Tuesday, June 17, 2008

Piala Eropa 2008 : Russia vs Swedia 18 Juni 2008

Artikel Piala Eropa 2008/ 18 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Midasnya Hiddink Diuji Swedia

Oleh : John Halmahera

Seolah bangkit dari kematian, itulah gambaran tim Russia asuhan Guus Hiddink, dalam dua pertandingan grupnya. Kekalahan telak 1-4 dari Spanyol membuat fans dan pers Russia pesimis timnya bisa lolos dari grup. Tetapi Hiddink yang dijuluki “sang penyihir” pantang menyerah. Dia menyuntik semangat baru, perubahan baru pada pasukan mudanya. Hasilnya pun luar biasa, anak-anak Rusia itu berhasil mengalahkan Yunani 1-0 lewat gol semata wayang, Konstantin Zyryanov menit 33. Kemenangan itu meniupkan harapan baru bagi tim beruang merah sekaligus menutup harapan Yunani mempertahankan gelarnya.
Setelah melewati partai “mati hidup” dengan Yunani, hari ini di stadion Tivoli Neu, kota Innsbruck, skuad Hiddink kembali memasuki laga “mati hidup” lawan Swedia untuk menentukan langkah ke perempat final. Draw apalagi kalah, akan menyingkirkan Russia dari Euro 2008. Karenanya tim ini harus lebih menyerang, untuk mengejar gol dan memenangkan pertandingan.
Guus Hiddink menyambut baik kembalinya penyerang klub Zenith berusia 27 tahun, Andrei Arshavin setelah menjalani skorsing dua pertandingan. Namun masih menanti pulihnya kondisi tiga pilar, bek kiri Yuri Zhirkov, dua gelandang Dmitri Torbinski dan Diniyar Bilyaletdinow. Dokter tim Andrei Grishanow sedang bekerja keras
menyiapkan mereka untuk laga penting lawan Swedia.
Untuk bisa mengalahkan Ibrahimovic dkk, pemain Russia harus benar-benar siap, fisik maupun tehnik. Swedia dibawah asuhan Lars Lagerback adalah tim yang kerja keras dan pantang menyerah. Swedia yang hanya butuh draw untuk lolos tidak akan main untuk target satu point. Filosofi Lagerback adalah menyerang sesuai karakter bangsa Swedia yang terbuka. Organisasi tim sangat bagus dengan pemain-pemain pengalaman yang punya tehnik mumpuni dan kemampuan mengontrol emosi.
Lagerback punya pilihan memainkan line-up terbaiknya. Dua pilarnya sudah fit,
striker Inter Milan yang sudah mencetak dua gol, Zlatan Ibrahimovic dan bek kanan klub Goteborg, Niclas Alexandersson yang agresif menyerang dan solid dalam bertahan. Mikael Nilsson, Olof Mellberg, Petter Hansson bersama Alexandersson maka inti pertahanan di depan kiper Andreas Isaksson kembali utuh. Dilini tengah hadirnya Fredrik Ljungberg, Anders Svensson, Daniel Andersson dan gelandang klub Lyon, Kim Kallstrom akan melancarkan aliran bola ke duet penyerang Ibrahimovic dan striker gaek Henrik Larsson.
Kondisi team Swedia yang full-team ini sudah pasti diketahui pihak Russia. Apa rencana dan strategi Hiddink untuk menembus kekuatan solid Swedia? Skuad Hiddink tidak bisa menghindari dari memainkan formasi-serang, karena butuh menang. Dan untuk bisa menang harus bisa mencetak gol. Tetapi hal ini ada bahayanya. Bisa-bisa seperti kejadian di laga lawan Spanyol, menyerang gencar tapi hilang keseimbangan dalam bertahan. Dan duet maut Swedia –Ibrahimovic dan Larsson- akan memanfaatkan kelemahan Russia ini.
Kembalinya Andrei Arshavin, belum tentu akan mendapatkan tempat dalam skuad. Jika memainkan penyerang klub Zenith ini, Hiddink harus membangkucadangkan
Roman Pavlyuchenko, jika mempertahankan pola 4-5-1. Padahal Palyuchenko main luar biasa dan memberi kontribusi besar kemenangan atas Yunani. Tetapi bukan tak mungkin Hiddink memainkan pola 4-4-2 dan memasang duet Arshavin-Palyuchenko untuk mempertajam serangan dan memperbesar kemungkinan mencetak gol.
Pasukan Hiddink ini, sebagian diisi pemain muda dengan pengalaman main hanya di kompetisi domestik. Belakangan Zenith Petersburg bisa menjuarai ajang internasonal UEFA Cup, tetapi tidak cukup untuk memberikan kontribusi ke timnas. Apalagi ajang Euro 2008 jauh lebih kompetitif dibanding antar klub UEFA Cup. Menyusul kekalahan dari Spanyol, Hiddink hanya mengganti Roman Shirikov dan memasukkan Sergei Ignashevich dalam starter. Hiddink berhasil memperbaiki skuadnya yang diduga sebagian orang sudah terpuruk dan sulit bangkit. “Lupakan Spanyol dan Yunani, siapkan mental dan fisik untuk hadapi Swedia, selebihnya biarkan kami ofisial yang bekerja.”
Hiddink yang dijuluki pers Russia “sang penyihir” benar-benar jempolan, bisa mengangkat timnya dan menggasak Yunani 1-0. Tetapi kini yang dihadapi Hiddink adalah Swedia yang full-team. Hari ini Guus Hiddink yang juga dijuluki punya “sentuhan Midas”, ditantang untuk membalik ramalan orang. Swedia unggul selisih gol 3 minus 2, sementara Russia 2 minus 4. Hasil draw akan membawa Swedia lolos ke perempatfinal. Kondisi terakhir Swedia yang full-team serta keunggulan selisih gol maka pasukan Lars Lagerback ini dalam posisi diatas angin. Dan Russia sebagai underdog. Di atas kertas peluang Swedia untuk menang 53 persen banding 47.
Salah satu dari dua tim ini akan melenggang ke perempatfinal. Jika partai grup D lainnya, Spanyol menang atau draw lawan Yunani maka Spanyol keluar sebagai juara grup diikuti Swedia atau Spanyol sebagai runner-up. Jika skenario berjalan sesuai ramalan, maka Spanyol juara grup D akan menghadapi Italia runner-up grup C sementara Swedia atau Russia ditunggu sang juara grup C Belanda yang dini hari tadi mengalahkan Rumania 2-0. Persaingan di Euro 2008 bakal makin menarik. ***

Piala Eropa 2008 : Italia vs Prancis

Piala Eropa 17 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Prancis vs Italia “Dead Or Alive”

Oleh : John Halmahera

Semua laga pada matchday grup yang terakhir berlangsung serentak pada jam yang sama di dua tempat. Italia versus Perancis di Zurich, Belanda kontra Rumania di Berne, pada jam yang sama 20.45 waktu setempat atau dini hari 01.45 WIB. Tetapi dua raksasa Eropa, Italia dan Perancis, tidak lolos ke perempat final jika Belanda kalah dari Rumania. Dan Oranye bisa saja kalah, apalagi jika menurunkan line-up lapis kedua dan main setengah hati. Sebab motivasi skuad van Basten mungkin tak lagi menggebu karena sudah memastikan diri lolos dengan dua kemenangan atas Italia 3-0 dan Perancis 4-1. Kemungkinan inilah yang ditakuti Roberto Donadoni dan Raymond Domenech.
Tetapi saya pikir baik Italia maupun Perancis tak akan memikirkan kemungkinan itu. Mereka akan konsentrasi dan fokus pada laganya sendiri. Flash-back ke stadion Feyenoord Rotterdam tanggal 2 Juli di grand-final Euro 2000, dalam perpanjangan waktu Italia kalah 1-2 dari Perancis. Itu 8 tahun lalu, meski tidak ada hubungan langsung dengan hari ini, namun memori sejarah pasti menumbuhkan motivasi dan semangat mereka. Perancis ingin membalas kekalahan di final Piala Dunia 2006, dilain pihak skuad Donadoni ingin revanche final Euro 2000.
Prancis masih terus bebenah. Domenech pusing, seperti juga Donadoni. Setelah penampilan buruk lawan Rumania, draw tanpa gol, Domenech mengganti 3 pemain starter XI, Eric Abidal, Karim Benzema dan Nicolas Anelka yang pada menit 75 masuk menggantikan Sidney Govou. Pemain baru yang masuk, Patrice Evra, Sidney Govou dan striker yang ditunggu-tunggu publik, Thierry Henry. Ternyata perubahan itu tidak menolong, Perancis tetap saja tanpa inspirasi dan determinasi. Hadirnya Thierry Henry hanya sebatas mencetak gol balasan 1-2 ke gawang Van Der Sar selebihnya dia mentok ditahan Khalid Boulahrouz atau Joris Mathijsen. Prancis pun kalah telak 1-4 dari Belanda, kekalahan memalukan yang memancing kemarahan pers Prancis.
Bagaimana dengan azzurri? Kekalahan memalukan 0-3 dari Belanda memaksa Donadoni merombak starter XI. Lima pemain tergusur, Barzagli, Gatusso, Di Natale, Materazzi dan Massimo Ambrosini yang menit 85 masuk menggantikan Camoranesi. Lima yang baru di starter XI adalah Chiellini, Grosso, De Rossi, Perrotta, dan Del Piero.
Juga tidak menolong banyak. Pertahanan Rumania sulit ditembus. Italia juga tidak beruntung, gol Luca Tony ke gawang Rumania dianulir. Belakangan wasit Norwegia,
Tom Henning Ovrebo mengaku salah, gol itu sah, Tony dalam posisi onside. Tetapi pengakuan itu tidak mengubah sesuatu kecuali menambah kepercayaan diri Luca Tony.
Prancis bukan lagi les blues semasih diperkuat superstar Zinedine Zidane yang membawa tropi juara Piala Dunia 1998 dan juara Euro 2000. Seperti juga ketika menjuarai Euro 1984, yang mana superstar Michel Platini menjadi pemeran utama sukses besar les blues. Kini Prancis tak punya lagi superstar sekelas Platini dan Zidane. Seandai Patrick Vieira fit dan bisa tampil, pun tidak akan sehebat dua pendahulunya itu.
Selain itu, beberapa pilar utamanya berusia diatas 30-an, Lilian Thuram, William Gallas, dan Claude Makelele yang menjadi tulang punggung pertahanan. Menghadapi Belanda, mereka masih bisa membantu menyerang selama 10 menit pertama, setelah itu mereka kedodoran diajak lari “young guns”nya Van Basten seperti Sneijder, Van Persie, Robben, van der Vaart.
Prancis meleng. Pasca era Zidane, mereka lalai. Terlambat regenerasi. Domenech masih terbius dengan nama besar Makelele Cs, dia tak berani berinovasi merekrut “young guns” seperti revolusi yang dilakukan Marco van Basten, Luis Aragones, Slaven Bilic, Juergen Klinsmann yang kini diterusin Joachim Low. Kalaupun Prancis lolos dan bahkan menjuarai Euro 2008, tak lain hanya keajaiban seperti hasil Yunani empat tahun lalu.
Italia tidak lebih baik dari Prancis. Roberto Donadoni datang membawa skuad jawara dunia 2006, kecuali Fabio Carnavaro yang cidera. Kualitas pemain semuanya mumpuni, kelas dunia, seperti juga Prancis. Kualitas prima. Tetapi Donadoni bukan Marcello Lippi yang punya seabrek gelar di kantongnya. Lippi disegani karena pengalaman dan prestasinya. Donadoni tidak. Sementara pemain sama semua. Satu pertanyaan sederhana, apakah Roberto Donadoni bisa bergaya seperti Lippi?
Kalaupun Italia lolos dan keluar sebagai juara, seperti juga Prancis, itu keajaiban semata. Sepakbola memang penuh keajaiban, terkadang keajaiban mengalahkan logika. Tetapi pers tidak pernah mau bergantung pada keajaiban. Pers, publik dan pasar tarohan menghitung dari semua aspek dan menempatkan “keajaiban” di alam mimpi.
Duel Italia versus Prancis akan ketat, seru dan menegangkan serta panas. Ini tak hanya mempertaruhkan gengsi, juga mati hidup. Keduanya “mati” jika Rumania menang atas Belanda. Salah satu “mati” jika Belanda menang atau draw. Tetapi yang “hidup” harus menjalani partai “neraka”. Siapa pun yang menang, akan compang-camping ibarat baru bangkit dari “kubur”.
Italia ingin revanche final Euro 2000 dan melestarikan kemenangan final Germany 2006. Prancis ingin membalas perbuatan memalukan Materazzi terhadap Zidane yang mengakibatkan superstar les blues itu diganjar kartu merah dan Prancis kalah di final Germany 2006. Partai yang sarat gengsi dan dendam. Rasanya tak perlu lagi Donadoni dan Domenech mengintip hasil Belanda versus Rumania, tuntaskan saja laga “dead or alive” itu. Jika hasilnya draw, peluang draw sangat besar, karena selisih gol sama yakni 1-4, akan ada perpanjangan waktu dan adu pinalti. Pokoknya satu tim “dead” satunya lagi “alive”. Italia mungkin bisa menang, tapi peluangnya tipis, sangat tipis. ***


Piala Eropa 2008 : Austria vs Jerman

Artikel Piala Eropa 16 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Panasnya Cordoba’78 dan Wina’31

Oleh : John Halmahera

Sudah selayaknya seantero negeri Polandia mengutuk keputusan kontroversial wasit Howard Webb yang menghukum pinalti Polandia. Pinalti yang dieksekusi Ivica Vasic di masa injury-time itu tidak hanya merampok kemenangan skuad Leo Beenhakker juga mempersempit peluang lolos ke perempatfinal. Pasalnya, hari itu Jerman main lebih awal dan dikalahkan Kroasia. Sehingga jika skor tetap 1-0 dan di hari terakhir Polandia menang atas Kroasia sementara Jerman ditahan draw Austria, maka Polandia lolos.
Ulah Webb itu mengubah konstelasi peluang di grup B. Situasi kini sangat tidak menguntungkan Polandia, sebaliknya membuka peluang lolos bagi Jerman dan Austria. Jika Jerman hanya mendapat nilai draw lawan Austria, maka untuk lolos Polandia harus menang minimal dua gol atas Kroasia. Jika Jerman menang, otomatis lolos. Jika Jerman kalah, maka Austria yang lolos dengan catatan Polandia hanya menang tipis atas Kroasia.
Joachim Low dan skuadnya tahu persis posisi timnya. Kekalahan dari Kroasia dialami Jerman karena mereka main tidak sebagaimana tim panser. Passing tidak akurat. Tidak melakukan pressure pada lawan. Tidak memainkan one-touch-football yang cepat, akurat dan langsung ke tujuan. Michael Ballack Cs main seperti bukan ciri Jerman malah sebaliknya Kroasia yang memainkan ciri Jerman. Itu pengalaman pahit bagi tim panser.
Lemahnya bek kiri Marcell Jansen merupakan mala petaka bagi kiper Jens Lehmann. Dua gol Kroasia memanfaatkan serangan sayap mereka. Pers Jerman mengutak-atik kelambanan Low mengganti Jansen, dia baru menggantinya dengan David Odonkor setelah turun minum. Kata orang, “the past is dead”, tak ada gunanya mengungkit hari kemarin. Tim panser kini bebenah serius.
Tak boleh lagi mengulang kesalahan sekecil apa pun. Low dan skuadnya harus tampil sempurna. Jika memberi nilai penampilan dua pertandingan kemarin, lawan Polandia Ballack Cs dinilai 6 tapi karena dua gol Podolski maka nilainya jadi 7. Lawan Kroasia dinilai 5,5 dan sebab kalah maka nilainya jadi 5. Lawan Austria, Ballack Cs harus meningkatkan kerja semua lini dan mencetak gol, nilai penampilan harus delapan.
Austria, peringkat 101 FIFA dan 43 UEFA, jauh berada dibawah Jerman (5 FIFA dan 3 UEFA), tetapi dengan keharusan menang serta dukungan supporter yang pasti akan memenuhi stadion Erns Happel, Wina, maka skuad Josef Hickersberger akan salin rupa menjadi kekuatan yang tidak mudah dilindas panser. “Ayo rame-rame mengulang peristiwa Cordoba!” Teriakan ini diserukan hampir semua anak negeri Austria.
Cordoba adalah tempat laga Austria versus Jerman Barat (nama Jerman sebelum bersatu dengan Jerman Timur) di Piala Dunia Argentina 1978. Waktu itu Austria menang 3-2 sekaligus menyingkirkan Jerbar. Waktu itu Jerman memerlukan kemenangan untuk lolos ke perebutan peringkat tiga lawan Brasil. Tapi kekalahan itu menempatkan Jerbar di posisi tiga dibawah Argentina dan Italia, sehingga Italia yang maju menghadapi Brasil. Waktu itu Jerbar ditukangi Helmoet Schoen dan punya seabrek nama besar, Sepp Maier, Vogts, Bonhof, Holzenbein, Rummenigge. Di kubu Austria Krankl, Prohaska, Pezzey, Hickersberger (pelatih yang sekarang, red) dan kiper Koncilia. Hari itu Hans Krankl mencetak dua gol, itulah kekalahan pertama Jerbar sejak digunduli Austria 0-5 tahun 1931.
Dua hari ini kubu Austria, termasuk pelatih Hickersberger bagai berada dalam tungku membara, memori Cordoba membakar semangat seluruh skuad. Bahkan kapten Austria, Andreas Ivanschitz seakan tak sabar menanti datangnya laga lawan Jerman. Nostalgia kejayaan “the wunder team” besutan pelatih legendaris Hugo Meisl membantai Jerman Barat 5-0 di Wina 77 tahun lampau ikut membangkitkan semangat baru Austria. Kali ini Austria juga tampil di Wina, tepatnya stadion Ernst Happel. Beberapa pilar Austria, kiper Juergen Macho, Martin Stranzl, Emanuel Pogatetz, Andreas Ivanschitz, Sebastian Prodl dan Martin Harnik akan berjuang sampai keringat penghabisan.
Supporter yang fanatik dengan semangat “panas” mendukung skuad Hickersberger akan jadi lawan bagi Michael Ballack Cs. Jika masih tampil dalam performans seperti dua pertandingan kemarin, jangan harap Ballack Cs bisa menaklukkan semangat “Cordoba dan Wunder Team” yang sudah merasuki segenap skuad Austria. Tehnik, pengalaman, fisik baik perorangan maupun secara team, Jerman masih lebih unggul. Dan Joachim Low harus bisa mengembalikan kepercayaan diri Lehmann, Ballack, Lhamm, Podolski, Frings, Klose, Mertesacker dan Metzelder, mengangkat performans mereka sebagaimana layaknya tim panser.
Laga ini akan sulit bagi kedua tim. Permainan keras yang melibatkan emosi akan mewarnai setiap momen. Perebutan kekuasaan di lapangan tengah, determinasi ke kotak pinalti lawan, serangan lewat sayap dan duel-duel udara akan mudah memicu permainan menjadi panas. Hiruk pikuk pendukung tuan rumah akan ikut membakar atmosfir pertandingan menjadi panas membara. Semoga wasit bisa meredam suhu panas ini dan bertindak adil serta fair. Peluang terjadinya hasil draw sangat besar, kalaupun harus memilih pemenang maka kans Jerman lebih besar 52 persen banding 48. ***