Saturday, July 23, 2011

Wisang Geni part Two Bab 3

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Tiga

Misteri Cinta

Suatu siang di awal bulan Phalguna hujan deras mengguyur desa Sajan, desa kecil dekat kali Bangsal yang hanya dihuni duapuluhan rumah penduduk. Seekor kuda berlari kencang menuju warung makan. Penunggang kudanya, seorang gadis berusia tujuhbelas tahun melompat dengan gerakan ringan, mengambil buntalan dipunggung kudanya lalu menerobos masuk warung. Bajunya basah kuyup melekat ditubuhnya yang langsing kurus. Dia melongok sana sini mencari tempat kosong.

Seorang pelayan menyambutnya. “Silahkan masuk, ada tempat yang bagus.” Dia mengajak si gadis masuk kedalam warung.

“Eh wong ayu, sini duduk dekat kangmasmu, makananmu nanti aku yang bayar.” Seru seorang laki-laki brewok yang duduk bersama empat temannya.

Gadis itu pura-pura tidak mendengar, tetap melangkah mengikuti si pelayan. Dia duduk di kursi pojokan dekat jendela.

“Aku pesan nasi dan satu ekor ayam bakar, minumnya wedang jahe,” katanya kepada pelayan.

Laki-laki brewok masih penasaran, menghampiri si gadis dan duduk didepannya. “Wong ayu, mau pergi kemana? Mau aku antar?”

Gadis itu menyahut datar. “Kamu kembali ke mejamu, perutku lapar. Nanti selesai makan, baru kita bicara, iya Mas?”

“Oh kalau itu maumu, yah, kangmas manut saja.” Dia kembali gabung dengan empat temannya sambil tertawa-tawa, berpikir berhasil membujuk-rayu si gadis.

Gadis itu mengamati sekeliling. Warung itu sederhana. Hanya enam meja dengan belasan kursi. Tidak semuanya ditempati orang. Selain laki-laki brewok dan empat temannya. Sepasang suami isteri paruh baya, dan dua laki-laki paruh baya. Empat orang ini tampak biasa-biasa saja.

Si gadis melihat seorang laki-laki duduk sendirian dipojokan dekat jendela disisi berseberangan dengan tempat duduknya. Dia memperhatikan lebih teliti. Laki-laki itu mengenakan caping lebar dari anyaman kulit bambu, dua sisinya diikat dengan tali tipis yang disimpul dibawah dagunya. Wajahnya tidak tampak.

Si gadis merogoh buntalan pakaian, mengeluarkan sepotong kain, mengeringkan rambutnya yang panjang sebahu. Mengikat rambutnya dengan sepotong pita warna biru. Ketika pelayan membawa makanannya, dia mengeluarkan sekeping uang tembaga. “Cukup, Pak?”

“Cukup, cukup.”

Dia melahap makanan dengan rakusnya. Dalam sekejap makanan itu ludes. Dia menghirup wedang jahe dan merasakan nikmat hangatnya minuman itu.

Hujan sudah reda. Matahari siang mulai muncul dari balik mendung.

Melihat si gadis selesai makan, laki-laki brewok tadi berseru. “Hai wong ayu, sini duduk dekat kangmasmu, biar kamu tidak kedinginan.” Dia tertawa keras.

Si gadis tidak menyahut, melangkah keluar warung.

Salah seorang teman si brewok mencegat. “Eh wong ayu, jangan pergi begitu saja, kamu dipanggil kangmasmu itu.”

Si gadis menghentikan langkah. Tidak menyahut hanya matanya menatap tajam.

“Kamu cantik. Mau jadi isteri kakak perguruanku?”

“Hargaku mahal.” Tukas si gadis.

“Seberapa mahalnya, kakak perguruanku bisa memberimu harta banyak, dia orang kaya.”

“Aku mau kepalamu!” Seru si gadis sambil menampar.

Laki-laki itu menangkis. “Wah galak juga.”

Terdengar benturan tangan seperti ledakan. “Tarrrrr…”

Laki-laki itu berteriak kesakitan. “Aduuuhhh…” Dia mundur, tangannya lunglai.

Empat kawannya segera menghampiri, siap-siap menyerang si gadis.

Si brewok berseru. “Aduuuh wong ayu, kamu bisa silat rupanya, cocok dengan seleraku, kamu harus jadi isteriku.”

Gadis itu melejit keluar warung. “Ayo keluar, jangan merusak warung.”

Lima laki-laki itu melesat keluar. Berdiri mengurung si gadis.

“Kamu harus jadi isteriku!” Seru si brewok sambil menyerang. Empat temannya ikut menyerang.

“Jangan lukai dia, tangkap saja!” Teriak si Brewok.

Dalam sekejap terjadi perkelahian. Seorang gadis langsing kurus dikeroyok lima laki-laki bertubuh kekar.

Terlihat pemandangan unik. Lima laki-laki itu kewalahan, jangankan menangkap, menyentuh tubuh si gadis selalu gagal. Ilmu ringan-tubuhnya mumpuni, gerakannya teramat gesit, langkahnya aneh.

“Huh memalukan, beraninya main keroyok, ini rasakan pukulanku,”teriak si gadis yang mulai melancarkan serangan balik.

Si gadis menampar. Si brewok menangkis.

Terdengar suara keras benturan dua tangan. “Tarrrr… tarrr… tarrr…”

Kali ini si gadis tak bisa melukai lawannya. Rupanya tenaga-dalam si brewok lebih tinggi dari temannya yang terluka tadi.

“Huuuh aku tidak sungguh-sungguh ingin melukai kamu.” Si gadis tertawa sinis. Mengurangi kerasnya pukulan si brewok, dia melayang menggunakan ilmu ringan-tubuh. Melayang seperti kupu-kupu lalu melejit ke pengeroyok yang lain.

Kejadian itu tidak luput dari mata jeli laki-laki bercaping lebar yang duduk di pojok dekat jendela. “Itu pukulan nanawidha (beraneka warna) dari bangbang alum alum (semua merah, semua hidup atau semua mati), gerakan kaki itu dari waringin sungsang. Siapa gadis itu? Murid siapa? Apa hubungannya dengan perguruan Merapi dan paman Puguh?”

Tiba-tiba muncul seorang berjubah hitam masuk arena tarung, menyerang gencar sambil menuding musuh si gadis. “Uuh uh uh..”

“Hei gagu, bisu, jangan ikut campur urusanku,” seru si Brewok.

Jubah hitam tak perduli, tetap menyerang. Jubah Hitam itu tubuhnya sedang tapi kekar, wajahnya tersembunyi di balik topeng yang menutupi bagian dahi, mata dan sebagian hidungnya. Dua lobang sebesar bola mata di topeng memungkinkan dia melihat. Dia menyerang bergantian mengarah lima pengeroyok. Pukulannya membuat lima orang itu mundur.

Si gadis gembira memperoleh bantuan. “Terimakasih Pak, ayo kita pukul lima pengecut ini.” Serunya. Dari posisi terdesak, si gadis kini diatas angin.

Pada jurus kesepuluh, pukulan si Brewok melanda dada Jubah Hitam. “Buk… “

Jubah Hitam mundur terhuyung-huyung….. “huuuk..” Dia batuk.

Gadis itu terkejut cepat menghadang di depan Jubah Hitam menangkis serangan si Brewok. Dia melindungi Jubah Hitam. Tapi mendadak terasa angin keras disisi tubuhnya saat berikut si Brewok terlempar dengan jeritan memilukan. Dia mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

Kejadian berikutnya berlangsung cepat. Teramat cepat.

Setelah menyerang si Brewok dengan serangan ganas, Jubah Hitam melejit memukul dua musuh lainnya yang terpental muntah darah. Dia berbalik badan menghadap si gadis, menyerang mengarah dada.

Gadis itu berseru kaget, “heiii…”

Tidak sempat mengelak. Serangan Jubah hitam mengena telak dadanya. Limbung. tapi sebelum dia jatuh, Jubah Hitam bergerak pesat, menyambar dan memanggulnya, lari menuju hutan diarah Timur.

Sesaat laki-laki bercaping yang masih duduk di warung, terkesima. Dia tersentak saking kagetnya.

“Kurangajar… dia menculik si gadis!” Dia melompat dan bergerak pesat menuju hutan, mengejar si penculik. Khawatir kehilangan arah si Jubah Hitam, laki-laki bercaping menggelar ilmu-silatnya yang paling handal, jurus menunggang angin.

Dalam sekejap dia melihat bayangan si penculik. Tidak jauh. Dia mengerahkan segenap tenaga, bergerak lebih pegas. Tak lama kemudian dia mendekati si Jubah Hitam. “Berhenti kamu!!!” Serunya.

Tahu si pengejar memiliki ringan-tubuh yang tinggi, sedangkan dia sendiri harus memanggul tubuh seorang gadis, dia tahu tak mungkin lolos begitu saja. Jubah Hitam mendadak menghentikan langkah. Dia memutar badan menghadap si lelaki pengejar. “Kalau masih mau hidup, jangan campuri urusanku, pergilah!” Serunya tegas.

Mereka bertatapan. Terpisah hanya sepuluh meter.

“Lepaskan gadis itu!”

“Jangan ikut campur! Aku butuh gadis ini dua hari, lalu kamu boleh mendapatkan gadis ini! Itu lebih baik daripada kamu hilang nyawa.” Dia menekan rahang si gadis yang terpaksa membuka mulutnya. Dia mencekoki sesuatu ke dalam mulutnya.

Lelaki bercaping tidak curiga, apalagi melihat si gadis mulai sadar. “Kamu tadi pura-pura bisu dan tolol, ternyata ilmu-silatmu tinggi. Kamu pasti dari golongan pendekar kelas utama, tidak pantas menculik seorang gadis.”

“Kenapa tidak pantas? Apakah kamu lebih pantas?” Meskipun bahasa Jawanya jelas tapi masih ada aksen asing.

Laki-laki bercaping tertawa. “Kamu pendekar, aku juga pendekar. Siapa menang, dia mendapatkan gadis itu, tapi kamu ini laki-laki pengecut, pasti maunya kabur. Kamu boleh kabur tapi tinggalkan gadis itu!”

“Jadi kamu memilih mati? Baiklah.” Dia melempar si gadis ke tanah.

Terantuk di tanah berumput yang masih basah oleh hujan, si gadis berteriak kesakitan. Matanya membelalak melihat si Jubah Hitam. Dia ingat Jubah Hitam itu telah memukul dadanya dan dia pingsan. Dia memegang dadanya, seketika dia menjerit mengetahui bagian depan kebayanya robek dan dadanya telanjang.

“Kurangajar, penjahat busuk!” Dia menutupi dadanya dengan tangan. Dia mencoba bergerak tapi tubuhnya lemas, tenaganya lenyap.

Lalu dia mendengar suara seorang laki-laki. Dia menoleh memandang laki-laki bercaping yang tadi dilihatnya di warung makan.

“Mengapa kamu melukainya?” Tanya laki-laki bercaping.

“Pukulanku itu biasa-biasa saja, tapi racun kalajengking biru yang dia telan, itulah yang berbisa, dia hanya bertahan tiga hari, hari keempat dia akan mati.”

“Kejam! Buka topengmu, perlihatkan wajahmu!” Seru laki-laki bercaping.

“Banyak omong!” Jubah Hitam melancarkan pukulan keras.

Laki-laki bercaping menangkis.

Benturan tenaga membuat keduanya mundur satu langkah.

Saat berikut terjadi pertarungan dahsyat, saling adu pukulan, keras lawan keras. Pohon-pohon yang kena benturan tubuh atau angin pukulan, terguncang. Sebagian patah, tumbang. Debu serta daun-daun berterbangan kena pusaran angin.

Mata si gadis membelalak. Tak pernah sebelumnya dia menyaksikan tarung dahsyat seperti itu. Matanya tak bisa melihat jelas, dua orang itu bergerak amat pesat, hanya terlihat bayangan.

Dia tak tahu siapa yang lebih unggul dan siapa yang kewalahan. Tapi dia berharap agar laki-laki bercaping yang menang. Membayangkan akan diperkosa Jubah Hitam, tubuhnya gemetaran takut.

Tadinya dia hanya bisa melihat bayangan kedua petarung itu saking pesatnya mereka bergerak. Tarung berlangsung puluhan jurus. Tiba-tiba keduanya berhenti dalam jarak sepuluh meter. Nafas keduanya tersengal-sengal.

Terdengar suara laki-laki bercaping. “Tenagamu hebat. Tapi aku belum kerahkan seluruh tenaga dan jurusku, kalau kamu masih mau berlanjut, kita adu sepuluh atau bahkan seratus pukulan.” Suaranya datar, pernafasannya telah pulih normal.

Jubah Hitam masih tersengal-sengal. “Baik. Sepuluh pukulan. Sebutkan namamu sebelum mati!”

“Namaku, Wisang Geni!”

Si gadis dan Jubah Hitam, keduanya sama-sama terkejut.

Si gadis menggumam dalam hati. Parasnya tiba-tiba merona merah malu. “Oh dia Wisang Geni yang kucari selama ini, yang kumimpi selama ini, ternyata lebih tampan dan lebih jantan dari laki-laki dalam mimpiku. Oh oh Penguasa Hutan dan Penguasa Angin, menangkan Mas Geniku.”

Jubah Hitam tertawa. “Jadi inilah pendekar nomor satu tanah Jawa yang namanya menggema kemana-mana.” Dalam hati dia sangat girang. “Hari ini aku bisa menaksir tingkat ilmu-silatnya, tetapi belum saatnya kubunuh. Kubunuh anak isterinya dulu supaya dia menderita seperti deritaku.”

“Sekarang perkenalkan namamu, buka topengmu!” Wisang Geni melepas caping melempar kepangkuan si gadis. “Tutupi dadamu, adik kecil!” Tampak rambutnya yang panjang penuh uban keperakan.

“Tak perlu basa-basi, ayo adu pukulan!” Teriak Jubah Hitam sambil melangkah maju, bersiap melancarkan pukulan keras.

“Kulayani kamu penjahat busuk!” Wisang Geni berseru tak kalah kerasnya.

“Wisang Geni bersiaplah ke neraka!” Serunya sambil dua tangannya mengirim pukulan saling susul menguar angin keras yang dingin.

Si gadis yang berada beberapa meter dari arena tarung, menggigil dingin kena pengaruh angin pukulan itu.

Tidak tinggal diam, Wisang Geni beraksi memukul dengan gongkrodha salah satu jurus paling mendasar dari 12 jurus garudamukha, pukulan yang membawa perbawa kekerasan dan amarah. Pukulan itu mendatangkan angin panas dengan kekuatan besar karena menggunakan tenaga panas wiwaha.

Tenaga panas lawan dingin.

“Braaakkkk…. Braaakkk…”

Benturan tenaga terdengar memekak telinga.

Wisang Geni mundur satu langkah untuk mengurangi hempasan tenaga lawan. Jubah Hitam mundur dua langkah. Dia menggerung keras lalu memukul dengan tenaga lebih dahsyat.

Wisang Geni memukul dengan prasadha kuntihasha (menara tinggi bukan main) dari kumpulan prasidha dalam sikap prabhawa dilandasi tenaga dingin wiwaha. Itulah jurus penakluk raja yang sudah sangat jarang dia mainkan karena telah lama tidak menemui lawan seimbang.

Kali ini tenaga dingin lawan dingin.

“Braaakkkkk ….. Braaakkk…..”

Wisang Geni tetap berdiri tegak, hanya dua tangannya tampak berputar-putar untuk membuang dampak pengaruh pukulan lawan.

Langkah Jubah Hitam terseret mundur dua langkah, nafasnya mendengus macam kuda habis berlari seharian. Tubuhnya sedikit gemetar, dia batuk-batuk. Darahnya bergolak, dia tahu tenaga dalamnya tergoncang.

“Wisang Geni bukan nama kosong. Ilmu-silatnya sulit diukur, tenaga-dalamnya hebat. Tidak heran Wasudeva mati ditangannya. Sekarang belum saatnya aku tarung habis-habisan. Ada saatnya nanti.”

Matanya berapi-api. “Wisang Geni! Kita akan bertemu lain waktu.” Serunya sambil melayang pergi.

Si gadis menatap Wisang Geni yang masih berdiri tegap, mengatur nafas dengan memainkan dua tangannya. Sesaat kemudian Wisang Geni menghela nafas panjang, “siapa orang itu, tenaga-dalamnya besar, jurusnya aneh, seorang musuh yang sangat kuat. Mungkin dari negeri seberang.” Katanya sambil menghampiri si gadis.

“Dia hebat, tapi kamu lebih hebat. Terimakasih Mas Geni sudah selamatkan aku.”

“Mengapa memanggilku Mas Geni, siapa kamu?” Wisang Geni memandang dada si gadis yang terbuka menantang. “Tutupi dadamu!” Tegasnya.

Si gadis melempar caping ke tangan Wisang Geni sambil berkata. “Kamu lihat, bajingan itu melukai dadaku, lihat warnanya agak biru pasti racun. Katanya aku akan mati tiga hari lagi. Jadi kupikir tidak ada salahnya kamu melihat dadaku. Bagus kan? Tidak besar dan tidak kecil.”

Dia berkata seakan tanpa malu tapi parasnya merona merah saking malunya. Dia memegang dada sebelah kirinya, mulutnya menyeringai, mengerang sakit. “Sakit, nyeri, dinginnya menusuk.” Katanya dengan suara menahan sakit.

“Namamu siapa? Kamu murid siapa?” Wisang Geni bertanya.

“Mas Geni, jangan berdiam diri, apakah kamu mau membiarkan aku mati? Kamu harus sembuhkan lukaku.”

Wisang Geni mengerut dahi. “Siapa kamu? Akan kutolong kalau kamu berterusterang!”

“Tidak mau! Sembuhkan aku dulu, nanti baru aku bercerita. Atau biarkan saja aku mati. Kamu pasti akan menyesal membiarkan gadis tidak berdosa mati didepan matamu tanpa berusaha menolong.” Gadis itu merogoh buntalan mengeluarkan kebaya hitam, mengibas-kibas kebayanya memeriksa masih layak pakai atau tidak.

Parasnya merona merah malu ketika dia melepas kebayanya yang robek, lalu mengenakan yang baru. “Kamu jangan melihat dadaku, itu tidak sopan.” Katanya sambil mengancing kebayanya.

Wisang Geni tertawa. “Tadi kamu menyuruh aku melihat dadamu, memujinya bagus, sekarang kamu melarang, mana yang harus kuikuti.”

“Sudahlah aku tidak mau berdebat. Ayo sembuhkan aku!” Dia menatap tajam.

Untuk sesaat Wisang Geni sadar betapa cantiknya gadis remaja itu. Mata, hidung, alis dan mulut yang indah cantik. Rambutnya ikal agak keriting, sepanjang bahu, awut-awutan namun menampakkan kecantikan yang liar.

Gadis itu merunduk malu. “Mas, kamu jangan menatap aku seperti itu, aku takut.”

“Kenapa takut?”

Dia menyahut lirih. “Seperti laki-laki lain, mereka memandang aku sepertinya aku makanan yang enak dan harus dinikmati.”

“Karena kamu cantik.” Sesaat Wisang Geni merasa tak pantas dengan pujiannya.

“Benarkah aku cantik?” Kemudian dia melanjutkan dengan suara lemah. “Dingin, aku kedinginan.” Lalu dia menggigil dan tiba-tiba saja rubuh telentang.

Wisang Geni terkejut. Sekilas menduga si gadis pura-pura pingsan. Dia meraba nadi si gadis. Pingsan. Benar-benar pingsan. Dia membuka kancing kebaya, meneliti luka lebam di dada si gadis. “Benar-benar kejam. Ini pukulan racun dingin.”

Tidak mengulur waktu lagi, dia menempel satu tangannya tepat ditengah antara dua bukit kembar. Tangan lainnya di perut. Dia memejam mata lalu mengempos tenaganya. Tenaga-dalamnya mengalir deras ke seluruh tubuh si gadis.

Tidak berapa lama Wisang Geni terperanjat. Luka di dada hanya luka luar. Hanya beberapa saat luka memar kemerahan itu merata dan kembali seperti biasa. Tetapi ada tenaga dingin di dalam dada yang menggumpal dan bergerak-gerak. Apa itu?

Dia berusaha menggiring gumpalan itu ke satu tempat lalu menekannya dengan tanaga panas. Tapi sia-sia. Gumpalan itu melejit ketempat lain. Hilang lenyap. Tapi saat berikut gumpalan itu muncul lagi di tempat lain.

Wisang Geni heran dan tak mampu memastikan apa gumpalan dingin itu. Namun dia tetap menyalurkan tenaga dalamnya.

Beberapa saat kemudian si gadis sadar. Bulu matanya pelahan-lahan membuka, menatap wajah Wisang Geni yang berkeringat. Dia merasa hawa panas menerobos dadanya menjalar ke segenap pembuluh darahnya. Dia sadar, laki-laki itu sedang menolongnya. Mata Wisang Geni terpejam. Dia tak tahu si gadis sudah sadar.

Gadis itu melirik tangan Wisang Geni, satu menempel di dadanya, satu di pusar perutnya. Kini dia punya waktu untuk meneliti wajah laki-laki yang sudah dicintainya bahkan sejak dia masih diawal masa remaja.

Wajah yang coklat, penuh cambang kasar bekas dipotong dengan pisau. Matanya terpejam, Rambutnya putih keperakan, semuanya beruban. Mulutnya agak lebar, hidung agak mancung. Wajah itu tidak berkesan tampan melainkan kejam dan kasar. “Dia menjalani kehidupan kasar seperti cerita kakek, melalui banyak tarung yang mempertaruhkan nyawanya. Musuhnya banyak. Kasihan. Dia patut dikasihani.” Bisiknya dalam hati.

Dia mengamati dada dibalik baju yang robek penuh tambalan dengan bagian dada yang terbuka. Tampak bulu dadanya yang kasar. Otot-otot dadanya memperlihatkan kekuatan jasmani yang diatas laki-laki normal. Ada bekas luka semacam codet di beberapa tempat.

Gadis itu memejam matanya kembali dan mencoba membayangkan kembali gambaran Wisang Geni yang dilihatnya sekarang ini, menanamnya kedalam benak sanubarinya, menindih imajinasi gambaran wajah yang sudah dibangunnya sejak dia mendengar kehebatan Wisang Geni dari kakek dan guru-gurunya. Saat berikutnya dia tertidur, pulas. Tidur dengan senyuman.

Hampir sepenanakan nasi Wisang Geni kerahkan tenaga-dalam menyembuhkan si gadis. Merasa pengobatan sementara sudah cukup Wisang Geni melepas tangannya dari tubuh si gadis. Dia membuka mata memandang si gadis yang tidur pulas. Dia memperhatikan kecantikan yang terpampang dihadapannya. Parasnya yang cantik, polos dan tidak berdosa, tubuhnya yang remaja, segar dan molek.

“Siapa dia? Pasti ada hubungan dengan Manjangan Puguh atau Sagotra. Tidak mungkin dia memperoleh waringin sungsang dari orang lain. Di bumi ini hanya Sagotra, Manjangan Puguh dan aku yang menguasai ringan-tubuh itu. Siapa dia?”

Tiba-tiba terdengar suara merdu. “Sudah puas mengamati tubuhku? Memegang dan meraba dadaku?”

Wisang Geni terkejut.

Dia merasa malu. Seakan si gadis bisa membaca pikirannya yang mengagumi kecantikannya. “Tutupi dadamu dengan bajumu.”

“Berapa lama kamu memegang dan meraba dadaku?” Si gadis mendesak.

“Aku tidak memegang, aku mengobatimu dengan pengerahan tenaga-dalam.” Sahut Wisang Geni, agak malu-malu.

“Tapi kamu menyentuhnya, malahan tadi kamu mengelusnya. Ayo mengaku saja, kenapa takut? Aku tidak marah, asalkan kamu mengakui aku cantik, lebih cantik dari isterimu.” Dia berkata dengan senyum menggoda sambil mengancing kebayanya.

“Mulutmu lancang, kamu murid siapa? Sagotra atau Manjangan Puguh?”

“Apakah aku sudah sembuh? Memar di dada sudah lenyap. Tapi rasa dingin masih terasa sampai ke dalam tulang, aku kedinginan Mas Geni.”

Tiba-tiba dia menggigil. Bibir memutih pucat, bergerak-gerak.

“Kamu kedinginan?” Tanya Wisang Geni.

Gadis itu mengangguk. Masih gemetaran, malah semakin hebat.

Wisang Geni memegang dua tangan si gadis, lalu mengerahkan tenaga panasnya. Tenaganya yang paling besar.

Tapi dia heran karena gumpalan benda dingin itu masih beredar di tubuh si gadis. Liat dan licin. Apa itu? Dia teringat ucapan si Jubah Hitam. Racun kalajengking biru! Racun apa itu? Mendadak dia melihat warna biru di paras si gadis. Samar-samar. Tapi tadinya tidak ada, kini muncul. Apa itu?

“Eh adik kecil, orang itu memberimu makanan?” Tanya Wisang Geni.

Si gadis menggeleng. Lalu berkata suara gemetaran dan bibir menggeletar. “Aku dicekoki, dipaksa menelan sesuatu.”

“Dicekoki apa?”

“Tidak tahu, satu butir sebesar kuku ibujari.” Rasa dingin sudah mulai mereda tertolong tenaga panas dari tangan Wisang Geni.

“Kamu dalam keadaan pingsan, bagaimana bisa tahu?” Sahut Wisang Geni.

“Semula aku pingsan. Tadi sebelum tarung denganmu dia memijit rahangku, aku siuman, lalu dia cekoki butiran aneh itu.”

“Kamu telan?”

“Tadi sudah kubilang, aku dicekoki, dipaksa menelan.” Seru si gadis agak marah.

“Tenagamu sangat lemah. Aku membantumu dengan tenaga-dalam, sementara ini kamu tidak boleh mengerahkan tenaga, mungkin satu minggu sudah pulih.”

Gadis itu merunduk malu. “Terimakasih sudah mau menolongku.”

Wisang Geni menghela nafas. “Racun itu ganas, penjahat itu menyebutnya racun kalajengking. Kalau tidak cepat ditolong, kamu akan mati, atau lumpuh kehilangan tenaga-dalam selamanya. Ancamannya kamu mati dalam waktu tiga hari.”

Sesaat kemudian dia melanjutkan. “Aku akan menolongmu dengan menyalurkan tenaga-dalam dan ramuan obat. Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa kamu?”

“Namaku Atis. Hanya Atis. Itu nama pemberian dari orangtuaku.”

“Kamu pelajari waringin sungsang dari Sagotra atau Manjangan Puguh?”

“Kita saudara perguruan, sama-sama murid Manjangan Puguh. Aku juga belajar dari kakek Sagotra, Pancasona dan Grajagan. Tapi waringin sungsang yang kamu miliki jauh lebih sempurna, membuat aku malu.” Dia memegang perut. “Aku lapar. Tadi siang sudah makan, tapi sekarang lapar lagi.”

“Aku cari makanan, kamu tunggu disini.“

Tak lama Wisang Geni kembali. “Kamu buat api unggun, aku kuliti ayam.”

Mereka menikmati ayam bakar. Atis makan dengan lahap.

“Sekarang ceritakan riwayatmu.”

“Tapi kamu janji, akan menyembuhkan aku sampai tuntas, tidak boleh tinggalkan aku sebelum benar-benar sembuh.”

Wisang Geni tertawa. “Kamu licik. Baiklah aku berjanji.”

“Ibuku itu putri kakek Sagotra. Ketika usiaku tujuh tahun, kami pergi mencari kakek. Kami dengar Lemah Tulis bersahabat dengan kakek, itu sebab kami ke Lemah Tulis. Kata bapak Padeksa, kakek tinggal bersama Ki Grajagan dan Nyi Pancasona di pulau Sempu. Di tengah jalan kami bertemu perampok, ayah mati dibunuh, aku dan dan ibu lolos. Tiba di pulau Sempu, ibu mati karena luka-lukanya memang berat.”

“Orangtuamu tidak bisa tarung?”

“Orangtuaku pendekar, mereka bertarung dengan gagah tapi mereka tak berdaya karena dikeroyok banyak orang.”

“Siapa mereka, kamu kenal? Dengar nama mereka?”

“Tidak. Aku tidak tahu.”

“Kamu tinggal bersama kakek?”

“Sejak itu aku dilatih kakek bersama dua sahabatnya nenek Pancasona dan kakek Grajagan. Kadang-kadang guru Puguh dan isterinya Mei Hwa datang.”

“Mengapa kamu berkeliaran sendiri, dimana kakekmu?”

“Kakek sudah pergi dari pulau Sempu. Aku pikir, ilmu-silatku sudah cukup tinggi jadi aku pergi merantau. Tapi ternyata ilmu-silatku masih rendah. Jika tidak kamu tolong, tentu aku diperkosa orang. Apakah semua laki-laki suka memerkosa wanita? Mas Geni apakah kamu pernah memerkosa wanita?” Atis memandang wajah Wisang Geni dengan sedih.

“Pertanyaan gila, aku tidak pernah memerkosa wanita.” Wisang Geni kesal.

“Kata kakek, isterimu banyak tetapi untukmu belum cukup, makanya kamu suka bepergian dan meniduri gadis-gadis atau janda. Benarkah?”

“Itu cerita ngawur, kakekmu itu sudah pikun.”

“Eh mas Geni jangan sembarangan mengatai kakekku pikun, aku marah.”

“Memang dia pikun, atau mungkin saja sudah gila, membiarkan kamu berkeliaran dengan modal kepandaian yang pas-pasan. Kamu lari atau ada ijin kakekmu?”

“Aku kabur tanpa setahu kakek.”

“Apa tujuanmu? Mau kemana?”

“Mau ke Lemah Tulis mencari kamu.” Tuturnya dengan wajah polos.

“Mencari aku? Ada urusan apa?” Wisang Geni heran.

“Aku mau menjadi isterimu.” Atis berkata jujur, tegas dan blak-blakan, Tapi dia merunduk malu, parasnya merona merah saking malunya.

“Kamu ngomong sembarangan, kamu masih kecil, anak kecil.”

Tiba-tiba Atis berdiri, sambil berseru. “Aku perempuan dewasa. Kamu sudah lihat dadaku, besar dan montok, iya kan? Lihat ini bokongku.” Dia berdiri sambil menepuk bokong dan pahanya. “Katakan sekarang apakah ini bokong anak kecil atau wanita dewasa, ayo jawab! Lihat yang jelas, aku tinggi langsing, bukan anak kecil!”

Wisang Geni tersenyum melihat lagak Atis yang memarahinya. “Iya, kamu sudah dewasa, Maafkan aku.”

“Tubuhku indah, iya kan Mas?” Desaknya.

“Iya, indah.” Wisang Geni menjawab asalan saja.

“Kamu terangsang, iya kan?” Desaknya sambil menuding.

Wisang Geni menggeleng kepala. “Tidak!”

“Bohong, kamu harus jujur, mengaku saja, iya kan?” Desaknya lagi.

Wisang Geni tak berdaya. Terpaksa mengangguk.

Mendadak Atis melompat menerkam. Khawatir si gadis jatuh, Wisang Geni memeluknya. Mereka bergulingan di rumput yang basah.

Wisang Geni menolak tubuh si gadis. “Jangan, jangan dengan cara ini.’

“Kenapa? Kamu tidak suka? Tapi kamu bernafsu, mengapa kamu menolak?” Atis duduk sila memandang laki-laki pujaannya.

“Kakekmu! Aku tak mau dia salah faham.” Wisang Geni malu dan geli, merasa diadili si gadis remaja itu.

“Tidak mungkin kakek salah faham. Seorang perempuan harus bersuami, itu sudah aturan hidup, kalau aku memilih kamu sebagai suami, tak seorang pun boleh melarang. Tidak juga kakek.” Suara Atis mengandung ketegasan.

“Tapi aku sudah beristeri.”

“Aku tahu, isterimu Sekar, Prawesti, Manohara, Gayatri. Mungkin ada yang lain yang kamu sembunyikan. Tetapi coba lihat, pandang aku yang jelas, aku lebih muda, masih segar, masih perawan. Dan aku sangat mencintaimu.” Kata Atis.

“Cinta? Bicaramu ngawur. Kamu baru ketemu aku.” Wisang Geni membantah.

“Sejak usia sepuluh tahun, aku mendengar cerita tentang kamu dari mulut kakek, guru Sona, guru Grajagan, guru Puguh dan bibi Mei Hwa. Aku mencintaimu sebelum bertemu denganmu. Pertemuan hari ini karma dewata bahwa aku jadi isterimu.” Diam sesaat, sambil menatap tajam, dia berkata tegas. “Kamu harus mengawini aku.”

“Mengapa harus?”

“Kamu sudah menggerayangi dadaku. Kalau kamu tidak mau mengawini aku, akan kulapor pada kakek dan guruku, juga kakek Padeksa dan semua murid Lemah Tulis bahwa kamu sudah memegang-megang dadaku.”

“Kamu mengancam aku?” Wisang Geni balas mengancam, tetapi hanya sikap pura-pura, dalam hati dia justru merasa aneh terlibat pembicaraan unik dengan Atis.

“Tidak. Aku tidak mengancam, aku akan jadi isterimu yang setia, manut pada perintahmu. Rela mati untukmu. Jadilah suamiku kangmas Geni.”

Wisang Geni menyahut. “Kamu cantik, masih muda, tapi aku sudah tua.”

“Aku tidak perduli.” Dia merunduk malu. “Aku mencintaimu.”

“Biarkan aku berpikir.”

“Aku mau besok sudah ada jawaban. Dan jawabannya, harus iya. Kamu harus mengawini aku.” Katanya tegas.

Wisang Geni kewalahan. “Sudah hampir malam. Sebaiknya kita balik ke desa, nginap dirumah penduduk, aku akan mengusir racun dalam tubuhmu.”

“Tapi aku tidak mau sendirian, aku mau kita satu kamar. Aku takut Jubah Hitam datang menculik lagi. Katakan iya.”

Wisang Geni bersiul panjang. Selang beberapa saat seekor kuda hitam berlari menghampiri. “Namanya Wulung, dia hanya manut padaku.”

Atis mengelus leher si hitam yang mendengus sambil menggerakkan kepalanya. “Wulung, kamu tampan dan jantan seperti majikanmu,” katanya.

Kuda itu meringkik sambil menaikkan dua kaki depannya. Atis terkejut, mundur dua langkah, terantuk akar pohon dan jatuh.

Wisang Geni menangkap tubuh langsing itu. “Baru sama kuda saja, kamu sudah kalah, bagaimana mau berkelana di dunia kependekaran.”

“Itu tadi aku pura-pura jatuh, karena aku menebak kamu akan menangkap dan memeluk tubuhku. Benarkan? Kamu senang memeluk aku?”

Apa yang dikatakan si gadis benar, Wisang Geni merasakan empuknya tubuh si gadis. Terutama bokongnya yang nempel dipangkuannya. Dia ingin melepas tapi tidak ingin Atis tersinggung.

“Sudah cukup memeluknya, malu dilihat Wulung.” Kata Atis.

Wisang Geni kewalahan. Dia memegang pinggang Atis dan mengangkatnya ke punggung Wulung. “Aku jalan kaki, kita kembali ke desa tadi.”

“Kamu naik sini, aku takut jatuh. Racun itu bisa menyerang dadakan.” Kata Atis menggoda. “Ayo mas Geni, naiklah, jangan takut, isterimu tidak ada disini.”

“Siapa bilang aku takut isteri?” Dia melompat ke belakang Atis.

“Jadi isterimu yang takut padamu. Mungkin kamu berlaku bengis, iya mas?”

“Aku penyayang isteri.” Wisang Geni tertawa.

Atis menggerakkan bokongnya, duduk dipangkuan Wisang Geni. “Begini lebih enak, supaya pantatku tidak sakit dan paha tidak lecet.” Dia menuntun tangan Wisang Geni memeluk tubuhnya. “Tidak usah takut, isterimu tidak ada disini.”

Memeluk dan merasakan pantat si gadis dipangkuannya, beberapa helai rambut si gadis menggelitik hidungnya, mencium aroma tubuh Atis, tanpa terasa birahi Wisang Geni lonjak-lonjak.

“Kamu terangsang birahi mas. Makanya tidak usah malu-malu atau takut isterimu, ambil aku jadi isterimu, pengantinmu yang paling muda, perawan dan yang sangat mencintaimu. Pasti kamu beruntung.” Atis tertawa geli.

“Benar-benar penggoda kecil yang licik. Tapi memang dia seksi, cantik membuat aku terangsang. Tetapi aku harus bisa menahan diri. Dia cucu Sagotra dan murid paman Puguh.” Pikiran Wisang Geni melayang-layang membayang tubuh Atis.

Pemilik warung ternyata orang jujur, kuda tunggangan Atis diselamatkan dan dikurung di kandang. Dia membantu mencarikan rumah penduduk yang kamarnya bisa disewa untuk bermalam.

Setelah makan malam, Wisang Geni menyalurkan tenaga panas untuk mengusir racun dingin. Dia mengajari Atis untuk perlahan-lahan mengerahkan tenaga. Hampir separuh malam berlatih, tubuh mereka basah keringat.

Paras Atis yang hanya diterangi sinar rembulan dari sela-sela dinding dan obor damar tampak keringatan. Gadis itu sangat cantik. Wisang Geni coba membanding dengan wanita-wanita yang sudah dikenalnya termasuk isteri-isterinya. Diakuinya Atis sangat cantik, kulit kuning sawo, bersih. Tubuhnya sekel. Atis memiliki banyak kelebihan, lebih muda, lebih cantik dan lebih segar.

Atis tidur di dipan. Wisang Geni ditanah beralas tikar bambu. “Kalau kamu tidak ada, tentu aku sudah diperkosa orang. Laki-laki memang jahat.” Kata Atis.

“Semua laki-laki termasuk aku?”

“Kamu tidak Mas. Kamu istimewa. Aku sudah pasrah menyerahkan perawanku padamu, dan aku tahu kamu sudah terangsang, tapi kamu bisa menahan diri.”

“Aku terlalu tua untukmu, kamu pantas jadi anakku. Nanti akan ada laki-laki lain yang pantas jadi suamimu.”

“Tidak.” Bisik Atis agak keras. “Aku hanya mau kawin dengan Wisang Geni.”

“Kamu tidak sadar apa yang kamu mau. Aku belum pernah mendengar cerita aneh, seorang gadis jatuh cinta pada laki-laki tanpa pernah bertemu dengannya.”

“Kamu menyinggung perasaanku. Bukan aneh, itu kenyataan. Aku memang cinta, kasmaran. Aku tidak perlu malu. Biar semua orang di tanah Jawa tahu rahasia cintaku ini, aku tidak malu. Malah aku bangga.” Tegas Atis.

“Apa yang dibanggakan?”

“Iya. Tidak semua orang bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Itulah cinta sejati, cinta yang dibawa sampai kedalam kubur. Sejak masih ingusan aku sudah mencintaimu, cintaku yang pertama dan terakhir.”

“Kamu pandai bicara.” Wisang Geni menahan ketawa.

“Kamu menertawakan aku. Tapi aku tidak peduli. Aku cinta kamu. Itu kenyataan! Sekarang katakan, kapan kamu mau ambil perawanku?” Tiba-tiba Atis tertawa lirih. “Aku akan telanjang bulat, memeluk dan merayu kamu. Apa kamu bisa menahan diri dan tetap menolak aku?”

Wisang Geni tertawa geli. “Awas kamu lakukan itu, kupukul pantatmu.”

“Nah kamu mulai terangsang, mau memegang pantatku.” Atis tertawa.

“Kataku akan memukul pantatmu, bukan memegang.”

“Ayo naik ke dipan, peluk aku, isterimu tidak tahu.” Goda Atis.

Wisang Geni diam. Atis manja, cerdas, pandai omong dan suka omong. Kalau bicara gerak mulutnya sangat memesona.

“Mengapa diam? Apa yang kamu pikirkan? Sudahlah, jangan banyak pikir.”

Wisang Geni masih diam.

“Sebenarnya kamu dari mana mau kemana?” Atis mengalih pembicaraan.

“Aku dari Lemah Tulis dalam perjalanan pulang ke Welirang. Sekarang aku balik ke Lemah Tulis, mengantar kamu. Biar beberapa murid mengantarmu pulang. Siapa tahu kamu berjodoh dengan salah seorang murid Lemah Tulis yang mengantarmu.”

Atis memperlihatkan air muka jengkel. “Masih saja kamu ngomong sembarangan. Sudah kukatakan, aku akan kawin dengan kamu, tidak mau dengan laki-laki lain.”

“Tapi kamu tetap harus diantar pulang ke rumah kakekmu.” Kata Wisang Geni.

“Sebenarnya kakek dan dua guruku meninggalkan pulau Sempu, kami tiba di lereng gunung Argo, ketika mereka sibuk mendirikan rumah, aku kabur. Kalau masih di pulau aku tidak bisa lari, aku takut menyeberang laut, ombaknya besar.”

“Gunung Argo tidak jauh dari Lemah Tulis.” Potong Wisang Geni.

“Aku masih belum sembuh.” Suara Atis mengandung isak. Tiba-tiba tubuhnya gemetaran. Menggigil keras, seluruh anggota tubuhnya bergerak nyaris kejang.

“Kamu kedinginan?” Wisang Geni terkejut. Lebih kaget lagi ketika meneliti paras Atis semakin biru, malahan warna biru sudah menjalar ke leher.

“Dingin. Aku tidak tahan, peluk aku Mas.”

Wisang Geni naik keatas dipan, memeluk erat si gadis. Dia mengerahkan hawa panas tubuhnya, menghangatkan tubuh Atis. “Mengapa mendadak dia kedinginan. Belum lama berselang tampaknya dia membaik. Mungkinkah ancaman Jubah Hitam jadi kenyataan bahwa umur Atis hanya tiga hari. Bagaimana cara menolongnya?”

Bingung, Wisang Geni benar-benar bingung. Dia memiliki ilmu pengobatan yang cukup lumayan dan mengerti banyak persoalan racun. Bahkan darah dalam tubuhnya mengendap zat anti racun yang dibekali gurunya Ki Waragang semasa dia kecil.

Atis masih menggigil, meskipun mulai berkurang. Wisang Geni tetap memeluk dan mengerahkan tenaga-dalam dari dada ke dada.

Wisang Geni teringat pengalamannya. Sepasang pendekar Himalaya, Kumara dan Malini pernah cekoki butiran racun kepadanya berdua Sekar, katanya racun ular salju. Ancamannya, racun akan membunuh dalam waktu tujuh hari.

Dewi Obat, nenek Sekar, berhasil menyembuhkan Sekar namun gagal mengusir racun dalam tubuhnya. Dewi Obat hanya bisa memperpanjang usianya beberapa bulan. Dia tertolong ketika terjatuh dijurang di lembah kera dan tanpa sengaja berlatih di kolam panas dan kolam dingin.

Tiba-tiba dia berseru. “Ikan di kolam dan buah merah. Itu pemunahnya.”

Atis kaget. “Apa? Ada apa?”

“Bagaimana rasanya sekarang?” Tanya Wisang Geni.

“Masih dingin, rasanya ngilu sampai di tulang. Tubuhku lemas, kata penjahat itu, umurku hanya sampai tiga hari, apakah aku akan mati?”

“Tis, aku harus singkirkan aturan, tubuh bagian atasmu harus telanjang, nempel dengan dadaku yang juga telanjang, aku akan kerahkan tenaga dalam. Ini pasti akan membantu. Aku harus mencegah racun menjalar ke bagian tubuh lain, jika warna biru sudah turun ke dada, artinya bagian jantungmu sudah kena racun.”

“Lakukan.” Dia senyum menggoda. “Tadi aku mau telanjang tapi kamu larang, kamu marah. Sekarang kamu suruh aku telanjang, mana yang harus kuikuti?”

“Hanya bagian dada. Ini pertolongan sementara. Kita ke gunung Lejar, obatnya ada disitu, selama perjalanan aku menolongmu dengan cara ini. Kamu akan sembuh.”

Atis tertawa paksa. Tubuhnya masih menggigil. “Kamu buka sendiri kebayaku.”

Wisang Geni melepas peniti kebaya bagian depan. “Hanya dibuka sedikit.”

“Sedikit juga sama. Tapi tak mengapa, kamu sudah melihat dadaku berulangkali, nantinya kalau kita sudah kawin, setiap hari kamu melihat dadaku.” Atis menggigil.

“Kamu sakit tapi masih saja nakal menggoda.” Wisang Geni memeluk erat hingga dada telanjang Atis menempel dadanya.

Atis diam, tetapi matanya tidak kedip mengamati wajah lelaki yang dicintainya.

Wisang Geni memejam mata, memusat pikirannya pada tenaga wiwaha. Atis merasa hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa kantuk. Tak lama kemudian dia tertidur. Kepalanya lunglai, mulutnya nempel dileher Wisang Geni.

Tenaga-dalam wiwaha merambah ke seluruh tubuh Atis. Satu jam berselang Wisang Geni merasa cukup, membuka matanya. Dia mencium aroma khas tubuh Atis. Dia mengusir pikiran liarnya. “Anak ini lugu dan sangat mencintaiku, kalaupun aku mengawininya, harus dengan jalan yang baik. Aku harus menyembuhkan dia..”

Wisang Geni diam tidak bergerak, tak mau Atis terbangun.

Atis terjaga. Tetapi dia diam tidak bergerak. Dia merasakan kenikmatan dan rasa aman berada dalam pelukan laki-laki yang dicintainya. Rangsangan birahi menuntun mulutnya mencari-cari.

“Jangan Atis. Jangan sekarang.” Tukas Wisang Geni lirih.

“Aku mau berterimakasih,” Katanya malu-malu.

“Tubuhmu sudah hangat sekarang.” Pelan-pelan Wisang Geni mendorong tubuh Atis, menggeser tubuhnya sendiri dan duduk sila. “Benahi kebayamu.”

Sambil tertawa geli, Atis memegang payudaranya. Dia bicara sendiri. “Ada saatnya bagian tubuh ini disukai laki-laki yang bernama Wisang Geni.”

“Siap-siap Atis.”

“Kita berangkat sekarang? Hari masih gelap. Berapa hari perjalanan?”

“Sekitar lima hari.”

“Umurku cuma tiga hari. Sekarang sisa dua hari.” Atis mengeluh.

“Kamu tak akan mati, tidak kubiarkan kamu mati. Kubantu dengan tenaga-dalam, meracik ramuan untuk mengendalikan racun itu.”

Pagi hari itu Wisang Geni menunggang Wulung berdua si gadis sementara kuda Atis membuntut dari belakang. Sepanjang jalan Wisang Geni berhenti beberapa kali menolong si gadis dengan penyaluran tenaga-dalam. Agar tidak menarik perhatian orang, mereka jalan di hutan-hutan, kalau malam istirahat dibawah pohon.

Siang hari kelima mereka tiba di bibir jurang. Atis berteriak saking ngeri melihat jurang yang tidak tampak dasarnya. Hanya kabut putih yang terlihat. “Tidak mungkin bisa turun kebawah, kita akan jatuh.” Katanya.

“Tidak perlu takut, aku sering naik turun jurang ini. Aku tahu jalan turun yang tidak curam.” Katanya kepada Atis. Dia menoleh memeluk kudanya dan mengelus-elus leher si Wulung. “Kamu tunggu aku!”

Wisang Geni menggendong Atis di punggungnya. Gadis itu memeluk erat dan meletakkan wajahnya dilekukan leher Wisang Geni. “Mas, mengapa kamu mau susah payah menolongku, padahal baru kenal?”

“Banyak alasan. Kamu pewaris waringin sungsang, kamu mencintai aku, kamu cucu dari sahabatku, kamu … kamu ..”

“Apalagi Mas?” Atis menciumi leher yang basah keringat itu.

“Kamu cantik.” Bisik Wisang Geni.

“Semua isterimu, siapa yang paling cantik?”

“Sekar.”

“Katakan jujur, siapa lebih cantik aku atau Sekar?” Tanya Atis.

“Kamu! Kamu lebih muda, cantik, segar.”

“Terus apalagi?” Desak Atis.

“Kamu bersedia menjadi isteriku.”

“Apa lagi?” Desak Atis, lagi.

“Kamu harus sembuh supaya kita bisa bercinta sebagai suami isteri, iya kan?”

Atis tertawa. “Katakan lagi Mas.”

Wisang Geni mengulang kata-katanya yang terakhir.

Atis tertawa. “Aku bahagia.”

Mereka menuruni jurang melalui jalan yang tidak terjal. Jalan setapak itu agak licin, basah embun, dinding tebing pun berlumut dan licin. Setelah menuruni jurang sepenanakan nasi, kabut tebal menutupi jalan. Tapi Geni sudah hapal jalannya, saking tinggi tenaga-dalamnya, matanya terang bisa melihat jalanan yang berliku.

“Aku menetap lama di jurang, jadinya tahu jalan mendaki dan jalan turun. Cuma harus hati-hati mungkin ada yang berubah belakangan ini.”

Pada beberapa bagian, jalan terputus. Wisang Geni mengerahkan ringan tubuh waringin sungsang, meskipun tetap menggendong si gadis, tidak sulit baginya untuk melompat dari satu bagian ke bagian lain. Ada kalanya untuk memastikan adanya jalanan di depan yang terhalang kabut tebal, dia melempar batu. Dan mendengar jatuhnya batu, dia bisa mengira jarak lompatan.

Tangan Atis menggelayut dileher dan kakinya melingkar diperut Wisang Geni. Sekali-sekali tubuhnya menggeletar, karena serangan racun dingin dan rasa takut melihat jurang tak berdasar. Pertolongan melalui tenaga-dalam dan ramuan jamu cukup menolongnya. Tidak menyembuhkan namun bisa mencegah meluasnya racun ke bagian tubuh yang mematikan.

Hari masih siang ketika mereka tiba di dasar jurang. Wisang Geni bersiul panjang, menggema dan memantul di tebing-tebing, bersahut-sahutan. Tidak lama kemudian serombongan kera mendatangi, terdengar ribut celotehan. Mereka jingkrak-jingkrak, mengenali Wisang Geni.

Seekor kera besar menghampiri. Teriakannya keras sambil memukul-mukul dadanya. Wisang Geni meletakkan Atis ditanah. Lalu menghampiri kera besar, keduanya berpelukan.

Atis tadinya ketakutan melihat banyaknya kera yang mengerubungi. Tetapi hatinya tenang melihat Wisang Geni akrab dengan para kera. Mendadak dia lemas, pingsan. Wisang Geni cepat memeluknya memberi bantuan dengan tenaga dalam.

Kera besar berteriak-teriak.

Beberapa kera membawa buah merah yang masih segar. Itulah buah yang selama Wisang Geni menjalani pengobatan racun ular salju menjadi santapan sehari-hari. Dia meletakkan kepala Atis di pangkuannya. Satu tangan meremas buah, tangan lainnya membuka mulut si gadis. Air perasan buah itu menerobos mulut Atis. Tiga buah sekaligus diminumkan.

Wisang Geni kemudian membantunya dengan tenaga dalam.

Kera besar berteriak, menunjuk kolam besar.

Wisang Geni mengerti. Dia membopong tubuh Atis lalu bersama-sama menyebur ke kolam air panas, berenang ke tengah kolam.

Atis sadar. Dia ketakutan mengetahui tubuhnya berada di dalam kolam.

Dia berteriak. “Panas, aku tidak tahan.”

“Inilah penyembuhan. Kamu sudah minum air buah, kini mandi air panas, lalu air dingin, makan ikan dari kolam ini. Kamu akan sembuh Atis.”

Geni membawa Atis ke tepi kolam. Dia kembali berenang dan menangkap tiga ekor ikan sebesar tapak tangan. Mulanya Atis enggan makan ikan mentah. Tetapi karena ingin sembuh, dia menelannya. Ternyata rasanya manis dan gurih. Dua ekor habis dimakannya, dia tertawa. “Enak, dagingnya empuk manis.”

Geni tertawa melihat mulut si gadis yang belepotan darah ikan.

Mendadak Atis meraba perutnya. “Hangat. Perutku hangat.”

“Iya pengaruh makan ikan tadi.”

“Kita tidur dimana?”

Wisang Geni tertawa. “Dulu aku punya goa, tempat tinggal selama aku disini, ayo kita lihat.” Dia menggendong Atis, berlari ke tebing. Goa itu masih terpelihara. Rupanya selama Wisang Geni berada di dunia luar, kera-kera itu memelihara goanya. Tak ada yang menghuni.

Wisang Geni telaten menyembuhkan Atis. Dari pagi sampai siang berlatih di kolam panas dan dingin. Malam harinya penyembuhan dengan tenaga-dalam.

Buah-buahan dan ikan menjadi santapan lima sampai enam kali dalam sehari. Atis lincah dan cepat berkawan dengan kera-kera, bisa bicara dengan bahasa isyarat.

Hari ketiga tenaga Atis mulai pulih, sedikit demi sedikit. Racun sudah keluar dari tubuhnya. Warna biru sudah lenyap dari parasnya.

“Tenagaku sudah mulai pulih,” mata Atis berbinar-binar dengan senyum dikulum. “Mas aku mau malam nanti aku jadi isterimu, aku akan bersumpah setia padamu.”

Malam harinya mereka bersumpah setia sebagai suami isteri, lalu bercinta.

Selama beberapa hari Wisang Geni terpesona kecantikan fisik dan pribadi Atis.

Atis cerdas dan terampil bekerja. Dia membuat api, memanggang ikan, membuat bumbu, semua dilakukan dengan teliti dan cekatan. Lincah, mahir berkidung, pandai menghibur. Dia selalu menemukan bahan pembicaraan, membujuk dan merayu. Dia tidak memberi kesempatan Wisang Geni menyendiri.

Tadinya hanya terangsang birahi. Lambat laun timbul rasa cinta. Isterinya itu telah memberinya candu, kenikmatan yang membuat dia lupa segala-galanya.

Tanpa terasa dua puluh hari berlalu. Tenaga Atis sudah pulih. Dalam beberapa hari terakhir dia mulai berlatih tenaga-dalam dan ringan-tubuh dengan bimbingan Wisang Geni. Sepanjang hari berlatih silat, malam harinya bercinta.

“Mas kamu lebih cinta aku daripada mbakyu Sekar dan isterimu yang lain?”

“Benar. Aku sangat mencintaimu.”

“Aku bahagia, Mas.”

Wisang Geni menghela nafas. Dia sadar Atis telah menguasai pikiran dan akal sehatnya. “Besok kita pergi, kembali ke dunia ramai.”

“Aku ikut kamu ke Welirang.” Atis meneliti suaminya.

“Berulang kali kujelaskan, disana masih ada keluarga Gayatri, mereka akan segera pulang ke negerinya. Setelah mereka pulang, barulah aku perkenalkan kamu kepada Sekar dan semua keluargaku.”

***

No comments: