Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 34
Empatbelas
Marahnya Keraton
Hari itu terakhir Nenek Jubah Kuning menyembuhkan Gayatri. Racun bius telah punah. Gayatri telah sembuh. Pulih kembali, tampak tubuhnya lebih terang dan bersih, begitu juga parasnya yang jelita.
Nenek jubah kuning tidak hanya menyembuhkan, juga telah menguras isi perut dan mencuci darah dalam tubuh Gayatri. “Kamu sudah bersih, racun sudah lenyap. Tak ada lagi bekas dari laki-laki jahat itu. Ibaratnya kamu sudah pulih kembali sebagaimana sebelum bertemu penjahat itu, seperti kisah Sinta Obong dalam kisah Ramayana.” Kata gurunya.
Dalam episode Ramayana itu, Sinta isteri Sri Rama, disandera selama berbulan-bulan oleh Rahwana si penjahat. Ketika Sri Rama berhasil membebaskannya, Sinta melakukan upacara obong, melompat ke dalam lautan api, untuk mencuci fisiknya dari aroma busuk Rahwana. Dia keluar dari api tanpa sehelai rambut pun yang hangus. Hanya bedanya, Gayatri dicuci dengan bantuan tenaga-dalam serta ramuan obat dari sang guru.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Selama beberapa hari dia menghafal isi kitab lhakeswara sekaligus cara melatihnya. Gurunya juga membimbing cara melatih tenaga-dalam. Gurunya tidak mengubah tenaga-dalam muridnya, hanya mengajarinya bagaimana memperdalam dan meningkatkan tenaga yang sudah ada. Tenaga-dalam dilatih sambil mematangkan jurus-jurus tarung yang sudah dimilikinya maupun tambahan jurus baru. Tanpa terasa ilmu-silatnya maju pesat, baik jurus maupun tenaga-dalam.
Setiap hari di waktu luangnya Gayatri menyempatkan diri bermain dengan Anggreni, malam harinya semedi dan melatih jurus-jurus hebat lhakeswara. Dia kesulitan tidur karena pikirannya melayang-layang melamun suaminya. Dan selalu pertanyaan itu muncul, “apa yang telah kuperbuat, mengkhianati suamiku?”
Dia menangis hampir setiap malam. Menyesal dan juga merindu.
Rindu yang amat sangat pada suaminya. Dia membayang kisah cinta dengan suaminya. Membayang ketika digubuk ditengah hutan pertama kali dia bertemu Wisang Geni yang nakal dan usil, yang menggunakan nama samaran Ambara. Lalu terbayang bagaimana elusan tangan suaminya, kejantanan yang merenggut perawannya di kamar penginapan.
“Nasibku buruk. Aku kepala batu. Seandainya aku tidak menolak ikutsertanya suamiku ke Jedung mengantar keluargaku, mungkin nasib buruk itu tidak datang. Mengapa karma perlakukan aku dengan tidak adil? Karma mempertemukan aku dengan Arjapura, membiarkan penjahat itu menipu dan meracuni aku.”
Hampir setiap hari dia mandi dan berenang di danau. Dia tahu dirinya telah sembuh dan sudah bersih dari aroma busuk Arjapura. Namun dia sepertinya masih ingin mandi terus-menerus, mencuci tubuhnya. Pagi, siang dan sore dia mandi dan mengajari Angga berenang. Malam harinya dia mandi sendirian.
Dia ingin mandi setiap hari, bahkan berendam seterusnya didanau untuk membersihkan tubuhnya yang sudah ternoda oleh Arjapura. Ingin melepas semua derita bathin dan mimpi buruk itu kedalam danau. Biarkan air danau yang sejuk dingin melarutkan semua deritanya. Dia ingin tubuhnya kembali bersih seperti ketika perawannya dinikmati suaminya di malam yang penuh arti dan makna cinta. “Kalau waktu bisa berputar kembali, aku akan memintanya meskipun mahal harganya. Aku ingin tidak pernah bertemu dengan penjahat itu.” Bisiknya.
Berhari-hari dilalui Gayatri dengan berlatih silat dibawah bimbingan gurunya. Tenaga-dalam makin tangguh. Jurus barunya dari sang guru makin lancar dan mulus. Gayatri tahu kanuragannya kini maju pesat. Disela-sela aktifitas berlatih silat dia berenang di danau bersama putrinya. Kadang-kadang sang guru ikut berenang dan bermain, menyelam dan menggoda Anggreni.
Gayatri melaluinya dengan gembira, hanya malam hari ketika dia sendirian menatap bintang, mendengar debur air terjun, pikirannya menerawang sosok suaminya. ”Betapa aku merindumu, Geni. Seakan ingin kembali ke masa lalu agar aku bisa memperbaiki semua kesalahanku.”
Siang itu hari kedua awal bulan Iyestha suasana perkampungan di Welirang sunyi dan hening. Hanya terdengar suara kicau burung dan gemuruh air terjun. Wisang Geni duduk diserambi rumah, memandang kerimbunan hijau alam sekitarnya.
Kemarin sore dia bersama rombongannya tiba di Welirang. Sepanjang malam, bahkan juga sejak pagi tadi dia masih belum bisa menetapkan keputusannya.
Dia memandang danau, yang kecipak airnya tampak mengilat disinari matahari siang yang terik.
Dia tahu ditepi danau nun diseberang, di rumah kecil itu putrinya menunggu. Mungkin si kecil itu sedang bermain-main dengan ibunya. Dia kangen Anggreni. Tetapi juga merindu Gayatri. Sejak memijak kaki di Welirang, sosok Gayatri dan Anggreni membayang terus.
“Gayatri, lakon karmamu sungguh buruk. Aku bingung, mungkinkah menerima kamu kembali dalam pelukanku? Pikiranku berteriak kamu telah diperkosa, tubuhmu sudah dimasuki laki-laki lain. Sanggupkah aku mengatasi pikiran ini?” Dia bertanya kepada diri sendiri, namun tidak menemukan jawaban.
Ingin dia bertanya kepada angin, kepada pepohonan, kepada air terjun, untuk menemukan jawaban dari pergulatan hati dan benaknya. Menerima Gayatri kembali, mungkinkah? Atau melupakan Gayatri, menutup kisah cintanya dengan pendekar Himalaya yang telah memberinya seorang anak itu.
Dia mengingat kilas balik pengalaman cintanya bersama Gayatri, dulu sampai masa-masa bahagia di Welirang. Lalu dia ingat pukulan yang dilakukan Gayatri di hutan Kandangan yang membuat dia lumpuh sehingga pukulan maut Arjapura telah melukainya, dia nyaris tewas.
Berganti-ganti bayangan isterinya menari dibenaknya. Dia menghirup udara, memenuhi paru dengan udara pegunungan yang sejuk. Dia menenggak tuak, tabung yang kedua. “Apa yang harus kulakukan?” Bisiknya.
Dia mendengar desir angin dan langkah orang. Dia menoleh, melihat Sekar menghampiri.
Isterinya itu duduk disampingnya. “Katakan, apa yang membuatmu risau?”
“Tidak tahu. Aku bingung.”
“Gayatri? Kamu memikirkan Gayatri?” Sekar bertanya ramah, suaranya merdu sambil dia mengelus tangan suaminya.
“Aku tak tahu harus berbuat apa terhadap Gayatri. Aku kangen Angga, kalau mau ketemu Angga, pasti bertemu Gayatri. Lantas bagaimana sikapku?” Paras Wisang Geni tampak kusam petanda pikirannya sangat gundah dan bingung.
“Sebaiknya aku tidak memberi pendapat, semua terserah kamu.” Kata Sekar yang sebenarnya tak ingin Gayatri masuk kembali dalam kehidupannya. Hadirnya seorang Atis sebagai saingan telah membuatnya menderita. Cemburu. Dia tak ingin ada wanita lain dalam kehidupannya bersama Wisang Geni.
“Dia bersalah padaku, aku harus menghukumnya,” Wisang Geni diam sejenak lalu melanjutkan. “Itu aturan kependekaran. Kalau tidak kuhukum, aku akan menjadi tertawaan semua muridku. Tetapi dia itu ibunya Angga.”
Bersikap hati-hati supaya tidak ada kesan cemburu atau iri, Sekar menyahut datar. “Kamu laki-laki berilmu tinggi, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan.”
“Apa pendapatmu jika aku mengampuni Gayatri?” Bisik Wisang Geni, suaranya gemetar, ada rasa takut dan bimbang. Dia butuh dukungan Sekar. Jika Sekar setuju dan mendukungnya, rasanya dia sanggup mengatasi semua persoalan menyangkut Gayatri.
“Mengapa bertanya padaku?”
“Bagiku, pendapatmu, setuju atau menolak Gayatri, sangat penting artinya bagiku.” Tutur Wisang Geni lirih.
“Keputusan ada ditanganmu. Aku tak punya pendapat tentang itu.” Kata Sekar. Dalam hati dia menyumpahi kebodohannya. “Mengapa aku berbohong, seharusnya aku jawab tidak perlu menerima Gayatri kembali dalam keluarga.”
Gayatri sedang bermain-main dengan Anggreni didalam rumah ketika Wisang Geni muncul mendadak. Dia memandang paras suaminya, tapi tak berani lama-lama meski begitu besarnya keinginan melempar diri kedalam pelukan suaminya.
Diam-diam dia melirik suaminya. Tampak air muka Wisang Geni sulit ditebak. Tak ada emosi yang tampak. Hanya begitu mendengar teriak Anggreni, “Geni, Geni!” Air muka laki-laki itu tampak berseri-seri.
“Angga si cantik, sayangku.” Tangannya mengembang, angin tenaga-dalamnya yang lembut mengangkat tubuh anak kecil itu, perlahan-lahan melayang ke arahnya.
“Ibu, ibu, aku terbang.” Seru Anggreni gembira. Saat berikut dua tangannya yang mungil memeluk leher bapaknya. “Geni, aku sudah lama menunggu kamu. Mana mas Seno?”
Wisang Geni memeluk putrinya, memandang wajahnya yang cantik lucu. Lesung pipitnya dan tahi lalatnya. “Mas Seno, berlatih silat di laut kidul.”
“Aku juga berlatih silat, eyang guru mengajari aku.” Kata Anggreni.
“Siapa eyang guru?” Tanya Wisang Geni.
Mendadak terasa angin lembut berkesiur di ruangan. Nenek Jubah Kuning muncul di hadapan Wisang Geni, jaraknya lima meter. Tak ada bunyi tapak kakinya, petanda ringan-tubuh yang sangat mumpuni. Wisang Geni tidak bereaksi, tidak curiga, karena bisa menebak dialah Nenek yang diceritakan Prastawana, pendekar wanita yang telah menyembuhkan Gayatri dari racun bius dan menolong Anggreni dari ancaman Arjapura.
“Aku eyang gurunya, maafkan aku Ki Wisang Geni, karena sudah lancang mengajari anakmu, terus terang aku tidak tahan melihat bakat luar biasa yang dimiliki putrimu. Dia bakal jadi pendekar besar.”
Wisang Geni masih memeluk putrinya, membungkuk memberi hormat. “Terimalah hormat dan terimakasihku karena telah menyelamatkan isteriku dan anakku.” Sambil dia menoleh memandang Gayatri yang duduk bersimpuh ditanah seperti pesakitan.
Jantung Gayatri berdebar kencang melihat tatapan suaminya. Sejak kehadiran, baru sekali itu Wisang Geni memandangnya. Dan tatapan itu sangat misterius. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, Gayatri ketakutan.
“Maafkan aku yang telah mengangkat Gayatri sebagai muridku.” Kata si nenek.
Wisang Geni tersenyum. Matanya menatap tajam mata si Nenek yang tampak bening bagai sumur tanpa dasar. “Terimakasih atas kebaikanmu. Boleh aku tahu, kisah pertemuanmu dengan isteriku?”
Nenek itu menutur singkat pertemuannya dengan Gayatri yang sakit parah. Bagaimana dia mengeluarkan racun bius dari tubuh muridnya. Betapa jahat dan hebatnya racun bius itu yang dari hari ke hari akan membuat Gayatri berubah menjadi tengkorak hidup dan mati dalam waktu tigapuluh hari.
“Terlambat sepuluh hari, aku pun tak akan sanggup menolong Gayatri. Tetapi sekarang semua sudah berlalu, Gayatri sudah sembuh, tubuhnya sudah bersih, semua kotoran dalam tubuhnya telah keluar. Tidak ada lagi bekas peninggalan penjahat itu dalam tubuh Gayatri.”
Anggreni yang sibuk memainkan rambut panjang bapaknya, berkata. “Eyang guru, hari ini kita main apa?”
“Sekarang sudah sore.” Kata Nenek Jubah Kuning. “Kita pergi ke batu besar, duduk-duduk, berlatih silat, dan meniup suling.”
“Tadi pagi, aku berenang sama ibu, aku naik dipunggung ibu, lalu ibu berenang cepat. Aku tidak jatuh.”
“Kamu tidak jatuh?” Kata Wisang Geni sambil menciumi leher anaknya.
“Aku memegang pundak ibu,” Angga tertawa geli. “Aduh Geni, cambangmu tajam.”
“Aku gemas, sebab kamu cantik.” Kata Wisang Geni.
“Geni, kamu janji mau ajak aku ketemu mas Seno?”
“Kamu masih ingat?” Tanya Wisang Geni. “Iya, nanti kita pergi ke rumah mas Seno.”
“Anakmu itu sangat cerdas, sekali kuajarkan langsung dia mengerti, ingatannya tajam, ini bakat yang sangat langka.” Potong Nenek Jubah Kuning. Dia mengulur dua tangannya. “Ayo Angga, ikut eyang, kita main-main di batu besar, mau?”
“Mau!” Seru Anggreni, lalu berkata kepada bapaknya. “Geni jangan pergi lagi, aku masih kangen, tapi sekarang aku main dulu dengan eyang guru.”
Wisang Geni merasa ada tenaga besar yang menarik putrinya, sesaat dia menahan anaknya. Terjadi benturan tenaga. Keduanya serentak melepas tenaga.
Nenek tertawa. “Tenagamu besar, pantas dijuluki nomor satu ditanah Jawa.”
“Itu pujian kosong, tenaga-dalam Nenek yang luar biasa, pantas Arjapura kabur setelah kamu sentil dengan kerikil.” Wisang Geni melepas dan mendorong putrinya ke arah si Nenek yang langsung mendekap dan menciumi.
“Geni, boleh aku panggil namamu begitu saja?” Kata si Nenek.
“Boleh, silahkan.” Kata Wisang Geni.
“Geni, anakmu ini anugerah untuk aku dihari tuaku, aku bahagia berada didekatnya. Terimakasih, kamu telah membolehkan aku mengajari anakmu, aku akan menurunkan semua ilmu-silatku kepadanya. Boleh?”
“Tentu saja boleh. Tetapi sebagai apa, cucu murid atau murid?”
“Cucu murid. Selama hidup aku tak punya murid apalagi cucu murid. Gayatri muridku, jadi Angga cucu murid.” Dia hendak pergi, berhenti sesaat. “Geni, isterimu sudah bersih, dia sudah seperti Gayatri sediakala.”
Nenek itu berkelebat pergi sambil menggendong cucu muridnya. “Angga, kita berlatih silat dan meniup suling dulu, setelah itu tangkap ikan.” Suaranya terdengar jauh.
Wisang Geni berkata. “Ilmu-silatnya sangat tinggi, tidak terukur.”
Ketika itulah Gayatri yang masih duduk bersimpuh diatas lutut, merayap cepat dan memeluk kaki suaminya. “Ampuni aku Mas, ampun.” Suaranya bercampur isak tangis.
Heran. Sejuta rasa heran menerpa benak Wisang Geni. Tak pernah sebelumnya Gayatri mau bersimpuh apalagi mencium kaki suaminya. Wanita itu terlalu angkuh dan merasa diri lebih tinggi derajat.
Gayatri masih memeluk dan mencium kaki suaminya. “Bunuh aku, kangmas Geni. Bunuh aku. Kesalahanku sangat besar padamu. Aku berkhianat berupaya membunuhmu. Tak ada ampun bagi kesalahan seperti itu.”
Wisang Geni diam. Memandang rambut isterinya yang ikal hitam.
“Sejak lama aku yakin kamu masih hidup dan akan mencari aku. Bunuh aku Mas. Aku tak akan melawan, aku rela dibunuh. Aku legowo meninggalkan Angga karena tahu ayahnya sangat mencintainya, sangat sayang pada putrinya.” Lalu dia menangis.
Wisang Geni mengamati punggung isterinya yang masih telungkup memeluk kakinya.
Gayatri kurus. Tubuhnya yang gemuk, susut banyak sekali. Tapi bokongnya itu masih semok. Pinggangnya kecil ramping. “Kemana tubuhnya yang gemuk dulu?” Gumamnya dalam hati.
Airmata Gayatri membasahi punggung kaki Wisang Geni yang diam mematung. “Mas bunuh aku, biarkan aku mati. Dosa dan penyesalan ini hanya bisa dibayar dengan kematian. Bunuh aku Mas, aku rela. Kamu pasti merawat Angga dengan baik. Kamu ayah dan suami yang baik, kamu sempurna. Selama ini aku banyak berbuat salah, terlalu mementingkan diri, terlalu sombong, tidak manut padamu, sering membantah, selalu curiga padamu, iri hati pada Sekar dan isterimu yang lain, kelakuanku buruk. Hari itu ketika di Jedung, aku bisa melihat semua kesalahanku, aku sadar dan berjanji akan memperbaiki diri menjadi isterimu yang manut. Tetapi ketika itulah nasib buruk datang padaku. Aku tidak membela diri, kesalahanku sangat besar, bunuh aku Mas, aku rela mati.”
(Continue published 35/July 29th)