Tuesday, October 14, 2008

Lingon The Lost Indonesia's Wild White Tribe, published by John Halmahera, October 2008



More information about “Lingon, the Lost Indonesia’s Wild White Tribe”


Lingon, The Lost Indonesia’s Wild White Tribe
published by : John Halmahera

I’m interested in writing this article after reading Paul Spencer Sochaczweski article which published Friday May 12th 2004 on iht.com and International Herald Tribune newspaper, rubric opinion, May 12th 2004 titled “Meanwhile: In Search of Indonesia’s wild lost white tribe.”
In his article, Paul called his mission looking for Lingon tribe in a remote area of east Halmahera in 1993 through Subaim village. Then he met Pisondodo, a man from the Togutil tribe.

If Paul entered the remote area in 1993, I came more early. In Jakarta May-April 1976, at the time I was 29 years old I met Mr. Song C Choon, American citizen who born in Korea and lives in Hawai while that present time doing business in Jakarta. With service from my friend, (the late) Mr Bram Ambarak who was born in Ternate but growed and do bussiness in Jakarta, who had HPH legal logging concession in West Halmahera.

Song C Choon willing to buy HPH in remote area around Subaim, Dodaga and Gurua in East Halmahera. Our mission was to calculated density of agathis wood –called kayu dammar- manually. If the density accomplishes the business calculating, then Song will bought the HPH.
Later on in Jakarta there’s job contract agreement, I work as a road guide and local language translator, to make a documentation about the density of agathis wood.

On April, me and Song C Choon start, meanwhile Song waited in Ternate, me and a Ternate,s citizen name Don Al Hadar, went to Lolobata village in Teluk Kao coast. I met Ishak Ahdin, about 50 years old, a very respected man in that area, a former village leader (kapala kampong).
I asked him for safety for my mission.

The next day he introduced me with 8 of his bodyguard who are respected fighter and experienced in the jungle to escort my group. They are Togutil men that already lived in coast village but still have family deep in the jungle. Mr. Ishak Ahdin can’t go along with the group but he enclose his sonname Bungtomo, 25 years old, as my bodyguard.

From Ishak Ahdin statement, it is the first time I heard the name of Lingon and Berebere and Togutil, three native tribe that still primitive and lived hiding deep in the jungle. Two years before, in 1974, Ishak Ahdin with some of his men, escort two Swedish people, one of them are woman, entered the jungle to Gogolomo mountain looking for Lingon tribe. But they didn’t find the tribe they’re looking for. Ishak Ahdin said, that according to the Swedish, there’s a strong assumption that Lingon tribe came from Sweden/Scandinavia.

So after prepared in Lolobata, I came back to Ternate. And the next week : me, Song, and Usman Tjan a delegate of forestry ministry Ambon that assign in Ternate especially North Maluku, heading to Lolobata.

Along with 8 bodyguard, plus Bungtomo, we entered the jungle for a month. We aren’t always in the jungle, according to the route sometimes we go out to take a rest for one or two days in coast’s village Lolobata, Foli, Dodaga, Subaim and Gurua.

In Subaim, I saw from just a few meters, three people riding canoe (perahu) on the Subaim river. Two women white skin like Europeean with blue eyes and blonde hair, along with one man whom had yellow mixed with brown skin. According to people, they rarely came to coast, they lived in remote area (jungle) about 10 to 15 kilometers from the coast line. The husband are Togutil. The older woman was a true Lingon. The young girl, their daughter, halfblooded Togutil-Lingon. Unfortunately they appear in very short time, and they didn’t want to meet foreign people. At that time I have no interest to make interview or take photoes.
My conclusion, Lingon tribe was existed. They are wild and lived far deep in the jungle. They never came to coast. According to people, they not cannibals. Their skin white, blonde hair, blue eyes, tall body, more taller than most of Togutil or coast people.

In Dodaga, quite far from the coast, I met an old man, Mr. Baim, about 80 years, means he was born around 1895. From his physical gesture and body movement which is still fast and agile, people believe his age about 60 years old. He was famous for when he was young (about 30 years old) he killed a man from Berebere tribe (about 1925).

He told me, Lingon aren’t cannibals but Berebere the cannibals. Generally, Berebere walks alone, rarely gathering, they huge and tall about 7 feet, black skin, naked. At that time (1976) Berebere are hard to find. More likely almost extinct.
My conclusion, Berebere was existed, this cannibals tribe in years 1976 almost extinct therefore possibly nowadays, 2008, they already extinct. The same thing also happen to fate, growth and population of Lingon tribe. Lingon, white skin like European people, not cannibals and possibly now in 2008 already extinct too.

Among the three native tribes, Togutil have larger population. For many years there’s been war between tribes. Togutil which had greater number hunted Lingon, killed Lingon men, detained Lingon girls and married them. Togutil, very much like origin Dayak tribe, yellow and brown skin, nowadays (2008) are still scattered in East Halmahera jungle.
Published by John Halmahera, October 2008.

Tuesday, July 1, 2008

Piala Eropa 2008 : Final Spanyol Pantas Juara !

Piala Eropa 2008 / 29 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Spanyol Pantas Juara

Oleh : John Halmahera

Lari lebih cepat satu detik dari bek kiri Philipp Lahm, ujung sepatu Fernando Torres mencungkil bola, sepersekian detik lebih cepat dari hadangan tubuh dan tangan Jens Lehmann. Bola melewati badan kiper Jerman itu dan menerobos gawang kosong. Itulah gol ke-17 striker berusia 24 tahun untuk timnasnya dan nilainya sangat mahal, senilai gelar Euro 2008, gelar yang diburu tim matador sejak tahun 1964 lampau.
Hampir sama penampilannya seperti di semifinal ketika menjinakkan beruang merah Russia, one-touch-football dengan short-passing yang nyaris sempurna skuad Luis Aragones membuat Jerman tidak mampu tampil maksimal. Saya kira, gaya main Spanyol itu, yang sungguh euro-latin asli, merupakan jawaban jitu untuk mengatasi Jerman. Gaya main Spanyol itu hanya bisa diperagakan jika para pemainnya memiliki individual skill yang diatas rata-rata. Gaya main ini sama persis dengan “latin style” samba Brasil atau tango Argentina tapi yang dikemas dengan disiplin dan pragmatis ala Eropa. Dan Jerman sering tidak berkembang menghadapi gaya main ini. Ingat saja, di final Piala Dunia 2002, Jerman tak mampu mengatasi samba Brasil dan harus kalah 0-2.
Persaingan dan perebutan kekuasaan lapangan tengah menjadi inti dari partai final tadi. Jerman tahu persis kekuatan midfield Spanyol, makanya memainkan format andalan 4-1-4-1. Michael Ballack, Torsten Frings, Schweinsteiger dan Podolski bersaing ketat dengan kwartet Spanyol, Andres Iniesta, Xavi Hernandes, David Silva dan Cecs Fabregas. Peran gelandang bertahan Marcos Senna yang sering keluar dari posisi bertahan, membantu empat rekannya, ikut menghidupkan permainan matador.
Dua tim memang tampil bagus. Gol Torres menit 33 itu menjadi pemicu memuncaknya kualitas permainan, Jerman memburu gol balasan, mendesak dengan determinasi tinggi, Spanyol tetap sabar, menahan diri tetapi juga memburu gol kedua. Jika Jerman berhasil menyamakan skor, Spanyol bisa runyam. Sebaliknya jika Spanyol bisa menecetak gol kedua (2-0) maka Jerman sudah diambang keruntuhan.
Tradisi Jerman dengan sederet gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa disebut sebagai bayangan kebesaran yang pasti akan memblok mental tanding tim matador. Namun hari itu, Iker Casillas Cs menepis anggapan skeptis itu, ternyata anak-anak Spanyol punya mental juara. Mereka bermain sabar, stabil dan konstan mempertahankan gaya short-passing dengan serangan terukur. Mereka memperlihatkan kelasnya sebagai tim yang pantas juara.
Jerman pernah kalah dari Kroasia di babak penyisihan. Tetapi Spanyol tak pernah kalah. Menang dalam tiga partai penyisihan grup. Draw dengan juara dunia Italia yang dikalahkannya lewat adu pinalti. Menggusur Russia di semifinal. Di final mengalahkan Jerman 1-0. Mereka mencetak 12 gol, kemasukan 3 gol dari 5 pertandingan, bukti sebagai tim paling produktif.
Euro 2008 meninggalkan banyak kenangan bagi para pesertanya. Turki pulang dengan kemenangan, meski di semifinal kalah 2-3 dari Jerman. Penampilan heroik dan pantang menyerah skuad Fatih Terim ini menjadi pembelajaran-ulang bahwa menang kalah hanya ditentukan setelah pluit panjang ditiup wasit. Swiss, Ceko dan Kroasia belajar dari gol kemenangan yang dicetak Turki di penghujung waktu.
Slaven Bilic, pelatih Kroasia akan mengenang gol Turki sekian detik menjelang usai sebagai kenangan pahit selama hidupnya. Tetapi dia belajar dari pengalaman itu, dia berjanji akan membawa Kroasia lebih berkualitas di Piala Dunia 2010 nanti. Italia, sang juara dunia langsung memecat Roberto Donadoni. Penggantinya Marcello Lippi, entrador yang membawa azzurri juara dunia 2006. Meski tersingkir oleh Spanyol lewat adu pinalti, tetapi Donadoni tetap diputuskan gagal. Dalam sepakbola kelas dunia, hanya satu target, juara. Tak boleh ada persepsi selain menang dan juara.
Marco van Basten dan skuad Oranye juga belajar bahwa menghajar Italia 3-0, Prancis 4-1 dan Rumania 2-0 belum menjadikan mereka juara. Kesombongan dan takut kalah, membuat mereka tak berdaya oleh Russia yang diawal penampilan digulung Spanyol 1-4. Belanda disingkirkan Russia yang ditukangi orang Belanda Guus Hiddink.
Russia kalah 0-3 di semifinal oleh Spanyol, kekalahan kedua. Tetapi mereka pulang ke negerinya disambut selayaknya tim juara. Nama Arshavin, gelandang serang klub Zenit menjadi idola baru di Moskva dan sekitarnya. Kebalikan dari Rusia, tim ayam jantan Prancis babak belur, ditahan Rumania 0-0, digasak Spanyol 1-4 dan keok di kaki Italia 0-2. Les Blues pulang ditengah kecaman pers dan fansnya. Biang keladinya, sudah tentu sang pelatih, Raymond Domenech. Segera ganti Domenech, teriak pers Prancis.
Banyak suka duka mewarnai Euro 2008 sejak kick-off 7 Juni lalu, semua tim datang dengan optimistis, sebagian pulang dengan kecewa dan kenangan pahit, sebagian pulang membawa kekalahan tetapi dengan kepala tegak, hanya satu yang pulang dengan gelar juara. Tropi yang diusung anak-anak tim matador itu menjadikan pemandangan pahit dan kecewa Joachim Low. Ketika nonton gaya one-touch-fooball Spanyol di semifinal, pelatih Jerman ini yakin resep strateginya akan memenangkan partai final. Nyatanya, Joachim Low gagal mematikan kreatifitas anak-anak Spanyol.
Lepas dari menang kalah, partai final itu sangat layak disebut the best match of the tournamen, betul-betul partai kelas dunia. Siapapun pemenangnya, saya kira pantas saja. Tetapi Spanyol tampak lebih berkualitas. Generasi Iniesta, Xavi, Fabregas, Villa, Silva dll akan jadi pilar kuat tim matador di Piala Dunia 2010 nanti. Hanya masih dalam tandatanya, apakah mundurnya Luis Aragones membawa pengaruh negative, dan apakah pelatih penggantinya sanggup membawa Spanyol sehebat pengaruh Aragones? Sejarah yang menentukan. ***

Piala Eropa 2008 : Final Jerman vs Spanyol 29 Juni 2008

Piala Eropa 2008 / 29 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Spanyol Tantang Tradisi Jerman

Oleh : John Halmahera

Russia yang tampil penuh pesona dan mematikan di tiga partai sebelumnya, termasuk menggasak Belanda 3-1 dalam extra-time, tak berkutik di semifinal. Spanyol mendikte permainan. Tak ada ruang sedikit pun buat Ashravin dan Pavlyuchenko. Keduanya tak mampu menembus gelandang bertahan kelahiran Brasil, Marcos Senna. Jika toh lolos dari Senna, mereka dihadang duet centre-back Marchena-Puyol. Di sektor kiri Sergio Ramos yang meskipun aktif naik menyerang selalu turun tepat waktu memblok terobosan lawan. Di kiri, Joan Capdevila pun gigih dan agresif.
Di lini tengah Andres Iniesta, Xavi Hernandes, David Villa dan David Silva menjadi sumber petaka bagi Russia. Dari situlah Spanyol memainkan “one-touch-football” mendikte dan menguasai permainan. Russia tak mampu mengembangkan permainan. Xavi dan Iniesta mengendalikan tempo. Pressure pemain Russia juga tidak jalan, sebab anak-anak Luis Aragones gesit membuka ruang dengan pergerakan tanpa bola, passing dan muncul pada posisi dan waktu yang tepat.
Menit 34 ketika David Villa cidera dan digantikan Cesc Fabregas lapangan tengah tetap dibawah kendali matador sampai lahirnya gol Xavi menit 54. Masuknya Xabi Alonso menggantikan Xavi menit 69, tempo main Spanyol tetap konstan. Gol kedua lahir lewat kreatifitas Iniesta dan Fabregas diselesaikan striker tunggal Daniel Guiza yang baru 4 menit masuk menggantikan Fernando Torres. One-touch football Spanyol membuat Russia morat-marit. Padahal Guus Hiddink dan skuadnya setelah kekalahan 1-4 datang di semifinal dengan mengusung dendam dan strategi “membunuh” banteng.
Kalau sebelumnya, saat kalah 1-4 itu, Russia ibarat kalah oleh diri sendiri, di semifinal, Sergei Semak Cs tidak lagi melakukan error individu atau error kolektif. Tapi Russia benar-benar dikalahkan Spanyol. Kalah dalam perebutan lapangan tengah, berarti kalah segala-galanya.
Dan peragaan one-touch football itulah yang kini jadi pemikiran Joachim Low di final bergengsi Senin dini hari WIB besok. Ini final ideal antara dua tim favorit. Tidak seperti Euro 2004 ketika tim kejutan Yunani muncul di final dengan negative-football dan mengalahkan favorit Portugal. Final 2008 ini menjanjikan daya tarik dan rangsangan menarik. Jerman dengan staying-power-team, long passing dan terobosan sayap akan adu kuat dengan one-touch-football Spanyol yang stylish but deadly.
Spanyol dengan formasi 4-1-4-1 menjajal pola 4-2-3-1 ala panser yang disemifnal terbukti ampuh mengalahkan tim penuh kejutan Turki yang pantang menyerah. Perebutan kekuasaan lapangan tengah sangat menentukan. Tidak hadirnya David Villa karena cideranya tak mungkin pulih dalam waktu dekat, tidak jadi persoalan. Cesc Fabregas akan masuk starter XI. Kwartet Fabregas-Xavi-Iniesta-Silva adu kuat-adu cerdik lawan Bastian Schweinsteiger-Torsten Frings-Michael Ballack-Lukas Podolski yang dibantu gelandang bertahan Thomas Hitzlperger. Lini belakang Jerman, Arne Friedrich-Christoph Metzelder-Per Mertesacker-Philipp Lahm harus lebih solid menghadapi kelincahan dan kecepatan Fernando Torres dan para gelandang serang matador.
Dari pengamatan, kekuatan lini tengah dua tim imbang. Tetapi kiper dan lini belakang Spanyol lebih solid dan taktis. Sementara Miroslav Klose masih lebih menggigit dibanding Torres. Dalam kerjasama-tim Spanyol lebih solid, sedikit buat error dan lebih kreatif memainkan one-touch-football yang mematikan itu.
Bola jalan lebih cepat dari gerak pemain lawan, itu kunci permainan Spanyol. Hal ini akan membuat lawan cepat letih fisik dan psikis. Guus Hiddink memuji one-touch-football yang dimainkan Spanyol. “Mereka tim bagus dan layak maju ke final. Tim saya kesulitan mengatasi one-touch-footballnya. Spanyol juga punya power untuk bergerak ofensif terus tanpa henti,” puji orang Belanda yang pelatih Russia itu.
Tetapi Jerman punya kelebihan yang biasanya sangat berpengaruh pada hasil menang dan kalah. Itulah tradisi sebagai tim besar. Jerman dijuluki spesialis turnamen karena selalu tampil luar biasa dalam turnamen.
Coba lihat, data Jerman di dua turnamen akbar Piala Dunia dan Euro. Jerman 7 kali finalis Piala Dunia, tahun 1954 menang dan tampil sebagai juara, 1966 kalah, 1974 menang, 1982 kalah, 1986 kalah, 1996 menang, 2002 kalah.
Di Euro data Jerman juga cukup menarik, 6 kali finalis. Tahun 1972 menang dan juara, 1976 kalah, 1980 menang, 1992 kalah, 1996 menang, 2008 kalah? Benarkah Jerman bakal kalah?
Spanyol tak pernah semifinalis Piala Dunia. Di Euro pun minim. Tiga kali finalis. Tahun 1964 menang dan juara, tahun 1984 kalah oleh tuan rumah Prancis, tahun 2008 menang? Menang, kalah, dan menang? Benarkah Spanyol bakal menang?
Jerman punya tradisi kuat di turnamen besar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, sesuatu yang tak dimiliki Spanyol. Tradisi dan kebesaran inilah yang ditantang skuad Luis Aragones. Sebenarnya di Euro 2008 Spanyol sudah memperlihatkan kesanggupan mengimbangi tim dengan tradisi kuat yakni Italia. Meski tidak menang dalam 120 menit tetapi mental matador telah memenangkan adu pinalti.
Saya pikir, Spanyol akan menang jika memainkan one-touch-football seprima mereka menggulung Russia 3-0 di semifinal. Tetapi jika mental skuad Aragones ini mentok oleh tradisi kuat Jerman maka meskipun ditonton Raja Spanyol Juan Carlos, pangeran Felipe dan isterinya Letizia serta presiden federasi sepakbola Spanyol Jorge Perez, maka yang berteriak gembira di royal box adalah kanselir Jerman Angela Merkel. Kita tunggu saja. ***

Thursday, June 26, 2008

Piala Eropa 2008 Semifinal Russia vs Spanyol

Piala Eropa 2008 / 26 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Awas, Ini Russia Baru

Oleh : John Halmahera

Pasukan beruang merah Russia tampil di semifinal tanpa diperkuat dua pilarnya, defender Denis Kolodin dan gelandang serang Dmitri Torbinski. Keduanya kena kartu kuning kedua dalam laga lawan Belanda. Sementara di kubu Spanyol, tiga pemainnya yang sebelumnya sudah kena kartu kuning lolos dari “booking” saat laga lawan Italia di perempat final. Ketiganya Alvaro Arbeloa, Daniel Guiza dan Carlos Marchena. Hal ini melegakan bagi Luis Aragones yang punya pilihan 23 pemain untuk dimainkan dalam semifinal lawan Russia dini hari nanti.
Kehilangan dua pemain itu bagi pelatih Russia, Guus Hiddink, satu pukulan. Denis Kolodin adalah salah satu pilar bek-tengah bersama Sergei Ignashevich. Absennya Kolodin, mungkin pilihan Hiddink akan jatuh pada Roman Shirokov, centreback klub Zenit yang bisa main di berbagai posisi.
Sejak ditangani Guus Hiddink, pola main tiga bek yang bertahan lama di tim Russia beralih menjadi empat bek. Belakangan Hiddink lebih menyukai pola 4-2-3-1. Dalam semifinal lawan Spanyol di Wina mungkin dia memainkan Ignashevic berdua Shirokov. Di depannya ada dua gelandang bertahan Sergei Semak dan Igor Semshov sebagai “dirty work” yang tugasnya membendung serangan lawan.
Kreatifitas membantu serangan bertumpu pada tiga attacking midfield yang juga tangguh dalam bertahan, Konstantin Zyryanov, Diniyar Bilyaletdinov atau Ivan Saenko serta Andrei Arshavin yang sering beralihfungsi menjadi striker memanfaatkan lubang pertahanan lawan yang dibuka oleh striker tunggal, Roman Pavlyuchenko. Dua fullback Aleksandr Anyukov (26 th) dan Yuri Zhirkov (25 th) masih tangguh naik menyerang dan turun bertahan sepanjang permainan.
Kedua tim pernah tanding sebelumnya. Russia kalah telak 1-4. Kala itu banyak kesalahan elementer yang dilakukan pemain secara individu maupun dalam menjalankan taktik strategi. Memberi ruang bebas pada pemain sekelas Fernando Torres dan David Villa, itu sama artinya menciptakan kesulitan dan masalah dalam pertahanan. Itulah yang terjadi di episode satu itu. Torres dan Villa mengobrak-abrik dan mengacak pertahanan Russia, David Villa bahkan mencetak hattrick.
Dalam pertandingan berikutnya, Russia bangkit dari “kematian”, menutup semua lubang kelemahan dan meniadakan kesalahan individu maupun taktik. Berturutan pasukan Hiddink ini menggasak Yunani 1-0 dan Swedia 2-0. Langkah berlanjut, mereka membuat kejutan besar di perempatfinal. Kala semua orang meramalkan Belanda sebagai superior, Russia tampil elegan dengan kemenangan fantastis 3-1 dalam extra time.
Lompatan besar ini, bukan hanya suatu kebangkitan dari kematian, lebih dari itu telah menanamkan rasa percaya diri pada pemain secara individu maupun team-work. Russia yang sekarang ada di semifinal ini, adalah Russia yang baru. Secara tehnik, tim ini tidak kalah kelas dari tim elit Eropa lain. Ini juga cerminan dari sukses klub Zenit St Petersburg memenangkan gelar UEFA Cup.
Episode dua Spanyol vs Russia ini akan berbeda dengan episode satu. Tahu persis bahwa lawannya sudah memperbaiki kesalahan dan bahkan sudah mencatat kemenangan dalam 3 pertandingan terakhirnya, Luis Aragones akan memainkan strategi berbeda. Kalau di penyisihan grup masih memungkinkan memperoleh “second wind”, di babak knock-out ini, error sekecil apapun sama artinya dengan menggali kubur kematian.
Tampaknya Russia akan main normal. Mereka tak akan memainkan defensive football, karena lebih menyukai pola serang. Spanyol juga menganut pola menyerang dengan dukungan materi mumpuni yang memiliki kecepatan fantastis dan sangat ampuh dalam serangan balik. Kekuatan Spanyol terletak pada materi lini tengahnya. Salah seorang penentu permainan adalah gelandang Barcelona, Xavi Hernandez. Gelandang usia 28 tahun dengan 61 caps dan 7 gol ini merupakan bagian penting dari skuad matador yang memenangkan Piala Dunia U-20 tahun 1999.
Dalam formasi 4-1-3-2 Aragones akan menempatkan Marcos Senna sebagai defensive midfield di depan dua centreback Carles Puyol dan Carlos Marchena. Dua gelandang yang mendampingi Xavi Hernandez adalah Andres Iniesta dan David Silva, sementara di depan dipasang dua tombak lincah Torres dan Villa. Inilah susunan inti tim matador dengan kiper piawai Iker Casillas dibawah mistar. Dua wingback Joan Capdevila di kiri dan Sergio Ramos di kanan sangat mobil dan pengalaman. Partai semifinal ini akan berlangsung ketat tidak kalah menarik dari Jerman versus Turki dini hari tadi. Tak ada lagi kejutan, Turki gagal menyamakan skor dan harus puas dengan kekalahan 2-3 dari favorit juara itu. Aragones juga mengharap tak ada kejutan dari Rusia lagi.
Semifinal di Wina akan sulit bagi dua pihak. Russia, setelah memijak semifinal punya ambisi besar menembus final. Kini tidak lagi ada istilah “nothing to loose” yang membuat Russia tampil tanpa beban dan sanggup bermain lepas, seperti laga sebelumnya. Kini impian menjadi juara Euro akan menjadi beban bagi tim asuhan Hiddink ini yang minim pengalaman internasional.
Di kubu Spanyol pun sami mawon, hanya bedanya skuad matador pengalaman di banyak pentas turnamen internasional. Ambisi menembus final juga akan menjadi beban tersendiri. Sudah lama negeri matador itu mengidamkan piala Eropa sejak menjadi juara di Euro 1964 dan finalis 1984, Spanyol tak pernah melangkah sampai grandfinal. Inilah kesempatan itu, sekarang atau tidak sama sekali. Di atas kertas Spanyol akan menang meskipun kekuatan sebenarnya sangat imbang. Peluang draw cukup besar. Dan jika terjadi adu pinalti, Russia harus was-was sebab sepanjang turnamen piala Eropa, Russia ataupun Uni Soviet belum sekalipun terlibat adu pinalti. Di lain pihak Spanyol baru saja menyingkirkan Italia lewat adu pinalti di babak perempatfinal.***

Piala Eropa 2008 Semifinal Jerman vs Turki

Piala Eropa 2008 / 25 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Jerman Dan Turki Beda Tipis

Oleh : John Halmahera

Kabar terakhir dari kubu Turki, kapten pengganti Nihat Kahveci sudah angkat koper pulang ke Spanyol. Cidera paha di menit terakhir partai perempat final lawan Kroasia itu ternyata cukup serius dan memastikan pemain klub Villarreal itu tidak mungkin bisa melanjutkan kiprahnya di Euro 2008. Kahveci yang mencetak dua gol ke gawang Ceko merupakan pemain Turki ke-lima yang pasti absen di semifinal lawan Jerman, Rabu malam (Kamis dini hari) nanti.
Sebelumnya, kiper utama Volka Demirel gagal memperoleh pengampunan UEFA atas skorsing dua pertandingan akibat kartu merah yang diterimanya dalam laga lawan Ceko. Demirel harus absen ketika skuadnya berlaga lawan Kroasia dan berlanjut hari ini lawan Jerman. Tiga lainnya, absen karena akumulasi kartu kuning yakni Emre Asik, Tuncay Sanli dan Arda Turan.
Turki tanpa lima pemain inti. Sisa 18 pemain, itupun tidak semuanya fit. Sebagian masih dibalut cidera termasuk Emre Belozoglu dan memerlukan perawatan intensif agar bisa tampil lawan Jerman. Hal ini meninggalkan tandatanya strategi dan line up Turki. Fatih Terim dalam konperensi pers melontarkan nada optimis Turki bisa melaju ke final.
Optimisme Terim dan skuadnya kali ini bukan hanya sesumbar kosong, tetapi bagi Jerman, sesuatu yang perlu diwaspadai. Dari posisi underdog yang tidak dihitung orang, Turki bisa melangkah sampai ke semifinal. Suatu pencapaian luar biasa, bahwa tim ini sanggup mengalahkan tuan rumah Swiss 2-1, Ceko 3-2 dan melangkahi Kroasia dalam adu pinalti di babak perempatfinal. Reputasi semifinalis dan peringkat tiga yang ditorehnya di Piala Dunia 2002 ternyata bukan sekadar kebetulan tetapi benar-benar suatu lompatan prestasi dan kualitas yang menjajarkan Turki ke papan atas Eropa.
Ketika Kroasia mencetak gol, Fatih Terim berteriak dari pinggir lapangan, memerintah Arda Turan agar cepat mengambil bola dari dalam gawang Rustu Recber. “Masih ada yang bisa kalian kerjakan, bangkit dan bekerjalah,” teriaknya. Dia tak mau menyerah sebelum pluit panjang wasit, itu filosofinya yang ditanamkan pada skuadnya. Dalam konperensi pers, dia mengatakan timnya telah bekerja keras selama dua tahun karenanya layak ke semifinal bahkan juga memenangkan turnamen. “Seandainya Kroasia yang menang, mereka juga layak, karena mereka juga tim yang baik. Tetapi saya senang kami yang jadi pemenang.” Kepada para pemainnya, dia mengingatkan kembali bahwa tidak ada batas untuk menggapai sukses. “Kita layak menjadi juara.”
Laga Jerman versus Turki berlangsung di Basel. Di kota Basel inilah Jerman menumbangkan Portugal di perempatfinal (19/6) dan di stadion Jakob Park ini juga Turki menyingkirkan tuan rumah Swiss di penyisihan grup (11/6). Semifinal ini juga kejutan Euro 2008 karena kedua tim adalah runnerup grup masing-masing. Laga ini juga reuni bagi para pemain Bayern Munchen, Hamit Altintop kelahiran Gelsenkirchen main untuk negerinya, Turki bertemu rekan seklubnya yang membela Jerman, Marcel Jansen, Bastian Schweinsteiger, Miroslav Klose, Philip Lahm dan Lukas Podolski. Semuanya menjadi inti kekuatan timnya. Altintop akan menjadi kunci skuadnya. Dalam laga versus Kroasia, dia tampil luar biasa, menjelajah lapangan dan berlari 14,2 km sepanjang permainan. Di kubu Jerman, lima pemain Bayern Munchen itu jadi pilar tim.
Bagi Joachim Low dan skuad pansernya, Turki adalah ancaman meskipun 5 pemain intinya absen, Turki punya pemain berkualitas seperti Rustu Recber, Hakan Balta, Gokhan Zan, Mehmet Topal, Semih Senturk, Kazim Kazim Sabri Sarioglu, Hamit Altintop. Selain itu masih ada pemain yang tak kalah kualitasnya, Ugur Boral, Gokdeniz Karadeniz dan Mevlut Erdinc yang bisa menggantikan Kahveci dan Servet Cetin jika yang terakhir ini belum pulih dari cidera. Adanya pemain berkualitas dan dipimpin pelatih sekelas Fatih Terim maka Turki punya kelas untuk bersaing di Eropa.
Kabar terakhir yang dirilis kubu Jerman adalah siapnya gelandang elegan dan pekerja keras dari klub Werder Bremen, Torsten Frings di laga semifinal. Frings absen dalam laga versus Portugal karena cidera tulang rusuk dalam tanding dengan Austria. Meskipun demikian masih tandatanya apakah Frings benar-benar sudah pulih seratus persen dan akan dimainkan Joachim Low. Karena tanpa Frings, Jerman nyatanya mampu melumpuhkan Portugal. Di perempat final itu, Jerman memperlihatkan kualitas panser yang sebenarnya. Struktur dan bangunan tim sangat kokoh dan teratur, semua pemain memaksimalkan kekuatan fisiknya dalam permainan.
Ketika mengalahkan Portugal, Low yang dihukum tidak boleh mendampingi timnya, memainkan line-up baru serta formasi berbeda. Dia mengganti dua pemain yang cidera Torsten Frings dan Clement Fritz serta striker yang main dibawah form, Mario Gomez dengan trio baru Bastian Schweinsteiger, Thomas Hitzlsperger dan Simon Rolfes.
Jerman mengubah formasi 4-4-2 yang kaku ke 4-2-3-1 yang ternyata berjalan lancar. Mungkin saja Jerman akan tampil dalam formasi berbeda namun pemain tidak berbeda jauh. Di bawah mistar Jens Lehmann. Di lini belakang Arne Friedrich, Per Mertesacker, Christoph Metzelder dan Philipp Lahm. Lini tengah Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Michael Ballack serta satu posisi antara Torsten Frings kalau sudah pulih atau Simon Rolfes. Di depan striker utama Miroslav Klose dan salah seorang penyerang antara Tim Borowski atau Oliver Neuville.
Dalam dua pertandingan terakhir ini Jerman memperlihatkan peningkatan dan jatidiri sebenarnya, bisa main dengan segenap potensi yang ada tidak tergantung siapa lawan yang dihadapinya. Jerman tim yang pantang menyerah, seperti juga Turki. Spirit dan kemauan kedua tim sama kuatnya. Maka laga semifinal ini akan sangat ketat, kedua tim punya peluang menang yang hampir sama, meskipun demikian di atas kertas Jerman lebih diunggulkan dan Turki ditempatkan sebagai underdog. ***



Wednesday, June 25, 2008

Piala Eropa 2008 : Analisa Keberuntungan Dan Kejutan

Piala Eropa 2008 / 24 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Keberuntungan Dan Kejutan

Oleh : John Halmahera

Euro 2008 benar-benar panggung drama yang diwarnai berbagai nuansa emosi dan kejutan. Ivan Klasnic yang mencetak gol ke gawang Turki, menit 119 atau 29 menit perpanjangan w aktu, tertawa histeris. Begitu juga semua pemain dan ofisial Kroasia. Fatih Terim dan skuadnya serta supporter Turki terjun bebas ke alam duka. Pertandingan belum usai tetapi kekalahan sudah membayang. “Kita pulang ke Istanbul,” kata mereka, sebagian antaranya sudah menangis. Tak ada lagi harapan. Tak mungkin Turki bisa beruntung lagi seperti ketika menggasak Ceko dengan dua gol di penghujung pertandingan yang membalik skor 1-2 menjadi 3-2 dalam waktu 3 menit.
Slaven Bilic mengingatkan timnya, jangan terbuai euphoria, masih ada sisa waktu, main terus dan bertahan rapat. Dua menit kemudian dalam masa injury-time. Kiper Rustu menendang jauh ke depan. Bola tepat menuju Semih Senturk. Striker klub Fenerbache ini mengontrol dengan dada, bola jatuh ke kakinya, memutar badan, mendorong bola sedikit di celah antara dua pemain Kroasia, dan melepas tembakan sekuat tenaganya. Kiper Stipe Pletikosa yang perkasa, tak sempat bereaksi, hanya bisa menatap bola menerobos pojok kanan atas gawangnya. Gol ! Skor satu-satu !
Hanya selang dua menit emosi berpindah. Tangis duka di kubu Turki kini pindah ke kubu Kroasia. Slaven Bilic, yang sepanjang pertandingan sering berjingkrak kecewa maupun senang, memegang kepalanya menatap tidak percaya ke lapangan. Bagaimana mungkin bisa terjadi, kemenanganyang sudah ditangan tiba-tiba lenyap. Defender Robert Kovac, Vedran Corluka dan Ivan Rakitic terpahna, tak percaya.
Seandainya kehidupan manusia bisa diputar ulang, maka dalam momen kritis itu, Kovac, Corluka atau Rakitic akan membuat pelanggaran, mendorong tubuh Senturk. Tak akan ada pinalti karena masih di luar garis, hanya akan berbuah kartu kuning dan tendangan bebas. Dan mungkin tak akan terjadi gol.
Tetapi hidup tak bisa diulang, hidup harus jalan terus. Nasib Kroasia sudah ditentukan saat itu. Wasit meniup pluit panjang. Giliran adu pinalti, pemain Kroasia masih dalam karut-marut emosi, Luka Modric bintang playmaker yang mengirim umpan matang ke Klasnic membuahkan gol Kroasia, menendang ngawur. Pinalti pertama itu gagal, dan seterusnya. Kroasia kalah! Turki menang!
Gol Semih Senturk itu keberuntungan. Tetapi Senturk juga punya kualitas. Kerjasama tim Turki juga terbilang solid, buktinya Kroasia yang bisa mengalahkan Jerman 2-1 tak mampu mengalahkan skuad Fatih Terim dalam waktu normal. Turki bahkan bisa menaklukkan Swiss dan Ceko setelah sebelumnya kalah dari Portugal.
Euro 2008 di mata sebagian pengamat adalah kompetisi yang sangat kompetitif, beda kualitas satu tim dengan yang lain, sangat tipis. Di grup A dua tim diunggulkan Portugal dan Ceko untuk lolos. Unggulan ketiga Swiss. Portugal juara grup. Tapi Ceko terpental, dan Turki jadi runner-up. Di grup B Jerman dan Kroasia bisa mengatasi Polandia dan Austria. Ramalan sesuai tetapi tidak persis 100 persen. Karena Jerman hanya runner-up dibawah Kroasia. Di grup C, grup neraka, Italia Prancis diunggulkan. Ternyata Belanda menekuk Italia 3-0 dan Prancis 4-1. Italia lolos dari lubang jarum, setelah menang 2-0 atas Prancis, Belanda juara grup, disusul Italia sebagai runner-up, Prancis dan Rumania out.
Di babak perempatfinal kejutan juga terjadi. Di Basel terjadi laga premature Jerman versus Portugal. Seharusnya ketemu di semifinal, tetapi lantaran Jerman kalah dari Kroasia dan jadi runnerup grup B, maka terjadilah “clash dead or alive” antara dua tim kelas dunia itu. Jerman yang survive setelah tampil nyaris sempurna. Portugal kembali mengalami kekalahan dan merasa tidak dinaungi keberuntungan.
Di Wina, Turki yang disebut-sebut pelatihnya Fatih Terim sebagai kumpulan “singa” yang tak kenal menyerah, mengirim pulang pasukan Slaven Bilic yang sudah memikat banyak orang karena penampilan sepakbola atraktif dan ofensifnya itu. Partai ini sangat dramatis, dibanding 3 partai knock-out lainnya. Tidak hanya 2 gol di penghujung perpanjangan waktu tetapi juga diselesaikan dengan adu pinalti yang memicu laju adrenalin dan debar jantung para supporter kedua tim.
Kejutan terjadi di stadion Jakob-Park. Puluhan ribu sopporter Belanda membanjiri kota Basel. Dimana-mana lautan oranye, mereka ingin menyaksikan timnya tak cuma mengalahkan Russia hari Sabtu itu tapi juga ingin menjadi saksi sejarah perjalanan Oranye meraih gelar juara Eropa. Bagaimana mereka tidak optimis? Pasukan Van Basten itu telah menghajar dua tim kelas dunia, Italia 3-0 dan Prancis 4-1, kemudian dengan skuad cadangan mengalahkan Rumania 2-0.
Ruud van Nistelrooy dkk punya skill hebat, kerjasama tim juga “ciamik”. Dan Belanda juga didatangi keberuntungan. Tetapi bukan Belanda di kubu Oranye, tetapi keberuntungan datang pada Guus Hiddink, orang Belanda yang jadi arsitek tim Russia. Orang Beanda itulah yang membangkitkan tim Beruang Merah dari keterpurukan ditekuk Spanyol 1-4 sampai akhirnya menyingkirkan Belanda yang dijagoi dipasar tarohan.
Di Wina kejutan kedua terjadi setelah sebelumnya Turki mengalahkan Kroasia. Tetapi kejutan hanya terjadi sepihak, yakni di kubu pendukung azzurri. Sepanjang sejarah turnamen besar, Italia selalu menang dari Spanyol. Lautan biru siap merayakan rayakan kemenangan. Tetapi tim matador tampil lebih trengginas. Italia sungguh beruntung tidak kalah. Namun keberuntungan itu pindah ke Spanyol. Drama adu pinalti dimenangkan skuad Luis Aragones, terimakasih kepada kiper Real Madrid, Iker Casillas.
Ternyata untuk memenangkan satu pertandingan dibutuhkan skill individu pemain yang diatas rata-rata, strategi pelatih dan kerjasama tim, serta yang tak kalah pentingnya, keberuntungan! Sekarang di Euro 2008 tersisa 4 tim di semifinal. Jerman versus Turki di Basel, kota dimana tim Joachim Low menyingkirkan Portugal. Di Basel ini juga skuad Turki menghantam tuan rumah Swiss 2-1. Semifinal berikutnya, Russia lawan Spanyol di Wina, kota dimana underdog Turki menyingkirkan Kroasia yang lebih super. Nah, kira-kira siapa diantara empat tim ini yang lebih beruntung, kita tunggu saja. ***

Monday, June 23, 2008

Piala Eropa 2008 : Perempat Final Russia vs Belanda

Piala Eropa 21 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Sihir Hiddink Coba Tahan Belanda

Oleh : John Halmahera

Sebelum kick-off Euro 2008 pasar taruhan mengunggulkan Jerman, Spanyol, Portugal, Prancis dan Italia. Waktu itu Belanda hanya di urutan lima atau enam, tetapi setelah dua pertandingan grup diselesaikan dengan membekuk Italia juara dunia 2006 dan Prancis juara dunia 1998, Belanda melonjak ke puncak pasar taruhan. Maka tidak heran Belanda diunggulkan atas Russia di perempat final di kota Basel ini. Orang teringat tahun 1988 ketika Rinus Michel membawa pasukan Oranye menjuarai Euro. Di final tim Oranye mengalahkan Russia (waktu itu masih Uni Soviet) dan Marco van Basten mencetak gol spektakuler menit 54, mengubah skor 2-0 setelah sebelumnya Ruud Gullit menembus gawang Rinat Dasayev menit 33.
Itulah satu-satunya gelar “mayor trophy” yang pernah direbut Belanda. Kini tahun 2008, van Basten ingin mengulang sejarah 1988. Dulu sebagai pemain, kini dia pelatih.
Dua langkah lagi, dia akan membawa Oranye menembus final untuk pertamakalinya sejak 1988. Selama ini pencapaian Belanda hanya 3 semifinalis (1976, 1992, 2000) dan juara (1988). Ambisi dan tekad Oranye tidaklah mudah, karena masih ada Russia yang harus dilewati. Belanda diunggulkan, presentase menang cukup besar. Tetapi sepakbola tidaklah indah jika tidak melahirkan kejutan. Apa saja bisa terjadi. Seperti Turki menyingkirkan Ceko 3-2, dengan dua gol Nihat Kahveci di tiga menit akhir. Kemudian Semih Senturk menembus gawang Kroasia beberapa detik menjelang “extra time” usai, membuat skor 1-1. Turki kemudian menang dalam adu pinalti dan melaju ke semifinal menantang Jerman. Itulah kejutan.
Belanda juga mewaspadai kebangkitan Russia. Setelah terpuruk 1-4 ditumbuk tim matador Spanyol, keajaiban tangan emas Guus Hiddink menyulap Russia menjadi tim pemenang. Berturutan Yunani digasak begitu pun Swedia. Hiddink yang orang Belanda asli ditantang untuk menjadi “penyihir” lagi dan mengalahkan tim negerinya sendiri. Tetapi mungkinkah itu? Strategi apa kira-kira yang diterapkan Hiddink?
Jika Russia mengubah pola dari menyerang dalam dua pertandingan sebelumnya, ke format defensive, itu tidaklah heran. Kekuatan Russia dalam dua pertandingan akhir adalah memenangkan duel lini tengah. Hiddink punya Semshov, Semak, Bilyaletdinov, Zhirkov dan bintang klub Zenit Petersburg, Andrei Arshavin. Semua gelandang Russia ini sudah dibiasakan Hiddink untuk menempati berbagai posisi midfield, bisa kiri, kanan dan tengah. Tetapi khusus Arshavin, yang posisi aslinya penyerang depan, diberi tugas menjelajah lini tengah.
Jika Hiddink memilih yang lebih defensive maka gelandang ini akan dirapatkan dengan lini bertahan. Tak boleh ada renggang jarak. Pola pertahanan berlapis ini sering dimainkan tim underdog jika bertemu lawan yang didukung kualitas penyerang mumpuni dan produktif. Maka benturan kekuatan midfield akan berperan, siapa yang lebih dominan dan menguasai lini tengah dialah yang menang. Belanda akan memainkan skuad terbaiknya. Wesley Snijder, Rafael van der Vaart, Arjen Robben, Nigel de Jong, Robin van Persie. Dalam situasi tertentu, van Bronckorst dan Khalid Boulahrouz akan naik dari wingback ke midfield. Pilihan lain, masih ada Dirk Kuyt, gelandang subur dengan 41 caps dan 8 gol, satu diantaranya di Euro 2008 dan Orlando Engelaar si jangkung 196 cm yang bisa main di kiri maupun gelandang bertahan.
Memiliki seabrek kualitas midfielder maka Van Basten punya banyak pilihan dalam format menyerangnya. Memang Belanda dipastikan akan main menyerang. Dalam 3 pertandingan grup, Oranye mencetak 9 gol dan hanya kebobolan satu. Andalan ini depan tidak lain, striker Real Madrid, Ruud van Nistelrooy selain cadangan Klaas Jan Huntelaar dan Jan Vennegoor of Hesselink. Penyerang utama Nistelrooy dengan 32 gol dikantongnya sedang mengejar rekor gol Belanda yang masih ditangan Patrick Kluivert dengan 40 gol.
Permainan Belanda selama 3 pertandingan, sangat menarik ditonton. Mereka sudah padu dalam satu tim yang utuh dalam permainan ataupun di luar lapangan. Beberapa hari lalu, Anissa, putri Khalid Boulahrouz meninggal dunia karena lahir premature, seluruh skuad berduka cita. Basten memberi keleluasaan pada bek kanannya untuk mendampingi isterinya, Sania, di rumah sakit. Ketika Khalid kembali ke kamp, Basten dan skuadnya menyambut gembira, apalagi pernyataan bek Sevilla itu bahwa dia siap mental dan fisik untuk main lawan Russia. Keutuhan di luar lapangan menjadikan Oranye bisa bermain lepas, tak ada beban meski berambisi besar untuk menang. Penonton akan menyaksikan permainan atraktif dan attacking Belanda sekali lagi.
Benarlah apa yang dikatakan para ahli, pertahanan terbaik adalah menyerang. Belanda memainkan pola menyerang yang selalu jadi ciri klub dan timnas Belanda selama ini. Di kubu Russia, sang “penyihir” Guus Hiddink yang pengalaman menangani klub-klub negerinya, bahkan pernah menangani sebagian pemain Oranye saat ini, tentu sangat mengenal lebih kurangnya “attacking football” Belanda ini. Mungkin Hiddink punya resep tertentu? Tetapi sampai dimana kekuatan “sihir” Hiddink jika menghadapi kecepatan serangan ala skuad Marco van Basten dini hari nanti. Prediksi Belanda menang sekitar 54 persen banding 46. Kemungkinan draw sangat kecil. ***

Piala Eropa 2008 : Keberuntungan dan Kejutan

Piala Eropa 2008 / 24 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN

Keberuntungan Yang Datang Dan Pergi

Oleh : John Halmahera

Euro 2008 benar-benar panggung drama yang diwarnai berbagai nuansa emosi dan kejutan. Ivan Klasnic yang mencetak gol ke gawang Turki, menit 119 atau 29 menit perpanjangan w aktu, tertawa histeris. Begitu juga semua pemain dan ofisial Kroasia. Fatih Terim dan skuadnya serta supporter Turki terjun bebas ke alam duka. Pertandingan belum usai tetapi kekalahan sudah membayang. “Kita pulang ke Istanbul,” kata mereka, sebagian antaranya sudah menangis. Tak ada lagi harapan. Tak mungkin Turki bisa beruntung lagi seperti ketika menggasak Ceko dengan dua gol di penghujung pertandingan yang membalik skor 1-2 menjadi 3-2 dalam waktu 3 menit.
Slaven Bilic mengingatkan timnya, jangan terbuai euphoria, masih ada sisa waktu, main terus dan bertahan rapat. Dua menit kemudian dalam masa injury-time. Kiper Rustu menendang jauh ke depan. Bola tepat menuju Semih Senturk. Striker klub Fenerbache ini mengontrol dengan dada, bola jatuh ke kakinya, memutar badan, mendorong bola sedikit di celah antara dua pemain Kroasia, dan melepas tembakan sekuat tenaganya. Kiper Stipe Pletikosa yang perkasa, tak sempat bereaksi, hanya bisa menatap bola menerobos pojok kanan atas gawangnya. Gol ! Skor satu-satu !
Hanya selang dua menit emosi berpindah. Tangis duka di kubu Turki kini pindah ke kubu Kroasia. Slaven Bilic, yang sepanjang pertandingan sering berjingkrak kecewa maupun senang, memegang kepalanya menatap tidak percaya ke lapangan. Bagaimana mungkin bisa terjadi, kemenanganyang sudah ditangan tiba-tiba lenyap. Defender Robert Kovac, Vedran Corluka dan Ivan Rakitic terpahna, tak percaya.
Seandainya kehidupan manusia bisa diputar ulang, maka dalam momen kritis itu, Kovac, Corluka atau Rakitic akan membuat pelanggaran, mendorong tubuh Senturk. Tak akan ada pinalti karena masih di luar garis, hanya akan berbuah kartu kuning dan tendangan bebas. Dan mungkin tak akan terjadi gol.
Tetapi hidup tak bisa diulang, hidup harus jalan terus. Nasib Kroasia sudah ditentukan saat itu. Wasit meniup pluit panjang. Giliran adu pinalti, pemain Kroasia masih dalam karut-marut emosi, Luka Modric bintang playmaker yang mengirim umpan matang ke Klasnic membuahkan gol Kroasia, menendang ngawur. Pinalti pertama itu gagal, dan seterusnya. Kroasia kalah! Turki menang!
Gol Semih Senturk itu keberuntungan. Tetapi Senturk juga punya kualitas. Kerjasama tim Turki juga terbilang solid, buktinya Kroasia yang bisa mengalahkan Jerman 2-1 tak mampu mengalahkan skuad Fatih Terim dalam waktu normal. Turki bahkan bisa menaklukkan Swiss dan Ceko setelah sebelumnya kalah dari Portugal.
Euro 2008 di mata sebagian pengamat adalah kompetisi yang sangat kompetitif, beda kualitas satu tim dengan yang lain, sangat tipis. Di grup A dua tim diunggulkan Portugal dan Ceko untuk lolos. Unggulan ketiga Swiss. Portugal juara grup. Tapi Ceko terpental, dan Turki jadi runner-up. Di grup B Jerman dan Kroasia bisa mengatasi Polandia dan Austria. Ramalan sesuai tetapi tidak persis 100 persen. Karena Jerman hanya runner-up dibawah Kroasia. Di grup C, grup neraka, Italia Prancis diunggulkan. Ternyata Belanda menekuk Italia 3-0 dan Prancis 4-1. Italia lolos dari lubang jarum, setelah menang 2-0 atas Prancis, Belanda juara grup, disusul Italia sebagai runner-up, Prancis dan Rumania out.
Di babak perempatfinal kejutan juga terjadi. Di Basel terjadi laga premature Jerman versus Portugal. Seharusnya ketemu di semifinal, tetapi lantaran Jerman kalah dari Kroasia dan jadi runnerup grup B, maka terjadilah “clash dead or alive” antara dua tim kelas dunia itu. Jerman yang survive setelah tampil nyaris sempurna. Portugal kembali mengalami kekalahan dan merasa tidak dinaungi keberuntungan.
Di Wina, Turki yang disebut-sebut pelatihnya Fatih Terim sebagai kumpulan “singa” yang tak kenal menyerah, mengirim pulang pasukan Slaven Bilic yang sudah memikat banyak orang karena penampilan sepakbola atraktif dan ofensifnya itu. Partai ini sangat dramatis, dibanding 3 partai knock-out lainnya. Tidak hanya 2 gol di penghujung perpanjangan waktu tetapi juga diselesaikan dengan adu pinalti yang memicu laju adrenalin dan debar jantung para supporter kedua tim.
Kejutan terjadi di stadion Jakob-Park. Puluhan ribu sopporter Belanda membanjiri kota Basel. Dimana-mana lautan oranye, mereka ingin menyaksikan timnya tak cuma mengalahkan Russia hari Sabtu itu tapi juga ingin menjadi saksi sejarah perjalanan Oranye meraih gelar juara Eropa. Bagaimana mereka tidak optimis? Pasukan Van Basten itu telah menghajar dua tim kelas dunia, Italia 3-0 dan Prancis 4-1, kemudian dengan skuad cadangan mengalahkan Rumania 2-0.
Ruud van Nistelrooy dkk punya skill hebat, kerjasama tim juga “ciamik”. Dan Belanda juga didatangi keberuntungan. Tetapi bukan Belanda di kubu Oranye, tetapi keberuntungan datang pada Guus Hiddink, orang Belanda yang jadi arsitek tim Russia. Orang Beanda itulah yang membangkitkan tim Beruang Merah dari keterpurukan ditekuk Spanyol 1-4 sampai akhirnya menyingkirkan Belanda yang dijagoi dipasar tarohan.
Di Wina kejutan kedua terjadi setelah sebelumnya Turki mengalahkan Kroasia. Tetapi kejutan hanya terjadi sepihak, yakni di kubu pendukung azzurri. Sepanjang sejarah turnamen besar, Italia selalu menang dari Spanyol. Lautan biru siap merayakan rayakan kemenangan. Tetapi tim matador tampil lebih trengginas. Italia sungguh beruntung tidak kalah. Namun keberuntungan itu pindah ke Spanyol. Drama adu pinalti dimenangkan skuad Luis Aragones, terimakasih kepada kiper Real Madrid, Iker Casillas.
Ternyata untuk memenangkan satu pertandingan dibutuhkan skill individu pemain yang diatas rata-rata, strategi pelatih dan kerjasama tim, serta yang tak kalah pentingnya, keberuntungan! Sekarang di Euro 2008 tersisa 4 tim di semifinal. Jerman versus Turki di Basel, kota dimana tim Joachim Low menyingkirkan Portugal. Di Basel ini juga skuad Turki menghantam tuan rumah Swiss 2-1. Semifinal berikutnya, Russia lawan Spanyol di Wina, kota dimana underdog Turki menyingkirkan Kroasia yang lebih super. Nah, kira-kira siapa diantara empat tim ini yang lebih beruntung, kita tunggu saja. ***

Piala Eropa 2008 : Perempat Final : Kroasia vs Turki

Piala Eropa 20 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Kroasia vs Turki, Sama-Sama Yakin Menang

Oleh : John Halmahera

Slaven Bilic, pelatih Kroasia yang berusia 39 tahun, menaruh respek pada Turki yang akan dihadapinya di stadion Ernst Happel, kota Wina, dini hari nanti. Dia tak menyangka, bahkan fans Turki sendiri pun tak mengira bahwa Nihat Kahveci dalam waktu 3 menit menjelang usai bisa mencetak dua gol dan membalik skor menjadi 3-2 sekaligus mengirim pulang Rep Ceko. Semangat tarung tak kenal menyerah sebelum pluit panjang wasit berbunyi, itulah karakter tim bulan sabit itu.
Kroasia, tim bagus dalam permainan, punya karakter dan spirit tinggi. Kroasia dibangun dengan fondasi beberapa veteran berpengalaman seperti centreback Dortmund berusia 34 tahun, Robert Kovac, dengan 76 caps sebagai pilar pertahanan dan bek kanan Dario Simic dari klub Milan, 33 tahun dengan 99 caps serta gelandang bertahan Salzburg, Niko Kovac, 37 tahun, dengan 79 caps. Kematangan ketiga pilarnya ini membuat Slaven Bilic sangat percaya pada timnya, terutama pola semi-defensifnya, 4-1-3-1-1. Koordinasi pertahanan rapat dan serangan balik cepat inilah yang mengalahkan Jerman 2-1 di Klagenfurt 12 Juni lalu.
Pelatih yang mahir memainkan gitar dan mencari inspirasi strateginya lewat musik, membuat kejutan setelah ditunjuk menjadi pelatih Kroasia usai Piala Dunia 2006. Publik menyebutnya “gila” karena merekrut dua pemain muda Luka Modric (lahir 09-09-1985) dan Vedran Corluka (05-02-1986). Tapi Bilic jalan terus, memainkan keduanya di ujicoba pertamanya lawan Italia di Livorno. Dia tahu persis kapasitas dua pemainnya yang jadi pilar Kroasia U-21 yang ditukanginya waktu itu.
Sekarang ini, Luka Mudric jadi playmaker lini tengah, dan saking gemerlapnya pemain dengan tinggi 174 dan berat 65 kg dengan 28 caps dan 4 gol itu dibeli Tottenham Hotspurs dari klub lamanya Dinamo Zagreb. Begitu juga Vedran Corluka, pemain bertahan dengan 23 caps, bisa di centreback dan juga bek kanan.
Corluka dengan tinggi 193 dan berat 88 kg telah jadi bagian dari skuad inti Manchester City. Keduanya jadi pilihan pertama. Modruc main penuh di 2 pertandingan awal Kroasia. Pada pertandingan terakhir, karena sudah memastikan lolos, Modruc disimpan. Corluka main penuh di 2 pertandingan awal, di pertandingan lawan Polandia masuk menggantikan Dario Knezevic menit 28.
Gebrakan demi gebrakan telah diperlihatkan Slaven Bilic dengan skuadnya itu, menyingkirkan Inggris di stadion Wembley yang angker dalam kualifikasi Euro dan terakhir ini mengalahkan Jerman untuk lolos ke perempatfinal. Dia optimis timnya akan sampai di grandfinal dan meraih gelar juara Euro 2008, gelar pertama untuk negaranya.
Target dan impian Kroasia akan diuji semangat-tarung Turki. Pelatih Fatih Terim
yang sudah kehilangan 4 pilar penting, kiper Volkan Demirel, dua bek Emre Gungor dan Servet Cetin serta kapten Emre Belozoglu, tetap optimis bisa mengalahkan Kroasia.
Dari 3 penampilannya, Turki telah memperlihatkan kemampuannya dan sanggup lolos ke perempatfinal dari grup dimana Portugal, Ceko dan Swiss yang diunggulkan. Turki membuat kejutan, setelah kalah 0-2 dari Portugal mereka mengalahkan Swiss 2-1 dan Ceko 3-2. Fantastis, karena mencetak gol kemenangan di detik terakhir. Lawan Swiss oleh midfield usia 21 tahun, Arda Turan di injury-time. Lawan Ceko, dua gol di 3 menit akhir oleh Nihat Kahveci, sang kapten tim.
Gol-gol seperti ini hanya bisa dicetak oleh tim yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan tarung sampai keringat paling penghabisan. Keuletan Turki sudah dibuktikan di Piala Dunia 2002 ketika di semifinal mempersulit Brasil dan mengalahkan tuan rumah Korea dalam perebutan peringkat tiga. Prestasi di Piala Dunia 2002 itu bukan kebetulan, mereka membuktikannya di Euro 2008.
Skuad Fatih “sang kaisar” Terim sangat padu dan mengutamakan strategi pressure dengan merapatkan pertahanan rapat. Mereka main dengan pola defensive 4-2-2-1-1 namun bisa berubah menjadi ofensif 4-3-3 jika situasi membutuhkan. Mereka memainkan sepakbola dengan benar, punya beberapa pemain dengan individual skill mumpuni, beberapa striker dan gelandangnya punya shooting jarak jauh. Mereka bisa memasuki daerah lawan dengan 6 sampai 7 pemain, tetapi bisa bertahan di daerah sendiri dengan 8 sampai 9 pemain berlapis-lapis. Serangan baliknya ampuh.
Slaven Bilic telah mengistirahatkan 9 pemain intinya ketika lawan Polandia sehingga punya waktu istirahat lebih panjang dari Turki yang harus “all-out” lawan Ceko di partai terakhirnya. Selain itu Kroasia tampil dengan 22 pemain yang fit, satu diantaranya defender Dario Knezevic cidera panjang. Sementara Turki, boleh dikata compang-camping, tidak lagi utuh, banyak yang cidera dan kena akumulasi kartu. Tetapi Fatih Terim tetap optimis. “Semua pemain kami adalah singa yang siap main dan berjuang keras di lapangan.”
Pemenang partai ini sudah ditunggu Jerman di semifinal. Dan orang mulai membicarakan partai semifinal Jerman vs Kroasia. Pasar taruhan mengunggulkan Kroasia dan menempatkan Turki sebagai underdog. Tetapi sepakbola selalu punya kejutan, akankah Turki menyingkirkan Kroasia seperti mereka menyikut keluar Ceko? Hanya pluit akhir wasit saja yang bisa menjawab. ***

Thursday, June 19, 2008

Piala Eropa 2008 Perempat Final

Piala Eropa 20 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

Kroasia vs Turki,
Sama-Sama Yakin Menang

Oleh : John Halmahera

Slaven Bilic, pelatih Kroasia yang berusia 39 tahun, menaruh respek pada Turki yang akan dihadapinya di stadion Ernst Happel, kota Wina, dini hari nanti. Dia tak menyangka, bahkan fans Turki sendiri pun tak mengira bahwa Nihat Kahveci dalam waktu 3 menit menjelang usai bisa mencetak dua gol dan membalik skor menjadi 3-2 sekaligus mengirim pulang Rep Ceko. Semangat tarung tak kenal menyerah sebelum pluit panjang wasit berbunyi, itulah karakter tim bulan sabit itu.
Kroasia, tim bagus dalam permainan, punya karakter dan spirit tinggi. Kroasia dibangun dengan fondasi beberapa veteran berpengalaman seperti centreback Dortmund berusia 34 tahun, Robert Kovac, dengan 76 caps sebagai pilar pertahanan dan bek kanan Dario Simic dari klub Milan, 33 tahun dengan 99 caps serta gelandang bertahan Salzburg, Niko Kovac, 37 tahun, dengan 79 caps. Kematangan ketiga pilarnya ini membuat Slaven Bilic sangat percaya pada timnya, terutama pola semi-defensifnya, 4-1-3-1-1. Koordinasi pertahanan rapat dan serangan balik cepat inilah yang mengalahkan Jerman 2-1 di Klagenfurt 12 Juni lalu.
Pelatih yang mahir memainkan gitar dan mencari inspirasi strateginya lewat musik, membuat kejutan setelah ditunjuk menjadi pelatih Kroasia usai Piala Dunia 2006. Publik menyebutnya “gila” karena merekrut dua pemain muda Luka Modric (lahir 09-09-1985) dan Vedran Corluka (05-02-1986). Tapi Bilic jalan terus, memainkan keduanya di ujicoba pertamanya lawan Italia di Livorno. Dia tahu persis kapasitas dua pemainnya yang jadi pilar Kroasia U-21 yang ditukanginya waktu itu.
Sekarang ini, Luka Mudric jadi playmaker lini tengah, dan saking gemerlapnya pemain dengan tinggi 174 dan berat 65 kg dengan 28 caps dan 4 gol itu dibeli Tottenham Hotspurs dari klub lamanya Dinamo Zagreb. Begitu juga Vedran Corluka, pemain bertahan dengan 23 caps, bisa di centreback dan juga bek kanan.
Corluka dengan tinggi 193 dan berat 88 kg telah jadi bagian dari skuad inti Manchester City. Keduanya jadi pilihan pertama. Modruc main penuh di 2 pertandingan awal Kroasia. Pada pertandingan terakhir, karena sudah memastikan lolos, Modruc disimpan. Corluka main penuh di 2 pertandingan awal, di pertandingan lawan Polandia masuk menggantikan Dario Knezevic menit 28.
Gebrakan demi gebrakan telah diperlihatkan Slaven Bilic dengan skuadnya itu, menyingkirkan Inggris di stadion Wembley yang angker dalam kualifikasi Euro dan terakhir ini mengalahkan Jerman untuk lolos ke perempatfinal. Dia optimis timnya akan sampai di grandfinal dan meraih gelar juara Euro 2008, gelar pertama untuk negaranya.
Target dan impian Kroasia akan diuji semangat-tarung Turki. Pelatih Fatih Terim
yang sudah kehilangan 4 pilar penting, kiper Volkan Demirel, dua bek Emre Gungor dan Servet Cetin serta kapten Emre Belozoglu, tetap optimis bisa mengalahkan Kroasia.
Dari 3 penampilannya, Turki telah memperlihatkan kemampuannya dan sanggup lolos ke perempatfinal dari grup dimana Portugal, Ceko dan Swiss yang diunggulkan. Turki membuat kejutan, setelah kalah 0-2 dari Portugal mereka mengalahkan Swiss 2-1 dan Ceko 3-2. Fantastis, karena mencetak gol kemenangan di detik terakhir. Lawan Swiss oleh midfield usia 21 tahun, Arda Turan di injury-time. Lawan Ceko, dua gol di 3 menit akhir oleh Nihat Kahveci, sang kapten tim.
Gol-gol seperti ini hanya bisa dicetak oleh tim yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan tarung sampai keringat paling penghabisan. Keuletan Turki sudah dibuktikan di Piala Dunia 2002 ketika di semifinal mempersulit Brasil dan mengalahkan tuan rumah Korea dalam perebutan peringkat tiga. Prestasi di Piala Dunia 2002 itu bukan kebetulan, mereka membuktikannya di Euro 2008.
Skuad Fatih “sang kaisar” Terim sangat padu dan mengutamakan strategi pressure dengan merapatkan pertahanan rapat. Mereka main dengan pola defensive 4-2-2-1-1 namun bisa berubah menjadi ofensif 4-3-3 jika situasi membutuhkan. Mereka memainkan sepakbola dengan benar, punya beberapa pemain dengan individual skill mumpuni, beberapa striker dan gelandangnya punya shooting jarak jauh. Mereka bisa memasuki daerah lawan dengan 6 sampai 7 pemain, tetapi bisa bertahan di daerah sendiri dengan 8 sampai 9 pemain berlapis-lapis. Serangan baliknya ampuh.
Slaven Bilic telah mengistirahatkan 9 pemain intinya ketika lawan Polandia sehingga punya waktu istirahat lebih panjang dari Turki yang harus “all-out” lawan Ceko di partai terakhirnya. Selain itu Kroasia tampil dengan 22 pemain yang fit, satu diantaranya defender Dario Knezevic cidera panjang. Sementara Turki, boleh dikata compang-camping, tidak lagi utuh, banyak yang cidera dan kena akumulasi kartu. Tetapi Fatih Terim tetap optimis. “Semua pemain kami adalah singa yang siap main dan berjuang keras di lapangan.”
Pemenang partai ini sudah ditunggu Jerman di semifinal. Dan orang mulai membicarakan partai semifinal Jerman vs Kroasia. Pasar taruhan mengunggulkan Kroasia dan menempatkan Turki sebagai underdog. Tetapi sepakbola selalu punya kejutan, akankah Turki menyingkirkan Kroasia seperti mereka menyikut keluar Ceko? Hanya pluit akhir wasit saja yang bisa menjawab. ***

Wednesday, June 18, 2008

Perempatfinal Piala Euro 2008 : Portugal vs Jerman

Piala Eropa 19 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008 :
Babak Perempat Final
Jerman “Survive” Lagi?

Oleh : John Halmahera

Beberapa pilar penting dari skuad Portugal, Cristiano Ronaldo, Ricardo Carvalho, Deco, Petit, Nuno Gomes bisa istirahat lebih lama dibanding semua pemain Jerman. Sejak memastikan lolos dengan kemenangan 3-1 atas Ceko, pelatih Luis Felippe Scolari sudah memplot rencana istirahat bagi pemain intinya. Tak ada kepentingan memainkan mereka di laga terakhir lawan tuan rumah Swiss. Itu artinya Ronaldo Cs memiliki waktu istirahat 8 hari. Harapan Scolari, delapan dari skuad XI itu akan tampil segar di perempatfinal.
Kondisi segar, fit tanpa ada pemain inti yang cidera serius, maka Scolari bisa bernafas lega dan leluasa menerapkan strategi untuk meloloskan timnya ke semifinal. Tak boleh ada error dalam permainan. Lini pertahanan yang digalang centreback Chelsea, Ricardo Carvalho harus main sempurna tanpa kesalahan sekecil apapun, mengingat Jerman punya penyerang eksekutor seperti Miroslav Klose, Mario Gomes, Oliver Neuville, Lukas Podolski yang bisa memanfaatkannya menjadi gol. Begitu juga di lini depan, Ronaldo dan Nuno Gomez bahkan para gelandang Simao, Petit juga dituntut lebih produktif harus mencetak gol dari peluang yang tercipta.
Euro 2008 memasuki babak knock-out atau sistem gugur. Dari delapan tim yang lolos hanya akan tersisa empat kesebelasan yang berhak ke semifinal. Salah satunya adalah pemenang partai di kota Basel dini hari nanti, Portugal atau Jerman. Dalam bursa taruhan William Hill House, selain Spanyol dua tim ini diunggulkan menembus grand-final. Ironis bahwa salah satu harus tersingkir di perempatfinal, dari permainan 90 menit sampai perpanjangan waktu bahkan juga adu pinalti. Semua tim harus disiapkan untuk bisa tampil 120 menit plus melatih sederet pemain untuk adu pinalti. Butuh konsentrasi permainan yang maksimal sejak dari awal.
Portugal memiliki keuntungan besar, waktu istirahat lebih panjang dibanding Jerman. Sebagian skuad Scolari istirahat 8 hari, sebagian lain yang turun dalam laga terakhir punya waktu rehat 4 hari. Sementara Jerman hanya punya waktu recovery 3 hari. Apalagi dalam laga terakhir diWina, Ballack Cs harus menguras tenaga main “all-out” mengalahkan tuan rumah Austria yang didukung seantero stadion. Ibaratnya tim panser baru saja keluar dari “neraka Wina”, tiga hari berikutnya masuk “kawah candradimuka” kota Basel.
Joachim Low bangga skuadnya bisa lolos dari hadangan Austria dalam partai keras yang melelahkan. Namun kini, Low dipaksa berpikir keras mengingat dua pilarnya yang paling vital sedang cidera, Lukas Podolski pencetak 3 gol dan Torsten Frings pekerja keras lapangan tengah yang dalam tim panser merupakan jenderal nomor dua setelah Michael Ballack. Keduanya cidera oleh tackling keras pemain-pemain Austria. Dan sampai 24 jam sebelum kick-off belum ketahuan apakah keduanya bisa dimainkan menghadapi Portugal.
Dalam tiga hari ini Torsten Frings berjuang keras memulihkan cidera agar bisa tampil di perempatfinal. Dia cidera di babak kedua namun memaksa diri melanjutkan sampai akhir. Dugaan tulang rusuknya patah, mungkin retak, selesai pertandingan dia diantar dokter Hans-Wilhelm Muller-Wohlfart menjalani pemeriksaan di Lugano. Joachim Low akan menanti konfirmasi sampai menit terakhir, mengingat gelandang Werder Bremen 31 tahun itu pemain kunci dan sangat berarti bagi Jerman.
Jerman benar-benar dalam keadaan tidak nyaman. Mereka tampil buruk dalam dua pertandingan pertama. Pers mengeritik habis Low dan skuadnya. Penampilan mereka meningkat di laga lawan Austria. Tetapi sayang kondisi Frings dan Podolski cidera yang menambah keraguan orang akan kemampuan Jerman mengatasi Portugal. Kapten tim mengakui bahwa Portugal kini diunggulkan. “Mereka jadi favorit. Tetapi kami masih bisa memperlihatkan kemampuan, ini komitmen semua pemain,”kata Ballack.
Saat laga lawan Austria, skuad panser memperlihatkan mental juara. Keadaan sangat menyudutkan mereka. Seakan seisi kota Wina memusuhi mereka. Hiruk pikuk supporter tuan rumah memberikan tekanan luar biasa pada skuad Jerman. Seakan-akan kota Wina dalam keadaan darurat. Karenanya kemenangan itu sangat membanggakan Ballack Cs dan menjadi motivasi tambahan untuk menghadapi Portugal.
Jerman kontra Portugal, laga dua tim menyerang. Portugal tidak main seperti Kroasia dan Austria yang bertahan rapat. Gaya main Portugal yang menyerang dan terbuka akan membuat Jerman bisa tampil dengan gaya asli. Scolari tidak hanya punya Cristiano Ronaldo tapi banyak pemain dengan kualitas mumpuni yang sulit dikontrol. Tapi Jerman juga punya pemain top-quality yang tidak kalah kelas.
Portugal masih mengandalkan Ronaldo yang berambisi merebut gelar ketiga setelah dengan MU dia merebut gelar liga premier dan liga Champions. Tetapi Jerman tak akan membiarkan Ronaldo leluasa manuver. Jika pressure ala panser bisa dimainkan Ballack Cs maka peluang Jerman benar-benar fifty-fifty seperti optimisme kubu panser. Selain masalah kondisi Frings dan Podolski, kubu Jerman ditimpa petaka dengan hukuman pada Joachim Low yang dilarang mendampingi timnya. Jerman memang underdog, tetapi Ballack Cs ingin mengulang kemenangan 3-1 di perebutan peringkat tiga Piala Dunia 2006 kemarin. Akankah Jerman “survive” lagi seperti saat mereka lolos dari hadangan Austria? Peluang menang bagi Jerman masih ada, 51 persen banding 49. Untuk menang, tergantung pada kondisi fisik, psikologi dan taktik. Tim yang baik dalam tiga aspek ini, akan keluar sebagai pemenang. ***

Tuesday, June 17, 2008

Piala Eropa 2008 : Russia vs Swedia 18 Juni 2008

Artikel Piala Eropa 2008/ 18 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Midasnya Hiddink Diuji Swedia

Oleh : John Halmahera

Seolah bangkit dari kematian, itulah gambaran tim Russia asuhan Guus Hiddink, dalam dua pertandingan grupnya. Kekalahan telak 1-4 dari Spanyol membuat fans dan pers Russia pesimis timnya bisa lolos dari grup. Tetapi Hiddink yang dijuluki “sang penyihir” pantang menyerah. Dia menyuntik semangat baru, perubahan baru pada pasukan mudanya. Hasilnya pun luar biasa, anak-anak Rusia itu berhasil mengalahkan Yunani 1-0 lewat gol semata wayang, Konstantin Zyryanov menit 33. Kemenangan itu meniupkan harapan baru bagi tim beruang merah sekaligus menutup harapan Yunani mempertahankan gelarnya.
Setelah melewati partai “mati hidup” dengan Yunani, hari ini di stadion Tivoli Neu, kota Innsbruck, skuad Hiddink kembali memasuki laga “mati hidup” lawan Swedia untuk menentukan langkah ke perempat final. Draw apalagi kalah, akan menyingkirkan Russia dari Euro 2008. Karenanya tim ini harus lebih menyerang, untuk mengejar gol dan memenangkan pertandingan.
Guus Hiddink menyambut baik kembalinya penyerang klub Zenith berusia 27 tahun, Andrei Arshavin setelah menjalani skorsing dua pertandingan. Namun masih menanti pulihnya kondisi tiga pilar, bek kiri Yuri Zhirkov, dua gelandang Dmitri Torbinski dan Diniyar Bilyaletdinow. Dokter tim Andrei Grishanow sedang bekerja keras
menyiapkan mereka untuk laga penting lawan Swedia.
Untuk bisa mengalahkan Ibrahimovic dkk, pemain Russia harus benar-benar siap, fisik maupun tehnik. Swedia dibawah asuhan Lars Lagerback adalah tim yang kerja keras dan pantang menyerah. Swedia yang hanya butuh draw untuk lolos tidak akan main untuk target satu point. Filosofi Lagerback adalah menyerang sesuai karakter bangsa Swedia yang terbuka. Organisasi tim sangat bagus dengan pemain-pemain pengalaman yang punya tehnik mumpuni dan kemampuan mengontrol emosi.
Lagerback punya pilihan memainkan line-up terbaiknya. Dua pilarnya sudah fit,
striker Inter Milan yang sudah mencetak dua gol, Zlatan Ibrahimovic dan bek kanan klub Goteborg, Niclas Alexandersson yang agresif menyerang dan solid dalam bertahan. Mikael Nilsson, Olof Mellberg, Petter Hansson bersama Alexandersson maka inti pertahanan di depan kiper Andreas Isaksson kembali utuh. Dilini tengah hadirnya Fredrik Ljungberg, Anders Svensson, Daniel Andersson dan gelandang klub Lyon, Kim Kallstrom akan melancarkan aliran bola ke duet penyerang Ibrahimovic dan striker gaek Henrik Larsson.
Kondisi team Swedia yang full-team ini sudah pasti diketahui pihak Russia. Apa rencana dan strategi Hiddink untuk menembus kekuatan solid Swedia? Skuad Hiddink tidak bisa menghindari dari memainkan formasi-serang, karena butuh menang. Dan untuk bisa menang harus bisa mencetak gol. Tetapi hal ini ada bahayanya. Bisa-bisa seperti kejadian di laga lawan Spanyol, menyerang gencar tapi hilang keseimbangan dalam bertahan. Dan duet maut Swedia –Ibrahimovic dan Larsson- akan memanfaatkan kelemahan Russia ini.
Kembalinya Andrei Arshavin, belum tentu akan mendapatkan tempat dalam skuad. Jika memainkan penyerang klub Zenith ini, Hiddink harus membangkucadangkan
Roman Pavlyuchenko, jika mempertahankan pola 4-5-1. Padahal Palyuchenko main luar biasa dan memberi kontribusi besar kemenangan atas Yunani. Tetapi bukan tak mungkin Hiddink memainkan pola 4-4-2 dan memasang duet Arshavin-Palyuchenko untuk mempertajam serangan dan memperbesar kemungkinan mencetak gol.
Pasukan Hiddink ini, sebagian diisi pemain muda dengan pengalaman main hanya di kompetisi domestik. Belakangan Zenith Petersburg bisa menjuarai ajang internasonal UEFA Cup, tetapi tidak cukup untuk memberikan kontribusi ke timnas. Apalagi ajang Euro 2008 jauh lebih kompetitif dibanding antar klub UEFA Cup. Menyusul kekalahan dari Spanyol, Hiddink hanya mengganti Roman Shirikov dan memasukkan Sergei Ignashevich dalam starter. Hiddink berhasil memperbaiki skuadnya yang diduga sebagian orang sudah terpuruk dan sulit bangkit. “Lupakan Spanyol dan Yunani, siapkan mental dan fisik untuk hadapi Swedia, selebihnya biarkan kami ofisial yang bekerja.”
Hiddink yang dijuluki pers Russia “sang penyihir” benar-benar jempolan, bisa mengangkat timnya dan menggasak Yunani 1-0. Tetapi kini yang dihadapi Hiddink adalah Swedia yang full-team. Hari ini Guus Hiddink yang juga dijuluki punya “sentuhan Midas”, ditantang untuk membalik ramalan orang. Swedia unggul selisih gol 3 minus 2, sementara Russia 2 minus 4. Hasil draw akan membawa Swedia lolos ke perempatfinal. Kondisi terakhir Swedia yang full-team serta keunggulan selisih gol maka pasukan Lars Lagerback ini dalam posisi diatas angin. Dan Russia sebagai underdog. Di atas kertas peluang Swedia untuk menang 53 persen banding 47.
Salah satu dari dua tim ini akan melenggang ke perempatfinal. Jika partai grup D lainnya, Spanyol menang atau draw lawan Yunani maka Spanyol keluar sebagai juara grup diikuti Swedia atau Spanyol sebagai runner-up. Jika skenario berjalan sesuai ramalan, maka Spanyol juara grup D akan menghadapi Italia runner-up grup C sementara Swedia atau Russia ditunggu sang juara grup C Belanda yang dini hari tadi mengalahkan Rumania 2-0. Persaingan di Euro 2008 bakal makin menarik. ***

Piala Eropa 2008 : Italia vs Prancis

Piala Eropa 17 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Prancis vs Italia “Dead Or Alive”

Oleh : John Halmahera

Semua laga pada matchday grup yang terakhir berlangsung serentak pada jam yang sama di dua tempat. Italia versus Perancis di Zurich, Belanda kontra Rumania di Berne, pada jam yang sama 20.45 waktu setempat atau dini hari 01.45 WIB. Tetapi dua raksasa Eropa, Italia dan Perancis, tidak lolos ke perempat final jika Belanda kalah dari Rumania. Dan Oranye bisa saja kalah, apalagi jika menurunkan line-up lapis kedua dan main setengah hati. Sebab motivasi skuad van Basten mungkin tak lagi menggebu karena sudah memastikan diri lolos dengan dua kemenangan atas Italia 3-0 dan Perancis 4-1. Kemungkinan inilah yang ditakuti Roberto Donadoni dan Raymond Domenech.
Tetapi saya pikir baik Italia maupun Perancis tak akan memikirkan kemungkinan itu. Mereka akan konsentrasi dan fokus pada laganya sendiri. Flash-back ke stadion Feyenoord Rotterdam tanggal 2 Juli di grand-final Euro 2000, dalam perpanjangan waktu Italia kalah 1-2 dari Perancis. Itu 8 tahun lalu, meski tidak ada hubungan langsung dengan hari ini, namun memori sejarah pasti menumbuhkan motivasi dan semangat mereka. Perancis ingin membalas kekalahan di final Piala Dunia 2006, dilain pihak skuad Donadoni ingin revanche final Euro 2000.
Prancis masih terus bebenah. Domenech pusing, seperti juga Donadoni. Setelah penampilan buruk lawan Rumania, draw tanpa gol, Domenech mengganti 3 pemain starter XI, Eric Abidal, Karim Benzema dan Nicolas Anelka yang pada menit 75 masuk menggantikan Sidney Govou. Pemain baru yang masuk, Patrice Evra, Sidney Govou dan striker yang ditunggu-tunggu publik, Thierry Henry. Ternyata perubahan itu tidak menolong, Perancis tetap saja tanpa inspirasi dan determinasi. Hadirnya Thierry Henry hanya sebatas mencetak gol balasan 1-2 ke gawang Van Der Sar selebihnya dia mentok ditahan Khalid Boulahrouz atau Joris Mathijsen. Prancis pun kalah telak 1-4 dari Belanda, kekalahan memalukan yang memancing kemarahan pers Prancis.
Bagaimana dengan azzurri? Kekalahan memalukan 0-3 dari Belanda memaksa Donadoni merombak starter XI. Lima pemain tergusur, Barzagli, Gatusso, Di Natale, Materazzi dan Massimo Ambrosini yang menit 85 masuk menggantikan Camoranesi. Lima yang baru di starter XI adalah Chiellini, Grosso, De Rossi, Perrotta, dan Del Piero.
Juga tidak menolong banyak. Pertahanan Rumania sulit ditembus. Italia juga tidak beruntung, gol Luca Tony ke gawang Rumania dianulir. Belakangan wasit Norwegia,
Tom Henning Ovrebo mengaku salah, gol itu sah, Tony dalam posisi onside. Tetapi pengakuan itu tidak mengubah sesuatu kecuali menambah kepercayaan diri Luca Tony.
Prancis bukan lagi les blues semasih diperkuat superstar Zinedine Zidane yang membawa tropi juara Piala Dunia 1998 dan juara Euro 2000. Seperti juga ketika menjuarai Euro 1984, yang mana superstar Michel Platini menjadi pemeran utama sukses besar les blues. Kini Prancis tak punya lagi superstar sekelas Platini dan Zidane. Seandai Patrick Vieira fit dan bisa tampil, pun tidak akan sehebat dua pendahulunya itu.
Selain itu, beberapa pilar utamanya berusia diatas 30-an, Lilian Thuram, William Gallas, dan Claude Makelele yang menjadi tulang punggung pertahanan. Menghadapi Belanda, mereka masih bisa membantu menyerang selama 10 menit pertama, setelah itu mereka kedodoran diajak lari “young guns”nya Van Basten seperti Sneijder, Van Persie, Robben, van der Vaart.
Prancis meleng. Pasca era Zidane, mereka lalai. Terlambat regenerasi. Domenech masih terbius dengan nama besar Makelele Cs, dia tak berani berinovasi merekrut “young guns” seperti revolusi yang dilakukan Marco van Basten, Luis Aragones, Slaven Bilic, Juergen Klinsmann yang kini diterusin Joachim Low. Kalaupun Prancis lolos dan bahkan menjuarai Euro 2008, tak lain hanya keajaiban seperti hasil Yunani empat tahun lalu.
Italia tidak lebih baik dari Prancis. Roberto Donadoni datang membawa skuad jawara dunia 2006, kecuali Fabio Carnavaro yang cidera. Kualitas pemain semuanya mumpuni, kelas dunia, seperti juga Prancis. Kualitas prima. Tetapi Donadoni bukan Marcello Lippi yang punya seabrek gelar di kantongnya. Lippi disegani karena pengalaman dan prestasinya. Donadoni tidak. Sementara pemain sama semua. Satu pertanyaan sederhana, apakah Roberto Donadoni bisa bergaya seperti Lippi?
Kalaupun Italia lolos dan keluar sebagai juara, seperti juga Prancis, itu keajaiban semata. Sepakbola memang penuh keajaiban, terkadang keajaiban mengalahkan logika. Tetapi pers tidak pernah mau bergantung pada keajaiban. Pers, publik dan pasar tarohan menghitung dari semua aspek dan menempatkan “keajaiban” di alam mimpi.
Duel Italia versus Prancis akan ketat, seru dan menegangkan serta panas. Ini tak hanya mempertaruhkan gengsi, juga mati hidup. Keduanya “mati” jika Rumania menang atas Belanda. Salah satu “mati” jika Belanda menang atau draw. Tetapi yang “hidup” harus menjalani partai “neraka”. Siapa pun yang menang, akan compang-camping ibarat baru bangkit dari “kubur”.
Italia ingin revanche final Euro 2000 dan melestarikan kemenangan final Germany 2006. Prancis ingin membalas perbuatan memalukan Materazzi terhadap Zidane yang mengakibatkan superstar les blues itu diganjar kartu merah dan Prancis kalah di final Germany 2006. Partai yang sarat gengsi dan dendam. Rasanya tak perlu lagi Donadoni dan Domenech mengintip hasil Belanda versus Rumania, tuntaskan saja laga “dead or alive” itu. Jika hasilnya draw, peluang draw sangat besar, karena selisih gol sama yakni 1-4, akan ada perpanjangan waktu dan adu pinalti. Pokoknya satu tim “dead” satunya lagi “alive”. Italia mungkin bisa menang, tapi peluangnya tipis, sangat tipis. ***


Piala Eropa 2008 : Austria vs Jerman

Artikel Piala Eropa 16 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Panasnya Cordoba’78 dan Wina’31

Oleh : John Halmahera

Sudah selayaknya seantero negeri Polandia mengutuk keputusan kontroversial wasit Howard Webb yang menghukum pinalti Polandia. Pinalti yang dieksekusi Ivica Vasic di masa injury-time itu tidak hanya merampok kemenangan skuad Leo Beenhakker juga mempersempit peluang lolos ke perempatfinal. Pasalnya, hari itu Jerman main lebih awal dan dikalahkan Kroasia. Sehingga jika skor tetap 1-0 dan di hari terakhir Polandia menang atas Kroasia sementara Jerman ditahan draw Austria, maka Polandia lolos.
Ulah Webb itu mengubah konstelasi peluang di grup B. Situasi kini sangat tidak menguntungkan Polandia, sebaliknya membuka peluang lolos bagi Jerman dan Austria. Jika Jerman hanya mendapat nilai draw lawan Austria, maka untuk lolos Polandia harus menang minimal dua gol atas Kroasia. Jika Jerman menang, otomatis lolos. Jika Jerman kalah, maka Austria yang lolos dengan catatan Polandia hanya menang tipis atas Kroasia.
Joachim Low dan skuadnya tahu persis posisi timnya. Kekalahan dari Kroasia dialami Jerman karena mereka main tidak sebagaimana tim panser. Passing tidak akurat. Tidak melakukan pressure pada lawan. Tidak memainkan one-touch-football yang cepat, akurat dan langsung ke tujuan. Michael Ballack Cs main seperti bukan ciri Jerman malah sebaliknya Kroasia yang memainkan ciri Jerman. Itu pengalaman pahit bagi tim panser.
Lemahnya bek kiri Marcell Jansen merupakan mala petaka bagi kiper Jens Lehmann. Dua gol Kroasia memanfaatkan serangan sayap mereka. Pers Jerman mengutak-atik kelambanan Low mengganti Jansen, dia baru menggantinya dengan David Odonkor setelah turun minum. Kata orang, “the past is dead”, tak ada gunanya mengungkit hari kemarin. Tim panser kini bebenah serius.
Tak boleh lagi mengulang kesalahan sekecil apa pun. Low dan skuadnya harus tampil sempurna. Jika memberi nilai penampilan dua pertandingan kemarin, lawan Polandia Ballack Cs dinilai 6 tapi karena dua gol Podolski maka nilainya jadi 7. Lawan Kroasia dinilai 5,5 dan sebab kalah maka nilainya jadi 5. Lawan Austria, Ballack Cs harus meningkatkan kerja semua lini dan mencetak gol, nilai penampilan harus delapan.
Austria, peringkat 101 FIFA dan 43 UEFA, jauh berada dibawah Jerman (5 FIFA dan 3 UEFA), tetapi dengan keharusan menang serta dukungan supporter yang pasti akan memenuhi stadion Erns Happel, Wina, maka skuad Josef Hickersberger akan salin rupa menjadi kekuatan yang tidak mudah dilindas panser. “Ayo rame-rame mengulang peristiwa Cordoba!” Teriakan ini diserukan hampir semua anak negeri Austria.
Cordoba adalah tempat laga Austria versus Jerman Barat (nama Jerman sebelum bersatu dengan Jerman Timur) di Piala Dunia Argentina 1978. Waktu itu Austria menang 3-2 sekaligus menyingkirkan Jerbar. Waktu itu Jerman memerlukan kemenangan untuk lolos ke perebutan peringkat tiga lawan Brasil. Tapi kekalahan itu menempatkan Jerbar di posisi tiga dibawah Argentina dan Italia, sehingga Italia yang maju menghadapi Brasil. Waktu itu Jerbar ditukangi Helmoet Schoen dan punya seabrek nama besar, Sepp Maier, Vogts, Bonhof, Holzenbein, Rummenigge. Di kubu Austria Krankl, Prohaska, Pezzey, Hickersberger (pelatih yang sekarang, red) dan kiper Koncilia. Hari itu Hans Krankl mencetak dua gol, itulah kekalahan pertama Jerbar sejak digunduli Austria 0-5 tahun 1931.
Dua hari ini kubu Austria, termasuk pelatih Hickersberger bagai berada dalam tungku membara, memori Cordoba membakar semangat seluruh skuad. Bahkan kapten Austria, Andreas Ivanschitz seakan tak sabar menanti datangnya laga lawan Jerman. Nostalgia kejayaan “the wunder team” besutan pelatih legendaris Hugo Meisl membantai Jerman Barat 5-0 di Wina 77 tahun lampau ikut membangkitkan semangat baru Austria. Kali ini Austria juga tampil di Wina, tepatnya stadion Ernst Happel. Beberapa pilar Austria, kiper Juergen Macho, Martin Stranzl, Emanuel Pogatetz, Andreas Ivanschitz, Sebastian Prodl dan Martin Harnik akan berjuang sampai keringat penghabisan.
Supporter yang fanatik dengan semangat “panas” mendukung skuad Hickersberger akan jadi lawan bagi Michael Ballack Cs. Jika masih tampil dalam performans seperti dua pertandingan kemarin, jangan harap Ballack Cs bisa menaklukkan semangat “Cordoba dan Wunder Team” yang sudah merasuki segenap skuad Austria. Tehnik, pengalaman, fisik baik perorangan maupun secara team, Jerman masih lebih unggul. Dan Joachim Low harus bisa mengembalikan kepercayaan diri Lehmann, Ballack, Lhamm, Podolski, Frings, Klose, Mertesacker dan Metzelder, mengangkat performans mereka sebagaimana layaknya tim panser.
Laga ini akan sulit bagi kedua tim. Permainan keras yang melibatkan emosi akan mewarnai setiap momen. Perebutan kekuasaan di lapangan tengah, determinasi ke kotak pinalti lawan, serangan lewat sayap dan duel-duel udara akan mudah memicu permainan menjadi panas. Hiruk pikuk pendukung tuan rumah akan ikut membakar atmosfir pertandingan menjadi panas membara. Semoga wasit bisa meredam suhu panas ini dan bertindak adil serta fair. Peluang terjadinya hasil draw sangat besar, kalaupun harus memilih pemenang maka kans Jerman lebih besar 52 persen banding 48. ***

Tuesday, June 10, 2008

Piala Eropa 2008 : Ceko vs Portugal (Preview)

Artikel Piala Eropa Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

Piala Eropa 2008
Ambisi Portugal, Menang Untuk Lolos

Oleh : John Halmahera

Partai Ceko lawan Portugal dipastikan ketat. Kedua tim akan kerja keras untuk menang dan lolos ke delapan besar. Hasil draw belum menjamin lolos, karena pemenang antara Swiss vs Turki masih punya peluang lolos. Portugal yang disebut-sebut salah satu favorit juara telah memperlihatkan kelas dan kualitasnya ketika menaklukkan Turki yang gigih dan ngotot. Pelatih Portugal, Luis Felipe Scolari, perancang Brasil merebut gelar dunia kelima bagi tim samba di Piala Dunia 2002, di awal turnamen mengatakan, timnya butuh kemenangan di partai perdana, maka selebihnya akan lancar. Prediksinya benar, Portugal menang 2-0 atas Turki. Kini dia memberi sinyal akan memenangkan partai melawan Ceko, dan seterusnya.
Mengalahkan Ceko, tidaklah mudah. Pertahanan Ceko selama ini dikenal solid, perpaduan antara empat lini belakang dengan 4 atau 5 gelandang serba bisa sehingga membentuk perisai berlapis sebelum lawan bisa menyentuh kiper Petr Cech yang sulit ditaklukkan. Pertahanan Ceko digalang pemain pengalaman yang tak mudah goyang oleh serangan lawan. Kapten tim Tomáš Ujfaluši dari Fiorentina, Zdeněk Grygera (Juventus), Marek Jankulovski (AC Milan) dan tentu saja kiper Chelsea sebagai tembok akhir. Tembok Ceko ini sudah teruji ketika digempur serangan beruntun Swiss. Mereka ulet, disiplin dan pantang menyerah. Dan tentu saja punya kualitas dan tehnik memadai.
Dibawah mistar Ceko memiliki penjaga gawang yang sangat tangguh, Petr Cech dari klub Chelsea yang termasuk salah satu kiper terbaik di dunia. Kapten Ceko, Tomas Ujfalusi menggarisbawahi kualitas rekannya itu. Keberadaan Cech di bawah mistar merupakan fondasi semangat Ujfalusi dkk. “Dia membuat kami merasa aman, bahkan saat menghadapi lawan ringan yang mana dia tidak banyak bekerja. Petr pemain kunci dalam tim kami, dia selalu menolong kami dan semua pemain menghargainya.”
Hari ini, Ujfalusi dkk akan menghadapi Portugal, salah satu tim favorit yang memiliki daya serang mumpuni. Membendung serangan Swiss tentu saja berbeda dengan menahan serangan Portugal. Tehnik individu dan gaya menyerang Ronaldo, Joao Moutinho, Pepe, Deco, Nuno Gomes, Raul Meireles sangat berbeda dibanding serangan Swiss. Pelatih Ceko, Karel Bruckner mengetahui kualitas Portugal. Itu sebab Ceko tidak akan main terbuka.
Bahwa Ceko juga mengincar kemenangan tidaklah dipungkiri namun dia lebih konsentrasi pada pertahanan, prinsipnya asal tidak kalah. Draw adalah hasil baik. Ini pandangan realistis mengingat lawan ketiga adalah Turki. Misi memetik tiga angka dari Turki akan lebih terjamin. Menghadapi Ceko, saya kira Ceko menargetkan draw, tetapi tidak akan main bertahan atau negative football. Bruckner akan konsentrasi pada pertahanan tetapi tidak main bertahan. Ceko tetap akan bermain menyerang dengan bertumpu pada striker jangkung, Jan Koller. Menyerang namun tidak main terbuka.
Di pihak lain, Portugal akan bermain menyerang, lebih konsentrasi pada serangan, karena itu ciri dan filosofi Scolari yang disesuaikan dengan karakter dan kemampuan individu skuadnya. Maka partai ini akan jadi tontonan menarik, bagaimana pola serang Portugal harus membongkar pertahanan solid Ceko. Pertahanan skuad Karel Bruckner ini sudah teruji selama di babak kualifikasi Euro.
Seperti umumnya strategi yang diterapkan tim underdog menghadapi tim dengan attacking-football yang mumpuni, Ceko juga akan menerapkan strategi seperti yang dilakukan Turki ketika menghadapi Portugal. Jangan memberi ruang bebas pada pemain Portugal khususnya Cristiano Ronaldo. Pressure ketat harus diberlakukan pada setiap pemain Portugal. Hal ini memang akan menguras tenaga dan konsentrasi, tetapi hanya itulah jalan untuk menetralisir serangan Portugal.
Ceko akan memainkan skuadnya yang kemarin, begitu juga Portugal. Tidak banyak perubahan dalam susunan pemain, hanya strategi saja yang berbeda. Sulit untuk menebak formasi yang dimainkan kedua pelatih. Pola Ceko, kemungkinan 4-5-1 dengan dua gelandang bertahan yang menjadi tameng lini belakang. Tiga gelandang lainnya, adalah karakter menyerang tetapi dengan tugas yang jelas sebagai lapis pertama yang mencegah serangan lawan pada saat timnya hilang bola.
Di pihak lain Scolari memiliki beberapa formasi tergantung situasi permainan. Ketika menghadapi Turki, dia memainkan pola 4-5-1 yang agresif, artinya lebih konsentrasi pada mencetak gol. Filosofinya juga jelas, belajar dari kesalahan di Euro 2004, berusaha keras mencetak gol lebih awal. Setelah unggul gol, serangan dan tekanan tidak boleh kendor. Tetap menyerang dan menekan. Gaya main Portugal memang tetap menyerang, namun lini bertahan yang dipercayakan kepada Ricardo Carvalho dan rekan seklubnya (Chelsea), Paulo Fereira sebagai komandan tetap harus mewaspadai serangan balik Ceko.
Apapun taktik dan strategi Scolari, tetaplah Ronaldo jadi pilihan utama. Dia adalah spirit bagi rekan-rekannya. Portugal identik dengan Ronaldo. Di partai perdana, Turki melakukan pressing khusus terhadap Ronaldo. Tetapi striker MU ini sering berpindah-pindah posisi dan bergerak tanpa henti menarik perhatian lawan membuat pertahanan dan konsentrasi lawan terpecah. Ronaldo tak perlu mencetak gol, tetapi dia membuka peluang bagi rekan-rekannya untuk mencetak gol.
Kehadiran Ronaldo bagi tim Ceko ibarat buah simalakama, untuk menjaganya diperlukan dua atau tiga orang yang memerhatikan atau melapis. Konsentrasi akan tertuju pada Ronaldo sehingga meninggalkan lubang di pertahanan Ceko. Jika Ronaldo tidak dijaga, maka ancaman tehnik individu Ronaldo akan lebih membahayakan gawang Cech. Disini sebenarnya perbedaan kekuatan kedua tim. Portugal punya superstar dalam diri Ronaldo. Ceko tak punya pemain menonjol atau superstar yang perlu mendapat perhatian ekstra dari Carvalho Cs seperti Ronaldo menarik perhatian Ujfalusi dkk.
Pertandingan akan berlangsung imbang. Portugal cenderung menyerang. Ceko lebih bertahan dengan memanfaatkan serangan balik. Di atas kertas, Portugal masih diunggulkan, presentasi 53 banding 47 dengan peluang draw cukup besar.

***



Piala Eropa 2008 : Belanda vs Italia (preview)

Artikel Piala Eropa 9 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Big Match, Italia Dan Belanda Sama Kuat
Perancis Berpeluang Menang

Oleh : John Halmahera

Cideranya kapten dan palang pintu Italia, Fabio Cannavaro, memeningkan kepala pelatih Roberto Donadoni. Apalagi di partai perdana Italia harus menghadapi Belanda yang punya sederet penyerang berkelas yang dipelopori striker Real Madrid, Ruud van Nistelrooy. Dia harus memikirkan lini belakang dengan serius. Keputusannya memanggil pengganti Cannavaro, yakni bek Fiorentina Alessandro Gamberini, tidak menimbulkan gejolak di dalam tim maupun di kalangan pers.
Gamberini, 26 tahun, musim ini tampil meyakinkan ketika membantu Fiorentina merebut tiket langsung Liga Champions dengan menggusur AC Milan. Dia bersahabat dengan Luca Toni, eks teman seklub sebelum Toni ke Bayern Munchen. Juga beberapa pilar azzurri, Daniele De Rossi, Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso,
Donadoni telah mempersiapkan dua alternatif pertahanan. Pertama, tiga pengawal di depan kiper dan kapten Gianluigi Bufon yakni Christian Panucci, Giogio Chiellini dan Alessandro Gamberini. Pilihan kedua, bek empat, Gianluca Zambrotta, Andrea Barzagli, Marco Materazzi, Fabio Grossi. Tampaknya menghadapi Belanda alternatif bek empat yang akan dimainkan mengantisipasi daya serang tim Oranye yang terkenal agresif.
“Skuad ini punya identitas dan ciri yang tidak mungkin berubah hanya karena seorang pemain diganti, meskipun dia pemain paling penting. Aku percaya pada Barzagi dan Materazzi, mereka solid belakangan ini.” Kata Donadoni.
Italia butuh keberuntungan seperti di semifinal Euro 2000 ketika mereka menang atas Oranye lewat adu pinalti. Pertahanan yang kuat harus dibantu gelandang yang mobil, kuat dalam bertahan dan cepat dalam menyerang. Gennaro Gattuso seorang midfield enforcer, musim ini tampil tidak begitu baik dengan AC Milan, tapi bersama rekan seklubnya Andrea Pirlo dan gelandang AS Roma, Daniele De Rossi menjadi ini kekuatan midfield azzurri.
Simone Perrotta tampil dalam skuad Marcello Lippi PD 2006, harus buktikan diri tetap layak tampil lawan Belanda, karena pemain lain juga sama punya peluang tampil. Orang menebak-nebak formasi Donadoni lawan Belanda, apakah 4-3-3 atau 4-5-1.
Tidak mudah mengatasi kreatifitas midfielder Belanda yang jika semuanya fit akan jadi kekuatan solid di Eropa. Robin van Persie, Arjen Robben, Wesley Snider dan Rafael van der Vaart. Dengan formasi 4-3-3 maka salah seorang diantaranya, Arjen Robben akan digeser ke sayap. Sampai sekarang masih belum jelas apakah van Persie sudah siap untuk diturunkan atau masih disimpan mengingat belum begitu fit setelah sembuh dari cidera lamanya di Arsenal.
Tiga hari jelang tanding lawan Italia, Belanda masih bekerja keras memulihkan kondisi Arjen Roben. Gelandang ini sangat istimewa jika dalam form terbaiknya, usia 24 tahun dia sangat cepat dan direct (langsung), determinasi kuat dan mampu dribble melewati lawan. Umpan-umpannya akan memanjakan striker seklubnya, Ruud van Nistelrooy. Rekannya seklub, Wesley Sneijder, 24 tahun, diharapkan sudah pulih dari hamstring dan akan menjadi pilar midfield bersama Rafael van der Vaart.
Marco van Basten dalam satu tahun terakhir, setelah konsultasi dengan pemain seniornya, mulai berani keluar dari pola baku Belanda selama ini (4-3-3) dan memainkan pola 4-4-2 atau 4-2-3-1. Tetapi memainkan pola apa pun, Belanda tetap bertumpu pada dua winger. Dalam beberapa ujicoba formasi itu membuat kejutan, mengalahkan Kroasia 3-0 dan Austria 4-3. Khusus lawan Austria, skuad van Basten tampil trengginas setelah tertinggal 0-3 berbalik menang 4-3. Terakhir sekali Belanda menang 2-0 atas Wales.
Belanda datang ke Euro dengan kepercayaan diri tinggi. “Saya kaget dengan hasil undian grup, sepintas saya berpikir ingin pindah ke grup lain. Menghadapi juara dunia pada partai perdana jelas tidaklah mudah. Di grup ini, ada dua finalis Piala Dunia 2006 dan Rumania yang kerkembang pesat belakangan ini.” Komentar van Basten.
Lini belakang Oranye cukup solid, dan tidak perlu takut akan kehebatan serangan Italia yang dimotori Luca Toni diapit Mauro Camoranesi dan Antonio Cassano jika Italia main dengan pola 4-3-3 atau duet Luca Toni dan Alessandro Del Piero jika main 4-3-1-2. Luca Toni yang telah membukukan 33 gol dalam semusim untuk Bayern Munchen di semua level kompetisi akan menjadi perhatian lini belakang Oranye.
Kiper Edwin van Der Sar dibawah mistar dan Joris Mathijsen sebagai komandan, akan jadi pilihan utama. Selama ini hanya dua pemain tersebut yang selalu dimainkan, sementara posisi lain bisa bergantian. Andre Ooijer, John Heitinga, Giovanni van Bronckhorst bisa menjadi pilihan mendampingi Mathijsen. Selain itu masih ada Mario Melchiot, Tim de Cler dan Khalid Boulahrouz bek Sevilla (pinjaman dari Chelsea) yang menggantikan Ryan Babel yg cidera. Van Basten cukup puas selama ini dengan lini pertahanannya yang kebobolan 5 gol dalam 12 pertandingan kualifikasi Euro 2008.
Melihat karakter tim, kualitas pemain dan kecerdikan pelatih maka partai ini layak disebut big-match, lebih seru dan menarik dibanding 7 partai lain di match-day 1 termasuk partai grup C lainnya Perancis versus Rumania yang dimainkan dua jam lebih awal. Peluang menang bagi kedua tim cukup terbuka mengingat kemampuan mencetak gol para penyerangnya. Tetapi sekedar mengingat pertemuan terakhir keduanya di semifinal Euro 2000 berakhir draw dan harus diselesaikan lewat adu pinalti yang akhirnya dimenangkan Italia. Partai big-match ini diprediksi draw lebih besar sekitar 60 persen. Kalaupun harus memilih pemenangnya maka Belanda punya peluang 52 persen meski di bursa taruhan William Hill, bandar dunia itu menjagoi Italia.
Perancis, Berpeluang Menang
Partai pertama grup C, finalis Piala Dunia 2006 Perancis punya kekuatan lebih dibanding lawannya, Rumania, baik secara head-to-head dan kualitas pemain maupun pengalaman tanding dan kerjasama tim. Sampai saat terakhir belum ada kepastian absen tidaknya kapten les blues dan playmaker Patrick Vieira yang tampaknya mulai pulih. Pelatih Raymond Domenech sudah mempersiapkan pemain muda Mathieu Flamini yang baru-baru ini dikontrak AC Milan dari klub asalnya, Arsenal.
Perancis sudah siap mendulang sukses seperti kejayaan di zaman Michel Platini (1984) dan Zinedine Zidane (2000). Perancis diprediksi akan mengatasi perlawanan skuad Rumania yang ditukangi Victor Piturca dan dimotori kapten berkualiatas tinggi Adrian Mutu dan Christian Chivu. Peluang Perancis menang 55 persen banding 45 dengan persentasi draw cukup rendah. ***

Piala Eropa 2008 : Spanyol vs Russia (preview)

Artikel Piala Eropa 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Spanyol Waspadai Kejutan Beruang Merah
Swedia Diunggulkan Meskipun Tipis

Oleh : John Halmahera

Terakhir sekali Spanyol menembus grand-final Euro pada saat mana Andres Iniesta persis berusia 47 hari. Final itu dimenangkan Perancis yang dimotori Michel Platini. Setelah 24 tahun berlalu, Platini sekarang presiden UEFA dan Iniesta gelandang Barcelona jadi salah seorang pilar midfield Spanyol. Pekan lalu ketika Iniesta diperiksa di rumah sakit karena penyakit perut, seantero Spanyol menahan napas. Hari ini, saat Spanyol harus turun laga di Innsbruck menghadapi Russia, gelandang enerjik Barcelona itu sudah kembali berada dalam skuad. Dia sudah sehat, tetapi masih harus menanti keputusan tim dokter dan pelatih Luis Aragones, apakah dia sudah bisa tampil atau duduk di bangku cadangan.
Iniesta mungkin tidak sehebat Platini dalam catatan mencetak gol. Tetapi ada persamaan antara dua pemain beda generasi itu, fungsi dan peran mereka di skuad sangat penting sebagai penyeimbang dan pengatur tempo. Dia bukan pencetak gol subur, namun gol-golnya seringkali menentukan nasib tim matador. Dalam skuad produktifitas Iniesta hanya kalah dari dua rekannya, Fernando Torres dan David Villa.
Spanyol mengakhiri persiapan menuju Euro 2008 dengan kemenangan 1-0 atas Amerika Serikat di Santander. Gol semata wayang dihasilkan gelandang Barcelona, Xavi Hernandez menit 78. Tetapi hasil itu tidak cukup menggembirakan fans tim matador. Predikat tim yang sulit dikalahkan selama ditangani Luis Aragones mulai diragukan. Penampilan skuad matador tidak lebih baik dari ujicoba sebelumnya ketika menang 1-0 atas Peru. Pertahanan kurang solid, Carles Puyol dan Carlos Marchena masih kurang padu. Lini tengah kurang kreatif.
Jika Iniesta absen karena belum fit, kemungkinan Aragones memainkan midfield seperti uji-coba lawan USA, yakni Xabi Alonso, Santiago Cazorla, Xavi Hernandez, Cesc Fabregas, David Silva. Dalam formasi favorit Luis Aragones 4-5-1 maka pilihan striker tunggal jatuh pada Fernando Torres. Yang menarik adalah kepercayaan Aragones pada bintang muda Valencia berusia 22 tahun, David Silva. Penyerang ini, anggota skuad di piala dunia 2005 FIFA U-20, khusus beroperasi di sayap kiri, tak punya rasa takut, gesit dan cepat dengan umpan-umpannya berbahaya bagi pertahanan lawan. Cadangan lain adalah rekan Cazorla dan Silva dari klub Villarreal yakni Marcos Senna.
Kekuatan Spanyol terletak di lini tengah. Pelatih Russia, Guus Hiddink pasti tahu plus minus tim matador. Jika Spanyol masih tandatanya absennya Iniesta, maka Russia sudah pasti kehilangan striker andalan dari klub Zenit St Petersburg, Pavel Pogrebnyak yang dalam waktu dekat akan naik meja operasi dan Andrei Arshavin yang diskors untuk dua pertandingan awal. “Kehilangan dua starter, pukulan serius bagi kami,” kata Hiddink, “di lain pihak tidak ada sepakbola tanpa kehilangan pemain, sekarang ini tiap pemain akan berjuang keras demi Arshavin dan Pogrebnyak. Pemain mengerti ini dan akan main dengan sungguh-sungguh.”
Selama ini Hiddink memercayai empat pemain CSKA Moskva sebagai pilar lini belakang. Igor Akinfeev kiper 22 tahun yang sedang naik daun, dan tiga bek Vasili Berezutski, Sergei Ignashevich dan Alexei Berezutski. Jika memainkan pola empat bek maka salah satu dari Denis Kolodin atau Renat Yanbaev masuk line-up.
Partai ini akan ketat, keduanya adalah juara masa lalu yang ingin kembali ke pentas Eropa. Motivasi sangat tinggi. Russia jawara 1960, Spanyol juara 1964. Kedua tim juga sudah lama tidak bisa menembus grandfinal Euro. Terakhir sekali Spanyol sampai ke grandfinal, tahun 1984 dikalahkan Perancis. Sedangkan Russia, terakhir tahun 1988 dikalahkan Belanda di final.
Persaingan keras dan ketat akan terjadi di tengah lapangan. Jika kedua tim sama memainkan pola 4-5-1 maka dominasi permainan akan ditentukan para midfielder kedua tim. Alonso, Cazorla, Hernandez, Fabregas dan Silva akan bersaing ketat dengan lima gelandang Russia, Bilyaletdinov, Torbinskiy, Semshov, Zyrianov, Brystov. Tidak beda jauh dengan tim matador Spanyol, serangan beruang merah Russia pun memanfaatkan lebar lapangan. Dua bek Spanyol, Sergia Ramos dan Joan Capdevila serta kiper Iker Casilas ekstra waspada dengan bola-bola cross penyerang Russia dengan ujungtombaknya Roman Adamov atau Roman Pavlyuchenko
Tim Beruang Merah akan mengejutkan Spanyol, itu tekad Guus Hiddink dan skuadnya. Presiden RFS (PSSI-nya Russia) Vitali Mutko ketika mengunjungi latihan tim mengharap Russia memperlihatkan permainan terbaik agar dikenang orang. Russia ditempatkan sebagai underdog. Di atas kertas, Spanyol yang memiliki striker haus gol klub Liverpool, Fernando Torres lebih diunggulkan. Skuad Luis Aragones ini diunggulkan 53 banding 47 dengan peluang draw 50 persen. Di bursa taruhan William Hill, dua tim ini diunggulkan lolos dari grup D diikuti Yunani dan Swedia, namun dengan selisih tipis.
Pada pertandingan kedua grup D, juara bertahan Euro 2004 Yunani yang optimis sanggup mempertahankan gelar akan dijajal Swedia. Pelatih asal Jerman, Otto Rehhagel masih bertumpu pada sebagian besar skuadnya yang meraih gelar juara 2004 di tanah Portugal. Kiper Yunani, Kostas Chalkias, 34 tahun, tidak menjamin timnya akan sukses. Ada beberapa muka baru dalam skuad. Tetapi motivasi dan spirit tetap tinggi. Penyerang berbahaya Swedia, Zlatan Ibrahimovic dan Henrik Larsson akan jadi ancaman bagi kiper veteran dari skuad 2004 lalu itu. Kedua tim sama tangguh dalam fisik, tetapi materi pemain Swedia lebih berpengalaman. Di atas kertas, Swedia diprediksi unggul 52 berbanding 48.

***

Monday, June 9, 2008

Piala Eropa 2008 : Jerman vs Polandia

Artikel Piala Eropa Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Jerman vs Polandia
Mau Tahan Jerman, Fisik Harus Prima !

Oleh : John Halmahera

Bagi Jerman, 12 tahun tanpa gelar Euro, adalah waktu yang terlampau panjang. Joachim Low menegaskan timnya dalam kondisi siap tidak hanya untuk match perdana lawan Polandia, tapi untuk memenangkan gelar Eropa 2008. Terakhir sekali, tahun 1996 Jerman juara Eropa ketika di final mengalahkan Ceko. Di Euro 2000 dan 2004, prestasi tim panser mengecewakan. Tetapi sekarang ini dengan skuadnya yang mapan, Low yakin akan segera mengakhiri penantian 12 tahun itu. Jerman punya kualitas dan tradisi sebagai tim turnamen yang mumpuni. Dan semua prediksi itu harus dibuktikan di stadion Worthersee, Klagenfurt Minggu atau Senin dini hari jam 02.45 WIB menjajal Polandia.
Skuad Jerman sudah siap. Michael Ballack, jenderal lini tengah kondisinya prima. Miroslav Klose, striker nomor satu Jerman siap membobol gawang Polandia yang mungkin dikawal kiper Celtic, Artur Boruc. Gelandang Torsten Frings dalam top-form, begitu juga bek Christoph Metzelder yang cidera lama, sudah kembali pada formnya. Sebaik itu juga kondisi Per Mertesacker dan Arne Friedrich. Di bawah mistar veteran berpengalaman Jens Lehmann sudah lebih tenang, setelah beberapa hari lalu dia diikat kontrak klub bundesliga, VfB Stuttgart.
Dalam kondisi top-form seperti itu, Ballack Cs akan main terbuka, agresif dan mencari gol. Low yakin para penyerangnya, selain Klose, yaitu Kevin Kuranyi, Lukas Podolski dan Oliver Neuville akan mencetak gol demi gol menuju puncak turnamen. Gaya main cepat, pressure dan menyerang ala Jerman, akan memaksa Polandia ikut main cepat dan terbuka. Pasti akan menjadikan partai ini menarik ditonton. Tetapi satu hal yang pasti, jika kondisi fisik tidak prima, jangan harap Polandia bisa mengimbangi Ballack Cs. Itu sebab sejak usai musim kompetisi Leo Beenhakker dan staff bekerja keras meningkatkan kondisi fisik pemainnya.
Menjelang laga perdana lawan Jerman, Polandia kehilangan salah satu pilar di lini tengah, Jakub Blaszczykowski cedera, memaksa Beenhakker menggantikannya dengan pemain muda 23 tahun klub Hertha Berlin, Lukasza Piszczek yang baru membuat debut di ujicoba lawan Estonia Februari lalu. Absennya Blaszczykowski suatu kehilangan bagi Beenhakker mengingat gelandang Borussia Dortmund itu banyak tahu lebih kurangnya kekuatan Jerman.
Polandia menyelesaikan 3 ujicobanya dengan hasil yang tidak menggembirakan, draw 1-1 lawan Makedonia, menang 10 atas Albania dan draw lagi 1-1 dengan Denmark.
Namun bagi Beenhakker, ujicoba itu telah merampungkan persiapannya untuk laga perdana di Klagenfurt. Kiper Celtic Artur Boruc akan dibek-up Tomasz Kuszczak yang masih dikontrak Manchester United. Lini belakang Mariusz Jop, Jakub Wawrzyniak, Jacek Bak. Posisi gelandang, dikombinasi pekerja keras yang mau mengganjal kecepatan Ballack Cs dan gelandangkreatif yang menjadi tumpuan awal serangan balik cepat, Dariusz Dudka dari klub Krakow, Jacek Kezynowek dari Wolfsburg, Mariusz Lewandowski dari Shaktar Donetsk serta gelandang berdarah Brazil dari Legia Warsaw, Roger Guerreiro. Di lini depan selain Maciej Zurawski dari klub Larissa dan penyerang Racing Santander Euzebiusz Smolarek, masih ada Tomasz Zahorski dari Gornik Zabrze.
Ada janji Leo Beenhakker ketika pertama menangani Polandia bahwa dia ingin mengembalikan kejayaan tim Polandia dimasa Lato Cs di piala dunia 1974. Namun ciri kecepatan dan serangan lewat sayap yang jadi andalan skuad 1974 mungkin tak akan bisa disamai skuad Beenhakker yang sekarang ini. Dan masih tanda tanya besar, kesanggupan Polandia menahan Jerman. Di atas kertas Jerman akan menang 55 banding 45 persen sedangkan kemungkinan draw hanya sekitar 30 sampai 40 persen.

***