Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 38
Wisang Geni tertawa senang. Dia memeluk Atis, tanpa merasa malu dihadapan para murid. Dan Atis pun dengan manjanya tertawa senang sambil merebah di dada suaminya.
Sekar menahan diri, berusaha keras untuk tetap ceria. Meskipun dia sangat cemburu dan sakit hati, tetapi orang lain tidak perlu tahu.
Air muka Sekar yang berubah sendu sesaat kemudian ceria kembali tidak luput dari pandangan para murid Lemah Tulis. Para pendekar ini seakan ikut merasakan derita Sekar. Bagaimanapun juga mereka merasa lebih dekat kepada Sekar, karena telah bertahun-tahun bergaul. Adapun Atis hanyalah isteri baru.
Bagi enam pendekar yang menemui Wisang Geni di lembah kera, kelakuan sang ketua yang lebih mesra terhadap Atis dan yang diperlihatkan secara terang-terangan sangat mengganggu mereka. Kini melihat Geni memeluk Atis begitu mesra dan air muka Sekar yang tampak menahan perasaan kecewa, perasaan mereka tergugah.
Sawitri bangkit berdiri. “Aku ingin bicara denganmu.” Sambil dia menarik tangan Sekar yang terpaksa mengikutinya.
“Mau kemana kalian?” Daraka bertanya pada isterinya.
“Ini urusan perempuan Mas.”
Sawitri mengajak Sekar ke pojokan diluar rumah. Dia memegang dua tangan Sekar, memandang air muka wanita itu yang tampak pucat. Tidak tahan melihat derita temannya, Sawitri memeluk Sekar. Tangannya mengelus kepala Sekar. “Sabar, adik. Ada saatnya nanti kamu kembali berada diatas.”
Seketika itu Sekar luluh dalam tangis. “Aku tak tahan lagi. Geni sudah melupakan aku, dia membuang aku dari hatinya.” Kata Sekar terisak-isak. “Dia juga membela Gayatri, aku tahu persis, aku satu-satunya saksi karena Manohara dan Prawesti sudah mati. Gayatri memukul Geni yang tentu saja tidak curiga. Tenaga-dalam Geni lumpuh dan saat itulah pukulan Arjapura mengenainya telak. Mengapa dia berbohong, karena hanya dengan itulah dia bisa memeluk dan meniduri Gayatri lagi.”
Sawitri kaget. “Oh begitu cerita sebenarnya? Tapi bukan kamu satu-satunya saksi, dua lainnya Wisang Geni dan Gayatri. Mungkin sebaiknya kamu rahasiakan.”
“Aku tidak takut. Jika Geni marah, aku akan minggat tanpa ragu sedikitpun! Aku juga sudah bosan diperlakukan tidak adil.”
Esok harinya para murid yang mendapat tugas menyerang Brantas mempersiapkan diri, fisik dan mental. Tampak semangat membara ingin membalas dendam atas kematian sahabat dan saudara di Kandangan.
Pagi hari itu juga sepuluh murid terbagi dalam lima kelompok berangkat ke lima lokasi.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Keesokan harinya, rombongan besar dipimpin Wisang Geni meninggalkan perguruan. Menuju desa Ngoro, tigapuluh lima murid, tidak terhitung ketua dan tiga isterinya. Sebelumnya Prastawana mengirim kabar melalui burung elang ke Mahameru untuk bertemu di desa Ngoro.
Kali ini rombongan Lemah Tulis berangkat dengan semangat tinggi serta kepercayaan diri yang besar. Hadirnya Wisang Geni telah memicu semangat tarung para murid. Mereka membawa beberapa kuda yang tidak ditunggangi antara lain Wulung, Betari, Dawuk. Kuda-kuda itu membawa perbekalan makan dan minum.
Malamnya nginap di hutan, esok siangnya tiba di pinggiran desa Ngoro.
Mereka memilih tempat yang paling rimbun mendirikan gubuk darurat.
Dua hari menanti. Rombongan Mahameru dipimpin Narapati tiba dan bergabung. Hari ketiga, Dipta dan Kumbaka, rombongan pengintai yang terakhir pulang.
Dipta melapor. “Markasnya dilekukan kali Bangsal dekat desa Trawas, tampaknya mereka akan mengadakan pertemuan, semua murid kumpul, sekitar dua ratus orang yang hadir.”
Narapati, pemimpin rombongan Mahameru sangat berhutang budi pada Wisang Geni yang menjodohkannya dengan Kirana, murid pendekar besar itu. “Kangmas Geni, aku membawa tigapuluh murid. Bersama empatpuluhan murid Lemah Tulis, kekuatan kita cukup untuk menghancurkan Brantas. Mungkin sebaiknya kita menyerang dadakan.” Kata Narapati.
Dipta memotong. “Aku setuju, ketua. Kita tidak perlu malu menyerang dadakan, karena mereka melakukan cara pengecut di Kandangan. Kita serang diwaktu malam.”
Pertemuan yang hanya dihadiri segelintir pimpinan, setuju untuk menyerang dadakan. Waktunya malam hari menjelang pagi. “Sore ini semua istirahat dan semedi. Jarak ke Trawas hanya separuh malam. Jika berangkat awal malam, kita tiba dini hari. Artinya malam masih kelam. Atur semua rombongan kita memakai ikat kepala putih.” Kata Wisang Geni.
Prastawana bertanya pada Dipta, kakak seperguruannya. “Kangmas, siapa-siapa pendekar yang ada di markas Brantas saat ini?”
“Aku berdua Kumbaka sempat mendengar pertemuan akan dipimpin ketua Brantas Roro Gandis. Hadir juga gurunya Ganggati, dan kakaknya Kangsa, selain itu Janda Ngargoyoso dan Korowelang pendekar dari Utara.” Tutur Dipta. “Tidak banyak berita yang kuperoleh.”
Wisang Geni tertawa sinis. “Aku pernah tarung dengan Ganggati. Dia bagianku. Dipta, Prastawana dan Narapati bagi-bagi tugas hadapi Kangsa, Korowelang dan Ngargoyoso. Ketua Brantas Roro Gandis biar bagian isteriku Sekar. Murid lainnya, waspada dan saling menjaga, begitu melihat ada lawan yang berilmu tinggi cepat tangani, jangan biarkan anak murid kita jadi korban. Gayatri dan Atis akan membantu.”
Sekar memperlihatkan rasa kesalnya. “Jika urusan tarung kamu mengandalkan tenagaku, jika urusan cinta kamu memilih si genit Atis. Kamu berlaku tidak adil padaku. Aku sudah bosan bertarung untuk kepentinganmu, Roro Gandis itu bukan musuhku, aku tak punya dendam dengannya tapi aku terpaksa tarung dengannya untuk membela kepentinganmu. Hari ini aku tidak takut mati, sebab jika aku mati di medan tarung sakit hatiku hilang.” Bisiknya dalam hati.
Suasana hening di penghujung malam itu. Rombongan Lemah Tulis dan Mahameru sudah mengambil posisi. Samar-samar tampak perahu besar di tepian kali, kelap kelip obor damar di geladak. Di tepian kali puluhan gubuk darurat berjejer. Para murid dua perguruan besar mengindap-indap mendekati gubuk musuh.
Begitu jarak terpisah hanya limapuluh meteran, mereka diam menunggu. Sudah disepakati Wisang Geni, Sekar, Gayatri, Prastawana, Narapati dan Dipta akan meluruk ke perahu besar. Tugasnya menyulut api membakar geladak dan layar kapal. Serangan akan dimulai serentak begitu melihat layar perahu terbakar.
Wisang Geni menggunakan ilmu ringan-tubuh waringinsungsang yang paling handal, cepat dan tidak menimbulkan suara. Pertama menginjak kaki di geladak, dia menghantam pingsan dua penjaga. Mengambil tiga obor damar yang masih menyala, melemparnya ke tiang layar. Sekejap saja, layar itu menyala dan terbakar. Pada saat bersamaan Dipta menghajar mati beberapa penjaga.
Saat berbarengan Sekar, Gayatri, Prastawana, Narapati menerobos palka, membunuh para penjaga, mencari tong kayu yang berisi minyak damar. Mereka memecah beberapa tong dan menyulut api. Dalam sekejab api menyala di palka.
Mereka lari cepat ke atas geladak dengan masing-masing membawa satu tong berisi minyak. Mereka menuang minyak damar diatas geladak kayu, lalu menyulut api. Kebakaran berkobar dimana-mana. Palka dan geladak terbakar, begitu juga layar perahu. Kobaran api tampak mencolok digelapnya malam.
Ketika itu beberapa penjaga menerobos keluar kamar. Mereka teriak-teriak adanya kebakaran. Sebagian penjaga menyerang. Tetapi mereka bukan lawan sepadan Wisang Geni yang amarahnya menggila. Sekar, Gayatri, Prastawana, Dipta, Narapati ikut mengamuk. Satu demi satu para penjaga yang sebagian adalah penjahat bayaran jatuh bersimbah darah. Mati.
Hanya dalam hitungan menit yang singkat kapal itu terbakar.
Di malam hari, api yang membakar layar dan geladak kapal menimbulkan kekacauan. Orang-orang Brantas yang berada diatas kapal berlarian dengan panik.
Murid-murid dua perguruan melihat layar kapal tersulut api serentak menyergap musuh yang masih tidur lelap di gubuk-gubuk.
Para murid Brantas kaget dan panik mendengar teriakan para penyerang. “Bunuh Brantas! Hancurkan Brantas! Pembalasan! Tak ada ampun! Tumpas para penjahat, bunuh, jangan ada yang lolos!”
Diatas perahu markas, para pendekar Brantas dan tamu-tamunya gesit berlarian. Sebagian murid Brantas berteriak-teriak. “Padamkan api! Kebakaran!”
Suasana kacau balau, gegap gempita suara orang Brantas berteriak-teriak bercampur dengan letupan api dari palka bawah. Geladak juga sudah tidak tertolong lagi, api semakin membesar, asap menghalangi penglihatan.
“Mana musuh! Mana penyerangnya!” Terdengar teriakan suara wanita. Roro Gandis!
Paras wanita cantik itu merah padam saking marah, namun dibalik amarahnya dalam hatinya terbersit ketakutan. Besarnya kobaran api dan teriakan panik anak buahnya membuat malam dingin itu menjadi panas mengerikan. Dia memandang ke tepian kali, tampak orang-orang berlarian dan bertarung. Suara hiruk pikuk.
Terjadi pertarungan dimana-mana, diatas kapal maupun di darat. Teriak kesakitan atau jerit amarah bercampur erangan orang sekarat mewarnai pertarungan massal yang melibatkan tigaratusan orang. Satu per satu murid Brantas berjatuhan tewas.
Wisang Geni, Sekar, Gayatri, Prastawana, Dipta dan Narapati melesat turun ke darat, berpindah arena tarung.
Setelah sempat dilanda panik beberapa saat, orang-orang Brantas mulai mengenal para penyerangnya, yakni yang berikat kepala putih. Mereka mulai melawan, menyerang ganas.
Beberapa bayangan melesat turun dari kapal yang sudah bagaikan lautan api. “Menyerang dadakan bukan perbuatan pendekar, ayo unjuk diri, biar kulumat tulang-tulang tubuhmu. Aku Ganggati dari gunung Limas, wanita penghancur tulang dan pengisap darah.”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Gerakan pendekar wanita itu sangat trengginas karena dipicu amarah yang berapi-api. Sepak-terjang Ganggati dikuti beberapa tokoh pendekar lainnya, serta belasan ponggawa Brantas yang cukup tinggi ilmu-silatnya. Terjadi pertarungan massal.
Ganggati tidak memilih lawan, dia menyerang musuh terdekat. Gajah Lengar kebetulan berada didekatnya. Serangan ganas Ganggati sangat mengerikan, keris luk sembilannya mengincar titik kematian. Gajah Lengar terkesiap. Untung saja Narapati berada didekatnya, membantu menyerang sehingga terjadi tarung yang mencekam. Dua pendekar muda mengeroyok Ganggati.
Namun Ganggati sedang berada di puncak amarahnya, nafsu membunuhnya tidak lagi bisa ditahan-tahan. Kebakaran di kapal markas Brantas telah memupus semua mimpinya. Tadinya ingin membawa Brantas menjadi bagian pasukan Linggapati dalam perebutan kekuasaan tanah Jawa. Mimpi itu kini sirna. Tidak heran amarahnya tumpah ruah ke alamat musuhnya. Dia menyerang dengan pukulan tangan dan tikaman keris dahsyat. Kontan Gajah Lengar dan Narapati terdesak hebat.
Wisang Geni melihat sana-sini, tahu pihaknya berada diatas angin. Tiba-tiba dia melihat Gajah Lengar dan Narapati yang terdesak amuk Ganggati, si pendekar wanita tua berilmu tinggi. Dia berkelebat menuju Ganggati sambil berseru. “Ganggati, aku lawanmu!”
Dia menyeruak tarung tiga orang itu,”kangmas berdua silahkan mundur! Nenek tua ini kekasih lamaku.” Dia tertawa keras, tawa kera yang membahana di arena tarung. “Ayo kekasih, kita main-main dulu sebelum bercumbu.”
“Kurangajar, penjahat cabul. Murid Suryajagad si cabul, kubunuh kamu hari ini!” Teriak Ganggati sambil menyerang hebat.
Ilmu andalannya lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung dimainkan dengan keris luk sembilan yang merah marong. Serangan ganas yang tujuannya membunuh. Tak ada basa-basi, dia mengerahkan segenap tenaga-dalam dengan jurus-jurus mematikan. Keris pusakanya berkelebat ke semua titik kematian menebar hawa maut.
Wisang Geni tertawa senang menemukan lawan tanding yang ganas ini. Beberapa waktu lalu dia pernah tarung lawan wanita perkasa ini, hasilnya imbang alias sama kuat, tarung pun berjalan singkat.
Waktu itu dia belum menemukan ilmu lalawa mengepak sayap menembus awan, sekarang suasana lain. Inilah tarung hidup-mati ditengah-tengah pertarungan massal. Dalam sekejap terjadi pertukaran jurus-jurus maut dua petarung kosen ini.
“Siapa diantara kalian yang bernama Kangsa?” Prastawana menyongsong kelompok pendekar yang melayang turun dari kapal.
Salah seorang bertubuh gempal, tinggi dengan paras tampan berseru. “Aku Kangsa, kamu mencari mati? Sebut namamu!”
“Aku Prastawana dari Lemah Tulis, tugasku membunuh kamu!” Prastawana menyahut dengan dingin. Disinari kobaran api dari kapal besar, parasnya tampak kaku.
“Kalian pengecut hina, menyerang orang sedang tidur, kucincang tubuhmu!” seru Kangsa sambil melancar serangan maut. Terjadilah tarung hidup-mati.
Sekar yang sedang menghajar beberapa prajurit Brantas melihat wanita cantik berpakaian merah mencolok. Kontan dia berseru. “Hei Roro Gandis, aku disini, bagaimana tandamataku di payudaramu, datangi aku biar kutambah lagi codet di dadamu.” Tadinya dia kurang bersemangat tarung karena kecewa terhadap suaminya, namun kini timbul kegembiraan melihat Roro Gandis.
Melihat musuh yang paling dia benci, yang siang malam menjadi mimpi buruknya, Roro Gandis berteriak murka. “Sekar pelacur hina, kubunuh kamu, kuminum darahmu!” Bergerak pesat dia melancar serangan dengan jurus-jurus maut dari kerisnya. Dia kalap!
Dua macan betina ini terlibat tarung mematikan, sedikit lengah nyawa melayang.
“Mana Korowelang?” teriak Narapati. Dia pernah mendapat laporan dua keponakan murid Mahameru dibunuh dengan kejam oleh Korowelang, murid wanitanya diperkosa lebih dahulu baru dibunuh. Kejadiannya sudah satu tahun, tetapi baru hari ini Narapati menemukan musuh yang dicari-carinya.
“Aku Korowelang, siapa yang mau mati ditanganku?”
Continue published 39 / August 2nd
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.