Friday, July 15, 2011

Wisang Geni part Two (24)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 24

Bab Sepuluh

Penyesalan

Hari itu, satu hari setelah pertarungan mati hidup di hutan dekat batas desa Kandangan, Arjapura dan Gayatri tiba di desa kecil. Mampir di warung, makan sambil istirahat.

Arjapura memandang perempuan itu. Tubuhnya kini tampak kurus. Langsing. Paras yang tadinya cantik berseri, kini kusam dan muram. Tak ada lagi cahaya atau keceriaan. Dia menghela nafas panjang, tak ada lagi yang dia inginkan dari sosok wanita malang itu.

Dia telah menikmati tubuh yang tadinya begitu segar dan indah. Kini berubah kurus dan kumal. Perempuan itu tidak lagi merawat tubuh. Gayatri sangat bergantung pada racun bius. Ketagihan.

Sehari dia mengonsumsi dua atau tiga kali ayam panggang yang dioles bubuk bius. Belakangan Gayatri tidak lagi mengolesnya pada makanan melainkan memakan begitu saja. Proses keracunan semakin parah, membuat rasa ketagihan makin menguat.

Arjapura sudah bosan bergaul dengan Gayatri. Kini saatnya pergi. Tapi masih ada tugas yang dia ingin Gayatri menyaksikan. Membumihanguskan rumah-rumah di Welirang, bahkan dia berharap menemukan dua anak Wisang Geni disitu. “Aku akan membunuh anak-anak itu didepan mata Gayatri. Meninggalkan Gayatri dan beberapa orang menjadi saksi mata. Jika Wisang Geni masih hidup, maka dia akan sangat menderita mendengar kematian anaknya. Jika dia sudah mati, didalam kubur dia menangisi nasib buruknya.”

Selesai makan. Arjapura memegang dan mengelus-elus tangan Gayatri. “Sebaiknya kita berpisah sementara, kamu langsung menuju Welirang, lima hari lagi kita bertemu disana. Kita bawa si Angga dan hidup ditempat terpencil, sebagai suami isteri yang saling mencinta.”

Gayatri terkejut. “Kamu mau kemana? Aku mau bersamamu ke Welirang.”

“Perbekalan bumbu masak sudah habis. Aku mencari bahan-bahan untuk membuat yang baru. Kalau bersama kamu akan makan waktu lama, supaya cepat maka aku harus pergi sendiri. Kuda ini biar kamu yang tunggangi.” Kata Arjapura. Tak ada rasa kasihan dalam dirinya lagi, seandainya Gayatri yang tenaga-dalamnya setengah lumpuh, bertemu perampok dan diperkosa atau dibunuh.

“Arja, aku butuh bumbu masak itu, masih adakah?”

Laki-laki itu merogoh saku, mengeluarkan sebungkus kecil bubuk racun bius. “Sudah kukatakan, bumbu masak hanya tinggal sedikit. Kamu gunakan sehemat mungkin. Lima hari lagi kita bertemu di Welirang, akan kuberi bumbu yang lebih banyak dan lebih kental.” Arjapura menemui pemilik warung, membayar harga makanan. Lalu kembali lagi ke meja. “Gayatri, jangan lupa, lima hari lagi di Welirang!” Katanya.

Perempuan malang itu mengangguk.

Arjapura melangkah keluar warung.

Gayatri menimang-timang bungkusan kecil itu. Matanya berbinar gembira mendapatkan bubuk bius itu seakan memperoleh permata yang tidak terbilang harganya. “Hemat-hemat, lima hari, ah bumbu masak ini hanya tahan lima kali makan, setelah itu aku harus mencari kemana?” Sesaat dia bingung.

Gayatri menunggang kuda, menuju Timur. Dia masih sadar, rumahnya di arah Timur.

Hari menjelang gelap, dia berada di hutan lebat. Matanya menangkap bayangan kuning bergerak ke arahnya. Orang itu berhenti didepan kudanya, yang meringkik ketakutan sambil mengangkat dua kaki depan. Gayatri nyaris jatuh, cepat memeluk leher kudanya.

“Kamu kemalaman di hutan. Mari kuantar ke tempat bermalam. Didekat sini ada gubuk tua yang bisa dijadikan tempat menginap.” Kata orang itu yang ternyata nenek tua berpakaian dan berjubah kuning. Nenek itu membawa buntalan yang diikat dipunggungnya.

Gayatri seakan mengenal si nenek tetapi lupa dimana dan kapan.

Tak ada gairah hidup, tak ada ketakutan, tak ada kecurigaan, Gayatri manda saja dituntun wanita tua jubah kuning.

Tidak berapa lama keduanya tiba di gubuk tua. Cukup besar. Atap dan dinding rusak parah, namun masih memadai untuk tempat bernaung.

Nenek itu membersihkan lantai tanah. Lalu menggelar selimut tipis yang diambilnya dari buntalan bawaannya. Dia menghampiri Gayatri. “Anakku. Mari istirahat didalam.”

Gayatri duduk sambil menatap wanita tua itu. “Rasanya aku pernah melihat nenek.”

Nenek itu tersenyum. “Di warung itu kamu memberiku makanan.”

Gayatri diam. Matanya menerawang. Tatapannya kosong. Tiba-tiba dikejutkan suara si nenek. “Mana bubuk itu? Boleh kulihat?”

“Mau apa? Itu milikku?” Tegas Gayatri, matanya memancar sinar marah dan curiga.

“Kamu suka bubuk itu? Mana kulihat, aku bisa membuat bubuk yang lebih enak, pasti kamu suka, tapi aku harus melihat bubukmu dulu.”

“Benarkah? Satu bungkus kecil memang tidak cukup untuk lima hari. Arjapura berjanji bertemu aku lima hari lagi, akan memberiku bumbu yang lebih kental dan lebih enak.” Kata Gayatri sambil merogoh sakunya menyodorkan bubuk bius.

Nenek itu membawa bubuk ke hidungnya, lalu menyentuh dengan jari dan mencicipi di ujung lidah. “Racun jahat!”

“Siapa bilang racun, itu bumbu masak. Kembalikan padaku!” Seru Gayatri.

Nenek melonjorkan tangan, menotok beberapa titik tubuh Gayatri. Gerakannya gesit.

Seketika tubuh Gayatri lemas, tenaganya lenyap, dia rebah. Matanya melotot marah tapi tak berdaya. “Mau apa kamu?”

“Menyembuhkan kamu. Mungkin memakan waktu beberapa hari untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhmu. Maafkan aku, anakku, penyembuhan ini akan terasa sakit, tetapi kamu harus bisa menahan rasa sakitnya.” Katanya.

“Aku tidak sakit.” Seru Gayatri. Tetapi suaranya lemah.

“Sebaiknya sekarang.” Sambil dia mengeluarkan beberapa macam akar serta daun dari buntalannya. Dia menggerakkan tubuh, seketika dia lenyap. Tak berapa lama dia kembali dengan segenggam daun, rumput dan akar. Dia menumbuk menghancurkan daun-daun dan akar lalu mencampur dengan air.

Dia menuang jamu cair ke atas daun waru yang dibuat seperti corong. “Rasanya pahit, kamu akan memuntahkan racun jahat itu. Perutmu akan sakit. Minum ini!”

“Aku tidak sakit.” Gayatri bersikeras.

“Kamu harus minum.” Dia memegang dan menekan dagu Gayatri, lalu menuang ramuan itu kedalam mulut Gayatri. Lalu menotok urat leher. Ramuan sudah tertelan.

Gayatri batuk-batuk, berseru. “Pahit. Pahit!”

Nenek bergerak cepat, mengatur letak tubuh Gayatri. “Umurmu hanya tinggal beberapa hari lagi. Kamu sudah keracunan hebat.”

“Aku sehat. Aku tidak sakit, aku tidak keracunan!” Seru Gayatri. “Mana bumbu masakku, aku mau bumbuku. Mana berikan padaku. Itu milikku, mengapa merampas milikku?”

Nenek itu melucuti kebaya Gayatri, tubuh atasnya bugil. “Kamu sekarat, anakku.”

“Jangan buka bajuku!” Seru Gayatri.

Nenek tidak menyahut. Dia membalik tubuh Gayatri menjadi telungkup. Tangannya menempel disisi perut Gayatri.

Seketika Gayatri merasa tenaga panas menyerbu dan berputar-putar diperutnya. Saat berikut dia merasa mual, lalu tanpa tertahan lagi dia muntah. Muntahan lendir kental berwarna kuning. Baunya bacin.

Tenaga itu berputar-putar terus, Gayatri tidak hanya muntah lendir juga mengeluarkan kentut dan kotoran dari anus. Celananya basah dengan air kencing dan kotoran. Air mata mengalir, dia menangis teriak-teriak sakit.

Gayatri merasa seakan seluruh tulang dan ototnya dicabut dari tubuhnya. Setiap muntah, perutnya terasa kaku dan kejang, namun tenaga-dalam sang Nenek bisa menetralisir kesakitan itu dengan kenyamanan. Silih berganti, sakit dan nyaman, sakit dan nyaman.

Selama satu jam pengobatan, makin lama makin sedikit muntahan lendir. Nenek itu melepas tangannya,

Gayatri terbaring lemah. Matanya menatap nenek. Tatapannya lemah mencerminkan tenaganya yang lemah. “Apa yang kamu lakukan, Nek?”

“Racun itu jahat. Kalau tidak ditolong, kamu akan mati. Kasihan kamu, anakku.”

“Aku sehat. Aku tidak sakit!” Seru Gayatri.

“Coba lihat, kamu muntah lendir warna kuning, kamu buang kotoran dan kencing di celana. Warnanya hitam, baunya bacin. Itu racun jahat yang sudah keluar dari tubuhmu. Tapi belum semua, masih ada lagi yang mengendap di tubuhmu.”

Pelahan-lahan kesadaran Gayatri mulai pulih.

Dia mengamati lendir muntahan, begitu banyak. Sebagian sudah meresap dalam tanah. Saking banyaknya muntahan sebagian tidak terserap tanah lagi. Hidungnya mencium bau bacin. Dia juga merasa bokongnya basah. Ada cairan.

“Benar kata Nenek, aku muntah, banyak lendir, juga buang kotoran. Akan kubersihkan.” Kata Gayatri, parasnya merah malu. Belum pernah dia mengalami kejadian memalukan, buang kotoran dan kencing di celana.

Nenek itu tertawa. “Tidak perlu.” Nenek mencengkeram lengan Gayatri membawanya berlari. Begitu ringan dia berlari seakan tubuh Gayatri hanya seonggok daging satu kiloan. Gayatri tercengang. Ketika Nenek membantunya dengan tenaga-dalam dia sudah mengira ilmunya sangat tinggi. Kini dia semakin yakin, Nenek itu berilmu tinggi.

Tidak berapa lama keduanya tiba di tepian sungai. Nenek melompat ketengah sungai, mencelup Gayatri kedalam air, tangannya tetap mencengkeram lengan. Saking kagetnya Gayatri menelan air dari mulut dan hidungnya. Dia terbatuk-batuk ketika diangkat keatas, lalu dicebur lagi. Berulang kali. Gayatri merasa segar. Dia sudah tidak ingat berapa lama dia tak pernah mandi. Dulu di Welirang dia sering berenang di danau.

Timbul kegembiraan Gayatri Tapi segera saja kegembiraan lenyap berganti takut melihat buaya-buaya pemangsa manusia berenang mendekat. Banyak. Dia tak sanggup menghitung. Lalu dia menyaksikan pertunjukan luar biasa, si Nenek unjuk aksi, memperlihatkan ilmu-silatnya yang tinggi.

Sebelah tangan menentang tubuh Gayatri, tangan lainnya memainkan kain bekas tiduran Gayatri yang penuh kotoran dan muntahan, mencelup kain. Dia memutar kain dan tiba-tiba kain yang tegak macam tongkat menjulur melilit tubuh buaya. Kain itu dikedut dan buaya itu terlempar ke tempat lain. Begitu seterusnya.

Tidak hanya mempermainkan buaya, si Nenek sambil tetap mencengkeram lengan Gayatri berlompat-lompatan dengan punggung buaya sebagai pijakan.

Selama main-main itu Gayatri berteriak-teriak, saking senang tapi juga takut.

Tingkah pola Gayatri macam anak kecil.

Air sungai bergolak. Hampir setengah jam lamanya Nenek bermain disungai. Dia mentas dengan melompati tubuh buaya, hinggap ditepi sungai. Kemudian berlari ke gubuk tua.

“Sudah bersih. Tubuhmu bersih. Pakaianmu bersih. Kain selimutku juga bersih. Sekarang kita keringkan pakaian. Kamu bawa pakaian ganti?” Tanya si Nenek dengan mimik lucu, dia tertawa geli memandang Gayatri yang mulutnya terbuka, melongo.

Gayatri masih telanjang tubuh bagian atasnya.

“Mengapa melongo?” Nenek tersenyum dan bertanya.

Gayatri tidak tahu bagaimana harus bersikap. Menjawab asalan saja. “Buaya-buaya itu jahat, pemangsa manusia.”

“Aku tidak membunuh mahluk hidup. Tidak juga buaya.” Nenek bersila, mengerahkan tenaga-panas untuk mengeringkan baju yang melekat ditubuhnya.

“Ilmu-silat Nenek sangat tinggi, siapa sebenarnya kamu?” Tanya Gayatri sambil mengenakan kebaya kering dan celana panjang yang dia ambil dari buntalannya. Dia telanjang didepan si nenek tanpa merasa risih. Seakan nenek itu sudah dikenalnya lama.

Wanita tua memandang kagum. “Kamu cantik, lihat tubuh dan parasmu, tidak ada cacat dan kekurangan sedikit pun.”

“Kecantikan ini membawa sial, nasibku sial.” Nada suara Gayatri nelangsa.

“Aku tahu kamu berasal dari Himalaya, benarkah?”

“Dari mana kamu tahu?” Tanya Gayatri.

“Aku melihatmu di pelabuhan Jedung. Namamu Gayatri, putri dari Yudistira.”

“Benar, kamu kenal ayahku?” Tanya Gayatri, heran.

“Tidak kenal.”

“Kamu siapa Nek, siapa namamu?”

“Aku sudah lupa namaku. Asalku dari negeri dingin, jauh diseberang laut di utara tanah Jawa. Sejak usia tujuhbelas sampai sekarang ini enampuluhan, aku menetap di Jawa jadi sudah jadi orang Jawa. Panggil aku nenek.”

Gayatri tertawa. Timbul kegembiraannya. “Nek, kamu membawaku ke sungai mencuci tubuhku bagaikan mencelup pakaian disungai.” Dia memandang keliling, khawatir ada orang lain yang melihatnya telanjang tadi.

“Cara itu lebih cepat. Dan kamu suka, buktinya kamu tertawa dan teriak-teriak senang macam anak kecil.” Kata si Nenek.

“Nek, kamu masih cantik, pasti waktu muda kamu sangat cantik. Siapa kamu?” Sambil Gayatri meneliti wajah wanita tua itu. Parasnya bersih, pipinya licin, matanya bening dan tajam. Rambutnya separuh ubanan lebat panjang melewati bahu, diikat dengan pita hitam. Dia tinggi langsing, kulit tubuhnya putih bersih.

“Tidak perlu tahu siapa aku. Yang penting kamu ketahui, bahwa kamu telah diracuni oleh suamimu itu, apa salahmu, mengapa dia mau membunuhmu?” tanya si Nenek.

“Dia bukan suamiku.” Potong Gayatri.

Nenek tua itu memandang penuh tanda-tanya.

Gayatri mengalihkan pembicaraan. “Katamu Nek, kamu melihat aku di Jedung?”

“Itu kebetulan. Aku melihat kamu dan langsung menyukaimu.”

“Menyukai aku, apa maksudmu?”

“Aku akan mewariskan padamu ilmu-silat tinggi.” Tegas si Nenek sambil tertawa. “Kamu belum menjawab, benarkah laki-laki itu bukan suamimu?”

“Memang dia bukan suamiku.”

“Tapi kamu berhubungan seperti suami isteri.”

Gayatri terdiam. Parasnya pucat. Seketika tahu apa yang terjadi pada dirinya. Arjapura telah menipu. Meracuni dengan bubuk bius. Racun yang membuat dia dirangsang birahi dan lupa daratan. Saking malunya dia menutup wajahnya dengan dua tangan, lalu menangis.

“Ceritakan anakku, nenek mendengar, nenek akan menolongmu. Sejak kapan kamu makan bumbu masak itu, racun bius itu?”

“Aku tidak tahu kapan, ketika di Jedung aku nginap di warung Minten, besoknya aku sakit dan diantar dengan kereta kuda. Ditengah jalan Arjapura menolongku, katanya para pengawal ekspedisi membius dan akan memerkosa aku, itu sebab dia bunuh mereka semua.” Ingatannya menerawang malam hari ketika hujan deras dihutan. Itu awal dia masuk perangkap Arjapura. Diperkosa. “Apakah aku diperkosa?” Bisiknya.

Dia menutup mukanya, menangis keras. Dia selingkuh. Membiarkan laki-laki lain memasuki tubuhnya yang merupakan hak mutlak Wisang Geni.

“Aku mengkhianati suamiku, aku selingkuh. Dosaku itu tidak terampun. Tidak ada orang seburuk aku. Aku manusia paling buruk dikolong langit.” Tutur Gayatri dengan isak tangis.

“Laki-laki itu menipumu. Dia membiusmu, menaruh racun bius di makanan, racun yang jika dimakan seseorang menjadi lemah dan lemas tetapi nafsu birahinya melonjak tinggi. Jika hari itu kamu makan bius itu, berarti sudah limabelas hari keracunan. Bisa diselamatkan, tapi jika lebih dari tigapuluh hari, kamu akan ketagihan dan pada akhirnya mati. Sekarangpun kamu sudah ketagihan, tetapi masih bisa disembuhkan.”

“Nek, sembuhkan aku!”

“Pasti kutolong! Sudah lebih dari separuh racun yang kukeluarkan.” Tukas Nenek.

Gayatri menceritakan pikirannya dipengaruhi sehingga dia mencurangi suaminya. Pada saat mana Arjapura memukul dengan jurus maut. “Aku tak tahu suamiku hidup atau mati.”

“Wisang Geni masih hidup!” Kata si Nenek.

Gayatri berteriak. “Nek darimana kamu tahu?” Ada harapan dalam suaranya itu.

“Aku yakin. Wisang Geni masih hidup, dan dia akan mencarimu.” Wanita tua itu sengaja meniup harapan kosong agar Gayatri tidak putus asa.

“Aku berdosa padanya, dia pasti marah dan akan membunuh aku.” Tegas Gayatri.

Nenek itu memandang ramah dan lembut. “Gayatri. Lapangkan dadamu, yakinkan dirimu bahwa kamu akan berubah, dan kamu akan minta ampun pada suamimu. Bisa?”

Gayatri mengangguk.

“Nek, katamu kamu melihatku di Jedung, lalu kamu muncul di warung dimana aku memberimu makanan, apakah kamu membuntuti aku?”

“Aku menyukai kamu, dan kamu cocok menjadi muridku, mewarisi ilmu-silatku dan juga jurus-jurus dari sebuah kitab pusaka, itu sebab aku membuntuti kamu.” Kata si Nenek. “Mau jadi muridku? Murid tunggal. Sebab aku tak pernah punya murid.”

Serta-merta Gayatri menjatuhkan diri, berlutut mencium kaki Nenek. “Guru. Muridmu berlutut memuja kamu. Aku akan setia memujamu Guru.”

Tangan Nenek mengelus-elus kepala Gayatri. Dia tertawa, suaranya lirih. “Akhirnya kutemukan seorang murid yang cocok dengan kata hatiku.”

Lalu Nenek itu memegang pundak Gayatri. “Bangun, anakku. Mungkin aku mati dalam waktu dekat. Tetapi sebelum ajalku datang, akan kuwariskan semua ilmu-silatku. Tidak mungkin dalam waktu singkat kamu menguasai semua ajaranku, jadi kamu hanya perlu mengingatnya, menghafal di kepalamu, setiap saat kamu merenung dan melatih sendiri. Setelah bertahun-tahun kamu akan menjadi pendekar yang sulit dikalahkan orang. Selain seluruh ilmu silatku, juga kuwariskan jurus-jurus hebat dari kitab Lhakeswara.”

Gayatri kaget. “Lhakeswara? Kamu punya kitab hebat itu, kitab itu dicari-cari dan diincar semua pendekar di dunia persilatan. Hati-hati Guru.”

“Orang tak akan bisa mencuri kitab itu dari aku.” Tegas si Nenek, nadanya sombong.

Gayatri tersenyum. “Kamu benar, Guru, dengan ilmu-silat setinggi yang kamu miliki siapa orang yang sanggup mengalahkan kamu?”

“Tidak benar. Diatas langit masih ada langit yang lebih tinggi. Ilmu-silatku bukanlah yang paling tinggi. Masih banyak pendekar yang ilmu-silatnya lebih tinggi dibanding aku. Yang kumaksud tadi, kitab itu ada dikepalaku.” Sambil dia menunjuk dahinya.

(To be Continued 17 July/Published No 25 )