Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
(published 3 July 2011)
Bab Lima
Pertarungan Trawas
Begitu keluar dari lembah, Wisang Geni bersiul. Tidak lama berselang si hitam Wulung muncul, mengibas-ibas kepala, mengangkat dua kaki depan lalu meringkik. Dia senang bertemu majikannya. Saat berikut kuda Atis muncul menghampiri.
Mereka menunggang kuda, Wisang Geni dipunggung Wulung dan Atis di kudanya sendiri. “Aku maunya berdua di punggung Wulung seperti kemarin.” Ujar Atis menggoda.
“Dulu kamu sakit, sekarang sudah sembuh.”
“Dulu belum jadi isteri, sekarang sudah jadi sisianmu.”Sambil dia melirik menggoda.
“Jadi kemana, ke lereng Argo?” Wisang Geni bertanya.
Tampak wajah Atis yang berduka. Dia mengangguk. “Iya, gunung Argo.”
“Aku janji Tis. Tiga puluh hari aku sudah akan menjemput kamu.”
“Awas bohong, kamu sudah janji, sudah bersumpah akan menjemput aku.” Atis diam sejenak, parasnya muram. “Tapi tiga puluh hari waktu yang lama, aku akan merindu kamu setiap hari, setiap malam.”
Atis menangis. Tiba-tiba dia turun dari kudanya dan melompat ke punggung Wulung, tepat didepan Wisang Geni. “Aku mau dipangku.”
Wisang Geni membujuk. “Tapi jangan menangis lagi.”
“Aku mau dipangku begini. Setiap malam kamu harus mencintai aku, dari malam sampai pagi kita bercinta sepuas-puasnya. Oh Geni, jangan tinggalkan aku.”
“Satu bulan tidak lama, sayangku.”
Tujuh hari mereka tiba di lereng Argo. Tujuh malam Atis menangis. Tangisnya hanya berhenti jika dipeluk dan diajak suaminya bercinta.
Dari kejauhan tampak rumah ditengah kerimbunan pepohonan. Tiga bayangan melesat bagaikan melayang menghampiri Wisang Geni dan Atis. Ternyata mereka, pendekar Merapi Sagotra dan dua sahabatnya Grajagan dan Pancasona.
Ketiganya terkejut melihat Atis duduk dipangkuan Wisang Geni dipunggung kuda hitam. Tangan Wisang Geni memeluk tubuh isterinya, tepat diantara perut dan dada. Seketika saja Sagotra mengenali Wisang Geni.
“Hei Geni, kamu apakan cucuku?” Suaranya keras agak membentak.
Atis menyahut tidak kalah kerasnya. “Kakek jangan ikut campur, awas kamu macam-macam, aku tinggal pergi lagi!”
Sagotra diam. Dua sahabatnya juga diam.
Pancasona membuka suara. “Atis muridku ada persoalan apa? Kamu pergi cukup lama, membuat kami bingung mencarimu.”
“Guru juga jangan ikut campur urusanku dengan kangmas Geni.”
“Kangmas?” Seru Grajagan, bertanya sekaligus terkejut.
Wisang Geni menyahut datar. “Atis sudah jadi isteriku.”
Tiga orangtua itu menyahut serentak, terkejut. “Haahh isterimu?”
Atis melompat, salto kebelakang, berdiri tepat dibelakang suaminya, masih diatas punggung Wulung. Tangannya mengelus wajah dan rambut suaminya, dia berkata ketus pada tiga orangtua itu.
“Aku lebih berani dari kalian bertiga, kalian saling mencinta tapi tak pernah berani kawin. Setelah umur sudah sangat lanjut baru kumpul bersama. Itu cinta yang aneh. Aku lebih berani, aku mencintai Wisang Geni, dia juga cinta padaku, lalu kami kawin, menjadi pasangan suami isteri, apakah itu salah?”
Pancasona berteriak girang. “Lihat, itu ajaranku. Kalau cinta yah cinta, jangan lari. Kalau saling cinta harus kawin, jadi suami isteri. Ternyata Atis sudah jadi isteri Wisang Geni wah itu hebat muridku, kamu bisa membuat pendekar gila perempuan itu kasmaran padamu.”
“Guru!” Atis berseru keras. “Suamiku bukan pendekar gila perempuan!”
“Iya, iya, aku salah bicara.” Pancasona tersenyum geli.
Sesaat suasana hening.
Sagotra memecah kesunyian. “Wisang Geni, sekarang maumu apa?”
Wisang Geni melompat turun dari punggung Wulung diikuti Atis. “Aku mau titip Atis isteriku disini, tiga puluh hari lagi aku akan menjemputnya.”
Sagotra memandang Atis.
“Iya kek, itu rencana kita berdua. Mas Geni masih harus selesaikan urusannya, setelah itu dia menjemputku dan membawa aku ke Welirang. Boleh aku tinggal disini, sementara saja? Kalau tidak boleh, aku pergi ke Lemah Tulis saja.”
”Ohh kakekmu senang kamu tinggal disini.” Sagotra menoleh ke Wisang Geni. “Katamu tigapuluh hari, awas jangan sampai lupa menjemput cucuku. Kalau kamu mempermainkan cucuku, aku marah Geni!”
“Aku mencintai Atis, kamu tak perlu khawatir.” Tegas Wisang Geni.
“Mas kamu nginap disini beberapa malam, mau kan? Katakan iyah.” Atis memeluk suaminya tanpa merasa risih pada kakek dan dua gurunya. “Nanti aku masak makanan yang lezat untukmu, juga aku kidungan dan menari untukmu.”
“Satu malam.”
“Tiga malam saja.” Atis memeluk suaminya, merebah kepalanya di leher suaminya.
Wisang Geni berbisik. “Baiklah, tiga malam.”
Atis melepas pelukannya. “Kek aku pinjam rumahmu tiga malam, kalian bertiga tidur diluar, mau kan? Katakan iyah Kek.” Matanya berkedip-kedip memandang Sagotra.
Pendekar Merapi yang hebat digjaya itu tak berdaya. Dia menoleh ke dua temannya. Grajagan dan Pancasona tersenyum.
“Kita dikuasai anak kecil ini.” Kata Grajagan.
“Hei guru, aku bukan anak kecil!” Seru Atis.
Grajagan cepat menyahut. “Maaf aku salah omong, kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah dewasa. Malah sudah kawin.”
“Eh Atis kamu sudah sanggama dengan suamimu?” Pancasona ingin tahu.
“Sudah. Setiap hari. Itulah kenikmatan sebagai manusia. Guru sudah merasakan?” Tanya Atis dengan senyum menggoda.
“Anak nakal, berdebat denganmu aku tidak pernah menang.” Tukas Pancasona.
“Aku pinjam rumahmu, katakan cepat, boleh atau tidak?” Seru Atis.
Tanpa sadar tiga kakek itu menyahut serentak. “Boleh.”
Wisang Geni tersenyum melihat Atis memerintah kakek dan dua gurunya.
Saat itu hari masih sore. Tiga pendekar tua tampak berbisik-bisik, berunding.
“Kakek, apa yang kalian bisik-bisik, mau membohongi aku?” Teriak Atis.
Sagotra mendorong Grajagan, menyuruh temannya yang bicara.
“Atis muridku, karena Wisang Geni sudah jadi suamimu, maka kami bertiga harus menguji ilmu-silatnya, ingin tahu kemampuannya melindungi kamu.” Kata Grajagan.
“Kamu mau main curang, mengeroyok suamiku?” Seru Atis berang.
“Tidak. Kita tanding satu lawan satu, sekadar uji ilmu-silat.” Potong Pancasona.
Atis menoleh suaminya. “Kamu mau? Kalau tidak mau, biar aku yang menolak.”
“Jajal ilmu-silat, aku juga ingin main-main,” Wisang Geni gembira. Dia menghadap tiga pendekar tua itu. “Siapa yang maju duluan?”
Sagotra mendorong Pancasona. Perempuan tua ini mendorong Grajagan.
“Kamu maju duluan!” Perintah Pancasona.
Grajagan melangkah maju. “Geni, aku tahu ilmu-silatmu tinggi, tetapi aku juga sudah menyempurnakan sewu braja. Ayo kita jajal.”
“Silahkan memulai Ki.” Wisang Geni memutuskan akan menggunakan jurus langit yang terdiri dari tiga kumpulan jurus yang dia ciptakan saat dia dilanda duka nestapa kematian isterinya Walang Wulan.
Tiga kumpulan jurus rasa suwung wenganing bumi (ikhlas membuka dan membelah bumi), ngesti suwung wenganing bumi (suasana hening membuka bumi), wongmati ora kesasaban bumi (orang mati tidak dikubur). Dalam tiap kumpulan memecah belasan jurus menyerang yang mengandung kesedihan serta amarah dan dendam.
Grajagan memainkan ilmu andalannya sewubraja yang punya banyak perubahan tak terduga. Intinya adalah gerak lamban mengatasi kecepatan, tampaknya bergerak lamban namun bisa tepat pada saatnya menangkis atau memukul. Pukulannya panas membawa tenaga besar, gabungan tenaga-luar dengan tenaga-dalam. Inilah jurus tangan kosong murni, tanpa senjata namun sanggup menantang musuh yang bersenjata.
“Jangan mengalah, Mas. Kalau kamu kalah nanti guru akan mengejek aku.” Teriak Atis.
“Murid apa kamu ini, mengapa membela orang luar?” Kata Sagotra.
“Dia bukan orang luar, dia suamiku. Aku harus membela dia, itu kewajiban seorang isteri yang setia.” Seru Atis, sambil melotot memandang kakeknya. “Kakek tidak tahu urusan suami isteri, jadi sudahlah diam saja Kek.”
Sagotra bergumam didekat Pancasona. “Sampai kapanpun kita kalah adu lidah dengan Atis, otaknya cerdas dan mulutnya tajam.”
Pancasona menggamit lengan Sagotra. “Lihat tarung itu.”
Pertarungan berlangsung ketat. Wisang Geni meladeni tenaga Grajagan. Adu tenaga, adu jurus, adu kecepatan. “Tiga tahun lalu aku pernah menyaksikan kamu tanding memainkan sewubraja menghadapi pendekar Kuangchou. Hebat, tenagamu makin berbobot, jurus makin tajam dan lancar. Selamat Ki Grajagan.” Wisang Geni memuji.
Sepertinya tarung imbang. Tetapi sebenarnya Wisang Geni lebih unggul. Dia membaca arah pukulan Grajagan dengan baik. Beberapa kali sengaja adu tenaga.
“Tarrr …. Tarrr …. Tarrr…” Terdengar benturan tapak tangan, keras macam bunyi ledakan ketika batu bertemu batu. Sewubraja mirip-mirip gelap-ngampar pukulan tangan kosong yang menguar suara gegap-gempita, kontra tamparan jurus langit yang menggunakan tenaga wiwaha.
Terdengar teriakan Atis. “Guru, mundur saja guru, mumpung masih imbang. Jika mas Geni menggelar jurus angin leysus, kamu bisa diterbangkan ke pulau sempu.” Atis tertawa geli melihat Grajagan mulai kewalahan.
“Jurus apa itu, jurus siluman?” Sahut Grajagan.
“Itulah jurus angin ribut yang digunakan Wisang Geni mengakhiri tarung lawan pendekar Kuangchou, masih ingat kamu?” Teriak Nyi Pancasona.
Grajagan ingat sepakterjang Wisang Geni dalam tarung dengan pendekar Kuangchou tiga tahun lalu. “Benar juga, kalau dia gunakan jurus angin ribut itu, aku pasti kalah, daripada malu lebih baik mundur!” Berpikir demikian Grajagan melompat mundur beberapa tombak. “Kita imbang, tidak kalah dan tidak menang!”
Atis berteriak. “Curang, guru kamu curang. Kamu kalah, mengaku saja kamu kalah, tidak perlu malu, kamu tetap guruku, tidak mungkin aku memecatmu!” Atis tertawa geli.
“Atis murid aneh. Kamu lihat aku imbang. Tidak kalah, juga tidak menang. Bukankah begitu Wisang Geni?” Grajagan bertanya.
“Iya Ki, kita imbang. Sewubrajamu maju pesat, aku kewalahan.” Sahut Wisang Geni.
“Ah Dimas Geni, kamu menghibur aku.” Grajagan tersipu.
Berikutnya Pancasona maju. “Kini giliranku!”
Nyi Pancasona menyerang menggunakan pedang baja tipis yang mengilat diterpa sinar mentari sore. Jurus pedang daladala sudah puluhan tahun dia dalami, tak heran gerakannya lancar dan bersinambungan tak putus-putus. Pedangnya baja lemas yang bisa menampar seperti sabuk, saat lain kaku bagaikan pedang baja.
“Wisang Geni cabut senjatamu hadapi jurus daladala ini.”
“Maaf, aku tidak membawa senjata, lagipula tidak terbiasa pakai senjata.”
Pancasona menunda serangannya. “Tidak adil. Kalau kamu tangan kosong, sudah pasti kamu menang, jurus tangan kosongmu tak ada tandingan di tanah Jawa. Aku mau menguji sampai dimana kemajuan jurusku ini, jadi kamu harus pake senjata!”
Atis berteriak. “Guru Sona, kamu curang, menyuruh suamiku tarung dengan senjata yang tak pernah dilatihnya, itu jelas-jelas perbuatan curang, menipu lawan.”
Timbul kegembiraan Wisang Geni berseru. “Tis, aku pinjam kerismu!”
Tak bisa menolak, Atis melempar kerisnya, sambil protes. “Guru Sona memang suka curang, selalu mau menang sendiri.”
“Eh Atis, kalau dia tak bisa mengatasi daladala, itu artinya dia tak bisa melindungimu, dia harus dipecat sebagai suami!” Pancasona tertawa cekikan, menggoda muridnya.
“Siapa berani memecat suamiku, Guru, jangan membuat aku marah!” Teriak Atis.
Pancasona mengalih perhatian pada Wisang Geni. “Terima seranganku!”
Pedang lemas itu mengurung dengan tusukan, tamparan, sabetan, tidak memberi ruang sedikitpun bagi Wisang Geni untuk mengelak. Serangan tak pernah putus, bersinambungan.
Wisang Geni terkesiap. Jurus pedang pendekar wanita ini maju pesat. Kecepatan pedang mendesaknya, dan dia hanya bisa lolos pada detik-detik terakhir ketika ujung pedang hanya satu jengkal dari tubuhnya.
Dua puluh jurus berlalu.
Keris Wisang Geni seakan tidak berguna. Dia hanya bisa meloloskan diri menggunakan ringan tubuh dan sentilan jari tangan kirinya.
Pada saat kritis Wisang Geni menemukan cara menghadapi daladala.
Tadinya dia sungkan dan tak ingin melukai Pancasona, hal ini membuatnya terdesak. Memasuki jurus duapuluhlima Wisang Geni mencecar pergelangan tangan Pancasona dengan keris maupun sentilan jari tangannya. Dia menggunakan garudamukha prasidha yang jurus-jurusnya dirancang untuk permainan bersenjata.
Seketika pertarungan berubah. Lolos dari situasi kritis, Wisang Geni kini menyerang gencar. Serangannya tertuju pergelangan dan siku tangan. Kini Pancasona yang terdesak. Sepuluh jurus berlalu, Pancasona tak berdaya membendung desakan.
Tiba-tiba Wisang Geni melompat mundur.
“Cukup, cukup, aku menyerah kalah! Jurus daladala semakin hebat.” Seru Wisang Geni.
Atis berteriak. “Tidak bisa begitu! Guru Sona yang kalah!”
Pancasona tertawa melihat muridnya begitu bersemangat membela suami. “Suamimu menang, Atis. Dia memang pendekar nomor satu.”
Atis berteriak gembira. “Mas Geni sudah menang dua kali. Sekarang giliran kakek. Hati-hati Mas, kakek banyak akal liciknya.”
Sagotra tertawa. “Licik? Kamu lebih licik. Mana bisa kita bertiga melawan kamu.” Lalu dia berkata kepada Wisang Geni. “Kamu sudah pelajari bangbang alumalum dan waringin sungsang dari Manjangan Puguh. Nah kita tanding menggunakan dua ilmu-silat itu.”
“Mana bisa aku menang, jurus-jurus itu ciptaanmu.” Wisang Geni merendah.
“Pertandingan pertama, kamu mengejar aku, jika sanggup menyentuh tubuhku, kamu menang. Yang kedua, ganti aku mengejarmu. Gunakan waringin sungsang! Pertandingan kedua, tarung dua puluh jurus menggunakan bangbang alumalum. Kita lihat siapa menang, kakek Atis atau suami Atis?”
Dua pendekar itu memulai tarung. Wisang Geni mengejar Sagotra. Tetapi jangankan menyentuh tubuhnya, mendekatipun tak mampu. Wisang Geni mengaku kalah. Ganti dia berlari dikejar Sagotra, dalam sepenanakan nasi, pendekar Merapi berhasil menyentuh tubuhnya. Wisang Geni kalah.
Pertandingan kedua. Keduanya saling menyerang dan bertahan menggunakan jurus-jurus bangbang alumalum (semua merah, semua hidup, semua mati) lengkap tujuh jurus dengan berbagai pecahannya, bhaskarogra (matahari memuncak panasnya), nanawidha (beraneka warna), bahni anempuh toya (api menyerang air), gora andaka (banteng besar), kinabasang (dipanggang), nyakra manggilingan (selalu berputar seperti kincir, berulang-ulang) dan lokamandhala (muka permukaan bumi).
Tampak bedanya, dalam hal tenaga-dalam Wisang Geni unggul, tapi hal memainkan jurus demi jurus yang bersinambungan pendekar Merapi lebih unggul. Duapuluh jurus berlalu dengan cepat, keduanya memisah diri.
“Terima hormatku, aku kalah kakek guru!” Kata Wisang Geni.
Sagotra tertawa. “Kenyataannya memang kamu cucu muridku, kamu muridnya Puguh. Ketika Puguh akan mewariskan dua ilmu itu kepadamu, dia minta restuku dan kurestui.”
“Tidak bisa begitu. Aku murid kakek dan suamiku cucu murid kakek, salah. Tidak bisa begitu, lagi-lagi kamu ngawur kakek.” Protes Atis.
Pancasona menggoda muridnya. “Atis kamu itu bunglon!”
“Mengapa menyebut aku bunglon, binatang yang gontaganti kulit?” Potong Atis.
“Kamu muridnya Puguh, juga muridnya kakekmu, jadi yah bunglon!” Goda Pancasona.
Sagotra tertawa, “kamu cucuku, putri dari anakku. Jadi aku mengajarimu bukan sebagai guru tetapi sebagai kakekmu. Kamu puas?”
Atis tertawa senang. “Baru kali ini kamu mengatakan hal yang benar yang tidak membuat aku jengkel. Memang benar, kamu bukan guruku, kamu kakek yang paling kusayang.”
Wisang Geni gembira beberapa hari bersama isterinya.
Setiap siang tiga pendekar tua mengadu ilmu-silat dengannya. Sore harinya Atis membawa Wisang Geni main-main di lereng gunung. Malam harinya Atis menghibur suaminya. Atis punya kelebihan yang jarang dimiliki wanita muda. Dia pandai masak, bisa menari dan berkidung, bisa melukis, mahir merayu dan menggoda, semua kelebihan itu membuat Wisang Geni merasa betah berada disampingnya.
Tidak cukup dua malam, Wisang Geni akhirnya tertahan sampai enam hari.
Hari itu Wisang Geni melompat ke atas punggung Wulung. Airmata Atis membasahi pipi yang kemerahan. “Kangmasku, tiga puluh hari lagi kamu jemput aku. Jangan lupa Mas!” serunya dengan menahan isak tangis.
Wisang Geni mengarah ke desa Trawas, rencananya mampir sehari di Lemah Tulis, esoknya nginap di Trawas kemudian pulang ke Welirang. ***
(To be Continued 4 July/Published No 14 )