Kutukan Keris Berdarah
Bab Dua
Penguasa Brantas
Warung makan di desa Gondang dekat kali Brantas siang itu banyak pengunjung. Hampir semuanya murid kelompok Brantas. Pemilik dan dua pelayan warung sibuk meladeni pesanan sekitar duapuluhan orang, melayani dengan senang, karena tahu, jualannya laris.
Di pojok bagian dalam dekat jendela, Warok sang ketua Brantas, duduk dilayani lima selirnya. Dia tak pernah mau punya isteri dan anak. Usianya empat puluhan, tubuh tidak tinggi tapi kekar berotot. Kumis dan janggut lebat.
Pakaiannya serba hitam, celana sebatas lutut dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka memperlihatkan dada bidang yang berbulu kasar. Warok hidup layaknya seorang raja. Dengan anak murid yang mencapai ratusan orang, tidak heran jika perguruan ini menguasai perairan kali Brantas sampai kali Porong.
Brantas memperoleh hak monopoli transportasi sungai, dari pelabuhan Jedung ke tempat-tempat tertentu. Semua angkutan air, perahu kecil sampai perahu layar besar, milik Warok. Brantas juga memperoleh uang jasa tugasnya sebagai pelindung dan pengatur keamanan pelabuhan Jedung.
Sesungguhnya penguasa tunggal perguruan adalah Manyar Edan, ayah Warok, pendekar liar dan aneh usia enampuluhan. Dia sudah lama menghilang dari rimba persilatan, tetapi sekali-sekali berkunjung ke perguruan, datang secara dadakan.
Dan setiap datang dia memperoleh layanan wanita cantik, bahkan terkadang selir Warok pun diminta melayaninya. Sewaktu mendirikan Brantas dia mengawini banyak selir, yang melahirkan sebelas anak, semuanya menguasai ilmu-silat kelas satu.
Beberapa tahun lalu dia menunjuk Warok sebagai pemimpin dengan aturan keras. Tak boleh ada sengketa sesama saudara, melainkan harus saling membantu. Tak ada ampun bagi pengkhianat. Putra Manyar yang tertua, Sampurna dihukum mati, dengan tangan Manyar sendiri, lantaran memberontak hendak merampas kursi ketua.
Suasana di warung ramai. Namun mendadak sunyi ketika seorang wanita cantik muncul. Wanita muda itu berbaju hitam melangkah masuk warung. Dia mengenakan selendang merah yang diselempang di bahunya. Parasnya cantik dengan potongan tubuh molek. Gagang keris nyembul dari balik punggungnya.
Semua mata lelaki terpesona akan kecantikan si pendekar.
Belut Ireng salah seorang hulubalang Brantas menyapa si wanita yang celingukan mencari tempat kosong. Dia lelaki kekar berusia tigapuluhan terkenal mata keranjang. “Wong ayu, semua tempat terisi, silahkan duduk di tempatku.” Dia mempersilahkan si wanita sambil tangannya menjulur hendak memegang lengannya.
Si wanita menangkis.
Dua tangan bentrok. “Desss…”
Belut Ireng berseru, “wooh galak, cantik dan galak.”
Terdengar tawa orang-orang Brantas. Suasana jadi hiruk pikuk.
Tersinggung dan malu ajakannya ditolak, Belut Ireng mulai memaksa. Dia menyerang dengan jurus berantai, niatannya tetap hendak melumpuhkan si wanita, memeluk dan membawanya ke tempat duduknya.
Ternyata wanita itu bukan lawan ringan. Dia tak hanya mengelak dan menangkis juga menyerang balik. Seketika terjadi tarung tukar pukulan disela-sela meja dan kursi yang tentu saja ruang geraknya sempit.
Enam jurus berlalu. Wanita cantik menggerutu. “Modal ilmu silat sejengkal mau mempermalukan aku, mana bisa.” Dia menyerang lebih gencar.
Belut Ireng kewalahan. “Duukkk, Tassss.” Pukulan si wanita mengena pundak dan pipi Belut Ireng. Awalnya menggoda, kini Belut Ireng marah, mencabut keris.
Merasa terancam ditengah-tengah banyak orang Brantas, wanita itu menjejak kaki melompat mundur keluar warung. Gerakannya ringan, petanda ringan tubuhnya mumpuni.
Saat bersamaan seorang wanita tua berjubah hijau dengan laki-laki bertubuh kekar menghampiri warung. Keduanya berdiri di pinggiran pekarangan.
“Ohhh ada keramaian, seorang wanita dikeroyok banyak orang.” Seru si wanita tua. Suaranya tidak keras tapi terdengar jelas.
Kala itu wanita baju hitam bertolakpinggang ditengah kepungan orang-orang Brantas. “Kalian mau ngeroyok?” Seru si wanita cantik mengejek.
Orang-orang Brantas yang mengepung dengan senjata terhunus, seketika diam.
Belut Ireng maju, “siapa bilang main keroyok, sebenarnya aku lebih suka memeluk kamu katimbang memukul dan melukai kulitmu yang mulus.”
“Kamu tidak punya modal ilmu-silat untuk melukai aku, laki-laki bodoh tak tahu diri.” Berkata demikian wanita itu bergerak pesat, jejak langkahnya aneh. Perlu waktu satu detik tangannya sudah menyerang Belut Ireng. Tampaknya dia tidak main-main, jurusnya aneh. Selendangnya menampar bagai pecut, tangannya mencengkeram dan menebas, menampar dan memukul.
Belut Ireng berusaha keras mengelak. Tapi kalah cepat. Dua kali pundaknya kena gelontor. Dia terpental. Belasan kawannya meluruk membantu temannya.
Saat bersamaan bayangan seseorang bergerak pesat, sedemikian pesatnya sehingga tidak tampak siapa orangnya. Tiga belas pengepung jatuh terjengkang ke sana kemari, senjata ditangan mereka mental ke udara.
Bayangan itu berhenti bergerak. Ternyata si nenek tua. Orang-orang Brantas seketika mundur, tahu nenek itu seorang pendekar berilmu tinggi.
Selendang Merah menoleh pada si nenek. “Guru, kamu tidak perlu mengotori tangan, aku bisa hadapi mereka.”
Si nenek tertawa senang. “Aku tahu Roro. Tapi aku perlu juga main-main melemaskan otot.”
Terdengar suara serak parau. “Nenek tua kalau mau main-main jangan memukul anak buahku, hadapi aku Manyar Edan.”
Belum selesai ucapannya, bayangan Manyar Edan berkelebat, berhenti sepuluh meter didepan nenek tua itu. Dia mengibas dua tangan pada anak buahnya. “Kalian jangan ikut campur, minggir semua.”
Orang-orang Brantas mundur dan berdiri di depan warung.
Nenek berkata kepada muridnya. “Roro, kamu minggir, gabung dengan Kangsa. Gurumu ingin tahu sampai dimana hebatnya Manyar Edan dedengkotnya Brantas.”
Roro bergeser mendekati kakak perguruannya.
“Kamu sudah tahu namaku Manyar Edan, nah sebut namamu, siapa kamu?” Desak Manyar Edan dengan pongahnya.
“Aku Ganggati, dari Gunung Limas.”
“Heran ilmu silatmu tinggi tapi aku tidak pernah dengar namamu.”
Ganggati tertawa. “Jangan banyak omong, kakek tua bangkotan kayak tengkorak, gelar jurus-jurusmu!”
Manyar Edan paling marah jika disebut kakek tua, apalagi pakai embel-embel bangkotan kayak tengkorak. Dia menggeram. Saking marahnya Manyar Edan langsung menggelar pukulan yang paling diandalkan watanti mangungsir biyada (burung sakti memburu gadis) yang bercabang puluhan jurus pukulan aneh dan telengas. “Kubikin kamu merangkak ditanah minta ampun, dasar nenek genit.”
Ganggati tidak manda diserang. Melihat musuhnya menyerang dengan jurus telengas, Ganggati tadinya hanya mau main-main memuncak amarahnya. Dia tak ragu lagi menggelar jurusnya yang aneh.
Dalam sekejap terjadi tarung tukar pukulan. Dua orangtua itu bergerak pesat, debu mengepul dari pijakan dan geseran kaki, tanda mereka menggelar tenaga-dalam yang tinggi.
Tertawa keras, Ganggati mengubah jurusnya. Sambil menyerang gencar mulutnya berceloteh. “Lihat Roro dan Kangsa, aku mainkan dua pukulan lenyamlenyom dan pangkelangpangkelung secara bergantian, kalian harus bisa bedakan. Tidak lama lagi si kakek Manyar goblok ini akan terkencing-kencing di celana. Jangan pandang enteng, setiap pukulan mengandung seratus lebih jurus tergantung situasi keadaan dan pemikiran kita. Semakin cerdas seseorang makin banyak jurus yang bisa dia mainkan. Lihat dan amati baik-baik!”
Manyar Edan marah merasa dirinya dijadikan kelinci percobaan latihan guru dan murid. Tetapi dia tak berdaya, lantaran sibuk mengelak, menghindar atau menangkis. Tak punya kesempatan menyerang, dia dalam desakan gencar.
Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya. “Gila, tak kusangka nenek ini memiliki kepandaian tinggi. Celaka, habis sudah nama besarku.” Manyar Edan memikir cara menyelamatkan diri.
Jurus Ganggati sangat aneh, selain berhawa panas yang tajam. Pukulan itu seperti lidah biawak yang bercabang bolak-balik, masuk-keluar, gerakannya telengas cepat dan tak kenal ampun. Jurusnya bisa lemas, berliuk-liuk atau lurus keras. Sepasang kaki nenek tua itu tak menginjak tanah, seperti melayang-layang.
Dua puluh jurus berlalu dan Manyar Edan sudah terdesak hebat. Beruntung dia, karena Ganggati tak punya niatan mencelakakan atau membuatnya malu besar.
Tiba-tiba saja Ganggati berhenti, melayang pergi dan berdiri disamping dua muridnya. “Ah Manyar Edan, aku bosan main-main. Sebenarnya aku tidak berniat tarung, cuma mau melemaskan otot. Selamat tinggal, aku pergi.”
Dia melayang pergi. “Kangsa ikut aku. Biar Roro selesaikan urusannya sendiri.”
Kangsa ikut melayang pergi.
Manyar Edan menggumam yang didengar anak-buahnya. “Gila, dari mana muncul pendekar kosen macam Ganggati. Dia dari Gunung Limas, tetapi aku belum pernah dengar namanya?” Menutup rasa malunya dia berkelebat pergi.
Dia melayang pergi. “Kangsa ikut aku. Biar Roro selesaikan urusannya sendiri.”
Kangsa ikut melayang pergi.
Manyar Edan menggumam yang didengar anak-buahnya. “Gila, dari mana muncul pendekar kosen macam Ganggati. Dia dari Gunung Limas, tetapi aku belum pernah dengar namanya?” Menutup rasa malunya dia berkelebat pergi.
Roro Gandis berdiri sendirian di depan warung.
Dia masuk warung. Tak ada rasa takut di wajahnya yang cantik berada ditengah-tengah puluhan orang Brantas yang angker. Kini anak buah Brantas hanya duduk manis di kursi memandang lenggok pantat Roro yang cantik gemulai.
Seorang laki-laki muda, tampan, berusia sekitar tiga puluhan, menyapa ramah. “Silahkan duduk di mejaku, aku ingin kenalan, namaku Prabowo.”
Sebelum Roro menyahut, terdengar suara dari pojokan. “Prabowo, bawa tamu kita duduk di sini.” Itu perintah Warok dan Prabowo tak berani membantahnya.
“Silahkan mbakyu duduk di meja ketua Brantas.” Prabowo mengantar Roro.
Beberapa murid hampir saling tabrak membawa kursi, meletakkan disisi sang ketua. Wanita itu tersenyum, mengucap terimakasih. Tampak sederet gigi putih dan bibir yang merah ranum, parasnya makin bersinar.
“Kamu tentunya ketua Brantas.” Katanya sambil duduk di kursi bersisian dengan ketua Brantas itu. Tanpa sengaja pahanya menyenggol paha si lelaki.
Jantung lelaki itu terguncang. “Namaku Warok ketua Brantas, mereka ini selirku. Dan kamu wongayu, namamu Roro, hendak bepergian kemana?”
Tanpa ragu Roro melonjorkan tangannya yang kuning sawo hendak meraih paha ayam yang berada di ujung meja. Terpisah beberapa jengkal dari tempat duduknya.
Warok memberi isyarat kepada selirnya untuk menyodorkan pinggan kayu yang berisi beberapa potong paha ayam. Mendadak satu paha ayam itu, melompat dan melesat bagai kilat ke tangan si wanita.
Itu gerakan pendekar kelas utama. Roro tertawa. “Aku tidak pamer ilmu-silat. Tadi anak buahmu mau memegang tubuhku, masih untung hanya kutempeleng.”
Laki-laki kekar, berewokan dan tampak bengis itu tertawa keras. “Pantas. Pantas. Kepandaianmu tinggi. Gurumu juga memiliki ilmu-silat yang sangat tinggi. Kamu sebenarnya mau kemana?”
“Namaku, Roro Gandis, sedang menuju pelabuhan Jedung, rencanaku pesiar ingin melihat-lihat keramaian.”
“Oh kebetulan kita juga sedang menuju Jedung, perahuku besar, banyak kamar, aku akan memberimu satu kamar.”
Roro Gandis, menyenggol paha Warok dengan pahanya. Dan dia sengaja tidak menariknya, paha tetap menempel paha. Meskipun terhalang pakaian, namun gesekan itu membuat birahi Warok bertualang di benaknya.
“Aku harus bayar berapa?” Tanya Roro
“Huah, mengapa harus bayar, tidak perlu bayar, semua makanan dan minuman cuma-cuma untukmu. Aku pemilik perahu dan masih banyak lagi perahu milikku.”
Roro tersenyum. “Terimakasih ketua, kamu baik hati. Kudaku lebih baik kujual, tak mungkin aku membawanya naik perahu.”
“Oh kudamu ikut naik, perahuku besar, hampir sama besar dengan milik keraton Tumapel, bisa menampung seratus orang lebih.” Kata Warok bangga. “Biar anak buahku yang mengurus kudamu.”
Selama dua hari Roro Gandis yang menempati kamar sendiri, dilayani bagaikan permaisuri keraton. Selir-selir Warok yang tadinya menempati posisi penting kini seakan dilupakan, segenap perhatian Warok terpusat pada Roro yang cantik.
Hari ketiga, matahari sembunyi dibalik mendung tebal, Warok mengajak Roro ke anjungan perahu, menikmati pemandangan. Ketua Brantas penasaran belum bisa memeluk tubuh molek itu. Biasanya wanita akan cepat menerima uluran tangannya dan dia tak perlu harus menunggu sampai dua atau tiga hari.
Namun mengetahui Roro berkepandaian tinggi, Warok tak berani gegabah. “Aku harus pakai strategi halus untuk mendapatkan wanita ini. Akan kujadikan isteri. Punya isteri dengan kepandaian tinggi ditambah lagi gurunya yang pendekar kelas utama, pasti menambah kekuatanku sekaligus memperkuat perguruan.”
“Kangsa itu kakak seperguruanmu, dia pasti berkepandaian tinggi.” Kata Warok.
“Ilmu-silatnya lebih mumpuni dari aku, dia murid utama guru.”
“Gurumu punya banyak murid?”
“Hanya dua, Kangsa dan aku.” Kata Roro Gandis.
“Biasanya dua murid berlainan jenis akan terlibat cinta dan menjadi suami isteri, bagaimana kamu dengan Kangsa?”
Roro memandang dengan senyum genit. “Iiih Mas Warok ingin tahu banyak tentang aku, maunya apa?”
Warok makin tenggelam dalam fantasi melihat senyum menggoda itu. “Setahuku wanita cantik berkepandaian tinggi macam kamu, pasti banyak lelaki melamarmu. Kangsa adalah lelaki paling dekat denganmu, kalian suami isteri?”
“Dia kakak perguruanku, sudah seperti saudara kandung, sudah seperti ayahku karena beda usia belasan tahun. Dia sangat memanjakan aku.” Tutur Roro genit.
“Jadi kamu belum punya suami, belum punya kekasih, masih sendirian.”
“Usiaku dua puluh lima, aku ini janda, kawin tiga bulan terus cerai.”
“Kenapa cerai?” Desak Warok.
“Dia selingkuh, jadi kubunuh dia.” Suaranya datar. Roro tertawa dalam hati, semua cerita itu bualan belaka. Kangsa memang kakak perguruan, tetapi juga kekasih dan sering bercinta dengannya. Dan dia belum pernah punya suami.
Warok merinding. “Kamu bunuh dia?”
“Iya. Kubunuh dia. Aku tidak suka laki-laki pembohong.” Tutur Roro.
Warok memberanikan diri, dia sudah terlanjur kasmaran. “Kalau misalnya kamu ketemu laki-laki kaya yang punya banyak selir, lalu kamu dilamar jadi isterinya, apa pendapatmu?”
Tiba-tiba Roro meremas paha Warok. “Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang pakai misal-misalan, kalau jadi laki-laki harus blak-blakan dan terang-terangan.”
“Dia memancing supaya aku melamarnya.” Warok menelan ludah. “Roro ini cantik dan seksi, mendapatkan dia sebagai isteri ibarat memperoleh bulan dimalam hari. Aku harus berani tegas seperti katanya.”
“Jeng Roro Gandis, aku kasmaran padamu, ingin menjadikan kamu isteriku, apa pendapatmu?” Suaranya bergetar, ada rasa takut dan segan.
Roro Gandis tertawa. “Peletku sudah bekerja. Dia sudah masuk perangkap, satu langkah lagi dia jadi budakku.” Dia mengelus tangan kasar ketua Brantas. “Mas, aku punya adat aneh. Kadang-kadang ingin sendiri. Kalau kita jadi suami isteri, terkadang aku ingin sendirian dua hari misalnya, kamu harus bisa nerimo ini. Pada waktu itu kalau kamu sedang birahi kamu boleh sanggama sama selirmu. Jadi selirmu itu boleh kamu pelihara, tapi cukup dua orang dan mereka harus jadi pelayanku. Kamu mau?”
Tanpa pikir panjang lagi, Warok mengaku setuju. Dia hendak memeluk tetapi Roro menolak halus.
“Ada lagi Mas. Aku akan setia padamu. Kamu harus setia padaku dan perlihatkan cintamu padaku. Umumkan pada anakbuahmu, jangan ada yang kurangajar melotot mengagumi bokong dan dadaku, mereka harus patuh padaku seperti mereka patuh padamu sebab aku isteri ketua Brantas. Mau kamu?”
“Siap Jeng Roro.”
“Aku mau kamu kumpulkan semua anak buahmu dan umumkan aku jadi isterimu dan wakil ketua Brantas.” Melihat Warok agak ragu, dia melanjutkan, “umumkan sekarang supaya nanti malam kamu bisa memeluk aku.”
Mendengar itu, membayangkan malam nanti dia bisa memeluk tubuh Roro Gandis semalaman sampai pagi, seketika akal sehat Warok terbang. “Baik. Sekarang kita umumkan, ini peristiwa besar yang membahagiakan ketua Brantas.”
Malam harinya Warok mengumpulkan anak buah, memberitahu Roro Gandis telah resmi menjadi isterinya dan wakil ketua Brantas.
Usai pengumuman semua anak buah berpesta, makanan dan minuman tuak tak habis-habisnya. Pesta di geladak itu bertambah riuh karena para sinden yang diundang naik kapal ikut berpesta.
Warok menggandeng lengan isterinya, melangkah menuju kamar pribadinya yang sudah disulap jadi kamar pengantin. Dua selirnya jongkok didekat pembaringan. Selir lain sudah diserahterimakan kepada anak buahnya.
Kedua pelayan mendadani Roro di ruangan yang hanya dibatasi kerai bambu, melulur tubuh molek Roro dengan air bunga yang wangi semarak. Setelah selesai, mereka keluar kamar. Tak lama kemudian masuk lagi membawa beberapa tabung tuak yang baunya keras-keras harum.
Dua pelayan itu keluar sambil menutup pintu. Di luar kamar dua penjaga dengan senjata terhunus menjaga. Di pembaringan Warok menanti dengan gelisah.
Selama tiga hari itu Roro Gandis telah membuat Warok mabuk kepayang. Jinak bagai burung merpati, tetapi tidak terjamah. Dan Warok yang terbiasa mendapatkan perempuan yang dia maui semakin tenggelam dalam fantasi memabukkan.
Beberapa saat kemudian Roro melangkah keluar dari balik tirai.
Roro mengenakan busana longgar, sewek yang dilingkar di tubuhnya dan diikat sebatas dada. Selendang merahnya melintang di pundak menutupi tonjolan salah satu bukit kembar didadanya. Satu lainnya menonjol dibalik sewek. Dia tersenyum, “mau apa kangmas Warok, aku mau tidur, capek.”
“Aduh Roro jangan tidur dulu, kamu tahu aku sudah kasmaran padamu tiga hari, hampir mati aku mikirin kamu.
“Jangan mati dulu Mas, kan kita baru jadi suami isteri? Aku juga tidak tidur, cuma mau tiduran.” Sambil dia melangkah lenggak-lenggok.
Warok menelan ludah membayang tubuh dibalik sewek itu. “Ini banyak tuak, aku sudah minum satu tabung, ayo kita minum. Kamu suka minum?”
“Suka. Tetapi aku tidak tahan kalau minum banyak.” Dia menarik Warok ke kursi dekat jendela yang terbuka, memandang lepas ke sungai Brantas.
Warok minum.
Roro ikut minum.
Warok tidak keluar lagi dari kamar. Sampai matahari terbit, keduanya masih pulas berpelukan.
Malam-malam berikut Warok semakin tenggelam dalam kemahiran Roro memainkan kecantikan tubuhnya. Warok jarang keluar kamar. Maunya tiduran dan memeluk isterinya. Dan Roro Gandis makin menanamkan pengaruh peletnya.
Dari hari ke hari Roro Gandis tersenyum licik melihat Warok terperangkap dalam jaring asmara yang dia kembangkan. “Ibarat bertarung silat, aku harus menyerang gencar, tidak memberinya kesempatan bernafas dan berpikir. Dia seorang pendekar dengan ilmu-silat yang katanya semahir Manyar Edan, jadi aku harus benar-benar menguasainya, memerangkap tubuh dan pikirannya.”
Sepuluh hari Roro Gandis sudah bisa membuat Warok tekuk lutut dan merangkak dibawah kakinya. Tidak hanya kecantikan paras dan kemolekan tubuh tetapi Roro mahir membujuk-rayu dan memuji serta kepura-puraan jatuh cinta, membuat Warok merasa diri sebagai laki-laki perkasa yang paling beruntung di tanah Jawa.
Perahu besar itu tidak langsung berlayar ke Jedung, mampir ke beberapa desa dan menetap beberapa hari. Tapi Roro tidak perduli. Baginya tujuan Jedung hanya alasan, maksud utamanya adalah menguasai lelaki bernama Warok. Selanjutnya menguasai perguruan Brantas sebagaimana rencana dan perintah gurunya.
Hari kedua belas, Manyar Edan muncul di kapal. Dia memperoleh kabar dari anak buah Brantas lainnya. Warok putranya sudah menjadikan Roro Gandis yang cantik sebagai isteri dan wakil ketua.
Kakek tua berusia enampuluhan ini terkenal hidung-belang.
Bayangan kecantikan Roro Gandis samar-samar merasuk benaknya. “Kurangajar Warok telah mendahului bapaknya.”
Tanpa tedeng aling-aling dia memerintah Warok untuk mengalah. “Kamu suruh isterimu Roro ke kamarku, katakan aku biasa dipijit. Awas kamu membangkang!”
Warok tak punya nyali menentang perintah ayahnya yang bagaikan dewa bagi semua putra dan murid Brantas.
Semula Roro Gandis menolak perintah suaminya melayani Manyar Edan. Tapi hanya pura-pura, dalam hati justru dia melihat kesempatan besar untuk menguasai perguruan Brantas. Menguasai Manyar Edan sama dengan menguasai Brantas.
Dia tertawa dalam hati. “Begitu Manyar Edan masuk perangkap, Brantas sudah mutlak dalam kekuasaanku, selanjutnya akan lebih mudah.”
Dua malam Roro membuat Manyar Edan melambung ke alam nirwana.
Kakek itu kehilangan akal waras. Dia mabuk kepayang, tenaganya terkuras selama dua hari, dia kabur pergi diiringi tangis pura-pura Roro.
“Sudah jangan menangis, aku pergi tidak lama, pasti aku kembali lagi,” Manyar Edan puas merasa dicintai wanita cantik itu.
Setelah kakek itu pergi, Roro menangis dalam pelukan Warok. “Mas, ayahmu memang benar-benar edan, dia menjengkelkan?”
“Aku senang dia pergi. Dua hari aku kesal tidak bisa memeluk tubuhmu, tapi mengapa kamu jengkel?”
“Ayahmu itu sudah lemah. Tak punya daya, nafsunya saja yang besar. Dia tidak sebanding dengan kamu Mas, kamu kuat perkasa dan jantan.”
Kontan Warok merasa dilambung ke langit yang paling tinggi.
Suatu pagi perahu tiba di kawasan hutan Munung, Roro duduk dekat jendela memandang ke tepian sungai di sebelah kanan perahu. Sungai Brantas sangat lebar, dari tepian ke tepian, orang sulit mengenali seseorang saking jauhnya.
Perahu berlayar pelahan menyisir tepian, Roro melihat seorang penunggang kuda berlari perlahan mengiringi perahu. Wajahnya bersinar sesaat, ketika mengenali si penunggang. Dia melambai memberi isyarat akan menemui si penunggang kuda.
Dia menoleh memandang Warok yang telanjang di pembaringan, tergeletak tak berdaya. Laki-laki itu pulas.
Roro senyum mengejek, menghampiri dan menelungkup diatas tubuh telanjang itu. Berbisik di telinganya. “Mas, aku mau jalan-jalan ke tepi, kamu tunggu disini.”
Warok memeluk erat kekasihnya. “Jangan, jangan pergi dewiku.”
“Mas, aku perlu tenaga baru, aku ingin melihat-lihat hutan, bermain-main dengan pohon, dedaunan dan rumput. Kita berpisah satu hari atau paling lama dua hari.”
“Jangan tinggalkan aku, Roro.”
“Tidak kangmasku, aku tak mungkin meninggalkan kamu, mana mungkin pergi karena aku kasmaran sama kamu, laki-laki jantan dan perkasa. Kudaku tidak kubawa, keris dan buntalanku masih di kamar ini. Aku pasti kembali. Tapi kamu jangan main dengan selirmu, awas jika kamu selingkuh. Aku mau tenagamu kuat kembali untuk memuaskan hasrat birahiku, yah kangmas?”
Dan Warok hanya sanggup mengangguk lemah.
Roro menemui sipenunggang kuda. Mereka pelukan mesra. Ciuman yang panjang. Mereka menunggang kuda berpelukan. “Malam nanti kita ketemu guru.”
“Masih ada waktu Kangsa. Kamu puaskan hasrat dan cintaku. Aku bosan dengan permainan palsu merayu ketua Brantas itu.”
Mereka mencari rumah penduduk. Sepanjang siang mereka bercinta.
Menjelang malam, Roro menyiapkan ayam bakar. “Kita tak pernah mencari guru, beliau selalu bisa menemukan kita,” Kata Roro.
“Tenaga dalamnya tidak terukur lagi tingginya. Itu guru datang.” Ujar Kangsa.
Terdengar siulan burung. Suaranya masih bergema, bayangan sudah menerobos pintu. Ganggati muncul begitu saja di ambang pintu. Kangsa dan Roro separuh jongkok merunduk mencium lutut sang guru.
“Kamu sudah masak buat aku Roro?”
“Sudah siap Guru.” Sahut Roro.
Mereka bertiga menangsal perut. Tiga ekor ayam bakar.
Ganggati, pendekar gunung Limas duduk sila di atas meja. Tubuhnya sedang, tidak kurus dan tidak gemuk. Kulitnya bersih, rambutnya hitam panjang. Dia masih cantik, parasnya bening tak ada kerut keriput yang biasanya menghiasi wajah wanita usia lima puluhan. Dia mengenakan jubah panjang warna hijau muda.
Lengan jubahnya digulung memperlihatkan sepasang tangannya yang langsing berisi. Dia duduk sedemikian rupa sehingga tampak celana hitam sebatas betis. Sinar matanya tajam, bagai pisau mengilap dan mengandung hawa kematian. Dia menatap dua muridnya yang membuat Kangsa dan Roro terpaksa merunduk.
“Sekarang sudah saatnya kalian mendengar ceritaku, kisah pengalamanku, karena kalian akan menghadapi tugas berat. Ada hubungannya dengan masa laluku.“ Dia tertawa, tapi suaranya mengandung duka yang sangat dalam.
“Bapakku, juga guruku, Tangan Seribu dari gunung Limas, tak ada tandingan. Aku sudah mewarisi hampir seluruh ilmu bapakku. Ketika usiaku delapan belas, aku dikawinkan dengan kakak perguruanku. Bapak hanya punya dua murid, aku dan mas Purwo. Kami beda usia sepuluh tahun. Dia jantan dan sangat mencintaiku, apa saja yang kuminta akan dia berikan, seandainya aku minta nyawanya pun akan dia berikan. Bapak memilih suami yang sangat istimewa untuk putrinya.”
Dia menghela napas. “Tapi aku menyakiti hatinya. Suatu hari Purwo sedang melatih jurus dahsyat, selama tujuh hari dia tak boleh diganggu. Aku marah karena merasa diabaikan. Aku pergi dari perguruan tanpa arah tujuan. Dalam pengembaraan aku bertemu Suryajagad, laki-laki berusia limapuluh tahun. Dia tampan, jangkung dengan tubuh sekel. Kami bertemu di warung makan. Aku mencintainya. Suryajagad itu licik dan genit. Aku terlena bujuk-rayunya. Kami bercinta hampir setiap hari. Aku lupa suamiku karena tergila-gila pada Suryajagad. Dia mengaku sangat mencintaiku. Satu purnama kami mengembara, pesiar ke berbagai tempat dan bercinta. Tetapi dasar penipu, Setelah puas menikmati tubuhku, dia pergi. Kabur selamanya.
Aku sakit hati, pulang ke perguruan. Kangmas Purwo gembira melihat aku.
Tapi aku tak bisa menerima cintanya, aku mengaku bahwa selama ini aku tak punya perasaan cinta padanya, aku hanya merasa sebagai saudara dan persanggamaan dengannya hanya biasa-biasa saja. Tapi bercinta dengan Suryajagad membuat aku hanyut ke suatu alam yang penuh kenikmatan.
Kangmas Purwo marah tapi dia bijaksana dan mengerti perasaanku. Sejak itu kami tidak pernah bercinta lagi, hanya saling menyapa sebagai suami isteri.
Suatu hari, satu tahun sekembali aku ke perguruan, Kangmas Purwo menghadap Bapak. Dia mohon pamit karena tak tahan melihat aku yang begitu dekat jaraknya tapi tidak terjamah. Kami berpisah.
Sebelum mati, bapak berkata padaku, bahwa Purwo menetap dilereng gunung Lawu, mendalami “jurus tapak racun dingin” ciptaan Bapak yang paling baru.”
Ganggati diam.
Mata Roro Gandis berkaca-kaca, bertanya dengan suara sendu. “Guru masih ketemu lagi dengan paman Purwo?”
“Tidak pernah. Karena aku tak pernah mencarinya. Pikiranku hanya terpusat pada Suryajagad. Bertahun-tahun kemudian aku menyesal, aku ingin menemui kangmas Purwo, tapi aku malu dan merasa tidak layak menemui laki-laki yang semulia dia.”
“Guru tidak mendengar kabar dari paman?”
“Kangmas Purwo memperdalam jurus warisan guru, terkenal dengan julukan Tangan Dingin dari Gunung Limas meski dia menetap di lereng gunung Lawu. Dia masih hidup sekarang ini, usianya sekitar enam puluhan, ilmu-silatnya sangat tinggi.”
“Bagaimana dibanding ilmu-silat guru?” Desak Roro Gandis.
“Aku bukan apa-apa dibanding paman gurumu, dia jauh lebih unggul.” Ganggati melanjutkan ceritanya. “Sepeninggal kangmas Purwo aku berlatih lebih giat. Lima tahun aku menimba ilmu-silat dari bapakku. Aku ingin menaklukkan Suryajagad membuat dia tekuk lutut. Tapi aku kalah, selama lima tahun berpisah ternyata ilmunya semakin sulit diukur tingginya. Sekali lagi dia mempermainkan aku. Aku tak berdaya oleh bujukrayunya. Setelah tarung itu kami bercinta lagi. Sekali lagi dia menipuku, dua hari bercinta, dia pergi tanpa pamitan. Dia hanya main-main dengan tubuhku, mempermainkan cintaku yang tulus, sungguh aku sakit hati.”
Dua muridnya tetap merunduk.
“Waktu itu aku masih muda, cantik jelita, ilmu silatku tinggi. Banyak laki-laki mencintaiku. Tapi aku sudah terjerat dan sangat mencintai Suryajagad. Kejadiannya sudah lama tapi masih membekas dalam sanubari dan pikiranku. Sungguh aku sakit hati, membencinya, ingin aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
“Aku akan balaskan sakit hatimu, guru!” seru Kangsa tanpa sadar, asal nyeplos.
Perempuan tua itu tertawa. “Tak mungkin dengan ilmu yang kuwariskan padamu kamu bisa mengimbangi Suryajagad. Kecuali ….” Dia diam sejenak.
“Kecuali apa, guru?”sergah Roro.
“Jika kalian bisa merebut kembali keris prabakara dan memperoleh kitab pusaka Lhakeswara maka mungkin bisa mengimbangi ilmu-silat Suryajagad. Itupun belum pasti, setahuku di rimba kependekaran, Suryajagad tak ada tandingan.”
Ganggati diam sejenak, matanya menerawang jauh seakan hendak menyelam kembali ke masa lalu.
“Sejak itu aku tak pernah bertemu dengannya. Aku tahu dia menyepi di suatu tempat sunyi. Belakangan aku tahu dia punya isteri dan anak. Aku marah, mencari isteri dan anaknya, niat membunuh mereka. Aku ingin menyakiti dia sebagaimana dia menyakiti hatiku, mempermainkan cintaku yang tulus. Tapi sampai hari ini aku tak pernah tahu siapa isteri dan anaknya.”
Roro Gandis mengelus kaki gurunya. “Guru, kamu menderita.”
“Tidak Roro, aku tidak menderita. Aku bahagia. Setiap rinduku datang, aku menghirup udara sepuasnya memenuhi paru-paruku, sambil mengenang suaranya yang berwibawa melagukan kidung jurus penakluk raja.”
“Guru, aku ingin mendengar kidung cinta itu.”
“Bukan kidung cinta, itu kidung yang menantang tanah Jawa, seakan bertanya siapa mampu mengalahkan aku? Kalian belum pernah mendengar kidung itu?”
“Belum.” Dua muridnya menyahut serempak.
“Tembang itu ciptaannya.” Ganggati mengidungkan lagu kenangan itu.
Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di Tanah Jawa ini,
Dari Gunung Lejar,
Jurus Penakluk Raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Melenggang ke Barat,
Meluruk ke Timur,
Merangsak ke Utara,
Merantau ke Selatan,
Tak ada lawan,
Tak ada tandingan,
Ilmu dari segala ilmu
Selesai berkidung, nenek tua itu tertawa. Air mata meleleh dari sudut matanya. “Seandainya memiliki keris prabakhara, aku tetap sulit mengalahkan dia.”
“Sehebat itu ilmu-silatnya, guru?” Desah Roro Gandis kagum.
“Tembang jurus penakluk raja itu, sungguh temberang, sungguh dia sejago itu?” Kangsa merasa jantungnya berdebar-debar.
Ganggati hanya mengangguk.
“Aku pernah mendengar keris prabakara muncul sekitar lima tahun lalu, seorang gadis belia bertualang di rimba kependekaran mengandalkan keris dahsyat itu. Aku mengejar, ingin merebut, tapi terlambat. Banyak pendekar juga terlambat. Gadis itu seorang putri keraton, dia masuk keraton dan tak pernah muncul lagi. Ternyata dialah yang kemudian menjadi permaisuri raja Ranggawuni. Dia putri Waning Hyun.”
“Jadi keris itu sekarang di keraton?” Kangsa tampak bernafsu.
“Kenapa? Berani kamu menyatroni keraton? Di dalam istana itu, ada empat ratus pemanah jitu, delapan belas pengawal raja yang ilmu-silatnya tidak lebih rendah dari kalian berdua, selain itu konon ada delapan pendekar tua tanpa nama yang memiliki ilmu-silat dahsyat. Mungkin juga bukan delapan, bisa sepuluh, tak ada yang tahu pasti jumlah sesepuh itu. Orang menyebut mereka Sesepuh Jubah Putih. Mereka pengawal keraton yang ilmunya tidak terukur. Banyak pendekar yang mencoba masuk keraton mencuri keris itu, mati mengenaskan, mayatnya dibuang di pintu gerbang.”
“Jadi tak mungkin bisa merebut keris itu?” Roro Gandis mengeluh.
“Lima purnama lalu terdengar kabar keris itu berada diluar keraton. Aku rasa ada ponggawa istana yang berkhianat dan membawa kabur keris pusaka itu.”
Dua muridnya saling pandang dengan rasa ingin tahu.
Ganggati menatap tajam dua muridnya. “Roro telah menguasai Brantas. Itu baru awal. Berikutnya kalian berdua menyebar permusuhan di tanah Jawa, membuat semua orang bertarung. Rencanamu bagus Roro! Pertarungan Brantas dengan Mahameru akan memancing Lemah Tulis dan banyak pendekar lain ikut campur. Dua hal yang bisa dipetik, Lemah Tulis dilenyapkan dari tanah Jawa dan siapa pendekar pemegang keris prabakara akan muncul.
“Aku akan laksanakan perintah guru!” Tegas Kangsa.
“Guru, aku ingin menambah sihir pelet dan ramuan bius cinta itu.” Roro merayu.
“Sudah kurencanakan akan mewariskan sihir dan ramuan bius cinta itu.”
“Terimakasih Guru.” Bisik Roro Gandis. “Waktu masih bersama Suryajagad, guru tidak menggunakan bius dan pelet?”
Ganggati tertawa keras. “Dia tertawa ketika aku menciumnya dengan racun bius dimulutku. Dia mengisapnya dengan rakus lalu berkata, Ganggati racun biusmu wangi, aku ingin mengisapnya lagi. Dia tidak mempan racun, tenaga-dalamnya sudah sempurna sehingga bisa menolak apa saja yang tidak disukai tubuhnya.”
Kangsa dan Roro meleletkan lidah saking kagumnya.
Mendadak Ganggati berkata serius. “Roro dengarkan aku, sudah saatnya kamu bunuh si Warok, buang mayatnya di sungai, tubuhnya lenyap di perut buaya Porong, setelah itu dengan memengaruhi Manyar si tua goblok itu, kamu paksa dia mengumumkan kamu sebagai ketua Brantas.”
Ganggati memandang lekat-lekat murid lelakinya. “Kangsa, apakah kamu cemburu, melihat adikmu bercinta dengan laki-laki lain?”
“Aku tak boleh cemburu. Itu perintah guru waktu memerintah kami turun gunung, mana berani aku melanggarnya.”
“Bagus, Kangsa. Dan sekarang Roro tugas untukmu yang menyangkut masa laluku. Suryajagad punya pewaris ilmunya, entah murid atau cucu murid, namanya Wisang Geni, pernah dengar namanya?”
“Namanya tersohor sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.” Potong Kangsa.
“Bunuh dia! Hancurkan Lemah Tulis, itu balas dendamku pada Suryajagad. Roro gunakan pelet dan racun bius untuk menguasai Wisang Geni. Sekali kamu menguasai dia maka semua pendekar tanah Jawa akan tunduk padamu, saat itu akan mudah bagimu mencari keris prabakara dan kitab Lhakeswara.” Kata Ganggati. “Setelah itu bunuh dia!” Ganggati diam sesaat. “Mungkin sebaiknya aku yang membunuhnya.”
“Akan kulaksanakan, Guru.”
Ganggati tertawa lirih. “Aku mau tidur, anak-anakku.”
“Guru, sebelum kamu pulas, ceritakan kepada kami tentang kitab Lhakeswara,” bisik Kangsa sopan.
Suara Ganggati terdengar lirih. “Kitab Lhakeswara itu banyak petuah dan nasehat, tetapi diantara kalimat-kalimat sastra dan wejangan itu terselip jurus-jurus sakti. Penciptanya, Mpu Tanakung, pendekar yang ilmu silatnya tinggi, dia juga ahli sastra, hidup dimasa kekuasaan raja Jayabaya. Siapa menguasai jurus-jurus saktinya bisa jadi pendekar nomor satu tanah Jawa. Kitab itu terdiri dua jilid. Hebatnya, kitab itu tak bisa dipelajari hanya satu jilid saja, orang bisa tersesat atau gila. Seseorang harus mempelajari dua jilid sekaligus.”
Suaranya melemah, Ganggati pulas. Tapi dua muridnya tidak beranjak dari tempatnya tetap memijit kaki sang guru. Bagi Kangsa dan Roro, gurunya bagai orangtua sendiri yang memelihara mereka sejak usia kecil.
Bagi Kangsa, gurunya adalah kekasih.
Usia mereka terpaut duapuluh tahun. Ketika usia Kangsa tujuhbelas tahun, dia sudah harus memenuhi hasrat seks gurunya. Saat itu Roro masih tujuh tahun usianya. Tidak heran jika Ganggati dijuluki wanita kejam tak punya rasa kasihan, wataknya aneh. Bagi Ganggati bercinta dengan murid sendiri bukan sesuatu yang tabu.
Ketika Roro menginjak remaja, Ganggati membiarkan Kangsa meniduri adik perguruannya. Dia tak cemburu meskipun masih sekali-sekali memanggil murid laki-lakinya memenuhi hasrat seks dan birahinya. Maka tidak heran jika dua muridnya juga mewarisi sifat aneh, liar dan kejam.
***
“Roro mulutmu wangi.”
“Iya aku minum jamu, sengaja supaya kamu senang, lebih gairah, itu tandanya aku sangat cinta padamu kangmas Warok.”
Mulutnya mengandung racun bius. Roro sudah menelan obat penawarnya. Malam itu usai bercinta Warok terbaring lemas. Dia tak berdaya diatas perut kekasihnya yang beracun.
Tanpa ragu dan rasa kasihan sedikitpun Roro Gandis menghunus keris Warok dan menghunjam ke jantungnya. Warok mati, matanya melotot penasaran menatap Roro.
Diam-diam di malam hari dari jendela kamarnya dia membuang mayat Warok ke sungai membiarkan buaya Porong berpesta pora.
Keesokan harinya dia menyuruh anak buahnya memanggil Manyar Edan.
Dua hari kemudian kakek itu muncul di kamar pribadi Warok yang kini dihuni Roro Gandis. Manyar Edan minum tuak sampai mabuk, dia menari-nari diatas tubuh wanita cantik dengan nafsu seorang tua yang kesetanan.
Roro Gandis merayu Manyar Edan. “Anakmu Warok pergi ke gunung Argo, dia mau berguru pada seorang sakti yang tak mau disebut namanya.”
“Goblok! Warok itu goblok dan edan. Dia tidak lapor sama aku.” Manyar Edan marah. Sedetik terbersit kecurigaan, tetapi cepat sirna ketika elusan tangan halus Roro Gandis membelainya.
Roro mengelus-elus lebih romantis. “Kata Warok dia pergi selama dua tahun, dan dia percaya padaku untuk menjadi ketua.”
Lalu Roro memperlihatkan cincin dan logam tanda ketua dari tumpukan pakaian. “Ini cincin dan lambang ketua dititipkan kangmas Warok padaku.”
Manyar Edan memerhatikan dua benda itu. “Bagus dia percaya padamu untuk menjalankan peran ketua. Tak ada orang lain yang cocok selain kamu.”
Roro memeluk pendekar tua itu dan berbisik ditelinganya. “Seharusnya kamu kangmas yang jadi ketua untuk sementara.”
“Tidak. Aku tidak mau. Aku sudah bosan jadi ketua. Warok pintar telah memilih kamu jadi ketua.” Manyar Edan sudah terbelenggu kenikmatan yang dimainkan Roro dengan sangat mahirnya, percaya begitu saja. Kecerdasan dan kejeliannya, lenyap ditelan senyum dan elusan tangan Roro.
Pelet Roro Gandis telah merasuk dalam nafas kehidupannya, menutup pikiran dan nuraninya. “Kangmas aku mau sekarang kamu umumkan kepergian mas Warok, umumkan juga aku sebagai ketua, nanti setelah dia kembali akan kukembalikan jabatan ketua ini.” Desak Roro Gandis manja.
Manyar Edan menatap wanita itu. Matanya berkilat-kilat. “Tapi Roro, ada upahnya, aku minta upah. Kamu jadi milik Manyar Edan selamanya.”
“Cuma itu?” Tanya Roro genit, sambil menebar senyum menggoda.
“Yah cuma itu.”
Roro pura-pura gembira. “Aku juga mau. Kamu jantan dan perkasa.”
Manyar Edan tertawa puas. Jawaban Roro Gandis itu melambungkan dia ke alam maya. Semua lelaki akan bangga saat kejantanannya dipuji sang isteri. Dia mengajak Roro Gandis keluar kamar. Dia berseru memanggil semua murid dan anak buahnya.
Dalam sepenanakan nasi sebagian besar anak buah Brantas berkumpul dan duduk sila di geladak perahu. Tidak semua bisa hadir. Tetapi para murid utama dan pemimpin pasukan semuanya hadir.
Manyar Edan berseru dengan lantang dan wibawa. “Aku Manyar Edan pemilik Brantas.” Lalu dia mengumumkan, kepergian mendadak Warok yang menjalankan tugas rahasia, memperdalam ilmu-silat di suatu tempat.
“Satu atau dua tahun, dia akan kembali dan akan memimpin Brantas lagi. Selama kepergiannya dia telah mempercayakan Roro Gandis sebagai ketua. Aku restui. Ingat mulai sekarang, kalian semua harus patuh perintah ketua Roro Gandis.”
Langkah berikutnya. Roro mulai menggoda putra Manyar. Dia menuntut kesetiaan yang mutlak. Prabowo dan Santiyaki yang paling disegani anak buah jadi sasaran utama. Dan wanita cantik itu yang kini penguasa Brantas tidak butuh waktu lama untuk menarik dua pendekar itu ke kamar pribadinya.
***
No comments:
Post a Comment