Thursday, April 16, 2009

Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan

Bab Tiga
Cinta Pertama

Catatan : Novel ini - Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan - sudah Terbit, bisa beli di semua tokotoko buku.

Padeksa menghela napas, ia gundah. Sampai hari ini, dua puluh lima tahun berlalu, ia belum bisa menyelesaikan tugas yang diembankan Bergawa padanya. Ia belum menemukan adik perguruan Gajah Watu dan juga keturunan Nyi Ageng Kili Suci. Ia belum tahu bagaimana caranya bisa mendapatkan jurus pusaka “garudamukha prasidha”. Ia juga belum menemukan murid pengkhianat yang menabur racun pelemas tulang. Ia belum membalas dendam meski setiap mengingat tragedi berdarah itu, amarahnya berkobar. Cuma satu hal yang membuatnya senang, Wisang Geni telah menguasai seluruh ilmu silat yang dia ajarkan, duabelas jurus “garudamukha” yang berintikan tenaga “garwa” (amarah) dan tujuh jurus “garudamukha prasidha”.

Hari itu setelah kejadian di reruntuhan rumah tua, Padeksa menyerahkan Wisang Geni kepada Manjangan Puguh untuk menyempurnakan ilmu andalan Merapi, pukulan “bang bang alum alum” dan ilmu ringan tubuh “waringin sungsang”.

“Geni, ada dua murid kakang Bergawa yang selamat, namun entah berada di mana sekarang. Lembu Agra, tak mungkin mencapai kesempurnaan ilmu silat lantaran cedera tenaga dalam. Walang Wulan, ia seorang wanita sehingga kemajuannya terbatas. Mereka adalah adik perguruan ayah ibumu. Dibanding keduanya, kamu calon paling kuat untuk menjadi ketua Lemah Tulis. Tapi kamu harus berlatih keras. Ingat kamu harus temukan rahasia “kinanti prasidha” yang berada di tangan keturunan Nyi Ageng Kili Suci, kamu gabung dengan tujuh jurus “garudamukha prasidha” yang kuajarkan, maka “garudamukha prasidha” akan sempurna dan menjadi jurus dahsyat, jurus yang menjadi pusaka perguruan kita. Kamu cari dan temukan pusaka itu !”

Padeksa sebenarnya adalah kakek guru bagi Wisang Geni namun belakangan justru menjadi guru. Orangtua Geni, Gajah Kuning dan Sukesih, murid Bergawa yakni kakak perguruan Padeksa. Dua puluh lima tahun lalu, setelah menyelamatkan Geni dari kepungan pasukan Tumapel, Puguh menyerahkan Geni untuk dididik Padeksa. Itu sebab Geni terbiasa memanggil Padeksa dengan kakek meski terkadang menyebutnya guru. Jika melihat hubungan lewat orangtuanya, Geni memang pantas memanggil kakek guru. Tapi jika melihat bahwa selama dua puluh lima tahun Padeksa mengajarinya ilmu silat, maka Geni boleh saja memanggil guru.

“Kakek, kau sudah seperti kakek sungguhan yang memelihara aku sejak kecil, kamu juga guruku, maka sudah kewajibanku melayani dan meladenimu. Setelah selesai berlatih dengan guru Puguh aku akan mencarimu. Tetapi guru, kamu kan masih ketua Lemah Tulis, kenapa harus mencari ketua lain.”

“Aku hanya ketua sementara, itu peraturan perguruan kita bahwa ketua hanya diturunkan dalam setiap generasi. Setelah Bergawa dan aku, maka generasi berikut adalah generasi kamu, Agra dan Wulan. Tapi sudah kukatakan tadi, kamu yang paling berbakat, cerdas dan memang sudah dipersiapkan sejak kecil oleh orangtua dan paman-pamanmu. Hanya kamu harus berjuang dan berlatih keras untuk jabatan terhormat itu.”

Wisang Geni merunduk. Malu-malu dia berkata lirih. “Aku belum tahu banyak asal usul perguruan kita juga perihal Eyang Sepuh Suryajagad dan Nyi Ageng Kili Suci, siapa mereka?” Dia melanjutkan. “Garudamukha prasidha” itu apakah sedemikian hebatnya sehingga menjadi ilmu pusaka perguruan kita. Kek, cerita guru Puguh tentang pertarungan Eyang Sepuh Suryajagad di Ganter itu, tentu beliau menggunakan jurus prasidha.”

“Benar. Itu sebab sangat penting untuk menemukan separuh prasidha itu, sebab tanpa jurus garudamukha prasidha yang utuh sempurna sulit bagi kamu menjadi pendekar utama dan mengangkat kembali nama dan citra Lemah Tulis. Pergilah Geni, jangan ragu, lelaki sejati hanya punya satu tujuan hidup. Pandanganmu harus ke depan, jangan melihat belakang, jangan melihat samping, tetapi pandang ke depan, di situ tujuanmu ke situ kamu pergi. Pergilah, gurumu Puguh sudah menantimu di luar. Ada satu yang penting, sekarang ini jangan mengaku murid Lemah Tulis, sebab banyak musuh, aku yakin suatu waktu nanti kita semua akan bangga sebagai murid Lemah Tulis saat dimana kita sudah memiliki seorang ketua yang ilmu silatnya disegani banyak orang. Sekarang pergilah.”


***

Daerah belahan Timur di kaki gunung Arjuno jarang dikunjungi orang. Hutannya rapat padat dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Pagi itu udara masih dingin. Kabut pun masih tebal. Suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara kicau burung dan gemuruh air terjun. Air terjun mencurah dari tempat yang cukup tinggi dan terjal. Curah air itu bagai tonggak langit, membentuk sungai yang airnya mengalir deras. Uap air menutupi pemandangan di sekitar air terjun, sehingga tidak terlihat adanya seorang lelaki sedang berlatih silat di pusaran air terjun. Dia Wisang Geni.

Geni bergerak lincah berloncatan di bebatuan. Sekali sekali ia menerjang curah air yang bagaikan tembok tebal. Menerobos tirai air yang deras, sepertinya ia tak mengalami kesulitan. Padahal air yang terjun dari tebing puluhan tombak tingginya tentu sangat dahsyat kekuatannya. Ia berlatih seharian. Ketika matahari sudah bergeser ke Barat, senja semakin mendekat, Geni melompat ke sebuah batu. Ia semedi di tengah uap air yang tebal, basah kuyup. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana sebatas lutut.

Setelah berpisah dari Padeksa, Manjangan Puguh membawa Geni berlatih di air terjun. Satu minggu ia mengajarkan ilmunya, Puguh kemudian meninggalkan Geni. “Kamu tinggal membiasakan jurus-jurus itu menyatu dengan gerakanmu. Paling tidak kamu harus berlatih satu bulan lagi di sini. Dan aku tidak bisa menemanimu terus, aku harus pergi mencari Eyang Sepuh Suryajagad dan keturunan Nyi Ageng Kili Suci, jika ketemu, aku akan membawa kamu ke sana. Sekarang kamu berlatih saja, setelah satu bulan berlatih, kamu boleh pergi mengembara ke mana kamu mau. Tetapi ingat pesan kakekmu Padeksa, jangan memperkenalkan dirimu sebagai murid Lemah Tulis.”

Batas waktu satu bulan yang diberikan Manjangan Puguh malah menantang Geni untuk menambah waktu latihannya. Dua bulan Geni berdiam di kaki gunung Arjuno. Meskipun tidak sehebat gurunya, tetapi Geni sudah menguasai ilmu ringan tubuh yang tidak ada duanya di kolong langit “waringin sungsang” dan jurus tangan kosong “bang bang alum alum”. Ilmu andalan Manjangan Puguh, yang diterimanya dari guru Sagotra, pendekar dari gunung Merapi. Setelah semedi, Geni bangkit lagi meneruskan latihannya. Ia tidak melihat kehadiran seorang gadis di tepi sungai.

Gadis itu melangkah santai di tepi sungai. Ia duduk di sebuah batu di pinggir sungai. Kakinya dijulurkan ke dalam air. Ia menjerit kecil, dinginnya air terasa nikmat. Ia berdiri sambil merentang tangan, menengadah memandang air terjun dan menikmati pemandangan indah di sekelilingnya. Ia tidak melihat Geni yang berada di dalam kumpulan uap air yang tebal.

Gadis itu masih berdiri di batu di tepi sungai merasakan sejuknya angin pegunungan. Wajahnya yang cantik basah dielus angin sepoi yang membawa serta uap air. Hidungnya yang bangir kembang kempis menghirup nafas panjang seakan hendak menelan semua udara basah itu ke dalam parunya. Udara itu dihembuskan dari mulutnya yang indah berbentuk gondewa. Lehernya yang jenjang tertutup rambut yang basah yang terjulai sampai di pundaknya. Ia seorang gadis muda usia sekitar duapuluh tahun, jangkung dengan kaki langsing dan agak panjang. Tubuhnya kuning sawo, tampak langsing, sintal dan berisi. Ia benar-benar cantik alamiah.

Tak ada suara lain kecuali gemuruh air terjun dan suara binatang dari hutan sekitar. Mendadak terdengar suara tertawa keras diikuti kesiuran angin. Sosok bayangan bergerak pesat. Bagai turun dari langit seorang lelaki sudah berdiri di depan si gadis. Ia kurus, kepalanya botak. Kumis dan cambangnya lebat. Sikapnya kurang ajar. Matanya jelalatan menelusuri sekujur tubuh si gadis.

“Wong ayu, wong ayu, sudah lama kubuntuti kamu. Nah sekarang hanya kita berdua di tempat sunyi dan sepi ini. Bagaimana dengan lamaranku tempo hari, kamu jangan malu-malu, apalagi di sini kan tak ada orang, kangmas ini sudah tak sanggup menahan rindu.”

Si gadis terkejut sesaat. Tetapi bagai tersentak ia lantas menyerang gencar. Dua jurus berturutan dilepasnya. “Bangsat keparat busuk, rupanya kamu belum mati waktu itu. Hari ini kubikin kamu menyesali hidupmu, matilah kamu bangsat !” Ia menyerang dengan serentetan pukulan dan tendangan yang mendatangkan angin keras petanda besarnya tenaga yang digunakan.

Lelaki brewok itu tertawa. “Ajal belum mau mencabut nyawaku, wong ayu. Dewa maut itu berkata, ia baru akan mencabut nyawaku setelah aku mengawini kamu yang cantik dan montok. Sekarang saatnya aku mengawini dan menikmati tubuhmu, wong ayu.”

Gadis itu tidak meladeni omongan lawan. Ia terus mencecer dengan serangan dahsyat. Tetapi lelaki brewok itu berkelit lincah meskipun batu besar tempat ia berpijak, licin dan berlumut. Lelaki itu juga tak bisa berbuat banyak. Tampak ilmu silat keduanya imbang. Si gadis lebih unggul dalam ringan tubuh, namun masih kalah dalam tenaga pukulan.

“Tak usah heran wong ayu, sekarang ilmu silat kangmasmu ini, Kalamasura, makin maju. Sengaja aku memperdalam ilmu dari Romo Guru, supaya sebagai suami aku bisa meladeni kemauanmu tiap malam, iya kan wong ayu.”

Tigapuluh jurus berlalu. Perkelahian berlanjut ke dekat air terjun, namun masih di tepi sungai. Keduanya basah kuyup, kecipratan uap air. Baju si gadis basah nempel ketat di tubuh memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Lelaki itu semakin terangsang. “Hai wong ayu, setahun kita berpisah, ternyata kamu semakin montok, setahun aku kasmaran memikirkan kamu, sekarang aku harus memiliki kamu. Harus ! Oh wong ayu, aku makin kasmaran.”

Dua kali tamparan menerpa bahu dan pundak Kalamasura membuatnya meringis kesakitan. Mendadak ia mengubah jurus silatnya, “Wong ayu, sudah cukup kita main-main.”

Berkata demikian ia menyambut pukulan si gadis dengan kepalan. Kalah tenaga dalam, si gadis tak mau adu pukulan. Ia mengubah jurus, kepalan berubah menjadi telapak tangan terbuka. Ia niat menampar pergelangan tangan lawan. Tiba-tiba si gadis melihat sinar gemerlap di tangan Kalamasura. Paku yang berkilat oleh matahari senja. Jarak sudah terlampau dekat, ia sulit menghindar.

Si gadis dengan cerdik dan sebat menggerakkan pergelangan tangan ke bawah lalu ke atas, niat menyampok tangan lawan. Kalamasura licik, ia sudah memikirkan perangkap ini. Ia membiarkan gerakan si gadis. Saat yang tepat ia menggentak telapak tangannya, dua paku melayang secepat kilat. Gadis itu tak pernah mengira lawan akan menyambit dengan paku. Ia mengelak, tetapi terlambat. Satu paku lolos, satu lainnya nancap di dada dekat pundak.

Kalamasura berteriak girang, ”kena kamu wong ayu, dan ini paku berikutnya supaya kamu tak bisa lari.” Tiga paku melayang ke arah kaki. Si gadis mengelak dengan gerak tubuh limbung. Dua lolos, satu lainnya nancap di paha.

“Tak usah takut wong ayu, itu memang paku racun laba-laba, tapi kangmas punya pemunahnya. Tanpa obat pemunah kamu akan mati dalam waktu satu hari. Sekarang, menyerah saja. Memang tidak enak mengawini orang pingsan, tetapi apa boleh buat dari pada membiarkan kamu lolos lagi.”

Gadis itu merasa gerak kakinya agak kaku, rupanya racun sudah mulai bekerja. Sungguh cepat sekali proses kerja racun itu. Gadis berpikir lebih baik mati daripada diperkosa. “Aku adu jiwa dengan mu, lebih baik aku mati, kamu bangsat biadab.” Sambil berkata ia melancarkan dua jurus menyerang tanpa memperdulikan pertahanan lagi. Tujuannya cuma satu, membunuh lelaki bernama Kalamasura itu. “Lebih baik mati dari pada ternoda,” gumamnya.

Meski ilmunya setingkat, mau tak mau Kalamasura terdesak hebat. Ia cuma bisa menangkis. Dua pukulan menghantam telak dadanya. Terasa gejolak darah, rasanya mual. Ia tahu ia terluka dalam. Sebenarnya tak semudah itu ia terluka. Keduanya imbang, si gadis sudah terluka kena paku beracun namun dengan serangan nekad justru kekuatannya berlipat. Di lain pihak Kalamasura tarung setengah hati, tak mau menurunkan tangan maut. Lelaki brewok ini terhuyung limbung. Dadanya sakit, nafas sesak. Tapi ia tersenyum, dilihatnya si gadis ikut terhuyung sempoyongan. Racun sudah bekerja. “Ia segera akan jatuh tak berdaya,” gumam Kalamasura dengan menahan sakit di dadanya.

Racun sudah bekerja. Gadis itu merasa pusing. Pandangannya berputar dan kabur. Ia menggigit bibirnya, “aku tak boleh pingsan, aku harus tetap sadar.”

Pada saat kritis bagi si gadis, mendadak sebuah bayangan masuk pertarungan. “Laki-laki pengecut. Tidak pantas bertarung dengan perempuan, menggunakan cara membokong.” Tanpa basa basi Wisang Geni melancarkan jurus “gora andaka” (banteng besar hamuk) dari “bang bang alum alum” yang sudah sempurna ia kuasai.

Hebat ! Kalamasarura yang sudah terluka, kaget setengah mati, dia berupaya menangkis serangan Geni. Tetapi sia-sia, pukulan Geni menerpa bahunya. Ia kaget. Belum sempat ia bebenah diri, jurus susulan Geni “nyakra manggilingan” (selalu berputar bagai kincir) telak menghajar perut dan lengannya.

Kalamasura muntah darah! Seketika nyalinya terbang. Gila ! Hanya dalam dua jurus ia dihajar tanpa sempat membela diri. Lawan ini bisa membunuhnya. Ia tak berpikir dua kali lagi, ia kabur secepatnya.

Ada alasan mengapa Geni begitu cepat memetik hasil, hanya dua jurus, Kalamasura langsung terluka dan kabur. Pertama, Kalamasura sudah terluka oleh pukulan si gadis. Kedua, Geni menyerang ganas tanpa memberi kesempatan. Ketiga, hebatnya jurus “bang bang alum alum” yang baru selesai ia kuasai.

Wisang Geni terpesona akan ilmunya tadi. Ia baru pertama kali menggunakan jurus ciptaan pendekar Merapi dan hasilnya sungguh luar biasa. Dari gerakannya bisa diukur bahwa lawannya tadi bukan sembarang orang namun toh bisa ia lukai dalam dua jurus. Saat itu Geni melihat si gadis sempoyongan. Sebelum terjungkal ke dalam sungai, Geni sigap menangkap lengannya.

Mendadak gadis itu menyerangnya dengan pukulan ganas, mengarah mata. Geni terkesiap, sama sekali tak menduga akan diserang. Untung saja keracunan membuat pukulan si gadis tak bertenaga. Geni menangkis dengan tenaga ringan, takut si gadis terluka.

Si gadis sempoyongan. Pingsan. Geni meraih pinggangnya, mendudukkannya di atas batu dengan hati-hati. Ia menotok beberapa titik jalan darah di punggung dan leher. Gadis itu sadar. Ia berontak. Geni berkata lirih. “Nona, kamu tenang, aku bukan musuhmu, musuhmu yang tadi sudah kuusir pergi.”

Gadis itu masih mengigau, “aku tak mau pingsan.” Geni menjawab sambil menyalurkan tenaga dalam ke punggungnya. “Iyah, kamu tak boleh pingsan, aku akan membantumu dengan tenaga dalam.”

Kesadaran si gadis mulai pulih. Ia mengerti bahwa orang yang berada di belakangnya sedang menolongnya. Kalamasura sudah pergi. Mendadak ia merasa perutnya mual, pusingnya makin memabukkan. Ia ingat terkena serangan paku Kalamasura. “Aku, aku kena senjata rahasia paku beracun, katanya racun laba-laba.”

Geni terkejut. Ia melompat ke depan si gadis. “Dimana ?” Gadis itu melihat samar-samar seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Ia menunjuk dada dan pahanya. Ia sudah setengah sadar. Bibirnya pucat agak membiru. Dibawah pelupuk matanya, agak gelap.

Memegang nadi dan memandang mata si gadis, sekejap saja, Geni mengenal racun yang menyerang si gadis adalah racun ganas. “Ulurkan dua tanganmu.” Katanya dalam nada memerintah. Gadis itu mengikuti perintahnya. Tanpa membuang waktu lagi Geni segera mengempos tenaga dalamnya. Tangannya bergetar penuh tenaga menempel tangan si gadis. Mereka duduk berhadapan di atas batu besar dekat air terjun. Keduanya saling menatap. Lalu Geni memejamkan mata.

Gadis itu merasa tenaga yang hangat menerobos tangannya. Tenaga itu berputar dan menyelusur seluruh tubuhnya. Tadi agak pusing kini ia merasa lebih baik. Tadi dia sangat berkeinginan untuk tidur, kini rasa kantuknya perlahan-lahan lenyap. Ia melihat darahnya yang warnanya hitam merembes keluar dari lukanya. Tidak lama kemudian senjata semacam paku meloncat keluar dari luka di dadanya. Agak lama kemudian satu paku lagi terlempar keluar dari luka di pahanya. Diam-diam dia memuji hebatnya tenaga dalam laki-laki penolong ini.

Gadis itu meneliti pemuda di hadapannya. Lelaki itu basah kuyup. Ia bertelanjang dada, tampak bulu dadanya yang lebat. Wajahnya penuh keringat bercampur air sungai. Hidung besar agak bangir. Mulutnya lebar, bibirnya tipis. Tanda ia punya semangat tinggi dan agak kejam. Rambut setengah keriting, gondrong sampai leher. Alisnya tebal. Secara keseluruhan ia tidak tergolong tampan, tetapi punya daya tarik. Dan dengan tubuhnya yang kekar atletis, justru lebih nampak jantan.

Geni membuka mata, si gadis menangkap seberkas sinar tajam. Ada kilatan yang membuat si gadis bergidik. “Orang ini kejam,” pikirnya. Sesaat kemudian sinar mata itu kembali ramah dan penuh kedamaian. Ia mengubah penilaian dalam hatinya tadi, “pemuda ini baik dan luhur budi”. Tanpa terasa gadis itu merasa suka, “terimakasih, pendekar, kamu telah menolong aku,” katanya.

“Tunggu dulu, nona, kau belum sembuh. Racun masih mengeram dalam tubuhmu, berbahaya. Racun segera mengganas lagi jika tidak cepat ditolong, tetapi ... bagaimana yah.”

“Kenapa ? Katakan saja, aku tidak takut mati, tadi memang aku takut, aku takut diperkosa lelaki bejat itu. Kalau mati, aku tidak takut mati.”

“Bukan mati, tetapi kamu bisa lumpuh. Racun itu ganas, harus dikeluarkan dari tubuhmu, setelah itu kamu minum obat untuk membersihkan darahmu.”

“Bagaimana mengobatinya, apakah kamu bisa? Apakah kamu punya obatnya?” Saat itu si gadis merasa perutnya mual, “aku mual, rasanya mau muntah.” Saat berikutnya ia muntah. Lendir mengandung sedikit darah.

Geni merasa serba salah. “Racun mulai mengganas. Aku bisa menolongmu, aku murid seorang ahli pengobatan, tetapi ... .”

Gadis itu semakin bingung. “Katakan, apakah ada syarat untuk pertolonganmu ? Katakan !”