Tuesday, August 10, 2010

World Cup 2010 (27) Germany Die Mannschaft

World Cup 2010 Serial (27)
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial

Review Jerman
“Die Mannschaft” Jerman Yang Membalikkan Pasar Tarohan
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 1 Juli 2010

Jerman disegani di Eropa bahkan di dunia saat ini. Tim dengan prestasi juara dunia 3 kali (1954, 1974, 1990) tadinya tidak masuk empat besar unggulan pasar tarohan “Hill House”. Menjelang kick-off Afrika Selatan 2010 “Hill House” mengunggulkan Spanyol, diikuti Brazil, Inggeris dan Argentina. Di posisi 5 Belanda. Barulah Jerman dan Italia sama-sama di posisi 6.
Tetapi setelah menyelesaikan babak penyisihan dengan penampilan mengesankan, kini Jerman jadi kandidat kuat juara 2010. Jerman yang dijuluki “Die Mannschaft” (the team) mengawali partai perdananya dengan gemilang, menghancurkan Australia 4-0. Pada pertandingan kedua, pasukan Low ini kalah 0-1 dari Serbia. Sebuah kejutan tetapi pelajaran bagi pemain-pemain “die mannschaft” untuk tidak terpancing emosi dan harus bisa menekan temperamen.
Jerman bangkit kembali, mengalahkan Ghana 1-0 di partai menentukan. Di babak knock-down 16 Besar mereka semakin trengginas dan menghancurkan Inggeris 4-1, suatu kemenangan dengan skor besar yang di luar dugaan para pengamat. Namun dari penampilan lapangan, Jerman layak menang karena memiliki banyak kelebihan. Malam itu Jerman lebih kuat dari Inggeris.
Die Mannschaft main dalam kesatuan dan kebersamaan yang sangat padu. Di luar lapangan, hubungan juga harmonis dan akrab. Dalam hal ini Joachim Low sebagai coach sangat disiplin tapi juga akrab. Asisten coach Hans-Dieter Flick bersama pelatih kiper Andreas Kopke, athletic coach Shad Forsythe dan Oliver Bartlett, direktur tehnik Matthias Sammer dan team manager Oliver Bierhoff sama-sama bekerja keras dan memelihara keharmonisan didalam skuad. Kopke mantan kiper kondang, begitu juga Sammer yang handal sebagai defender timnas. Dan Bierhoff semasa pemain telah mencetak 37 gol dari 70 caps atau rata-rata 0.53 gol per pertandingan.
Kecuali penampilan lawan Serbia, tiga lainnya memperlihatkan kerjasama tim, kesatuan dan saling pengertian sesama pemain. Dari lini belakang dan kiper ke lini tengah dan lini depan, Bastian Schweinsteiger Cs bekerja keras saling bantu, memperlihatkan permainan yang mengalir sesuai tempo yang diinginkan. Stamina dan semangat pemain mengejar dan merebut bola lalu membangun serangan cepat seakan tercipta begitu saja.
Hebatnya lagi Jerman memiliki dua striker yang ibarat “monster” bagi pertahanan lawan, Lukas Podolski dan Miroslav Klose. Keduanya tampil buruk di bundesliga musim ini, mandul dalam urusan mencetak gol. Tetapi begitu tampil di timnas, keduanya menggila mengobrak-abrik pertahanan lawan. Klose sampai hari ini telah mencetak 50 gol dari 99 caps-nya, rata-rata 0.51 gol per pertandingan. Dia pencetak gol urutan kedua Jerman sepanjang masa, dibawah legenda Gerd Muller yang mencetak 68 gol dari 62 caps, rata-rata 1.09 gol per pertandingan.
Lukas Podolski usia 25 tahun, tujuh tahun lebih muda dari usia Klose, memiliki masa depan cerah, dari 77 caps Podolski yang berdarah Polandia telah mencetak 40 gol, artinya 0.52 gol per pertandingan. Permainan Jerman yang ofensif pragmatis menjanjikan produktifitas para pemainnya. Podolski sudah mencetak dua gol sama banyak dengan Klose, sayang pinalti Podolski ke gawang Serbia tidak membuahkan gol.
Pola dan gaya main “die mannschaft” yang ofensif pragmatis membuat hampir semua pemain sanggup menjadi pencetak gol. Di Afrika Selatan 2010 muncul pencetak gol baru di skuad Jerman dan telah mencetak satu gol lebih banyak dari Podolski dan Klose. Dialah gelandang serang Bayern Munich yang baru berusia 21 tahun, Thomas Mueller yang mencetak 1 gol ke gawang Australia dan 2 gol ke gawang Inggeris. Tak salah jika Low sejak awal memilihnya sebagai starter. Mueller patut berterimakasih pada Louis van Gaal, pelatih Bayern Munich, yang memercayai dia sebagai gelandang serang dari pola 4-5-1 yang dimainkan Munich. Itulah awal kiprahnya yang berlanjut ke debut di tim asuhan Low 3 Maret 2010 ujicoba lawan Argentina.
Keberanian Low dalam meramu pemain muda ke dalam skuad senior, meneruskan revolusi sepakbola Jerman yang dilakukan pendahulunya Juergen Klinsmann. Low menggantikan mantan kapten die mannschaft 1994-1998 itu ketika Klinsmann menolak melanjutkan melatih Jerman seusai Piala Dunia 2006.
Kecerdikan Joachim Low dalam urusan strategi membuat dia ditarik Klinsmann sebagai asisten yang berhasil membawa angin segar perubahan “die mannschaft” yang baru dan segar. Kala itu Juergen Klinsmann menjanjikan penampilan tim Jerman yang baru dan yang memikat penggila bola negerinya. Janji itu terpenuhi, meski hanya merebut peringkat tiga Piala Dunia 2006 yang berlangsung di negeri sendiri namun penampilan tim yang ofensif pragmatis itu mampu merebut simpati publik. Tak ada kritik, bahkan Klinsmann dielu-elukan melanjutkan kepemimpinannya.
Klinsmann menolak maka Joachim Low naik pentas. Dia melanjutkan kerja Klinsmann dan dengan inisiatif serta penemuannya sendiri, mengantar Jerman ke final Euro 2008 dan kalah tipis 0-1 dari Spanyol oleh gol tunggal Fernando Torres. Di babak kualifikasi 2010 skuad Low ini juga tampil impresif. Dalam partai penentuan 10 Oktober 2009 Jerman mengalahkan Russia 1-0 di Moscow dan merebut posisi puncak grup sekaligus lolos ke 2010. Sepuluh pertandingan tanpa kalah, menang 8 dan draw 2 dengan memasukkan 26 gol kemasukan 5, mengungguli Russia, Finlandia, Wales, Azerbaijan dan Liechtenstein.
Produktifitas selama babak kualifikasi menandakan Jerman era Klinsmann yang dilanjutkan Low telah mengubah gaya dan corak main dari cenderung bertahan ke pola ofensif dan pragmatis yang sekaligus mengembalikan Jerman ke masa jaya era Beckenbauer semasa pemain maupun pelatih. Kini di 2010 sepak-terjang menjuarai grup dan menyingkirkan Inggeris di babak knock-down 16 Besar dalam “big-match” yang menyedot perhatian dunia, “die mannschaft” sekali lagi memperlihatkan diri sebagai tim yang kandidat kuat merebut gelar 2010. ***

No comments: