Monday, August 9, 2010

World Cup 2010 (seri 25) Brazil And Netherlands

sSerial World Cup 2010 (25)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Peluang Brazil dan Belanda
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily News 24 Juni 2010

Brazil sedikit nervous dalam laga pertamanya, Korea Utara memberikan perlawanan ekstra ketat dengan pertahanan massal melibatkan 9 pemain, taktik yang sempat membuat fans Brazil tegang. Faktanya memang demikian, sepuluh menit babak kedua berlangsung barulah Brazil menembus kebuntuan dengan gol bek kanan Maicon. Gol kedua dari Elano mulai menurunkan tensi yang kemudian menanjak tegang lagi ketika Ji Yun Nam menembus gawang Julio Cesar.
Pada pertandingan kedua lawan Pantai Gading, Brazil memperlihatkan kelasnya sebagai juara dunia 5 kali, dengan skill dan semangat, menang 3-1 lewat dua gol Luis Fabiano dan satu lagi dari Elano yang lalu diperkecil Didier Drogba. Brazil pun lolos ke 16 Besar. Pada pertandingan ketiga yang tidak berpengaruh lagi, kecuali ingin mempertahankan posisi juara grup, Brazil tampil mengecewakan dengan performans dibawah standar plus 3 kartu kuning untuk Fabiano, Juan dan Felipo Melo. Turun tanpa Kaka yang kena kartu merah saat lawan Pantai Gading dan Elano yang masih cidera serta Robinho yang diistirahatkan, Brazil main untuk cari aman.
Kali ini di babak 16 Besar “seleccao” terlibat tanding “do or die” lawan Chili, rival Conmebol yang terkenal keras dan tidak mudah ditaklukkan. Catatan pertemuan dua tim, dominan Brazil. Di Copa America Venezuela 2007, penyisihan grup tgl 1 Juli 2007 di Maturin, hattrick Robinho 3-0 dan di perempat final 7 Juli di Puerto la Cruz keduanya ketemu lagi, Brazil menang 6-1 dua gol Robinho, Juan, Baptista, Josue dan Vagner Love. Di Copa America itu Brazil keluar sebagai juara, di final 15 Juli di Maracaibo, mengandaskan Argentina 3-0. Itulah sukses awal Dunga sebagai pelatih “seleccao” menjawab kritik pedas pers dan rakyat Brazil.
Di babak kualifikasi zone Conmebol menuju 2010 Brazil dua kali menang atas Chili. Dalam away ke kandang Chili, tgl 7 September 2008 Santiago De Chile, Brazil membungkam Chili 3-0. Lalu pada leg kedua di kandang sendiri 9 September 2009 di kota Salvador De Bahia pasukan Dunga kembali mendulang kemenangan 4-2 atas Chili. Sejarah pertemuan selengkapnya, Brazil menang 46, draw 12, kalah 7 dengan selisih gol 152 – 55.
Brazil tampak lebih superior, tetapi bukan jaminan untuk suatu kemenangan. Chili tidak akan terbelenggu dengan sejarah kekalahan itu, “kami akan bertahan lebih lama di Afrika,” kata sang pelatih Marcelo Bielsa yang orang Argentina. Artinya, dia optimis akan melangkahi Brazil.
Marcelo Bielsa yang dijuluki El Loco pernah mencicipi pil pahit ketika skuad Argentina yang ditanganinya gagal lolos ke putaran 16 Besar di Piala Dunia 2002. Ketika menangani Chili dia berjanji akan membawa Chili ke posisi atas dunia. Komitmen kuat El Loco memengaruhi skuadnya, pemain respek dan berjanji akan berjuang bersama-sama meraih ambisi besar itu. Tahapan kualifikasi dilangkahi dengan sukses, runnerup zone Conmebol, dibawah Brazil dan diatas Paraguay, Argentina dan Uruguay.
Permainan ofensif Chili menanjak sejak lawan Honduras, Swiss, kemudian Spanyol. Kesalahan kiper Claudio Bravo yang memudahkan David Villa mencetak gol dari jarak jauh. Lalu kartu kuning kedua Marco Estrada memaksa Chili main dengan 10 orang, lalu gol kedua Spanyol lewat Andres Iniesta, nyaris mengubur impian mereka. Chili bangkit, membalas lewat Rodrigo Milar. Seharusnya tersisih jika Swiss menang atas Honduras. Beruntung bagi Bielsa dan skuadnya Honduras tahan Swiss 0-0.
Mendapat keberuntungan itu, kini Chili menatap partai lawan Brazil dengan berani. Chili lebih bergairah dan semangat, tak ada lagi beban berat. Sebagai underdog menantang “raksasa” Brazil yang memiliki rekor panjang kemenangan atas mereka, skuad Bielsa ini main tanpa ragu dan tanpa takut kalah.
Dibalik optimisme dan ketidakgentaran, skuad La Roja Chili kehilangan duo centreback yang tangguh Gary Medel dan Waldo Ponce, jelas jantung pertahanan menjadi titik lemah meskipun bek kiri tangguh Gonzalo Jara diperkirakan akan mengisi salah satu tempat itu. Bielsa juga kehilangan gelandang Marco Estrada yang diusir wasit saat lawan Spanyol.
Mendukung ambisinya melaju ke 8 Besar Dunga akan memainkan the winning teamnya, Julio Cesar, Maicon, Lucio, Juan, Michel Bastos, Felipe Melo, Gilberto Silva, Kaka, Elano, Robinho dan Luis Fabiano. Jika Elano yang telah mencetak masing-masing satu gol ke gawang Korea Utara dan Pantai Gading, masih belum pulih, kemungkinan Dani Alves atau Ramires atau siapa saja. Dunga tak akan pernah kesulitan mencari pengganti saking banyaknya talenta bagus dan seimbang dalam skuadnya. Brazil berpeluang menang.
Jika lolos dari hadangan Chili, Brazil akan berhadapan dengan sandungan besar lainnya, Belanda yang kemungkinan besar akan mengalahkan Slovakia 4 jam sebelum laga Brazil pada hari yang sama. Partai Belanda versus Slovakia kemungkinan besar ditandai dengan kembalinya bintang Oranje, Arjen Robben yang sudah fit saat turun selama 15 menit di partai Belanda vs Kamerun.
Meskipun tak diperkuat Robben yangwaktu itu masih dalam pemulihan cidera Belanda menjadi tim pertama lolos ke 16 Besar setelah merengkuh dua kemenangan beruntun 2-0 atas Denmark dan 1-0 atas Jepang. Kali ini menghadapi Slovakia dengan hadirnya Robben maka skuad Oranje besutan Bert van Marwijk bakal turun dengan lineup terbaiknya.
Tetapi kubu Belanda tetap mewaspadai tim asuhan pelatih Vladimir Weiss yang didukung spirit pantang menyerah, kecepatan dan disiplin dalam organisasi. Diduga Slovakia akan bertahan rapat dan memanfaatkan serangan balik lewat sayap, strategi yang ternyata berhasil membuat frustasi lini depan Italia dan memorakmorandakan pertahanan juara bertahan itu. Mengalahkan Italia adalah lompatan besar bagi negeri pecahan Cekosloawakia itu.
Slovakia akan memainkan skema dan skenario yang sama, bertahan dengan sabar dan menanti kelengahan Belanda. Jika Oranje lengah, terutama saat pemainnya menggebu bernafsu mencetak gol sehingga membuka lubang-lubang pertahanan, maka Slovakia akan menerkam mencetak gol. Seperti itu juga skuad Vladimir Weiss menyingkirkan Italia. Didukung striker Robert Vittek 28 tahun si pencetak 2 gol ke gawang Italia, pemain muda 21 tahun klub Belanda, FC Twente Miroslav Stoch, dua gelandang Marek Hamsik 23 th (Napoli) dan Vladimir Weiss, 21 th, putra sang pelatih (Manchester City), serta Jan Durica komandan lini belakang dari klub Hannover. Tanpa merendahkan kualitas Slovakia, peluang menang berada di Belanda. Kita lihat saja.

***

World Cup 2010 (seri 24) Germany vs England

aSerial World Cup 2010 (24)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Jerman vs Inggeris
Antisipasi “perang psikologis”
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 26 Juni 2010

Setelah Perancis dan Italia pulang kampung, besok hari Minggu malam satu lagi tim juara dunia akan tersingkir. Salah satu diantara Jerman atau Inggeris. Dua tim ini akan tarung dalam perebutan tiket ke babak perempat final di stadion Mangaung Bloemfontein. Babak 16 Besar yang digelar dalam sistem knock-out hanya mengenal satu pemenang. Jika terjadi draw, akan ada extra-time. Jika masih saja draw maka adu pinalti.
Pertemuan dua tim juara ini terlalu dini. Adalah Donovan, gelandang serang USA, yang mencetak gol di injury-time ke gawang Aljazair telah mengubah kedudukan grup C. Diluar dugaan USA memuncaki grup, Inggris di posisi runner-up. Slovenia yang tadinya sudah gembira di posisi runner-up grup mendadak merosot dan terlempar dari Piala Dunia akibat gol semata wayang USA itu.
Pertandingan Inggeris versus Jerman merupakan big-match yang mendebarkan kedua kubu. Tak disangkal baik Fabio Capello maupun Joachim Low meskipun was-was dan tegang namun telah merancang strategi untuk dimainkan skuadnya. Jerman kena pukulan mengejutkan ketika kalah 0-1 dari Serbia namun bangkit kembali, memukul Ghana 1-0 dalam partai penentuan. Joachim Low mengharap timnya bisa tampil dalam performans terbaik, minimal seperti penampilan di partai perdana melumat Australia 4-0.
Tiga pemain, Bastian Schweinsteiger, Mesut Oezil dan Jerome Boateng yang cidera ketika lawan Ghana diharapkan bisa pulih dan tampil hari Minggu besok. Asisten coach Hans-Dieter Flick masih menunggu kepastian dari tim dokter recoverynya Schweini (Schweinsteiger) dan Jerome, sedangkan Mesut Oezil si pencetak gol tunggal ke gawang Ghana dipastikan bisa masuk line-up starter. Jika semua pemain dalam keadaan fit, Low akan menurunkan line-up the winning-team. Kiper Neur, empat defender Lham, Mertesacker, Badstuber, Friedrich. Tiga gelandang Oezil, Schweinsteiger, Khedira. Tiga penyerang Mueller, Klose dan Podolski. Jika Schweini belum pulih, satu pukulan bagi Jerman, posisinya diisi pemain muda Bayer Leverkusen, Toni Kroos.
Jerman tetap mewaspadai Inggeris. Meskipun tampil tidak mengesankan dalam dua pertandingan awal dan mulai bangkit di pertandingan lawan Slovenia, skuad Capello belum memperlihatkan performans yang semestinya. Tetapi bagaimanapun juga Jerman tetap menganggap Inggeris rival berat dan kandidat juara 2010. Bisa saja Inggeris tampil dalam performans terbaiknya, itulah yang diwaspadai skuad Jerman. Rooney yang dalam tiga pertandingan mandul dan tidak dalam performans terbaiknya bisa saja kembali menggila sebagai striker berbahaya.
Dua tim ini cukup dimalui di Eropa dan pertarungan antara keduanya menjadi berita besar, bahkan seandainya hanya friendly match. Maka partai di Bloemfontein 2010 ini sudah menyedot perhatian pers dunia. Tiga partai lain di hari Sabtu dan Minggu, Uruguay vs Korea Selatan, Argentina vs Mexico, dan USA vs Ghana, menjadi nomor dua.
Fabio Capello berhasil memulihkan keretakan internal timnya sehingga tim bisa tampil cukup lumayan memenangi partai lawan Slovenia. Kini keretakan sudah jadi masa lalu, keharmonisan tim menjadi perhatian semua anggota skuad. Steven Gerrard Cs telah berlatih dengan gembira dalam persiapan menghadapi Jerman. Capello tampaknya akan menurunkan line-up : James, A Cole, Terry, Carragher, Johnson, Milner, Lampard, Gerrard, Barry, Rooney dan Defoe.
Partai ini bakal seru dan imbang. Keduanya akan main menyerang untuk memburu gol lebih dini.
Kedua tim bahkan telah mulai berlatih dengan tendangan pinalti, jaga-jaga jika hasil draw sampai extra-time sehingga harus ditentukan adu-pinalti. Rekor internasional antara kedua tim, dalam 27 pertemuan, Inggris menang 12, kalah 10 dan draw 5 selisih gol 47-34. Rekor ini bukan jaminan. Sulit untuk prediksi pemenangnya. Mungkin hasilnya draw.
Hari Minggu besok juga berlangsung partai menarik antara wakil Conmebol Argentina yang juara dunia 2 kali (1978, 1986) menghadapi wakil Concacaf Mexico. Skuad Diego Maradona akan memainkan skema menyerang dengan tiga striker handalnya Higuain, Messi dan Tevez. strategi Maradona memberi Messi ruang gerak yang bebas dan luas, telah menjadikan Messi “hidup” dan menjadi “duri” bagi pertahanan lawan. Dia belum mencetak gol tetapi hampir semua gol Argentina diawali gerakan eksplosifnya.
Tetapi Mexico yang dimotori defender Barcelona, Rafael Marquez akan memberikan perlawanan ketat. Permainan pressure skuad asuhan Javier Aguirre ini akan dimulai dengan mengawal ketat Messi dan menutup ruang gerak Juan Veron atau Maxi Rodriguez. Bertahan dengan baik dan ketat dan menyerang dengan permainan cepat, Mexico mengandalkan striker Galatasaray usia 21 tahun, Giovani Dos Santos sebagai penggerak tim. Argentina berpeluang menang.
Dua partai hari Sabtu malam nanti tidak kalah seru. Uruguay, juara dunia masa lalu (1930, 1950) dan semifinalis di Mexico 1970 mengalami kemajuan signifikan ditangan Oscar Tabarez pasang target menembus final. Uruguay sudah lama terpuruk, kredibilitas sebagai tim juara hanya dicapai di pentas Copa America, begitu main di luar benua, Uruguay tak mampu berbuat banyak. Citra inilah yang sedang diubah Tabarez dan skuadnya. Saatnya di 2010 Uruguay bangkit.
Lawannya di Port Elizabeth Sabtu malam nanti, Korea Selatan adalah tim yang tidak mudah ditundukkan. Korea memiliki semangat pantang menyerah, materi pemain dengan speed dan power yang mumpuni yang tidak kalah dari Uruguay. Keduanya punya ambisi besar, Korea ingin membuktikan mereka juga bisa prestasi di luar kandang, masuk semifinal seperti 2002 di depan publik sendiri. Uruguay ingin menutup sejarah kelamnya dan membuka lembaran baru. Partai ini akan berlangsung keras dengan peluang menang di kubu Uruguay.
Ambisi Pantai Gading lolos ke 16 Besar gagal meskipun menang 3-0 atas Korea Utara. Grup ini meloloskan Brazil sebagai pemuncak grup dan Portugal sebagai runner-up maka wakil Afrika hanya menyisakan Ghana. Sabtu malam nanti di Rustenburg, Ghana akan menghadapi USA. Tidak hanya untuk negara sendiri tetapi Ghana juga berjuang untuk Afrika dan mengharapkan dukungan segenap warga Afrika. Harga diri dan kehormatan Afrika menjadi beban bagi Ghana.
Sedangkan USA dikenal sebagai tim yang akan “fight” sampai detik-detik terakhir. Dalam beberapa pertandingan USA seringkali mencetak gol di menit-menit akhir. Daya juang dan ketahanan fisk serta stamina yang dirangkum dalam kesatuan dan kebersamaan menjadi kekuatan tim USA. Ciri main skuad besutan Bob Bradley ini, main agresif dan ofensif memburu gol dan mengawal pertahanan tanpa kompromi. Bukan mustahil USA yang menang. ***

World Cup 2010 (seri 23) Cile vs Spain

aSerial World Cup 2010 (23)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Cile vs Spanyol
Cile Siapkan “kuburan” untuk Spanyol?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 25 Juni 2010

Afrika Selatan 2010 pentas terkuburnya para juara dunia. Sampai dengan hari Kamis malam kemarin sudah dua juara dunia angkat koper. Juara dunia 1998 Perancis pulang kampung sebagai juru kunci grup A hanya draw lawan Uruguay di hari pertama kemudian kalah beruntun 0-2 dari Mexico, 1-2 dari Afrika Selatan. Dari grup ini Uruguay dan Mexico lolos ke babak 16 Besar.
Kamis malam kemarin, juara dunia 4 kali Italia (1934, 1938, 1982, 2006) ditekuk Slovakia 2-3 dan berakhir di posisi juru kunci grup B. Pertandingan pertama 0-0 lawan Paraguay, kemudian draw 1-1 lawan Selandia Baru dan klimaksnya digusur Slovakia dalam partai menegangkan. Dari grup ini Paraguay dan Slovakia lolos.
Lima juara dunia lainnya berhasil lolos ke babak 16 Besar, Argentina, Uruguay, Inggeris, Jerman dan Brazil. Masih menyisakan satu pertandingan tetapi seleccao asuhan Dunga telah memastikan lolos ke babak 16 Besar.
Dari grup G Portugal pun sudah 99 persen lolos, menyusul Brazil. Rival dekatnya, Pantai Gading butuh “keajaiban” untuk bisa merebut tiket yang sudah ditangan Portugal. Skuad asuhan pelatih Sven Goran Eriksson harus menang dari Honduras dengan selisih gol besar dan mengharap Brazil memukul Portugal dengan skor besar. Hitungan itu sangat mustahil bisa terjadi.
Pantai Gading ketinggalan gol minus 2 agak mustahil bisa mengejar gol plus tujuh Portugal. Jadi boleh dikata 2 partai di grup G ini hanya perebutan juara grup antara Brazil versus Portugal di kota Durban jam 21.00 WIB. Sedang Pantai Gading versus Korea Utara menyangkut kehormatan dan kebanggaan khususnya bagi skuad chollima asuhan pelatih Kim Jong-Hun.
Posisi sudah lolos ke putaran 16 Besar sering kali menempatkan pelatih pada dua pilihan. Main dengan line-up the winning team atau mengistirahatkan beberapa pilar dan memberi kesempatan main pada pemain cadangan. Diego Maradona telah melakukan itu, menurunkan line-up kedua, hampir 6 pemain pilarnya diistirahatkan.
Apakah Brazil dan Portugal akan memainkan skenario seperti Argentina, ataukah main dengan segenap kekuatan untuk memenuhi ambisi menang dan merebut posisi juara grup yang mungkin saja akan menghindar dari Spanyol jika skuad Vicente Del Bosque ini sukses memuncaki grup H. Karena juara grup H akan tanding lawan runner-up grup G di babak 16 Besar.
Di grup H unggulan Spanyol terdampar pada situasi membahayakan. Ancaman serius datang dari Chili, tim besutan pelatih Argentina Marcelo Bielsa. Partai yang akan dipimpin wasit Mexico Marco Rodriguez di stadion Loftus Versfeld, Tshwane Pretoria, bisa jadi kuburan bagi Spanyol atau jadi ajang pesta kegembiraan lolos ke putaran 16 Besar. Hasil kalah atau draw maka La Roja Espana sudah pasti tersingkir jika Swiss bisa menundukkan Honduras. Maka tidak ada jalan lain bagi Spanyol melainkan menang atas Chili.
Bagaimana dengan Chili? Jika kalah dari Espana dan pada saat yang sama di stadion Mangaung Bloemfontein Swiss sukses mengalahkan Honduras, maka skuad Marcelo Bielsa tersisih. Fakta ini mendorong Spanyol seperti juga Chili akan “fight all out” memenangkan pertandingan. Rekor selama ini tim dari negeri Matador itu menang 6 kali dan satu draw dalam 7 pertemuan dengan Chili, dengan mencetak 18 gol dan hanya kemasukkan 3 gol. Tapi rekor ini bukan jaminan bagi Spanyol untuk menang.
Saat ini para pemain Chili memiliki percaya diri tinggi setelah memenangkan dua pertandingan awal di grupnya, 1-0 atas Honduras dan juga 1-0 atas Swiss. Ditangani Marcelo Bielsa, Chili berkembang pesat menjadi tim Amerika Latin yang tangguh, percaya diri dengan materi pemain yang mumpuni serta dalam organisasi teamwork yang kompak. Di kualifikasi zone Conmebol tim Chili berakhir di urutan dua dibawah Brazil. Lebih unggul dari Paraguay, Argentina dan Uruguay. Bekal percaya diri inilah yang akan diusung menghadapi Spanyol.
Sebagai juara Eropa 2008 dan tim unggulan yang difavoritkan kandidat juara di Afrika Selatan 2010 skuad Vicente Del Bosque lebih berpeluang menang atas Chili. Di awal penyisihan grup H Spanyol tumbang 0-1 oleh Swiss. Strategi cerdik Swiss, bertahan rapat dan berlapis, sabar menahan serangan Spanyol, dan hanya mengandalkan serangan sporadis, akhirnya membuahkan hasil. Tampaknya strategi defensif dengan disiplin tinggi serta kerja keras pantang menyerah, jadi pilihan Marcelo Bielsa untuk mengimbangi kelebihan skill generasi emas Spanyol.
Materi Spanyol bertumpu pada pemain yang memiliki skill mumpuni dan kemampuan menahan bola serta passing yang akurat dan tajam, lini belakang Gerard Pique, Carlos Marchena, Carles Puyol, Joan Capdevila membentengi kiper Iker Casillas. Di lini tengah yang menjadi inti daya serang tim, Andreas Iniesta, Xavi Hernandes, Xabi Alonso, Sergio Ramos, David Silva yang bekerja keras membantu striker haus gol klub Valencia, David Villa. Masih ada lagi dua bintang tenar yang tidak kalah kelasnya, Cesc Fabregas dan Fernando Torres menanti giliran main.
Chili mungkin saja meniru strategi Swiss yang menumpuk kekuatan di lapangan tengah dan melakukan pressure ketat kepada setiap pemain Spanyol di sektor tengah. Tapi terkadang press kepada lawan jika diterapkan dengan agresifitas berlebihan bisa berakibat pelanggaran yang membuahkan kartu kuning bahkan bisa saja kartu merah.
Pada pertandingan hari pertama lawan Honduras, Chili menerima dua kartu kuning. Ketika harus berjuang keras lawan Swiss, 6 kartu kuning diterima skuad Chili. Hal ini jika bisa dimanfaatkan Spanyol maka bukan tidak mungkin ada pemain Chili yang diusir wasit. Bandingkan dengan skuad Spanyol yang dalam dua pertandingan tak menerima kartu kuning satu pun.
Marcelo Bielsa tampaknya leluasa memilih pemain untuk partai krusial itu. Beberapa pilar yang main di La Liga dan Seri A jadi pilihan dalam dua pertandingan lalu akan masuk line-up malam nanti. Kiper Real Sociedad Claudio Bravo, Mauricio Isla, Alexis Sanchez, Humberto Suazo, Fabian Orellana, dan striker andalan Mark Gonzalez yang main di CSKA Moscow. Sayang gelandang serang bertenaga Sporting Lisbon, Matias Fernandez tak bisa main karena akumulasi kartu kuning.
Partai ini akan menarik, Chili yang mengandalkan permainan keras dan penjagaan ketat, menghadapi Spanyol yang mengutamakan permainan tehnik tinggi, pertarungan otot versus skill.
Peluang menang berada di kubu Spanyol, tetapi bukan mustahil Chili bisa meraih hasil draw. Ada motivasi khusus Chili untuk fight, sebagai wakil Conmebol yang terakhir yang masih berkutat untuk lolos. Empat lainnya sudah lolos, Uruguay, Brazil, Argentina dan Paraguay.
Partai lain di grup H ini, Swiss akan fight all-out untuk merebut kemenangan dari Honduras, wakil zone Concacaf yang underdog dan tidak punya peluang lolos. Hanya keajaiban yang bisa meloloskan Honduras, misalnya mengalahkan Swiss dengan dua gol dan saat yang sama Chili memukul Spanyol dengan dua gol. Diatas kertas, Swiss akan menang. ***

World Cup 2010 (Seri 21) Itali vs Slovakia

Serial World Cup 2010 (21)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Italia vs Slovakia
Lolos atau Pulang
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 24 Juni 2010

Kamis sore jam 16.00 waktu setempat atau jam 21.00 WIB, juara dunia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006) Italia akan menghadapi Slovakia di Johannesburg. Pasukan Marcello Lippi harus menang jika mau memastikan lolos ke putaran 16 Besar. Kalah sudah pasti tersingkir. Jika draw masih tergantung pada partai Paraguay vs Selandia Baru yang berlangsung pada jam yang sama di kota Polokwane. Bagi Slovakia, menang berarti lolos, kalah atau draw tersingkir. Tidak heran jika perhatian pecinta bola sedunia fokus pada partai “hidup mati” Italia versus Slovakia.
Posisi Italia yang sulit dan terancam ini disebabkan penampilan buruk dua laga sebelumnya, draw 0-0 lawan Paraguay dan 1-1 lawan Selandia Baru. Gol ke gawang Selandia Baru juga diperoleh dari pinalti “hadiah” wasit Carlos Batres yang melihat Danielle de Rossi jatuh di kotak pinalti. Italia memang tampil dibawah form. Namun sejarah mencatat di Piala Dunia 1982 Italia kendati tertatih-tatih di awal, bisa survive lolos ke putaran dua.
Kala itu “squadra azzurri” asuhan pelatih Enzo Bearzot salah satu tim favorit tapi penampilannya di penyisihan grup sangat mengecewakan. Tampil dengan sepakbola defensif cattaneccio Italia hanya draw tiga kali, 0-0 lawan Polandia, 1-1 lawan Peru dan Kamerun. Skuad Enzo Bearzot ini lolos ke babak kedua sebagai runner-up grup dibawah Polandia. Namun Italia mulai tampil mengesankan ketika mengalahkan Argentina 2-1 di grup C putaran kedua dalam pertarungan yang sangat menarik
Pertandingan terakhir putaran kedua, kembali lagi “squadra azzurri” membuat kejutan besar menekuk Brazil 3-2. Inilah kemenangan “cattenaccio” atas “jogo bonito” yang paling manis. Italia menang karena memiliki penjaga gawang Dino Zoff yang entah berapa kali membuat “save” gemilang dan striker Juventus berwajah pucat yang dua bulan sebelumnya terbelit kasus suap, Paolo Rossi yang mencetak hattrick kegawang Brazil.
Azzurri melaju terus di semifinal giliran Polandia, peringkat tiga Piala Dunia 1974 ditekuk 2-0 dan di final skuad Bearzot menang 3-1 atas Jerman Barat, tim panzer yang masa itu dianggap “momok” bagi tim-tim Eropa.
Catatan ini paling tidak mengingatkan Italia yang tertatih-tatih bisa menggeliat bangkit dan merebut kemenangan demi kemenangan. Rabu malam kemarin juga menandai kejadian hampir sama. Inggeris yang tampil buruk di dua pertandingan awal, bangkit dan menang 1-0 atas Slovenia untuk maju ke babak 16 Besar. Begitu juga Jerman yang sebelumnya kalah 0-1 dari Serbia dan terancam gagal lolos, mampu bangkit menggasak Ghana 1-0 dan lolos sebagai juara grup D. Bangkitnya Jerman dan Inggeris, bisa jadi motivasi “squadra azzurri” untuk bangkit dan memenangkan partai krusial lawan Slovakia.
Perjuangan Italia pasti tidak gampang. Sejarah 27 pertemuan antara keduanya, Italia menang 10, Slovakia menang 8, sisanya (9) draw dengan gol Italia unggul 42-38. Kekuatan seimbang, itu sebab Italia butuh strategi Lippi yang jitu dan line-up starter pemain yang bertenaga. Kabar terbaru, Italia belum bisa memainkan playmaker AC Milan, Andrea Pirlo, tetapi nama pemain berusia 31 tahun ini sudah masuk line-up cadangan, artinya siap tampil tiap saat.
Kubu azzurri dalam posisi tertekan. Marcello Lippi sang pelatih menghibur diri,”jika Paraguay kalahkan New Zealand, maka kita bisa lolos dengan tiga kali draw seperti tim 1982.”
Bisa ditebak bahwa Lippi akan menutup pertahanannya sambil mencari celah mencetak gol. Komandan lini belakang tetap pada libero Juventus berusia 37 tahun Fabio Cannavaro sementara urusan mencetak gol tanggung jawab Iaquinta, Gilardino dan gelandang serang AS Roma Danielle De Rossi yang gemerlap dalam 2 pertandingan sebelumnya.
Saya katakan Lippi harus punya strategi jitu, terutama melapis pertahanan mengingat Cannavaro sudah lamban. Apalagi materi Slovakia asuhan Vladimir Weiss lebih cepat dan bertenaga. Defender Peter Pekarik (Wolfsburg) dan Martin Skrtel (Livepool) usianya masih dibawah 25 tahun akan aktif membantu serangan, dua gelandang serang Vladimir Weiss Manchester City 21 tahun, Stanislav Sestak, klub Bochum Jerman 28 tahun sebagai penyeimbang dan dua striker muda Marek Hamsik Napoli 23 tahun dan Erik Jendrisek Kaiserslautern 23 tahun.
Slovakia punya keberanian, motivasi dan tekad untuk menang, memiliki tenaga dan kecepatan maka partai ini akan menjadi tontonan menarik dari 4 laga yang digelar malam nanti. Saya pikir Italia lebih berpeluang untuk menang.
Di grup F Paraguay yang sementara pimpinan grup menghadapi underdog yang penuh kejutan Selandia Baru. Bagi Paraguay hasil draw sudah cukup untuk lolos, namun pelatih Gerardo Martino mengincar kemenangan untuk memuncaki grup. Dua striker klub bundesliga Borussia Dortmund, Nelson Valdez 26 tahun dan Lucas Barrios 25 tahun akan jadi harapan mencetak gol. Peluang Paraguay untuk menang cukup terbuka.
Di kubu Selandia Baru, pelatih Ricki Herbert memastikan timnya akan menyerang. Untuk lolos kemenangan menjadi prioritas. Seandainya draw juga bisa lolos jika Italia draw tanpa gol dengan Slovakia. Semua masih bisa terjadi. Misalnya partai Rabu malam kemarin, tim USA di menit injury-time mencetak gol ke gawang Aljazair lewat Donovan dan lolos sebagai juara grup menempatkan Inggeris di posisi runner-up. Padahal pasar tarohan menjagoi Inggeris juara grup.
Malam nanti waktu setempat atau Jumat dini hari WIB, dua partai grup E akan dipentaskan untuk menentukan posisi akhir tiga kesebelasan, Belanda, Denmark dan Jepang. Sementara satu lainnya Kamerun sudah pasti tersisih.
Belanda, unggulan grup E yang belum pernah juara Piala Dunia, berlaga lawan Kamerun di Cape Town. Posisi Belanda sudah aman, dua kakinya sudah berada di babak 16 Besar, seandainya kalah pun tidak menggagalkan tiket yang sudah ditangannya. Sebaliknya Kamerun, peluang lolos sudah tertutup. Menang pun tak akan mengubah nasibnya, tetap harus angkat koper. Belanda mungkin akan menyimpan beberapa pemain pilar, namun tetap menargetkan menang. Menang atau draw, Belanda akan menjuarai grup. Dan Belanda berpeluang menang.
Satu tiket grup E akan ditentukan antara Jepang lawan Denmark dalam posisi dimana Jepang hanya perlu hasil draw untuk lolos sementara Denmark memerlukan kemenangan. Inilah partai keras, kedua tim akan berjuang keras memenangkan pertandingan. Denmark berpeluang menang. Tetapi akan sulit menang jika Jepang tampil lebih defensif. ***

World Cup 2010 (seri 21) Group C, Group D

Serial World Cup 2010 (21)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Partai Krusial Grup C Dan D
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 23 Juni 2010

Gosip melanda tim Inggeris menjelang tanding “do or die clash” lawan Slovenia hari Rabu malam 21.00 WIB di stadion Nelson Mandela Port Elizabeth. Semuanya berkisar pada sang pelatih “Don” Fabio Capello. Gosip bahwa Capello akan mundur apabila Inggeris gagal lolos ke putaran dua. Bahwa para pemain mempertanyakan secara terbuka strategi garis keras Don Fabio yang mengasingkan timnya tiga pekan di kamp latihan.
Serangan itu dijawab Capello. “Saya cukup tangguh menghadapi itu. Tidak ada masalah bagiku. Saya bekerja keras dan mempersiapkan segalanya. Itu yang penting. Setiap pagi saya berkaca di cermin dan bertanya apakah saya sudah mengerjakan dan apakah saya sudah pelajari segala sesuatunya. Jawabannya, iya. Karena alasan ini saya bisa menerima kritik. Saya tidak tahu apa resultnya tapi saya tahu bahwa result adalah sesuatu yang paling penting.”
Beberapa figur senior FA (Federasi Inggeris) menegaskan mereka tetap berada di belakang Capello dan tim Inggris. “Kami fokus pada pertandingan Rabu nanti,” kata Bevington, senior dan managing director. Tidak ada yang lain di pikiran kami melainkan mendukung Capello dan skuadnya, dan saya yakin seluruh fans akan mendukung mereka di Port Elizabeth nanti.”
Capello mengakui tidak bisa menjawab sebab-musabab yang persis mengapa skuadnya tampil begitu buruknya. Kejadiannya mirip dan hampir identik dengan penampilan pertamanya lawan Swiss di Wembley Februari 2008 dimana dia melihat semua skema latihan yang telah diberikan kepada tim, tidak diterjemahkan dalam pertandingan. “Saya hampir merasa semua pekerjaan dalam dua tahun belakangan ini, berujung nihil sama sekali. Jelas bahwa saya tidak puas, kami sudah bekerja 20 hari dan kami semua melihat dan tahu apa yang sudah ditampilkan dalam latihan. Mendadak saja di pertandingan semuanya berubah dan berbeda. Sebagai manager, kejadian itu sangat tidak baik. Saya tidak mengerti mengapa dalam pertandingan, kami tidak mengubah irama, meningkatkan tempo atau kecepatan. Kami sangat lamban. Di pentas Piala Dunia, jika kita tidak berlari dan melakukan pressure pada lawan, atau kita “tidak fight” maka kita mengalami kesulitan untuk maju terus.”
Tapi Capello seorang pengalaman, ada keyakinan dia akan mengatasi kesulitan internal yang memang sering terjadi pada tim-tim besar menyusul kekalahan atau penampilan buruk, saling salah menyalahkan antar sesama pemain maupun antar pemain dengan pelatih. Perancis pun mengalami hal sama, berbuntut pemulangan Anelka oleh Federasi Perancis (FFF). Dan tugas Capello adalah merekat kembali kesatuan tim yang sudah hampir terlepas.
Di lapangan Capello juga dihadapi problema. Gelandang andalan Manchester City, Gareth Barry sudah bisa tampil waktu lawan Aljazair kemarin. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, Inggeris kembali kehilangan pilar lini belakang. Setelah Rio Ferdinand tidak masuk skuad lantaran cidera parah, kini kehilangan dua centre-back, Ledley King karena cidera dan Jamie Carragher sebab akumulasi kartu kuning. Capello memilih centre-back West Ham, Matthew Upson mendampingi John Terry. Masih ada pilihan lain di posisi ini, defender Tottenham Hotspur Michael Dawson, pemain terakhir masuk skuad sebagai pengganti Rio Ferdinand. Tinggal siapa diantara keduanya yang cocok membantu John Terry di jantung pertahanan.
Kita tidak tahu apa rencana Capello dengan line-up dan strateginya. Jika saja skuad “three lions” ini bisa tampil sebagaimana di babak kualifikasi maka tidak sulit untuk meraih kemenangan atas Slovenia. Saya kira Capello bisa saja membuat beberapa perubahan, sudah lazim jika pelatih mengambil resiko mengubah line-up dan strategi terhadap timnya yang tidak tampil maksimal. Apalagi Inggeris tampil dibawah form dalam dua pertandingan beruntun, semuanya draw lawan USA dan Aljazair. Dua tim yang di atas kertas bisa mereka taklukkan.
Partai ini krusial. Slovenia juga tidak akan menyerah begitu saja. Pelatih Matjaz Kek melihat adanya cahaya terang bagi timnya untuk lolos, minimal jika meraih draw dari partai malam nanti.
Peluang itu ada, sebagian pilar Inggeris cidera atau absen. Masalah internal di tubuh Inggeris, clash antar pemain dan ofisial, juga merupakan keuntungan bagi skuad Matjaz Kek.
Beban harus menang atau minimal tidak kalah dari Inggeris sudah ditiupkan ke ubun-ubun semua pemainnya. “Inilah saatnya kita persembahkan sesuatu yang paling berharga bagi negeri kita, yakni kebanggaan dan kehormatan,” kata playmaker klub Auxerre, Valter Birsa yang diamini semua rekannya. Kiper handal klub Udinese Samir Handanovic, striker klub Gent Zlatan Ljubijankic, striker FC Koeln Milvoje Novakovic, defender Chievo Bojan Jokic dengan kapten Robert Koren yang kini statusnya bebas transfer, akan memberi perlawanan keras selama 90 menit, menantang ambisi Inggeris.
“Untuk negeri kecil macam negeri kami, prestasi yang luar biasa bisa hadir di Piala Dunia, tadinya tidak ada yang memerhatikan kami, tetapi sekarang ini semua perhatian pada kami dan kami ingin meraih sukses yang lebih besar lagi.” Kata striker Novakovic.
Slovenia siap memberi kejutan sebagai tim yang menyingkirkan Inggeris dari pentas dunia, namun di atas kertas, saya lebih menjagoi Inggeris. Rasanya aneh jika Steven Gerrard CS tidak mau fight untuk tiket ke putaran dua. Bukan saja kehormatan “three lions” yang jadi tarohan juga gengsi kompetisi liga premier. Skuad Capello akan tampil beda dan memenangkan partai krusial itu dan lolos ke putaran kedua dengan penuh kebanggaan.

USA Target Menang
Partai lain, yang berlangsung pada waktu yang sama tapi di stadion berbeda, USA lawan Aljazair. Bagi tim “paman Sam” kemenangan sudah menjadi harga yang harus dijalani. Hanya dengan menang maka tim bisa melaju ke putaran dua. Kalah atau draw berarti tersingkir dan angkat koper. Sedangkan Aljazair yang tadinya underdog, ternyata mampu memperlihatkan permainan team-work dengan skill perorangan yang tidak kalah kelas dari rivalnya.
Aljazair kalah 0-1 dari Slovenia, hanya karena blunder kiper. Pada penampilan kedua berhasil menahan Inggeris tanpa gol. Kini skuad asuhan Rabah Saadane akan menantang skuad Bob Bradley dalam partai yang tidak saja menentukan nasib sendiri juga menyangkut lolos tidaknya tim lain. Targetnya menang. USA juga target menang. Maka bisa dipastikan USA dan Aljazair akan sama-sama main menyerang. Di atas kertas, USA berpeluang menang.

Jerman partai krusial
Joachim Low yakin skuadnya akan keluar sebagai pemenang atas Ghana. Alasannya, fitnes Philipp Lahm Cs adalah kuncinya. Tim panzer ini mampu bermain dalam tempo tinggi sepanjang 90 menit. Kondisi fisik, stamina dan tenaga inilah yang akan jadi tumpuan Low dalam meracik line-up dan strateginya.
Jerman butuh recovery cepat mengembalikan percaya diri setelah kekalahan mengejutkan dari Serbia 0-1 setelah sebelumnya menghancurkan Australia 4-0. Kalah dari Ghana, maka Jerman akan tersingkir, hal ini akan mencoreng sejarah Jerman yang belum sekalipun dalam sejarah Piala Dunia tidak lolos ke putaran dua. Apalagi sekarang ini Afrika Selatan 2010 menjadi target untuk menjadi juara yang keempat kalinya, menyamai Italia.
Ghana tim yang lebih cepat dan bertenaga dibanding Serbia, mereka akan menyerang menuntut kemenangan. Tidak seperti Serbia yang waktu lawan Jerman punya strategi mencari draw. Ghana mencari menang, meskipun hasil draw sudah cukup untuk lolos. Kalau skuad asuhan Milovan Rajevac main untuk draw artinya tampil dalam skema bertahan dengan mengandalkan serangan balik, saya kira justru akan membuka peluang bagi Jerman untuk mencetak gol.
Milovan Rajevac tampaknya akan menurunkan sebagai starter di lini belakangnya, duo centre-back kapten John Mensah dan Isaac Vorsah di jantung pertahanan untuk membendung gempuran Jerman. Dua pemain ini absen ketika Ghana draw 1-1 lawan Australia. Keduanya mengalami gangguan cidera ringan yang tidak serius tetapi Rajevac menyimpan keduanya agar fit pada partai krusial lawan Jerman. “Saya sengaja menyimpan keduanya untuk partai lawan Jerman yang menurut saya asangat krusial.” Kata Rajevac.
Jerman punya materi pemain dan gaya menyerang yang sangat bervariatif khususnya terbosan-teroboisan di sektor sayap untuk membuat umpan tarik di mulut gawang. Atau bola-bola crossing di depan gawang menjadikan duel udara.
Sayang dalam partai krusial ini Jerman harus kehilangan striker Bayern Munich Morislav Klose akibat dua kartu kuning yang diterimanya dalam partai lawan Serbia. Hilangnya striker andalan ini maka kemungkinan Low akan menjadikan striker kelahiran Brazil, Cacau sebagai penyerang tunggal dengan dukungan trisula dibelakangnya Mesut Oezil, Lukas Podolski dan Thomas Mueller. Saya kira Jerman akan keluar sebagai pemenang.

Serbia vs Australia
Satu partai lain di grup D juga persaingan menentukan nasib, antara Australia versus Serbia yang tidak kalah krusialnya. Serbia mengantongi nilai sama dengan Jerman. Tetapi Serbia kalah gol sehingga untuk bisa lolos ke putaran dua, menjadikan menang sebagai target yang tidak bisa ditawar-tawar. Satu kemenangan, nilainya menjadi 6, Serbia akan lolos ke babak 16 Besar apapun hasil partai Ghana versus Jerman.
Australia menjadi tim underdog yang persentase lolos ke babak 16 Besar paling kecil. Defisit 4 gol yang ditelannya dari gempuran Jerman di partai perdananya telah memojokkan tim negeri kanguru ini ke posisi juru kunci. Skuad asuhan Pim Verbeek ini dalam posisi terpojok mungkin akan tampil menyerang dan mengharapkan bisa menjaringkan banyak gol. Paling tidak, jika bisa menang dengan empat gol dan Ghana dipukul Jerman maka Austalia lolos. Inilah keajaiban yang sedang dinanti pasukan Pim Verbeek.
Dalam sepakbola semua bisa terjadi, seperti kemenangan Portugal 7-0 atas Korea Utara. Siapa pun tak mengira Portugal bisa menang sebesar itu. Itulah keajaiban dalam sepakbola yang terkadang menjungkirbalikkan semua ramalan.
Serbia dan Australia sama-sama menyerang akan menjadikan tontonan menarik. Kekuatan dua tim seimbang. Kalaupun hasilnya draw maka itulah perhitungan normal di atas kertas, namun jika cukup beruntung, Australia bisa menang. Bagi skuad Pim Verbeek, menang meskipun hanya satu gol, sudah cukup untuk berbangga tidak sebagai juru kunci grup. Tinggal menanti keajaiban berapa gol yang dijaringkan Jerman ke gawang Ghana dan berapa gol yang mampu mereka jaringkan ke gawang Serbia. Saya kira pada dalam setiap laga krusial setiap tim mengharap datangnya keajaiban.

***

World Cup 2010 (serial 20) Group A and Group B

Serial World Cup 2010 (20)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Penentuan di Grup A dan B
Empat Pertandingan Seru
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 22 Juni 2010

Hari Selasa akan ada 4 pertandingan dari grup A dan B. Selasa jam 16.00 waktu Afrika atau 21.00 WIB saat bersamaan digelar dua pertandingan grup A, Perancis vs Afrika Selatan dan Mexico vs Uruguay. Hari Selasa waktu Afrika jam 21.00 atau hari Rabu jam 01.30 WIB dua pertandingan grup B pada waktu bersamaan, Nigeria vs Korea Selatan dan Yunani vs Argentina.
Pertandingan penentuan grup, dua tim lolos dan dua tersingkir diselenggarakan pada waktu bersamaan di 2 stadion berbeda untuk menghindari “main mata”. Ketentuan FIFA ini mulai berlaku pasca Piala Dunia 1982 ketika Austria “main mata” sengaja kalah 0-1 pada Jerman Barat (kini Jerman) untuk bersama-sama lolos ke putaran dua sekaligus menyisihkan Aljazair.
Waktu itu (1982) partai Jerman Barat versus Austria berlangsung dua jam setelah usainya partai kemenangan Aljazair 3-2 atas Chili. Mengumpukan nilai 4 Aljazair punya peluang lolos, Austria nilai 4 dan Jerman Barat nilai 2. Waktu itu nilai menang masih dihitung 2. Jerman Barat akan tersisih kalau kalah atau draw. Austria tersisih kalau kalah lebih dari 3 gol. Maka terjadilah main mata, Jerman Barat menang 1-0 yang otomatis menyingkirkan Aljazair. Bukan hasil itu yang menjengkelkan penonton, tetapi jalannya pertandingan. Setelah terjadi gol tunggal itu, kedua tim bermain santai, seakan sepakat menyudahi pertandingan dengan hasil tersebut. Media dunia bahkan pers Jerman dan Austria mengecam habis timnya sendiri menuduhnya memalukan. Itulah skandal besar!
Di grup A Piala Dunia 2010 hampir pasti Uruguay dan Mexico lolos. Keduanya (nilai 4) bisa saja main aman dan hasilkan draw. Kebetulan sama-sama berbahasa Spanyol, keduanya bisa komunikasi, main serius di lapangan tengah tapi tidak mencetak gol. Atau jika salah satu tim mencetak gol maka dia akan membuka peluang lawan menyamakan skor. Tidak ada aturan FIFA yang membatasi asalkan keduanya main serius, yang ada hanya kritik pers Afrika Selatan yang menuduh kedua tim menciderai sportifitas. Pertandingan di stadion Rustenburg itu 99 persen akan berakhir draw dan yang akan menimbulkan tangis panjang rakyat Afrika Selatan.
Perancis dan Afrika Selatan, salahnya sendiri karena tampil di bawah form, hanya meraih nilai 1 dari hasil draw dan kalah. Pertandingan di Bloemfontein akan berjalan keras demi kehormatan, karena menang pun tidak ada gunanya jika hasil di kota Rustenburg berakhir draw. Dan jika hitungan ini benar, maka untuk pertama kali dalam sejarah World Cup tim tuan rumah gagal lolos ke putaran dua, lalu Afrika Selatan dan Carlos Parreira tercatat dalam sejarah sebagai pecundang yang terpuruk. Tapi Perancis dan Afrika Selatan masih berpeluang lolos jika Mexico dan Uruguay main “fight” dan salah satu jadi pemenang untuk menghindar dari juara grup B yakni hampir pasti Argentina. Itupun salah satu tim tuan rumah atau Perancis harus menang dengan selisih gol besar, apakah itu mungkin?
Partai penentuan di grup B akan ketat dan mendebarkan. Argentina dengan nilai 6 belum 100 persen lolos, masih terbuka peluang tersingkir jika kalah dari Yunani 3 gol lebih dan pada saat sama Korsel menang 3-0 atas Nigeria, maka Yunani dan Korea Selatan yang lolos. Jadi semua bisa terjadi pada malam nanti atau dini hari 01.30 WIB. Argentina versus Yunani di Polokwane dan Nigeria kontra Korea Selatan di Durban.
Kecuali Maradona dan skuadnya “mabuk” saya pastikan Argentina tidak akan kalah 3 gol dari Yunani. Bahkan bisa saja untuk menjaga performa tim, Maradona akan terapkan strategi menang alias menyerang dan mencetak gol. Tampaknya Argentina hampir pasti lolos sebagai juara grup, karena nilai 6 dengan gol positif 4 sulit untuk disaingi 3 rivalnya.
Partai Nigeria versus Korea Selatan ibarat final “to live or die” siapa kalah tersingkir. Kalau draw, Korea Selatan masih bernafas tergantung hasil Argentina vs Yunani. Kalau draw, Nigeria harus angkat koper, pulang. Inilah partai krusial bagi kedua tim.
Nigeria “Super Eagles” punya kemampuan mencetak gol dengan materi handal macam Obafemi Martins, Yakubu Aiyegbeni, Peter Odemwingie dan pemain muda Victor Obinna dan Ikechukwu Uche serta veteran Nwankwo Kanu. Tapi strategi Lars Lagerback bisa saja mencadangkan Kanu, Martins seperti di partai lawan Yunani kemarin. Masih tanda tanya Lagersback akan memainkan line-up dan strateginya, tampaknya akan ada perubahan line-up dan strategi setelah dua partai kemarin kalah terus, 0-1 dari Argentina dan 1-2 dari Yunani.
Beberapa pemain Nigeria tidak perlu kalah dari materi skuad Huh Jung Moo, kiper klub Hapoel Tel Aviv sudah membuktikan kehebatannya mengawal gawang, kapten Joseph Yobo (Everton), gelandang Monaco Lukman Haruna, penyerang Everton Yakubu Ayegbeni. Gelandang pengalaman yang lama main di Eropa dan kini di Portsmouth Nwankwo Kanu bahkan belum semenit pun dimainkan, sedangkan penyerang klub Wolfsburg Obafemi Martins hanya sekali jadi pengganti Victor Ibina di menit 52 partai lawan Argentina. Belum pasti line-up apa yang akan diturunkan Lars Lagerback, pelatih yang mungkin merupakan salah pilih Federasi Nigeria.
Nigeria akan menyerang dengan strategi ofensif, mencetak gol. Di kubu Korea Selatan, Huh Jung-Moo pastikan akan menyerang. “Kami tidak akan bertahan,” kata Jung Moo. Tapi mungkin saja itu “kebohongan strategi” namun saya cenderung menilai Korea justru lebih bebenah dan merapatkan pertahanan sambil mencari celah untuk menyerang. Dengan asumsi Argentina tidak akan kalah dari Yunani maka hasil draw cukup untuk Korea Selatan lolos ke babak 16 Besar. Bahkan seandainya partai Argentina berakhir draw maka hasil draw juga mengantar Korea Selatan ke putaran dua.
Partai ini adu strategi antara dua pelatih dan kecerdikan para pemain memainkan pola menyerang di lapangan. Apakah Lagersback masih mempertahankan line-up yang tidak meyakinkan itu, ataukah mau mengubah line up dan strategi dengan memainkan lebih awal Martins dan Kanu. Partai ini sulit diperkirakan. Tetapi peluang Nigeria atau Korea Selatan keluar sebagai pemenang hampir berimbang dengan hasil draw. Sejarah 3 kali pertemuan dua tim, Korea Selatan menang 2 kali dan 1 draw dengan gol memasukkan 5 dan kemasukkan 3 gol, bukan jaminan Korea Selatan akan keluar sebagai pemenang. Fifty-fifty. Just wait and see.
Partai Argentina versus Yunani mungkin menjadi partai perpisahan bagi Yunani. Karena di atas kertas skuad albiceleste asuhan Maradona sulit ditaklukkan. Mungkin saja Maradona akan mainkan beberapa cadangan untuk memberi pengalaman mencicipi atmosfir Piala Dunia, untuk kesiapan partai laga berikutnya. Namun satu hal yang saya yakini, Maradona tidak akan mau menurunkan line-up cadangan yang asal-asalan. Itu akan merusak ritme kemenangan timnya yang sudah mulai menanjak. Boleh saja dia turunkan dua tiga pemain cadangan tapi strategi menang menjadi prioritasnya. Peluang Argentina menang cukup besar sama besar dengan peluang draw.


***

World Cup 2010 (19) Portugal vs Korea DPR

Serial World Cup 2010 (19)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Portugal vs Korea Utara
Menanti Kejutan “Chollima”
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 21 Juni 2010

Korea Utara dan Portugal, dua tim yang akan berlaga malam nanti tidak hanya memperjuangkan nilai tiga sebagai bekal lolos ke putaran dua, juga episode lanjutan sejarah 44 tahun silam. Unik memang, dua kali tampil di Piala Dunia, kedua-duanya bertemu Portugal dalam partai penentu. Malam nanti di stadion Green Point Cape Town dipimpin wasit Chili Pablo Pozo Korea Utara butuh nilai tiga untuk menyambung “nyawa” ke putaran dua. Kalah, berarti peluang lolos sangat tipis, karena pada pertandingan pertama kalah 1-2 dari Brazil.
Dulu 44 tahun silam di Piala Dunia 1966 Korea Utara yang dijuluki “Chollima” ketemu Portugal di perempat final di Goodison Park Liverpool 23 Juli. Korea Utara mengejutkan 51.780 penonton dengan tiga gol beruntun Park Seung Zin menit 1, Lee Dong Won 22, Yang Sing Kook 25. Portugal bangkit dan superstar “si kijang” Eusebio memberondong 4 gol pada menit 27, 43, 56, 59 dan satu lagi dari rekannya Jose Agusto menit 80. Skor 3-5 dan Chollima angkat koper pulang kampung.
Sebelum itu di penisihan grup, Korea kalah 0-3 dari Uni Soviet, bangkit dan menahan Chili 1-1 serta membuat kejutan besar 1-0 atas Italia sang juara dunia 1934 dan 1938 sekaligus mengirim Italia pulang kampung yang disambut lemparan tomat dan telur busuk di airport Roma. Empat partai heorik itu masih diingat rakyat negeri yang beribukota Pyongyang. Pemain legendaris Park Doo Ik yang menvcetak gol tunggal ke gawang Italia, masih hidup. Kemarin dia memberikan komentar atas penampilan heroik “Chollima” ketika tanding lawan Brazil.
Dia memuji team negerinya yang memperlihatkan disiplin dan fighting spirit tinggi. “Saya tak pernah mimpi bisa menyaksikan penampilan Chollima seperti hari ini. Kejutan besar. Sepakbola Korea Utara akan kembali mengguncang dunia,” kata Park di website koran Chosun Sinbo.
Hari itu Brazil diuji kesabarannya untuk menerobos benteng beton pertahanan berlapis 9-10 orang yang baru bisa ditembus bek kanan Inter Milan, Maicon pada menit 55 dengan tembakan pelintir melengkung dari sudut sempit ke tiang jauh, disusul shoting akurat Elano menit 72. Dan Ji Yun Nam membalas pada menit 89. Penampilan heroik Chollima membendung juara dunia lima kali Brazil yang punya nama besar, suka atau tidak suka membuat 54.331 penonton yang kedinginan di Ellis Park terpesona.
Chollima memperlihatkan team-work yang luar biasa padu, terorganisir dengan baik, semangat dan spirit yang menyala-nyala sepanjang 90 menit, fisik dan tehnik perorangan yang memadai serta strategi yang jitu. Menunggu serangan lawan, merebut bola dan menyerang balik tapi hanya dengan dua atau tiga pemain yang memiliki kecepatan tinggi. Hong Yong Jo, kapten dan striker usia 27 tahun yang main di klub FC Rostov Moscow menjadi andalan bersama Jong Tae Se, pemain J-League, dengan kerjasama dan speednya membuat pertahanan Brazil pontang panting menjaganya. Dua lagi pilar tim yang sangat diandalkan, gelandang domestik Mun In-Guk dan kiper Ri Myong Guk. Hampir semua pemain adalah produk lokal dari klub setempat.
Kim Jong-Hun baru merangkak usia 3 tahun ketika Chollima membuat sejarah di Inggeris 1966, dia sekarang 43 tahun, membangun skuad yang hanya terdiri dari pemain domestik yang tak punya pengalaman internasional dalam strategi pragmatis dan pertahanan berdasar disiplin dan kerjasama team. Sungguh kerja keras. Ada tekad besar sejak dini, keinginan berlaga dengan tim-tim Eropa dengan harapan mengulang sukses para pendahulunya. Tiba harinya dimana mereka bertekad mengalahkan Portugal, membalas sejarah kekalahan tahun 1966.
Poker-face Kim Jong Hun tetap optimis melaju ke putaran 16 Besar. Mereka main bertahan dengan baik dan meskipun akhirnya harus menelan kekalahan skuad telah memetik pengalaman berharga dan menambah percaya diri, karenanya Kim yakin teamnya akan memenangkan dua pertandingan sisa. Apa yang jadi tstrateginya? Tak seorang pun tahu. “Pada harinya nanti kami akan putuskan apakah tampil menyerang atau tetap dengan pertahanan. Namun menang tetap saja jadi target kami. Karena tujuan dan misi kami, lolos ke putaran dua. Kami akan buktikan lawan Portugal dan Pantai Gading,” kata si “Poker-face”.
Di kubu Portugal yang diujuluki Selecção das Quinas partai lawan Korea Utara sangat penting artinya. Setelah hanya draw dengan Pantai Gading, misi menang atas tim Chollima merupakan satu keharusan. Sebab lawan terakhir adalah Brazil, satu tim yang belum tentu bisa dikalahkan. Portugal, finalis Euro 2004 dan semifinalis Germany 2006, memperlihatkan sepakbola indah dalam beberapa tahun terakhir tapi tanpa satu gelarpun.
Kini “Selecção das Quinas” mengincar gelar juara 2010. Pelatih kelahiran Mozambik, Carlos Querioz dengan materi pemain talenta kelas dunia, superstar Cristiano Ronaldo, Pepe, Deco, Tiago, Simao dan lini belakang veteran Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira dia berharap skuad bisa menembus final dan merebut gelar 2010.
Tidak dipungkiri bahwa Querioz adalah master-mind dari generasi emas Potugal sejak membawa Luis Figo, Rui Costa dan Fernando Couto di piala dunia yunior 1989 dan 1991. Di level senior dia menjadi assisten Alex Ferguson di Manchester United. Dia kemudian mengambil alih kursi panas pelatih Portugal menggantikan Luis Felipe Scolari pasca Euro 2008. Ini kali keduanya, menangani Portugal setelah yang pertama 1991-1993 dimana dia gagal membawa Portugal lolos ke Euro 1992 dan Piala Dunia 1994.
Para pemain “seleccao das quinas” bukannya tidak tahu tekad besar Korea Utara, namun dengan materi yang dimilikinya serta strategi jitu Querioz, Portugal yakin meraih tiga point. Sepakbola menyerang akan ditampilkan Portugal, bahkan Querioz sudah siap menanggapi pertahanan beton Chollima jika memang skuad Kim Jong Hun menerapkan skema main seperti ketika mereka menghadapi Brazil.
Portugal terutama Ronaldo menghadapi masalah setelah permohonan Federasi Portugal kepada FIFA agar kartu kuning Ronaldo diicabut telah ditolak Komdis FIFA. Dengan demikian maka Ronaldo harus ekstra hati-hati karena satu kartu kuning di partai lawan Korea Utara maka dia harus absen ketika lawan Brazil. Persoalan Portugal adalah bagaimana harus bersabar dan mengendalikan diri menghadapi pressure dan pertahanan Korea Utara yang pasti akan ketat.
Saya pikir Korea Utara tidak sepenuhnya bertahan seperti skema main lawan Brazil, tetapi mereka akan menunggu dengan sabar dan merebut bola dari kaki Ronaldo Cs untuk kemudian membangun serangan dengan memanfaatkan speed. Kecepatan atau speed dari penyerang Korea Utara akan menjadi ancaman bagi duo Ricardo Carvalho usia 32 tahun dan Paulo Ferreira 31 tahun yang sudah tidak cepat lagi. Portugal bisa menang tapi jika tidak waspada justru akan menelan pil pahit, tampaknya peluang draw lebih terbuka.

***

World Cup (18) Brazil, Dunga, Jogo Bonito

Serial World Cup 2010 (18)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Brazil, Dunga dan Jogo Bonito
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 20 Juni 2010

Tahun 1942 dan 1946 Piala Dunia tidak dipentaskan disebabkan Perang Dunia meletus di Eropa dan belahan dunia lain. Sejak Uruguay 1930 sampai dengan South Africa (SA) 2010, Piala Dunia sudah dipentaskan 19 kali. Tak sekalipun Brazil absen bandingkan dengan dua kekuatan lainnya. Jerman dua kali absen 1930 dan 1950. Italia dua kali absen 1930 dan 1958.
Tidak dipungkiri Brazil mendominasi Piala Dunia sebagai yang terbaik, dari 18 kali partisipasi sampai dengan 2006 kemarin, Brazil telah mencatat 92 penampilan, antaranya 64 menang, 14 draw dan 14 kalah, mencetak gol terbanyak 201 dibanding Jerman yang 190 gol juga dari 92 pertandingan dalam 16 partisipasinya.
SA 2010 mungkin kompetisi paling ketat selama Piala Dunia berlangsung. Tujuh juara dunia hadir memperebutkan gelar paling bergengsi. Tim non-juara yang punya peluang besar seperti Spanyol, Belanda, Portugal dan beberapa wakil benua Afrika pun mengincar juara dunia. Akan lahirkah negara ke-delapan atau masih dimonopoli juara-juara lama 1998?
Brazil diunggulkan setelah Spanyol - juara Eropa 2008 - yang makin gemerlap setelah kemarin menghancurkan Polandia 6-0 dalam ujicoba terakhirnya. Fase pertama harus dilewati tim samba yakni mengatasi persaingan dalam grup maut atas Portugal, Pantai Gading dan Korea Utara dan menjadi pemuncak grup. Brazil masih ditukangi Dunga.
Pelatih Dunga eks kapten samba dengan 91 caps, mencetak 9 gol. Dia bukan penyerang, lebih sering berperan sebagai penyeimbang tim di midfield. Tahun 1994 dia mengusung tropy dunia sebagai juara, itulah prestasi puncaknya sebagai kapten. Kini dia berambisi mengusung piala kebanggaan itu sebagai pelatih. Track recordnya sebagai pelatih punya bobot, dua trophy besar telah direbutnya, juara Copa America 2007 dan Cenfederation Cup 2009. Juara di Afrika Selatan akan menjadikan dia salah satu pelatih terbaik Brazil, yang mampu meraih treble trophy. Tidak perlu kalah dibanding legenda Mario Zagalo ataupun Carlos Albertto Pareira.
Sebagai pemain Dunga sangat pragmatis bahwa dua hal –kemenangan dan keindahan- tidak bisa menjadi satu. Brazil sebelumnya menekankan kemenangan lewat keindahan –jogo bonito- dan beruntun menemui kegagalan. Selama 24 tahun setelah Mexico’70, Brazil tak bisa lagi jadi juara. Datanglah era Dunga. Memenangkan piala dunia, adu pinalti atas Italia, tanpa menyajikan jogo bonito. “Tim ini mengajarkan kepada negerinya bagaimana cara menang. Kami datang tanpa gelar selama 24 tahun, kami memperlihatkan bahwa kerja keras harus diutamakan.” Kata Dunga, suatu penolakan terhadap jogo bonito. Filosofinya sebagai pelatih jelas, menang meskipun tidak jogo bonito. “Brazil’94 main buruk tapi juara dunia. Mungkin skuad’82 akan menang 5 gol atas skuad’94, tapi skuad’82 tidak juara.”
Brazil membawa serta semua pemain terbaiknya yang cocok dengan skema permainan ala Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil.
Tim samba telah menyelesaikan ujicoba, dua pertandingan terakhirnya adalah penyesuaian pada gaya Afrika. Robinho dan Ramires memborong masing-masing dua gol ditambah Kaka satu gol lengkap kemenangan 5-1 Brazil atas Tanzania di stadion Benjamin Mkapa National kota Dar Es Salaam. Dunga memainkan full skuadnya tanpa kiper utama Julio Cesar yang masih recovery dari cidera punggung.
Heurelho Gomes (Tottenham Hotspur) mengambil alih posisi kiper Inter Milan itu. Pergantian juga dilakukan di babak kedua Luisao masuk menggantikan Lucio di centre-back dan Josue untuk posisi Gilberto Silva. Dan Kaka main di belakang dua triker Robinho dan Luis Fabiano. Dunga tampaknya terpikat pada pemain muda Ramires, dulu main di Cruzeiro kini di Benfica Portugal. Ramires lebih bertenaga dari Gilberto Silva atau Felipo Melo.
Sebelumnya Samba menekuk Zimbabwe 3-0 di stadion Harare National disaksikan presiden Robert Mugabe dan perdana menteri Morgan Tsvangirai. Gol defender Michel Bastos dari freekick. Dua gol lain oleh Robinho dan Blumer Elano.
Dunga boleh gembira Selasa kemarin Julio Cesar sudah bisa berlatih dan optimis main di partai perdana versus Korea Utara. Di lini depan Dunga punya 4 striker handal. Luis Fabiano dan Kaka masing-masing telah mencetak 20 gol lebih untuk tim samba.
Kaka punya kemampuan mengubah permainan, dia sering turun ke bawah mengambil bola dan mendrible ke pertahanan lawan menarik lawan, kemudian memberi passing pada rekannya. Luis Fabiano, striker Sevilla yang peraih sepatu emas di Confederation Cup 2009, usia 29 tahun, 36 caps dengan 25 gol samba. Dua diantaranya ke gawang Argentina dalam kualifikasi Conmebol, total 9 gol selama kualifikasi, dia membuktikan bisa mencetak gol di berbagai level kompetisi.
Kehebatan Brazil selalu mengundang minat dan kerja keras lawan-lawannya. Pelatih Kim Jong-Hun sesumbar akan mengalahkan Brazil (16 Juni), itu akan meningkatkan moral timnya. Apa senjatanya, pertahanan ketat dan serangan balik? Korea Utara punya andalan kapten Hong Yong-Jo (FC Rostov Russia) dan Kim Kuk-Jin (FC Wil Swiss), Jong Tae-Se yang dijuluki Wayne Rooney Asia dan yang mencetak dua gol menyamakan skor 2-2 dengan Yunani dalam ujicoba pekan lalu.
Tanggal 21 Juni lawan keras lainnya, Pantai Gading menghadang Brazil. Bahwa Didier Drogba patah tangan dan belum pasti bisa main, tidak mengurangi kekuatan tim asuhan Sven Goran-Eriksson. Dalam skuad Les Elephants masih memiliki pemain bagus lain, Emmanuel Eboue (Arsenal), Kolo Toure (Manchester City), Yaya Toure (Barcelona), Salomon Kalou (Chelsea).
Grup G dimana Brazil diunggulkan merupakan grup maut, Korea Utara yang bandel dan fanatik yang terbiasa dalam sistem pemerintahan sosialis komunis, Les Elephants yang mengincar gelar juara dunia serta Portugal yang kental dengan gaya Euro-Latinnya.
Kabar buruk melanda Portugal Nani bintang Manchester United cidera dan out dari team, digantikan pemain Benfica Ruben Amorim. Pelatih Carlos Queiroz meskipun kecewa namun tetap optimis akan lolos dari grup maut itu. Dia mengandalkan Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira yang pengalaman di lini belakang, Pepe dan Deco di midfield serta “kartu as” Cristiano Ronaldo di lini depan. Dalam ujicoba beberapa hari lalu, skuad Quieroz menang 2-0 atas Mozambique, itulah bagian dari persiapan duelnya lawan Pantai Gading 15 Juni mendatang. Pasar tarohan menaroh Brazil pemuncak grup. Satu tiket lainnya akan diperebutkan Portugal dan Pantai Gading yang hampir sama peluangnya untuk lolos ke 16 Besar. Pasar tarohan boleh bertaruh namun tetap saja belum jaminan. ***

World Cup 2010 (Serial 17) Netherlands vs Japan

Serial World Cup 2010 (17)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Belanda vs Jepang
Kedua Tim Bakal Saling Serang
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 19 Juni 2010

Arjen Robben motor serangan paling penting bagi Belanda masih tandatanya bisa turun tanding lawan Jepang Sabtu malam WIB di stadion Moses Mabhiba, Durban. Bintang klub Bayern Munich itu sudah berada bersama skuad dan berlatih bersama namun untuk boleh tanding harus seijin dokter team. Sampai saat ini Robben masih harus menjalani eksersais penyembuhan otot pahanya. Absennya Robben jelas suatu kehilangan besar bagi skuad Oranje karena spesialis wing yang cepat, gesit dengan driblingnya yang berani merupakan bagian paling penting dalam serangan Belanda dan menjadi momok bagi setiap pertahanan lawan.
Kendala lain yang mungkin menghadang Belanda selain absennya Robben adalah terik matahari jam 13.30 waktu Afrika. Pada pertandingan pertama ketika menghadapi Denmark pada jam yang sama (13.30) namun di kota berbeda, di Johannesburg, tampak betapa pemain Belanda tak mampu mengembangkan permainan dalam tempo tinggi sebagaimana biasanya jika mereka melancarkan pola attacking-footballnya. Tapi mungkin saja kendala ini sudah teradaptasi oleh seluruh pemain sehingga tidak lagi menjadi hambatan menghadapi Jepang.
Pertandingan hari kedua bagi kedua tim sangat penting setelah masing-masing mengantongi nilai tiga, Belanda meraih dari Denmark 2-0 dan Jepang atas Kamerun 1-0. Sementara ini Belanda memimpin klasemen grup E karena unggul gol dari Jepang. Dalam situasi begini, biasanya kedua tim akan berupaya keras meraih kemenangan, karena dengan nilai enam sudah cukup untuk lolos ke putaran dua sekaligus memimpin grup. Maka bisa dipastikan Belanda akan memainkan pola menyerang dalam formasi 4-3-3 sedangkan Jepang mungkin menerapkan pola 4-4-2 dengan sedikit menarik diri untuk bertahan tetapi berupaya melancarkan serangan balik.
Rasanya pelatih Bert Van Marwijk akan mainkan line-up kemarin. Kiper Maarten Stekelenburg, wingback kanan Gregory Van Der Wiel dan bek kiri kapten Giovanni Van Bronckhorst serta dua centreback John Heitinga dan Joris Mathijsen. Gelandang bertahan dan juga penyeimbang tim, Mark Van Bommel dan Nigel De Jong atau Demy De Zeeuw mendampingi playmaker Wesley Sneijder. Tiga penyerang Robin Van Persie, Rafael Van DerVaart dan Dirk Kuyt. Pilihan lain di lini depan Ibrahim Afellay dan Eljero Elia untuk tugas sayap, Klaas Jan Huntelaar untuk posisi penyerang tengah.
Pertandingan akan menarik, artinya bukan lagi permainan berat sebelah macam Brazil mengurung Korea Utara yang menerapkan pertahanan berlapis 9 sampai 10 pemain. Jepang tidak akan bertahan seperti itu, namun skuad “blue samurai” ini akan cenderung bertahan dengan kesiapan pemain sayap macam Daisuke Matsui dan Shinji Okasaki menerobos rusuk kiri atau kanan Belanda yang kosong lantaran wingback Van Bronckhorst atau Ven Der Wiel yang naik membantu serangan terlambat turun.
Lowongnya rusuk pertahanan selalu menjadi ciri kelemahan tim yang menerapkan pola serang dan selalu rentan terhadap serangan balik. Keadaan berbahaya bagi Belanda bisa terjadi karena pemain Jepang seperti juga Korea dan tim Asia Timur dikenal memiliki kecepatan atau speed endurance yang tinggi untuk high-level football. Kalau kita cermati rata-rata klub J-League (kompetisi profesional Jepang) memiliki kelebihan dalam counter-attack lewat sayap.
Pelatih Jepang Takeshi Okada makin percaya diri dan yakin timnya akan menembus putaran dua, artinya bisa menahan draw Belanda sudah bagus, apalagi jika berhasil mencuri kemenangan. Bahwa tim underdog bisa menumbangkan tim unggulan sudah bukan sesuatu yang mustahil. Tim juara dunia Perancis dihukum Mexico dua gol tanpa balas. Jerman dikalahkan Serbia. Juara Eropa 2008 Spanyol dikalahkan Swiss. Maka sebaiknya Belanda juga harus waspada. Apalagi ketika tampil lawan Denmark meskipun menang 2-0 namun tim Oranje bermain dibawah form terbaiknya.
Resep pelatih Serbia Radomir Antic dengan melakukan pressure serta memancing emosi lawan, ternyata mampu membuat permainan Jerman tidak mulus. Resep ini bisa saja ditiru Takeshi Okada untuk membendung permainan Belanda yang di atas kertas, kualitasnya memang lebih unggul. Pemain Jepang dengan posisi underdog bisa main tanpa beban, jika trik memancing emosi para pemain Oranje berjalan mulus bukan tak mungkin Belanda mengalami nasib sama dengan Jerman.
Dalam hal ini peranan kapten Giovanni Van Bronckhorst sangat menentukan sukses tidaknya misi merebut kemenangan atas Jepang. Gelandang yang kemarin sudah mencapai 100 caps membela Oranje selama ini bisa mengendalikan emosi diri sendiri dan teman-temannya, seperti ketika melawan Denmark. Ketika Sneijder Cs mulai dilanda frustasi akibat udara tipis, cuaca terik dan kedisiplinan Denmark bertahan, sang kapten Bronckhorst berhasil membawa skuadnya lebih tenang dan tidak terburu-buru.
Diatas kertas jika Belanda bisa mengendalikan tempo dan memainkan pola menyerang dengan performans terbaiknya, saya kira skuad Bert Van Marwijk bisa memenangkan pertandingan. Alasannya, kualitas dan pengalaman main di high level competition pemain-pemain Oranje berada diatas para pemain J-League termasuk juga legiun asing Jepang yang main di klub-klub luar. Bagaimanapun juga pengalaman tanding Wesley Sneijder Cs di klub-klub Eropa masih jauh lebih kompetitif dibanding klub-klub Asia. ***

Piala Dunia 2010 Serial (16) Jerman vs Serbia

Serial World Cup 2010 (16)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Jerman vs Serbia
Mempertahankan “the Winning Team”
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 18 Juni 2010

Ketika Jurgen Klinsmann menggantikan Rudi Voller sebagai pelatih Jerman menyusul kegagalan di Euro 2004, dia merekrut Joachim Low sebagai asistennya. Keduanya menjadi pasangan serasi yang mengubah paradigma permainan “die mannschaft” yang tadinya statis dan cenderung defensif ke filosofi menyerang. Joachim Low yang akrab dipanggil “Jogi” cukup jenius untuk berperan dibelakang layar sebagai perancang taktik.
Maka penampilan Jerman pun berubah. Pola menyerang Jerman yang sudah lama hilang kini muncul kembali. Kombinasi pemain muda dan senior dalam pola menyerang mulai ditampilkan di FIFA Confederations Cup 2005. Jerman dengan “attacking-squad”nya gagal merebut gelar juara di Piala Dunia 2006 yang berlangsung di negeri sendiri.
Semifinal di WM Stadion Dortmund tanggal 4 Juli Jerman kalah dari Italia 0-2 dalam extra-time setelah masa 90 menit berakhir kosong kosong. Dalam perebutan peringkat tiga Jerman menang 3-1 atas Portugal, dua gol dicetak Schweinsteiger, satu lainnya bunuh diri pemain Portugal, Petit.
Fans dan publik Jerman memuji tim polesan Klinsmann, menganggap peringkat tiga bukan kegagalan. Tetapi lebih dari itu penampilan Michael Ballack Cs telah mengembalikan cinta dan harapan fans Jerman kepada “die mannschaft”.
Pasca Germany 2006 Juergen Klinsmann mundur meskipun Federasi dan fans mengimbau agar tetap duduk sebagai pelatih. Singkat cerita, Joachim “Jogi” Low naik pentas sebagai pelatih. Dia meneruskan konsep dan filosofi menyerang Jerman dengan ramuan pemain muda. Menjelang berangkat ke Afrika Selatan 2010 Michael Ballack cidera dan terpaksa keluar dari skuad. Fans dan publik terpukul.
Low cepat bertindak, dia mematangkan Sami Khedira sebagai playmaker dan pekerja di midfield sebagaimana peran Ballack. Ketika dia memainkan pemain berusia 23 tahun dengan tinggi189 cm dari klub VfB Stuttgart menghadapi Australia, orangpun terperangah. Hanya berbekal 5 caps Khedira yang lahir dari ayah Tunisia ibu Jerman, berhasil memainkan peran sentral teamnya dengan bekerja keras dan tanpa kesalahan.
Orang juga terpikat dengan penampilan Mesut Oezil gelandang Werder Bremen yang beroperasi dari sayap kiri. Gerakan tanpa bola, penetrasi dribling, kerja kerasnya dengan kecepatan menjadi sempurna sebagai motor penggerak serangan Jerman yang mengoyak pertahanan Australia. Oezil usia 22 tahun dari orangtua Turki yang lahir di Gelsenkirchen baru 10 caps namun kemampuan dan percaya dirinya ibarat senior yang sudah malang-melintang di klub Eropa.
Empat gol yang dijaring Lukas Podolski, Miroslav Klose, Thomas Muller dan Cacau telah menenggelamkan Australia. Kemenangan itu menempatkan Jerman diambang babak perdelapan final knock-out systeem. Satu kemenangan lagi maka loloslah Jerman mengikuti Argentina yang sudah memastikan lolos setelah menghancurkan Korea Selatan 4-1 Kamis kemarin. Tetapi jelas tidak mudah. Serbia akan melawan. Setelah kekalahan 0-1 dari Ghana, Serbia akan tanding “all-out” merebut kemenangan. Bagi Serbia, kalah dari Jerman artinya peluang tersisih terbuka lebar.
Serbia yang tampil di 2006 dengan nama Serbia Montonegro datang dengan harapan setinggi langit akan lolos ke putaran dua. Skuad asuhan Radomir Antic ini berharap banyak pada sosok defender Manchester United Nemanja Vidic dan Branislav Ivanovic dari Chelsea di lini belakang, sayap CSKA Moscow Milos Krasic dan striker andalan Nikola Zigic yang main di Birmingham. Tidak lupa adalah midfielder Inter Milan, Dejan Stankovic yang tetap diandalkan sebagai kapten yang menjaga keseimbangan tim.
Kalah dari Ghana lahir dari error perorangan, pertama menit 74 Aleksandar Lukovic menerima kartu kuning kedua dan harus menginggalkan lapangan, kedua adalah handsball yang dimanfaat Asamoah Gyan menjadi gol tunggal di menit injury-time. Seria masih bisa memberi perlawanan pada Jerman, permainan kolektif dan keras yang cenderung defensif, kini harus menyerang untuk mencetak kemenangan. Jelas misi yang sulit bagi pelatih Radomir Antic.
Melihat peta kekuatan dan kedudukan dua tim, akan terjadi permainan terbuka. Artinya kedua tim akan ofensif. Jerman ingin cepat lolos ke putaran dua. Serbia ingin menyambung nafas dan membuka kembali pintu ke putaran 16 Besar. Seyogyanya pertandingan Jerman vs Serbia di Nelson Mandela Stadium di Port Elizabeth malam nanti akan enak ditonton.
Jerman masih akan menurunkan “the winning-team”. Kapten Philipp Lahm di bek kanan akan melengkapi kwartet lini belakang bersama bek kiri Holger Badstuber dan pasangan centreback pengalaman Arne Friedrich dan Per Mertesacker melapis penjaga gawang Schalke 04, Manuel Neuer. Peran penyeimbang team masih dipegang Sami Khedira dibantu Thomas Mueller sebagai pekerja keras. Formasi 4-2-3-1 masih dengan pasangan trisula Lukas Podolski, Mesut Oezil, Bastian Schweinsteiger dibelakang striker Miroslav Klose yang sedang memburu gol untuk menyamai rekor striker Brazil Ronaldo. Di bangku cadangan, Cacau striker kelahiran Brazil yang mencetak gol ke-4 ke gawang Australia menunggu giliran, begitu juga gelandang serang Mario Gomez.
Pelatih Radomir Antic mungkin akan mengubah line-up dengan pasangan yang lebih ofensif dan pekerja keras. Bisa saja 4 legiun yang main di bundesliga akan diturunkan Antonio Rukavina (1860 Munich), Neven Subotic (Borussia Dortmund), Gojko Kacar (Hertha Berlin) and Zdravko Kuzmanovic (Stuttgart) dengan kapten Dejan Stankovic serta bintang Standard Liege Milan Jovanovic sebagai motor penggerak tim.
“Jerman sangat impresif ketika menang atas Australia. Mereka juga punya reputasi dan sejarah selama ini di Piala Dunia. Mereka bagaikan mesin, memiliki tujuh pemain yang bisa naik menyerang. Untuk mengimbangi mereka, kita tidak boleh memperlihatkan rasa takut dan main dalam performans kita yang terbaik karena yang kita hadapi adalah tim yang lebih baik dalam segala hal.” Komentar Milan Jovanovic. Tapi dia juga menjanjikan timnya akan “fight”.
Jerman terutama para bintang Bayern Munich terinspirasi jejak langkah Munich yang bisa menembus final Piala Champions musim ini. Skuad Low meskipun tetap merendah namun menyimpan “greget” melaju ke final dan merebut gelar juara. Tampaknya Jerman akan mudah mengatasi Serbia dan meloloskan diri ke putaran 16 Besar. ***