Wednesday, June 15, 2011

Wisang Geni part Two - published No 1

Wisang Geni Part Two

Kutukan Keris Berdarah

(published No 1/dated 16 June 2011)

Bab Satu

Dendam Himalaya

Arjapura, laki-laki separuh baya bertubuh besar tapi tidak terlalu tinggi, berdiri disisi kapal layar besar yang mengarungi samudera Hindia. Dia memandang lautan luas yang sedang bergelora. Ombak besar dan angin kencang mengombang-ambing kapal seperti juga perasaan dalam dirinya yang berkecamuk amarah dendam.

“Wisang Geni, kamu telah membangunkan raksasa tidur. Kamu bunuh putraku, apakah kamu pikir semudah itu, setelah membunuh kamu bisa hidup tenang? Balas dendamku sangat kejam, akan kubunuh anak-anakmu, memerkosa isteri-isterimu, membiarkan kamu merasakan sakit hati seperti yang kurasakan. Setelah itu baru giliranmu kubunuh. Kamu pendekar nomor satu tanah Jawa, pikirmu bisa menahan ilmu dari gunung putih Himalaya? Aku datang membawa dendam berdarah dari Himalaya. Kamu tidak tahu aku datang, tetapi aku tahu kamu ada disana.”

Dia berkata kepada diri sendiri. Suaranya yang parau dan serak, ditelan gemuruh angin dan ombak samudera Hindia. Dia mengepal jari-jari tangannya, terdengar suara gemeretak, buku-buku jarinya memutih, kontras dengan kulit tubuhnya yang agak hitam. “Aku bersumpah, kamu akan mati secara mengerikan. Ingin aku meremas hancur dan mengunyah tubuhmu!”

Seakan sumpah dendamnya didengar lautan biru kehitaman seketika ombak dan gemuruh angin semakin besar. Laut bergolak. Beberapa saat kemudian laut menjadi lebih tenang. Ombak dan angin kencang kembali ke fase normal.

Arjapura telah menempuh perjalanan jauh dari Himalaya. Saking ingin cepat-cepat tiba di tanah Jawa, dia menempuh jalur berbahaya dan angker dinegeri Nanzhao Yunnan, Burma. Dia melayari sungai Ayeyarwadi dari utara ke selatan. Beberapa kali dihadang perampok dan penjahat tetapi ilmu-silatnya yang tinggi tak memberi peluang para penjahat untuk menjarah barang dagangannya. Barang-barang akan dijualnya di pelabuhan Jedung sebagai modal dagang dan hidup. Dia tak tahu berapa lama akan menetap, mungkin juga tak akan kembali ke Himalaya, karena tahu untuk melakukan tarung balas dendam, seseorang harus menggali dua liang lahat.

Berlayar sendirian menuju tanah Jawa sungguh perbuatan yang kelewat berani. Demi dendam yang menyiksa dirinya, yang membuat tidurnya tidak nyenyak, dia rela meninggalkan isteri dan anak-anaknya serta kehidupan damai di kawasan Himalaya. Bagaimanapun juga dia teringat akan keluarganya, isteri pertamanya, isteri-isteri mudanya dan anak-anaknya serta murid-murid yang sedang belajar di perguruannya.

Satu bulan sebelumnya dia bersama isteri pertama Pujadewi, ibu kandung Wasudeva. dan tiga adik Wasudeva pergi ke perguruan Yudistira. Mereka menanyakan keberadaan Wasudeva dari dua murid utama Yudistira yang baru pulang dari tanah Jawa. Sudah dua tahun Wasudeva pergi dan tak ada kabar beritanya.

Mereka terkejut mendengar kabar kematian Wasudeva dalam pertarungan di tanah Jawa. Arjapura marah, wajahnya yang hitam merona merah. Pujadewi menangis. Bismata dan dua adiknya berteriak marah. Suasana riuh. Murid dan pelayan di perguruan Yudistira ketakutan tapi diam-diam bersikap waspada.

“Bagaimana matinya?” Tanya Arjapura.

“Dia mati terhormat, tuan. Tarung satu lawan satu.”

Arjapura memukul meja. Empat kaki meja amblas ke dalam tanah. Permukaan meja pecah berantakan. Wajahnya memerah tanda kemarahan luar biasa. Terdengar suara geramnya macam harimau raksasa ngamuk.

Suami isteri murid Yudistira merunduk dengan tubuh gemetar ketakutan, berkata lirih. “Maaf, tuan. Kami tidak campur tangan, guru Yudistira dan keluarganya juga tidak campur tangan, itu pertarungan dua pendekar. Tuan Wasudeva tarung secara ksatria dengan pendekar tanah Jawa. Kami semua berharap kemenangan di pihak tuan Wasudewa, tetapi apa hendak dikata, karma dewata menentukan putra tuan mati dalam tarung.”

“Siapa namanya, laki-laki yang membunuh putraku?”

“Wisang Geni.”

“Siapa orang itu?

“Dia ketua perguruan Lemah Tulis, ilmu silatnya tinggi, orang-orang menjulukinya pendekar nomor satu tanah Jawa. Dia pernah mengalahkan beberapa pendekar utama dari Kuangchou. Dia, suami Gayatri. Tadinya guru sangat marah mendengar Gayatri menikah dengan Wisang Geni. Tapi entah bagaimana mungkin karena sayang pada putrinya, guru Yudistira akhirnya mau menerima Wisang Geni sebagai anak mantunya.”

“Gurumu mengakui dia sebagai anak menantu sebelum atau sesudah kematian putraku?”

“Sesudah kematian putra tuan.”

“Mereka tinggal di Lemah Tulis?” Desak Arjapura.

“Tidak. Wisang Geni dan keluarga guru tinggal di lereng Timur gunung Welirang.” Tutur murid Yudistira.

“Ceritakan selengkapnya.” Desis Pujadewi. Matinya Wasudeva putra tertuanya, suatu pukulan berat baginya. Putranya itu calon pengganti ayahnya sebagai ketua perguruan Arjapura. Kini dia mengandalkan putra keduanya, Bismata dan dua adiknya.

Murid Yudistira menceritakan detail pertarungan Wisang Geni lawan Wasudeva di atas geladak kapal.Lima tamu dari perguruan Arjapura terpahna, terpengaruh cerita tarung dahsyat itu. Arjapura marah tetapi masih bisa mengendalikan diri dan menekan emosi keluarganya.

Murid Yudistira memberi hormat. “Maafkan kami suami isteri, jika cerita ini membuat tuan sekeluarga marah dan berduka. Sesungguhnya kami semua, guru Yudistira dan keluarga besar, ikut berduka, tetapi kata guru, kami semua tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa ikut campur, itu pertarungan dua ksatria yang tidak bisa terhindarkan.”

Arjapura kembali ke perguruannya mengatur segala sesuatu. Menyerahkan perguruan ke tangan isteri dan anak-anaknya. Dia berpesan. “Kalian atur perguruan dengan baik, jika aku tidak kembali dalam waktu tiga tahun itu artinya aku mati. Dan kalian tidak boleh pergi ke tanah Jawa untuk mencari aku atau membalas dendam. Matinya Wasudeva maka aku tetapkan Bismata sebagai ketua perguruan, dia akan didampingi ibunya Pujadewi. Tidak boleh ada perkelahian antar sesama saudara dan semua keluarga harus bersatu dan hidup dalam keharmonisan. Ingat itu.”

***

Arjapura tiba di pelabuhan Jedung. Dia menyamar sebagai pedagang, membawa banyak barang dagangan. Yang pertama-tama dia lakukan, mencari tempat tinggal. Dia menyewa rumah kecil di desa Karambang, desa cukup besar dan rame yang bertetangga dengan pelabuhan Jedung. Dia menggelar barang jualannya di emperan rumah.

Menggunakan sedikit bahasa Jawa yang dipelajarinya dari seorang pedagang diatas kapal disertai bahasa isyarat tangan, dia bisa melakukan transaksi jual beli.

Suatu hari dia kedatangan suami isteri Minten dan Parto yang memiliki warung di pelabuhan Jedung. Itulah rumah besar berfungsi sebagai warung makan merangkap tempat jualan berbagai macam barang keperluan.

Suami isteri itu tertarik dengan barang dagangan yang dibawa Arjapura, menawarkan kerjasama berbagi keuntungan. Arjapura setuju. Dia tidak perlu lagi bersusah-payah menjajakan barang, tetapi memercayakan pada suami isteri itu untuk menjualnya. Dia hanya mengawasi tanpa harus memperlihatkan diri dihadapan publik.

Menetap di warung Minten di pelabuhan Jedung itu dia mendapat satu kamar yang bersebelahan dengan kamar suami isteri itu.

Selama beberapa malam dia mengetahui apa yang terjadi di kamar sebelah. Minten sering menangis mengutarakan kekesalan lantaran suaminya tidak bisa memenuhi hasrat seksnya. Dan Parto hanya bisa membujuk dan minta maaf.

Di siang hari Arjapura bisa menangkap hasrat birahi dari pancaran mata Minten saat keduanya bertatapan. Perempuan itu sering tersenyum, menawarkan makanan, melayani dan menungguinya makan.

Jika melangkah didepan Arjapura, perempuan itu sengaja melenggok memperlihatkan goyangan bokong semoknya yang dibungkus sewek ketat. Jika berbicara soal barang dagangan, perempuan bernama Minten itu sengaja menatapnya dengan pandangan berbinar atau menggerakkan mulutnya dengan genit.

Terbersit akal licik Arjapura.

Menggunakan tenaga batinnya yang sudah mencapai taraf tinggi dia menyalurkan sihir memengaruhi pikiran Minten.

Fantasi perempuan usia duapuluhenam tahun itu mulai melihat kejantanan tetamunya. Dia gelisah dan makin gelisah, hasrat seksnya makin membakar akal sehatnya setiap bertatap muka dengan Arjapura.

Hari itu ketika Parto menjaja barang dagangan ke beberapa desa tetangga, Minten menggoda dan memancing tetamunya. Arjapura tak menyia-siakan peluang yang sudah ditunggu-tunggu, menarik Minten masuk kamarnya.

Beberapa hari setelah perselingkuhan itu, Parto kedapatan mati ditepi kali Porong. Sejak hari itu Arjapura menjadi suami Minten. Tidak perlu ada pesta kawin atau keramaian, orang-orang pun tidak perduli apakah itu suami isteri resmi atau tidak resmi.

Rencana pertama Arjapura sudah terlaksana, menetap di suatu tempat dimana dia bisa memantau kegiatan pelabuhan Jedung, mengetahui masuk keluarnya kapal layar. Dengan demikian dia bisa memantau kepulangan rombongan Yudistira ke Himalaya.

Dia memang menanti saat yang tepat untuk mulai membunuh anak-isteri Wisang Geni, saat dimana keluarga Yudistira tidak lagi kumpul bersama. Target utamanya adalah anak-isteri Wisang Geni, setelah itu baru membunuh musuh besar pembunuh putranya itu.

Untuk membunuh keluarga Wisang Geni, dia harus menunggu saat Yudistira pulang ke Himalaya. Dia tak mau bentrok dengan pendekar Himalaya itu yang sesungguhnya adalah sahabatnya. Meskipun kini merasa mampu mengalahkan Yudistira namun dia merasa tidak bermanfaat bentrok dengan Yudistira.

Dia hanya menginginkan nyawa Wisang Geni, isteri dan anak-anaknya. Dan satu-satunya jalan aman memuluskan rencananya jika rombongan keluarga Yudistira sudah pulang. Dia menunggu saat yang tepat.

“Aku harus sabar. Menunggu saat yang tepat. Sekarang aku berada di tempat gelap, tidak seorang pun tahu siapa aku, Minten pun tidak pernah tahu aku memiliki ilmu-silat tinggi, dikiranya aku pedagang biasa.” Itulah rencananya.

Pada waktu-waktu tertentu dimana air laut pasang dan topan mengamuk di samudera luas, tidak akan ada perahu besar datang atau berangkat meninggalkan pelabuhan Jedung. Saat itu, untuk menjual barang dagangannya dia bersama isterinya pergi ke desa-desa di sekitar. Mereka menggunakan jasa orang-orang Brantas sebagai pengawal dan penunjuk jalan. Dia merasa perlu mengetahui dan mengenal jalanan di tanah Jawa.

Suatu hari mereka tiba di desa Sadayu, tidak jauh dari kaki gunung Welirang.

Dini hari itu setelah bercinta dengan Minten, dia berpesan pada isterinya. “Aku harus pergi ke suatu tempat, ada yang harus kukerjakan. Nanti malam aku sudah kembali.”

Pagi itu Arjapura melakukan perjalanan cepat ke lereng gunung Welirang, dia sudah punya gambaran tempat tinggal Wisang Geni dan keluarga Yudistira dari cerita sepasang suami isteri murid Yudistira itu.

continue no 2 (will be publish 17 June 2011)