Tuesday, August 30, 2011

Wisang Geni part Two (59)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 59

Before :

Tiba-tiba Sapu Lidi menjerit. “Kamu biang keladinya, Sekar menolongmu, tapi kamu membalasnya dengan fitnah dan pengkhianatan.”

Tidak hanya memaki, saat yang sama Sapu Lidi menerjang.

Wisang Geni terkejut. Dua tangannya menangkis serangan pendekar tua itu.

Gerakan Sapu Lidi sangat gesit. Ringan-tubuh wimanasara dan jurus sapwatanggwa yang biasa dimainkan Sekar, kali ini digelar Sapu Lidi sangat jauh berbeda, dua atau tiga kali lipat diatas Sekar.

Pukulan Sapu Lidi menggunakan tenaga segoro membuat tangan Wisang Geni bergetar. Tenaga wiwaha tidak lebih tangguh dari segoro. Namun ringan-tubuh Sapu Lidi sangat trengginas, dia meminjam tenaga benturan tanpa kakinya memijak bumi dia melayang bagai anak panah melesat mengarah Atis yang saking kagetnya tak mampu bergerak.

Gayatri yang berdiri disisinya ingin menolong tetapi tak sanggup menghadapi kecepatan gerak Sapu Lidi.

Wisang Geni mengejar hendak menolong Atis. Memukul dengan tenaga dingin.

“Plaaakkk…”

Atis menjerit. Tamparan Sapu Lidi keras mengena pipinya.

“Aduuhhh.”

Mendengar angin pukulan mengancam punggungnya, Sapu Lidi bertindak trengginas. Tangannya menjambret rambut Atis, memutar tubuhnya sehingga menghadap pukulan Wisang Geni. Seketika Wisang Geni mencelos, jika meneruskan pukulan akan menimpa badan Atis. Dia cepat mengalihkan pukulannya ke tempat kosong.

Saat itu kaki Sapu Lidi menendang bokong Atis yang terlempar ke arah Wisang Geni. Semua kejadian itu berlangsung cepat.

Wisang Geni menangkap tubuh isterinya. Atis menggigil ketakutan, menangis lantaran sakit. Dia tak pernah menyangka mengalami kejadian seburuk itu. Pipinya bengkak. Sebagian rambutnya tercabut.

Amarah Wisang Geni meluap. “Kamu keterlaluan, menyakiti isteriku didepan mataku.”

Sapu Lidi berdiri tegar. “Jangan pandang aku sebagai isteri Suryajagad, anggap aku musuh besarmu, akan kulayani kamu seratus jurus.”

“Kamu kira aku takut?” Nada suara Wisang Geni tinggi. Apalagi dia melihat tangan Sapu Lidi menggenggam seuntai rambut yang tercabut dari kepala Atis.

“Siapa pun orang menyakiti Sekar, dia menyakiti aku. Tidak perlu kamu mengingat budi Suryajagad, maju tarung. Kulayani kamu.” Sapu Lidi tertawa sinis.

Wisang Geni serba salah. Menahan diri atau menerima tantangan dan tarung lawan Sapu Lidi, isteri dari Eyang Sepuh Suryajagad, guru yang paling berjasa padanya.

Terdengar suara Atis. “Mas, jangan tarung. Kumohon, jangan tarung. Semua salahku.” Atis berkata sambil mengelus pipinya yang merah bengkak. Dua giginya copot.

Wisang Geni merasa keder. Melihat gerakan Sapu Lidi yang trengginas, dia sendiri tidak yakin bisa mengimbangi nenek tua itu. Sesaat amarahnya kumat, saat berikut dia sadar bahwa Sapu Lidi adalah isteri Eyang Sepuh, buyut dari Antaseno putranya.

Pada saat itulah dia melihat sosok wanita cantik jelita yang muncul dari balik pepohonan cemara. Jantungnya berdebar kencang memandang Sekar. Begitu cantik dan sempurna, hampir saja dia tak mengenali.

Dulu Sekar juga cantik tetapi dibungkus baju kusam dan lusuh, kini wanita itu tampil begitu penuh pesona, cantik berseri. Busananya bersih, kebaya dan celana ketat yang dilapis sewek di pinggulnya memperlihatkan potongan tubuh yang seksi proporsional.

Ketika itu terdengar suara Angga yang nyaring. “Bibi Sekar, mana kangmas Seno?”

Disamping Dewi Obat dan Sapu Lidi, berdiri Sekar berdampingan dengan Samba. “Oh Angga anak manis, mas Seno ada didalam sedang main-main.” Kata Sekar.

Anggreni menoleh kepada Seruling Kencana. “Eyang, aku mau main dengan mas Seno.”

“Kamu pamitan sama Geni dan ibumu.” Jawab Seruling Kencana.

Saat itu seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berdiri diantara pepohonan cemara, berseru. “Angga, sini kita main di empang.”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Anggreni melihat Antaseno, seketika dia berseru, agak menjerit. “Mas Seno.”

Dia hendak berlari tetapi menoleh pada ibunya.

Gayatri berkata. “Pergi main dengan kangmasmu.”

Angga berlari cepat. Dua anak itu berpelukan, lalu Antaseno memegang tangan adiknya, berlari masuk kedalam rimba cemara.

“Jangan lepas tanganku Angga, nanti kamu kesasar.” Terdengar suara Antaseno. Lalu tawa dua anak kecil berderai, makin lama makin perlahan dan menghilang.

Sekar memerhatikan wajah Atis yang pipinya merah lebam dan rambutnya acak-acakan, seketika dia tahu ulah neneknya. Dia hendak menegur neneknya, tapi batal. “Biarkan itu pelajaran buat si centil genit itu.” Katanya dalam hati.

Tiba-tiba terdengar tawa Sapu Lidi. “Tidak disangka-sangka kita bertemu disini, Tintin si seruling kencana angin apa yang mengantarmu kemari?”

“Tigapuluh tahun tak bertemu, ilmu-silatmu makin tak terukur.”

“Jangan merendah, ilmu-silatmu juga pasti makin tak terukur. Apa maksud datangmu?”

Seruling Kencana tertawa. “Tentu saja bersahabat. Anggreni cucu muridku, ibunya adalah muridku. Lalu Antaseno itu cicitmu. Keduanya bersaudara, anak Wisang Geni, jadinya mau tidak mau kita pun harus bersahabat. Bagiku berteman kalian berdua, sangat membantu aku melewati masa tua.”

Sapu Lidi tertawa. “Kita punya hitung-hitungan masa lalu, bagaimana caranya urusan itu diselesaikan?”

“Tidak ada yang perlu diselesaikan, tak ada apa-apa. Aku tak pernah merebut dia darimu, dia tetap suamimu, aku hanya bersahabat, tukar pikiran ilmu-silat, aku tidak mengambil sesuatu darimu. Apalagi dia sekarang sudah moksa, mengapa kita harus bertengkar?”

“Kamu mengajak dia bercinta?”

“Aku wanita yang tidak bahagia. Kamu isterinya, ibu dari anaknya. Aku hanya wanita singgahan. Jika bertemu, kami bercinta sehari dua hari, tak ada ikatan apapun. Suamimu itu tetap mencintaimu, dia tak pernah lupa padamu meskipun dia berada jauh di suatu tempat. Sesungguhnya yang memisahkan dia darimu hanya kegilaannya terhadap ilmu-silat, bukan karena aku atau wanita lain.”

Tiba-tiba Sekar memotong pembicaraan dua pendekar tua itu. “Nek, inikah nenek Tintin sahabat dan kekasih kakek? Sudahlah Nek kalian berdua sudah tua, sudah saatnya kalian menjalin persahabatan dan menikmati hari tua. Urusanku dengan Wisang Geni akan aku selesaikan sendiri.”

Wisang Geni tak sedetikpun melepas pandangan dari Sekar. Dia bahkan tidak mengikuti apa yang terjadi disekitarnya, pandangannya menetap pada sosok bekas isterinya. Parasnya kini lebih cantik, berseri-seri, ceria.

Tampak Sekar lebih bahagia. Tubuhnya segar semakin molek dan matang. Tak pernah dia bayangkan akan melihat sosok Sekar secantik ini, lebih cantik dari Atis dan Gayatri.

”Mataku buta tak melihat kecantikannya, bagaimana aku bisa mengatakan Atis lebih cantik, kenyataannya dia lebih cantik, sangat cantik jelita, tubuhnya indah. Betapa bodohnya aku melupakan dia?” Dia memaki dalam hati.

Dan lelaki itu, tampak kekar, atletis dan tampan. Keduanya pasangan serasi. Pakaian tidak lagi kusut dan kumal, tetapi bersih. Wisang Geni mengenal Samba. Tiba-tiba dia diusik niat membunuh. “Bukankah Samba pimpinan pasukan rodra yang telah membunuh puluhan murid Lemah Tulis?” Mata Wisang Geni yang tadinya bersinar lembut mesra memandang Sekar, berubah tajam menyala melihat Samba.

Hal ini tidak luput dari pengamatan Sekar. Tiba-tiba saja menyeruak keberanian Sekar yang selama ini terpendam karena ketergantungan berlindung pada Wisang Geni. Kini dia tahu saatnya harus membela diri sendiri dan Samba.

Sekar menatap bekas suaminya dengan tangannya menggenggam tangan Samba. “Geni, sejak menjadi isterimu, tubuhku tak pernah dimasuki laki-laki selain kamu, aku setia jiwa dan raga. Tapi sejak kamu ingkar janjimu dan melupakan aku, membuang aku dari hatimu dan lebih mencintai Atis. Sejak kamu lebih mementingkan tarung di bukit Gunduk tak hirau apakah aku selamat atau mati, sejak itu aku sudah melupakan kamu, bagiku kamu sudah mati. Aku bertemu kangmas Samba yang mencintai aku selama empat tahun, jangan salahkan siapapun juga karena aku telah memilih dia sebagai suamiku. Ini permainan karma!”

Bimbang. Wisang Geni ragu dan bimbang.

“Pasukan rodra telah kamu tumpas. Semua anggota Rodra tewas di bukit Gunduk. Kalau masih belum cukup nafsu membunuhmu dan ingin membunuh suamiku, ketahuilah Geni, aku akan melawanmu, mati hidup. Mungkin saja kami berdua tidak ungkulan melawanmu, tapi kami sehidup semati, tidak gentar menghadapi kematian. Dan belum tentu juga kamu lebih unggul dari kami berdua.” Sekar berkata dengan matanya menatap tajam lelaki yang pernah dia cintai.

Dewi Obat yang berdiri disisi Sapu Lidi tiba-tiba tertawa. “Ini cerita baru. Cucuku Sekar makin cantik dan montok, lalu Wisang Geni ingin membunuh Samba dan merebut kembali Sekar. Dia mau bertindak semena-mena mengandalkan ilmu-silatnya yang tinggi. Membunuh Samba dan Sekar dengan jurus ajaran kakeknya Sekar, sungguh perbuatan tidak bermoral. Inikah si pendekar nomor satu tanah Jawa, bagiku dia hanya seekor ular berbisa yang sanggup menggigit cucu majikannya.”

Paras Wisang Geni berubah-ubah, merah padam, pucat, kembali merah. Dia sangat marah, ingin menerjang melabrak Dewi Obat.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Sekar telah memilih suami yang sesuai kata hatinya. Aku sudah merestuinya.” Kata Sapu Lidi sambil melangkah ke sisi Sekar. “Sehelai rambut Sekar kamu usik, kamu akan hadapi aku sebagai lawan dalam tarung mati hidup. Ketahuilah hai pendekar nomor satu tanah Jawa, aku lawanmu ini adalah isteri dari pendekar tua yang telah mengajari kamu ilmu-silat kelas atas. Jika bukan jasa Suryajagad kamu bukan apa-apa dalam dunia persilatan, tetap seekor kecoak buduk.”

Nenek Sapu Lidi tak hanya berkoar, melainkan siap dengan kuda-kuda. Dia malah menarik keluar senjata sapu lidi dari balik punggungnya. Namanya sapu lidi, tetapi hanya tongkat sepanjang setengah meter dihiasi sekumpulan lidi yang terbuat dari baja halus yang lentur tapi tajam. Jangan diremehkan, lidi-lidi itu bisa dilepas menjadi senjata rahasia.

Saat itulah Atis dan Gayatri yang berdiri mengapit Wisang Geni, menggenggam masing-masing tangan suaminya.

Lalu Gayatri berkata lirih. “Mas Geni ingatlah, Nenek itu, dan juga Sekar adalah keluargamu, mereka ibu kandung dan nenek Antaseno. Kamu pernah berkata dihadapan semua pendekar Kuangchou waktu itu bahwa damai itu indah. Apakah kamu lupa mas Geni? Bukankah damai itu indah?”

Wisang Geni sadar. “Yah damai itu indah.” Memandang Sekar dia berkata lirih. “Kamu cucu Eyang Sepuh. Kamu ibu dari Seno. Aku tidak akan memusuhimu, kamu telah memilih Samba, aku menghormati pilihanmu, seperti katamu, ini semua permainan karma.”

Sekar menyahut dengan suara yang dingin dan tegas. “Aku tak ada urusan lagi denganmu Geni. Aku tidak memusuhi kamu, tetapi sedikit saja kamu usik keluargaku, aku akan menghadapimu mati atau hidup. Darah kakekku Suryajagad si pendekar Matahari mengalir ditubuhku, tak ada rasa takut dalam diriku.”

Lalu dia menoleh menghampiri dan merangkul dua neneknya bergantian. “Kami berdua sudah nginap disini beberapa hari, dan aku sudah puas ngobrol dengan Nenek dan main-main dengan Seno. Sekarang kami pamitan.” Tukas Sekar. “Nek, jangan lupa janjimu mengunjungi kami.”

Tanpa memandang Wisang Geni, Sekar menarik tangan Samba, melangkah pergi.

Atis berseru. “Mbakyu Sekar, tunggu!” Dia menghampiri suami isteri itu.

Atis menghampiri Sekar, matanya berkaca-kaca. “Maafkan aku mbakyu, kalau gara-gara aku kamu pisah dengan mas Geni. Aku mohon ampunanmu.” Atis hendak berlutut tetapi dicegah Sekar.

“Jangan. Jangan berlutut. Empat tahun lalu aku bertemu kangmas Samba, cinta dan kasmarannya tak pernah luntur selama empat tahun. Aku telah memilih dia, sekarang aku bahagia. Dan aku telah melupakan semua masa lalu.” Kata Sekar yang memeluk lengan suaminya, menoleh dan memandang mesra Samba. “Lagipula kalau aku mau bercinta dengan suamiku sekarang ini aku tidak perlu tunggu giliran atau antri, hi… hi… hi…” Sekar tertawa mengejek Wisang Geni yang parasnya pucat. Marah dan malu. “Aku kini isteri seorang lelaki yang sempurna … ha… ha… ha..”

Atis jadi serba salah. Tetapi dia mengerti bahwa Sekar sudah memutus persahabatan dengannya. Dalam hati dia sedih, makin merasa sebagai seorang yang mengkhianati Sekar yang telah menolongnya, Sekar yang menyayanginya seperti adik sendiri.

Gayatri memegang tangan sahabatnya. “Sekar, bagaimanapun juga kita berdua adalah ibu kandung dari dua anak kecil yang bersaudara Seno dan Angga. Ikatan ini tak mungkin putus.”

Sekar tertawa. “Kamu tetap sahabatku, Gayatri. Kita telah melalui masa suka duka dalam pertemanan kita, sekarang aku merasa makin akrab denganmu.”

“Kapan-kapan aku menjengukmu, katamu akan memberitahu tempat tinggalmu.”

“Boleh, silahkan datang, aku menunggumu.” Sekar memeluk Gayatri, berbisik. “Desa Panton Tanjung Gerinting di tepi laut.”

“Aku boleh bertamu dirumahmu mbakyu?” Atis memberanikan diri, mengusir rasa malunya, ingin menyambung lagi persahabatan dengan Sekar.

Sekar tertawa. “Boleh. Hanya kalian berdua, tak boleh ada orang lain!” Dia menggandeng lengan suaminya. “Ayo kangmasku, kita pulang.”

Pasangan suami isteri bergandengan mesra, melangkah pergi. Bersiul memanggil kuda tunggangannya.

Saat itu Wisang Geni berseru. “Dewi Obat, aku mohon ijin masuk menemui Seno dan Angga.”

Wisang Geni dan dua isterinya nginap tiga hari di lembah cemara. Setiap hari Wisang Geni bermain-main dengan dua anaknya. Terkadang Gayatri ikut campur. Seruling Kencana yang nama aslinya Tintin tak bosan-bosannya berbincang dengan Dewi Obat dan Sapu Lidi. Ternyata dua anak Wisang Geni itu telah mempersatukan dua seteru cinta dan mengubahnya menjadi persahabatan erat di hari tua. Tiga nenek tua itu bahkan berjanji akan mendidik Seno dan Angga bersama-sama.

Hari itu menjelang berangkat ke Jedung, saking tegangnya Atis memeluk Gayatri, mereka berpelukan dan menangis. Tegang memikirkan tarung pamungkas suaminya. Keduanya tak mau menangis didepan suami, khawatir berpengaruh pada semangat tarung sang suami.

Gayatri berkata lirih. “Aku tak perduli apa kata dunia kependekaran, jika kangmas Geni terancam, aku akan masuk tarung.” Dia yakin akan ilmu-silatnya yang sudah banyak mengalami kemajuan setelah berlatih jurus-jurus Lhakeswara bersama gurunya. Lagipula ini saatnya membalas dendam pada Arjapura dan membalas budi kebaikan suaminya.

Continue published 60 / September 1st

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

Sunday, August 28, 2011

Wisang Geni part Two (58)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 58

Before :

“Aku mohon tolonglah isteriku.” Tukas Purwo tanpa merasa malu.

Terdengar isak tangis, Kitiran berkata dengan suara parau. “Paman, tolong ibuku, tolong dia, aku tak mau kehilangan ibu.”

Parasaan Wisang Geni tergugah, batinnya terguncang melihat pemandangan itu. Refleks dia melunjur dua tangannya, menempel punggung Srimawar, mengerahkan tenaga-dalamnya. Tenaga panasnya membanjir menerobos tubuh Srimawar.

Sepenanakan nasi berlangsung Wisang Geni mengerahkan segenap tenaganya, namun tidak banyak menolong. Srimawar masih dalam keadaan pingsan dengan nafas perlahan, tak ada gerakan lain.

Wisang Geni merasa malu dan rikuh. Tetapi dia harus mengatakan hal yang benar dengan jujur. “Pukulan Ganggati menerpa dada isterimu. Tenaga-dalamku tak banyak menolong jika melewati punggung.” Dia memandang mata Purwo dan beralih ke mata Kitiran. “Maafkan aku kangmas Purwo.”

Mendadak sepasang mata Srimawar membuka. Redup.

Purwo berbisik kepada isterinya. “Isteriku, aku rela dia memegang dadamu agar supaya penyembuhan itu bisa berhasil. Kamu juga harus rela.”

Srimawar tak bisa bergerak, hanya diam, matanya redup.

Purwo lalu berembuk dengan anak-anaknya.

Tiga anak dan dua muridnya merasa haru. Lalu Kitiran berkata lirih. “Demi nyawa ibuku, lakukan itu ayah.”

“Lakukan pengerahan tenaga-dalam lewat dada, kami rela. Kamu, pendekar besar yang memegang kehormatan diatas segalanya, ini situasi darurat, jika tidak cepat mengambil keputusan, isteriku akan mati. Kami semua sangat mencintainya, tak mungkin membiarkan dia mati. Cepat lakukan penyembuhan itu, pendekar Geni.”

Wisang Geni masih menggeleng kepala. Lalu Gayatri menyeru dengan suara tinggi. “Apa yang membuatmu ragu. Lihat mereka semua menaruh harapan padamu, singkirkan rasa malu dan keberatan. Lakukan Mas Geni. Aku isterimu ingin kamu melakukan penyembuhan itu.”

“Mas Geni, tolonglah mereka, cepat, jangan banyak pikir dan pertimbangan.” Seru Atis.

Saat semakin kritis. Wisang Geni memejam matanya, memegang pinggang Srimawar dan memutarnya sehingga mereka berhadapan. Srimawar masih tak mampu bergerak sehingga duduk dipangkuan Kitiran putrinya.

“Tutupi tubuh Mbakyu ini dengan sewek.” Ujar Wisang Geni tegas. Lalu berkata kepada Delima. “Tolong buka kebaya di bagian depan.”

Kitiran menyamber sewek dari buntalannya dan mengerubungi tubuh atas ibunya. Lalu tangan Delima menerobos ke balik sewek, membuka kebaya bagian depan gurunya.

Tangan Geni menjulur kedepan, menerobos ke balik sewek tepat diatas dada yang terasa panas membara. Meskipun tidak melihat luka didada itu, namun Wisang Geni memastikan bekas pukulan Ganggati itu meninggalkan bekas merah biru, bengkak dan berair.

“Kitiran kamu tahan punggung ibumu dengan dua tanganmu. Jika panas atau dingin menyerang tanganmu sampai ke siku katakan padaku, jangan gunakan tenaga-dalam, gunakan tenaga manusia biasa. Bisa kamu lakukan?”

“Bisa paman!”

“Kangmas Purwo, tolong kamu carikan bahan ramuan untuk mengusir racun, pengobatan harus dilakukan dari luar selain dengan bantuan tenaga-dalamku, tenaga panas dan dingin.” Dia kemudian menyebut beberapa nama akar pohon dan dedaunan. “Semuanya dicampur lalu tumbuk sampai hancur, airnya ditampung untuk diminum isterimu. Ramuan itu kamu tempel di luka. Tetapi sebelum itu aku akan menolongnya dengan tenaga-dalam.” Kata Wisang Geni.

Beberapa orang lantas menyebar mencari bahan-bahan.

Wisang Geni konsentrasi pada tenaga-dalamnya, tidak mau tergugah perasaan ketika tangannya menyentuh dada Srimawar yang masih pingsan.

Sepenanakan nasi berlangsung, dari ubun-ubun Wisang Geni samar-samar tampak keluar uap tipis warna putih. Uap itu sangat tipis, tampak seperti bayangan. Paras Wisang Geni basah keringat. Dadanya yang telanjang basah keringat.

“Paman panasnya mencapai siku tanganku, aku tak tahan lagi.” Seru Kitiran.

Wisang Geni tidak menyahut, hanya menggerak kedua pundaknya sambil mengeluarkan suara gerungan dari mulutnya. Dalam sesaat menarik tenaga panasnya sekaligus mengganti dengan tenaga dingin.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Tenaga panas di tangan Kitiran lenyap. “Panasnya hilang, Paman.”

Uap tipis semakin menebal. Tempat duduk Wisang Geni tampak basah dengan keringat. Sekujur tubuhnya bagaikan mandi, kuyup oleh keringat. Aroma badannya menguar kemana-mana. Semua orang memandang takjub.

Beberapa lama kemudian Srimawar membuka matanya. Wajahnya mulai berkeringat. Dia menatap Wisang Geni yang memejam mata.

Purwo dan anak serta muridnya merasa lega melihat Srimawar siuman. Bahkan tampak parasnya mulai kemerahan. Tetapi mereka tidak tahu sejak beberapa saat sebelumnya wanita itu sudah siuman, namun tahu bahwa tangan seorang lelaki menempel dadanya.

Meskipun dia sadar itu pertolongan yang menyelamatkan dia dari kematian, mau tidak mau dia merasa malu yang amat sangat. Tetapi ketika dia memerhatikan paras Wisang Geni yang kuyup keringat dan sepasang matanya memejam, hatinya lega. Perlahan-lahan malunya hilang. Dia melirik memandang suami dan orang-orang disekitarnya sambil tersenyum.

Kemudian dia memejam matanya lagi, merasakan terobosan tenaga dalam yang berputar-putar di sekujur tubuhnya. Seluruh tubuhnya dialiri tenaga dalam pendekar itu, bergantian tenaga panas dan tenaga dingin, diam-diam dia kagum, itulah tenaga-dalam paling tinggi yang pernah ditemuinya dimiliki seorang pendekar. Bahkan jauh lebih unggul dari ayahnya.

Setelah dua jam melakukan penyembuhan Wisang Geni lalu menghentikan pertolongan, dan tersenyum memandang paras Srimawar yang tampak kemerahan.

“Terimakasih kamu telah selamatkan nyawaku, pendekar Geni.” Srimawar malu-malu.

Wisang Geni tampak kelelahan, menyahut lirih. “Aku mohon maaf karena situasi darurat sehingga harus menolongmu dengan cara itu. Bagaimana rasanya badanmu?”

“Linu, dingin, panas, dan sakit seperti ditusuk-tusuk jarum. Rasanya aku sedang menuju kematian.”

“Ibu jangan mati.” Seru Kitiran yang masih memangku ibunya yang tak bertenaga itu.

“Mas Purwo, aku akan istirahat beberapa saat, makan dan tidur. Kamu balurkan ramuan dan minumkan airnya. Jika ada perubahan buruk, bangunkan aku.” Kata Wisang Geni sambil melahap makanan yang disediakan Gayatri dan Atis. Beberapa saat kemudian dia telentang dan ngorok. Dia tidur pulas.

Kitiran merebahkan ibunya di lantai papan. Sewek masih menutupi dada ibunya lalu dengan kasih sayang dia melabur bubuk ramuan setelah sebelumnya meminumkan air jamu.

Srimawar mulai bernafas normal. Matanya dibuka.

Semua orang gembira.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Purwo.

“Kupikir aku sudah mati, tetapi kemudian ada tenaga yang merebus tubuhku, saat berikut diserang hawa dingin, berganti-ganti.” Dia diam sejenak, mengerahkan tenaga. “Aku masih lemas, sepertinya tak punya otot dan tulang.”

Selama dua hari Wisang Geni melakukan penyembuhan dengan cara yang sama. Kondisi Srimawar makin membaik. Dia sudah bisa bergerak. Wisang Geni punya waktu banyak untuk istirahat dan memulihkan tenaga-dalamnya yang banyak terkuras.

Pada hari keempat, tenaga-dalam Wisang Geni sudah pulih bagai semula. Dan Srimawar pun sudah jauh membaik. Meskipun masih lemas, namun dia tak perlu lagi dipangku saat menerima bantuan tenaga-dalam Wisang Geni.

“Dibantu tenaga-dalam suamimu, mungkin dalam sepuluh hari tenagamu mulai pulih. Ketika itulah kalian suami isteri melakukan pengobatan dengan tenaga-dalam mungkin dalam waktu dua purnama berikut, akan sembuh total. Namun ramuan itu harus tetap diminum dan dilabur, tiga kali dalam sehari.”

Anak-anak muda itu hanya bisa mengucap. “Terimakasih pendekar Wisang Geni.”

Wisang Geni membalas hormat. “Kangmas Purwo, aku menghormatimu, maafkan aku telah membunuh adikmu Ganggati.” Dia memandang wajah Srimawar yang saat itu juga sedang menatapnya.

Keduanya berpandangan. Paras Srimawar merona merah malu. “Maafkan aku telah menyembuhkan kamu dengan cara itu, tetapi hanya itu satu-satunya jalan menolong kamu.”

“Terimakasih, kamu telah menolongku.” Sahut Srimawar malu.

“Maaf, paman apakah tak ada cara lain menolong Ibu?” Tanya Suryo.

“Ada. Tapi lebih celaka lagi. Tubuh bagian atas yang menolong dan yang ditolong harus telanjang, dada nempel dada, pengerahan tenaga lewat dada ke dada, akan jauh lebih cepat dan lebih manjur.”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Karuan Srimawar menahan nafas, tak bisa membayang jika harus ditolong melalui jalan itu. “Mungkin aku akan memilih mati.” Katanya dalam hati.

Suryo dan yang lain menahan nafas. Mereka pernah mendengar penyembuhan tenaga-dalam melalui jalan itu.

Tiba-tiba Atis berkata. “Aku pernah ditolong Mas Geni dengan cara itu. Kondisi tubuhku jauh lebih parah dari Mbakyu, karena aku terkena pukulan racun dingin pendekar Himalaya. Itupun hanya menahan bekerjanya racun, dan racun baru lenyap setelah aku makan ramuan obat.” Atis tidak menceritakan tentang lembah kera.

“Aku senang memperoleh sahabat kamu, kamu lebih muda usia, sebaiknya kupanggil Dimas.” Kata Purwo menghindari pembicaraan mengenai Ganggati.

“Justru aku yang beruntung mendapat kamu sebagai sahabatku.” Wisang Geni merendah.

“Pendekar Geni, kamu harus datang ke lereng gunung Lawu, kami akan menjamu dengan masakan yang enak-enak.” Kata Suryo, kekasih Kitiran.

“Kamu bertarung sambil berkidung dan menangis namun justru jurus-jurusmu semakin mematikan. Namanya ilmu dari segala ilmu? Benarkah paman pendekar?” Tiba-tiba Kitiran sadar telah salah omong. “Oh maaf aku ngomong sembarangan.”

Gayatri tertawa, sambil melirik Atis. “Aku isterinya tak pernah tahu dia memiliki jurus segila itu tarung sambil menangis dan berkidung, kapan kamu ciptakan ilmu aneh itu?”

“Aku tidak tahu, benarkah ada kejadian seperti itu?” Wisang Geni berpura-pura.

Hari masih siang. Rombongan Purwo meninggalkan desa Trawas setelah mengubur mayat Ganggati di hutan. Wisang Geni dan rombongan masih menginap satu malam lagi, esok harinya berangkat ke lembah cemara untuk kemudian berlanjut ke Jedung.

Rombongan dipecah dua. Wisang Geni dan dua isterinya singgah di lembah cemara, di batas hutan cemara mereka bertemu Nenek Seruling Kencana yang menuntun Anggreni. Para murid Lemah Tulis menuju Jedung menunggu kedatangan sang ketua.

Wisang Geni bersama Gayatri, Atis, Nenek Jubah Kuning dan Anggreni tiba di batas pepohonan cemara. Wisang Geni mengerahkan tenaga-dalam mengirim suara. “Nenek Dewi Obat, aku Wisang Geni mohon bertemu.”

Selang beberapa saat dua pendekar wanita separuh abad berlarian keluar dari pepohonan. Keduanya berdiri dalam jarak dua tombak. “Wisang Geni apa yang kamu perbuat terhadap cucuku Sekar?” Tegur si Sapu Lidi. Suaranya bernada marah.

“Aku tidak berbuat sesuatu. Mendadak dia menceraikan aku.” Wisang Geni menyahut datar, menganggapnya bukan masalah penting.

“Kamu ingkar janji, kamu menyakiti cucu Surayagad, apakah karena sekarang jurusmu sudah kelewat hebat sehingga kamu begitu temberang?” Tegas Sapu Lidi. “Kamu semena-mena, membuang cucuku begitu saja.”

Wisang Geni tersudut. Dia memang merasa bersalah terhadap Sekar. Teguran Nenek Sapu Lidi bagaikan pisau menikam jantungnya.

Melihat suaminya diperlakukan dengan kasar, Atis tak lagi bisa menahan diri. “Kamu tidak tahu diri, tingkahmu kasar.” Suara Atis terdengar ketus dan tajam.

Mata Sapu Lidi mendelik. Meneliti Atis. “Namamu Atis?”

Wisang Geni hendak mencegah, tapi terlambat. Atis menyahut ketus. “Aku Atis, mau apa kamu?”

Tiba-tiba Sapu Lidi menjerit. “Kamu biang keladinya, Sekar menolongmu, tapi kamu membalasnya dengan fitnah dan pengkhianatan.”

Tidak hanya memaki, saat yang sama Sapu Lidi menerjang.

Continue published 59 / August 30th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.