Monday, December 27, 2010

Final Piala AFF leg 2, Indonesia vs Malaysia

Go Garuda, Grab The Title !

Oleh : John Halmahera

Jakarta 28 Desember 2010

Boleh boleh saja melupakan kekalahan di Bukit Jalil, sekadar agar fresh dan fit di leg 2 nanti, tetapi jangan lupa beberapa hal penting. Jangan buat kesalahan atau error “buruk” seperti kemarin ketika digunduli Malaysia 0-3. Saya katakan terus terang, di Bukit Jalil kemarin Malaysia tidak akan bisa menang jika Timnas tidak bikin error.

Apalagi di Senayan Rabu malam nanti, timnas akan menang dan bisa mencetak beberapa gol. Tetapi jika satu saja error dilakukan dan Malaysia bisa mencetak gol balasan, maka peluang meraih gelar juara akan semakin tipis.

Pemain belakang harus berpikir sederhana selain memegang teguh prinsip bertahan. Jika Anda orang terakhir dibelakang, maka jangan main-main dengan bola, cepat sepak kedepan atau jika dibawah tekanan penyerang lawan lakukan “kick the ball out off play”. Itu prinsip, sebab begitu Anda berbuat error maka penyerang lawan merebut bola dan akan langsung berhadapan dengan kiper Anda.

Kemarin, gol pertama tidak akan terjadi, jika Maman Abdurachman menendang bola ke sisi lapangan menjadi “throw-in”. Maka dia enak, tak ada masalah, teman lain pun enak. Tetapi “stupid error” yang dibuatnya bisa juga terhindar kalau teman lainnya, terutama bek kiri Mhd Nasuha menerapkan prinsip melapis teman (defender) yang sedang berhadapan dengan musuh dan mendapat ancaman dari musuh. Prinsip harus dilapis.

Dan karena itu adalah wilayah Mhd Nasuha sebagai bek kiri maka dia yang harus melapis. Maman hanya mengisi sementara wilayah itu karena ditinggal Nasuha yang naik menyerang dan belum kembali, seharusnya Nasuha kembali turun dan langsung melapis Maman. Di level internasional pertahanan berlapis merupakan harga mutlak. Hampir tidak pernah kita melihat seorang defender tanpa dilapis berjuang sendirian menghadapi penyerang.

Jadi pelajaran kemarin adalah, jangan membuat “stupid error” dan dalam defence team-work harus saling melapis.

Pemain belakang atau gelandang atau siapa saja dalam Timnas, diharapkan jangan bikin pelanggaran bodoh di dekat kotak pinalti, di daerah 16 meter. Saya masih ngat skor 1-1 Timnas lawan Arab Saudi (Piala Asia 2007 di Senayan), memasuki injury-time. Lalu Ismet Sofyan bikin pelanggaran bodoh, menendang kaki lawan di pojok kiri atas kotak pinalti Timnas. Saat itu tanpa sadar saya berterak, “mati aku”.

Free-kick diambil gelandang Saudi, bola melengkung keras ke mulut gawang Timnas, di satu titik ketinggian jauh dari jangkauan kiper, dan tiga pemain Saudi melayang. Saya pastikan salah seorang diantaranya pasti bisa menyundul. Pemain Timnas selain kalah tinggi, juga tidak terlatih mengusir bola udara dengan baik. Maka sundulan itu dengan kerasnya menghunjam jaring dan Timnas kalah 1-2 di detik-detik terakhir. Pelanggaran bodoh! Stupid fault!

Banyak contoh, pelanggaran yang tidak perlu yang dilakukan pemain kita yang membuahkan kartu kuning atau bahkan merah. Kalau kita amati kompetisi ISL, wuahh banyak kali, pelanggaran bodoh yang tidak perlu. Lalu ketika wasit memberikan kartu kuning, pemain ybs berakting macam tidak bersalah. Ini juga salah satu tabiat buruk yang dibawa pemain kita dari kompetisi ISL ke level internasional.

Hindari bikin pelanggaran di daerah 16 meter, cukup melakukan pressure rapat atau membayang-bayangi pemain lawan tsb, tidak perlu melakukan tackling saat dia masih menguasai bola. Hindari juga terpancing provokasi pemain lawan, tetap main dingin dan menjalankan instruksi pelatih seratus persen.

Saya yakin jika pertahanan Timnas terkoordinir rapi, main efektif dan lugas maka sisanya hanya bagaimana Gonzales Cs mencetak gol kegawang Malaysia.

Saya yakin Rabu malam nanti Malaysia akan lebih bertahan, dengan menempatkan 8 atau 9 pemain di belakang, berjejer di depan kipernya. Mereka hanya akan menempatkan Mhd Safee sendirian di depan didukung 2 atau 3 gelandang yang posisinya bertahan tetapi siap “naik” melakukan “counter-attack” pada saat memenangkan bola.

Saya kira Riedle pasti tahu strategi bagaimana untuk mementahkan pola main defensif Malaysia seperti yang mereka lakukan ketika “away” lawan Vietnam. Taktik yang membuat Vietnam frustasi. Saya tidak khawatir, sebab daya-serang Timnas lebih tajam dan lebih produktif dibanding Vietnam, sehingga kita tidak akan mengalami hal frustasi seperti yang dialami pemain-pemain Vietnam.

Pemain kita jangan terburu-buru, main dengan elegan dingin tetapi manfaatkan kecepatan menyerang. Dan ketinggalan tiga gol harus disikapi dengan berani. Begitu punya kans lakukan shooting jarak jauh berbarengan penyerang lain naik mengantisipasi “rebound”.

Saya yakin Timnas bisa menang dengan selisih empat gol, apabila pertahanan Timnas seperti yang saya jelaskan dialinea sebelumnya. Jika Timnas bisa mencetak gol, satu gol (apalagi dua gol) sebelum babak pertama berakhir, maka Malaysia akan mengalami “under-pressure” yang akan membuat mereka cenderung berbuat error.

Semakin cepat Gonzales Cs mencetak gol pertama, semakin Malaysia mendapat tekanan mental yang berat. Go Garuda, grab the title! Ayo Garuda, rebut gelar itu! ***

Sunday, December 26, 2010

Piala AFF 2010 Timnas Indonesia Ditekuk Malaysia

Error Timnas Garuda Dimanfaatkan Malaysia
Oleh : John Halmahera
Jakarta 27 Desember 2010

Judul diatas itu, tidak bisa dipantau sebelum kejadian. Tetapi akan tampak jelas setelah kejadian. Ini juga dasar suatu analisa, selalu basisnya adalah “after the match”, lantas gunanya apa? Yah tentu saja berguna untuk langkah ke depan. Bukan untuk menghujat, karena tulisan ini tidak bertujuan menyalahkan siapa dan siapa. Sebaiknya tulisan ini dipikir sebagai bahan evaluasi atau pembanding untuk memutuskan langkah yang akan diambil.
Sebelum “match” di Bukit Jalil, penyerang Malaysia Mohd Safee mengatakan: “Indonesia tajam menyerang tetapi pertahanannya buruk, dan saya akan mencetak gol.”
Ternyata Safee benar, pertahanan Timnas memang buruk dan Safee berhasil cetak gol yang memenangkan Malaysia 3-0 atas Timnas Garuda. Di Senayan dalam tiga laga penyisihan grup, lemahnya koordinasi dan skill serta antisipasi lini belakang Timnas sudah terbaca. Lihat gol pertama Malaysia (1-5) disebabkan kontrol Hamka Hamzah yang buruk, error yang menjadi gol di gawang Markus.
Di bukit Jalil, Maman Abdurachman tidak membuang bola, tapi berusaha melindungi bola berharap bola keluar garis belakang. Tapi gigihnya Norshahrul Idlan berhasil mencuri bola, membawa masuk ke kotak pinalti. Ini error terburuk dari seorang defender. Fatalnya lagi, error Maman ini bersinambung menjadi error lini belakang.
Idlan membuat umpan tarik, sekitar belasan meter ke titik tengah kotak pinalti. Disitu berdiri Safee, bebas tak ada pengawalan. Dan Safee dengan waktu beberapa detik yang dimilikinya dan tanpa ada pressure dari Hamka Cs, menembak keras. Gol pertama menit 60 ini sangat menjatuhkan mental Timnas.
Ketika Idlan membuat umpan-tarik, pada saat bola berjalan sedang “on the way”, tiga pemain termasuk Hamka, diam mematung. Seharusnya begitu melihat bola jalan seketika itu juga mereka berlari mengikuti bola, gerakan eksplosif defender yang melihat ancaman bahaya. Sehingga pada saat bola tiba di kaki Safee sudah ada dua tiga pemain Merah Putih yang menghadang, memblok atau memotong jalan bola. Maka Safee pasti tak akan mudah melepas tembakan. Saat itu hanya ada satu pemain gelandang –bukan dari yang tiga tsb- yang coba “memblok” tetapi sayang dia terlambat
Inilah error akumulatif. Sayangnya lagi Markus Haris Maulana, kiper Timnas, tidak mampu membuat “safe”, maka lahirlah gol pertama yang meruntuhkan mental Firman Utina Cs. Banyak kejadian seperti ini, bahkan dilevel Piala Dunia pun. Inilah sepakbola, ada error pasti ada gol. Maka defender tak boleh melakukan error.
Terutama kiper. Seorang kiper harus perfect fisik dan mental. Kualitas kiper dinilai dari penyelamatan atau “safe” yang dia lakukan. Apa itu safe? Itulah, menghalau, menepis bola yang seratus persen akan masuk gawang, menjadi tidak masuk. Kalau menangkap bola dari shooting musuh yang tepat mengarah ke posisinya, itu kesalahan musuh bukannya safe. Soal skill dan fisik Markus nilainya positip. Tetapi mental pada saat itu nilainya negatif.
Sebelum kick-off, mental Markus stabil dan prima. Tetapi setelah skandal laser, sebelum terjadinya gol, Markus tampak sangat emosional dan tertekan. Bisa dilihat dalam rekaman, wajahnya yang tegang dan marah saat protes kepada wasit.
Dia juga melambai tangannya mengajak teman-temannya keluar lapangan. Apakah maunya “walk over”? Soal WO ini sepertinya kebiasaan dalam kompetisi sepakbola kita yang memprotes keras keputusan wasit dan terbawa sampai level internasional. Apakah Markus mengalami “over confidence” dan sedang melayang diawan, kalau benar demikian maka dia perlu diturunkan lagi ke bumi.
Saya heran bahwa Feri Rotinsulu tidak pernah mendapat kesempatan dimainkan. Track-record Feri sebagai punggawa inti yang mengantar Sriwijaya FC juara liga super dan juara copa Indonesia, tidak bisa dinafikan begitu saja. Itu prestasi besar, jangan disepelekan. Sama halnya jika menghargai Christian Gonzalez diatas penyerang lain, sebab nyatanya dia top-scorer liga super dan membawa klubnya juara liga super.
Maka saya akan membenarkan dan mengangkat jempol jika saat itu Alfred Riedl mengganti Markus dengan Feri Rotinsulu.
Pada saat seperti itu, melihat tekanan psychologi yang membebani Markus, sebaiknya pelatih berpikir untuk menggantinya.Saat itu diperlukan kiper yang dingin, yang bisa memerintah teman-temannya dan mengatur koordinasi defence yang konseptual.
Saya tidak tahu apa yang terjadi dilapangan. Apakah Markus berteriak menyuruh Maman membuang bola? Jika Maman membuang bola, tak akan terjadi error dan tak akan lahir gol pertama itu. Apakah Markus berteriak menyuruh Hamka Cs menjaga, mengawal atau memblock Safee? Apakah setelah terjadinya gol (0-1) ada usaha Markus, sebagai salah satu jenderal setelah kapten, mengatur emosi teman-teman defendernya? Bagaimana mungkin dia mengatur mental temannya sementara dia sendiri sedang alami tensi tinggi dan tekanan mental yang super berat.
Persoalan setelah 0-1 adalah soal “recovery mental” yang harus dilakukan kapten tim, Firman Utina, dan juga setiap pemain senior, untuk kembali ke “track” semula, kembali ke konsep awal dan main tenang. Tidak adanya pergantian pasca kebobolan 0-1 menyebabkan lahirnya gol kedua dan ketiga, dalam kurun waktu 60, 67 dan 72. Duabelas menit tiga gol. Ala maakkk, mengerikan.
Ada motto bagi pelatih, bahwa dia harus ada pada saat timnya mengalami kesulitan dalam permainan, artinya dari pinggir lapangan dia harus berbuat sesuatu. Apakah itu pergantian pemain, menasehati pemain, teriak memeringati pemain, dan lain lain.
Normalnya, begitu pertandingan dimulai lagi setelah skandal laser selesai dirembug, Markus harus diganti. Jika dilakukan mungkin saja Feri bisa menenangkan dan memimpin defendernya untuk main tenang tapi lugas. Itu yang pertama. Ternyata tidak dilakukan.
Yang kedua, setelah terjadi error buruk Maman, dan skor 0-1 secepat itu juga Maman harus diganti. Jika itu dilakukan Riedl maka mungkin tidak akan ada gol kedua dan ketiga. Bahkan mungkin saja jika Feri dibawah mistar pasca skandal laser, skor tetap 0-0. Tentu saja analisa ini tidak pas seratus persen, pertandingan tak bisa diulang untuk pembuktian kebenaran atau kesalahan analisa ini. Namun paling tidak bisa jadi bahan diskusi di Timnas.
Malaysia tidak terlalu hebat. Artinya Timnas seharusnya tidak kalah.
Disini yang ingin saya simpulkan adalah, kejelian dan keberanian pelatih melakukan pergantian ditengah permainan, menentukan menang kalah tim asuhannya.
Bahwa error bagi pemain bertahan membuahkan kebobolan, harga yang mahal. Error pemain yang tidak mencetak gol dari peluang yang ada, tidak sebesar error pemain bertahan. ***