Saturday, July 30, 2011

Wisang Geni part Two (37)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 37

Bab Limabelas

Lemah Tulis Balas Dendam

Perguruan Lemah Tulis sudah berubah. Pagar tinggi yang mengelilingi perguruan sudah tiada. Banyaknya penduduk disekitar perguruan yang mengirim putra-putrinya berlatih silat dan areal tanah didalam pagar yang tidak lagi bisa menampung pertambahan jumlah murid memaksa perguruan mengubah sikap dan kebijakan.

Terjadi pembauran penduduk desa yang tidak mengenal ilmu-silat dengan murid-murid Lemah Tulis yang menguasai ilmu-silat. Lemah Tulis berkembang seperti desa-desa pada umumnya di tanah Jawa yang punya organisasi desa, perdagangan antar penduduk, adanya warung makan, warung serba ada.

Siang hari itu rombongan Wisang Geni tiba di Lemah Tulis. Tentu saja para murid geger dan gempita melihat munculnya sang ketua. Mereka berduyun-duyun memberi selamat dan menyatakan kegembiraannya. Beberapa waktu lalu kabar matinya sang ketua telah membuat seantero perdikan bersedih. Kini kegembiraan dan semangat Lemah Tulis muncul lagi.

Wisang Geni dan tiga isterinya istirahat di rumahnya. Beberapa murid wanita mengantar makanan dan minuman. Menjelang sore, Prastawana menjemput Wisang Geni mengunjungi Padeksa di rumahnya. Orangtua itu merangkul muridnya dengan sukacita. “Kamu bukan saja masih hidup, malah tampak sehat dan bugar.”

Setelah sungkem mencium lutut gurunya, Wisang Geni duduk sila didepan Padeksa. Guru yang terbiasa dipanggil kakek oleh Wisang Geni itu, tertawa-tawa memandang muridnya.

“Ceritakan kejadian yang menimpa kamu, kabar di luaran mengatakan kamu mati dibunuh isterimu.” Kata Padeksa. “Tapi aku tak pernah percaya kamu mati. Hatiku tidak bersedih, tidak ada ketukan keras dijantungku, aku tahu kamu masih hidup. Dan itu sebabnya aku perintahkan Prastawana membawa teman-temannya mencarimu.”

“Nyaris mati, guru. Lukaku cukup parah. Yang memukul aku, Arjapura. Bukan isteriku. Dia dendam, karena putranya mati ditanganku dalam tarung pamungkas beberapa tahun lalu. Akan kuceritakan itu didepan para murid.” Kata Wisang Geni.

Padeksa tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan putih semuanya. “Ada kabar, kamu telah mengambil-alih ketua. Katanya, kamu mau menyerang Brantas, balas dendam.” Dia tersenyum licik. “Itu maumu sendiri, aku tidak memaksa kamu bertarung.”

Wisang Geni tertawa geli. Sudah lama senyum licik yang unik itu tidak menghiasi wajah guru dan kakeknya itu. “Aku akan memimpin para murid menyerang dan menghancurkan Brantas. Kini saatnya balas menyerang!” Tegas Wisang Geni.

“Aku setuju.” Seru Padeksa geram teringat matinya sang adik Gajah Watu.

“Tetapi kakek tidak ikut.”

Wisang Geni tertawa melihat wajah cemberut guru yang sering dipanggilnya kakek itu.

“Kakek simbol perguruan, sesepuh yang paling dihormati, jadi harus berada di perguruan. Urusan diluar biar muridmu ini yang selesaikan.” Wisang Geni tersenyum memandang kakek yang sangat dicintainya itu. Padeksa tersenyum puas.

Prastawana memotong pembicaraan. “Ketua, para murid sudah menunggu, tampaknya mereka kangen padamu. Ingin mendengar petuahmu.”

Padeksa bertanya. “Geni, dadamu bergambar lalawa.”

“Iya, aku mendapat jurus baru, warisan guru lalawa. Dan aku suka gambar ini, guru.”

“Memang ilmu-silat tak ada batasnya.” Kata Padeksa. “Geni apakah tidak terlintas dalam pikiranmu untuk menciptakan jurus-jurus dari pecahan garudamukha? Kamu punya kemampuan untuk itu, hanya semangatmu yang tidak ada.”

Wisang Geni memandang kakeknya dengan penuh tanda-tanya. “Aku pernah menciptakan tiga jurus langit, jurus perpisahan, rasa suwung wenganing bumi, ngesti suwung wenganing bumi, wong mati ora kesasaban bumi, kakek masih ingat?”

“Maksudku yang lebih khusus yaitu jurus fisik yang bersumber dari garudamukha dan garudamukha prasidha, jangan-jangan kamu mulai melupakan asal-muasal kamu belajar kanuragan di perguruan Lemah Tulis?”

Wisang Geni terkejut mendengar ucapan Padeksa yang sangat tajam itu. “Apakah karena aku belajar jurus-jurus dari guru lalawa membuat kakek tidak senang?” Pikran ini mengganggunya. “Tidak Kek, aku tetap murid Lemah Tulis, tapi mengapa kakek berkata demikian?”

“Aku sudah tua, aku tak mau mati dengan membawa pikiran buruk bahwa ajaran Lemah Tulis mulai hilang dari muka bumi. Aku ingin mewariskan jurus-jurus sakti garudamukha kepada murid-murid Lemah Tulis untuk mempertahankan ajaran kakek buyutku pendiri perguruan ini.”

Padeksa menghirup nafas panjang, menghembus pelan ke udara. “Lupakan saja pembicaraan ini, tidak penting lagi.” Dia melangkah masuk kamar, meninggalkan teka-teki kepada Wisang Geni dan para murid.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Sore hari itu matahari masih terang benderang, limapuluh lebih murid berkumpul di aula. Jumlah itu tidak mewakili semua murid, melainkan hanya para senior.

Melihat munculnya tiga pendekar itu, semua murid bertepuk tangan. Gegap gempita.

“Sudah lama suasana gempita ini tidak terdengar,” kata Padeksa tertawa. Dia duduk sila berhadapan dengan para murid. Disampingnya Prastawana dan Wisang Geni.

“Mulailah, hidupkan kembali semangat perguruan, sama seperti dulu kita membangun Lemah Tulis ini. Ayo Prastawana, mulailah.” Kata Padeksa. “Lihatlah, aku masih belum jompo, masih kuat dan perkasa.” Seketika tubuh pendekar tua itu terangkat dari lantai masih dalam sikap duduk sila. Dan tubuh itu melayang-layang setengah meter dari tanah.

Para murid tercengang dan terpesona melihat peragaan ringan-tubuh dan tenaga-dalam yang mumpuni itu. Seketika mereka bertepuk-tangan dan memuji sang kakek. Tidak demikian dengan Wisang Geni, perilaku guru dan kakeknya itu seperti memberi tanda kepadanya akan ketidakpuasan sang kakek terhadapnya.

Padeksa duduk kembali dan berkata. “Ayo Prastawana mulailah.”

Prastawana berdiri, seketika suasana sunyi senyap. “Teman-teman, kemarin jabatan ketua, kukembalikan kepada ketua Wisang Geni. Selama ini aku hanya mewakili, tak pernah aku menganggap diri sebagai ketua. Dialah ketua, dahulu, sekarang dan masa depan. Jika ada salahku selama ini maafkan aku. Silahkan ketua untuk bicara.” Prastawana berkata dengan wajah berseri penuh kegembiraan.

Sorak sorai dan tepuk tangan ketika Wisang Geni berdiri.

Dia mengacung dua tangannya keatas sehingga tampak jelas ketiaknya yang berbulu. Dadanya yang bidang dengan gambar lalawa, wajah yang angker wibawa, dan sepasang mata tajam yang memandang sana-sini seketika meredam riuhnya sorak sorai.

“Orang-orang Brantas telah mengoyak kehormatan Lemah Tulis, tigapuluh satu saudara kita mati di Kandangan termasuk paman guru Gajah Watu. Aku hanya mendengar cerita, namun amarahku mendidih. Aku akan menyerang Brantas, balas dendam, hutang nyawa bayar nyawa, siapa diantara kalian mau ikut?”

Seketika terdengar teriakan semangat campur amarah para murid lelaki maupun wanita. Mereka bangkit, berdiri sambil mengacung kepalan. “Aku ikut, aku ikut, aku ikut.”

Wisang Geni mengangkat tangannya kembali, semua murid duduk dan suasana seketika hening. “Satu hari sebelum kejadian tragis di Kandangan, aku dilukai Arjapura. Dendamnya padaku sedalam lautan sebab aku membunuh putranya Wasudewa. Bukan isteriku Gayatri yang memukul aku, sekali lagi kukatakan, bukan Gayatri yang memukul aku. Cerita orang bahwa Gayatri memukul dan melukai aku? Itu tidak benar! Aku yang mengalami dan aku tahu apa yang terjadi. Saat itu Gayatri memelukku dan aku terpecah perhatian padanya. Aku lengah. Saat itu Arjapura menyerang, aku mendorong Gayatri menjauh, karenanya gerakanku terlambat. Aku hanya bisa memutar tubuh menghindarkan dadaku dari pukulan. Lenganku yang kena. Mengapa Gayatri bisa muncul bersama penjahat itu? Karena Gayatri kena racun jahat, dia ditawan dan dipaksa menemuiku. Saat itu dia telah memeringati aku, tetapi seperti kataku tadi, aku terlambat.”

Gayatri diam mematung. Terharu suaminya berbohong demi melindungi dirinya. Matanya berkaca-kaca. “Dia tidak hanya mengampuni juga melindungi aku, betapa besar kasih sayang dan pengorbanannya kepadaku.” Katanya dalam hati.

Kalau Gayatri senang mendengar kebohongan itu, tidak demikian Sekar yang tampak sangat kecewa. “Dia berbohong demi membela Gayatri sungguh tidak layak seorang pemimpin perguruan besar bersikap seperti itu. Orang lain boleh percaya, tetapi aku tahu persis apa yang terjadi. Pengkhianatan Gayatri itu kesalahan besar seorang isteri, tak boleh diampuni! Laki-laki lemah!”

Wisang Geni melanjutkan, matanya bersinar tajam, ada percikan amarah didalamnya. “Arjapura telah membunuh dua isteriku Manohara dan Prawesti. Dia pernah datang ke Welirang. Dia gagal membunuh anakku Anggreni karena Gayatri menolong putrinya. Aku tahu Arjapura ingin menyakiti aku, membunuh orang-orang yang kucintai, setelah itu baru dia tarung denganku. Ini urusanku sendiri, akan kutagih hutang darah ini padanya!”

Terdengar suara lantang Gajah Lengar. “Ketua, isteri dan anakmu adalah keluarga Lemah Tulis, kami akan membela mereka. Kami menunggu perintahmu.”

“Ketua, Mahameru kehilangan banyak muridnya yang tewas di Kandangan, kita berjanji sama-sama menyerang Brantas. Bagaimana kalau kita ajak mereka?” Tukas Prastawana.

Wisang Geni menyahut cepat. “Ajak mereka. Biar ramai.”

“Berapa jumlah murid ikut kamu?” Padeksa memotong.

“Empatpuluh murid, Prastawana dan Dipta yang memilih.” Kata Wisang Geni.

Margana, yang bersama Daraka merupakan murid Gubar Baleman, bertanya. ”Kapan kita menyerang? Kami semua sudah lama menahan diri, menunggu datangnya saat ini.”

“Besok kita berangkat.” Jawab Wisang Geni.

Para murid menyambut gembira.

Pertemuan bubar. Semua murid kembali menjalankan kesibukan masing-masing. Wisang Geni berpesan kepada Dipta dan Prastawana menemuinya di rumah malam nanti. “Ajak isteri kalian, kita makan bersama.”

Malam harinya di rumah ketua Lemah Tulis.

Wisang Geni didampingi Sekar, Gayatri dan Atis. Dipta bersama isterinya Mingasi, Prastawana berdua Dyah Mekar. Mereka makan dan ngobrol akrab. Selesai makan Wisang Geni mengungkap rencananya.

“Markas pusat Brantas adanya di perahu besar yang keberadaannya sulit ditebak sebab selalu berpindah-pindah. Rencanaku, kalian berempat melakukan perjalanan mencari tahu lokasinya.” Kata Wisang Geni. “Setelah pasti lokasinya, baru kita menyerang.”

Tiba-tiba saja Atis memotong, suaranya serius. “Itu rencana yang buruk.”

Semua orang menoleh memandangnya, bahkan mata Wisang Geni melotot, seketika Atis kaget. Tanpa sadar tangannya menutup mulutnya.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Apa katamu?” Wisang Geni bertanya. Matanya melototi Atis.

“Kataku, rencana itu buruk, apa tidak ada rencana lain yang lebih bagus?” Kata Atis.

Tangan Sekar mencubit paha Atis. “Jangan ngawur, Tis.”

“Aku tidak omong sembarangan. Memang rencana itu buruk.” Jawab Atis.

“Katakan apa yang buruk?” Wisang Geni sadar Atis pasti tidak sembarang asal bicara.

Atis memandang suaminya. “Anak buahmu keliling ke beberapa tempat, begitu ketemu lokasi perahu, balik kesini lapor padamu. Lalu kalian berangkat menyerang ke lokasi itu, sudah tentu perahu markas sudah pindah!” Dia memandang mata suaminya yang tadinya tajam mendadak bersinar. “Bisa satu bulan lebih tanpa hasil.”

Wisang Geni ingat isterinya yang cantik kemayu itu selalu punya pemikiran cerdas. “Tis, kamu punya usulan? Katakan!”

Atis tersenyum. “Utus empat kelompok pergi ke empat lokasi yang paling mungkin ditempati perahu itu. Kamu membawa rombongan besar menunggu di tempat yang letaknya ditengah antara empat lokasi itu. Waktunya lebih singkat dan lokasi perahu itu belum akan berpindah. Kalau perlu utus enam kelompok ke enam lokasi.”

Wisang Geni saling pandang dengan dua wakilnya.

Ketiganya tersenyum.

“Ternyata kamu tidak sembarang bicara,” tukas Wisang Geni.

“Aku setuju, ketua.” Ujar Dipta yang terkenal pendiam.

“Menurut kalian, dimana perahu itu sering berlabuh?”

“Setelah peristiwa Kandangan itu, aku keliling ke beberapa tempat, mencari tahu tentang Brantas, kupikir suatu saat keterangan ini pasti akan berguna.” Tutur Dipta yang tidak ikut rombongan mencari ketua ke gunung Lejar. “Lokasi paling memungkinkan, desa Trawas, desa Pute dekat kali Beji, desa Bareng, desa Karambang dekat Jedung, desa Gondang dan Sajen dekat kali Bangsal. Lima lokasi. Sebaiknya rombongan besar bersiap dan menunggu di hutan dekat desa Ngoro.”

“Bagaimana menurutmu Pras?” Tanya Wisang Geni.

“Usulan tepat. Rencana kangmas Dipta bisa dilaksanakan, ketua.” Jawab Prastawana.

Wisang Geni memutuskan nama-nama yang bertugas. “Lima lokasi, artinya lima kelompok. Prastawana, Dipta, Daraka, Gajah Lengar dan Gajah Nila. Masing-masing boleh membawa satu atau dua teman.”

Mingasi, isteri Dipta dan murid Wisang Geni, yang sejak tadi diam ikut nimbrung. “Guru, kamu sekarang punya penasehat ulung.” Katanya pada Wisang Geni sambil menunjuk Atis.

Continue published 38 / August 1st

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

Friday, July 29, 2011

Wisang Geni part Two (36)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 36

Istana Tumapel penjagaannya ketat. Ibarat seekor lalat pun sulit menerobos penjagaan yang berlapis. Bangunan berlapis dan saling berhubungan. Di beberapa tempat tersebar pendopo, bangunan yang luas terbuka tanpa dinding atau sekat disediakan untuk para pengawal khusus lingkar-dalam keraton.

Disalah satu bangunan-dalam, terdapat keputren yang bersebelahan dengan istana emas Ranggawuni, raja Tumapel yang bergelar Wisnuwhardhana. Ada pintu besar menghubung istana emas dengan keputren.

Untuk bisa masuk kesini seseorang harus sangat dikenal dan mendapat ijin langsung dari sang raja. Penjagaan berlapis dan sangat ketat. Para pengawal didalam istana adalah orang-orang pilihan dengan kesetiaan dan ilmu-silat tinggi, mereka pengawal khusus raja dan permaisuri. Kesetiaan mereka tak diragukan lagi, siap menukar keselamatan sang majikan dengan nyawa mereka.

Ranggawuni tidak pernah melupakan bantuan tiga orang yang berperan besar dalam hidupnya sampai menjadi raja Tumapel.

Pertama-tama, dua bersaudara anak Maharaja Kediri Bhatara Parameswara alias Mahisa Wunga Teleng, yakni Waning Hyun yang lahir dari permaisuri dan Mahisa Cempaka anak dari selir.

Waning Hyun adalah pewaris sah kerajaan Kediri. Menikahi putri jelita Waning Hyun membuat Ranggawuni alias Seminingrat menjadi pewaris kerajaan Kediri.

Ranggawuni sendiri adalah pewaris sah kerajaan Tumapel dari ayahnya Anusapati yang dibunuh dan direbut tahtanya oleh Tohjaya. Sebagai pewaris kerajaan Tumapel dan juga Kediri, maka Ranggawuni bersama isteri Waning Hyun dan Mahisa Cempaka menjadi buronan Tohjaya dan pasukannya yang dipimpin Mahamenteri Pranaraja dan Samba.

Adalah Sang Pamegat Apanji Patipati yang menyembunyikan dan melindungi mereka bertiga, bahkan dia membantunya menggalang kekuatan menggulingkan Raja Tohjaya dan merebut tahta Tumapel.

Setelah memenangkan tahta raja Tumapel otomatis timbul keharusan menyatukan dua kerajaan itu, Kediri dan Tumapel.

Gelombang protes pun bermunculan. Namun dengan dukungan Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat, maka Raja Wisnuwardhana bisa meredam protes terutama dari pihak aliran keras.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Raja Wisnuwardhana semakin mencintai dan memanjakan isterinya ketika lahir putra mahkota yang belakangan menjadi penggantinya dengan gelar Sri Kertanagara.

Dia memberi hadiah, pangkat dan jabatan kepada Mahisa Cempaka sebagai wakil Raja atau ratu angabhaya dengan gelar Narasingamurti. Juga penghargaan dan hadiah kepada Sang Pamegat yang diangkat sebagai dharmadikarana atau hakim agung bergelar Mpu Kapat.

Hubungan antara empat manusia utama ini, tiga lelaki dan satu wanita terpelihara sampai bertahun-tahun kedepan berdasar kesetiaan dan persahabatan.

Sebagai wakil raja, Mahisa Cempaka memimpin pasukan keamanan lingkar-dalam maupun lingkar-luar dengan kekuasaan tak terbatas. Dalam urusannya dia mempercayakan Sang Pamegat sebagai kepala pasukan urusan luar keraton.

Otomatis Sang Pamegat punya kekuasaan memerintah delapanbelas pendekar Tumapel serta sembilan sesepuh jubah putih pengawal istana. Dalam pelaksanaan keduanya saling melapor tapi Mahisa Cempaka sebagai pemimpin yang memutuskan. Menyangkut kebijakan penting, keputusan berada ditangan Raja Wisnuwardhana.

Keputren tempat istirahat raja dan permaisuri serta putra mahkota Kertanegara tampak sibuk siang hari itu. Akan ada pertemuan penting. Hal ini diluar kebiasaan. Jarang sekali keputren menjadi tempat pertemuan. Biasanya raja berada dikeputren pada malam hari untuk istirahat. Rapat atau pertemuan atau penerimaan tamu biasanya dilakukan di istana emas.

Keputren merupakan bagian istana yang paling indah dan sejuk. Beberapa kamar besar tempat istirahat Raja, Permaisuri dan Putra Mahkota dijaga sangat ketat.

Halaman depan keputren dilingkari taman luas yang penuh dengan aneka pepohonan seperti mangga, jeruk, delima yang berbuah lebat. Juga dihiasi berbagai macam bunga aneka warna, bunga-bunga pilihan dan yang terbaik di wilayah kerajaan. Ditengah-tengah taman terdapat sebuah pendopo besar.

Pendopo itu cukup luas, ukuran dua puluh orang duduk. Bangunan megah dan indah ditunjang delapan tiang besar berukir emas menopang atap. Tersedia empat kursi besar berlapis emas bersarung kain beludru warna emas. Seputar pendopo terpisah belasan meter para pengawal khusus berjaga-jaga dipimpin sembilan sesepuh dan delapanbelas pendekar.

Raja Wisnuwardhana tersenyum kepada isterinya dan dua sahabatnya Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat. Empat dayang sibuk mengatur jamuan diatas meja besar. Dua orang kepala pelayan separuh baya mengawasi dengan teliti.

Keduanya adalah dayang dan inang pengasuh permaisuri Waning Hyun sejak masih gadis di kerajaan sang ayah di Kediri. Keduanya sangat teliti, dari sejak bahan mentah sampai kepada masakan siap saji, tak sedikitpun lolos dari pengamatannya. Jangankan racun, lalat pun tak bisa menerobos makanan bagi Raja dan permaisuri.

Dalam pertemuan yang akan membahas rapat penting menyangkut keputusan besar. Raja dan permaisuri bicara dalam logat dan bahasa kependekaran. Pada saat demikian tata krama keraton ditinggalkan menjadikan suasana akrab dan pertemanan makin menonjol.

Mereka bersantap sambil membincang hal-hal penting.

“Jadi Wisang Geni masih hidup? Dia muncul di karangplosos, terjadi keributan dengan dua sesepuh jubah putih, bagaimana ceritanya?” Ranggawuni tertawa. “Kakak perguruanmu makin suka ugal-ugalan.” Katanya kepada sang permaisuri.

“Bukannya aku membela, tapi pasti ada sebab musababnya.” Tegas Waning Hyun sambil memandang Sang Pamegat. “Paman, kamu yang tahu ceritanya. Wisang Geni tidak bersalah, benar pendapatku?”

Sang Pamegat menutur kejadian di warung. Termasuk hebatnya ilmu-silat Wisang Geni yang sanggup melukai dua sesepuh jubah putih. “Salah faham. Tetapi para ponggawa itu berbuat tidak senonoh dengan mengolok-olok isteri Wisang Geni sebagai pelacur yang tentu saja memancing kemarahan si pendekar.”

“Tingkah laku tak senonoh ponggawa kerajaan seperti itu tidak bagus bagi citra Tumapel. Harus ada teguran keras, kalau perlu hukuman agar kejadian memalukan itu tidak terulang lagi.” Itulah sabda sang Raja.

“Sudah dilakukan tindakan. Para ponggawa yang bersalah akan menjalani hukuman kurungan dan denda.” Sahut Sang Pamegat.

Kemudian dia menambahkan telah mengajak Wisang Geni ikut membantu kerajaan jika saatnya menyerang markas Linggapati. Ada alasan pendekar Lemah Tulis itu bersedia, karena ingin balas dendam pada pasukan rodra yang telah membunuh banyak murid Lemah Tulis dan Mahameru di hutan Kandangan. Sang Pamegat juga melapor perampokan di hutan Karangan, dan desa Karambang.

“Banyak bukti. Beberapa kali terjadi perampokan kereta dan harta milik keraton terutama beras. Ini usaha makar, ada kelompok besar yang sedang bersiap-siap menyerang keraton. Itu sebab mereka butuh beras untuk konsumsi pasukannya. Sebelum itu dua orang mata-mata yang berhasil menyusup kedalam pasukan rodra memberi informasi letak markas kaum pemberontak dan persiapannya terutama rekrutmen pasukan panah.” Tutur Mahisa Cempaka.

“Linggapati!” Suara Ranggawuni lirih tetapi terdengar jelas.

“Linggapati yang mencuri keris prabakara. Kini dengan keris itu ditangannya dia yakin dan percaya akan menjadi penguasa tanah Jawa yang tidak terkalahkan. Menjadi raja yang dipertuan di Tumapel dan tanah Jawa. Tak seorangpun sanggup menandingi keampuhan keris pembawa bencana yang berhawa panas itu.” Nada suara sang Raja seakan berita itu tidak menakutkan, bahwa itu hanya berita kecil dan sepele.

“Keris itu seampuh dan sehebat keris gandring, jika seorang dengan kepandaian ilmu-silat yang biasa-biasa bertarung menggunakan keris itu, dia menjelma menjadi pendekar kelas utama. Jika pendekar kelas utama yang bersenjatakan keris itu, maka kepandaiannya akan tidak tertandingi dan keris itu akan menjadi senjata pembunuh paling menakutkan.” Tutur Ranggawuni. “Jika pendekar itu punya pasukan besar maka dia akan menjadi raja.”

Semua diam.

Maharaja Wisnuwardhana bangkit dari duduknya.

Dia melangkah pelan-pelan, tangannya saling genggam dibokong, wajahnya tengadah memandang langit-langit pendopo. Lalu suaranya terdengar sangat wibawa, hilang sudah keakraban sebagai teman dan sahabat, kini berubah menjadi Maharaja Tumapel penguasa tanah dan kehidupan di seantero tanah Jawa.

“Aku pewaris sah tahta Tumapel. Permaisuriku Waning Hyun pewaris sah tahta Kediri bersama saudaranya Mahisa Cempaka. Jadinya aku penguasa pewaris tahta Tumapel Besar, aku yang menyatukan dua kerajaan besar itu menjadi Tumapel yang jaya dan subur.

Selama wanita utama bernama Waning Hyun yang disembah-tauladani semua wanita di tanah Jawa duduk bersanding sebagai permaisuriku, maka tak akan ada sesuatu kejadian pun, tidak juga seorang manusia yang sanggup mencabut hak milikku dari tahta tanah Jawa. Mustahil seorang penjahat yang tidak berdarah biru sanggup merebut tahtaku!

Tidak tahukah dia bahwa Waning Hyun telah mewarisi kewibawaan, kebesaran, kecantikan dan keutamaan seorang permaisuri dari eyang putri Ken Dedes? Tidak tahukah dia bahwa tanah Jawa telah menulis karma dan darma-bakti eyang putri Ken Dedes yang akan melahirkan raja-raja besar penguasa tanah Jawa? Tidak tahukah dia bahwa Hyun permaisuriku adalah emas berlian yang menyinari tahta kerajaanku, yang meniupkan kehidupan dan kesuburan di seantero tanah Jawa? Linggapati sungguh sembrono menggadaikan jiwa kotornya untuk mimpi yang sudah pasti tidak akan terjadi.”

Lalu menyambung dengan sumpah serapah. “Orang itu akan tenggelam dalam panasnya lahar gunung berapi, tidak punya kuburan untuk raganya yang bakal hancur lebur!”

Mereka yang mendengar terdiam, bulu roma berdiri.

Waning Hyun merunduk, tubuhnya gemetar dan hatinya menangis haru betapa suaminya, laki-laki yang sangat dia cintai, raja sesembahannya begitu memuliakan dirinya. Dia memang cucu Ken Dedes dari perkawinan dengan Ken Arok yang melahirkan bapaknya, Mahisa Wunga Teleng alias Bhatara Prameswara. Tetapi Ranggawuni, suaminya, juga cucu dari eyang putri Ken Dedes dari perkawinannya dengan Tunggul Ametung yang melahirkan Baginda Anusapati. Dia tahu mereka berdua setara, sama-sama pewaris tahta yang sah.

Dia memiliki ilmu karma-amamadang yang diwarisinya langsung dari eyang putri Ken Dedes dan telah melatihnya. Ilmu itu telah merasuk dalam tubuh, rahim dan alat betinanya sejak masih berusia sepuluh tahun. Keberuntungan sebagai pemilik ilmu karma-amamadang telah dia rasakan sendiri dimasa petualangan bersama Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat. Dalam situasi kritis mereka lolos dari kesulitan dan kematian.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Sesungguhnya ilmu itu rahasianya sendiri, tak seorang pun tahu. Tetapi suaminya bisa begitu waspada dan waskita bahwa keberuntungan dan kejayaan sebagai raja Tumapel berkat adanya isteri setia yang bernama Waning Hyun.

Dari mana suaminya tahu?

Dan betapa bangganya melihat dirinya begitu dihargai dan dicintai serta dimuliakan sang suami. Namun betapapun tak terbersit sedikitpun rasa bangga dan temberang membanggakan diri melebihi suaminya. Dia berbisik. “Kamu sesembahanku, paduka raja, kekasih permata hatiku.” Bisiknya lirih yang didengar tiga lelaki yang hadir. Dia mengucap kata-kata itu dengan air mata yang sebening mutiara.

Raja Wisnuwardhana tersenyum memandang permaisurinya. “Aku Ranggawuni pemilik keris gandring pusaka tanah Jawa, paku-bumi tanah Jawa. Keris Prabakara akan kehilangan tuah dan saktinya jika berhadapan dengan Gandring, itulah ibarat palsu ketemu asli. Sama halnya Linggapati ketemu aku, palsu ketemu asli. Aku diramalkan akan menurunkan raja-raja pewaris tanah Jawa. Semuanya berasal dari eyang putri Ken Dedes. Aku tidak terkalahkan selama masih memiliki isteri Waning Hyun.”

Dia melangkah menghadapkan wibawanya kepada dua sahabatnya. “Aku akan menghukum Linggapati, mencabut nyawanya dari tubuh kotornya, mengambil kembali keris prabakara dan menyimpannya di keraton Tumapel.” Lalu dengan suara wibawa dia memerintah dua sahabatnya. “Siapkan pasukan pemukul, secepatnya kita membumihangus markas kaum penjahat dan perampok itu.”

Perintah sang Raja jelas, bagai terangnya halilintar di gelapnya malam. Keraton Tumapel akan menyerang dan menghancurkan markas Linggapati. Itu juga sebabnya pertemuan itu hanya dihadiri empat manusia utama. Rahasia itu tak akan bocor keluar.

Ranggawuni meraih tangan isterinya, meninggalkan ruang pendopo.

Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat saling pandang.

“Sudah jelas sekarang, kita menyerang dan menumpas Linggapati. Berapa lama pasukan kita siap?” Mahisa Cempaka bertanya.

“Pasukan sudah siap. Hanya tinggal mempersiapkan perbekalan yang akan disesuaikan dengan perencanaan. Esok lusa kita sudah siap berangkat ke medan perang.”

“Kangmas, sejarah masa lalu jadi pelajaran bagi kita, kekalahan pasukan Kediri di Ganter disebabkan kebocoran strategi. Beberapa ponggawa penting membawa rencana itu kepada pasukan Tumapel. Itu sebabnya pasukan Tumapel bisa memasang perangkap dan mengalahkan Kediri.” Kata Mahisa Cempaka.

“Kita beraksi diam-diam. Selesai mengatur strategi kita menghadap Baginda Raja lagi. Dan tak boleh seorang pun tahu bahwa kita akan menyerang Linggapati, biarkan semua ponggawa dan anggota pasukan bertanya-tanya.”

Keduanya siap-siap meninggalkan tempat. Sang Pamegat berbisik. “Aku sudah mengatur strategi dengan Gajah Pringgon. Dia akan mengirim sekumpulan penelik, mata-mata, masuk desa Bangu. Satu atau dua orang diantaranya akan menuju kemari, melapor apa yang telah dilihatnya. Aku ingin tahu, penduduk desa itu orang awam biasa atau semuanya kumpulan penjahat yang hendak berontak?”

“Kalau semuanya penjahat pemberontak, lebih mudah bagi kita menyerang, anggap saja semua penduduk adalah pemberontak yang harus kita tumpas.” Tegas Mahisa Cempaka.

Continue published 37 / July 31st

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.