Saturday, July 9, 2011

Wisang Geni part Two (19)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 19

Arjapura menggenggam tangan Gayatri.

“Wisang Geni pasti mati. Tak ada orang bisa hidup kena pukulan racun kalajengking biru.” Dia tertawa keras, sambil menengadah ke langit. “Sudah impas, hutang nyawa bayar nyawa. Dengarlah putraku Wasudeva, ayahmu sudah membalas hutang nyawamu.”

Wisang Geni mati. Dua isterinya mati. Dibunuh pendekar Jubah Hitam dari Himalaya.” Kabar itu cepat tersiar ke penjuru desa. Semua pendekar mendengar kabar mengejutkan itu. Berita itu terdengar Kalandara dan dua muridnya. Mereka berlari menuju arah Barat.

Prastawana, Gajah Watu dan beberapa murid Lemah Tulis berlari ke tempat pertarungan. Arena sudah kosong. Tampak beberapa orang mengelilingi dua tubuh yang terkapar.

Kalandara dan dua muridnya datang lebih awal. Selang beberapa detik orang-orang Lemah Tulis menerobos kerumunan.

Prastawana memegang nadi Prawesti. Tak ada ketuk nadi tanda kehidupan. Wajah cantik Prawesti tampak tersenyum, darah meleleh dari sudut mulutnya. Baju dibagian dada basah oleh darah merah, muntahan dari mulutnya.

“Prawesti mati!” Desis Prastawana.

“Aku lihat dia dipukul laki-laki asing berjubah hitam,” kata seorang saksi.

Saat itu Kalandara sibuk mengurut tubuh Manohara.

“Manohara belum mati, bisa ditolong.” kata Kalandara dengan suara serak. Dumilah dan Kemara menempelkan tangan di punggung gurunya. Mereka bertiga mengirim tenaga dalam ke tubuh Manohara.

Gajah Watu memandang Prastawana. Keduanya mengangguk, duduk diseberang Kalandara disisi lain tubuh Manohara. Tangan Gajah Watu nempel di sisi perut Manohara. Tangan Prastawana menopang punggung sesepuh Lemah Tulis itu. Lima pendekar kelas utama itu mengeluarkan tenaga-dalam mencoba menyelamatkan Manohara.

Murid Lemah Tulis lainnya mengelilingi menjaga keamanan.

Sepenanakan nasi berlangsung. Manohara sadar. Matanya memandang keliling. Air mata mengalir dari matanya yang jelita.

Isak tangis keluar dari kerongkongan Manohara ketika bicara terpatah-patah. “Mbakyu Sekar membawa lari mas Geni yang luka parah. Semoga mbakyu Sekar bisa menolong mas Geni. Oh nasib keluargaku sungguh nelangsa. Mengapa? Apa dosa kami?”

“Siapa yang melukaimu? Bagaimana mungkin suamimu bisa kalah?” potong Kalandara, pertanyaan yang jawabannya ingin diketahui semua orang.

Manohara masih terisak. ”Laki-laki Jubah Hitam dari Himalaya menyerang mas Geni, kalau tidak dicurangi tak mungkin mas Geni bisa dilukai.”

“Siapa laki-laki itu?” Desak Prastawana. “Siapa yang curang?”

Tubuh Manohara mengejang, saat berikut wajahnya kaku, dia memejam mata.

“Jangan, jangan mati adikku?” Bisik Kemara dengan isak tertahan.

Manohara tidak menjawab, diam tidak bergerak. Mati.

Kalandara memandang Gajah Watu dan Prastawana.

“Terimakasih kalian sudah berusaha menolong Manohara,” Kalandara berkata dengan isak tangis. “Tapi mengapa dia mati? Mengapa? Dia masih muda.”

Tiga wanita itu menangis.

Beberapa orang yang mengerumuni ikut merasa sedih.

Gajah Watu, Prastawana dan murid-murid Lemah Tulis ikut berduka. Bagaimanapun juga ketidakcocokan dengan Kalandara, namun mereka tak bisa ingkar bahwa Manohara itu isteri Wisang Geni, sang ketua.

“Kita akan sempurnakan mayat Manohara dirumah kita,” bisik Kalandara.

Tanpa ragu Kemara menggendong mayat Manohara, lalu bersama gurunya dan Dumila meninggalkan desa menuju Lembah Bunga.

Sekar menunggang si Dawuk tanpa tujuan.

Dia mengarah ke Barat, berpikir akan memutar ke Utara menuju Lemah Tulis. Tapi apa yang akan diperbuat di Lemah Tulis, siapa yang sanggup menolong Wisang Geni?

Tiba-tiba dia teringat neneknya, si Dewi Obat di Lembah Cemara. Seketika pikirannya jernih, neneknya, Sapu Lidi, juga berada di sana. Keduanya pasti bisa menolong.

“Aku ke Barat dulu, seandainya Gayatri mengejar, dia menduga aku menuju Segoro Kidul tempat guru. Sore nanti aku putar arah ke utara lalu ke timur menuju Lembah Cemara. Tapi apakah waktuku cukup?” Dia terisak-isak.

Air mata mengalir deras menyusur pipinya yang halus.

Dia tidak tahu misteri dalam tubuh suaminya. Darah Wisang Geni mengandung anti racun yang dipasok guru Waragang sejak kecil. Anti racun ini mulai menolak racun dingin kalajengking biru Arjapura. Tenaga wiwaha meskipun sangat kecil ikut memerangi bisa racun dingin pukulan si Jubah Hitam.

Misteri inilah yang menyelamatkan nyawa Wisang Geni. Tetapi hanya sementara, untuk sembuh diperlukan pengobatan khusus.

Sekar meraba nadi leher suaminya yang masih dalam keadaan belum sadar. Kondisi suaminya sangat lemah, nyaris tak ada tanda kehidupan. “Celaka.” Katanya.

Dia menghentikan kuda, melompat dan menggendong suaminya turun, membaringkan di rerumputan dibalik batu besar. Dia menempelkan tangan ke punggung suaminya. Ketika mengibas dua tangan mengerahkan tenaga-dalam, tanpa sengaja tangannya membentur tabung kecil yang dia sembunyikan dibelahan dadanya.

Seketika dia teringat Susmita. Beberapa waktu lalu di Welirang, Susmita memberinya tabung kecil. “Ini pil penyambung nyawa. Orang yang sekarat jika makan pil ini usianya akan nyambung lima atau sepuluh hari. Terimalah Sekar, dua untukmu, aku masih punya lima buah, mungkin suatu waktu kamu butuh ini.”

Sekar merogoh saku, mengeluarkan pil dari tabung. Bentuknya kecil, keras putih mengilat seperti batu pualam. Suara Susmita seperti masih mengiang di telinganya. “Pil ini keras karena sudah beku, kamu basahi dengan liur dalam mulutmu, kerahkan tenaga panas. Pelan-pelan dia akan lumer. Telan, maka kamu akan tahu khasiatnya.”

Tangannya menimang-nimang pil pualam itu.

Dia mengingat pengkhianatan Gayatri. “Mereka sama-sama dari Himalaya, tapi tak mungkin Susmita menipu aku, apa untungnya dia menipu? Selama ini dia bersahabat denganku, tak mungkin dia menipuku.”

Sekar tahu dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. “Kalau harus mati oleh tipuan Susmita, biarlah aku mati bersama suamiku. Tak perlu takut, Seno juga berada ditangan dua nenekku, tak ada yang perlu aku risaukan. Tapi Anggreni di Welirang bersama Gajah Nila dan keluarganya. Kasihan dia. Bapaknya sekarat, ibunya pengkhianat.”

Dia masukan pil dalam mulut lalu mengerahkan tenaga panas. Saat kemudian pil lumer. Rasanya dingin, amat dingin. Dia memegang mulut suaminya, dengan jarinya dia membuka paksa mulut kekasihnya yang selama ini sering menciumnya.

Mulut itu kaku, tapi tak lama kemudian membuka. Sekar merunduk menempel mulutnya ke mulut suaminya. Seluruh liurnya didorong dengan hembusan tenaga-dalam ke mulut suaminya. Dia merasa liurnya menerobos rongga mulut suaminya.

Seluruhnya, tidak tersisa sedikitpun dimulutnya. Tapi bekas rasa dingin masih melekat dilidah, dia menelan ludah. Sedikit bekas pil penyambung nyawa tertelan olehnya.

“Masih ada satu pil lagi. Mungkin akan dibutuhkan nanti. Kalau ini racun, biarlah kita berdua mati sambil berpelukan. Oh Geni betapa aku mencintaimu, jangan mati sayangku. Kasihan anak-anakmu. Aku masih ingin menikmati hidup disisimu.” Bisik Sekar sambil memeluk erat dan menciumi wajah suaminya.

Beberapa saat berlalu Sekar masih rebah disamping suaminya, tangannya memeluk dan mengurut tubuh kekasihnya sambil mengerahkan tenaga-dalam.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya segar, ada semacam tenaga halus menyebar disekujur tubuhnya. Rasanya sejuk, dingin yang nikmat. Apa itu?

Pikirannya masih bertanya-tanya, ketika dia mendengar suara suaminya.

“Sekar, bawa aku ke lembah kera. Aku mau dikubur disamping guru Lalawa.”

Terkejut. Sekar melepas pelukannya. Dia memandang suaminya. Mata Wisang Geni masih terpejam. Terdengar bunyi nafasnya. Wisang Geni belum mati.

“Oh Susmita, maafkan kalau aku curiga padamu, terimakasih obatmu telah menolong suamiku.” Bisik Sekar.

Bibir lelaki itu bergerak pelan. “Lembah kera di bukit Lejar.”

“Iya suamiku. Aku tahu tempatnya, kamu telah menceritakan pengalamanmu dilembah kera padaku. Letaknya sudah terekam dalam benakku, bagaimana dengan lukamu?”

“Tidak tahu. Lengan dan tubuh bagian kananku mati rasa, ada dua jenis rasa dingin dalam tubuhku, yang satu sangat dingin bagaikan gergaji yang mengiris daging, otot dan tulangku, satunya lagi dingin sejuk, sungguh aneh.”

Pil mujarab Susmita yang mengandung dingin membantu mendorong tenaga wiwaha dan anti-racun dalam tubuh Wisang Geni semakin membendung racun dingin kalajengking biru.

“Geni, dingin yang satu racun pukulan musuh, dingin yang sejuk itu pil salju pemberian Susmita. Kamu jangan bicara, aku bantu dengan tenaga dalam.” Berkata demikian Sekar memaksa suaminya duduk. Dia menempel tangannya ke dada Wisang Geni. Lalu tenaga segoro membanjir keluar menerobos ke dalam tubuh suaminya.

Sepenanakan nasi berlalu. Sekar memandang mesra wajah suaminya. Tampak wajah berewokan itu mulai berkeringat.

Sekar menunggang si Wulung, satu tangannya mengendali kuda, satu lainnya melingkar memeluk Wisang Geni yang duduk di depannya.

“Bagaimana tenagamu?” Tanya Sekar.

“Tak ada tenaga, lumpuh. Aku lebih lemah dari orang biasa. Racun dingin Arjapura sangat dahsyat, racun itu gabung dengan pukulan dingin Gayatri semakin merusak tenagaku. Kupikir, obat Susmita itu hanya bertahan beberapa hari.”

“Aku akan meracik ramuan nenek, obat yang pernah menyelamatkan kamu dulu. Aku yakin kamu akan sembuh. Tapi mengapa ke Lembah Kera, bukankah ke rumah nenekku lebih bagus. Dia bisa menyembuhkan lukamu.”

Wisang Geni tersenyum pahit. “Aku hidup dan selamat jika berada di Lembah Kera, atau kalau memang harus mati kuburkan aku di samping kuburan guru Lalawa. Itu sebabnya kamu harus membawaku ke Bukit Lejar, kamu mau …?”

Sekar menciumi leher suaminya. Berbisik mesra. “Kemana kamu perintah, aku manut suamiku. Aku hanya isteri yang tak punya apa-apa selain cintaku padamu dan kesetiaanku padamu. Jika kamu mati aku ikut mati, aku tak mau hidup merana mengenang dan merindu kamu. Kita akan berkuda terus sampai malam hari lalu istirahat.”

“Seandainya aku pingsan dalam perjalanan, tetaplah menuju bukit Lejar. Kamu harus berburu waktu, aku tak punya waktu panjang. Rasanya hidupku sudah sampai di penghujung jalan, aku hanya mau mati disisi makam guru Lalawa.”

Wanita itu menangis.

Airmatanya membasahi pipinya. “Jangan mati Geni. Jangan tinggalkan aku. Kamu sudah berjanji, tak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi. Sekarang kamu terus-terusan bicara mati. Oh betapa teganya kamu meninggalkan aku merana seorang diri di dunia ini. Tidak ada lagi kesenanganku. Apa yang tersisa bagiku jika kamu mati? Geni jangan mati, berjanjilah untuk berjuang hidup, demi aku, demi Sekar, hiduplah bersamaku wahai kekasihku.”

Tak pernah selamanya Wisang Geni merasa tubuhnya lemah, hari ini dia merasakan betapa tidak berdayanya dia sebagai pendekar yang dijuluki nomor satu di tanah Jawa. “Aku lemah dan tak berdaya, Sekar. Lukaku parah, kini aku lebih lemah dari orang biasa.”

Mereka berhenti dua kali untuk mengisi perut. Sekar menggunakan kesempatan mengumpulkan bahan obat. Semua bahan yang diperlukan tersedia ditanah Jawa yang subur, Sekar meminumkan ramuan obatnya.

Sore hari menjelang gelap, mereka tiba di desa Pagu. Sekar tak mau masuk desa, memilih bermalam di hutan agak jauh dari desa. Esok hari sebelum matahari terbit, mereka melanjut perjalanan, berganti-ganti kuda sehingga mampu menempuh perjalanan lebih cepat.

Dia melecut kudanya secepat mungkin, “Wulung, Dawuk dan Batari, aku harus memaksa kalian. Kita harus berburu waktu, demi menolong majikanmu.”

Tiga ekor kuda seperti faham situasi kritis yang menggerayangi Wisang Geni, memaksa diri berlari secepat-cepatnya. Hari kedua menjelang sore mereka tiba dilereng Barat gunung Kelud. Samar-samar diantara kabut dan embun yang mulai menaungi lereng gunung, Sekar melihat sebuah kuil tua.

“Itu kuil, kuil apa? Apakah ada orang?” bisiknya.

Wisang Geni mendengar bisikan isterinya. Dia menyahut pelahan. “Kalau tak salah itulah kuil Ngancar, kuil pemujaan Batari Laksmi, kuil tua konon tempat para dewa berkumpul. Mungkin tak ada orang sebab sudah bertahun-tahun tak dikunjungi orang.”

“Kamu tunggu disini, tetap dipunggung kuda, aku akan menyelidik. Secepatnya aku kembali.” Sekar melompat dari punggung Dawuk, menyeret kuda-kuda itu kebalik batu besar. “Kalian diam, jangan bersuara.” katanya pada tiga kuda teman setianya.

Matahari sudah hampir terbenam.

Sekar menggelar ringan-tubuh yang paling mumpuni, mengelilingi bagian luar dan bagian dalam kuil. Ternyata benar seperti dikatakan suaminya, kuil itu kosong. Karena sudah lama tak dikunjungi orang, kuil tampak porak poranda. Disana sini dedaunan kering dan debu berserak, udara juga pengap.

Dia kembali menemui Wisang Geni. Menurunkan suaminya dari punggung kuda lalu memapahnya ke ruangan dalam kuil.

Dia membersihkan ruangan yang tersembunyi dibalik dinding.

Kuil itu didirikan untuk menangkal bencana amuk gunung Kelud seperti malapetaka puluhan tahun sebelumnya ketika gunung berapi itu memuntahkan lahar panas yang menelan banyak korban jiwa. Kuil itu dulunya ramai, banyak pengunjung. Tetapi sejak kerajaan Kediri runtuh, kekalahan Raja Dandang Gendhis dalam perang Ganter, kuil mulai sepi pengunjung. Tahun-tahun belakangan bahkan tak ada lagi orang yang mengunjungi.

“Kita bermalam disini. Esok pagi sebelum matahari terbit, kita langsung menuju Bukit Lejar.” Sekar berkata lirih kepada suaminya.

(To be Continued 11 July/Published No 20 )

Wisang Geni part Two (18)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Tujuh

Tarung Hidup Mati

Satu hari menjelang pertemuan besar tiga perguruan di Kandangan. Di bagian Timur hutan perbatasan desa suasana sepi. Kabut dan embun masih bergantung meski sinar matahari mulai menerangi hutan. Udara sejuk.

Satu kilo menjelang masuk desa tampak Wisang Geni berjalan bersama tiga isterinya, Sekar, Prawesti dan Manohara. Mereka menuntun empat ekor kuda.

Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda. Ternyata Batari, tunggangan Gayatri. Kuda putih itu berlari menghampiri pacarnya, Wulung. Kedua kuda meringkik panjang lalu berlari jingkrak memperlihatkan kegembiraan, lalu menjauh dari rombongan majikannya.

“Itu pasti Gayatri.”seru Manohara.

“Benar perkiraanmu, ternyata kita bertemu Gayatri disini,” tukas Prawesti menjawil lengan Sekar. Tiga perempuan ini berbisik-bisik, tak mau pembicaraan mereka didengar Wisang Geni yang melangkah satu tombak di depan.

“Kukira dia ikut pulang ke Himalaya?” Kata Manohara.

Menanggapi gurauan Manohara, Prawesti berbisik. “Sebaiknya memang begitu, disini dia hanya memancing masalah.”

Sekar diam. Firasatnya berbisik sesuatu bakal terjadi. Jantungnya berdenyut keras. “Apa? Ada apa?” Bisiknya.

Dari kerimbunan pepohonan, muncul Gayatri dengan langkah gontai. Tubuhnya yang tadinya gemuk tampak kurus dan langsing. Wajah jelitanya tampak memucat ketika dia berjalan cepat, setengah berlari menghampiri Wisang Geni.

Wisang Geni berseru. “Itu dia … Gayatri…”

Gayatri berlari menghampiri suaminya, sambil berseru pelahan. “Mas Geni!”

Wisang Geni melihat laki-laki berjubah hitam yang tadinya jalan berdampingan dengan isterinya, berhenti sesaat lalu melangkah perlahan menghampiri. Terpaut dua tombak.

“Siapa dia?” Sesaat Wisang Geni seperti mengenal lelaki itu. Tapi tidak ingat dimana pernah melihatnya.

Saat berikut Gayatri memeluk suaminya. Wajahnya yang jelita tampak berkeringat dan agak pucat, ketika dia berbisik mesra. “Geni, aku rindu ….”

Wisang Geni merangkul isterinya, menghibur. “Lihat aku sengaja mencarimu ….” Dia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ada tenaga dingin yang sangat besar menerobos sisi perutnya, menikam dan mengiris bagai pisau gergaji.

Dia terkejut. Seketika dia merasa lumpuh.

Pada saat berbarengan tenaga wiwaha bereaksi menolak. Tapi terlambat.

Pukulan dingin itu telah menekan dan menghalangi reaksi tenaga wiwaha. Bahkan tenaga wiwaha yang biasanya bereaksi spontan terhadap pukulan lawan, kini buyar terpencar, membuat Wisang Geni benar-benar lumpuh.

Saat itulah pikiran Wisang Geni memastikan pukulan dingin itu bersumber dari tangan Gayatri. Dia tak mengerti sebab musabab Gayatri memukulnya.

“Mengapa kamu memukul aku?” Suaranya lirih parau penuh tandatanya dan keheranan.

Tak ada jawaban dari mulut Gayatri yang saat itu mundur dua langkah.

Pikiran Wisang Geni belum normal. Masih bingung. Saat itu matanya menangkap gerakan pesat dari laki-laki berjubah hitam yang datang bersama isterinya. Tiba-tiba dia teringat Wasudeva. “Tapi Wasudeva sudah mati..” Bisiknya.

Seketika dia sadar nyawanya terancam.

Tapi terlambat. Kejadian pukulan Gayatri dan saat Wisang Geni memergoki lelaki jubah hitam menyerangnya, hanya dalam hitungan detik. Terlalu singkat untuk bisa berpikir mengelak atau menghindar.

Dia tak pernah menyangka ada kejadian seperti itu.

Gayatri memukulnya pada saat yang tidak terduga, saat dimana pikirannya tidak menaruh curiga. Dia tak pernah curiga pada isterinya, dulu maupun sekarang.

Saat pikirannya kosong, otomatis tenaga wiwaha ikut “tidur”, saat itulah pukulan membokong Gayatri mengena telak membuyarkan tenaga wiwaha, tenaga-dalam yang selama ini menjadi perisai dirinya menghadapi berbagai macam pukulan musuh. Tenaga wiwaha kini cerai berai dalam tubuhnya. Tidak lagi bisa dihimpun menjadi satu kesatuan.

Celakanya, saat bersamaan itu pukulan Arjapura melanda dengan membawa angin dingin. Itulah pukulan racun dingin Himalaya, pukulan mematikan.

“Mampus kamu, ini hutang nyawa putraku Wasudeva!!” Teriak laki-laki jubah hitam itu.

Mendengar seruan si jubah hitam seketika Wisang Geni mengetahuinya sebagai Arjapura, ayah Wasudeva. Tapi mengapa bisa bersama-sama dengan Gayatri, isterinya?

Dia tak sempat berpikir. Saat itu dia tahu persis jiwanya terancam. Tubuhnya masih lemas akibat perbuatan culas Gayatri dan pukulan Arjapura itu membawa hawa maut. “Mati aku sekarang,” bisiknya.

Wisang Geni menggeram memancing tenaganya.

Seperti biasa jika menghadapi bahaya yang mengancam jiwa, secara otomatis tenaga wiwaha bereaksi. Namun saat itu tenaganya terhalang akibat pukulan Gayatri yang begitu telak. Dalam keadaan terjepit, tenaga wiwaha memperlihatkan kehebatannya.

Tenaga wiwaha yang terhimpun sejak lima tahun sudah menyatu dengan tubuh dan pikiran Wisang Geni masih bisa menerobos rintangan racun dingin pukulan Gayatri.

Dengan sisa-sisa tenaga yang sudah terpencar ke seluruh tubuh, sebagian kecil tenaga wiwaha sempat mengalir mengikuti jalan pikiran dan geraman sang majikan. Itulah yang menyelamatkan Wisang Geni dari maut.

Dia melihat pukulan dahsyat Arjapura mengancam dadanya. Dia sadar jika pukulan itu menggelontor dadanya, tulang-tulang dada dan seisinya akan remuk, nyawa pasti melayang. Pukulan Arjapura dadakan, telengas, keji, ganas dan cepat.

Tak ada waktu untuk mengelak.

Apalagi tenaga wiwaha hanya sebagian kecil yang bisa digunakan. Namun sebagai pendekar kelas utama dia bergerak refleks, menggeser dan memutar tubuh bagian atas, membiarkan pukulan lawan menghantam lengan bagian atas. Hanya itu dayanya.

Beralih pada Sekar.

Saat Gayatri berlari menghampiri Wisang Geni, saat itu Sekar tidak menaruh curiga. Dia melihat laki-laki berjubah hitam berdiri dua tombak dibelakang Gayatri, dan laki-laki itu melangkah terus menghampiri Wisang Geni.

Ketika melihat Gayatri memeluk suaminya. Mendadak Sekar kaget, bagai disengat listrik ribuan volt. Teringat akan firasatnya!

Firasat yang membisik akan terjadi suatu kejadian. Ternyata benar. Dia melihat gerak tangan Gayatri. Tangan kiri tetap memeluk leher Wisang Geni. Tapi tangan kanannya melepas rangkulan, bergerak turun dan mengayun sejengkal kebelakang. Lalu memukul sisi perut Wisang Geni.

Saat itu Sekar hanya bisa berseru keras. ”Heeeiiii…”

Dan Sekar tidak hanya berteriak.

Meskipun agak terlambat tapi refleksnya bergerak cepat. Dia melesat menggunakan ringan-tubuh yang paling mumpuni, jurus wimanasara, gerakan bagai pesatnya panah sakti. Tujuannya menyerang Gayatri, mencegah perempuan itu melancarkan jurus susulan yang pasti akan membahayakan jiwa Wisang Geni.

Sekejap melihat pukulan Gayatri dan tubuh limbung Wisang Geni, dia tahu persis suaminya terluka parah dan tak mungkin bisa menghindar dari jurus susulan Gayatri.

Ternyata Sekar salah hitung, Gayatri tidak menyerang susulan. Gayatri justru melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Tetapi laki-laki berjubah hitam itu yang menyerang. Serangannya telengas dan ganas.

Sekali lagi Sekar terkejut bagai disambar petir ketika matanya menangkap gerakan pesat laki-laki berjubah hitam yang menyerang Wisang Geni dengan pukulan mematikan.

Tidak mungkin dia bisa memotong serangan itu dan menolong Wisang Geni karena tubuhnya sedang melayang diudara mengarah Gayatri. Dia hanya bisa berseru keras, suaranya melengking memberitahu suaminya. “Geni…awas…”

Tadinya hanya ingin mengusir Gayatri, kini kebencian tumpah sepenuhnya dalam bentuk serangan kepada perempuan yang pernah menjadi sahabatnya dan setempat tidur dengannya bertiga Wisang Geni. Tidak tanggung-tanggung dia memilih jurus maut cumangkrama (menyetubuhi) salah satu dari 17 jurus aneh sapwa tanggwa warisan Nenek Sapu Lidi, jurus yang telengas dan mematikan.

Beralih pada Gayatri. Beberapa saat sebelum melukai suaminya dengan serangan gelap, benak dan perasaan Gayatri diliputi rasa benci. Pengaruh sihir dan doktrin Arjapura telah menyalin pikirannya menjadi seorang yang sangat asing. Dia bukan lagi Gayatri yang dulu.

Cintanya yang begitu besar pada suaminya tumpang-tindih dan campur baur dengan dendam dan kebencian. Dibenaknya masih terngiang suara Arjapura, yang selama beberapa hari mengiang ditelinganya. “Dia menipu kamu, gurunya membunuh kakekmu, dia suami yang jahat, pukul dia, bunuh dia!”

Sesaat ketika berlari memeluk suaminya, rasa cinta dan kangen menguasai pikirannya. Tapi saat berikut telinganya mendengar bentakan keras bagai guruh disiang bolong. “Pukul sisi perutnya Gayatri! Pukul dia Gayatri!” Itulah bentakan Arjapura sang majikan yang menggunakan ilmu pendam suara tapi yang dialiri tenaga sihir.

Dan Gayatri yang selama sepuluh hari menjadi budak Arjapura dan yang pikirannya sudah dikuasai Arjapura, secara tidak sadar mengerahkan segenap tenaganya dan memukul sisi perut suaminya.

Ketika pukulannya mengena seketika dia gembira. Saat berikut dia terpahna menatap wajah heran suaminya yang bertanya padanya, “mengapa kamu memukul aku?”

Dia mundur dua langkah.

Niatnya akan menyerang dengan jurus susulan, tertunda. Dia bingung. “Mengapa aku memukul suamiku?” Bisiknya.

Tetapi dia tak menemukan jawaban.

Saat itulah pukulan maut Sekar menerjangnya. Jurus cumangkrama yang digelar dengan tenaga-dalam segoro ciptaan Nenek Sapu Lidi tak bisa dianggap main-main.

Sesaat bingung saat berikutnya Gayatri sadar sepenuhnya. Tak punya waktu untuk berkelit dia terpaksa mengerahkan segenap tenaga-dalam menahan gempuran Sekar.

“….Deeesssss” dua pukulan saling bentur.

Gayatri melempar diri dua meter ke belakang, guna menghindari luka dalam. Dia memang kalah tenaga. Untuk sesaat Gayatri tak mampu bergerak, dia harus menenangkan tenaga-dalamnya yang kalang kabut.

Lain hal dengan Sekar, benturan itu tak memengaruhi tenaga-dalamnya.

Mengandalkan tenaga-dalam segoro dan ringan tubuh wimanasara dia meminjam tenaga benturan untuk melayang ke arah lain. Meluruk ke laki-laki jubah hitam.

Mengulang beberapa detik ke belakang.

Pada saat Sekar berteriak ”heeeiiii” saat itu Manohara dan Prawesti masih belum sadar apa yang terjadi. Ketika Sekar berkelebat menyerang Gayatri sambil berteriak memeringati suaminya dari serangan Arjapura, ”Geni awassss!!” Saat itulah mereka sadar bahaya maut mengancam Wisang Geni.

Kejadian itu sangat cepat. Terpaut satu tombak dari suaminya, Prawesti dan Manohara nyaris kejang saking kagetnya.

“Mas Geni awasss …..” teriak Manohara.

“Geni aku datang !!” Teriak Prawesti. Tak hanya berteriak, dia menghambur maju. Manohara yang berdiri di sampingnya ikut menyerang, memotong serangan Arjapura.

Gerakan dua macan betina terlambat.

Mereka datang setelah Wisang Geni terkena pukulan maut Arjapura. Namun kedatangan keduanya dengan serangan ganas telah menolong jiwa Wisang Geni, karena menggagalkan serangan susulan Arjapura. Kalau saja serangan susulan Arjapura melanda Wisang Geni, dipastikan pendekar Lemah Tulis itu akan tewas.

Dua macan betina ini meluruk langsung ke Arjapura karena melihat pendekar Himalaya ini telah melukai Wisang Geni yang mundur sempoyongan sambil muntah darah segar.

Demi mencegah serangan susulan, mereka menyerang dengan pukulan paling mematikan. Menyerang tanpa memikirkan pertahanan. Bertindak secara naluriah didasari cinta dan kesetiaan untuk menyelamatkan sang suami. Bela pati!

Sekar bukan sembarang pendekar, dia telah mewarisi seluruh ilmu Nenek Sapu Lidi dan mendapat banyak petunjuk Wisang Geni sehingga ilmu silatnya sudah jauh lebih mumpuni. Karenanya gerak Sekar secara naluriah itu sangatlah pesat. Tampak hebatnya ringan-tubuh wimanasara yang dilatih ditengah amuk ombak segoro kidul.

Saat itu pikiran yang menjadi sumber gerak Sekar yang serba cepat dan telengas hanya terpusat pada menolong menyelamatkan suaminya.

Selang satu detik, Sekar sudah sampai didekat suaminya. Tapi dia tak keburu mencegah pukulan pertama Arjapura yang lantas melanda lengan bagian atas Wisang Geni.

“Daaaasssss ….” Lengan Wisang Geni mengeluarkan asap. Pukulan dingin yang saking dinginnya seperti ledakan salju.

Terdengar suara Wisang Geni, “Uuuuhhh…”

Pada saat yang sama dalam keadaan melayang Sekar menyedot batu kerikil dari tanah, dia meraup sekenanya. Lima batu kerikil melesat ke tapak tangannya. Dalam keadaan biasa, gerakan melayang diudara sambil menyedot kerikil dari tanah, belum tentu bisa dia lakukan. Tapi saat itu gerakannya sempurna. Kerikil itu lantas disambit ke arah Arjapura. Seluruh tenaga-dalam segoro menerbangkan kerikil itu yang melesat membawa angin keras.

Arjapura kaget setengah mati. Dia batal menyerang susulan.

Itulah yang dimau Sekar.

Dia tahu tak sempat menangkis bokongan Arjapura, tapi masih bisa mencegah serangan susulan. Masih dalam gerak melayang dia mengirim pukulan keras dari jurus mawunyangken (menyakiti hati). Perbedaan melempar kerikil dengan pukulan itu hanya satu detik. Susulan yang nyaris berbarengan.

Dua serangan itu dilakukan dengan cepat dan ganas. Selama hidupnya Sekar jarang terlibat tarung adu nyawa, tapi kali ini justru jauh lebih penting dari sekedar adu nyawa.

Baginya Wisang Geni jauh lebih penting dari siapa pun dimuka bumi. Bahkan lebih penting katimbang dirinya sendiri. Kesetiaannya sebagai isteri berwujud dalam serangan bela pati. Dia harus selamatkan suaminya.

Dan serangan itu bertujuan merebut waktu untuk menolong suaminya.

Apa yang telah dia lakukan tak akan bisa ditiru siapa pun, bahkan dirinya sendiri tak akan mampu mengulang semua gerakannya itu. Besarnya cinta pada suaminya menjadikan dia pendekar sangat digjaya dalam sekian detik itu.

Wisang Geni berada antara sadar dan pingsan.

Tenaga-dalamnya berantakan. Pukulan Gayatri telah melumpuhkan dirinya. Serangan Arjapura yang mengena telak lengan atasnya telah mengguncang seluruh tubuhnya.

Tenaga wiwaha kini terkubur. Tak ada lagi yang tersisa.

Racun dingin Himalaya sudah merangsek kedalam tubuhnya, menerobos semua jalan darahnya. Dia tahu ajalnya sudah dekat.

Dia melihat sosok isterinya yang melayang ke arahnya. Dia sempat berbisik, ”Sekar pergi selamatkan dirimu, selamatkan anakku.” Lalu pandangannya gelap, hitam pekat diwarnai kebyar bintang-bintang kecil. Pikirannya kosong.

Seketika Wisang Geni merasa tubuhnya lemas, limbung, akan rubuh.

Saat itu pikiran Sekar hanya dipenuhi siasat menolong suaminya. Dia mendengar bisikan suaminya. Keinginan untuk adu jiwa dan bela pati, dia singkirkan.

Bisikan itu memastikan nyawa suaminya berada diujung tanduk. Luka parah. Tampak sekali ketika Wisang Geni muntah darah. Merah dan segar. Itulah tanda luka parah. Biasanya akan disusul kematian.

Sekar tahu satu detik pun sangat berarti untuk menolong suaminya. Tak ada gunanya bertarung bela pati, melawan Gayatri dan laki-laki jubah hitam itu. Lebih penting adalah menolong suaminya.

“Lari! Lari bersama Geni!” Teriak pikirannya.

Selanjutnya Sekar bertindak secara naluriah yang dilandasi kecerdasan pikirannya. Dia bersiul panjang dua kali, memanggil kudanya si Dawuk.

Beralih pada Arjapura.

Hanya sesaat Arjapura gembira. Saat berikut dia sibuk mengelak dari sambitan Sekar yang mengarah mata, pelipis, jantung, leher dan kemaluannya. Dia tak pernah menyangka Sekar memiliki ilmu-silat yang begitu tinggi, karenanya dia sangat terkejut, membuat gerakannya terhambat dan sibuk menghindar.

Selang sesaat kemudian hanya terpaut satu detik serangan susulan Sekar menerjangnya, salah satu pukulan ganas dari 17 jurus sapwa tanggwa digerakkan tenaga segoro itu lebih mengejutkannya lagi, angin pukulan itu terasa bagai air bah yang membawa bencana.

Tapi dia bukan sembarang pendekar, ilmu-silatnya sesungguhnya lebih tinggi dari Sekar. Namun perasaan gembira sesaat atas keberhasilan memukul Wisang Geni berbaur rasa terkejut serangan kerikil Sekar membuat geraknya terhambat.

Detik berikut Arjapura sadar dan pikirannya pulih, dia menyambut serangan Sekar dengan memukul keras. Dua tangannya bergerak ke dua arah, menyerang Sekar dan memukul Wisang Geni.

Dia belum puas hanya memukul Wisang Geni satu kali, dia berkeinginan melumat habis tubuh musuh yang telah membunuh putra harapannya. Itulah serangan mematikan yang sangat mematikan.

Tapi dia terkejut, angin serangan keras menyerangnya dari dua arah. Dia melirik. Dua wanita, Prawesti dan Manohara menyerangnya dengan ganas.

Prawesti tiba lebih cepat, serangannya ganas mengarah pelipis dan dada Arjapura. “Terimalah jurus Lemah Tulis.” Teriaknya.

Manohara menyerang Arjapura sambil berseru,”Sekar bawa Geni pergi!” Dia tidak lagi memanggil dengan sebutan mbakyu saking kritisnya situasi.

Prawesti ikut teriak. ”Pergi Sekar, pergi! Jangan pikirkan kami, pergi cepat.”

Arjapura mengubah keputusan.

Pukulannya ke arah Sekar tetap dilanjutkan karena itulah pemunah serangan Sekar. Serangan ke arah Wisang Geni dialihkan ke Prawesti.

“Daaaassss …. Daaassss ….” Pukulan Arjapura beradu dengan pukulan Sekar.

Wanita ini sangat cerdik. Bahkan sangat cerdas. Dalam waktu yang sangat singkat itu dia telah merancang jalan lolos bagi suaminya.

Menyerang memukul mundur Gayatri. Menyerang Arjapura dengan sambitan kerikil dan pukulan keras. Bersiul memanggil kuda. Semua dilakukan ringkas, cepat dan saling susul. Ringan tubuhnya pun sangat ungkulan.

Meminjam benturan tenaga Arjapura, dia melesat ke arah suaminya, menjambret lengan Wisang Geni sambil kakinya menjejak tanah dan melayang pergi. Pada saat itu kuda coklatnya Dawuk berlari di dekatnya. Dengan ringan dia hinggap dipunggung si Dawuk, meletakkan tubuh suaminya melintang di pangkuannya. Melecut kudanya.

Dia menoleh ke belakang, berseru, ”adik, kalian cepat lari. Aku pergi!!”

Saat itu dia melihat Prawesti terhuyung mundur sambil muntah darah. Detik berikutnya, Manohara terlempar membentur pohon. Dia tak sempat melihat apakah dua temannya mati atau masih hidup karena Dawuk sudah membawanya kabur dengan kecepatan maksimal.

Suara Sekar tersendat di tenggorokan.

Dia melanjutkan melecut kudanya. Dia berbisik pelan. “Maaf adik-adik, aku mengikuti naluri menyelamatkan Geni. Aku harap kita akan bertemu suatu saat nanti dan sama-sama membalas dendam.” Tanpa sadar dia menitik air mata. “Mungkin Mano dan Westi mati.”

Tak pernah dia menyangka hanya dalam waktu singkat, keluarganya berantakan. Tapi dia menguatkan diri, melecut si Dawuk menjauhi pertarungan.

Si Wulung kuda tunggangan Wisang Geni seperti punya firasat akan nasib majikannya, ikut kabur mengikuti Dawuk kekasihnya. Uniknya si Putih, Batari, kuda tunggangan Gayatri juga ikut-ikutan kabur bersama, mengikuti Wulung, kekasihnya.

Sambil melecut si Dawuk, Sekar berteriak. “Adik-adik lari selamatkan diri!!!”

Gayatri yang terpukul mundur oleh Sekar dan harus menenangkan tenaga, pada saat itu tenaganya sudah normal. Dia melesat mengejar ingin menghalangi gerak Sekar. Tapi mana bisa mengimbangi ilmu ringan-tubuh Sekar. Dia melihat tiga kuda berikut Wisang Geni dibawa kabur Sekar. Dia bersiul memanggil si Batari. Tapi kali ini si Putih membangkang, kuda betina ini lebih memilih Wulung dibanding majikan.

Gayatri memaki. “Kuda sundal beraninya kamu mengkhianati aku!”

Beberapa detik Arjapura tertahan gebrakan tiga pendekar wanita itu. Sehebat apa pun dia tetap saja terhalang. Berturutan dia memukul Sekar dan Prawesti, berlanjut membentur tangan Manohara terus menerobos menghantam dada Manohara.

Prawesti kalah tenaga, terlempar ke belakang sambil muntahkan darah segar. Tubuhnya membentur pohon dan ambruk diakar pohon. Manohara cerdik, menarik senjata keris panjang dan menikam Arjapura.

Terpecah perhatian melihat Sekar berhasil melarikan Wisang Geni dan melihat Prawesti muntah darah, Manohara berteriak, “lari!”

Manohara menangkis, tapi pukulan kedua Arjapura melanda dada. Tubuhnya terguncang dan terlempar lima tindak, muntah darah dan terjerembab di samping tubuh Prawesti.

Gayatri menghampiri tubuh dua wanita yang tadinya adalah sahabat. Dia menendang tubuh Prawesti dan Manohara. Keduanya tak bergerak. Tak bernafas. “Dasar goblok! Mau korban jiwa untuk suami yang tidak mencintai kalian… goblok…” Serunya.

Arjapura menggenggam tangan Gayatri.

“Wisang Geni pasti mati. Tak ada orang bisa hidup kena pukulan racun kalajengking biru.” Dia tertawa keras, sambil menengadah ke langit. “Sudah impas, hutang nyawa bayar nyawa. Dengarlah putraku Wasudeva, ayahmu sudah membalas hutang nyawamu.”

(To be Continued 10 July/Published No 19 )