Timnas U-23 Tandang vs Turkmenistan
Draw Saja Di Ashgabat Sudah Hebat
Kalah dikandang sendiri 1-3 dari Turkmenistan suatu pukulan keras tetapi bukan suatu hasil yang sulit diprediksi. Dukungan supporter merah putih yang memenuhi stadion Jakabaring Palembang ternyata tidaklah cukup.
Gol pertama oleh Titus Bonai penyerang Persipura, yang belakangan diakui pelatih Alfred Riedl sebagai “lucky gol” menit 14 seakan pintu gerbang menuju kemenangan. Tetapi permainan konsisten, fisik prima, konsentrasi anak-anak Turkmenistan akhirnya berbuah tiga gol. Tiga menit kemudian Arslanmyrat Amanov bikin skor sama.
Dibabak kedua dua gol Aleksandr Boliyan (menit 80) dan Vahyt Orazsahedov (84) mengirim tim garuda pulang ke Jakarta dengan kekalahan. Kalah dikandang, dampaknya sangat tidak bagus untuk citra sepakbola kita.
Mengapa saya katakan “bukan hasil yang sulit diprediksi”. Dua hal yang melandasi opini saya ini. Satu, Turkmenistan tim yang utuh -mereka lama main bersama- dan pengalaman di event besar -Asian Games- tahun sebelumnya. Alasan nomor dua, Timnas U-23 baru dibentuk. Dan bukan lahir dari proses kontinyuitas.
Dari dua point ini saja, sudah bisa diprediksi Turkmenistan berpeluang menang. Sebabnya, jelas. Dalam sepakbola yang dimainkan sebelas orang perlu tim yang solid. Semua pemain main untuk satu tujuan. Spiritnya, jiwanya harus satu dan menyatu. Satu untuk semua dan semua untuk satu. Ini perlu waktu. Tidak bisa dengan cara “mie instan”.
Sepakbola kita tidak berada dalam satu sistem sinambungan dan padu. Dari tingkat usia dini, U-14, U-16 atau U-17, U-19, U-21 atau U-23 tidak bersinambung. Kompetisi ini berdiri sendiri-sendiri, terpecah-pecah. Kelemahannya, pemain tidak saling mengenal. Mereka yang pernah main dalam tim (klub lokal) U-21 dan senior (klub lokal) di kompetisi ISL, tentu saling kenal. Tetapi itupun sekadar mengenal sebagai lawan main.
Mengapa Asia Timur (Jepang, Korea, Cina), Iran dan negeri Teluk (Saudi, Qatar dll) bisa mapan di jajaran papan atas AFC. Jawabannya sederhana, sepakbola mereka sudah dalam kemasan sinambungan dari usia dini sampai senior, ibarat motor yang terus berputar dari hari ke bulan ke tahunan dan yang selalu menghasilkan puluhan pemain berbakat dan ratusan pemain cadangan. Output dari pembinaan yang benar dan ideal.
Sepakbola kita tidak seperti itu. Kalau mau bersaing di level Asean dan Asia, kita harus menciptakan “motor itu”. Jika motor sudah terbentuk, pelihara lah terus, mungkin lima atau sepuluh tahun kita bisa punya motor secanggih negeri2 maju Asia.
Jepang, Korea, Iran, Saudi menciptakan motor itu sejak duapuluh bahkan tigapuluh tahun lalu, dan dipelihara terus. Outputnya, pemain berkelas dan timnas tangguh. Itu sebab pemain mereka diincar klub-klub Eropa. Tim mereka tidak lagi main di level Asia tetapi sudah bisa lolos ke World Cup.
Dari berbagai alasan yang sangat mendasar dan prinsipal, saya –jangan katakan saya tidak nasionalis- mengatakan suatu hasil draw di Ashgabat 9 Maret besok, sudah prestasi hebat. Kalah dua gol juga suatu yang tak perlu ditangisi.
Saya agak bingung mendengar Alfred Riedl menegaskan tim garuda akan tampil menyerang. Ini luar biasa. Spiritnya bagus. Karena hanya kemenangan saja yang bisa meloloskan garuda ke babak selanjutnya, itupun dengan skor minimal 3-0.
Boleh saja bung Riedl hebat dan smart serta berpengalaman melatih Vietnam dan Laos, tetapi Turkmenistan bukan tim yang kelasnya dibawah tim garuda. Mereka main efektif, konsentrasi dan padu dalam menyerang serta bertahan. Mereka diuntungkan dengan cuaca dingin, stadion dan rumput serta dukungan supporter. Mereka kini sudah jauh diatas angin. Hitungannya, Turkmenistan sudah 75 sampai 90 persen lolos.
Saya khawatir, jika tim garuda menyerang, ofensif memburu skor bisa berakibat lini belakang longgar dan terbuka. Counter-attack Turkmenistan yang efektif bisa berakibat kebobolan di gawang Garuda. Alih-alih mencetak gol justru kebobolan. Anyhow maybe the best defence is to attack, but in this case you must have a solid and smart four defender. Good luck Garuda. John Halmahera.