Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 54
Before :
Malam itu diserambi rumah Padeksa berkumpul para murid. Wisang Geni telah memilih duapuluh murid yang boleh ikut dengannya ke Jedung.
“Besok pagi kita berangkat. Kita ke Welirang lebih dahulu.” Tegas Wisang Geni.
Tiba-tiba timbul kegembiraan Padeksa. Dia berdiri. “Ayo Geni kita latihan, aku ingin melatih jurusku yang baru.”
“Sejak kapan kakek berlatih, apa nama jurus barumu?” Tanya Wisang Geni.
“Sudah tiga tahun lebih jurus ini kusempurnakan, ada yang mengganjel yang sulit kutembus. Baru satu purnama lalu aku berhasil menyempurnakan berkat bantuan isteriku.” Padeksa memandang Wisang Geni dan para murid dengan mimik lucu.
Para murid tak berani gegabah bertanya, tidak demikian dengan Wisang Geni. “Kek, benarkah kamu beristeri?”
“Pikirmu hanya kamu yang bisa malang-melintang mendapatkan isteri, aku juga bisa tak perduli usiaku sudah lanjut. Satu tahun lalu aku bertemu dengan Gamol.”
“Ah kakek semangatmu masih muda. Mana isterimu, tinggalnya dimana?”
Padeksa tertawa . “Satu tahun lalu aku menolongnya dari kekejaman gerombolan perampok, suami, dua anaknya, mertua, ibu bapaknya, semua mati terbunuh. Mereka hendak memerkosanya, tapi aku kebetulan datang menolongnya. Sejak hari itu dia tak mau berpisah denganku, aku mengantarnya ke rumah pamannya. Aku mengawininya disana dan dia berjanji menjadi isteri setia.”
“Dia tinggal dimana?”
“Disini, di rumah ini.” Padeksa tertawa melihat semua muridnya bingung.
Padeksa melanjutkan penuturannya. “Dia tak mau keluar rumah, tak mau bertemu orang, dia hanya mengurung diri di kamar belakang. Semua ada disini, sumur, dapur ada dibelakang. Jadi tidak masalah jika dia mengurung diri di rumah, berlaku sebagai isteri yang melayani suaminya.”
Semua terdiam.
“Sebenarnya itu terkait kawulnya. Bahwa dia mau bertemu para murid jika aku sudah menyelesaikan jurusku, hal ini melecut semangatku. Dan selama melatih jurus baruku itu dia membantuku dengan pemikirannya yang cerdas.” Tutur Padeksa.
“Waktu itu paman Gajah Watu tinggal dimana?” Desak Wisang Geni.
“Dimas Gajah Watu mengenal isteriku. Karenanya dia mengalah, rela tinggal di luar, entah dimana, mungkin didesa dekat sini, sebab tidak mungkin dia tinggal disini bersama aku dan isteriku. Tiap pagi atau siang dia datang, malam hari pergi, dia tahu aku sedang melatih garudamukha yang baru, malah dia membantu menjadi semacam lawan tanding.” Padeksa menghela nafas duka. “Ah sayang dia tewas mendahului aku, kalau tidak bukankah dia akan gembira melihat keberhasilanku?”
“Selama satu tahun isterimu tidak pernah keluar rumah?” Gayatri memotong ingin tahu. Sebenarnya suatu hari dia pernah mendengar lamat-lamat seperti suara wanita dari dalam rumah, namun waktu itu dia tak berani menanyakan.
Padeksa menggeleng. “Kadang aku membawa isteriku pergi, pesiar ke desa-desa selama beberapa hari, lalu balik kembali.”
“Hebat kamu Kek, kamu pergi pulang tak seorangpun melihatmu?” Potong Dyah Mekar yang duduk disamping Prastawana.
“Tengah malam gulita, aku menggunakan ringan-tubuh, maka tak seorang murid pun yang melihatku. Esok harinya kalian baru tahu aku tak ada di rumah.”
“Kek, mana isterimu, ajak dia keluar, kita mau kenalan.”
“Sekarang sudah waktunya dia bertemu kalian jurusku sudah rampung.” Padeksa memanggil isterinya. “Gamol… silahkan keluar, para murid ingin kenalan.”
Terdengar suara merdu dari dalam. “Tunggu sebentar, kangmas.”
Para murid menanti dengan penuh keinginan-tahu.
Tak lama kemudian terdengar langkah ringan. Lalu muncul seorang wanita usia tigapuluhan. Parasnya cantik dengan potongan tubuh agak gemuk namun masih tampak langsing. Dia mengenakan celana sebatas lutut, pinggulnya dibalut sewek. Kebayanya yang longgar tak sanggup menyembunyikan dadanya yang montok. Dia merunduk malu-malu.
Mereka berkenalan. “Namaku Gamol, nama asliku sudah kulupakan, Gamol itu nama pemberian kangmas Padeksa.” Katanya lirih.
Atis menoleh kepada Gayatri. “Mbakyu, benar katamu waktu itu. Kau mendengar suara tawa wanita, lirih, aku membantahmu karena aku tidak mendengar. Waktu itu kakek masih didalam rumah, pasti suara mbakyu Gamol.”
“Ayo Geni, aku mau menguji jurus baru ini. Gamol yang menamai jurus ini garudamukha pamungkas. Terdiri dari lima jurus yang jika dimainkan bisa memecah menjadi limapuluh jurus yang berbeda, satu antaranya dinamai Gamol “kinambulan” karena diciptakan khusus jika dikerumuni banyak lawan.” Tutur Padeksa.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
“Dimana paman guru melatihnya, kita tak pernah tahu?” Tukas Prastawana.
“Hanya Dimas Gajah Watu yang tahu rahasia ini, itupun tidak tahu banyak. Aku berlatih di rumah dalam gerak lambat yang aku proses dalam benak. Begitu sudah mencapai kesempurnaan lalu kucoba dalam gerak tarung dialam terbuka, waktunya tengah malam diluar desa. Pada proses itu terjadi perubahan dan penyempurnaan. Kemudian aku mengulang lagi proses dalam benak. Demikian terus-menerus, aku hampir putus asa. Sampai ketika Gamol membantuku. Dalam enam bulan terakhir jurus itu sudah lengkap. Enam bulan berikutnya adalah proses pematangan, penyatuan dalam gerak dan pikiran. Inilah gabungan fisik duabelas jurus garudamukha dan tujuh jurus garudamukha prasidha. Tenaga-dalamnya murni tenaga garudamukha.” Tutur Padeksa bangga.
Semua berbondong menuju lapangan terbuka. Para murid membuat lingkaran besar, ditengahnya kosong. Padeksa berdiri dengan anggun. Sosok Padeksa yang dulu sering semedi dan jarang memperlihatkan gerak silatnya, kini berubah. Yang tampak seorang laki-laki tua angker dan berwibawa.
“Kamu jangan segan-segan. Karena aku tak akan menahan diri, aku akan gunakan jurus dan tenaga sebagaimana mestinya.” Kata Padeksa yang langsung menyerang.
“Baik,” Seru Wisang Geni.
Dalam sekejap terjadi tarung hebat. Keduanya bergerak dalam jurus yang hampir serupa. Padeksa menggelar “manusup” (menyelinap), “Angluputana” (membebaskan) dua jurus garudamukha tapi yang mirip dengan “prasadha atishasha” (menara tinggi) dan “akwamatyana” (membunuh).
Jurus-jurus itu tidak asing bagi Wisang Geni, namun hampir dia terkecoh ketika jurus itu berubah drastis menjadi gerak yang hampir tak masuk akal bisa dilakukan seorang pesilat. Tapi itulah kenyataannya. Wisang Geni terdorong mundur, dia terpaksa menangkis menggunakan wiwaha yang tidak sepenuhnya dengan jurus gabungan “aniladawut” (angin dan cabut), “agniwisa” (bisa api) dengan sikap “raga” (nafsu birahi) dan “kamuka” (jatuhcnta) itulah jurus penakluk raja.
Akibatnya fatal. “Dassss…. Buuukkk….”
Wisang Geni hanya sanggup menangkis satu pukulan, berikutnya tangan Padeksa menerobos membentur dada kanannya. Darahnya bergolak, saat berikut dia merasa darah meleleh di ujung mulutnya.
Wisang Geni terluka.
Padeksa berhenti menyerang. “Geni, kamu tidak menggunakan tenaga penuh, aku pun hanya gunakan tujuh bagian tenagaku. Itu sebab kamu terluka.”
Wisang Geni diam, tenaga wiwaha-dingin dikerahkan berputar-putar segenap tubuhnya dan menetralisir bagian dadanya. Beberapa saat kemudian dia merasa baikan. “”Kek, mari lanjutkan, akan kugunakan tenaga penuh dan jurus baru lalawa mengepak sayap menembus awan, hati-hati Kek.”
“Bagus juga, kita lihat jurus asli garudamukha atau jurusmu dari gurumu yang sudah mati, mana yang lebih unggul.” Suara Padeksa dingin.
Seketika itu tarung berlanjut dan berkembang menjadi seru. Dua pihak menyerang dengan jurus mematikan. “Daasssss …. Daaassss…. Daaassss…”
Berulangkali terjadi benturan tenaga, Wisang Geni masih melayang-layang di udara dengan jurus lalawa, dilain pihak Padeksa tak kalah trengginas, menggeliat dan balas menyerang.
Beberapa kali dua pukulan beradu, keduanya sama kuat. Wisang Geni kaget, tak pernah disangkanya tenaga-dalam sang kakek begitu tinggi, tenaga wiwaha yang selama ini jarang menemui tandingan kali ini terbentur lawan imbang.
Jurus silat ciptaan Padeksa yang baru, tampak aneh. Ada kemiripan dengan garudamukha dan prasidha yang asli namun memecah dalam gerakan yang aneh dan membingungkan. Hal ini membuat Wisang Geni berulangkali terpukul mundur.
Tanpa terasa limapuluh jurus berlalu, kedua pendekar semakin dikuasai emosi. Tak ada yang mau mengalah.
Para murid kebingungan. Mereka tahu lebih lama tarung berlangsung salah satu akan terluka parah. Siapapun yang terluka, tak ada yang menang. Karena keduanya sama-sama petinggi Lemah Tulis.
Prastawana dan Dipta saling pandang dan memberi isyarat. Tiba-tiba dua pendekar ini melompat melayang memasuki arena tarung, sambil teriak. “Berhenti, kalau dilanjutkan biarlah kami berdua yang jadi korban!”
Padeksa dan Wisang Geni melihat dua bayangan masuk gelanggang, persis ditengah-tengah. Jika tarung berlanjut dan pukulan tak dihentikan maka dipastikan dua pendekar itu akan menjadi korban kena gebuk.
Saat itu juga Padeksa dan Wisang Geni melompat mundur.
Padeksa berdiri dengan tegar, nafasnya normal. Tak ada tanda letih. Hanya keringat membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Begitu juga Wisang Geni.
“Ha… ha…ha… aku puas. Paling tidak kalian para murid Lemah Tulis tahu bukti hebatnya garudamukha dan jurus-jurus turunannya.” Kata Padeksa sambil menatap tajam Wisang Geni yang pernah jadi muridnya meskipun memanggil kakek.
Wisang Geni mengerti seketika maksud kakeknya. Dia pun berlutut. “Kakek, aku mengerti aku telah salah jalan. Ampuni aku. Mataku terbuka melihat kehebatan jurus garudamukha milik perguruan kita, lebih ampuh dibanding jurus lain yang kupelajari, tetapi kakek, aku tak mungkin memusnahkan jurus lain yang telah kupelajari.”
Padeksa tertawa. “Memang tampaknya kamu bodoh tetapi sebenarnya kamu cerdas, bisa mengerti maksud tujuanku. Aku tidak memaksa kamu melupakan jurus lalawa, tetapi sekadar memberitahu para murid hebatnya garudamukha. Jurus Lemah Tulis ini begitu hebat dan agungnya sehingga pantas dan layak dipelajari seumur hidup kita.”
Para murid semuanya duduk sila-sungkem dibelakang Wisang Geni. Mereka berjanji akan rajin dan seksama mempelajari warisan Lemah Tulis itu.
Wisang Geni maju dan memeluk kaki kakeknya. “Ampuni aku Kek, selama ini aku lupa daratan, seringkali menyinggung perasaanmu. Aku berjanji tak akan pernah berbuat kesalahan yang sama.”
Padeksa berkata lirih. “Bangun Geni. Ada saatnya kakek memberimu pelajaran agar sifat temberang dan kesombonganmu berkurang. Kamu harus lebih penyayang bahkan terhadap musuhmu juga. Karena tidak semua musuh itu jahat dan pantas dibunuh, ada juga musuh yang tidak jahat dan kita tarung dengannya hanya karena berbeda pendapat atau berada di kelompok berseberangan.”
Pertemuan bubar. Para murid kembali ke tempat masing-masing untuk persiapkan diri berangkat esok hari mengikuti petualangan sang ketua. Didalam hati mereka takjub melihat peragaan kanuragan kakek Padeksa.
Prastawana yang melangkah bersama teman-temannya berkata. “Kupikir aku makin bodoh dan mundur. Melihat tarung tadi, aku bertanya-tanya berapa lama bisa mencapai tingkat sehebat itu. Sungguh berdosa, selama ini aku salah duga batas kemampuan paman guru Padeksa. Tingkatnya tak terukur, jelas diatas kelas paman Gajah Watu.”
“Ternyata garudamukha jurus pusaka Lemah Tulis yang selama ini kita pelajari, memiliki bobot yang sulit diukur, untuk mengembangkan menjadi jurus-jurus hebat tergantung pada kemampuan kita masing-masing.” Tukas Gajah Lengar.
“Kita yang bodoh, karena tidak mengembangkan diri. Tampaknya kita harus lebih serius berlatih.” Potong Dipta.
Sebagian para murid masih belum mau memejam mata. Dirumah masing-masing mereka membayang kembali jurus-jurus yang diperagakan Padeksa, merekam di ingatan agar tidak hilang begitu saja.
Continue published 55 / August 24th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.