Monday, June 2, 2008

Euro 2008 - Piala Eropa 2008 - Yunani

Artikel Piala Eropa 05/30 Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Spanyol, 44 Tahun Haus Gelar Eropa

Oleh : John Halmahera

Betapa ironis bahwa kompetisi La Liga yang begitu gemerlap dan sarat bintang mahal namun tim matador tidak pernah lagi mengecap juara Euro sejak tahun 1964. Dua klub teras Spanyol, Real Madrid dan Barcelona bisa malang melintang di Champions league namun para bintang klub besar itu tak sanggup memberi kontribusi demi tercapainya gelar idaman itu. Bahkan ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Epana’82, tim matador pun gagal juara, bahkan mencapai final pun tidak. Selama itu hanya satu kali juara eropa yang dicapai tim matador, dan itu sudah 44 tahun silam.
Seperti biasa, menjelang memasuki turnamen akbar, Spanyol akan berkoar optimis memenangkan gelar. Namun selalu, penyakit kronis itu muncul, gagal di putaran final. Agaknya, sejarah prestasi selalu berulang, hebat dan cemerlang di kualifikasi namun rontok di putaran final. Padahal Spanyol selalu diperkuat pemain kualitas unggul dengan bandrol harga yang tinggi di pasaran Eropa. Sekarang pun sama halnya, tim asuhan Luis Aragones ini datang dengan seabrek pemain mahal.
Ketika menang 1-0 atas Irlandia Utara dalam partai terakhirnya di kualifikasi Euro 2008 dan memastikan timnya lolos sebagai juara grup, pelatih Luis Aragones berkomentar. “Spanyol lolos ke putaran final turnamen, sudah sering. Ini bukanlah sukses tetapi kami hanya menjalani dan menyelesaikan tugas.”
Aragones menganggap lolos babak kualifikasi hanya soal sederhana. Begitu memasuki Austria/Switzerland urusan menjadi serius. Di grup D Spanyol bergabung dengan dua mantan juara lain, Yunani sang juara bertahan dan Russia juara 1960 serta Swedia. Tiga tim lawan ini patut disegani meski di atas kertas, tim matador masih diunggulkan. Lihat ranking FIFA terbitan Mei 2008. Di kawasan Eropa, Spanyol nomor 2 dibawah Italia. Juara bertahan Yunani ranking 6, Swedia 15 dan Russia 17. Dalam ranking dunia FIFA, Italia nomor 3, Spanyol 4, Yunani 8, Swedia 23 dan Russia 25. Khusus turnamen Euro, Spanyol punya rekor lebih dibanding negara lain, 122 kali tampil dengan 13 menang, 24 draw, 26 kalah, selisih gol 260 minus 108 gol.
Kalau sepakbola dimainkan di atas meja, komputer dan kertas, mestinya Spanyol akan keluar sebagai juara grup D diikuti Yunani. Bahkan untuk menentukan juara Eropa, hanya perlu memainkan final antara Italia urutan 1 dan Spanyol urutan 2. Sayangnya sepakbola harus dimainkan di lapangan rumput. Sehingga untuk menggapai gelar bergengsi itu –raja Eropa- harus diselesaikan lewat keringat, biaya dan strategi.
Bagi Spanyol, undian grup kali ini tidak menguntungkan. Bersaing dengan tiga rivalnya di grup D mungkin peluang lolos Spanyol cukup besar. Tetapi memasuki babak 8 Besar, pertarungan sesungguhnya akan terjadi dalam sistem “knock-down”. Hasil juara atau runner-up grup, Spanyol akan berhadapan dengan juara atau runner-up grup C yakni salah satu diantara Italia, Perancis, Belanda dan Rumania.
Luis Aragones, pelatih kelahiran Hortaleza, Madrid, 70 tahun silam, masih tua-tua keladi, karakter keras dengan pendirian teguh. Dia bergeming sedikit pun menghadapi kritik dan kecaman pers. Dia pernah mundur, tetapi kembali menangani tim setelah dibujuk Federasi-nya. Sebagai pemain dia dijuluki “zapatones” (big boots alias sepatu besar) lantaran produktif mencetak gol semasa memperkuat Atletico Madrid di era 1964.
Mundur dari pemain, tahun 1974 memulai karir sebagai pelatih. Terkenal temperamen. Banyak asam garam di klub, dia membawa tim matador lolos kualifikasi Germany 2006 tanpa terkalahkan. Di Jerman, Aragones membawa timnya juara grup namun kandas di babak 16 besar oleh Perancis 1-3. Pengalaman pahit baginya.
Titik lemah tim Matador asuhan Aragones, adalah kurang solidnya pertahanan dibanding kualitas menyerang. Kelemahan ini sering dimanfaatkan lawan dengan serangan balik yang ekstra cepat. Hal ini tampaknya akan menjadi perhatian pelatih berusia 70 tahun itu. Dibawah mistar meskipun ada kiper Liverpool, Pepe Reina namun kipper Real Madrid, Iker Casillas lebih diutamakan. Aragones akan memasang rekan seklub Casillas, Sergio Ramos di bek kanan sebagai attacking-full-back dan Joan Capdevilla dari Villarreal di kiri. Di centre-back Carlos Marchena dari Valencia akan mendampingi kapten Barcelona Carlos Puyol.
Lini tengah juga diisi pemain karakter serang yang kuat. Bintang Valencia, David Albelda berfungsi sebagai jangkar bertahan, Xavi Hernandez dari Barcelona dan bintang cemerlang Arsenal Cesc Fabregas diberi keleluasaan dan kebebasan berkreasi dan memasok umpan ke depan yang mungkin diisi striker tunggal atau ganda. Sementara bintang Barcelona lainnya, Andres Iniesta akan beroperasi dari sayap kanan atau kiri atau pun dari tengah. Lini depan, pilihan utama mungkin Fernando Torres yang belakangan ini jadi produktif di premier league lewat gol-golnya untuk Liverpool. Pilihan lain adalah David Villa dari Valencia.
Tidak dipanggilnya striker senior Real Madrid, Raul Gonzalez, cukup kejutan, Namun bukanlah dia Luis Aragones jika tidak membuat keputusan yang mendatangkan pro dan kontra. Pemain muda belia 17 tahun dari Bacelona, Bojan Krkic, juga harus absen, dia minta ijin pada pelatih tua itu untuk tidak masuk skuad karena jenuh dan letih mengikuti kompetisi yang padat. Pemanggilan 23 pemain yang diumumkan Aragones sudah disesuaikan dengan pola kegemarannya 4-4-2 atau 4-5-1.
Luis Aragones yakin dan percaya pada skuadnya memenangkan gelar yang sudah 44 tahun tak pernah dicicipi negerinya. Kejutan yang dibuatnya, tidak memanggil Raul Gonzalez tetapi merekrut dua pemain tanpa caps, Santiago Cazorla dan Sergio Garcia. Hanya pers dan publik tak mendesak Aragones karena punya dasar kuat.
Sergio Garcia, penyerang Real Zaragoza, hanya mencetak 4 gol namun memberi banyak kontribusi pada klubnya sepanjang 36 penampilannya di la liga. Sedang Cazorla sangat berperan di lini tengah Villarreal dan membawa klubnya runner-up musim ini. Dia tampil sebanyak 34 pertandingan musim ini. “Aku memilih pemain setelah mengamati penampilan mereka dalam banyak pertandingan,”katanya. “Aku sendiri yang memilih yang baik atau yang buruk, aku harus memilih, dan aku telah memilih!”
Raul Gonzalez telah mencetak 18 gol musim ini membantu Real Madrid juara dengan 102 caps di tim matador. Dia mencetak 44 gol untuk Spanyol dalam berbagai event. “Bukan masalahnya, mencetak berapa gol atau seberapa hebat prestasi klubnya karena di luar sana ada pemain yang berprestasi sebaik itu, namun tidak saya panggil,” kata Aragones yang juga tidak memanggil pasangan penyerang Valencia David Albelda dan Joaquin Sanchez.
Aragones telah memilih. Dia pun telah mempersiapkan skuadnya. Tantangan pertama akan dihadapinya hari Selasa 10 Juni di stadion Tivoli Neu, kota Innsbruck jam 18.00 menghadapi tim beruang merah Russia. Berikutnya, hari Sabtu 14 Juni di stadion yang sama, menjajal kekuatan Swedia. Partai terakhir grup D dimainkan Rabu 18 Juni di stadion Wals-Siezenheim, kota Salzburg. Pelatih berusia70 tahun itu setengah bergurau berkomentar. “Tentu saja akan mudah bagi kami, yang kami perlukan hanyalah mengalahkan semua lawan kita. Saya bukan juru-ramal tetapi saya ingin menyampaikan pesan bahwa kami punya kemampuan memenangkan gelar juara.” ***




Euro 2008 - Piala Eropa 2008

Artikel Piala Eropa 05/30 Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Spanyol, 44 Tahun Haus Gelar Eropa

Oleh : John Halmahera

Betapa ironis bahwa kompetisi La Liga yang begitu gemerlap dan sarat bintang mahal namun tim matador tidak pernah lagi mengecap juara Euro sejak tahun 1964. Dua klub teras Spanyol, Real Madrid dan Barcelona bisa malang melintang di Champions league namun para bintang klub besar itu tak sanggup memberi kontribusi demi tercapainya gelar idaman itu. Bahkan ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Epana’82, tim matador pun gagal juara, bahkan mencapai final pun tidak. Selama itu hanya satu kali juara eropa yang dicapai tim matador, dan itu sudah 44 tahun silam.
Seperti biasa, menjelang memasuki turnamen akbar, Spanyol akan berkoar optimis memenangkan gelar. Namun selalu, penyakit kronis itu muncul, gagal di putaran final. Agaknya, sejarah prestasi selalu berulang, hebat dan cemerlang di kualifikasi namun rontok di putaran final. Padahal Spanyol selalu diperkuat pemain kualitas unggul dengan bandrol harga yang tinggi di pasaran Eropa. Sekarang pun sama halnya, tim asuhan Luis Aragones ini datang dengan seabrek pemain mahal.
Ketika menang 1-0 atas Irlandia Utara dalam partai terakhirnya di kualifikasi Euro 2008 dan memastikan timnya lolos sebagai juara grup, pelatih Luis Aragones berkomentar. “Spanyol lolos ke putaran final turnamen, sudah sering. Ini bukanlah sukses tetapi kami hanya menjalani dan menyelesaikan tugas.”
Aragones menganggap lolos babak kualifikasi hanya soal sederhana. Begitu memasuki Austria/Switzerland urusan menjadi serius. Di grup D Spanyol bergabung dengan dua mantan juara lain, Yunani sang juara bertahan dan Russia juara 1960 serta Swedia. Tiga tim lawan ini patut disegani meski di atas kertas, tim matador masih diunggulkan. Lihat ranking FIFA terbitan Mei 2008. Di kawasan Eropa, Spanyol nomor 2 dibawah Italia. Juara bertahan Yunani ranking 6, Swedia 15 dan Russia 17. Dalam ranking dunia FIFA, Italia nomor 3, Spanyol 4, Yunani 8, Swedia 23 dan Russia 25. Khusus turnamen Euro, Spanyol punya rekor lebih dibanding negara lain, 122 kali tampil dengan 13 menang, 24 draw, 26 kalah, selisih gol 260 minus 108 gol.
Kalau sepakbola dimainkan di atas meja, komputer dan kertas, mestinya Spanyol akan keluar sebagai juara grup D diikuti Yunani. Bahkan untuk menentukan juara Eropa, hanya perlu memainkan final antara Italia urutan 1 dan Spanyol urutan 2. Sayangnya sepakbola harus dimainkan di lapangan rumput. Sehingga untuk menggapai gelar bergengsi itu –raja Eropa- harus diselesaikan lewat keringat, biaya dan strategi.
Bagi Spanyol, undian grup kali ini tidak menguntungkan. Bersaing dengan tiga rivalnya di grup D mungkin peluang lolos Spanyol cukup besar. Tetapi memasuki babak 8 Besar, pertarungan sesungguhnya akan terjadi dalam sistem “knock-down”. Hasil juara atau runner-up grup, Spanyol akan berhadapan dengan juara atau runner-up grup C yakni salah satu diantara Italia, Perancis, Belanda dan Rumania.
Luis Aragones, pelatih kelahiran Hortaleza, Madrid, 70 tahun silam, masih tua-tua keladi, karakter keras dengan pendirian teguh. Dia bergeming sedikit pun menghadapi kritik dan kecaman pers. Dia pernah mundur, tetapi kembali menangani tim setelah dibujuk Federasi-nya. Sebagai pemain dia dijuluki “zapatones” (big boots alias sepatu besar) lantaran produktif mencetak gol semasa memperkuat Atletico Madrid di era 1964.
Mundur dari pemain, tahun 1974 memulai karir sebagai pelatih. Terkenal temperamen. Banyak asam garam di klub, dia membawa tim matador lolos kualifikasi Germany 2006 tanpa terkalahkan. Di Jerman, Aragones membawa timnya juara grup namun kandas di babak 16 besar oleh Perancis 1-3. Pengalaman pahit baginya.
Titik lemah tim Matador asuhan Aragones, adalah kurang solidnya pertahanan dibanding kualitas menyerang. Kelemahan ini sering dimanfaatkan lawan dengan serangan balik yang ekstra cepat. Hal ini tampaknya akan menjadi perhatian pelatih berusia 70 tahun itu. Dibawah mistar meskipun ada kiper Liverpool, Pepe Reina namun kipper Real Madrid, Iker Casillas lebih diutamakan. Aragones akan memasang rekan seklub Casillas, Sergio Ramos di bek kanan sebagai attacking-full-back dan Joan Capdevilla dari Villarreal di kiri. Di centre-back Carlos Marchena dari Valencia akan mendampingi kapten Barcelona Carlos Puyol.
Lini tengah juga diisi pemain karakter serang yang kuat. Bintang Valencia, David Albelda berfungsi sebagai jangkar bertahan, Xavi Hernandez dari Barcelona dan bintang cemerlang Arsenal Cesc Fabregas diberi keleluasaan dan kebebasan berkreasi dan memasok umpan ke depan yang mungkin diisi striker tunggal atau ganda. Sementara bintang Barcelona lainnya, Andres Iniesta akan beroperasi dari sayap kanan atau kiri atau pun dari tengah. Lini depan, pilihan utama mungkin Fernando Torres yang belakangan ini jadi produktif di premier league lewat gol-golnya untuk Liverpool. Pilihan lain adalah David Villa dari Valencia.
Tidak dipanggilnya striker senior Real Madrid, Raul Gonzalez, cukup kejutan, Namun bukanlah dia Luis Aragones jika tidak membuat keputusan yang mendatangkan pro dan kontra. Pemain muda belia 17 tahun dari Bacelona, Bojan Krkic, juga harus absen, dia minta ijin pada pelatih tua itu untuk tidak masuk skuad karena jenuh dan letih mengikuti kompetisi yang padat. Pemanggilan 23 pemain yang diumumkan Aragones sudah disesuaikan dengan pola kegemarannya 4-4-2 atau 4-5-1.
Luis Aragones yakin dan percaya pada skuadnya memenangkan gelar yang sudah 44 tahun tak pernah dicicipi negerinya. Kejutan yang dibuatnya, tidak memanggil Raul Gonzalez tetapi merekrut dua pemain tanpa caps, Santiago Cazorla dan Sergio Garcia. Hanya pers dan publik tak mendesak Aragones karena punya dasar kuat.
Sergio Garcia, penyerang Real Zaragoza, hanya mencetak 4 gol namun memberi banyak kontribusi pada klubnya sepanjang 36 penampilannya di la liga. Sedang Cazorla sangat berperan di lini tengah Villarreal dan membawa klubnya runner-up musim ini. Dia tampil sebanyak 34 pertandingan musim ini. “Aku memilih pemain setelah mengamati penampilan mereka dalam banyak pertandingan,”katanya. “Aku sendiri yang memilih yang baik atau yang buruk, aku harus memilih, dan aku telah memilih!”
Raul Gonzalez telah mencetak 18 gol musim ini membantu Real Madrid juara dengan 102 caps di tim matador. Dia mencetak 44 gol untuk Spanyol dalam berbagai event. “Bukan masalahnya, mencetak berapa gol atau seberapa hebat prestasi klubnya karena di luar sana ada pemain yang berprestasi sebaik itu, namun tidak saya panggil,” kata Aragones yang juga tidak memanggil pasangan penyerang Valencia David Albelda dan Joaquin Sanchez.
Aragones telah memilih. Dia pun telah mempersiapkan skuadnya. Tantangan pertama akan dihadapinya hari Selasa 10 Juni di stadion Tivoli Neu, kota Innsbruck jam 18.00 menghadapi tim beruang merah Russia. Berikutnya, hari Sabtu 14 Juni di stadion yang sama, menjajal kekuatan Swedia. Partai terakhir grup D dimainkan Rabu 18 Juni di stadion Wals-Siezenheim, kota Salzburg. Pelatih berusia70 tahun itu setengah bergurau berkomentar. “Tentu saja akan mudah bagi kami, yang kami perlukan hanyalah mengalahkan semua lawan kita. Saya bukan juru-ramal tetapi saya ingin menyampaikan pesan bahwa kami punya kemampuan memenangkan gelar juara.” ***




Euro 2008 Piala Eropa 2008

Artikel Piala Eropa 04/30 Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN


UEFA Euro 2008
Russia Mengharap Sentuhan Midas Sang Penyihir

Oleh : John Halmahera

Pers Russia menjuluki Guus Hiddink “penyihir” jauh sebelum tim beruang merah lolos kualifikasi menuju pentas UEFA Euro 2008 dalam satu hari yang penuh keajaiban. Penyerang sayap Yuri Zhirkov berkata,”julukan apalagi yang tepat untuknya, dia telah membawa banyak tim menembus Piala Dunia dan Piala Eropa.”
Setelah partai perdana draw lawan Kroasia dan Israel, skuad Hiddink ini memetik 5 kemenangan dari 6 partai. Satu-satunya hasil draw ketika main di kandang Kroasia 0-0. Kemudian main di Wembley dan kalah telak 0-3 dari tuan rumah tetapi membalasnya di Moskow 2-1 dimana cadangan Roman Pavlyuchenko mencetak dua gol dalam lima menit di babak kedua. Hasil di Moskow menempatkan Russia di posisi dua grup dengan sisa dua partai tandang, lawan Israel dan Andorra. “Tak mungkin kita kalah di Israel, toh mereka sudah pasti tidak lolos,”kata Hiddink.
Kenyataannya, beruang merah kalah 1-2 dan drop ke posisi tiga. Kroasia teratas, Inggris posisi dua. Harapan Russia menipis karena Inggris hanya butuh draw dari tamu Kroasia yang sudah memastikan diri lolos ke Euro. Tetapi keajaiban datang, Inggris kalah 2-3 di Wembley dari Kroasia sementara beruang merah dengan 10 pemain menang tipis 1-0 di kandang Andorra, lewat gol tunggal Dmitri Sychev.
Russia punya reputasi di UEFA Euro, empat kali finalis 1960, 1964, 1972 dan 1988 tetapi hanya sukses juara di turnamen pembukaan 1960. Itu kisah masa lalu, kata pers Russia. Kini mereka berharap “sang penyihir” Guus Hiddink membuat kejutan seperti Otto Rehhagel mengejutkan dunia dengan mengantar Yunani juara Euro 2004.
Tahun 1996 muncul harapan Russia menoreh sejarah ketika mereka gemilang di babak kualifikasi, dari 10 partai mereka mengumpulkan nilai 26 memuncaki Finlandia, Yunani, Skotlandia, Kep Faroe dan San Marino. Namun di putaran final kalah 1-2 dari Italia dan 0-3 dari Jerman. Dalam posisi tersingkir justru bermain bagus draw 3-3 lawan Rep Ceko. Empat tahun lalu kiprah Russia di Portugal masih saja buruk. Kalah dalam dua laga awal, 0-1 dari Spanyol dan 0-2 dari Portugal, beruang merah langsung tersingkir. Seperti kisah 1996 dalam posisi sudah tersingkir Russia justru main bagus menekuk Yunani 2-1, dua gol yang dicetak Dmitri Kirichenko dan Dmitri Bulykin.
Selama partisipasinya di UEFA Euro, Russia –dulunya Uni Soviet- memainkan 48 pertandingan dengan 27 menang, 10 draw dan 11 kalah. Mencetak 100 gol dan kemasukan 48 gol, cukup produktif. Empat puluh delapan tahun tanpa gelar bergengsi, hampir separuh abad, sungguh waktu yang panjang, yang membuat semua pecandu bola negeri itu putus asa. Datangnya Hiddink sang penyihir membangkitkan semangat.
Dijuluki sang penyihir, Hiddink disebut-sebut punya sentuhan Midas –the Midas touch- apa yang disentuhnya langsung menjadi emas, legenda raja Midas. Dia dikontrak April 2006 setelah membawa PSV Eindhoven juara Belanda dan sebelum mengantar Australia lolos ke babak knock down Germany 2006. Dia membawa Oranye ke semifinal 1998, dan Korea Selatan juga semifinal Piala Dunia 2002. Dia nyaris membawa sukses Australia sebelum timnya digagalkan pinalti Italia di putaran dua Germany 2006. Reputasi dan pengalamannya di level klub cukup gemilang. Sekarang dia menjanjikan gelar kepada tim beruang merah.

Sukses klub FC Zenit St Petersburg menggondol gelar UEFA Cup kemarin berdampak kepercayaan diri tim asuhan Hiddink. Namun toh pelatih asal Belanda itu tidak membentuk timnya dengan Zenit sebagai sentral kekuatan. Hal itu diperlihatkan Russia ketika menggunduli Kazakstan 6-0 dan menang tipis 2-1 atas Serbia, dua uji coba kemarin. Dibawah mistar, kipper CSKA Moskva, Igor Akinfeev masih yang utama, dibayangi kiper Zenit, Vyacheslav Malafeev.

Biasanya Hiddink memainkan pola 3-5-2 dengan tiga bek CSKA Moskva jadi andalan, Vasili Berezutski, Sergei Ignashevich, Aleksei Berezutski. Namun dalam uji-coba terakhir, dia memainkan dua bek Zenit Petersburg, Aleksandr Anyukov dan Roman Shirokov bersama Denis Kolodin (Dinamo Moskva). Di babak kedua, Vasili Berezutski menggantikan Anyukov. Pola tiga bek terkadang diubah ke empat bek dari pola 4-5-1 atau 4-4-2 dengan Anyukov menjadi defender ke-empat.

Selain perubahan pola yang ditampilkan di tengah permainan, pertahanan Russia makin solid dengan memadatkan lini tengah. Lima pemain atau terkadang enam pemain berjejal di lini tengah beruang merah. Dua pemain tertua, 30 tahun, Igor Semshov (Dinamo Moskva) dan Konstantin Zyrianov (Zenit Petersburg) menjadi jangkar dan pilar kekuatan lini tengah yang membantu solidnya pertahanan. Tiga gelandang lainnya karakter menyerang, Hidink punya beberapa calon yang sama peluangnya menjadi starter. Namun pilihan utama adalah kapten Lokomotiv Moskva, Diniyar Bilyaletdinov yang sudah 20 cas ersama beruang merah bersama rekan seklubnya Dimitri Torbinskiy selain Yuri Zhirkov (CSKA Moskva), Vladimir Bystrov (Spartak Moskva) dan veteran 32 tahun lainnya, Sergei Semak dari klub Rubin Kazan.

Perhatian pada lini tengah dengan memaksimalkan aspek pertahanan, membuat Russia hanya kemasukkan 7 gol dari 12 pertandingan kualifkasi Euro 2006, sama dengan gol kemasukkan di gawang Inggris. Pola main Russia yang cenderung bertahan tidak bisa lepas dari keterbatasan pengalaman para pemainnya yang tak satupun dikontrak klub-klub besar Eropa. Hal ini bisa menjadi pemicu semangat para pemain untuk menoreh prestasi agar dilirik klub-klub besar itu.

Jika pertahanan sudah memperlihatkan hasil sebaliknya daya serang masih belum menggembirakan, dari 12 pertandingan kualifkasi ssia hanya mencetak 18 gol. Serangan balik melalui saap menjadi andalan Russia. Dua penyerangnya, Pavel Pogrebnyak dan Roman Pavlyuchenko menjadi perhatian Hiddink ketika keduanya menjadi peentu kemenangan 2-1 atas Serbia kemarin. Pogrebnyak dari striker andalan Zenit Petersburg menjadi starter namun cedera setelah dia mencetak gol. Pavlyuchenko (Spartak Moskva) masuk menggantikan dan ikut menyumang gol.

Sayang sekali, striker yang paling diandalkan Andrei Arshavin juga dari Zenit Petersburg harus menjalani skorsing dua pertandingan awal. Striker ini sering berfungsi-peran di midfield membuat lini tengah menjadi enam orang dalam stuasi kehilangan bola. Guus Hiddink punya serdadu penyerang lainnya yang bisa diandalkan Dmitri Sychev (Lokomotiv Moskva) dan Ivan Saenko (Nurnberg).

Pers Russia semakin percaya diri bahwa “sentuhan Midas” Guus Hiddink “sang penyihir” diharapkan membawa Russia sukses. Skuad beruang merah sudah siap untuk menjalani persaingan keras di grup D yang dihuni dua juara Euro lainnya, Spanyol dan Yunani serta tim elit Swedia.

Skuad Hiddink akan turun laga perdana di stadion Tivoli Neu kota Innsbruck Selasa 10 Juni lawan tim matador Spanyol. Empat hari kemudian di stadion Wals-Siezenheim kota Salzburg menghadapi juara bertahan Yunani. Partai terakhir di grupnya, Rabu 18 Juni di stadion Tivoli Neu mencoba kekuatan Swedia. Persiapan tehnik dan materi pemain tim Russia cukup menjanjikan, namun persoalan mental-tanding akan menjadi titik lemah. Mungkinkah sentuhan Midas dari Guus Hiddink bisa menyihir dan memperbaiki titik lemah itu, merupakan tanda-tanya. ***



UEFA Euro 2008 - Piala Eropa 2008 - Belanda

Artikel Piala Eropa 03/29 Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Belanda, Pertaruhan Terakhir Bagi Van Basten

Oleh : John Halmahera

Marco Van Basten mengambil alih skuad Oranye dari Dick Advocaat setelah tim Belanda itu menembus semifinal UEFA Euro 2004. Dia hanya berbekal pengalaman melatih Ajax junior. Tetapi bersama Oranye dia mengawalinya dengan 15 internasional tanpa kalah sebelum ditekuk Italia 1-3 dalam friendly November 2005. Orang-orang Belanda mulai menaruh harapan besar ketika Basten meloloskan Oranye ke Germany 2006. Di turnamen paling akbar itu, Oranye tidak terkalahkan di grup C menang 1-0 atas Serbia Montenegro, 2-1 atas Pantai Gading dan draw 0-0 lawan Argentina. Sayang di babak 16 Besar, Oranye tumbang 0-1 oleh Portugal.
Kali ini UEFA Euro 2008 merupakan event perpisahan bagi Basten dengan tim Oranye. Ada yang ingin dicapainya di Austria/Switzerland yakni gelar juara. Ambisinya yang paling besar, mencatatkan diri sebagai pemain dan pelatih Belanda yang pernah meraih gelar Euro. Sebagai pemain dia pernah meraih gelar itu di tahun 1988 bersama Oranye yang ditukangi Rinus Mihels. Pada event itulah dia mencetak gol monumental ke gawang Uni Soviet (sekarang Russia) yang dikawal Rinat Dasayev, salah satu gol terindah sepanjang Euro. Kesempatan merebut gelar akbar sebagai pemain dan pelatih hanya datang satu kali dalam hidupnya, sekarang lah waktunya. Karena seusai Euro 2008, dia mundur dari Oranye untuk melatih Ajax sementara Oranye pindah tangan ke pelatih Feyenoord, Bert van Marwijk.
Belanda dua kali runner-up Piala Dunia 1974 dan 1978. Waktu itu Oranye pantas menjadi juara. Materi tim hampir semuanya pemain kaliber dunia, antara lain Johan Cruijf, Johan Neeskens, Johnny Rep, Ruud Krol, Arie Haan, Kerkhoff bersaudara. Mereka memainkan total-football ciptaan Rinus Michels yang memesona dunia dan yang sampai sekarang menjadi tradisi yang mengakar-kuat dan mewarnai sepakbola Belanda di semua level. Hanya ketidakberuntungan saja yang membuat mereka kalah di final dari dua tuan rumah, Jerman (Barat) 1974 dan Argentina 1978.
Belanda belum sekalipun meraih gelar bergengsi (PD dan Euro) sampai saat dimana Rinus Michels menghimpun semua pemain terbaiknya dalam pola menyerang total-football 4-3-3 merenggut gelar Euro 1988. Di skuad itu Ronald Koeman, Frank Rijkaard, Ruud Gullit dan Marco van Basten menjadi tulangpunggung timya. Empat pemain ini dikemudian hari menjadi pelatih yang cukup beken.
Setelah itu Belanda tak pernah lagi bisa sampai di puncak turnamen akbar. Persoalan klasik internal tim –perpecahan diantara pemain- selalu mengemuka pada saat kritis. Rinus Michels cukup disegani, tetapi itu saja tidak cukup. Perlu dukungan pemain, dan empat pemain itulah yang menjadi “pengendali dan pemersatu” di lapangan.
Sebagai pelatih Marco van Basten mengalami hal yang sama, tetapi dengan reputasinya sebagai pemain bintang –mencetak 128 gol untuk Ajax dan membawa gelar UEFA Cup 1986/1987 untuk Ajax, dibeli AC Milan dengan bandrol 2,5 juta euro tahun 1987, membawa Oranye juara Euro 1988, Milan juara Champion 1989, 1990- sudah patut jika semua pemain menghargai dan respek padanya. Dan dia telah memperlihatkan “gigi” dengan mematahkan kesombongan pemain besar Belanda terutama yang senior. Ruud van Nistelrooy pernah jadi korban ketika ditendang dari Oranye karena protes dijadikan cadangan. Belakangan van Basten memanggil striker Real Madrid itu kembali, namun tindakan sebelumnya itu sudah cukup dimengerti pemain lain, bahwa van Basten punya “gigi” dan akan “menggigit” siapa saja pemain yang membangkang, tidak perduli dia bintang sekalipun.
Bergabung di grup C bersama dua favorit Perancis dan Italia serta kuda hitam Rumania, skuad Oranye layak disebut underdog. Artinya kalaupun Perancis dan Italia yang lolos bukanlah kejutan besar. Berbeda dengan pasar taruhan yang menempatkan dua tim itu sebagai favorit, pelatih kedua tim itu, Raymond Domenech dan Roberto Donadoni justru sangat respek pada skuad Oranye. Pada Senin 9 Juni Belanda akan menghadapi Italia, empat hari kemudian melawan Perancis dan Selasa 17 Juni versus Rumania. Ada keuntungan bagi Belanda yang tidak dimiliki tiga rivalnya di grup C yakni tiga pertandingannya dimainkan di stade de Suisse kota Berne.
Pola 4-3-3 sangat akrab dimainkan Belanda sejak era Rinus Michels dekade 1970, tapi terkadang beralih ke 4-4-2 yang lebih prakmatis. Pola ini membawa Oranye berjaya di kualifikasi. Rinus Mihels, guru Basten, pernah juga memainkan pola 4-4-2. Bulan Desember kemarin, Van Basten mencoba 4-2-3-1 sebagai satu alternative untuk lebih memperketat pertahanan. Tampaknya Basten tidak mau pola 4-3-3 menjadi boomerang bagi timnya. Semua tim lawan seakan sudah tahu persis cara menghadapi Belanda, bertahan rapat dan menyerang balik secepat mungkin, mencuri gol ke gawang Oranye.
Kemarin Basten mengumumkan 23 pemainnya. Satu pemain terakhir yang dicoret dari skuad 24 adalah Khalid Boulahrouz, bek Sevilla FC berusia 26 tahun. Agaknya van Basten lebih memerlukan bek Blackburn Rovers Andre Ooijer dan bek Wigan Athletic Mario Melchiot. Tiga hari sebelumnya dia memulangkan kiper Sander Boschker dan gelandang Denny Landzaat.
Dibawah mistar van Basten akan mengandalkan Edwin van Der Sar sang kapten yang semangatnya sedang berapi-api setelah ikut membawa Manchester United juara Champions 2008. Selain Ooijer dan Melchiot, lini belakang akan diperkuat pemain vital Joris Mathijsen dari Hamburg SV, Wilfred Bouma (Aston Villa), Johny Heitinga (Ajax) dan dua bek Feyenoord, Giovanni van Bronchorst dan Tim de Cler.
Semua pemain harus fit dan siap tanding di partai perdana lawan Italia. Mungkin gelandang elegan Arsenal, Robin van Persie masih disimpan. Pemain ini cidera lutut dan sejak 28 April absen membela klubnya di kompetisi premier league, kini sudah sembuh dan menjalani latihan tersendiri dalam kamp Oranye. Namun Basten hanya akan memainkannya jika gelandang usia 24 tahun itu sudah fit seratus persen.
Di lini tengah Basten masih punya dua bintang kreatif lainnya, Rafael van der Vaart (Hamburg SV) dan Wesley Sneijder (Real Madrid). Sejatinya ada pemain pengalaman dari AC Milan, Clarence Seedorf, sayang senior ini minta mundur. Seedorf hanya mau masuk skuad jika jadi pemain inti dan Basten tidak mau menjanjikan itu. Lini tengah masih punya materi lain, Nigel de Jong rekan seklub Rafael Van Der Vaart, gelandang FC Twente, Orlando Engelaar dan Ibrahim Afellay dari PSV.
Meski dijuluki underdog, namun Belanda cukup disegani terutama karena memiliki banyak penyerang subur. Salah satu andalan Basten di lini depan adalah striker Real Madrid, Ruud van Nistelrooy yang sedang mengincar rekor 40 gol internasional Belanda ditangan Patrick Kluivert. Striker lain yang bisa operasional di sayap untuk suplai bola ke kotak pinalti lawan adalah Klaas Jan Huntelaar yang musim ini gemilang di klub Ajax, dua bintang Liverpool, Dirk Kuyt dan Ryan Babel, Jan Vennegoor of Hesselink (Celtic) serta mantan sayap Chelsea yang musim kemarin memperkuat Real Madrid, Arjen Roben.
Akan sangat menarik menyaksikan partai Belanda versus Italia. Kekuatan menyerang Belanda akan diuji tembok pertahanan Italia. Selama mengikuti turnamen akbar kawasan Eropa ini, Belanda punya rekor yang terbilang gemilang. Memainkan 117 pertandingan dengan 72 menang, 22 draw dan 23 kalah. Selisih gol sangat fantastis memasukkan 241 gol, kemasukan 91, suatu bukti bahwa kekuatan menyerang Belanda sangat mematikan, bukanlah isapan jempol. Belanda sungguh-sungguh underdog yang bisa menggigit tim mana pun juga. Dan Van Basten bersama Oranye sedang mengincar gelar bergengsi yang sudah 20 tahun tak pernah dicicipi negeri kincir angin itu. ***

UEFA Euro 2008 - Piala Eropa 2008 - Perancis

Artikel Piala Eropa 02/28 Mei
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Perancis, Ingin Ketemu Italia Di Final

Oleh : John Halmahera

Sepakbola abad milenium agak sulit diprediksi mengingat hampir semua tim khususnya daratan Eropa, sama kuat dan sanggup saling mengalahkan. Lihat saja di Euro 2004, Yunani yang sama sekali tidak masuk bursa unggulan justru keluar sebagai juara. Tetapi bagaimana pun juga orang akan selalu meramal tim-tim unggulan sesuai reputasi dan rekor mereka. Italia seperti tulisan saya, Selasa (27/5) lalu, membawa rekor 111 penampilan selama mengikuti UEFA Euro Championship dengan 59 menang, 35 draw, 17 kalah dan selisih gol 175-77. Perancis lebih bagus, 117 penampilan, 67 menang, 29 draw, 21 kalah dan selisih gol 236 minus109 dengan prestasi dua kali juara 1984 dan 2000. Maka tidak salah jika bursa taruhan menyebut Perancis sebagai kandidat kuat merebut gelar kejuaraan Eropa yang dibidani Henry Delaeuny itu.
Pelatih Raymond Domenech, yang haus ilmu astrologi dan teater seperti kegilaannya terhadap sepakbola, nyaris didepak dari les blues ketika di awal kualifkasi Germany 2006 timnya terseok-seok. Pada saat kritis dia berhasil membujuk tiga pemain yang sudah gantung sepatu untuk “turun gunung”, Zinedine Zidane, Lilian Thuram, Claude Makelele. Suntikan tiga tenaga veteran itu tidak hanya meloloskan Perancis ke Germany 2006, Domenech bahkan membawa les blues menembus partai puncak dimana mereka kalah dari Italia dalam adu pinalti setelah sama kuat 1-1. Dia dikontrak sampai perhelatan piala Eropa selesai dengan Piala Dunia 2010 sebagai opsi jika sukses di Euro 2008. “Saya tidak memikirkan tahun 2010, tetapi Euro 2008 target saya!” Katanya.
Tahun ini Domenech punya ambisi besar memenangkan Euro 2008 dan tidak ingin tragedi final Piala Dunia 2006 terulang kembali. Bersusahpayah sampai di final Piala Dunia kemudian kalah adu pinalti dari Italia adalah pengalaman paling buruk baginya. Kali ini ke Austria/Switzerland dia membawa serta hampir seluruh skuad eks Germany 2006. Zidane sudah mundur tapi dua rekannya Lilian Thuram dan Claude Makelele masih bertahan. Begitu juga Patrick Vieira yang mungkin akan dipercaya sebagai kapten.
Pengalaman Raymond Domenech sebagai full-back tangguh dari klub Lyon dengan 8 caps membuat dia jeli membangun pertahanan yang solid. Mundurnya Fabien Barthez membuka pintu lebar bagi kiper berusia 35 tahun, Gregory Coupet dari klub Lyon. Empat palang pintu akan membentengi kiper Lyon ini, Willy Sagnol, Lilian Thuram, William Gallas, Eric Abidal. Hampir mustahil menggantikan lima pilar belakang ini kecuali kasus diluar dugaan seperti cidera. Secara kualitas individu dan kerjasama tim, kiper Coupet bersama empat pemain belakang itu merupakan yang terbaik dan berpengalaman.
Ketakutan akan cidera pemain menghantui hampir semua pelatih menjelang pendaftaran 23 pemain pada tanggal 28 Mei nanti. Begitu juga yang dirasakan Domenech beberapa waktu lalu. Sekitar 18 pemainnya, semua pilihannya dalam skuad 30, terlibat kompetisi yang memasuki masa krusial, yakni partai final. Di Chelsea ada Florent Malouda, Anelka dan Makelele. Di MU ada Patrice Evra, Louis Saha dan Mikel Silvestre yang saling berhadapan di final Champions League di Moscow yang dimenangkan MU tanggal 21 Mei lalu.
Delapan pemain dari Olympique Lyonnais (Lyon) klub juara Perancis masih berlaga di final French Cup 24 Mei kemarin menghadapi Paris St Germain. Karim Benzema, Gregory Coupet, Jeremy Toulalan, Francois Clerc, Sidney Govou, Sebastien Squillaci, Jean-Alain Boumsong dan Hatem Ben Arfa. Sementara di Paris St Germain ada Mickael Landreau dan Jerome Rothen. Pada hari yang sama kapten Patrick Vieira memperkuat Inter berlaga di Copa Italia versus AS Roma yang diperkuat Philippe Mexes Romato.
Situasi demikian membuat Domenech cukup pusing mengingat laga perdana Euro berhadapan dengan Rumania Senin 9 Juni di stadion Letzigrund Zurich. Faktor letih pemain akibat kompetisi di daratan Eropa yang begitu ketat merupakan momok bagi semua pelatih. Dan Domenech harus pintar-pintar menyusun program recovery dan menyusun strategi. Karena Rumania yang tidak diunggulkan tetap merupakan ancaman bagi les blues jika Domenech tidak hati-hati.
Mengenai materi pemain, meski Zidane tidak ada lagi, les blues tidak perlu terlalu khawatir. Pengganti Zidane secara kualitas sulit dicari. Tetapi Domenech akan bertumpu pada dua pilar pengalaman, kapten dan playmaker Patrick Vieira dan Claude Makelele sebagai poros lini tengah. Beberapa nama lain untuk lini vital adalah Alou Diarra dari Bordeaux, Mathieu Flamini dari Arsenal, Jeremy Toulalan dari Lyon dan Lassana Diarra dari Portsmouth Inggris.
Selama ini Domenech menggemari pola 4-4-2. Namun formasi akan berubah dalam varian 4-2-3-1 jika menghadapi situasi dan lawan tertentu. Frank Ribery yang membawa Bayern Muenchen juara bundesliga dan Florent Malouda diposisikan di kanan dan kiri, sedang Thierry Henry menjadi pilihan utama posisi striker. Mungkin saja Henry akan berpasangan dengan Nicolas Anelka yang memukau selama kualifikasi atau striker muda Lyon berusia 20 tahun yang sedang naik daun, Karim Benzema.
Ada dua pemain muda yang bakal menghuni les blues generasi baru, Samir Nasri dari Olympique de Marseille dan Hatem Ben Arfa dari Lyon usia 21 tahun. Samir diharapkan mengisi lini tengah berperan dan fungsi seperti halnya Zidane sedang Hatem akan diplot di wing kiri. Selain itu Sidney Govou akan menjadi pelapis yang berguna.
Domenech membuat kejutan dengan tidak memanggil David Trezequet yang cukup bersinar musim ini bersama Juventus ketika dia mengumumkan nama 30 pemain yang dipersiapkan untuk Euro dalam konperensi pers di Tignes medio Mei lalu. Kejutan lain adalah dipanggilnya penyerang Saint-Etienne, Bafetimbi Gomis karena bersinar di musim ini dengan 16 gol liga. Gomis adalah pendatang baru di les bues. “Itu bukan kejutan, saya sudah mengamatinya sejak lama, adapun saya tidak memanggil Trezequet itu sematamata kebutuhan tim,”katanya.
Saat ini Domenech sedang mempersiapkan skuadnya menghadapi laga friendly internasional melawan Ekuador 27 Mei di Grenoble, Paraguay 31 Mei di Toulouse dan Kolombia 3 Juni di stade de France sebelum laga resmi menghadapi Rumania 9 Juni, Belanda 13 Juni dan Italia 17 Juni mendatang.
Persaingan di grup C ini akan memuncak dalam atmosfir panas jika memasuki matchday 3 belum satu pun tim yang memastikan diri lolos. Situasi demikian maka partai terakhir Perancis versus Italia di stadion Letzigrund Zurich berbarengan waktunya dengan laga Belanda versus Rumania di stade de Suisse Berne akan menjadi neraka bagi keempat tim. Khusus bagi Italia dan Perancis, dua favorit yang diunggulkan lolos dari grup C ini, pertemuan itu bisa saja sebagai laga awal. Jika keduanya lolos, dan berjaya di babak knock-down bisa-bisa bertarung ulang di grand-final. Persaingan Perancis dan Italia belakangan ini selalu panas, terutama sejak “clash” Materazzi dengan Zidane di final Piala Dunia Germany 2006. Dipastikan pertemuan mereka 17 Juni mendatang akan menjadi topik paling “hot” dalam sepakbola internasional. Bagi Perancis, terutama Domenech, dia mengharapkan ketemu Italia di grand-final. Dia berambisi menebus kekalahan dari Italia di final Germany 2006 kemarin, dengan mengalahkan Italia juga di final.***

UEFA Euro 2008 - Piala Eropa 2008

Piala Eropa 01/Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Italia, Juara Dunia 2006, Membidik Eropa 2008

Oleh : John Halmahera

Manchester United jawara Eropa mengalahkan Chelsea di final kompetisi antar klub paling bergengsi, UEFA Champions League. Sangat luar biasa dua klub elit Inggris bertemu di final Champions tetapi ironisnya timnas Inggris harus absen di Euro 2008 lantaran gagal lolos kualifikasi. Berarti para bintang MU dan Chelsea seperti Ferdinand, Brown, Rooney, Hargreaves, Terry, Ashley Cole, Lampard, Joe Cole tidak bisa hadir di Euro 2008. Setelah drama Champions di Moskow berakhir, kini orang mulai fokus ke Euro 2008 di Austria/Switzerland.
Inggris, salah satu tim besar, absen. Tetapi Euro 2008 tidak akan berkurang gema hingar bingarnya. Persaingan bakal seru. Di babak penyisihan perhatian paling besar mungkin akan fokus pada grup C yang disebut-sebut grup neraka. Di situ ada Perancis, juara Eropa 1984, juara dunia 1998, juara Euro 2000 dan runner-up dunia 2006. Ada juga Italia, pemegang supremasi World Cup 1934, 1938, 1982 dan 2006. Italia juga juara Eropa 1968. Tim hebat lainnya, Belanda. Tim negeri kincir angin ini tidak banyak reputasi internasionalnya, kecuali juara Eropa 1988, namun tradisi kuat dan berakar dari total football membuatnya disegani dunia. Tim keempat adalah Rumania, yang dijuluki “kuda hitam” grup. Tidak bisa dibayangkan bahwa salah satu dari tiga tim elit tersebut bakal tersingkir di penyisihan grup. Bahkan kejutan besar jika dua diantaranya yang tersingkir oleh Rumania. Bisa saja terjadi. Buktinya tim negeri “dracula” ini bahkan memuncaki kualifikasi grup G diatas Belanda.
Roberto Donadoni, pelatih Italia itu bermuram wajah sebagaimana juga air muka tiga rivalnya pelatih Perancis Raymond Domenech, pelatih Belanda Marco van Basten dan pelatih Rumania Victor Piturca, saat undian grup berlangsung yang menempatkan mereka di grup C. Bisa dimaklumi mengingat kekuatan tim hampir berimbang. Donadoni yang mengambil-alih azzurri Juli 2006 saat Marcello Lippi mundur, mengakui timnya berada dalam grup berat dan sulit. “Kami juga bergabung dalam grup berat di kualifkasi, namun toh kami lolos juga. Kami tidak risau akan jadwal. Kami akan menganggap setiap pertandingan adalah krusial karena memang demikian halnya. Fakta bahwa kita bertemu Perancis pada jadwal terahir, tidak akan memengaruhi persiapan tim kami.”
Perancis memang rival berat Italia. Di final Piala Dunia Germany 2006 mereka ketemu di final dan azzurri memenangkan partai dramatis yang diwarnai “clash” Zidane dengan Materazzi. Dua bulan kemudian, 6 September 2006 Italia ketemu lagi di Paris, kali ini azzurri kalah telak 1-3. Ketemu lagi di partai “home” azzurri hanya main imbang 1-1. Dalam kualifikasi Euro 2008, Italia mendapat tantangan berat dari Perancis, Skotlandia, Ukraina dan Lithuania. Tetapi di Euro 2008 pertandingan lawan Belanda (9 Juni), Rumania (13 Juni) dan Perancis (17 Juni) pasti akan lebih sulit.
Batas pendaftaran pemain adalah 28 Mei namun Donadoni sudah siap dengan skuad yang paling dia andalkan. Bahwa dua pilarnya gantung sepatu, Allesandro Nesta dan Francesco Totti, tidak membuat Donadoni ragu akan timnya dalam formasi andalan 4-2-3-1. Tiga pilar di belakang yang pasti jadi tumpuan, adalah kiper terbaik Gianluigi Buffon (Juventus) dan dua centre-back Fabio Cannavaro (Real Madrid) dan Marco Materazzi (Inter). Di wing-back kanan Christian Panucci (Roma) akan bersaing dengan Massimo Oddo (Milan) yang bisa melapis centre-back. Sementara Gianluca Zambrotta (Barcelona) di posisi kiri atau akan pindah ke kanan jika Fabio Grosso (Lyon) sudah kembali sepanas kondisinya di Germany 2006 lalu.
Penyakit atau kekurangan Italia adalah sering terlambat start dalam satu turnamen besar. Lihat ke belakang saat ditangani Enzo Bearzot di Espana 1982, tim azzurri bahkan terseok-seok pada awalnya meski akhirnya menjuarai Piala Dunia tersebut. Dalam dua pertandingan awal kualifikasi euro 2008, Italia ditahan draw Lithuania 1-1 dan kalah 1-3 dari Perancis. Tetapi ibarat mesin diesel yang makin lama kian panas skuad azzurri kemudian melahap satu persatu lawannya dan memuncaki grup B diatas Perancis. Di Piala Dunia Germany 2006, juga start buruk tetapi berakhir manis.
Tetapi di grup C bersama tiga rival beratnya, Italia tak boleh lagi terlambat start. Kalah di partai perdana vs Belanda bisa melempar tim azzurri keluar dari euro sebab kekuatan Rumania, lawan di partai kedua sulit diprediksi sementara lawan terakhir (Perancis) ibarat batu karang yang sulit ditekuk. Meskipun demikian Donadoni membawa juga beberapa pemain muda, menurutnya adalah bagian persiapan ke Piala Dunia 2010. Dia sudah menandatangani kontrak sampai 2010, tetapi tetap saja Euro 2008 merupakan tantangan besar baginya. “Aku akan mundur jika hasilnya tidak bagus.”
Donadoni, mantan gelandang dan playmaker yang memenangkan scudetto 5 kali bersama AC Milan dengan 261 penampilan di klub tersebut dan 63 caps azzurri. Sebagaimana line-up yang berubah-ubah dalam kualifikasi euro 2008, dia mungkin akan mempercayakan lini tengahnya pada trio AC Milan. Gelandang bertahan Massimo Ambrosini didampingi Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso. Ada juga pilihan lain yang tidak kalah kelas, dua pilar Roma, Daniele De Rossi dan Simone Perrotta serta gelandang Juventus Mauro Camoranesi dan dua enerji baru Riccardo Montolivo (Fiorentina) dan Alberto Aquilani (Roma).
Khusus Camoranesi, dia sering diturunkan di sayap kanan dari formasi trisula di belakang ujungtombak yang kemungkinan besar diisi striker Bayern Muenchen, Luca Toni. Tapi dalam deretan penyerang yang dibidik Donadoni, Antonio Cassano adalah kejutan jika benar-benar dipanggil. Penyerang Sampdoria berusia 25 tahun gemilang di musim ini mencetak 10 gol dalam 22 pertandingan seri A, namun absen di timnas sejak September 2006.
Cideranya Vincenzo Iaquinta dari Juventus membuat persaingan untuk mendampingi Luca Toni kian terbuka. Selain Cassano masih ada dua penyerang dari klub Udinese yang terampil musim ini, Fabio Quagliarella dan Antonio Di Natale. Juga Marco Borriello, usia 25 tahun, eks AC Milan yang mencetak 12 gol dalam 18 penampilan bersama Genoa musim ini. Penyerang muda yang sangat haus gol.
Formasi favorit Donadoni 4-2-3-1 akan menempatkan daya serang Italia sangat tajam dan produktif dengan basis pertahanan yang solid. Tim ini mengutamakan balans antara pertahanan solid dengan serangan yang tajam. Italia datang dengan kekuatan penuh serta ambisi besar. Dua belas kali tampil di euro, Italia telah memainkan 111 pertandingan dengan 59 menang, 35 draw dan 17 kalah, selisih gol 175 minus 77, dengan satu gelar di tahun 1968.
Italia salah satu favorit kuat memenangkan gelar Eropa 2008. Dibekali kepercayaan diri tinggi sebagai juara dunia 2006 skuad Donadoni membidik Euro 2008. Ingin menyamai reputasi Perancis, yang ketika menjadi juara dunia 1998 berikutnya sukses juara euro 2000. Karakter pantang menyerah yang akan mengerahkan segenap tenaga jika ketinggalan gol merupakan ciri azzurri. Sebaliknya jika sudah unggul gol, tim ini akan menutup rapat pertahanannya yang akan menjadi ujian berat bagi daya serang Belanda dan Perancis maupun Rumania.


***