Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 31
Bab Tigabelas
Pertemuan
“Kita kehilangan dua hari di Welirang, sekarang harus jalan cepat, lebih cepat tiba di gunung Lejar, lebih baik.” Tukas Prastawana kepada lima kawannya.
“Ini jelas-jelas tugas sulit, karena kita berenam belum pernah menginjak kaki di gunung Lejar dan tidak tahu dimana lembah kera berada. Jadinya kita perlu waktu lebih banyak untuk mencari. Aku setuju kita jalan cepat.” Kata Daraka.
Mereka melakukan perjalanan cepat dari Welirang. Memacu kuda masing-masing, hanya diselingi istirahat makan dan minum. Sore hari ketiga mereka tiba di kaki gunung Lejar.
Prastawana melompat turun dari punggung kudanya.
Daraka berkata. “Istirahat dulu Mas Pras. Biarkan kuda-kuda makan dan minum sambil istirahat, kita juga perlu isitirahat, meluruskan tubuh, melemaskan otot-otot.”
Mereka duduk-duduk di rerumputan. Hari masih siang dan udara sejuk.
“Mencari ketua di gunung yang begini luas, jelas tugas yang agak mustahil. Tetapi kita tak boleh putus asa, meski kita juga siap untuk gagal,” Kata Laras, isteri Gajah Lengar.
Mereka mendirikan gubuk di tempat yang dianggap strategis yang akan dilalui siapapun yang turun dari gunung. Gubuk dipisah dengan sekat menjadi tiga ruang tidur dan satu ruang depan yang digunakan bersama. Prastawana dan Dyah Mekar menempati ruang tengah, dua lainnya ditempati Daraka dan Sawitri serta Gajah Lengar dan Laras.
Malam itu mereka berkumpul di ruang depan menikmati santapan malam yang dimasak tiga wanita berame-rame. Semua barang bawaan diturunkan. Beberapa tabung tuak digantung didinding masing-masing kamar.
“Besok kita mulai mencari, apa rencanamu,” kata Gajah Lengar kepada Prastawana.
“Kita berpencar menjadi tiga kelompok. Satu tetap tinggal disini, mengawasi jalan turun ini. Dua pasang lainnya menyisir keatas gunung. Siang hari kita bertemu disini, makan dan berembuk. Ada yang kalian perlu tambahkan, silahkan.” Kata Prastawana.
Laras berkata. ”Sebaiknya kita jalan kaki, supaya lebih gesit. Satu hal lagi, menurut keterangan Gayatri, Sekar membawa tiga ekor kuda Wulung, Batari dan Dawuk. Jika kita bisa temukan kuda-kuda itu maka sudah pasti ketua berada disekitar sini.”
“Bagus, menemukan kuda-kuda itu lebih mudah. Mereka pasti berkeliaran mencari rerumputan yang subur.” Tukas Daraka.
“Awasi tebing-tebing, jurang-jurang, goa-goa dan juga jejak kaki atau jejak kuda ditanah. Itu petunjuk yang berguna,” Prastawana menambahkan. “Menurut ketua Geni, tempat yang dia namai lembah kera itu dihuni ratusan kera. Inipun bisa jadi petunjuk kita.”
“Di gunung biasanya terdapat kera dimana-mana.” Potong Daraka.
“Kita cari tempat yang dihuni banyak kera.” Sambut Dyah Mekar.
Malam itu mereka beristirahat.
Esok paginya, pencarian dimulai.
Malam hari ketiga, langit dihiasi rembulan dan puluhan bintang gemintang yang menyinari lereng gunung. Enam pendekar duduk diberanda gubuk. Ada makanan singkong rebus, ayam bakar dan tuak.
“Kita minum tuak sekadar saja, sisakan lima atau enam tabung untuk ketua Geni.” Dyah Mekar berkata sambil melahap paha ayam.
“Berapa lama kira-kira kita bertahan disini?” Tanya Sawitri.
“Tak ada kepastian tapi aku akan bertahan sampai kapanpun.” Tukas Prastawana.
“Bagaimana dengan tugas-tugasmu di Lemah Tulis?” Daraka bertanya, ingin tahu.
“Sementara waktu paman Padeksa mengambil alih sampai aku kembali. Tetapi aku akan kembali bersama ketua Geni, kupaksa dia menjadi ketua lagi.” Tegas Prastawana berapi-api.
“Hmmmm bisakah kamu memaksa Wisang Geni?” Gajah Lengar bertanya kemudian menjawabnya sendiri. “Tak seorang pun bisa memaksanya, tidak juga kakek Padeksa.”
“Isterinya?” Tanya Laras.
“Hmmm lihat saja, Sekar, Manohara, Prawesti dan juga Gayatri tidak berani menentang suaminya,” Potong Daraka. “Aku teringat Westi dan Manohara.”
“Kecuali melalui bujuk-rayu dan sanggama.” Laras tertawa geli.
“Itupun tidak mempan, dia akan pindah ke isteri yang lain.” Tukas Prastawana.
“Kalau semua isterinya membujuk paksa dia?” Desak Laras. “Pasti dia luruh juga.”
Prastawana tertawa. “Dia akan mencari isteri baru.”
“Ketua kita itu memiliki kelemahan mudah terpikat paras ayu.” Kata Sawitri.
“Pandanganmu terbalik, justru wanita-wanita itu yang kasmaran.” Tukas Prastawana.
“Mas Pras selalu membela ketuanya. Dia pengikut yang setia.” Kata Daraka.
“Kita semua pengikutnya yang setia,” Tukas Gajah Lengar.
Seperti ada yang memberi isyarat, detik itu juga suasana hening. Hanya terdengar suara kodok bersahut-sahutan.
“Aku menduga-duga apa tindakan ketua Geni terhadap Gayatri?” Dyah Mekar bertanya sambil menghela nafas. “Kasihan Gayatri, karmanya buruk, dia menjadi korban kejahatan Arjapura, kupikir-pikir aku akan membelanya.”
“Dia sahabatmu. Aku pun akan membelanya.” Tukas Laras.
“Maksudmu membela itu apa? Melawan dan menentang ketua Geni?” Sawitri bertanya.
“Tidak perlu menentangnya, kita hanya perlu mengulang cerita dan pengakuan Arjapura bagaimana dia menipu, menawan dan membuat Gayatri ketagihan racun bius sehingga tak mampu berpikir waras. Jika tidak ditolong Nenek Jubah Kuning itu, mungkin Gayatri hanya tinggal tulang saja. Ketua menghargai kebenaran. Kita ceritakan kebenarannya, seterusnya ketua akan berpikir sendiri.” Tutur Dyah Mekar berapi-api.
“Kamu saja yang bertutur mewakili kita semua.” Kata Laras kepada Dyah Mekar.
“Aku akan membuka percakapan, selanjutnya kita semua saling melengkapi, karena kita semua mendengar sendiri langsung dari mulut Arjapura.” Kata Dyah Mekar.
Hari keempat Gajah Lengar dan Laras membawa kabar gembira. Keduanya menemukan tiga ekor kuda. Namun tak ada tanda-tanda Wisang Geni berada disekitarnya.
“Memang benar Wulung, ketika aku memanggil namanya, dia hanya meringkik kemudian kabur mendaki lereng diikuti dua temannya. Tetapi yang penting aku sudah melihatnya, berarti ketua Geni benar-benar ada di gunung ini.” Kata Gajah Lengar.
Prastawana menyahut lantang. “Artinya ketua masih hidup. Kita akan temukan dia.”
“Atau ketua yang menemukan kita,” cetus Gajah Lengar.
Hari ketujuh. Cahaya matahari pagi yang kuning mulai menembus kabut. Tiga pasang suami isteri masih berpelukan. Tiba-tiba mereka terjaga mendengar gema tertawa yang membahana. Gema dipantulkan tebing seakan sahut menyahut menambah keangkeran tawa.
Enam pendekar Lemah Tulis berlarian keluar gubuk memandang keliling. Gema suara tawa makin lama makin melemah, sampai akhirnya hilang ditelan kebisuan pagi. Saat berikut terdengar kidung dinyanyikan.
Kidung itu menggema meskipun tidak segempita tawa tadi namun tetap memperlihatkan laki-laki yang berkidung itu memiliki tenaga-dalam sangat tinggi.
Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di tanah Jawa ini
Dari gunung Lejar,
Jurus penakluk raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Dari lembah kera,
Jurus Lalawa mengepak sayap
Menembus awan
Melenggang ke barat,
Meluruk ke timur,
Merangsak ke utara,
Merantau ke selatan
Tak ada lawan,
Tak ada Tandingan,
Ilmu dari segala ilmu
Enam pendekar itu terpaku di tempat berdiri. Terpukau pertunjukan tenaga dalam melalui tertawa yang memekak telinga dan kidung yang tajam mengiris.
“Itu ketua!” Seru mereka hampir bersamaan. Suara yang penuh kegembiraan namun ada rasa haru dan kerinduan didalamnya.
Selang beberapa detik setelah gema kidung jurus penakluk raja hilang ditelan kesunyian gunung Lejar, tiga penunggang muncul dari kejauhan.
“Itu ketua!” Teriak Gajah Lengar.
Tanpa ragu lagi Prastawana berseru lantang dengan tenaga-dalam. “Ketua Lemah Tulis Wisang Geni, kami murid Lemah Tulis memberi hormat.”
Belum lenyap suara Prastawana yang juga gemanya dipantul tebing-tebing ketika tiga ekor kuda muncul mendekat.
Tampak Wisang Geni bertelanjang dada dengan rambutnya yang putih keperakan diatas punggung kuda Wulung. Dua wanita yang cantik jelita mengikutinya dari belakang, masing-masing diatas punggung kuda putih dan coklat, Batari dan Dawuk. Keduanya Sekar dan Atis. Enam orang itu mengenal Sekar tetapi tidak mengenal perempuan muda yang lebih jelita dari Sekar. Wanita muda itu menunggang kuda coklat Dawuk.
Prastawana dan kawan-kawannya menjatuhkan diri, berlutut memberi hormat. “Kami memberi hormat kepada ketua Lemah Tulis.”
Wisang Geni melompat turun dari punggung Wulung diikuti Sekar dan Atis.
“Cukup. Cukup. Kalian berdiri.” Kata-kata Wisang Geni masih berwibawa. “Prastawana, kamu ketua Lemah Tulis mengapa memberi hormat kepada Wisang Geni, bukankah aku sudah mengundurkan diri dari jabatan ketua?”
Prastawana berdiri tegap memandang ketuanya yang begitu dia rindukan. Ada rasa haru dan bangga dalam suaranya ketika dia berkata. “Kamu tetap ketua Lemah Tulis, aku tidak berani lancang menyebut diri sebagai ketua. Aku tak pernah merasa diri sebagai ketua.”
Tampak mata tiga pasang suami isteri berkaca-kaca menahan haru.
Wisang Geni yang dikabarkan mati terbunuh, kini berdiri didepan mereka dengan sehat bugar. Malah tampak lebih segar. Dan lewat tertawa dan kidungan tadi dia telah memperlihatkan tenaga-dalamnya yang begitu tinggi.
Wisang Geni menghampiri Prastawana, memeluknya dengan erat. Dua laki-laki bertubuh kekar dan berotot hampir menyatu dalam pelukan persaudaraan yang begitu akrab. Dia menggapai dua laki-laki lainnya, merangkul Gajah Lengar dan Daraka. Mereka melangkah menuju pekarangan gubuk, duduk diatas pokok kayu yang basah oleh embun.
Sementara itu Sekar berpelukan dengan Dyah Mekar, Laras dan Sawitri. Tidak larut dalam suasana haru, Sekar menarik tangan Atis, “Dia isteri kangmas Geni. Namanya Atis.” Suara Sekar datar dan tawar.
Sembilan pendekar itu duduk bersama.
“Perguruan memerintah kami mencarimu. Dari Lemah Tulis kami singgah di Welirang kemudian langsung menuju Lejar. Ini hari ketujuh kami disini, senang bisa menemukan ketua.” Tutur Prastawana.
Wisang Geni tertawa, lalu bersikap serius. “Nyawaku ditolong Sekar.” Dia menunjuk Atis yang duduk dekat Sekar. “Dia Atis, cucu Ki Sagotra pendekar Merapi. Aku mengawininya satu bulan sebelum kejadian Kandangan. Aku dan Sekar bertemu dengannya ditengah jalan, lalu bersama-sama ke lembah kera. Mereka berdua merawat dan menyembuhkan aku.”
Enam pendekar yakin kisah singkat itu sesungguhnya panjang dan padat ketegangan. Tidak luput dari pengamatan mereka, gambar tato kelelawar warna hitam kental didada sang ketua dan wajah keras dengan rambut putih keperakan yang panjang riap-riapan.
“Ini lukisan kelelawar, guruku bergelar lalawa. Kemarin Atis yang melukis.” Kata Wisang Geni menjelaskan kepada anak buahnya.
Dyah Mekar berbisik di telinga Sekar. “Kalau ketua perlu baju, mas Pras membawa baju lebih. Ukuran tubuh hampir sama, meskipun ketua lebih bidang.”
Sekar tertawa lirih. “Dia maunya telanjang dada, ingin semua orang melihat gambar kelelawar itu.” Suara Sekar bisa didengar semua orang.
“Oh pasti ada hubungannya dengan lirik dalam kidung tadi dari lembah kera, Lalawa mengepak sayap menembus awan, benarkah perkiraanku Ketua?” Gajah Lengar tersenyum.
Wisang Geni tidak menjawab. Dia menatap enam orang itu bergantian, tatapan yang tajam dan misterius. “Ceritakan semua, tak ada yang ditutupi, mulai dengan anak-anakku lalu isteriku, lalu Lemah Tulis.” Suaranya datar, dingin dan tidak bersahabat.
Suasana hening. Tak ada suara.
Dyah Mekar memecah kesunyian. “Kami sepakat aku yang bertutur, jika ada bagian yang kulupa maka teman lain akan membantuku. Mulai dari putra-putri ketua. Seno tidak terdengar kabar beritanya……”
Cerita Dyah Mekar dipotong Sekar. “Seno aman bersama dua nenekku.”
“Bagus kalau Seno aman. Angga sekarang ini bersama ibunya Gayatri, menetap di gubuk dekat danau di Welirang.” Sedetik itu Dyah Mekar menangkap sinar tajam mengilat dimata ketuanya ketika nama Gayatri disebut.
Dyah Mekar menutur semua yang terjadi di Welirang. Tak ada yang disembunyikan. “Aku tidak mengurangi dan menambah, semua yang kuceritakan persis kejadiannya.”
Wisang Geni memandang jauh kedepan. Dia bisa merasakan derita Gayatri. Diperkosa dan ditiduri penjahat itu. “Apakah ada racun sejahat itu?”
“Kalau mendengar ucapan Nenek Jubah Kuning, dipastikan sekarang ini Gayatri sudah sembuh total. Sekarang dia sibuk berlatih dan bermain dengan Angga.” Tutur Dyah Mekar.
“Siapa Nenek Jubah Kuning itu?” Sekar ingin tahu.
“Aku tidak tahu. Gayatri sendiri tak pernah tahu nama gurunya. Dia menyebut dirinya Nenek Jubah Kuning.” Tukas Dyah Mekar.
Wajah Wisang Geni tampak keras, dahinya berkerut. “Aku sudah mendengar tentang putriku Angga dan isteriku Gayatri. Katakan, tentang Manohara, Prawesti?”
Dyah Mekar menoleh memandang Gajah Lengar.
“Hari itu kami memburu ke tempat kejadian, mendengar cerita bahwa ketua terbunuh oleh penjahat jubah hitam. Aku, Prastawana dan paman Gajah Watu tiba ditempat. Prawesti sudah mati. Manohara masih bernafas, kami coba membantu, Prastawana dan paman Gajah Watu dibantu guru dan saudara perguruan Manohara, membantu dengan tenaga-dalam. Tapi Manohara mati. Mayatnya dibawa gurunya dikubur di rumah perguruannya.” Tutur Gajah Lengar.
Wisang Geni diam mematung. Sudah diduganya dua isterinya itu mati. Kini mendengar langsung dari mulut Gajah Lengar, tentu saja berbeda. Terbayang tubuh dan paras dua isterinya yang cantik dan setia. “Kasihan, mereka mati karena membela aku.” Bisiknya lirih.
Dia memegang kepalanya, menjambak rambut dan menggeram. Suaranya terdengar menyeramkan. “Arjapura murid iblis gunung putih dia telah membuat banyak kerusakan pada keluargaku. Apa hebatnya ilmu sihir dan racun kalajengking biru, lihat siapa lebih kejam, lalawa gunung Lejar atau iblis gunung putih. Akan kuhancurkan kepalanya seperti ini.”
Dia mengulur dua tangannya dan satu batang kayu sebesar pelukan manusia melayang ke arahnya. Dua tangannya memutar-putar lalu dua tangannya mengembang ke samping, saat berikut menutup menghantam batang kayu tak berdosa itu.
“Dasssss..” letupan keras memekak telinga. Kayu itu hancur jadi bubuk halus.
Jangankan Prastawana dan lima temannya, Sekar dan Atis yang selama di lembah mengikuti perkembangan kanuragan suaminya dalam latihan, terpesona dan takjub. Suasana hening.
Lalu Wisang Geni memecah keheningan. “Ceritakan tentang perguruan kita dalam pertarungan di Kandangan itu.”
To be Continued 24 July/Published No 32
No comments:
Post a Comment