Thursday, April 17, 2008

Sepakbola Opini Bek Empat

Pola Empat Bek, Kenapa Tidak ?

Oleh : John Halmahera
Ditulis tgl 26/04/2006 (sebelum Piala Dunia 2006)

Satu dekade belakangan ini, hampir semua tim besar, menggunakan formasi 4-4-2 dengan berbagai varian. Bisa 4-1-3-2 atau 4-3-1-1-1 atau 4-3-3. Tampak sekali prinsip paling utama adalah yang disebut “back four” (Empat Bek) alias empat pemain bertahan (bek) yang menghadang di depan kiper. Lihat saja Barcelona, Real Madrid, Arsenal, Chelsea, MU, AC Milan, Inter, Juventus bahkan juga timnas Spanyol, Italia, Belanda. Mungkin yang paling fanatik dengan “back four” ini adalah Brazil, Argentina dan tim Latin lainnya.

Pernah memang pola “back three” (Tiga Bek) atau dikenal sebagai 3-5-2 dengan berbagai varian macam 3-4-3, atau 3-3-4 atau 3-3-3-1 yang cukup disenangi klub-klub bundesliga dan negara Eropa lain di era 80-an dan 90-an.
Tetapi sepuluh tahun terakhir ini, hampir semua tim memainkan “back four”, semacam pengakuan bahwa “back three” sudah tertinggal zaman.

Lebih lanjut saya berani menjamin bahwa di Piala Dunia Germany 2006 Juni mendatang, kita akan melihat pertarungan tim-tim besar dengan berbagai varian dari pola “Empat Bek”. Bahkan mungkin saja, tidak akan ada tim yang tampil dalam pola dan sistem “Tiga Bek”.

Memang ada perbedaan mencolok dari dua pola ini. Pola “Empat Bek” lebih efektif dalam bertahan dan menyerang. Pertahanan Empat Bek khususnya dua “centre back” bisa berjajar dalam satu garis, bisa saling melapis secara bergantian. Bahkan pola konvensial di era 80-an yakni satu menggantung di belakang yang disebut libero dengan satu centre-back lainnya berfungsi sebagai stopper.

Dalam formasi bertahan, pola bek empat ini bisa diandalkan menjaga dua penyerang lawan jika lawan menggunakan pola dua tombak kembar sebagaimana sekarang ini banyak diterapkan tim-tim elit. Bisa juga menjaga tiga penyerang lawan jika tim lawan menggnakan formasi 4-3-3 misalnya.

Dalam formasi menyerang, pola ini lebih efektif, terutama peran dua “wing-back”. Dengan pola 4-4-2 maka dua wing-back bisa bergantian saling mengisi, dalam menyerang dan bertahan, dengan dua gelandang sayap. Hal ini bisa sangat menghemat tenaga tim, artinya dua wing-back dan dua gelandang sayap sama-sama banyak dalam mengeluarkan enersi dan stamina. Empat pemain ini tidak cepat letih dibanding misalnya pola “Tiga Bek”.

Pola “Tiga Bek” (3-5-2) ini dalam bertahan, harus dibantu dua gelandang sayap. Begitupun dalam menyerang, dua gelandang sayap itu harus naik mendukung serangan. Jika pola 4-4-2 seorang wing-back atau gelandang sayap hanya perlu berlari “naik turun” sepanjang 30-an meter maka gelandang sayap dari pola 3-5-2 perlu berlari 50-60 meter. Otomatis gelandang sayap pola 3-5-2 ini cepat letih.

Bahkan pola 4-4-2 bisa sangat agresif. Centre-back El Barca, Rafael Marquez, ikut menyerang sampai masuk kotak pinalti Chelsea. Pemain asal Mexico ini bersama 3 gelandang Edmilson, Deco, Motta dan trio penyerang Ronaldinho, Eto’o dan Messi menjadikan tim yang ditukangi Frank Rijkaard menyerang dengan 7 pemain berkualitas prima.

Begitu juga sebaliknya Chelsea dengan 4-3-3 mendorong John Terry, centre-back-nya Chelsea , naik menyerang bersama 3 gelandang dan trio penyerangnya menggempur pertahanan Puyol Cs. Dalam menyerang pola tim besutan Jose Mourinho bisa menyumbang minimal 7 pemain. Sementara bertahan bisa 8 sampai 9 pemain.

Pola ini digemari lantaran lebih efektif dalam staying power team. Artinya 10 pemain itu mengeluarkan tenaga hampir sama sehingga diharapkan tak ada seorangpun yang kehabisan tenaga. Jose Mourinho selalu mengganti gelandang sayapnya, semata-mata untuk menambah kecepatan dan kesegaran dalam menyerang, apalagi jika Chelsea memang sedang butuh mencetak gol.

Sayang sekali di Liga Indonesia hampir jarang kita temkanklub yang memankanpola 4 bek itu. Semua klub Liga masih berkutat dengan pola 3 bek yang sudah ditinggalkan orang. Bahkan Timnas Merah Putih, semasa Ivan Kolev atau Peter Withe ingin memainkan pola “4 bek” hampir semua pemain mengeluh. Bahkan pelatih dan para pengamat nasional juga komplain di koran-koran. Agaknya perlu renungan panjang dan keberanian para tehnokrat bola (pelatih dan manajer) untuk berani tampil dengan pola “4 bek”, yah kenapa tidak ?


***