World Cup 2010 (34) Preview Final
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 Serial
Belanda versi Bert van Marwijk
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 8 Juli 2010
Tidak gampang bagi suatu tim untuk mencapai grandfinal Piala Dunia, partai puncak dari pesta sepakbola paling akbar sejagad. Perjalanan berliku, penuh kerikil dan batu sandungan. Belanda sudah melaluinya dengan style dan kefasihan sepakbola menyerang. Semifinal lawan Uruguay kemarin adalah kerikil paling tajam dan berbahaya, jika tidak waspada sudah pasti skuad Bert Van Marwijk akan tumbang alias menyerahkan tiket final kepada Uruguay.
Pertandingan kemarin cukup menarik dan enak ditonton. Dua tim main menyerang. Tetapi karena kalah kualitas dan tehnik serta absennya kartu as Luis Suarez maka Uruguay berada dibawah tekanan Belanda. Setelah unggul 1-0 skuad Oranje sedikit mengendur, akibatnya kendali permainan beralih dikaki Diego Forlan Cs yang akhirnya berhasil menyamakan skor.
Di babak kedua Belanda kembali ke permainan aslinya, style dan fasih menyerang sehingga menciptakan gol 2-1. Belajar dari pengalaman babak pertama, Belanda tetapi main dalam tempo yang diinginkan. Skor 3-1 Belanda tetap bergairah. Uruguay dalam tekanan. Beberapa peluang disia-siakan Robben dan Van Persie. Sepuluh menit akhir, Belanda mengendur, saat itulah Uruguay kembali menguasai dan mengurung gawang Belanda yang menciptakan gol balasan.
Ada catatan penting bagi Belanda bahwa tempo permainan, kefasihan menyerang harus tetap terjaga meskipun sudah unggul. Ketika tempo mengendur maka lawan yang tadinya tertekan akan menggeliat bangkit dan menyerang balik. Seharusnya Belanda tetap menyerang “haus gol” meski sudah unggul satu atau dua gol. Mungkin Wesley Sneijder Cs perlu menoleh ke belakang mengingat total-football era 70-an yang dimainkan skuad Oranje versi Rinus Michels.
Sudah menjadi bagian sejarah, revolusi sepakbola Belanda dimulai di bulan Januari 1965, terjadi keputusan hebat dalam rapat manajemen Ajax. Pelatih Vic Buckingham dipecat dan digantikan Rinus Michels. Tidak ada yang hebat dari Rinus Michels ini, dia hanya seorang guru olahraga kelahiran tahun 1928, pernah 5 kali memperkuat tim nasional Belanda sebagai kiri dalam -dari system WM- di tahun 1950an. Dia bahkan tidak populer di mata pemain, lantaran disiplinnya yang kelewat keras.
Tetapi dia membawa suasana baru, konsep permainan menyerang yang di kemudian hari menjadi trade mark semua sekolah sepakbola Ajax sampai ke klub profesionalnya dan merambah ke pembinaan sepakbola Belanda termasuk tim Oranje sampai sekarang ini.
Konsep menyerang Michels ini membawa Ajax ke era emas, menyabet gelar juara Liga Belanda musim berikutnya 1966. Lalu juara ganda – juara Divisi Utama dan juara Piala Liga – tahun 1967. Berlanjut juara Divisi Utama tahun 1968 dan 1970. Semuanya dibawah pimpinan Rinus Michels. Dia membawa Ajax ke final Champions Cup Eropa tahun 1969 namun kalah dari AC Milan 1-4. Masa itu Ajax diperkuat superstar Johan Cruyff.
Dua tahun kemudian Ajax ke final Champions Cup 1971, ada pemain baru gelandang serang Johan Neeskens dan Arie Haan. Kali ini Ajax menjadi juara Eropa setelah menang atas Panathinaikos 2-0. Setelah sukses gemilang ini, Rinus Michels meninggalkan Ajax ke Barcelona dengan gaji melangit.
Pengganti Michels, adalah orang Rumania eks pelatih Steaua Bucharest, Stefan Kovacs yang hanya perlu melanjutkan apa yang sudah dirintis Rinus hampir 6 tahun lebih. Stefan Kovacs mempertahankan pemain inti seperti Barry Hulshoff centreback yang tangguh, Johan Cruyff superstar dan penyerang paling hebat, Johan Neeskens gelandang menyerang yang juga pekerja keras dan suntikan pemain baru gelandang bertahan Ruud Krol.
Ajax sukses mempertahankan gelar juara Champions Cup di tahun 1972 dengan kemenangan 2-0 atas Inter Milan. Tahun 1973 dengan menampilkan dua bintang baru Johnny Rep dan Arie Haan, Ajax melengkapi gelar “hattrick” Champions Cup dengan kemenangan 1-0 atas Juventus.
Begitu banyak pemain jebolan Ajax, membuat Belanda tidak punya kesulitan membentuk tim nasional yang tangguh dan yang sanggup bersaing di high-level football. Dominasi klub-klub Belanda di Eropa, diperlihatkan rival Ajax dari Rotterdam yakni Feyenoord yang mampu nyabet juara divisi utama Belanda di sela-sela kejayaan Ajax, tahun 1969, 1971 dan 1974.
Visi dan wawasan Michels jelas sekali, dia menanamkan pemainnya untuk bersikap lebih profesional dan ekstra disiplin. Dalam waktu tiga tahun dia mengubah pemain-pemain Ajax dari pola pikir sampai ke penampilan di lapangan, membentuk skuad yang kohesif dan harmonis dalam kemasan daya tahan kekuatan fisik. Dia tidak memilih 11 pemain terbaik, melainkan pemain yang mampu mengembangkan skill dengan efektif. Dia selalu memberi kesempatan kepada pemain baru untuk bermain bersama dan memetik pelajaran dari pemain senior.
Konsep Rinus Michels yang dikenal sebagai “total football” sempat menghiasi koran dan media. Bahkan di dua Piala Dunia 1974 dan 1978 mampu melaju sampai final. Oranje gagal jadi juara hanya sebab yang dihadapi di final adalah tim tuan rumah. Jerman Barat dan Argentina. Namun gaya style dan kefasihan sepakbola menyerang ala Belanda tetap eksis sampai sekarang.
Bert van Marwijk, personal yang menyenangkan, cerdas dan intelek, sikapnya kalem, akrab dan bersosialisasi dengan semua pemain dan ofisial, dia pemersatu dan perekat tim. Dia belajar dari kegagalan Oranje di masa lalu yang selalu retak di dalam, selalu muncul pernik-perseteruan-ego-salah menyalahkan, yang menjadi penyebab Oranje sekian tahun tidak bisa lagi menapak final Piala Dunia. Dalam sekian tahun hanya satu piala besar yang dibawa Belanda, gelar Eropa 1988 bersama pelatih Rinus Michels, kapten Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ronald Koeman.
Hari Minggu 11 Juli mendatang, gelar dunia ada di depan mata, tak ada lagi kesempatan sebagus sekarang. Bert van Marwijk harus usaha keras menangkan final. Sneijder dan Robben, duo midfield. Sneijder kuncinya, Robben pemain vital. Keduanya dinamik.
Robben kualitas sangat penting sebab dia memancing defender lawan mengikuti gerakannya, memaksa dua lawan menjaganya, sehingga rekan lain bisa memanfaatkan celah dan lubang. Dia cepat, gesit dan licin. Belanda bersyukur dia sudah fit. Peran Sneijder sangat penting, mencetak gol dan merancang gol temannya. Kualitasnya tidak diragukan. Kita lihat apakah Belanda bisa menembus hambatan yang selama ini mengganjel upayanya menjadi juara dunia atau hanya sampai di posisi runner-up seperti dua Piala Dunia terdahulu? ***
Tuesday, August 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment