Wednesday, June 29, 2011

Wisang Geni Part Two (11)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

(published 30 June 2011)

Bab Empat

Persekutuan Makar

Matahari sudah condong ke Barat. Kakek tua itu bergerak pesat, melompat kesana kemari. Gerakannya lincah dan ringan. Dia melompat disertai gerak dua tangannya memainkan jurus gelap ngampar, ilmu pukulan yang mengandung hawa panas.

Pukulannya terdengar bagaikan letupan batu bertemu batu. Keras dan gempita. Setiap dia memukul, angin pukulan menerpa sasaran batu yang lantas menimbulkan suara letupan. Batu itu pecah berkeping.

Terdengar seruan seseorang dari arah tebing Timur, suaranya tidak terlalu keras namun bisa mengatasi deru angin dan ombak pantai Selatan. “Hebat hebat, jurus gelap ngampar semakin keras. Rasanya aku ingin menjajal.” Belum lenyap gema suaranya tampak seorang perempuan berbaju hitam berlari-lari ringan dan berhenti beberapa tombak dari lokasi latihan si kakek tua.

“Oh kiranya Janda Genit Ngargoyoso yang berkunjung, sudah lama kita tidak bertemu, kamu makin cantik dan ….” Dia berhenti sejenak memandang perempuan berusia empatpuluhan yang masih tampak cantik dan seksi.

“Lanjutkan Paliyan. Cantik dan apa ….?”tukas Ngargoyoso.

“Kamu masih cantik, tapi sekarang lebih usil.” Kata Siluman Goa Paliyan.

“Usil? Apanya yang usil. Aku membawa kabar gembira untukmu.”

“Ohhh kalau yang membawa kabar itu Janda Ngargoyoso, pasti aku bakal sibuk. Tidak! Aku tidak mau dengar! Pergilah, aku sudah hidup tenang disini.”

“Hidup tenang? Ini bukan hidup tenang. Ini pengecut. Lari sembunyi di pantai Selatan, bersenang dengan lima gadis muda.” Dia menunjuk lima gadis yang duduk diatas batu besar dekat rumah. “Apa enaknya? Berlatih gelap ngampar buat apa? Tak ada gunanya jurus dahsyat itu kalau tidak dipamerkan di dunia kependekaran, tak ada gunanya hidup jika melarikan diri, sembunyi dari musuhmu.”

Kakek tua yang dijuluki Siluman Goa Paliyan menghentikan latihan. Wajahnya yang penuh keringat dan kehitaman tampak memerah mengerikan. “Apa maksudmu berkata lancang didepan muridku. Kamu menantang tarung?”

“Mana berani aku tarung meskipun besar inginku menjajal gelap ngampar, tapi itupun hanya sebagai teman berlatih, ilmu-silatku tak ungkulan menghadapimu.” Dia melangkah mendekat, sambil berkata. “Si tua Suryajagad sudah mati! Kini kamu bebas dari sumpah dan janjimu.”

Melihat Paliyan tercengang, Janda Ngargoyoso menambahkan. “Kamu tahu, keris prabakara dan kitab lhakeswara muncul di kawasan Timur, siapa yang mendapatkan dua benda pusaka itu akan merajai dunia kependekaran. Nah sekarang apa katamu, Paliyan? Apakah aku usil?”

“Suryajagad sudah mati? Kamu tahu dari mana? Apa buktinya?”

“Tak seorang pun tahu tempat tinggal si Tua jadi tak mungkin ada buktinya. Dan siapa orang yang mampu membunuhnya? Jelasnya, tiga tahun terakhir ini dia tak pernah muncul, kabar yang sumbernya dari Lemah Tulis, si Tua itu sudah moksa.”

Tiba-tiba Paliyan tertawa keras. “Ha..ha..ha..ha … Suryajagad sudah mati. Aku bebas pergi kemana-mana.” Suaranya bergema di tebing-tebing lalu lenyap ditelan ributnya ombak dan angin pantai Selatan.

Dia memandang perempuan genit itu. “Sejak aku dikalahkan Si Tua Suryajagad, enam tahun lalu, aku terikat sumpah dan janji padanya, tak boleh bertualang di dunia kependekaran. Sekarang aku lepas dari janji dan sumpahku, benar begitu?”

“Itu sebabnya aku mengunjungimu tapi ada lagi kabar gembira buat kamu.”

“Tak ada lagi kabar yang lebih gembira dari kabar matinya Suryajagad!”

“Ada!” Seru Janda Ngargoyoso gembira.

“Ayo katakan!”

“Adikmu yang hebat, Lembu Ampal, dibunuh Wisang Geni, ketua Lemah Tulis.”

“Sudah lama aku tahu, sekarang waktunya aku mencari balas, hutang nyawa bayar nyawa!” Tukas Siluman Goa Paliyan.

“Matinya adikmu, kamu kehilangan seorang yang memberimu keping emas dan gadis cantik,” Janda Ngargoyoso tersenyum, lalu menyambung. “Lima gadismu itu, mereka tidak segar lagi, pasti kamu mulai bosan.”

“Katakan saja terus terang, jangan mutar-mutar tidak karuan.”

“Adipati Linggapati, bangsawan kaya raya dan memiliki ilmu-silat tinggi, sedang menghimpun kekuatan. Dia mengutus aku, membujuk kamu bergabung. Dia akan memberimu perhiasan emas dan gadis yang masih segar sebanyak kamu mau, nah apa katamu, mau gabung?” Mata Janda Ngargoyoso meneliti paras sahabatnya.

Paliyan diam, termenung, tampaknya sedang berpikir.

“Apalagi yang dipikir? Bergabung dengan Adipati, kamu dapat kesenangan, juga punya kesempatan balas dendam pada Wisang Geni, kita bisa bersama-sama mencari kitab dan keris pusaka itu, ayo tunggu apa lagi? Ikut aku!” Tegas Janda Ngargoyoso.

“Maksudmu keris prabakara? Dimana keris itu? Siapa yang menguasainya? Kamu menyebut kitab lhakeswara? Kamu tahu tempatnya?”

“Akan kuberitahu pada waktunya, pokoknya kalau kita berdua menguasai kitab dan keris itu, aku yakin tanah Jawa akan tunduk, bahkan mungkin saja kamu bisa jadi raja dan sudah tentu aku permaisurinya… he .. he… he..” Janda Ngargoyoso tertawa merasa telah memengaruhi pikiran temannya.

Pendekar yang dijuluki Siluman Goa Paliyan termenung.

Saat berikut, dia berkata kepada lima murid yang sesungguhnya adalah selirnya, “kalian pergilah, ambil emas bagian masing-masing, bersenang-senanglah, dengan ilmu-silat yang kuajarkan, tidak sembarang orang bisa mengalahkan kalian.”

Lima gadis saling pandang. Detik berikut mereka menghambur ke dalam rumah.

Janda Ngargoyoso tersenyum genit. “Jadi kamu ikut bersamaku, kangmas?”

“Huuuh sekarang kamu memanggil aku kangmas.”

“Iya, setelah kamu usir lima muridmu, artinya malam ini aku punya kesempatan tidur denganmu, terserah mau berapa malam?”

Kakek tua itu tertawa. “Sudah lama kita putus hubungan.….. ha ha ha..”

Saat itu lima gadis muridnya berlari ringan dan berdiri di depan Paliyan. “Guru..… apa benar kami boleh pergi?”

Paliyan mengangguk. “Pergilah, kalian sudah bawa emas perhiasan milikmu?”

Mereka berlima mengangguk, satu per satu menghampiri, berlutut dan mencium lutut si kakek tua. “Terimakasih, atas kebaikanmu guru.” Kelimanya berlari cepat. Saat berikut mereka lenyap dari pandangan mata.

“Lima puluh hari lagi tepat tengah bulan Magda, bakal terjadi tarung besar dua perguruan Mahameru dengan Brantas di desa Kandangan. Mungkin Wisang Geni dan Lemah Tulis akan membantu Mahameru. Di pihak Brantas, sejak ketuanya diambil alih Roro Gandis, mereka maju pesat, makin banyak pengikut, pengaruhnya meluas sepanjang kali Brantas, juga di daratan.”

“Hebat juga Roro Gandis itu.” Siluman Goa Paliyan ingin tahu.

“Dia cantik, muda, dan sangat memikat. Ketua Brantas si Warok sudah tekuk lutut oleh pesonanya. Ilmu-silatnya lumayan tinggi, dan dia didukung kakak perguruannya Kangsa yang kata orang lebih digjaya dari Roro. Juga gurunya, Ganggati dari gunung Limas si Wanita Penebar Maut, menjadi andalannya.”

“Sehebat apa ilmu silatnya?” Tanya Siluman Goa Paliyan.

“Nenek tua itu? Konon Manyar Edan, dedengkot Brantas itu hanya bertahan dua puluh jurus, dia selamat karena Ganggati tidak niat membunuh. Linggapati memanggil Ganggati, untuk jadi pengawal utama.” Tutur Janda Genit Ngargoyoso.

“Huh belum tentu dia sehebat cerita orang, aku ingin menjajalnya.”

“Kamu mulai bersemangat setelah mengetahui Suryajagad sudah mati.”

“Wisang Geni itu ketua Lemah Tulis dan murid Suryajagad, ilmu-silatnya tinggi. Selama ini dia tak terkalahkan, apa benar?” Tanya Siluman Goa Paliyan.

“Benar. Rupanya telingamu tajam juga. Dia dijuluki pendekar nomor satu tanah Jawa, huuhhh sombong dan temberang, tanganku gatal ingin menjajalnya.” Janda Geni Ngargoyoso sengaja memancing amarah temannya.

Paliyan menengadah ke angkasa. Menatap awan mendung yang semakin hitam. “Aku akan membunuh Wisang Geni, tak mungkin dia bisa tahan gelap ngampar…”

“Lembu Ampal menggunakan jurus gelap ngampar dan dua belas pisau terbang formasi bunga mawar tetap mati digebuk pendekar Lemah Tulis itu.”

Suara Paliyan meninggi. “Ilmu-silat Lembu Ampal aku yang melatihnya, gelap ngamparnya aku yang sempurnakan. Formasi bunga mawar lebih mematikan jika aku yang memainkan. Jurus gelap ngampar yang kumainkan, sepuluh kali lebih dahsyat dari Lembu Ampal, kamu mau coba? Aku ingin jajal tari pengantin, jurus andalanmu. Setelah lima tahun berpisah tentunya jurus itu makin sempurna.”

Memandang Paliyan yang mukanya memerah saking berang, wanita itu tahu kapan harus mundur dan mengalah. Dia tersenyum manja. “Tidak mau! Aku belum gila untuk menjajal gelap ngamparmu, gunakan nanti lawan Wisang Geni.”

Beberapa butir hujan mulai berjatuhan. “Eh eh kangmas lihat gerimis turun. Itu tandanya dewa merestui keputusanmu turun gunung.”

“Sesaat lagi hujan deras, mendung semakin tebal. “ Paliyan tersenyum, melangkah dan menyambar tangan Janda Ngargoyoso. “Tunggu apa lagi, aku sudah kangen, ayo masuk rumah.”

***

Rumah itu tergolong mewah untuk ukuran desa Panton yang letaknya terpencil di lekukan Tanjung Gerinting. Desa dihuni sekitar tigapuluh kepala keluarga itu jarang dikunjungi orang, karena bukan singgahan para pelancong dan pedagang.

Sore itu Samba duduk di serambi belakang rumahnya, menghadap arah matahari terbenam di Barat. Laki-laki berusia pertengahan empatpuluhan itu hidup senang, menyepi dengan sejuta kenangan dimasa jayanya. Dia memiliki banyak kesenangan yang tidak dimiliki rakyat biasa. Dikelilingi beberapa selir, gadis-gadis muda yang cantik genit yang melayaninya makan minum serta berkidung dan menari.

Samba tersenyum pahit membayang kembali masa lalunya.

Jaman keemasan itu sudah berakhir empat tahun lalu, namun bekasnya masih terasa perih, seperti luka yang tak pernah bisa sembuh. Dia belum pernah kasmaran dan jatuh cinta kepada wanita, melainkan seorang yang bernama Sekar.

Baginya, perempuan yang satu ini sangat istimewa. Dia tak pernah bisa menghapus kenangan cintanya kepada Sekar. “Salahku sendiri membiarkan dia yang sudah ditangan terlepas lagi. Itukah karma? Aku tidak percaya karma buruk, karma akan berubah jika kita berusaha. Dan aku akan mendapatkan Sekar!” Bisiknya.

Samba menghirup udara segar memenuhi paru-parunya lalu melepasnya pelan-pelan dengan gundah. Matanya memandang jauh ke Barat, matahari sudah doyong hendak masuk peraduan. Warna merah kekuningan tiba-tiba berubah menjadi sosok Sekar yang bugil. Dia tak pernah melihat Sekar telanjang, tetapi fantasinya akan tubuh molek itu sudah empat tahun melekat di benaknya.

Tiba-tiba dia mendengar suara merdu. Tangan halus mulus memegang lengannya. “Paduka kekasihku sedang menikmati indahnya matahari. Hamba ingin jadi matahari itu yang telah memikat mata Paduka.” Bisik si gadis.

“Matahariku itu tak ada tandingan, kecantikannya memesona sanubariku sepanjang hidupku.” Bisiknya sambil mengelus rambut selirnya yang bernama Harum.

“Tetapi matahari itu jauh disana, sedangkan Harum ada didekat sini, siap selalu melayani kangmas.”

Samba mengelus rambut hitam lebat. “Kamu wanita cantik dan setia, masih muda dan segar, rasanya aku tak pernah puas-puasnya meneguk dahaga dari tubuhmu. Tetapi seperti ceritaku dulu, aku menunggu pertemuan dengan isteriku Sekar.”

“Paduka sangat mencintai ndoro putri Sekar, pasti dia sangat cantik.”

“Kamu lihat indahnya matahari yang hendak masuk peraduan, sinarnya merah kekuningan, tetapi Sekar lebih indah dipandang.” Samba menghela nafas. “Tidak lama lagi aku akan bertemu dengannya dan membawanya kemari.”

“Hamba akan melayaninya sebaik mungkin.” Kata Harum.

Samba diam.

“Paduka, ada tamu yang ingin menghadap, tamu dari jauh.” Desis Harum.

“Siapa?”

“Hamba tidak kenal, keduanya menunggu di ruang tamu, mereka memperkenalkan diri sebagai anak buah Paduka, namanya Hanggada dan Sangkala.” Jawab Harum.

Samba menuju balairung kecil tempat menerima tamu. Dia tertawa senang memandang dua senopatinya yang sudah seperti saudara sendiri.

“Bagaimana kamu bisa menemukan aku disini?” Tanya Samba.

“Hamba ingat, suatu hari kangmas menceritakan keinginan menyendiri di Tanjung Gerinting. Ketika timbul niat sungkem kepadamu, hamba berdua Sangkala coba menyelusuri kawasan ini.” Sahut Hanggada.

“Pasti kalian punya maksud? Bagaimana keadaan pasukan rodra? Kalian masih berhubungan?” Dia mengajak ke ruangan dalam yang merupakan bilik pribadinya.

“Orang-orang kita masih setia seperti sediakala. Kapan saja kangmas memanggil untuk tugas, mereka akan siap. Maksud kami menghadap juga ada sangkut paut dengan pasukan kita.” Kata Sangkala.

Mereka duduk bertiga di ruang peraduan yang tertutup rapat. Selir Harum mondar-mandir sibuk memerintah dua selir lainnya menyediakan makanan dan minuman.

“Kangmas hidup senang. Semua kebutuhan tersedia. Hamba khawatir kangmas tidak mau turun gunung lagi.” Sangkala senyum sambil memandang tiga gadis cantik yang berdiri disisi senopati utama.

“Hidupku tenang, tetapi bayangan masa lalu masih seliweran di benakku, kalian pasti membawa kabar bagus, cukup bagus untuk memancing aku turun gunung.” Katanya sambil menoleh memandang tiga selirnya.

Harum dan dua temannya tahu ada pembicaraan rahasia. “Hamba menunggu diluar pintu, jika perlu sesuatu Paduka bunyikan genta, hamba akan berlari masuk.”

Mereka menyantap hidangan lezat. Saling menutur pengalaman sambil menikmati tuak. Empat tahun berpisah, tidak dinyana bisa bertemu sekarang. Tragedi empat tahun lalu itu nyaris membinasakan mereka.

“Kami berdua berterimakasih, bahwa kangmas masih membiarkan kami berdua hidup meskipun kesalahan itu mutlak keteledoran kami.” Kata Hanggada.

“Semua orang berbuat salah. Kita berbuat salah. Akibatnya, kita menanggung deritanya. Tetapi kita telah membuktikan kepada sejarah bahwa kita ponggawa setia baginda raja Tohjaya yang mendampingi beliau sampai titik darah penghabisan. Hanya saja kejadian itu telah membuat kakanda Mahamenteri patah arang dan memilih undur diri dari keramean dunia.”

“Apakah Paduka Mahamenteri sehat-sehat?”

“Yah kakanda Pranaraja masih sehat, lebih sehat dari perkiraan kita.” Kata Samba. “Dia menyendiri, berlatih silat untuk sehat, dilayani isteri dan para selir, setiap hari dia sibuk bermain-main dengan putri tunggal yang lahir tahun lalu.”

“Paduka mahamenteri pasti bergembira, dua putranya kini punya adik perempuan dan rumahnya bakal terang benderang.” Kata Hanggada.

“Hamba masih menaruh dendam pada Sang Pamegat.” Potong Sangkala. “Dan semua pasukan Rodra punya dendam yang sama.”

“Ilmu silat Sang Pamegat sudah begitu hebat, tetapi lima pendekar tua jubah putih itulah yang tidak tertandingi.” Sahut Samba.

“Konon menurut cerita orang, pendekar tua baju putih itu jumlahnya sembilan orang, kabar lain menyebut sepuluh orang. Mereka pengawal utama keraton. Entah darimana Ranggawuni mendapatkan mereka.” Kata Sangkala.

Samba mengalih pembicaraan. “Kalian berdua tadi menyebut-nyebut kabar baik yang bisa memancing aku turun gunung, kabar apa itu?”

“Duapuluh hari lalu Kasanga kepala pasukan rodra mengunjungi dimas Hanggada bersama dua anak buahnya dan seorang tamu, Sangkapura pendekar Tanjung Anyar. Mereka bawa kabar adipati Linggapati, seorang pembesar Kediri sedang menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan pendekar handal. Linggapati mengajak kita, bergabung.” Tutur Sangkala.

“Setelah berunding kami berdua ikut Sangkapura mengunjungi adipati Linggapati, ingin mendengar langsung, apa maunya. Dia butuh pasukan panah rodra, itu sebabnya dia mengutus Sangkapura mencari kami.”

“Apa jawabmu?” Potong Samba.

“Kami katakan, jika kangmas mau turun gunung membantu, maka seluruh pasukan akan terkumpul. Tetapi kami harus tahu tawaran dari adipati. Jawabnya, aku jadi raja, majikanmu jadi Mahamenteri dengan kekuasaan seperti yang dipercayakan baginda raja Tohjaya kepada Mahamenteri Pranaraja.”

Samba tersenyum. “Aku mendengar cerita perihal Linggapati. Ilmu silatnya tinggi, konon dia salah seorang dari pendekar baju putih yang usianya paling muda, yang lari keluar istana. Dia culas, licik, kejam dan punya ambekan besar menjadi raja. Bergabung dengan orang seperti itu, sangat berbahaya. Setelah mencapai tujuannya, dia akan mengkhianati kita.”

Sangkala dan Hanggada diam, memandang majikannya dengan respek.

“Kalian membawa kabar ini kepadaku, pasti ada harapan kita bergabung.”

Sangkala dan Hanggada saling pandang.

“Empat tahun hamba tenggelam dalam penyesalan. Selamat dari pertarungan itu dan tetap hidup, ternyata lebih buruk dari mati dalam tarung. Kalau bisa memutar ulang sejarah, hamba memilih mati dalam tarung daripada hidup dengan penyesalan seperti ini.” Ada isak dalam suara Sangkala.

Hanggada merunduk. “Hamba juga menderita dengan penyesalan.”

Suara Samba terpengaruh isak dua ponggawa setianya. “Tiap malam aku terbayang matinya Baginda Raja dipangkuan kangmas Pranaraja, wajahnya yang nerimo, senyum yang legowo dan terimakasihnya padaku. Setiap mengenang, hatiku menangis. Seperti juga ingatanku pada Sekar. Cintaku padanya, nafsu birahiku akan kecantikan paras dan tubuhnya tak pernah hilang dari benakku. Puluhan selir cantik, lebih muda dan lebih segar yang kutiduri selama ini tak bisa menindih bayangan Sekar.”

Dia memandang dua pendekar kepercayaannya. “Sudah saatnya aku turun gunung, tapi aku tidak tertarik tawaran Linggapati. Hal terpenting dalam hidupku sekarang adalah mendapatkan Sekar.”

“Kami akan setia disisimu. Siap mati untuk kangmas.” Tukas Sangkala.

“Tetap awas dan waspada, mungkin saja Linggapati memperalat kita, setelah maksud tujuannya tercapai, dia mengkhianati kita.” Kata Samba.

Sangkala dan Hanggada sangat gembira. Mendadak saja semangat tarung meledak dalam diri dua pendekar itu. “Kami sudah ikrar, berjaya atau mati. Kami akan bertaruh nyawa membantu kangmas mendapatkan wanita utama yang kangmas idamkan.”

(To be Continued 1 July/Published No 12 )

Wisang Geni Part Two (10)

Wisang Geni part Two (10)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

(published 29 June 2011)

Atis diam, tetapi matanya tidak kedip mengamati wajah lelaki yang dicintainya.

Wisang Geni memejam mata, memusat pikirannya pada tenaga wiwaha. Atis merasa hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa kantuk. Tak lama kemudian dia tertidur. Kepalanya lunglai, mulutnya nempel dileher Wisang Geni.

Tenaga-dalam wiwaha merambah ke seluruh tubuh Atis. Satu jam berselang Wisang Geni merasa cukup, membuka matanya. Dia mencium aroma khas tubuh Atis. Dia mengusir pikiran liarnya. “Anak ini lugu dan sangat mencintaiku, kalaupun aku mengawininya, harus dengan jalan yang baik. Aku harus menyembuhkan dia..”

Wisang Geni diam tidak bergerak, tak mau Atis terbangun.

Atis terjaga. Tetapi dia diam tidak bergerak. Dia merasakan kenikmatan dan rasa aman berada dalam pelukan laki-laki yang dicintainya. Rangsangan birahi menuntun mulutnya mencari-cari.

“Jangan Atis. Jangan sekarang.” Tukas Wisang Geni lirih.

“Aku mau berterimakasih,” Katanya malu-malu.

“Tubuhmu sudah hangat sekarang.” Pelan-pelan Wisang Geni mendorong tubuh Atis, menggeser tubuhnya sendiri dan duduk sila. “Benahi kebayamu.”

Sambil tertawa geli, Atis memegang payudaranya. Dia bicara sendiri. “Ada saatnya bagian tubuh ini disukai laki-laki yang bernama Wisang Geni.”

“Siap-siap Atis.”

“Kita berangkat sekarang? Hari masih gelap. Berapa hari perjalanan?”

“Sekitar lima hari.”

“Umurku cuma tiga hari. Sekarang sisa dua hari.” Atis mengeluh.

“Kamu tak akan mati, tidak kubiarkan kamu mati. Kubantu dengan tenaga-dalam, meracik ramuan untuk mengendalikan racun itu.”

Pagi hari itu Wisang Geni menunggang Wulung berdua si gadis sementara kuda Atis membuntut dari belakang. Sepanjang jalan Wisang Geni berhenti beberapa kali menolong si gadis dengan penyaluran tenaga-dalam. Agar tidak menarik perhatian orang, mereka jalan di hutan-hutan, kalau malam istirahat dibawah pohon.

Siang hari kelima mereka tiba di bibir jurang. Atis berteriak saking ngeri melihat jurang yang tidak tampak dasarnya. Hanya kabut putih yang terlihat. “Tidak mungkin bisa turun kebawah, kita akan jatuh.” Katanya.

“Tidak perlu takut, aku sering naik turun jurang ini. Aku tahu jalan turun yang tidak curam.” Katanya kepada Atis. Dia menoleh memeluk kudanya dan mengelus-elus leher si Wulung. “Kamu tunggu aku!”

Wisang Geni menggendong Atis di punggungnya. Gadis itu memeluk erat dan meletakkan wajahnya dilekukan leher Wisang Geni. “Mas, mengapa kamu mau susah payah menolongku, padahal baru kenal?”

“Banyak alasan. Kamu pewaris waringin sungsang, kamu mencintai aku, kamu cucu dari sahabatku, kamu … kamu ..”

“Apalagi Mas?” Atis menciumi leher yang basah keringat itu.

“Kamu cantik.” Bisik Wisang Geni.

“Semua isterimu, siapa yang paling cantik?”

“Sekar.”

“Katakan jujur, siapa lebih cantik aku atau Sekar?” Tanya Atis.

“Kamu! Kamu lebih muda, cantik, segar.”

“Terus apalagi?” Desak Atis.

“Kamu bersedia menjadi isteriku.”

“Apa lagi?” Desak Atis, lagi.

“Kamu harus sembuh supaya kita bisa bercinta sebagai suami isteri, iya kan?”

Atis tertawa. “Katakan lagi Mas.”

Wisang Geni mengulang kata-katanya yang terakhir.

Atis tertawa. “Aku bahagia.”

Mereka menuruni jurang melalui jalan yang tidak terjal. Jalan setapak itu agak licin, basah embun, dinding tebing pun berlumut dan licin. Setelah menuruni jurang sepenanakan nasi, kabut tebal menutupi jalan. Tapi Geni sudah hapal jalannya, saking tinggi tenaga-dalamnya, matanya terang bisa melihat jalanan yang berliku.

“Aku menetap lama di jurang, jadinya tahu jalan mendaki dan jalan turun. Cuma harus hati-hati mungkin ada yang berubah belakangan ini.”

Pada beberapa bagian, jalan terputus. Wisang Geni mengerahkan ringan tubuh waringin sungsang, meskipun tetap menggendong si gadis, tidak sulit baginya untuk melompat dari satu bagian ke bagian lain. Ada kalanya untuk memastikan adanya jalanan di depan yang terhalang kabut tebal, dia melempar batu. Dan mendengar jatuhnya batu, dia bisa mengira jarak lompatan.

Tangan Atis menggelayut dileher dan kakinya melingkar diperut Wisang Geni. Sekali-sekali tubuhnya menggeletar, karena serangan racun dingin dan rasa takut melihat jurang tak berdasar. Pertolongan melalui tenaga-dalam dan ramuan jamu cukup menolongnya. Tidak menyembuhkan namun bisa mencegah meluasnya racun ke bagian tubuh yang mematikan.

Hari masih siang ketika mereka tiba di dasar jurang. Wisang Geni bersiul panjang, menggema dan memantul di tebing-tebing, bersahut-sahutan. Tidak lama kemudian serombongan kera mendatangi, terdengar ribut celotehan. Mereka jingkrak-jingkrak, mengenali Wisang Geni.

Seekor kera besar menghampiri. Teriakannya keras sambil memukul-mukul dadanya. Wisang Geni meletakkan Atis ditanah. Lalu menghampiri kera besar, keduanya berpelukan.

Atis tadinya ketakutan melihat banyaknya kera yang mengerubungi. Tetapi hatinya tenang melihat Wisang Geni akrab dengan para kera. Mendadak dia lemas, pingsan. Wisang Geni cepat memeluknya memberi bantuan dengan tenaga dalam.

Kera besar berteriak-teriak.

Beberapa kera membawa buah merah yang masih segar. Itulah buah yang selama Wisang Geni menjalani pengobatan racun ular salju menjadi santapan sehari-hari. Dia meletakkan kepala Atis di pangkuannya. Satu tangan meremas buah, tangan lainnya membuka mulut si gadis. Air perasan buah itu menerobos mulut Atis. Tiga buah sekaligus diminumkan.

Wisang Geni kemudian membantunya dengan tenaga dalam.

Kera besar berteriak, menunjuk kolam besar.

Wisang Geni mengerti. Dia membopong tubuh Atis lalu bersama-sama menyebur ke kolam air panas, berenang ke tengah kolam.

Atis sadar. Dia ketakutan mengetahui tubuhnya berada di dalam kolam.

Dia berteriak. “Panas, aku tidak tahan.”

“Inilah penyembuhan. Kamu sudah minum air buah, kini mandi air panas, lalu air dingin, makan ikan dari kolam ini. Kamu akan sembuh Atis.”

Geni membawa Atis ke tepi kolam. Dia kembali berenang dan menangkap tiga ekor ikan sebesar tapak tangan. Mulanya Atis enggan makan ikan mentah. Tetapi karena ingin sembuh, dia menelannya. Ternyata rasanya manis dan gurih. Dua ekor habis dimakannya, dia tertawa. “Enak, dagingnya empuk manis.”

Geni tertawa melihat mulut si gadis yang belepotan darah ikan.

Mendadak Atis meraba perutnya. “Hangat. Perutku hangat.”

“Iya pengaruh makan ikan tadi.”

“Kita tidur dimana?”

Wisang Geni tertawa. “Dulu aku punya goa, tempat tinggal selama aku disini, ayo kita lihat.” Dia menggendong Atis, berlari ke tebing. Goa itu masih terpelihara. Rupanya selama Wisang Geni berada di dunia luar, kera-kera itu memelihara goanya. Tak ada yang menghuni.

Wisang Geni telaten menyembuhkan Atis. Dari pagi sampai siang berlatih di kolam panas dan dingin. Malam harinya penyembuhan dengan tenaga-dalam.

Buah-buahan dan ikan menjadi santapan lima sampai enam kali dalam sehari. Atis lincah dan cepat berkawan dengan kera-kera, bisa bicara dengan bahasa isyarat.

Hari ketiga tenaga Atis mulai pulih, sedikit demi sedikit. Racun sudah keluar dari tubuhnya. Warna biru sudah lenyap dari parasnya.

“Tenagaku sudah mulai pulih,” mata Atis berbinar-binar dengan senyum dikulum. “Mas aku mau malam nanti aku jadi isterimu, aku akan bersumpah setia padamu.”

Malam harinya mereka bersumpah setia sebagai suami isteri, lalu bercinta.

Selama beberapa hari Wisang Geni terpesona kecantikan fisik dan pribadi Atis.

Atis cerdas dan terampil bekerja. Dia membuat api, memanggang ikan, membuat bumbu, semua dilakukan dengan teliti dan cekatan. Lincah, mahir berkidung, pandai menghibur. Dia selalu menemukan bahan pembicaraan, membujuk dan merayu. Dia tidak memberi kesempatan Wisang Geni menyendiri.

Tadinya hanya terangsang birahi. Lambat laun timbul rasa cinta. Isterinya itu telah memberinya candu, kenikmatan yang membuat dia lupa segala-galanya.

Tanpa terasa dua puluh hari berlalu. Tenaga Atis sudah pulih. Dalam beberapa hari terakhir dia mulai berlatih tenaga-dalam dan ringan-tubuh dengan bimbingan Wisang Geni. Sepanjang hari berlatih silat, malam harinya bercinta.

“Mas kamu lebih cinta aku daripada mbakyu Sekar dan isterimu yang lain?”

“Benar. Aku sangat mencintaimu.”

“Aku bahagia, Mas.”

Wisang Geni menghela nafas. Dia sadar Atis telah menguasai pikiran dan akal sehatnya. “Besok kita pergi, kembali ke dunia ramai.”

“Aku ikut kamu ke Welirang.” Atis meneliti suaminya.

“Berulang kali kujelaskan, disana masih ada keluarga Gayatri, mereka akan segera pulang ke negerinya. Setelah mereka pulang, barulah aku perkenalkan kamu kepada Sekar dan semua keluargaku.”

(To be Continued 30 June/Part Two No 11 )