Saturday, August 27, 2011

Wisang Geni part Two (57)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 57

Before :

“Tuan pendekar nomor satu tanah Jawa, tenaga-dalam tuan ketika berkidung tadi, bukti kuat bahwa tuan sangat mumpuni. Siapa bilang tuan akan mati?” Tegas Purwo. Lalu dia menambahkan. “Pertarungan ini tidak ada hubungannya dengan anak-isteriku. Mereka tidak akan balas dendam.”

“Baiklah, sekarang terserah pada tuan pendekar. Aku pihak yang ditantang hanya bersiap melayani kemauan tuan.” Tegas Wisang Geni.

“Tampaknya aku harus memulai.” Purwo melancarkan serangan.

Tahu tingginya tenaga-dalam serta nama besar lawannya, dia tidak risih menggelar jurusnya yang paling mumpuni. Dua ilmu-silat warisan gurunya, lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung telah disatukan dan dimainkan sekaligus. Terkadang terpisah di masing-masing tangan, pada kesempatan lain menjadi satu. Itulah yang telah dia lakukan selama mengunci diri di gunung Lawu.

Wisang Geni melihat adanya kesamaan dengan permainan Ganggati namun perbedaannya cukup nyata dan transparan. Jurus-jurusnya jauh lebih mantap dan berbahaya di tangan Purwo. Gerak tangan dan kakinya, ringan tetapi mantap dan berbobot. Tenaga-dalamnya pun tinggi.

Dia tidak berani meremehkan lawan, segera memainkan jurus penakluk raja tetapi yang dileburcampur dengan tiga jurus perpisahan ciptaannya rasa suwung wenganing bumi (rasa ikhlas membelah bumi), ngesti suwung wenganing bumi (suasana hening membuka bumi), wongmati ora kesasaban bumi (orang mati tidak dikubur).

Tiga jurus perpisahan itu diaciptakan saat kehilangan isteri tercintanya Walang Wulan yang mati terbunuh. Saat ini dia lebih mendalaminya lagi karena sakit hatinya ditinggalkan isterinya Sekar.

Perasaan hati nelangsa yang dirasuk lima dari delapan rasa yang menggerakkan jurus penakluk raja, yakni glana (sedih), raga (nafsu birahi), kamuka (jatuh cinta), hayu (keselamatan), kapejah (kematian) membuat jurus-jurusnya tidak lagi terpola dan tidak keruan namun bergerak mulus tanpa hambatan.

Tidak ada lagi jurus-jurus sesempurna jika seseorang menggerakkan anggota tubuhnya, sesuai perasaan hatinya. Wisang Geni bertarung dengan penuh perasaan dan penjiwaan ibarat seseorang seniman yang melantunkan lagu sepenuh perasaan jiwanya. Tak ada lagi hambatan dalam tiap geraknya.

Dia ingat kata-kata Padeksa ketika kakeknya itu menggelar jurus garudamukha penemuannya yang baru, beberapa hari lalu. Bahwa jurus-jurus Lemah Tulis itu sangatlah unggul dan memiliki nilai sejarah dan kehormatan.

Tanpa sadar Wisang Geni berkidung “jurus penakluk raja” menyerang dan menangkis, memukul dan menghindar, melompat melayang. Kidungnya dia penggal dari gunung Lejar, jurus penakluk raja, ilmu dari segala ilmu, dari lembah kera, jurus lalawa mengepak sayap, menembus awan, tak ada lawan, ilmu dari segala ilmu, yah inilah ilmu dari segala ilmu.

Lalu dia berteriak keras membahana, “Eyang Sepuh oh kakek Padeksa, dan juga guru lalawa, lihatlah aku muridmu, inilah ilmu dari segala ilmu tak ada tandingan tak ada lawan”.

Wisang Geni melayang, menyerang bagaikan gerakan dewa yang turun dari kahyangan, tetapi dengan tangis dalam hati. Dia menggelar ilmu-silatnya dengan tangis dalam hati dan rasa rindu pada orang-orang yang telah memberinya ilmu-silat yang mumpuni. Gerak tangan dan kakinya lancar menyesuaikan dengan kiprah musuh yang dihadapi. Jurus menunggang angin pun tergelar secara refleks, kaki tak lagi menginjak bumi.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Purwo keteter habis, terpojok dan terdesak, bahkan bernafas pun sulit. Dia telah kerahkan segenap tenaga-dalam menjalankan jurus-jurus yang dia fahami. Tak ada gunanya, semuanya mental, jangankan memukul, menyentuh lawan pun dia tak sanggup.

Bahkan lebih kagetnya dia melihat Wisang Geni menangis, berkidung dengan air-mata., tetapi silatnya sangat sempurna. Tak pernah Purwo berpikir atau membayang adanya seorang pendekar bersilat seperti Wisang Geni, benar kidungannya “tak ada lawan”.

Saat itu juga Purwo tahu dia bakal mati. Enampuluh jurus. Hanya enampuluh jurus, sekitar setengah jam tarung, dia sudah kalah dan bakal tewas. Dia menguras segenap tenaga-dalamnya, tak ada gunanya, lingkaran tangan yang dimainkan Wisang Geni tidak bisa ditembus.

Tetapi sebagai pendekar kelas utama yang menjunjung kehormatan diri diatas nyawa, Purwo tak mau menyerah. Hanya tinggal hitungan detik saja, jurus Wisang Geni ”ilmu dari segala ilmu” akan menghantam sekaligus menghancurkan isi tubuhnya.

Semua penonton melongo, melihat peragaan silat yang menakjubkan, bertarung dengan tangis dan berkidung, gerakan yang tak pernah putus, mengalir bagai angin yang tidak terbendung.

Semua terpahna, sadar bahwa dalam hitungan detik Purwo akan tewas.

Tiba-tiba sosok bayangan bergerak pesat.

Perempuan itu, Srimawar, mencoba menerobos lingkaran dan pusaran angin yang diciptakan Wisang Geni. Tetapi dia mental keluar dan berteriak kesakitan, tubuhnya seperti kejang, bagaikan seseorang memegang aliran listrik.

Tetapi wanita yang sangat mencintai suaminya sempat berteriak keras.

“Jangan bunuh suamiku, dia tidak bersalah!” Teriaknya dengan suara mengerikan, suara seorang yang putus-asa.

Suara itu menerobos lingkaran angin permainan jurus “ilmu dari segala ilmu” dan memukul gendang telinga Wisang Geni. Mendadak dia sadar tidak pantas membunuh Purwo.

Begitu sempurnanya gerak-tangannya, seketika itu dia berhenti, melayang mundur dua langkah, berdiri dengan dua lengan terkembang. Itulah jurus lalawa mengepak sayap menembus awan yang sejatinya menjadi jurus pamungkas dari semua geraknya, dan yang akan membunuh lawannya.

Wisang Geni menatap tak percaya seorang wanita cantik manis usia empatpuluhan yang menghadang dengan memasang badan.

Srimawar berdiri dua langkah didepan suaminya yang duduk sila tak berdaya.

Purwo tidak terkena pukulan. Tak ada pukulan, tak ada angin pukulan mengena tubuhnya, tetapi tubuh Purwo lemas tak berdaya. Nafasnya sengal-sengal. Seluruh otot dan tulangnya seakan terlepas dari tubuhnya.

Purwo masih bingung, tak percaya apa yang dialaminya. “Apakah ada ilmu-silat seperti itu, apakah ada manusia yang sanggup memainkan jurus sehebat itu, dan aku tidak mati.” Bisiknya.

Ketika itu lima anak muda melesat memeluk Purwo.

Srimawar berbisik lirih ditujukan kepada Wisang Geni. “terimakasih kamu sudah berbaik hati, bunuhlah aku sebagai ganti nyawa suamiku.”

Wisang Geni takjub menyaksikan pengorbanan seorang isteri, memasang badan didepan suaminya, menantang maut yang mengancam suaminya.

Dia berkata lirih. “Aku tak bermaksud membunuh siapapun, tapi ilmu-silatku itu yang baru kuciptakan, hampir tak bisa kukendalikan. Maafkan aku mbakyu, maafkan aku kangmas Purwo.” Suara Wisang Geni terdengar jelas, mengandung duka dan sedih yang sangat dalam.

Tak seorang pun bisa merasa apa yang dirasakan pendekar utama itu. Dia membalik badan, melangkah lesu. “Mengapa aku senantiasa terlibat tarung?” Gumamnya.

Saat itulah dia mendengar suara angin. Inderanya dari ilmu lalawa masih menguasai dirinya sehingga bisa menerima getaran angin disekitarnya. Dia merasa ada serangan tertuju ke dirinya.

Desir angin itu berasal dari serangan kejam Ganggati yang melompat menerjang Srimawar.

Purwo tak berdaya, masih berusaha keras memulihkan tenaganya. Dia hanya sanggup teriak, “Sri awas!”

Srimawar balik badan dan melihat pukulan dahsyat Ganggati, pukulan kejam dan telengas yang bertujuan membunuh. Ganggati memang niat membunuh Srimawar, “kecuali Ganggati, tidak seorangpun boleh memiliki kangmas Purwo. Kubunuh kamu!”

Srimawar masih sempat menangkis. Sayangnya karena serangan Ganggati itu sangat mendadak maka dia hanya sempat kerahkan sebagian dari tenaga-dalamnya.

Meskipun melihat serangan ditujukan kepada Srimawar, namun Wisang Geni secara refleks mengibas tangannya, salah satu kepakan sayap lalawa, membentur tenaga Ganggati.

“Dessss…., desss…”

Pukulan Ganggati terhambat oleh tangkisan Srimawar dan kibasan tangan Wisang Geni, tetapi terus menerobos menghantam dada Srimawar.

Masih untung bagi Srimawar, pukulan Ganggati telah diredam dua penghalang, tangkisan Srimawar dan kepakan tangan Wisang Geni, sehingga tenaga pukulan Ganggati banyak berkurang. Hanya sekitar duapuluh lima persen dari tenaga penuh Ganggati yang menerpa Srimawar. Jika seratus persen dipastikan dada wanita itu akan remuk tulang-tulangnya.

Srimawar terpental.

Seharusnya ilmu-silat Srimawar tak perlu kalah, tetapi karena Ganggati menyerang secara curang, itulah hasilnya, Srimawar kena pukulan.

Ganggati memburu dengan jurus susulan. “Kubunuh kamu pelacur!”

Wisang Geni melompat sambil memainkan jurus lalawa, menarik tubuh Srimawar. Dan satu tangan lainnya mengerahkan tenaga wiwaha membentur pukulan Ganggati dengan tenaga penuh.

Dua tenaga besar beradu. “Deessss…”

Ganggati yang semakin kalap, meneruskan serangan kejamnya. Kini dua jari mengarah mata Wisang Geni, pukulan sadisnya mengarah dada.

Ini serangan curang, mendadak dan mematikan.

Semua orang yang melihat berteriak.

Wisang Geni mundur setengah langkah, dua tangannya berputar dan mengepak kedepan. Itulah pukulan pamungkas jurus lalawa mengepak sayap menembus awan.

Terdengar suara macam petasan “tasssss…”

Dua tangannya membentur pukulan Ganggati. Adu tenaga sepenuhnya. Salah seorang pasti akan mati. Siapa kuat dia menang.

Ganggati tidak sempat berbuat sesuatu lagi, segenap tenaga-dalamnya sudah ditumpahkan dalam serangan mematikan itu, tak ada cadangan lagi. Ketika beradu, tenaga-dalamnya membalik sendiri dan memukul jantung, hati serta organ tubuh lainnya.

Dia tak sempat berteriak. Muntah darah segar. Dan mati.

Srimawar tergeletak di tanah, tepat didekat berdirinya Wisang Geni.

Tertatih-tatih Purwo memburu memeluk isterinya yang pingsan, melihat wajah pucat Srimawar dia menangis, “jangan, jangan mati Sri…!”

Anak dan murid Srimawar ikut memeluk. “Ibu, jangan mati!”

Wisang Geni mendelong, mulutnya melongo. Pemandangan itu tragis, menghantam lubuk hatinya. Wanita itu mati membela suaminya. Teringat dia akan Walang Wulan. “Seperti yang dilakukan Walang Wulan ketika menolong aku, kasihan isteriku itu.” Bisiknya dengan mata berkaca-kaca.

Dia teringat Walang Wulan mati di pangkuannya. Mata Wulan isterinya itu memandang dengan penuh warna cinta. Dan celakanya, dia tak bisa berbuat sesuatupun, hanya bisa mencium mulut isterinya seperti permohonan Wulan. Dan isterinya itu mati beberapa saat kemudian. Tragedi itu masih melekat, tak pernah lenyap dari ingatannya.

Sekarang ini jika Srimawar tidak ditolong maka Purwo akan mengalami kejadian seperti yang dia alami, kematian isteri tercinta di pangkuan tanpa bisa menolong. Tetapi apakah dia mampu menolong Srimawar?

Ketika itu terdengar suara. “Paman Geni, tolonglah ibuku.” Kitiran berkata dengan isak tangis. Tersadar dan kaget Wisang Geni memutuskan harus menolong isteri Purwo.

Wisang Geni duduk sila, memegang nadi wanita itu yang masih pingsan. Dia menggeleng kepala. “Pukulan ganas, racunnya mematikan. Mas Purwo, isterimu sekarat, sudah mulai dingin, aku tidak yakin bisa menolongnya.”

“Aku mohon tolonglah isteriku.” Tukas Purwo tanpa merasa malu.

Terdengar isak tangis, Kitiran berkata dengan suara parau. “Paman, tolong ibuku, tolong dia, aku tak mau kehilangan ibu.”

Continue published 58 / August 29th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.