Serial World Cup 2010 (15)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina vs Korea Selatan
Pertaruhan Huh Jung-moo dan Maradona
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 17 Juni 2010
Laga Korea Selatan versus Argentina di stadion Soccer City Johannesburg 17 Juni malam nanti mengingatkan saya akan persaingan dua nama Huh Jung-Moo dan Diego Maradona, sebagai pelatih kedua tim. Dulu, 24 tahun lalu, tepatnya tanggal 2 Juni 1986 di Piala Dunia Mexico’86 dua nama ini sudah saling berhadapan sebagai pemain yang membela negara masing-masing. Kala itu Korea Selatan kalah 1-3 dari Argentina dalam pertandingan perdananya.
Pertandingan kedua Korea Selatan meningkat dan menahan imbang Bulgaria 1-1. Sayang di pertandingan ketiga yang menentukan lolos tidaknya ke babak 16 Besar, Korea Selatan waktu itu ditukangi Kim Jung Nam kalah 2-3 dari Italia. Salah satu gol ke gawang Italia dicetak Huh Jung Moo, tim Korea Selatan angkat koper alias tersingkir.
Laga malam nanti sangat serius bagi kedua pelatih. Suatu tantangan untuk membuktikan diri sebagai pelatih yang sukses ditengah kritik pers setempat. Huh Jung Moo bekas pemain 1986, pernah pelatih fisik tim 1990, asisten pelatih di tim 1994, diragukan kemampuannya setelah diangkat sebagai pelatih tim ginseng pada Desember 2007. Pers membandingkan Jung Moo dengan pelatih Belanda Guus Hiddink yang membawa Korea Selatan semifinalis kala menjadi tuan rumah bersama Jepang di 2002. Maradona tidak punya pengalaman pelatih dan hanya berbekal nama besar sebagai superstar era 1980-an, sering jadi bulan-bulanan pers karena memanggil 100 pemain lebih untuk menyusun timnya.
Kemenangan para pertandingan awal menempatkan kedua tim pada posisi krusial. Argentina sukses menaklukkan Nigeria 1-0 lewat sundulan bek Gabriel Heinze. Korea Selatan mencatat nilai 3 lewat kemenangan 2-0 atas Yunani, lewat gol Lee Jung Soo dan Park Ji Sung. Pada posisi ini satu kemenangan lagi akan meloloskan ke putaran 16 Besar, mendorong kedua tim untuk ngotot memenangkan pertandingan.
Di atas kertas Argentina dengan tradisi, sejarah dan materi pemain diunggulkan untuk keluar sebagai pemenang. Lionel Messi yang sempat diragukan tampil bagus jika membela Albiceleste julukan tim Argentina, sudah tampil sebagaimana formnya ketika membela klubnya Barcelona. Berkali-kali dia melakukan penetrasi, dribling, umpan dan shot ke gawang. Jika bukan Vincent Enyeama yang dijuluki “the cat” (si kucing) yang mengawal gawang Nigeria, pasti Messi sudah menjaringkan gol. Bagaimana pun juga menang 1-0 sudah sangat memuaskan skuad asuhan Maradona. Hanya perlu satu kemenangan lagi untuk memastikan lolos ke babak knock-out.
Argentina tidak hanya punya Lionel Messi masih ada beberapa nama yang tidak kalah penting. Maradona telah mencoba beberapa pola main, bersama Messi maupun tanpa Messi. Artinya dia sudah siap jika Messi tidak juga kunjung main pada formnya, maka alternatif tanpa Messi akan dia jalankan. Tapi setelah penampilan pertama yang begitu mengesankan, Maradona memeluk keras Messi seusai pertandingan saking gembiranya melihat penampilan Messi, maka alternatif pola tiga penyerang tetap akan dia mainkan. Messi sebagai link-man antara Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain. Peranan Messi berada di belakang dua rekan seniornya.
Sesungguhnya Maradona yang paling berjasa. Dia menanyakan pada Messi, posisi mana yang disukai anak muda itu untuk bisa bermain maksimal. Dan Maradona menerapkan pola main sesuai maunya Messi. Hal ini mengingatkan dia ketika menjadi sentra team atau pemain nucleus team Argentina di Piala Dunia 1986 yang sukses merebut gelar juara itu. Waktu membangun timnya pelatih Carlos Bilardo sempat tukar pikiran dengan pelatih Cesar Menotti yang sukses merebut gelar 1978. Kata Menotti kepada Billardo, kamu dekati Maradona, beri dia kekuasaan dan kebebasan maka semua pemain akan patuh padanya. Hal itu juga yang Menotti lakukan pada teamnya, memberi kapten Daniel Passarella kekuasaan penuh di lapangan bahkan sampai pada batasan minta pergantian pemain.
Tetapi Messi lain, Maradona dan Passarella lain. Messi hanya diberi pilihan memilih posisi yang paling enak. Dia tak punya kekuasaan. Tapi dia punya kebebasan untuk inisiatif pergerakan di lapangan. Javier Mascherano yang dipercaya kapten dan penguasa. Juan Veron sebagai pengatur tim. Jika Veron yang sudah veteran letih atau cidera, salah satu dari dua penggantinya akan masuk, Maxi Rodriguez atau Mario Bolatti. Kemarin ketika lawan Nigeria, Maxi masuk menggantikan Veron pada menit 74.
Di atas kertas Argentina diunggulkan menang. Tapi dalam sepakbola sering terjadi tim underdog bisa mengalahkan tim yang mungkin satu kelas diatasnya. Contoh yang paling segar adalah sukses Swiss menaklukkan juara Euro 2008 Spanyol di kota Durban Rabu kemarin. Pasar tarohan, pers bahkan semua pengamat bola menjagokan Spanyol. Tetapi fighting spirit yang tak kenal lelah, tak kenal takut, tim Swiss telah membalik semua ramalan.
Korea Selatan juga membalik ramalan ketika mengalahkan Yunani telak 2-0 di laga perdana, kejutan meskipun tidak sebesar kejutan Swiss kalahkan Spanyol. Tetapi permainan kolektif, semangat tanding yang pantang menyerah dan strategi memanfaatkan kecepatan telah membuat Yunani kedodoran.
Pasukan Huh Jung Moo sudah siap-siap untuk membuat kejutan lagi. Di kandang sendiri 2002 mereka telah mengalahkan tim unggulan Polandia, Portugal dan Italia. Namun kemenangan itu dicurigai adanya bantuan tangan wasit. Tetapi satu hal yang tak bisa dipungkiri bahwa gaya speed and power Korea Selatan yang didukung stamina dan fisik prima, telah membawa tim negeri ginseng itu ke jajaran elit.
Permainan agresif, menyerang dan bertahan tanpa kenal lelah digerakkan oleh kapten Park Ji-Sung yang sering jadi starting lineup klub Manchester United. Selain pekerja keras, Ji Sung juga disegani karena dalam karirnya dia yang paling sukses dibanding pemain lain. Ji Sung didukung pilar lain Lee Jung-Soo (Kashima) si pencetak gol pertama ke gawang Nigeria, Cha Du-Ri (Freiburg), Kim Sung-Yueng (Celtic), Lee Chung Yong (Bolton), Park Chu Young (Monaco). Mereka inilah yang jadi penggerak Korea Selatan mendorong semua pemain bekerja keras.
Huh Jung Moo telah memberi peringatan kepada semua tim, bahwa skuadnya bisa bermain di top level dan bisa mengimbangi tim mana pun juga. Jelas mereka akan menyerang, targetnya mengalahkan Argentina dan secepatnya memosisikan diri di putaran 16 Besar. Argentina menyerang, Korea Selatan juga menyerang, tentunya pertandingan ini akan menarik ditonton. Bagaimanapun juga pasar tarohan tetap mengunggulkan Argentina. Kita lihat saja nanti. ***
Saturday, July 31, 2010
World Cup 2010 Serial 14 Spanyol vs Swiss
World Cup 2010 (Serial 14)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spanyol vs Swiss
Apa Yang Kurang Dari La Roja?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 16 Juni 2010
Sejak tahun 1930 Piala Dunia dipentaskan, belum sekalipun gelar juara mampir di negeri Spanyol. Sudah 80 tahun menanti, mungkin tahun inilah saatnya. Tim yang dijuluki La Roja dengan permainan euro-latin yang kental, sangat berambisi menjadi negeri kedelapan yang menjuarai pentas akbar itu. Apa yang kurang dari Spanyol?
Semua sudah dimiliki. Kompetisi La Liga penuh pesona dengan iming-iming jumlah euro yang menggiurkan yang ditawarkan dua klub raksasa Real Madrid dan Barcelona. Hampir semua pemain termahal dunia pernah merumput di negeri matador. Banyak pemain berbakat dan talenta besar. Hanya satu yang belum dimiliki. Keberuntungan. Dewi Fortuna yang cantik belum juga mau membantu La Roja.
Datang ke Afrika Selatan 2010 pelatih Vicente Del Bosque membawa semua pemain terbaiknya yang diharapkan bermain indah sekaligus menangkan gelar juara. Dari skuad Jerman 2006 yang masih direkrut Del Bosque, kiper Iker Casillas dan Pepe Reina, Carlos Marchena, Carles Puyol, Sergio Ramos, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, David Villa, Fernando Torres. Semuanya pilar tim La Roja dulu (2006) maupun sekarang (2010).
Adalah pendekar tua Luis Aragones yang menyusun skuad 2006 dan yang dia sempurnakan dua tahun kemudian ketika merebut gelar Euro 2008. Tidak hanya materi pemain tetapi pola main satu sentuhan “touch pass and move” dengan prinsip bergerak cepat. Vicente Del Bosque sang pengganti hanya perlu meneruskan karya besar Aragones. Tetapi sayang di Confederations Cup 2009 skuad Del Bosque dijegal USA di semifinal dan hanya berakhir di peringkat ketiga. Del Bosque belum beruntung.
Lain halnya dengan kisah Luis Aragones “sang pendekar tua” dua tahun lalu di Euro 2008, mengemban misi merebut gelar Eropa yang sudah diidamkan selama 44 tahun sejak merebut gelar tahun 1964. Nyaris tersingkir di perempat final oleh Italia, beruntung hasilnya draw tanpa gol dan Spanyol melaju ke semifinal lewat adu pinalti. Di semifinal skuad Aragones melibas Russia 3-0 dan di final mengalahkan raksasa Eropa Jerman lewat gol tunggal Fernando Torres.
Sebelum menginjak kaki di benua Afrika, Del Bosque dibikin pusing dengan masalah cidera. Tapi sekarang dia boleh berlega hati, semua pemain intinya fit dan siap turun laga lawan Swiss, lawan pertama grup H di stadion Moses Mabhiha kota Durban. Kecuali Iniesta, yang masih harus menunggu lampu hijau dari dokter. Tapi penggantinya pasti tidak kalah kelas. Misinya jelas, harus menyerang dan menang! Statistik pertemuan Spanyol 15 kali menang tanpa kalah dan hanya draw 3 kali, gol juga selisih jauh 45 minus 15.
Pertandingan akan menarik. Kekuatan menyerang Spanyol dengan motor pemain lapangan tengah kelas dunia, Xabi Alonso (Real Madrid), Xavi Hernandez (Barcelona), Andres Iniesta (Barcelona), David Silva (Valencia) dengan bintang Arsenal Cesc Fabregas siap sebagai pengganti akan memudahkan dua striker haus gol Fernando Torres (Liverpool) dan mesin gol Valencia David Villa yang mencetak 7 gol di kualifikasi zone Eropa lalu. Jika format 4-5-1 yang digunakan mungkin striker tunggal akan diisi David Villa.
Swiss akan mengimbanginya dengan permainan kolektif, organisasi disiplin ala Jerman versi pelatih Jerman Ottmar Hitzfeld. Swiss akan menumpuk pemain dengan karakter bertahan di lapangan tengah, dari formasi 4-5-1. Pertarungan lapangan tengah akan ketat, pemain Swiss yang biasa merumput di bundesliga dan klub-klub Eropa akan memberikan perlawanan, main keras dan bertenaga dengan disiplin tinggi.
Hitzfeld akan mempercayakan lini pertahanan pada Stephane Grichting yang 8 musim main di klub Auxerre, bek kiri pengalaman berusia 31 tahun. Pilihan lain yang akan membentengi kiper Diego Benaglio (Wolfsburg) adalah Stephan Lichtsteiner (Lazio), Philippe Senderos (Arsenal), Steve Von Bergen (Hertha Berlin), Albert Bunjaku (Nuremberg), Mario Eggimann (Hanover), dan centre-back FC Zurich yang tinggi 183, Ludovic Magnin 31 th dengan 62 caps.
Pemain gelandang diharapkan bekerja keras menjadi lapis pertama pertahanan serta batu loncatan serangan balik adalah Tranquillo Barnetta (Bayer Leverkusen), Pirmin Schwegler (Eintracht Frankfurt) dan Hakan Yakin (Lucerne). Mungkin Swiss hanya akan menempatkan seorang striker dalam starternya bisa Eren Derdiyok (Bayer Leverkusen) atau Blaise Nkufo (Twente). Mau tidak mau Swiss akan main defensif, sebab jika main terbuka sama artinya “bunuh diri” membuka pertahanan yang akan dimanfaatkan David Villa Cs menjaringkan bola.
Jika Swiss menargetkan draw, maka Spanyol hanya mau menyerang untuk menang. Tekad La Roja adalah memuncaki grup sehingga di babak knock-down akan menghadapi runnerup grup G yang kemungkinan Portugal atau Pantai Gading jika Brazil berhasil duduk di puncak grupnya.
Persoalan yang dihadapi Del Bosque dan pasukannya, adalah espektasi publik dan pers Spanyol yang begitu tinggi bahkan sudah menggambarkan seakan-akan La Roja akan melaju sampai final dan merebut gelar dunia. Sekarang ini Del Bosque sibuk mengawasi pemain asuhannya untuk tetap memijak bumi, jangan melayang diawan karena pujian beracun serta yang paling utama tidak boleh memandang enteng Swiss atau siapa pun lawan.
Tekad dan misi menjadi juara sekaligus memperlihatkan diri sebagai yang terbaik di dunia saat ini tetapi kaki tetap harus memijak bumi. Empat tahun lalu di Jerman 2006, La Roja kala itu ditukangi Luis Aragones berada dalam puncak formans. Semuanya berjalan dengan baik, di grup H menang atas Ukraina 4-0, Tunisia 3-1 dan Arab Saudi 1-0. Mereka masuk babak knock-down 16 Besar dan tanggal 27 Juni hari naas itu pun tiba, tampil buruk mereka digusur Perancis 1-3.
Mereka juga mengingat pengalaman buruk di Confederations Cup tahun lalu di bumi Afrika ketika di semifinal di luar dugaan disingkirkan USA 0-2. Kekalahan dari USA pada tanggal 24 Juni 2009 di stadion Mangaung kota Bloemfontein sama buruknya dengan kekalahan dari Perancis tahun 2006.
Belajar dari sukses Euro 2008 serta dua kegagalan di Jerman 2006 dan Confederations Cup 2009
semoga telah mematangkan skuad La Roja untuk menggolkan misi juara dunia 2010. Dan langkah pertama adalah menang atas Swiss. Di atas kertas Spanyol akan menang tetapi semua bisa terjadi seperti Inggeris ditahan USA, Kamerun kalah dari Jepang, kalau tidak waspada bukan tidak mungkin Swiss bisa memenuhi targetnya menggapai hasil draw. So wait and see.
***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Spanyol vs Swiss
Apa Yang Kurang Dari La Roja?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 16 Juni 2010
Sejak tahun 1930 Piala Dunia dipentaskan, belum sekalipun gelar juara mampir di negeri Spanyol. Sudah 80 tahun menanti, mungkin tahun inilah saatnya. Tim yang dijuluki La Roja dengan permainan euro-latin yang kental, sangat berambisi menjadi negeri kedelapan yang menjuarai pentas akbar itu. Apa yang kurang dari Spanyol?
Semua sudah dimiliki. Kompetisi La Liga penuh pesona dengan iming-iming jumlah euro yang menggiurkan yang ditawarkan dua klub raksasa Real Madrid dan Barcelona. Hampir semua pemain termahal dunia pernah merumput di negeri matador. Banyak pemain berbakat dan talenta besar. Hanya satu yang belum dimiliki. Keberuntungan. Dewi Fortuna yang cantik belum juga mau membantu La Roja.
Datang ke Afrika Selatan 2010 pelatih Vicente Del Bosque membawa semua pemain terbaiknya yang diharapkan bermain indah sekaligus menangkan gelar juara. Dari skuad Jerman 2006 yang masih direkrut Del Bosque, kiper Iker Casillas dan Pepe Reina, Carlos Marchena, Carles Puyol, Sergio Ramos, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, David Villa, Fernando Torres. Semuanya pilar tim La Roja dulu (2006) maupun sekarang (2010).
Adalah pendekar tua Luis Aragones yang menyusun skuad 2006 dan yang dia sempurnakan dua tahun kemudian ketika merebut gelar Euro 2008. Tidak hanya materi pemain tetapi pola main satu sentuhan “touch pass and move” dengan prinsip bergerak cepat. Vicente Del Bosque sang pengganti hanya perlu meneruskan karya besar Aragones. Tetapi sayang di Confederations Cup 2009 skuad Del Bosque dijegal USA di semifinal dan hanya berakhir di peringkat ketiga. Del Bosque belum beruntung.
Lain halnya dengan kisah Luis Aragones “sang pendekar tua” dua tahun lalu di Euro 2008, mengemban misi merebut gelar Eropa yang sudah diidamkan selama 44 tahun sejak merebut gelar tahun 1964. Nyaris tersingkir di perempat final oleh Italia, beruntung hasilnya draw tanpa gol dan Spanyol melaju ke semifinal lewat adu pinalti. Di semifinal skuad Aragones melibas Russia 3-0 dan di final mengalahkan raksasa Eropa Jerman lewat gol tunggal Fernando Torres.
Sebelum menginjak kaki di benua Afrika, Del Bosque dibikin pusing dengan masalah cidera. Tapi sekarang dia boleh berlega hati, semua pemain intinya fit dan siap turun laga lawan Swiss, lawan pertama grup H di stadion Moses Mabhiha kota Durban. Kecuali Iniesta, yang masih harus menunggu lampu hijau dari dokter. Tapi penggantinya pasti tidak kalah kelas. Misinya jelas, harus menyerang dan menang! Statistik pertemuan Spanyol 15 kali menang tanpa kalah dan hanya draw 3 kali, gol juga selisih jauh 45 minus 15.
Pertandingan akan menarik. Kekuatan menyerang Spanyol dengan motor pemain lapangan tengah kelas dunia, Xabi Alonso (Real Madrid), Xavi Hernandez (Barcelona), Andres Iniesta (Barcelona), David Silva (Valencia) dengan bintang Arsenal Cesc Fabregas siap sebagai pengganti akan memudahkan dua striker haus gol Fernando Torres (Liverpool) dan mesin gol Valencia David Villa yang mencetak 7 gol di kualifikasi zone Eropa lalu. Jika format 4-5-1 yang digunakan mungkin striker tunggal akan diisi David Villa.
Swiss akan mengimbanginya dengan permainan kolektif, organisasi disiplin ala Jerman versi pelatih Jerman Ottmar Hitzfeld. Swiss akan menumpuk pemain dengan karakter bertahan di lapangan tengah, dari formasi 4-5-1. Pertarungan lapangan tengah akan ketat, pemain Swiss yang biasa merumput di bundesliga dan klub-klub Eropa akan memberikan perlawanan, main keras dan bertenaga dengan disiplin tinggi.
Hitzfeld akan mempercayakan lini pertahanan pada Stephane Grichting yang 8 musim main di klub Auxerre, bek kiri pengalaman berusia 31 tahun. Pilihan lain yang akan membentengi kiper Diego Benaglio (Wolfsburg) adalah Stephan Lichtsteiner (Lazio), Philippe Senderos (Arsenal), Steve Von Bergen (Hertha Berlin), Albert Bunjaku (Nuremberg), Mario Eggimann (Hanover), dan centre-back FC Zurich yang tinggi 183, Ludovic Magnin 31 th dengan 62 caps.
Pemain gelandang diharapkan bekerja keras menjadi lapis pertama pertahanan serta batu loncatan serangan balik adalah Tranquillo Barnetta (Bayer Leverkusen), Pirmin Schwegler (Eintracht Frankfurt) dan Hakan Yakin (Lucerne). Mungkin Swiss hanya akan menempatkan seorang striker dalam starternya bisa Eren Derdiyok (Bayer Leverkusen) atau Blaise Nkufo (Twente). Mau tidak mau Swiss akan main defensif, sebab jika main terbuka sama artinya “bunuh diri” membuka pertahanan yang akan dimanfaatkan David Villa Cs menjaringkan bola.
Jika Swiss menargetkan draw, maka Spanyol hanya mau menyerang untuk menang. Tekad La Roja adalah memuncaki grup sehingga di babak knock-down akan menghadapi runnerup grup G yang kemungkinan Portugal atau Pantai Gading jika Brazil berhasil duduk di puncak grupnya.
Persoalan yang dihadapi Del Bosque dan pasukannya, adalah espektasi publik dan pers Spanyol yang begitu tinggi bahkan sudah menggambarkan seakan-akan La Roja akan melaju sampai final dan merebut gelar dunia. Sekarang ini Del Bosque sibuk mengawasi pemain asuhannya untuk tetap memijak bumi, jangan melayang diawan karena pujian beracun serta yang paling utama tidak boleh memandang enteng Swiss atau siapa pun lawan.
Tekad dan misi menjadi juara sekaligus memperlihatkan diri sebagai yang terbaik di dunia saat ini tetapi kaki tetap harus memijak bumi. Empat tahun lalu di Jerman 2006, La Roja kala itu ditukangi Luis Aragones berada dalam puncak formans. Semuanya berjalan dengan baik, di grup H menang atas Ukraina 4-0, Tunisia 3-1 dan Arab Saudi 1-0. Mereka masuk babak knock-down 16 Besar dan tanggal 27 Juni hari naas itu pun tiba, tampil buruk mereka digusur Perancis 1-3.
Mereka juga mengingat pengalaman buruk di Confederations Cup tahun lalu di bumi Afrika ketika di semifinal di luar dugaan disingkirkan USA 0-2. Kekalahan dari USA pada tanggal 24 Juni 2009 di stadion Mangaung kota Bloemfontein sama buruknya dengan kekalahan dari Perancis tahun 2006.
Belajar dari sukses Euro 2008 serta dua kegagalan di Jerman 2006 dan Confederations Cup 2009
semoga telah mematangkan skuad La Roja untuk menggolkan misi juara dunia 2010. Dan langkah pertama adalah menang atas Swiss. Di atas kertas Spanyol akan menang tetapi semua bisa terjadi seperti Inggeris ditahan USA, Kamerun kalah dari Jepang, kalau tidak waspada bukan tidak mungkin Swiss bisa memenuhi targetnya menggapai hasil draw. So wait and see.
***
Brazil dan Jogo Bonito World Cup 2010
Serial World Cup 2010 (13)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Benarkah Brazil Meninggalkan Jogo Bonito?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 15, 16, 17 Juni 2010
Pengantar :
Tidak dapat dipungkiri bahwa Brazil merupakan kiblat sepakbola dunia. Salah satu ciri khas yang membuat Brazil dijadikan kiblat sepakbola adalah prestasinya yang luar biasa, regenerasi pemainnya yang tak pernah putus, serta kreatifitas pelatih dan pemain untuk mengalahkan lawan. Semua itu dilakukan tim Brazil lewat permainan “jogo bonito” alias sepakbola cantik, yang tidak hanya untuk memenangi pertandingasn tetapi juga bagaimana caranya menang dengan indah. Belakangan tren sepakbola dunia cenderung defensif dan tidak enak ditonton. Mampukah Brazil menjagokan “jogo bonito” di tengah tren sepakbola bertahan yang makin mendunia? Ikutilah tiga tulisan berikut.
Di kualifikasi Piala Dunia 2002, Brazil nyaris gagal lolos. Pecinta sepakbola bahkan juga FIFA sempat jantungan ketika tim Samba itu terseok-seok dalam perburuan tiket ke PD 2002. Tetapi “thanks God” akhirnya Brazil lolos ke Piala Dunia. Tiket itu direbut Brazil pada pertandingan terakhir saat menjamu Venezuela di kandangnya sendiri Sao Luis, lewat dua gol striker Corinthians, Luizao dan satu dari bintang Barcelona, Rivaldo.
Lolosnya Brazil ini melegakan jutaan penggemar tim samba setelah sempat dibuat “jantungan” di dua pekan sebelumnya. Beberapa jam sebelumnya, tim panser Jerman juga lolos ke Piala Dunia setelah menang telak 4-1 dalam “play-off” lawan Ukraina di Dortmund. Bisa dibayangkan berapa banyak “lost money” (kerugian uang) yang dialami panitiya PD di Korea dan Jepang jika saja dua tim juara dunia ini –Brazil dan Jerman- gagal lolos.
Bicara kerugian penyelenggaraan Piala Dunia, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Yang bisa terjadi hanyalah keuntungan yang berkurang. Kejadian play-off Perancis vs Irlabdia, berembus rumor FIFA “memprotek” Perancis dan menolak tanding ulang meski jelas-jelas bahwa gol penentuan kemenangan William Gallas diawali “double handsball” Thierry Henry yang lalu mengumpan ke mulut gawang. Ketika pemain Irlandia sibuk mengangkat tangan isyarat terjadinya hansdsball saat itu William Gallas dengan mudahnya – tanpa terjaga dan tanpa reaksi lawan- menceploskan bola ke gawang Irlandia. Tamatlah Irlandia. Dalam lobi dan pertemuan FIFA diputuskan tak ada pertandingan ulang, artinya Perancis yang ke 2010. Bayangkan jika terjadi sebaliknya? Jika Perancis yang dirugikan, mungkin saja akan ada tanding ulang. Ujung rumor itu jika Perancis yang lolos ke 2010 lengkaplah 7 juara dunia, dan bukankah penonton fans Les Blues lebih banyak yang akan datang ke 2010 dibanding misalnya Irlandia yang lolos.
Akan halnya Brazil tampaknya beberapa kali mendapat kendala besar di babak kualifikasi Piala Dunia, hambatan klasik yakni sulitnya mendatangkan para bintangnya yang main di klub-klub Eropa. Kalaupun mereka mendapat ijin dari klubnya itupun hanya 4 hari sebelum pertandingan.
Ketika harus menang atas Bolivia, sepekan sebelum partai lawan Venezuela, kendala ini muncul. Rivaldo, Cafu, Roberto Carlos dll bergabung 4 hari sebelum hari pertandingan. Waktu yang sempit untuk berlatih, mungkin ini sebab kekalahan Brazil 1-3 dari Bolivia selain faktor tipisnya oksigen di ketinggian 3700 meter di kota La Paz. Namun betapapun juga akhirnya Brazil sang juara dunia 4 kali – tetra campeo- sudah sampai di PD 2002, seperti komentar sang pelatih Luis Felipe Scolari, “memang tidak mulus dan tampak berat, tetapi akhirnya kami sampai juga di tujuan.”
Kejadian nyaris gagal lolos, pernah dialami Brazil beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya. Kendalanya pun juga sama, sempitnya waktu berkumpul dari para pemain bintangnya terutama para legiun Eropa, menyebabkan kurang mampunya pelatih mengoptimalkan materi “legiun Eropa” yang letih akibat ketatnya kompetisi di Eropa.
Tahun 1978 Brazil nyaris gagal. Pada pertandingan awal PPD hasil draw 0-0 lawan Kolombia membuat berang semua orang Brazil terhadap timnya. Si Pelatih Oswaldo Brandao dikecam, dicaci dan dihujat yang buntutnya dilengserkan dari jabatannya. Padahal masih ada 3 pertandingan lain, dua partai lawan Paraguay dan satu lainnya lawan Kolombia. Pokoknya Brandao lengser dan digantikan Claudio Cautinho yang sukses membantai Kolombia 6-0 dan mengatasi Paraguay sehingga lolos ke Piala Dunia Argentina’78.
Tahun 1994 pun Brazil dibawah pelatih Carlos Alberto Pareira bersama penasehat tehnis merangkap asistennya Mario Zagalo sempat dilanda krisis. Bergabung bersama Bolivia, Ekuador, Uruguay dan Venezuela di grup B dengan catatan hanya dua tim yang lolos langsung, posisi Brazil di ujung tanduk. Kalah 0-2 dari Bolivia di La Paz membuat Parreira dikecam habis dan CBF didesak untuk memecatnya. Nama Tele Santana, pelatih yang kondang meramu tim samba di PD 1982 dan 1986 diangkat pers dan publik disebut paling cocok menggantikan Parreira. Tetapi kali ini CBF diketuai Ricardo Texeira ngotot mempertahankan Parreira, tentu saja dengan jaminan mempertaruhkan jabatan kursi CBF jika tim samba sampai gagal.
Carlos Alberto Parreira jalan terus. Menggasak Ekuador 2-0, Bolivia 6-0, Venezuela 4-0. Sampai pada penghujung jalan yakni partai ke-8 menghadapi Uruguay, posisi tiga tim Brazil, Uruguay dan Bolivia sama-sama nilai 10. Jika Brazil sampai kalah dari Uruguay, maka habis sudah sejarah kebesaran Brazil. Pada saat kritis, penasehat tehnis Mario Zagalo mengusulkan merekrut mesin gol Romario Faria.
CBF dan Parreira menolak. Zagalo ngotot bahwa cuma itu jalan keluar, harus ada mesin gol apalagi saat itu striker Bebeto tidak fit dan sayap kiri Branco belum pulih. Tawaran Zagalo diterima, dengan taruhan Zagalo yang bertangungjawab atas “anak nakal” Romario itu.
Tulisan (2) Published 16 Juni
Di PSV Eindhoven, Romario tampil sebagai top-scorer Liga Belanda dan di klub barunya Barcelona, Romario jadi andalan pelatih Johan Cruyff. Namun “ulah” kenakalannya yang membuat CBF dan Parreira merasa tak mampu mengatasinya.
Di kandang sendiri di stadion Maracana Rio de Janeiro disaksikan 110.000 pecintanya, tim samba yang hanya perlu hasil draw nyatanya tampil agresip dan mengepung pertahanan Uruguay dengan serangan bergelombang. Kapten Dunga, Rai, Zinho, Bebeto, dan Romario didukung Branco dan Jorginho dari dua sayap, mendominasi Uruguay yang diperkuat Daniel Fonseca, Ruben Sosa, maestro Enzo Francescoli.
Ternyata Romario yang berjaya, dua golnya memenangkan Brazil 2-0. Gol pertama Romario masih belum meyakinkan publik Maracana karena trauma sejarah grand-final Piala Dunia ’50 ketika Brazil meski mencetak gol lebih dahulu akhirnya kalah dari Uruguay. Baru setelah Romario mencetak gol kedua, trauma sejarah itu pun lenyap dan akhirnya Brazil lolos, maka Parreira pun dipuji-sanjung begitu juga Romario.
Sepakbola Brazil tak pernah sepi dari berita di koran. Timnas Brazil “seleccao” selalu menjadi sorotan utama. Itu sebab pelatih seleccao ibarat duduk di atas “bara api” yang sewaktu-waktu bisa membakar dirinya. Dalam satu sisi, tak dipungkiri bahwa pelatih seleccao bahkan lebih populer dari Presiden Brazil. Di warung-warung kopi semua orang bicara bola, tua muda, lelaki perempuan, tak ubahnya dengan para komentator di layar kaca, radio dan juga di koran-koran.
Tahun 1986 Tim Selecao juga dilanda krisis, nyaris gagal ke Piala Dunia. Sang pelatih, Evaristo de Macedo hampir tak punya harapan lagi untuk meloloskan Brazil ke Mexico’86. Bukan itu saja, gaya main tim selecao ramuan Macedo dinilai tidak indah dan kontra produktif. Jogo Bonito, sepakbola indah yang dimainkan penuh improvisasi tapi punya ketajaman yang selalu membuahkan gol. Macedo gagal memperlihatkannya.
Dari warung-warung kopi itulah, penonton yang setia mengeluarkan duit untuk mengawal tim samba bahkan sampai ke Eropa pun. Mereka inilah yang bersuara keras, mengecam Macedo, menghujat dengan lantang dan keras, Macedo harus dipecat. Harus dan harus ! Satu nama lain, Tele Santana diusung untuk menjadi pengganti.
Kenapa Santana ? Bukankah Santana sudah gagal di PD Spanyol’82. Tapi mereka punya alasan kuat. Santana hebat memainkan jogo bonito. Di Espana’82 sepakbola menyerang ala samba dalam kemasan pola 4-4-2 diakui sebagai jogo-bonito yang sama dahsyatnya, sama produktifnya dengan selecao 1970 ketika pelatih Mario Zagalo memenangkan PD di Mexico’70. Kegagalan seleccao merebut gelar juara PD’82 tidak membuat tim ramuan Santana ini dilupakan orang. Santana juga tidak pernah dicaci-maki publik bahkan semua orang Brazil larut berduka dengan kekagalan seleccao di Spanyol. Inilah bukti bahwa jogo-bonito ramuan Santana diterima masyarakat secara meluas.
Kehebatan suara publik pernah mewarnai nasib Mario Zagalo di tahun 1974. Zagalo membawa selecao berlaga di PD’74 di Munich, Jerman. Tidak cuma kalah dan gagal, tetapi tim itu bermain buruk dan sama sekali lupa akan jogo-bonito. Mau tahu apa perbuatan orang-orang dari warung-kopi itu ? Mereka mengancam akan menggantung Zagalo di alun-alun, tiada maaf bagi Zagalo.Mereka membakar patung kertas Zagalo padahal mereka juga tahu, bahwa Zagalo adalah pahlawan tim samba ketika sebagai penyerang sayap merebut PD 1958 dan 1962 dan sebagai pelatih memenangkan PD Mexico’70 dengan sepakbola menyerang yang sangat ampuh. Ancaman itu membuat Zagalo tidak berani pulang dan langsung hijrah melatih klub di Saudi Arabia.
Jika orang-orang di warung kopi itu bisa menerima kegagalan Tele Santana, suatu bukti bahwa tim seleccao di PD’82 memang hebat dan ampuh, hanya sayang tidak beruntung. Karenanya mereka ingin memberi kesempatan lagi kepada Santana untuk memperlihatkan jogo-bonito di Mexico’86.
Tuntutan orang-orang dari warung-kopi itu mengguncang kantor CBF yang akhirnya setuju, dan Macedo lengser digantikan Tele Santana. Kembali Santana meramu pola favoritnya 4-4-2 memperlihatkan jogo-bonito yang ampuh dengan beberapa bintang eks selecao’82 Zico,Socrates, Falcao, Cerezo, Eder yang kemudian sukses meloloskan selecao ke Mexico’86. Sayangnya di PD’86 kembali keberuntungan menjauh dari Santana, selecao gagal juara lantaran kalah adu pinalti dari Prancis di perempatfinal.
Orang-orang di cafĂ© itu memang punya suara lantang namun cenderung obyektif dan seringkali menolong seleccao keluar dari kesulitan. Ketika CBF memilih Sebastiano Lazaroni untuk menangani selecao ke PD’90, publik protes. Alasannya, konsep Lazaroni, bahwa jogo-bonito harus dilupakan. Jogo-bonito tak bisa bersaing menghadapi gaya keras dan disiplin “speed and power”. Tidak cuma itu, Lazaroni bahkan memainkan pola 3-5-2, mengubah tradisi seleccao 4-4-2 yang dikemas Santana.
Konsep Lazaroni ini masuk akal, secara teori seratus persen benar. Jika hendak merebut gelar PD maka Brazil harus siapkan pola main yang mampu mengimbangi tipe Eropa, dan itu hanya bisa dengan pola 3-5-2. Apalagi Lazaroni membuktikannya di lapangan, merebut Copa America 1989, gelar dan sukses yang pertama bagi Tim Brazil sejak 40 tahun silam.
Tulisan (3) published 17 Juni
Sukses Lazaroni ini ibarat membungkam mulut dan komentar miring dari publik yang terkenal gila bola itu. Namun itu baru di Copa America, ukuran sukses yang sesungguhnya ada di PD Italia’90.
Kenyataannya di Italia’90 selecao gagal, di perdelapanfinal kalah dari Argentina lewat gol tunggal Cannigia membuat Lazaroni mundur. Lazaroni lengser, lenyap juga konsep “kontra jogo bonito”. Roberto Falcao, bintang seleccao’82 dan ’86 naik panggung dan mengembalikan ‘jogo bonito’. Tetapi Falcao tak mampu mengatasi ulah legiun Eropa yang sering terlambat berkumpul di TC seleccao. Hal ini memaksa Falcao memutuskan melupakan legiun Eropa dan hanya menggunakan pemain lokal. Ternyata inilah awal dari kegagalannya menukangi seleccao.
Sepakbola di Brazil sangat popular dan dimainkan dimana-mana. Setiap lelaki agaknya harus bisa main bola, atau jika dia cacat maka dia akan mahir main bola dengan lisan atau tulisannya. Setiap perempuan harus menyukai bola jika tidak ingin dikucilkan oleh kaum lelaki. Maka tidak heran, sepakbola menjadi urusan besar dan melebihi apa pun di Brazil, apalagi jika sudah menyangkut Timnas Selecao.
Frans Beckenbauer “sang kaizer’ Jerman, dalam satu kesempatan memuji Brazil sebagai “lumbung subur” yang selalu menghasilkan pemain dengan skill tinggi. “Melihat ini seharusnya Brazil tak perlu mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia, dia langsung saja lolos ke putaran final.” Katanya.
Dari zaman ke zaman, Brazil tak pernah kehabisan pemain hebat. Begitu juga jika menilai permainan tim, maka seleccao jika sudah memainkan “jogo bonito’ maka orang pun pasti memuji-muji.
Sepakbola seharusnya tidak cuma memikirkan menang atau kalah. Sepakbola harus bisa memperlihatkan jati diri sebagai olahraga terpopuler di muka bumi. Puncak semua pertandingan sepakbola ada di Piala Dunia, itu sebabnya dijuluki ‘the greatest show on earth’. Tidak heran jika semua tim, semua pelatih dan pemain, sangat ambisi untuk tampil di PD. Dan selama ini Brazil yang satu-satunya yang tak pernah absen, kehadirannya selalu mengundang penonton.
Fondasi sepakbola Brazil adalah kegilaan pemain terhadap bola. Lebih luas lagi, kegilaan seluruh isi negeri itu akan bola. Sejak usia dini, anak lelaki sudah tergila-gila pada si kulit bundar. Mereka meningkatkan skill individunya hanya agar bisa menguasai kulit bundar. Ada hubungan erat antara pemain dengan bola, hubungan yang tak mungkin bisa putus. Bola seakan sudah menyatu dengan roh mereka.
Carlos Alberto Parreira, pelatih yang mengantar selecao juara di USA’94 dalam FIFA Magazine edisi Agustus 1997 mengatakan bahwa gaya “jogo bonito” adalah “possession games”. Gaya ini asli Brazil karena memang karakteristik orang Brazil, dan gaya ini tak bisa ditemukan di negeri mana pun juga. Tidak juga di negeri Latin lainnya.
Tidak jelas entah kapan ‘jogo bonito’ mulai muncul, tetapi gaya ini berkembang terus dan dikembangkan. Dasar utamanya adalah skill pemain harus tinggi, dia harus mampu menjinakkan bola dalam situasi sesulit apa pun. Dan seperti kata Beckenbauer, Brazil setiap saat melahirkan banyak pemain dengan skill tinggi.
Sepakbola dari tahun ke tahun semakin ketat, keras dan terkadang tidak terhindarkan benturan keras yang mengakibatkan fisik cidera. Hampir tidak ada ruang bagi seorang pemain untuk memperlihatkan skill didalam permainan melainkan sudah ditackle atau dipress lawan.
Situasi ini bukannya mematikan permainan individu, bahkan pada banyak pemain justru menjadi motivasi meningkatkan skillnya untuk memanfaatkan ruang dengan imajinasi dan kreasinya. Pemain seperti ini punya kemampuan tinggi untuk mengubah permainan. Maka tidak heran, melihat skill pemain Brazil maka jogo bonito bisa dimainkan dengan penuh variasi.
Tidak ada suatu tim pun yang mampu mempertahankan tempo tinggi sepanjang 45 menit kali dua, begitu juga sebaliknya tak akan mampu bermain tempo lamban sepanjang dua babak. Bagi Brazil jogo bonito adalah jawaban yang tepat, sebab dengan banyak pemain berskill tinggi maka perubahan tempo bisa diatur sesuai kehendak, situasi dan lawan yang dihadapi.
Itu sebab seperti di PD 1982, 1986, 1994 dan 1998 dimana Brazil memainkan jogo bonito terlihat bagaimana peragaan individual pemain terpadu dalam kombinasi kerjasama yang memukau. Tempo pun bisa lamban, sangat lamban, lalu mendadak berubah cepat dan tinggi dimana semua pemain bergerak tanpa bola. Di luar lapangan pun fans Brazil ikut partisipasi dengan memukul gendang dalam irama samba mengikuti tempo main yang dikembangkan seleccao di lapangan. Pemandangan makin semarak dengan kehadiran gadis-gadis Brazil berpakaian minim berlenggok menari mengikuti irama gendang samba. Benar memang, bahwa jogo bonito cuma bisa dimainkan oleh Brazil.
Hanya sayang, keindahan jogo bonito terkadang membuat pemain lupa bahwa sepakbola butuh kemenangan, dan untuk menang harus mencetak gol. Padahal prinsip ini sudah ditanamkan Tim Brazil’70 dengan falsafahnya yang terkenal “mencetak gol lebih banyak dari lawan.” Di PD Mexico’70 itu selecao memainkan “attacking football” yang fantastis, menghantam semua lawan dan puncaknya melumat “cattenaccio Italia” 4-1 di grand-final yang menoreh sejarah emas Brazil.
Tahun 2002 di Korea/Jepang, Brazil dibawah pimpinan Scolari tak cuma sukses memenangkan gela dunia kelima kalinya sehingga dijuluki penta campeo, juga permainan jogo-bonito yang begitu gemulai tetapi mematikan diperlihatkan Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu Cs. Seluruh pecinta bola ikut menyaksikan peragaan jogo-bonito sepakbola indah ala Brazil sekali lagi. Tetapi kali ini, tuntutan publik Brazil lebih realistis. Mainkan sepakbola indah ala ‘jogo bonito’ tetapi sekaligus rebut gelar juara dunia itu. Dan pelatih Felipe Scolari jauh-jauh hari sudah menjanjikan gelar bagi Brazil, gelar ke-lima setelah 1958, 1962, 1970 dan 1994. Dan Scolari membuktikan ucapannya, Brazil juara di PialaDunia 2002. Sekarang ini di Afrika Selatan, Dunga menjanjikan kemenangan alias gelar juara ke-enam tanpa terikat oleh keharusan mainkan jogo bonito. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Benarkah Brazil Meninggalkan Jogo Bonito?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 15, 16, 17 Juni 2010
Pengantar :
Tidak dapat dipungkiri bahwa Brazil merupakan kiblat sepakbola dunia. Salah satu ciri khas yang membuat Brazil dijadikan kiblat sepakbola adalah prestasinya yang luar biasa, regenerasi pemainnya yang tak pernah putus, serta kreatifitas pelatih dan pemain untuk mengalahkan lawan. Semua itu dilakukan tim Brazil lewat permainan “jogo bonito” alias sepakbola cantik, yang tidak hanya untuk memenangi pertandingasn tetapi juga bagaimana caranya menang dengan indah. Belakangan tren sepakbola dunia cenderung defensif dan tidak enak ditonton. Mampukah Brazil menjagokan “jogo bonito” di tengah tren sepakbola bertahan yang makin mendunia? Ikutilah tiga tulisan berikut.
Di kualifikasi Piala Dunia 2002, Brazil nyaris gagal lolos. Pecinta sepakbola bahkan juga FIFA sempat jantungan ketika tim Samba itu terseok-seok dalam perburuan tiket ke PD 2002. Tetapi “thanks God” akhirnya Brazil lolos ke Piala Dunia. Tiket itu direbut Brazil pada pertandingan terakhir saat menjamu Venezuela di kandangnya sendiri Sao Luis, lewat dua gol striker Corinthians, Luizao dan satu dari bintang Barcelona, Rivaldo.
Lolosnya Brazil ini melegakan jutaan penggemar tim samba setelah sempat dibuat “jantungan” di dua pekan sebelumnya. Beberapa jam sebelumnya, tim panser Jerman juga lolos ke Piala Dunia setelah menang telak 4-1 dalam “play-off” lawan Ukraina di Dortmund. Bisa dibayangkan berapa banyak “lost money” (kerugian uang) yang dialami panitiya PD di Korea dan Jepang jika saja dua tim juara dunia ini –Brazil dan Jerman- gagal lolos.
Bicara kerugian penyelenggaraan Piala Dunia, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Yang bisa terjadi hanyalah keuntungan yang berkurang. Kejadian play-off Perancis vs Irlabdia, berembus rumor FIFA “memprotek” Perancis dan menolak tanding ulang meski jelas-jelas bahwa gol penentuan kemenangan William Gallas diawali “double handsball” Thierry Henry yang lalu mengumpan ke mulut gawang. Ketika pemain Irlandia sibuk mengangkat tangan isyarat terjadinya hansdsball saat itu William Gallas dengan mudahnya – tanpa terjaga dan tanpa reaksi lawan- menceploskan bola ke gawang Irlandia. Tamatlah Irlandia. Dalam lobi dan pertemuan FIFA diputuskan tak ada pertandingan ulang, artinya Perancis yang ke 2010. Bayangkan jika terjadi sebaliknya? Jika Perancis yang dirugikan, mungkin saja akan ada tanding ulang. Ujung rumor itu jika Perancis yang lolos ke 2010 lengkaplah 7 juara dunia, dan bukankah penonton fans Les Blues lebih banyak yang akan datang ke 2010 dibanding misalnya Irlandia yang lolos.
Akan halnya Brazil tampaknya beberapa kali mendapat kendala besar di babak kualifikasi Piala Dunia, hambatan klasik yakni sulitnya mendatangkan para bintangnya yang main di klub-klub Eropa. Kalaupun mereka mendapat ijin dari klubnya itupun hanya 4 hari sebelum pertandingan.
Ketika harus menang atas Bolivia, sepekan sebelum partai lawan Venezuela, kendala ini muncul. Rivaldo, Cafu, Roberto Carlos dll bergabung 4 hari sebelum hari pertandingan. Waktu yang sempit untuk berlatih, mungkin ini sebab kekalahan Brazil 1-3 dari Bolivia selain faktor tipisnya oksigen di ketinggian 3700 meter di kota La Paz. Namun betapapun juga akhirnya Brazil sang juara dunia 4 kali – tetra campeo- sudah sampai di PD 2002, seperti komentar sang pelatih Luis Felipe Scolari, “memang tidak mulus dan tampak berat, tetapi akhirnya kami sampai juga di tujuan.”
Kejadian nyaris gagal lolos, pernah dialami Brazil beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya. Kendalanya pun juga sama, sempitnya waktu berkumpul dari para pemain bintangnya terutama para legiun Eropa, menyebabkan kurang mampunya pelatih mengoptimalkan materi “legiun Eropa” yang letih akibat ketatnya kompetisi di Eropa.
Tahun 1978 Brazil nyaris gagal. Pada pertandingan awal PPD hasil draw 0-0 lawan Kolombia membuat berang semua orang Brazil terhadap timnya. Si Pelatih Oswaldo Brandao dikecam, dicaci dan dihujat yang buntutnya dilengserkan dari jabatannya. Padahal masih ada 3 pertandingan lain, dua partai lawan Paraguay dan satu lainnya lawan Kolombia. Pokoknya Brandao lengser dan digantikan Claudio Cautinho yang sukses membantai Kolombia 6-0 dan mengatasi Paraguay sehingga lolos ke Piala Dunia Argentina’78.
Tahun 1994 pun Brazil dibawah pelatih Carlos Alberto Pareira bersama penasehat tehnis merangkap asistennya Mario Zagalo sempat dilanda krisis. Bergabung bersama Bolivia, Ekuador, Uruguay dan Venezuela di grup B dengan catatan hanya dua tim yang lolos langsung, posisi Brazil di ujung tanduk. Kalah 0-2 dari Bolivia di La Paz membuat Parreira dikecam habis dan CBF didesak untuk memecatnya. Nama Tele Santana, pelatih yang kondang meramu tim samba di PD 1982 dan 1986 diangkat pers dan publik disebut paling cocok menggantikan Parreira. Tetapi kali ini CBF diketuai Ricardo Texeira ngotot mempertahankan Parreira, tentu saja dengan jaminan mempertaruhkan jabatan kursi CBF jika tim samba sampai gagal.
Carlos Alberto Parreira jalan terus. Menggasak Ekuador 2-0, Bolivia 6-0, Venezuela 4-0. Sampai pada penghujung jalan yakni partai ke-8 menghadapi Uruguay, posisi tiga tim Brazil, Uruguay dan Bolivia sama-sama nilai 10. Jika Brazil sampai kalah dari Uruguay, maka habis sudah sejarah kebesaran Brazil. Pada saat kritis, penasehat tehnis Mario Zagalo mengusulkan merekrut mesin gol Romario Faria.
CBF dan Parreira menolak. Zagalo ngotot bahwa cuma itu jalan keluar, harus ada mesin gol apalagi saat itu striker Bebeto tidak fit dan sayap kiri Branco belum pulih. Tawaran Zagalo diterima, dengan taruhan Zagalo yang bertangungjawab atas “anak nakal” Romario itu.
Tulisan (2) Published 16 Juni
Di PSV Eindhoven, Romario tampil sebagai top-scorer Liga Belanda dan di klub barunya Barcelona, Romario jadi andalan pelatih Johan Cruyff. Namun “ulah” kenakalannya yang membuat CBF dan Parreira merasa tak mampu mengatasinya.
Di kandang sendiri di stadion Maracana Rio de Janeiro disaksikan 110.000 pecintanya, tim samba yang hanya perlu hasil draw nyatanya tampil agresip dan mengepung pertahanan Uruguay dengan serangan bergelombang. Kapten Dunga, Rai, Zinho, Bebeto, dan Romario didukung Branco dan Jorginho dari dua sayap, mendominasi Uruguay yang diperkuat Daniel Fonseca, Ruben Sosa, maestro Enzo Francescoli.
Ternyata Romario yang berjaya, dua golnya memenangkan Brazil 2-0. Gol pertama Romario masih belum meyakinkan publik Maracana karena trauma sejarah grand-final Piala Dunia ’50 ketika Brazil meski mencetak gol lebih dahulu akhirnya kalah dari Uruguay. Baru setelah Romario mencetak gol kedua, trauma sejarah itu pun lenyap dan akhirnya Brazil lolos, maka Parreira pun dipuji-sanjung begitu juga Romario.
Sepakbola Brazil tak pernah sepi dari berita di koran. Timnas Brazil “seleccao” selalu menjadi sorotan utama. Itu sebab pelatih seleccao ibarat duduk di atas “bara api” yang sewaktu-waktu bisa membakar dirinya. Dalam satu sisi, tak dipungkiri bahwa pelatih seleccao bahkan lebih populer dari Presiden Brazil. Di warung-warung kopi semua orang bicara bola, tua muda, lelaki perempuan, tak ubahnya dengan para komentator di layar kaca, radio dan juga di koran-koran.
Tahun 1986 Tim Selecao juga dilanda krisis, nyaris gagal ke Piala Dunia. Sang pelatih, Evaristo de Macedo hampir tak punya harapan lagi untuk meloloskan Brazil ke Mexico’86. Bukan itu saja, gaya main tim selecao ramuan Macedo dinilai tidak indah dan kontra produktif. Jogo Bonito, sepakbola indah yang dimainkan penuh improvisasi tapi punya ketajaman yang selalu membuahkan gol. Macedo gagal memperlihatkannya.
Dari warung-warung kopi itulah, penonton yang setia mengeluarkan duit untuk mengawal tim samba bahkan sampai ke Eropa pun. Mereka inilah yang bersuara keras, mengecam Macedo, menghujat dengan lantang dan keras, Macedo harus dipecat. Harus dan harus ! Satu nama lain, Tele Santana diusung untuk menjadi pengganti.
Kenapa Santana ? Bukankah Santana sudah gagal di PD Spanyol’82. Tapi mereka punya alasan kuat. Santana hebat memainkan jogo bonito. Di Espana’82 sepakbola menyerang ala samba dalam kemasan pola 4-4-2 diakui sebagai jogo-bonito yang sama dahsyatnya, sama produktifnya dengan selecao 1970 ketika pelatih Mario Zagalo memenangkan PD di Mexico’70. Kegagalan seleccao merebut gelar juara PD’82 tidak membuat tim ramuan Santana ini dilupakan orang. Santana juga tidak pernah dicaci-maki publik bahkan semua orang Brazil larut berduka dengan kekagalan seleccao di Spanyol. Inilah bukti bahwa jogo-bonito ramuan Santana diterima masyarakat secara meluas.
Kehebatan suara publik pernah mewarnai nasib Mario Zagalo di tahun 1974. Zagalo membawa selecao berlaga di PD’74 di Munich, Jerman. Tidak cuma kalah dan gagal, tetapi tim itu bermain buruk dan sama sekali lupa akan jogo-bonito. Mau tahu apa perbuatan orang-orang dari warung-kopi itu ? Mereka mengancam akan menggantung Zagalo di alun-alun, tiada maaf bagi Zagalo.Mereka membakar patung kertas Zagalo padahal mereka juga tahu, bahwa Zagalo adalah pahlawan tim samba ketika sebagai penyerang sayap merebut PD 1958 dan 1962 dan sebagai pelatih memenangkan PD Mexico’70 dengan sepakbola menyerang yang sangat ampuh. Ancaman itu membuat Zagalo tidak berani pulang dan langsung hijrah melatih klub di Saudi Arabia.
Jika orang-orang di warung kopi itu bisa menerima kegagalan Tele Santana, suatu bukti bahwa tim seleccao di PD’82 memang hebat dan ampuh, hanya sayang tidak beruntung. Karenanya mereka ingin memberi kesempatan lagi kepada Santana untuk memperlihatkan jogo-bonito di Mexico’86.
Tuntutan orang-orang dari warung-kopi itu mengguncang kantor CBF yang akhirnya setuju, dan Macedo lengser digantikan Tele Santana. Kembali Santana meramu pola favoritnya 4-4-2 memperlihatkan jogo-bonito yang ampuh dengan beberapa bintang eks selecao’82 Zico,Socrates, Falcao, Cerezo, Eder yang kemudian sukses meloloskan selecao ke Mexico’86. Sayangnya di PD’86 kembali keberuntungan menjauh dari Santana, selecao gagal juara lantaran kalah adu pinalti dari Prancis di perempatfinal.
Orang-orang di cafĂ© itu memang punya suara lantang namun cenderung obyektif dan seringkali menolong seleccao keluar dari kesulitan. Ketika CBF memilih Sebastiano Lazaroni untuk menangani selecao ke PD’90, publik protes. Alasannya, konsep Lazaroni, bahwa jogo-bonito harus dilupakan. Jogo-bonito tak bisa bersaing menghadapi gaya keras dan disiplin “speed and power”. Tidak cuma itu, Lazaroni bahkan memainkan pola 3-5-2, mengubah tradisi seleccao 4-4-2 yang dikemas Santana.
Konsep Lazaroni ini masuk akal, secara teori seratus persen benar. Jika hendak merebut gelar PD maka Brazil harus siapkan pola main yang mampu mengimbangi tipe Eropa, dan itu hanya bisa dengan pola 3-5-2. Apalagi Lazaroni membuktikannya di lapangan, merebut Copa America 1989, gelar dan sukses yang pertama bagi Tim Brazil sejak 40 tahun silam.
Tulisan (3) published 17 Juni
Sukses Lazaroni ini ibarat membungkam mulut dan komentar miring dari publik yang terkenal gila bola itu. Namun itu baru di Copa America, ukuran sukses yang sesungguhnya ada di PD Italia’90.
Kenyataannya di Italia’90 selecao gagal, di perdelapanfinal kalah dari Argentina lewat gol tunggal Cannigia membuat Lazaroni mundur. Lazaroni lengser, lenyap juga konsep “kontra jogo bonito”. Roberto Falcao, bintang seleccao’82 dan ’86 naik panggung dan mengembalikan ‘jogo bonito’. Tetapi Falcao tak mampu mengatasi ulah legiun Eropa yang sering terlambat berkumpul di TC seleccao. Hal ini memaksa Falcao memutuskan melupakan legiun Eropa dan hanya menggunakan pemain lokal. Ternyata inilah awal dari kegagalannya menukangi seleccao.
Sepakbola di Brazil sangat popular dan dimainkan dimana-mana. Setiap lelaki agaknya harus bisa main bola, atau jika dia cacat maka dia akan mahir main bola dengan lisan atau tulisannya. Setiap perempuan harus menyukai bola jika tidak ingin dikucilkan oleh kaum lelaki. Maka tidak heran, sepakbola menjadi urusan besar dan melebihi apa pun di Brazil, apalagi jika sudah menyangkut Timnas Selecao.
Frans Beckenbauer “sang kaizer’ Jerman, dalam satu kesempatan memuji Brazil sebagai “lumbung subur” yang selalu menghasilkan pemain dengan skill tinggi. “Melihat ini seharusnya Brazil tak perlu mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia, dia langsung saja lolos ke putaran final.” Katanya.
Dari zaman ke zaman, Brazil tak pernah kehabisan pemain hebat. Begitu juga jika menilai permainan tim, maka seleccao jika sudah memainkan “jogo bonito’ maka orang pun pasti memuji-muji.
Sepakbola seharusnya tidak cuma memikirkan menang atau kalah. Sepakbola harus bisa memperlihatkan jati diri sebagai olahraga terpopuler di muka bumi. Puncak semua pertandingan sepakbola ada di Piala Dunia, itu sebabnya dijuluki ‘the greatest show on earth’. Tidak heran jika semua tim, semua pelatih dan pemain, sangat ambisi untuk tampil di PD. Dan selama ini Brazil yang satu-satunya yang tak pernah absen, kehadirannya selalu mengundang penonton.
Fondasi sepakbola Brazil adalah kegilaan pemain terhadap bola. Lebih luas lagi, kegilaan seluruh isi negeri itu akan bola. Sejak usia dini, anak lelaki sudah tergila-gila pada si kulit bundar. Mereka meningkatkan skill individunya hanya agar bisa menguasai kulit bundar. Ada hubungan erat antara pemain dengan bola, hubungan yang tak mungkin bisa putus. Bola seakan sudah menyatu dengan roh mereka.
Carlos Alberto Parreira, pelatih yang mengantar selecao juara di USA’94 dalam FIFA Magazine edisi Agustus 1997 mengatakan bahwa gaya “jogo bonito” adalah “possession games”. Gaya ini asli Brazil karena memang karakteristik orang Brazil, dan gaya ini tak bisa ditemukan di negeri mana pun juga. Tidak juga di negeri Latin lainnya.
Tidak jelas entah kapan ‘jogo bonito’ mulai muncul, tetapi gaya ini berkembang terus dan dikembangkan. Dasar utamanya adalah skill pemain harus tinggi, dia harus mampu menjinakkan bola dalam situasi sesulit apa pun. Dan seperti kata Beckenbauer, Brazil setiap saat melahirkan banyak pemain dengan skill tinggi.
Sepakbola dari tahun ke tahun semakin ketat, keras dan terkadang tidak terhindarkan benturan keras yang mengakibatkan fisik cidera. Hampir tidak ada ruang bagi seorang pemain untuk memperlihatkan skill didalam permainan melainkan sudah ditackle atau dipress lawan.
Situasi ini bukannya mematikan permainan individu, bahkan pada banyak pemain justru menjadi motivasi meningkatkan skillnya untuk memanfaatkan ruang dengan imajinasi dan kreasinya. Pemain seperti ini punya kemampuan tinggi untuk mengubah permainan. Maka tidak heran, melihat skill pemain Brazil maka jogo bonito bisa dimainkan dengan penuh variasi.
Tidak ada suatu tim pun yang mampu mempertahankan tempo tinggi sepanjang 45 menit kali dua, begitu juga sebaliknya tak akan mampu bermain tempo lamban sepanjang dua babak. Bagi Brazil jogo bonito adalah jawaban yang tepat, sebab dengan banyak pemain berskill tinggi maka perubahan tempo bisa diatur sesuai kehendak, situasi dan lawan yang dihadapi.
Itu sebab seperti di PD 1982, 1986, 1994 dan 1998 dimana Brazil memainkan jogo bonito terlihat bagaimana peragaan individual pemain terpadu dalam kombinasi kerjasama yang memukau. Tempo pun bisa lamban, sangat lamban, lalu mendadak berubah cepat dan tinggi dimana semua pemain bergerak tanpa bola. Di luar lapangan pun fans Brazil ikut partisipasi dengan memukul gendang dalam irama samba mengikuti tempo main yang dikembangkan seleccao di lapangan. Pemandangan makin semarak dengan kehadiran gadis-gadis Brazil berpakaian minim berlenggok menari mengikuti irama gendang samba. Benar memang, bahwa jogo bonito cuma bisa dimainkan oleh Brazil.
Hanya sayang, keindahan jogo bonito terkadang membuat pemain lupa bahwa sepakbola butuh kemenangan, dan untuk menang harus mencetak gol. Padahal prinsip ini sudah ditanamkan Tim Brazil’70 dengan falsafahnya yang terkenal “mencetak gol lebih banyak dari lawan.” Di PD Mexico’70 itu selecao memainkan “attacking football” yang fantastis, menghantam semua lawan dan puncaknya melumat “cattenaccio Italia” 4-1 di grand-final yang menoreh sejarah emas Brazil.
Tahun 2002 di Korea/Jepang, Brazil dibawah pimpinan Scolari tak cuma sukses memenangkan gela dunia kelima kalinya sehingga dijuluki penta campeo, juga permainan jogo-bonito yang begitu gemulai tetapi mematikan diperlihatkan Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu Cs. Seluruh pecinta bola ikut menyaksikan peragaan jogo-bonito sepakbola indah ala Brazil sekali lagi. Tetapi kali ini, tuntutan publik Brazil lebih realistis. Mainkan sepakbola indah ala ‘jogo bonito’ tetapi sekaligus rebut gelar juara dunia itu. Dan pelatih Felipe Scolari jauh-jauh hari sudah menjanjikan gelar bagi Brazil, gelar ke-lima setelah 1958, 1962, 1970 dan 1994. Dan Scolari membuktikan ucapannya, Brazil juara di PialaDunia 2002. Sekarang ini di Afrika Selatan, Dunga menjanjikan kemenangan alias gelar juara ke-enam tanpa terikat oleh keharusan mainkan jogo bonito. ***
World Cup 2010 Serial (12)
Serial World Cup 2010 (12)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Brazil vs Korea Utara
Ujian Bagi Pragmatisme Dunga
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 15 Juni 2010
Sebenarnya Brazil bukanlah tim yang paling hebat di planet bumi saat ini. Juga di masa lalu ketika anak-anak samba itu merangsek memenangkan banyak pertandingan. Kaka, Luis Fabiano dan Robinho tidak lebih hebat dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wesley Snijder, Xavi, Fernando Torres atau Wayne Rooney. Secara permainan Brazil pun tidak lebih hebat dari Italia, Spanyol, Jerman, Inggeris atau Belanda. Artinya Brazil bukanlah tim superior, samba masih bisa dikalahkan. Diego Maradona, musuh “lawas” Brazil menaruh respek pada Brazil tetapi ngidam pertemuan dengan Brazil di 2010, revanche kekalahan Argentina di zone Conmebol, dan mengalahkannya. “Sangat indah dan nikmat jika tim Anda bisa menang atas Brazil.” Katanya.
Ketika tahun 1994 Carlos Alberto Parreira yang didampingi “sang guru” Mario Zagallo sebagai asistennya, mulai melupakan jogo bonito, orang Brazil marah. Seperti juga pengalaman 4 tahun sebelumnya ketika samba ditukangi Sebastiao Lazaroni. Di stadion Delle Alpi, stadion kebanggaan Juventus, Brazil yang menguasai permainan akhirnya tumbang oleh Argentina yang menerapkan taktik defensif. Diego Maradona mencak-mencak saking senangnya, sementara Dunga tertunduk lesu. Rakyat Brazil mencaci Lazaroni dan pemain pilar Dunga. “Itu akibatnya kalau tidak main jogo bonito!” Teriak pers waktu itu (1990).
Tetapi Parreira dan Zagallo menjawab ketus dengan gelar juara 1994, setelah Brazil melalui hampir seperempat abad tanpa gelar dunia, terakhir di Mexico’70. Publik yang mengecamnya, ganti memuji selangit. Siapa pemain pilarnya, kaptennya? Dunga, kaptennya. Dunga “biang kerok” yang melupakan jogo bonito. Tahun 1990 dia gagal. Tahun 1994 dia menang, keduanya tanpa jogo bonito!
Permainan Brazil selalu dikaitkan dengan jogo bonito, sepakbola indah. Inspirasi Brazil dengan pantainya yang indah, wanita sexy berbikini mondar mandir di pantai, ratusan gadis cantik di festival Rio yang memesona, iklim tropisnya yang memancing turis berjemur matahari, semua itu manisfestasi keindahan. Main sepakbola juga harus seindah itu, jogo bonito.Cantik dan indah bagaikan “canarinhos” (si kecil burung kenari) yang cantik dan indah, julukan bagi tim samba selain “a seleccao” (the selection) dan “verde amarela” kostum yellow and green yang ngepas (agak ketat) di badan dan tampak sexy.
Tahun 2002 Luis Felippe Scolari melontarkan komentar yang memancing reaksi marah publik. “Lupakan jogo bonito, main untuk menang, itu lebih penting, kalau perlu main keras dan dapat kartu kuning tetapi memenangkan pertandingan.”
Rakyat Brazil marah. Luis Scolari bergeming. Jalan terus! Hasilnya apa? Gelar juara ke-lima, penta campeon! Ketika CBF (Federasi Brazil) di bulan Agustus 2006 menunjuk Carlos Caetano Bledom Verri alias Dunga sebagai pelatih “seleccao” kritik pun menimpa dirinya. Jogo bonito kembali dipersoalkan. Dunga memberi hasil, Copa America 2007 dan Condeferations Cup 2009, memuncaki kualifikasi zone Conmebol, keadaan pun berubah. Apalagi setelah para pemain mendukung penuh Dunga.
Brazil kini lebih pragmatis. Datang ke 2010 dengan kekuatan penuh pilihan Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil. Kemarin dia memastikan kiper utama Julio Cesar sudah recovery dan fit untuk main di laga perdana lawan Korea Utara.
Skema main 4-2-3-1 dengan Lluis Fabiano di depan sendirian, di belakangnya trio Robinho, Kaka dan Ramires. Gelandang bertahan mungkin Gilberto Silva veteran 2002 dan Elano, serta empat belakang Maicon, Lucio, Juan dan Alves. Pola ini memungkinkan trio Kaka, Robinho dan Ramires bergerak bebas. Adanya dua defensive midfield tampaknya untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua wing-back saat naik menyerang. Pemain pilar yang sudah pasti masuk line up starter, Cesar, Maicon, Lucio, Kaka, Robinho dan Luis Fabiano. Nama lain masih bisa berubah tergantung strategi Dunga.
Penampilan skuad Dunga akan dilihat malam nanti menghadapi Korea Utara. Kekuatan Asia Timur ini cukup misterius. Sebaiknya Brazil wspada dan tidak meremehkan. Tim asuhan Kim Jong-Hun, menekankan pada kerja kolektif, kesatuan yang kuat di lapangan tengah, perjuangan keras merebut bola dan menahan laju lawan, serangan balik yang didukung pemain sayap yang cepat, mental tanding yang tangguh, determinasi dan tekad besar untuk menang, bertarung dalam satu kesatuan, pertahanan yang ultra defensif apalagi jika berhasil mencuri gol lebih awal.
Korea Utara yang dijukuki pasukan “chollima” pernah membuat sensasi besar di Piala Dunia 1966. Mereka kalah 0-3 dari Russia lalu menahan Cili 1-1 dan menekuk Italia 1-0 untuk melaju ke perempat final dimana mereka unggul 3-0 atas Portugal tetapi bintang kelahiran Mozambik, Eusebio, mencetak empat gol dan membalik skor menjadi 3-5 sekaligus mengirim pulang pasukan “chollima” itu.
Menghadapi 2010 Korea Utara berlatih Oktober lalu di Nantes Perancis dimana main draw 0-0 dengan Congo, mereka juga main di Amerika Selatan, Tengah, Afrika dan Eropa. Mereka datang mengusung spirit tahun 1966 tapi dikemas dalam skema main yang defensif dan mengandalkan serangan balik yang cepat.
Kekalahan sensasional Italia 44 tahun lalu itu suatu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Setelah prestasi gemilang itu Korea Utara absen dan baru muncul lagi di pentas dunia tahun 2010 ini. Kini pasukan “chollima” itu datang lagi dengan misi negara, mengulang sejarah 1966 bahkan harus leih hebat lagi. Kalahkan Brazil!
Pertandingan ini menarik. Karena pers dan dunia ingin tahu, sehebat apakah Brazil bisa mengatasi perjuangan anak-anak negeri komunis yang main tanpa beban. Di atas kertas Korea Utara chollima akan kalah, jadi tak ada salahnya main “lepas tanpa beban”, siapa tahu bisa menang. Kemenangan atas Brazil, si lima kali juara dunia akan menjadi catatan sejarah emas dan abadi bagi pasukan “chollima” asuhan Kim Jong-Hun. ***
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Brazil vs Korea Utara
Ujian Bagi Pragmatisme Dunga
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 15 Juni 2010
Sebenarnya Brazil bukanlah tim yang paling hebat di planet bumi saat ini. Juga di masa lalu ketika anak-anak samba itu merangsek memenangkan banyak pertandingan. Kaka, Luis Fabiano dan Robinho tidak lebih hebat dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wesley Snijder, Xavi, Fernando Torres atau Wayne Rooney. Secara permainan Brazil pun tidak lebih hebat dari Italia, Spanyol, Jerman, Inggeris atau Belanda. Artinya Brazil bukanlah tim superior, samba masih bisa dikalahkan. Diego Maradona, musuh “lawas” Brazil menaruh respek pada Brazil tetapi ngidam pertemuan dengan Brazil di 2010, revanche kekalahan Argentina di zone Conmebol, dan mengalahkannya. “Sangat indah dan nikmat jika tim Anda bisa menang atas Brazil.” Katanya.
Ketika tahun 1994 Carlos Alberto Parreira yang didampingi “sang guru” Mario Zagallo sebagai asistennya, mulai melupakan jogo bonito, orang Brazil marah. Seperti juga pengalaman 4 tahun sebelumnya ketika samba ditukangi Sebastiao Lazaroni. Di stadion Delle Alpi, stadion kebanggaan Juventus, Brazil yang menguasai permainan akhirnya tumbang oleh Argentina yang menerapkan taktik defensif. Diego Maradona mencak-mencak saking senangnya, sementara Dunga tertunduk lesu. Rakyat Brazil mencaci Lazaroni dan pemain pilar Dunga. “Itu akibatnya kalau tidak main jogo bonito!” Teriak pers waktu itu (1990).
Tetapi Parreira dan Zagallo menjawab ketus dengan gelar juara 1994, setelah Brazil melalui hampir seperempat abad tanpa gelar dunia, terakhir di Mexico’70. Publik yang mengecamnya, ganti memuji selangit. Siapa pemain pilarnya, kaptennya? Dunga, kaptennya. Dunga “biang kerok” yang melupakan jogo bonito. Tahun 1990 dia gagal. Tahun 1994 dia menang, keduanya tanpa jogo bonito!
Permainan Brazil selalu dikaitkan dengan jogo bonito, sepakbola indah. Inspirasi Brazil dengan pantainya yang indah, wanita sexy berbikini mondar mandir di pantai, ratusan gadis cantik di festival Rio yang memesona, iklim tropisnya yang memancing turis berjemur matahari, semua itu manisfestasi keindahan. Main sepakbola juga harus seindah itu, jogo bonito.Cantik dan indah bagaikan “canarinhos” (si kecil burung kenari) yang cantik dan indah, julukan bagi tim samba selain “a seleccao” (the selection) dan “verde amarela” kostum yellow and green yang ngepas (agak ketat) di badan dan tampak sexy.
Tahun 2002 Luis Felippe Scolari melontarkan komentar yang memancing reaksi marah publik. “Lupakan jogo bonito, main untuk menang, itu lebih penting, kalau perlu main keras dan dapat kartu kuning tetapi memenangkan pertandingan.”
Rakyat Brazil marah. Luis Scolari bergeming. Jalan terus! Hasilnya apa? Gelar juara ke-lima, penta campeon! Ketika CBF (Federasi Brazil) di bulan Agustus 2006 menunjuk Carlos Caetano Bledom Verri alias Dunga sebagai pelatih “seleccao” kritik pun menimpa dirinya. Jogo bonito kembali dipersoalkan. Dunga memberi hasil, Copa America 2007 dan Condeferations Cup 2009, memuncaki kualifikasi zone Conmebol, keadaan pun berubah. Apalagi setelah para pemain mendukung penuh Dunga.
Brazil kini lebih pragmatis. Datang ke 2010 dengan kekuatan penuh pilihan Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil. Kemarin dia memastikan kiper utama Julio Cesar sudah recovery dan fit untuk main di laga perdana lawan Korea Utara.
Skema main 4-2-3-1 dengan Lluis Fabiano di depan sendirian, di belakangnya trio Robinho, Kaka dan Ramires. Gelandang bertahan mungkin Gilberto Silva veteran 2002 dan Elano, serta empat belakang Maicon, Lucio, Juan dan Alves. Pola ini memungkinkan trio Kaka, Robinho dan Ramires bergerak bebas. Adanya dua defensive midfield tampaknya untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua wing-back saat naik menyerang. Pemain pilar yang sudah pasti masuk line up starter, Cesar, Maicon, Lucio, Kaka, Robinho dan Luis Fabiano. Nama lain masih bisa berubah tergantung strategi Dunga.
Penampilan skuad Dunga akan dilihat malam nanti menghadapi Korea Utara. Kekuatan Asia Timur ini cukup misterius. Sebaiknya Brazil wspada dan tidak meremehkan. Tim asuhan Kim Jong-Hun, menekankan pada kerja kolektif, kesatuan yang kuat di lapangan tengah, perjuangan keras merebut bola dan menahan laju lawan, serangan balik yang didukung pemain sayap yang cepat, mental tanding yang tangguh, determinasi dan tekad besar untuk menang, bertarung dalam satu kesatuan, pertahanan yang ultra defensif apalagi jika berhasil mencuri gol lebih awal.
Korea Utara yang dijukuki pasukan “chollima” pernah membuat sensasi besar di Piala Dunia 1966. Mereka kalah 0-3 dari Russia lalu menahan Cili 1-1 dan menekuk Italia 1-0 untuk melaju ke perempat final dimana mereka unggul 3-0 atas Portugal tetapi bintang kelahiran Mozambik, Eusebio, mencetak empat gol dan membalik skor menjadi 3-5 sekaligus mengirim pulang pasukan “chollima” itu.
Menghadapi 2010 Korea Utara berlatih Oktober lalu di Nantes Perancis dimana main draw 0-0 dengan Congo, mereka juga main di Amerika Selatan, Tengah, Afrika dan Eropa. Mereka datang mengusung spirit tahun 1966 tapi dikemas dalam skema main yang defensif dan mengandalkan serangan balik yang cepat.
Kekalahan sensasional Italia 44 tahun lalu itu suatu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Setelah prestasi gemilang itu Korea Utara absen dan baru muncul lagi di pentas dunia tahun 2010 ini. Kini pasukan “chollima” itu datang lagi dengan misi negara, mengulang sejarah 1966 bahkan harus leih hebat lagi. Kalahkan Brazil!
Pertandingan ini menarik. Karena pers dan dunia ingin tahu, sehebat apakah Brazil bisa mengatasi perjuangan anak-anak negeri komunis yang main tanpa beban. Di atas kertas Korea Utara chollima akan kalah, jadi tak ada salahnya main “lepas tanpa beban”, siapa tahu bisa menang. Kemenangan atas Brazil, si lima kali juara dunia akan menjadi catatan sejarah emas dan abadi bagi pasukan “chollima” asuhan Kim Jong-Hun. ***
Subscribe to:
Posts (Atom)