Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 29
Dua wanita itu terkejut, serempak ikut berlari, mengejar.
Wisang Geni melompat nyebur ke kolam dingin. Lama dia menyelam di dasar kolam. Tidak terlihat oleh dua isterinya. Apa yang dia lakukan?
Dua isterinya kehilangan jejak. “Kemana dia?” Tanya Atis.
“Itu dia!” Seru Sekar.
Tampak kepala Wisang Geni muncul di kolam panas, lalu menyelam lagi. Seketika dua wanita muda itu saling pandang, lalu tertawa dan berpelukan. Senang hati mereka melihat besarnya semangat sang suami. Keruan saja Sekar dan Atis gembira.
Keinginan melatih wiwaha muncul dan menggebu, dia nyebur ke kolam dingin, menyelam ke dasar kolam. Rasa dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Dia sudah pernah berada disitu dan merasakan dingin yang hebat. Yakin bisa bertahan dia menyelam sampai ke pusat pojokan kolam dimana sumber panas dan sumber dingin berasal.
Inti ilmu wiwaha adalah menyerap panas dan dingin dari luar tubuh dan meresapkannya ke dalam tubuh, lalu mengelolanya menjadi tenaga-dalam. Jurus satu tepung ropoh sambung kalen artinya mengawinkan dua unsur yang bertetangga. Dia masih ingat cara melatihnya.
Dia berdiri dan bertumpu pada ibu jari kaki, dua kaki lurus dengan dengkul ditekuk, dua tangan terentang ke samping. Di kolam dingin, dua tangan terentang dan digerak-gerakkan ke arah dalam sampai menyentuh dada. Dia mentas dan berganti di kolam panas dengan gerakan kebalikan, gerak tangan dan dengkul yang ditekuk dilakukan dengan lambat, makin lambat makin sempurna.
Berganti di kolam dingin, tangan bergerak dari dada kearah luar sampai terentang, sedang di kolam panas gerak kebalikannya. Penyempurnaan jurus satu dilakukan di udara terbuka. Dulu dia menyelesaikan latihan dalam waktu dua puluh enam hari, sekarang ini hanya satu hari dia telah merasakan tenaga wiwaha berputar-putar disekujur tubuhnya.
Seketika Wisang Geni tahu sebabnya. Itulah sebab tenaga wiwaha sudah ada ditubuhnya, tidak pernah punah. Dan latihan sekarang hanya mengulang kembali, menyatukan serpihan yang terpencar. Dia makin semangat. Dia menyelesaikan latihan disore hari.
Dua isterinya setia menununggu di mulut goa dengan santapan malam.
Malam hari ketika dua isterinya pulas di goa, Wisang Geni sudah menghilang. Menuju kolam. Dia berlatih.
“Hebat, benar-benar keajaiban, tenagaku sudah pulih.” Gumamnya dalam hati.
Hari Tujuh
Siang itu sehabis makan. Wisang Geni kembali berlatih di kolam. Sekar duduk di tepi kolam, bersila disamping kera besar dan beberapa kera yang membawa buah merah.
Atis sibuk dengan pekerjaannya di tebing dekat goa.
Atis sedang meningkat birahi. Tubuhnya ramping seksi, bicaranya gandes dan luwes, agak kekanak-kanakan. Setiap gerak ulahnya pantas. Kelihatannya seperti acuh tak acuh, padahal sebenarnya dia menaruh perhatian sepenuhnya. Dia cerdas, dan sangat bijaksana, tanggap ing sasmita artinya meski diberi isyarat sedikit saja dia akan mengetahui apa yang dimaksud.
Diluar dia tampak tabah, tetapi dalam hati dia menangis.
Hatinya tercabik-cabik setiap saat memandang suaminya, begitu dekat tetapi juga sangat jauh. Dia mengharap sentuhan suaminya tetapi laki-laki itu tak pernah mendekatinya. Dia berpisah dengan Wisang Geni di lereng gunung Argo, menantinya selama tiga puluh hari dengan rindu dan kasmaran yang hampir-hampir tidak tertahankan.
Dia masih perawan, usia tujuhbelas, baru pertama mengenal persanggamaan. Berhari-hari dia memadu cinta dengan Wisang Geni, lalu mendadak si suami pergi. Tidak heran jika tubuhnya menuntut sentuhan dan belaian suaminya.
Tak sanggup bertahan dari kasmaran, dia putuskan lari dari rumah kakek Sagotra, pergi mencari suaminya. Pertemuan dengan Sekar dan Wisang Geni di kuil berlanjut perjalanan menuju gunung Lejar. Beberapa hari di lembah, dia mendapatkan kejantanan suaminya hilang. Bukan alang kepalang sedihnya. Tetapi kemudian dia melihat suaminya pulih.
Dia tidak mendengar percakapan Sekar dan suaminya, tetapi dia tanggap ing sasmita, tahu dua insan itu bercinta. Dia gembira, mengetahui kejantanan Wisang Geni sudah pulih, dia tidak iri akan kesenangan Sekar, baginya Sekar adalah penolongnya. Tetapi dia tak sanggup menahan diri, rasa birahi melonjak dan menendang-tendang dadanya.
Keadaan Atis tidak luput dari pengamatan Sekar. Ketika suaminya selesai berlatih, Sekar berkata. “Mas, Atis itu isterimu. Dia merindu kamu, gauli dia. Biar aku berlatih di luar.”
Diluar goa, Sekar memeluk Atis dari belakang. “Tis, masuklah kedalam goa, suamimu menanti. Aku akan berlatih silat diluar.”
Atis menoleh memandang wajah Sekar. Tiba-tiba Atis memeluk. “Mbakyu, terimakasih, kamu memberiku kesempatan.”
“Tis dia suamimu, suamiku, suami kita. Kamu isterinya, masuklah.” Tangan Sekar menepuk pantat semok Atis.
Atis melangkah masuk goa. Jantungnya berdebar keras. Bagaikan pengantin wanita yang masih perawan menanti dengan hati yang berdebar akan sentuhan suaminya.
Hari Sembilan
Wisang Geni berlatih tanpa kenal lelah. Dia menikmatinya. Karenanya cepat sekali dia telah memulihkan tenaga wiwaha seperti sediakala.
Jurus dua kitrang raja pati (pertengkaran hebat tentang bahaya maut yang mengancam) dulunya diselesaikan sembilan belas hari, sekarang pun hanya setengah hari.
Jurus tiga ngrupak jajahaning mungsuh (mempersempit dan melemahkan kekuatan musuh). Pada tingkat ini, dia berlatih bergantian di kolam dingin, kolam panas dan di udara terbuka. Mulainya penyesuaian dua unsur kolam, panas dan dingin dengan udara di luar kolam yang cuacanya berubah-ubah. Dulu enam belas hari, sekarang hanya setengah hari.
Jurus empat pethuk ati golong pikir (bersatunya hati, pikiran, tekad dengan perbuatan). Pada tingkat akhir ini, dua unsur panas dan dingin yang saling berlawanan itu sudah menyatu dengan pikiran dan tenaga batin. Sewaktu pikiran ingin mengeluarkan tenaga dingin, saat itu juga tenaga dingin muncul menyebar ke seluruh tubuh. Begitu pun tenaga panas.
Wisang Geni sudah menyelesaikan latihannya, mengembalikan tenaga wiwaha ke kondisi semula. Pemulihan tenaga wiwaha ternyata sangat cepat. Dia masih ingat dulu memerlukan waktu sembilanpuluh hari untuk melatih empat jurus wiwaha. Tetapi sekarang ini dia hanya butuh dua hari, itu diluar dugaannya.
Siang itu, Sekar dan Atis tampak bahagia, selama dua hari menyaksikan perkembangan suaminya berlatih.
“Dia bersemangat. Pagi ini latihannya rampung, tenaga-dalam wiwaha sudah pulih sediakala.” Bisik Atis yang duduk sila, Sekar berbaring dengan kepalanya dipangkuan Atis. Tangan wanita muda itu memijit-mijit kepala Sekar sambil mencari kutu.
“Tis. Kamu janji mau melukis bunga mawar didadaku, kapan kamu kerjakan?”
“Bahan-bahan sudah siap. Jadi terserah kamu, maunya kapan.”
“Berapa lama kamu melukis? Seharian?” Tanya Sekar.
“Tidak lama. Siang hari ini juga selesai. Kita bisa masak dan makan siang bersama mas Geni. Semuanya sudah kusiapkan.”
“Eh kamu belajar dimana melukis, bahkan bisa melukis ditubuh orang?”
Atis tertawa. “Dari kakak Mei Hwa, isteri Manjangan Puguh. Gambar bunga mawar di perutku dekat pusar dia yang lukis.” Atis membuka sebagian kebayanya, memperlihatkan lukisan bunga mawar warna merah tua. ”Bagus?” Dia bertanya.
“Iya bagus.” Sekar diam sejenak, seperti berpikir. “Aku mau gambar mawar sama seperti punyamu tapi warnanya lain, merah muda. Di Payudara bagaimana?”
Atis menyingkap kebaya Sekar. “Payudaramu bagus, cocok dengan gambar mawar merah muda. Tapi sebaiknya di bawah pusar seperti punyaku, tempat itu yang paling cocok dan merangsang suamimu. Nanti kugambar paling bagus.”
“Ayo kerjakan sekarang saja! Dibawah pusar yah.” Seru Sekar gembira. Dia bangkit, menarik tangan Atis. Mereka berlari menuju goa.
Matahari condong ke Barat Wisang Geni menghampiri dua istrinya yang setia menunggu di tepi kolam. “Tenaga wiwaha sudah pulih sediakala. Tinggal sekarang aku melatih kembali jurus-jurus yang dulu pernah kugunakan.” Ujar Wisang Geni kepada dua isterinya.
Dua isterinya tampak berbahagia.
“Ayo mbakyu kita keroyok mas Geni.” Tukas Atis.
Dua wanita itu mengeroyok suaminya. Pada mulanya Wisang Geni kewalahan, namun makin lama makin mulus. Pada jurus keseratus dia mulai mempermainkan dua isterinya. Bokong Atis dan Sekar dipukul berulang kali. Seharian mereka berlatih dan bercanda-ria, sekali-sekali Wisang Geni memberi petunjuk terutama pada Atis.
Selesai sudah tahapan mengembalikan tenaga wiwaha dan jurus-jurus ilmu silatnya. Dia gembira. Malamnya tiga insan itu tiduran sambil mengobrol.
“Kurasa tenaga wiwaha meningkat dibanding dulu. Sekarang tenaga-dalam makin cepat tersalur dan makin bertenaga.” Kata Wisang Geni.
“Rasanya aneh guru Lalawa hanya mewariskan wiwaha saja, seharusnya ada jurus-jurus yang melengkapi?” Atis mencetus apa yang dipikirnya.
“Benar pasti ada jurus-jurusnya, dulu kamu buru-buru mau keluar dari lembah atau saking girangnya telah menguasai wiwaha sehingga tidak mencari lebih teliti.” Kata Sekar.
Wisang Geni tertegun. Dia berusaha mengingat pengalaman waktu menemukan lukisan di dasar kolam kemudian menemukan batu hitam. Dia masih ingat tulisan di batu hitam itu, petunjuk melatih tenaga-dalam.
Tidak ada yang aneh. Dia ingat lukisan duabelas orang dalam berbagai posisi. Ada tulisan bahasa Sansekerta. “Dari ujung kolam menuju ukiran kera di tebing, di tengah jarak itu aku menyimpan jurus wiwaha ciptaanku, aku Lalawa, pendekar tanpa tandingan.”
Saat itu dia ingat sesuatu, ada tulisan dan lukisan kecil yang terpisah. Dulu dia tak begitu memperhatikan karena pikirannya tersita pada duabelas lukisan berikut pelajaran semedi. Tapi tulisan itu ada, begitu juga lukisan. Tiba-tiba dia melompat dan lari keluar goa. Dua isterinya cepat-cepat mengenakan pakaian seadanya, ikut membuntuti suaminya.
Mereka melihat Wisang Geni nyebur ke kolam dingin.
“Ada apa?” Tanya Sekar pada Atis.
“Pasti dia teringat sesuatu!” Sahut Atis.
Wisang Geni menyelam sampai di dasar kolam dingin dimana batu putih yang bersinar itu berada. Dia meneliti lukisan dan huruf-huruf, satu demi satu. Dia mentas ke permukaan, lalu balik lagi menyelam.
Lalu matanya menemukan apa yang dicari. Lukisan kelelawar sedang bergantungan. Ada tulisan “dikolam empat jadi satu, di goa enam jadi satu, lalawa tak ada tandingan, mengepak sayap menembus awan.”
Saat berikut dia mentas ke permukaan. Dia tertawa senang melihat dua isterinya duduk di tepi kolam. “Benar, ada jurus yang ditinggalkan guru, besok kita cari tempat simpanannya.” Suara Wisang Geni terdengar senang, ada semangat dan harapan.
Hari Sepuluh
Pagi hari Wisang Geni mengajak dua isterinya kebongkahan batu besar. Mereka berdiri memandang tebing yang menjulang seakan menembus awan. Tak ada ujungnya. Hanya kabut yang bergantung bagaikan payung putih besar menutup lembah. “Lihat. Bongkahan batu yang agak menonjol, sudah lihat?” Wisang Geni menunjuk keatas tebing.
Setelah beberapa saat Sekar dan Atis melihat apa yang dimaksud suaminya. “Iya, aku bisa melihatnya.” Tukas Sekar.
“Kira-kira dua tombak dibawah batu itu, ada celah. Itulah goa yang kumaksud dimana guruku semedi sampai dia moksa.” Kata Wisang Geni.
Sekar menggeleng kepala. “Tak mungkin aku bisa mendaki, tak ada tempat berpijak dan berpegangan di tebing yang begitu rata dan licin.”
“Tetapi mas Geni pernah kesana,” kata Atis tanpa menjelaskan apa maksudnya.
“Celah itu sempit, cukup untuk satu orang tiduran. Tetapi kita bertiga bisa saja berjejal tetapi hanya duduk sila, itupun salah seorang akan berada diambang goa.” Wisang Geni diam sesaat kemudian melanjutkan penuturannya. “Kita memanjat lewat jalan putar. Begitu tiba di bongkahan batu, kita bisa merosot pelan-pelan dan memijak kaki di goa.”
Atis meremas-remas tangan Sekar. “Aku tak mampu, aku tak perlu ikut.”
“Iya mas, mungkin kamu sendiri saja yang keatas.” Sekar memperkuat usul Atis.
“Tidak bisa. Kalian harus ikut naik!” Tegas Wisang Geni.
Tiba-tiba Sekar berseru. “Tali! Kita gunakan bantuan tali yang kemarin.”
“Iya pake tali. Aku bisa naik kalau pake tali.” Seru Atis gembira. Dia berlari ke goa.
Sekar menarik-narik tali, menguji kekuatannya. “Masih ulet! Bisa digunakan!”
Menggunakan ringan tubuh waringin sungsang dan tenaga wiwaha dalam sepenanakan nasi Wisang Geni bisa mencapai bongkahan batu yang dimaksud. Menggunakan tali satu persatu dia mengayun isterinya masuk ke goa. Kemudian menggunakan tenaga wiwaha dia merosot turun dan memijak kaki di goa. Mereka bertiga berjejal.
Atis masih gemetaran, memandang kebawah. Hanya tampak pepohonan kecil. “Aku dibagian dalam goa.” Katanya agak takut.
Wisang Geni dan Sekar duduk sila berdesakan dimulut goa. Atis di bagian dalam, berdiri memandang langit-langit goa. Dia membaca tulisan di dinding goa.
“Kamu pasti telah menguasai ilmu wiwaha. Kurestui kamu sebagai muridku, aku penemu dan pencipta jurus wiwaha di lembah kera ini. Aku mengembara dan tarung puluhan tahun, tak seorang bisa bertahan lebih dari dua puluh jurus. Aku tak punya tandingan. Aku kesepian, tak punya lawan tak punya kawan. Semua orang takut padaku, juga takut menjadi kawanku. Aku kembali ke lembah ini, mewariskan wiwaha entah siapa yang menemukannya. Selamat tinggal muridku. Gurumu, Lalawa.”
“Ilmu silatnya hebat, tidak heran kamu juga hebat,” puji Atis.
Atis yang menunjuk celah dipojokan atas. “Lihat ada tulisan dan gambar, kecil sekali.”
“Biar kugendong kamu, lihat yang teliti.” Wisang Geni memegang bokong isterinya dan mengangkat tubuhnya.
“Benar. Gambar lalawa dengan sayap merentang.” Seru Atis. “Ada celah sempit, diatasnya. Kelihatannya ada sesuatu didalamnya.” Tambahnya.
“Biar kuangkat lagi.” Wisang Geni mengangkat tubuh langsing isterinya.
Atis berseru girang. “Aku temukan sesuatu yang halus empuk, mungkin kain atau kulit.”
Wisang Geni ingat dia pernah menemukan kulit tipis digoa ini yang dia gunakan untuk membungkus tulang-tulang gurunya. “Hati-hati, itu kulit tipis, usianya sudah seratus tahun lebih. Meskipun menggunakan ramuan pengawet tapi bisa saja sudah lapuk. Kamu bisa mengambilnya?”
“Aku takut rusak. Mbakyu saja yang ambil.” Kata Atis.
Dua wanita itu bertukar posisi. Kini Sekar yang diangkat suaminya.
“Sudah kudapat. Benar, ini kulit tipis, halus.”
“Bentangkan, aku mau baca,” seru Wisang Geni.
“Goa sempit, tidak cukup luas untuk kita berjejal menghampar dan membaca kulit itu, lagipula angin kencang, aku khawatir kulit malah rusak.” Kata Sekar.
“Tetapi apakah benar ada tulisannya?” Tanya Wisang Geni.
Sekar mengamati dengan seksama. “Ada! Aku bisa melihatnya.”
“Kalau begitu kita bisa turun.” Seru Atis.
Turun dari goa itu lebih mudah dibanding ketika naik. Apalagi dengan bantuan tali.
Tiba di goa yang sudah seperti rumah sendiri, hati-hati dan lembut Sekar menghampar kulit tipis itu. Tanpa sengaja ujung kulit hancur ketika dipegang Wisang Geni.
Atis berseru. “Mas pelan-pelan dan lembut, jangan kasar.”
“Huruf kuno, aku tidak bisa membaca. Tapi gambar lalawa itu bagus.” Kata Sekar.
“Gambarnya bagus, kelelawar itu bagus, tapi tampaknya kejam dan bengis.” Ujar Atis. Dia menoleh pada suaminya. “Sebaiknya kamu hafal, karena kulit ini mudah rusak. Aku khawatir kulit tidak bertahan lama di udara ini.”
Wisang Geni meneliti satu per satu kalimat.
“Mas, kamu baca agak keras, biar kita bantu menghapalnya. Kelihatan pesannya banyak dan panjang.” Tukas Sekar, nada suaranya khawatir.
To be Continued 22 July/Published No 30