Tuesday, August 10, 2010

World Cup 2010 Spain New Champion

World Cup 2010 (36) Spanyol Juara Baru
Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Dari Kesalahan Wasit Sampai Gurita
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 12 Juli 2010

Dimulai di Johannesburg 11 Juni berakhir di kota yang sama 11 Juli, Piala Dunia Afrika Selatan telah menjadi bagian sejarah, milik masa lalu. Menit 116 atau 26 menit perpanjangan waktu gol Andres Iniesta memenangkan Spanyol gelar 2010, gelar Piala Dunia yang belum pernah diraih skuad La Roja. Iniesta pemeran penting permainan Spanyol, juga aktor teatrikal yang sepanjang permainan melakukan intimidasi terhadap wasit Inggeris Howard Webb. Uniknya Webb juga tak memberi teguran kepada pemain Spanyol yang mendramatisir tackling lawan dan memancing Webb untuk mengeluarkan kartu untuk pemain Oranje.
Piala Dunia 2010 banyak diwarnai kontroversi wasit. Paling parah, adalah kesalahan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Pablo Fandino yang tidak mensahkan shooting Frank Lampard yang mengena mistar dan memantul ke bawah, sekitar satu meter di dalam garis gawang. Gol. Memang gol! Tayangan ulang memperlihatkan error besar keputusan wasit FIFA itu. Seandainya gol, maka skor 2-2 dan mungkin hasil pertandingan akan jadi lain.
Wasit Italia, Roberto Rosetti mundur dari perwasitan. Dia malu atas error keputusannya yang mensahkan gol sundulan Carlos Tevez ke gawang Mexico. Gol pertama Argentina menit 26 itu nyata-nyata Tevez dalam posisi off-side. Dia tak mau mendengarkan protes pemain Mexico. Kejadian di stadion Soccer City Johannesburg sungguh dramatis, Mexico kalah 1-3.
Dua keputusan kontroversial wasit di partai Inggris vs Jerman dan Argentina vs Mexico memancing protes dan kritik pers dan publik kepada FIFA. “Sebaiknya FIFA menggunakan tehnologi video untuk membantu memutuskan bola masuk gawang atau tidak. Usul ini sudah pernah diajukan tapi ditolak FIFA. Kini melalui presiden Blatter, FIFA akan membuka peluang masuknya teknologi video untuk didiskusikan.
Partai USA versus Slovenia melibatkan error wasit Mali, Koman Coulibaly yang dengan pongah menganulir gol Maurice Edu ke gawang Slovenia. Katanya Edu offside padahal jelas-jelas onside. Gol Luis Fabiano ke gawang Pantai Gading, error wasit Stephane Lannoy yang tidak melihat handsball penyerang Brazil itu. Wasit Lannoy ini juga memberi kartu kuning kepada Kaka –kartu yang kedua yang berarti kartu merah- atas pelanggaran (sandiwara) pemain Pantai Gading, Kadar Keita. Lalu wasit Spanyol, Alberto Undiano mengkartu-merah (kuning yang kedua) kepada Miroslav Klose, Jerman versus Serbia.
Sebelum 2010, Perancis mendapat keuntungan dari error besar wasit Swedia Martin Hansson yang tidak melihat –padahal berada dalam jarak dekat dengan kejadian- “double handsball” Thierry Henry yang memberi passing kepada Gallas mencetak gol penting yang mengantar Perancis ke Afrika Selatan 2010, Republik Irlandia protes tapi FIFA bergeming. Perancis maju ke 2010 dengan kutukan orang-orang Irlandia. Perancis ternyata bawa sial, tersingkir di grup dan menjadi juara dunia yang pertama yang pulang kampung.
Mundur kebelakang, Piala Dunia 2002, tuan rumah Korea Selatan maju ke semifinal dengan beberapa error keputusan wasit ketika mengalahkan Italia dan Portugal. Tetapi paling kontroversial adalah error wasit Mesir, Gamal Ghandour yang menganulir dua gol Spanyol ke gawang Korea Selatan. Yang pertama gol bunuh diri Kim Tae Young menurut Ghandour terjadi pelanggaran pemain Spanyol Ivan Helguera atas Kim. Rekaman tidak terlihat adanya pelanggaran. Gol kedua sundulan Fernando Morientes dari umpan Joaquin, dianulir. Asisten wasit angkat bendera, bola sudah keluar garis duluan. Ternyata tidak. Skor 120 menit 0-0 dan Spanyol kalah adu pinalti.
Kontroversial wasit Tunisia, Bennaceur, yang tidak melihat gol handsball Diego Maradona partai Argentina vs Inggeris di stadion Azteca 22 Juni 1986. Penonton 114.580 melihat jelas Maradona melompat “duel” dengan Peter Shilton, tangan Maradona menyodok bola yang masuk ke gawang Shilton. Pemain Inggeris terpahna, penonton pun protes atas kelicikan Maradona dan “tidak bagusnya mata” wasit. Empat menit kemudian, Maradona menggiring melewati enam pemain Inggeris berikut Shilton dua nol. Penonton lupa akan kesalahan “tangan Tuhan” tadi. Gol balasan Gary Lineker menit 80 tidak menolong Inggeris yang terpaksa pulang kampung.
Kalau handsball Maradona dan Thierry Henry melahirkan gol, lain lagi dengan handsball Luis Suarez yang menggagalkan gol Ghana ke gawang Uruguay. Wasit Olegario Benquerenca dari Portugal mengkartumerah Suarez dan hukuman pinalti untuk Ghana. Tapi pinalti menit akhir itu gagal dimanfaatkan Asamoah Gyan. Skor draw dan Ghana “black star” wakil terakhir Afrika kalah adu pinalti terpaksa angkat koper dengan iringan tangis seluruh rakyat Afrika.
Dalam konperensi pers, Oscar Tabarez, pelatih Uruguay membela Suarez. “Itulah intuisi pemain, dan Suarez sudah dihukum kartu merah, juga pinalti, tapi Gyan tidak mencetak gol, apakah Suarez harus dihukum lagi?” Alasan dan komentar brilian, kasus ditutup. Mau protes apalagi Ghana?
Piala Dunia kali ini, binatang ikut masuk pasar tarohan. Dunia sudah berubah memang. Paranormal beralih ke binatang. Gurita yang bernama Paul, the octopus, dari akuarium Oberhausen Jerman ikut meramal. Jerman kalah, Spanyol menang. Ternyata benar. Karuan saja fans Jerman ngamuk maunya si Paul itu digoreng dan dimakan. Kepercayaan pemain Jerman yang memaksa pelatih Joachim Loew mengenakan sweater birunya juga tak menolong kekalahan dari Spanyol di semifinal.
Spanyol La Roja melengkapi jejak prestasi fantastisnya, juara Euro 2008 berlanjut juara Piala Dunia 2010. Jadi kalau Paul si gurita meramal Spanyol mengalahkan Belanda dan keluar sebagai juara, itu masuk akal juga sebab jauh hari sebelum dimulainya Piala Dunia 2010 rumah judi William Hill di London sudah menjagoi Spanyol sebagai juara 2010. Jadi sebenarnya Paul si Gurita hanya menjiplak dari rumah judi William Hill. Ada lagi, di Singapura burung parkit bernama Mani di distrik little indian meramal Belanda menang di final, tapi toh kalah. Jadi bukan gurita Paul yang hebat ramalannya, rumah judi William Hill lebih hebat.
Belanda memang kalah, kapten Giovanni van Bronckhorst sangat bersedih seperti juga Wesley Sneijder dan Arjen Robben, dan tentu saja Bert Van Marwijk si pelatih Oranje. Tapi Gio Van Bronckhorst patut bangga, diujung karirnya sebagai pemain dan di turnamen Piala Dunia, shooting-range jarak jauh yang menggeledek di menit 18 yang membobol gawang Uruguay yang dikawal Fernando Muslera mungkin tergolong gol paling spektakuler. Sampai jumpa di Brazil 2014 demikian komentar FIFA. ***

World Cup 2010 Preview Final Netherland vs Spain

World Cup 2010 (35) Preview Final
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Kekuatan Belanda Pulih
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 9 Juli 2010

Dua juara dunia tersingkir di semifinal. Uruguay, juara dunia 1930 dan 1950 digusur Belanda, lalu Jerman juara 1954, 1974, 1990 ditekuk Spanyol. Jadilah dua tim yang tak pernah mencicipi gelar juara dunia itu saling berhadapan dalam kombat partai puncak perhelatan akbar sepakbola FIFA World Cup 2010. Pemenangnya akan menjadi juara dunia ke-delapan menyusul tujuh lainnya, Uruguay, Italia, Jerman, Brazil, Inggeris, Argentina dan Perancis.
Semifinal kemarin merupakan antiklimaks bagi “die mannschaft” Jerman asuhan Joachim Low, tidak terlihat keganasan sepakbola ofensif versi Jerman seperti penampilan saat menghantam Inggeris dan Argentina. Hampir sepanjang pertandingan, Jerman membiarkan “Espana La Roja” memainkan bola semaunya. Short passing one touch football dimainkan Iniesta, Xavi, Xabi, Ramos, dengan leluasa. Tak ada gangguan dan pressure dari Schweinsteiger Cs. Itulah kesalahan taktik strategi Jerman dan yang membuat pertandingan jadi berat sebelah, tidak enak ditonton, sepertinya Jerman sudah kalah sebelum gol sundulan Carles Puyol menembus gawang Neuer.
Taktik menjaga daerah yang diperagakan Jerman tidak ada salahnya, namun seharusnya dikemas dengan pressure pada setiap pemain La Roja yang memegang bola, bahkan seharusnya Inesta dan Xavi Hernandez diisolir artinya dijaga ketat. Sayang sekali Jerman tidak melakukan pressure sehingga Iniesta dan Xavi dengan bebas bisa berkreasi mengatur serangan. Tentu kita masih ingat bagaimana Swiss mematikan “one touch football” Iniesta Cs dengan berjaga di daerah sendiri sambil menerapkan pressure ketat. Sayangnya Jerman tidak meniru taktik Swiss itu.
Sebaliknya justru Spanyol yang menerapkan taktik pressure kepada setiap pemain Jerman khususnya mematikan ruang gerak Schweinsteiger dan Mesut Osiel. Selain itu, Carles Puyol mengatur lini belakangnya dengan rajin dan disiplin melapis sektor rusuk sehingga terobosan Jerman dari sayap berhasil diredam. Semuanya tergambar dalam partai semifinal kemarin dimana Spanyol berhasil memberangus kehebatan Jerman.
Kemarin itu tujuh pemain Barcelona menjadi starter skuad Del Bosque, kejadian yang pertama kali dalam sejarah semifinal Piala Dunia dimana 7 pemain dari satu klub menjadi starter suatu tim. Empat puluh tahun lalu Uruguay diwakili 7 pemain klub Nacional di Mexico 1970, sebelum itu di Piala Dunia 1934 Cekoslowakia diwakili 7 pemain Slavia Prague. Tujuh pemain Barca itu termasuk David Villa yang baru saja resmi pindah dari Valencia, enam lainnya Carles Puyol, Gerard Pique, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Andres Iniesta dan Pedro.
Kehadiran 7 pemain Barcelona, katakanlah enam karena David Villa baru saja pindah, memberi kontribusi besar dalam kekompakan permainan di lapangan. Bahkan untuk tim nasional skuad Del Bosque itu sudah main bersama selama empat tahun sejak pasca tahun 2006. Konon inilah generasi emas Spanyol, hampir semua pemain dibekali tehnik individu yang tinggi. Mereka menguasai lini tengah dengan penguasaan bola yang prima, short passing akurat disertai umpan terobosan yang seringkali menggoyahkan pertahanan lawan.
Benar yang dikatakan orang, sejarah dan track-record masa lalu tidak banyak berperan atas menang kalahnya suatu tim. Spanyol tidak terpengaruh dengan kemenangan 1-0 atas Jerman di final Euro 2008, mereka tidak meremehkan lawan, mereka menganggap Jerman sebagai lawan paling serius. Itu sebab mereka tampil begitu meyakinkan di lapangan. Yang kita tonton kemarin adalah Spanyol memainkan gaya permainan yang mereka sukai sebaliknya Jerman tak mampu memainkan gaya ofensif mereka. Tampaknya kekalahan Jerman di final Euro 2008 tergambar lagi kemarin.
Setelah kekalahan yangmengejutkan 0-1 dari Swiss, La Roja bangkit, bekerja keras memperbaiki penampilannya. Skuad Vicente Del Bosque berhasil kembali ke permainan aslinya. Skuad ini semakin solid dan matang dibanding ketika menjuarai Euro 2008. Mungkin pantas disebut sebagai tim paling terkemuka di dunia saat ini. Pantaslah jika skuad ini dijagokan oleh rumah judi William House sebagai favorit utama.
Dalam partai puncak Minggu malam di Johannesburg La Roja diunggulkan diatas Belanda. Pers memberi judul besar, mampukah Oranje menahan Spanyol? Mampukah Belanda merebut gelar dunia setelah menerobos final yang ketiga kalinya? Apakah Oranje akan kalah lagi di final seperti tahun 1974 dan 1978 silam?
Kedua tim, Belanda dan Spanyol, sangat ambisius merebut gelar. Sepakbola Belanda yang ofensif dan efisien sebagai ciri skuad Bert van Marwijk telah melaju ke finalnya yang ketiga di Piala Dunia. Skuad Oranje mencatat rekor 25 pertandingan tanpa pernah kalah. Di 2010 mencatat 6 kemenangan beruntun, suatu rekor sempurna, 3 kali menang di penyisihan grup berlanjut babak 16 Besar, perempat final dan semifinal. Rekor fantastis, enam kemenangan beruntun itu menyamai skuad Brazil ketika dengan “attacking football” merebut gelar dunia di Mexico 1970.
Di final nanti Oranje kembali diperkuat dua pemain intinya, wing-back klub Ajax, Gregory Van Der Wiel dan gelandang Manchester City Nigel De Jong yang harus absen di semifinal lantaran akumulasi kartu kuning. Kekuatan inti Belanda sudah pulih kembali. Maarten Stekelenburg, John Heitinga, Joris Mathijsen, Giovanni Van Bronckhorst, Mark Van Bommel, Dirk Kuyt, Robin Van Persie, Wesley Sneijder, Arjen Robben, Gregory van der Wiel dan Nigel de Jong.
Materi pemain yang lengkap hanya diperlukan taktik dan strategi yang jitu untuk menghadapi Spanyol yang di atas kertas lebih diunggulkan. Permainan ofensif dan efisien tetap jadi pilihan Bert Van Marwijk. Kubu La Roja pasti akan memainkan winning-teamnya yang bermaterikan 7 pilar Barcelona. Semua pemain intinya tidak berhalangan. Iker Casillas, Gerard Pique, Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Xavi Hernandez, Joan Capdevila, Xabi Alonso, Sergio Ramos, Sergio Busquets, dan Pedro. Penampilan Pedro yang gemilang di semifinal menjadikan dia pilihan pertama menggantikan Fernando Torres.
Setelah kekalahan di semifinal, pelatih Jerman Joachim Loew memuji lawannya. “Spanyol tim yang bagus. Mereka mendikte permainan. Anda bisa lihat itu dalam setiap passing yang mereka lakukan, mereka sulit dikalahkan. Mereka sangat kalem, dingin dan meyakinkan. Mereka lebih baik dari kami dan pantas menang.” Kata Loew.
Diatas kertas Spanyol akan menang, begitulah prediksi banyak orang. Bagi Belanda, pelajaran kekalahan Jerman dan kemenangan Swiss ketika tanding lawan Spanyol sebaiknya menjadi cermin taktik dan strategi menahan laju Spanyol. Mampukah Oranje membungkam Spanyol tergantung pada taktik Van Marwijk serta “fight”nya Van Bronchkorst Cs. Tetapi satu hal yang jelas, Piala Dunia 2010 akan menghasilkan juara dunia baru, juara dunia ke-delapan. ***

World Cup 2010 Preview Final

World Cup 2010 (34) Preview Final
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Belanda versi Bert van Marwijk
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 8 Juli 2010

Tidak gampang bagi suatu tim untuk mencapai grandfinal Piala Dunia, partai puncak dari pesta sepakbola paling akbar sejagad. Perjalanan berliku, penuh kerikil dan batu sandungan. Belanda sudah melaluinya dengan style dan kefasihan sepakbola menyerang. Semifinal lawan Uruguay kemarin adalah kerikil paling tajam dan berbahaya, jika tidak waspada sudah pasti skuad Bert Van Marwijk akan tumbang alias menyerahkan tiket final kepada Uruguay.
Pertandingan kemarin cukup menarik dan enak ditonton. Dua tim main menyerang. Tetapi karena kalah kualitas dan tehnik serta absennya kartu as Luis Suarez maka Uruguay berada dibawah tekanan Belanda. Setelah unggul 1-0 skuad Oranje sedikit mengendur, akibatnya kendali permainan beralih dikaki Diego Forlan Cs yang akhirnya berhasil menyamakan skor.
Di babak kedua Belanda kembali ke permainan aslinya, style dan fasih menyerang sehingga menciptakan gol 2-1. Belajar dari pengalaman babak pertama, Belanda tetapi main dalam tempo yang diinginkan. Skor 3-1 Belanda tetap bergairah. Uruguay dalam tekanan. Beberapa peluang disia-siakan Robben dan Van Persie. Sepuluh menit akhir, Belanda mengendur, saat itulah Uruguay kembali menguasai dan mengurung gawang Belanda yang menciptakan gol balasan.
Ada catatan penting bagi Belanda bahwa tempo permainan, kefasihan menyerang harus tetap terjaga meskipun sudah unggul. Ketika tempo mengendur maka lawan yang tadinya tertekan akan menggeliat bangkit dan menyerang balik. Seharusnya Belanda tetap menyerang “haus gol” meski sudah unggul satu atau dua gol. Mungkin Wesley Sneijder Cs perlu menoleh ke belakang mengingat total-football era 70-an yang dimainkan skuad Oranje versi Rinus Michels.
Sudah menjadi bagian sejarah, revolusi sepakbola Belanda dimulai di bulan Januari 1965, terjadi keputusan hebat dalam rapat manajemen Ajax. Pelatih Vic Buckingham dipecat dan digantikan Rinus Michels. Tidak ada yang hebat dari Rinus Michels ini, dia hanya seorang guru olahraga kelahiran tahun 1928, pernah 5 kali memperkuat tim nasional Belanda sebagai kiri dalam -dari system WM- di tahun 1950an. Dia bahkan tidak populer di mata pemain, lantaran disiplinnya yang kelewat keras.
Tetapi dia membawa suasana baru, konsep permainan menyerang yang di kemudian hari menjadi trade mark semua sekolah sepakbola Ajax sampai ke klub profesionalnya dan merambah ke pembinaan sepakbola Belanda termasuk tim Oranje sampai sekarang ini.
Konsep menyerang Michels ini membawa Ajax ke era emas, menyabet gelar juara Liga Belanda musim berikutnya 1966. Lalu juara ganda – juara Divisi Utama dan juara Piala Liga – tahun 1967. Berlanjut juara Divisi Utama tahun 1968 dan 1970. Semuanya dibawah pimpinan Rinus Michels. Dia membawa Ajax ke final Champions Cup Eropa tahun 1969 namun kalah dari AC Milan 1-4. Masa itu Ajax diperkuat superstar Johan Cruyff.
Dua tahun kemudian Ajax ke final Champions Cup 1971, ada pemain baru gelandang serang Johan Neeskens dan Arie Haan. Kali ini Ajax menjadi juara Eropa setelah menang atas Panathinaikos 2-0. Setelah sukses gemilang ini, Rinus Michels meninggalkan Ajax ke Barcelona dengan gaji melangit.
Pengganti Michels, adalah orang Rumania eks pelatih Steaua Bucharest, Stefan Kovacs yang hanya perlu melanjutkan apa yang sudah dirintis Rinus hampir 6 tahun lebih. Stefan Kovacs mempertahankan pemain inti seperti Barry Hulshoff centreback yang tangguh, Johan Cruyff superstar dan penyerang paling hebat, Johan Neeskens gelandang menyerang yang juga pekerja keras dan suntikan pemain baru gelandang bertahan Ruud Krol.
Ajax sukses mempertahankan gelar juara Champions Cup di tahun 1972 dengan kemenangan 2-0 atas Inter Milan. Tahun 1973 dengan menampilkan dua bintang baru Johnny Rep dan Arie Haan, Ajax melengkapi gelar “hattrick” Champions Cup dengan kemenangan 1-0 atas Juventus.
Begitu banyak pemain jebolan Ajax, membuat Belanda tidak punya kesulitan membentuk tim nasional yang tangguh dan yang sanggup bersaing di high-level football. Dominasi klub-klub Belanda di Eropa, diperlihatkan rival Ajax dari Rotterdam yakni Feyenoord yang mampu nyabet juara divisi utama Belanda di sela-sela kejayaan Ajax, tahun 1969, 1971 dan 1974.
Visi dan wawasan Michels jelas sekali, dia menanamkan pemainnya untuk bersikap lebih profesional dan ekstra disiplin. Dalam waktu tiga tahun dia mengubah pemain-pemain Ajax dari pola pikir sampai ke penampilan di lapangan, membentuk skuad yang kohesif dan harmonis dalam kemasan daya tahan kekuatan fisik. Dia tidak memilih 11 pemain terbaik, melainkan pemain yang mampu mengembangkan skill dengan efektif. Dia selalu memberi kesempatan kepada pemain baru untuk bermain bersama dan memetik pelajaran dari pemain senior.
Konsep Rinus Michels yang dikenal sebagai “total football” sempat menghiasi koran dan media. Bahkan di dua Piala Dunia 1974 dan 1978 mampu melaju sampai final. Oranje gagal jadi juara hanya sebab yang dihadapi di final adalah tim tuan rumah. Jerman Barat dan Argentina. Namun gaya style dan kefasihan sepakbola menyerang ala Belanda tetap eksis sampai sekarang.
Bert van Marwijk, personal yang menyenangkan, cerdas dan intelek, sikapnya kalem, akrab dan bersosialisasi dengan semua pemain dan ofisial, dia pemersatu dan perekat tim. Dia belajar dari kegagalan Oranje di masa lalu yang selalu retak di dalam, selalu muncul pernik-perseteruan-ego-salah menyalahkan, yang menjadi penyebab Oranje sekian tahun tidak bisa lagi menapak final Piala Dunia. Dalam sekian tahun hanya satu piala besar yang dibawa Belanda, gelar Eropa 1988 bersama pelatih Rinus Michels, kapten Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ronald Koeman.
Hari Minggu 11 Juli mendatang, gelar dunia ada di depan mata, tak ada lagi kesempatan sebagus sekarang. Bert van Marwijk harus usaha keras menangkan final. Sneijder dan Robben, duo midfield. Sneijder kuncinya, Robben pemain vital. Keduanya dinamik.
Robben kualitas sangat penting sebab dia memancing defender lawan mengikuti gerakannya, memaksa dua lawan menjaganya, sehingga rekan lain bisa memanfaatkan celah dan lubang. Dia cepat, gesit dan licin. Belanda bersyukur dia sudah fit. Peran Sneijder sangat penting, mencetak gol dan merancang gol temannya. Kualitasnya tidak diragukan. Kita lihat apakah Belanda bisa menembus hambatan yang selama ini mengganjel upayanya menjadi juara dunia atau hanya sampai di posisi runner-up seperti dua Piala Dunia terdahulu? ***

World Cup 2010 Semifinal Germany vs Spain

World Cup 2010 (33) Semifinal
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Germany vs Spain
Loew Mengenal Lawan Lebih Baik
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 7 Juli 2010

Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, satu detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 Fernando Torres untuk timnasnya yang nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim Espana sejak tahun 1964 lampau. Itu adegan penting bagi sepakbola Spanyol, di final Euro 2008 tepatnya di kota Wina Austria 29 Juni pada menit 33.
Malam nanti 7 Juli semifinal Piala Dunia 2010 di Durban mempertemukan kembali dua tim itu, Spanyol juara Eropa yang berambisi meraih gelar dunia menghadapi Jerman juara dunia tiga kali, 1954, 1974 dan 1990 yang juga berambisi merebut gelar keempatnya. Dibanding final Euro 2008 skuad Jerman mengalami banyak perubahan pemain, tetapi pelatihnya tetap Joachim Loew. Sementara pemain Spanyol masih banyak yang eks 2008 tetapi tidak lagi didampingi sang pelatih Luis Aragones yang telah undur diri setelah meraih sukses besar itu.
Boleh ganti pelatih, Luis Aragones diganti Vicente Del Bosque, susunan pemain juga tidak mengalami perubahan maka gaya main pun tidak berubah. Masih sama identik, one-touch-football dengan short-passing yang jika diterapkan secara sempurna artinya minim error bisa membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin yang kental merupakan jawaban jitu mengimbangi permainan ofensif Jerman.
Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Sebagian besar materi pemain masih dari skuad 2008 seperti Iker Casilas, Carlos Marchena, Carles Puyol, Andres Iniesta, David Villa, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Xabi Alonso, Fernando Torres, Joan Capdevila, Sergio Ramos, David Silva. Skuad lama yang tak lagi jadi pilihan Del Bosque antara lain, Fernando Navarro, Santiago Cazorla, Sergio Garcia, Daniel Guiza, Marcos Senna, Juanito Gutierrez, Ruben De La Red.
Tampaknya Spanyol akan tampil menyerang. Karena hanya dengan menyerang maka Spanyol bisa menahan laju Jerman. Tim ofensif dengan kemampuan menyerang dan mencetak gol yang tinggi seperti Jerman tidak bisa dihadapi dengan gaya bertahan. Apalagi selama ini Spanyol tak pernah main bertahan, hingga mustahil bisa mengubah gaya main dari “attacking” ke “defensive” hanya dalam satu minggu. So jelaslah Spanyol akan main attacking seperti biasanya. “Kami akan main menyerang seperti biasanya.” Tegas Del Bosque.
Satu hal yang menguntungkan Jerman dan tidak begitu nyaman bagi Spanyol, adalah Joachim Loew tahu persis kuat lemahnya Spanyol, karena nyaris tidak ada perubahan dengan tim yang dihadapi Jerman di final Euro 2008. Materi pemain dan gaya main yang sama.
Sebaliknya kekuatan “die mannschaft” yang sekarang sungguh beda. Setelah menggilas Inggeris 4-1 dan Argentina 4-0 tampak sekali taring “die mannschaft” begitu menakutkan dan yang saya kira bisa menghancurkan tim manapun juga.
Del Bosque bisa saja mempelajari Jerman dari rekaman lima pertandingannya di 2010 tapi itu hanya teori diatas kertas. Del Bosque dan skuadnya belum mencicipi laga sebenarnya di lapangan dengan Jerman yang sekarang ini. Materi pemain Jerman dan pola main berubah.
Sebagian besar skuad Euro2008 tidak lagi memperkuat Jerman 2010, ada yang cidera sebagian lain memang tidak dipanggil, seperti tiga kiper lawas Jens Lehmann, Robert Anke, Rene Adler, bek Clemens Fritz, Heiko Westermann, Christoph Metzelder, gelandang Simon Rolfes, Torsten Frings, Michael Ballack, Thomas Hitzlsperger, Tim Borowski, David Odonkor, penyerang Kevin Kuranyi dan Oliver Neuville.
Sebagai gantinya masuk para pemain muda yang rata-rata berusia 20-22 tahun dan yang sebagian diantaranya dari skuad U-21 yang juara Eropa 2009 kemarin. Jerome Boateng, Marko Marin, Toni Kroos, Holger Badstuber, Thomas Mueller, Mesut Oziel, Sami Khedira, Serdar Tasci, Dennis Aogo, dan kiper Manuel Neuer yang berusia 24 tahun. Materi berubah. Pola main lebih ofensif, karena materi “young guns” yang masuk starter XI memiliki ambisi, spirit, skill dan tenaga muda yang mampu bermain dalam tempo tinggi selama 90 sampai 120 menit.
Sudah pasti pertandingan akan menarik, dan pasti tidak kalah kualitas dan tidak kalah menarik dibanding partai Brazil versus Belanda atau Inggeris kontra Jerman. Kedua tim akan saling menyerang dan bertahan sama baiknya.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final nanti malam. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, seperti juga Iniesta Cs tahu tangguhnya midfield Jerman. Sektir midfield inilah yang akan menjadi kunci kemenangan, tim mana yang lebih menguasai sektor tengah ini dialah yang lebih berpeluang menang. Dua tim akan sama melakukan “pressure” terhadap pemain lawan yang menguasai bola.
Shcweinsteiger, Khedira, Oziel, Podolski dan pengganti Mueller yang mungkin saja Toni Kroos, akan bertarung ketat dan adu kejelian dengan Iniesta, Alonso, Xavi, Ramos, Fabregas atau Silva. Striker Miroslav Klose akan bersaing dengan David Villa, keduanya sama-sama produktif selama di Afrika Selatan. Tidak boleh ada error sekecil apapun, satu kesalahan akan segera dimanfaatkan lawan menjadi gol.
Kelebihan Joachim Loew sebagai pelatih yang jeli dalam merancang strategi dan membaca permainan lawan akan menjadi kunci kemenangan Jerman, dibanding Vicente Del Bosque. Kans menang ada di kubu Jerman, namun sepakbola mengandung misteri seperti misalnya faktor keberuntungan, faktor kesalahan wasit, faktor emosional. Misteri inilah yang membuat sepakbola sulit ditebak. Kita lihat saja, tim mana yang lebih beruntung. ***

World Cup 2010 (32) Netherland vs Uruguay Semifinal

World Cup 2010 (32) Semifinal
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Netherland vs Uruguay
Belanda Lebih Berpeluang Ke Final
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 6 Juli 2010

Belanda dan Uruguay akhirnya sampai juga di semifinal, mimpi indah yang tadinya hanya bayang-bayang, kini jadi kenyataan. Namun tiket itu diraih melalui sensasi dan drama partai perempat final yang mencekam. Brazil dengan cepat unggul satu gol di menit 10, dan tampaknya akan keluar sebagai pemenang ketika Robinho mengecoh kiper Maarten Stekelenburg. Belanda shok dan tertekan, tapi beruntung bagi skuad Oranje bahwa Robinho, Kaka Cs gagal menambah gol. Konon lelucon sepakbola, bahwa dewi fortuna alias dewi keberuntungan “ngambek” telah memberi peluang kepada Brazil namun dibuang begitu saja, maka sang dewi pun pindah ke kubu Belanda. Itulah keruntungan bagi Belanda.
Dibabak kedua Belanda “fight back” mengejar ketinggalan. Bertarung gigih, keberuntungan pun datang. Menit 53 bola lambung Sneijder ke mulut gawang seharusnya bisa diusir kepalan tangan Julio Cesar namun kepala Felipe Melo lebih dahulu menyundul bola yang justru melenceng ke belakang dan menusuk gawang sendiri, bunuh diri. Satu satu. Ganti Brazil yang shok dan tertekan. Menit 68 lini belakang Brazil lengah, Sneijder bebas di mulut gawang tanpa terkawal, menyundul bola, Julio Cesar mati langkah. Dua satu Belanda ke semifinal.
Belanda memang beruntung memperoleh gol bunuh-diri Felipe Melo. Jika keberuntungan itu datang di stadion Monumental Buenos Aires 25 Juni 1978 di menit 90 partai final, maka hari itu Belanda yang jadi juara bukannya tuan rumah Argentina. Pada skor 1-1 tendangan keras Robbie Rensenbrink membentur tiang dan bola memantul kembali ke lapangan permainan, penonton 71.483 yang hampir seluruhnya orang Argentina nyaris saja larut dalam tangis berdarah. Dalam perpanjangan waktu Argentina menambah dua gol, jadilah skor 3-1 dan Belanda harus puas dengan posisi runner-up, predikat kedua setelah kalah di final 1974 dari Jerman Barat.
Keberuntungan adalah bagian dari sepakbola, bagian dari kemenangan bagi satu pihak dan “sial” bagi tim lawan. Uruguay juga beruntung lolos dari hadangan Ghana yang didukung seluruh rakyat Afrika. Luis Suarez menahan bola tendangan Dominic Adiyah, wasit memberinya kartu merah dan hukuman pinalti di menit akhir perpanjangan waktu.
Tapi pinalti Asamoah Gyan gagal. Skor tetap 1-1 maka kemenangan ditentukan lewat adu pinalti. Kiper Fernando Muslera memblok dua tendangan John Mensah dan Adiyah. Lalu striker Sebastian Abreu yang dijuluki “El Loco” menjaring bola membawa “La Celeste” ke semifinal. Itulah keberuntungan Uruguay.
Malam nanti kedua tim saling berebut tiket final. Inilah partai yang menentukan sampai dimana dan kepada tim mana keberuntungan itu memihak. Belanda akan tampil dengan skuad terbaik yang telah menyingkirkan Brazil. Bert van Marwijk punya masalah, bek Gregory van der Wiel dan gelandang Nigel de Jong harus absen kena akumulasi kartu kuning. Namun dengan materi yang hampir merata, Bert van Marwijk tidak terlalu pusing mencari gantinya.
Bagaimanapun juga tumpuan permainan Belanda ada di kaki Arjen Robben, Wesley Sneijder, Mark van Bommel, Dirk Kuyt dan pengganti De Jong yang kemungkinan adalah Demmy De Zeeuw menopang striker Robin van Persie. Mereka diharapkan memainkan sepakbola ofensif dengan serangan bergelombang apalagi sekali-sekali dibantu kapten dan bek kiri Giovanni van Bronckhorst. Selama 2010 Belanda memenangkan 5 pertandingannya dengan gol 9-3.
Absennya pemain pilar juga menimpa Uruguay, pelatih “Oscar Tabarez “sang maestro” cukup terpukul dengan asbennya Luis Suarez. Tapi dia memuji striker yang main di klub Ajax itu, apa yang dilakukan dengan “tangan Suarez” itu adalah instink normal dan sangat berperan lolosnya “la celeste” ke semifinal. Mungkin saja “sang maestro” akan menurunkan veteran “nyentrik” Sebastian Abreu “El Loco” sebagai starter menggantikan Suarez.
Bek handal Jorge Fucile juga mengikuti jejak Suarez, harus nonton dari tribun, karena akumulasi kartu kuning yang diterimanya dalam pertandingan lawan Mexico dan Ghana. Belum terhitung pemain yang cidera yang masih dalam perawatan, gelandang Nicolas Lodeiro dan kapten Diego Lugano. Ketika lawan Ghana kapten Lugano ditarik keluar karena cidera dan menyerahkan ban kapten kepada Diego Forlan, Andres Scotti masuk menggantikan Lugano.
Organisasi bertahan Uruguay cukup solid, hanya kebobolan dua gol dalam 5 pertandingan. Saat hilang bola, pemain gelandang dan juga striker langsung bertarung merebut bola kembali. Mereka kembali pada posisi semula di separuh lapangan sambil menghadang serangan balik lawan. Organisasi ini sangat padu dan seirama, sehingga bisa menahan serangan cepat Korea Selatan dan Ghana. Tapi bisa digarisbawahi pertahanan Uruguay belum ketemu tim dengan daya serang setajam dan seampuh Belanda.
Saat menguasai bola, serangan balik Uruguay bisa saja membahayakan lini belakang Belanda jika Mark van Bommel, Giovanni van Bronckhorst tidak cepat melapis dan membantu John Heitinga Cs dibelakang. Sebaliknya, begitu menguasai bola Belanda akan menyerang cepat melalui sayap eksklusif Arjen Robben dan Dirk Kuyt. Terobosan Wesley Sneijder dan Robin van Persie dari tengah juga akan membuat Uruguay harus rapat menutup pertahanannya.
Dari kualitas individu maupun kerjasama menyerang Belanda lebih unggul. Dalam bertahan dengan semangat pantang menyerah yang menjadi ciri khas skuad “los Charruas”, tim la Celeste akan menjadi tembok tebal bagi agresifitas Belanda. Tampaknya permainan akan imbang, tetapi saya melihat Belanda bisa keluar sebagai pemenang tanpa harus adu pinalti, mungkin 90 menit mungkin juga 120 menit. Kita lihat saja. ***

World Cup 2010 (31) Semi Final

World Cup 2010 (31)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Juara Dunia Baru, Mungkinkah?
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 5 Juli 2010

Sejak dipentaskan tahun 1930 sampai kejadian di Afrika Selatan 2010, Piala Dunia hanya mengenal 7 negara yang pernah menjadi juara. Empat tahun lalu, Portugal satu-satunya non-juara yang lolos ke semifinal, tiga lainnya, tim juara, Jerman, Italia dan Perancis. Pada akhirnya yang sukses lolos ke final, dua mantan juara, Italia dan Perancis.
Tahun 2010 dari empat semi-finalis, dua antaranya non-juara, Belanda dan Spanyol. Dua lainnya eks juara dunia, Jerman dan Uruguay. Jadwal Belanda versus Uruguay dan Jerman versus Spanyol, memungkinkan terjadinya final antara dua non-juara Belanda versus Spanyol. Bisa juga antara dua tim juara dunia, Jerman kontra Uruguay. Atau Belanda versus Jerman atau Uruguay lawan Spanyol. Masih ada kemungkinan, bahkan cukup besar persentasenya, Afrika Selatan 2010 melahirkan juara baru, Belanda atau Spanyol.
Coba lihat data sejarah tentang kisah 7 juara merebut gelarnya yang pertama. Uruguay merebut gelar pertamanya di kandang sendiri 1930. Italia merebut gelar pertamanya ketika Piala Dunia diselenggarakan di Perancis 1938. Jerman merebut gelar pertamanya di Swiss 1954. Brazil menjadi negara ke-empat yang merebut gelar di Swedia 1958. Inggeris merebut gelar sebagai negara ke-lima di kandang sendiri 1966. Berikutnya Argentina di kandang sendiri 1978. Terakhir Perancis sebagai negara ke-tujuh di negerinya sendiri 1998.
Sudah 52 tahun berlalu, lebih separuh abad, sejak Brazil merebut gelar di Swedia 1958 sebagai juara dunia baru, belum ada negara yang merebut gelar sebagai juara baru ketika penyelenggaraan di negeri orang. Mungkinkah Belanda atau Spanyol? Lihat sejarah, Inggris juara baru di kandang sendiri, Argentina juara baru di depan publiknya di Buenos Aires, Perancis mampu menjadi juara baru di negeri sendiri. Kini 2010, mampukah Spanyol atau Belanda menjadi juara dunia di negeri orang?
Uruguay yang dijuluki “la celeste” dipimpin Oscar Washington Tabarez makin percaya diri dan termotivasi mengejar impian 60 tahun menjadi juara dunia. Dua kali juara dunia ini terakhir mencicipi gelarnya di Brazil tahun 1950. Setelah sukses itu Uruguay tenggelam dibawah dua negara latin yang jadi rival beratnya, Brazil dan Argentina. Uruguay terpuruk di level internasional, baru tahun 2010 ini bisa eksis lagi sebagai tim dunia.
Oscar Tabarez yang dijuluki “maestro” di negerinya pernah mengendalikan tim “la Caleste” dua tahun 1988 sampai 1990, setelah memegang kendali klub Deportivo Cali Kolombia. Sang maestro membawa Uruguay ke final Copa America 1989 yang berakhir runner-up dibawah Brazil, lalu meloloskan “la Caleste” ke Piala Dunia 1990.
Skuad Uruguay tumbang di putaran 16 Besar, kalah 0-2 dari tuan rumah Italia. Sang Maestro menyeberang sungai River Plate dikontrak Boca Juniors, membawa sukses klub besar Argentina juara liga yang pertama sejak 11 tahun. Sukses itu jadi batu loncatan pengembaraannya di Eropa, di liga seri A Italia Cagliari dan AC Milan serta klub La Liga Spanyol, Oviedo.
Pengalamannya yang fantastik bulan Maret 2006 dia ditarik pulang melatih tim “la celeste”, dia membawanya menempati peringkat empat Copa Amerika 2007 dan meloloskan timnya ke Afrika Selatan. Dia membawa Uruguay lolos ke FIFA U-17 dan Piala Dunia U-20. Tim Uruguay inilah yang akan menjadi ganjelan ambisi Belanda menjadi finalis ketiga kalinya. Uruguay dijuluki “Los Charruas” ibarat petarung sejati dengan semangat tinggi dan pantang menyerah. Konon, kalau ada anak manusia yang menjadi batu sandungan Belanda di semifinal nanti, dialah sang maestro OscarTabarez. Bukan bintang Diego Forlan atau Sebastian Abreu mesin gol pengganti Luis Suarez yang harus absen.
Kehadiran skuad Tabarez di semifinal, telah membalik semua ramalan dan memorakporanda pasar tarohan. Orang banyak meramal tim ini akan “keok” sebelum lolos ke semifinal. Brazil dan Argentina lebih dijagokan. Inilah kejutan sepakbola, dua raksasa Latin Brazil dan Argentina sudah ditendang pulang oleh Belanda dan Jerman. Kini satu-satunya harapan zone Conmebol bertumpu pada strategi sang Maestro berusia 63 tahun itu. Uruguay kini fokus pada ambisi merebut gelar juara. Uruguay inilah yang harus dilangkahi Belanda untuk menjadikan finalis ke-tiga negeri bunga tulip itu.
Semifinalis lain yang non juara yang sudah 80 tahun lebih “ngidam” gelar Piala Dunia, Spanyol harus melangkahi Jerman. Inilah batu sandungan yang ibarat “raksasa” menghadang jalan skuad Espana La Roja La Seleccion asuhan Vicente Del Bosque “old soldiers’ berusia 60 tahun. Jelas tidak mudah bagi La Roja, meskipun di final Euro 2008 mereka menang tipis 1-0 atas tim yang diujuluki “die mannschaft” itu.
Keadaan sudah lain. Jerman yang akan dihadapi adalah “the young guns” yang sudah menggilas dua juara dunia lainnya, Inggeris 4-1, dan Argentina 4-0. Kemenangan yang membuat percaya diri membumbung tinggi di skuad asuhan Joachim Low. Tapi kali ini percaya diri yang tidak menjadikan mereka “lupa memijak bumi” seperti ketika menggilas Australia 4-0 yang kemudian akhirnya mereka tumbang oleh Serbia 0-1.
Memijak kaki di semifinal, “die mannschaft” telah mencetak 13 gol dan hanya kebobolan 2 gol dalam 5 pertandingan. Suatu tanda, tim racikan Joachim Low ini sangat ofensif dan produktif serta memiliki pertahanan paling solid dan rapat. Ambisi Jerman juga sangat besar, ingin menambah koleksi gelar ke-4 menyamai Italia dan mendekatkan pada juara lima kali Brazil. Sudah 20 tahun tanpa gelar dunia, sejak tahun 1990 di Italia ketika “die mannschaft” asuhan Franz Beckenbauer menjadi juara dengan memukul Argentina 1-0 di final.
Ambisi “the young guns” menebus “kegagalan” di kandang sendiri tahun 2006 yang hanya berakhir di urutan empat, membiarkan gelar dunia itu direnggut Italia. Semangat, kesatuan, ambisi, keharmonisan tim, dan organisasi permainan yang didalangi Joachim Low, akan menjadi kerikil tajam bagi Spanyol untuk melangkah ke final.
Melihat dua tim penghadang yang begitu kokoh, maka kita pun bertanya-tanya mampukah Belanda dan Spanyol melangkah ke final menjadikan final sesama tim non juara yang akan menjadi negeri ke-8 pemegang supremasi sepakbola sejagad. Atau paling tidak salah satu diantara Belanda atau Spanyol menembus final dan memenangkan partai pemuncak di Johannesburg tanggal 11 Juli itu. Siapa tahu? ***

World Cup 2010 Germany vs Argentina

World Cup 2010 (30)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Germany vs Argentina
Jerman Lebih Berpeluang Menang
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 3 Juli 2010

Dalam dua pertemuan terakhirnya di Piala Dunia, Jerman memenangkan keduanya. Di Italia 1990 “Die Mannschaft” yang dipimpin Franz Beckenbauer menang 1-0 dalam final yang tegang. Pertemuan terakhir di perempat final di stadion Olympiade Berlin 30 Juni 2006 disaksikan 72.000 penonton kedua tim draw 1-1 selama 120 menit yang akhirnya dimenangkan Jerman lewat adu pinalti. Partai ini diwarnai kericuhan, perkelahian antar pemain.
Pemain pengganti Argentina Leandro Cufre diusir wasit Slovakia Lubos Michel karena menendang Per Mertesacker, juga Maxi Rodriguez memukul Bastian Schweinsteiger. Setelah investigasi dan mempelajari rekaman video, FIFA menskors Cufre dan Rodriguez, empat dan dua pertandingan. Gelandang Jerman Torsten Frings diskors absen di semifinal karena memukul Julio Ricardo Cruz. Maka bisa dipastikan pertandingan malam nanti akan ketat dan panas.
Sebelum pertandingan Maradona sudah berkoar, akan mengalahkan Jerman. Skuad “albiceleste” akan main “all-out” menyerang dan merebut tiket semifinal. Itu janjinya. Motivasi dan percaya diri cukup tinggi setelah menang atas Nigeria 1-0, Korea Selatan 4-1, Yunani 2-0 dan 3-1 atas Mexico. Mencetak 10 gol dan kemasukan 2 gol, Argentina memperlihatkan tim yang balans, produktif dalam mencetak gol dan bertahan dengan sangat baik.
Jerman pun tim yang balans. Bahkan lini belakang, “Die Mannschaft” tergolong solid dan sulit ditembus. Dua gol yang membobol gawang kiper Manuel Neuer, satu oleh Serbia dan satu oleh Inggeris. Kwartet belakang, Lahm, Mertesacker, Friedrich dan Boateng menjadi tumpuan Low untuk menahan gempuran Argentina yang dimotori Lionel Messi, Tevez dan Higuain.
Kapten dan bek kanan Philipp Lahm pemain yang komplet, sangat jeli membaca permainan, punya kemampuan tinggi “covering” daerah yang luas seperti juga gerakannya naik mendukung serangan.
Di jantung pertahanan berdiri Per Mertesacker yang menjulang 195 cm, tangguh dalam duel udara, bertenaga, jarang membuat kesalahan dan pelanggaran. Bisakah dia menahan Lionel Messi yang tingginya hanya 168 cm, akan tampak unik jika keduanya berhadapan berebut bola. Veteran Arne Freidrich dan pemain muda Jerome Boateng keduanya memiliki tackling mematikan. Empat defender ini tampak sangat tangguh, pasti akan membuat trisula Argentina bekerja keras. Konon kata orang, dalam 4 pertandingan kemarin, Messi, Tevez, Higuain belum menemukan pertahanan setangguh Jerman
Pertahanan Argentina belum stabil, Maradona belum menemukan kwartet yang pas, tercatat hanya Martin Demichels yang tampil empat kali, itupun dia kewalahan menahan kecepatan penyerang Mexico. Pilar pertahanan “albiceleste” yang menonjol, Gabriel Heinze yang tangguh dalam bertahan dan sangat agresif membantu serangan. Dua defender pilihan lain, mungkin Nicolas Burdusso dan Nicolas Otamendi, keduanya main bagus lawan Mexico. Mereka inilah yang dibebani tugas menahan serangan Jerman.
Argentina tidak akan mudah menguasai lini tengah meskipun Messi sering beroperasi di sektor vital itu. Bastian Schweinsteiger menjelajah mengamankan lini tengah ketika lawan Inggeris. Dia jarang hilang bola, sangat kuat dalam bertahan dan jeli sebagai playmaker. Pemain muda Sami Khedira akan mendampinginya menguasai lini tengah. Mezut Oezil pemain muda yang disebut-sebut bakal jadi gelandang kelas dunia akan beroperasi dari sayap, begitu juga “young guns” rekannya, Thomas Mueller yang sudah mencetak 3 gol, bertenaga didukung skill mumpuni.
Argentina harus kerja keras mengimbangi kekuatan midfield Jerman. Midfield Argentina tampak tidak istimewa ketika lawan Mexico. Mereka kalah dalam penguasaan bola, termasuk Maxi Rodriguez yang tidak gemerlap seperti juga penampilannya di Liverpool musim ini. Kapten Javier Mascherano sangat tangguh tapi butuh bantuan rekannya untuk menahan ekspansi gelandang Jerman yang rakus akan gol. Angel Di Maria tampak berbahaya ketika lawan Mexico namun harus kerja keras mengimbangi Jerman. Sementara veteran Juan Sebastian Veron kendati masih brilian tetapi dia akan kedodoran menghadapi tempo tinggi yang dikembangkan Jerman.
Lionel Messi pemain terbaik planet bumi sekarang ini. Tak diragukan lagi. Dia mampu merobek pertahanan dan mengubah permainan hanya dengan satu dua gerakannya yang eksplosif. Dia sering melakukan itu kala memperkuat Barcelona. Dia merancang gol sehebat dia mencetak gol. Tapi tampak bebannya terlalu berat, tim dan fans serta Maradona sangat berharap padanya. Hal ini membuat dia sering memaksa diri. Ketika lawan Mexico, dia sering menerobos kerumunan lawan dan kehilangan bola. Mungkin saja dia akan berubah. Tapi satu hal yang jelas, Messi adalah satu satunya alasan Argentina bisa menang.
Lukas Podolski dan Miroslav Klose mungkin tidak sehebat Gonzalo Higuain dan Carlos Tevez ataupun Diego Milito, namun seperti penampilan keduanya dalam misi menaklukkan Inggeris, mereka sangat peka dan memaksimalkan peluang yang ada. Mereka veteran yang bertarung lebih baik di timnasnya katimbang di klubnya. Mereka hanya tahu satu tujuan, maju dan cetak gol. Dengan dukungan lini tengah terutama dari sayap, Oziel dan Mueller, maka Klose dan Podolski tak akan kekurangan peluang, dan jika peluang itu hadir di depan mata, biasanya menjadi gol.
Lini depan Argentina lebih tajam. Gonzalo Higuain menjadi berbahaya dengan adanya Tevez dan Messi yang rajin membuka pertahanan lawan. Dia menjadi pilihan utama di klubnya, Real Madrid juga di skuad Maradona. Higuain seorang pencetak gol, mesin gol. Carlos Tevez “workhorse” terkadang bisa mencetak gol penting seperti ketika lawan Mexico meski gol sundulannya dalam posisi off-side.
Pertahanan dan midfield Jerman lebih kuat. Lini depan Argentina lebih tajam. Strategi pelatih akan ikut menentukan. Joachim Low punya pengalaman lebih dibanding Maradona. Selain itu Low juga ahli strategi dan jeli membaca permainan. Cepat dalam memecahkan persoalan yang dihadapi timnya di lapangan. Plus minus semua ini, peluang Jerman menang lebih terbuka. ***

World Cup 2010 Brazil vs Netherlands

World Cup 2010 (29)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Brazil vs Belanda
Pertarungan Sarat Emosi
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 2 Juli 2010

Pertemuan “do or die” Brazil versus Belanda Jumat malam akan selalu menarik perhatian publik. Tidak hanya penonton langsung di stadion Nelson Mandela Port Elizabeth tapi juga fans kedua tim yang tersebar di penjuru dunia. Rekor pertemuan, Brazil menang 3 kali, kalah 2 kali dan draw 4 kali, mencetak 14 gol, kebobolan 13 gol. Data berbicara, bahwa kekuatan kedua tim berimbang. Namun lebih menarik lagi, kedua tim selalu tampil saling menyerang. Keduanya juga menguasai permainan sepakbola ofensif dan indah yang pasti akan menghibur penonton.
Enambelas tahun lalu Brazil meraih gelar juara ke-empat kalinya, sukses yang mengembalikan kejayaan dan supremasi sepakbola “seleccao”. Hampir seperempat abad berlalu Brazil tak pernah menjuarai Piala Dunia setelah juara di pentas Mexico’70. Tak heran sukses itu disambut meriah pecintanya. Tetapi perjuangan di USA’94 itu tidak mudah.
Di perempat final Brazil yang ditukangi Carlos Alberto Parreira dan asisten Mario Zagallo terlibat “clash” dengan Belanda. Dua tim dengan pola menyerang saling berhadapan, salah satu harus tersingkir dan pulang. Pertandingan sangat menarik, disebut-sebut sebagai “real final” dan yang terbaik selama USA’94.
Tanggal 9 Juli 1994 stadion Cotton Bowl Dallas dipadati 63.500 penonton, menyaksikan dua tim dengan tradisi dan “attitude” menyerang saling gempur. Romario, Bebeto diimbangi Marco van Basten, Denis Bergkamp. Persaingan menguasai lapangan tengah, Dunga, Rai, Mauro Silva sangat imbang lawan Frank Rijkaard, Jan Wouters, Wim Jonk. Pada akhirnya Brazil mencetak 3 gol lewat Romario, Bebeto, Branco. Belanda dua gol oleh Denis Bergkamp dan Aaron Winter. Kalah 2-3 Belanda yang ditukangi Dick Advocaat pulang kampung. Brazil melaju terus sampai di final dan merebut gelar juara.
Empat tahun kemudian dua “attacking team” ini bertemu lagi di France’98. Kali ni terjadi di semifinal 7 Juli 1998 di stade Velodrome, Marseille dibanjiri 54.000 penonton. Tensi lebih tinggi karena pemenangnya akan ke final. Belanda yang sudah dua kali runner-up 1974 dan 1978 mengincar finalnya yang ketiga. Ronaldo dan Pattrick Kluivert mencetak gol. Sampai dengan extra-time 2 kali 15 menit skor tetap 1-1. Adu pinalti.
Kiper Brazil Taffarel yang main di klub Atletico Mineiro dihitung-hitung kalah kelas dari Edwin van Der Sar yang mengawal gawang Oranje. Namun kenyataan di lapangan justru berpihak pada Taffarel. Dalam adu pinalti penjaga gawang Brazil ini menahan dua tembakan Philip Cocu dan Ronald de Boer. Sementara dari kubu Brazil, Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga dengan ketenangan syaraf baja sukses menjaringkan bola ke gawang Van der Sar. Jasa Taffarel senilai tiket final. Sungguh dramatik.
Pertemuan Jumat malam nanti tentunya akan sarat emosi “revanche” dari kubu Oranje. Ronald de Boer hadir di bench Belanda sebagai asisten Bert van Marwijk. Di kubu Brazil, mantan kapten Dunga sudah “naik tahta” jadi pelatih “seleccao”. Tapi keduanya pasti masih mengingat atmosfir pertandingan 1998 terutama saat adu pinalti. Kini mereka bisa merasakan kembali tensi dan ketegangan yang mewarnai atmosfir pertandingan.
Di 2010 kedua tim telah memperlihatkan prestasinya. Belanda menjuarai grup E dengan tiga kemenangan atas Denmark (2-0), Jepang (1-0), Kamerun (2-1) dan di babak 16 Besar melangkahi perlawanan keras Slovakia (2-1). Mencetak 7 gol dan kebobolan 2 dari 4 pertandingan. Brazil memuncaki grup G menang atas Korea Utara 2-1, Pantai Gading 3-1 dan draw dengan Portugal 0-0 lalu di putaran 16 Besar mengalahkan Chili 3-0. Menang 3 kali draw satu, mencetak 8 gol, kebobolan 2.
Kubu Belanda yang disuarakan sang kapten Giovanni van Bronchorst percaya timnya akan merebut gelar juara, apalagi dengan kembali hadirnya Arjen Robben ke dalam starting-line-up setelah pulih dari cidera harmstring. Juga Robin van Persie tadinya belum mampu main 90 menit kini sudah siap tampil 120 menit. Kelebihan Belanda adalah memainkan bola cepat dan mengontrol bola selama mungkin. Tetapi tentu saja tidak semudah itu jika menghadapi Brazil.
Banyak tim memainkan pertahanan berlapis jika hadapi Brazil. Sedikit yang berani main terbuka saling menyerang. Bahkan Portugal yang didukung superstar Cristiano Ronaldo memilih strategi bertahan rapat dan menyerang balik. Namun Belanda mungkin tidak akan mengubah gaya main yang sudah mentradisi pola menyerangnya.
Lagipula tidak mudah mengubah pola karakter menyerang menjadi bertahan dalam waktu hanya satu minggu. Selain itu alasan pelatih Bert van Marwijk, skuadnya yakin bisa membungkam Brazil. Kwartet penyerang Belanda dengan Wesley Sneijder menopang trisula di depannya, Arjen Robben, Robin van Persie dan Dirk Kuyt sudah menyatu dan padu dalam menyerang. “Kami tetap main menyerang seperti biasa, tidak ada perubahan,”kata Van Marwijk.
Selain optimisme, kedua kubu juga menyimpan kelemahan. Kabar terakhir, mungkin saja gosip Piala Dunia, menyatakan adanya keretakan dalam tubuh Oranje antara Van Persie dengan Sneijder namun konon sudah diatasi Van Marwijk. Kalaupun benar pernah ada percikan emosi antar pemain di kubu Belanda, maka Brazil bisa memetik keuntungan.
Brazil juga terguncang jika benar dua pemain intinya Elano dan Felipe Melo harus absen karena cideranya belum pulih. Elano, konon masih cidera akibat tackling brutal pemain Pantai Gading Ismael Tiote. Sejak Dunga pegang kekuasaan, Elano selalu jadi pilihan utama. Di 2010 dia telah mencetak dua gol, masing-masing satu ke Korea Utara dan Pantai Gading. Satu pemain inti lain yang mungkin akan absen karena cidera, Felipe Melo. Namun Dunga tak pernah khawatir, skuadnya punya banyak cadangan yang hampir sama kelas dengan pemain inti.
Peluang menang sama imbang bagi kedua tim, seperti juga dua pertemuan sebelumnya di 1994 dan 1998. Namun apapun yang terjadi di lapangan nanti, pertandingan akan menjadi tontonan menarik karena hadirnya banyak bintang kelas dunia, Robben, Robinho, Kaka, Sneijder, Fabiano, Robin van Persie. ***

World Cup 2010 (28) Argentina and Maradona

World Cup 2010 (28)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Review Argentina danAmerika Latin
Maradona dan Maradona
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 2 Juli 2010

Belum pernah sebelumnya empat tim Amerika Latin menembus babak perempat final, tadinya di perdelapan final 5 tim Latin yang lolos. Sayangnya Chili harus ketemu Brazil yang berakhir kekalahan bagi Chili. Afrika Selatan 2010 tadinya diharapkan enam wakil benua Afrika bisa melaju ke babak knock-down, nyatanya 5 diantaranya rontok di grup, Afrika Selatan, Nigeria, Aljazair, Kamerun, Pantai Gading. Hanya Ghana yang melaju sampai babak perempat final.
Prediksi para pengamat, khususnya harapan pecinta sepakbola Afrika, keliru. Justru yang berkibar adalah sepakbola Amerika Latin, empat wakilnya punya peluang menembus semifinal jika mampu melewati hadangan lawan. Uruguay lawan Ghana. Argentina lawan Jerman. Brazil lawan Belanda dan Paraguay lawan Spanyol. Amerika Latin 4 wakil, Afrika satu dan Eropa tiga. Inilah prestasi terbaik dari konfederasi zone Conmebol sepanjang usianya yang 93 tahun. Inilah prestasi puncak Dr Nicolas Leoz Almiron yang asal Paraguay sebagai presidente de la Conmebol sejak dipilih Mei 1986 lalu.
Saya pastikan Nicolas Leoz bersukacita melihat kemenangan Paraguay dalam adu pinalti dengan Jepang. Bisa dibayangkan kecewanya Presidente de la Conmebol jika tim negeri sendiri tidak masuk perempat final sementara tiga wakil Conmebol lainnya telah lolos lebih awal. Ada yang berubah dari penampilan tim Latin termasuk Chili. Telah terjadi pergeseran filosofi yang mendasar dalam permainan, pola main keras menjurus kasar mulai ditinggalkan, beralih percaya diri sanggup memainkan bola dengan skill dan tehnik.
Brazil mengawali perubahan ini. Sejak peristiwa “battle of Berne” di Piala Dunia Swiss 1954 ketika di perempatfinal dua tim unggulan Hongaria dan Brazil berlaga. Pertandingan berlangsung keras dan kasar menjurus brutal diwarnai perkelahian di lapangan yang berlanjut di kamar ganti. Sejak peristiwa hitam yang menodai sejarah Piala Dunia, CBF Federasi Brazil menerapkan aturan keras untuk tim “seleccao”, filosofi bermain bertumpu pada skill dan tehnik. Empat tahun kemudian dimotori pemain muda Pele, Brazil juara di benua Eropa, Swedia 1958.
Ketika Brazil mulai memainkan sepakbola indah berbasis skill dan tehnik, Argentina masih terbelenggu pola main kasar yang memang “laku” jika main di Amerika Latin. Barulah ketika Cesar Luis Menotti dipercaya menangani “albiceleste” percaya diri mulai ditanamkan. “Hanya dengan skill dan tehnik mumpuni kamu bisa main di klub Eropa mengikuti jejak Mario Kempes yang main di Valencia.” Katanya berulang-ulang kepada pemainnya.
Tahun 1978 sepakbola Argentina memasuki era baru. Kata-kata Menotti benar tentang skill dan tehnik. Pasarella Cs sukses memenangkan gelar Piala Dunia pertamanya dengan permainan yang sudah mulai bergeser meninggalkan era kasar dan brutal. Sejak itu skuad albiceleste selalu muncul di pentas dunia dengan sepakbola indah. Memang ada bedanya gaya Brazil dengan Argentina, seperti juga beda dansa samba dengan tango.
Samba Brazil lebih banyak meliuk-liuk dalam irama yang menghipnotis mata orang. Pasangan pria dan wanita merapat sambil meliuk-liuk bisa memancing sensual penonton, persis “jogo bonito” yang dimainkan di lapangan. Tango lebih banyak kedutan seperti kaki menendang, gerak kaki melingkar dan tubuh wanita yang ditekuk, si pria sebagai komandan dan pasangan wanitanya jadi obyek keindahan. Itu sebab terkadang orang menilai gaya main “albiceleste” lebih praktis mencari gol sedang “jogo bonito Brazil” sering terlena oleh sambanya sendiri dan lupa mencetak gol.
Sebelum era Menotti, sepakbola Argentina ibarat membentur benteng. Tak mampu menembus persaingan level dunia dan selalu kalah, seperti juga perjuangan keras juara tinju kelas berat Argentina, Oscar Bonavena yang tak mampu menghadang jab-jab Muhammad Ali dan akhirnya “knock-down” dalam partai perebutan gelar juara dunia tinju kelas berat di tahun 1970.
Sukses Menotti ibarat fondasi yang dipasak-bumikan ke pembinaan sepakbola di pelosok tanah Argentina menyentuh Diego Maradona. Sinar gemilang Maradona tidak menarik minat Menotti untuk merekrutnya ke tim albiceleste. “Biar dia memperkuat tim yunior kita di Piala Dunia U-19 agar lebih matang,”kata Menotti. Jadi skuad 1978 tidak menyertakan Maradona
Tahun 1982 Maradona masuk skuad albiceleste ke Espana, kalah digusur Italia dan Maradona kena kartu merah. Menjelang Piala Dunia 1986 di Mexico Maradona sudah matang, usia 25 tahun dan main di klub Italia, Napoli. Pelatih Carlos Salvador Bilardo tak tahan akan sikap arogan si bintang Maradona yang sering aneh-aneh. Dia nelpon Menotti yang lebih mengenal Maradona sejak masih remaja. “Beri dia kaos nomor 10, beri dia kebebasan main, beri dia kekuasaan di lapangan, itu yang harus kamu lakukan,” kata Menotti si “chain-smoker”.
Ketika Bilardo melaksanakan nasihat Menotti seketika tim albicelesta bersinar. Maradona masih saja aneh, ketika “handsball”nya menembus gawang Peter Shilton sekaligus menyingkirkan Inggeris dari pentas Mexico’86 dan dia menyebutnya sebagai “tangan Tuhan”. Argentina juara untuk kedua kalinya, kredit terbesar ada dalam diri Maradona si superstar.
Ketika dipercaya menangani albiceleste ke 2010, langkah awal yang diterapkan Maradona adalah “I am the boss”. Pemain playmaker yang hebat Juan Roman Riquelme ragu dan tidak percaya cara Maradona menangani team. Riquelme dilupakan. Maradona memanggil para senior untuk menjadi panutan pemain muda. Walter Samuel usia 32 tahun yang main di Inter Milan, Gabriel Heinze (Marseille 32 th), Martin Palermo (Boca Juniors 37 th), Juan Sebastian Veron (35 th, Estudiantes). Palermo dan Veron memang dari klub lokal namun sudah kenyang melanglang di klub-klub Eropa.
Ketika Maradona dibikin pusing ulah Lionel Messi yang tak kunjung bersinar, tidak tampil seperti penampilannya di Barcelona, Maradona teringat perlakuan Bilardo padanya. Dia lalu memberi kebebasan pada Messi untuk berkreasi dalam ruang yang luas. Para senior tunduk pada “sang boss” dan mengikuti permainan yang berpolarisasi pada Messi si bintang Barcelona itu.
Argentina sukses juara di Mexico’86 karena Maradona. Kini Argentina yang dicibir publiknya sendiri sudah menembus perempat final, juga karena Maradona. Dulu sebagai pemain, kini sebagai pelatih. Maradona tetaplah Maradona. Orang Argentina pun menanti apa yang bisa diciptakan Maradona di 2010 khususnya menghadapi hadangan Jerman yang tangguh. Dulu 1986 Maradona juara, mampukah kini 24 tahun kemudian sebagai pelatih dia juara, menyamai Franz Beckenbauer dan Mario Zagallo yang juara dunia sebagai pemain maupun pelatih? Kita tunggu.

***

World Cup 2010 (27) Germany Die Mannschaft

World Cup 2010 Serial (27)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Review Jerman
“Die Mannschaft” Jerman Yang Membalikkan Pasar Tarohan
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 1 Juli 2010

Jerman disegani di Eropa bahkan di dunia saat ini. Tim dengan prestasi juara dunia 3 kali (1954, 1974, 1990) tadinya tidak masuk empat besar unggulan pasar tarohan “Hill House”. Menjelang kick-off Afrika Selatan 2010 “Hill House” mengunggulkan Spanyol, diikuti Brazil, Inggeris dan Argentina. Di posisi 5 Belanda. Barulah Jerman dan Italia sama-sama di posisi 6.
Tetapi setelah menyelesaikan babak penyisihan dengan penampilan mengesankan, kini Jerman jadi kandidat kuat juara 2010. Jerman yang dijuluki “Die Mannschaft” (the team) mengawali partai perdananya dengan gemilang, menghancurkan Australia 4-0. Pada pertandingan kedua, pasukan Low ini kalah 0-1 dari Serbia. Sebuah kejutan tetapi pelajaran bagi pemain-pemain “die mannschaft” untuk tidak terpancing emosi dan harus bisa menekan temperamen.
Jerman bangkit kembali, mengalahkan Ghana 1-0 di partai menentukan. Di babak knock-down 16 Besar mereka semakin trengginas dan menghancurkan Inggeris 4-1, suatu kemenangan dengan skor besar yang di luar dugaan para pengamat. Namun dari penampilan lapangan, Jerman layak menang karena memiliki banyak kelebihan. Malam itu Jerman lebih kuat dari Inggeris.
Die Mannschaft main dalam kesatuan dan kebersamaan yang sangat padu. Di luar lapangan, hubungan juga harmonis dan akrab. Dalam hal ini Joachim Low sebagai coach sangat disiplin tapi juga akrab. Asisten coach Hans-Dieter Flick bersama pelatih kiper Andreas Kopke, athletic coach Shad Forsythe dan Oliver Bartlett, direktur tehnik Matthias Sammer dan team manager Oliver Bierhoff sama-sama bekerja keras dan memelihara keharmonisan didalam skuad. Kopke mantan kiper kondang, begitu juga Sammer yang handal sebagai defender timnas. Dan Bierhoff semasa pemain telah mencetak 37 gol dari 70 caps atau rata-rata 0.53 gol per pertandingan.
Kecuali penampilan lawan Serbia, tiga lainnya memperlihatkan kerjasama tim, kesatuan dan saling pengertian sesama pemain. Dari lini belakang dan kiper ke lini tengah dan lini depan, Bastian Schweinsteiger Cs bekerja keras saling bantu, memperlihatkan permainan yang mengalir sesuai tempo yang diinginkan. Stamina dan semangat pemain mengejar dan merebut bola lalu membangun serangan cepat seakan tercipta begitu saja.
Hebatnya lagi Jerman memiliki dua striker yang ibarat “monster” bagi pertahanan lawan, Lukas Podolski dan Miroslav Klose. Keduanya tampil buruk di bundesliga musim ini, mandul dalam urusan mencetak gol. Tetapi begitu tampil di timnas, keduanya menggila mengobrak-abrik pertahanan lawan. Klose sampai hari ini telah mencetak 50 gol dari 99 caps-nya, rata-rata 0.51 gol per pertandingan. Dia pencetak gol urutan kedua Jerman sepanjang masa, dibawah legenda Gerd Muller yang mencetak 68 gol dari 62 caps, rata-rata 1.09 gol per pertandingan.
Lukas Podolski usia 25 tahun, tujuh tahun lebih muda dari usia Klose, memiliki masa depan cerah, dari 77 caps Podolski yang berdarah Polandia telah mencetak 40 gol, artinya 0.52 gol per pertandingan. Permainan Jerman yang ofensif pragmatis menjanjikan produktifitas para pemainnya. Podolski sudah mencetak dua gol sama banyak dengan Klose, sayang pinalti Podolski ke gawang Serbia tidak membuahkan gol.
Pola dan gaya main “die mannschaft” yang ofensif pragmatis membuat hampir semua pemain sanggup menjadi pencetak gol. Di Afrika Selatan 2010 muncul pencetak gol baru di skuad Jerman dan telah mencetak satu gol lebih banyak dari Podolski dan Klose. Dialah gelandang serang Bayern Munich yang baru berusia 21 tahun, Thomas Mueller yang mencetak 1 gol ke gawang Australia dan 2 gol ke gawang Inggeris. Tak salah jika Low sejak awal memilihnya sebagai starter. Mueller patut berterimakasih pada Louis van Gaal, pelatih Bayern Munich, yang memercayai dia sebagai gelandang serang dari pola 4-5-1 yang dimainkan Munich. Itulah awal kiprahnya yang berlanjut ke debut di tim asuhan Low 3 Maret 2010 ujicoba lawan Argentina.
Keberanian Low dalam meramu pemain muda ke dalam skuad senior, meneruskan revolusi sepakbola Jerman yang dilakukan pendahulunya Juergen Klinsmann. Low menggantikan mantan kapten die mannschaft 1994-1998 itu ketika Klinsmann menolak melanjutkan melatih Jerman seusai Piala Dunia 2006.
Kecerdikan Joachim Low dalam urusan strategi membuat dia ditarik Klinsmann sebagai asisten yang berhasil membawa angin segar perubahan “die mannschaft” yang baru dan segar. Kala itu Juergen Klinsmann menjanjikan penampilan tim Jerman yang baru dan yang memikat penggila bola negerinya. Janji itu terpenuhi, meski hanya merebut peringkat tiga Piala Dunia 2006 yang berlangsung di negeri sendiri namun penampilan tim yang ofensif pragmatis itu mampu merebut simpati publik. Tak ada kritik, bahkan Klinsmann dielu-elukan melanjutkan kepemimpinannya.
Klinsmann menolak maka Joachim Low naik pentas. Dia melanjutkan kerja Klinsmann dan dengan inisiatif serta penemuannya sendiri, mengantar Jerman ke final Euro 2008 dan kalah tipis 0-1 dari Spanyol oleh gol tunggal Fernando Torres. Di babak kualifikasi 2010 skuad Low ini juga tampil impresif. Dalam partai penentuan 10 Oktober 2009 Jerman mengalahkan Russia 1-0 di Moscow dan merebut posisi puncak grup sekaligus lolos ke 2010. Sepuluh pertandingan tanpa kalah, menang 8 dan draw 2 dengan memasukkan 26 gol kemasukan 5, mengungguli Russia, Finlandia, Wales, Azerbaijan dan Liechtenstein.
Produktifitas selama babak kualifikasi menandakan Jerman era Klinsmann yang dilanjutkan Low telah mengubah gaya dan corak main dari cenderung bertahan ke pola ofensif dan pragmatis yang sekaligus mengembalikan Jerman ke masa jaya era Beckenbauer semasa pemain maupun pelatih. Kini di 2010 sepak-terjang menjuarai grup dan menyingkirkan Inggeris di babak knock-down 16 Besar dalam “big-match” yang menyedot perhatian dunia, “die mannschaft” sekali lagi memperlihatkan diri sebagai tim yang kandidat kuat merebut gelar 2010. ***

World Cup 2010 (seri 26) Spain vs Portugal

World Cup 2010 Serial (26)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Spain vs Portugal
Satu Menang Satu Pulang
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 29 Juni 2010

Jerman sudah ketemu Inggeris, laga dua juara dunia yang dimenangkan Jerman dengan telak 4-1. Diwarnai tangis dan penyesalan tim “three lions” pulang kampung. Sedangkan tim panser Jerman masih melanjut kiprahnya di pentas 2010, mengincar gelar juara yang ke-empat. Selasa besok, Spanyol dan Portugal, dua tim elit Eropa akan saling “bunuh”, hanya satu yang akan keluar sebagai pemenang. Spanyol, juara Eropa 2008 yang belum pernah juara dunia atau Portugal yang bertahun-tahun belum juga mencicipi nikmatnya juara dunia atau juara Eropa.
Satu menang, satu pulang. Seperti itulah babak knock-out. Jika draw, berlanjut ke extra-time, masih juga draw, adu pinalti! Pokoknya satu harus menang. Tidak ada tawar menawar. Babak 16 Besar ini mempertemukan 16 tim yang lolos dari persaingan 32 tim di babak penyisihan. Jika lolos maka memasuki babak perdelapan final, tensi makin tinggi, kualitas tim makin bersaing. Makin lama makin mengerucut dan sampai ke grand-final, puncak dari seluruh 64 pertandingan yang melelahkan bukan hanya pemain, wasit, panitia bahkan pers pun harus punya stamina.
Pertemuan Spanyol kontra Portugal tidak kalah dari partai Jerman vs Inggeris. Bahkan dari sisi sepakbola indah, saya kira partai Spanyol dan Portugal akan lebih enak ditonton. Peragaan skill individu Xavi, Iniesta, Xabi Alonso, David Villa, Sergio Ramos dikubu Espana La Roja dan Cristiano Ronaldo, Pepe, Simao, Deco di kubu Portugal yang sama-sama memainkan gaya euro-latin yang cantik sekaligus mematikan pasti akan memukau penonton.
Begitu undian menempatkan Brazil dan Portugal di grup G dan Spanyol di grup H maka sudah dipastikan akan adanya pertemuan Brazil vs Spanyol atau Portugal vs Spanyol di babak 16 Besar kecuali salah satu atau dua dari tiga tim papan atas dunia itu tersingkir di penyisihan. Tapi mana mungkin mereka tersisih. Jadi bagaimana pun ketiganya sudah siap. Keberhasilan “seleccao” Brazil menjuarai grup G dan Spanyol memuncaki grup H maka keduanya terhindar dari partai “big-match” antara unggulan satu (Spanyol) dan unggulan dua (Brazil).
“Kami (Portugal) tidak takut Spanyol!” Teriak Simao, pemain sayap Portugal dari klub Athletico Madrid. Apa benar tidak takut? Mengapa berkomentar jika Anda tidak takut? Bisa dimaklumi jika skuad asuhan Carlos Queiroz khawatir, mengingat Spanyol disebut-sebut sebagai tim terbaik dunia saat ini. Dan pasar tarohan pun mengunggulkan Spanyol.
Simao dan rekan seklubnya Tiago, Deco yang sudah fit dari cideranya, diperkuat dua pemain Real Madrid Pepe dan “superstar” Cristiano Ronaldo harus bekerja keras membalik ramalan orang. Harus tampil menyerang setajam ketika membantai Korea Utara 7-0 dan pertahanan rapat dan terorganisir rapi seperti ketika menahan Brazil tanpa gol di pertandingan akhir grup G.
Harus rajin dan terkonsentrasi dalam melakukan “pressure” terhadap lini tengah Espana yang dimotori dua bintang Barcelona, Andres Iniesta dan Xavi Hernandes, serta dua pilar Real Madrid Xabi Alonso dan Sergio Ramos. Juga mengawal ketat striker Valencia David Villa yang tampaknya makin “lapar gol” dan Fernando Torres bintang Liverpool yang mencetak gol tunggal ke gawang Jerman yang memenangkan gelar Euro 2008. Mungkin Vicente Del Bosque menurunkan Villa sendirian, bisa juga duet bersama Torres.
Portugal harus memanfaatkan kecepatan serangan balik pada detik menguasai bola, serangan cepat lewat sayap akan menyulitkan pertahanan Spanyol yang dikawal dua defender Barcelona Carles Puyol dan Gerard Pique serta kiper Real Madrid Iker Casillas. Kecepatan Ronaldo, Simao dan Pepe bisa mempersulit Puyol Cs. Pertandingan antara dua tim sesama saudara Iberia ini akan menjadi kenangan Piala Dunia 2010, selama pertemuan kedua tim, Spanyol mencatat 15 menang, 5 kalah dan 12 draw, selisih gol 71-37.
Setelah merebut gelar Euro 2008 lewat permainan yang mengesankan seperti juga sepakbola indah yang ditampilkan Barcelona, maka Spanyol pun disebut-sebut sebagai kandidat paling serius menjuarai 2010. Kekalahan 0-1 dari Swiss telah membuka mata Portugal bahwa Spanyol bisa saja dikalahkan. Permainan pantang menyerah, bertahan rapat dan serangan balik yang cepat adalah kunci Swiss mengalahkan Spanyol.
Pastilah Carlos Queiroz mempelajari taktik ini. Bisa juga dia meniru taktik Jose Mourinho, rekan pelatih senegaranya, yang mendalangi kemenangan Inter Milan atas Barcelona, di leg kedua semifinal piala Champions kemarin, dimana Inter bertahan diseputar kotak pinalti dengan serangan balik yang cepat meski hanya dengan dua penyerang.
Namun Spanyol pun mengetahui “jiwa” permainan Portugal adalah baik buruknya penampilan “superstar” Ronaldo. Kawal ketat Ronaldo sama dengan menahan laju Portugal, meskipun itu suatu pekerjaan sulit mengingat striker Real Madrid ini sangat cepat dan licin. Maka kembali pada strategi pelatih dan implementasi skuadnya di lapangan permainan.
Peluang kedua tim fifty-fifty dengan Spanyol lebih punya kans menang. Tidak boleh dilupakan bahwa “keberuntungan” sangat dibutuhkan. Termasuk “beruntung” karena keputusan wasit yang merugikan tim lawan, seperti kejadian gol Frank Lampard yang jelas-jelas bola sudah melewati garis gawang tetapi wasit tidak menyatakan gol. Atau gol pertama Argentina ke gawang Mexico di menit 26, Carlos Tevez jelas-jelas berada di posisi offside ketika mencetak gol, asisten wasit dan wasit Roberto Rosetti menegaskan gol itu sah. Kita tunggu saja. ***

Monday, August 9, 2010

World Cup 2010 (seri 25) Brazil And Netherlands

sSerial World Cup 2010 (25)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Peluang Brazil dan Belanda
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily News 24 Juni 2010

Brazil sedikit nervous dalam laga pertamanya, Korea Utara memberikan perlawanan ekstra ketat dengan pertahanan massal melibatkan 9 pemain, taktik yang sempat membuat fans Brazil tegang. Faktanya memang demikian, sepuluh menit babak kedua berlangsung barulah Brazil menembus kebuntuan dengan gol bek kanan Maicon. Gol kedua dari Elano mulai menurunkan tensi yang kemudian menanjak tegang lagi ketika Ji Yun Nam menembus gawang Julio Cesar.
Pada pertandingan kedua lawan Pantai Gading, Brazil memperlihatkan kelasnya sebagai juara dunia 5 kali, dengan skill dan semangat, menang 3-1 lewat dua gol Luis Fabiano dan satu lagi dari Elano yang lalu diperkecil Didier Drogba. Brazil pun lolos ke 16 Besar. Pada pertandingan ketiga yang tidak berpengaruh lagi, kecuali ingin mempertahankan posisi juara grup, Brazil tampil mengecewakan dengan performans dibawah standar plus 3 kartu kuning untuk Fabiano, Juan dan Felipo Melo. Turun tanpa Kaka yang kena kartu merah saat lawan Pantai Gading dan Elano yang masih cidera serta Robinho yang diistirahatkan, Brazil main untuk cari aman.
Kali ini di babak 16 Besar “seleccao” terlibat tanding “do or die” lawan Chili, rival Conmebol yang terkenal keras dan tidak mudah ditaklukkan. Catatan pertemuan dua tim, dominan Brazil. Di Copa America Venezuela 2007, penyisihan grup tgl 1 Juli 2007 di Maturin, hattrick Robinho 3-0 dan di perempat final 7 Juli di Puerto la Cruz keduanya ketemu lagi, Brazil menang 6-1 dua gol Robinho, Juan, Baptista, Josue dan Vagner Love. Di Copa America itu Brazil keluar sebagai juara, di final 15 Juli di Maracaibo, mengandaskan Argentina 3-0. Itulah sukses awal Dunga sebagai pelatih “seleccao” menjawab kritik pedas pers dan rakyat Brazil.
Di babak kualifikasi zone Conmebol menuju 2010 Brazil dua kali menang atas Chili. Dalam away ke kandang Chili, tgl 7 September 2008 Santiago De Chile, Brazil membungkam Chili 3-0. Lalu pada leg kedua di kandang sendiri 9 September 2009 di kota Salvador De Bahia pasukan Dunga kembali mendulang kemenangan 4-2 atas Chili. Sejarah pertemuan selengkapnya, Brazil menang 46, draw 12, kalah 7 dengan selisih gol 152 – 55.
Brazil tampak lebih superior, tetapi bukan jaminan untuk suatu kemenangan. Chili tidak akan terbelenggu dengan sejarah kekalahan itu, “kami akan bertahan lebih lama di Afrika,” kata sang pelatih Marcelo Bielsa yang orang Argentina. Artinya, dia optimis akan melangkahi Brazil.
Marcelo Bielsa yang dijuluki El Loco pernah mencicipi pil pahit ketika skuad Argentina yang ditanganinya gagal lolos ke putaran 16 Besar di Piala Dunia 2002. Ketika menangani Chili dia berjanji akan membawa Chili ke posisi atas dunia. Komitmen kuat El Loco memengaruhi skuadnya, pemain respek dan berjanji akan berjuang bersama-sama meraih ambisi besar itu. Tahapan kualifikasi dilangkahi dengan sukses, runnerup zone Conmebol, dibawah Brazil dan diatas Paraguay, Argentina dan Uruguay.
Permainan ofensif Chili menanjak sejak lawan Honduras, Swiss, kemudian Spanyol. Kesalahan kiper Claudio Bravo yang memudahkan David Villa mencetak gol dari jarak jauh. Lalu kartu kuning kedua Marco Estrada memaksa Chili main dengan 10 orang, lalu gol kedua Spanyol lewat Andres Iniesta, nyaris mengubur impian mereka. Chili bangkit, membalas lewat Rodrigo Milar. Seharusnya tersisih jika Swiss menang atas Honduras. Beruntung bagi Bielsa dan skuadnya Honduras tahan Swiss 0-0.
Mendapat keberuntungan itu, kini Chili menatap partai lawan Brazil dengan berani. Chili lebih bergairah dan semangat, tak ada lagi beban berat. Sebagai underdog menantang “raksasa” Brazil yang memiliki rekor panjang kemenangan atas mereka, skuad Bielsa ini main tanpa ragu dan tanpa takut kalah.
Dibalik optimisme dan ketidakgentaran, skuad La Roja Chili kehilangan duo centreback yang tangguh Gary Medel dan Waldo Ponce, jelas jantung pertahanan menjadi titik lemah meskipun bek kiri tangguh Gonzalo Jara diperkirakan akan mengisi salah satu tempat itu. Bielsa juga kehilangan gelandang Marco Estrada yang diusir wasit saat lawan Spanyol.
Mendukung ambisinya melaju ke 8 Besar Dunga akan memainkan the winning teamnya, Julio Cesar, Maicon, Lucio, Juan, Michel Bastos, Felipe Melo, Gilberto Silva, Kaka, Elano, Robinho dan Luis Fabiano. Jika Elano yang telah mencetak masing-masing satu gol ke gawang Korea Utara dan Pantai Gading, masih belum pulih, kemungkinan Dani Alves atau Ramires atau siapa saja. Dunga tak akan pernah kesulitan mencari pengganti saking banyaknya talenta bagus dan seimbang dalam skuadnya. Brazil berpeluang menang.
Jika lolos dari hadangan Chili, Brazil akan berhadapan dengan sandungan besar lainnya, Belanda yang kemungkinan besar akan mengalahkan Slovakia 4 jam sebelum laga Brazil pada hari yang sama. Partai Belanda versus Slovakia kemungkinan besar ditandai dengan kembalinya bintang Oranje, Arjen Robben yang sudah fit saat turun selama 15 menit di partai Belanda vs Kamerun.
Meskipun tak diperkuat Robben yangwaktu itu masih dalam pemulihan cidera Belanda menjadi tim pertama lolos ke 16 Besar setelah merengkuh dua kemenangan beruntun 2-0 atas Denmark dan 1-0 atas Jepang. Kali ini menghadapi Slovakia dengan hadirnya Robben maka skuad Oranje besutan Bert van Marwijk bakal turun dengan lineup terbaiknya.
Tetapi kubu Belanda tetap mewaspadai tim asuhan pelatih Vladimir Weiss yang didukung spirit pantang menyerah, kecepatan dan disiplin dalam organisasi. Diduga Slovakia akan bertahan rapat dan memanfaatkan serangan balik lewat sayap, strategi yang ternyata berhasil membuat frustasi lini depan Italia dan memorakmorandakan pertahanan juara bertahan itu. Mengalahkan Italia adalah lompatan besar bagi negeri pecahan Cekosloawakia itu.
Slovakia akan memainkan skema dan skenario yang sama, bertahan dengan sabar dan menanti kelengahan Belanda. Jika Oranje lengah, terutama saat pemainnya menggebu bernafsu mencetak gol sehingga membuka lubang-lubang pertahanan, maka Slovakia akan menerkam mencetak gol. Seperti itu juga skuad Vladimir Weiss menyingkirkan Italia. Didukung striker Robert Vittek 28 tahun si pencetak 2 gol ke gawang Italia, pemain muda 21 tahun klub Belanda, FC Twente Miroslav Stoch, dua gelandang Marek Hamsik 23 th (Napoli) dan Vladimir Weiss, 21 th, putra sang pelatih (Manchester City), serta Jan Durica komandan lini belakang dari klub Hannover. Tanpa merendahkan kualitas Slovakia, peluang menang berada di Belanda. Kita lihat saja.

***

World Cup 2010 (seri 24) Germany vs England

aSerial World Cup 2010 (24)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Jerman vs Inggeris
Antisipasi “perang psikologis”
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 26 Juni 2010

Setelah Perancis dan Italia pulang kampung, besok hari Minggu malam satu lagi tim juara dunia akan tersingkir. Salah satu diantara Jerman atau Inggeris. Dua tim ini akan tarung dalam perebutan tiket ke babak perempat final di stadion Mangaung Bloemfontein. Babak 16 Besar yang digelar dalam sistem knock-out hanya mengenal satu pemenang. Jika terjadi draw, akan ada extra-time. Jika masih saja draw maka adu pinalti.
Pertemuan dua tim juara ini terlalu dini. Adalah Donovan, gelandang serang USA, yang mencetak gol di injury-time ke gawang Aljazair telah mengubah kedudukan grup C. Diluar dugaan USA memuncaki grup, Inggris di posisi runner-up. Slovenia yang tadinya sudah gembira di posisi runner-up grup mendadak merosot dan terlempar dari Piala Dunia akibat gol semata wayang USA itu.
Pertandingan Inggeris versus Jerman merupakan big-match yang mendebarkan kedua kubu. Tak disangkal baik Fabio Capello maupun Joachim Low meskipun was-was dan tegang namun telah merancang strategi untuk dimainkan skuadnya. Jerman kena pukulan mengejutkan ketika kalah 0-1 dari Serbia namun bangkit kembali, memukul Ghana 1-0 dalam partai penentuan. Joachim Low mengharap timnya bisa tampil dalam performans terbaik, minimal seperti penampilan di partai perdana melumat Australia 4-0.
Tiga pemain, Bastian Schweinsteiger, Mesut Oezil dan Jerome Boateng yang cidera ketika lawan Ghana diharapkan bisa pulih dan tampil hari Minggu besok. Asisten coach Hans-Dieter Flick masih menunggu kepastian dari tim dokter recoverynya Schweini (Schweinsteiger) dan Jerome, sedangkan Mesut Oezil si pencetak gol tunggal ke gawang Ghana dipastikan bisa masuk line-up starter. Jika semua pemain dalam keadaan fit, Low akan menurunkan line-up the winning-team. Kiper Neur, empat defender Lham, Mertesacker, Badstuber, Friedrich. Tiga gelandang Oezil, Schweinsteiger, Khedira. Tiga penyerang Mueller, Klose dan Podolski. Jika Schweini belum pulih, satu pukulan bagi Jerman, posisinya diisi pemain muda Bayer Leverkusen, Toni Kroos.
Jerman tetap mewaspadai Inggeris. Meskipun tampil tidak mengesankan dalam dua pertandingan awal dan mulai bangkit di pertandingan lawan Slovenia, skuad Capello belum memperlihatkan performans yang semestinya. Tetapi bagaimanapun juga Jerman tetap menganggap Inggeris rival berat dan kandidat juara 2010. Bisa saja Inggeris tampil dalam performans terbaiknya, itulah yang diwaspadai skuad Jerman. Rooney yang dalam tiga pertandingan mandul dan tidak dalam performans terbaiknya bisa saja kembali menggila sebagai striker berbahaya.
Dua tim ini cukup dimalui di Eropa dan pertarungan antara keduanya menjadi berita besar, bahkan seandainya hanya friendly match. Maka partai di Bloemfontein 2010 ini sudah menyedot perhatian pers dunia. Tiga partai lain di hari Sabtu dan Minggu, Uruguay vs Korea Selatan, Argentina vs Mexico, dan USA vs Ghana, menjadi nomor dua.
Fabio Capello berhasil memulihkan keretakan internal timnya sehingga tim bisa tampil cukup lumayan memenangi partai lawan Slovenia. Kini keretakan sudah jadi masa lalu, keharmonisan tim menjadi perhatian semua anggota skuad. Steven Gerrard Cs telah berlatih dengan gembira dalam persiapan menghadapi Jerman. Capello tampaknya akan menurunkan line-up : James, A Cole, Terry, Carragher, Johnson, Milner, Lampard, Gerrard, Barry, Rooney dan Defoe.
Partai ini bakal seru dan imbang. Keduanya akan main menyerang untuk memburu gol lebih dini.
Kedua tim bahkan telah mulai berlatih dengan tendangan pinalti, jaga-jaga jika hasil draw sampai extra-time sehingga harus ditentukan adu-pinalti. Rekor internasional antara kedua tim, dalam 27 pertemuan, Inggris menang 12, kalah 10 dan draw 5 selisih gol 47-34. Rekor ini bukan jaminan. Sulit untuk prediksi pemenangnya. Mungkin hasilnya draw.
Hari Minggu besok juga berlangsung partai menarik antara wakil Conmebol Argentina yang juara dunia 2 kali (1978, 1986) menghadapi wakil Concacaf Mexico. Skuad Diego Maradona akan memainkan skema menyerang dengan tiga striker handalnya Higuain, Messi dan Tevez. strategi Maradona memberi Messi ruang gerak yang bebas dan luas, telah menjadikan Messi “hidup” dan menjadi “duri” bagi pertahanan lawan. Dia belum mencetak gol tetapi hampir semua gol Argentina diawali gerakan eksplosifnya.
Tetapi Mexico yang dimotori defender Barcelona, Rafael Marquez akan memberikan perlawanan ketat. Permainan pressure skuad asuhan Javier Aguirre ini akan dimulai dengan mengawal ketat Messi dan menutup ruang gerak Juan Veron atau Maxi Rodriguez. Bertahan dengan baik dan ketat dan menyerang dengan permainan cepat, Mexico mengandalkan striker Galatasaray usia 21 tahun, Giovani Dos Santos sebagai penggerak tim. Argentina berpeluang menang.
Dua partai hari Sabtu malam nanti tidak kalah seru. Uruguay, juara dunia masa lalu (1930, 1950) dan semifinalis di Mexico 1970 mengalami kemajuan signifikan ditangan Oscar Tabarez pasang target menembus final. Uruguay sudah lama terpuruk, kredibilitas sebagai tim juara hanya dicapai di pentas Copa America, begitu main di luar benua, Uruguay tak mampu berbuat banyak. Citra inilah yang sedang diubah Tabarez dan skuadnya. Saatnya di 2010 Uruguay bangkit.
Lawannya di Port Elizabeth Sabtu malam nanti, Korea Selatan adalah tim yang tidak mudah ditundukkan. Korea memiliki semangat pantang menyerah, materi pemain dengan speed dan power yang mumpuni yang tidak kalah dari Uruguay. Keduanya punya ambisi besar, Korea ingin membuktikan mereka juga bisa prestasi di luar kandang, masuk semifinal seperti 2002 di depan publik sendiri. Uruguay ingin menutup sejarah kelamnya dan membuka lembaran baru. Partai ini akan berlangsung keras dengan peluang menang di kubu Uruguay.
Ambisi Pantai Gading lolos ke 16 Besar gagal meskipun menang 3-0 atas Korea Utara. Grup ini meloloskan Brazil sebagai pemuncak grup dan Portugal sebagai runner-up maka wakil Afrika hanya menyisakan Ghana. Sabtu malam nanti di Rustenburg, Ghana akan menghadapi USA. Tidak hanya untuk negara sendiri tetapi Ghana juga berjuang untuk Afrika dan mengharapkan dukungan segenap warga Afrika. Harga diri dan kehormatan Afrika menjadi beban bagi Ghana.
Sedangkan USA dikenal sebagai tim yang akan “fight” sampai detik-detik terakhir. Dalam beberapa pertandingan USA seringkali mencetak gol di menit-menit akhir. Daya juang dan ketahanan fisk serta stamina yang dirangkum dalam kesatuan dan kebersamaan menjadi kekuatan tim USA. Ciri main skuad besutan Bob Bradley ini, main agresif dan ofensif memburu gol dan mengawal pertahanan tanpa kompromi. Bukan mustahil USA yang menang. ***

World Cup 2010 (seri 23) Cile vs Spain

aSerial World Cup 2010 (23)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Cile vs Spanyol
Cile Siapkan “kuburan” untuk Spanyol?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 25 Juni 2010

Afrika Selatan 2010 pentas terkuburnya para juara dunia. Sampai dengan hari Kamis malam kemarin sudah dua juara dunia angkat koper. Juara dunia 1998 Perancis pulang kampung sebagai juru kunci grup A hanya draw lawan Uruguay di hari pertama kemudian kalah beruntun 0-2 dari Mexico, 1-2 dari Afrika Selatan. Dari grup ini Uruguay dan Mexico lolos ke babak 16 Besar.
Kamis malam kemarin, juara dunia 4 kali Italia (1934, 1938, 1982, 2006) ditekuk Slovakia 2-3 dan berakhir di posisi juru kunci grup B. Pertandingan pertama 0-0 lawan Paraguay, kemudian draw 1-1 lawan Selandia Baru dan klimaksnya digusur Slovakia dalam partai menegangkan. Dari grup ini Paraguay dan Slovakia lolos.
Lima juara dunia lainnya berhasil lolos ke babak 16 Besar, Argentina, Uruguay, Inggeris, Jerman dan Brazil. Masih menyisakan satu pertandingan tetapi seleccao asuhan Dunga telah memastikan lolos ke babak 16 Besar.
Dari grup G Portugal pun sudah 99 persen lolos, menyusul Brazil. Rival dekatnya, Pantai Gading butuh “keajaiban” untuk bisa merebut tiket yang sudah ditangan Portugal. Skuad asuhan pelatih Sven Goran Eriksson harus menang dari Honduras dengan selisih gol besar dan mengharap Brazil memukul Portugal dengan skor besar. Hitungan itu sangat mustahil bisa terjadi.
Pantai Gading ketinggalan gol minus 2 agak mustahil bisa mengejar gol plus tujuh Portugal. Jadi boleh dikata 2 partai di grup G ini hanya perebutan juara grup antara Brazil versus Portugal di kota Durban jam 21.00 WIB. Sedang Pantai Gading versus Korea Utara menyangkut kehormatan dan kebanggaan khususnya bagi skuad chollima asuhan pelatih Kim Jong-Hun.
Posisi sudah lolos ke putaran 16 Besar sering kali menempatkan pelatih pada dua pilihan. Main dengan line-up the winning team atau mengistirahatkan beberapa pilar dan memberi kesempatan main pada pemain cadangan. Diego Maradona telah melakukan itu, menurunkan line-up kedua, hampir 6 pemain pilarnya diistirahatkan.
Apakah Brazil dan Portugal akan memainkan skenario seperti Argentina, ataukah main dengan segenap kekuatan untuk memenuhi ambisi menang dan merebut posisi juara grup yang mungkin saja akan menghindar dari Spanyol jika skuad Vicente Del Bosque ini sukses memuncaki grup H. Karena juara grup H akan tanding lawan runner-up grup G di babak 16 Besar.
Di grup H unggulan Spanyol terdampar pada situasi membahayakan. Ancaman serius datang dari Chili, tim besutan pelatih Argentina Marcelo Bielsa. Partai yang akan dipimpin wasit Mexico Marco Rodriguez di stadion Loftus Versfeld, Tshwane Pretoria, bisa jadi kuburan bagi Spanyol atau jadi ajang pesta kegembiraan lolos ke putaran 16 Besar. Hasil kalah atau draw maka La Roja Espana sudah pasti tersingkir jika Swiss bisa menundukkan Honduras. Maka tidak ada jalan lain bagi Spanyol melainkan menang atas Chili.
Bagaimana dengan Chili? Jika kalah dari Espana dan pada saat yang sama di stadion Mangaung Bloemfontein Swiss sukses mengalahkan Honduras, maka skuad Marcelo Bielsa tersisih. Fakta ini mendorong Spanyol seperti juga Chili akan “fight all out” memenangkan pertandingan. Rekor selama ini tim dari negeri Matador itu menang 6 kali dan satu draw dalam 7 pertemuan dengan Chili, dengan mencetak 18 gol dan hanya kemasukkan 3 gol. Tapi rekor ini bukan jaminan bagi Spanyol untuk menang.
Saat ini para pemain Chili memiliki percaya diri tinggi setelah memenangkan dua pertandingan awal di grupnya, 1-0 atas Honduras dan juga 1-0 atas Swiss. Ditangani Marcelo Bielsa, Chili berkembang pesat menjadi tim Amerika Latin yang tangguh, percaya diri dengan materi pemain yang mumpuni serta dalam organisasi teamwork yang kompak. Di kualifikasi zone Conmebol tim Chili berakhir di urutan dua dibawah Brazil. Lebih unggul dari Paraguay, Argentina dan Uruguay. Bekal percaya diri inilah yang akan diusung menghadapi Spanyol.
Sebagai juara Eropa 2008 dan tim unggulan yang difavoritkan kandidat juara di Afrika Selatan 2010 skuad Vicente Del Bosque lebih berpeluang menang atas Chili. Di awal penyisihan grup H Spanyol tumbang 0-1 oleh Swiss. Strategi cerdik Swiss, bertahan rapat dan berlapis, sabar menahan serangan Spanyol, dan hanya mengandalkan serangan sporadis, akhirnya membuahkan hasil. Tampaknya strategi defensif dengan disiplin tinggi serta kerja keras pantang menyerah, jadi pilihan Marcelo Bielsa untuk mengimbangi kelebihan skill generasi emas Spanyol.
Materi Spanyol bertumpu pada pemain yang memiliki skill mumpuni dan kemampuan menahan bola serta passing yang akurat dan tajam, lini belakang Gerard Pique, Carlos Marchena, Carles Puyol, Joan Capdevila membentengi kiper Iker Casillas. Di lini tengah yang menjadi inti daya serang tim, Andreas Iniesta, Xavi Hernandes, Xabi Alonso, Sergio Ramos, David Silva yang bekerja keras membantu striker haus gol klub Valencia, David Villa. Masih ada lagi dua bintang tenar yang tidak kalah kelasnya, Cesc Fabregas dan Fernando Torres menanti giliran main.
Chili mungkin saja meniru strategi Swiss yang menumpuk kekuatan di lapangan tengah dan melakukan pressure ketat kepada setiap pemain Spanyol di sektor tengah. Tapi terkadang press kepada lawan jika diterapkan dengan agresifitas berlebihan bisa berakibat pelanggaran yang membuahkan kartu kuning bahkan bisa saja kartu merah.
Pada pertandingan hari pertama lawan Honduras, Chili menerima dua kartu kuning. Ketika harus berjuang keras lawan Swiss, 6 kartu kuning diterima skuad Chili. Hal ini jika bisa dimanfaatkan Spanyol maka bukan tidak mungkin ada pemain Chili yang diusir wasit. Bandingkan dengan skuad Spanyol yang dalam dua pertandingan tak menerima kartu kuning satu pun.
Marcelo Bielsa tampaknya leluasa memilih pemain untuk partai krusial itu. Beberapa pilar yang main di La Liga dan Seri A jadi pilihan dalam dua pertandingan lalu akan masuk line-up malam nanti. Kiper Real Sociedad Claudio Bravo, Mauricio Isla, Alexis Sanchez, Humberto Suazo, Fabian Orellana, dan striker andalan Mark Gonzalez yang main di CSKA Moscow. Sayang gelandang serang bertenaga Sporting Lisbon, Matias Fernandez tak bisa main karena akumulasi kartu kuning.
Partai ini akan menarik, Chili yang mengandalkan permainan keras dan penjagaan ketat, menghadapi Spanyol yang mengutamakan permainan tehnik tinggi, pertarungan otot versus skill.
Peluang menang berada di kubu Spanyol, tetapi bukan mustahil Chili bisa meraih hasil draw. Ada motivasi khusus Chili untuk fight, sebagai wakil Conmebol yang terakhir yang masih berkutat untuk lolos. Empat lainnya sudah lolos, Uruguay, Brazil, Argentina dan Paraguay.
Partai lain di grup H ini, Swiss akan fight all-out untuk merebut kemenangan dari Honduras, wakil zone Concacaf yang underdog dan tidak punya peluang lolos. Hanya keajaiban yang bisa meloloskan Honduras, misalnya mengalahkan Swiss dengan dua gol dan saat yang sama Chili memukul Spanyol dengan dua gol. Diatas kertas, Swiss akan menang. ***

World Cup 2010 (Seri 21) Itali vs Slovakia

Serial World Cup 2010 (21)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Italia vs Slovakia
Lolos atau Pulang
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 24 Juni 2010

Kamis sore jam 16.00 waktu setempat atau jam 21.00 WIB, juara dunia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006) Italia akan menghadapi Slovakia di Johannesburg. Pasukan Marcello Lippi harus menang jika mau memastikan lolos ke putaran 16 Besar. Kalah sudah pasti tersingkir. Jika draw masih tergantung pada partai Paraguay vs Selandia Baru yang berlangsung pada jam yang sama di kota Polokwane. Bagi Slovakia, menang berarti lolos, kalah atau draw tersingkir. Tidak heran jika perhatian pecinta bola sedunia fokus pada partai “hidup mati” Italia versus Slovakia.
Posisi Italia yang sulit dan terancam ini disebabkan penampilan buruk dua laga sebelumnya, draw 0-0 lawan Paraguay dan 1-1 lawan Selandia Baru. Gol ke gawang Selandia Baru juga diperoleh dari pinalti “hadiah” wasit Carlos Batres yang melihat Danielle de Rossi jatuh di kotak pinalti. Italia memang tampil dibawah form. Namun sejarah mencatat di Piala Dunia 1982 Italia kendati tertatih-tatih di awal, bisa survive lolos ke putaran dua.
Kala itu “squadra azzurri” asuhan pelatih Enzo Bearzot salah satu tim favorit tapi penampilannya di penyisihan grup sangat mengecewakan. Tampil dengan sepakbola defensif cattaneccio Italia hanya draw tiga kali, 0-0 lawan Polandia, 1-1 lawan Peru dan Kamerun. Skuad Enzo Bearzot ini lolos ke babak kedua sebagai runner-up grup dibawah Polandia. Namun Italia mulai tampil mengesankan ketika mengalahkan Argentina 2-1 di grup C putaran kedua dalam pertarungan yang sangat menarik
Pertandingan terakhir putaran kedua, kembali lagi “squadra azzurri” membuat kejutan besar menekuk Brazil 3-2. Inilah kemenangan “cattenaccio” atas “jogo bonito” yang paling manis. Italia menang karena memiliki penjaga gawang Dino Zoff yang entah berapa kali membuat “save” gemilang dan striker Juventus berwajah pucat yang dua bulan sebelumnya terbelit kasus suap, Paolo Rossi yang mencetak hattrick kegawang Brazil.
Azzurri melaju terus di semifinal giliran Polandia, peringkat tiga Piala Dunia 1974 ditekuk 2-0 dan di final skuad Bearzot menang 3-1 atas Jerman Barat, tim panzer yang masa itu dianggap “momok” bagi tim-tim Eropa.
Catatan ini paling tidak mengingatkan Italia yang tertatih-tatih bisa menggeliat bangkit dan merebut kemenangan demi kemenangan. Rabu malam kemarin juga menandai kejadian hampir sama. Inggeris yang tampil buruk di dua pertandingan awal, bangkit dan menang 1-0 atas Slovenia untuk maju ke babak 16 Besar. Begitu juga Jerman yang sebelumnya kalah 0-1 dari Serbia dan terancam gagal lolos, mampu bangkit menggasak Ghana 1-0 dan lolos sebagai juara grup D. Bangkitnya Jerman dan Inggeris, bisa jadi motivasi “squadra azzurri” untuk bangkit dan memenangkan partai krusial lawan Slovakia.
Perjuangan Italia pasti tidak gampang. Sejarah 27 pertemuan antara keduanya, Italia menang 10, Slovakia menang 8, sisanya (9) draw dengan gol Italia unggul 42-38. Kekuatan seimbang, itu sebab Italia butuh strategi Lippi yang jitu dan line-up starter pemain yang bertenaga. Kabar terbaru, Italia belum bisa memainkan playmaker AC Milan, Andrea Pirlo, tetapi nama pemain berusia 31 tahun ini sudah masuk line-up cadangan, artinya siap tampil tiap saat.
Kubu azzurri dalam posisi tertekan. Marcello Lippi sang pelatih menghibur diri,”jika Paraguay kalahkan New Zealand, maka kita bisa lolos dengan tiga kali draw seperti tim 1982.”
Bisa ditebak bahwa Lippi akan menutup pertahanannya sambil mencari celah mencetak gol. Komandan lini belakang tetap pada libero Juventus berusia 37 tahun Fabio Cannavaro sementara urusan mencetak gol tanggung jawab Iaquinta, Gilardino dan gelandang serang AS Roma Danielle De Rossi yang gemerlap dalam 2 pertandingan sebelumnya.
Saya katakan Lippi harus punya strategi jitu, terutama melapis pertahanan mengingat Cannavaro sudah lamban. Apalagi materi Slovakia asuhan Vladimir Weiss lebih cepat dan bertenaga. Defender Peter Pekarik (Wolfsburg) dan Martin Skrtel (Livepool) usianya masih dibawah 25 tahun akan aktif membantu serangan, dua gelandang serang Vladimir Weiss Manchester City 21 tahun, Stanislav Sestak, klub Bochum Jerman 28 tahun sebagai penyeimbang dan dua striker muda Marek Hamsik Napoli 23 tahun dan Erik Jendrisek Kaiserslautern 23 tahun.
Slovakia punya keberanian, motivasi dan tekad untuk menang, memiliki tenaga dan kecepatan maka partai ini akan menjadi tontonan menarik dari 4 laga yang digelar malam nanti. Saya pikir Italia lebih berpeluang untuk menang.
Di grup F Paraguay yang sementara pimpinan grup menghadapi underdog yang penuh kejutan Selandia Baru. Bagi Paraguay hasil draw sudah cukup untuk lolos, namun pelatih Gerardo Martino mengincar kemenangan untuk memuncaki grup. Dua striker klub bundesliga Borussia Dortmund, Nelson Valdez 26 tahun dan Lucas Barrios 25 tahun akan jadi harapan mencetak gol. Peluang Paraguay untuk menang cukup terbuka.
Di kubu Selandia Baru, pelatih Ricki Herbert memastikan timnya akan menyerang. Untuk lolos kemenangan menjadi prioritas. Seandainya draw juga bisa lolos jika Italia draw tanpa gol dengan Slovakia. Semua masih bisa terjadi. Misalnya partai Rabu malam kemarin, tim USA di menit injury-time mencetak gol ke gawang Aljazair lewat Donovan dan lolos sebagai juara grup menempatkan Inggeris di posisi runner-up. Padahal pasar tarohan menjagoi Inggeris juara grup.
Malam nanti waktu setempat atau Jumat dini hari WIB, dua partai grup E akan dipentaskan untuk menentukan posisi akhir tiga kesebelasan, Belanda, Denmark dan Jepang. Sementara satu lainnya Kamerun sudah pasti tersisih.
Belanda, unggulan grup E yang belum pernah juara Piala Dunia, berlaga lawan Kamerun di Cape Town. Posisi Belanda sudah aman, dua kakinya sudah berada di babak 16 Besar, seandainya kalah pun tidak menggagalkan tiket yang sudah ditangannya. Sebaliknya Kamerun, peluang lolos sudah tertutup. Menang pun tak akan mengubah nasibnya, tetap harus angkat koper. Belanda mungkin akan menyimpan beberapa pemain pilar, namun tetap menargetkan menang. Menang atau draw, Belanda akan menjuarai grup. Dan Belanda berpeluang menang.
Satu tiket grup E akan ditentukan antara Jepang lawan Denmark dalam posisi dimana Jepang hanya perlu hasil draw untuk lolos sementara Denmark memerlukan kemenangan. Inilah partai keras, kedua tim akan berjuang keras memenangkan pertandingan. Denmark berpeluang menang. Tetapi akan sulit menang jika Jepang tampil lebih defensif. ***

World Cup 2010 (seri 21) Group C, Group D

Serial World Cup 2010 (21)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Partai Krusial Grup C Dan D
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 23 Juni 2010

Gosip melanda tim Inggeris menjelang tanding “do or die clash” lawan Slovenia hari Rabu malam 21.00 WIB di stadion Nelson Mandela Port Elizabeth. Semuanya berkisar pada sang pelatih “Don” Fabio Capello. Gosip bahwa Capello akan mundur apabila Inggeris gagal lolos ke putaran dua. Bahwa para pemain mempertanyakan secara terbuka strategi garis keras Don Fabio yang mengasingkan timnya tiga pekan di kamp latihan.
Serangan itu dijawab Capello. “Saya cukup tangguh menghadapi itu. Tidak ada masalah bagiku. Saya bekerja keras dan mempersiapkan segalanya. Itu yang penting. Setiap pagi saya berkaca di cermin dan bertanya apakah saya sudah mengerjakan dan apakah saya sudah pelajari segala sesuatunya. Jawabannya, iya. Karena alasan ini saya bisa menerima kritik. Saya tidak tahu apa resultnya tapi saya tahu bahwa result adalah sesuatu yang paling penting.”
Beberapa figur senior FA (Federasi Inggeris) menegaskan mereka tetap berada di belakang Capello dan tim Inggris. “Kami fokus pada pertandingan Rabu nanti,” kata Bevington, senior dan managing director. Tidak ada yang lain di pikiran kami melainkan mendukung Capello dan skuadnya, dan saya yakin seluruh fans akan mendukung mereka di Port Elizabeth nanti.”
Capello mengakui tidak bisa menjawab sebab-musabab yang persis mengapa skuadnya tampil begitu buruknya. Kejadiannya mirip dan hampir identik dengan penampilan pertamanya lawan Swiss di Wembley Februari 2008 dimana dia melihat semua skema latihan yang telah diberikan kepada tim, tidak diterjemahkan dalam pertandingan. “Saya hampir merasa semua pekerjaan dalam dua tahun belakangan ini, berujung nihil sama sekali. Jelas bahwa saya tidak puas, kami sudah bekerja 20 hari dan kami semua melihat dan tahu apa yang sudah ditampilkan dalam latihan. Mendadak saja di pertandingan semuanya berubah dan berbeda. Sebagai manager, kejadian itu sangat tidak baik. Saya tidak mengerti mengapa dalam pertandingan, kami tidak mengubah irama, meningkatkan tempo atau kecepatan. Kami sangat lamban. Di pentas Piala Dunia, jika kita tidak berlari dan melakukan pressure pada lawan, atau kita “tidak fight” maka kita mengalami kesulitan untuk maju terus.”
Tapi Capello seorang pengalaman, ada keyakinan dia akan mengatasi kesulitan internal yang memang sering terjadi pada tim-tim besar menyusul kekalahan atau penampilan buruk, saling salah menyalahkan antar sesama pemain maupun antar pemain dengan pelatih. Perancis pun mengalami hal sama, berbuntut pemulangan Anelka oleh Federasi Perancis (FFF). Dan tugas Capello adalah merekat kembali kesatuan tim yang sudah hampir terlepas.
Di lapangan Capello juga dihadapi problema. Gelandang andalan Manchester City, Gareth Barry sudah bisa tampil waktu lawan Aljazair kemarin. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, Inggeris kembali kehilangan pilar lini belakang. Setelah Rio Ferdinand tidak masuk skuad lantaran cidera parah, kini kehilangan dua centre-back, Ledley King karena cidera dan Jamie Carragher sebab akumulasi kartu kuning. Capello memilih centre-back West Ham, Matthew Upson mendampingi John Terry. Masih ada pilihan lain di posisi ini, defender Tottenham Hotspur Michael Dawson, pemain terakhir masuk skuad sebagai pengganti Rio Ferdinand. Tinggal siapa diantara keduanya yang cocok membantu John Terry di jantung pertahanan.
Kita tidak tahu apa rencana Capello dengan line-up dan strateginya. Jika saja skuad “three lions” ini bisa tampil sebagaimana di babak kualifikasi maka tidak sulit untuk meraih kemenangan atas Slovenia. Saya kira Capello bisa saja membuat beberapa perubahan, sudah lazim jika pelatih mengambil resiko mengubah line-up dan strategi terhadap timnya yang tidak tampil maksimal. Apalagi Inggeris tampil dibawah form dalam dua pertandingan beruntun, semuanya draw lawan USA dan Aljazair. Dua tim yang di atas kertas bisa mereka taklukkan.
Partai ini krusial. Slovenia juga tidak akan menyerah begitu saja. Pelatih Matjaz Kek melihat adanya cahaya terang bagi timnya untuk lolos, minimal jika meraih draw dari partai malam nanti.
Peluang itu ada, sebagian pilar Inggeris cidera atau absen. Masalah internal di tubuh Inggeris, clash antar pemain dan ofisial, juga merupakan keuntungan bagi skuad Matjaz Kek.
Beban harus menang atau minimal tidak kalah dari Inggeris sudah ditiupkan ke ubun-ubun semua pemainnya. “Inilah saatnya kita persembahkan sesuatu yang paling berharga bagi negeri kita, yakni kebanggaan dan kehormatan,” kata playmaker klub Auxerre, Valter Birsa yang diamini semua rekannya. Kiper handal klub Udinese Samir Handanovic, striker klub Gent Zlatan Ljubijankic, striker FC Koeln Milvoje Novakovic, defender Chievo Bojan Jokic dengan kapten Robert Koren yang kini statusnya bebas transfer, akan memberi perlawanan keras selama 90 menit, menantang ambisi Inggeris.
“Untuk negeri kecil macam negeri kami, prestasi yang luar biasa bisa hadir di Piala Dunia, tadinya tidak ada yang memerhatikan kami, tetapi sekarang ini semua perhatian pada kami dan kami ingin meraih sukses yang lebih besar lagi.” Kata striker Novakovic.
Slovenia siap memberi kejutan sebagai tim yang menyingkirkan Inggeris dari pentas dunia, namun di atas kertas, saya lebih menjagoi Inggeris. Rasanya aneh jika Steven Gerrard CS tidak mau fight untuk tiket ke putaran dua. Bukan saja kehormatan “three lions” yang jadi tarohan juga gengsi kompetisi liga premier. Skuad Capello akan tampil beda dan memenangkan partai krusial itu dan lolos ke putaran kedua dengan penuh kebanggaan.

USA Target Menang
Partai lain, yang berlangsung pada waktu yang sama tapi di stadion berbeda, USA lawan Aljazair. Bagi tim “paman Sam” kemenangan sudah menjadi harga yang harus dijalani. Hanya dengan menang maka tim bisa melaju ke putaran dua. Kalah atau draw berarti tersingkir dan angkat koper. Sedangkan Aljazair yang tadinya underdog, ternyata mampu memperlihatkan permainan team-work dengan skill perorangan yang tidak kalah kelas dari rivalnya.
Aljazair kalah 0-1 dari Slovenia, hanya karena blunder kiper. Pada penampilan kedua berhasil menahan Inggeris tanpa gol. Kini skuad asuhan Rabah Saadane akan menantang skuad Bob Bradley dalam partai yang tidak saja menentukan nasib sendiri juga menyangkut lolos tidaknya tim lain. Targetnya menang. USA juga target menang. Maka bisa dipastikan USA dan Aljazair akan sama-sama main menyerang. Di atas kertas, USA berpeluang menang.

Jerman partai krusial
Joachim Low yakin skuadnya akan keluar sebagai pemenang atas Ghana. Alasannya, fitnes Philipp Lahm Cs adalah kuncinya. Tim panzer ini mampu bermain dalam tempo tinggi sepanjang 90 menit. Kondisi fisik, stamina dan tenaga inilah yang akan jadi tumpuan Low dalam meracik line-up dan strateginya.
Jerman butuh recovery cepat mengembalikan percaya diri setelah kekalahan mengejutkan dari Serbia 0-1 setelah sebelumnya menghancurkan Australia 4-0. Kalah dari Ghana, maka Jerman akan tersingkir, hal ini akan mencoreng sejarah Jerman yang belum sekalipun dalam sejarah Piala Dunia tidak lolos ke putaran dua. Apalagi sekarang ini Afrika Selatan 2010 menjadi target untuk menjadi juara yang keempat kalinya, menyamai Italia.
Ghana tim yang lebih cepat dan bertenaga dibanding Serbia, mereka akan menyerang menuntut kemenangan. Tidak seperti Serbia yang waktu lawan Jerman punya strategi mencari draw. Ghana mencari menang, meskipun hasil draw sudah cukup untuk lolos. Kalau skuad asuhan Milovan Rajevac main untuk draw artinya tampil dalam skema bertahan dengan mengandalkan serangan balik, saya kira justru akan membuka peluang bagi Jerman untuk mencetak gol.
Milovan Rajevac tampaknya akan menurunkan sebagai starter di lini belakangnya, duo centre-back kapten John Mensah dan Isaac Vorsah di jantung pertahanan untuk membendung gempuran Jerman. Dua pemain ini absen ketika Ghana draw 1-1 lawan Australia. Keduanya mengalami gangguan cidera ringan yang tidak serius tetapi Rajevac menyimpan keduanya agar fit pada partai krusial lawan Jerman. “Saya sengaja menyimpan keduanya untuk partai lawan Jerman yang menurut saya asangat krusial.” Kata Rajevac.
Jerman punya materi pemain dan gaya menyerang yang sangat bervariatif khususnya terbosan-teroboisan di sektor sayap untuk membuat umpan tarik di mulut gawang. Atau bola-bola crossing di depan gawang menjadikan duel udara.
Sayang dalam partai krusial ini Jerman harus kehilangan striker Bayern Munich Morislav Klose akibat dua kartu kuning yang diterimanya dalam partai lawan Serbia. Hilangnya striker andalan ini maka kemungkinan Low akan menjadikan striker kelahiran Brazil, Cacau sebagai penyerang tunggal dengan dukungan trisula dibelakangnya Mesut Oezil, Lukas Podolski dan Thomas Mueller. Saya kira Jerman akan keluar sebagai pemenang.

Serbia vs Australia
Satu partai lain di grup D juga persaingan menentukan nasib, antara Australia versus Serbia yang tidak kalah krusialnya. Serbia mengantongi nilai sama dengan Jerman. Tetapi Serbia kalah gol sehingga untuk bisa lolos ke putaran dua, menjadikan menang sebagai target yang tidak bisa ditawar-tawar. Satu kemenangan, nilainya menjadi 6, Serbia akan lolos ke babak 16 Besar apapun hasil partai Ghana versus Jerman.
Australia menjadi tim underdog yang persentase lolos ke babak 16 Besar paling kecil. Defisit 4 gol yang ditelannya dari gempuran Jerman di partai perdananya telah memojokkan tim negeri kanguru ini ke posisi juru kunci. Skuad asuhan Pim Verbeek ini dalam posisi terpojok mungkin akan tampil menyerang dan mengharapkan bisa menjaringkan banyak gol. Paling tidak, jika bisa menang dengan empat gol dan Ghana dipukul Jerman maka Austalia lolos. Inilah keajaiban yang sedang dinanti pasukan Pim Verbeek.
Dalam sepakbola semua bisa terjadi, seperti kemenangan Portugal 7-0 atas Korea Utara. Siapa pun tak mengira Portugal bisa menang sebesar itu. Itulah keajaiban dalam sepakbola yang terkadang menjungkirbalikkan semua ramalan.
Serbia dan Australia sama-sama menyerang akan menjadikan tontonan menarik. Kekuatan dua tim seimbang. Kalaupun hasilnya draw maka itulah perhitungan normal di atas kertas, namun jika cukup beruntung, Australia bisa menang. Bagi skuad Pim Verbeek, menang meskipun hanya satu gol, sudah cukup untuk berbangga tidak sebagai juru kunci grup. Tinggal menanti keajaiban berapa gol yang dijaringkan Jerman ke gawang Ghana dan berapa gol yang mampu mereka jaringkan ke gawang Serbia. Saya kira pada dalam setiap laga krusial setiap tim mengharap datangnya keajaiban.

***