Tuesday, August 9, 2011

Wisang Geni part Two (45)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 45

Before :

Dedes Ayu meninggalkan lawannya, Gajah Nila.

“Minggir!” Teriak wanita cantik itu yang rambutnya awut-awutan. Dia membuka jalan menggunakan kerisnya, beberapa pukulan menimpa tubuhnya, tetapi dia merangsek terus menuju tempat suaminya terkapar.

Prastawana menyeru pada Gajah Nila, “beri dia jalan!”

Susah payah sempoyongan dengan pakaian compang camping dan tubuh yang luka berdarah disana-sini, Dedes Ayu tiba disisi suaminya.

“Kangmas…. Ooooh sembahanku… mengapa karma memusuhi kita…”

Suara Linggapati serak dan terputus-putus, meregang nyawa. “Maafkan aku dinda, aku gagal mempersembahkan kursi permaisuri untukmu…”

“Tidak mengapa, memang karma kita sampai disini, aku akan pergi bersamamu, kangmas. Kita bertemu sebagai suami isteri dipenitisan akan datang.” Dedes Ayu mencabut keris prabakara, seketika darah menyembur dari luka Linggapati, membasahi dada si wanita.

Dedes Ayu menikam dadanya dengan keris prabakara, lalu menjatuhkan diri diatas tubuh suaminya. Mulutnya mencium mulut suaminya. Tangannya memeluk tubuh sang suami, mereka mati berpelukan.

Sang Pamegat mencabut keris dari tubuh Dedes Ayu, memberikannya kepada Sang Raja. “Apakah harus hamba bersihkan?”

Sang Raja mengangguk. Pamegat lantas membersihkan keris maut itu dengan menggosok ke pakaiannya sendiri. Lalu menyerahkan kepada Sang Raja.

Ketika keris prabakara berada digenggamannya, Sang Raja mengacung ke angkasa. Saat itu juga keris prabakara berkilau dan menyebar hawa panas, kesaktiannya pulih kembali.

“Lihat! Saksikan! Prabakara kembali menjadi keris bertuah, sebab kini berada ditangan penguasa tanah Jawa dan akan selamanya menjadi milik Raja Tanah Jawa.” Suara Ranggawuni sangat berwibawa yang membangkitkan rasa hormat dan segan semua yang mendengarnya. “Sejak saat ini prabakara tidak lagi menebar maut, dia akan sanding dengan penakluknya ki gandring yang tidak terkalahkan.”

Malam masih gelap, semakin gelap ketika api kebakaran mulai padam. Pertarungan sudah usai. Kelompok Linggapati musnah. Semuanya tewas. Hanya beberapa pendekar yang lolos dengan berpura-pura mati. Dewi Kajoran, Pulosari, Sangkapura, Dedes Ayu dan Linggapati tewas, mimpi yang begitu mewah ternyata hanya berbuah kematian.

Senopati Samba lolos bersama Sekar sebagai tawanannya.

Hanya dua orang yang melihat kejadian itu ketika Samba memanggul Sekar dan lari menuju pendakian lereng. Salah seorang adalah Sepuh Jubah Putih bernama Wulung, dia mengenal Sekar sebagai isteri Wisang Geni, tetapi kebenciannya pada Wisang Geni yang mempermalukannya didepan umum di Karangplosos membuat dia bungkam seribu bahasa.

Dia melihat kejadiannya, menyaksikan gebrakan Samba menawan Sekar. Namun dia tidak bergerak menolong Sekar. Itulah bentuk balas dendamnya. Dimana-mana dendam harus dibalas! Dalam bentuk apapun untuk melampiaskan nafsu hewani manusia.

Wisang Geni memandang keliling, meneliti semua murid disekitarnya. “Mana Sekar?” Katanya sambil melangkah mencari-cari diantara mayat-mayat yang gelimpangan.

Bimbang dan ragu, Gayatri diam seribu bahasa. Tadi dia sempat melihat Sekar diculik, dibawa lari, mendaki keatas lereng. Dia tahu, saat itu jika dia teriak kepada Wisang Geni, maka suaminya masih punya kesempatan menolong Sekar. Tetapi saat itu juga pikiran cemburu mencegahnya. “Hilangnya Sekar, hilang saingan utamaku!” Bisiknya. “Biarkan dia pergi. Mas Geni tak perlu tahu.”

Dia tidak lupa kebaikan Sekar, tetapi dia ingin memiliki Wisang Geni. Hal ini membuatnya diam. Dia mengeraskan hati. ”Biarlah aku jadi wanita kejam yang tidak punya hati nurani, wanita yang punya hati culas, yang mengkhianati teman sendiri, tetapi perginya Sekar berarti hilang satu sainganku.”

Para murid Lemah Tulis ikut mencari-cari Sekar. Para pendekar Tumapel yang mengenal Sekar ikut mencari. Tetapi Sekar tidak ditemukan diantara begitu banyak mayat. Wisang Geni agak lega mengetahui isterinya tidak tewas, namun tetap saja dia panik. Dia termenung, “Kemana perginya Sekar? Lenyap begitu saja. Mayatnya tidak ditemukan, artinya dia masih hidup, tapi kemana dia? Kemana harus kucari?”

Ketika matahari mulai tinggi mengusir embun dan kabut. Tampak desa Bangu yang penuh dengan puing-puing terbakar yang masih menguar asap hitam. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Rombongan Tumapel bebenah pergi meninggalkan tempat kejadian.

Ranggawuni mengucap terimakasih atas ikutsertanya Wisang Geni dan anak muridnya. Dia mengucap ikut berduka belum diketemukannya Sekar. “Isterimu pasti masih hidup, mungkin berada di suatu tempat di kawasan ini.”

“Yah bisa saja, dia bertarung dengan seseorang dan terpisah jauh.” Sahut Mahisa Cempaka sambil menawarkan bantuan tenaga prajurit untuk ikut mencari

“Terimakasih atas perhatian dan bantuan Baginda Raja, pasti akan hamba temukan.” Sahut Wisang Geni merendah hati.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Wisang Geni dan rombongannya memecah diri, mencari kesemua pelosok.

Matahari menapak ke puncak, panasnya mulai menyengat. Pencarian tetap sia-sia, Sekar tidak ditemukan, hilang bagai ditelan bumi.

Memandang jauh keatas gunung, dia mengajak Prastawana dan Dipta mendaki lereng dan mencari-cari. Wisang Geni berteriak mengerahkan tenaga-dalam memanggil nama isterinya “Seeeekkkkkkaaaarrr” yang menggema kemana-mana diseantero gunung.

Pencarian dibagian bawah, disekeliling gapura bahkan sampai ke hutan seberang juga sia-sia. Matahari mulai condong ke Barat akan segera memasuki peraduannya, rombongan Lemah Tulis akhirnya menyerah. Mereka kembali ke Lemah Tulis.

Esok harinya, di tengah perjalanan Gayatri mendekati suaminya, berbisik. “Kangmas, aku mohon ijin pergi ke lembah cemara, mungkin bisa menemukan Sekar.”

Wisang Geni tampak ragu dan khawatir akan keselamatan Gayatri. Tetapi wanita Himalaya itu meyakinkan suaminya. “Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan berhati-hati, apalagi aku menunggang Betari, aku akan menjumpaimu di Lemah Tulis.”

Dan Wisang Geni tak lagi berusaha mencegah niat Gayatri, pikirannya telah melayang jauh ke Lemah Tulis dimana Atis menunggu dengan cinta yang panas.

***

Dari desa Trawas tepian kali Bangsal ke gunung Lawu butuh waktu lima hari berkuda siang dan malam. Memang jauh. Tapi amarah telah membakar dada Ganggati mewujudkan semangat gigih yang tak kenal menyerah. Dia menunggang satu kuda sendiri, dua kuda lainnya mengikutinya dengan menarik tali kekangnya. Seekor tanpa penumpang, satu lainnya dibebankan dua mayat muridnya yang diikat di punggung kuda.

Sepanjang jalan Ganggati menangis tetapi mulutnya mengeluarkan makian kotor serta mengutuk Suryajagad, Wisang Geni dan perguruan Lemah Tulis. “Orang-orang pengecut menyerang musuhnya yang sedang tidur pulas. Memang itu ajaran Suryajagad, menyerang dikala musuh tidak berjaga-jaga. Akan kubalas, membunuh muridmu, menghancurkan Lemah Tulis, biar kamu menangis dikuburan seperti tangisku. Kamu sakiti aku, permainkan cintaku, hubunganku dengan suamiku putus semua gara-garamu.”

Setengah hari perjalanan dia tiba di sebuah desa Bareng, berhenti di tepi kali Gunting. Dia berdiri lama memerhatikan buaya-buaya Porong yang hanya tampak sebagian moncong dan sepasang matanya yang lapar, sabar mengintai mangsa.

“Kalian berdua kulepas di sungai, menjadi mangsa buaya. Kamu akan tetap hidup dalam diri buaya–buaya itu. Mereka hidup dan kalian juga hidup. Mereka akan jadi kawanku, dimana aku bisa bicara dengan kalian.” Ganggati melempar dua mayat muridnya ke sungai. Buaya-buaya berebut mangsa, bertarung sesamanya.

Ganggati memang aneh. Perlakuannya terhadap mayat dua muridnya pun sesuatu yang belum pernah dipikirkan manusia. Aneh dan gila.

Dia melanjutkan perjalanan menuju gunung Lawu. Sepanjang jalan dia bicara sendiri, mirip orang yang kurang waras. Matinya dua murid kesayangannya yang sudah seperti anak sendiri sangat memukul batinnya. Terutama Kangsa, murid dan juga kekasihnya yang setia. Dia tidak memperoleh cinta setia dari Suryajagad, tapi mendapatnya dari Kangsa, muridnya.

Matinya Kangsa, ibarat mencabut roh dari tubuh Ganggati. Masih terbayang sehari jelang serangan dini hari Lemah Tulis dan Mahameru, di kamarnya di kapal Brantas itu, Ganggati dan Kangsa bercinta. Malam itu Ganggati menangis saking cintanya kepada si murid, dan Kangsa hanya bisa membelai tubuh sang guru sambil membisik kata rayuan cinta.

Sampai matinya Kangsa tetap mencintai dua kekasihnya, Ganggati gurunya dan Roro Gandis adik perguruannya. Dua wanita yang dia cintai sepanjang hidupnya.

“Aku akan membunuhmu Wisang Geni, mencabik dan mencopot anggota tubuhmu, kulempar ke sungai menjadi makanan buaya, biar kamu bergabung dengan dua muridku.” Dia diam sejenak.

Lalu melanjutkan. “Tapi ilmu-silatnya tinggi, tak mungkin aku bisa mengalahkan dia. Aku akan paksa dan membujuk kangmas Purwo membantuku. Bagaimana pun caranya Wisang Geni harus mati, juga Sekar si perempuan jahat yang menyakiti hati Roro dan membunuh Roro, murid yang sudah seperti anakku sendiri.” Ganggati hanya beristirahat untuk makan dan tidur malam. Meski ditunggangi bergantian, tetap saja tiga ekor kuda itu kehabisan tenaga.

Hari itu hari kelima perjalanannya, siang hari dia tiba di lereng gunung Lawu. “Kangmas Purwo masih hidupkah dia? Sekarang ini usianya sudah enampuluhan. Apakah dia sudah beristeri dan punya anak? Berapa anaknya? Siapa isterinya, cantikkah? Sampai dimana tingkat kepandaian kangmas Purwo? Tentu jauh diatasku, pasti dia mampu membunuh Wisang Geni.” Pikiran itu mendera benaknya sepanjang mendaki lereng.

Tiga kudanya sudah kelelahan. Dia berhenti di tempat rindang dan ditumbuhi rerumputan. Dia mengikat tiga ekor kudanya. Lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ilmu ringan-tubuh.

Tidak berapa lama, dia tiba ditengah pendakian. Dari jauh tampak perumahan. Sekitar duapuluh rumah berdiri dilamping gunung yang bertebing dan curam. Tampak olehnya gadis remaja berusia sekitar empatbelasan tahun. Sedang berlari-lari dan melompat diantara tebing-tebing, berlatih ilmu ringan-tubuh. Gadis itu sangat muda belia, tubuhnya tinggi langsing.

Melihat seorang berpakaian hitam berdiri diatas tebing tidak jauh dari perkampungan, gadis itu berlari-lari menghampiri. Keduanya berhadapan.

Gadis itu tidak begitu cantik namun enak dipandang. Parasnya kemerahan berkeringat kena sinar matahari dan udara sejuk pegunungan. Kulit tubuhnya putih bersih. Matanya bulat agak besar, hidung bangir, mulut lebar dengan bibir tebal, rambut ikal agak keriting terurai sebatas leher. “Gadis ini mirip kangmas Purwo sewaktu masih muda, apakah dia putrinya?” Pikirnya.

“Siapakah nenek? Mau cari siapa? Adakah yang bisa kubantu?” Suara si gadis merdu.

Ganggati mendengus. “Aku ingin jajal ilmu-silatnya.” Berpikir demikian Ganggati melonjor tangan kanan menyerang dengan totokan ke leher, tangan kirinya menyusul dengan incaran dada si gadis. Serangan sangat cepat dan mendadak. Tampaknya si gadis tak akan bisa meloloskan diri.

Namun diluar dugaan, gadis belia itu bergerak gesit.Menghindar dengan gerak langkah kaki yang ringan serta agak aneh. Tidak hanya mengelak, dia mengikutinya dengan serangan balasan. “Tidak menjawab baik-baik, malah menyerang, apa maunya nenek?” Dia bertanya masih dengan nada sopan.

“Jangan banyak bacot, aku akan meringkus dan membawamu ke daerah Timur.” Ancam Ganggati dengan nada serius. “Kamu anak Purwo?”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Kalau iya kamu mau apa? Pikirmu mudah meringkus aku?” Dia tak mau lagi menyebut nenek. Menurutnya Ganggati tidak sopan sehingga tidak perlu dihormati.

Ganggati menyerang makin gencar. Si gadis kewalahan, bagaimanapun juga kematangan memainkan jurus dan perbedaan tenaga-dalam sangat menentukan. Tanpa mengetahui siapa lawannya si gadis menggunakan jurus lenyam lenyom dan pangkelang-pangkelung, tentu saja menjadi makanan empuk bagi Ganggati yang lebih mahir jurus itu.

Beberapa jurus berlalu si gadis keteter, kemana arah serangannya, belum juga pukulan mendekati lawan Ganggati telah memotongnya. Liciknya Ganggati justru menggunakan jurus yang bukan lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung.

Si gadis makin terdesak, dia dipaksa mundur menuju jurang dibelakangnya. Dia tahu jurang menganga yang dalamnya tidak terkirakan, akan menjadi kuburannya jika jatuh. Tak heran dia mulai keluar keringat dingin, dia pun bersiul panjang.

“Kamu panggil bantuan, siapa yang mau menolongmu? Purwo? Panggil Purwo setelah kamu jatuh di jurang.” Ganggati berkata sinis.

Sebenarnya dia tak punya permusuhan dengan si gadis atau Purwo. Tetapi sifat aneh Ganggati kian menjadi-jadi setelah kematian dua muridnya. Kedatangannya adalah minta tolong pada kakak perguruannya Purwo membantunya membunuh Wisang Geni. Bukannya datang dengan baik-baik malah bikin onar.

Ganggati sejak masih gadis suka membawa maunya sendiri. Dimanja bapaknya, dan disegani Purwo sang suami, membuat dia akhirnya terjerumus bercinta dengan Suryajagad. Ketika mengetahui Suryajagad hanya menginginkan tubuhnya dan tak mau mengakuinya sebagai isteri, gengsi dan kehormatan Ganggati terusik yang membuahkan dendam kesumat. Tetapi dia tak pernah bisa melupakan Suryajagad, berkali-kali marah dan memutus hubungan tetapi begitu ketemu dia runtuh oleh rayuan Suryajagad yang tampan dan berilmu tinggi.

Tidak heran, adat anehnya mendorong dia menyerang hebat.

Continue published 46 / August 12nd

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

Wisang Geni part Two (44)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 44

Before :

Tapi Wisang Geni tak menyangka keris prabakara segarang itu. Keris itu bergerak pesat bagai petir penebar hawa maha panas. Ketika keris memotong, terpaut dua jengkal dari tubuhnya, terasa hawa panas seakan membakar dadanya, membuat Wisang Geni terkejut.

Tidak ayal lagi Wisang Geni mengerahkan segenap tenaga wiwaha dinginnya. Pukulan jarak jauhnya bisa mengekang sepak-terjang Linggapati. Pemimpin pemberontak ini lalu menggeram, mengerahkan segenap tenaganya, disalurkan ke badan keris.

Keris ditangannya mengeluarkan cahaya warna warni menyinari wajah angker Linggapati. Dia memainkan jurus andalan “lokamandala nengkeringawiyat” (permukaan bumi naik terbang ke angkasa). Jurus warisan gurunya yang kemudian dia sempurnakan menjadi pamungkas bumi dan matahari. Diantaranya dua jurus maut “dhikara” (kemarahan) dan “kampita” (guncang-goyang) khusus memanfaatkan tuah dan keangkeran keris prabakara.

Lelaki itu berputar-putar, melayang dan menerkam, keris saktinya bergerak bagai ular mematuk dan melilit, saat berikut bagaikan lidah naga yang menyembur api.

Wisang Geni terdesak, hanya bisa berkelit dan menghindar sambil menyerang dengan pukulan jarak jauh mengarah pergelangan dan siku lawannya. Dia pun menggelar lalawa mengepak sayap menembus awan membuat indera rasanya bisa memantau getaran keris musuh. Kepekaan indera jurus lalawa itu sangat membantu Wisang Geni menghadang sepak terjang Linggapati yang trengginas.

Tidak bisa melukai Wisang Geni, gerakan Linggapati dengan kerisnya menelan korban beberapa anggota pasukan pemukul. Mati dengan bagian tubuh yang kena sabetan keris, hangus. Seketika orang-orang menepi ketika Linggapati bergerak maju.

Hawa malam yang seharusnya sejuk dingin, terasa panas membara disekitar arena tarung dimana Linggapati pamer kedigjayaan. Sampai duapuluhan jurus Wisang Geni belum punya harapan mengalahkan lawannya. Sebaliknya Linggapati semakin ganas menyerang ingin cepat menghabisi nyawa pendekar tanah Jawa itu.

Duapuluh pendekar bayaran yang mumpuni dari kubu Linggapati berada diatas angin. Satu demi satu pendekar pasukan pemukul mulai jadi korban. Dipta dan Prastawana berseru agar semua murid Lemah Tulis tarung berdekatan sehingga bisa saling bantu. Hanya dengan demikian maka sepak-terjang musuh bisa ditahan.

Keadaan sangat tidak menguntungkan bagi pihak keraton. Ketika itulah terdengar seruan keras dari Sang Raja Seminingrat. “Kangmas Geni silahkan mundur.”

Agak ragu, apakah Ranggawuni sanggup menahan serangan Linggapati yang bersenjata keris prabakara. Namun keraguannya lenyap ketika Ranggawuni berseru lantang.

“Aku penguasa tanah Jawa, aku pasak bumi tanah Jawa. Karena aku lahir dari ibu pertiwi, Eyang putriku Ken Dedes sudah menjalani karma sebagai ibu yang melahirkan raja-raja tanah Jawa. Itu karma. Tanpa Ken Dedes, tanah Jawa tak akan makmur, tidak akan ada padi yang menguning, Ken Dedes titisan Dewi Sri yang menyuburkan tanah Jawa membuat rakyat kenyang, padi tak pernah habis, dimana-mana padi tumbuh.

Tohjaya memang anak Ken Arok tetapi bukan dari rahim Ken Dedes, karenanya dia tak bisa bertahan lama. Lihat saja gunung Kelud, Arjuno, Bromo mengamuk, awan panas dan lahar api membakar semua yang ada. Gempa bumi lindu dimana-mana. Tanah Jawa ngamuk jika raja dan penguasa asli dicopot. Itu karma! Linggapati, beraninya mencoba merebut tahtaku, tidak tahukah kamu bahwa perbuatanmu ini sia-sia, dan tubuhmu akan hancur lebur.”

Suara dan ucapan kata Sang Raja terdengar sangat berwibawa, sebagian orang berhenti tarung melihat dari dekat sang Raja Seminingrat yang terkenal. Namun hanya sejenak tarung berhenti, saat berikut tarung dimulai. Kali ini Mahisa Cempaka, Sang Pamegat dan enam sepuh jubah putih ikut tarung. Ki Astika dan dua sepuh jubah putih bersiap-siap didekat Sang Raja menjaga segala kemungkinan.

Linggapati berseru. “Ranggawuni, aku tidak menganggapmu raja, kamu pencuri tahta milik Tohjaya. Aku akan mencabut nyawamu dan merebut tahtamu.”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Linggapati menyerang dengan keris prabakara yang menebar cahaya kemilau dan hawa panas. Tidak ayal lagi Ranggawuni mencabut keris gandring dari sarungnya, cahaya kemilau bertebaran. Ada bedanya, jika cahaya prabakara begitu kasar dan mencolok, maka cahaya gandring begitu halus tetapi tampak kuat bagaikan cahaya matahari senja.

Ketika keduanya tarung dengan senjata keris masing-masing. Tampak keanehan, mulanya cahaya keris prabakara terasa kuat dan hawa panasnya begitu membara. Tetapi lambat laun sinar dan cahaya meredup, hawa panas pun berkurang.

Ranggawuni tertawa terbahak-bahak. Tawa yang penuh wibawa. “Lihat keris prabakara semakin redup, tak berdaya menghadapi ki gandring, hukum karma berlaku yang palsu dan jahat tak mungkin bisa menandingi yang asli dan bijak. Menyerahlah Linggapati. Bunuh diri adalah jalan terbaik, itu karma.”

Ternyata kegarangan prabakara sebagai pembawa bencana yang panas membara tak berdaya lawan gandring. Cahaya prabakara jadi redup, sinar kemilau warna warni lenyap memudar, aura panas membara hilang, tidak ada lagi keangkerannya.

Tetapi Ranggawuni tak mau merusak keris prabakara, sengaja menghindar bentrokan keris. Rupanya Linggapati mengerti dan faham, lalu memanfaatkan sebagai kelemahan Sang Raja dan keuntungan bagi dirinya.

Berulangkali dia menyerang sengaja untuk membenturkan keris. Dengan demikian maka Ranggawuni terdesak. Namun Sang Raja penguasa tanah Jawa sangat mumpuni, dia ganti siasat tarung dengan menyerang pergelangan dan siku tangan Linggapati.

Tarung memasuki jurus tigapuluh. Dedes Ayu dan para pembantunya melihat majikannya keteter, tidak mampu menolong. Mendekati arena tarung pun terhalang para pendekar Lemah Tulis dan pasukan pemukul utama serta para sepuh jubah putih.

Tadinya pasukan pemukul utama dan para murid Lemah Tulis keteter tetapi begitu Sang Raja dan para sepuh jubah putih masuk arena, langsung terjadi perubahan. Dari terdesak menjadi berada diatas angin.

Pertarungan disekitar arena tarung Sang Raja Seminigrat, tidak kalah menegangkan. Jurus jurus mematikan digelar untuk membunuh. Prastawana dengan jurus penakluk raja mencecar Sangkapura. Tiga Sepuh Jubah Putih tarung ketat lawan Pulosari, senopati Samba dan Hanggada.

Dewi Kajoran tarung ketat lawan Sekar, sementara Gayatri, Dipta, Gajah Lengar, Gajah Nila, Daraka, Margana, Jayasatru dan Sampurno tarung hidup mati lawan beberapa pendekar gugus dua yang ilmu-silatnya juga mumpuni. Disekitarnya para pendekar Tumapel dipimpin Siki dan Dwi tarung lawan para pendekar gugus dua lainnya, sungguh pertarungan berdarah yang sedikit meleng saja maka nyawa melayang.

Malam masih gelap gulita, hanya diterangi api yang membakar rumah-rumah. Darah sudah mulai membasahi bumi. Banyak pendekar tewas. Ramalan bahwa keris prabakara memancing banjir darah para pendekar tanah Jawa, terjadilah.

Tanpa keris itu Linggapati tidak akan memberontak, yang tentu saja tidak akan terjadi pertarungan berdarah yang menelan korban jiwa ratusan orang. Inilah banjir darah dan malapetaka para pendekar tanah Jawa yang kedua setelah peristiwa Kandangan yang menelan seratus lebih korban jiwa. Semua kejadian banjir darah ini disebabkan keris prabakara yang berada diluar keraton.

Wisang Geni menghadapi keroyokan tiga pendekar gugus dua. Tarung tampak seimbang, namun ketika pendekar Lemah Tulis ini memainkan lalawa mengepak sayap menembus awan seketika terjadi perubahan mencolok. Tiga musuh itu terdesak mundur.

Hanggada sudah terluka parah kena gelontor pukulan Wadung salah seorang sepuh jubah putih, dia muntah darah. Sadar mengalami luka-dalam, Hanggada mengerahkan tenaga dan melesat sambil merogoh sakunya, mengeluarkan sumpit pendek sepanjang jari telunjuk. Dia melayang ke arah Sekar yang sedang tarung sengit dengan Dewi Kajoran. Hanggada berseru kepada majikannya, “kangmas, bawalah wanita idamanmu ini.”

Samba mendengar teriak Hanggada seketika sadar apa yang akan terjadi. Dia menyerang dengan jurus andalannya wrahaspati naracabala handagangi (mentari melepas seribu panah maut) memaksa mundur Sepuh Jubah Putih bernama Wulung. Dia melesat kearah Sekar.

Hanggada rela mengorbankan diri untuk sang majikan, begitu mendekati Sekar, sumpit kecilnya bekerja, dengan satu tiupan bertenaga, panah kecil melesat dan menancap dileher Sekar, tepatdi urat besar.

Dalam keadaan sibuk tarung, Sekar tidak melihat datangnya serangan Hanggada, dia merasa ada sesuatu yang menggigit lehernya.

Ketika itu dia membentur pukulan dengan Dewi Kajoran, tenaga dalamnya guncang. Pada saat itu racun bius panah Hanggada bekerja lebih cepat. Tidak heran Sekar pun limbung, dia tidak tahu apa yang terjadi.

Saat itulah Samba menerobos arena tarung, memukul punggung dekat leher Sekar dengan pukulan lunak sambil satu tangannya mengibas menangkis serangan Dewi Kajoran. “Daaaassss…”

Terjadi benturan tenaga, Dewi Kajoran terkejut melihat Samba menyerangnya. Namun tidak bereaksi lebih lanjut karena Samba menjauh. Samba meraih tubuh Sekar yang ingin teriak memanggil nama suaminya, namun suaranya hanya sampai ditenggorokan. Sekar pingsan tanpa sempat bersuara.

Meminjam tenaga benturan dengan pukulan Dewi Kajoran, Samba melesat sambil memanggul tubuh Sekar yang pingsan. Saat bersamaan, untuk mengalih perhatian orang, Hanggada berseru, “Ranggawuni mati. Raja Tumapel mati!”

Sepuh Jubah Putih Wulung yang mengejar Samba terhenti sesaat mendengar berita buruk. Saat itu Hanggada menyerangnya, memberi waktu Samba melarikan perempuan idamannya. Hanggada telah menepati janjinya, meskipun seandainya harus korban jiwa.

Sepuh Jubah Putih Wulung terkejut sesaat, namun detik berikutnya dia melonjor dua tangannya mengirim pukulan bertenaga raksasa. Hanggada yang sudah luka parah masih sempat berkeluit dan balas menyerang. Tetapi Wulung yang ingin cepat menuju tempat sang Raja menggunakan jurus mautnya.

Pada jurus kelima, pukulannya berbentur dengan pukulan Hanggada, terdengar tulang patah. Hanggada terlempar rubuh ditanah, tapi gebrakannya telah memberi waktu bagi Samba meloloskan diri.

Diantara kerumunan orang yang bertarung, gelapnya malam yang hanya diterangi kobaran api yang membakar rumah-rumah serta teriak kesakitan orang, Samba dengan mudah melarikan Sekar yang dipanggulnya. Samba cerdik, tidak berlari menuruni lereng yang dipenuhi pasukan Tumapel, dia lari mendaki lereng. Dia tahu adanya tempat sembunyi paling aman, tidak percuma dia bermukim lama dimarkas Linggapati.

Suara tawa Ranggawuni seakan mengejek Linggapati yang semakin terdesak. Sang Raja mengincar tangan Linggapati. Ditambah lagi hawa panas membakar yang teruar dari keris gandring semakin menyulitkan Linggapati. Dia tidak hanya terdesak melainkan terancam tewas. Beberapa pendekar gugus dua termasuk para pensehatnya pun dalam keadaan terdesak, bahkan satu demi satu tumbang dengan bersimbah darah.

Tak ada lagi keberuntungan atau keajaiban yang bisa menyelamatkan Linggapati dari maut. Ajal semakin dekat. Tahu tak ada gunanya melanjut tarung, dia melompat mundur memanggil isterinya. “Ayu, larilah.” Lalu dia menusuk dadanya dengan keris prabakara.

Mendengar panggilan suaminya, Dedes Ayu berteriak. “Kangmas…!”

Ketika itu satu per satu penasehat Linggapati tumbang bersimbah darah, Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran. Sebagian pendekar gugus dua lainnya melarikan diri, itupun tidak semuanya lolos dari kematian. Panah pasukan keraton mengejar punggung mereka.

Dedes Ayu meninggalkan lawannya, Gajah Nila.

“Minggir!” Teriak wanita cantik itu yang rambutnya awut-awutan. Dia membuka jalan menggunakan kerisnya, beberapa pukulan menimpa tubuhnya, tetapi dia merangsek terus menuju tempat suaminya terkapar.

Continue published 45 / August 11th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.