PSSI, Korsel Dan Piala Dunia
Oleh : John Halmahera
(Artikel ini dipublished 26 April 2006)
Korea Selatan, sudah 7 kali partisipasi di
Piala Dunia, terbanyak di antara semua negara
Asia. Tahun 1954 di Swiss, adalah debut yang
mungkin bisa dikatakan kebetulan.
Lima lainnya sukses beruntun. Sepertinya sudah
menjadi target utama persepakbolaan negeri
ginseng itu. Tahun 1954 Korsel urutan 16 dari
16 peserta, tahun 1986 (urutan 20 dari 24),
1990 (22), 1994 (20), 1998 (30 dari 32),
2002 (4 dari 32) dan 2006.
Korsel lolos tahun 1986 ada kaitannya dengan
timnas Indonesia. Tim merah putih waktu itu
dilatih Sinyo Aliandoe dengan proyek officer
Acub Zaenal dan tim manajer mendiang
Benny Mulyono.
Timnas sukses juara sub-grup 3b zone Asia
mengatasi perlawanan Thailand, Bangladesh
dan India, prestasi yang membanggakan.
Indonesia kemudian harus laga dengan Korsel
untuk lolos ke semifinal zone Asia, dan kita
kalah telak 0-2 di Seoul dan 1-4 di Senayan.
Timnas kita memang kalah di semua aspek. Korsel
yang ditukangi Kim Jung-nam sudah satu kelas
diatas kita. Tidak mudah memang untuk lolos
ke Piala Dunia.
Untuk menuju ke Piala Dunia, kita sudah harus
masuk ke jajaran “high level football” katakan
saja sebagai standar international yang paling
“bottom”. Memperbanyak pengalaman tanding
dengan tim Eropa dan Latin, adalah salah satu
bagian dari proses panjang dan terencana itu.
Saya pikir rencana dan “blue-print” KFA Federasi
Sepakbola Korea untuk menembus pentas
international, dimulai sejak tahun 1977 atau
sekitar tahun itu. Jelasnya, hampir bersamaan
dengan langkah FIFA membantu anggotanya
mengembangkan sepakbola ilmiah.
Hampir semua pelatih kelas dunia yang sukses
sekarang ini jebolan dari Akademi Kepelatihan
FIFA yang disebar ke semua pelosok dunia.
Indonesia khususnya Jakarta mendapat kesempatan
menyelenggarakan program pelatih ini,
kalau tak salah tahun 1981.
Hasilnya tidak bisa instan. Jika dikerjakan
bersinambungan dalam satu organisasi
dari satu kepengurusan ke kepengurusan berikut
maka diperlukan sekitar dua dekade untuk
memetik hasilnya. Dan hasilnya itu tidak
langsung menembus Piala Dunia, tetapi sekedar
punya peluang sama dengan negara lain untuk
lolos kualifikasi.
KFA (PSSI-nya Korsel) mulai memetik hasil
10 tahun ke depan, tahun 1986 lolos ke Mexico’86.
Mereka sukses dengan materi pemain berusia lebih
kurang 15 tahun pada saat proyek besar itu
dimulai, generasi Choi Soon-yo Cs. Pemain
yang berusia 13 tahun, 11 tahun, 9 tahun dst-nya
menjadi pelapis di belakang generasi pertama itu.
Materi Korsel yang semifinalis PD 2002 asuhan
Guus Hiddink seperti Ahn Jung-hwan, Kim Nam-il,
Lee Young-po kelahiran 1977 masih baru lahir
ketika proyek itu dimulai.
Lee Woon-jae, kiper perkasa itu masih berusia 4
atau 5 tahun waktu itu. Kim Tae-young dan
Hong Myung-bo berusia 7 tahun waktu itu.
KFA bebenah di segala sektor untuk mempersiapkan
konstelasi sepakbola yang bisa mendukung program
menembus highlevel football itu.
Klub-klub wajib mendidik pemain usia dini.
Perusahaan dilibatkan dalam membangun stadion.
Ajang kompetisi berlapis-lapis dari tingkat yunior
di daerah, pusat sampai ke kompetisi liga
professional. Semua anak-anak berusia dini itu,
seakan masuk ke jalan tol atau
“saluran berjenjang” sampai menembus “high level”.
Yang punya bakat bisa terus, yang cidera atau
tidak berbakat akan terhenti.
Brasil, Argentina, Perancis, Inggris, Jerman,
Italia, Spanyol bahkan negara “mediocre” (dalam
ukuran sepakbola) seperti Turki, Yunani, Kamerun,
Nigeria, Senegal memulai proyek besar ini sejak
dua dekade lalu. Lihat saja kemajuan Korsel,
Jepang, Saudi Arabia, Iran, Cina, Turki,
Senegal, Kosta Rika.
Sebenarnya kita sudah hampir masuk ke persaingan
“high level football” (tahun 1985) namun sayang
belakangan kita semakin tertinggal. Kita tidak
sabar dan tidak konsisten dalam upaya
meningkatkan kualitas sepakbola kita menuju
pentas high level football.
Suatu proyek besar memang tidak bisa menghasilkan
prestasi instan, tetapi baru bisa dipetik
hasilnya sekitar satu-dua dekade ke depan.
Jika kita mau menuju high-level football,
kita perlu merancang “blue print” dari suatu
mega proyek yang harus didukung pemerintah.
Mulai dengan pemain usia dini, dan saat
bersamaan membangun lapangan dan stadion
ukuran internasional, klub harus dengan
manajemen professional, kompetisi berjenjang
dari usia dini sampai ke tingkat professional.
PSSI khususnya Pengda dan Klub harus lebih
fokus menuju “high-level football”. ***
Sunday, April 13, 2008
Menerobos “High Level Football” (1)
Oleh : John Halmahera
Artikel ini ditulis pada 18 September 2002
Sepakbola Nasional belakangan ini mendapatkan
pukulan beruntun. Di Pra Piala Dunia, Timnas
kita yang dilatih Benny Dolo kalah dari Cina.
Hal ini bisa dimaklumi dan sesuai prediksi
mengingat Cina adalah tim yang satu kelas
di atas kita. Bahkan untuk imbang saja, hampir
mustahil jika kita tanpa persiapan yang ekstra
profesional.
Saya ingin menggarisbawahi “ekstra profesional”
sebagai suatu upaya kerja oleh orang-orang
profesional dan upaya itu dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh luar biasa.
Artinya disini terlibat orang-orang profesional yang
kualifaid dan yang bekerja sangat keras. Mereka
harus punya kredibilitas dan track-record yang tidak
sampai mendatangkan pro kontra di kalangan pers
dan publik.
Tentang pro dan kontra di publik saya ambil contoh
misalnya, kasus penggantian Dino Zoff oleh
Alberto Zaccheroni di klub Lazio baru-baru ini.
Sebelumnya Zoff pernah sukses dengan Lazio,
sebaliknya Zacheroni pernah gagal di AC Milan
(musim 2000-2001).
Publik menilai –dalam hal ini penilaian sudah berjalan
segaris dengan evaluasi tim Lazio sendiri- bahwa Zoff
tak lagi bisa menghendel Lazio. Harus diganti meskipun
rekor Zoff sebelumnya begitu prestisius baik di Lazio
maupun di tim Azzurri.
Sebagai penggantinya, Zaccheroni meski pun gagal
musim keduanya di AC Milan namun di musim
pertamanya (musim 1999-2000) bersama AC Milan
dia mendatangkan gelar scudetto.
Sosok kredibilitas Zach sebagai pelatih tak perlu
diragukan. Rekornya jelas dan nyata, hitam di atas
putih. Maka rekrutmen ini bisa diterima publik.
Kembali ke Timnas kita. Perlunya penanganan yang
ekstra profesional adalah upaya kita untuk bisa
menerobos dan masuk ke jajaran sepakbola kelas elit
atau yang biasa diistilahkan “high-level football”. Dari
Asia Tenggara sekarang ini saya nilai baru Thailand
yang sudah masuk ke high-level football. Anda akan
mengakui penilaian saya jika melihat penampilan
Thailand ketika main sama-kuat dengan Iran 0-0 di
Bangkok dalam PPD September 2001 kemarin. Dan
melihat seriusnya Vietnam menangani sepakbola-nya
decade akhir ini, saya hampir yakin negeri ini akan
masuk ke high-level football dalam 5 tahun mendatang.
Korea, Iran, Saudi Arabia, sudah masuk ke level ini
sejak awal 90-an. Kemudian lima tahun berikutnya,
Jepang menyusul. Kini Cina sudah mulai masuk ke
level itu setelah penanganan ekstra profesional oleh
Federasi Sepakbola Cina yang antaranya mengontrak
Bora Milutiniovic.
Federasi Cina punya perhitungan tepat, rekor Bora
yang selalu membawa tim mediocre lolos ke Piala Dunia,
ternyata merupakan kunci penentuan sukses Cina lolos
ke Piala Dunia 2002.
Mereka ini, Iran, Saudi, Korea, Jepang, sudah punya
standar yang katakan saja baku di sepakbola internasional.
Misalnya, jika Korea Selatan ketemu satu diantara
Malaysia atau Singapura atau Indonesia atau Bahrain
atau Yaman, standar penilaian menempatkan Korea
sebagai pemenang. Dan standar penilaian ini tak
berubah-ubah. Apa sebab ?
Jawabannya sederhana, sekali negeri itu masuk ke
high-level atau international competition (persaingan
internasional) maka tak ada lagi kata kemerosotan
kualitas secara drastis.
Satu contoh, Saudi Arabia yang terseok-seok
ditangani pelatih Slobodan Santrac lalu bisa kembali
menggigit dan berprestasi setelah digantikan Al-Johar.
Apa sebab ?
Jawabannya sederhana, bahwa semua pemain Saudi
itu sudah “dewasa” dan “terbiasa” bermain di tingkat
“high level football” sehingga untuk kembali ke standar
permainan timnya, tidaklah sulit. Selain itu, secara tim,
Saudi juga sudah punya “trade” dan standar yang tidak
dipungkiri sudah berada di level papan atas Asia.
Dan seperti juga Korea, Iran, dan Jepang, standar
kualita ini tak berbeda kelas dibanding tim-tim mediocre
Eropa, Afrika ataupun dari benua Amerika.
Kita tentu masih ingat, waktu Iran mengalahkan AS di
Piala Dunia 1998 atau Saudi mengungguli Belgia di Piala
Dunia 1994 atau Jepang yang membungkam Brasil di
Olimpiade Atlanta 1996.
Bukti lain, lihat pemain-pemain Asia yang bisa main dan
eksis di persaingan kompetisi seri-A Italia, Inggris, Spanyol,
hampir semuanya berasal dari negara yang sepakbolanya
sudah menerobos “high level football”.
Jika ada satu dua pemain seperti Fandi Ahmad, Bima Sakti
dan dulu itu Iswadi, Junaedi Abdillah, maka itu hanya satu
perkecualian yang didukung banyak faktor individual.
Karena yang pasti, suatu negara yang sudah masuk
‘high-level football” secara otomatis sebagian pemain
bintangnya akan dilirik dan dan dikontrak klub-klub Eropa.
Hal itu menjadi lumrah disebabkan pemain-pemain itu
sudah dewasa dan terbiasa main di tingkat “high level”
yang bobot kompetisinya sangat, sangat, sangat ketat.
Persoalan di sepakbola nasional sekarang ini, adalah
tidak-mampunya kita membentuk Timnas yang kredibel
dan eksis di mata publik. Kegagalan Timnas U-23 di SEA
Games kemarin ini, hanya menang atas Vietnam (ini
prestasi bagus) dan Brunei (hal yang biasa) dan kalah
dari Malaysia, Thailand serta Myanmar adalah pukulan
keras bagi persepakbolaan kita. Bahwa kalah dari
Thailand meski saya harus mengakuinya sebagai bukan
kekalahan dari persepakbolaan kita, namun masih bisa
diterima. Tetapi kalah dari Malaysia dan Myanmar
adalah “set-back”.
Sepakbola ini memang cuma tahu “hitam atas putih”.
Catatan sepakbola tak pernah menulis wasit
kontroversial, teror publik, cedera pemain atau
alasan-alasan lain kendatipun alasan itu fakta.
Sepakbola cuma menulis, Indonesia kalah 1-2 dari
Malaysia dan takluk 0-1 dari Myanmar. Dua negara
ini sudah lama tak pernah menang jika ketemu
Indonesia di arena apa pun. Itu yang ditulis
sepakbola, pahit memang pahit.
(bersambung)
Oleh : John Halmahera
Artikel ini ditulis pada 18 September 2002
Sepakbola Nasional belakangan ini mendapatkan
pukulan beruntun. Di Pra Piala Dunia, Timnas
kita yang dilatih Benny Dolo kalah dari Cina.
Hal ini bisa dimaklumi dan sesuai prediksi
mengingat Cina adalah tim yang satu kelas
di atas kita. Bahkan untuk imbang saja, hampir
mustahil jika kita tanpa persiapan yang ekstra
profesional.
Saya ingin menggarisbawahi “ekstra profesional”
sebagai suatu upaya kerja oleh orang-orang
profesional dan upaya itu dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh luar biasa.
Artinya disini terlibat orang-orang profesional yang
kualifaid dan yang bekerja sangat keras. Mereka
harus punya kredibilitas dan track-record yang tidak
sampai mendatangkan pro kontra di kalangan pers
dan publik.
Tentang pro dan kontra di publik saya ambil contoh
misalnya, kasus penggantian Dino Zoff oleh
Alberto Zaccheroni di klub Lazio baru-baru ini.
Sebelumnya Zoff pernah sukses dengan Lazio,
sebaliknya Zacheroni pernah gagal di AC Milan
(musim 2000-2001).
Publik menilai –dalam hal ini penilaian sudah berjalan
segaris dengan evaluasi tim Lazio sendiri- bahwa Zoff
tak lagi bisa menghendel Lazio. Harus diganti meskipun
rekor Zoff sebelumnya begitu prestisius baik di Lazio
maupun di tim Azzurri.
Sebagai penggantinya, Zaccheroni meski pun gagal
musim keduanya di AC Milan namun di musim
pertamanya (musim 1999-2000) bersama AC Milan
dia mendatangkan gelar scudetto.
Sosok kredibilitas Zach sebagai pelatih tak perlu
diragukan. Rekornya jelas dan nyata, hitam di atas
putih. Maka rekrutmen ini bisa diterima publik.
Kembali ke Timnas kita. Perlunya penanganan yang
ekstra profesional adalah upaya kita untuk bisa
menerobos dan masuk ke jajaran sepakbola kelas elit
atau yang biasa diistilahkan “high-level football”. Dari
Asia Tenggara sekarang ini saya nilai baru Thailand
yang sudah masuk ke high-level football. Anda akan
mengakui penilaian saya jika melihat penampilan
Thailand ketika main sama-kuat dengan Iran 0-0 di
Bangkok dalam PPD September 2001 kemarin. Dan
melihat seriusnya Vietnam menangani sepakbola-nya
decade akhir ini, saya hampir yakin negeri ini akan
masuk ke high-level football dalam 5 tahun mendatang.
Korea, Iran, Saudi Arabia, sudah masuk ke level ini
sejak awal 90-an. Kemudian lima tahun berikutnya,
Jepang menyusul. Kini Cina sudah mulai masuk ke
level itu setelah penanganan ekstra profesional oleh
Federasi Sepakbola Cina yang antaranya mengontrak
Bora Milutiniovic.
Federasi Cina punya perhitungan tepat, rekor Bora
yang selalu membawa tim mediocre lolos ke Piala Dunia,
ternyata merupakan kunci penentuan sukses Cina lolos
ke Piala Dunia 2002.
Mereka ini, Iran, Saudi, Korea, Jepang, sudah punya
standar yang katakan saja baku di sepakbola internasional.
Misalnya, jika Korea Selatan ketemu satu diantara
Malaysia atau Singapura atau Indonesia atau Bahrain
atau Yaman, standar penilaian menempatkan Korea
sebagai pemenang. Dan standar penilaian ini tak
berubah-ubah. Apa sebab ?
Jawabannya sederhana, sekali negeri itu masuk ke
high-level atau international competition (persaingan
internasional) maka tak ada lagi kata kemerosotan
kualitas secara drastis.
Satu contoh, Saudi Arabia yang terseok-seok
ditangani pelatih Slobodan Santrac lalu bisa kembali
menggigit dan berprestasi setelah digantikan Al-Johar.
Apa sebab ?
Jawabannya sederhana, bahwa semua pemain Saudi
itu sudah “dewasa” dan “terbiasa” bermain di tingkat
“high level football” sehingga untuk kembali ke standar
permainan timnya, tidaklah sulit. Selain itu, secara tim,
Saudi juga sudah punya “trade” dan standar yang tidak
dipungkiri sudah berada di level papan atas Asia.
Dan seperti juga Korea, Iran, dan Jepang, standar
kualita ini tak berbeda kelas dibanding tim-tim mediocre
Eropa, Afrika ataupun dari benua Amerika.
Kita tentu masih ingat, waktu Iran mengalahkan AS di
Piala Dunia 1998 atau Saudi mengungguli Belgia di Piala
Dunia 1994 atau Jepang yang membungkam Brasil di
Olimpiade Atlanta 1996.
Bukti lain, lihat pemain-pemain Asia yang bisa main dan
eksis di persaingan kompetisi seri-A Italia, Inggris, Spanyol,
hampir semuanya berasal dari negara yang sepakbolanya
sudah menerobos “high level football”.
Jika ada satu dua pemain seperti Fandi Ahmad, Bima Sakti
dan dulu itu Iswadi, Junaedi Abdillah, maka itu hanya satu
perkecualian yang didukung banyak faktor individual.
Karena yang pasti, suatu negara yang sudah masuk
‘high-level football” secara otomatis sebagian pemain
bintangnya akan dilirik dan dan dikontrak klub-klub Eropa.
Hal itu menjadi lumrah disebabkan pemain-pemain itu
sudah dewasa dan terbiasa main di tingkat “high level”
yang bobot kompetisinya sangat, sangat, sangat ketat.
Persoalan di sepakbola nasional sekarang ini, adalah
tidak-mampunya kita membentuk Timnas yang kredibel
dan eksis di mata publik. Kegagalan Timnas U-23 di SEA
Games kemarin ini, hanya menang atas Vietnam (ini
prestasi bagus) dan Brunei (hal yang biasa) dan kalah
dari Malaysia, Thailand serta Myanmar adalah pukulan
keras bagi persepakbolaan kita. Bahwa kalah dari
Thailand meski saya harus mengakuinya sebagai bukan
kekalahan dari persepakbolaan kita, namun masih bisa
diterima. Tetapi kalah dari Malaysia dan Myanmar
adalah “set-back”.
Sepakbola ini memang cuma tahu “hitam atas putih”.
Catatan sepakbola tak pernah menulis wasit
kontroversial, teror publik, cedera pemain atau
alasan-alasan lain kendatipun alasan itu fakta.
Sepakbola cuma menulis, Indonesia kalah 1-2 dari
Malaysia dan takluk 0-1 dari Myanmar. Dua negara
ini sudah lama tak pernah menang jika ketemu
Indonesia di arena apa pun. Itu yang ditulis
sepakbola, pahit memang pahit.
(bersambung)
JEJAK MUHAMMAD ALI (Bagian 6)
RAMALAN RONDE TIGA,
ALI SI KUPU-KUPU AKAN MATI !
FOREMAN SI ELANG AKAN TERBANG
Oleh : John Halmahera
(Saduran bebas dari buku “Ali The Greatest”)
Bundini Brown dan Angelo Dundee berteriak dari bawah.
Suaranya tegang. “Dance Champ, Dance ! Float Like A
Butterfly, Sting Like A Bee !”
Sementara penonton Zaire, yang hampir seluruhnya
mendukung Ali, ikut memberi semangat. “Ali Bomaye !
Ali Bomaye !”
Ali tahu arti kata “bomaye”, hancurkan dia, pukul dia
jatuh bahkan bisa berarti “bunuh dia”. Orang-orang
Afrika itu masih saja yakin bahwa Ali akan menang,
meskipun di ronde satu sudah tampak betapa
perkasanya Foreman.
Mengawali ronde dua, Ali langsung bergerak mundur
dan bersandar di tali. Kata Ali dalam bukunya “the
Greatest”, tentang taktiknya ini. “Untuk pertama
kalinya dalam karirku, aku memilih bersandar di ring
pada saat aku masih kuat dan memiliki stamina.
Biasanya aku main di tali, pada saat tenaga ku sudah
terkuras, kali ini tidak begitu. Aku memutuskan
taktik inilah yang bisa mengatasi langkah-potong
Foreman yang dengan 3 langkah memaksa aku
bergerak 6 langkah, sesuatu yang bisa membuat
aku habis karena terkuras stamina.”
Ali bersandar di tali.
Bundini dan Dundee berteriak, “Ali keluar dari situ,
menari, bergerak ke tengah ring !”
Tetapi Ali tetap bersandar ke tali. Ini memancing
Foreman yang dengan antusias dan nafsu menyerbu
ke Ali.
“Ayo, Tolol ! Mainkan senjata milikmu,” goda Ali.
Beberapa pukulan Foreman melayang. Ali bertahan
memblok dangan siku dan tangannya. Tampak tubuh
Ali bergoyang ke sana ke mari kena imbas pukulan
keras lawan. Pukulan Foreman memang dahsyat.
“Ayo Tolol, kata orang pukulanmu keras ? …
..Benarkah itu ?”
Meskipun tetap menggoda namun di dalam hati Ali
mengakui hebatnya lawan. Tak pernah bisa
dibayangkan seorang manusia bisa memukul
sekeras itu. Foreman memang dahsyat, monster
dengan godam seberat tonase raksasa. Tetapi Ali tak
mau memperlihatkan rasa sakit atau takut. Ali tetap
menggoda dengan ocehannya.
“Ah Tolol ! Cuma sebegitu kerasnya, Nak ? Tak ada
hebatnya,” goda Ali.
“Kamu tak punya pukulan keras, kamu cuma
seekor poni (anak kuda, red), tidak lebih dari itu,
lemah dan sok jago.”
Foreman memukul lagi dengan nafsu membunuh.
Dia melepas beberapa pukulan kerasnya, yang
meskipun berhasil diblok Ali, namun tetap saja
membuat tubuh Ali dan seantero tali seputar ring,
bergoyang seperti dilanda gempa. Satu pukulan
Foreman meskipun menerpa double-cover dua
tangan Ali, berhasil menerobos dan dengan
sisa-sisa kerasnya pukulan itu menerpa kepala Ali.
Ali merasa pusing, seperti mau jatuh. Lututnya
bergetar. Ada rasa lemas yang menyerang sekujur
tubuhnya. Tetapi Ali tetap bersandar di tali dengan
dua tangan yang memblok pukulan-pukulan susulan
Foreman. Ali tetap bertahan, sementara Dundee
berteriak dari bawah ring. “Ali, bergerak, keluar
dari situ, bergerak ke tengah !”
Ali mengaku saat itu, ia mendengar sayup-sayup
suara Dundee dan Bundini, tetapi tak bisa menangkap
apa teriakannya. Ali merasa seperti sedang menuju
ke alam lain. Ada rasa pusing, matanya
berkunang-kunang. Tetapi Ali bersyukur bahwa dia
sudah pengalaman menghadapi situasi kritis
seperti ini.
Ketika lawan Ken Norton, rahangnya retak di ronde
dua, tetapi dia masih bisa bertahan sampai ronde 15.
Ketika lawan Joe Frazier (partai pertama), dia
sempat jatuh kena hook Frazier. Meskipun waktu itu
dia langsung bangkit sebelum dihitung wasit, namun
pengalaman knock-down (bukan knock-out) itu
ternyata sangat berharga di saat kritis terkena
imbas godam keras Foreman. Jika bersandar di tali,
Ali pasti sudah jatuh.
“Aku tak boleh kena pukul lagi,” begitu kata Ali.
Dia juga tahu bahwa pertahanan terbaik adalah saat
kita menyerang. Tetapi saat itu dia tak bisa
menyerang dan hanya mampu bertahan.
Pukulan ganas Foreman melanda tubuh Ali, di
rusuk, iga, dan kepala. Ali tetap bersandar di tali,
menghindar dengan irama goyangan tali, memblok
dengan tangan, dengan siku. Ali tetap bersandar di tali.
“Ali keluar dari situ, bergerak ke tengah, menari
ayo menari !” teriak keras Bundini.
Tetapi Ali tetap bersandar di tali. Dan ketika masuk
30 detik terakhir, Ali keluar dari kurungan Foreman.
Menari, menyerang dengan cepat, Ali melepas jab,
straight satu dua ke kepala si raksasa. Dan Ali tetap
tidak lupa dengan program ocehannya.
“Hei Tolol, cuma itu kemampuanmu, tak ada lagi
yang lebih keras ?” Ali sengaja tidak mau
memperlihatkan bahwa tadi itu Foreman berhasil
menyakitinya.
Ketika bel akhir ronde dua berbunyi, Ali menuju ke
sudutnya. Dia melihat Dundee, Bundini dan
orang-orang di kubunya, semuanya bingung. Mereka
bingung, melihat Ali terkurung dan dihujani begitu
banyak pukulan keras, namun mendadak di akhir
ronde dia keluar dan menari sambil melepas beberapa
pukulan ke wajah Foreman.
Tetapi di waktu jedah itu, Angelo Dundee masih saja
menasehati Ali untuk menari dan menghindari tali.
Karena itulah yang dimaui Foreman. Itu strategi kubu
Foreman, mengurung Ali di sudut atau tali ring.
Sementara di kubu Foreman, Saddler dan Archie
merasa senang, sadar bahwa taktik dan strategi
mereka sukses membuat Ali terkurung di tali.
Mereka yakin, hanya tinggal waktu saja, Ali akan
jatuh, KO. Itupun kalau nyawa Ali masih bisa selamat.
Ali konsentrasi dan tetap pada pilihannya, bersandar
di tali pada saat staminanya masih bagus. Suara dan
instruksi Dundee tidak mempengaruhi keputusannya.
Ali juga berpikir, bahwa Foreman akan mengeluarkan
semua senjata pamungkasnya di ronde tiga ini, ronde
yang merupakan target menjatuhkan Ali. Bukti
memang nyata, selama ini Foreman hampir tak
pernah bertinju lewat dari tiga ronde, semua
lawannya KO sebelum ronde tiga berakhir.
Sudag 23 petinju yang jadi korban KO, dan kini Ali
diramalkan sebagai korban KO ke-24.
Di masa jedah sebelum ronde tiga, tiba-tiba terdengar
suara keras lewat megapon.
“Ramalan di ronde tiga ! Hitungannya di ronde tiga !”
Ali melihat ke kubu Foreman, tidak ada. Dia melihat
berkeliling dan menemukan orangnya.
Elmo Henderson dengan megapon. Badut itu
adalah mantan petinju kelas berat yang kini sangat
menjagoi Foreman.
“Oh yea, oh yea, ramalannya di ronde tiga !”
Henderson sudah mengabdikan dirinya untuk
Foreman, selalu menjagoi Foreman. Sepanjang
beberapa malam dia berkeliling Hotel tempat Ali
dan juga para wartawan nginap, berteriak-teriak
dan bersyair dengan megapon :
“oh yea ! oh yea !
Hari ini, adalah saatnya !
Ramalan di ronde tiga !
George sang elang akan terbang !
Ali si kupu-kupu akan mati !”
Kemarin malam, Bundini tidak sabar. Keluar ke
pekarangan Hotel dan meneriaki Henderson.
“Hei, kamu tak akan bisa mengalahkan Ali. Pasang
uangmu di mulutmu yang besar dan kotor itu !”
Tetapi suara Henderson lebih keras, apalagi dia
menggunakan megapon. Lantas Bundini masuk
Hotel sambil ngomel, “tak mungkin bisa menang
berdebat dengan orang gila.”
Kembali ke pertarunan. Saat itu suara Henderson
terdengar jelas, “Ini ronde tiga, sekarang ini
saatnya !”Bel berbunyi :
Ronde TIGA.
Ai bergerak cepat, menari dan melepas jab-jab.
Wajah Foreman kena telak. Mata Foreman
mendelik, tetapi bergerak cepat ibarat tank
raksasa mengejar Ali. Dia menguasai area tengah
ring, menduga Ali akan datang menghampirinya
dengan menari dan jab. Tetapi Ali justru mundur
ke tali dan menggapai Foreman untuk datang.
“Baiklah sucker (maki yang kotor, red) ! Ini kan
yang kau mau, come on, man !” Ali bersuara keras.
Wasit Zack Clayton menegur Ali. “Diam kamu
Ali, sekali lagi ini peringatan terakhir,
berhenti bicara !”
Clayon seperti juga orang lain, menanti-nanti
apakah di ronde tiga ini Ali akan jatuh KO. Namun
bagi Ali, boleh saja kalah atau KO, tetapi tidak
boleh ada yang melarangnya bicara. Lalu Ali
melayangkan beberapa jab ke wajah Foreman,
sambil tetap ngoceh. “Sucker, mana
pukulanmu ? Mana ? Perlihatkan padaku !
Kamu tak ada apa-apanya !”
Para pembantu Ali berteriak dari bawah,
“Ali menjauh dari tali ! Keluar dari situ !”
Foreman melepas beberapa bom ke kepala Ali
tetapi tertahan blok double-cover,
Ali bersandar di tali. Setiap pukulan Foreman
ibarat seorang kuli bangunan yang memukulkan
palu raksasa ke sebuah tembok. Penonton yang
berada di jarak jauh, bahkan di depan layar kaca,
seperti merasakan bobot godam keras
raksasa itu. Dahsyat !
Di antara beberapa hook, Foreman melepas
uppercut yang menguak dua tangan Ali dan
menghantam dagu Ali. Sakit, Ali kesakitan,
tetapi tetap bertahan di tali.
Bundini berteriak. “Champ keluar dari situ,
bergerak keluar !”
Ali masih bersandar di tali dan Foreman tetap
memukul. Ronde tiga sepertinya akan menjadi
“ronde kematian” bagi Ali.
Dan Ali memgakui itulah ronde terberat dan
terpanjang yang pernah dia jalani selama
karirnya.
Foreman masih saja ngamuk, bagaikan monster
yang ingin menghancurkan lawan di depannya.
Ali sedikit-sedikit mulai terbiasa dengan
permainannya di sandaran tali ring.
Lalu mendadak Ali membalas dengan jab-jab
dan straight one-two yang keras dan tajam.
Foreman terkejut. Pukulan Ali menyengat
wajah Foreman.
Penonton Zaire histeris seperti melihat Ali
bangkit kubur. “Ali Bomaye ! Ali Bomaye !”
Pukulan itu tidak keras, dan tidak mematikan,
tetapi cukup membuat Foreman terkejut,
seakan tidak percaya bahwa pukulannya yang
begitu banyak dan begitu keras ternyata tak
mampu menjatuhkan Ali, bahkan Ali sanggup
membalas, mendaratkan beberapa jab ke
wajahnya. Foreman terkejut dan heran.
Sebenarnya, inilah yang dimaui Ali. Yakni
membuat Foreman ragu akan diri sendiri.
Membuat Foreman percaya bahwa pukulan
keras Foreman tak sanggup menjatuhkan Ali.
Dan ternyata strategi Ali ini mulai berhasil di
ronde tiga ini. Foreman mulai ragu. Karena
semula dia merencanakan di ronde tiga ini
dia akan menghabisi Ali bahkan kalau bisa
membunuh Ali dengan godam raksasanya.
Tetapi buktinya Ali masih bertahan bahkan
masih super dan sanggup membalas dengan
perkasanya. Foreman mulai ragu akan
dirinya sendiri.
(bersambung)
RAMALAN RONDE TIGA,
ALI SI KUPU-KUPU AKAN MATI !
FOREMAN SI ELANG AKAN TERBANG
Oleh : John Halmahera
(Saduran bebas dari buku “Ali The Greatest”)
Bundini Brown dan Angelo Dundee berteriak dari bawah.
Suaranya tegang. “Dance Champ, Dance ! Float Like A
Butterfly, Sting Like A Bee !”
Sementara penonton Zaire, yang hampir seluruhnya
mendukung Ali, ikut memberi semangat. “Ali Bomaye !
Ali Bomaye !”
Ali tahu arti kata “bomaye”, hancurkan dia, pukul dia
jatuh bahkan bisa berarti “bunuh dia”. Orang-orang
Afrika itu masih saja yakin bahwa Ali akan menang,
meskipun di ronde satu sudah tampak betapa
perkasanya Foreman.
Mengawali ronde dua, Ali langsung bergerak mundur
dan bersandar di tali. Kata Ali dalam bukunya “the
Greatest”, tentang taktiknya ini. “Untuk pertama
kalinya dalam karirku, aku memilih bersandar di ring
pada saat aku masih kuat dan memiliki stamina.
Biasanya aku main di tali, pada saat tenaga ku sudah
terkuras, kali ini tidak begitu. Aku memutuskan
taktik inilah yang bisa mengatasi langkah-potong
Foreman yang dengan 3 langkah memaksa aku
bergerak 6 langkah, sesuatu yang bisa membuat
aku habis karena terkuras stamina.”
Ali bersandar di tali.
Bundini dan Dundee berteriak, “Ali keluar dari situ,
menari, bergerak ke tengah ring !”
Tetapi Ali tetap bersandar ke tali. Ini memancing
Foreman yang dengan antusias dan nafsu menyerbu
ke Ali.
“Ayo, Tolol ! Mainkan senjata milikmu,” goda Ali.
Beberapa pukulan Foreman melayang. Ali bertahan
memblok dangan siku dan tangannya. Tampak tubuh
Ali bergoyang ke sana ke mari kena imbas pukulan
keras lawan. Pukulan Foreman memang dahsyat.
“Ayo Tolol, kata orang pukulanmu keras ? …
..Benarkah itu ?”
Meskipun tetap menggoda namun di dalam hati Ali
mengakui hebatnya lawan. Tak pernah bisa
dibayangkan seorang manusia bisa memukul
sekeras itu. Foreman memang dahsyat, monster
dengan godam seberat tonase raksasa. Tetapi Ali tak
mau memperlihatkan rasa sakit atau takut. Ali tetap
menggoda dengan ocehannya.
“Ah Tolol ! Cuma sebegitu kerasnya, Nak ? Tak ada
hebatnya,” goda Ali.
“Kamu tak punya pukulan keras, kamu cuma
seekor poni (anak kuda, red), tidak lebih dari itu,
lemah dan sok jago.”
Foreman memukul lagi dengan nafsu membunuh.
Dia melepas beberapa pukulan kerasnya, yang
meskipun berhasil diblok Ali, namun tetap saja
membuat tubuh Ali dan seantero tali seputar ring,
bergoyang seperti dilanda gempa. Satu pukulan
Foreman meskipun menerpa double-cover dua
tangan Ali, berhasil menerobos dan dengan
sisa-sisa kerasnya pukulan itu menerpa kepala Ali.
Ali merasa pusing, seperti mau jatuh. Lututnya
bergetar. Ada rasa lemas yang menyerang sekujur
tubuhnya. Tetapi Ali tetap bersandar di tali dengan
dua tangan yang memblok pukulan-pukulan susulan
Foreman. Ali tetap bertahan, sementara Dundee
berteriak dari bawah ring. “Ali, bergerak, keluar
dari situ, bergerak ke tengah !”
Ali mengaku saat itu, ia mendengar sayup-sayup
suara Dundee dan Bundini, tetapi tak bisa menangkap
apa teriakannya. Ali merasa seperti sedang menuju
ke alam lain. Ada rasa pusing, matanya
berkunang-kunang. Tetapi Ali bersyukur bahwa dia
sudah pengalaman menghadapi situasi kritis
seperti ini.
Ketika lawan Ken Norton, rahangnya retak di ronde
dua, tetapi dia masih bisa bertahan sampai ronde 15.
Ketika lawan Joe Frazier (partai pertama), dia
sempat jatuh kena hook Frazier. Meskipun waktu itu
dia langsung bangkit sebelum dihitung wasit, namun
pengalaman knock-down (bukan knock-out) itu
ternyata sangat berharga di saat kritis terkena
imbas godam keras Foreman. Jika bersandar di tali,
Ali pasti sudah jatuh.
“Aku tak boleh kena pukul lagi,” begitu kata Ali.
Dia juga tahu bahwa pertahanan terbaik adalah saat
kita menyerang. Tetapi saat itu dia tak bisa
menyerang dan hanya mampu bertahan.
Pukulan ganas Foreman melanda tubuh Ali, di
rusuk, iga, dan kepala. Ali tetap bersandar di tali,
menghindar dengan irama goyangan tali, memblok
dengan tangan, dengan siku. Ali tetap bersandar di tali.
“Ali keluar dari situ, bergerak ke tengah, menari
ayo menari !” teriak keras Bundini.
Tetapi Ali tetap bersandar di tali. Dan ketika masuk
30 detik terakhir, Ali keluar dari kurungan Foreman.
Menari, menyerang dengan cepat, Ali melepas jab,
straight satu dua ke kepala si raksasa. Dan Ali tetap
tidak lupa dengan program ocehannya.
“Hei Tolol, cuma itu kemampuanmu, tak ada lagi
yang lebih keras ?” Ali sengaja tidak mau
memperlihatkan bahwa tadi itu Foreman berhasil
menyakitinya.
Ketika bel akhir ronde dua berbunyi, Ali menuju ke
sudutnya. Dia melihat Dundee, Bundini dan
orang-orang di kubunya, semuanya bingung. Mereka
bingung, melihat Ali terkurung dan dihujani begitu
banyak pukulan keras, namun mendadak di akhir
ronde dia keluar dan menari sambil melepas beberapa
pukulan ke wajah Foreman.
Tetapi di waktu jedah itu, Angelo Dundee masih saja
menasehati Ali untuk menari dan menghindari tali.
Karena itulah yang dimaui Foreman. Itu strategi kubu
Foreman, mengurung Ali di sudut atau tali ring.
Sementara di kubu Foreman, Saddler dan Archie
merasa senang, sadar bahwa taktik dan strategi
mereka sukses membuat Ali terkurung di tali.
Mereka yakin, hanya tinggal waktu saja, Ali akan
jatuh, KO. Itupun kalau nyawa Ali masih bisa selamat.
Ali konsentrasi dan tetap pada pilihannya, bersandar
di tali pada saat staminanya masih bagus. Suara dan
instruksi Dundee tidak mempengaruhi keputusannya.
Ali juga berpikir, bahwa Foreman akan mengeluarkan
semua senjata pamungkasnya di ronde tiga ini, ronde
yang merupakan target menjatuhkan Ali. Bukti
memang nyata, selama ini Foreman hampir tak
pernah bertinju lewat dari tiga ronde, semua
lawannya KO sebelum ronde tiga berakhir.
Sudag 23 petinju yang jadi korban KO, dan kini Ali
diramalkan sebagai korban KO ke-24.
Di masa jedah sebelum ronde tiga, tiba-tiba terdengar
suara keras lewat megapon.
“Ramalan di ronde tiga ! Hitungannya di ronde tiga !”
Ali melihat ke kubu Foreman, tidak ada. Dia melihat
berkeliling dan menemukan orangnya.
Elmo Henderson dengan megapon. Badut itu
adalah mantan petinju kelas berat yang kini sangat
menjagoi Foreman.
“Oh yea, oh yea, ramalannya di ronde tiga !”
Henderson sudah mengabdikan dirinya untuk
Foreman, selalu menjagoi Foreman. Sepanjang
beberapa malam dia berkeliling Hotel tempat Ali
dan juga para wartawan nginap, berteriak-teriak
dan bersyair dengan megapon :
“oh yea ! oh yea !
Hari ini, adalah saatnya !
Ramalan di ronde tiga !
George sang elang akan terbang !
Ali si kupu-kupu akan mati !”
Kemarin malam, Bundini tidak sabar. Keluar ke
pekarangan Hotel dan meneriaki Henderson.
“Hei, kamu tak akan bisa mengalahkan Ali. Pasang
uangmu di mulutmu yang besar dan kotor itu !”
Tetapi suara Henderson lebih keras, apalagi dia
menggunakan megapon. Lantas Bundini masuk
Hotel sambil ngomel, “tak mungkin bisa menang
berdebat dengan orang gila.”
Kembali ke pertarunan. Saat itu suara Henderson
terdengar jelas, “Ini ronde tiga, sekarang ini
saatnya !”Bel berbunyi :
Ronde TIGA.
Ai bergerak cepat, menari dan melepas jab-jab.
Wajah Foreman kena telak. Mata Foreman
mendelik, tetapi bergerak cepat ibarat tank
raksasa mengejar Ali. Dia menguasai area tengah
ring, menduga Ali akan datang menghampirinya
dengan menari dan jab. Tetapi Ali justru mundur
ke tali dan menggapai Foreman untuk datang.
“Baiklah sucker (maki yang kotor, red) ! Ini kan
yang kau mau, come on, man !” Ali bersuara keras.
Wasit Zack Clayton menegur Ali. “Diam kamu
Ali, sekali lagi ini peringatan terakhir,
berhenti bicara !”
Clayon seperti juga orang lain, menanti-nanti
apakah di ronde tiga ini Ali akan jatuh KO. Namun
bagi Ali, boleh saja kalah atau KO, tetapi tidak
boleh ada yang melarangnya bicara. Lalu Ali
melayangkan beberapa jab ke wajah Foreman,
sambil tetap ngoceh. “Sucker, mana
pukulanmu ? Mana ? Perlihatkan padaku !
Kamu tak ada apa-apanya !”
Para pembantu Ali berteriak dari bawah,
“Ali menjauh dari tali ! Keluar dari situ !”
Foreman melepas beberapa bom ke kepala Ali
tetapi tertahan blok double-cover,
Ali bersandar di tali. Setiap pukulan Foreman
ibarat seorang kuli bangunan yang memukulkan
palu raksasa ke sebuah tembok. Penonton yang
berada di jarak jauh, bahkan di depan layar kaca,
seperti merasakan bobot godam keras
raksasa itu. Dahsyat !
Di antara beberapa hook, Foreman melepas
uppercut yang menguak dua tangan Ali dan
menghantam dagu Ali. Sakit, Ali kesakitan,
tetapi tetap bertahan di tali.
Bundini berteriak. “Champ keluar dari situ,
bergerak keluar !”
Ali masih bersandar di tali dan Foreman tetap
memukul. Ronde tiga sepertinya akan menjadi
“ronde kematian” bagi Ali.
Dan Ali memgakui itulah ronde terberat dan
terpanjang yang pernah dia jalani selama
karirnya.
Foreman masih saja ngamuk, bagaikan monster
yang ingin menghancurkan lawan di depannya.
Ali sedikit-sedikit mulai terbiasa dengan
permainannya di sandaran tali ring.
Lalu mendadak Ali membalas dengan jab-jab
dan straight one-two yang keras dan tajam.
Foreman terkejut. Pukulan Ali menyengat
wajah Foreman.
Penonton Zaire histeris seperti melihat Ali
bangkit kubur. “Ali Bomaye ! Ali Bomaye !”
Pukulan itu tidak keras, dan tidak mematikan,
tetapi cukup membuat Foreman terkejut,
seakan tidak percaya bahwa pukulannya yang
begitu banyak dan begitu keras ternyata tak
mampu menjatuhkan Ali, bahkan Ali sanggup
membalas, mendaratkan beberapa jab ke
wajahnya. Foreman terkejut dan heran.
Sebenarnya, inilah yang dimaui Ali. Yakni
membuat Foreman ragu akan diri sendiri.
Membuat Foreman percaya bahwa pukulan
keras Foreman tak sanggup menjatuhkan Ali.
Dan ternyata strategi Ali ini mulai berhasil di
ronde tiga ini. Foreman mulai ragu. Karena
semula dia merencanakan di ronde tiga ini
dia akan menghabisi Ali bahkan kalau bisa
membunuh Ali dengan godam raksasanya.
Tetapi buktinya Ali masih bertahan bahkan
masih super dan sanggup membalas dengan
perkasanya. Foreman mulai ragu akan
dirinya sendiri.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)