Wisang Geni, John Halmahera, Alternatif Dan Jawaban
Keranjingan membaca buku-buku silat (cersil) melanda saya ketika berangkat remaja di kota Surabaya sekitar tahun 1965-an. Kho Ping Ho, Boe Beng Tjoe, Gan K L, Chin Yung, O K T dll sudah mengobok-obok pikiran saya. Ada obsesi, pemberontakan dalam diri. Obsesinya, ingin mengarang cersil, menerbitkan cersil dan dibaca orang banyak. Pemberontakan dalam diri terutama di benak menyangkut rasio dan jalan pikiran saya. Pikiran liar yang dengan susah payah harus saya formulasikan dalam kerangka dan bingkai yang rasional.
Obsesi saya sudah terpenuhi. “Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan”, tahun 2009 karangan saya sudah terbit, dalam hal ini tak lupa saya ucapkan terimakasih pada (Bung) Bing Cahyono dan (Bung) Sinyo Leando yang sudah memberi kesempatan menerbitkan karya saya tersebut (terimakasih Bung).
Mulanya atau asal muasal cersil tsb saya rilis bulan Mei tahun 1992 di koran Suara Pembaruan (dulunya Sinar Harapan yang dibredel menpen Harmoko tahun 1985). Perlu saya perkenalkan diri bahwa saya mantan wartawan (spesialis sepakbola) olahraga di koran (Sinar Harapan) kebanggaan saya tsb. Judul cersilku (cerbung) waktu itu adalah “Jurus Penakluk Raja” yang terbit setiap hari selama lebih dari 70 hari secara bersambung kecuali hari Minggu.
Jurus Penakluk Raja (JPR) telah saya selesaikan meskipun dengan sangat serius, fokus dan penuh pemikiran tetapi agak terburu-buru. Sehingga pada hari-hari berikutnya, saya merasa tidak puas, komentar saya pada diri sendiri ,”cersil itu belum selesai, masih bisa disambung”. Wisang Geni (WG) itu membuat saya kasmaran dan tergila-gila pada penulisan cersil. Maka mulailah pengembaraan di dunia kependekaran, pikiran saya mulai menyambung lanjutan petualangan Wisang Geni.
Disela-sela kesibukan sebagai tenaga professional di PSSI (persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), sering kali di malam hari atau dini hari saya menulis WG, menuntaskan obsesi dan pikiran saya yang liar. Hampir dua tahun proses penyempurnaan WG, tepatnya tahun 2007, WG selesai, tuntas. Sebagai perbandingan, isi (panjang cerita) Jurus Penakluk Raja (JPR) sekitar 40 persen dari isi Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan (WG). Tentu saja lahir beberapa tokoh baru, baik di kubu teman WG maupun di pihak lawan.
Obsesi dan pemberontakan dalam pikiran saya itulah yang melahirkan WG sebagaimana yang bisa anda baca sekarang ini.
Apa dan bagaimana pemberontakan pikiran saya?
Sebelum jauh melangkah dan meneliti tulisan ini, perlu disepakati terlebih dahulu, bahwa tulisan ini hanya menceritakan latar belakang dan alternatif pemikiran saya akan halnya cerita silat. Dan bukan suatu pembelaan diri terhadap kritik dan saran pembaca WG serta saya pun tidak mengundang polemik. Adapun kritik dan pendapat pembaca, sangat saya hormati dan hargai.
Menurut pikiran saya :
Dalam suatu tarung penuh dendam dan kemarahan antara dua (atau lebih) pendekar berilmu tinggi atau pendekar utama (papan atas) yang dibekali senjata maut (tangan kosong maupun senjata), sangat besar kemungkinan ada pihak yang mati atau luka parah (kemudian mati).
Saya tidak setuju penulisan cerita yang menunda-nunda kematian musuh jahat. Saya tidak suka memelihara tokoh jahat dan membiarkan dia lolos (secara tidak masuk akal) dari serangan maut tokoh (lakon) utama. Bagi saya, dalam tarung adu jiwa, seseorang harus telengas, kalau tidak membunuh musuh jahat maka kita yang dibunuh. So, pilihan saya : kill him!!!
Alternatif seseorang yang lolos dari kematian dalam suatu pertarungan yang ketat, biasanya disebabkan dua hal. Seorang pendekar yang kalah tapi tidak mati, diselamatkan oleh rasa kasihan si lawan. Kedua, dia tertolong oleh pendekar berilmu tinggi (kosen) yang tiba-tiba muncul begitu saja from nowhere….
Yang pertama, dia diiselamatkan rasa kasihan lawan, bisa saja terjadi, meskipun harus ada alasan. Jadi saya anggap tidak begitu perlu dibahas.
Yang kedua, tertolong oleh pendekar (penolong/inkong) yang tiba-tiba muncul adalah faktor kebetulan. Jika faktor kebetulan hanya sekali-dua masih bisa saya terima. Tetapi kalau dalam suatu cerita sering kali muncul faktor kebetulan, terus terang saya tidak setuju.
Alasannya, bagaimana mungkin dalam radius (setting WG adalah Jawa Timur) yang sangat luas areanya dengan penduduk yang jarang, faktor kebetulan mempertemukan penolong dengan orang yang ditolong di satu tempat, sungguh sangat sulit dipercaya. Pertemuan antara dua (atau lebih) tokoh di satu tempat, sangat sulit. Harus diatur, misalnya ada kepentingan bersama untuk menuju dan mendatangi suatu tempat tertentu, dan disitulah mereka bertemu dan bertarung.
Maka itu sebabnya saya selalu merancang pertemuan mereka dengan alasan yang jelas, misalnya perburuan widali sakti; pertarungan memilih lima pendekar utama tanah Jawa di Mahameru; pertarungan pendekar tanah Jawa versus Kuangchou; atau lewat tantangan dan janji tarung (WG vs pasangan Kumara-Malini) dll. Saya selalu usahakan adanya alasan mengapa orang-orang tersebut bisa bertemu dan berkumpul di satu tempat untuk bertarung.
Saya pun cenderung memilih pertarungan ketat yang dipenuhi kemarahan dan dendam, harus ada yang mati. Ketika WG dan Sekar bertemu dengan Kalayawana (1st clash), WG dan Sekar luka parah, nyaris mati. Tertolong oleh Kumara dan Malini. Alasannya jelas ada, Kumara dan Malini punya kepentingan mengorek rahasia dari WG tentang persembunyian Ki Suryajagad, mereka ingin balas dendam terhadap Suryajagad tapi tidak tahu mau cari kemana dan bahwa WG adalah murid Lemah Tulis yang pasti tahu dimana Suryajagad bersembunyi.
Ketika WG tarung lawan Kalayawana (2nd clash) maka tak ada yang bisa selamat lagi, salah satu harus mati! Tak ada lagi faktor kebetulan! Bahwa akhirnya Geni yang menang memang sudah ditakdirkan oleh si pengarang. Saya menganut pemikiran, pertarungan antara pendekar top-class harus ada yang mati. Itu resiko dan tujuan akhir pertarungan.
Pemberontakan pikiran saya lainnya adalah soal asmara dan seks. Latar belakang cerita WG di tahun 1222-1247, era perang Ganter, jaman Ken Arok dan putra-putranya, dengan setting lokasi di Jawa Timur yang masih sebagian besar (90 persen?) hutan rimba.
Dunia kependekaran adalah tempat bertemunya orang-orang kasar yang tidak (baca: kurang) punya tata-krama dan etika. Moral tidak perlu dijunjung malahan ditempatkan di nomor sekian. Yang di urutan atas (top priority) adalah hukum rimba, siapa kuat dia menang.
Pernikahan yang penuh tata-krama, adat istiadat dan terkadang diwarnai pernik glamor hanya ada di istana atau kepatihan oleh kalangan pejabat (pamong) pemegang kekuasaan. Di dunia kependekaran tak dikenal perkawinan seperti itu, yang umum adalah “ketemu kalau suka sama suka, yah pacaran dan kawin” atau “ketemu, ada satu pihak kasmaran dan pihak lain tidak cinta maka terjadi pemaksaan (baca: perkosaan), prinsipnya siapa kuat dia menang”.
Sejarah mencatat, ketika Tunggul Ametung melihat Ken Dedes yang jelita dan seksi, seketika dia kasmaran. Saat itu Ken Dedes sendirian di pertapaan milik ayahnya, dan ayahnya yang seorang pertapa sakti sedang bepergian. Ametung menculik Ken Dedes. Pertapa pulang melihat putrinya hilang, tak tahu kemana mencarinya.
Ken Dedes dibawa kabur ke istana. Bisa terjadi waktu pertama ketemu Ametung memerkosa, bisa juga bujuk rayu atau ancaman, bisa juga Ken Dedes jatuh cinta, banyak kemungkinan bisa terjadi tapi semua alasannya tidak terungkap sejarah.
Ametung punya isteri atau selir atau ampil, tidak jelas apakah Ken Dedes langsung jadi isteri nomor satu. Pikiran liar saya mengatakan Ametung punya banyak selir. Jaman sekarang ada istilah poligami, di jaman itu tak ada batasan, yang ada hanyalah “power” yakni kekuatan, kekayaan dan kekuasaan.
Ketika Ken Arok melihat Ken Dedes –sejarah menceritakan adegan Ken Dedes turun dari kereta dan sewek (kain) tersingkap, kelihatan paha bagian dalam (maaf; putih, mulus) yang memancar sinar kemilau- serta merta birahi Arok tergugah. Arok menceritakan pada gurunya, dan sang guru mengatakan wanita itu akan melahirkan raja-raja penguasa tanah Jawa. Arok lalu membunuh Ametung dan mengawini Ken Dedes.
Pikiran liar saya mengatakan, kalau di kalangan penguasa keraton saja bisa muncul hal-hal yang seperti itu, maka bisa dimengerti kalau di luar sana –di dunia kependekaran- persoalan asmara dan seks masih didominasi warna hukum rimba “siapa kuat dia menang”, kalau pasangan anak manusia itu mau sama mau maka perkawinan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Tidak perlu lagi ijin guru atau orangtua.
WG gila dalam bercinta, mudah jatuh cinta, punya nafsu besar. Dia bagaikan api (geni) yang membakar diri sendiri dan wanita yang mencintainya. WG seperti Wisanggeni putra Arjuna yang lahir dari rahim bidadari (dewi) Dresanala yang putri (anak) Dewa Brahma dengan isterinya Dewi Sarasyati. Dalam cerita wayang (versi Jawa, bukan versi Mahabharata) Wisanggeni anak Arjuna sakti mandraguna karena dibesarkan api di kawah Candradimuka di gunung Jamurdipa. Putra Arjuna yang konon sangat sakti itu telah membuktikan kehebatannya dengan mengalahkan (dalam tarung) semua dewa di kahyangan dan juga para Pandawa termasuk ayahnya (Arjuna).
Wisanggeni artinya racun api, karena lahir akibat kemarahan betara Brahma, sang dewa penguasa api dan dibesarkan oleh api kawah Candradimuka. Bayangkan “racun api” artinya bisanya api, atau inti dari panasnya api. Seperti apa itu? Mungkinkah sehebat panasnya neraka? Tetapi WG yang aku ceritakan adalah WG putra Gajah Kuning dari isterinya Sukesih, bukannya Wisanggeni putra Arjuna.
Pada mulanya saya ingin menambahkan kalimat “nama putraku, Wisanggeni, mengingatkan aku akan putra dari Arjuna, dan pemuda itu tak punya tandingan dalam kesaktian,” kata Gajah Kuning. Namun pada saat-saat akhir saya batalkan, khawatir cerita terlalu melebar dan njelimet.
Hanya bagaimana pun juga konsekwensi dari pilihan nama Wisang Geni itu maka semua yang berkaitan dengan Wisanggeni anak Arjuna, saya lebur sebagai karakter WG anak Gajah Kuning. Hakikatnya Wisanggeni berarti “racun api”. Dan itulah dasar karakter dan pola tingkah WG anak Gajah Kuning. Dia pemarah, sakti, nekad, cerdas, agak liar, heroik, loyal membela negeri (tanah Jawa), berani ambil resiko. Dia juga romantis, perayu ulung seperti Arjuna, suka wanita, mudah jatuh cinta, nafsu besar karena tenaga panas dalam tubuhnya.
Itulah WG yang tokoh utama dalam cersil saya. Penuh kontroversi memang, tapi saya suka tokoh itu, seperti juga saya menyukai Sekar, gadis jelita yang sangat setia dan menyintai WG. Kalau Ian Fleming seenak perutnya menciptakan James Bond yang unbeatable, maka saya juga tidak mau kalah menciptakan WG yang pasti lebih sakti dari James Bond, Rambo, Indiana Jones, bahkan tidak kalah dari Supermen. Kalau tarung versus Supermen, tokoh WG ciptaan saya itu kalah, maka saya akan meminjam Wisanggeni tulen putra Arjuna, nah siapa yang menang? Pasti Wisanggeni yang menang, sebab dia anak Indonesia. (*) 29th July 2009.
Keranjingan membaca buku-buku silat (cersil) melanda saya ketika berangkat remaja di kota Surabaya sekitar tahun 1965-an. Kho Ping Ho, Boe Beng Tjoe, Gan K L, Chin Yung, O K T dll sudah mengobok-obok pikiran saya. Ada obsesi, pemberontakan dalam diri. Obsesinya, ingin mengarang cersil, menerbitkan cersil dan dibaca orang banyak. Pemberontakan dalam diri terutama di benak menyangkut rasio dan jalan pikiran saya. Pikiran liar yang dengan susah payah harus saya formulasikan dalam kerangka dan bingkai yang rasional.
Obsesi saya sudah terpenuhi. “Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan”, tahun 2009 karangan saya sudah terbit, dalam hal ini tak lupa saya ucapkan terimakasih pada (Bung) Bing Cahyono dan (Bung) Sinyo Leando yang sudah memberi kesempatan menerbitkan karya saya tersebut (terimakasih Bung).
Mulanya atau asal muasal cersil tsb saya rilis bulan Mei tahun 1992 di koran Suara Pembaruan (dulunya Sinar Harapan yang dibredel menpen Harmoko tahun 1985). Perlu saya perkenalkan diri bahwa saya mantan wartawan (spesialis sepakbola) olahraga di koran (Sinar Harapan) kebanggaan saya tsb. Judul cersilku (cerbung) waktu itu adalah “Jurus Penakluk Raja” yang terbit setiap hari selama lebih dari 70 hari secara bersambung kecuali hari Minggu.
Jurus Penakluk Raja (JPR) telah saya selesaikan meskipun dengan sangat serius, fokus dan penuh pemikiran tetapi agak terburu-buru. Sehingga pada hari-hari berikutnya, saya merasa tidak puas, komentar saya pada diri sendiri ,”cersil itu belum selesai, masih bisa disambung”. Wisang Geni (WG) itu membuat saya kasmaran dan tergila-gila pada penulisan cersil. Maka mulailah pengembaraan di dunia kependekaran, pikiran saya mulai menyambung lanjutan petualangan Wisang Geni.
Disela-sela kesibukan sebagai tenaga professional di PSSI (persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), sering kali di malam hari atau dini hari saya menulis WG, menuntaskan obsesi dan pikiran saya yang liar. Hampir dua tahun proses penyempurnaan WG, tepatnya tahun 2007, WG selesai, tuntas. Sebagai perbandingan, isi (panjang cerita) Jurus Penakluk Raja (JPR) sekitar 40 persen dari isi Wisang Geni Pendekar Tanpa Tandingan (WG). Tentu saja lahir beberapa tokoh baru, baik di kubu teman WG maupun di pihak lawan.
Obsesi dan pemberontakan dalam pikiran saya itulah yang melahirkan WG sebagaimana yang bisa anda baca sekarang ini.
Apa dan bagaimana pemberontakan pikiran saya?
Sebelum jauh melangkah dan meneliti tulisan ini, perlu disepakati terlebih dahulu, bahwa tulisan ini hanya menceritakan latar belakang dan alternatif pemikiran saya akan halnya cerita silat. Dan bukan suatu pembelaan diri terhadap kritik dan saran pembaca WG serta saya pun tidak mengundang polemik. Adapun kritik dan pendapat pembaca, sangat saya hormati dan hargai.
Menurut pikiran saya :
Dalam suatu tarung penuh dendam dan kemarahan antara dua (atau lebih) pendekar berilmu tinggi atau pendekar utama (papan atas) yang dibekali senjata maut (tangan kosong maupun senjata), sangat besar kemungkinan ada pihak yang mati atau luka parah (kemudian mati).
Saya tidak setuju penulisan cerita yang menunda-nunda kematian musuh jahat. Saya tidak suka memelihara tokoh jahat dan membiarkan dia lolos (secara tidak masuk akal) dari serangan maut tokoh (lakon) utama. Bagi saya, dalam tarung adu jiwa, seseorang harus telengas, kalau tidak membunuh musuh jahat maka kita yang dibunuh. So, pilihan saya : kill him!!!
Alternatif seseorang yang lolos dari kematian dalam suatu pertarungan yang ketat, biasanya disebabkan dua hal. Seorang pendekar yang kalah tapi tidak mati, diselamatkan oleh rasa kasihan si lawan. Kedua, dia tertolong oleh pendekar berilmu tinggi (kosen) yang tiba-tiba muncul begitu saja from nowhere….
Yang pertama, dia diiselamatkan rasa kasihan lawan, bisa saja terjadi, meskipun harus ada alasan. Jadi saya anggap tidak begitu perlu dibahas.
Yang kedua, tertolong oleh pendekar (penolong/inkong) yang tiba-tiba muncul adalah faktor kebetulan. Jika faktor kebetulan hanya sekali-dua masih bisa saya terima. Tetapi kalau dalam suatu cerita sering kali muncul faktor kebetulan, terus terang saya tidak setuju.
Alasannya, bagaimana mungkin dalam radius (setting WG adalah Jawa Timur) yang sangat luas areanya dengan penduduk yang jarang, faktor kebetulan mempertemukan penolong dengan orang yang ditolong di satu tempat, sungguh sangat sulit dipercaya. Pertemuan antara dua (atau lebih) tokoh di satu tempat, sangat sulit. Harus diatur, misalnya ada kepentingan bersama untuk menuju dan mendatangi suatu tempat tertentu, dan disitulah mereka bertemu dan bertarung.
Maka itu sebabnya saya selalu merancang pertemuan mereka dengan alasan yang jelas, misalnya perburuan widali sakti; pertarungan memilih lima pendekar utama tanah Jawa di Mahameru; pertarungan pendekar tanah Jawa versus Kuangchou; atau lewat tantangan dan janji tarung (WG vs pasangan Kumara-Malini) dll. Saya selalu usahakan adanya alasan mengapa orang-orang tersebut bisa bertemu dan berkumpul di satu tempat untuk bertarung.
Saya pun cenderung memilih pertarungan ketat yang dipenuhi kemarahan dan dendam, harus ada yang mati. Ketika WG dan Sekar bertemu dengan Kalayawana (1st clash), WG dan Sekar luka parah, nyaris mati. Tertolong oleh Kumara dan Malini. Alasannya jelas ada, Kumara dan Malini punya kepentingan mengorek rahasia dari WG tentang persembunyian Ki Suryajagad, mereka ingin balas dendam terhadap Suryajagad tapi tidak tahu mau cari kemana dan bahwa WG adalah murid Lemah Tulis yang pasti tahu dimana Suryajagad bersembunyi.
Ketika WG tarung lawan Kalayawana (2nd clash) maka tak ada yang bisa selamat lagi, salah satu harus mati! Tak ada lagi faktor kebetulan! Bahwa akhirnya Geni yang menang memang sudah ditakdirkan oleh si pengarang. Saya menganut pemikiran, pertarungan antara pendekar top-class harus ada yang mati. Itu resiko dan tujuan akhir pertarungan.
Pemberontakan pikiran saya lainnya adalah soal asmara dan seks. Latar belakang cerita WG di tahun 1222-1247, era perang Ganter, jaman Ken Arok dan putra-putranya, dengan setting lokasi di Jawa Timur yang masih sebagian besar (90 persen?) hutan rimba.
Dunia kependekaran adalah tempat bertemunya orang-orang kasar yang tidak (baca: kurang) punya tata-krama dan etika. Moral tidak perlu dijunjung malahan ditempatkan di nomor sekian. Yang di urutan atas (top priority) adalah hukum rimba, siapa kuat dia menang.
Pernikahan yang penuh tata-krama, adat istiadat dan terkadang diwarnai pernik glamor hanya ada di istana atau kepatihan oleh kalangan pejabat (pamong) pemegang kekuasaan. Di dunia kependekaran tak dikenal perkawinan seperti itu, yang umum adalah “ketemu kalau suka sama suka, yah pacaran dan kawin” atau “ketemu, ada satu pihak kasmaran dan pihak lain tidak cinta maka terjadi pemaksaan (baca: perkosaan), prinsipnya siapa kuat dia menang”.
Sejarah mencatat, ketika Tunggul Ametung melihat Ken Dedes yang jelita dan seksi, seketika dia kasmaran. Saat itu Ken Dedes sendirian di pertapaan milik ayahnya, dan ayahnya yang seorang pertapa sakti sedang bepergian. Ametung menculik Ken Dedes. Pertapa pulang melihat putrinya hilang, tak tahu kemana mencarinya.
Ken Dedes dibawa kabur ke istana. Bisa terjadi waktu pertama ketemu Ametung memerkosa, bisa juga bujuk rayu atau ancaman, bisa juga Ken Dedes jatuh cinta, banyak kemungkinan bisa terjadi tapi semua alasannya tidak terungkap sejarah.
Ametung punya isteri atau selir atau ampil, tidak jelas apakah Ken Dedes langsung jadi isteri nomor satu. Pikiran liar saya mengatakan Ametung punya banyak selir. Jaman sekarang ada istilah poligami, di jaman itu tak ada batasan, yang ada hanyalah “power” yakni kekuatan, kekayaan dan kekuasaan.
Ketika Ken Arok melihat Ken Dedes –sejarah menceritakan adegan Ken Dedes turun dari kereta dan sewek (kain) tersingkap, kelihatan paha bagian dalam (maaf; putih, mulus) yang memancar sinar kemilau- serta merta birahi Arok tergugah. Arok menceritakan pada gurunya, dan sang guru mengatakan wanita itu akan melahirkan raja-raja penguasa tanah Jawa. Arok lalu membunuh Ametung dan mengawini Ken Dedes.
Pikiran liar saya mengatakan, kalau di kalangan penguasa keraton saja bisa muncul hal-hal yang seperti itu, maka bisa dimengerti kalau di luar sana –di dunia kependekaran- persoalan asmara dan seks masih didominasi warna hukum rimba “siapa kuat dia menang”, kalau pasangan anak manusia itu mau sama mau maka perkawinan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Tidak perlu lagi ijin guru atau orangtua.
WG gila dalam bercinta, mudah jatuh cinta, punya nafsu besar. Dia bagaikan api (geni) yang membakar diri sendiri dan wanita yang mencintainya. WG seperti Wisanggeni putra Arjuna yang lahir dari rahim bidadari (dewi) Dresanala yang putri (anak) Dewa Brahma dengan isterinya Dewi Sarasyati. Dalam cerita wayang (versi Jawa, bukan versi Mahabharata) Wisanggeni anak Arjuna sakti mandraguna karena dibesarkan api di kawah Candradimuka di gunung Jamurdipa. Putra Arjuna yang konon sangat sakti itu telah membuktikan kehebatannya dengan mengalahkan (dalam tarung) semua dewa di kahyangan dan juga para Pandawa termasuk ayahnya (Arjuna).
Wisanggeni artinya racun api, karena lahir akibat kemarahan betara Brahma, sang dewa penguasa api dan dibesarkan oleh api kawah Candradimuka. Bayangkan “racun api” artinya bisanya api, atau inti dari panasnya api. Seperti apa itu? Mungkinkah sehebat panasnya neraka? Tetapi WG yang aku ceritakan adalah WG putra Gajah Kuning dari isterinya Sukesih, bukannya Wisanggeni putra Arjuna.
Pada mulanya saya ingin menambahkan kalimat “nama putraku, Wisanggeni, mengingatkan aku akan putra dari Arjuna, dan pemuda itu tak punya tandingan dalam kesaktian,” kata Gajah Kuning. Namun pada saat-saat akhir saya batalkan, khawatir cerita terlalu melebar dan njelimet.
Hanya bagaimana pun juga konsekwensi dari pilihan nama Wisang Geni itu maka semua yang berkaitan dengan Wisanggeni anak Arjuna, saya lebur sebagai karakter WG anak Gajah Kuning. Hakikatnya Wisanggeni berarti “racun api”. Dan itulah dasar karakter dan pola tingkah WG anak Gajah Kuning. Dia pemarah, sakti, nekad, cerdas, agak liar, heroik, loyal membela negeri (tanah Jawa), berani ambil resiko. Dia juga romantis, perayu ulung seperti Arjuna, suka wanita, mudah jatuh cinta, nafsu besar karena tenaga panas dalam tubuhnya.
Itulah WG yang tokoh utama dalam cersil saya. Penuh kontroversi memang, tapi saya suka tokoh itu, seperti juga saya menyukai Sekar, gadis jelita yang sangat setia dan menyintai WG. Kalau Ian Fleming seenak perutnya menciptakan James Bond yang unbeatable, maka saya juga tidak mau kalah menciptakan WG yang pasti lebih sakti dari James Bond, Rambo, Indiana Jones, bahkan tidak kalah dari Supermen. Kalau tarung versus Supermen, tokoh WG ciptaan saya itu kalah, maka saya akan meminjam Wisanggeni tulen putra Arjuna, nah siapa yang menang? Pasti Wisanggeni yang menang, sebab dia anak Indonesia. (*) 29th July 2009.