Saturday, July 23, 2011

Wisang Geni part Two Bab 4

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Empat

Persekutuan Makar

Matahari sudah condong ke Barat. Kakek tua itu bergerak pesat, melompat kesana kemari. Gerakannya lincah dan ringan. Dia melompat disertai gerak dua tangannya memainkan jurus gelap ngampar, ilmu pukulan yang mengandung hawa panas.

Pukulannya terdengar bagaikan letupan batu bertemu batu. Keras dan gempita. Setiap dia memukul, angin pukulan menerpa sasaran batu yang lantas menimbulkan suara letupan. Batu itu pecah berkeping.

Terdengar seruan seseorang dari arah tebing Timur, suaranya tidak terlalu keras namun bisa mengatasi deru angin dan ombak pantai Selatan. “Hebat hebat, jurus gelap ngampar semakin keras. Rasanya aku ingin menjajal.” Belum lenyap gema suaranya tampak seorang perempuan berbaju hitam berlari-lari ringan dan berhenti beberapa tombak dari lokasi latihan si kakek tua.

“Oh kiranya Janda Genit Ngargoyoso yang berkunjung, sudah lama kita tidak bertemu, kamu makin cantik dan ….” Dia berhenti sejenak memandang perempuan berusia empatpuluhan yang masih tampak cantik dan seksi.

“Lanjutkan Paliyan. Cantik dan apa ….?”tukas Ngargoyoso.

“Kamu masih cantik, tapi sekarang lebih usil.” Kata Siluman Goa Paliyan.

“Usil? Apanya yang usil. Aku membawa kabar gembira untukmu.”

“Ohhh kalau yang membawa kabar itu Janda Ngargoyoso, pasti aku bakal sibuk. Tidak! Aku tidak mau dengar! Pergilah, aku sudah hidup tenang disini.”

“Hidup tenang? Ini bukan hidup tenang. Ini pengecut. Lari sembunyi di pantai Selatan, bersenang dengan lima gadis muda.” Dia menunjuk lima gadis yang duduk diatas batu besar dekat rumah. “Apa enaknya? Berlatih gelap ngampar buat apa? Tak ada gunanya jurus dahsyat itu kalau tidak dipamerkan di dunia kependekaran, tak ada gunanya hidup jika melarikan diri, sembunyi dari musuhmu.”

Kakek tua yang dijuluki Siluman Goa Paliyan menghentikan latihan. Wajahnya yang penuh keringat dan kehitaman tampak memerah mengerikan. “Apa maksudmu berkata lancang didepan muridku. Kamu menantang tarung?”

“Mana berani aku tarung meskipun besar inginku menjajal gelap ngampar, tapi itupun hanya sebagai teman berlatih, ilmu-silatku tak ungkulan menghadapimu.” Dia melangkah mendekat, sambil berkata. “Si tua Suryajagad sudah mati! Kini kamu bebas dari sumpah dan janjimu.”

Melihat Paliyan tercengang, Janda Ngargoyoso menambahkan. “Kamu tahu, keris prabakara dan kitab lhakeswara muncul di kawasan Timur, siapa yang mendapatkan dua benda pusaka itu akan merajai dunia kependekaran. Nah sekarang apa katamu, Paliyan? Apakah aku usil?”

“Suryajagad sudah mati? Kamu tahu dari mana? Apa buktinya?”

“Tak seorang pun tahu tempat tinggal si Tua jadi tak mungkin ada buktinya. Dan siapa orang yang mampu membunuhnya? Jelasnya, tiga tahun terakhir ini dia tak pernah muncul, kabar yang sumbernya dari Lemah Tulis, si Tua itu sudah moksa.”

Tiba-tiba Paliyan tertawa keras. “Ha..ha..ha..ha … Suryajagad sudah mati. Aku bebas pergi kemana-mana.” Suaranya bergema di tebing-tebing lalu lenyap ditelan ributnya ombak dan angin pantai Selatan.

Dia memandang perempuan genit itu. “Sejak aku dikalahkan Si Tua Suryajagad, enam tahun lalu, aku terikat sumpah dan janji padanya, tak boleh bertualang di dunia kependekaran. Sekarang aku lepas dari janji dan sumpahku, benar begitu?”

“Itu sebabnya aku mengunjungimu tapi ada lagi kabar gembira buat kamu.”

“Tak ada lagi kabar yang lebih gembira dari kabar matinya Suryajagad!”

“Ada!” Seru Janda Ngargoyoso gembira.

“Ayo katakan!”

“Adikmu yang hebat, Lembu Ampal, dibunuh Wisang Geni, ketua Lemah Tulis.”

“Sudah lama aku tahu, sekarang waktunya aku mencari balas, hutang nyawa bayar nyawa!” Tukas Siluman Goa Paliyan.

“Matinya adikmu, kamu kehilangan seorang yang memberimu keping emas dan gadis cantik,” Janda Ngargoyoso tersenyum, lalu menyambung. “Lima gadismu itu, mereka tidak segar lagi, pasti kamu mulai bosan.”

“Katakan saja terus terang, jangan mutar-mutar tidak karuan.”

“Adipati Linggapati, bangsawan kaya raya dan memiliki ilmu-silat tinggi, sedang menghimpun kekuatan. Dia mengutus aku, membujuk kamu bergabung. Dia akan memberimu perhiasan emas dan gadis yang masih segar sebanyak kamu mau, nah apa katamu, mau gabung?” Mata Janda Ngargoyoso meneliti paras sahabatnya.

Paliyan diam, termenung, tampaknya sedang berpikir.

“Apalagi yang dipikir? Bergabung dengan Adipati, kamu dapat kesenangan, juga punya kesempatan balas dendam pada Wisang Geni, kita bisa bersama-sama mencari kitab dan keris pusaka itu, ayo tunggu apa lagi? Ikut aku!” Tegas Janda Ngargoyoso.

“Maksudmu keris prabakara? Dimana keris itu? Siapa yang menguasainya? Kamu menyebut kitab lhakeswara? Kamu tahu tempatnya?”

“Akan kuberitahu pada waktunya, pokoknya kalau kita berdua menguasai kitab dan keris itu, aku yakin tanah Jawa akan tunduk, bahkan mungkin saja kamu bisa jadi raja dan sudah tentu aku permaisurinya… he .. he… he..” Janda Ngargoyoso tertawa merasa telah memengaruhi pikiran temannya.

Pendekar yang dijuluki Siluman Goa Paliyan termenung.

Saat berikut, dia berkata kepada lima murid yang sesungguhnya adalah selirnya, “kalian pergilah, ambil emas bagian masing-masing, bersenang-senanglah, dengan ilmu-silat yang kuajarkan, tidak sembarang orang bisa mengalahkan kalian.”

Lima gadis saling pandang. Detik berikut mereka menghambur ke dalam rumah.

Janda Ngargoyoso tersenyum genit. “Jadi kamu ikut bersamaku, kangmas?”

“Huuuh sekarang kamu memanggil aku kangmas.”

“Iya, setelah kamu usir lima muridmu, artinya malam ini aku punya kesempatan tidur denganmu, terserah mau berapa malam?”

Kakek tua itu tertawa. “Sudah lama kita putus hubungan.….. ha ha ha..”

Saat itu lima gadis muridnya berlari ringan dan berdiri di depan Paliyan. “Guru..… apa benar kami boleh pergi?”

Paliyan mengangguk. “Pergilah, kalian sudah bawa emas perhiasan milikmu?”

Mereka berlima mengangguk, satu per satu menghampiri, berlutut dan mencium lutut si kakek tua. “Terimakasih, atas kebaikanmu guru.” Kelimanya berlari cepat. Saat berikut mereka lenyap dari pandangan mata.

“Lima puluh hari lagi tepat tengah bulan Magda, bakal terjadi tarung besar dua perguruan Mahameru dengan Brantas di desa Kandangan. Mungkin Wisang Geni dan Lemah Tulis akan membantu Mahameru. Di pihak Brantas, sejak ketuanya diambil alih Roro Gandis, mereka maju pesat, makin banyak pengikut, pengaruhnya meluas sepanjang kali Brantas, juga di daratan.”

“Hebat juga Roro Gandis itu.” Siluman Goa Paliyan ingin tahu.

“Dia cantik, muda, dan sangat memikat. Ketua Brantas si Warok sudah tekuk lutut oleh pesonanya. Ilmu-silatnya lumayan tinggi, dan dia didukung kakak perguruannya Kangsa yang kata orang lebih digjaya dari Roro. Juga gurunya, Ganggati dari gunung Limas si Wanita Penebar Maut, menjadi andalannya.”

“Sehebat apa ilmu silatnya?” Tanya Siluman Goa Paliyan.

“Nenek tua itu? Konon Manyar Edan, dedengkot Brantas itu hanya bertahan dua puluh jurus, dia selamat karena Ganggati tidak niat membunuh. Linggapati memanggil Ganggati, untuk jadi pengawal utama.” Tutur Janda Genit Ngargoyoso.

“Huh belum tentu dia sehebat cerita orang, aku ingin menjajalnya.”

“Kamu mulai bersemangat setelah mengetahui Suryajagad sudah mati.”

“Wisang Geni itu ketua Lemah Tulis dan murid Suryajagad, ilmu-silatnya tinggi. Selama ini dia tak terkalahkan, apa benar?” Tanya Siluman Goa Paliyan.

“Benar. Rupanya telingamu tajam juga. Dia dijuluki pendekar nomor satu tanah Jawa, huuhhh sombong dan temberang, tanganku gatal ingin menjajalnya.” Janda Geni Ngargoyoso sengaja memancing amarah temannya.

Paliyan menengadah ke angkasa. Menatap awan mendung yang semakin hitam. “Aku akan membunuh Wisang Geni, tak mungkin dia bisa tahan gelap ngampar…”

“Lembu Ampal menggunakan jurus gelap ngampar dan dua belas pisau terbang formasi bunga mawar tetap mati digebuk pendekar Lemah Tulis itu.”

Suara Paliyan meninggi. “Ilmu-silat Lembu Ampal aku yang melatihnya, gelap ngamparnya aku yang sempurnakan. Formasi bunga mawar lebih mematikan jika aku yang memainkan. Jurus gelap ngampar yang kumainkan, sepuluh kali lebih dahsyat dari Lembu Ampal, kamu mau coba? Aku ingin jajal tari pengantin, jurus andalanmu. Setelah lima tahun berpisah tentunya jurus itu makin sempurna.”

Memandang Paliyan yang mukanya memerah saking berang, wanita itu tahu kapan harus mundur dan mengalah. Dia tersenyum manja. “Tidak mau! Aku belum gila untuk menjajal gelap ngamparmu, gunakan nanti lawan Wisang Geni.”

Beberapa butir hujan mulai berjatuhan. “Eh eh kangmas lihat gerimis turun. Itu tandanya dewa merestui keputusanmu turun gunung.”

“Sesaat lagi hujan deras, mendung semakin tebal. “ Paliyan tersenyum, melangkah dan menyambar tangan Janda Ngargoyoso. “Tunggu apa lagi, aku sudah kangen, ayo masuk rumah.”

***

Rumah itu tergolong mewah untuk ukuran desa Panton yang letaknya terpencil di lekukan Tanjung Gerinting. Desa dihuni sekitar tigapuluh kepala keluarga itu jarang dikunjungi orang, karena bukan singgahan para pelancong dan pedagang.

Sore itu Samba duduk di serambi belakang rumahnya, menghadap arah matahari terbenam di Barat. Laki-laki berusia pertengahan empatpuluhan itu hidup senang, menyepi dengan sejuta kenangan dimasa jayanya. Dia memiliki banyak kesenangan yang tidak dimiliki rakyat biasa. Dikelilingi beberapa selir, gadis-gadis muda yang cantik genit yang melayaninya makan minum serta berkidung dan menari.

Samba tersenyum pahit membayang kembali masa lalunya.

Jaman keemasan itu sudah berakhir empat tahun lalu, namun bekasnya masih terasa perih, seperti luka yang tak pernah bisa sembuh. Dia belum pernah kasmaran dan jatuh cinta kepada wanita, melainkan seorang yang bernama Sekar.

Baginya, perempuan yang satu ini sangat istimewa. Dia tak pernah bisa menghapus kenangan cintanya kepada Sekar. “Salahku sendiri membiarkan dia yang sudah ditangan terlepas lagi. Itukah karma? Aku tidak percaya karma buruk, karma akan berubah jika kita berusaha. Dan aku akan mendapatkan Sekar!” Bisiknya.

Samba menghirup udara segar memenuhi paru-parunya lalu melepasnya pelan-pelan dengan gundah. Matanya memandang jauh ke Barat, matahari sudah doyong hendak masuk peraduan. Warna merah kekuningan tiba-tiba berubah menjadi sosok Sekar yang bugil. Dia tak pernah melihat Sekar telanjang, tetapi fantasinya akan tubuh molek itu sudah empat tahun melekat di benaknya.

Tiba-tiba dia mendengar suara merdu. Tangan halus mulus memegang lengannya. “Paduka kekasihku sedang menikmati indahnya matahari. Hamba ingin jadi matahari itu yang telah memikat mata Paduka.” Bisik si gadis.

“Matahariku itu tak ada tandingan, kecantikannya memesona sanubariku sepanjang hidupku.” Bisiknya sambil mengelus rambut selirnya yang bernama Harum.

“Tetapi matahari itu jauh disana, sedangkan Harum ada didekat sini, siap selalu melayani kangmas.”

Samba mengelus rambut hitam lebat. “Kamu wanita cantik dan setia, masih muda dan segar, rasanya aku tak pernah puas-puasnya meneguk dahaga dari tubuhmu. Tetapi seperti ceritaku dulu, aku menunggu pertemuan dengan isteriku Sekar.”

“Paduka sangat mencintai ndoro putri Sekar, pasti dia sangat cantik.”

“Kamu lihat indahnya matahari yang hendak masuk peraduan, sinarnya merah kekuningan, tetapi Sekar lebih indah dipandang.” Samba menghela nafas. “Tidak lama lagi aku akan bertemu dengannya dan membawanya kemari.”

“Hamba akan melayaninya sebaik mungkin.” Kata Harum.

Samba diam.

“Paduka, ada tamu yang ingin menghadap, tamu dari jauh.” Desis Harum.

“Siapa?”

“Hamba tidak kenal, keduanya menunggu di ruang tamu, mereka memperkenalkan diri sebagai anak buah Paduka, namanya Hanggada dan Sangkala.” Jawab Harum.

Samba menuju balairung kecil tempat menerima tamu. Dia tertawa senang memandang dua senopatinya yang sudah seperti saudara sendiri.

“Bagaimana kamu bisa menemukan aku disini?” Tanya Samba.

“Hamba ingat, suatu hari kangmas menceritakan keinginan menyendiri di Tanjung Gerinting. Ketika timbul niat sungkem kepadamu, hamba berdua Sangkala coba menyelusuri kawasan ini.” Sahut Hanggada.

“Pasti kalian punya maksud? Bagaimana keadaan pasukan rodra? Kalian masih berhubungan?” Dia mengajak ke ruangan dalam yang merupakan bilik pribadinya.

“Orang-orang kita masih setia seperti sediakala. Kapan saja kangmas memanggil untuk tugas, mereka akan siap. Maksud kami menghadap juga ada sangkut paut dengan pasukan kita.” Kata Sangkala.

Mereka duduk bertiga di ruang peraduan yang tertutup rapat. Selir Harum mondar-mandir sibuk memerintah dua selir lainnya menyediakan makanan dan minuman.

“Kangmas hidup senang. Semua kebutuhan tersedia. Hamba khawatir kangmas tidak mau turun gunung lagi.” Sangkala senyum sambil memandang tiga gadis cantik yang berdiri disisi senopati utama.

“Hidupku tenang, tetapi bayangan masa lalu masih seliweran di benakku, kalian pasti membawa kabar bagus, cukup bagus untuk memancing aku turun gunung.” Katanya sambil menoleh memandang tiga selirnya.

Harum dan dua temannya tahu ada pembicaraan rahasia. “Hamba menunggu diluar pintu, jika perlu sesuatu Paduka bunyikan genta, hamba akan berlari masuk.”

Mereka menyantap hidangan lezat. Saling menutur pengalaman sambil menikmati tuak. Empat tahun berpisah, tidak dinyana bisa bertemu sekarang. Tragedi empat tahun lalu itu nyaris membinasakan mereka.

“Kami berdua berterimakasih, bahwa kangmas masih membiarkan kami berdua hidup meskipun kesalahan itu mutlak keteledoran kami.” Kata Hanggada.

“Semua orang berbuat salah. Kita berbuat salah. Akibatnya, kita menanggung deritanya. Tetapi kita telah membuktikan kepada sejarah bahwa kita ponggawa setia baginda raja Tohjaya yang mendampingi beliau sampai titik darah penghabisan. Hanya saja kejadian itu telah membuat kakanda Mahamenteri patah arang dan memilih undur diri dari keramean dunia.”

“Apakah Paduka Mahamenteri sehat-sehat?”

“Yah kakanda Pranaraja masih sehat, lebih sehat dari perkiraan kita.” Kata Samba. “Dia menyendiri, berlatih silat untuk sehat, dilayani isteri dan para selir, setiap hari dia sibuk bermain-main dengan putri tunggal yang lahir tahun lalu.”

“Paduka mahamenteri pasti bergembira, dua putranya kini punya adik perempuan dan rumahnya bakal terang benderang.” Kata Hanggada.

“Hamba masih menaruh dendam pada Sang Pamegat.” Potong Sangkala. “Dan semua pasukan Rodra punya dendam yang sama.”

“Ilmu silat Sang Pamegat sudah begitu hebat, tetapi lima pendekar tua jubah putih itulah yang tidak tertandingi.” Sahut Samba.

“Konon menurut cerita orang, pendekar tua baju putih itu jumlahnya sembilan orang, kabar lain menyebut sepuluh orang. Mereka pengawal utama keraton. Entah darimana Ranggawuni mendapatkan mereka.” Kata Sangkala.

Samba mengalih pembicaraan. “Kalian berdua tadi menyebut-nyebut kabar baik yang bisa memancing aku turun gunung, kabar apa itu?”

“Duapuluh hari lalu Kasanga kepala pasukan rodra mengunjungi dimas Hanggada bersama dua anak buahnya dan seorang tamu, Sangkapura pendekar Tanjung Anyar. Mereka bawa kabar adipati Linggapati, seorang pembesar Kediri sedang menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan pendekar handal. Linggapati mengajak kita, bergabung.” Tutur Sangkala.

“Setelah berunding kami berdua ikut Sangkapura mengunjungi adipati Linggapati, ingin mendengar langsung, apa maunya. Dia butuh pasukan panah rodra, itu sebabnya dia mengutus Sangkapura mencari kami.”

“Apa jawabmu?” Potong Samba.

“Kami katakan, jika kangmas mau turun gunung membantu, maka seluruh pasukan akan terkumpul. Tetapi kami harus tahu tawaran dari adipati. Jawabnya, aku jadi raja, majikanmu jadi Mahamenteri dengan kekuasaan seperti yang dipercayakan baginda raja Tohjaya kepada Mahamenteri Pranaraja.”

Samba tersenyum. “Aku mendengar cerita perihal Linggapati. Ilmu silatnya tinggi, konon dia salah seorang dari pendekar baju putih yang usianya paling muda, yang lari keluar istana. Dia culas, licik, kejam dan punya ambekan besar menjadi raja. Bergabung dengan orang seperti itu, sangat berbahaya. Setelah mencapai tujuannya, dia akan mengkhianati kita.”

Sangkala dan Hanggada diam, memandang majikannya dengan respek.

“Kalian membawa kabar ini kepadaku, pasti ada harapan kita bergabung.”

Sangkala dan Hanggada saling pandang.

“Empat tahun hamba tenggelam dalam penyesalan. Selamat dari pertarungan itu dan tetap hidup, ternyata lebih buruk dari mati dalam tarung. Kalau bisa memutar ulang sejarah, hamba memilih mati dalam tarung daripada hidup dengan penyesalan seperti ini.” Ada isak dalam suara Sangkala.

Hanggada merunduk. “Hamba juga menderita dengan penyesalan.”

Suara Samba terpengaruh isak dua ponggawa setianya. “Tiap malam aku terbayang matinya Baginda Raja dipangkuan kangmas Pranaraja, wajahnya yang nerimo, senyum yang legowo dan terimakasihnya padaku. Setiap mengenang, hatiku menangis. Seperti juga ingatanku pada Sekar. Cintaku padanya, nafsu birahiku akan kecantikan paras dan tubuhnya tak pernah hilang dari benakku. Puluhan selir cantik, lebih muda dan lebih segar yang kutiduri selama ini tak bisa menindih bayangan Sekar.”

Dia memandang dua pendekar kepercayaannya. “Sudah saatnya aku turun gunung, tapi aku tidak tertarik tawaran Linggapati. Hal terpenting dalam hidupku sekarang adalah mendapatkan Sekar.”

“Kami akan setia disisimu. Siap mati untuk kangmas.” Tukas Sangkala.

“Tetap awas dan waspada, mungkin saja Linggapati memperalat kita, setelah maksud tujuannya tercapai, dia mengkhianati kita.” Kata Samba.

Sangkala dan Hanggada sangat gembira. Mendadak saja semangat tarung meledak dalam diri dua pendekar itu. “Kami sudah ikrar, berjaya atau mati. Kami akan bertaruh nyawa membantu kangmas mendapatkan wanita utama yang kangmas idamkan.”

Hujan deras sejak pagi sampai siang, membawa hawa dingin di seputar desa Bangu di kaki bukit Gunduk. Bukit ini sebenarnya anak dari gunung Arjuno, letaknya jauh di Selatan gunung Arjuno. Udara pegunungan semakin dingin dengan derasnya hujan. Luapan air kali Bango yang mencurah dari mata airnya di ketinggian celah antara gunung Arjuno dan bukit Gunduk terdengar bagai air bah. Namun desa Bangu tidak terjamah terjangan air sungai karena kedudukannya di dataran yang lebih tinggi.

Desa Bangu tadinya tidak rame hanya sekitar dua puluhan rumah. Dalam empat purnama terakhir banyak pendatang yang menetap. Penduduk bertambah, jumlah rumahpun meningkat pesat, sudah melebihi jumlah seratusan.

Suasana aman dan tenteram, secara bergilir penduduk melakukan penjagaan siang dan malam di batas desa. Uniknya para pelancong dan pedagang hanya bisa mampir tetapi tidak untuk menetap. Ada persyaratan bagi siapapun untuk menjadi warga desa.

Selain itu ada warung makan besar dibatas desa menjadi semacam tempat kumpul para penduduk. Warung dan gerbang merupakan satu-satunya jalan masuk ke desa. Di ujung bagian dalam desa, berbatasan dengan jalan pendakian ada pos jaga. Tidak sembarang orang bisa melewati. Ada ijin khusus bagi mereka yang ingin mendaki ke puncak bukit.

Jarak sepenanakan nasi jalan kaki mendaki bukit, tampak beberapa rumah besar tersembunyi di balik tebing dan lamping bukit yang curam. Disitulah markas besar kelompok anti Tumapel yang dipimpin Linggapati. Letaknya yang strategis tidak memungkinkan adanya pendatang yang tidak terlihat dari markas.

Sang pemimpin besar, Linggapati tidak pernah terlihat. Hanya sedikit orang yang pernah melihat wajahnya. Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, ramping dan agak jangkung, berusia sekitar limapuluhan. Parasnya lebih condong dingin menyeramkan dibanding ketampanannya.

Linggapati sangat teliti dan njelimet, menjalankan aturan organisasi. Aturan ketat diberlakukan secara bertingkat. Yang berada didekat sosok Linggapati hanya empat pengawal pribadinya yang sangat dipercaya. Dewi Kajoran, 50 tahun, ketua perguruan Manunggali yang memiliki jurus ampuh delapan dewi formasi Grasak Petung. Jurus yang dimainkan delapan muridnya yang semuanya perempuan dengan masing-masing menguasai jurus grasak butho.

Putri tunggalnya yang cantik jelita, Dedes Ayu, usia di awal duapuluhan menjadi isteri dan tangan kanan Linggapati. Boleh saja ilmu-silatnya paling lemah namun pengaruh Dedes Ayu sangat besar. Linggapati sangat mencintainya. Kepercayan lain, dua saudara perguruannya. Kakak tertua Pulosari usia hampir 60 tahun, terkenal di Utara gunung Slamet. Adik seperguruan Linggapati, Sangkapura dari Tanjung Anyar terkenal di daerah pesisir Utara.

“Mengingat kedudukan Samba dengan pasukannya yang besar, kuangkat dia sebagai penasehat kelima. Dua wakilnya, Sangkala dan Hanggada ditempatkan di gugus dua, bersama tigapuluh satu pendekar, menjadikan jumlah ganjil bagus, tigapuluh tiga.” Tegas Linggapati.

Pagi itu rombongan Samba, Hanggada dan Sangkala disertai duabelas ponggawa bertubuh kekar tiba di desa Dayu, satu hari jalan kaki dari bukit Gunduk. Mereka tiba selang beberapa saat setelah tibanya Linggapati yang didamping dua penasehat dan lima pendekar lain.

Pembicaraan antara dua pemimpin itu hanya disaksikan dua penasehat Linggapati dan dua wakil dari kubu Samba. Para pendekar lainnya, duduk dikejauhan.

Hanya dua pimpinan itu yang bicara.

“Aku membawa dua pengawal setiaku, Hanggada dan Sangkala serta duabelas pemanah jitu. Dulunya pasukan panah rodra jumlahnya seratus tujuh. Setelah tragedi empat tahun lalu, pasukan rodra tinggal empatpuluh tiga. Duabelas orang ini termasuk yang terbaik. Pasukanku sanggup melepas tiga panah dalam satu pelepasan, sehingga bisa menciptakan hujan panah. Sekali lepas enampuluh panah disusul enampuluh lainnya, demikian seterusnya. Jika mencapai kata sepakat dalam kerjasama, dalam waktu dekat kami rencanakan menambah sekitar limapuluh pemanah.”

Linggapati menenggak tuak, matanya bersinar tajam, berkilat. “Luar biasa, aku sudah mendengar kehebatan pasukan rodra. Jika dimas Samba mau bergabung akan mempermudah tujuanku menggulingkan Ranggawuni!”

“Berapa kekuatan tuan adipati sekarang ini?” Tanya Samba.

“Dua ratus orang, antaranya tigapuluh satu pendekar kelas utama yang saya sebut kelompok gugus dua, diantaranya lima yang berjaga-jaga diluar, Janda Ngargoyoso, Siluman Goa Paliyan, Purocana Si Gila lereng Merbabu, Korowelang pendekar Utara Brangsong dan Keris Bayangan dari kali Panggul. Beberapa lain menunggu di markas, Srimoyo Nenek Seribu Racun, Pecut Maut Probokesa, delapan pendekar wanita Grasak Petung anak murid ketua Manunggaling Dewi Kajoran.”

Kesepakatan tercapai dengan cepat. Jika usaha makar ini berhasil dan keraton Ranggawuni ditaklukkan maka Adipati Linggapati menjadi Maharaja, kekuasaan kedua dipegang Mahamenteri Samba. “Kekuasaan tuan seperti yang dipercayakan baginda Tohjaya kepada mahamenteri Pranaraja, tidak berkurang sedikit pun, malah mungkin saja akan bertambah seiring tugas dan kesibukan kerajaan.”

“Sekarang ini tempatku dimana?” Potong Samba.

“Tuan berada di dalam kelompok utama, sebagai penasehat lima. Kakak perguruan Pulosari pendekar Utara gunung Slamet, adik perguruanku Sangkapura dari Tanjung Anyar, isteriku Dedes Ayu dan ibu mertua Dewi Kajoran. Posisi penasehat sangat penting dalam menetap kebijakan. Dua wakil Dimas, Hanggada dan Sangkala masuk kelompok gugus dua menjadikan tigapuluh tiga anggota.”

Air muka Samba berseri-seri. “Kapan kita bergerak?”

“Kita putuskan dalam rapat lima penasehat. Sekarang kesepakatan telah tercapai, kita berangkat ke markas. Matahari belum tinggi, jika jalan cepat bisa tiba menjelang malam.” Dia memandang penuh selidik wajah Samba. “Ikuti aku, dimas Samba.”

Linggapati seorang yang sangat berhati-hati dan waspada. Tidak mempercayai seorang pun. Bilik pribadinya dirancang mirip benteng rahasia. Dia merancang markas besarnya, diawali penemuannya akan sebuah goa di tebing bukit. Bersama dua saudara perguruan, Pulosari dan Sangkapura, dia membangun kamar pribadinya. Salah satu dinding kamar adalah tebing dimana mulut goa berada. Tiga dinding lainnya dibangun dari kayu besar yang kuat dan rapat. Salah satu dinding dibuatkan pintu besar yang nyambung dengan ruang pertemuan.

Itulah bilik tempat istirahatnya, sedangkan goa merupakan ruang semedinya.

Hanya tiga bersaudara itulah yang tahu persis keberadaan goa semedi itu. Orang ketiga selain dua saudaranya yang mengetahui adanya goa semedi adalah isterinya Dedes Ayu yang sehari-hari melayaninya.

Bilik pribadi itu tidak begitu luas, tidak banyak perabotan. Hanya satu tempat tidur besar di tengah ruangan dan satu rak pakaian bersusun empat. Tak seorang pun boleh masuk bilik pribadi itu, hanya Linggapati dengan isterinya.

Meskipun sangat mencinta Dedes Ayu tetapi dia mewanti-wanti larangan keras memasuki goa semedi. Dia pernah membawa Dedes Ayu masuk goa memperlihatkan isi goa yang kosong. Setiap Linggapati masuk goa semedi berlatih tenaga-dalam, si isteri akan menyediakan semua keperluannya, air minum dan air kembang.

Linggapati memberitahu air kembang untuk memandikan keris prabakara. “Ini rahasia besarku, jangan ceritakan kepada siapa pun, meskipun kepada ibumu. Keris ini pertanda aku akan jadi raja tanah Jawa. Jika kejadian maka kamulah permaisuriku. Dulu Ken Arok punya permaisuri bernama Ken Dedes. Nanti akan ada permasiuri yang namanya hampir sama, Dedes Ayu.”

Dedes Ayu tersanjung, merasa sangat dihargai. Untuk penghargaan dan respek dari Linggapati itu dia akan memberikan apa saja miliknya, terutama kesetiaan.

Sore menjelang malam Linggapati berkata kepada isterinya di atas pembaringan. “Ayu, malam ini aku mau semedi,” Matanya menyelidik paras cantik isterinya.

“Engkau adalah junjunganku, aku hambamu. Akan kulaksanakan perintahmu itu, kangmas. Sempurnakan jurusmu yang hebat itu, aku akan menjaga agar tak seorang pun bisa mengganggumu.” Dedes Ayu memeluk suaminya.

Goa itu cukup luas bisa memuat sepuluh orang. Keadaannya gelap gulita. Tak ada seberkaspun cahaya masuk. Linggapati duduk sila diatas tatakan kayu. Dia memejam mata, menggerak-gerakkan dua tangannya. Dia melayang ke pojokan sambil tangan kanannya bergerak melingkar sejengkal diatas tanah, kemudian menggentak keatas. Kilatan cahaya keluar dari tanah. Tangannya menyamber cahaya itu. Tampak keris prabakara telanjang tanpa sarung digenggaman Linggapati.

Dia berbisik pada diri sendiri. “Karma dewata aku bisa mencuri keris ini dari keraton. Hebatnya lagi tak seorang pun tahu aku pemilik keris prabakara, bahkan saudara perguruanku tak ada yang tahu. Barangsiapa menguasai keris ini, jika dia memliki ilmu silat tinggi maka dia tak akan menemukan tandingan, jika memiliki pasukan maka dia akan menjadi raja penguasa tanah Jawa.”

Linggapati memegang keris itu yang meskipun didalam kegelapan goa, tetap bisa mengeluarkan cahaya warna warni. Ketika keris itu digerakkan tangannya, cahaya itu memantul dinding goa yang keras bak karang dan menyinari wajah angker Linggapati. Saat berikut dia memainkan jurus andalannya.

Semalam suntuk dia melatih jurus pamungkas “lokamandala nengkeringawiyat” (permukaan bumi naik terbang ke angkasa). Jurus warisan gurunya yang kemudian dia sempurnakan menjadi pamungkas bumi dan matahari. Diantaranya dua jurus andalan yakni “dhikara” (kemarahan) dan “kampita” (guncang-goyang) yang dia ciptakan khusus untuk memanfaatkan keangkeran keris prabakara.

Dia berputar-putar, melayang dan menerkam, keris saktinya bergerak bagai ular mematuk saat berikut bagaikan lidah naga menyembur api. Dinding goa yang adalah tebing keras bagian utuh dari lamping gunung berderit-derit diterpa angin keris.

Hawa dalam goa terasa membara, panas membakar. Tubuh Linggapati menguar keringat yang tak pernah habis. Dia bagaikan mandi. Gerakannya tak pernah henti seakan jurus-jurusnya tak pernah berujung.

Ketika Linggapati selesai berlatih dan keluar dari goa semedi dengan tubuh yang bermandi keringat, Dedes Ayu cepat menyediakan air untuk membasuh tubuh dan kain bersih sebagai pengering. Dia lantas mengambil makanan dan menyuap suaminya. Kemudian membelai dada dan memijit punggung Linggapati.

Dia berbisik ditelinga lelaki pujaannya. “Kangmas sembahanku, empat penasehat menanti paduka diruang rapat. Mereka akan melaporkan perkembangan terakhir.”

Linggapati memeluk isterinya. “Biar mereka menanti. Aku mau bersenang-senang denganmu.”

Sore hari menjelang malam, Linggapati melangkah keluar dari bilik pribadi. Dia mengenakan busana seorang raja. Celana kuning sebatas lutut dibungkus kain warna biru muda. Dadanya telanjang. Kopiah besar melekat dikepala menambah keangkeran wajahnya yang tanpa senyum. Gagang keris mencuat dari balik punggung, ikat pinggang lebar menjepit pinggangnya yang ramping. Itu keris pusaka prabakara.

Linggapati melangkah diikuti Dedes Ayu yang menghias diri sedemikian rupa sehingga kecantikan seorang dewi kahyangan pun sulit menyainginya. Keduanya pasangan sepadan. Samba mengikuti gerak tiga penasehat temannya, memberi hormat dengan merunduk menyembah.

Yang membuat Samba semakin terpahna adalah langkah Linggapati yang tidak memijak bumi. Dua kakinya melayang sejengkal diatas tanah. Setiap dia melangkah lantai terasa bergetar. “Sungguh tenaga dalam yang mungkin tak ada tandingannya.” Gumam Samba dalam hati.

Linggapati menuntun isterinya. Dia duduk di kursi besar, satu-satunya kursi diruangan itu. Empat penasehat duduk dilantai. Dedes Ayu sila ditanah beralas-duduk kasur kecil bersarung kain warna hijau, kepalanya menyender ke paha suaminya.

Suasana hening.

Empat penasehat mengangkat wajah dan memandang sang penguasa.

Wajah itu tampan, tapi dingin bagai es.

“Tuan berempat adalah pilar kekuatan pasukanku. Semua jerih payah tuan-tuan akan mendapat imbalan jasa, begitu juga pengkhianatan akan mendapat hukuman setimpal. Silahkan tuan-tuan bicara.”

Pulosari meskipun kakak perguruan Linggapati, namun bisa menempatkan diri sebagai bawahan dari seorang calon Raja. Dia memberi hormat sungkem. “Hamba telah bertemu Ganggati. Tigapuluh jurus tarung, kami berdua imbang. Hamba tidak menyebut rencana kita, sekadar mengajak berteman. Ganggati telah menguasai perguruan Brantas, muridnya Roro Gandis yang berjuluk Selendang Merah kini ketua Brantas. Tetapi dia belum mau bergabung, hamba menduga dia menanti tawaran yang lebih menguntungkan.”

Linggapati menoleh Dewi Kajoran. “Apa pendapat ibu Dewi?”

“Maafkan hamba, kalau pendapat hamba ini lancang. Beberapa tahun lalu Brantas pernah berantakan dihajar pasukan keraton. Sekarang mereka belum tahu rencana kita, tetapi begitu mengetahui akan bentrok dengan pasukan keraton, hamba yakin Brantas akan mundur teratur. Mungkin sebaiknya kita lupakan Brantas, tenaga pendekar Ganggati saja yang kita perlukan. Pada saatnya nanti hamba akan membuat penawaran yang dia tak mungkin akan menolak. Hamba tahu keinginannya.”

“Baik. Lupakan Brantas. Tetapi ada baiknya dicoba sekali lagi, tugaskan Siluman Goa Paliyan dan janda Ngargoyoso untuk pendekatan pada ketua Brantas, Roro Gandis. Sebab jika Roro Gandis setuju maka dia akan membujuk gurunya. Kalaupun Brantas tidak mau gabung maka Ganggati saja yang kita perlukan, kangmas Pulosari yang menghubungi pendekar Ganggati.” Suara Linggapati lirih tapi itulah keputusan.

Pertemuan itu selebihnya membahas perkembangan dunia kependekaran tanah Jawa. Adanya janji tarung Brantas dengan Mahameru yang mungkin berkembang jadi tarung besar yang melibatkan banyak pendekar. Kemungkinan besar Lemah Tulis bakal ikut campur tangan membantu Mahameru. Di kubu Brantas, banyak pendekar kalangan hitam menjanjikan bantuan.

Pada kesempatan itu senopati Samba minta restu ikut tarung. “Hamba akan memihak Brantas, inilah ajang ujicoba bagi pasukan pemanah kita, utamanya menguji anggota baru rodra. Hamba ingin tahu sampai dimana tingkat kerusakan yang bisa kita ciptakan, berapa banyak musuh yang mati. Hamba rencana akan membawa tiga puluh pemanah.”

Para penasehat menyetujui rencana Samba.

Linggapati pun merestui.

Samba merasa lega. “Lemah Tulis hadir, pasti Wisang Geni dan Sekar hadir. Ini kesempatan mendapatkan Sekar, wanita idamanku.” Katanya dalam hati. ***

No comments: