Saturday, July 23, 2011

Wisang Geni part Two Bab 5

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Lima

Pertarungan Trawas

Begitu keluar dari lembah, Wisang Geni bersiul. Tidak lama berselang si hitam Wulung muncul, mengibas-ibas kepala, mengangkat dua kaki depan lalu meringkik. Dia senang bertemu majikannya. Saat berikut kuda Atis muncul menghampiri.

Mereka menunggang kuda, Wisang Geni dipunggung Wulung dan Atis di kudanya sendiri. “Aku maunya berdua di punggung Wulung seperti kemarin.” Ujar Atis menggoda.

“Dulu kamu sakit, sekarang sudah sembuh.”

“Dulu belum jadi isteri, sekarang sudah jadi sisianmu.”Sambil dia melirik menggoda.

“Jadi kemana, ke lereng Argo?” Wisang Geni bertanya.

Tampak wajah Atis yang berduka. Dia mengangguk. “Iya, gunung Argo.”

“Aku janji Tis. Tiga puluh hari aku sudah akan menjemput kamu.”

“Awas bohong, kamu sudah janji, sudah bersumpah akan menjemput aku.” Atis diam sejenak, parasnya muram. “Tapi tiga puluh hari waktu yang lama, aku akan merindu kamu setiap hari, setiap malam.”

Atis menangis. Tiba-tiba dia turun dari kudanya dan melompat ke punggung Wulung, tepat didepan Wisang Geni. “Aku mau dipangku.”

Wisang Geni membujuk. “Tapi jangan menangis lagi.”

“Aku mau dipangku begini. Setiap malam kamu harus mencintai aku, dari malam sampai pagi kita bercinta sepuas-puasnya. Oh Geni, jangan tinggalkan aku.”

“Satu bulan tidak lama, sayangku.”

Tujuh hari mereka tiba di lereng Argo. Tujuh malam Atis menangis. Tangisnya hanya berhenti jika dipeluk dan diajak suaminya bercinta.

Dari kejauhan tampak rumah ditengah kerimbunan pepohonan. Tiga bayangan melesat bagaikan melayang menghampiri Wisang Geni dan Atis. Ternyata mereka, pendekar Merapi Sagotra dan dua sahabatnya Grajagan dan Pancasona.

Ketiganya terkejut melihat Atis duduk dipangkuan Wisang Geni dipunggung kuda hitam. Tangan Wisang Geni memeluk tubuh isterinya, tepat diantara perut dan dada. Seketika saja Sagotra mengenali Wisang Geni.

“Hei Geni, kamu apakan cucuku?” Suaranya keras agak membentak.

Atis menyahut tidak kalah kerasnya. “Kakek jangan ikut campur, awas kamu macam-macam, aku tinggal pergi lagi!”

Sagotra diam. Dua sahabatnya juga diam.

Pancasona membuka suara. “Atis muridku ada persoalan apa? Kamu pergi cukup lama, membuat kami bingung mencarimu.”

“Guru juga jangan ikut campur urusanku dengan kangmas Geni.”

“Kangmas?” Seru Grajagan, bertanya sekaligus terkejut.

Wisang Geni menyahut datar. “Atis sudah jadi isteriku.”

Tiga orangtua itu menyahut serentak, terkejut. “Haahh isterimu?”

Atis melompat, salto kebelakang, berdiri tepat dibelakang suaminya, masih diatas punggung Wulung. Tangannya mengelus wajah dan rambut suaminya, dia berkata ketus pada tiga orangtua itu.

“Aku lebih berani dari kalian bertiga, kalian saling mencinta tapi tak pernah berani kawin. Setelah umur sudah sangat lanjut baru kumpul bersama. Itu cinta yang aneh. Aku lebih berani, aku mencintai Wisang Geni, dia juga cinta padaku, lalu kami kawin, menjadi pasangan suami isteri, apakah itu salah?”

Pancasona berteriak girang. “Lihat, itu ajaranku. Kalau cinta yah cinta, jangan lari. Kalau saling cinta harus kawin, jadi suami isteri. Ternyata Atis sudah jadi isteri Wisang Geni wah itu hebat muridku, kamu bisa membuat pendekar gila perempuan itu kasmaran padamu.”

“Guru!” Atis berseru keras. “Suamiku bukan pendekar gila perempuan!”

“Iya, iya, aku salah bicara.” Pancasona tersenyum geli.

Sesaat suasana hening.

Sagotra memecah kesunyian. “Wisang Geni, sekarang maumu apa?”

Wisang Geni melompat turun dari punggung Wulung diikuti Atis. “Aku mau titip Atis isteriku disini, tiga puluh hari lagi aku akan menjemputnya.”

Sagotra memandang Atis.

“Iya kek, itu rencana kita berdua. Mas Geni masih harus selesaikan urusannya, setelah itu dia menjemputku dan membawa aku ke Welirang. Boleh aku tinggal disini, sementara saja? Kalau tidak boleh, aku pergi ke Lemah Tulis saja.”

”Ohh kakekmu senang kamu tinggal disini.” Sagotra menoleh ke Wisang Geni. “Katamu tigapuluh hari, awas jangan sampai lupa menjemput cucuku. Kalau kamu mempermainkan cucuku, aku marah Geni!”

“Aku mencintai Atis, kamu tak perlu khawatir.” Tegas Wisang Geni.

“Mas kamu nginap disini beberapa malam, mau kan? Katakan iyah.” Atis memeluk suaminya tanpa merasa risih pada kakek dan dua gurunya. “Nanti aku masak makanan yang lezat untukmu, juga aku kidungan dan menari untukmu.”

“Satu malam.”

“Tiga malam saja.” Atis memeluk suaminya, merebah kepalanya di leher suaminya.

Wisang Geni berbisik. “Baiklah, tiga malam.”

Atis melepas pelukannya. “Kek aku pinjam rumahmu tiga malam, kalian bertiga tidur diluar, mau kan? Katakan iyah Kek.” Matanya berkedip-kedip memandang Sagotra.

Pendekar Merapi yang hebat digjaya itu tak berdaya. Dia menoleh ke dua temannya. Grajagan dan Pancasona tersenyum.

“Kita dikuasai anak kecil ini.” Kata Grajagan.

“Hei guru, aku bukan anak kecil!” Seru Atis.

Grajagan cepat menyahut. “Maaf aku salah omong, kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah dewasa. Malah sudah kawin.”

“Eh Atis kamu sudah sanggama dengan suamimu?” Pancasona ingin tahu.

“Sudah. Setiap hari. Itulah kenikmatan sebagai manusia. Guru sudah merasakan?” Tanya Atis dengan senyum menggoda.

“Anak nakal, berdebat denganmu aku tidak pernah menang.” Tukas Pancasona.

“Aku pinjam rumahmu, katakan cepat, boleh atau tidak?” Seru Atis.

Tanpa sadar tiga kakek itu menyahut serentak. “Boleh.”

Wisang Geni tersenyum melihat Atis memerintah kakek dan dua gurunya.

Saat itu hari masih sore. Tiga pendekar tua tampak berbisik-bisik, berunding.

“Kakek, apa yang kalian bisik-bisik, mau membohongi aku?” Teriak Atis.

Sagotra mendorong Grajagan, menyuruh temannya yang bicara.

“Atis muridku, karena Wisang Geni sudah jadi suamimu, maka kami bertiga harus menguji ilmu-silatnya, ingin tahu kemampuannya melindungi kamu.” Kata Grajagan.

“Kamu mau main curang, mengeroyok suamiku?” Seru Atis berang.

“Tidak. Kita tanding satu lawan satu, sekadar uji ilmu-silat.” Potong Pancasona.

Atis menoleh suaminya. “Kamu mau? Kalau tidak mau, biar aku yang menolak.”

“Jajal ilmu-silat, aku juga ingin main-main,” Wisang Geni gembira. Dia menghadap tiga pendekar tua itu. “Siapa yang maju duluan?”

Sagotra mendorong Pancasona. Perempuan tua ini mendorong Grajagan.

“Kamu maju duluan!” Perintah Pancasona.

Grajagan melangkah maju. “Geni, aku tahu ilmu-silatmu tinggi, tetapi aku juga sudah menyempurnakan sewu braja. Ayo kita jajal.”

“Silahkan memulai Ki.” Wisang Geni memutuskan akan menggunakan jurus langit yang terdiri dari tiga kumpulan jurus yang dia ciptakan saat dia dilanda duka nestapa kematian isterinya Walang Wulan.

Tiga kumpulan jurus rasa suwung wenganing bumi (ikhlas membuka dan membelah bumi), ngesti suwung wenganing bumi (suasana hening membuka bumi), wongmati ora kesasaban bumi (orang mati tidak dikubur). Dalam tiap kumpulan memecah belasan jurus menyerang yang mengandung kesedihan serta amarah dan dendam.

Grajagan memainkan ilmu andalannya sewubraja yang punya banyak perubahan tak terduga. Intinya adalah gerak lamban mengatasi kecepatan, tampaknya bergerak lamban namun bisa tepat pada saatnya menangkis atau memukul. Pukulannya panas membawa tenaga besar, gabungan tenaga-luar dengan tenaga-dalam. Inilah jurus tangan kosong murni, tanpa senjata namun sanggup menantang musuh yang bersenjata.

“Jangan mengalah, Mas. Kalau kamu kalah nanti guru akan mengejek aku.” Teriak Atis.

“Murid apa kamu ini, mengapa membela orang luar?” Kata Sagotra.

“Dia bukan orang luar, dia suamiku. Aku harus membela dia, itu kewajiban seorang isteri yang setia.” Seru Atis, sambil melotot memandang kakeknya. “Kakek tidak tahu urusan suami isteri, jadi sudahlah diam saja Kek.”

Sagotra bergumam didekat Pancasona. “Sampai kapanpun kita kalah adu lidah dengan Atis, otaknya cerdas dan mulutnya tajam.”

Pancasona menggamit lengan Sagotra. “Lihat tarung itu.”

Pertarungan berlangsung ketat. Wisang Geni meladeni tenaga Grajagan. Adu tenaga, adu jurus, adu kecepatan. “Tiga tahun lalu aku pernah menyaksikan kamu tanding memainkan sewubraja menghadapi pendekar Kuangchou. Hebat, tenagamu makin berbobot, jurus makin tajam dan lancar. Selamat Ki Grajagan.” Wisang Geni memuji.

Sepertinya tarung imbang. Tetapi sebenarnya Wisang Geni lebih unggul. Dia membaca arah pukulan Grajagan dengan baik. Beberapa kali sengaja adu tenaga.

“Tarrr …. Tarrr …. Tarrr…” Terdengar benturan tapak tangan, keras macam bunyi ledakan ketika batu bertemu batu. Sewubraja mirip-mirip gelap-ngampar pukulan tangan kosong yang menguar suara gegap-gempita, kontra tamparan jurus langit yang menggunakan tenaga wiwaha.

Terdengar teriakan Atis. “Guru, mundur saja guru, mumpung masih imbang. Jika mas Geni menggelar jurus angin leysus, kamu bisa diterbangkan ke pulau sempu.” Atis tertawa geli melihat Grajagan mulai kewalahan.

“Jurus apa itu, jurus siluman?” Sahut Grajagan.

“Itulah jurus angin ribut yang digunakan Wisang Geni mengakhiri tarung lawan pendekar Kuangchou, masih ingat kamu?” Teriak Nyi Pancasona.

Grajagan ingat sepakterjang Wisang Geni dalam tarung dengan pendekar Kuangchou tiga tahun lalu. “Benar juga, kalau dia gunakan jurus angin ribut itu, aku pasti kalah, daripada malu lebih baik mundur!” Berpikir demikian Grajagan melompat mundur beberapa tombak. “Kita imbang, tidak kalah dan tidak menang!”

Atis berteriak. “Curang, guru kamu curang. Kamu kalah, mengaku saja kamu kalah, tidak perlu malu, kamu tetap guruku, tidak mungkin aku memecatmu!” Atis tertawa geli.

“Atis murid aneh. Kamu lihat aku imbang. Tidak kalah, juga tidak menang. Bukankah begitu Wisang Geni?” Grajagan bertanya.

“Iya Ki, kita imbang. Sewubrajamu maju pesat, aku kewalahan.” Sahut Wisang Geni.

“Ah Dimas Geni, kamu menghibur aku.” Grajagan tersipu.

Berikutnya Pancasona maju. “Kini giliranku!”

Nyi Pancasona menyerang menggunakan pedang baja tipis yang mengilat diterpa sinar mentari sore. Jurus pedang daladala sudah puluhan tahun dia dalami, tak heran gerakannya lancar dan bersinambungan tak putus-putus. Pedangnya baja lemas yang bisa menampar seperti sabuk, saat lain kaku bagaikan pedang baja.

“Wisang Geni cabut senjatamu hadapi jurus daladala ini.”

“Maaf, aku tidak membawa senjata, lagipula tidak terbiasa pakai senjata.”

Pancasona menunda serangannya. “Tidak adil. Kalau kamu tangan kosong, sudah pasti kamu menang, jurus tangan kosongmu tak ada tandingan di tanah Jawa. Aku mau menguji sampai dimana kemajuan jurusku ini, jadi kamu harus pake senjata!”

Atis berteriak. “Guru Sona, kamu curang, menyuruh suamiku tarung dengan senjata yang tak pernah dilatihnya, itu jelas-jelas perbuatan curang, menipu lawan.”

Timbul kegembiraan Wisang Geni berseru. “Tis, aku pinjam kerismu!”

Tak bisa menolak, Atis melempar kerisnya, sambil protes. “Guru Sona memang suka curang, selalu mau menang sendiri.”

“Eh Atis, kalau dia tak bisa mengatasi daladala, itu artinya dia tak bisa melindungimu, dia harus dipecat sebagai suami!” Pancasona tertawa cekikan, menggoda muridnya.

“Siapa berani memecat suamiku, Guru, jangan membuat aku marah!” Teriak Atis.

Pancasona mengalih perhatian pada Wisang Geni. “Terima seranganku!”

Pedang lemas itu mengurung dengan tusukan, tamparan, sabetan, tidak memberi ruang sedikitpun bagi Wisang Geni untuk mengelak. Serangan tak pernah putus, bersinambungan.

Wisang Geni terkesiap. Jurus pedang pendekar wanita ini maju pesat. Kecepatan pedang mendesaknya, dan dia hanya bisa lolos pada detik-detik terakhir ketika ujung pedang hanya satu jengkal dari tubuhnya.

Dua puluh jurus berlalu.

Keris Wisang Geni seakan tidak berguna. Dia hanya bisa meloloskan diri menggunakan ringan tubuh dan sentilan jari tangan kirinya.

Pada saat kritis Wisang Geni menemukan cara menghadapi daladala.

Tadinya dia sungkan dan tak ingin melukai Pancasona, hal ini membuatnya terdesak. Memasuki jurus duapuluhlima Wisang Geni mencecar pergelangan tangan Pancasona dengan keris maupun sentilan jari tangannya. Dia menggunakan garudamukha prasidha yang jurus-jurusnya dirancang untuk permainan bersenjata.

Seketika pertarungan berubah. Lolos dari situasi kritis, Wisang Geni kini menyerang gencar. Serangannya tertuju pergelangan dan siku tangan. Kini Pancasona yang terdesak. Sepuluh jurus berlalu, Pancasona tak berdaya membendung desakan.

Tiba-tiba Wisang Geni melompat mundur.

“Cukup, cukup, aku menyerah kalah! Jurus daladala semakin hebat.” Seru Wisang Geni.

Atis berteriak. “Tidak bisa begitu! Guru Sona yang kalah!”

Pancasona tertawa melihat muridnya begitu bersemangat membela suami. “Suamimu menang, Atis. Dia memang pendekar nomor satu.”

Atis berteriak gembira. “Mas Geni sudah menang dua kali. Sekarang giliran kakek. Hati-hati Mas, kakek banyak akal liciknya.”

Sagotra tertawa. “Licik? Kamu lebih licik. Mana bisa kita bertiga melawan kamu.” Lalu dia berkata kepada Wisang Geni. “Kamu sudah pelajari bangbang alumalum dan waringin sungsang dari Manjangan Puguh. Nah kita tanding menggunakan dua ilmu-silat itu.”

“Mana bisa aku menang, jurus-jurus itu ciptaanmu.” Wisang Geni merendah.

“Pertandingan pertama, kamu mengejar aku, jika sanggup menyentuh tubuhku, kamu menang. Yang kedua, ganti aku mengejarmu. Gunakan waringin sungsang! Pertandingan kedua, tarung dua puluh jurus menggunakan bangbang alumalum. Kita lihat siapa menang, kakek Atis atau suami Atis?”

Dua pendekar itu memulai tarung. Wisang Geni mengejar Sagotra. Tetapi jangankan menyentuh tubuhnya, mendekatipun tak mampu. Wisang Geni mengaku kalah. Ganti dia berlari dikejar Sagotra, dalam sepenanakan nasi, pendekar Merapi berhasil menyentuh tubuhnya. Wisang Geni kalah.

Pertandingan kedua. Keduanya saling menyerang dan bertahan menggunakan jurus-jurus bangbang alumalum (semua merah, semua hidup, semua mati) lengkap tujuh jurus dengan berbagai pecahannya, bhaskarogra (matahari memuncak panasnya), nanawidha (beraneka warna), bahni anempuh toya (api menyerang air), gora andaka (banteng besar), kinabasang (dipanggang), nyakra manggilingan (selalu berputar seperti kincir, berulang-ulang) dan lokamandhala (muka permukaan bumi).

Tampak bedanya, dalam hal tenaga-dalam Wisang Geni unggul, tapi hal memainkan jurus demi jurus yang bersinambungan pendekar Merapi lebih unggul. Duapuluh jurus berlalu dengan cepat, keduanya memisah diri.

“Terima hormatku, aku kalah kakek guru!” Kata Wisang Geni.

Sagotra tertawa. “Kenyataannya memang kamu cucu muridku, kamu muridnya Puguh. Ketika Puguh akan mewariskan dua ilmu itu kepadamu, dia minta restuku dan kurestui.”

“Tidak bisa begitu. Aku murid kakek dan suamiku cucu murid kakek, salah. Tidak bisa begitu, lagi-lagi kamu ngawur kakek.” Protes Atis.

Pancasona menggoda muridnya. “Atis kamu itu bunglon!”

“Mengapa menyebut aku bunglon, binatang yang gontaganti kulit?” Potong Atis.

“Kamu muridnya Puguh, juga muridnya kakekmu, jadi yah bunglon!” Goda Pancasona.

Sagotra tertawa, “kamu cucuku, putri dari anakku. Jadi aku mengajarimu bukan sebagai guru tetapi sebagai kakekmu. Kamu puas?”

Atis tertawa senang. “Baru kali ini kamu mengatakan hal yang benar yang tidak membuat aku jengkel. Memang benar, kamu bukan guruku, kamu kakek yang paling kusayang.”

Wisang Geni gembira beberapa hari bersama isterinya.

Setiap siang tiga pendekar tua mengadu ilmu-silat dengannya. Sore harinya Atis membawa Wisang Geni main-main di lereng gunung. Malam harinya Atis menghibur suaminya. Atis punya kelebihan yang jarang dimiliki wanita muda. Dia pandai masak, bisa menari dan berkidung, bisa melukis, mahir merayu dan menggoda, semua kelebihan itu membuat Wisang Geni merasa betah berada disampingnya.

Tidak cukup dua malam, Wisang Geni akhirnya tertahan sampai enam hari.

Hari itu Wisang Geni melompat ke atas punggung Wulung. Airmata Atis membasahi pipi yang kemerahan. “Kangmasku, tiga puluh hari lagi kamu jemput aku. Jangan lupa Mas!” serunya dengan menahan isak tangis.

Wisang Geni mengarah ke desa Trawas, rencananya mampir sehari di Lemah Tulis, esoknya nginap di Trawas kemudian pulang ke Welirang.

Hari itu Sekar uring-uringan. Dia baru saja bertengkar hebat dengan Gayatri. Pasalnya Gayatri menjewer telinga Antaseno, putra Sekar. Melihat telinga putranya yang merah bengkak, meskipun Seno menyembunyikan siapa yang menjewer, tetapi Sekar tahu itulah perbuatan Gayatri.

Kontan amarahnya mencuat. Gayatri tak mau mengalah, terjadi adu mulut yang sengit. Untung saja Manohara dan Prawesti bisa melerai dua macan betina yang saking marahnya nyaris tarung. Perseteruan keduanya sudah sejak beberapa bulan belakangan, cukup lama dan tak ada yang mau mengalah.

Masalah lain yang membuat Sekar kesal, Wisang Geni yang sekali lagi ingkar janji. “Dia sudah janji akan bersama aku mengantar Seno ke guruku. Katanya dia pergi hanya lima belas hari. Sekarang sudah empatpuluh hari lebih dia belum pulang. Kemana saja dia pergi?” Sekar memandang dua temannya Prawesti dan Manohara.

“Ah mbakyu pura-pura tidak tahu tabiat Mas Geni. Pasti dia ketemu perempuan cantik, terlibat asmara, yah tentu saja dia lupa semuanya.” Kata Manohara dengan senyum licik.

“Kalau dia lupa sama aku dan Manohara, itu biasa. Tapi melupakan mbakyu Sekar yang cantik, semok, wuah itu kelewatan.” Prawesti menggoda.

“Dia pasti punya simpanan wanita lain diluaran yang tidak kita ketahui. Kelakuannya suka menghilang, membiarkan kita kesepian. Sekali-sekali kita perlu protes, tapi rame-rame.” Kata Manohara.

Sekar tertawa geli. “Kamu licik, suka memanasi hatiku. Tapi aku tidak terpancing. Biar saja dia ambil isteri lagi, jatahku tidak akan hilang, Jatah kalian yang berkurang.”

Tiga wanita ini saling menggoda. Tertawa cekikikan.

Tiba-tiba Gayatri menerobos masuk kamar. “Apa yang menjadi bahan tertawaan? Kalian menggunjing aku?” Matanya mendelik.

Sekar menatap tajam. “Dia cari gara-gara lagi, kali ini akan kuhajar benar-benar.” Bisiknya dalam hati. Dia hendak menyahut tetapi Manohara mendahului. “Kami bincang tentang mas Geni. Lama dia menghilang, pasti sudah ketemu gadis cantik.”

“Firasatku, dia ketemu gadis yang cantik langsing itu.” Tambah Prawesti.

“Perempuan yang mana?” Tanya Gayatri.

“Dua purnama lalu di desa Bangsal kita ketemu gadis itu yang dikawal beberapa pengawal. Kulihat mas Geni main mata dengannya.” Prawesti menoleh ke Manohara. “Coba tanya Manohara, dia juga menyaksikan adegan main mata itu, iya kan?”

Mengerti maksud Prawesti menggoda Gayatri, Manohara mendramatisir cerita bohong itu. “Benar. Si gadis tertawa sambil membalas kedipan mata lalu pura-pura kebelakang rumah, mas Geni mengikutinya. Pasti mereka mengatur janji bertemu.”

“Dasar mata keranjang,”tukas Gayatri. Nada suaranya sarat amarah. “Aku sudah tahu, memang dia suka cari perempuan diluaran, dia sudah bosan sama kita. Kelakuannya makin menjengkelkan, suami macam apa itu?” Gayatri benar-benar sengit.

Sekar diam, tampaknya tidak perduli keadaan sekitarnya. Dia memejam mata, tidur.

Gayatri memecah kesunyian. “Keluargaku sudah pasti pulang ke Himalaya duapuluh hari lagi, Geni sudah tahu jadwalnya, tapi mengapa belum pulang? Makin lama dia makin tidak bertanggungjawab.” Tampak jelas suara dan mimik Gayatri yang kesal dan kecewa. “Lalu sekarang ini perginya lama tak ada kabar berita, suami apa itu?”

“Kurasa tidak lama lagi mas Geni pulang, kamu tidak perlu khawatir.” Tukas Prawesti yang memperlihatkan rasa tidak senang mendengar suaminya dicela. Dia menganggap sebagai ketua Lemah Tulis, Wisang Geni tak boleh dikritik orang.

“Gadis itu memang cantik.” Manohara pura-pura jengkel.

“Biar saja dia menghilang bersama si gadis.” Ujar Sekar tanpa membuka matanya.

“Mengapa kalian tidak protes? Malah membiarkan dia leluasa menambah isteri?” Sambil berkata Gayatri melangkah keluar hendak kembali ke rumah orangtuanya. “Kalau dia sudah kembali, kalian beritahu aku!” Tambahnya.

Prawesti menyahut. “Akan kukabari kamu, Gayatri, mbakyuku yang manis.”

“Terimakasih Westi. Cuma kamu yang masih baik hati padaku.” Gayatri melesat pergi.

Sekar menyambar buntalan pakaiannya. “Aku mau pergi!”

Manohara dan Prawesti terkejut. “Pergi? Pergi kemana?”

“Lembah cemara, menemui nenek!”

“Mengapa mendadak mau pergi ke lembah cemara?” Tanya Prawesti.

“Mas Geni setuju Seno berguru pada nenekku. Karena dia belum juga datang, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Kalau dia datang katakan aku pergi mengantar Seno ke lembah cemara.” Sekar memandang dua temannya. “Jangan khawatir, aku pulang sebelum keluarga Gayatri berangkat.”

“Aku ikut!” Seru Prawesti.

“Kita pergi bertiga! Diluaran banyak musuh. Kamu sendirian.” Tukas Manohara.

“Kalau begitu, Manohara pergi temui Gajah Nila, katakan kita mengantar Seno ke lembah cemara terus langsung ke Lemah Tulis.” Kata Sekar.

Manohara segera berlari menemui Gajah Nila.

Tiga tahun belakangan Nenek Sapu Lidi sudah menetap bersama adiknya, Dewi Obat di lembah cemara. Keduanya berterimakasih pada Sekar yang memaksa dua neneknya untuk hidup bersama. Hanya Sekar yang bisa mendesak Sapu Lidi untuk meninggalkan tempatnya yang terpencil di laut selatan, pindah ke lembah cemara.

Dua neneknya, terutama Dewi Obat, sibuk merawat Sekar ketika hamil besar sampai saat melahirkan Antaseno. Memberi ramuan baik untuk Sekar maupun bayinya. Mereka nginap di rumah kecil dekat danau. Bahkan ketika Antaseno mulai bisa berjalan, dua nenek itu sering mengunjungi Welirang menjenguk sang cicit.

“Geni banyak musuhnya. Mereka tak mampu membunuh suamimu, sasaran akan beralih ke Antaseno. Di lembah cemara, dia pasti aman. Nenek berdua akan melatih ilmu-silat dan sastra jawa, setelah dewasa, giliran Geni melatihnya.” Begitu usul Sapu Lidi waktu itu.

Ketika Sekar membicarakan dengan suaminya, Wisang Geni setuju. Waktu itu ditetapkan akan mengantar Seno jika sudah lepas menyusu. Satu tahun lalu Sekar sudah tidak menyusui Seno lagi, tetapi belum juga bisa mengantar putranya ke lembah cemara. Sekar tak mau lagi menunda-nunda, karena neneknya sudah lama menunggu kedatangan Seno cicitnya.

Selama perjalanan Sekar, Manohara, Prawesti dan Antaseno tidak menemui halangan.

Empat hari kemudian mereka tiba di Lembah Cemara. “Kamu tunggu disini. Aku dan Seno masuk, nenekku punya adat aneh, tidak suka bertemu orang. Aku akan mintakan ijin supaya kamu diperbolehkan nginap.”

Tak lama kemudian Sekar menemui dua temannya. “Ayo kedalam.” Sekar menuntun mereka berikut tiga kudanya. “Pepohonan cemara ini disusun dengan rahasia, orang tidak bisa masuk keluar jika tidak tahu rahasianya.” Kata Sekar.

Sekar mengajak dua temannya ke rumah kecil agak jauh dari rumah utama dekat empang dimana dua neneknya tidur. “Kita nginap disini. Kamu jangan tersinggung jika nenek tidak menyapa, adat mereka memang begitu. Kamu istirahat, nanti kubawakan makanan. Aku mau menemui nenek dulu.”

Dua neneknya sedang main-main dengan Antaseno. Tampak dua nenek itu begitu gembira. Mereka gantian menggumuli Seno yang meski baru usia tiga tahun namun memiliki tubuh sebesar anak berusia lima tahunan. Kulit tubuhnya kuning sawo, wajahnya ceria selalu tersenyum. Dalam sekejap Sapu Lidi dan Dewi Obat jatuh hati.

“Aduh Seno, kamu lucu dan gesit. Seharusnya satu tahun lalu kamu kesini sehingga dua nenekmu ini tidak kesepian.” Kata Dewi Obat yang nama aslinya Kunti, memeluk erat dan menciumi Antaseno yang tentu saja kegelian.

Sekar memeluk, menciumi wajah Sapu Lidi neneknya. “Nek, begini kamu lebih cantik, tidak perlu lagi menyamar jadi wanita tua bungkuk. Demi Seno, nanti dia takut, terus dia lebih sayang sama nenek Kunti, mau kamu?”

“Kamu memang pinter, suka membakar-bakar emosiku, tapi baiklah aku akan merawat paras dan tubuhku. Aku senang kalau Seno juga menyayangi Kunti, kasihan adikku itu.” Dia melesat mengejar adiknya. “Mana Seno, ganti aku yang gendong.”

“Seno tidak mau digendong, maunya lari, larinya kencang. Punya bakat untuk menerima wimanasara.” Seru Dewi Obat yang gembira bermain dengan Antaseno.

Sekar mengejar nenek Sapu Lidi yang mengejar Dewi Obat. Mereka bermain diantara rimbunnya pepohonan cemara dan kolam air yang luas.

Dua nenek itu bergantian menggendong dan menggeluti putra Sekar.

“Nek kamu sudah lupa sama aku?” Pura-pura kesal tapi dalam hati Sekar gembira melihat dua neneknya begitu gandrung sama Antaseno.

Sapu Lidi meneliti wajah dan sosok cucunya lalu tertawa. “Sudah lama tidak bertemu, ternyata kamu makin cantik segar dan seksi.”

Sambil menggendong Antaseno, Dewi Obat juga meneliti Sekar dan memuji kecantikan paras dan tubuhnya. “Benar, kamu makin bersinar, nduk.”

“Seno mahir berenang. Setiap hari aku gantian bapaknya ngajak dia berenang di danau dan air terjun. Disini dia pasti senang karena ada empang yang luas, airnya juga mengalir.” Sekar memandang Seno dengan mata berbinar-binar. “Nek, rawat dan didik Seno seperti kalian merawat aku, dia itu belahan jiwaku.”

Dewi Obat menyahut. “Empat tahun disini, kami memberinya ilmu sastra, pengobatan dan dasar ilmu silat. Enam tahun berikut di laut kidul, pematangan ilmu silat.”

“Nek, ceritakan pada Seno, pohon-pohon cemara itu jadi saksi cinta bapak dan ibunya. Disini penuh kenangan cinta, tumpahnya air mata bahagia dan tangis kesedihanku.”

“Geni itu romantis suka mencium ketiakmu, dia rakus mencium mulutmu, dia buas dan kasar, membuat kamu menjerit histeris.” Kata Dewi Obat dengan tersenyum nakal.

Sekar kaget, saat berikut dia menjerit, parasnya merah malu. “Kamu ngintip?”

Dewi Obat mengangguk sambil tersenyum menggoda. “Aku sering ngintip.”

“Oh kalian nenek-nenek genit, yang satu ngintipnya di lembah cemara, satunya lagi di lereng gunung. Awas kalian ngajarin Seno yang aneh-aneh.”

Sapu Lidi tertawa sambil menciumi Antaseno. “Kamu awasi suamimu, dia akan ngajarin Seno ilmu peletnya dan kamu akan kewalahan punya banyak menantu. Lihat saja parasnya yang tampan, lebih tampan dari suamimu, Seno bakal punya banyak isteri nantinya.”

Sekar menjerit. “Jangan. Jangan banyak isteri. Isteri satu saja, tetapi cari perempuan terbaik yang mencintainya tulus dan setia.”

“Tampaknya kamu tidak suka suamimu beristeri?” Tanya Sapu Lidi.

“Seringkali kesal nek, ketika aku lagi ingin bercinta, dia sibuk dengan isterinya yang lain, atau pergi berkelana, alasannya ke Lemah Tulis, tapi aku tahu dia pasti punya wanita simpanan diluaran.” Sekar tampak kesal, benar-benar cemberut.

“Sainganmu banyak, siapa yang paling dicintai Geni?” Tanya Dewi Obat.

Kali ini Sekar menyahut bangga. “Sudah tentu aku yang nomor satu. Tiap hari dia kasmaran sama aku, begitu aku mendekat, langsung berahinya kumat, terus ngajak bercinta. Tetapi belakangan sudah berkurang, mungkin dia mulai bosan.”

“Tak mungkin dia bosan, paras dan tubuhmu begitu cantik.” Kata Dewi Obat.

Malamnya Sekar menemui dua sahabatnya, ditangannya tiga bungkus nasi dan lauk pauknya. “Kita nginap tiga malam disini.”

Mereka makan minum sambil mencurahkan isi hati.

“Dia tidak mencintai kita, dia mencintai diri sendiri, selama ini kita berpura-pura bahagia. Ini perkawinan yang tidak normal.” Sekar memandang pepohonan cemara dan menghela nafas. “Untuk bercinta sering kita harus melupakan birahi karena bukan giliran kita. Sudah sepuluh hari birahiku memuncak, tapi mana dia, mana suamiku?”

“Lalu jalan keluarnya bagaimana?” Desak Prawesti.

“Yah mau apa lagi, sabar tunggu giliran,” lalu Sekar tertawa keras-keras macam histeris.

Manohara dan Prawesti ikut tertawa.

“Mungkin Gayatri juga mengalami hal yang sama, dan yang membuat perangainya berubah, mudah tersinggung dan cepat marah.” Kata Manohara.

Sekar tertawa. “Mungkin juga. Dulu aku dan dia bersahabat. Tapi sekarang hubunganku dengannya jadi buruk dan semakin buruk, dia keras aku juga keras.”

“Kasihan Gayatri.” Komentar Prawesti.

“Kita semua harus dikasihani.” Tegas Sekar.

Malam itu mereka tidur berdesakan, menghangatkan badan menghadapi udara dingin dan tiupan angin malam.

Sekar sulit memejam mata, pikirannya melayang memikirkan suaminya. Dulu di lembah cemara ini cintanya yang panas membara telah membuat Wisang Geni berjanji tak akan pernah bisa melupakannya. “Ternyata sekarang dia berubah, sibuk dengan isteri yang lain dan juga wanita-wanita diluaran. Dia ingkar janji, katanya akan menjadikan aku isteri satu-satunya dalam hidupnya, tapi kenyataannya lain, dia mengumpulkan banyak isteri, mungkin akan bertambah lagi.”

Hari itu ketika hendak berangkat Sekar berkata kepada dua temannya. “Kita ke Lemah Tulis mencari mas Geni tapi mampir di desa Trawas.”

Matahari berada di puncaknya, udara sangat panas meskipun sehari sebelumnya kawasan itu diguyur hujan lebat. Desa Trawas bukan desa besar. Hanya desa tempat singgah para pedagang dan pelancong.

Salah satu warung makan, yang terbesar dari empat yang ada didesa itu didatangi banyak orang. Hampir semuanya berpakaian pendekar dengan berbagai macam senjata. Sekitar tiga puluh orang adalah murid perguruan Brantas.

Disalah satu meja enam orang duduk menyantap makanan. Salah seorangnya, wanita cantik berselendang merah. Dia, Roro Gandis ketua Brantas. Didekatnya Manyar Edan, jago tua yang sangat disegani dikalangan Brantas bersama dua putranya Prabowo dan Santiyaki. Mereka berunding dengan dua pendekar, Siluman Goa Paliyan dan Janda Ngargoyoso.

Paliyan dan Ngargoyoso membawa usulan menentang keraton Tumapel. “Sekarang ini banyak pendekar dan prajurit bekas keraton Kediri pengikut Maharaja Tohjaya berkumpul bertujuan menjatuhkan keraton Ranggawuni. Hadiahnya sangat menarik. Harta, perhiasan emas permata, uang bahkan kedudukan dan jabatan.” Kata Ngargoyoso.

“Jika menang, wanita secantik ketua Roro bisa masuk istana, menjadi isteri menteri dan adipati, menikmati hidup di kalangan keraton.” Tambahnya dengan senyum licik.

Roro Gandis yang memang gila harta dan kekuasaan sangat tertarik. “Aku bisa kerahkan ratusan murid Brantas memperkuat kelompok, tetapi harus ada jaminan imbal jasa yang jelas, artinya aku harus ketemu dengan pemimpin kelompok, si pendekar digjaya, siapa dia?”

Siluman Goa Paliyan memandang Manyar Edan yang wajahnya tampak cemberut.

“Beberapa tahun lalu Brantas pernah membangkang perintah Tumapel tapi hancur diserang pasukan elit keraton. Kami menyerah, beruntung dapat pengampunan. Tak mungkin murid dan anak buah Brantas mau membentur keraton lagi.” Tutur Manyar Edan.

“Kita tidak perlu bergabung sekarang. Nanti saatnya ketika kelompok anti keraton sudah menampak diri dan jelas unggul kekuatannya, baru kita gabung.” Potong Roro Gandis sambil berbisik ditelinga Manyar Edan. “Jangan membantah aku di depan orang lain, kalau hatiku kesal pintu kamar aku tutup rapat.”

Manyar Edan merengut, tak berdaya.

Roro Gandis menatap tajam Ngargoyoso. “Katakan pada pemimpinmu, kami minta wilayah desa Karambang dan pelabuhan Jedung. Katakan dulu siapa pemimpinmu?”

“Adipati Linggapati.” Kata Siluman Goa Paliyan.

Empat orang Brantas itu saling pandang. “Nama itu tidak dikenal.” Kata Manyar Edan.

“Pernah dengar nama Sangkapura pendekar dari Tanjung Anyar yang terkenal di pesisir Utara, atau senopati Samba kepala pasukan khusus keraton Kediri yang jadi kepercayaan Raja Tohjaya, atau Pulosari pendekar utara gunung Slamet? Mereka sudah bergabung.” Kata Paliyan dengan temberang. “Kalau orang-orang ternama itu sudah mau bergabung dan patuh mengangkat Linggapati sebagai pemimpin, itu jaminan Linggapati punya ilmu-silat yang tidak terukur.” Tutur Siluman Goa Paliyan.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi cerita orang, keris prabakara berada ditangan Linggapati. Itu sebab dia mau berontak menantang Tumapel. Pendekar pemilik keris itu jika dia memiliki pasukan besar maka dia pasti akan jadi raja tanah Jawa.” Tambah Janda Ngargoyoso.

“Nama-nama yang kamu sebut tadi, semuanya pendekar kelas utama, yang ilmu-silatnya sulit dicari tandingannya.” Tukas Manyar Edan.

Jantung Roro Gandis berdebar kencang. “Akhirnya aku tahu dimana keris itu berada.” Bisiknya dalam hati. Saat berikut pikiran liar tercetus dibenaknya. “Jika aku bisa menjadi kekasih si Linggapati, bukan mustahil aku bisa masuk istana sebagai permaisuri.”

Roro Gandis memandang Manyar Edan, Prabowo dan Santiyaki. Lalu memandang tajam Janda Ngargoyoso. “Katakan pada Linggapati, aku mau bertemu. Mungkin aku didampingi guru dan kakak perguruanku. Pernah dengar nama guruku, Ganggati dari bukit Limas?” Rupanya Roro Gandis belum diberitahu gurunya perihal pertemuan sang guru dengan utusan adipati Linggapati.

“Oh tidak tahunya ketua Brantas murid dari pendekar kenamaan Ganggati, maaf aku tidak tahu sejak awal.” Kata Ngargoyoso pura-pura tidak tahu.

Pembicaraan terhenti ketika tiga penunggang kuda mendekati warung. Terdengar siul dan celoteh para murid Brantas yang mengagumi kecantikan tiga wanita itu.

“Yang baju hitam itu Sekar, isteri Wisang Geni,” kata Prabowo.

Melihat warung dipenuhi tamu, Sekar dan dua temannya batal berhenti, melanjut ke warung disebelah.

Manyar Edan berdiri. “Aku kenal dekat dengannya.” Dia melangkah ke warung sebelah. “Sudah lama aku kasmaran sama wanita cantik itu. Aku tidak takut Wisang Geni!”

Siluman Goa Paliyan dan janda Ngargoyoso kaget nama Sekar disebut. “Huh kesempatan balas dendam, jika aku memerkosa dan membunuh isterinya pasti membuat Wisang Geni sakit hati.” Pikir Paliyan. “Setelah itu baru aku tarung dan membunuh Wisang Geni.”

Manyar Edan masuk warung dimana Sekar, Prawesti dan Manohara duduk. “Aduh Sekar kamu makin segar dan ayu. Sudah lama kita tidak bertemu, aku kangen dan kasmaran.”

Sekar menyahut cepat. “Manyar Edan, mau apa kamu?”

“Mau kawin sama kamu, wongayu.” Manyar Edan menghampiri.

Sepasang mata Sekar menyipit, memandang tiga bayangan melayang datang dan berdiri disamping Manyar Edan. Tidak seorangpun yang dia kenal. Tetapi dari gerakan pesat bisa ditebak ringan tubuh mereka dari kalangan kelas utama.

Mencium gelagat buruk rasa lapar Sekar mendadak lenyap. Dua temannya juga mencium datangnya bahaya. Mereka siap siaga.

Sekar siapkan tenaga segoro membuat otot-otot tubuhnya mengejang. “Aku Sekar isteri Wisang Geni, siapa kiranya tuan bertiga yang bersama Manyar Edan ini.”

Siluman Goa Paliyan tertawa sinis. “Kamu isteri Wisang Geni, aku akan balas dendam adikku, Lembu Ampal. Karena kamu cantik, kujadikan isteriku.”

“Aku janda Ngargoyoso!”

“Aku ketua Brantas Roro Gandis akan membunuhmu membalas perbuatan ketua Lemah Tulis yang banyak membunuh orang Brantas.”

Manohara melihat keliling. “Kita sudah dikepung, mbakyu.” Bisiknya.

Sekar tahu saat kritis, sulit untuk lolos dari keroyokan empat orang ini. Apalagi saat itu dia melihat puluhan orang mengepung warung. Tapi dia tak memperlihatkan rasa takut.

“Kalian tidak tahu malu, mau main keroyok atau mau tarung satu satu?” Sekar melangkah keluar dari warung. Diikuti dua temannya.

“Sekar ikut aku, kamu aman bersamaku.” Kata Manyar Edan.

“Eh, urusanku lebih besar dari urusanmu, kamu harus mengalah, Manyar! Aku maju duluan!” Tukas Siluman Goa Paliyan dengan temberang.

“Aku duluan,” teriak Manyar Edan.

Sekar tertawa geli, sengaja menggoda, mengadu dua dedengkot tua itu. “Eh kalian kakek-kakek sebaiknya tarung dulu, siapa menang boleh bersamaku satu malam. Ayo kalian tarung dulu, yang menang akan kuberi hadiah.”

Siluman Goa Paliyan tidak terbakar pancingan Sekar, lain halnya Manyar Edan yang langsung menyerang Paliyan.

“Ayo tarung!” Tanpa tedeng aling-aling dia menyerang. Manyar Edan memang gila.

Serangan ini membuat Siluman Goa Paliyan terpancing, dia mengelak dan menyerang balik. Dalam sekejap terjadi tarung antara dua kakek.

Roro Gandis marah, memaki. “Manyar kamu goblok dan edan, bukannya menawan musuhku, malah kamu tarung dengan teman sendiri.”

Manyar Edan tidak perduli. Dia menyerang gencar. Paliyan sibuk melayaninya.

Roro Gandis bersama janda Ngargoyoso serentak menyerang. Beberapa murid Brantas ikut menyerang dan mengepung. Menghadapi keroyokan lawan yang begitu banyak, kontan Sekar dan dua temannya kewalahan. Dalam sepuluh jurus mereka jatuh dibawah angin.

Sekar melihat peluang lolos tampak tertutup rapat. Dia mengeluh dalam hati. “Geni dimana kamu? Aku menghadapi saat-saat kematian.”

Prawesti mengempos semangatnya. “Kalau musti mati, biar aku mati duluan, kalian cari jalan meloloskan diri.”
“Tidak bisa begitu. Kita sama-sama, hidup atau mati.” Seru Sekar dan Manohara.

Dari lereng gunung Argo, Wisang Geni mampir satu hari di Lemah Tulis kemudian melanjutkan perjalanan menuju Welirang. Ditengah jalan dia mampir di desa Trawas.

Istirahat makan di warung. Selesai makan dia mengamati gelas bambu yang berisi tuak. Sudah dua tabung diminumnya. Pengaruh tuak mulai mengaduk-aduk pikirannya. Itu hari keempat setelah berpisah dengan Atis. Pikirannya masih melamun paras dan tubuh Atis. Dia sadar ternyata dirinya sangat mencintai dan kasmaran akan Atis.

Wisang Geni terjaga dari lamunan oleh teriakan pemilik warung. “Tuan pendekar, cepat pergi, aku mau tutup warung. Di warung pojok sana ada pertarungan, tiga pendekar wanita dikeroyok rame-rame. Aku takut perkelahian menjalar ke warungku.”

Wisang Geni agak malas melangkah. Dia bersiul memanggil Wulung.

Pada saat yang bersamaan Sekar mendengar siulan suaminya. Dia mengenal siulan khas lembah kera. Dia mengempos tenaga lalu berteriak. “Geeniii tolooong …..”

Wisang Geni terkejut. “Sekar! Itu suara Sekar!”

Dia menoleh memandang ke arah datangnya suara. Samar-samar dia melihat bayangan Sekar yang dikeroyok belasan orang. Sekar bersama Manohara dan Prawesti.

“Kurang ajar! Beraninya ganggu isteriku!” Dia bergerak sangat pesat menggunakan jurus menunggang angin sambil berteriak. “Tahan Sekar, aku datang.”

Dia bergerak bagai bayangan, gerakannya yang pesat membawa serta angin kencang. Semakin mendekat, semakin besar angin yang dibawanya. Debu, daun-daun kering bahkan ranting patah pun ikut terbawa.

Jarak seratus meter itu ditempuhnya lewat dua tarikan nafas. Begitu memasuki arena dia menggelar jurus agniwisa (bisa api, pijar) dari garudamukha prasidha. Dua tangannya berkembang dan memukul sana-sini.

Semua yang sedang tarung terkesiap, melihat gumpalan debu menyerang bagai tiupan angin topan bersama lengking suara amarah puluhan kera. Wisang Geni memang kelewat marah, pikirnya “jika saja aku tak ada ditempat mungkin Sekar akan mati seperti halnya Wulan yang membuat aku menyesal sepanjang hidup.”

Pukulannya telengas. Tujuannya membunuh!

“Geni, kamu sudah melupakan aku!” Seru Sekar dengan nada tinggi.

“Tidak. Aku tidak lupa, Aku kasmaran setiap hari mengingat kamu.” Serangan dua tangan yang dahsyat tadi telah membunuh sebelas murid Brantas, memaksa sisanya mundur. Mereka mundur ketakutan meskipun tetap dalam posisi mengurung.

“Kenapa baru sekarang datang, aku sudah hampir mati dikeroyok. Dua kakek penyok itu bahkan mau memerkosa aku, balas sakit hatiku, hajar mereka semua. Pelacur selendang merah dan pelacur tua busuk ini biar aku hadapi.” Dibantu Manohara, Sekar mendesak Janda Ngargoyoso dan Roro Gandis.

Wisang Geni melihat tiga isterinya tarung tetapi tidak terdesak. “Sekar, Mano, Westi hati-hati!” Teriaknya.

“Setelah kamu datang, kami pasti bisa bertahan.” Seru Prawesti keras.

Wisang Geni menoleh menuding Manyar Edan. “Kurangajar, Manyar tua bangkotan tak tahu diri, terimalah pukulanku.” Dia memukul dengan jurus gongkrodha (besar amarah) disusul shuhdrawa (hancur luluh). Pukulan yang disertai hawa kapejah (kematian).

Manyar Edan terkesiap. Saat itu dia sedang sibuk menahan serangan Siluman Goa Paliyan, membuatnya tak siap mengelak atau menghindar. Tetapi dia pendekar tua banyak pengalaman tarung, segera menemukan cara. Dia menyerang untuk menahan serangan lawan, memukul dengan jurus cambuk maut, namanya pecut tetapi itulah jurus tangan kosong meniru sifat pecut, memukul lurus sambil menggentak.

Saat itu Manohara yang bangkit semangatnya menyerang gencar janda genit Ngargoyoso. “Nenek tua bangkotan tak tahu diri.”

“Aku belum tua, dasar kamu perempuan sundal!” Ngargoyoso marah.

Prawesti yang dikeroyok beberapa murid Brantas menyahut. “Mano jangan segan-segan, tampar si nenek tua genit itu, nenek tua tidak tahu diri!”

Pada saat yang sama Siluman Goa Paliyan melihat peluang mencurangi Wisang Geni. Tadi dia sempat kaget melihat gebrakan jurus menunggang angin yang bagaikan terjangan angin topan dan sekali gebrak menewaskan belasan murid Brantas.

Dia tahu ilmu-silat Wisang Geni kelewat tinggi dan sulit ditandingi. Tetapi dia licik, prinsipnya membokong dulu, jika lawan telah terluka parah baru memperkenalkan diri. Dia meninggalkan Manyar mengalih serangannya kepada Wisang Geni dengan gelap ngampar yang paling brutal tamparan membelah gunung batu. Tiga tamparan saling susul.

Wisang Geni tidak mengendur, benturan dengan Manyar Edan dua kali. Tubuh Manyar Edan sempoyongan, darahnya bergolak, mulutnya terasa asin lalu darah meleleh dari ujung bibirnya. Luka dalam. Beberapa anak buahnya memeluk, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Pertarungan jalan terus. Tahu diserang lawan secara membokong, Wisang Geni tidak keder sedikitpun. Seorang dengan ilmu silat sehebat dia tidak lagi dipengaruhi rasa takut, percaya dirinya membawa pengaruh pada sikap tarungnya. Dia meminjam tenaga benturan Manyar Edan lalu memutar tubuh dan memukul dengan gabungan tiga jurus garudamukha prasidha yakni prasadha atishasha, akwamatyana dan kacakrawartyan.

“Tarrr tarrr tarrr…” suara ledakan keras akibat benturan tenaga Wisang Geni dengan Siluman Goa Paliyan.

Gelap ngampar, itu mainan anak ingusan.” Wisang Geni mengejek, dan tanpa perlu mengirup udara lagi, dia menyerang dengan dua jurus langit yakni rasa suwung wenganing bumi dan ngesti suwung wenganing bumi.

Siluman Goa Paliyan tidak mengira ilmu-silat lawannya sehebat itu. Tanpa istirahat dari menyerang Manyar Edan langsung menyambut serangannya. Pukulan Geni yang pertama berbobot tenaga wiwaha dingin, yang kedua panas membara.

Siluman Goa Paliyan terkejut bagai disambar halilintar, belum pernah dia mendengar seseorang bisa memukul dengan dua tenaga dingin dan panas secara beruntun. Umumnya orang memerlukan fase istirahat dari satu serangan menggunakan tenaga dingin ke serangan lain yang bertenaga panas, paling tidak sekitar lima atau sepuluh detik. Namun Wisang Geni tidak memerlukan fase istirahat, dua serangan itu beruntun bagaikan satu serangan.

Tetapi Siluman Goa Paliyan pendekar yang berpengalaman tarung puluhan tahun, dia tidak hilang akal. Dia merunduk dan mengelak serangan sambil menyerang balik dengan melontar senjata rahasia, duabelas pisau terbang beracun sambil berteriak, “kamu membunuh adikku, hutang nyawa bayar nyawa!”

Dia berani berteriak memberi peringatan sebab yakin serangannya dari jarak satu tombak tidak mungkin bisa dihindari, sehebat apapun ilmu-silat lawan. Tampaknya memang keadaan Wisang Geni dalam bahaya. Jiwanya terancam.

Wisang Geni pernah melihat gerakan itu dalam tarungnya dengan Lembu Ampal di lereng gunung Argowayang empat tahun lalu. Ketika itu Lembu Ampal membokong dengan serangan gelap, dua belas pisau terbang dalam jarak satu tombak. Dan dia sanggup mengelak dengan menggunakan jurus menunggang angin memutar tubuhnya bagai gasing sehingga menyedot pisau-pisau terbang ikut kedalam pusingannya. Sebelas pisau terlempar keluar, hanya satu yang lolos dan menusuk pundaknya.

Dia tahu serangan Siluman Goa Paliyan adalah jurus dua belas pisau terbang formasi bunga mawar. Empat tahun lalu Lembu Ampal yang menyerang dengan jurus dahsyat itu. Kini kakak perguruannya yang menyerang, pasti akan lebih mumpuni. Tetapi setelah empat tahun berlalu ilmu-silat Wisang Geni pun berkembang makin matang.

Wisang Geni berseru. “Pengecut tua!” Refleks dia memainkan jurus menunggang angin.

“Jadilah seperti angin bajra, semilir sirir membuat orang ngantuk dan nyaman, tetapi saat yang sama hamuk macam lesyus, nilapraconda dan bajrapati menghancurkan apa saja yang dilewati.” Itulah intisari jurus mautnya itu.

Pada detik itu juga Wisang Geni bergerak pesat memutar tubuh bagaikan gasing sambil dua tangannya mengepak bagai sayap burung yang terbang. Gerakan itu menyedot debu, ranting, batu kerikil masuk dalam pusaran. Gerakan itu tidak ada jurusnya, tercipta begitu saja dalam keadaan terancam, angin topan sangat cepat tetapi pikiran lebih cepat dari angin, itu juga intisari ajaran Eyang Sepuh Suryajagad yang sempurna digelar Wisang Geni.

Tak ada suara. Duabelas pisau terbang itu seakan lenyap, ditelan pusaran angin.

Tidak berhenti sedetik pun, Siluman Goa Paliyan menyerbu masuk pusaran menemukan tubuh musuhnya. Dia menyerang lanjutan dengan tusukan keris jurus tujuh kembang, diikuti tamparan tangan kanan gelap ngampar. “Mati kamu!” Teriak Siluman Goa Paliyan.

Terdengar jerit kesakitan, “ahhhhh …ahhhhh….”

“Jadi Lembu Ampal si pengecut itu adikmu, kalian sama pengecutnya! Menyerang secara menggelap. Pikirmu dua belas pisau terbang itu bisa membunuhku? Kamu mimpi!”

Pertarungan terhenti lagi. Orang-orang memandang ke kumpulan debu. Perlahan-lahan debu menipis, tampak Wisang Geni berdiri dengan sombongnya. “Berani-beraninya kamu mau memerkosa isteriku, pergilah ke neraka, temui adikmu Lembu Ampal!”

Siluman Goa Paliyan mundur sempoyongan, dua belas pisau terbang nancap di tubuhnya. Tangannya lunglai memegang keris. Matanya melotot tidak percaya. Darah menetes dari dua sudut mulutnya dan dua belas luka di tubuhnya. Sempoyongan mundur tiga langkah, dia jatuh tengadah, matanya melototi langit. Mati mengerikan.

Pertarungan itu terjadi sangat cepat. Hanya beberapa detik. Jurus-jurus kelas utama yang mematikan. Tarung selesai.

Selang sesaat terdengar tepuk tangan. Perempuan separuh baya yang cantik berpakaian hitam, Ganggati bersama muridnya Kangsa, berdiri tak jauh dari arena tarung.

Ganggati bertepuk tangan, berseru. “Kamu telah mewarisi ilmu-silat dari Suryajagad.”

Wisang Geni memberi hormat pada wanita itu. “Tidak seluruhnya, aku hanya beruntung memperoleh setitik dari ilmu Eyang Sepuh yang luas bagai samudera.”

Terdengar pekik marah Roro Gandis.

Tarung dua macan betina memasuki masa kritis.

Roro Gandis menyerang dengan keris terhunus. Sekar membabat dengan tongkat pendek. Tongkat hitam mengilat, sepanjang empat jengkal dengan logam setajam silet diujungnya.

Serangan ampuh dari tujuhbelas jurus sapwa tanggwa berhasil melukai Roro. Ujung tongkat menukik dari atas kebawah melukai dada sepanjang satu jengkal sekaligus membelah kebaya Roro Gandis membuat payudaranya nyembul keluar.

Luka ringan, sedalam setengah senti tapi pasti akan meninggalkan bekas codetan.

Berbarengan Manohara berhasil memukul Janda Ngargoyoso dibagian pundak membuat pendekar itu terhuyung mundur tiga langkah.

Bayangan melesat ke arah Sekar. Itulah Ganggati yang marah mendengar jerit kesakitan murid kesayangannya.

Wisang Geni juga melejit ke arah yang sama, memotong jalur Ganggati. Keduanya berbenturan dengan beberapa pukulan yang mematikan. Pada saat yang sama Prawesti sudah mendampingi Sekar, sedetik lebih cepat dari serangan Kangsa.

Terjadi pertarungan sengit Wisang Geni lawan Ganggati. Kangsa dan Roro Gandis berlawanan dengan Sekar dan Prawesti. Manohara masih tarung lawan Janda Ngargoyoso.

Beberapa murid Brantas yang cukup mumpuni, Prabowo, Santiyaki dan lima saudaranya yang lain maju mengeroyok Sekar dan dua temannya.

Sambil tarung Sekar berbisik pada temannya. “Musuh terlalu banyak. Kita kalah jumlah. Kita ke perahu, bakar perahunya, mereka akan sibuk, kita punya peluang meloloskan diri.”

Manohara menyambut dengan tegang. “Bagus mbakyu.”

Sekar berseru pada suaminya. “Geni jemput kami di perahu, sekarang!” Dia berkelebat bersama dua temannya ke perahu layar Brantas yang sedang berlabuh.

Kangsa, Roro Gandis dan Janda Ngargoyoso mengejar.

Ganggati dan Wisang Geni sambil tarung sengit, juga mengejar ke arah perahu.

Prawesti dan Manohara melesat ke palka bawah, menemukan beberapa tong besar berisi minyak damar. Sekali hantam tong yang terbuat dari kayu, pecah. Minyak tumpah, Prawesti cepat menyulut api, melepas sumbu kain ditangannya, seketika api besar menyala.

Keduanya naik ke geladak, cepat-cepat membantu Sekar yang didesak Kangsa dan Janda Ngargoyoso, sedang Roro Gandis sibuk membenahi luka didadanya sambil menangis. “Luka ini meninggalkan cacat di payudaraku, guru, bunuh perempuan bernama Sekar itu!” Teriak Roro Gandis marah.

Ganggati dan Wisang Geni sudah menjejak kaki di geladak, masih terlibat tarung sengit. Adu tenaga-dalam yang beruntun memaksa Ganggati tidak berani buka mulut menjawab teriakan Roro Gandis, dia sibuk melayani tenaga-dalam Wisang Geni yang panas membara.

Terdengar ledakan keras dari palka bawah. Api berkobar dengan cepat menjalar ke atas geladak. Seketika itu juga terdengar hiruk-pikuk murid Brantas berlarian berusaha memadam api. Kangsa dan Ganggati meninggalkan tarung, mencari-cari Roro Gandis. Mereka temukan ketua Brantas itu yang menangis sambil memegangi dadanya yang penuh darah.

Wisang Geni bersama tiga isterinya melesat ke selatan. Setelah agak jauh mereka bersiul memanggil kudanya. Empat kuda itu muncul. Wisang Geni diatas punggung Wulung, Sekar menunggang Dawuk. Manohara dan Prawesti diatas kuda masing-masing. Mereka pergi sambil tertawa-tawa, menuju Welirang.

Orang-orang Brantas menangisi matinya Manyar Edan, pendiri perguruan. Roro Gandis ikut menangis sambil menyumpahi nama Wisang Geni sebagai pembunuh Manyar Edan.

“Aku akan balas dendam, membunuh murid Lemah Tulis yang kutemui. Wisang Geni akan kubunuh, kubuang mayatnya di kali porong jadi santapan buaya. Akan kubunuh Sekar yang telah melukai aku. Tunggu saja, pembalasan Roro Selendang Merah akan lebih kejam.”

Murid-murid Brantas ikut bersumpah akan menuntut balas pada Wisang Geni, Sekar dan Lemah Tulis.

Sebenarnya kejadian tidak seperti yang diceritakan Roro Gandis. Pukulan Wisang Geni hanya menyebabkan luka-dalam yang meskipun parah namun masih bisa disembuhkan.

Kejadian sebenarnya, Roro Gandis yang membunuh Manyar Edan. Membunuhnya dengan cerdik memanfaatkan suasana yang kacau. Tak seorang pun murid Brantas berada didekatnya, semua sibuk memadam api.

Ketika itulah Roro Gandis memeluk Manyar Edan sambil menangis, tangis keras seperti orang histeris. “Manyar jangan mati dulu. Jangan mati.”

Sambil memeluk dia menekan dengan tapak tangannya di bagian luka pukulan Wisang Geni, mencium mulut dan mendorong racun dimulutnya kedalam mulut Manyar Edan.

Racun itu tertelan. Manyar mendelik marah, tapi sudah tak mampu bergerak. Pukulan Roro Gandis telah membuat tubuhnya lemas tak berdaya. Dia mati penasaran.

Roro Gandis menyebar berita palsu. Dia memanggil Prabowo, Santiyaki, beberapa murid dan putra Manyar Edan. “Hari ini kita dilanda petaka. Manyar Edan tewas dibunuh Wisang Geni. Tadi sebelum mati Manyar berpesan aku harus kawin dengan salah seorang putranya karena dia sudah bertemu dengan suamiku Warok. Kata Manyar Edan, suamiku mati karena jalan darahnya terbalik waktu melatih tenaga-dalam.”

Pengumuman itu membuat semua murid yang mendengar berduka, sebagian bahkan menangis. Roro Gandis kemudian berkata dengan suara yang dibuat-buat sedih.

“Aku akan menepati pesan Manyar, aku akan menikah dengan seorang putra Manyar, dalam waktu dekat aku akan memilih.” Dia lalu membubarkan pertemuan.

Semua murid masih sibuk memperbaiki perahu yang rusak parah akibat kebakaran.

“Bagus Roro. Kerjamu bagus, sempurna.” Kata Ganggati.

“Terimakasih atas pujianmu guru. Tapi guru tolong lukaku diobati, disembuhkan supaya pulih seperti sediakala. Lihat dadaku luka.”

Ganggati mengobati. “Luka bisa sembuh tapi codet ini tak bisa dihilangkan.”

“Guru balaskan sakit hatiku.” Roro Gandis menangis. “Dadaku cacat. Dendamku kelewat besar. Kangmas Kangsa, bunuh Sekar, cincang tubuhnya jadi potongan kecil-kecil.”

“Pasti. Akan kubalas sakit hatimu!” Tegas Kangsa.

Ganggati seperti tidak mendengar pembicaraan dua muridnya, tenggelam dalam renungan sendiri. Dia menggeleng-geleng kepala.

“Tak kusangka ilmu-silat Wisang Geni sehebat itu. Jurusnya yang membunuh Siluman Goa Paliyan belum pernah kutemui. Rupanya Suryajagad telah menyempurnakan jurus anginnya dan mewariskan pada muridnya. Dalam tarung tadi, ternyata tenaga-dalamnya tidak berada dibawah aku, jurusnya kuat. Terus terang aku tidak yakin bisa mengalahkannya meskipun dia belum tentu bisa mengalahkan aku. Wisang Geni itu musuh kuat. Kalian jangan bentur dia, biar aku yang hadapi. Akan kupikirkan cara membunuhnya.” Katanya kepada dua muridnya.

***

No comments: