncul dari bilik pribadi. Dia mengenakan pakaian pendekar, serba hitam, celana longgar sebatas betis dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka, tidak dikancing. Gagang keris mencuat dibalik pundak, ikat pinggang lebar menjepit pinggangnya yang ramping. Dia bertubuh sedang, ramping, agak jangkung. Parasnya tampak dingin dan bengis namun tidak mengurangi ketampanannya.

Dia melangkah sambil tangannya memegang tangan isterinya.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Saat itu Dedes Ayu tidak berhias sebagaimana biasanya, namun tetap saja parasnya yang cantik jelita membias bagai putri-putri keraton. Dia mengenakan busana pendekar, celana sebatas lutut warna hijau tua memperlihatkan betisnya yang kuning sawo memadi bunting.

Potongan tubuhnya yang ramping padat semakin menggoda dengan busana kebaya ketat yang pendek menggantung sebatas perutnya, memperlihatkan kulit perut dan pusar yang putih mengilat. Sepasang bukit kembarnya menonjol seakan ingin memberontak dari ketatnya kebaya warna hitam.

Tiga lelaki diruangan itu, Pulosari, Sangkapura dan Samba merunduk tidak berani menatap kecantikan wanita itu. Khawatir pandangan yang menyirat birahi akan tertangkap mata tajam Linggapati.

Seperti biasa Linggapati duduk di kursi besar, satu-satunya kursi diruangan itu. Empat penasehat duduk dilantai. Dedes Ayu, penasehat utama, duduk sila dilantai yang dialas bantal warna kuning emas disisi kursi suaminya, satu tangannya bertumpu diatas paha suaminya.

Suasana hening. Empat penasehat memandang sang pemimpin.

Air muka Linggapati tampak muram. Dia menoleh kepada isterinya, memberi tanda untuk memulai pertemuan.

Dedes Ayu mengawali pembicaraan langsung kepada materi inti.

“Ada masalah penting. Markas kita kekurangan pangan. Untuk mencukupi makan bagi semua anggota pasukan diperlukan keping emas sebagai alat beli. Kita kehabisan keping emas. Gudang beras pun sudah menipis persediaannya. Apa pendapat para penasehat?”

“Kita merampok lagi!” Kata Sangkapura tanpa basa basi. Pendekar dari Tanjung Anyar ini terkenal temperamen dan suka ceplas-ceplos tak punya tatakrama.

Dedes Ayu tersenyum. “Kangmas Sangkapura, itu namanya pinjaman paksa, bukan merampok karena kita bukan perampok.”

Sangkapura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Iya kita ambil paksa milik Tumapel, pajak bulanan dari pelabuhan Jedung ke keraton kita sergap ditengah jalan.”

Dedes Ayu menoleh kepada suaminya. Linggapati tersenyum. Dedes Ayu membalas senyum, lalu menoleh ke para penasehat. “Kita harus cerdik, tidak boleh memperlihatkan diri. Artinya, kita yang berbuat, tetapi direkayasa sedemikian rupa sehingga keraton memastikan sebagai perbuatan kelompok Brantas.” Suara merdunya terdengar bagai desis ular berbisa.

Wongayu Permaisuri kamu lupa bahwa pajak keraton itu dikawal ponggawa dan prajurit Tumapel serta puluhan anakbuah Brantas. Kita bisa membunuh mereka semua dalam sekejap tetapi bagaimana merekayasa Brantas sebagai kambing hitam?” Ujar Sangkapura.

“Mudah, mayat orang Brantas kita buang ke kali biar hanyut atau dimakan buaya. Jadi ditempat kejadian hanya ada mayat orang keraton. Nah tentu saja Tumapel akan memastikan itulah perbuatan Brantas.” Tutur Dedes Ayu.

Semua merasa kagum akan siasat itu.

“Siasat permaisuri sangat terpuji. Memang pantas permaisuri mengepalai kami dan mendampingi paduka Linggapati.” Senopati Samba memuji dan menjilat.

Linggapati senang. Begitu juga Dedes Ayu senang akan pujian itu.

Tangan Linggapati mengelus kepala isterinya, suatu pujian dan bentuk kasih sayang yang diperlihatkan didepan umum. Keruan saja Dedes Ayu makin bersemangat.

“Kemarin dalam perjalanan merantau, kami mampir di pelabuhan Jedung. Aku tahu jalur perjalanan pengawal yang membawa keping emas ke Tumapel. Mereka ke Selatan lewat hutan Karangan, terus melalui kali Welang naik perahu menuju Singosari. Kita sergap mereka di hutan Karangan.” Tutur Dedes Ayu.

“Itu pemikiran cerdas, aku mendukung rencana itu.” Tukas Pulosari.

“Iyah, rencana yang cemerlang.” Tukas Linggapati.

Dedes Ayu mengerling dan tersenyum menggoda. Dia merasa semakin dekat dengan mimpinya, akan menjadi permaisuri dari Raja yang dipertuan ditanah Jawa. Selama ini dia telah memasang jerat-jerat cinta yang mulai membelenggu laki-laki itu dalam pelukannya, menanamkan ketergantungan Linggapati pada dirinya. Sehingga jika tiba saatnya maka kursi permaisuri hanya bisa diduduki olehnya, dan tidak ada wanita lain sebagai saingan.

Sambil tetap menoleh memandang suaminya dia menutur rencananya. Dari mulutnya yang indah memikat meluncur kata-kata yang fasih dan rendah hati namun didalamnya tersirat kepercayaan diri akan kemampuan dan kecerdasannya.

Dedes Ayu melanjutkan. “Menyergap rombongan pembawa harta benda keraton sangat penting. Hamba usul misi ini dipimpin Samba, Hanggada dan Korowelang dengan pasukan rodra yang inti. Ketiganya punya andil kesalahan dalam memimpin anak buahnya sehingga kejadian Kandangan merugikan kita. Saatnya nanti Paduka Baginda sendiri yang menitah dengan ancaman, tidak boleh gagal. Jika gagal, hukumannya terserah paduka Baginda.”

Mendengar ancaman hukuman empat penasehat terutama senopati Samba merinding bulu kuduknya, merasa ngeri.

Linggapati tampak tak berdaya menghadapi isterinya. Dia menyetujui apapun usulan yang keluar dari mulut yang dihiasi sepasang bibir tebal basah dan sederet gigi putih bersih. ”Apalagi yang ada dalam pemikiranmu?” Tanya Linggapati makin bersemangat.

“Kepala desa Karambang juga penguasa Jedung, wanita bernama Setiati. Dia tidak punya kepandaian silat, disekelilingnya tak ada pendekar yang mumpuni. Jadi misi ini tidak sulit, pasti bisa mendapat beras dan keping emas.” Tutur Dedes Ayu. “Siapa yang memimpin misi ini Baginda lebih tahu.”

“Bagaimana pendapat para penasehat?” Linggapati menantang para penasehatnya.

Tetapi tak seorang pun berani mengajukan rencana. Bersaing dengan Dedes Ayu sama bahaya seperti menyodor kepala sendiri kedalam mulut buaya yang menganga. Hasilnya mati. Para penasehat itu lebih memilih diam.

Linggapati memandang tajam empat penasehatnya. “Misi penyergapan di hutan Karangan harus benar-benar diperkuat. Ini misi paling penting karena beras dan keping emas sudah jelas-jelas ada didepan mata.” Dia menoleh memandang Samba. “Dimas Samba yang memimpin misi ini. Aku ingin tahu jumlah orang dan kondisi mental pasukan rodra?”

Sangat berhati-hati Samba menjelaskan. “Untuk misi hutan Karangan, hamba usul duapuluhlima pemanah. Misi ke Karambang, limabelas orang. Selain itu beberapa pendekar dari gugus dua akan ikut serta.”

Linggapati merenung sesaat. “Aku putuskan kamu dan Hanggada membawa empatpuluh pemanah yang paling handal. Ini misi yang paling penting, pasukan kita harus kuat. Dan untuk misi ke Jedung akan dipimpin penasehat Pulosari dibantu Sangkapura dan Kajoran dengan membawa serta limabelas anggota rodra. Sisanya berjaga-jaga disini. Bagaimana pendapat kalian penasehat?”

“Keputusan paduka Baginda sangat bijaksana dan terang benderang kebenarannya.” Pulosari menyahut dengan suara rendah.

“Tidak boleh ada kesalahan. Kesalahan dihukum, keberhasilan akan memperoleh imbalan jasa. Semua misi itu harus berhasil. Camkan pesanku pada semua prajurit. Hari penyerbuan ke istana Tumapel semakin dekat, kita harus benar-benar siap sebagai pasukan yang sangat kuat.” Suara Linggapati lirih tapi kata-katanya jelas.

Pulosari bersama Sangkapura dan Dewi Kajoran duduk berhadapan dengan Setiati yang dikawani empat wakilnya. Mawar juru tulis desa serta tiga pengawal Melati, Seruni dan Jatisewu. Empat pendekar itu berdiri disamping kepala desa.

Setelah pembicaraan berputar-putar Pulosari lalu menyampaikan maksud sebenarnya, memaksa Setiati meminjamkan sepuluh kuintal beras dan lima ribu keping emas.

Setiati terkejut sesaat, sadar sedang berhadapan dengan gerombolan perampok. Samar-samar dia melihat bayangan orang di pekarangan. “Banyak orang. Mata dua orang ini tajam, parasnya bengis. Aku harus hati-hati.”

Berpikir demikian dia menyahut dengan suara yang dibuat-buat agar tidak tampak rasa takutnya. “Maaf beras dan keping emas itu milik keraton, sebagian lain milik penduduk Karambang. Selama ini tidak pernah dipinjamkan. Lagipula beras dan keping emas kami tidak sebanyak yang tuan perkirakan.”

Pulosari tersenyum sinis berkata dengan suara dingin. “Aku tidak mau membuang banyak waktu, kalau kamu tidak bersedia memberi dengan baik-baik, kami akan mengambil paksa, dan sayang sekali akan jatuh banyak korban jiwa.”

Sebelum Setiati menjawab, Jatisewu wakilnya memotong. “Siapa sebenarnya tuan, dari kelompok mana? Mengapa mau mengambil paksa barang milik penduduk desa kami?”

Pulosari mengancam. “Aku membawa pasukan. Akan banyak korban dipihakmu.” Dia menatap tajam Setiati. “Cepat katakan jawabmu!”

Setiati ragu-ragu.

Jatisewu menyahut. “Kurangajar berani berlaku sombong dirumah orang!”

Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran serentak bergerak, pesat.

Pulosari dan Sangkapura menyerang Jatisewu, jurusnya ganas dan mematikan. Rupanya dua penasehat ini tak mau kehilangan banyak waktu.

Serangan Dewi Kajoran mengarah Setiati. Tidak ganas karena tujuannya mencengkeram dan menawan si kepala desa.

Serentak terjadi tarung.

Jatisewu cepat menghunus pedang, memutar dan menghantam kepala Pulosari, sambil dia bergerak kesamping menolong Setiati.

Saat itu Dewi Kajoran sedang tarung dikeroyok tiga pendekar wanita wakil Setiati.

Setelah bertarung sepuluh jurus, Pulosari meninggalkan Jatisewu sambil mengajak Dewi Kajoran dan Sangkapura mundur. “Tarung diluar!” Teriaknya.

Melihat tiga orang itu melompat keluar ke pekarangan Jatisewu curiga. Tadinya dia sudah melihat belasan orang yang menggenggam busur dan panah. Mendadak terdengar kesiur angin bagai desis ular. Belasan panah menerobos masuk ruangan dengan kecepatan tinggi.

Jatisewu berseru. “Awas panah!” Sambil dia menendang meja besar yang terbalik dengan penampang menghadap arah luar. Setiati dan para wakilnya yang sempat berlindung dibalik meja, selamat. Panah-panah itu mendatangkan suara ribut ketika menerpa meja kayu jati yang tebal itu. Jatisewu yang tidak sempat berlindung, kalangkabut menangkis panah dengan pedangnya.

Tiga ponggawa yang berjaga-jaga di ruangan mati dihunjam panah. Mawar dan Melati sempat berlindung. Tetapi Seruni dan Jatisewu terlambat bergerak sebab serangan panah yang begitu mendadak. Keduanya terkena panah, luka tapi tidak parah.

Tidak berlama-lama Setiati berseru kepada Jatisewu. “Mas Jati kita menyerah saja, sebelum banyak korban jiwa.”

Jatisewu menoleh. “Mengapa menyerah?”

“Kita menyerah, lakukan Mas. Aku punya akal.” Setiati berseru.

Sadar majikannya pasti punya rencana yang cerdas, Jatisewu berseru lantang. “Hentikan panah. Kami menyerah, kalian boleh ambil beras dan keping emas digudang.”

“Bagus, kalian tahu gelagat. Ayo mana orangmu, buka pintu gudang!” Teriak Pulosari.

Ketika Mawar hendak berdiri, Setiati mencegah dengan menahan tangannya. “Kamu tetap disini, biar ponggawa lain yang membuka, kamu serahkan kuncinya.”

Mawar melempar kuncinya kepada seorang ponggawa yang lantas dengan ketakutan membawanya ke Pulosari.

Pada saat itu Setiati mengambil alat tulis, menulis diatas kulit tipis. “Kami dirampok, beras dan keping emas dikuras dari gudang desa Karambang, perampok sedang memuat beras dikereta kuda, cepat tolong kami.”

Pulosari dan beberapa anak buahnya mengawasi para pegawai desa mengangkut beras dan memuatnya ke kereta kuda, sebagian lain mengawasi pintu rumah kepala desa.

Setiati bersama Mawar berindap-indap keluar lewat pintu belakang. Setiati sambil bersiul lirih mengambil sangkar burung, mengeluarkan burung elang. Mawar menyodor sekerat daging ke paruh elang. Setiati mengikat bundel kecil kulit tipis itu dikaki elang dan melepas burung itu terbang ke angkasa.

Adipati Gajah Pringgon sedang melahap makan siangnya, didampingi tiga isterinya ketika seekor elang berputar-putar diatas wuwungan rumah. Suara elang itu dikenal Gajah Pringgon yang lantas bersiul. Saat berikut elang menerobos masuk rumah, dan hinggap di tangan majikannya.

Laki-laki itu membuka ikatan kulit tipis dikaki elang. Dia mengambil beberapa potong daging meletakkan dimeja dekat si elang yang lantas melahap. Dia mengelus kepala elang yang lantas terbang balik ke rumah Setiati.

“Ambil alat tulis.” Serunya.

Salah seorang isterinya, yang paling muda usia bergerak cepat mengambil selembar kulit tipis dan alat tulis. Gajah Pringgon menulis dengan wajah bengis.

“Cakil, bawa tigapuluh pemanah ke Karambang, bunuh orang-orang yang sekarang ini sedang merampok gudang beras desa.”

Belum selesai dia menulis, isteri utamanya membawa sangkar burung. Gajah Pringgon bersiul, mengeluarkan elang. Dia mengikat surat dikaki elang, memberinya sekerat daging besar. Elang menikmati daging mentah itu, saat berikut Gajah Pringgon menyuruhnya terbang. Elang itu melesat ke angkasa membawa kabar penting.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Selesai itu dia berseru memanggil pengawalnya. Lima ponggawa bertubuh besar berdiri dalam keadaan siaga. ”Kumpulkan tigapuluh pemanah, duapuluh petarung, kita berangkat sekarang juga.” Dia berdiri dari kursi, isterinya sudah mempersiapkan kerisnya. Isteri lainnya sibuk mengenakan busana kerajaan kepada sang suami.

Ketika Gajah Pringgon memijak kakinya di pekarangan, pasukannya sudah siap diatas kuda masing-masing. Laki-laki ini yang memiliki kepandaian silat sangat tinggi melompat ke atas kudanya. “Gerombolan mana berani merampok milik Tumapel?” Suaranya terdengar dingin, wajahnya bengis. Kumisnya yang tebal seakan berdiri saking marahnya.

Dia berseru kepada pasukannya. “Berangkat, ke Karambang.”

Mereka memaksa kuda berlari cepat ke batas hutan yang terpisah sekitar lima kilo dari markasnya yang letaknya tidak jauh di Utara pelabuhan.

Keamanan pelabuhan Jedung mengalami perubahan besar setelah kejadian dua pemanah perguruan Brantas yang berupaya membunuh Setiati dalam pemilihan kepala desa. Hal ini membuat Gajah Pringgon marah. Dia memecat perguruan Brantas, mencabut haknya sebagai pengawal keamanan pelabuhan. Sebagai ganti, dia menugas limapuluh orang yang menyamar dibawah pimpinan Cakil dan wakilnya Sasro. Mereka pasukan khusus Tumapel, pemanah jitu dan petarung handal.

Begitu menerima perintah tertulis yang dibawa elang, Cakil dan Sasro segera mengumpul anggota pasukan. Hanya dalam sekejap tigapuluh orang siap diatas punggung kuda. Mereka memacu kuda menuju hutan diluar desa Karambang, enam kilo dari pelabuhan.

Cakil berkata kepada wakil dan pasukannya, “kita tunggu para perampok di batas hutan.”

Sepenanakan nasi berlalu mereka tiba di batas hutan yang rimbun dipadati pohon-pohon kayu yang sebesar pelukan manusia. Mereka memisah diri mencari tempat sembunyi yang strategis. Lima orang menyebar dan memanjat pohon, mengintai dari atas.

Selang beberapa saat pasukan Gajah Pringgon tiba dan segera bergabung. Adipati itu mengambil alih pimpinan, mengatur strategi dan persiapan. Semuanya dilakukan serba cepat, semua anggota pasukan berpengalaman tarung dan perang. Tak lama setelah persiapan rampung, pengintai diatas pohon memberi aba-aba musuh mendekat.

Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran, lima muridnya dan limabelas anggota rodra telah menyelesaikan misinya dengan hasil memuaskan. Mereka melecut kuda dengan perasaan gembira. “Tidak dinyana hanya dengan satu gebrakan mendapatkan hasil malah melebihi target.” Kata Sangkapura. “Beras sepuluh kuintal, keping emas dua peti, keping perak dua peti. Ini hasil besar.”

Tidak berapa lama meninggalkan desa Karambang mereka memasuki hutan. Pulosari mengangkat tangannya pertanda semua berhenti. Dia memerintah tiga murid Dewi Kajoran maju kedepan memeriksa. Tiga wanita ini berkuda jauh kedalam hutan sambil mengamati sekeliling. Tak lama kemudian mereka balik ke pasukan. “Tak ada yang mencurigakan. Hutan sepi.” Kata salah seorang diantaranya.

Pulosari memberi tanda. Rombongan masuk hutan. Hari masih siang meskipun matahari mulai menggeser ke Barat. Sinar matahari menerangi kerimbunan hutan. Makin masuk kedalam hutan, kecurigaan dan kewaspadaan makin berkurang.

Itu memang strategi Gajah Pringgon. “Membiarkan musuh merasa nyaman, saat itulah kita menyerang,” katanya kepada Cakil.

Dan saat yang dinantikan pasukan Tumapel akhirnya tiba. Gajah Pringgon memberi tanda kepada Cakil yang lantas menyuarakan siul seperti kicau burung. Saat berikut ratusan anak panah melayang bagaikan hujan mengarah rombongan Pulosari. Panah tak pernah berhenti. Seorang pemanah sanggup melepas dua atau tiga panah sekaligus, saat berikut menarik busur lagi dan melepas panah susulan.

Pulosari dan kawan-kawannya terkejut bukan alang kepalang. Tetapi semuanya terlambat.

Dia bersama Sangkapura, Dewi Kajoran sibuk menangkis dan menghindar. Lima murid Dewi Kajoran sibuk menangkis. Lima belas pemanah Rodra tersungkur, bahkan kuda-kuda kereta ikut roboh tertancap panah.

Serangan dadakan itu luar biasa mengerikan, saat dimana rombongan Pulosari merasa nyaman telah menyelesaikan misi dengan sukses. Mereka tidak menyangka akan diserang. Para pemanah khusus pasukan Tumapel sangat mumpuni, tenaga besar membuat anak panah melayang dengan kecepatan tinggi dan jitu, tidak heran rombongan Pulosari berantakan.

Semua anggota Rodra mati. Tiga adik perguruan Dewi Kajoran mati, dua lainnya luka. Dewi Kajoran dan Sangkapura terluka, panah tertancap dibahu. Hanya Pulosari seorang yang mampu menyelamatkan diri dengan memutar kerisnya menangkis panah..

Melihat kerusakan yang begitu hebat, terutama semua kuda penarik kereta mati, Pulosari tak punya pilihan selain lari. Satu detik lebih lama berada didaerah terbuka itu dimana musuh tidak terlihat akibatnya mati. Dia tidak tahu berapa banyak musuh, namun dari banyaknya anak panah yang menghujani rombongannya, dia perkirakan jumlahnya banyak. Maka dia pun berseru, “lari, lari…!!!”

Pasukan Tumapel tak mau melepas musuhnya begitu saja. Mereka menghujani panah. Dua adik Dewi Kajoran jatuh dari kuda, tewas. Pulosari dan dua temannya berhasil lolos tetapi dipunggung masing-masing tertancap panah.

Adipati Gajah Pringgon memimpin pasukannya kembali ke Karambang sambil membawa kereta berisikan beras dan kepingan emas.

Setiati dan penduduk desa menyambut kedatangan pasukan Tumapel. Pujian dan ucapan terimakasih mengalir dari para penduduk desa. Gajah Pringgon masuk ke ruang kerja Setiati, menulis laporan diatas kulit tipis. Dia kemudian bersiul memanggil elangnya yang khusus komunikasi dengan Sang Pamegat. Mengirim elang ke pimpinannya, Sang Pamegat.

Siang itu awan mendung menghalangi sinar matahari, menyebabkan hutan Karangan yang rimbun dan padat pepohonan tampak agak gelap. Meskipun demikian tak menghalangi pandangan serombongan orang yang melintas.

Tampak lima kereta yang masing-masing ditarik dua ekor kuda melaju pelan diiringi puluhan pengawal berkuda. Mereka semuanya bersenjata. Duapuluh murid Brantas dan tigapuluh prajurit Tumapel mengawal kereta yang bermuatan beras dan keping emas dari pelabuhan Jedung menuju keraton.

Rombongan sudah tiga hari perjalanan ketika tiba di hutan Karangan. “Dua hari lagi kita masuk kawasan Karangplosos, sebaiknya berhati-hati,”kata Cakar Macan, salah seorang ponggawa Tumapel yang dipercaya sebagai penunjuk jalan. Dia memiliki ilmu-silat tinggi dan pengalaman luas, sudah berkali-kali menjadi pemandu jalan bagi rombongan kerajaan, menguasai seluk beluk hutan-hutan dibelahan timur tanah Jawa.

Tiga purnama lalu rombongan keraton dirampok ditengah hutan, hal ini memancing istana Tumapel mengutus empat dari delapan belas pendekar Tumapel untuk ikut mengawal. Mereka adalah Walu sebagai pemimpin didampingi Molas sebagai wakilnya. Dua lainnya pendekar wanita, Ekadasa dan Trayodasa. Untuk tidak mencurigakan, hanya Walu dan Molas yang berpakaian seragam keraton seperti para prajurit. Sedangkan dua pendekar wanita berpakaian rakyat jelata bercampur dengan anggota Brantas.

Memasuki tengah hutan, Walu mengangkat tangan, petanda rombongan berhenti sejenak. Dia menoleh dan berseru. “Waspada dan berpencar, tapi jangan jauh-jauh, tetap berada disekitar kereta.”

Rombongan memecah diri, berpencar tetapi tidak jauh dari kereta kuda.

Pada saat itu ditengah hutan, agak jauh sekitar satu kilo dari rombongan Tumapel, empatpuluh pemanah dari pasukan Rodra dipimpin Samba bersiap dengan panah. Mereka menyebar dibalik rerumpun semak dan pohon-pohon, sebagian besar sembunyi diatas pohon. Dua pemimpinnya, Korowelang dan Hanggada mengintai dari atas pohon. Jika Hanggada melambaikan tangan, artinya semua pemanah siap menyerang.

Tanda akan diteruskan secara estafet sehingga menyebar. Berikutnya Hanggada akan memberi tanda dengan siulan yang mirip kicau burung. Begitu mendengar siulan semua pemanah melepas anak panah, masing-masing dengan sasaran terdekat.

Ketika jarak semakin dekat, sekitar limaratusan meter, Walu memandang keliling. Nalurinya bekerja. Dia merasa seakan diintai dan diancam bahaya, tetapi melihat Cakar Macan dan empat prajurit tidak memperlihatkan tanda curiga dan terus melangkah maju, kecurigaan Walu pun lenyap. Cakar Macan dan empat prajurit memang berada diposisi paling depan, terpisah dua puluhan meter sebagai pemandu rombongan.

“Ah aku hanya kelewat khawatir.” Bisik Walu.

“Tak ada apa-apa. Suasana biasa-biasa saja, di hutan memang sepi.” Molas menyahut.

“Dua adik kita dimana posisinya?” Walu bertanya.

“Keduanya dibelakang kereta yang terakhir.”

“Bagus begitu.” Kata Walu.

Rombongan tiba ditengah hutan, ketika terdengar siulan yang mirip kicau burung. Detik itu juga indera Walu menangkap suara berdesis, macam bunyi lebah. Dia berseru, “Awas!” Sambil dia melompat dari punggung kuda, mencabut keris dan menggerakkan mengitari tubuhnya. Molas juga bergerak sama pesat, melompat dari punggung kuda.

Tetapi peringatannya terlambat, desis macam bunyi lebah timbul dari ratusan anak panah yang melayang deras ke arah rombongan Tumapel. Seketika itu terdengar keributan, ringkik kuda dan teriak kesakitan manusia yang kena panah. Tidak hanya manusia tetapi kuda juga tidak luput dari terjangan anak panah yang melayang bagaikan hujan. Kuda penarik kereta mati tersungkur. Saisnya mati dengan beberapa anak panah menembus dada dan lehernya.

Hanya dalam beberapa detik saja hampir seluruh pengawal kereta berguguran baik pengawal dari Tumapel maupun yang dari Brantas.

Molas dan Walu sempat menangkis terjangan anak panah, namun beberapa diantaranya lolos dan nancap ditubuhnya. Dua anak panah mengena dada dan pundak Walu. Satu lainnya mengena pundak Molas. Tetapi keduanya sempat berlindung dibalik kereta yang paling belakang bergabung dengan Ekadasa dan Trayodasa.

“Kita kalah jumlah, semua pengawal mati, hanya kita berempat yang selamat.” Kata Walu. “Kalian bertiga mundur dan sembunyi. Kalian harus selamat dan sampaikan kabar ini ke istana. Cepat laksanakan!”

Molas menoleh kepada dua rekan wanitanya. “Kalian berdua pergi. Aku temani kangmas Walu. Cepat pergi!”

Sebelum Ekadasa membantah, Molas berseru. “Cepat pergi, jangan terlambat. Cepat!”

Hujan panah masih berseliweran disekitar kereta, namun tidak menjangkau kereta yang paling belakang.

Walu berseru. “Cepat pergi, Eka dan Trayo! Ini perintah, melanggar perintah artinya membangkang perintah Raja.”

“Trayo, kita merayap cepat ke arah sungai!” Ekadasa menarik tangan temannya.

Dua pendekar wanita itu merayap bagaikan ular. Selain karena pakaiannya hitam-hitam mereka tertolong gelapnya hutan. Dalam sekejap mereka tiba ditepian kali Welang. “Kita menyeberang dan sembunyi ditepian sana!” Bisik Ekadasa yang lebih senior dari temannya.

“Mbak kamu bantu aku.” Trayodasa berbisik sambil menggenggam tangan Ekadasa.

Ekadasa senyum. “Baik. Ayo jalan!”

Mereka berdua berlari diatas permukaan air menyeberang sungai. Ekadasa menggenggam tangan temannya yang kurang mahir ringan-tubuhnya. Namun dia tak perlu menggendong, hanya menuntun dan menarik. Begitu menginjak kaki di seberang sungai, keduanya mencari pohon rindang yang terdekat dengan tepian sungai.

Dari atas pohon keduanya mengintip. Suasana yang agak gelap di hutan menghalangi pemandangan. Mata mereka tak bisa menemukan dua temannya, Molas dan Walu begitu juga para pengawal Tumapel dan Brantas.

“Kita tunggu sampai menjelang malam, mungkin para perampok sudah melarikan barang bawaan kita.” Bisik Ekadasa.

“Sssssttt lihat Mbak.” Bisik Trayodasa.

Tampak beberapa orang menyeret mayat-mayat dan melempar ke sungai. Buaya-buaya yang kelaparan menerkam mayat-mayat, menimbulkan kecipak air dan buih yang meriah.

“Kamu hitung mayat yang dibuang?” Ekadasa bertanya.

“Tidak Mbak, aku tidak menghitung, lupa.” Kata Trayodasa.

“Aku juga.”

Mereka menunggu agak lama setelah mayat terakhir dilempar ke sungai.

Ekadasa memegang tangan temannya. “Kita harus membuntuti para perampok, dari jauh. Kita harus tahu siapa mereka dan dibawa kemana barang rampasan itu.”

Suara Trayodasa terdengar bergetar. Dia agak takut. “Sekarang mbak? Apakah disana sudah aman? Tidak ada lagi musuh?”

“Mengapa nyalimu jadi ciut?”

“Musuh tidak tampak lebih sulit dihadapi ketimbang yang kelihatan. Tapi aku tidak takut asalkan bersama-sama kamu.” Trayodasa berbisik.

Dua pendekar Tumapel menyeberang sungai dengan mudah. Buaya-buaya sudah berada didasar sungai menyeret mayat-mayat, sebagian yang tidak kebagian masih berenang di permukaan mencari-cari mangsa. Mereka inilah jadi batu loncatan dua pendekar wanita menyeberang sungai.

Mendung sudah bergerak menjauh, matahari belum tenggelam. Sinar matahari senja masih menerangi hutan yang tadinya gelap. Ekadasa dan Trayodasa mengindap-indap, meneliti satu per satu mayat yang bergelimpangan ditanah rerumputan yang masih merah bekas darah.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Suasana hening, sepi. Tak ada orang.

“Ini kangmas Molas,” bisik Trayodasa.

“Ini mas Walu,” bisik Ekadasa.

“Apakah kita kubur sekarang?” Tanya Trayodasa yang menahan tangis.

“Kita ketinggalan jejak perampok, mana yang lebih penting?” Suara Ekadasa agak serak menahan kesedihan.

“Kita masih bisa memeriksa jejak kereta.”

“Bagaimana kalau mereka menghapus jejak kereta?” Ekadasa bertanya.

“Kita kerja cepat saja, mbakyu. Gali satu lubang. Aku tidak tega kalau mayat kangmas berdua ini dimakan binatang.”

“Kejadian ini aneh,” kata Ekadasa. “Perampok itu tidak membuang mayat-mayat prajurit Tumapel ke sungai, mengapa?”

“Benar Mbakyu. Aku hitung, jumlahnya lengkap. Ini aneh mbak.”

“Jadi yang dibuang hanya mayat-mayat orang Brantas.”

“Tepatnya yang jadi santapan buaya adalah mayat yang tidak berseragam.” Tiba-tiba sepasang mata Trayodasa mendelik. “Kalau kita mati, juga dibuang ke kali dan jadi santapan buaya. Beruntung kita masih hidup Mbakyu.”

Keduanya bekerja cepat, mengubur mayat temannya dibawah pohon besar. Mereka memberi tanda silang di pohon.

“Ayo berangkat sekarang.” Kata Trayodasa. “Kita cari kuda dulu, pasti masih ada yang tersesat disini.”

Cepat sekali mereka menemukan jejak para perampok yang ternyata tidak menghapus bekas roda kereta. Ketika malam tiba, para perampok tidak berhenti untuk beristirahat. Mereka maju terus. Ekadasa dan temannya tetap membuntuti dari jauh.

Satu hari lamanya mereka membuntuti. Dari hutan Karangan rombongan menuju Barat kemudian Utara.

Siang hari keesokan harinya mereka melihat rombongan mendaki lereng bukit Gunduk. Dari jauh tampak sebuah desa yang dikelilingi rimbunan pohon-pohon jati. Ekadasa memperkirakan ada seratusan rumah. Itulah desa Bangu.

“Cukup sampai disini. Sekarang kita pulang, melapor semua kejadian.” Ujar Ekadasa.

Mereka berkuda, melakukan perjalanan cepat.

Ditengah jalan di tepian kali Bango mereka melihat rombongan orang berkuda. Ekadasa dan temannya menjalankan kudanya agak menepi, tidak mau berpapasan dengan rombongan. Ekadasa dan Trayodasa berteriak girang ketika mengenal rombongan. Itulah kumpulan para pendekar Tumapel, dipimpinan langsung Sang Pamegat.

Pertemuan yang tidak disangka-sangka.

Dua hari lalu ketika Sang Pamegat sedang berada diserambi rumah duduk berdampingan isterinya yang dari Kuangchou, Kim Mei, seekor elang melayang diatap rumah. Pamegat bersiul. Saat berikut elang hinggap ditangan majikannya. Kim Mei mengambil beberapa daging dari nampan, memberikannya kepada si elang. Suaminya melepas ikatan surat di kaki elang dan membacanya.

“Karambang dirampok, beras dan keping emas. Tetapi telah kuatasi, semua perampok mati terbunuh, sayang tidak ada seorangpun yang selamat sehingga kita tidak memperoleh keterangan. Tampaknya ada kelompok pemberontak mengganggu keamanan Tumapel.”

Sang Pamegat berpikir sejenak. Kemudian menulis surat balasan. Singkat. “Aku dan pasukan akan ke Jedung, segera.”

Dia menoleh ke isterinya. “Mau ikut?”

Kim Mei tersenyum. “Ikut. Aku kan pengawal khusus.”

Malam itu juga mereka bersiap.

Setelah melapor ke Mahisa Cempaka, maka Sang Pamegat bersama sepuluh pendekar Tumapel yang dipimpin Siki serta duapuluh pemanah jitu berangkat menuju Jedung.

Bertemu Sang Pamegat menguntungkan Ekadasa dan Trayodasa. Keduanya tak perlu pulang melapor ke istana. Mereka menutur peristiwa perampokan itu.

“Ini pemberontakan terhadap kerajaan.” Tukas Sang Pamegat dengan wajah serius.

Mereka menuju pelabuhan Jedung namun berhenti di tempat kejadian di hutan Karangan. Mereka menyelidiki dan mengamati setiap jengkal tanah. Mayat-mayat prajurit Tumapel berserak, sebagian sudah dimakan binatang. Kejadian aneh yang dilihat Ekadasa, mayat-mayat orang Brantas dibuang ke kali, akhirnya terpecahkan.

Mereka menemukan luka-luka bekas anak panah. “Panah dicabut dari tubuh mayat, rupanya ingin menyembunyikan identitasnya.”

Kim Mei tersenyum dan berbisik kepada suaminya. “Kangmas, jelas ini perbuatan orang ketiga, mereka bukan orang Brantas, bukan orang kerajaan. Mereka kelompok lain, semuanya ahli panah. Lihat ini.” Dia mengajak suaminya dan beberapa pendekar ke semak belukar. Dia menarik keluar dua batang anak panah. “Mungkin kita bisa temukan anak panah lain yang nyasar di tempat yang tertutup seperti semak belukar atau akar pohon.”

Orang-orang kemudian menyebar. Benar apa yang dikatakan Kim Mei, beberapa anak panah ditemukan.

Kim Mei melanjutkan pemikirannya. “Mereka punya rencana cermat, sembunyi tangan, coba periksa teliti pasti semua korban mati dipanah. Bekas anak panah yang dicabut dari tubuh tidak bisa disembunyikan.”

“Kereta barang kerajaan ini dikawal prajurit Tumapel dan murid-murid Brantas, tetapi disini hanya ada mayat-mayat prajurit.” Kata Siki.

“Seperti yang dilaporkan Ekadasa, mayat-mayat yang dibuang ke kali, adalah mayat orang Brantas, mereka mau kita berpikiran Brantas yang merampok.” Kata Pamegat.

“Supaya kita menghukum Brantas?” Tanya salah seorang pendekar Tumapel, Patwelas.

“Mungkin saja. Tetapi aku justru berpikir, mereka menyembunyikan diri, tidak mau kita tahu siapa mereka.” Tegas Kim Mei. “Mereka bukan perampok biasa, ada rencana menyusun kekuatan, merampok puluhan kuintal beras. Pasti untuk makan orang banyak, nah apalagi jika bukan satu pasukan besar.”

Sang Pamegat menatap tajam isterinya. “Kamu yakin Mei?”

Wanita Kaungchou yang kecantikannya masih bersinar mengangguk. “Aku pasti Kangmas.”

Tiba-tiba kepala pasukan panah menyela pembicaraan. “Paduka, mohon ijin bicara. Hamba dan beberapa teman mengamati beberapa anak panah, ternyata itu panah pasukan rodra yang dulu menjadi tulangpunggung kekuatan Kediri.”

“Kamu yakin?” Tegas Sang Pamegat.

“Hamba yakin Paduka.”

“Pasukan rodra muncul kembali dan menjadi perampok, apa maunya?” Siki bertanya.

Semua orang saling pandang. Ada rasa kekhawatiran dari paras masing-masing. Apalagi ketika Sang Pamegat berbisik. “Rencana pemberontakan!”

Siki menambahkan. “Hamba setuju pendapat Paduka, pasti perbuatan makar!”

“Yang penting, aku sudah tahu dimana markas mereka, desa baru di kaki bukit Gunduk.” Kata Ekadasa. “Apakah kita kembali ke istana?” Dia bertanya pada Sang Pamegat.

Pamegat menggeleng. “Kita terus ke Jedung. Pelabuhan harus kita amankan. Aku akan menulis surat untuk istana agar siap-siap mulai sekarang.” Dia lalu bersiul memanggil elangnya. Memberinya sekerat daging. Menulis surat, mengikatnya dikaki si elang.

Elang itu melayang jauh ke angkasa biru, menuju keraton.

Rombongan Sang Pamegat melanjut perjalanan ke Jedung dan Karambang.

Esok harinya mereka tiba di pelabuhan. Dua pendekar diutus masing-masing menemui Gajah Pringgon dan Setiati. “Katakan pertemuan di rumah kepala desa, sekarang juga. Aku akan segera ke rumah kepala desa begitu selesai memeriksa keamanan pelabuhan.”

Linggapati dan Dedes Ayu mendengar laporan. Misi merampok rombongan Tumapel dihutan Karangan, Samba dan pasukannya membawa pulang beras dan keping emas yang dimuat dalam lima kereta kuda. Hebatnya lagi, tak ada korban di pihak pasukan Samba.

Misi ke Jedung dan Karambang gagal malah tiga penasehat Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran terluka kena panah. Beras dan keping emas yang telah diangkut dengan kereta kuda, ditengah jalan disergap pasukan panah keraton Tumapel. Semua mati kecuali ketiga penasehat. Mereka pulang dengan tangan hampa. Beras dan keping emas direbut balik oleh pasukan Tumapel.

Pulosari menutur dengan merunduk kepala, malu akan kegagalannya.

Mendengar laporan dari Pulosari, seketika wajah Linggapati merah padam. Amarahnya membakar dada. Tetapi dia masih ingat, Pulosari adalah kakak perguruannya yang telah banyak berjasa memelihara dan mendidiknya. Sudah bagaikan ayah kandung. Pulosari juga satu-satunya orang yang paling dia percaya, melebihi kepercayaan pada Sangkapura.

Tanpa berkata-kata dia masuk ke bilik pribadinya.

Dedes Ayu mengikutinya.

Pulosari, Sangkapura, Dewi Kajoran dan Samba tetap menunggu.

Linggapati berkata, suaranya gemetar. “Jangan bicara, Dedes. Aku sedang marah.” Lagak bicara dan gerak tubuhnya membuat wanita cantik itu ketakutan.

Linggapati melepas bajunya, tinggal hanya celana panjang sebatas lutut warna kuning, dia lalu masuk ke goa latihannya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara ribut, macam letusan mercon diselingi teriakan yang gegap gempita. Dedes Ayu tahu suaminya sedang menyalurkan amarah dalam latihan, pelampiasan marah yang sulit dia bendung.

Dia ingat, laki-laki itu pernah mengatakan sejak menguasai keris prabakara pada saat-saat tertentu acapkali dia harus berkutat mengendalikan hawa panas tenaga-dalamnya. “Panas itu menjadi pemicu amarahku, yang terkadang sulit kuatasi. Pada saat-saat seperti itu aku harus berlatih atau tarung.”

Sudah beberapa kali kejadian, ketika dikuasai amarah, Linggapati bisa berubah menjadi mahluk yang mengerikan. Mula-mula Dedes tidak berdaya dan tenggelam dalam ketakutan yang amat sangat. Namun lambat-laun dia mulai menemukan cara menurunkan tensi amarah suaminya. Pertama-tama membiarkan suaminya melampias amarah, setelah itu membujuknya dengan rayuan seks. Ternyata cara itu menjadi penawar yang jitu.

Sementara suaminya sibuk berkutat dengan jurus-jurus maut keris prabakara, Dedes Ayu mendandani diri sebaik-baiknya. Beberapa saat berlalu Dedes Ayu berubah menjadi sosok yang cantik, montok dan luwes. Pakaiannya yang seronok memperjelas kemolekan tubuhnya bertaut dengan paras cantik yang berseri-seri.

Linggapati selesai berlatih, keluar dari ruang pribadinya dengan sekujur tubuh mandi keringat. Wajahnya masih merah padam. Dedes menghadapinya dengan tenang dan kemayu. Sambil menyeka keringat suaminya dengan air kendi yang sejuk, Dedes Ayu menggunakan semua pesona dirinya untuk menenangkan kemarahan Linggapati.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Sebenarnya aku yang bersalah! Petunjuk yang kuberikan tidak lengkap. Karena memang aku tidak tahu bahwa di Jedung ada pasukan Tumapel yang sembunyi yang sewaktu-waktu bisa datang membantu desa Karambang. Itu salahku kangmas.”

Dedes pintar, dia tahu suaminya menyalahkan diri sendiri. Linggapati tidak tahu tentang pasukan Tumapel sembunyi di pelabuhan. Ketika itu Dedes mempertanyakan kemungkinan ponggawa kerajaan bersembunyi dalam samaran, Linggapati membantahnya.

Dedes Ayu tidak mengungkit kesalahan itu sebagai kesalahan Linggapati, melainkan dia mengaku sebagai kesalahannya. “Tetapi Mas, jangan beritahu mereka bahwa aku salah dalam memberi petunjuk. Sebagai pemimpin, kamu adalah orang yang tak boleh dipersalahkan, dan aku sebagai sisianmu juga tak boleh disalahkan.”

“Apakah kesalahan harus dibiarkan? Itu kesalahan kangmas Pulosari dan peraturan kita setiap kesalahan harus dihukum. Tetapi bagaimana mungkin aku menghukum kangmasku?”

Melihat suaminya yang tampak sangat berduka. Dedes memeluk, mengelus dan mencium dadanya. “Jangan pikirkan itu, pikirkan aku, mas. lihat kecantikanku.”

Linggapati pun luruh dalam pelukan isterinya yang cantik. Apa yang diberikan Dedes Ayu bagaikan bius-candu yang tak mungkin bisa ditolak.

Masih diatas pembaringan Dedes memeluk suaminya dan berbisik lirih. “Kangmas jika kamu mengampuni mereka, tiga tetua itu akan mati-matian membelamu karena terimakasih, dan itulah yang penting. Kita akan menyerang dalam waktu dekat, daripada kehilangan tiga tetua itu, lebih baik jika mendapatkan jiwa raga mereka. Aku minta pengampunanmu bukan sebab Kajoran itu ibuku, tidak ada cintaku pada ibuku jika dihadapkan pada kepentinganmu. Kalau harus membunuh ibuku juga akan kulakukan jika kamu perintah.”

“Pijit aku dengan jari tanganmu yang lembut dan wangi.”

Dedes tersenyum, jari jemarinya mulai menari dikepala dan leher suaminya. “Ayo Mas, kamu ampuni mereka?”

“Tapi aku sudah membuat aturan, yang gagal akan aku hukum!”

“Kamu raja, kamu buat aturan, kamu bisa mengubah dan melanggar, kamu penguasa atas semua anak buahmu.” Bisik Dedes Ayu.

Linggapati berterimakasih atas anjuran dan pandangan isterinya. “Kamu benar, isteriku. Ayo kita keluar bertemu mereka.”

Setelah Dedes Ayu mengenakan busana, keduanya keluar menemui empat penasehat. Empat pendekar tahu bahwa Linggapati akan memutuskan sesuatu atas anjuran dan pandangan wanita cantik yang menjadi isterinya.

“Ada menang ada kalah, ada malam ada siang. Kalian telah menyelesaikan misi. Aku tak mau ada kegagalan lagi. Mulai saat ini, dewan penasehat kuhapus. Kalian masih boleh tinggal di tempatmu sekarang ini, tetapi pangkat kalian sama dengan pendekar gugus dua. Mengapa aku memutuskan kebijakan ini? Karena kita akan segera menyerang istana dalam waktu dekat dan aku mau kalian mengawasi dengan ketat semua pendekar dan pasukan yang di gugus dua maupun gugus tiga. Kalian akan menerima perintah dari aku dan juga isteriku.”

Tidak menyangka akan mendapat keringanan, Pulosari bertiga Sangkapura dan Dewi Kajoran berulang kali mengucap terimakasih.

Dedes Ayu tersenyum kepada tiga penasehat.

Seketika itu ketiga pendekar tahu keputusan Linggapati karena mengikuti bujukan wanita itu. Sinar mata Pulosari mengucap terimakasih pada Dedes Ayu.

Linggapati menarik tangan isterinya dan melangkah kedalam kamar. Ditengah jalan, Dedes Ayu berbisik. “Sekarang kamu telah mendapatkan seluruh jiwa raga tiga pendekar itu, dan mereka akan sedia mati membelamu, kangmas.”

Mendadak Linggapati berbalik. “Kalian boleh meninggalkan ruangan. Tetapi kangmas Pulosari harap tinggal.”

Semua melangkah pergi. Pulosari menanti dengan hati berdebar-debar.

“Kangmas, waspada dan pasang mata dan telinga. Sering-sering melapor padaku. Kuperkirakan dalam waktu duapuluh hari kita akan menyerang istana. Kamu tangan kananku, Kangmas. Aku sangat mengandalkanmu.” Dia berbalik menggandeng isterinya. Dia sempat mendengar suara Pulosari.

“Terimakasih Dimas.”

***